Aman dan Nyaman Berwisata ke Labuan Bajo

Pulau Padar
KETIKA mau  berwisata ke suatu tempat, dua faktor ini kiranya selalu menjadi pertimbangan utama seseorang. Apakah dia merasa aman dan nyaman berada di lokasi wisata tersebut?  Tanpa jaminan kedua faktor ini seseorang ogah bepergian sekalipun akomodasi, akses  transportasi dan biaya terjangkau.

Aman artinya bebas dari bahaya, bencana, kecelakaan lalulintas di laut, udara dan darat,  bebas dari gangguan pencuri, penyakit dan sebagainya. Nyaman artinya  wisatawan mendapatkan sesuatu yang menyegarkan, menyehatkan fisik dan psikis. Dengan berwisata mereka memperoleh semangat dan inspirasi baru untuk menapaki hidup selanjutnya yang lebih produktif. Berwisata bukan sebaliknya melahirkan trauma atau dampak negatif lainnya.

Labuan Bajo dan seluruh kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur telah menjadi destinasi unggulan dengan daya pikat luar biasa. Dalam beberapa tahun terakhir jumlah kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut meningkat signifikan. 

Begitu banyak orang penting dan pesohor yang jalan-jalan ke sana. Sebut misalnya pebalap MotoGP asal Italia, Valentino Rossi yang menggegerkan dunia saat dia menikmati keindahan Labuan Bajo, Pulau Padar dan Komodo pada pekan ketiga Januari 2017.

Bulan Juli 2017 yang baru berlalu kita terusik oleh tiga kejadian yang bikin merinding yaitu dua kapal wisatawan tenggelam dan seorang wisatawan asal Singapura hilang saat diving di kawasan TNK. Eksotisme perairan Labuan Bajo ternyata tidak aman bagi wisatawan. Begitu kira-kira kabar yang menyebar luas.

Kejadian pertama pada Kamis (13/7/2017). Wisatawan asal Singapura Rinta Paul Mukkan (30) hilang saat diving di Gililawa Laut. Paul belum ditemukan hingga kini. Minggu (23/7/2017),  kapal yang mengangkut empat wisatawan asing  tenggelam di Taka Makasar,  dekat Pulau Mawan. Penumpang dan ABK selamat. Dan, terakhir pada Minggu (30/7/2017), kapal Versace Jaya yang mengangkut 17  mahasiswa asal Yogyakarta tenggelam di Perairan Pulau Padar. Kapal dihempas arus kencang, semua penumpang dan ABK selamat.

Kecelakaan laut selama bulan Juli lalu  sungguh promosi buruk tentang TNK. Jika kejadian serupa terulang, maka  wisatawan akan enggan bepergian ke sana karena tidak ada jaminan rasa aman dan nyaman.  Itulah sebabnya kita mengharapkan semua pemangku kepentingan segera merumuskan agenda aksi yang konkret guna mencegah kecelakaan laut di kawasan TNK.Yang urgen antara lain pasang rambu-rambu di lokasi rawan kecelakaan seperti Loh Kimia, dekat Pulau Padar yang arusnya sangat kencang dan berputar,  Batu Tiga, Manta Point, Gililawa. Rambu-rambu itu kiranya mengingatkan nakhoda kapal dan wisatawan agar berhati-hati.

Pengawasan terhadap kapal pengangkut wisatawan di Labuan Bajo agar diperketat. Mereka harus mematuhi syarat dan ketentuan yang berlaku terkait keselamatan penumpang. Juga berikan petunjuk yang benar kepada setiap wisatawan agar mereka terhindar dari bahaya selama berwisata ke kawasan TNK.*

Sumber: Pos Kupang 3 Agustus 2017 hal 4

Dua Kisah tentang Kenshi NTT

KEMPO merupakan cabang olahraga super prioritas bagi Nusa Tenggara Timur (NTT). Komunitas olahraga Flobamora sudah tahu itu. Dan, kempo dalam pekan ini menjadi berita utama karena dua kondisi berbeda. Ada senyum dan tawa. Kisah  ceria pun derita.

Hari Selasa (18/7/2017) di lantai IV Kantor Gubernur NTT, Gubernur Frans Lebu Raya dengan bangga melepas keberangkatan 16 atlet kempo (kenshi) NTT yang akan berangkat ke California Amerika Serikat. Mereka mengikuti kejuaraan dunia mewakili Indonesia. Kita garisbawahi lagi bahwa 16 kenshi NTT tersebut bertarung di kejuaraan dunia tanggal 29 Juli hingga 2 Agustus 2017  membela kehormatan bangsa Indonesia.  "Kalian adalah  duta bangsa," kata Lebu Raya kala itu.

Pengurus Besar  Persaudaraan Bela Diri Kempo (Perkemi) mempercayakan kenshi NTT membela Merah Putih  lantaran prestasi atlet Flobamora memang yang terbaik di negeri ini dalam beberapa tahun terakhir. Paling anyar pada PON XIX 2016 di Bandung, atlet kempo NTT raih juara umum dengan mendulang 7 emas, 1 perak, 5 perunggu.

Prestasi sebelumnya tak kalah hebat. Dua kali (2000-2001) juara umum II  Kejurnas Antarkota, delapan kali (2002-2010) juara umum I pada Kejurnas Antarkota dengan rata-rata peserta 45-54 kota di Indonesia. Dua kali juara umum Pra PON XVIII (2012) dan XIX (2014). Penyumbang dua medali emas, satu perak, dua perunggu pada SEA Games Jakarta, tiga  medali emas, satu perak dan dua perunggu SEA Games Myanmar. Dua medali emas kejuaraan internasional mahasiswa di Jepang dan satu medali perak  kejuaraan dunia.

Litani di atas itu kabar baik yang bikin kita ceria. Justru pada saat hampir bersamaan, di tengah gegap gempita Tour de Flores 2017  yang menelan dana miliaran rupiah, tujuh  kenshi asal Manggarai Barat (Mabar) sempat telantar selama empat hari di  Tangerang, Banten. Untuk beli tiket  pulang ke Labuan Bajo mereka dibantu kenshi senior yang ambil kredit di Bank NTT. Di Tangerang mereka raih satu medali emas dan satu perunggu dari Kejuaraan Nasional Antarkota.

Selama di Tangerang, rombongan atlet utusan daerah wisata itu pindah-pindah hotel bahkan  menginap di hostel yang harganya Rp 60 ribu per malam.  "Kami seharusnya pulang 15 Juli 2007," kata Nani Suwardi, pelatih kenshi Mabar.

Mereka baru bisa pulang pada Rabu (19/7/2017) pagi. Itupun tidak langsung ke Labuan Bajo. Rombongan menumpang pesawat Lion Air Jakarta-Denpasar lalu melanjutkan perjalanan dengan bus  ke Labuan Bajo.

Tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun, tapi fakta telantarnya atlet dan ofisial kempo Mabar itu mencerminkan betapa kita belum rapi dan serius mengelola olahraga super prioritas ini.

Cukup sering alokasi anggaran pembinaan olahraga tidak mengusung skala prioritas. Mana yang diutamakan dan mana yang tidak. Itulah yang kerapkali menghancurkan semangat anak-anak muda kita menekuni cabang olahraga tertentu. Semoga kejadian serupa tidak terulang.*

Sumber: Pos Kupang21 Juli 2017 hal 4

Pastor Asal Flores Temani SBY Sekeluarga di Vatikan

P Markus Solo (kedua dari kanan)
Kami turun dari mobil  dan saling bersalaman. Mereka semua sangat berantusias, terutama Pak SBY, Ibu Ani dan kedua putera mereka, Mas Agus dan Mas Baskoro.

PRESIDEN  keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  dan keluarga berkunjung ke Vatikan pada hari Minggu 16 Juli 2017. SBY jalan-jalan ke Vatikan bersama  Ibu Ani Yudhoyono,  kedua puteranya Agus  Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas)  masing-masing dengan istri dan anak. 

Singkatnya mantan orang nomor satu di Indonesia itu hadir lengkap bersama istri, anak, menantu dan cucu serta anggota rombongan lainnya.

Kunjungan SBY sekeluarga disambut spesial otoritas Tahta Suci sehingga beliau boleh melihat hampir semua tempat suci dan bersejarah di Vatikan. Yang mengesankan pemandunya adalah pastor asal Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT),  Markus Solo Kewuta, SVD. Pater Markus bertugas di Vatikan sejak sepuluh tahun lalu dan kini menjadi Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama.

Berikut penuturan  Pater Markus tentang pengalamannya menemati SBY sekeluarga  sebagaimana dikutip dari akun Facebooknya.

Tadi malam (Sabtu malam 15 Juli 2017, Red)  Dubes (duta besar)  RI untuk Tahta Suci Vatikan, Pak Agus Sriyono, menelepon saya meminta untuk bersama-sama menerima Pak SBY, mantan Presiden RI, bersama ibu, kedua putera dan keluarga serta rombongan sebanyak 27 orang yang mau berkunjung ke Vatikan.

Bersama Agus HY dan istrinya
Sekaligus Pak  Dubes meminta saya menjadi guide (pemandu) untuk Pak SBY dan rombongan. Saya menyanggupinya. Segera semua prosedur permohonan tulisan dibuat berserta lobi lisan di Vatikan sehingga dalam waktu relatif singkat semua beres.

Tadi sore (Minggu 16 Juli 2017, Red)  menjelang jam 16.00 Pak SBY dan Ibu Ani serta rombongan, dengan menggunakan empat  mobil Mini-Van hitam berkonvoi menuju Vatikan.

Pak Dubes Agus yang didampingi oleh istri dan Pak Wandry dari Departemen Komsos bersama saya menerima rombongan di pintu masuk lalu beriringan memasuki Vatikan mengikuti mobil KBRI Vatikan yang dikemudi Pak Kahono, hingga ke Porta della Preghiera, pintu khusus Basilika Santo Petrus yang berpapasan dengan rumah tempat tinggal Paus, Domus Santa Marta. Kami turun dari mobil  dan saling bersalaman. Mereka semua sangat berantusias, terutama Pak SBY, Ibu Ani dan kedua putera mereka, Mas Agus dan Mas Baskoro bersama keluarga.

Saya memulai guide dengan memperkenalkan diri, dibantu oleh Pak Dubes, kalau saya juga orang Indonesia dan bertugas di Vatikan sejak 10 tahun pada "Dewan Kepausan seperti sebuah Kementerian Dialog Lintas Agama", kelahiran Flores, NTT. Serta merta Pak SBY dan Ibu Ani menyela, kalau mereka pernah ke Manggarai dan Labuan Bajo. Saya ucapkan terima kasih dan menambah kalau saya berasal dari ujung timur Flores, Larantuka.

Masuk ke dalam Basilika, Pak SBY dan Ibu Ani bersama rombongan berkali-kali mengungkapkan kekaguman yang luar biasa. Ibu Ani, sementara mendengar semua penjelasan saya, sangat gesit memotret.

Pak SBY selalu berjalan di samping saya, kadang memegang tangan saya kalau mau mengungkapkan sesuatu. Saya menjelaskan kepada mereka, apa itu Vatikan dan segala yang penting di dalam Basilika. Kami bersyukur bisa masuk ke dalam wilayah terpagar karena kepala sekuriti Basilika, sahabat dekat saya, sudah berkoordinasi dengan semua pegawainya untuk membuka semua blokiran.

Kami bergerak ke Kuburan Santo Petrus dan wilayah Confessione, altar utama, saya menjelaskan tentang kuburan Santo Petrus di bawah altar itu, tentang peranan Santo Petrus, Baldchin Bernini, Cupola Michelangelo, lalu ke tempat pengakuan dosa di Navata kanan. Mereka sangat kagum ketika saya bercerita bahwa kadang-kadang Paus juga datang mengaku dosa di sini.
Bersama Ibas sekeluarga

Ibu Ani bertanya, kalau di situ ada juga pelayanan pengakuan dosa dalam bahasa Indonesia. Saya tersenyum dan mengatakan: Belum ada secara resmi, tetapi kadang-kadang ada. Dan kalau dibutuhkan, saya juga bersedia. Pak SBY ketawa dan menepuk bahu saya.

Kami berputar bersama segenap rombongan ke makam Paus Pembaharu, Paus dell'Aggiornamento, Paus Johannes ke-23, Paus Konsili Vatikan II. Saya menjelaskan apa itu konsili, apa itu reliqui, apa itu pembaharuan dalam Gereja Katolik termasuk tentang keterbukaan Gereja Katolik terhadap umat beragama lain, memajukan saling menghormati dan saling memahami dalam perbedaan demi perdamaian dan keharmonisan.

Kami berjalan lagi menuju Kapela Santissimo Sacramento, kapela tempat Pentakhtaan Sakramen Maha Kudus. Saya menjelaskan betapa pentingnya kapela itu tempat orang berdoa dan mencari keheningan. Bahwa dari sekian ratus ribu orang yang masuk per hari ke Basilika kepausan ini, ada banyak juga di antara mereka yang mencari sudut hening, karena Gereja adalah tempat berdoa.

Kami masuk bersama-sama ke Kapela Sebastiano tempat dimakamkan Paus Johannes Paulus II. Oleh karena pihak sekuriti selalu membuka jalan dan meminggirkan para turis dan peziarah lain, kami dengan mudah bisa berkumpul di depan Makam Paus Johannes Paulus II, Paus yang sangat simpatik itu dan dicintai seluruh dunia. Pak SBY dan Ibu Ani juga ingat baik, siapa Paus Johannes Paulus II dari Polandia tersebut.

Cerobong Asap Konklav

Seusai melihat makam Paus Johannes Paulus II di dalam Kapela Sebastiano, saya mengajak Presiden keenam Repulik  Indonesia,  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarga berkunjung ke Pieta, master piece dari Michelangelo.

Pak SBY dan Ibu Ani Yudhoyono bersama rombongan sangat terkesan dengan nilai-nilai universal dari pahatan yang khas Kristiani itu karena menampilkan Bunda Maria yang sedang memangku jasad Yesus yang sudah meninggal. Di situ ibu Ani bertanya kepada saya: Romo, Yesus meninggal pada umur berapa? Begitu saya mau jawab, putra beliau, Pak Agus Harimurti, yang mantan calon Gubernur Jakarta itu, langsung menjawab dengan benar: 33 tahun. Wah.. saya langsung mengucapkan selamat kepada Pak Agus. Semua senyum dan tertawa.

Di depan Pieta, tiba-tiba sekelompok Suster Indonesia dari NTT terkejut melihat Pak SBY. Mereka sangat gembira berjabatan tangan dan sekalian foto bersama Pak SBY dan Ibu Ani. Pak SBY berpesan kepada mereka untuk tetap semangat, menjaga kesehatan selalu dan berkarya demi kebahagiaan banyak orang.

SBY berbincang dengan Dubes Agus Sriyono dan P Markus
Dari sana kami ke ruang tengah Basilika, mengambil beberapa foto bersama. Saat itu pihak sekuriti Vatikan datang menyampaikan kepada saya, kalau mereka sudah berkoordinasi dengan sekuriti Lapangan Santo Petrus bahwa semua siaga menjaga kalau kami keluar menuju Lapangan Santo Petrus. Ketika keluar, mobil polisi Vatikan sudah berjaga, beberapa lagi berkeliaran memantau di antara khalayak.

Kami keluar menuju Lapangan Santo Petrus. Di bawah patung Santo Petrus kami berdiri, saya menjelaskan tentang Istana Kepausan, Lapangan Santo Petrus dan Balkon tempat penampakan Paus terpilih serta Berkat Urbi et Orbi. Pak Agus ingin melihat dari mana asap keluar kalau ada pemilihan Paus saat konklav. Saya mengundang mereka ke Lapangan Santo Petrus supaya bisa melihat bubungan Kapel Sistina tempat asap keluar. Di sana saya menjelaskan kepada mereka tentang konklav dan tentang Obelisk yang menjulang di tengah lapangan.

Cuaca panas. Kami tutup dengan foto-foto lalu bergerak menuju kendaraan-kendaraan yang sedang siap di depan Sant'Ufficio, samping Lapangan Santo Petrus.

Dalam perjalanan pulang, Pak Dubes Agus Sriyono dan saya mengucapkan terima kasih kepada Pak SBY dan Ibu Ani yang sudah mengambil waktu  mampir ke Vatikan dan mengenal Vatikan dari dalam. Pak SBY dan Ibu Ani menjawab: Sebaliknya kamilah yang sangat berterima kasih sudah diterima dan dihantar dengan begitu baik dan dengan penjelasan yang sangat baik pula. Mereka nampak puas.

Di depan mobil-mobil, Pak SBY kembali memanggil saya: Romo, banyak terima kasih, memegang tangan saya erat-erat. Mengulangi apa yang sudah beliau katakan dua kali dalam perjalanan di dalam Basilika: Romo, mari kita bekerjasama untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan seluruh umat manusia..

Hal itu beliau sudah singgung di dalam Basilika ketika saya bercerita sepintas tentang Konvensi Diaspora di Jakarta baru-baru ini, dan salah satu tema-nya adalah toleransi, perdamaian dan kerukunan hidup di Indonesia.

Dubes Agus Sriyono (paling kiri)
Pak SBY dan Ibu Ani  berjalan menuju mobil. Tiba-tiba Pak Agus dan istrinya Annisa Pohan  datang mendekat meminta foto bersama. Setelah bertiga, Pak Agus ingin foto berdua saja. Dan setelah itu datanglah Pak Ibas bersama istri dan anak untuk potret bareng dengan saya. Sebuah pertemuan yang sangat menggembirakan, terjadi dalam iklim persahabatan dan persaudaraan.

Terasa begitu akrab sebagai putra-putri sebangsa dan setanah air. Di saat seperti ini, di mana negara kita butuhkan banyak semangat persaudaraan, pertemanan dan pengampunan, kita membuka hati dan pikiran serta kedua tangan selebar-lebarnya untuk menerima dan merangkul semua yang berkehendak baik untuk bekerjasama memajukan dan mensejahterakan bangsa tercinta, rumah kita bersama, NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika, kebanggaan dan brandmark kita. Mohon dijaga kesantunan dalam berkomentar.

Pejabat Vatikan

Siapakah Markus Solo Kewuta SVD, pastor asal Indonesia yang menjadi pemandu bagi SBY dan keluarga saat berkunjung ke Vatikan, Minggu 16 Juli 2017? Boleh disebut Markus Solo merupakan putera Indonesia yang memangku jabatan penting di Vatikan.

Imam Katolik  kelahiran Lewouran, Kabupaten  Flores Timur, 4 Agustus 1968 tersebut menjabat sebagai Pontifical Council For Interreligious Dialogue (Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama). Dia merupakan orang Indonesia pertama dalam jabatan itu. Pater Markus, demikian dia akrab disapa sejak sepuluh tahun lalu berkarya di lingkungan Tahta Suci Vatikan. Dalam posisinya sebagai anggota dewan kepausan, Pater Markus selalu berkomunikasi dengan pejabat tinggi Vatikan termasuk Sri Paus, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia. Dia pun berkeliling ke berbagai belahan dunia menggalang dialog demi perdamaian dan persaudaraan.

Markus Solo adalah anak bungsu dari lima bersaudara buah kasih pasangan  Nikolaus Kewuta dan Getrudis. Markus menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Flores Timur. Alumni Seminari Menengah San Dominggo, Flores Timur ini sempat belajar filsafat di STFK Ledalero. Pater Markus belajar islamologi di Inssbruck University, Austria. Dia juga belajar budaya Arab dan islamologi di Al Azhar University, Mesir. Pater Markus Solo yang bergelar doktor itu  fasih  bicara dalam enam bahasa asing yaitu Arab, Italia, Inggris, Jerman, Mandarin dan Latin. (osi)

Sumber: Pos Kupang 18-19 Juli 2017 halaman 1

Beringin Soekarno Masih Kokoh di Atambua

Beringin Soekarno di Atambua
ATAMBUA, PK -- Proklamator kemerdekaan yang juga presiden pertama RI, Ir. Soekarno mewariskan jejak bersejarah di Pulau Timor. Satu di antaranya  pohon beringin yang ditanam Bung Karno masih berdiri kokoh dan rimbun menaungi sisi timur lapangan umum Kota Atambua, Kabupaten Belu.

Soekarno berkunjung ke Atambua tahun 1955.  Bung Karno menginap semalam di  kota perbatasan dengan negara Timor Leste  itu dan setelah berpidato di lapangan umum Kota Atambua, dia menanam beringin yang masih tumbuh subur hingga kini.
Agaknya tak banyak warga Atambua yang tahu kalau pohon beringin itu ditanam Bung Karno 62 tahun lalu.

Di bawah naungan beringin itu,  pada siang hari para penjual es kelapa muda menjajakan dagangannya.  Di sekelilingnya dicor semen melingkar sehingga bisa diduduki dan menjadi tempat orang mengaso sambil menikmati es kelapa muda.

Ditemui di Atambua, Sabtu (3/6/2017), sesepuh masyarakat Belu, Jos Agustinus Diaz (84) menyebut pohon beringin  itu memiliki nilai sejarah. Camat pertama Kota Atambua ini menuturkan, kunjungan Presiden Soekarno ke Atambua  setelah pemilu 1955. Soekarno datang ke Atambua melalui Atapupu. Soekarno  menumpang pesawat Amfibi Catalina. Soekarno disambut secara adat dengan bentangan kain adat Belu sepanjang garis pantai hingga ke mobil yang membawanya ke Kota Atambua.

Hanya saja, jelas Jos Diaz, Soekarno menolak berjalan di atas kain adat sebagai bentuk penghormatan kepada adat dan budaya Belu. Di Atambua Bung Karno menginap di rumah jabatan bupati.  Mantan ketua DPRD Belu ini menyaksikan lautan manusia yang mendengar pidato Bung Karno di lapangan umum Kota Atambua kala itu.

"Setelah pidato, presiden langsung menanam beringin yang mungkin sudah disiapkan saat itu oleh Bupati AA Bere Talo. Beringin inilah yang ada sampai sekarang. Tumbuh alamiah sangat rindang dan bentuknya seperti menaungi atau memayungi," ujarnya.

Jos Diaz menjelaskan, Bung Karno menanam beringin sebagai simbol melindungi seluruh rakyat. Kedatangan Soekarno ke Atambua, lanjut Jos Diaz, bukan tanpa alasan. Itu wujud perhatian Soekarno yang mendengar bahwa Belu memiliki orang- orang hebat yang turut memperjuangkan atau merintis kemerdekaan Indonesia.
Sebagai sesepuh masyarakat Belu yang mengetahui sejarah, Jos Diaz  prihatin dan sedih melihat pohon beringin Soekarno dibiarkan begitu saja. Menurut dia, tidak pantas pohon beringin bersejarah ini hanya menjadi tempat jualan es kelapa muda bahkan jadi tempat pembuangan sampah. 

"Harusnya dibuat  pagar keliling atau dibuat pilar keliling untuk menunjukkan bahwa pohon beringin ini pohon bersejarah sehingga orang yang pergi ke sana atau sekadar lewat melihat lalu dalam hatinya ada kesan bersejarah. Sekarang  tidak ada kesan apa-apa," ujarnya.

Bupati Belu, Willy Lay mengaku tidak mengetahui persis apakah pohon beringin di lapangan umum itu ditanam Presiden Soekarno tahun 1955.  Namun, Bupati Willy mengaku masih menyimpan jejak-jejak sejarah kunjungan Soekarno ke Atambua waktu itu berupa foto yang dipajang di rumah jabatan bupati saat ini.

Dihubungi  Sabtu (3/6/2017), Bupati Willy  mengatakan, pada tahun 2015 saat dirinya belum menjadi Bupati Belu,  pohon beringin itu hampir mati karena dicor  pakai semen yang diduga menghambat pertumbuhan akarnya. Semua daun mulai menguning.

Dia bersama teman-temannya mengerahkan operator alat berat escavator mengeruk tanah di sekitar pohon beringin itu lalu menyirami dengan air sehingga  hijau dan subur lagi seperti saat ini. Bupati Willy sependapat jika pohon beringin ini dijadikan ikon Kota Atambua sebagai salah satu kota bersejarah karena pernah dikunjungi Presiden Soekarno setelah pemilu pertama dan menanam pohon beringin.

Tak Merasa Seram
Sejak tahun 2008, Hermansyah asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) berjualan es  di sisi jalan di bawah rimbunan pohon beringin yang ditanam Bung Karno  di sisi timur lapangan umum Kota Atambua. Dia menyiapkan dua kereta tang selain menjual es kelapa muda, dijual pula  es teller dan  es pisang hijau.

Dua kereta dijaga Jens (21), Dedi (20) dan Andre. Ketiganya melayani pelanggan secara acak untuk setiap menu yang diminati. Saat ditemui Minggu (4/6/2017), Jens, Dedi dan Andre sedang melayani pelanggan. Meski cuaca sedang mendung, minat pelanggan terhadap es kelapa dan es teller serta es pisang hijau tidak berkurang.

Mereka  bekerja pada Hermansyah yang telah mengantongi izin usaha dari Kantor Perizinan Kabupaten Belu. Mereka berjualan di tempat itu setiap hari mulai pukul 08.00 sampai pukul 17.00 Wita. Untuk bahan baku kelapa muda, mereka membeli dari Timor Tengah Utara (TTU). Dan, dalam sehari mereka bisa menghabiskan lebih dari 100 buah kelapa. "Kami beli dari Kefa. Kalau dari sini (Belu) biasanya mereka bawa kelapa yang belum ada isi makanya kita beli dari luar," kata Dedi.

Tentang keberadaan pohon beringin besar itu, ketiganya mengaku pernah mendengar cerita bahwa pohon beringin ini ditanam oleh Presiden Soekarno. "Orang-orang di sini sering cerita bahwa ini beringin ditanam Soekarno," ujar Dedi. Selama berjualan di tempat itu, mereka tidak merasakan apa-apa seperti kesan mistis atau seram. Mereka merasa biasa saja. "Kami rasa biasa saja. Tidak yang terasa seram. Mungkin kalau malam hari baru terasa,  tapi kami kan  hanya jualan sampai sore," ungkap Dedi. (roy)


Sumber: Pos Kupang 5 Juni 2017 hal 1

Tenun Ikat Sumba yang Memikat Hati



Jokowi dan Ibu Negara di Sumba Barat Daya 12 Juli 2017
Seni tenun adalah budaya tua yang ditekuni manusia untuk menghasilkan busana dan merupakan peradaban yang hampir merata ditemukan di seluruh pelosok bumi.

Pada masa modern ini pun ketika pabrik pemintalan benang mampu menghasilkan ribuan, bahkan jutaan meter tekstil dengan cara yang praktis, tradisi memintal benang untuk membuat kain masih ditekuni di beberapa tempat, tak terkecuali di Pulau Sumba, satu daratan kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang hadir dan mengenakan ikat kepala dan berselempang kain tenun menyaksikan Festival Tenun dan Kuda Sandelwood di Lapangan Galatama, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), NTT, Rabu (12/7/2017).


Bagi orang Sumba, memiliki dan mengenakan kain serta sarung dari tenun ikat merupakan suatu "keharusan" karena kain tenun adalah busana penting yang dikenakan pada acara adat, seperti menghadiri pesta pernikahan, upacara kematian, dan beribadah.

Menurut Mikhael Molan Keraf, CSsR, Direktur Yayasan Sosial Donders, kaum perempuan di perdesaan menenun kain sebagai ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam, dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan keseharian.

Sejak mengetahui hal itu, dia lebih menghargai kain tenun dan lebih berhati-hati memakainya. Misalnya, tidak lagi menggunting kain.

Meskipun berasal dari Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Flores Timur, tokoh yang lebih dikenal dengan sapaan Pater Mike Keraf ini sekarang lebih sering berpakaian ala pria Sumba dengan memakai ikat kepala serta kain tenun yang melilit pinggangnya.

Memaknai kain sebagai bagian dari ibadah juga diakui oleh Angela Lele Biri, perempuan Sumba yang bekerja di Kantor Dinas Agama Kabupaten Sumba Barat.

Proses panjang menenun pada masa lalu diawali dengan memilih kapas yang dipintal menjadi benang, kemudian diikat untuk membentuk gambar dan dilanjutkan dengan pencelupan warna sesuai rancangan yang telah dipilih baru terakhir ditenun.

Berdasar pemahamannya, tenun Sumba adalah rajutan hari-hari orang Sumba yang dilukiskan melalui tenun dan merupakan doa pujian yang harus didaraskan setiap hari.

"Ketika memakai kain atau sarung Sumba, kita merenungi makna kehidupan," kata Angela.

Mengenakan sarung pun sebenarnya merupakan cara untuk menjaga martabat diri dengan memakainya secara patut.

Angela menerawang, terkenang akan kakeknya, Yosep Nudu yang selalu marah ketika melihat orang membetulkan sarung yang dipakainya di depan umum, seperti yang saat ini lazim dilakukan banyak orang.

"Membenahi sarung di muka umum menurut kakek Nudu sama dengan memperbaiki rok dalam (tidak patut dilakukan di depan orang banyak)," katanya.

Dikenal mahal

Tenun ikat dari NTT dikenal mahal harganya jika dibanding dengan kain-kain bikinan pabrik. Namun, ada yang setara dengan kain songket dari Jambi, batik tulis yang bermutu tinggi atau kain sutra Sulawesi.

Harga termurah kain tenun sekitar Rp250.000 selembar untuk jenis kain yang terbuat dari benang pabrik dengan memakai celup pewarna buatan pabrik juga. Akan tetapi, ada pula kain yang harganya mencapai sepuluh juta rupiah bila terbuat dari benang kapas yang dipintal tangan dan dicelup dengan pewarna alami.

"Harga kain tidak sama karena dari tangan penenun kain-kain bisa melalui banyak tangan lain sebelum mencapai ke tangan pembeli. Harga bisa berlipat ganda," kata Felicitas Ambukaka, perempuan dari etnis Kodi, Sumba, yang kini merintis usaha pemasaran tenun Sumba.

Felicitas mencoba memangkas harga jual dengan cara berhubungan secara langsung dengan penenun di kampung-kampung sehingga harga dan ongkos bisa ditekan.

Rerata kain yang dipasarkannya berharga antara Rp200 ribu dan Rp2 juta. Dengan harga ini, mampu bersaing dengan harga di tempat penjualan yang lain, bahkan kini relatif banyak toko oleh-oleh yang memesan kain tenun darinya.

"Bagi saya untung sedikit-sedikit tidak apa-apa agar makin banyak laku dan makin banyak orang memakai tenun Sumba," katanya.

Ikat Sumba sangat unik, punya daya tarik tersendiri dari sisi warna dan motif dan juga cocok dimodifikasi untuk busana modern. Dengan demikian, bisa makin melekat di hati.

Adalah jamak terlihat perempuan dan laki-laki Sumba mengenakan kain atau sarung tenun kebanggaan mereka untuk sehari-hari, apalagi pada hari khusus, bahkan anak-anak dan remaja juga sudah memakainya.

Kain-kain dengan pewarna modern terlihat lebih cerah dan warna-warni, sedangkan kain dengan bahan alami memiliki warna yang lembut. Para pencintanya akan memilih sesuai dengan selera dan kemampuan kantong.

"Saya sudah mulai mengenakan kain ikat pada usia 5 tahun dan saat ini saya merasa bangga serta percaya diri bila memakai tenun ikat," kata Anggriani Irwanto, perempuan Sumba yang berdinas sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Sumba Barat Daya dan pernah lama berkarier di Jakarta.

Sejak kembali ke Sumba beberapa tahun lalu, Anggriani mengaku lebih suka mengenakan sarung Sumba pada peristiwa-peristiwa khusus ketimbang memakai busana pesta modern atau dari daerah lain.

Baginya, memakai tenun ikat Sumba membuatnya tampil lebih menarik sekaligus menunjukkan jati diri etnis.

Sumber kehidupan
Menenun kain, selain perwujudan ibadah juga menjadi sumber nafkah bagi banyak perempuan Sumba meskipun mereka baru bisa merajut helai demi helai benang setelah selesai mengerjakan tugas rumah tangga.

"Pendapatan kami sangat bergantung pada hasil tenun," ujar Debora Kali, penenun asal Desa Weri B, Kecamatan Kodi Timur, Sumba Barat Daya.

Debora sudah mulai menenun sejak usia 8 tahun dengan cara belajar melihat orang-orang dewasa menenun, tahap berikutnya belajar menggulung benang dan dilakukan setiap hari.

Di kampungnya, menenun lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan tetapi tidak tabu bagi pria, seperti yang terlihat siang itu saat sekelompok pengrajin menenun bersama-sama bukan hanya perempuan, melainkan juga pria, ada yang menggulung benang, ada yang mengikat dan ada yang mulai menenun.

Motif-motif yang sering mereka rajut adalah belah ketupat, mamuli yaitu perhiasan lambang kesuburan yang biasa digunakan sebagai mas kawin atau belis, gambar rumah adat dengan atap gaya Marapu yang runcing, gambar-gambar hewan, seperti kuda, ular, ayam, kura-kura, burung.

Debora yang menggantungkan periuknya pada tenun mengatakan bahwa dirinya bisa menghasilkan selembar kain dalam 1 minggu untuk motif yang sederhana.

Ia juga sanggup menerima pesanan untuk pilihan warna dan gambar.

Maria Kaka, penenun lain juga sudah bergelut dengan benang, alat-alat tenun, seperti pakan, lungsing sejak umur 10 tahun, usia yang ideal untuk mulai belajar.

"Bila sudah besar baru belajar biasanya tidak bisa," katanya sambil memperagakan jemari saat memadatkan benang.

Dewasa ini, Debora, Maria, dan Yosefina Piromete dari kampung Kalenarongo lebih memilih menenun dengan benang dan pewarna yang dibeli di took karena prosesnya lebih praktis.

"Saya tidak penah belajar memintal benang, jadi saya memakai benang jadi dan jenis benang ini tidak bisa menyerap pewarna alami sehingga harus memakai pewarna buatan," kata Yosefina.

Penghasilan dari menjual kain tenun menjadi sumber nafkah utama bagi mereka, selain beternak.

Mengenai jumlahnya, mereka hanya menjawab: "Cukup untuk biaya hidup."

Meskipun bagi pendatang, khususnya dari Jawa, harga kain tenun dianggap relatif mahal, para perajin yang setiap bulan menjual hasil karyanya, tetap hidup dalam kesederhanaan. Mereka menempati rumah-rumah panggung dari bambu dan kayu dan nyaris tidak memiliki benda berharga.

Bahan baku untuk membuat selembar kain yang kelak dijual di toko dengan harga sekitar Rp200 ribu rata-rata bernilai Rp100 ribu, belum dihitung ongkos belanja membeli benang, uang lelah, dan ongkos mengirim kain tenun ke pasar.

Kain tenun dengan motif yang lebih rumit dan dijual dengan harga antara Rp500 ribu hingga sejuta rupiah memakai bahan yang lebih banyak untuk variasi sulam dan waktu pengerjaan sekitar 1 bulan.

"Cukup untuk hidup" adalah Bahasa bijak yang mereka sampaikan ketimbang mengungkapkan besaran rupiah yang mereka raup melalui hasil tenun-tenun itu.

Menghormati tamu
Orang Sumba membeli tenun ikat tidak hanya untuk dipakai sendiri, tetapi juga membeli untuk hadiah bagi keluarga dan kerabat pada hari-hari khusus dan juga untuk menghormati tamu.

Hari itu Thomas Iwan, warga kota Mataram sedang berlibur ke Sumba dan mengunjungi rumah Ima Nudu, tokoh perempuan dan penggagas pemekaran kabupaten Sumba Barat Daya.

Thomas bersama istri dan dua anaknya masing-masing disambut di ambang pintu dengan penyelempangan kain tenun.

"Baru datang sudah dapat hadiah indah seperti ini," kata istrinya dengan terharu.

Cara menyambut tamu seperti itu merupakan kelaziman. Bila tidak dilakukan, akan membuat tuan rumah merasa tidak enak hati.

Membawa hantaran berupa tenun ikat juga dilakukan untuk menghadiri pernikahan, melayat ke rumah duka, saat bayi lahir, dan peristiwa penting lain.

"Biasanya kami memiliki persediaan kain. Akan tetapi, bila tidak kain akan mudah dibeli di pasar dan di toko-toko," kata Anggriani.

Ia menambahkan bahwa cara tersebut memang menghabiskan uang, tetapi membuat tenun ikat makin lekat memikat hati orang Sumba.

Menggelar festival tenun yang akan diikuti 2.017 penenun tidaklah sulit karena hampir semua perempuan di desa mempunyai kemampuan menenun. Setidaknya hampir di setiap kampung ada pengrajin tenun.

Tenun ikat yang melekat di hati orang Sumba pun kini memikat orang-orang luar Sumba. (Maria Dian Andriana/Antaranews)


Sumber: Antaranews.com

Kisah tentang Stadion Merdeka Kupang


Pertandingan bola di Stadion Merdeka Kupang
Stadion Merdeka Kupang itu sebuah nama dengan banyak kisah historis heroik. Keberadaannya hampir setua negara bernama Indonesia, bahkan lebih tua dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang baru lahir tahun 1958.

Di sana sudah banyak anak Nusa Tenggara Timur (NTT)  memeras keringat untuk meraih yang terbaik di lapangan bolakaki. Dan, mereka sekaligus  belajar memahami arti olahraga, apa makna fair play serta implikasi dari sportivitas. 

Tidak hanya sepakbola. Stadion Merdeka pun memiliki lapangan bolavoli yang di masa lalu menjadi pusat aktivitas olahraga kaum muda di ibukota provinsi ini. Cukup sering Stadion Merdeka juga berfungsi bagi aktivitas pembinaan kaum muda.

Dalam segala keterbatasan, kerapuhan dan keriput wajahnya yang renta dimakan usia serta kurang terawat, Stadion Merdeka masih berguna sampai sekarang. Hingga kini dia  merupakan lapangan kedua bila Kupang menjadi tuan rumah kejuaraan sepakbola dengan tim peserta lebih dari sepuluh. Kejuaraan El Tari Memorial Cup, misalnya, masih mengandalkan Stadion Merdeka selain Stadion Oepoi Kupang. Sampai Provinsi  NTT berusia lebih dari setengah abad, Stadion Merdeka sudah memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi pembinaan  olahraga daerah ini.

Sejarah panjang stadion itu agak terusik dua bulan lalu ketika  keluarga besar Koroh memasang plang yang isinya mengklaim kepemilikan atas lahan stadion tertua di Kota Kupang tersebut. Plang yang dipasang keluarga Koroh tertulis,  berdasarkan Surat Kuasa 02/B.H/KAP-HFBB/V/2017 Dari Keluarga Besar Koroh, Tanah Stadion Merdeka dalam Pengawasan YBH Anugerah Kupang Advokat/Pengacara dan Konsultan Hukum, Herry FF Battileo, S.H, M.H dan Rekan. Isi tulisan dalam plang tersebut dilengkapi alamat kantor, email dan nomor  handphone.

Hari Jumat 7 Juli 2017, Kabid Penegakan Produk Hukum Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP)   Provinsi NTT, Cornelis Wadu memimpin timnya memasang plang yang isinya menyatakan lahan di komplek stadion itu milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

 Ternyata anggota keluarga besar  Koroh mencabut kembali plang yang sempat ditanam anggota Satuan Pol PP tersebut. Keluarga Koroh juga bersikukuh menolak rencana Pol PP mencabut plang yang mereka pasang di depan stadion. Suasana tegang sempat tercipta di sana. Pada akhirnya Pol PP mengalah sehingga pemasangan plang milik Pemprov NTT tidak terlaksana atau tertunda. Entah sampai kapan.


Sudah pasti kedua kubu saling mengklaim sebagai pemilik sah atas lahan Stadion Merdeka Kupang. Untuk memastikannya proses hukum merupakan keniscayaan. Keluarga besar Koroh dan pemerintah harus dapat  menunjukkan  kepemilikan itu melalui bukti dokumen yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum yang berlaku di negeri ini.

Kita berharap sengketa lahan ini  berakhir dengan sejuk dan bisa diterima kedua belah pihak.Hindari aksi anarkis serta sikap memaksakan kehendak  yang dapat memicu persoalan baru yang jauh lebih pelik. Waspadai pihak ketiga yang berpotensi mengail di air keruh.*

Sumber: Pos Kupang 11 Juli 2017 hal 4


Mudik Lancar dan Selamat


ilustrasi
POS KUPANG.COM  - Harga tipet pesawat selangit, tiket kapal PT Pelni dan PT ASDP bahkan sudah habis terjual empat hari menjelang lebaran. Mereka yang terlambat membeli tiket harus batalkan rencana perjalanan, entah untuk mudik lebaran maupun sekadar liburan mengisi masa cuti bersama.

Penumpang pesawat udara maupun kapal melonjak drastis. Hampir semua maskapai penerbangan di negeri ini  mengajukan tambahan jadwal penerbangan alias extra flight.  PT Pelni dan PT ASDP pun menyiapkan kapal cadangan guna mengakomodir jumlah penumpang yang membludak.

Menyiapkan kapal cadangan itu antara lain diungkapkan General Manager PT ASDP Cabang Kupang, Burhan Zaim yang  ditemui wartawan  ketika memantau aktivitas di Pelabuhan Bolok, Selasa (20/6/2017). "Untuk ke Larantuka kita siapkan dua kapal, yaitu Ile Ape dan Ranaka. Kalabahi ada dua kapal juga yakni kapal  Ine Rie II dan Ile Mandiri," jelasnya.

Mahalnya harga tiket pesawat dan fakta tiket kapal yang sudah habis terjual itu kiranya bisa dimengerti lantaran lebaran tahun ini bertepatan dengan musim liburan sekolah. Animo orang untuk bepergian pun semakin besar setelah pemerintah pusat menambah  jatah lima hari cuti bersama hingga akhir Juni 2017. Dengan demikian terjadilah masa libur panjang kurang lebih 10 hari. Mereka yang mudik bahkan bisa lebih lama lagi masa liburnya bila ditambah dengan cuti kerja biasa.

Dalam dua pekan ke depan ini kita akan menyaksikan mobilitas manusia dan barang yang sangat tinggi frekwensinya  hampir di seluruh pelosok Nusantara. Awak moda transportasi darat, laut dan udara merupakan orang-orang  yang paling sibuk melayani. Mereka harus siap memenuhi permintaan masyarakat yang otomatis lebih besar dari biasanya.

Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa mudik  bukanlah kisah indah semata di Indonesia. Saban tahun selalu terjadi kecelakaan lalulintas yang menelan korban jiwa tidak sedikit. Ratusan nyawa hilang, air mata tumpah berderai.  Pun terjadi musibah di laut dan udara karena kesalahan manusia selain faktor alam. Utamakan keselamatan masih sebatas omongan di bibir, belum banyak bukti menggembirakan di lapangan. Angka kecelakaan mudik di Indonesia mencengangkan sekaligus menyayat hati.

Itulah sebabnya kita tiada henti mengingatkan agar awak moda transportasi jangan bermain-main dengan keselamatan penumpang. Periksa cermat kondisi kendaraan sebelum beroperasi. 

Pastikan  mobil, bus, kereta api, kapal laut dan pesawat udara dalam kondisi laik jalan. Terima penumpang sesuai kapasitas dan aturan yang berlaku. Yang rawan terjadi pelanggaran umumnya angkutan darat dan laut. Kerapkali kapal  memuat barang dan penumpang melebihi kuota seharusnya. Demi mengejar keuntungan mereka menomorduakan faktor keselamatan. Kita berharap mudik lancar dan selamat sungguh terwujud tahun  ini. Selamat berlibur.*

Sumber: Pos Kupang, 23 Juni 2017 halaman 4

Jalan Soeharto Kupang Menyimpan Kisah Menarik


Soeharto
POS KUPANG.COM, KUPANG --  Tahukah Anda berapa umur Jalan Jenderal Soeharto yang membentang dari Oepura hingga Naikoten Kupang? Tahun 2017 ini usianya sudah lebih dari setengah abad. Jalan protokol itu diberi nama Soeharto sejak tahun 1966.

Soeharto merupakan jalan protokol di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Posisinya sangat strategis,  sambung-menyambung dengan jalan lain yang mengusung nama para tokoh nasional yaitu Jalan Jenderal Soedirman (Naikoten- Kuanino), Jalan Mohammad Hatta (Kuanino-Fontein) dan Jalan Soekarno (Fontein hingga kota lama Kupang).

Mantan Wakil Gubernur NTT, Esthon L Foenay, M.Si mengatakan,  dulu Jalan Soeharto itu namanya Motorpol yang dimulai dari Komdak (sekarang Polda NTT) hingga ke pertigaan Oepol (sekarang Oepura). "Kenapa dinamakan motorpol karena di depan Komdak itu adalah tempat pemeriksaan semua kendaraan bermotor," kata Esthon, Rabu (7/6/2017).

Menurut Esthon, pemberian nama jalan Soeharto di Kupang itu dilakukan setelah Soeharto menjabat Presiden  ke-2  RI dan Kabupaten Kupang saat itu dijabat Bupati Anton Hadi. "Kalau tidak salah, Jalan Soehato itu ditetapkan saat pemerintahan Bupati Kupang Pak Anton Hadi sekitar tahun 1966," kata Esthon.

Tanah lokasi jalan Jenderal Soeharto itu, demikian Esthon, sebagian besar adalah milik tanah orangtuanya, Eben Cornelius Foenay. "Saya tidak ingat persis berapa banyak tanah yang papa berikan kepada masyarakat dan pemerintah untuk kepentingan umum. Tapi saya tahu papa saya memang sering memberikan tanah keluarga bagi masyarakat dan pemerintah sejak tahun 1930-an," kata Esthon.

Eben Foenay juga memberikan tanah kepada pemerintah dalam rangka persiapan berdirinya provinsi daerah tingkat satu NTT tanggal 20 Desember 1958.  "Kalau dulu papa saya kasih tanah miliknya kepada masyarakat dan pemerintah untuk kepentingan umum itu lebih banyak tidak ada transaksi uang, hanya balas jasa atau pemberian tempat sirih. Terkecuali untuk pembangunan kantor-kantor maka ada bayarannya tapi nilainya juga kecil," kata Esthon.

Seingat Esthon, tanah orangtuanya di Jalan Soeharto yang diberikan kepada pemerintah untuk kepentingan umum mulai dari Kantor Asuransi Bumi Putera, mesjid, Gereja Paulus (dulu Gereja Pola), Sekolah Rakyat (SR) dan kampus Universitas Nusa Cendana Kupang dan terus sampai ke pertigaan Oepura.
Esthon bangga karena di atas tanah orangtuanya yang diserahkan kepada pemerintah  dibangun jalan Soeharto. "Menurut saya pantas nama Jenderal Soeharto dijadikan nama jalan dan nama jalan itu harus dipertahankan," katanya.

Pemilik Toko Aladin di Jalan Soeharto Kupang, Sutanto Rante memberi kesaksikan yang sama bahwa tanah untuk jalan itu diserahkan keluarga Foenay. "Tanah untuk dijadikan Jalan Jenderal Soeharto ini milik Bapak Eben Foenay, beliau adalah raja. Dia kasih kepada pemerintah sekitar 30 meter di sisi kiri dan 30 meter di kanan. Di tanah itu ada pohon-pohon besar sebesar pelukan tangan tiga orang dewasa. Ada sekitar 30-40 pohon di sini yang dipotong untuk pelebaran jalan Soeharto saat itu," kata Sutanto.

Sutanto  sudah ada di Kupang bersama orangtuanya sejak tahun 1952. Mereka datang dari Sulawesi dan memulai usaha kecil-kecilan di tempat yang sama dari dulu sampai saat ini.  "Dulu datang ke Kupang umur saya enam tahun. Kala itu kami  sudah tinggal di tempat ini dengan orangtua. Toko ini belum ada, mama saya penjahit. Kondisi jalan di depan masih kecil, lebarnya hanya dua meter setengah, dan berbatu-batu. Kalau ada dua mobil lewat, maka satu mobil di pinggir berhenti dulu baru satu bisa jalan," tutur Sutanto di tokonya, Selasa (6/6/2017).

Perbaiki Papan Nama
Terkait ruas Jalan Soeharto, demikian Esthon Foenay, saat ini terasa sempit karena makin banya jumlah pengguna kendaraan bermotor. Untuk memperluas ruas jalan itu tidak mudah mengingat sudah ada rumah penduduk, tempat usaha bahkan banyak bangunan bersejarah sehingga sayang jika harus dibongkar untuk perluasan jalan.

"Saya ingat zaman kepala Dinas PU NTT Pak Sitepu, ada wacana agar jalan Soeharto  buat satu jalur saja. Mungkin wacana ini perlu didiskusikan kembali agar tidak terjadi kemacetan di ruas Jalan Jenderal Soeharto," kata Esthon Foenay.

Foenay berharap ada perbaikan papan nama jalan itu sehingga terlihat dan mudah dibaca masyarakat. Tidak hanya papan nama Jalan Soeharto, namun juga papan nama jalan lainnya di Kota Kupang. "Mungkin kita harus ubah beberapa nama jalan sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi zaman. Inventarisir kembali ruas-ruas jalan yang ada juga inventarisi nama-nama tokoh nasional dan tokoh lokal yang bisa dijadikan nama jalan. Tidak harus di jalan besar, di jalan kecil dan lorong pun bisa menggunakan nama orang yang pernah berjasa untuk daerah. Tentunya harus ada pembahasan dan penetapan perda," kata Esthon.

Sementara itu, Dinas Perhubungan Provinsi NTT dan Dinas Pariwisata NTT tidak menyimpan  data tentang  sejarah penamaan Jalan Jenderal Soeharto.  Kepala Dinas Perhubungan NTT, Drs Richard Djami, yang ditemui di Gedung DPRD NTT, Kamis (8/6/2017), mengaku tidak mengetahui  kapan nama Jalan Soeharto itu ada.

"Mohon maaf, karena kami tidak tahu menyangkut nama jalan itu," kata Richard.
Ia juga mengatakan, nama jalan itu sudah ada sejak dulu sehingga dirinya pun tidak mengetahui siapa yang memberi nama jalan itu.

Kepala Dinas Pariwisata NTT, Dr Marius Jelama yang dikonfirmasi sebelumnya mengatakan yang sama. Mantan Ketua DPRD NTT, Drs Mell Adoe mengatakan, Jalan Soeharto ada sejak ia masih kecil.  "Ketika saya masih kecil jalan itu sudah ada. Kami waktu itu sudah dengar nama Jalan Jenderal Soeharto," ujarnya. (vel/yel)

Sumber: Pos Kupang, 9 Juni 2017 hal 1

Banyak Pohon Raksasa Ditebang Demi Pembukaan Jalan Soeharto


Soeharto
POS KUPANG.COM - Pada awal tahun 1960-an, puluhan pohon besar berbagai jenis  di atas tanah milik Eben Foenay di Kota Kupang ditebang untuk membuka ruas jalan baru yang di kemudian hari diberi nama Jalan Jenderal Soeharto.

Ruas  jalan dengan lebar sekitar 12 meter dan sepanjang dua kilometer lebih itu membentang dari Markas  Polda NTT hingga pertigaan Oepura. Jika pada tahun 1960-an, di sisi jalan itu hanya berjejer sedikit rumah penduduk dan toko atau tempat usaha dan sosial, tahun 2017 tidak ada lagi tanah kosong.

Pada sisi kiri kanan ruas jalan itu berdiri rumah penduduk, rumah ibadah, sekolah, kantor pemerintah, tempat usaha seperti toko, hotel, apotek, karaoke, mebel dan otomotif, salon, restoran, rumah makan, toko roti, SPBU dan lainnya.  Kini bidang tanah di Jalan Soeharto nilai jualnya tinggi. Kondisi rumah dan bangunan  bervariasi ada yang modern, dan ada rumah-rumah tempo dulu.

Eben Pahan (64), mengaku saat lahir, ruas jalan depan rumahnya itu belum dinamai Jalan Soeharto. Penamaan jalan itu, tutur Eben, baru  sekitar tahun 1966 saat  Soeharto menjadi presiden RI.  Eben mengatakan, dulu hanya ada beberapa toko di ruas jalan itu antara lain Toko Aladin, Toko 81, Toko Nilam, yang dulu namnya berbeda. Dan ruas Jalan Soeharto itu tidak tinggi seperti sekarang. 

"Dulu rumah saya ini lebih tinggi dari ruas Jalan Soeharto, tapi karena ada pelebaran jalan, maka sekarang jalan Jenderal Soeharto letaknya lebih tinggi dibandingkan rumah saya," tutur Eben.

Eben berharap nama Jalan Jenderal Soeharto dipertahankan dan papan nama jalan  diperbaiki. "Saya senang Pak Harto karena pada masa kepemimpinannya, negara kita baik-baik, aman, tidak ada kacau," kata Eben. Eben berharap pemerintah memasang kembali papan nama jalan di berbagai tempat di Kota Kupang sehingga orang tidak bingung. "Yang saya ingat hanya Jalan Siliwangi, Jalan Tompelo, Jalan WJ Lalamentik," kata Eben.

Pemilik Toko Aladin, Sutanto Rante, mengatakan saat pemerintah hendak menebang pohon-pohon untuk membuka jalan awal tahun 1960-an,  tidak banyak  orang di Kupang yang berani karena pohon berada di sekitar rumah penduduk dan sangat besar.

"Pemerintah panggil orang daerah sini, orang Rote, Sabu, Timor, semua takut tebang pohon itu, karena cakar langit semua. Akhirnya pemerintah panggil orang Bali yang datang untuk tebang semua pohon-pohon di ruas jalan itu," kata Sutanto.

Sutanto berharap ruas jalan ini tetap diberi nama Jenderal Soeharto karena Soeharto memang pantas diberikan penghargaan. "Yang saya senang dari Soeharto, dia bisa berantas anak-anak nakal, dia bisa awasi semua orang dan keamanan. Tidak ada orang yang merusak negara. Tapi namanya manusia, ada baik dan ada buruknya," ujarnya.

Sekjen PMKRI Cabang Kupang, Adrianus Dandi dan anggota John Mesach, Damianus Refo, Esto Ance, Oktavianus Pati dan Juan mendukung Jalan Jenderal Soeharto tetap ada di Kota Kupang.

Damianus mengatakan, penamaan jalan di Kota Kupang harus diinventarisir, diperbaharui dan dibenahi kembali. Pasalnya, banyak papan nama jalan yang sudah rusak dan hilang sehingga menyulitkan orang untuk mencari alamat seseorang.  "Harusnya ditata kembali papan-papan nama jalan di Kota Kupang ini, sehingga masyarakat tidak sulit ketika hendak mencari alamat," saran  Damianus saat ditemui, Selasa (6/6/3017).

Adrianus menambahkan, keberadaan margasiswa (sekretariat)   PMKRI di Jalan Jenderal Soeharto Nomor 20 Kupang bukan suatu kebetulan, tapi mungkin mengandung pesan mendalam bagi seluruh anggota PMKRI. 

"Pesannya bahwa kita mesti mendalami dan membahas tentang keberadaan Soeharto. Bagaimana pun PMKRI sebagai organisasi pembinaan dan pengkaderan untuk orang muda, hendaknya belajar dari sisi baik dan sisi tidak baiknya Soeharto. Dengan demikian kota dapat belajar dari sejarah Soeharto,"  kata Adrianus. (vel)

Sumber: Pos Kupang 9 Juni 2017 hal 1

Bangunan Bersejarah di Sepanjang Jalan Soeharto Kupang


Soeharto
POS KUPANG.COM - Sepanjang Jalan Jenderal Soeharto mulai dari Oepura hingga Markas Polda NTT, pada kiri kanan ruas jalan itu dipadati aneka jenis bangunan mulai dari bangunan berusia tua dan bersejarah hingga hotel berbintang.

Ada rumah ibadah,  fasilitas milik pemerintah antara lain Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, dan Kantor Dinas Sosial NTT. Di ruas jalan itu juga sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang masih berdiri kokoh bangunan kampus Akademi Teknik Kupang (ATK).

Salah satu bangunan monumental di ruas Jalan Jenderal Soeharto adalah marga atau sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang yang konon sudah ada sejak awal abad ke-21. Markas Polda NTT, kampus lama  Universitas Nusa Cendana (Undana), Gereja Paulus, kantor Dinas P dan K serta Hotel Sylvia Kupang. Hotel berstatus bintang tiga ini merupakan satu-satunya hotel di ruas Jalan Jenderal Soeharto. Pada sore hingga malam hari, sepanjang ruas jakan tersebut dipadati bisnis kuliner berbagai jenis. Jalan ini juga merupakan salah satu ruas terpadat dan teramai di Kota Kupang.


Jika berjalan dari pertigaan Oepura menuju Markas Polda NTT di bagian kiri jalan terdapat bangunan rumah tinggal, depot makan, Toko Nilam, Penjahit Bellini, Kantor Pemantau Perhubungan, Toko 81, pengiriman kargo udara, Toko Aladin, Istana Bangunan, Telesibdo shop, ruko, Foto Paris, Toko Kristal Bangunan, Family Brownies dan Roll Cake, Toko Piala, rumah, Victory Barber Shop, Valentine Motor, Toko Pratama Bangunan, warung makan Ojo Lali, Toko Sinar, rumah, Glory Restoran, Station Aki, vinaria, Gunung Sari Jaya, Depot Surya, Apotek Queen Farma, Jogi, Primagama.

Ada UD Alkamas, Pos Indonesia, Salon Scorpio, Resto Je Ma, notaris, Radio DMWS, Evan Meubel, Apotek Kimia Farma, Rumah Sakit Undana, SPBU, ruko, art shop budaya, Apotek Sehati, Agung Optikal, laundry, Live Karaoke dan Pub.

Ada juga rumah dinas pajak, sekolah Kristen Generasi Unggul, Gereja Bethel, Kantor Nindya Karya,  kios cinta kasih, tempat  praktik dr Herly, Bank TLM, Toko Anugerah, kios, Depot Setya Budi Solo,  Toko Warna Warni, Toko Kurnia, Aura Wangi, Rajawali Timor  Tour, pangkas rambut, CV Mitra Agung Utama Souvenir, Berkat Anugerah Motor, Timor Jaya Elektrik, Deddy Motor, Bumi Putra, Bintang Sablon, Klinik Adven, Viktoria Meubel, Toko Hero, Toko Jago Warna, chezz, UD Bhineka, Toko Sanrio, Marga PMKRI,  Oasis, depot Bakso Ratu Sari, Toko Happy, Toko Murah, Toko Duta Cahaya, KK Tekstile, Toko Balita, Asrama Belu dan Salon Scorpio.

Jika berjalan dari Polda NTT menuju pertigaan Oepura, di bagian kiri jalan terdapat bangunan Polda NTT, pusat foto copy praktis, Dunia Mode, Mesjid Taqwa, Gaya Busana Fashion dan  Shoes, Firman Jaya, barber shop blackred, resto and cafe d toumeluk, nivan cell, Allya model, Gereja GSJA Perjanjian Baru, SQ Cell, Pasar Kasih, UD Karya Jaya, Toko Elshaday, Manna Motor, Boutique de Janti, Excellent audio variasi mobil, Baby and kids shop, Orchid laudry, Sylvia Hotel, Sylvia Printing Xerox, Sylvia Budget Hotel.

Ada juga Toko Matahari, penginapan Vannyas, BRI Unit  Naikoten, kreasy fotocopy, ungu sablon, de yoken fotocopy, warung lalapan widjaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, SDN Bertingkat Naikoten 1, Gereja GMIT Paulus, Dinas Sosial NTT, Metro Motor,  Bank NTT Kantor Kas Oepura, Gereja Pantekosta, depot mie bakso sapi, depot hoki, Sinar Oepura Elektrik, Bengkel Batak, Indovision, Pegadaian, Apotek Generik, Glory Swalayan, Salon Natalia, Universitas Karya Dharma Kupang, xo jets, toko sepatu singapura colection, sharp, Indo Pizza, Entiro Motor, Royal Bakery, Sari Bangunan, Toko Hengky Kargo, BRI Unit Oepura dan bak air Oepura.  (vel)

Sumber: Pos Kupang 9 Juni 2017 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes