 |
Jokowi dan Ibu Negara di Sumba Barat Daya 12 Juli 2017 |
Seni tenun adalah budaya tua yang ditekuni manusia untuk menghasilkan
busana dan merupakan peradaban yang hampir merata ditemukan di seluruh
pelosok bumi.
Pada masa modern ini pun ketika pabrik pemintalan
benang mampu menghasilkan ribuan, bahkan jutaan meter tekstil dengan
cara yang praktis, tradisi memintal benang untuk membuat kain masih
ditekuni di beberapa tempat, tak terkecuali di Pulau Sumba, satu daratan
kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Presiden RI Joko Widodo
(Jokowi) yang hadir dan mengenakan ikat kepala dan berselempang kain
tenun menyaksikan Festival Tenun dan Kuda Sandelwood di Lapangan
Galatama, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), NTT, Rabu
(12/7/2017).
Bagi orang Sumba, memiliki dan mengenakan
kain serta sarung dari tenun ikat merupakan suatu "keharusan" karena
kain tenun adalah busana penting yang dikenakan pada acara adat, seperti
menghadiri pesta pernikahan, upacara kematian, dan beribadah.
Menurut
Mikhael Molan Keraf, CSsR, Direktur Yayasan Sosial Donders, kaum
perempuan di perdesaan menenun kain sebagai ibadah, untuk memuji
kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam,
dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan keseharian.
Sejak
mengetahui hal itu, dia lebih menghargai kain tenun dan lebih
berhati-hati memakainya. Misalnya, tidak lagi menggunting kain.
Meskipun
berasal dari Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Flores Timur, tokoh yang
lebih dikenal dengan sapaan Pater Mike Keraf ini sekarang lebih sering
berpakaian ala pria Sumba dengan memakai ikat kepala serta kain tenun
yang melilit pinggangnya.
Memaknai kain sebagai bagian dari
ibadah juga diakui oleh Angela Lele Biri, perempuan Sumba yang bekerja
di Kantor Dinas Agama Kabupaten Sumba Barat.
Proses panjang
menenun pada masa lalu diawali dengan memilih kapas yang dipintal
menjadi benang, kemudian diikat untuk membentuk gambar dan dilanjutkan
dengan pencelupan warna sesuai rancangan yang telah dipilih baru
terakhir ditenun.
Berdasar pemahamannya, tenun Sumba adalah
rajutan hari-hari orang Sumba yang dilukiskan melalui tenun dan
merupakan doa pujian yang harus didaraskan setiap hari.
"Ketika memakai kain atau sarung Sumba, kita merenungi makna kehidupan," kata Angela.
Mengenakan sarung pun sebenarnya merupakan cara untuk menjaga martabat diri dengan memakainya secara patut.
Angela
menerawang, terkenang akan kakeknya, Yosep Nudu yang selalu marah
ketika melihat orang membetulkan sarung yang dipakainya di depan umum,
seperti yang saat ini lazim dilakukan banyak orang.
"Membenahi
sarung di muka umum menurut kakek Nudu sama dengan memperbaiki rok dalam
(tidak patut dilakukan di depan orang banyak)," katanya.
Dikenal mahalTenun
ikat dari NTT dikenal mahal harganya jika dibanding dengan kain-kain
bikinan pabrik. Namun, ada yang setara dengan kain songket dari Jambi,
batik tulis yang bermutu tinggi atau kain sutra Sulawesi.
Harga
termurah kain tenun sekitar Rp250.000 selembar untuk jenis kain yang
terbuat dari benang pabrik dengan memakai celup pewarna buatan pabrik
juga. Akan tetapi, ada pula kain yang harganya mencapai sepuluh juta
rupiah bila terbuat dari benang kapas yang dipintal tangan dan dicelup
dengan pewarna alami.
"Harga kain tidak sama karena dari tangan
penenun kain-kain bisa melalui banyak tangan lain sebelum mencapai ke
tangan pembeli. Harga bisa berlipat ganda," kata Felicitas Ambukaka,
perempuan dari etnis Kodi, Sumba, yang kini merintis usaha pemasaran
tenun Sumba.
Felicitas mencoba memangkas harga jual dengan cara
berhubungan secara langsung dengan penenun di kampung-kampung sehingga
harga dan ongkos bisa ditekan.
Rerata kain yang dipasarkannya
berharga antara Rp200 ribu dan Rp2 juta. Dengan harga ini, mampu
bersaing dengan harga di tempat penjualan yang lain, bahkan kini relatif
banyak toko oleh-oleh yang memesan kain tenun darinya.
"Bagi saya untung sedikit-sedikit tidak apa-apa agar makin banyak laku dan makin banyak orang memakai tenun Sumba," katanya.
Ikat
Sumba sangat unik, punya daya tarik tersendiri dari sisi warna dan
motif dan juga cocok dimodifikasi untuk busana modern. Dengan demikian,
bisa makin melekat di hati.
Adalah jamak terlihat perempuan dan
laki-laki Sumba mengenakan kain atau sarung tenun kebanggaan mereka
untuk sehari-hari, apalagi pada hari khusus, bahkan anak-anak dan remaja
juga sudah memakainya.
Kain-kain dengan pewarna modern terlihat
lebih cerah dan warna-warni, sedangkan kain dengan bahan alami memiliki
warna yang lembut. Para pencintanya akan memilih sesuai dengan selera
dan kemampuan kantong.
"Saya sudah mulai mengenakan kain ikat
pada usia 5 tahun dan saat ini saya merasa bangga serta percaya diri
bila memakai tenun ikat," kata Anggriani Irwanto, perempuan Sumba yang
berdinas sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Sumba Barat Daya dan
pernah lama berkarier di Jakarta.
Sejak kembali ke Sumba beberapa
tahun lalu, Anggriani mengaku lebih suka mengenakan sarung Sumba pada
peristiwa-peristiwa khusus ketimbang memakai busana pesta modern atau
dari daerah lain.
Baginya, memakai tenun ikat Sumba membuatnya tampil lebih menarik sekaligus menunjukkan jati diri etnis.
Sumber kehidupanMenenun
kain, selain perwujudan ibadah juga menjadi sumber nafkah bagi banyak
perempuan Sumba meskipun mereka baru bisa merajut helai demi helai
benang setelah selesai mengerjakan tugas rumah tangga.
"Pendapatan
kami sangat bergantung pada hasil tenun," ujar Debora Kali, penenun
asal Desa Weri B, Kecamatan Kodi Timur, Sumba Barat Daya.
Debora
sudah mulai menenun sejak usia 8 tahun dengan cara belajar melihat
orang-orang dewasa menenun, tahap berikutnya belajar menggulung benang
dan dilakukan setiap hari.
Di kampungnya, menenun lebih banyak
dilakukan oleh kaum perempuan tetapi tidak tabu bagi pria, seperti yang
terlihat siang itu saat sekelompok pengrajin menenun bersama-sama bukan
hanya perempuan, melainkan juga pria, ada yang menggulung benang, ada
yang mengikat dan ada yang mulai menenun.
Motif-motif yang sering
mereka rajut adalah belah ketupat, mamuli yaitu perhiasan lambang
kesuburan yang biasa digunakan sebagai mas kawin atau belis, gambar
rumah adat dengan atap gaya Marapu yang runcing, gambar-gambar hewan,
seperti kuda, ular, ayam, kura-kura, burung.
Debora yang
menggantungkan periuknya pada tenun mengatakan bahwa dirinya bisa
menghasilkan selembar kain dalam 1 minggu untuk motif yang sederhana.
Ia juga sanggup menerima pesanan untuk pilihan warna dan gambar.
Maria
Kaka, penenun lain juga sudah bergelut dengan benang, alat-alat tenun,
seperti pakan, lungsing sejak umur 10 tahun, usia yang ideal untuk mulai
belajar.
"Bila sudah besar baru belajar biasanya tidak bisa," katanya sambil memperagakan jemari saat memadatkan benang.
Dewasa
ini, Debora, Maria, dan Yosefina Piromete dari kampung Kalenarongo
lebih memilih menenun dengan benang dan pewarna yang dibeli di took
karena prosesnya lebih praktis.
"Saya tidak penah belajar
memintal benang, jadi saya memakai benang jadi dan jenis benang ini
tidak bisa menyerap pewarna alami sehingga harus memakai pewarna
buatan," kata Yosefina.
Penghasilan dari menjual kain tenun menjadi sumber nafkah utama bagi mereka, selain beternak.
Mengenai jumlahnya, mereka hanya menjawab: "Cukup untuk biaya hidup."
Meskipun
bagi pendatang, khususnya dari Jawa, harga kain tenun dianggap relatif
mahal, para perajin yang setiap bulan menjual hasil karyanya, tetap
hidup dalam kesederhanaan. Mereka menempati rumah-rumah panggung dari
bambu dan kayu dan nyaris tidak memiliki benda berharga.
Bahan
baku untuk membuat selembar kain yang kelak dijual di toko dengan harga
sekitar Rp200 ribu rata-rata bernilai Rp100 ribu, belum dihitung ongkos
belanja membeli benang, uang lelah, dan ongkos mengirim kain tenun ke
pasar.
Kain tenun dengan motif yang lebih rumit dan dijual dengan
harga antara Rp500 ribu hingga sejuta rupiah memakai bahan yang lebih
banyak untuk variasi sulam dan waktu pengerjaan sekitar 1 bulan.
"Cukup
untuk hidup" adalah Bahasa bijak yang mereka sampaikan ketimbang
mengungkapkan besaran rupiah yang mereka raup melalui hasil tenun-tenun
itu.
Menghormati tamuOrang Sumba membeli tenun ikat
tidak hanya untuk dipakai sendiri, tetapi juga membeli untuk hadiah bagi
keluarga dan kerabat pada hari-hari khusus dan juga untuk menghormati
tamu.
Hari itu Thomas Iwan, warga kota Mataram sedang berlibur ke
Sumba dan mengunjungi rumah Ima Nudu, tokoh perempuan dan penggagas
pemekaran kabupaten Sumba Barat Daya.
Thomas bersama istri dan dua anaknya masing-masing disambut di ambang pintu dengan penyelempangan kain tenun.
"Baru datang sudah dapat hadiah indah seperti ini," kata istrinya dengan terharu.
Cara menyambut tamu seperti itu merupakan kelaziman. Bila tidak dilakukan, akan membuat tuan rumah merasa tidak enak hati.
Membawa
hantaran berupa tenun ikat juga dilakukan untuk menghadiri pernikahan,
melayat ke rumah duka, saat bayi lahir, dan peristiwa penting lain.
"Biasanya
kami memiliki persediaan kain. Akan tetapi, bila tidak kain akan mudah
dibeli di pasar dan di toko-toko," kata Anggriani.
Ia menambahkan bahwa cara tersebut memang menghabiskan uang, tetapi membuat tenun ikat makin lekat memikat hati orang Sumba.
Menggelar
festival tenun yang akan diikuti 2.017 penenun tidaklah sulit karena
hampir semua perempuan di desa mempunyai kemampuan menenun. Setidaknya
hampir di setiap kampung ada pengrajin tenun.
Tenun ikat yang melekat di hati orang Sumba pun kini memikat orang-orang luar Sumba.
(Maria Dian Andriana/Antaranews)
Sumber: Antaranews.com