Malam Panjang di Kairagi

MALAM panjang di Kairagi berakhir di hari Senin. Ya, tanggal 1 Juli 2012 malam larut  di Kiev  atau 2 Juli 2012 waktu Manado, Euro 2012 berakhir dengan hasil yang semua kita sudah tahu: Spanyol menciptakan hattrick terbaik dalam sejarah turnamen kompetitif sepakbola sejak awal abad ke-20.

Dalam empat tahun  Spanyol meraih tiga tropi bergengsi sepakbola, juara Piala Eropa 2008 (mengalahkan  Jerman di final 1-0), juara Piala Dunia 2010 (menekuk Belanda 1-0) dan juara Piala Eropa 2012 (menganiaya Italia 4-0). Bahkan negara dengan tradisi sepakbola kuat seperti Jerman dan Italia belum pernah mencetak sejarah emas semacam ini. Mungkin lima 25 sampai 50 tahun lagi sejarah serupa baru terulang, entah oleh negara mana di bumi ini.

Selesailah  sudah pesta bola di Polandia-Ukraina  2012. Kita akan selalu mengenang dan merindukannya. Mengenang momen-momen indah dan sedih. Merindukan aksi-aksi menawan seniman lapangan hijau.

Malam-malam yang panjang sungguh tercipta di Kairagi, satu titik kecil di bumi Kawanua, markas kami Harian Tribun Manado beraktivitas. Selama tiga pekan lebih, bola membius-memesona kami. Bola menyedot energi tak sedikit, setidaknya jam tidurku dan kawan-kawan di Tribun Manado  lebih sedikit dari lazimnya.  

Sejak 8 Juni 2012  praktis malam-malam kami begadang sampai menjelang fajar lantaran menikmati aksi pemain bintang di Polandia-Ukraina.  Diskusi bola mewarnai newsroom.  Ada canda, ada tawa. Ada olok-olokkan. Juga wajah sedih dan hati galau karena tim kesayangan tumbang di babak awal.

Kegalauan melanda fans Belanda. Belanda 2012 begitu rapuh padahal bertaburan bintang. Belanda 2012 laksana elang yang patah sayapnya. Sekalipun tak pernah menang di fase grup, menempati dasar klasemen. Seolah sulit dipercaya mengingat Belanda adalah runner-up Piala Dunia 2012 Afrika Selatan. Mereka melewati kualifikasi Euro 2012 dengan mulus. Dan  tim itu masih yang sama.

Bola memang bukan matematika. Bola adalah ekspresi paling murni tentang kemanusiaan. Mereka boleh saja berintikan 11 bintang. Tapi bintang-bintang yang egois hanya menghasilkan kesia-siaan. Belanda yang mewariskan tradisi total football justru terseok-seok. Lekas pulang kampung dengan wajah muram. Italia yang adem ayem, tampil seadanya malah menembus final dengan memupus impian 82 juta rakyat Jerman. Final ideal mestinya Jerman vs Spanyol yang meraih hasil nyaris sempurna sejak penyisihan grup. Tapi begitulah bola punya logika sendiri. Sebuah tim diyakini menang mudah. Fakta di lapangan dapat berbalik arah. Dengan aktor utamanya manusia, bola merupakan cermin bening human being yang terdiri dari tulang dan daging rapuh. Bejana tanah liat yang sewaktu-waktu bisa remuk dengan entengnya.

Dan, awan kesedihan seketika menggelayuti kubu tim nasional Italia sesaat setelah wasit Pedro Proenca meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan final Piala Eropa 2012 di Stadion Olympic di Kiev, Minggu 1 Juli 2012. Bukan sekadar kekalahan yang membuat mereka kecewa, poin telak membuat mereka tertunduk.

Spanyol mengubur impian Gli Azurri dalam-dalam dengan empat gol tanpa balas. Skor terburuk sepanjang sejarah final Piala Eropa.  Leonardo Bonucci menangis tersedu-sedu hingga beberapa kali ditenangkan  Pelatih Cesare Prandelli.

"Ini tamparan yang keras. Anda dapat kalah di final, tetapi menyakitkan jika kalah seperti ini," ungkapnya seusai pertandingan seperti dilansir Football Italia.

Penyesalan mendalam pun diungkapkannya. Bek berusia 25 tahun itu menyesal karena pertahanan Italia tidak mampu mengimbangi gempuran Spanyol. Menurutnya, pendekatan lini belakang Italia sudah salah sejak awal. Seharusnya, lanjut Bonucci, mereka tak boleh sedikit pun memberikan ruang kepada  lawan karena mereka sedang melawan Spanyol, bukan Jerman, bukan Inggris atau Portugal.

Riccardo Montolivo datang dengan rasa penyesalan yang sama besarnya. Bahkan, menurut dia, para pemain Italia tak sekadar sedih. Mereka frustrasi. Apalagi, menurutnya, mereka telah bersama-sama bermimpi bersama seluruh rakyat  Italia.

"Kalah 0-4 di final kejuaraan Eropa, Anda tak bisa bahagia. Ada penyesalan yang sangat besar dan rasa frustrasi yang kami alami sampai akhir pertandingan dan kami tidak memainkannya dengan baik," tutur pemain AC Milan ini sendu.

Kepedihan yang mendalam memang menguasai skuad. Prandelli dan kiper Gianluigi Buffon saja yang terlihat tegar. Dengan karakter kebapakannya, Prandelli berusaha menghibur para pemain yang bersedih. Begitu pula Buffon.

Striker bengal timnas Italia, Mario Balotelli, termasuk salah satunya. Air matanya menetes setelah di akhir-akhir babak kedua, wajahnya datar. Publik pun tahu, ini adalah ketiga kalinya Balotelli menangis.

Sebelumnya, ibu Balotelli, Silvia Balotelli, yang dipeluk oleh striker berusia 21 tahun ini saat dua golnya ke gawang Jerman membawa Italia maju ke final, mengatakan bahwa sulit menemukan "Super Mario" menangis.

Setelah menangis karena Jose Mourinho, sekarang Pelatih Real Madrid, terakhir kali Balotelli menangis di pelukan ibunya seusai laga melawan Jerman di semifinal Euro 2012. Dan, Minggu malam 1 Juli 2012, Balotelli kembali menangis bersama Andrea Pirlo yang selama ini senyumnya sangat jarang dilihat....

Italia hanya sedang tak beruntung alias sial. Demikian penilaian dari pelatih tim nasional Spanyol, Vicente Del Bosque. Menurut pelatih berusia 61 tahun ini, "Gli Azzurri" tampil luar biasa sepanjang turnamen, tetapi tidak terlalu beruntung mengakhirinya.

"Kami telah menjalani pertandingan yang sangat luar biasa. Namun, jangan meremehkan Italia. Mereka hanya tidak beruntung. Segala keberuntungan mendukung kami malam ini," katanya seperti dilansir Football Italia.

"Italia bermain dengan satu pemain lebih sedikit, satu hari kurang istirahat, dan mereka telah mencoba yang terbak, tetapi tak bisa masuk ke dalam permainan. Kami main dengan gaya kami, dan yakin dengan apa yang sudah kami lakukan bertahun-tahun," lanjutnya.

Del Bosque mengatakan, siapa saja dan tim mana pun di dunia ini bisa kehilangan suatu kesempatan kapan saja, dan Italia mengalaminya. Meski sudah menunjukkan permainan yang mencengangkan hingga berjalan sampai final, kebobolan terlebih dahulu hingga cederanya Thiago Motta membuat permainan efektif yang coba dibangun Cesare Prandelli segera berakhir.

Namun, menurutnya, para pemain Spanyol memang tengah dalam performa terbaiknya. Iker Casillas dkk tidak mudah menyerah ketika lawan bereaksi terhadap permainan mereka. Mereka  membalasnya dengan reaksi yang tak kalah ngotot.  "Ini adalah generasi pemain yang luar biasa. Mereka memiliki dasar dan tahu bagaimana harus bermain karena mereka datang dari negara yang mengetahui cara-cara (bermain sepak bola). Kami memiliki banyak pemuda yang luar biasa, beberapa bermain di luar negeri," ungkapnya.

"La Furia Roja" menurutnya bisa bermain dengan tenang sehingga menguasai bola dengan lebih baik. Dengan kemenangan ini, Spanyol menjadi tim pertama yang memenangi tiga gelar turnamen besar secara berturut-turut. Bravo Espana..

Kairagi  kembali ke rutinitas biasa. Dan, kami agaknya masih menjalani malam- malam yang panjang. Hidup adalah perjalanan....kawan. Perjalanan seperti bola yang bundar, bergulir. Ada saat di atas, ada waktu tiarap sejajar kulit bumi...

(Catatan rumpu-rampe yang dibuang sayang....Hehehe)

Stinging Like a Bee

"Dancing like butterfly, stinging like a bee." Itu memang gambaran untuk petinju legendaris Muhammad Ali. Ia menari seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah. Bahkan, petinju-petinju tangguh pun sanggup ia taklukkan.

Gambaran seperti itu rasanya bisa disematkan kepada timnas sepak bola Spanyol. Negara dari kawasan Iberia ini menari dengan permainan tiki-taka, terkesan lembut atau lemah gemulai seperti gerombolan kupu-kupu memburu bunga. Tak ada kesan garang pada gerakan atau wajah-wajah para pemain. Namun, mereka menyengat seperti tawon. Tajam dan menyakitkan.

Dan, Italia yang tak pernah dikalahkan Spanyol dalam waktu normal sejak 1920 akhirnya tumbang juga di final Piala Eropa 1 Juli 2012. Bahkan, tarian Spanyol itu membuat gawang Gianluigi Buffon tersengat empat kali oleh aksi David Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata.

Bergerak dan mengumpan secara cerdas. Itulah salah satu ciri khas sepak bola Spanyol saat ini yang disebut-sebut berakar dari Barcelona. Dan, memang itu yang ditekankan La Masia (akademi sepak bola Barcelona) dalam mendidik anak asuhnya. Setelah semua dasar teknik dikuasai, para pemain hanya diminta berpikir cerdas untuk bergerak dan mengumpan secara cerdas, kemudian menyelesaikan serangan dengan cerdas pula.

Itulah yang diadopsi timnas Spanyol, hingga didominasi para pemain Barcelona, seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Pedro Rodriguez, Sergio Basquet, Cesc Fabregas, dan Gerard Pique. Bahkan, formasi timnas Spanyol pun sama dengan Barcelona, yakni 4-3-3. Namun, pemain dari klub lain pun tetap bisa menyatu dalam irama dan filosofi yang sama.

Dengan gaya permainan sepak bola seperti itu, mereka selalu mendominasi permainan. Itu pula salah satu kekuatannya. Bagi Spanyol, penguasaan bola adalah awal dari sebuah kesuksesan permainan. Kehilangan bola sama halnya awal dari bahaya.

Filosofi itu pula yang dipegang Pelatih Vicente del Bosque. Maka, dia membuat gebrakan cukup mengejutkan di Piala Eropa 2012 ini. Pada pertandingan pertama melawan Italia di penyisihan Grup C, ia tak memakai striker sejak awal. Tujuannya agar Spanyol mampu menguasai lini tengah yang sangat vital, juga mampu mendominasi penguasaan bola.

Lini depan dia isi tiga gelandang. Cesc Fabregas berperan sebagai "Nomor 9 Palsu" atau striker tipu-tipuan. Hasilnya, Spanyol ditahan Italia 1-1. Lalu, publik mengkritik strategi yang kemudian disebut dengan formasi 4-6-0 karena tak memakai striker murni tersebut.

Del Bosque bergeming. Di final ketemu lawan yang sama, Italia, ia memakai strategi yang sama. Spanyol mendominasi permainan dan kemudian menuai buah strategi barunya dengan kemenangan 4-0. Meski striker Fernando Torres akhirnya main pada menit ke-74, tetapi dasar kemenangan Spanyol dibangun dengan formasi 4-6-0.

"Tipe sepak bola tak hanya satu. Yang terpenting bagaimana mencetak gol," demikian kata Del Bosque memberi alasan.

Jawaban yang masuk akal. Sebab, Spanyol memiliki jajaran gelandang luar biasa yang tak hanya mampu mengkreasi permainan, membantu bertahan, tetapi juga menyerang dan mencetak gol. Nama-nama seperti Xavi Hernandez, Andres Iniesta, David Silva, dan Cesc Fabregas merupakan jaminan penguasaan bola dan mereka punya naluri mencetak gol yang bagus. Terbukti, sebelum menurunkan striker murni, mereka langsung unggul 2-0 berkat gol Silva dan bek Jordi Alba.

"Para pemain kami sangat inteligen. Kami memiliki tim yang seimbang. Ada keamanan dalam diri pemain kami. Kami memiliki beberapa striker, tetapi kami memutuskan untuk menurunkan pemain dengan kondisi yang terbaik bagi gaya sepak bola kami," tambahnya.

Penguasaan bola dengan tiki-taka, itulah yang diutamakan. Kemudian, dengan kecerdasan pemain, peluang akan lahir. Dan, peluang Spanyol yang dibangun dengan tiki-taka dan umpan one-two sering melahirkan peluang emas yang bisa diselesaikan pemain tipe apa pun.

Ibarat kupu-kupu, Spanyol punya pola tersendiri dalam menari. Menggunakan teknik tiki-taka, mereka bergoyang dan menggoyang lawan dalam ritmenya. Sering terkesan lemah lembut, tetapi pergerakan mereka meyakinkan dan sengatannya tajam seperti lebah dan mematikan.

Spanyol telah membuktikan efektivitas sepak bola mereka. Tiga gelar besar secara berturut-turut menjadi bukti superioritas sepak bola Spanyol. Setelah juara Piala Eropa 2008, mereka menjuarai Piala Dunia 2010 dan kini Piala Eropa 2012. Inilah masa kejayaan tiki-taka ala Spanyol. (*)

Sumbernya di SINI

Surat dari Ternate

PADA bulan Febuari 1858 itu, Alfred Russel Wallace tergeletak di kamar tidurnya, terserang demam, kemungkinan karena malaria. Dari kamarnya di sebuah rumah di Ternate, Maluku Utara, yang disebutkannya tak jauh dari pasar dan benteng, dia menulis surat kepada Charles Darwin. Saat itu, Darwin berada nun jauh di Kepulauan Galapagos.

"Surat dari Ternate" inilah yang kemudian menjadi tonggak penting bagi Darwin untuk menerbitkan bukunya, Origin of Species, pada 1859. Buku ini berisi proses seleksi alam yang memicu evolusi. Dari sini, Darwin dikenal sebagai Bapak Evolusi.

Surat yang dikirim Wallace itu memberi jawaban bagi Darwin tentang fenomena keberagaman hayati: the fittest would survive (individu inferior akan mati dan individu superior akan bertahan).

Surat berjudul ”On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” itu membuka dialektika tentang siapa yang layak menyandang gelar sebagai penemu teori evolusi. Apakah Wallace lebih dulu atau Darwin? Bukankah Darwin baru menerbitkan teorinya setahun kemudian setelah surat Wallace?

Belakangan, dunia pengetahuan mengakui Wallace adalah penemu teori evolusi bersama-sama dengan Darwin. Sebelumnya, hanya Darwin yang menikmati popularitas sebagai penemu teori evolusi.

Ternate, yang menjadi tempat tinggal Wallace selama empat tahun dalam bertahun-tahun pengembaraannya di Nusantara, menjadi sangat populer. Ternate bukan lagi cengkeh dan pala semata, melainkan juga tempat Wallace menuliskan gagasan cemerlang. ”Surat dari Ternate” adalah khazanah berharga perjalanan pengetahuan modern.

Selama di Ternate, Wallace juga melahirkan karya hebat, di antaranya menemukan perbedaan karakteristik flora dan fauna berdasarkan lempeng bumi.

Sebuah garis maya dibuatnya untuk memisahkan antara flora-fauna di Indonesia bagian timur yang ada di Lempeng Australia dan Indonesia bagian barat yang berada di Lempeng Eurasia. Garis yang kemudian dikenal sebagai Garis Wallace ini terentang sepanjang Selat Makassar dan memanjang ke Selat Lombok.

Garis ini tak hanya mengisahkan jalan hidup flora-fauna antarlempeng yang terpisah laut dalam, tapi juga perbedaan karakteristik manusia yang dapat diamati. Wallace mengelompokkan manusia di Indonesia barat dalam ras Melayu dan ras Papua untuk manusia di Indonesia timur.

Di Maluku-lah kedua ras itu bertemu. Wallace menyebut penduduk di Pulau Obi, Bacan, dan Halmahera sebagai perpaduan ras Melayu dan Papua. Perpaduan inilah yang dibuktikan secara genetik pada 2011 oleh sejumlah ahli genetika Indonesia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat dalam ”Genetic Continuity Across a Deeply Divergent Linguistic Contact Zone in North Maluku, Indonesia.

Jejak Wallace

Walllace menjadikan Ternate sebagai tempat singgah dari pengembaraannya ke Halmahera, yang dulu disebutnya Gilolo (mengacu pada nama Kesultanan Jailolo), hingga ke New Guinea (Papua) dan pulau-pulau gunung api di sekitar Maluku untuk mengumpulkan beragam flora-fauna.

Dengan bersemangat Wallace berkisah tentang kota Ternate, yang dinaungi Gunung Gamalama. ”Letaknya sangat strategis sehingga pemandangan di segala penjuru tampak jelas.... Di balik kota, berdiri gunung api yang lerengnya landai dan tertutup pohon buah-buahan lebat,” tulis Wallace saat baru tiba di Ternate pada 8 Januari 1858.

Wallace juga membanggakan rumah di Ternate yang disewa empat tahun. ”Di samping untuk menyusun koleksi (flora-fauna), rumah itu saya perlukan guna memulihkan kesehatan dan mempersiapkan perjalanan-perjalanan berikutnya,” tulisnya.

Dia pun menggambar denah dan mendeskripsikan rumah yang ditinggalinya di Ternate itu. ”...sehingga memungkinkan pembaca untuk mengenal struktur bangunan di Ternate,” tulis Wallace. Di rumah inilah Wallace menulis ”Surat dari Ternate”.

Sekitar 154 tahun kemudian, jejak pengembaraan Wallace di Ternate nyaris tak meninggalkan jejak, selain gang kecil di Kelurahan Santiong, Ternate Tengah, yang diberi nama Lorong Alfred Russel Wallace.

Persis di samping gang itu, sebuah rumah yang kini dihuni keluarga Paunga Tjandra (63), diduga sebagai rumah tinggal Wallace selama di Ternate. ”Rumah ini dibeli ayah saya dari almarhum H Ucu Bai, warga di sini. Kami awalnya tidak tahu-menahu ini rumah Wallace,” kata Verjon Tjandra (35).

Verjon menunjukkan satu tiang tembok dan bekas sumur yang telah ditutup di pekarangan belakang rumah. ”Bekasnya, ya, hanya ini,” katanya. ”Banyak peneliti, sebagian bule, yang datang akhirnya kecewa karena memang hanya ini yang tersisa.”

Tiadanya jejak Wallace itu juga dikeluhkan Prof Sangkot Marzuki, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Wallacea Indonesia. Ahli genetika ini menulis komentar dalam buku The Malay Archipelago edisi Indonesia, Kepulauan Nusantara (2009).

"Alfred Russel Wallace adalah nama besar dalam jagat ilmu pengetahuan dunia. Namun, melalui bukti-bukti, peninggalan Wallace dengan nyata teraba dan dengan mudah teridentifikasi bahwa dia adalah bagian sejarah bangsa Indonesia...," tutur Sangkot. ”Ternate—tempat ia lama bekerja dan tempat sesungguhnya teori akbar mengenai evolusi lahir—sama sekali bersih dari tanda-tanda yang mengingatkan penemuan paling besar pada abad ke-19 itu. Sayang sekali.”

Pada tahun 2008, Yayasan Wallacea dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pernah berinisiatif mendirikan monumen Wallace di halaman rumah Paunga. Tujuannya untuk mengangkat kembali nama Wallace di Ternate. Namun, monumen itu hingga kini tak terwujud. Tiadanya kesepakatan harga tanah antara pemilik rumah saat ini dan pemerintah membuat situs sejarah itu terbengkalai.

Nama jalan di depan rumah itu pun sudah diubah. Nama jalan itu diubah menjadi Jalan AR Wallace pada 2008 dari sebelumnya bernama Jalan Nuri. Namun, tahun 2010, namanya diubah lagi menjadi Jalan Juma Puasa hingga sekarang.(Prasetyo Eko P/A Ponco Anggoro/Ahmad Arif dan M Zaid Wahyudi)

Sumber: Kompas.Com

Bangun Mental Tanpa Kekerasan

ilustrasi
SEJAK hari Rabu 8 Agustus 2012 mahasiswa-mahasiswi baru Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado mulai menjalani program Pengenalan Kehidupan Kampus kepada Mahasiswa Baru (PK2MB). Mahasiswa dari seluruh fakultas mengikuti acara pembukaan secara resmi di Auditorium Unsrat.

Banyak agenda yang akan mereka lakoni selama program pengenalan kehidupan kampus tersebut. Acara semacam ini memang bukan barang baru. Itu sudah mentradisi di perguruan tinggi Indonesia. Tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun. Ada banyak kisah positif, namun tak sedikit sisi kelam yang menyertainya.

Memori kolektif kita agaknya masih ingat peristiwa kelam tahun 2007 yang terjadi di  Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat. Cliff Muntu, Praja Madya (mahasiswa tingkat II) IPDN asal Provinsi Sulawesi Utara meninggal  dunia akibat siksaan fisik dari para seniornya pada tanggal  3 April 2007.

Peristiwa memilukan tersebut  menjadi puncak kritik masyarakat terhadap perilaku para mahasiswa senior lembaga pendidikan terhadap mahasiswa juniornya yang biasa dinyatakan sebagai bagian dari pembentukan mental. Hal ini pun menjadi titik berangkat banyak pihak meninjau kembali sistem perpeloncoan di berbagai lembaga pendidikan tinggi di tanah air bahkan sejak tingkat SMP dan SMA.

Syukurlah belakangan ini insiden kekerasan  pada masa pengenalan kampus bagi mahasiswa baru cenderung menurun baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Idealnya dunia kampus memang tidak membalut diri dengan kekerasan.

Membangun mental mahasiswa yang tangguh dengan kekerasan justru hasilnya kontrapoduktif karena sebuah kekekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Pengalaman sudah membuktikan hal tersebut.

Dalam kerangka pandang semacam itulah kita sependapat dengan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsrat Daniel Tampi yang mengatakan panitia
PK2MB akan membangun mental mahasiswa baru tanpa kekerasan atau kontak fisik. Ya sudah seharusnya demikian. Mahasiswa senior Unsrat mesti memberikan teladan kepada para juniornya tentang hal-hal yang positif. Tentang bagaimana mengikuti aktivitas organisasi di kampus, bagaimana mengatur jadwal kuliah yang efektif, bagaimana kiat-kiat meningkatkan prestasi akademik agar kuliah bisa selesai tepat waktu dan lulus sebagai sarjana yang siap terjun ke tengah universitas kehidupan sesungguhnya yaitu masyarakat.

Dalam catatan kita selama ini  Unsrat menjalankan program pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru dengan elegan. Keutamaan tersebut perlu dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan lagi bobot kualitasnya. Dengan demikian mahasiswa baru tahun akademik 2012 menyongsong status baru mereka sebagai mahasiswa dan mahasiswi sebagai orang terpelajar, berbudi luhur serta kreatif.

Bangun mental tanpa kekerasan  merupakan kampanye yang terus kita geloragaungkan sampai kapan pun. Bravo mahasiswa Sulawesi Utara! *

Sumber: Tribun Manado 9 Agustus 2012 halaman 10

Epang Gawang Alfonsa

Alfonsa (kiri).
DI  tengah berkurangnya minat kalangan muda Flores untuk giat mencintai tenun, kehadiran dan kiprah Alfonsa Raga Horeng membawa optimis tersendiri. Setidaknya melalui karyanya-karyanya di bidang tenun, telah membuka mata generasi muda tentang kehadiran tenun sebagai seni warisan leluhur yang bernilai tinggi.

Alfonsa Raga Horeng kini memang sudah dikenal publik. Seiring pengenalan orang terhadap tenun ikat Flores, nama Alfonsa Raga Horeng pun ikut serta mendunia. Melalui kecintaan akan tenun sebagai warisan budaya, dan kesabaran untuk memintal berbagai pengetahuan tentang tenun dari tanah Flores, membuatnya pantas diundang dalam berbagai workshop dan menghadiri ivent budaya  bertaraf nasional maupun internasional.

Sejumlah penghargaan yang diperolehnya merupakan konsekuensi lain darinya sebagai sosok yang inspiratif. Sebut saja ia pernah menjadi delegasi Indonesia untuk kegiatan ISEND 2011 yang berlangsung diLa Rochelle-Prancis, serta diundang dalam kegiatan pariwisata di London. Dalam negeri sendiri ia juga mendapatkan penghargaan Kartini Award sebagai perempuan inspirasi Indonesia dan dari luar negeri seperti Australian Leadership Award.

Alfonsa Raga Horeng  lahir di Desa Nita, Kabupaten Sikka, Flores-NTT, 1 Agustus 1974. Ia sempat kuliah di Universitas Widya Mandala Surabaya, dan mengambil jurusan Pertanian. Setamat kuliah 1998, ia  bekerja di Surabaya, namun kecintaan pada kampung halaman dan kemandiran yang dipunyainya membuatnya kembali ke Nita, kampung halamannya.

Ketika berada di kampung halaman, pada 2002 ia memutuskan untuk bergerak dibidang tenun  dan memulai semua itu dari lingkungan rumah dan desanya.  Keluarganya sangat mendukung niatnya.  Ia kemudian memprakarsai berdirinya lembaga Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun (STILL).

Bersama STILL, ia mengembangkan tenun ikat di desanya sendiri yang terdiri dari  ibu-ibu yang dengan tekun dapat menghasilkan karya tenun yang indah.STILL mempunyai desa binaan  yang tersebar di beberapa kabupaten di Flores. Tak jarang ia pun terjun langsung ke desa-desa binaan baik itu di kabupaten Sikka, Ende maupun Flores Timur.

Dengan pengetahuan yang ia miliki, minat yang ia rintis lebih menyerupai  pekerjaan seniman. Ia trampil menenun,  meramu pewarna hingga mampu memahami makna dari aneka motif tenun ikat Flores. Ia juga teribat dalam pendokumentasian proses pembuatan tenun ikat.

Rupanya apa yang dijalankan Alfonsa dilatari dengan pemahaman yang baik tentang warisan leluhur ini. Tidak berlebihan, ketika FBC pada Selasa, (28/2) melakukan wawancara dengannya, ia harus meluruskan beberapa kekeliruan tentang tenun ini. Sepertinya, Alfonsa lebih berpandangan bahwa tenun adalah kerja budaya dan bukan sekadar masalah teknis, apalagi yang menyangkut usaha yang serba instan.

Sebagai karya seni warisan leluhur, Alfonsa menyadari bahwa akibat perubahan, orang muda Flores mulai tidak meminati tenun sebagai  karya terpenting.  Menurut Alfonsa, arus perubahan sering membuat orang tidak mau bersusah payah dengan kerja.

Ada semacam dua dunia yang sedang betolak belakang, yang satu menuntut kesabaran dan ketekunan bahkan kadang menjauhi nilai ekonomi. Sementara, dunia yang lain yang banyak diminati adalah yang gampang dan segera mendapatkan uang.

“Minat orang muda semakin berkurang. Mereka memilih sesuatu yang lekas jadi. Pakaian sudah ada. Tidak  banyak yang mendalami tenun secara sungguh-sungguh,” katanya

Walau kenyataan demikian, Alfonsa sama sekali tidak menyerah bahkan ia terus menumbuhkan kecintaan anak muda Flores akan tenun. Sebab bagaimanapun, tenun sudah menyatu dalam sejarah hidup orang Flores. Dari pembuatan yang lebih sebagai  ritual, maupun peruntukannya pun juga menyangkut urusan adat.

“Sejak dulu tenun sarung sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu disana.Dengan tenun, kaum perempuan memiliki relasi yang bermakna dengan laki-laki,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, tenun membuat suatu kehidupan menjadi seimbang karena perempuan dapat menghasilkan sesuatu dalam hidupnya. Perempuan penenun adalah perempuan yang mandiri, tegar dan independen.

“Tenun itu membutuhkan waktu dan tidak semata hanya persoalan ekonomi semata,” ungkapnya. yang baru sejak tanggal 15 hingga 18 Februari  menghadiri pameran Adiwastra Kain Tradisonal Indonesia 2012, di Jakarta Convention Center. Epang Gawang Alfonsa.  Anda memberi inspirasi yang luar biasa. (Benjamin Tukan)


Sumber: Flores Bangkit

Artikel Terkait
    Modifikasi Ikat-Tenun Lembata
    Tenun Ikat Tradisional Masyarakat Adat Watublapi
    Blirian Sina Sanggar Seni Masyarakat Watublapi-Sikka
    ”Epang Gawang Golo” Terima Kasih Bagi yang Berkunjung
    Kampung Sikka, Tenun dan Tradisi

Nereo Rocco

SELAMA perhelatan Piala Eropa 2012, dan juga kompetisi sepak bola besar lainnya, selalu saja catenaccio disebut-sebut. Setiap ada tim yang bermain dengan fokus bertahan dan mengandalkan serangan balik, selalu disebut sepak bola catenaccio.

Pada Piala Eropa 2012 lalu, Italia sebagai negara yang identik dengan catenaccio justru disebut mulai meninggalkan sepak bola bertahan itu. Bahkan, Inggris yang kemudian dituduh mengadopsi catenaccio.

Padahal, catenaccio murni sebenarnya sudah lama mati. Bahkan, tim-tim Italia yang dianggap gemar catenaccio sudah lama tak menggunakannya.

Catenaccio sebenarnya bukan dari Italia. Ide awalnya justru datang dari pelatih Austria, Karl Rappan. Dia memasang satu bek di belakang lini pertahanan, tepatnya di belakang dua bek tengah dan di depan kiper. Tugasnya menjamin keamanan. Jika lini belakang gagal menahan lawan, maka dia bisa menjadi penyapu terakhir sebelum kiper. Bek tambahan ini yang kemudian disebut sweeper atau penyapu. Rappan menyebut sistem ini dengan nama verrou atau gerendel.

Lalu, gaya sepak bola ini kemudian populer di Italia, setelah pelatih Nereo Rocco mengadopsinya. Dia memodifikasi sweeper dengan libero. Bedanya, jika sweeper khusus menunggu lawan lepas atau menjadi defender terakhir. Libero juga demikian, tapi dia diberi kebebasan bergerak. Dengan tugas utama membantu pertahanan, tapi dia juga diberi tugas menjadi playmaker kedua.

Sistem ini kemudian diperhalus oleh pelatih asal Argentina, Helenio Herrera, saat menangani Inter Milan pada era 1960-an. Rocco sukses bersama Milan degan juara Piala Champions (sekarang Liga Champions) musim 1962-63. Sedangkan Herrera sukses bersama Inter dengan menjuarai Piala Champions musim 1963-64 dan 1964-65.

Salah satu kunci dan ciri khas catenaccio adalah penggunaan man marking. Pemain lawan akan ditempel ketat dan sedekat mungkin. Tugas penempelan pemain lawan ini biasanya dilakukan bek tengah, bek sayap, dan gelandang bertahan.

Berbagai variasi catenaccio memang muncul. Tetapi, filosofinya, permainan defensif ini untuk mempertahankan keunggulan atau menghindari kemasukan gol. Juventus dengan bintangnya John Charles pernah memakai catenaccio juga. Setelah menjadi striker utama, tiba-tiba Charles turun menjadi bek tengah.

Lalu, memasuki era 1970-an, muncul Ajax Amsterdam yang begitu superior dengan permainan menyerangnya. Di bawah pelatih Rinus Michels, Ajax juara Piala Champions 1970-71, mengalahkan Panathinaikos 2-0. Saat itu, Ajax mengusung sepak bola total (total football) yang antitesis terhadap permainan bertahan. Ajax bermain sangat menyerang dan bahkan serangan tak hanya diandalkan pada lini depan, tetapi juga bisa lini tengah, bahkan defender. Sehingga, sepak bola man marking gaya catenaccio akan kesulitan membuat skala prioritas siapa saja yang harus ditempel ketat karena semua pemain bisa menyerang dalam total football.

Setahun kemudian, musim 1971-72, Ajax tak hanya mempertahankan Piala Champions. Tetapi, mereka juga menaklukkan catenaccio. Ajax yang bermain menyerang, menghajar Inter Milan 2-0 di final. Dua gol dicetak Johan Cruyff yang menjadi master permainan menyerang Ajax. Semusim kemudian, giliran Juventus yang dikalahkan Ajax di final Piala Champions. Di babak sebelumnya, AC Milan yang bermain bertahan dibantai Ajax 6-0.

Sepak bola menyerang total telah lahir dan juga mengandalkan zonal marking. Sejak saat itu, catenaccio murni yang bertahan dan mengandalkan man marking dianggap sekarat, kemudian mati perlahan. Kalaupun ada tim yang bermain bertahan, bukan berarti menerapkan catenaccio.

Catenaccio murni sudah kehilangan konteksnya di sepak bola modern. Apalagi setelah peraturan offside muncul dan lebih longgar bagi tim penyerang, maka catenaccio murni sudah tak cocok lagi, bahkan terasa riskan.

Memang, permainan bertahan tak mati. Bedanya, pemain gerendel (sweeper atau libero) tak digunakan lagi karena terbukti ketinggalan zaman. Lalu, muncullah zona mista. Sistem ini menggabungkan zonal marking dengan catenaccio yang mengandalkan man marking.

Di sistem zona mista, taktik bertahan adalah zonal marking. Namun, libero tetap dipertahankan untuk menempel (man marking) pemain paling berbahaya. Tim-tim Italia kemudian banyak yang menggunakan sistem ini dan mereka sukses di tingkat klub maupun timnas (juara Piala Dunia 1982). Enzo Bearzot merupakan tokoh sistem ini. Dan, sistem ini kemudian juga dikenal dengan Italian defense atau pertahanan gaya Italia.

Lalu, Arrigo Sacchi menjadi pelatih AC Milan (1987-1991). Dia memperkenalkan sepak bola indah dan menyerang dengan mengandalkan trio Belanda (Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten). Perlahan-lahan, tim sepak bola Italia meninggalkan catenaccio secara total.

Meski begitu, kata catenaccio masih sering dipakai dalam dunia sepak bola. Setiap tim yang bertahan dan mengandalkan serangan balik selalu disebut catenaccio. Padahal, hampir sudah tak ada tim yang menggunakan sweeper atau bahkan libero. Kalaupun ada, bukan berarti sistem permainannya catenaccio.

Tim yang kalah kualitas biasanya memang akan menerapkan permainan bertahan dan menerapkan serangan balik. Itu sudah wajar. Tetapi, kini masih sering terdengar latah soal catenaccio. Setiap tim yang bermain bertahan selalu dinilai menerapkan catenaccio. Padahal, bertahan tidak harus catenaccio. Sebab, bertahan itu adalah iktikad, rencana, dan strategi, bukan sistem. Dengan sistem apa pun, tim bisa bermain bertahan jika memang niatnya bertahan.

Memang, roh catenaccio terkadang merasuki tim-tim yang bermain bertahan. Seperti kala Jose Mourinho menyuruh Pepe menempel ketat Lionel Messi kala Real Madrid melawan Barcelona. Namun, Madrid sebenarnya tak sedang menerapkan catenaccio. Sebab, catenaccio murni sebenarnya sudah mati. (*)

Sumber: Kompas.Com


Rumah Woloan Bisa Bertahan Satu Abad

Rumah Panggung Woloan-Minahasa
KETAHAHAN rumah panggung Woloan  terhadap gempa dahsyat bukan sekadar mitos. Sejak berabad-abad silam  rumah asli dari Minahasa Sulawesi Utara ini tak pernah roboh digoyang gempa sekuat apapun. Apalagi jika dirawat dengan baik, rumah Panggung Woloan dapat berdiri kokoh selama satu abad atau 100 tahun lamanya.

"Jika hanya pengaruh gempa bumi, rumah panggung Woloan tak akan runtuh, kecuali ditimpa bencana longsor atau banjir bandang," ujar Yani Kawuwung, pengusaha rumah panggung Woloan kepada Tribun Manado di Tomohon, Jumat (3/8/2012).

Menurut Yani,  rumah tersebut tahan terhadap gempa karena seluruh konstruksi dari kayu saling bertautan. "Mulai dari landasan hingga atap, rumah Woloan selalu menyatu karena kancingannya merata pada seluruh bagian rumah,"  ujarnya.

Selain itu,  bahan bakunya sangat awet, yakni pada bagian landasan bawah dan tiang rumah yang lazim menggunakan kayu besi. Sedangkan bagian dinding, lantai dan plafon menggunakan kayu sejenis  nantu.

"Untuk landasan atau rangka bawah menggunakan kayu besi dengan lebar 9 cm dan tebal 18 cm. Lubang yang dibuat untuk kancingan tak sampai menembus kayu, hanya setengahnya agar menjadi kuat dan  tak mudah patah," kata Yani.

Perawatan, kata Yani,  merupakan faktor penting agar rumah tak mudah lapuk terkena hujan dan panas. Sebaiknya rumah dilaburi  cat air berkualitas tinggi. "Jika setiap tahun dirawat dengan mengecatnya secara rutin, maka rumah tak mudah lapuk atau bisa bertahan hingga 100 tahun. Jadi, meski umurnya sudah tua, tak akan ambruk," tandasnya.

Yus Ngala (62), pengusaha rumah panggung lainnya menambahkan rumah yang dibuatnya banyak dipesan masyarakat yang berada di wilayah rawan gempa seperti Jawa Tengah, Papua dan Sumatera.  Rumah ini sudah terbukti ampuh memberikan kenyamanan bagi penghuninya saat bencana gempa. "Yang penting rumah panggung diletakkan di tanah yang keras atau padat agar tak roboh ketika digoyang gempa. Berapa pun ketinggiannya dari tanah, pasti tetap aman," tuturnya.

Yus juga menjelaskan, kekokohan rumah Woloan terletak pada kancingan rumah yang menyatu. "Semua sambungan saling mengikat sehingga menjadikannya sangat kuat. Berbeda dengan rumah beton yang mudah retak ketika ada getaran kuat," kata pria yang sudah 43 tahun mengguluti usaha rumah panggung tersebut.

Pemilihan atap yang benar menurutnya juga menjadi kunci penting, agar rumah Woloan tahan lama, yakni memilih bahan yang ringan dan tak mudah retak. "Untuk atap pilih bahan yang ringan, seperti genteng asbes atau seng. Jangan menggunakan genteng beton atau tanah yang meresap air sehingga rumah menjadi berat pada bagian atas dan mudah ambruk," tuturnya. (war)

Sumber: Tribun Manado 5 Agustus 2012 hal 1

Satu Tubuh Tentu Lebih Baik...

Fosil stegodon di Situs Bualesa, Soa (kompas)
Kekakayaan Flores di Cekungan Soa

SEMBILAN matahari seolah bersinar di atas kepala. Teriknya memanggang Cekungan Soa. Meski musim kering belum mencapai puncak pada Maret, savana telah menguning. Pepohonan hanya merimbun di kanan-kiri Sungai Ae Sisa yang mengalir deras di dasar lembah.

Dari kejauhan, Gunung Ebulobo tinggi menjulang. Dalam naungan langit biru tanpa awan, 150 warga Kecamatan Soa mandi keringat mengorek lapisan tanah bagian atas di lereng-lereng dan dasar lembah dengan cangkul dan sekop. Para arkeolog dan paleontolog memimpin penggalian dengan kuas dan pahat mini. Mereka berpencar di beberapa situs penggalian yang tersebar di Cekungan Soa.

”Tuk, tuk, tuk, tuk…!” Bunyi ketukan palu pada pahat besi meramaikan lembah di kaki tebing curam yang mirip tembok raksasa. Warga setempat menyebut tebing itu sebagai Tangi Talo, artinya tangga yang mustahil didaki.

Setelah berhari-hari terbakar terik matahari, siang itu, dari lubang galian sekitar 1 meter, tulang-belulang menyembul dari kedalaman Bumi. Warna putihnya sudah memudar menjadi coklat kekuningan dan sebagian retak di sana-sini. Tapi, bentuknya masih dikenali.

Gading Stegodon sondaari berukuran sekitar 1,6 sentimeter ditemukan di bagian tengah galian. Di bagian atas terdapat tulang rahang. Sementara tengkorak, tulang belakang, dan rusuknya terserak di bagian bawah.

Tulang-belulang gajah purba itu tercampur dengan tulang pemangsanya, komodo dan buaya. Semua tulang sudah lepas dari sambungan, tidak utuh, mengabarkan pernah terjadinya banjir lumpur pada masa lalu, yang menggulung dan menghanyutkan binatang-binatang ini dari lereng tebing Tangi Talo ke dasar lembah.

Total ada 10 binatang di lubang galian ini, yaitu gajah, komodo, buaya, dan kura-kura. ”Lokasi ini merupakan habitat kehidupan purba yang cukup subur dan ramai,” kata Gerrit Dirk van den Bergh, peneliti paleontologi dari School of Earth and Environmental Sciences, University of Wollongong, Australia. Lelaki ini meneliti fosil binatang di Soa sejak tahun 1993.

”Pada tahun-tahun sebelumnya, kami juga menemukan banyak fosil binatang purba, termasuk tempurung kura-kura raksasa,” kata Erick Setiyabudi, paleontolog dari Pusat Survei Geologi Bandung (PSG). ”Dari ukuran cangkangnya, kura-kura raksasa yang ditemukan di Soa tak kalah dengan yang sekarang masih hidup di Kepulauan Galapagos.”

Kekayaan temuan fosil ini menguatkan cerita ramainya kehidupan di Cekungan Soa saat itu. Kehidupan yang kemudian terenggut tiba-tiba.

"Semua fosil yang ditemukan terlapisi material gunung api,” kata Ruly Setiawan, geolog dari PSG. Kandidat doktor dari Wollongong University ini memfokuskan penelitiannya untuk melacak gunung api yang menghabisi kehidupan di Cekungan Soa. ”Umur lapisan di Cekungan Soa berada dalam rentang 650.000 tahun hingga 1,02 juta tahun lalu. Dalam rentang itulah, gunung api silih berganti meletus dan menciptakan suksesi kehidupan.”

Secara stratigrafi, Cekungan Soa dibagi menjadi dua formasi penting, yaitu Ola Kile sebagai bantalan di lapisan paling bawah serta formasi Ola Bula dan formasi Gero di atasnya. Umur formasi Ola Kile berdasarkan penarikan umur menggunakan metode jejak belah (fission track) batuan adalah 1,86 juta tahun dan umur formasi Ola Bula 880.000 tahun. Adapun formasi Gero sekitar 650.000 tahun.

Fachroel Aziz memastikan bahwa formasi Ola Kile merupakan produk gunung api berupa batuan breksi yang keras. ”Cekungan Soa tadinya berupa cekungan besar, yang kemudian tertutup batuan breksi dari letusan gunung. Batuan breksi susah ditembus air sehingga terbentuklah danau, barulah timbul kehidupan di sekitar danau,” katanya.

Dengan melihat halusnya ukuran batuan gunung api yang melapisi Cekungan Soa, Ruly menduga, sumber letusan itu cukup jauh. Dia memetakan, sedikitnya tiga gunung api yang diperkirakan menjadi penyebab petaka itu. Pertama, gunung api di sisi utara cekungan, yaitu Kaldera Welas, kedua adalah Gunung Kalelambu di sisi timur cekungan, dan ketiga, Gunung Kero di sebelah tenggara Soa.

”Kami masih menunggu hasil penelitian di laboratorium untuk mengetahui kapan ketiga gunung api itu meletus pada masa lalu. Penanggalan usia batuan menggunakan argon-argon memperlihatkan, lapisan vulkanik yang melapisi Soa ini berumur sekitar satu juta tahun,” kata Ruly. ”Jika kita ketemu gunung api yang meletus hebat satu juta tahun lalu, kita bisa tahu sumber bencana di Soa.”

Setelah kehancuran akibat letusan gunung api itu, menurut Ruly, kehidupan yang punah kemudian tergantikan oleh spesies baru. Rerumputan kembali tumbuh subur di cekungan itu. Sungai-sungai kembali mengalirkan air bersih, mengundang kehidupan untuk kembali datang dan bersemi kembali.

Sekitar 880.000 tahun lalu, Cekungan Soa kembali dihuni. Kali ini bukan oleh gajah kerdil, tetapi oleh serombongan gajah besar (Stegodon florensis), tikus besar, dan komodo. Sekelompok manusia purba juga diduga kembali datang.

Namun, petaka kembali terjadi. Sekali lagi, letusan gunung api mengubur kehidupan yang baru bersemi di Cekungan Soa. Banjir lumpur kembali melapisi dan mengawetkan tulang binatang dan alat-alat batu itu.

Lapisan kehidupan tahap kedua inilah yang ditemukan Iwan Kurniawan, palentolog dari PSG, di lembah sempit yang berada di tengah-tengah Cekungan Soa. Situs yang diberi nama Mata Menge ini berada di ketinggian 325 meter di atas permukaan laut, dikepung perbukitan.

Situs Mata Menge, menurut Iwan, sudah diteliti oleh tim PSG bekerja sama dengan University of New England sejak akhir tahun 1990-an. Penggalian sebelumnya telah menemukan fosil Stegodon florensis, komodo, buaya, dan moluska air tawar. Selain itu juga ditemukan sedikitnya 200 alat batu yang umumnya terdiri atas serpih bilah dan batu inti.

Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Mata Menge, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melakukan penggalian di Kobatuwa. Situs ini berupa lembah yang bagian tengahnya dibelah sungai yang mengering saat kemarau. Nama Kobatuwa diartikan penduduk sebagai tali hutan karena wilayah ini dulu merupakan hutan yang ditumbuhi tanaman belukar dengan akar sangat lebat.

”Di Kobatuwa, kami menemukan beragam artefak batu yang melimpah dan fragmen fosil tulang serta gigi hewan vertebrata yang umumnya jenis hewan stegodon,” kata Jatmiko, arkeolog dari Puslit Arkenas. ”Sebagian temuan didapatkan dalam keadaan masih melekat di lapisan tanah aslinya.”

Pada umumnya, temuan artefak di Kobatuwa didominasi jenis alat-alat serpih bilah. Penelitian melalui analisis jejak belah terhadap endapan tufa putih yang melapisi situs mengungkap, situs ini berusia sekitar 700.000 tahun.

Berbagai temuan alat batu ini semakin menguatkan hipotesis Father Theodor Verhoeven bahwa Cekungan Soa pernah dihuni manusia purba. Pada tahun 1968, pastor berkebangsaan Belanda ini menemukan fosil stegodon dan artefak alat batu di Cekungan Soa. Verhoeven yang pernah belajar arkeologi itu menggali lapisan tanah di beberapa lokasi di Cekungan Soa, yaitu Mata Menge, Boa Lesa, dan Ola Bula.

Verhoeven melaporkan temuannya berupa alat batu dan tulang stegodon di balik lapisan abu gunung api. Karena stegodon hidup di Indonesia sekitar 750.000 tahun lalu, dia mengklaim bahwa alat batu itu juga berasal dari tahun yang sama. Namun, temuan itu tak banyak mendapatkan respons karena tiadanya kepastian umur batuan.

Setelah lama terabaikan, tahun 1991-1992, tim gabungan dari The Netherlands National Museum of Natural History bersama dengan PSG yang waktu itu masih bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G) melakukan penggalian di Mata Menge. Tim ini juga melakukan pengujian paleomagnetik untuk mengetahui umur lapisan batuan yang mengubur fosil dan artefak batuan.

Pada tahun 1994, P3G melanjutkan penggalian di Cekungan Soa bekerja sama dengan The University of New England, Australia. Penelitian itu berlangsung hingga saat ini dan telah menemukan 12 situs artefak dan fosil. Tersebar di bagian tengah cekungan, di bagian barat dengan situs Mata Menge, Kobatuwa, Boa Lesa, dan Lembah Menge. Di bagian utara terdapat kelompok Tangi Talo dan Ola Bula. Di bagian timur-tenggara terdapat kelompok Dhozo Dalu, Sagala, Ngamapa, dan Kopowatu.

Dari semua situs yang digali, ditemukan aneka jenis binatang purba dan alat batu. Namun, penggalian di Cekungan Soa belum menemukan tulang-belulang manusia purba. ”Berdasarkan bentuk alat-alat batu yang ditemukan, kami menduga manusia purba di sini adalah nenek moyang Homo florensiensis di Liang Bua,” kata Mike. ”Tetapi, semua teori ini masih spekulatif, sampai kami bisa menemukan fosil manusia purba di sini,” kata Mike, arkeolog tua ini sambil menghela napas.

Adam Brumm, research fellow pada University of Wollongong, Australia, mengungkapkan, temuan manusia purba di Flores juga bakal mengubah peta migrasi sejarah manusia. ”Kita akan punya bukti bahwa ada migrasi manusia dari timur. Ini menarik dan pasti akan mengejutkan dunia,” katanya.

Senja temaram di Cekungan Soa. Suasana sepi. Warga lokal yang bekerja sebagai penggali sudah pulang ke rumah. Mike baru saja beranjak dari lubang galian di Mata Menge menuju base camp di Desa Mengeruda ketika dia berkata dengan lirih, ”Satu gigi pun cukup. Satu tubuh, tentu akan lebih baik.” (*)

(Tim Penulis Ekspedisi Cincin Api Kompas)
Ikuti perjalanan Ekspedisi Cincin Api Kompas di www.cincinapi.com

Ketika Lonceng Victoria Berdentang Sendiri

Kastil Victoria Ambon
Nusantara ternyata memiliki riwayat gempa dan tsunami yang sangat panjang. Jauh sebelum tsunami dahsyat melanda Flores 12 Desember 1992 dan Aceh pada 26 Desember 2004.

LONCENG -lonceng di Kastel Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Tak lama kemudian air laut datang dengan suara bergemuruh.

Demikian penggalan catatan naturalis Georg Everhard Rumphius tentang gempa dahsyat disusul tsunami yang melanda Pulau Ambon dan Seram pada 17 Februari 1674. Catatan itu dibuat Rumphius pada 1675 dan jadi satu-satunya naskah yang diterbitkannya semasa hidup.

Kastel Victoria di Leitimor itu kini ada dalam kompleks Benteng Victoria, Ambon. Lokasi benteng ini persis di seberang Kantor Gubernur Provinsi Maluku. Saat ini benteng itu dijadikan kompleks perkantoran dan perumahan Komando Daerah Militer XVI/Pattimura.

Catatan Rumphius itu sejauh ini merupakan dokumentasi lengkap tertua yang dibuat tentang gempa dan air laut naik (istilah tsunami belum dikenal saat itu) di Nusantara. Sebelumnya, bahkan hingga ratusan tahun kemudian, kisah tsunami di Nusantara lebih kerap disebutkan dalam cerita lisan.

Awalnya, naskah ini disimpan di Perpustakaan Kerajaan Belanda di Den Haag dalam kategori anonim. Baru pada tahun 1871 ditetapkan bahwa laporan itu dibuat Rumphius. Pada tahun 1998, catatan itu diterbitkan kembali atas transkripsi W Buijze.

MJ Sirks PhD, profesor genetika dari Universitas Groningen dalam tulisan Rumphius, the Blind Seer of Amboina menyatakan, Rumphius begitu terikat dengan Ambon karena selama hampir 50 tahun dia tinggal di sana dan mengalami tragedi sekaligus kebahagiaan dalam pekerjaannya.

Penyaksi buta

Tsunami Jepang
Kisah perjalanan Rumphius memang penuh tragedi. Dia menghabiskan masa mudanya di Hanau, Jerman, tempat ayahnya, August Rumpf, menjadi arsitek terkenal. Namun, itu tidak menghalangi ketertarikan Rumphius untuk menjadi petualang. Ia berharap untuk melihat dunia yang lebih besar dari Hanau.

Rumphius pun meminta gurunya, Count Ludwig von Solms Grifenstein-Braunfels, untuk didaftarkan sebagai tentara Republik Venesia.

Namun, setelah naik ke kapal di Holland, bagian barat Belanda, ia sadar telah ditipu. Rumphius ternyata justru dimasukkan menjadi tentara West Indies Company (WIC). Awalnya dia memang akan dikirim sebagai prajurit ke Venesia, namun kapal itu mengubah haluan dan membawa para prajurit itu ke Brasil.

Di tengah jalan, kapal Swarte Raef, yang membawa Rumphius, diserang kapal Portugis. Rumphius kemudian dibawa ke Portugis. Di sana ia dan teman- teman prajuritnya dilatih untuk menjadi tentara Portugis.

Periode ini menjadi titik balik kehidupan Rumphius. Di Portugis, keinginan bertualangnya tersalurkan ke arah lain. Ia mendengar begitu banyak cerita luar biasa tentang dunia timur, dunia tumbuhan yang aneh, dan hewan-hewan asing yang juga aneh. Semua itu membuat keinginan Rumphius untuk menjelajah kian besar.

Setelah meninggalkan Portugis pada 1648 atau 1649, Rumphius kembali ke Hanau. Pada akhir 1652, ia mendaftarkan diri sebagai tentara East Indies Company (EIC). Pada Juni 1653, dia pun mendarat di Batavia dan pada 8 November ia pergi ke Pulau Ambon.

Menjadi tentara ternyata tidak memuaskannya. Gubernur Ambon saat itu, Jacob Hustaerdt, kemudian memberinya tugas sipil. Pada 1662 Rumphius resmi menjadi menjadi pegawai perdagangan di perusahaan EIC.

Pada saat itu juga Rumphius mulai mempelajari hewan dan tumbuhan di Ambon secara sistematis. Selama bertahun-tahun ia mendedikasikan waktu luangnya untuk belajar dan menulis tentang flora dan fauna Ambon.

Rumphius kemudian menjadi pimpinan di Hitu, sebuah daerah di pesisir utara Jazirah Leihitu di bagian utara Pulau Ambon. Di sana ia tinggal bersama keluarganya. Setelah dibebastugaskan dari perusahaan, Rumphius menemukan kebahagiaan dengan meneliti alam.

Namun, pada tahun 1770 Rumphius mengalami tragedi tragis. Dia kehilangan penglihatannya, tanpa ada penjelasan penyebabnya. Kebutaan yang dialami tidak menghalanginya untuk melanjutkan penelitiannya tentang flora dan fauna Ambon.

Dalam ilmu alam, Rumphius menghasilkan tiga kerja besar: Amboinsch Kruidboek, Amboinsch Rariteitkamer, dan Amboinsch Dierboek.

Kruidboek atau ”Herbarium Amboinense” dipandang sebagai karya terbesar Rumphius. ”Di antara tulisan-tulisan itu ada tulisan Rumphius lain yang kurang penting. Akibatnya, Tuan-tuan yang Mulia, ia tidak terlalu merekomendasikannya. Ada yang Amboinsche-Rariteitkamer, yang terdiri dari tiga buku, dan masih ada buku lain, Land-, Lugt-en Zeegedierten dari kepulauan ini...” (dari surat Gubernur Ambon ke Gubernur Jenderal di Batavia pada 20 Mei 1697).

Pada 1679 dan 1680, Gubernur Ambon memberikan asisten yang bernama Daniel Crul untuk membantu kerja Rumphius. Anak Rumphius, Paulus Augustus, juga membantu, setidaknya dari 1686. Rumphius menghasilkan banyak sekali karya sehingga Gubernur Ambon Dirck de Haes menulis, ”Pekerjaan sepertinya telah selesai, dan saat ini ada 1.720 bab termasuk 12 buku.”

Namun, tragedi rupanya tidak menjauh dari Rumphius. Dalam kebakaran besar di Ambon, pada 11 Januari 1670, buku, koleksi, dan manuskrip Rumphius turut hancur. Untungnya sebagian buku utama bisa diselamatkan, namun gambar-gambar yang dibuat Rumphius sebelum tahun 1670 turut dimakan api.

Tragedi terbesar

Tsunami Aceh 2004
Bagi Rumphius, tragedi terbesar yang dialaminya terjadi pada 1674, ketika gempa dan gelora tsunami melanda. Bukan hanya karena petaka itu menewaskan 2.322 orang di Pulau Ambon dan Seram, tetapi juga menewaskan istri Rumphius dan salah satu anak perempuannya.

Hila, di dekat Hitu, disebut Rumphius sebagai daerah yang paling menderita. ”Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas (benteng), mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman. Akan tetapi, sayang sekali tidak seorang pun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng (Amsterdam),” tulis Rumphius.

Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai. Sebanyak 1.461 orang tewas di Hila.

Sedangkan di Hitu, menurut Rumphius, air laut naik hingga setinggi 3 meter dan menyeret rumah-rumah kompeni. Sedikitnya 36 orang tewas.

Dengan rinci Rumphius mengisahkan kondisi desa-desa di Ambon dan Seram yang hancur akibat peristiwa itu. Sedikitnya ada 11 desa yang dideskripsikan Rumphius.

Desa-desa itu terentang di sepanjang pesisir utara Jazirah Leihitu, mulai dari Larike di ujung barat hingga Tial di ujung timur. Di Pulau Seram yang tercatat adalah tempat-tempat di daerah Huamual, seperti Tanjung Sial dan Luhu. Catatan lain juga berasal dari Oma di selatan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut.

Dalam khazanah mitigasi bencana, catatan Rumphius ini merupakan warisan penting karena memberi kesaksian bahwa Nusantara memiliki riwayat gempa dan tsunami yang sangat panjang. Jauh sebelum tsunami dahsyat melanda Flores 12 Desember 1992 dan Aceh pada 26 Desember 2004, Rumphius telah menuliskan tentang bencana sejenis di bagian timur Nusantara.

Sayangnya, catatan rinci Rumphius itu tak banyak diketahui masyarakat Ambon dan Seram. Nama Rumphius bahkan tidak begitu dikenal.

”Tidak banyak yang tahu tsunami yang katanya dicatat Rumphius. Kalau gempa di sini memang sering terasa, tapi masyarakat tidak lari ke bukit, malah diam di tempat,” kata Damri Lating (49), warga Hila.

Hal senada diungkapkan Said Lumaela (52), warga Kaitetu, desa yang bersebelahan dengan Hila. ”Pernah dengar tentang Rumphius, tetapi tidak tahu itu soal apa,” katanya. (M Zaid Wahyudi/A Ponco Anggoro)

Lihat PETA TSUNAMI di Indonesia

Sumber: Kompas.Com

Wajah Polri

WAJAH kepolisian kita kembali mengusik perasaan publik. Perasaan yang paling hakiki yakni  runtuhnya kepercayaan. Hari Senin 30 Juli 2012  polisi menyandera penyidik  hingga jajaran pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat  menggeledah barang bukti di  Gedung Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri terkait dugaan kasus korupsi simulator kemudi motor dan mobil.

Tim KPK tidak diperkenankan membawa dokumen yang menjadi bukti dugaan aliran  aliran dana ke pejabat Korps Lalu Lintas (Korlantas). Penyidik KPK ditahan hingga larut malam.  Sikap seperti itu jelas sangat mengecewakan. Polri seolah-olah menempatkan dirinya bukan sebagai bagian dari institusi penegakan hukum di negeri ini. Idealnya mereka memberikan dukungan terhadap KPK menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Toh langkah KPK justru mau membersihkan institusi Polri khususnya Divisi Korlantas dari perilaku oknum yang menyimpang, oknum yang membuat wajah Polri rusak di mata masyarakat.

Menarik apa yang dikatakan pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar seperti dikutip Kompas.Com, Selasa (31/7/2012). Bambang mengatakan, sikap tidak kooperatif itu tidak mungkin inisiatif anggota di dalam gedung Korlantas.

Dia yakin larangan bagi penyidik KPK keluar gedung dan membawa seluruh dokumen hasil penggeledahan atas perintah atasan. Artinya, unsur pimpinan Polri patut diduga berada di balik penyanderaan tersebut. Suatu sikap yang sangat tidak elok.

Dugaan penyimpangan di Korps Lalu Lintas Polri sudah menjadi rahasia umum. Untuk itulah KPK harus terus mengusut perkara itu sampai tuntas. Dan, KPK agaknya tidak mundur selangkah pun meskipun menghadapi halangan. Dalam jumpa pers di Kantor KPK Jakarta, Selasa kemarin Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, penyidik KPK telah menetapkan Mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Djoko Susilo  sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan simulator kemudi motor dan mobil tahun 2011. Tersangka diduga menerima suap Rp 2 miliar dari proyek senilai Rp 196,87 miliar itu.

Sudah sepatutnya KPK bertindak tegas dan tanpa pandang bulu. Pembersihan institusi Polri dari perilaku oknum yang koruptif sejalan dengan tekad dan komitmen pimpinan Polri sendiri tentang transparasi publik demi memperbaiki citra positif kepolisian di mata masyarakat.

Usaha menumbuhkan kepercayaan publik adalah pekerjaan besar bagi Polri mengingat masih saja terjadi tindakan oknum anggota polisi yang jauh dari harapan masyarakat. Misalnya peristiwa penembakan yang menewaskan seorang bocah di  Desa Limbang Jaya, Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Peristiwa yang sama pun  terjadi di Sulawesi Utara ketika  Briptu DT melepaskan tembakan yang menewaskan warga Tondano, Kabupaten Minahasa, Gerald Lumowa tanggal 28 Juli 2012. Masyarakat mananti Polri bersikap profesional. Jika Polri membela anggotanya secara membabi-buta maka makin hancurlah citranya.*

Sumber: Tribun Manado 1 Agustus 2012 halaman 10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes