Apa Warisan Paus Benediktus XVI?

Ratusan ribu peziarah membanjiri Lapangan Basilika St Petrus 27 Februari 2013  (AFP)
Pengunduran diri Paus Benediktus XVI, yang segera dijuluki Paus Emeritus, memunculkan pertanyaan. Apa yang telah dia tanamkan dan tinggalkan setelah bertakhta sejak 2005? Salah satu yang menjadi warna utama Benediktus XVI adalah kehebatannya dalam ilmu teologi dan sikapnya yang sangat konservatif.

Hal lain yang menjadi warna utama Paus ini adalah keberadaan Gereja sebagai pagar moral walau ada ekses-ekses negatif oleh sebagian pengikutnya. Benediktus sangat keras mempertahankan lembaga perkawinan oleh pria dan wanita serta menolak tuntutan ”perkawinan eksentrik”.

Dia menekankan Gereja agar tetap di akar utama sebagai acuan moral. Namun, Benediktus bukan tidak suka dengan hal-hal baru dan temuan-temuan baru. Dalam pidatonya pada Rabu di Lapangan Basilika Santo Petrus, dia menekankan kecintaan pada hal-hal yang membumi sekaligus pada pemikiran-pemikiran baru. Dia menekankan bahwa dia juga mendengar dan memahami masalah yang terjadi.

Dalam kekuasaan sejak 2005, Benediktus dikenal hati-hati dan konservatif. Pernah sempat ada kehebohan yang memercikkan kontroversi antar-umat beragama, tetapi Benediktus menegaskan bahwa dia sebenarnya hanya bertujuan untuk menabuh pemikiran.

Teologi pembebasan


Dari sekian banyak pandangan para pakar tentang Paus Benediktus, ada satu warisan yang menjadi warna khas pribadinya. Hal ini terkait dengan kawasan Amerika Latin, penghuni 46 persen umat Katolik sedunia.

Di kawasan ini, teologi konservatif berhasil bertahan dalam arus deras teologi pembebasan yang sempat marak. Teologi pembebasan ini awalnya berkembang sebagai akibat dari Konsili Vatikan II tahun 1965. Konsili ini melahirkan relaksasi peraturan Gereja, salah satunya soal aturan liturgi yang selama ratusan tahun memaksakan penggunaan bahasa Latin.

Seusai konsili ini, beberapa pastor dan teolog di Amerika Latin menginterpretasikan konsili itu serta menerjemahkannya ke dalam teologi pembebasan. Salah satu misi teologi pembebasan ini adalah penekanan keadilan dan tindakan langsung terkait pembelaan terhadap kaum papa.

Leonardo Boff dan Helder Camara dari Brasil, Oscar Romero dari El Salvador, dan Ernesto Cardenal dari Nikaragua adalah beberapa nama yang terkenal sebagai pendukung teologi pembebasan. Tokoh lain adalah Camilo Torres Restrepo, yang melepas jubah sebagai pastor demi berjuang bersama gerilyawan Kolombia.

Selama 24 tahun (sejak 1978) hingga termasuk selama delapan tahun menjabat Paus, Benediktus berhasil menegakkan kembali keunggulan asas konservatisme atas teologi pembebasan. ”Paus adalah ahli teori di balik semua ini,” kata Luis Pasara, pakar soal Katolik dari Universidad de Salamanca, Spanyol.

Benediktus telah mengunjungi kawasan ini dua kali, ke Brasil (2007) serta Meksiko dan Kuba (2012).

Benediktus menekankan bahwa teologi pembebasan sarat bermuatan asas Marxisme. Gereja bertindak keras terhadap para pastor yang mendukung teologi ini, antara lain dengan sanksi ekskomunikasi.

Di Amerika Latin, warisan Benediktus diukur dari tindakannya lewat pengangkatan para uskup. Jeffrey Klaiber, profesor agama dari Universidad Catolica, Lima, Peru, mengatakan, para uskup yang dia angkat berkarakter amat konservatif hingga ultrakonservatif. Benediktus tergambar dari pilihannya soal para uskup.

Apakah Katolik ditinggalkan karena sikap konservatif itu? ”Tidak, doktrin tidak menyebabkan orang meninggalkan Gereja,” kata Klaiber. (AFP/MON)

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes