Pentingnya Etika Media Sosial

Oleh: Robert Bala
Diploma Public Speaking (Hablar en Público) Universidad Complutense de Madrid, Pelaku Media Sosial.

POS KUPANG.COM -- Beberapa saat lalu, hampir semua pelaku media sosial diingatkan pesan berikut: "Admin WhatsAPP boleh dipenjara". Dijelaskan: `Admin WhatsApp yang gagal bending penyebaran maklumat tidak benar, fitnah, hasut, menipu akan dihukum".

Ditambahkan pula sesuai Pasal 28 ayat 2 UU ITE ditekankan bahwa setiap orang yang sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu, berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dapat dihukum.

Beberapa hari berselang kembali ditampilkan sebuah `INFO TERKNI'. Intinya disampaikan bahwa sejak 31 Oktober 2017, sesuai peraturan terbaru, semua panggilan, rekaman panggilan, wahatsApp, Twitter, Facebook, dan semua media sosial akan dipantau.

Ada apa di baliknya? Mengapa pemberitahuan itu mestinya tidak dianggap sekadar sebuah peringatan atau sungguh sebuah ancaman? Apa yang bisa dibuat agar kita tidak terjebak dalam perangkap tersebut?

Menggoda


Whats on your mind (apa yang sedang anda pikirkan), demikian media sosial membuka kontak di halaman utama. Sebuah frase penuh godaan. Ada aneka pikiran yang mengemuka, terutama pikiran yang menyenangkan tetapi juga yang memunculkan kegalauan.

Permasalahan, sebuah kegembiraan atau kegalauan selalu kontekstual. Ia tekait sebuah situasi, melibatkan orang lain sebagai penyebab, dan tentu saja ketika diungkapkan dapat memunculkan aneka interpretasi.

Sekilas orang merasa, media sosialku bersifat pribadi, hal mana benar adanya. Ia adalah `bilik privatku'. Yang tidak disadari, betapapun media sosial bersifat pribadi, telah dikunci, tidak memiliki follower (pengikut), tetapi di media sosial sudah terdapat linimasa.

Ia akan menangkap semua unggahan terbaru dari semua penggunanya. Artinya, komentar apa pun di media sosial akan ditemukan walaupun sebuah akun sudah diubah lebih pribadi.

Bagi orang yang memiliki masalah, tidak sulit memantau lawan. Cukup dengan menangkap ekspresi. Meski diungkap lewat bahasa berbunga, puitis, apalagi ironis, tidak dilihat sebagai ungkapan hati yang bisa memicu pertikaian.

Lebih lagi, ketika ekspresi hati sesaat diungkap dengan sangat lugas, emosional, dan provokatif. Sudah pasti akan mendapatkan tanggapan.

Di sinilah bahayanya. Media sosial hadir begitu kejam. Ia bisa mengekspresikan hati hingga diketahui begitu banyak orang.

Kedangkalan hati dan etika bisa dipantau. Lebih lagi, ketika dalam posisi apapun, seseorang akan mudah terbaca kematangan diri, hal mana menjadi sebuah evaluasi.

Lebih lagi, ekspresi yang keluar. Shiv Khera misalnya tidak melihat ekspresi negatif yang keluar sebagai hal terpisah.

Baginya, Your positive action combined with positive thinking results in success. Artinya, ketika aksi positif dikombinasikan dengan pikiran positif akan menghasilkan sukses.

Sebaliknya, mengungkapkan pikiran negatif tentang diri dan terutama tentang orang lain akan terkombinasi tanpa disadari dengan perbuatan yang merendahkan diri yang mengarahkan kegagalan.

Korelasi seperti ini umumnya disadari oleh siapapun yang memiliki tanggungjawab.
Ia akan bijak berkata-kata. Godaan media sosial yang memintanya mengungkapkan pikirannya tidak akan dituangkan serta merta.

Ia akan berpikir dua kali sebelum bertindak karena tahu ketika pikiran negatif dikeluarkan, kedalaman diri diketahui. Dan, ketika perasaan diri diungkap, ia akan juga menjadi sebuah konsumsi publik.

Mikrofon

Mudahnya menulis di media sosial serta dampaknya yang bisa sangat besar menjadi sebuah awasan untuk selalu menjadikan etika sebagai payung pelindung diri. Tetapi bagaimana memahami etika medsos itu?

Hal paling sederhana adalah menyadari dan selanjutnya membangun mindset menganggap HP sebagai mikrofon. Mikrofon (HP) akan menyebarluaskan suara (tulisan) dan dapat didengar oleh orang lain.

Di sini ungkapan melalui HP tidak lagi bersifat pribadi tetapi telah disebarluaskan ke orang lain. Orang yang mendengar pun akan menanggapi `celotehan'.

Kesadaran ini diharapkan menumbuhkan etika dasar agar seseorang lebih berhati-hati. Apa yang disampaikan akan diseleksi karena apa yang diungkapkan berdampak luas.

Di sini dibutuhkan etika dasar yang disebut sebagai hukum emas "Lakukan apa yang Anda ingin dilakukan orang lain terhadap Anda dan jangan melakukan apa yang Anda tidak suka orang lain lakukan terhadap Anda".

Lebih jauh, etika yang berasal dari kata `ethos' (ta etha, jamak), yang berarti adat kebiasaan, cara berkipikir, akhlak, sikap, watak, cara bertindak, pada akhirnya diukur dalam enam hal yakni: keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran.

Dalam kaitan dengan media sosial, apakah apa yang saya tulis (perasaan saya) mendatangkan keindahan diri? Apakah tulisan saya terasa indah yang mendatangkan kebahagiaan bagi diri saya dan orang lain? Yang perlu dipahami, kebahagiaan bersifat universal.

Karena itu ketika kebahagiaan bersifat personal dan membiarkan orang lain menderita di atas kegembiraan (semu) ku, maka tentu saja tidak menghasilkan keindahan dalam arti sebenarnya.

Apakah juga kata-kata yang diungkapkan tidak merendahkan orang lain sambil menonjolkan diri? Apakah suku, agama, ras, antargolongan tidak tersinggung dengan bahasa saya?

Selain itu, apakah tercipta kebaikan? Apakah ungkapan saya tidak menyinggung yang akhirnya menyebabkan ketidakbaikan?

Prinsip keadilan perlu juga mengacu pada keadilan. Sebuah ungkapan di media sosial tidak bisa sekedar mengutamakan kepentingan diri tetapi berdiri pada pihak lain untuk membayangkan tuntutan yang sama dari mereka.

Dua prinsip terakhir tentang kebebasan dan kebenaran juga jadi takaran. Media sosial memberi kebebasan untuk berbuat apa saja, tetapi mesti dilakukan dengan mempertahankan kebenaran.

Apa yang diungkapkan perlu diletakkan dalam prinsip bebas untuk melakukan sesuatu yang positif dan tidak sekedar bebas dari ikatan yang mengekang.

Singkatnya, media sosial akan kian berguna ketika pengguna selalu kembali memeluk etika sebagai penuntun. Dalam bahasa DH Lawrence, etika harus bersifat abadi (juga dalam media sosial) "Ethics and equity and the principles of justice do not change with the calendar."

Penekanan etika inilah pengendali kita saat memasuki media sosial. Kita sadari bahwa hanya dengan etika, bahaya negatif medsos yang bisa menjerumuskan penggunanya dapat terhindarkan. Tanpa pengendalian etis, bahaya keretakan sosial menjadi hal yang sangat nyata. Mari kita kembali pada etika. *

Sumber: Pos Kupang 6 November 2017 halaman 4

Viral, Hoax dan Bijak Bermedsos

ilustrasi
Oleh: Tony Kleden
Wartawan, tinggal di Kupang

Medio pekan lalu, tepatnya hari Kamis, 2 November 2017, Kota Kupang geger. Sekelompok orang, beberapa di antaranya aparatur sipil negara (ASN), `menyerbu' Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, di ruang kerjanya. Mereka bertindak kasar terhadap wakil kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat itu.

Kejadian ini kita nilai geger. Geger  karena sangat jarang terjadi di Tanah Air seorang kepala daerah dimarahi ASN yang pangkat, jabatan dan golongannya masih kecil. Kalau  insiden ini terjadi di rumah pribadi seorang warga bernama dr. Herman Man dan di luar jam dinas, maka soal dan urusannya bersifat privat dan bisa diselesaikan di rumah dengan hukum adat.

Tetapi karena terjadi di ruang kerjanya di Kantor Walikota Kupang terhadap Wakil Walikota Kupang pada  jam dinas, maka soalnya sudah berat dan terbuka ruang sangat besar untuk diselesaikan di sidang pengadilan melalui hukum positif. Ada seperangkat aturan hukum yang bisa digunakan dalam memroses kasus ini.

Tulisan ini tidak melihat insiden itu dari sudut pandang dugaan pelanggaran peraturan yang dilakukan ASN terhadap seorang wakil kepala daerah. Sebaliknya tulisan  hanya fokus menyoroti kekuatan pengaruh media sosial (medsos) di ruang publik saat ini dengan membawa efek yang juga luar biasa dan di luar dugaan.

Efek Medsos

Yang mengejutkan adalah kejadian itu direkam menjadi video dan kemudian ditayangkan di medsos. Tak pelak, dalam hitungan jam saja, kejadian itu berulang-ulang ditayang. Sampai dengan hari Minggu (5/11/2017), atau tiga hari setelah kejadian, video itu sudah 14 ribu lebih kali ditayangkan. Ketika tulisan ini Anda baca, boleh jadi insiden itu telah ditayangkan puluhan ribu kali.

Karena ditayang ulang berkali-kali, kejadian itu kemudian menjadi viral. Dalam dunia maya, viral itu artinya suatu kejadian yang lagi ngetren, terkenal dan menyebar luas secara cepat karena banyaknya orang yang membaca, menonton dan kemudian mengunggahnya kembali. 

Kata "viral" digunakan untuk menyebut sesuatu yang menyebar dengan cepat di internet. Sebuah gambar, tulisan/artikel, atau blog yang dibagikan secara massif oleh orang banyak disebut viral.


Dalam catatan Etymologi Online Dictionary, kata ini sudah muncul sejak tahun 1944. Kata ini diartikan sebagai "segala sesuatu yang berkaitan dengan virus". Virus sendiri adalah istilah dari ilmu kedokteran untuk menyebut mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, penyebar penyakit tertentu.

Kata virus belakangan juga digunakan untuk menyebut software jahat (ilegal) yang dimasukkan ke dalam sistem komputer melalui jaringan atau  flash disk sehingga menyebar dan dapat merusak program yang ada.

Ada kesamaan esensial dari kata "virus" yang dipakai dalam bidang kedokteran dengan kata yang sama dalam bidang komputer. Kedua-duanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang cepat menyebar. Kesamaan itulah yang digunakan sebagai arti kata "viral. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, `viral' diartikan sebagai "bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus."

Apakah kejadian yang sudah viral di Kantor Walikota Kupang itu hoax? Kata  hoax berarti memperdayai atau mengelabui. Pada dasarnya hoax itu berbeda dengan fake news (berita bohong, berita palsu). Pada hoax masih terdapat fakta, tetapi fakta itu sangat dilebih-lebihkan atau didistorsi, dipelintir untuk mendukung isu yang sedang aktual diperbincangkan.  Sebaliknya fake news tidak merujuk fakta apa pun. Singkat kata pada fake news itu memang tidak ada fakta.

Meski berbeda secara mendasar, hoax dan fake news punya tujuan sama, yakni membohongi orang lain dengan merekayasa fakta yang ada menjadi sangat provokatif atau menampilkan `fakta' dari praktik-praktik ilusif. Contoh hoax yang paling fenomenal di Tanah Air adalah serbuan tenaga kerja dari China  beberapa tahun lalu.

Faktanya  benar bahwa ada serbuan tenaga kerja dari China. Jumlahnya puluhan ribu. Tetapi oleh pembuat hoax, jumlah tenaga kerja dari  China itu digelembungkan hingga menjadi dua puluhan juta. Tujuannya menciptakan kekacauan atau kekisruhan untuk memompa semangat anti China.

Di dunia jurnalisme ada juga media yang suka membuat kehebohan dengan menampilkan hoax. Media-media seperti ini berpegang teguh pada adagium ini: if it bleeds, it leads. Jika informasi yang dipelintir itu mampu menciptakan pertikaian yang sungguh brutal, maka semakin layak dirayakan penuh kehebohan.

Dengan penjelasan serba singkat ini jelaslah bahwa insiden di Kantor Walikota Kupang yang  jadi viral itu bukan hoax. Kejadian itu ditampilkan apa adanya sesuai fakta yang terjadi. Walikota Kupang, menurut koran harian yang beredar di Kupang, sangat menyesalkan kejadian itu. Para pihak yang diduga terlibat dalam insiden itu, sebagaimana ditampilkan dalam video yang menyebar, juga sudah memberi penjelasan yang kemudian dikutip media mainstream (koran).

Penyesalan Walikota Kupang  dan penjelasan mereka yang terlibat adalah bukti sah bahwa insiden Kamis pagi itu bukan hoax. Insiden itu benar terjadi dan diviralkan tanpa dilebih-lebihkan. Dia tampil utuh dengan durasi sekitar 6 menit.

Untuk konteks kita di NTT, agaknya inilah `informasi' yang paling banyak menyita perhatian publik. Dia (kejadian itu) ditayangkan ulang sebanyak belasan ribu kali, dibagikan dan disebar ribuan kali, serta ditonton puluhan ribu warganet di NTT dan luar NTT.

Fakta ini sekaligus menunjukkan betapa kuatnya efek media sosial.  Inilah bukti betapa kekuatan medsos begitu dahsyat melebihi media mainstream (koran, majalah, televisi, radio, online/daring).

Perlu Bijak

Tetapi fakta ini sekaligus memperlihatkan sisi lain dari medsos. Yakni bahwa para penggunanya sangat sering lupa bahwa medsos itu tak ubahnya ruang publik yang membutuhkan etika dalam setiap interaksi di dalamnya. Banyak kita sering lupa ketika memegang smartphone kita tidak lagi sendirian. Satu kali pencet tanpa sadar membawa akibat yang sangat jauh dan tidak terbayang sebelumnya.

Maka, yang dibutuhkan adalah bijak melihat status atau postingan yang kita buat
sendiri. Sebisa mungkin menghindari postingan yang memicu pergolakan dalam norma yang berlaku di tengah masyarakat. Medsos memang dunia paling bebas menyampaikan pendapat. Akan tetapi sebisa mungkin menggunakan bahasa yang santun dan tdak menyakiti perasan orang lain ketika menyampaikan pendapat itu.

Kasus Wakil Walikota Kupang adalah contoh kasus yang tepat. Andaikata insiden itu tidak diposting ke media sosial, ceritanya tidak seheboh yang terjadi sekarang. Sangat boleh jadi orang pertama yang memosting insiden tersebut di medsos sama sekali tidak bermaksud jelek. Dia juga barangkali tidak membayangkan pencetan  jarinya membawa dampak yang sangat luas.

Kita jadi ingat kasus yang pernah heboh di Tanah Air beberapa bulan lalu ketika seorang ibu rumah tangga bernama Sri Rahayu ditangkap Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Ibu rumah tangga berusia 32 tahun ini ditangkap karena menyebarkan ujaran kebencian di media sosial melalui akun facebooknya.

Medsos memang sudah menjadi `mainan' atau `hiburan' baru yang begitu digandrungi semua kalangan. Tetapi mainan baru ini ibarat pisau: berguna tetapi juga bisa membunuh. Maka perlu bijak dan butuh kesadaran penuh ketika memegang handphone. *


Sumber: Pos Kupang 9 November 2017 halaman 4

Kaka Yusran Pare Pulang ke Kupang

Kaka Yusran di rumah Om Damyan Godho 25 Mei 2017
Setelah  20  tahun, kang Yusran Pare akhirnya balik lagi dengan misi khusus untuk Pos  Kupang. Sungguh penantian yang cukup lama. Kang Yusran pernah dua kali menopang Pos Kupang di saat-saat sulit. Tahun 1996 dan 1997.

Dia memang sempat ke Kupang tahun 2011  namun kala itu statusnya sebagai anggota delegasi Kalsel yang  mengikuti peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dimana saya menjadi penanggungjawab dalam kapasitas sebagai Ketua PWI Provinsi NTT.

Kehadirannya pada 2011 bukan untuk Pos Kupang. Itu yang mau saya katakan dengan masa penantian panjang selama 20 tahun di atas.

Kaka Yusran --begitu sapaan akrabku padanya --kali ini hadir sebagai instruktur pelatihan calon wartawan Pos Kupang tanggal 22 Mei sampai 3 Juni 2017. Pelatihan sesuai konsep Tribun yang berlaku sama di seluruh Indonesia.

Bertemu Dany Ratu di Kolhua
Materi yang diberikan beliau tanggal 24 Mei 2017 sangat mendasar atau superpenting bagi setiap wartawan yaitu logika dan bahasa Indonesia jurnalistik. Kegagalan banyak wartawan umumnya  karena salah logika dan bahasa Indonesia yang amburadul.

 Bagaimana seseorang dapat menuangkan pikirannya dengan benar bila logika bengkok?  Dan, apa mungkin menghasilkan karya jurnalistik yang baik kalau bahasa Indonesia kacau balau?

Maka materi dari Kaka Yusran sangat penting. Beliau memberi fondasi dulu bagi calon reporter sebelum melangkah ke materi pelatihan yang lain.

Bersama Setya MR
Tidak bermaksud memuji (karena kaka Yusran yang punya inisial keren JPX pun tak butuh),  di Tribun Group, guru jurnalistik dengan kapasitas selevel Kaka Yusran tak banyak.

Itulah sebabnya beliau selalu terlibat dalam setiap pelatihan wartawan di grup koran daerah Kompas Gramedia ini. Duet abadinya adalah Mas Febby Mahendra Putra, General Manager Newsroom Tribun Network Jakarta. Kalau untuk online (digital), maka ahlinya adalah Dahlan Dahi.

Saya banyak belajar dari senior yang satu ini dalam menjalani profesi sebagai wartawan. Loyal dan total. Segalanya dipersembahkan demi kebaikan bersama.



Bersama anak saya Albertus T Bata
Kaka Yusran sudah berkeliling Indonesia, bukan sekadar jalan-jalan tetapi menjalankan tugas sebagai jurnalis. Dia antara lain pernah  bertugas di Bandung, Yogyakarta, Palembang, Kupang, Banjarmasin, Semarang dan kini kembali ke Bandung sebagai Pemimpin Redaksi Harian Pagi Tribun Jabar, koran yang dulu dilahirkannya berawal dari nama Metro Bandung.

Hampir seluruh hidupnya jadi "bujangan lokal" di kota-kota itu. Dia sendirian, mandiri.  Keluarga (istri dan anak-anak)  menetap di Bandung, Kaka Yusran yang berkeliling sambil berbuat baik (bekerja mencari nafkah).  Biasanya sebulan atau lebih Kaka Yusran pulang ke Bandung menengok keluarga.

Berawal dari "nasib" kaka Yusran itulah kemudian jadi ketentuan di grup kami bagi pimpinan redaksi atau pimpinan perusahaan atau setingkat  manajer  yang pisah dengan keluarga berhak pulang sebulan atau dua bulan sekali. Kebijakan yang manusiawi. Saya sendiri pernah mengalami itu ketika bertugas di Harian Tribun Manado (2012-2014).

Dengan Paul Bolla dan Fery Jahang (kanan)
Oh ya, satu sifat Kaka Yusran yang luar biasa adalah ingat kawan dan sahabat- sahabatnya. Setelah memberikan materi pelatihan bagi calon wartawan Pos Kupang, tanggal 25 Mei 2017 kami berkeliling mengunjungi rekan-rekan di Kota Kupang mulai dari Dany Ratu (Kolhua)  sampai Hans Louk (Tanah Merah, Noelbaki-Oebelo, Kabupaten Kupang).

Sejak keluar dari Hotel Swiss-Belinn Kristal Kupang hari Kamis 25 Mei 2017 siang, kami berdua dengan mobil sewaan (karena saya tidak punya soalnya, hehehehe) pertama berkunjung ke rumah Om Damyan Godho di komplek perumahan Lopo Indah Permai Kolhua.

Bersama Hans Louk dan kaka nona
Di sana ternyata tidak hanya Om Damy dan tanta. Ada abang Marianus Gaharpung (saudara sepupu Om Damy) dan Om Sunga. Om Damy dan tanta menyambut hangat Kaka Yusran. Cerita nostalgia. Di sini kami hampir satu jam, berpisah karena Om Damy dkk ada acara di luar rumah.

Dari rumah Om Damy, saya ajak kaka Yusran mampir di gubuk saya di Blok W No.6 Perumahan Lopo Indah. Jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah Om Damyan Godho. Saya senang kaka Yusran datangi rumahku yang sederhana, tipe 21.

Perjalanan kami berlanjut ke bukit Kolhua, menuju rumah Dany Ratu, mantan wartawan Pos Kupang yang kini menjabat komisioner KPU Kota Kupang. Sempat salah duga rumah Dany tapi akhirnya dapat juga. Dua orang itu berpelukan erat. Kami duduk bacarita di teras rumah Dany yang molek.


Matahari  hampir tenggelam tatkala kami meninggalkan rumah Dany Ratu. Setelah janjian kami meluncur ke Tanah Merah, kediaman abang Hans Christian Louk, mantan Redaktur Pelaksana Harian Pos Kupang. Lagi-lagi pertemuan yang mengharukan setelah hampir 20 tahun tak bersua. Kaka Yusran, kaka Hans dan kaka nona bernostalgia. Cerita soal anak-anak dan beragam rupa. Saya setia menyimak dan hanya sesekali menimpali.

Bersama Paul Bolla
Ternyata temu kangen kaka Yusran belum jua berakhir di rumah kaka Hans Louk. Malam itu  berlanjut di Hotel Swiss-Belinn Kristal Kupang. Saya tidak ikut karena harus masuk kerja.  Di Kristal Kamis malam itu  Kaka Yusran kangen-kangenan dengan Kaka Evie Pello, Ana Djukana, Lidya Chandriani dan Hans Louk.

Sebelumnya kaka Yusran juga bersua Paul Bolla.  Saya ikut berbahagia. Kaka Yusran sungguh menikmati perjumpaannya dengan kawan-kawan lama (kini mantan Pos Kupang). Sungguh indah persahabatan...

Di sela raker kami di Jakarta 9-11 Oktober 2017, tiba-tiba kaka Yusran bilang ade beta tahun depan (2018)  su pensiun o... Saya terkejut, waktu terasa cepat berlalu ya. Pensiun sebagai karyawan Kompas Gramedia, tapi  sebagai wartawan hebat melekat pada kaka Yusran selamanya.

Di Hotel Santika Jakarta sebelum berpisah pascaraker pimpinan koran daerah, 12 Oktober 2017, saya  sempat bertanya apa aktivitas kaka setelah pensiun nanti.

Jawabannya begitu sederhana. Semua sudah diatur (oleh pemilik kehidupan) dek, kita tinggal menjalaninya saja. Mengalir saja.

Prinsip hidup bahagia, simpel. Terima kasih Kang. (dion dbp)

In Memoriam Pater John Dami Mukese, SVD


John Dami Mukese (kanan)

"Kain kafan telah terbentang
Ciptakan tata warna tembus pandang 
Pada corak-corak abadi busana kematian 
Yang tak pernah berdusta 
Tentang liku-liku hidup kita"

(Kematian, karya John Dami Mukese)

POS KUPANG-- Kutipan di atas adalah penggalan puisi karya John Dami Mukese berjudul "Kematian". Tentu puisi ini bukan ditujukan pada dirinya sendiri, akan tetapi kematian adalah kepastian, dan kepastian itu kini bersamanya.

 Penyair metafor John Dami Mukese, SVD -biasa disapa Pater Dami. Pada puisi "Deburan Cinta Kedua "John Dami Mukese menulis "Deburan ombak Nanganesa -Deburan cintaku yang kedua -Buah-buah perawan kekasihku -sempurnakan citra keperawananku."


Demikian pula dalam puisi "Semadi" ditulisnya "Di tepi kali kecil aku bersemadi -Sendirian ditemani percak-percik air ... Pada angkasa sunyi mengembara -Membawa aku pulang ke mayapada."

Pater John Dami Mukese, sudah pulang ke keabadian. Penggalan puisi "Kematian", secara tegas mengatakan bahwa kematian tidak pernah berdusta setelah menyerahkan segenap hidupnya sebagai imam biarawan.

Cintanya pada panggilan hidupnya adalah cinta pertama, sedangkan hal-hal lainnya adalah "cinta kedua". hal ini digambarkan secara metaforis melalui simbol-simbol alam. Kenyataan yang menjelaskan bahwa kepenyairannya berakar pada pengalaman masa kecilnya.

 John Dami Mukese: belum selesai

Sekitar tahun 2005 bersama Pater Paul Budi Kleden, SVD kami berencana menulis tentang kepenyairan Pater Dami sebagai hadiah pesta perak tahbisannya sebagai imam.

 Pada waktu itu, Pater Budi sudah siapkan tulisannya. Suster Wilda pun (kalau tidak salah ingat) juga sudah mengirim tulisannya untuk Pater Dami.

Saya sendiri bersama Ida Ayu Sruthy siapkan tulisan berjudul "Pandangan Dunia Penyair Musim Kesenangan Sekali."

 Membaca puisi-puisi Mukese, kami berdua sebenarnya berjalan bersama puisi-puisinya. Kami pergi ke kampung halaman, masa kecil, kehidupan keluarga, dunia dan alam kehidupan Mukese sendiri. Kami mencoba menyelam dan "hidup bersamanya" ketika  makna alam dan simbol-simbol metaforis yang ditampilkannya berusaha  kami pegang. 

Pater Dami sedang studi doktoral di Manila ketika itu. Dalam salah satu suratnya Pater Dami menulis begini, "Kalau Ibu Mary serius mau melakukan apresiasi hasih karya saya, carilah kesempatan untuk menengok kampung saya sebelum menulis sesuatu tentang dunia kepenyairan saya (eh, kalau saya layak menyandang gelar mulia "penyair" itu)".

Secara fisik kami memang tidak pernah ke Lengko Ajang -Pembe kampung halamannya. Namun kami menemukan "dunia" Mukese melalui
puisi-puisinya. 

Sayangnya kerja bersama Pater Paul Budi Kleden, Suster Wilda, dan Ida Ayu Sruthy tetap tertinggal sebagai draf. Belum selesai belum disentuh kembali, sampai pada hari yang mengejutkan. Pater Dami sudah meninggal.

Musim Kesenangan Sekali
 

 John Dami Mukese dilahirkan di  Menggol, Lambaleda, Manggarai (Flores Barat), 24 Maret 1950.

Sebagaimana yang ditulis Pater Dami sendiri, Menggol, pada tahun 1950-an adalah sebuah Sekolah Dasar Katolik yang termasuk dalam wilayah Paroki Benteng Djawa, Hamente atau Kedaluan Lambaleda (sekarang Kecamatan Lambaleda).

  Profesi ayahnya adalah seorang Guru SD.  Tahun 1955, Mukese dan keluarga pindah ke Pembe, Kedaluan Congkar (Manggarai Timur Utara, sekarang dalam wilayah Kecamatan Sambi Rampas).

Pembe kampung asli bapanya. Di kampung inilah  keluarga Mukese menetap sampai sekarang. Mukese lebih  lebih dikenal sebagai "Orang Pembe". Tempat kelahiran, asal daerah orang tua dan keluarganya, sangat berarti bagi perjalanan kreatif Mukese sebagai penyair.

Pater Dami dibaptis oleh P. Anton Moelmann, SVD, seorang misionaris Belanda, yang waktu itu   bertugas asistensi di Paroki Benteng Djawa. P. Anton Moelmann ternyata kemudian menjadi Dosen Mukese di Seminari Tinggi Ledalero dalam mata kuliah Sejarah Filsafat dan Sejarah Gereja.

Ia dibaptis dengan nama Yohanes Damasenus.  Karena salah penulisan, dia  lebih dikenal dengan nama Yohanes Damianus dan disingkat John Dami. Waktu didaftar di Seminari Kisol, namanya hanya  ditulis Damianus Mukese.  

Nama aslinya   adalah Mukese. Nama itu adalah nama buatan atau ciptaan ayahnya sebagai peringatan akan peristiwa penting yang dialaminya bersama keluarga. Mukese adalah akronim dari tiga kata, "Musim Kesenangan Sekali" (gaya bahasa tahun 50-an, menurut Mukese).

Nama ini sudah terlanjur disalahtafsir dan dipopulerkan oleh orang-orang yang tidak tahu persis sejarah namanya. Disebutkan bahwa Mukese berasal dari kata-kata "Musim Kering Sekali". Namun tafsiran terakhir ini menurut Mukese,  sama sekali tidak benar. Bapanya sendiri menjelaskan kepadanya sejarah namanya sebagai berikut.

Makenbat sampai kadimas

Pada tahun 1950, hasil panen sangat melimpah di wilayah Manggarai, khususnya di sekitar Menggol. Keadaan itu persis berlawanan dengan situasi ketika kakak, saudara  lelaki di atasnya, lahir pada tahun 1947.

Pada waktu itu terjadi paceklik hebat. Wabah kelaparan terjadi di mana-mana. Karena itu  dia diberi nama "Makenbat" yang merupakan akronim dari "Masa Kelaparan Hebat". Karena Mukese kemudian lahir dalam musim kelimpahan (kesenangan), musim itu jadi dasar penamaannya, sebagai kontras terhadap nama kakaknya. Jadi tafsiran "musim kering sekali" sama sekali tidak benar.

Selain karena tidak sesuai dengan kisah asli pemberiannya, juga tidak sesuai dengan situasi atau keadaan musim waktu Mukese dilahirkan. Bulan Maret di Manggarai bukanlah musim kering, apalagi musim kering sekali. Di pedalaman Manggarai pada bulan Maret masih banyak turun hujan.

Dalam bulan ini para petani ladang tradisional (tahun 50-an), khusus di wilayah pedalaman Manggarai seperti Menggol, biasanya sedang asyik memanen jagung, ditingkah harapan yang mekar menyaksikan padi juga mulai membunting dan berbunga.

 Satu suasana yang sungguh menciptakan rasa senang atau suka cita.
Bapa dari Mukese  adalah seorang Guru SD yang amat sederhana, tetapi cukup kreatif, terutama dalam soal memberi nama kepada anak-anaknya. Anak ketiga (yang hidup) dalam keluarga,   lahir waktu Jepang masuk Manggarai tahun 1944.

Untuk memperingati peristiwa bersejarah itu Bapa menamai dia "Zahnidam", yang merupakan akronim dari "Zaman Heiho (tentara) Nipon Datang (ke) Manggarai".

Setelah mamanya meninggal (tahun 1960),     menikah lagi tahun 1965. Dari pernikahan ini lahir seorang putera, dan diberinya nama "Kadimas" yang merupakan akronim dari "Karunia di Masa Senja".

Makna Nama Bagi John Dami Mukese

Tentang nama, Shakespeare memang bertanya, "what is in the name?"  Ada apa dengan nama, atau dalam versi lain, mengapa nama begitu dipersoalkan? Bagi Mukese, "nomen ist omen", satu ungkapan Latin yang mau mengatakan bahwa nama, betapa pun sederhananya, memiliki makna atau arti tertentu bagi yang empunya nama.  

Dalam hal Mukese, nama Mukese memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. Tidak secara kebetulan Mukese dilahirkan dalam masa yang cukup baik, menyenangkan seperti dikisahkan di atas.

 Dan tidak secara kebetulan pula bapanya memberinya nama yang menyiratkan latar situasi kelahirannya. Baik latar kelahiran  maupun nama, telah memberi warna khas pada kepribadian Mukese sebagai seorang yang cukup riang, tidak berlarut dalam kepedihan, dan cukup optimistik dalam hidup serta punya pandangan positif tentang orang lain dan tentang banyak hal di sekitarnya.

Pandangan positif ini dapat dibaca jelas dalam puisi-puisinya antara lain Mawar Bukit Sion, Dahlia Imanku Untuk Madonna, Maria Irlandia, Bakung Surgawi, Aster Sang Bunda

    Selamat jalan Pater kekasih.
    Engkau pergi ke keabadian
    Bukan pada "Musim Kesenangan Sekali"
    Banyak kisah duka dan luka alam 
    mengulurkan tangan padamu kini
    dari surga kirimkan puisimu di sini 
(maria matildis banda)


Sumber: Pos Kupang 27 Oktober 2017 halaman 1

Sang Penyair Telah Mengalir


John Dami Mukese
Oleh: Pius Rengka
Pengamat Sosial Budaya, tinggal di Kupang

TAK kuingat hari persis. Tahun pun kulupa. Tetapi, hari itu  telah petang. Majalah Horison tiba di  kostku di Wisma Antarnusa, Klebengan, Yogyakarta. Saya mahasiswa pelanggan setia majalah sastra itu. Saya membaca halaman demi halaman. Sebelum malam datang melarut,  puisi pun dibaca.

Bahagia. Pada edisi kali itu, Majalah Horison menyiarkan puisi John Dami Mukese. Doa-doa Semesta. Puisi itu panjang nian. Saya mencermati. Yang dirasakan, semacam sebuah kepergian, keindahan, drama, tetapi ceria dalam derita. Derita para petani Flores, derita para orang tepi yang senantiasa dahaga pada surga perhatian.

Menangkap Lirikan PSM Makassar

ilustrasi
KABAR gembira datang lagi bagi anak-anak Nusa Tenggara Timur (NTT)  untuk membela klub sepakbola ternama anggota Liga 1 Indonesia. Kali ini  tim papan atas Liga 1 kebanggaan masyarakat Indonesia Timur, PSM Makassar melirik talenta- talenta muda NTT. 

Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts dan asisten Herman Kadiaman bersama seorang pemain bintang PSM akan berada di Kota Kupang untuk menggelar seleksi terbuka tanggal 24-26 November 2017.  Pemain yang diseleksi kelahiran tahun 1999, 2000 dan 2001. Mereka diharapkan paling lambat sudah berada di Kota Kupang 23 November 2017. Pemain bisa atas nama sendiri, diutus oleh asosiasi dan klub.

Sekali lagi ini merupakan kabar baik. Peluang emas yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pelatih, pemain dan pengurus klub sepakbola di seluruh NTT.

Seleksi terbuka dari klub ternama PSM merupakan  kesempatan untuk menguji kemampuan anak-anak NTT dalam mengolah si kulit bundar. Kita sangat yakin akan ada  putra Flobamora yang masuk hitungan tim pelatih PSM Makassar untuk dipoles lebih lanjut.

Klub papan atas melakukan seleksi terbuka di NTT memang bukan yang pertama. Dalam proses seleksi sebelumnya sudah terbukti mampu melahirkan bintang baru yang kualitasnya bisa menembus tim nasional Indonsia.

Kesuksesan itu diawali oleh  pemain NTT kelahiran Alor, Yabes Roni Malaifani pada tahun 2013 di Kupang. Yabes dari Klub Putra Kenari Alor kini menjadi pemain utama Bali United. Seleksi berikutnya menghadirkan Alsan Sanda dari SSB Tunas Muda Kupang. Saat ini Alsan bermain untuk klub Bhayangkara FC dan dipercayakan pelatih sebagai wakil kapten tim. Yulius Mauloko dari Kristal FC Kupang sekarang memperkuat  Persegres Gresik. Alsan adalah pemain terbaik turnamen  Pos Kupang Cup 2015 sedangkan Yulius top skorer.

Pemain lainnya dari PSN Ngada adalah Celvan Nau,  sekarang kiper Bali United.  Dia  pernah bermain di Kristal FC. Pemain PSN Ngada, Jackson Tiwu (Bali United), kini dipinjamkan ke Persikad Depok (Liga II). Pemain NTT lainnya yang berkiprah di Liga 1 Indonesia  adalah Billy Keraf (Persib Bandung). Billy pernah bermain di kejuaraan  Piala Gubernur NTT membela Persami Maumere.

Di Liga II Indonesia ada Aldo Leki (Persita Tangerang). Untuk tim U-19, Abdul Hamid dari klub Arsenal Lamahala Flotim sekarang bermain di Pusamania Borneo. Junedi Putra dari SSB Tunas Muda bermain di Bali United.

Menurut catatan kita,  klub Liga 1 Indonesia  yang pernah seleksi pemain  di Kupang yaitu Bali United, Persija Jakarta dan Pusamania Borneo. Mari kita gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin agar semakin banyak anak NTT yang bermain di klub terbaik Indonesia. Dan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti mereka membela klub papan atas mancanegara. *

Sumber: Pos Kupang 3 November 2017 hal 4

NH Dini yang Terus Berkarya

Novelis NH Dini
 SEORANG perempuan tersenyum bahagia saat namanya diundang naik ke panggung untuk menerima penghargaan prestasi seumur hidup (lifetime achivement award) dari penyelenggara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017 di Bali, pekan lalu.

Dibantu oleh putra yang menuntunnya, perempuan yang memakai kebaya putih dipadu bawahan kain batik hijau muda itu melangkah perlahan-lahan ke panggung, berdiri di belakang mikrofon yang telah disediakan untuknya.

"Sastra adalah dunia saya. Saya telah menekuni bidang ini selama 60 tahun, dan berharap bisa terus berkontribusi bagi sastra Indonesia," kata N.H. Dini sesaat sebelum menerima penghargaan.

Sastrawan senior yang memiliki nama asli Nurhayati Sri Hardini itu dianugerahi penghargaan atas kontribusinya sebagai penulis sekaligus aktivis, dalam dunia sastra di Indonesia.

Peran Dini, demikian ia biasa disapa, dianggap sentral sebagai pelopor suara perempuan pada tahun 1960-1980-an, di mana belum banyak perempuan Indonesia memutuskan menjadi penulis.

Penghargaan dari UWRF menambah deretan penghargaan yang pernah diterimanya seperti Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), Bhakti Upapradana Bidang sastra dari Pemerintah daerah Jawa Tengah (1991), SEA Write Award dari pemerintah Thailand (2003), Hadiah Francophonie (2008), dan Achmad Bakrie Award bidang Sastra (2011).

Lahir di Semarang pada 29 Februari 1939, Dini sudah rajin menulis sejak duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Karirnya dalam dunia penulisan Tanah Air dimulai saat dirinya mengirim sajak untuk program "Prosa Berirama" yang disiarkan Radio Republik Indonesia, sebelum kemudian menjajal peruntungan membuat cerita pendek untuk majalah wanita Femina.

Karena merasa format cerita pendek tidak cocok untuk dirinya, Dini mulai menulis cerita panjang. Ia mulai menulis karya pertamanya berjudul "Hati yang Damai", kemudian "Pertemuan Dua Hati" (1986) yang diterbitkan di halaman tengah Femina.

Judul tersebut menghasilkan uang dengan jumlah besar, Rp1.000.000 pada tahun 1970-an.

"Uang itu saya taruh di bawah bantal, lalu saya jadikan alas kepala untuk tidur. Saya ingin benar-benar merasakan bahwa saya punya uang sebanyak itu," tuturnya mengenang pencapaian di masa lalu.

Rupanya, Dini belum juga puas. Ia merasa perlu menulis lebih panjang untuk menggambarkan kehidupan orang-orang dan lingkungan sekitarnya.

Dini kemudian merambah ke penulisan biografi dan novel. "Amir Hamzah Pangeran dari Negeri Seberang" (1981) dan "Dharma Seorang Bhikku" (1997) adalah dua buku biografi yang sempat ditulisnya.

Namun, ia lebih dikenal lewat karya-karya novelnya seperti "Pada Sebuah Kapal" (1973), "La Barka" (1975), "Keberangkatan" (1977), serta "Namaku Hiroko" (1977).


Ciri khas novel-novel Dini adalah tokoh utamanya yang hampir selalu perempuan. Ia pun pernah dikritisi karena secara terbuka membicarakan tentang perselingkuhan dan seks sebagai sesuatu yang wajar. Baginya, mengungkapkan persoalan dan perjalanan hidup akan membuat karyanya lebih dekat dengan para pembaca.

Tokoh Sri dalam "Pada Sebuah Kapal", misalnya, yang dikisahkan memiliki suami diplomat berperangai kasar dari Prancis. Perkawinan Sri dan suaminya menjadi hambar setelah mereka mempunyai seorang putri.

Kelembutan dan kehangatan justru didapat Sri dari Michel, kapten kapal yang dikenalnya saat berlayar dari Saigon menuju Marseille. Karena rumah tangga Michel dan istrinya, Nicole, sedang bermasalah, ia dan Sri kemudian berselingkuh dari pasangan masing-masing.

Sri yang adalah perempuan Jawa, digambarkan secara berani melanggar aturan karena tidak lagi nyaman menjalani perkawinan dengan suaminya.

"Mungkin tidak banyak buku pada era itu yang mengangkat tema perselingkuhan, tetapi saya melihat dalam kehidupan nyata banyak perempuan Jawa yang sangat tegas memutuskan berbagai hal dalam hidup, berani menentukan arah hidupnya sendiri," tutur Dini.

Tokoh Sri juga kerap disebut-sebut menggambarkan kehidupan Dini sendiri yang mantan suaminya adalah seorang diplomat Prancis, Yves Coffin.

Dini tidak menampik tudingan tersebut. Ia mengaku hampir selalu "mengikutkan" dirinya dalam tokoh-tokoh ciptaannya, namun tetap menjaga pada takaran tertentu agar tidak menjadi cerita yang terlalu personal.

"Saya yang berlatar Jawa menikah dengan orang asing tentu merasakan benturan budaya dan tradisi Barat dan Timur, pengalaman itu yang sedikit banyak saya tuliskan dalam Pada Sebuah Kapal," kata dia.

Persoalan dan kegelisahan yang dihadapi perempuan banyak didapat Dini dari percakapan dengan teman-teman pramugari saat dirinya bekerja untuk maskapai Garuda Indonesia di Bandara Kemayoran pada 1950-an.

Pada 1960, ia terbang ke Jepang untuk menikah dengan Yves Coffin dan sempat mengikuti suaminya bertugas ke beberapa negara. Namun, pernikahan tersebut tidak bertahan lama. Pada 1984, Dini bercerai dari suami yang telah memberinya dua anak tersebut, dan kembali ke Indonesia untuk terus menekuni dunia penulisan.

Belakangan nama N.H. Dini kembali diperbincangkan setelah kemunculan film animasi "Despicable Me 2" (2013). Karakter alien berwarna kuning, Minions, dalam film tersebut diciptakan dan diisi suaranya oleh putra bungsu Dini, Pierre-Louis Padang Coffin.

Identitas Pierre sebagai animator Hollywood berdarah Indonesia terungkap saat salah satu minion mengucap beberapa kata dalam bahasa Indonesia seperti "terima kasih" dan "masalah".


Terus Menulis

Kini, penulis yang telah melahirkan lebih dari 30 judul buku itu tinggal di sebuah wisma lansia di Banyumanik, Semarang. Dini memilih tinggal di panti tersebut karena tidak ingin merepotkan orang lain.

Selain masih aktif menulis, ia juga kerap diundang sebagai dosen tamu di kampus-kampus atau sebagai pembicara dalam acara-acara sastra dan budaya.

Sejak 1978, ia menerbitkan Seri Cerita Kenangan yang kini telah terdiri dari 14 judul, dari yang pertama "Sebuah Lorong di Kotaku" hingga yang terbaru "Dari Ngalian ke Sendowo" yang diterbitkan pada 2015.

Penulisan seri tersebut terinspirasi dari permintaan ibunda Dini agar dirinya menulis karya-karya yang menunjukkan perubahan zaman.

"Saya bersyukur dikaruniai Tuhan memori yang kuat, itu sangat membantu saya dalam proses penulisan," tutur dia.

Perempuan yang menganut kepercayaan Kejawen itu mengaku memiliki kebiasaan khusus saat membuat buku. Setelah proses penulisan sebuah karya selesai, Dini akan bermeditasi sambil melantunkan doa kepada Gusti Allah pada pukul 01.00-03.00 pagi.

Kebiasaan itu ia yakini dapat memberikan pencerahan dalam proses kreatif, termasuk dalam penulisan "Pada Sebuah Kapal" saat dirinya memutuskan memisahkan masing-masing sudut pandang perempuan dan laki-laki dalam dua bagian yang berbeda, setelah melakukan meditasi tersebut.

Dini saat ini sedang menulis judul lanjutan Seri Cerita Kenangan yang diperkirakan akan selesai tahun depan.

Bagi Dini, profesi pengarang atau penulis itu mulia karena berkaitan dengan proses mencipta.

"Saya menulis karena ingin orang tahu kalau mereka mendapat pengalaman begini, solusinya begini. Sama sekali tidak bermaksud menginspirasi apalagi menggurui, saya hanya ingin berbagi," tuturnya. (ANTARA/Yashinta Difa)

Sumber: ANTARA

Setelah 500 Tahun Reformasi Martin Luther

ilustrasi
Oleh: RD Herman P. Panda
Praeses Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang

POS KUPANG.COM -- Lima ratus tahun yang lalu, pada 31 Oktober 1517, Martin Luther mencetuskan reformasi dengan memasang 95 thesisnya di depan gereja Wittenberg. Thesis-thesis itu berkaitan dengan "sertifikat pengampunan dosa" dari Paus yang sedang dipromosikan di Jerman.

Umat diimbau memiliki sertifikat tersebut dengan cara menjalankan sejumlah praktik rohani dan membayar sejumlah uang. Luther, yang kala itu masih berstatus Imam Katolik, memprotes keras praktik seperti itu serta menantang para pengkhotbah yang sedang mempromosikan sertifikat itu berdiskusi dengannya.

Protes Luther sebenarnya mewakili suara umat yang sudah jenuh dengan Gereja yang kian terbuai kemegahan, kemewahan dan kuasa, lalu makin melupakan hakikatnya sebagai institusi spiritual.

Sayangnya pimpinan Gereja waktu itu resisten terhadap pembaruan. Akibatnya, apa yang tidak pernah dikehendaki Luther sendiri pun terjadi yaitu perpecahan Gereja. Selanjutnya, gerakan pembaruan bagaikan bola panas yang bergulir cepat karena segera disusul para reformator lainnya seperti John Calvin dan Huldrych Zwingli.

Pada tahun 1530-an Gereja di Inggris ikut bergolak, yang dipicu  penolakan Paus atas permohonan annulasi perkawinan Raja Henry VIII dan istrinya Katharina dari Aragon. Gereja di Inggris terpisah dari Roma dan berdirilah Gereja Anglikan.

Setelah itu pembaruan terus bergulir, sehingga lahir pula sejumlah Gereja kecil lainnya. Demikianlah sampai sekarang kita kenal sejumlah Gereja yang lahir dari gerakan reformasi: Gereja Lutheran, Calvinis, Anglikan, Methodis, Baptis, Pentakosta, dll. Apa yang terjadi setelah 500 tahun reformasi Luther?

 Setelah berpisah, para Gereja saudari itu ternyata saling merindukan satu sama lain, karena menyadari mereka sesungguhnya lahir dari rahim ilahi yang sama.

Perpisahan tidak pernah dikehendaki langsung oleh Gereja mana pun, apalagi Tuhan. Santo Yohanes Paulus II menyebut perpecahan itu "terang-terangan berlawanan dengan kehendak Kristus dan menjadi batu sandungan bagi dunia serta merugikan perutusan suci yakni mewartakan Injil kepada semua makhluk" (Ensiklik Ut Unum Sint, no. 6). 

Sejak abad-abad lalu banyak usaha dilakukan  menuju persatuan kembali baik yang diinisiasi kalangan Protestan maupun dari kalangan Katolik.

Usaha kalangan Protestan telah muncul di abad ke-19 dan awal abad 20 yang ditandai beberapa gerakan dalam semangat lintas Gerejawi. Ada Konferensi Misi sedunia di Edinburg (1910), yang mengispirasi lahirnya gerakan Life and Work (LW) dan Faith and Order (FO).

Bila gerakan LW amat peduli terhadap kerja sama di antara Gereja-Gereja untuk perdamaian dunia serta keadilan, gerakan FO mendiskusikan iman dan tata tertib gerejawi. Dalam perjalanan waktu, mulai dipikirkan berdirinya Dewan Gereja-Gereja Sedunia (DGD).

 Langkah awal diambil dalam pertemuan LW dan FO di Utrecht, Belanda (1938), walaupun realisasi berdirinya DGD baru tahun 1948. Sejak itu DGD mengadakan sidang raya setiap 7-8 tahun dan anggotanya bertambah. Dalam Sidang Raya ke-10 di Busan, Korea Selatan (2013) misalnya tercatat 349 Sinode Gereja sebagai anggota DGD.

DGD adalah persekutuan Gereja-Gereja dan bukan suatu super body yang melebur Gereja-Gereja anggotanya, apa lagi mengikat mereka dengan doktrin yang wajib diterima bersama.

Sambil menghormati otonomi setiap anggota, DGD berperanan penting membangkitkan kesadaran bersama atas hal-hal yang mempersatukan Gereja serta membangun solidaritas dan kerja sama praktis di antara anggota. 

Bagaimana Gereja Katolik? Patut diakui bahwa pada awalnya Gereja Katolik masih enggan ber-ekumene dengan cara seperti dilaksanakan Gereja-Gereja Protestan. Cukup lama Gereja Katolik mengharapkan dan terus mendoakan "kembalinya mereka yang telah terpisah ke dalam rumah besarnya yaitu Gereja Katolik."

Karena itu Paus Pius XI dalam ensiklik Mortalium Animos (1928) mengeritik konsep persatuan yang didiskusikan dalam beberapa pertemuan Gereja-Gereja Protestan sebagai persatuan yang bercorak minimalis dan tidak sejati. Demikian pula, ketika diundang menjadi anggota DGD, Gereja Katolik tidak bersedia.

Berbeda dari posisi resmi Gereja Katolik di atas, sudah sejak tahun 1930-an terdapat pemikir-pemikir Katolik yang lebih maju, antara lain teolog Yves Congar dan Paul Catourier.

Catourier memilih mendoakan persatuan yang dikehendaki Allah sendiri ketimbang mendoakan "kembalinya mereka yang terpisah ke dalam Gereja Katolik".

Perubahan sikap Gereja Katolik baru terjadi dalam Konsili Vatikan II. Dalam Dekrit Unitatis Redintegratio (UR), dikatakan bahwa Gereja Katolik mengakui banyak sekali nilai berharga yang ditemukan dalam Gereja-Gereja yang terpisah itu seperti Sabda Allah dalam Kitab Suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh Kudus lainnya. Karena itu mereka memang layak termasuk dalam Gereja Kristus yang satu (UR no. 2). Atas dasar itu, Gereja Katolik melihat ekumene sebagai tanggungjawabnya.

Segera setelah Konsili, beberapa usaha awal gerakan ekumene ditingkatkan menjadi bagian tugas resmi Gereja. Pusat persatuan umat kristiani yang dimulai Charles Boyer SJ ditingkatkan menjadi Sekretariat untuk Persatuan umat Kristiani dengan pemimpin pertamanya Kardinal Agostino Bea SJ. Sekretariat itu ditingkatkan lagi menjadi Dewan Kepausan untuk Memajukan Persatuan umat Kristiani (DKMPK) dengan tugas menyelenggarakan ekumene dan membina relasi dengan berbagai Gereja.

 Sampai kini DKMPK telah memprakarsai sejumlah dialog ekumenis baik bilateral maupun multilateral dan melibatkan banyak Gereja.


Vatikan juga menjalin hubungan dengan DGD. Gereja Katolik mulai menghadiri Sidang Raya DGD sebagai peninjau sejak di New Delhi (1961). Sejumlah pimpinan Gereja Protestan diundang pula sebagai peninjau Konsili Vatikan II. Sebagai follow up, dibentuk kelompok kerja sama  untuk mendiskusikan persoalan teologis berkaitan dengan usaha persatuan kembali Gereja-Gereja. Kelompok ini menyelenggarakan sejumlah pertemuan. Bahkan Vatikan mengutus 12 teolog menjadi anggota Komisi Faith and Order dalam DGD.

Hasil Gerakan Ekumene   
Saat ini dapat dikatakan bahwa secara umum Gereja-Gereja telah menjalin relasi kedekatan dan kerja sama satu sama lain. Selain itu melalui berbagai pertemuan dan dialog ekumenis telah diangkat di meja perundingan apa yang dulu dianggap sebagai doktrin yang memisahkan.

Sebagai contoh adalah hasil dialog antara Gereja Katolik dan Federasi Gereja-Gereja Lutheran sedunia (FDL) tentang pokok kontroversi pada masa reformasi yaitu pembenaran karena iman.

Selama berabad-abad pokok ini dianggap doktrin yang secara fundamental memisahkan antara Gereja Katolik dan Gereja Lutheran bersama Gereja reformasi lainnya. Tetapi melalui dialog dan pendalaman bersama kedua pihak, akhirnya diungkapkan sejumlah kesamaan pemahaman di balik rumusan yang berbeda menurut tradisi Gereja masing-masing.

 Di ambang milenium ketiga, tepatnya tanggal 31 Oktober 1999, akhirnya ditandatangani di Augsburg, Jerman kesepakatan antara Gereja Katolik dan FDL tentang Doktrin Pembenaran karena Iman dan sekaligus dihapus penghukuman timbal balik antara Luther dan Gereja Katolik yang pernah terjadi di masa lampau.

Contoh lain adalah dokumen Baptism, Eucharist and Ministry yang dihasilkan kelompok kerja bentukan DGD. Yang terlibat di dalam kelompok kerja itu, selain Gereja-Gereja anggota DGD, juga 12 teolog Katolik. Dokumen itu mengemukakan sejumlah kesamaan pemahaman mengenai Baptisan, Ekaristi dan Jabatan Gerejawi.

Tanggapan Gereja-Gereja atas dokumen tersebut, cukup positif, sekalipun dikemukakan beberapa masukan mengenai pokok-pokok tertentu yang belum sungguh disepakati. Gereja Katolik pun pada dasarnya memuji dan menerima isi dokumen itu dengan beberapa catatan kritis.  

Pada saat ini, model kesatuan dipahami secara baru, bukan lagi kesatuan di bawah satu kepemimpinan (di dunia) dengan keseragaman doktrin dan tradisi gerejawi, melainkan kesatuan dalam hal-hal mendasar seperti iman akan Kristus berdasarkan Alkitab sambil menerima dan menghargai perbedaan.

 Mungkin kata-kata St. Agustinus ini tepat mengungkapkan hal ini: in necessariis unitas, in dubiis libertas, in omnibus caritas, yang berarti: dalam persoalan-persoalan fundamental kita satu, dalam hal-hal yang belum jelas kita bebas, tetapi dalam segala-galanya cinta kasih. Selamat merayakan 500 tahun Reformasi. *

Pos Kupang, 25 Oktober 2017 hal 4

Kota yang Aman dan Nyaman


ilustrasi
AKSI  kejahatan dengan korban luka serius hingga meninggal dunia yang terjadi beberapa pekan terakhir ini semakin mencemaskan sebagian warga Kota Kupang. Mereka  mengharapkan aparat keamanan bersama pemerintah dan komponen masyarakat segera bahu-membahu mengatasi masalah ini.

Kecemasan itu antara lain diungkapkan Andre Otta dan Deford Lakapu.  "Aksi kriminal beberapa hari ini sangat mencemaskan dan mengganggu kenyamanan banyak orang. Cukup membuat resah," kata Andre Otta, Rabu (18/10/2017).

 Andre mengakui masalah ini memang kompleks sehingga perlu dibahas dan diselesaikan secara menyeluruh.  Deford Lakapu pun mengajak semua elemen di Kota Kupang segera mencari solusi demi menciptakan kota yang aman dan nyaman bagi semua.

Meningkatnya kasus kekerasan diakui Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol Agung Sabar Santoso melalui Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas)  Polda NTT, Kombes  Pol Jules Abraham Abast. Jules menyebutkan, kasus pencurian dengan kekerasan (curas) mengalami  peningkatan. Demikian pula kasus penganiayaan walaupun kenaikannya tidak signifikan.


Kapolres Kupang Kota, AKBP Anthon CN mempertegas lewat data. Dari bulan Januari hingga Oktober tahun 2017 telah terjadi 32 kasus curas di Kota Kupang.
Menariknya lagi jumlah kasus  meningkat pesat dalam dua bulan terakhir. Pada bulan September tercatat lima kasus curas dan bulan Oktober sampai tanggal 19 sudah terjadi tujuh kasus curas di Kota Kupang.

Sementara beberapa kasus kriminal yang menarik perhatian publik Kota Kupang antara lain terjadi Minggu (15/10/2017) malam. Pemuda bernama Ifan Sanu diduga dikeroyok kelompok geng motor di Jalan Tom Pello, depan SMP Negeri 2 Kupang. Kedua paha Ifan patah.

 Minggu (8/10/2017) pagi, Christopel Usnak (31) warga Kelurahan Oebobo, ditemukan meninggal tepat di depan sebuah kios di Kelurahan Merdeka. Christopel tewas diduga akibat penganiayaan. Pada Selasa (2/10/2017), Paul Nafi dibacok hingga tewas oleh AD di Kelurahan Lasiana. Dan, hari Minggu (10/9/2017), Artur Armindo Baun tewas ditikam di Jalan Bundaran PU, Oebufu.

Kita berharap aparat keamanan melakukan berbagai langkah konkret demi menjamin keamanan dan menyamanan warga Kota Kupang. Kalau sekadar patroli rutin  itu biasa. Kini diperlukan terobosan yang inovatif guna menekan angka kejahatan di kota yang semakin bertambah jumlah populasi serta permasalahan sosialnya ini. 

Kita beri tantangan kepada Kapolres Kupang Kota dan seluruh jajaran serta Polda NTT untuk memberi rasa aman kepada seluruh warga Kota Kupang. Selain penindakan, langkah pencegahan kiranya tidak dipandang sebelah mata.Aparat kepolisian memiliki sumber daya yang memadai untuk maksud itu.

Tentu saja pemerintah dan  warga Kota Kupang sendiri tidak boleh tinggal diam. Pemerintah kota patut menggerakkan seluruh kekuatan hingga level  RT/RW. Penting menanamkan kesadaran agar masyarakat dapat menjadi polisi bagi diri sendiri. *

Sumber: Pos Kupang 20 Oktober 2017 hal 4

Kisah Bernama Raker


Raker 2015
SEORANG rekan pemimpin koran daerah (korda) Kompas Gramedia yang tergabung dalam Group of Regional Newspaper atau lebih top disapa Tribun Group mendadak bertanya padaku. "Om Dion sudah berapa kali ikut raker (rapat kerja) seperti ini?"

Pertanyaan itu dia lontarkan di sela rehat raker korda Tribun Group 9-11 Oktober 2017 di Palmerah Jakarta. Saya tidak langsung menjawab karena sudah lupa sejak kapan mengikuti raker serupa. Saya perlu waktu memutar kembali memori. Maklumlah usia sudah jelita (jelang lima puluh tahun). Daya sergapnya tak mungkin sama lagi dibanding 15 tahun silam. Hahahahaha

Kisah bernama raker memang sudah menjadi sesuatu bagi saya. Sesuatu  yang sangat penting tentunya! Saya ternyata sudah rutin mengikuti raker setidaknya  sejak tahun 2004 atau ketika mendapat kepercayaan sebagai Redaktur Pelaksana, Wakil Pemimpin Redaksi kemudian Pemimpin Redaksi Harian Pagi Pos Kupang.




Ya, raker itu melekat dengan kepercayaan institusi pada kami sebagai pimpinan unit korda di berbagai daerah di Tanah Air. Dari Aceh hingga Makassar, Manado sampai Kupang.

Raker 2015
Agenda utama raker saban tahun adalah membahas business plan tahun berikutnya yang didahului evaluasi pada tahun berjalan. Evaluasi menohok pada pencapaian kinerja, sisi kuat dan lemah yang kemudian dirajutsatu menuju solusi, rencana, program dan agenda aksi tahun berikutnya.

Saya ikut raker sejak  tahun 2004 sampai 2010 lalu istirahat seturut kepercayaan lembaga yang berubah bagiku. Medio tahun 2011 sampai 2014 saya tidak menjabat sebagai pimpinan unit korda (pemimpin redaksi), jadi bebas dari atmosfer raker.

Eh, tak dinyata medio 2015 dipercayakan lagi oleh pimpinan Tribun Group, Om Herman Darmo, Mas Sentrijanto dan Mas Febby Mahendra Putra untuk  mengawaki redaksi Pos Kupang, maka saya pun raker lagi tahun 2015, 2016 dan 2017 sekarang.

Jadi bila ditotaljumlahkan sampai tahun 2017 ini saya sudah ikut raker sebanyak 10 kali. Dalam hati beta berguman, sudah tergolong senior juga diriku ini.  Hehehehehe (maaf kalau agak sombong sedikit).
Raker 2016
Dan, saya merekam perubahan dari raker ke raker itu nyata. Dulu kami nginap di "Graha" Hotel Pitagiri yang cuma selemparan batu dari Palmerah, markas besarnya Kompas Gramedia Grup. Lalu kami  naik level menginap rutin di Hotel Santika Slipi, sedikit lebih jauh dari Palmerah. Jarak kurang lebih 3 km tetapi bisa habiskan waktu 45 menit di jalan karena macetnya Jakarta.

Demikian pula saat mengikuti RUPS, lagi-lagi nginap  di Santika Slipi. Jadi sudah belasan kali saya nginap di hotel berkelas itu. Beta  hafal suasananya, hafal menu makanannya, hafal juga beberapa karyawati cantik di sana yang ramah dan menyenangkan.

Raker 2016
Perubahan yang pasti pun pada manusianya. Dari tahun ke tahun ada saja pimpinan korda yang datang dan pergi. Berganti-ganti, entah karena mutasi, alih profesi, pindah kerja,  mengundurkan diri atau pensiun. Juga pergi karena menghadap Sang Pemilik kehidupan ini.

Satu lagi yang saya rekam ikhwal perubahan itu. Dulu.... ya dulu bila kami raker ada waktu senggang untuk rekreasi atau makan-makan di luar ruang raker yang kadang bikin mumet.  Pernah kami makan enak sekali  di Bandar Jakarta juga raker sambil "wisata" di kawasan Puncak, Lembang  dan sekitarnya.

Sekarang kemasannya sudah berbeda. Ya, waktu berlalu dan yang abadi adalah perubahan itu sendiri... Go Tribun Group!  Cintaku padamu selalu.

Salam dari  Kenari 1 Kupang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes