Tampilkan postingan dengan label Petrus Turang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petrus Turang. Tampilkan semua postingan

Uskup Turang, Sang Gembala Pemberdayaan Masyarakat


P Edu Dosi, SVD

Oleh: P. Edu Dosi, SVD

Rohaniwan, Dosen FISIP Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Kematian telah menghampiri Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang, Jumat(4/4/2025). 

Kita merasa kehilangan sosok gembala umat yang sangat memperhatikan kemiskinan dan rakyat kecil. Kita mengingat Mgr. Petrus Turang adalah gembala umat yang telah bersentuhan dengan hidup kita. 

Kita mengenal dia dalam banyak ragam pengalaman, teristimewa perhatiannya pada kemiskinan dan rakyat kecil. 

Terlepas dari kekurangan dan keterbatasannya, kita mengagumi, menghormati  dan merasa bahagia karena pernah memiliki dia.  Catatan inspiratif ini berkembang dari diskusi dan kesaksian banyak orang. 

Saya tulis sebagai penghargaan kepada beliau, sang gembala yang memberi keteladanan pada komitmen teristimewa bagi yang miskin. 

Suatu saat pada hari ulang tahun KSP Kopdit Adiguna saya diundang Vincen Repu, ketua KSP Kopdit Adiguna, untuk mendampingi Uskup Turang merayakan syukur dengan ibadat bersama pendeta dan ustad. 

Saat itu saya masih sebagai Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat) Unwira. Saya suka beliau berkhotbah tentang pemberdayaan masyarakat lewat koperasi. 

Vincen berceritera, ketika kami meminta beliau memimpin ekaristi, beliau spontan menegur kami dan bertanya,"anggota Koperasi Adiguna itu siapa saja?” 

Kami tersadar bahwa beliau ingin pemberdayaan masyarakat melalui koperasi dijalankan bersama, untuk semua,tidak berbasis sekat, tembok atau pembatas tertentu. 

Kami diteguhkan bahwa mengelola koperasi dengan prinsip terbuka, demokratis, solidaritas,swadaya, edukasi dan berkeadilan.

Lain kesempatan ketika saya masih anggota dewan Provinsi SVD Timor, bersama P.Vinsen Wun,SVD,Provinsial SVD Timor, bertemu beliau untuk satu urusan pemberdayaan umat Keuskupan Agung Kupang. 

Diskusi pun panjang. Ketika kami pamit pulang, beliau mengantar kami lewat pintu samping untuk melihat pembibitan tanaman dan pohon-pohon bagi pemberdayaan umat di wilayah Keuskupan Agung Kupang. Beliau berbicara panjang tentang kemiskinan di wilayah ini yang perlu perhatian.

Kita saksikan bagi Uskup Petrus Turang perhatiannya pada kemiskinan dan rakyat kecil bukan sejauh diskusi, tapi terwujud dalam pelayanannya. Itu sesuai motonya Per transiit benefaciendo. 

Ia berkeliling sambil berbuat baik (Kis. 10:38). Kebenaran hidup  yang dihayatinya dalam semangat Kristus sendiri. 

Katarina Kewa Sabon Lamablawa (April 5, 2025) mencatat Uskup Petrus Turang menyapa, mendengar, dan hadir dengan sepenuh hati. 

Dari pelosok desa terpencil di Pulau Alor, Rote, Sabu, Semau, dan daratan Timor, hingga ke pusat Kota Kupang, Mgr. Petrus tidak pernah segan untuk turun langsung ke tengah umat. 

Ia melihat dengan mata sendiri kondisi nyata umatnya, berbicara dengan para orang muda, menyalami umat paroki satu per satu, dan menyentuh luka-luka sosial yang dialami masyarakat.

Baginya, menjadi gembala berarti berjalan bersama kawanan domba, bukan mengatur dari kejauhan. Dan dalam jejak langkahnya, kasih Kristus dinyatakan lewat perhatian konkret, pelayanan yang rendah hati, dan kesetiaan yang tanpa pamrih. 

Tak terhitung jumlah stasi dan komunitas umat basis (KUB) yang dikunjungi Mgr. Petrus Turang, bahkan dalam kondisi geografis yang sulit dan medan melelahkan. 

Di bawah terik matahari atau melintasi jalan berbatu dan berdebu, beliau tetap melangkah. 

Seorang imam pernah mengisahkan bahwa bagi Uskup Turang, “misi bukan hanya soal berkhotbah, tetapi hadir dan mendengarkan adalah bentuk cinta yang paling nyata.” Itulah wujud nyata dari per transiit benefaciendo.

Mendahulukan Kaum Miskin

Kardinal Suharyo bersaksi, "Saya kenal bapa Uskup Turang ini sejak tahun 1977. Dulu kami belajar bersama-sama, beliau belajar ilmu sosiologi di Roma. Dan pulang sebagai bagian hidupnya diabdikan untuk mengembangkan masyarakat," kata Kardinal Suharyo, Jumat (4/4/2025). 

Kardinal Suharyo mengatakan pula Petrus Turang pernah menjabat sekretaris eksekutif  Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Kardinal Suharyo sempat bertemu Mgr. Petrus Turang saat menjalani masa rawat. Ia mengatakan, beliau masih berbicara mengenai tugasnya hingga kemiskinan yang menjadi tantangan yang sangat kuat.

"Waktu saya mengunjungi beliau terakhir, satu minggu yang lalu dia masih terus berbicara setengah sadar mengenai tugas-tugas itu, mengenai keadaan betapa kemiskinan masih menjadi tantangan yang sangat kuat. Itu persis komitmennya sebagai imam, sebagai uskup, sebagai warga negara Indonesia untuk melibatkan diri membangun masyarakat Indonesia."

Gubenur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengenang Turang sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Selama menjadi pemimpin umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang periode 1997-2024, Turang mendorong masyarakat untuk bertani dan beternak. 

”Dan, itu bukan hanya bagi umat Katolik yang dia pimpin, melainkan juga bagi semua umat,” kata Laka Lena.

Prabowo, Presiden Indonesia katakan, "Ya beliau orang baik, selalu berpikir positif dan beliau selalu kerja untuk rakyat kecil. Itu yang saya tahu." 

Kita tentu menyadari keprihatinan Gereja secara ideologis (teologis, gerejawi) untuk mendahulukan kaum miskin terungkap dalam sejarah yang panjang.  

Keprihatinan Gereja untuk mendahulukan kaum miskin sudah mulai sejak Paus Leo XIII( 1878-1903) hingga sekarang ini (Donald Dorr).

Ideologi pemihakan terhadap kaum miskin oleh Gereja telah berjalan dalam sejarah yang panjang, namun mengapa tidak cukup kelihatan dampak pemihakan itu pada konteks sosial kita atau Gereja cukup berhasil membuat orang beragama tetapi belum cukup berhasil membuat umatnya bebas dari kemiskinan? 

Atau Gereja getol berbicara tentang Allah yang tersalib namun  kurang menampakkan ketegaran membela umat yang tersalib?

Institusi negara dan aparatusnya yang berkuasa, realitas sosial dan manajemen ekonomi dapat dicurigai terlibat dalam pemiskinan masyarakat NTT, dapatkah agama Katolik/Gereja Katolik sebagai institusi juga dicurigai terlibat dalam praktek yang sama? 

Kekuasaan tidak hanya menyangkut  masalah politik kenegaraan. Agama adalah juga suatu bentuk kekuasaan (Foucault). 

Kekuasaan dalam perspektif Foucault memberi tekanan pada seluruh struktur tindakan yang menekan  dan mendorong tindakan-tindakan lain melalui rangsangan, persuasi atau melalui paksaan dan larangan. 

Pemahaman kekuasaan seperti ini memungkinkan  melihat agama sebagai bentuk kekuasaan yang sangat berpengaruh. Agama merupakan lembaga produksi  kekuasaan-pengetahuan yang dahsyat. 

Kalaupun berteologi maka realita ini mestinya menghentak Gereja untuk berteologi dari bawah akar rumput. 

Pilihan ini mengakui  dalam ekonomi keselamatan Allah, pemahaman tidak diperoleh  dari sudut kelompok  yang berada pada puncak tangga kehidupan, tapi dari sudut mereka  yang berada pada dasar tangga tersebut. 

Membaca atau melihat dari bawah tercermin dalam pernyataan teolog Bonhoeffer, ”Masih terdapat suatu pengalaman yang nilainya tiada taranya. Akhir-akhir ini, kita telah belajar untuk melihat peristiwa-peristiwa besar di dalam sejarah  dunia dari bawah, dari sudut pandang kaum buangan, dicurigai, dianiaya, tak berdaya,  tertindas, dihina”.

Kemiskinan adalah pesoalan kompleks. Tak bisa diatasi teologi dan ritus  atau teori pembangunan saja. Perlu juga memperhatikan karakteristik daerah dan perilaku tertentu. Komunitas basis gerejani (KBG) lebih memahami konteks. 

KBG sebagai gerakan sangat dekat dengan kaum miskin. Mesti disadari pelaku utama yang mampu menanggulangi kemiskinan adalah kaum miskin sendiri. 

Pemberdayaan kaum miskin lewat KBG diyakini lebih tepat dan cepat. Dan uskup Turang telah berusaha untuk itu.

Pola Komunikasi Pemberdayaan 

Kita berkeyakinan daya hidup umat Katolik terletak pada basisnya (KBG) dan pembaruan gereja harus berasal dari basis. Gereja tidak dapat menjalankan misi pelayanannya tanpa bersifat setempat. 

Gereja hanya menjadi gereja bila berkomunikasi secara inkarnatoris atau mendarah daging dalam suatu bangsa  dan kebudayaannya dalam konteks kemanusiaannya. 

Pola komunikasi inkarnatoris ini dapat membebaskan manusia dalam konteks hidupnya antara lain  kemiskinan.

Semangat dasar yang mendorong dan mendasari kegiatan Gereja dalam pewartaan adalah Inkarnasi yakni sabda menjadi daging dalam mana Allah yang menjelma menjadi manusia. Allah telah mewahyukan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus. 

Ia adalah Allah yang memberi diri kepada manusia dan berbicara serta berhubungan dengan manusia dalam konteks kemanusiaannya. Yohanes penginjil menulis  “Pada awal mula adalah sabda, dan sabda adalah Allah” (Yoh.1,1 dan 14). 

Selama Ia ada di antara kita di dunia, Ia telah mewahyukan diri sebagai komunikator. Ia telah menyampaikan pesan Ilahi dengan kata-kata dan dengan tindakan hidupNya.

Dengan keyakinan tersebut  maka komunitas basis muncul dari bawah, pola komunikasinya pun bertolak  dari akar rumput, dialogis diskursus, bukan dari aparatus hirarkis semata yang monologis feodalistis. 

Hal ini menjadi satu hal yang sangat bertentangan  dengan struktur hierarki Gereja katolik yang sangat sentralistik dengan pola komunikasi top down. Setiap keputusan dan tindakan  yang dilakukan Gereja Katolik berasal dari atas (pusat). 

Organisasi yang memiliki tingkat sentralisasi paling tinggi adalah Gereja Katolik. 

Keputusan di tingkat paling bawah tidak boleh terlepas dari keputusan Paus di Roma, hal ini berlaku  untuk seluruh penganut agama Katolik yang berpusat di Roma.

Kita berkeinginan mengembangkan  komunitas basis dengan pola komunikasi yang dialogis, tetapi kesulitan  utama yang kita hadapi saat ini adalah tidak adanya pemahaman atau definisi baku mengenai komunitas basis dengan pola komunikasi yang menyertainya. 

Sering nampak komunikasi aparatus gereja  bersifat monologis feodalistis. Kita saksikan komunikasi atau propaganda pemerintah dan kaum pengusaha  memperlakukan manusia sebagai komoditi, mendominasi, menindas, mengeksploitasi. 

Lalu dikokohkan oleh tema komunikasi iman dalam khotbah yang bernada menggurui (moralistis). Juga khotbah yang coba meyakinkan orang kecil bahwa mereka miskin karena kesalahannya sendiri, karena kurang pendidikan, keterampilan dan berinisiatif, karena budaya asli mereka ketinggalan. 

Atau menurut kitab suci karena patah semangat, pasrah, tunduk pada takdir adalah sikap-sikap kafir. 

Pesan Komunikasi Pemberdayaan

Dalam konteks NTT kita perlu komunikasi pemberdayaan dengan pesan mendasar yang membangun dan membebaskan masyarakat  NTT dari kemiskinan dan ketertindasan antara lain sebagai berikut.

Pertama, perdagangan manusia (Human Trafficking). Manusia dieksploitasi secara ekonomis, ditindas secara struktural dan dimarginalkan secara sosial, atau manusia bukan lagi dipandang sebagai pribadi yang memiliki hak dan martabat. 

Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun bahwa manusia semartabat dengan Allah, segambar dengan Allah.

Kedua, kekerasan terhadap perempuan dan anak. Terjadi pelbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak. 

Pesan komunikasi pemberdayaan yang mau ditanamkan ialah manusia entah anak, dewasa entah laki-laki dan perempuan diciptakan seturut gambaran Allah. Keunikan prempuan harus dihargai.

Ketiga, konflik sekitar tanah. Ada perang tanding antarkampung dalam perebutan tanah. Tanah dimiliki ketua suku, warga lain hanya penggarap. 

Adanya penguasaan tanah secara legal oleh penguasa dan pemodal namun tak adil. Perangkat kultural kehilangan orientasi atas tanah. Masyarakat agraris nyaris tak punya tanah. Minim sumber daya alam. 

Pesan komunikasi pemberdayaan dalam situasi ini ialah tanah adalah anugerah Tuhan, sumber hidup untuk semua manusia, perlu dimiliki secara adil dan dihormati. 

Keempat, gereja dan kekuasaan. Banyak pemimpin menyalahgunakan kekuasaan. Terdapat korupsi dan indikasi KKN dalam pemerintahan, dana pembangunan untuk rakyat dimakan penguasa. 

Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun: kekuasaan yang ada adalah pemberian Tuhan demi kesejahteraan umum.

Kelima, pengungsi-perantau-pergi melarat. Migrasi tenaga-tenaga terdidik ke luar wilayah (ke Jawa dll). Pengungsi-perantau berada dalam situasi keterasingan, orang melarat, miskin, sulit mengatur hidup dan tidak aman. 

Pesan komunikasi pemberdayaan: perhatian dan pelayanan perlu diberikan, mereka adalah saudara-sauadari kita dalam kesulitan. 

Kalau ada yang sudah pintar dan maju punya kapital material-sosial-politik jangan lupa solidaritas dengan kampung halaman, seperti Yesus kembali ke Nasaret dan berkembang dengan suburnya. Atau contohi orang Minang punya gerakan Seribu Minang?

Keenam, iman dan kebudayaan. Kebudayaan dianggap kafir, kuno, mau dilepaskan. Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun: Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, bumi dan budaya adalah kekayaan untuk bertemu Tuhan.

Ketujuh, iman dan ekonomi (koperasi).  Gereja Katolik tetap terlibat dalam  perjuangan berkoperasi dengan mendirikan koperasi  dan gerakan sosial-ekonomi sebagai bentuk solidaritas terhadap kemiskinan masyarakat/umat. 

Terbukti  koperasi telah membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun  adalah solidaritas, "kamu harus memberi mereka makan. Kumpulkan yang ada  padamu.” 

Kedelapan, Gereja dan lingkungan hidup. Gereja Katolik mengajak umat Katolik peduli terhadap lingkungan hidup.  

Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun: Lingkungan hidup adalah amanah Tuhan yang harus dipelihara manusia. Semua ciptaan berharga dan cerminan keagungan Allah. 

Gereja perlu mengkomunikasikan pentingnya kelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup. 

Atas cara tertentu Uskup Turang telah berusaha membangun pesan pemberdayaan masyarakat lewat pelayanan pastoralnya. Mendiang telah bersaksi membangun gereja  yang solider dengan yang kecil, miskin. 

Terima kasih berlimpah Bapak Uskup Petrus Turang. Perkataanmu telah menggerakkan dan teladan hidupmu telah memikat kami. 

Selamat jalan sang gembala pemberdayaan ke rumah Bapa, tak ada lagi kemiskinan yang menghantuimu. (*)

Sumber: Pos Kupang

Selamat Jalan Monsinyur Turang

 

Mgr. Petrus Turang

Refleksi Seorang Pengusaha

Oleh: Theodorus Widodo

Ketua Forum Pembauran Kebangsaan FPK-NTT

POS-KUPANG.COM -  Ada rasa sedih yang mendalam ketika saya dan isteri terakhir kali mengunjungi Uskup Emeritus Mgr.Petrus Turang pada tanggal 6 Februari 2025 di wisma KWI, Jalan Kemiri Jakarta. 

Sosok yang dikenal tegar dan berwibawa itu sekarang terlihat begitu rapuh. Rasa sedih ini terbawa pulang sampai berhari-hari kemudian. 

Saya sedih karena merasa ini pasti pertemuan terakhir, walaupun monsinyur ketika itu bertutur bahwa kesehatannya sudah membaik dan sekarang hanya perlu rutin cuci darah. 

Monsinyur bahkan mencontohkan beberapa orang yang bisa bertahan hidup puluhan tahun dengan cuci darah rutin. Pertanda beliau memang ingin hidup lebih lama.

Kesedihan saya akhirnya terbukti. Jumat, 4 April 2025. Tuhan memanggil pulang hambanya, sang gembala baik yang setia sampai akhir hayat dalam panggilan imamatnya, baik sebagai imam maupun sebagai Uskup Agung Kupang.

Walaupun kita tahu, beliau sakit dan terus dirawat intensif di rumah sakit, kepergian monsinyur ini terasa terlalu cepat. Kita semua pasti masih ingin ia hidup lebih lama lagi. 

Kita semua pasti masih ingin mendapatkan banyak saran dan nasehat. Apalagi monsinyur rindu pulang Kupang untuk menjalani sisa hidupnya bersama umat yang setia dilayaninya selama 27 tahun. Apa mau dikata. Tuhan punya rencana lain.

Dalam keheningan malam ini, ketika mata sulit terpejam, kenangan bersama Monsinyur Turang muncul kembali seperti halaman-halaman buku yang terbuka dengan sendirinya. Satu persatu.

Sebagai awam yang berada dalam wilayah yurisdiksi pastoral dengan Mgr. Petrus Turang sebagai pemimpin tertingginya, saya merasa beruntung dapat banyak kesempatan belajar dari beliau dan jadi suatu kehormatan pula ketika saat ini bisa menyuguhkan kembali sedikit penggalan kenangan selama 28 tahun mengalami pelayanan pastoral Monsinyur.

Penggalan kenangan itu salah satunya berasal dari tulisan Monsinyur sendiri tentang dunia usaha di halaman satu buletin Keuskupan Agung Kupang edisi Pastoral Kategorial dengan judul ASG PIKAT Usahawan Express tanggal 13 Juni 2010. Tulisan itu masih saya simpan.

Artikel ini disampaikan ketika komunitas  PIKAT mengadakan wisata rohani sekaligus rekoleksi di paroki Sta. Helena Lili- Camplong pada tanggal 13 Juni 2010.

PIKAT ini singkatan dari Pendalaman Iman Katolik. Terbentuk dari diskusi antara sesama teman yang prihatin pada kedangkalan pemahaman iman kami. 

Hal-hal mendasar saja seperti tiga pilar iman Katolik yaitu Alkitab, Tradisi Suci dan Ajaran Magisterium tidak kami pahami. 

Kami tidak tahu alasan di balik empat dogma penting Gereja tentang Bunda Maria yang membuat Bunda Yesus ini sangat dihormati dan menempati posisi tertinggi di antara semua orang kudus. 

Keprihatinan ini membawa kami pada satu keputusan. Pengetahuan yang dangkal ini harus didalami agar kami tahu alasan dibalik semuanya. 

Beriman dengan nalar itu baik adanya. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan termulia karena ia berakal budi.

Maka setelah berdiskusi dengan para pastor dan terutama dengan Mgr. Turang, terbentuklah Komunitas Pendalaman Iman Katolik disingkat PIKAT pada tanggal 15 Juli 2005. 

Sejak itu "kuliah" gratis dengan pengajar kaum tertahbis (tidak boleh awam) ini rutin dilaksanakan sampai sekarang. 

Harapan Monsinyur, PIKAT harus bisa jadi salah satu gerakan awam Katolik untuk melengkapi semua gerakan yang ada semisal Kharismatik, Legio Maria, Marriage Encounter, Pasukris dll yang misi gerakannya bukan pada pengajaran tentang iman atau doktrin Gereja. 

Pesan Monsinyur, kami harus terus lakukan pendalaman iman secara komprehensif, bukan hanya Alkitab saja. Iman Katolik tidak hanya bertumpu pada Alkitab saja.

Salah satu pesan Monsinyur yang disampaikan dalam artikel beliau ketika itu adalah tentang panggilan hidup.

Bahwa manusia harus bekerja supaya ia hidup baik dan berkecukupan. Dengan kerja, manusia membangun hubungan dengan sesama dan alam ciptaan Tuhan. 

Manusia berperan sebagai mitra Allah dalam mengembangkan dunia agar jadi indah dan bermutu bagi manusia itu sendiri. 

Dan manusia yang berkegiatan ekonomi adalah pemeran utama dalam mewujudkan ketersediaan kebutuhan hidup. Dengan tersedianya barang dan jasa, manusia mengambil peran dalam karya penciptaan Tuhan.

Dengan bergiat dalam bidang ekonomi, manusia menjawab panggilan Tuhan untuk "mengolah dan memelihara" dunia ciptaanNya.

Juga para pengusaha dalam pelbagai kegiatan ekonominya harus belajar menjadi murid Kristus yang baik. 

Mereka harus membangun kekudusan diri dengan prinsip tidak boleh merugikan sesama, terutama yang miskin dan lemah.

Ini sejalan dengan Ajaran Sosial Gereja yang bertumpu pada solidaritas yang merupakan perwujudan perintah cinta kasih Kristus dalam tata dunia yang baik dan harmonis. 

Solidaritas kristiani adalah peduli sesama tanpa memandang suku, agama dan golongan dalam semua aspek kehidupan. Sebagai makluk sosial, manusia perlu membangun semangat persaudaraan dan persahabatan. 

Termasuk di dalamnya adalah kegiatan ekonomi yang pasti lebih berat karena sangat akrab dengan persoalan "untung rugi". 

Di sini kita perlu saling melayani dan melengkapi untuk membangun jati diri manusia beriman yang lebih lengkap.

Kebersamaan dengan Mgr.Petrus Turang ini jadi kenangan indah yang sulit dilupakan.

 Pesan pesannya terus membekas serta menjiwai perjalanan hidup kami sebagai pengusaha. Juga teman teman yang berprofesi lain.

Salah satu kenangan indah lain "pertransit benefaciendo" Mgr. Petrus Turang adalah ketika bersama beliau mengunjungi paroki St.Kristoforus di Ba'a, Kabupaten Rote  Ndao yang saya lupa tanggalnya.

Dalam perjalanan patroli Monsinyur yang memang suka patroli ini, kami dapat banyak tambahan pengetahuan dan pesan tentang bagaimana seharusnya seorang pengusaha menjalani profesinya.

Beliau kembali menekankan tentang Ajaran Sosial Gereja. Satu hal penting yang saya ingat dari pelayaran dari Bolok-Kupang menuju Ba'a-Rote ini adalah ajaran beliau yang selalu dikenal rasional tentang hutang budi. 

Bahwa sukses seorang pengusaha karena ia murah hati tidak harus dilihat dari perspektif iman semata. Siapapun yang dibantu pasti akan merasa berhutang budi. 

Maka bila ada peluang usaha yang ia ketahui, anda pasti akan jadi orang pertama yang ditawarinya. 

Tempat pertama yang akan didatanginya ketika ia ingin membeli sesuatu pasti tempat jualan anda yang pernah menolongnya. 

Masih banyak yang ingin saya tulis. Berbagi cerita bersama Monsinyur selama masa masa pembangunan Taman Doa Yesus Maria di Oebelo -Kupang. 

Seringkali beliau berada di sana selama berjam-jam. Kadang datang pagi dan pulang ketika hari mulai gelap.

Perjalanan bersama dalam patroli Monsinyur ke paroki Hati Tersuci Maria-OeEkam. Perjalanan ke paroki Yesus Gembala Yang Baik di Kalabahi-Alor. 

Pentahbisan kapela kapela yang dibangun komunitas PIKAT termasuk Kapela 

terakhir Maria Bertaburan Rahmat (MBR) Kuasaet-Petuk pada tanggal 25 Februari 2024. 

Dalam sambutan pentahbisan Gereja ini, ada ucapan Monsinyur yang membuat kami sedih. "Ini pasti kapela terakhir yang saya tahbiskan".

Akhirnya, sekali lagi saya harus bersyukur karena mendapatkan begitu banyak kesempatan  untuk menimba ilmu dari dari Monsinyur Turang.

Kalau diminta pendapat tentang seberapa luas pengetahuan seorang Monsinyur Turang, bagi saya hanya ada satu kalimat. "Monsinyur tahu segalanya". 

Bukan hanya tentang Gereja, tapi juga tentang kesehatan, pendidikan, sejarah, sosial, antropologi, ekonomi, politik dan lain-lain. Pokoknya tahu semua.

Terlalu berlebihan? Tidak. Ini juga kesan sesama teman tentang Monsinyur.

Kadangkala muncul  pertanyaan. Beliau tahu semua itu dari mana? 

Padahal Monsinyur nyaris tidak pernah keluar dari kompleks Keuskupan  Agung Kupang selain patroli atau tugas ke luar daerah.

Pertanyaan ini mungkin sulit dijawab tapi satu hal yang pasti, kalau kita ke ruang kerja Mgr.Turang untuk urusan apapun, beliau selalu sedang membaca. 

Monsinyur Turang, Uskup Agung yang berwawasan sangat luas dan selalu rasional.

Kadang muncul juga ide, kalau sudah jadi Uskup Emeritus nanti kami ingin sekali meminta beliau jadi narasumber ceramah di berbagai bidang. Sayangnya "jabatan" Emeritus ini terlalu singkat.

Selamat jalan Monsinyur.

Keinginanmu untuk kembali pulang di saat perjumpaan terakhir kita sekarang sudah terpenuhi. Di sini, di tanah ini kami akan selalu bisa mengunjungimu. Sampai kapanpun. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita.

Atas iman dan perbuatan baik Monsinyur, kami yakin, engkau sekarang sudah berbahagia di surga dan selamanya Monsinyur akan jadi pendoa bagi kami semua.

Kami semua sudah belajar banyak. Terutama tentang "Pertrancit Benefaciendo". (*)

Sumber: Pos Kupang


You, Anak Kecil atau Anak Besar?


Romo Amanche Ninu

Oleh RD Amanche Ninu

Seorang Romo dengan langkah malu malu dan harap harap cemas bertemu Bapak Uskup Turang di Rumah Keuskupan. Pagi pagi beberapa tahun yang lalu.

Romo itu mau izin. Ikut Festival Sastra di Makassar, MIWF, Makassar International Writers Festival, tahun 2013.

"Selamat paaagiii Bapak Uskup..." Romo itu beri salam untuk Bapak Uskup. Sapaan khas dengan nada suara tarikan khas orang Dawan Timor. Sopan santun yang paling halus. Tata krama tingkat tinggi. Strategi!

Selamat...! You, bagaimana?? Balas Bapak Uskup Turang, halus tapi tegas. 

"Saya ada perlu dengan Bapak Uskup", jawab Romo muda itu dengan dada dan jantung berdenyut, dag dig dug, darah model ke mo stop, nafas diatur bae bae. Sambil tunduk malu malu pus. Meo meo isbai bai tutu kolo, kol paka lele manse nsae. 

Ya, Bagaimana?? Bapak Uskup tanya lagi. Kali ini dengan tatapan tajam. Mata Uskup adalah mata elang yang melihat si Romo muda yang su noe model burung puyuh su basah kuyub.

"Saya mau izin ikut kegiatan sastra di Makassar"....Ini Romo mo maen "to the point" deng Baptua.

'You stop! You Guru atau Sastrawan??" Tanya dan tantang Bapak Uskup, saat itu. Memang, itu Romo tu Guru. SK Guru di SMA milik Keuskupan. Tugasnya mengajar. Kenapa dia pi maen sastra, pantun puisi dan "puiteko"

"Saya Guru Bapak Uskup", Romo itu jawab dengan malu, tapi dia pung hati su noe. Jantung dag dig dug deg dog. Hehe. Harapan untuk berkegiatan sastra pupus. Tiket su di tangan. Uang saku su di saku. Bahkan su makan stengah. Ailo...

"You kurang fokus ya. You Guru bukan sastrawan. You urus sekolah, bukan urus kegiatan kegiatan yang tidak penting", tambah Bapak Uskup. Kali ini makin tegas.

You pulang, pulang.., urus sekolah dan anak-anak, demikian keputusan Bapak Uskup.

Tapi dasar "anak tukang palese". Itu Romo son abis akal. Saat Bapak Uskup marah dan tegas. Saat itu jurus jitunya keluar. Dia menangis. Batareak. Ingos keluar. Panjang. Napas sat satu. 

Bapak Uskup pukul meja....

Itu Romo makin gas, menangis batarea. Ingos kaluar makin panjang. Kaka Ronya, karyawati lari dari dapur, kasi tinggal ikan yang sementara digoreng. Mungkin itu ikan tu angos saat itu. Kaka Ronya pikir Bapak Uskup su "cekik" ini anak. Hehe. Kasian.

Karena itu Romo pung suara tangis makin kencang, tamba batarea dan ingos malele.

Maka Bapak Uskup pukul meja tambah besar dan dengan suara tegas.

"Amancheeeee....., you anak kecil atau ANAK BESAR???

Saya ANAK BESAR Bapak USKUP....

Amarah Bapak Uskup mereda bersamaan dengan suara tangis yang mereda juga.

Izin diberikan kepada "anak" Amanche..

Cium tangan Bapak Uskup. Tarik nafas. 

Ya...You boleh jalan. Tapi pulang, fokus urus sekolah ya.

Amanche anak yang besar itu keluar dengan air mata yang sudah dihapus dengan ketegasan dan kasih sayang Bapak Uskupnya, Mgr Petrus Turang. Dia ke Makassar, ikut MIWF 2013, bersastra. Dan pulang tetap fokus urus sekolah sampe sekarang. 

Bapak sayang. Bapak terkasih. Bapak Mgr Petrus Turang. Engkau adalah Bapak dan kami adalah anak. Dari ketegasan dan kasih sayangmu, kami hidup, bertumbuh dan berkembang. Terima kasih Bapak. Dari sikapmu yang "keras", saya belajar untuk tidak main-main. 

Dan dari kasih sayangmu, saya tau, betapa Allah sangat mencintai kita. Maaf Bapak Uskup karna kadang kami anak-anak ini, hanya "taputar", tak tentu arah, dan itu kadang membuatmu marah. Kami mendoakanmu Bapak, karna kami percaya bahwa Engkau mendoakan kami juga dari kebahagiaan abadi di surga. Amin.

Dari akun Fb Romo Amanche


Mgr. Petrus Turang Uskup yang Cerdas



Oleh: Pastor Melky Malingkas

Tadi pagi sementara kami makan bersama di Refter Seminari Pineleng, tiba-tiba Pst Max Manewus nyeletuk, Mgr Petrus Turang baru saja meninggal, informasi itu lewat WA Group Pastores Manado, dari Rekan Pst kami, Pst Steven Lalu.  

Sejenak kami terdiam saat itu, lalu mulailah kami berkisah tentang Mgr. Turang di ruang makan yang dulu juga Mgr pernah punya pengalaman indah makan bersama teman-teman frater, ataupun ketika beliau menjadi dosen sekaligus formator di Seminari Pineleng. 

Makan bersama teman-teman di refter dengan menu ala kadarnya tapi bersih, dan sehat telah membentuk karakter Mgr Petrus Turang. 

Perbanyak nasi karena kurangnya lauk pauk dan sayur, tidak mengurangi kualitas dan kompetensi beliau sebagai calon imam, imam dan ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Agung Kupang.  Beliau yang ku kenal tercermin lewat pengalaman pribadi.

Uskup yang Cerdas

Kesan pertama ketika beliau disambut di Seminari Pineleng, mensyukuri tahbisannya sebagai Uskup Keuskupan Agung Kupang, 10 Oktober 1997. 

Dia hadir di Seminari Pineleng, dan saya saat itu tingkat 2. Kami berbaris di depan Seminari Pineleng, dan menarik dalam kata-kata penyambutan oleh Ketua Stfsp waktu itu mengatakan, “Bapak Uskup Petrus merupakan Alumnus terbaik dari STFSP, karena itu mari kita menyambut dengan sukacita dan berharap ada ‘Uskup-uskup Petrus baru’ dihasilkan dari Stfsp”. 

Saya terkesima dan tersanjung dengan Uskup yang baru ini; ganteng, berkarisma, penuh senyuman, tapi matanya menatap tajam “seperti mata elang” karena kewibawaannya sebagai Uskup tampak pada saat itu. 

Saya semakin terperangah ketika beliau membawakan kata-kata sambutan pada saat itu. 

Isinya begitu memukau dan menyentuh kami para frater, calon imam waktu itu agar memiliki karakter yang baik, yang dibutuhkan oleh umat dan masyarakat. 

Kecerdasan Uskup tidak pernah sirna dalam penggembalaannya sebagai Uskup. Saya ingat tahun 2010, beliau berkunjung ke Roma dan waktu itu, saya masih sementara studi. 

Beliau mengajak saya pertama-tama untuk mengunjungi Alma Maternya, Universita Gregoriana Roma. 

Ketika tiba di Universitas tersebut, yang dekat dengan Fontana Trevi, air mancur, tempat indah untuk berfoto ria, Mgr mengajak saya bukan untuk ke tempat indah tersebut, tetapi langsung menuju ke libreria, toko buku dari universitas tersebut. Mgr hanya berkata, “Melky, pilih joh yang ngana suka yang ‘servire’ studi kamu”. 

Saya hanya ambil dua buku karena rasa malu ku lebih besar karena agak mahal. Beliau bilang, “Jangan cuman itu”. 

Akhirnya beliau memilihkan beberapa buku dan tulisan-tulisan pentingnya yang sudah dicover, Mgr menambahkan, “Jadi pastor, jangan jadi pastor bodok-bodok”. 

Uskup Yang “Pambae”

Siapa tidak kenal dengan kebaikan dan ringan tangannya Mgr dalam memberi. Satu kali saya tiba di wisma keuskupan Manado dan karyawan-wati keuskupan pada riang gembira, karena ternyata mereka baru menerima “ampao” dari bapak Uskup. 

Saat itu, Saya masih sempat bertanya, apakah Mgr masih ada?, mereka mengatakan, Yaaa…. Mgr baru pergi beberapa menit yang lalu, maka sedihlah saya, tidak sempat mendapatkan sesuatu. 

Tapi ternyata Tuhan itu adil lewat kebaikan Mgr Turang. Saya masih ingat ketika beliau berkunjung ke Roma, sesudah mengunjugi Universita Gregoriana, beliau mengajak saya untuk mencicipi makanan Cina. 

Beliau pun bertanya, “Melky dimana Restorante Cinese, paling enak yang dekat dengan Piazza San Pietro”. 

Kamipun makan di Restoran Cina dengan pesanan Rusuk Babi dua porsi, ikan dan nasi goreng, tak lupa Gelato Panas, ice cream yang digoreng karena lapisan luarnya dari tepung. 

Saat itu ice cream ini begitu terkenal. Sambil makan, Mgr Bersharing banyak hal termasuk restoran Cina, dimana kami sementara makan, dan menurut beliau pada zamannya ketika kuliah di Roma, Restoran Cina ini belum ada.  

Sesudah makan malam yang sangat berkesan, saya mengantar Mgr ke Casa Del Clero, dekat piazza San Pietro, teriring kata Ciao, untuk berpisah waktu itu, beliau masih merogoh 100 Euro dari dompetnya untuk saya. 

“Melky, tinggal ini yang didompet, harap boleh membantu”. 100 Euro untuk mahasiswa di negeri Pizza sangat berarti. Teryata Mgr “yang pambae” sampai di akhir hidupnya tetap “Pambae”. 

Terkenang di bulan Agustus tahun 2024, MCC (Manado Catholic Choir) membutuhkan dana yang besar untuk Festival Internasional di Lasarte-Spanyol. 

Saya bertemu dengan Mgr, dan mengutarakan maksud dari MCC yang membutuhkan anggaran yang besar. Mgr Berjanji akan membantu MCC dalam pengaadaan Seragam MCC. Dia menelpon saya, “Melky kamari sekarang, dana bantuan untuk MCC sudah ada”. 

Cepat-cepat saya ke Lotta, dan benarlah beliau memberikan segepok uang pecahan 100 ribu untuk kostum MCC dan Ia telah menyiapkan uang saku untuk saya yang tidak sedikit pula, Terima kasih Mgr. Ia hanya tersenyum dan mengundang saya untuk duduk dan berbincang bersama-sama.

Uskup yang “Disiplin dan Prinsipil”

Banyak memberikan kesaksian bahwa Uskup Petrus Turang memiliki sifat yang sangat khas. 

Banyak mengatakan bahwa Mgr adalah pribadi yang sangat disiplin dan sangat ketat dan tegas memegang prinsip-prinsip. 

Prof Perry bahkan mengatakan dalam ungkapan dukanya, “Sungguh kita kehilangan seorang Uskup tegas pemberani. Tuhan terimalah Mgr Petrus dalam kedamaian abadi, Semoga muncul lagi Uskup asal Sulawesi Utara yang tegas dan pemberani”. 

Begitupun kisah dan cerita dari mantan sopir Mgr di Kupang, yang mengatakan sosok Mgr adalah orang yang sangat disiplin. 

Bahkan ia mengatakaan bersyukur karena boleh belajar soal disiplin dari Mgr selama 27 tahun menjadi sopir pribadi dari Bapak Uskup. 

Memang benar, Mgr Turang memiliki karakter khas dalam hal menghormati waktu didalamnya ada sifat kedisiplinan dan prinsipiil. Saya ingat dua tahun lalu ada pertemuan Aptik di Kupang, sesudah perayaan Ekaristi, ada pembukaan resmi kegiatan tersebut. 

Acara agak molor karena lagi menunggu kepala dinas Pendidikan, kalau tidak salah. 

Sambil bicara-bicara dengan Uskup, beliau meminta saya untuk mampir di wisma keuskupan, dan saat itu beliau mengatakan bahwa kalau kepala dinas belum datang dalam 10 menit, maka beliau akan segera pergi. 

Saya sangka, beliau hanya “bakusedu” saat itu, tapi ternyata memang yang ditunggu-tunggu nanti datang 30 menit sesudahnya, dan Mgr telah meninggalkan venue kegiatan 20 menit sebelumnya. 

Mgr mengajarkan betapa berharganya waktu itu, ia pergi dan pasti tidak akan datang lagi. Sesudah beliau bergelar Emeritus, maka ada banyak waktu di Manado atau tepatnya di Lota. 

Ia punya banyak rencana untuk pengembangan UNIO Manado; ingin dirikan rumah ret-ret di Amurang, dan penggantian rumah panggung UNIO yang terbakar beberapa tahun yang lalu. 

Menarik kalau beliau membutuhkan kehadiran saya. Beliau telpon dan langsung bertanya, Melky dimana? Kalau saya menjawab di Seminari, beliau langsung bilang “Sekarang datang di Lota, 30 menit sudah di sini yah”. 

Saya oke..Oke, saja, Karena tahu karakter beliau yang mencintai ketepatan dan pemanfaatan waktu. Maka, cepat-cepat ke Lota dan beliau sudah siap untuk pergi. 

Uskup yang cinta “Presiden kita, Prabowo”

Sore ini menjadi Viral di pelbagai media, karena kunjungan Presiden Prabowo ke Katedral Jakarta untuk memberikan penghormatan dan mendoakan keselamatan kekal dari Uskup Petrus Turang. 

Seorang Presiden datang untuk memberikan penghormatan, itu berarti pribadi Mgr begitu baik dan berkesan di mata Presiden Prabowo. Tentu ada banyak masukan kepada Presiden tentang pribadi dan karya dari Mgr Petrus Turang. 

Kalau ditanya, Apakah Mgr cinta dan senang dengan Presiden Prabowo? Saya katakan benar adanya. Saya ingat ketika Presiden Prabowo baru terpilih menjadi presiden. 

Waktu itu, saya di Lota, dimana Mgr tinggal, berbicara mengenai keterpilihan dari Prabowo sebagai Presiden. 

Dan Mgr, secara blakblakan saat itu mengatakan, bahwa ia sudah memprediksi bahwa Prabowo yang akan jadi Presiden, biarpun dia mengatakan pula, bahwa sebelum pemilihan sebagai Uskup, Ia tidak terang-terangan mengatakan keberpihakan karena dia tahu Uskup tidak boleh berpolitik praktis. 

Kamipun berbincang-bincang seputar berpolitikan Indonesia, termasuk pemerintahan di NTT, termasuk di Kupang sendiri. 

Beliau banyak bercerita tentang sepak terjang para politisi disana dengan usaha-usaha memajukan NTT dan Kupang, dan selalu Mgr mengatakan bahwa Ia selalu bersikap kritis terhadap pemerintah, dan selalu ada dibenaknya bagaimana “option for the poor” mesti menjadi pilihan utama dalam memajukan suatu daerah atau negara. 

Kehadiran tadi sore Bapak Presiden menjadi apresiasi dan perhatian indah bagi Mgr Turang. 

Dengan orang yang dicintainya, yang ia percaya bisa memajukan Indonesia datang menghampiri dan mendoakannya memberikan “keceriaan dan senyum” bagi Mgr. 

Uskup yang sayang pada imam-imam dan umatnya

Kehadiran Mgr di tengah-tengah para imam dan umatnya sungguh dialami sebagai ‘pendamai, pemberi ketenangan dan penguatan’. Mgr begitu mengasihi dan mencintai para imamnya. 

Dari karakter keras dan tegasnya dalam memformasi para imamnya, terdapat hati seorang bapa yang merangkul, memeluk dan mencium para imamnya. 

Salah satu percakapan kami yang berkesan ketika saya bertanya bagaimana dengan imam-imam di Keuskupan Kupang. 

Ia hanya mengatakan, “Sebagai Uskup saya sangat mengasihi mereka, termasuk mereka yang membuat kesalahan selalu ada jalan keluar untuk mereka semua”. 

Menurut beliau biasanya untuk mendampingi para imam “bermasalah” ada tim khusus yang mendampingi mereka. Beliau biasa mendapat laporan, dan akan membuat kebijakan tertentu kepada imam tertentu kalau dirasa perlu. 

Tetapi dari kedalaman hatinya, Ia begitu mencintai para imamnya. Termasuk kami di Manado, bagaimana kehadiran dari Mgr membawa berkat dalam banyak hal. Ia mendampingi, menguatkan, bahkan beberapa imam kami yang sakit dan bermasalah mendapat perhatian khusus. 

Suatu ketika, Beliau menelpon saya, “Melky, ajak teman-teman untuk pergi ke Pst Yo Ansow di Keroit”, dua jam setengah dari Pineleng-lota. 

Beliau begitu antusias menuju ke Keroit dan disana ada suasana persaudaraan antar kami, sambil disuguhi dengan bir dan “aer kata-kata” (captikus), kami membagi pengalaman satu dengan yang lain. 

Ungkapan kegembiraan Pst Yo dengan menyiapkan makan siang dengan menu ayam kampung, babi panggang dan mujair bakar. Pulang juga kami dibekali dengan beberapa botol “aer kata-kata”. 

Hati seorang Uskup selalu untuk para imamnya. Termasuk juga hatinya tertuju selalu pada umatnya. Ada begitu banyak orang telah mengalami kebaikannya. 

Ci Lucia Liando adalah sahabat dari Mgr Turang, pernah berkata “Pastor, biar Mgr keras bagitu, mar dia pe hati baek sekali untuk semua”. 

Perbincangan itu muncul dalam rangka renovasi rumah Unio di Manado. Ci Lucia punya keinginan tertentu dengan menggunakan arsitek agar hasilnya lebih baik, tetapi Mgr berkehendak yang lain, maka akhirnya saya yang jadi bingung sebagai ketua Unio mau ikut siapa. 

Tetapi solusinya, Ci Lucia mengatakan, “Ikut saja kemauan Mgr, dia begitu keras mar pambae sekali for torang”. Tentu ada banyak kenangan indah Mgr bersama dengan umatnya, yang pasti Mgr selalu punya hati untuk seluruh umatnya.

Masih banyak kisah yang indah telah terjalin bersama dengan Mgr Petrus Turang, paling terakhir, Terima Kasih atas pengabdianmu, cintamu tapi terlebih kesetiaanmu sebagai imam sampai mati. SACERDOS IN AETERNUM.

Salam dan doa

Pengagummu, Pineleng, 4 April 2025, Pukul 20.00

Pastor Melky Malingkas

Tempat Kosong Di Atas Mitra Uskup

Mgr. Petrus Turang

Oleh: RD. Leo Mali

Rohaniwan dan Dosen Filsafat pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM- Pagi hari, 4 April 2025, pukul 8.15 Wita ketika sedang berada di ruang kelas untuk menguji tesis salah seorang frater Tingkat VI dari Konvict Keuskupan Agung Kupang, kami mendapat kabar “kepergian” Mgr. Emeritus Petrus Turang. 

Tiba-tiba tangan saya terasa dingin. Kedua kelopak mata saya sembab. Kami terdiam. 

Beberapa saat kemudian, saya berbisik minta izin ke Romo Dr. Herman Punda Panda yang duduk di samping saya, agar ujian dihentikan sejenak untuk berdoa. Lalu kamipun hening dan berdoa bersama.  

Setelah selesai ujian, saya mulai menulis catatan ini. Memori saya berputar beberapa puluh tahun ke belakang. Tanggal  24 Mei 1997 beliau ditunjuk oleh Takhta Suci menjadi Uskup Koajutor Keuskupan Agung Kupang, dan kemudian menerima tahbisan episkopal sebagai Uskup tanggal 27 Juli 1997. 

Berdasarkan kanon 403 paragraf 3,  beliau kemudian menjadi Uskup Agung Kupang menyusul wafatnya alm. Mgr. Gregorius Monteiro 10 Oktober 1997. 

Setelah menjadi Uskup, saya mendapat kesempatan untuk bekerja bersama beliau. Dan tulisan ini merupakan sebuah refleksi pribadi atas pengalaman bersamanya selama 27 tahun, dari tahun 1997 sampai 2024. 

Saya ingin membingkai tulisan ini dengan sebuah kalimatnya,  “Mengapa ada tempat kosong di atas mitra uskup.” 

Demikian tanya beliau kepada umat yang hadir. Kemudian ia sendiri melanjutkan. “Karena seorang uskup harus meletakkan persoalan umat di ruang kosong atas mitranya.”  

Kalimat ini meluncur dari bibir Mgr. Petrus Turang dalam sambutan perdananya di Aula Katedral Kupang, tanggal 26 Juli 1997, sehari sebelum tahbisan episkopalnya. Kalimat pembuka sambutan itu tidak biasa. 

Awalnya saya tertarik hanya karena pertanyaan itu tidak biasa. Terdengar retoris sebagai pembuka sambutan atau sebuah pidato. 

Tapi kemudian saya mengerti kata-kata itu buksn sekadar retorika dari seorang gembala yang akan menerima tongkat penggembalaan; tapi kalimat itu adalah pengakuan jujur dari hati yang merendah, sekaligus tekad diam dari jiwa yang siap membaktikan diri. 

Kalimat tersebut menjadi semacam nubuat personal yang ia genapi dalam peziarahan panjang pelayanannya selama 27 tahun sebagai Uskup Agung Kupang.

Kini, tempat itu tetap kosong. Mitra uskup yang dulu menandai kehadirannya sebagai gembala yang memikirkan persoalan umat, kini tak lagi ia kenakan. 

Namun, kekosongan itu bukan semata kehilangan. Ia adalah ruang kenangan, tempat gema karya dan kasih Mgr. Petrus Turang akan terus hidup di hati umatnya. 

Tahun ini, tahun Yubelium dengan tema Peregrinantes in spem —peziarah pengharapan—ia mengakhiri ziarahnya dengan cara yang begitu indah: memasuki pintu keabadian, seperti umat diajak memasuki Pintu Suci demi memperoleh indulgensi penuh.

Ketika ditahbiskan beliau memilih moto episcopalnya, Per transiit benefaciendo— “Ia  (Yesus) berkeliling sambil berbuat baik” (Kis. 10:38)—adalah janji yang tidak pernah ia khianati. 

Mgr. Turang bukan tipe gembala yang mencari sorotan, namun langkahnya senantiasa terasa dalam diam. Ia berjalan jauh untuk menjangkau yang jauh. 

Ia hadir di pelosok, mendengar suara umat kecil, dan merawat harapan mereka yang seringkali dipinggirkan oleh waktu dan sistem. 

Di tanah Nusa Tenggara Timur yang keras dan kerap diwarnai tantangan sosial, ia menjelma seperti sungai tenang yang memberi hidup bagi banyak jiwa.

Sebagai gembala, Mgr. Petrus Turang menunjukkan keseimbangan antara teologi dan pastoral. Ia menghidupi imannya tidak hanya dalam ritus dan rubrik, tetapi terutama dalam kedekatan. 

Meski kadang, sebagai seorang yang sangat cerdas dan berwawasan sangat luas, ia menjadi kurang sabaran di antara kawanannya sendiri. 

Ia memanusiakan jabatan uskup, bukan dengan melemahkan wibawanya, tetapi dengan menjadikannya cermin kasih Kristus yang merangkul. 

Ia tidak menuntut penghormatan, tapi umat menghormatinya dengan tulus. Saya ingat sebuah kejadian sederhana di bulan Oktober tahun 1999 ketika beliau mengunjungi Kapela Stasi Pakubaun Amarasi. 

Saat itu saya bertugas sebagai Pastor Paroki.  Beliau menolak dan tidak mau umat mencium tangannya. 

Saya harus meyakinkan beliau, agar umat boleh mencium tangannya. Akhirnya beliau mengalah. 

Ia tidak mengejar pengaruh, tapi pengaruhnya menetap dalam kesetiaan panjang umat terhadap bimbingannya.

Dalam banyak kesempatan, ia tampil sebagai penafsir zaman. Ia mengangkat suara terhadap ketidakadilan sosial (meski kadang dengan cara yang sangat halus), mendukung pendidikan yang bermartabat, dan menyuarakan pentingnya solidaritas lintas iman. 

Namun, seperti halnya Kristus yang memilih naik ke Yerusalem dalam kesunyian dan ketaatan, Mgr. Turang menjalani jalannya sebagai gembala tanpa hiruk-pikuk. 

Pelayanannya adalah litani panjang dari kebaikan-kebaikan kecil yang terus bergema. 

Ia tidak mencari hasil besar dalam waktu singkat, namun menabur kesetiaan yang kelak berbuah dalam ketekunan waktu.

Ketika dunia kini tergerus oleh sensasi dan kekuasaan yang cepat berganti, warisan Mgr. Petrus Turang mengingatkan kita pada nilai ziarah yang sabar, dan ketulusan pelayanan yang senyap. 

Ia menjadi teladan bagi para katekis, imam muda, dan umat awam: bahwa pelayanan bukan soal panggung, tetapi tentang hati yang hadir dan siap menjadi sahabat bagi yang tersingkir. 

Dalam sambutan pertamanya, setelah ditahbiskan, ia berkata: “I am not to be succesful, but I am here to be faithful.”   Ia menghidupi spiritualitas gembala yang —berjalan, hadir, dan berbuat baik. 

Pada tahun Yubelium ini, saat Gereja universal diajak merenungkan harapan dalam ziarah iman, kepergian Mgr. 

Petrus Turang menjadi peristiwa profetis. Seakan ia sendiri melangkah menuju Pintu Suci terakhirnya, bukan di basilika agung, melainkan dalam hati umat yang ia layani. 

Ia mengajarkan kita makna terdalam dari indulgensi: pelepasan dari beban dunia, masuk ke dalam terang rahmat Ilahi. Dan kini, di altar kenangan, kita menaruh doa dan syukur. 

Untuk hidup yang ia persembahkan. Untuk kasih yang ia tabur. Untuk keteladanan yang akan terus dibaca, bukan di atas kertas, tapi dalam langkah Gereja lokal yang ia cintai.  

Selamat jalan, Sang Gembala. Mitramu telah kauletakkan, tempatnya kini kosong, namun tidak hampa. Ia akan tetap dikenang sebagai ruang harapan dan inspirasi bagi para penerusmu. 

Kami akan melanjutkan Ziarahmu bersama Uskup terkasih kami yang telah Dikau-urapi : Mgr. Hironimus Pakaenoni, dengan menjaga dan memperhatikan ruang kosong di atas mitra uskup.

 Dalam kenangan penuh hormat dan cinta, Terimakasih Monsinyur. Hodie tibi, cras mihi: Hari ini giliranmu, esok kami menyusul. 

Dalam Kristus yang bangkit, kita semua adalah peziarah pengharapan yang melangkah menuju keabadian. (*)

Sumber: Pos Kupang

Terima Kasih Monsinyur

 

Mgr. Petrus Turang 

In Memoriam Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang

Oleh: Rm. Gabriel A. I Benu, Pr

Imam Keuskupan Agung Kupang, tinggal di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kota Kupang - NTT

Berbicara tentang sosok Mgr. Petrus Turang selalu tidak ada habisnya. 

Pribadi tegas dengan sorotan mata yang tajam ditambah dengan keluasan wawasan yang terkadang anti mainstream menjadikan beliau sosok yang dikagumi juga disegani. 

Melalui tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman perjumpaan dengan beliau secara dekat sekaligus secara khusus merefleksikan nasihat-nasihat praktis yang pernah dan sering beliau sampaikan kepada kami sebagai calon imam juga termasuk kepada para imam. 

Pengalaman perjumpaan dengan beliau secara dekat terjadi setelah saya dan teman-teman seangkatan menyelesaikan masa formasi di Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian, Nela-Emaus Atambua. 

Sudah menjadi kebiasaan bagi para frater calon imam bertemu dengan Bapak Uskup untuk meminta doa, berkat sekaligus nasihat-nasihat bagi perjalanan panggilan dan pendidikan sebagai calon-calon imam Keuskupan Agung Kupang. 

Pertemuan dengan Bapak Uskup biasanya terjadi dilakukan sebelum menuju Tahun Orientasi Rohani atau sekembalinya dari sana tepat sebelum melanjutkan pendidikan dan pembinaan di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang. 

Kala itu tanggal 6 Juli 2016 pukul 10:00 WITA, bersama dengan ke-23 teman yang lain, kami bertemu dengan Bapak Uskup di Rumah Keuskupan Agung Kupang. 

Pertemuan kami dengan Bapak Uskup sudah diatur oleh Sekretaris Keuskupan, RD. Yermias Siono (Alm). 

Kesan kami sebelum menemui Bapak Uskup sangat menegangkan. Wajar saja karena bila bertemu dengan beliau selalu ada pertanyaan-pertanyaan ak terduga yang ditanyakan. Kesan ini juga banyak kali dirasakan oleh para imam. 

Sekitar 15 menit sebelum pertemuan dimulai, Rm. Yono memberikan semacam briefing kepada kami perihal pertemuan tersebut. Atas kesepakatan kami, Ketua Tingkat Fr. Antonio Pukan mewakili kami untuk berbicara. 

Beliau menyambut kami dengan hangat sambil salaman di pintu masuk ruangan. Kesempatan langka ini membuat kami sedikit kikuk. Melihat itu Bapak Uskup dengan nada bicara yang khas mengatakan, “masuk saja. Ini rumah kalian”. 

Setelah kami semua masuk, sambal berjalan ke tempat duduk beliau bertanya, “bagaimana keadaan kalian di Tahun Rohani?” 

Karena gugup, Fr. Antonio Pukan yang semula ditunjuk untuk berbicara pun diam saja. Kami semua diam. Saya lalu berinisiatif untuk menjawab pertanyaan beliau.

 “Kami senang Bapak Uskup”. Beliau bertanya lagi, “senang seperti apa?” saya jawab, “kami senang karena situasi di Tahun Rohani itu sunyi dan juga kami bertemu dengan banyak orang yang menjadi orang tua angkat kami.” 

Ketika beliau mendengar  jawaban ini dengan nada agak meninggi beliau mengatakan, “Ini yang Uskup tidak suka. Kamu terlalu materialistis.” 

Jawaban Bapak Uskup dengan nada yang meninggi membuat kami makin gugup dan terdiam. Dalam hati saya bertanya apa yang salah dengan jawaban saya. 

Lalu beliau menjelaskan bahwa beliau tidak suka dengan dengan calon-calon imam dan imam-imam yang suka mencari orang tua angkat. 

Bagi beliau itu materialistis dan cenderung memengaruhi orientasi hidup sebagai calon imam dan imam dari berusaha melayani dan memberi menjadi upaya untuk mengumpulkan bagi diri sendiri. 

Beliau juga mengingatkan bahwa hubungan dengan orang tua angkat perlahan-lahan memudarkan hubungan dengan keluarga dan orang tua kandung.  

Bahkan beliau mengangkat fenomena bahwa ada begitu banyak calon imam dan imam yang tidak lagi mengisi waktu liburan bersama dengan keluarga inti tetapi justru lebih banyak memilih berlibur ke rumah-rumah orang tua angkat. Waktu itu kami tidak begitu memahami apa maksud beliau. 

Memupuk Panggilan Bersama Keluarga

Bagi Mgr. Petrus Turang, panggilan hidup menjadi seorang calon imam dan imam lahir dan bertumbuh pertama-tama di dalam keluarga-keluarga. 

Bahkan dalam banyak pengalaman, panggilan hidup sebagai calon imam dan imam justru lahir dari keluarga-keluarga yang sederhana. 

Menurut beliau ketika seorang calon imam dan imam kehilangan hubungan dengan keluarga-orang tua dan saudara-saudara kandung-pada saat itulah ia akan kehilangan jatidiri dan panggilannya. 

Panggilan hidup sebagai calon imam dan imam harus terus dirawat dalam hubungan yang tidak terputuskan dengan keluarga. Upaya merawat panggilan itu dimulai dari hal-hal sederhana. 

Saat berlibur pulang ke rumah keluarga, bercerita dengan keluarga tentang panggilan, membantu orang tua dalam pekerjaan sehari-hari di rumah. Dengan ini panggilan itu akan terus segar dan bertumbuh. 

Hubungan formasi panggilan hidup sebagai calon-calon imam dan keluarga juga ditegaskan dalam Konsili Vatikan II secara khusus di dalam Dekrit tentang Pembinaan Imam (Optatam Totius). 

Konsili menegaskan, “Pengembangan panggilan termasuk kewajiban seluruh jemaat Kristen, yang harus menumbuhkannya terutama dengan peri hidup Kristen sepenuhnya. Dalam hal itu sangat besarlah sumbangan keluarga-keluarga, yang dijiwai semangat iman dan cinta kasih serta ditandai sikap hati, menjadikannya bagai seminari pertama.” (OT. 2). 

Penekanan Konsili tentang keluarga-keluarga sebagai seminari pertama, pada gilirannya memberikan awasan bagi calon-calon imam dan imam untuk selalu merawat panggilan yang dianugerahkan kepadanya dalam hubungan dengan keluarga, tempat pertama benih-benih panggilan itu ditaburkan, bertumbuh dan berkembang. 

Hal ini juga serentak menjadi pengingat manakala hubungan itu mulai memudar akibat kekeliruan menafsirkan kehadiran pihak-pihak lain di sepanjang upaya menjawabi panggilan yang menawarkan bantuan, donasi dan lain sebagainya. 

Nasihat Mgr. Petrus Turang tentang fenomena ini perlu secara jujur diungkapkan bahwa ada juga calon-calon imam termasuk imam yang oleh karena donasi, bantuan dan privilese-privilese dari pihak-pihak lain, justru membuat hubungan dengan keluarga inti menjadi renggang bahkan nyaris putus. 

Merawat panggilan bersama dan di dalam keluarga merupakan kewajiban yang tidak mengenal untung-rugi. Hal ini wajib dilaksanakan karena panggilan itu pada hakikatnya lahir dari keluarga dan melalui keluargalah panggilan itu pertama-tama ditanamkan, dirawat dan didoakan (L. Prasetya, 2014). 

Peranan keluarga tidak selesai setelah masa formasi. Justru sebaliknya peranan keluarga sebagai pendukung dan pendoa utama terus berlanjut lebih intens selama masa pelayanan imamat seorang imam. 

Bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa kenyataan inilah yang dilihat oleh Mgr. Petrus Turang dan dinasihatkan kepada kami di dalam pertemuan kala itu. 

Tekun Berdoa dan Belajar

Selain menekankan pentingnya merawat hubungan dengan keluarga, Bapak Uskup juga menyoroti pentingnya hidup doa dan ketekunan dalam belajar. 

Menurut beliu  hidup di Seminari Tinggi membutuhkan konsentrasi belajar yang intens, tetapi satu hal yang tidak pernah boleh dilupakan adalah kekuatan hidup doa. 

Di satu pihak, ketekunan mempelajari ilmu filsafat, teologi, Kitab Suci dan ilmu-ilmu humaniora  lainnya membentuk calon imam sebagai pelayan yang berkompeten dan berkualitas untuk pelayanan di masa-masa mendatang namun di lain pihak, ketekunan dalam hidup doa akan membentuk spiritualitas hidup setiap calon imam sebagai manusia pendoa (man of prayer) yang siap menghadapi tantangan hidup zaman yang kian sekular. 

Mgr. Petrus Turang menekankan pentingnya mempelajari filsafat dan teologi sebagai syarat utama  di bidang formasi intelektual bagi seorang calon imam mengingat filsafat memberikan dasar-dasar berpikir yang terukur, sistematis dan logis di samping ilmu teologi yang membantu seorang calon imam merefleksikan dengan baik dan benar Iman Kristiani sebagaimana telah diwariskan oleh Gereja melalui Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium Suci. 

Melalui filsafat dan teologi setiap calon imam dibantu untuk menempatkan pilihan-pilihan mendasar pada Kristus dan panggilan-Nya serta mampu mengapresiasi kekayaan iman dalam terang bimbingan spiritual secara intensif (D. Gusti Bagus Kusumawanta, 2011). 

Tentang hidup doa, Bapak Uskup menekankan pentingnya Ekaristi, membaca Kitab Suci dan ibadat Brevir. 

Melalui Ekaristi, setiap calon imam dan imam secara berkanjang mengkonfigurasikan hidup dan panggilannya pada Kristus sendiri. 

Ekaristi menguatkan hidup dan menghadirkan kebaruan secara terus-menerus di dalam proses menjawab panggilan. 

Di dalam Ekaristi setiap calon imam dan imam membarui panggilannya serta meletakkan seluruh syukur hidupnya pada Allah oleh karena anugerah yang diterima terus-menerus. 

Ekaristi juga mengantar pada ketekunan membaca Kitab Suci yang menginspirasi setiap calon imam dan imam untuk sanggup menjadi terang dan garam di dalam dunia dan kesehariannya. 

Dengan melaksanakan ibadat Brevir, setiap calon imam dan imam mengambil bagian dalam kesatuan bersama seluruh Gereja untuk mendoakan Gereja dan seluruh dunia. 

Inilah kewajiban dasarih setiap calon imam dan imam yang harus dilaksanakan dengan kesadaran penuh dan kegembiraan sejati. 

Pentingnya Hidup Sederhana

Nasihat terakhir dari Bapak Uskup dalam pertemuan kami kala itu dinyatakan secara tidak langsung. 

Bapak Uskup memperhatikan busana kami. Sambil melihat ke arah sepatu kami beliau mengatakan, “Uskup tidak melihat kaus kaki putih”. 

Kami hanya tersenyum. Mgr. Petrus Turang sangat menekankan pentingnya berbusana para calon imam dan imam. Dalam banyak kesempatan, beliau selalu menekankan pentingnya busana yang pantas. 

Busana yang menunjukan kesederhanaan seorang calon imam dan imam. Terutama di dalam perayaan-perayaan liturgi, beliau selalu menekankan agar para calon imam dan imam mengenakan busana sederhana yang pantas terutama berkaitan dengan sepatu. Tepatnya sepatu kulit yang sederhana. 

Tekanan ini wajar dan tidak berlebihan. Sebagai seorang Uskup dengan latar belakang ilmu sosiologi, beliau tentu mengamati dan memahami dengan baik fenomena perkembangan mode busana modis yang bahkan merambah masuk ke dalam gaya hidup calon imam dan imam. 

Sebagaimana orientasi panggilan hidup yang diemban menekankan kesederhanaan, beliau seringkali dalam banyak kesempatan  mengajak para calon imam dan imam untuk berlaku sederhana dimulai dari apa yang dipakai. 

Beliau bahkan telah menunjukkannya terlebih dahulu. Bahkan, belum pernah terlihat beliau menggunakan telepon genggam di depan umum. Inilah kederhanaan yang diteladankannya. 

Tidak saja soal busana, beliau sangat memperhatikan urusan makan-minum terutama pangan lokal untuk menunjang pola dan gaya hidup sehat. 

Beliau kadang-kadang dengan halus dan bercanda menyentil para frater dan romo yang nyaris obesitas. Sungguh sosok bapa yang peduli. 

Setelah sekitar 20 menit mendengarkan nasihat dan beliau, kami berpamitan kembali ke rumah untuk berlibur sambal mempersiapkan diri untuk masuk ke Seminari Tinggi. Beliau mendoakan dan memberi berkat bagi kami. 

Akhirnya setelah 9 tahun berproses, ketika kuncup perjalanan imamat saya baru mulai merekah, persisnya pada pagi hari Jumat, 4 April 2025 pukul 06.20, tiba sebuah pesan singkat di grup WA para imam. Bapak Uskup Mgr. Petrus Turang telah pergi untuk untuk selamanya.   

Terima kasih Bapak Uskup untuk perjumpaan dan nasihat-nasihat yang meneguhkan. Setelah bertahun-tahun nasihat-nasihat itu masih tersimpan kuat di hati saya dan teman-teman. 

Kami akan terus mengingatnya di dalam perjalanan selanjutnya. Bapak Uskup akan selalu berada di hati kami. 

Terima kasih bapak yang murah hati. Uskup yang melahirkan 159 imam diosesan. Uskup yang melahirkan Uskup dalam diri Mgr. Hironimus Pakaenoni. 

Doa kami semoga Bapak Uskup beristirahat dalam damai dan kerahiman Tuhan. Terima kasih Monsinyur. Pertransiit Benefaciendo sempiternam. (*)

Sumber: Pos Kupang


Wartawan juga Butuh Doa


Mgr. Petrus Turang, Pr

"Dion, saya dengar dari Dami, kau tugas di Manado," katanya kepadaku suatu hari di awal tahun 2013.

"Benar sekali Bapa Uskup. Saya tugas di Manado. Makan enak terus di sana. Saya sudah pergi ke tempat kelahiran Bapa Uskup di Tondano," jawabku.  Bapa Uskup Mgr. Petrus Turang tersenyum simpul.

Dami yang beliau sebut itu adalah Om Damyan Godho. Om Damyan adalah orang tua,  guru sekaligus pemimpin saya di Harian Pos Kupang. 

Om Damy dan Mgr. Petrus Turang bersahabat karib. Bestie, meminjam istilah anak zaman now.

Pada kesempatan lain, saya bertemu beliau di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Kabupaten Kupang.

Saya hadir di taman doa yang asri tersebut bersama umat dari Perumahan BTN Kolhua Kupang. 

Sebagaimana lazimnya kami umat Katolik, begitu mendengar beliau datang, saya bergegas mendatangi Sang Gembala lalu mencium cincin di tangannya.

Saya juga beritahu  hadir di taman itu untuk berdoa sekaligus ikut kerja bakti bersama umat lainnya. 

"Baiklah. Wartawan juga butuh doa. Jangan kamu hanya tulis-tulis orang punya masalah saja," katanya. Lugas dan tegas. 

Begitu sosok Mgr. Petrus Turang. Bapa Uskup kami yang terkasih telah mengakhiri ziarahnya di bumi fana pada hari Jumat 4 April 2025.

Selamat jalan, Yang Mulia. Tuhan maha rahim mendekapmu dalam damai abadi.

***

Semasa hidupnya dan terutama ketika menggembalakan umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang selama 27 tahun, Mgr. Petrus Turang dekat dengan semua kalangan.

Dia tokoh lintas batas. Merangkul dan memberi tempat bagi semua. Uskup Petrus Turang pun selalu respek pada pekerjaan jurnalistik.

Dia mengenal para wartawan dengan baik, menghargai karya mereka. Memberi koreksi dan nasehat.

Apakah beliau suka publikasi? Sama sekali tidak. Petrus Turang bukan gembala umat yang doyan diberitakan media. 

Seturut pengalaman saya, Uskup Petrus Turang baru mau diwawancarai langsung untuk tema tertentu yang dianggapnya penting dan harus beliau sendiri yang menyuarakan.  Mgr. Petrus Turang lebih banyak bekerja daripada bicara.

"Mgr. Turang bukan tipe gembala yang mencari sorotan, namun langkahnya senantiasa terasa dalam diam. Ia berjalan jauh untuk menjangkau yang jauh," demikian dosen pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang, RD. Dr. Leo Mali dalam catatannya mengenang almarhum yang dipublikasikan Pos Kupang hari ini.

Menurut Romo Leo Mali, Mgr. Petrus Turang hadir di pelosok, mendengar suara umat kecil, dan merawat harapan mereka yang seringkali dipinggirkan oleh waktu dan sistem. 

Di tanah Nusa Tenggara Timur yang keras dan kerap diwarnai tantangan sosial, ia menjelma seperti sungai tenang yang memberi hidup bagi banyak jiwa.

Sebagai gembala, Mgr. Petrus Turang menunjukkan keseimbangan antara teologi dan pastoral. Ia menghidupi imannya tidak hanya dalam ritus dan rubrik, tetapi terutama dalam kedekatan. 

Meski kadang, sebagai seorang yang sangat cerdas dan berwawasan sangat luas, ia menjadi kurang sabaran di antara kawanannya sendiri. 

Ia memanusiakan jabatan uskup, bukan dengan melemahkan wibawanya, tetapi dengan menjadikannya cermin kasih Kristus yang merangkul. 

"Ia tidak mengejar pengaruh, tapi pengaruhnya menetap dalam kesetiaan panjang umat terhadap bimbingannya."

"Dalam banyak kesempatan, ia tampil sebagai penafsir zaman. Ia mengangkat suara terhadap ketidakadilan sosial (meski kadang dengan cara yang sangat halus), mendukung pendidikan yang bermartabat, dan menyuarakan pentingnya solidaritas lintas iman," demikian Leo Mali. 

***

Perkenalanku dengan Petrus Turang  bermula dari pengumuman penting di kota suci Vatikan 21 April 1997.

Pada hari Senin 21 April 1997 (Indonesia merayakan Hari Kartini) - kegembiraan disertai rasa penasaran menyeruak di Kupang serta kota dan desa seantero wilayah Keuskupan Agung Kupang (KAK).

Hari ituPaus Yohanes Paulus II mengangkat Petrus Turang sebagai uskup koajutor Keuskupan Agung Kupang.

Umat  KAK  gembira mendapat seorang gembala. Serentak pula merebak rasa  ingin tahu mengenai sosok sang  gembala yang kala itu berusia 50 tahun  karena namanya belum begitu familiar di Nusa Tenggara Timur.

Sebagai uskup koajutor, Mgr. Petrus Turang berhak menggantikan Uskup Agung Kupang Mgr. Gregorius Monteiro, SVD yang waktu itu telah memasuki usia pensiun. Kondisi kesehatan beliau pun tidak begitu bugar lagi.

Ketika Uskup Monteiro wafat  10 Oktober 1997,  Mgr. Petrus Turang otomatis meneruskan kepemimpinan keuskupan yang wilayahnya meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, Alor, Rote Ndao dan Sabu Raijua ini.

Pascapengumuman Takhta Suci 21 April 1997,  pekerjaan besar menanti hirarki gereja lokal dan seluruh umat  KAK  yaitu mempersiapkan acara penahbisan Uskup Petrus Turang.

Rapat menetapkan penahbisan tanggal 27 Juli 1997 di Kota Kupang. Firmus  Wangge didaulat  sebagai ketua panitia.

Suatu  pagi yang cerah,  Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Damyan Godho memanggil saya ke ruang kerjanya di kantor kami, Jl. Kenari No 1 Naikoten I Kupang.

“Dion, saya sudah masukkan  kau di seksi Humas dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Piet Turang. Kerja baik-baik,” kata Om Damyan Godho membuka percakapan.

“Iya Om,” jawab saya. 

“Sebagian besar masyarakat NTT sepertinya belum terlalu mengenal bapa uskup kita yang baru,” lanjut saya.

“Justru karena itu tugas kau untuk menulis sebanyak mungkin tentang beliau  sehingga bisa dikenal umat Keuskupan Agung Kupang dan masyarakat NTT pada umumnya,” kata Om Damy.

Om Damy meminta saya segera bersua  Firmus Wangge sebagai ketua panitia. Saya menganggukkan kepala.

Kurang lebih tiga bulan persiapan panitia, saya  berinteraksi cukup intens dengan Om Firmus dan semua anggota panitia yang lain seperti Alo Djong Joko, para tokoh umat  termasuk Gubernur NTT saat itu, Herman Musakabe.

Atas penugasan dari Om Damy, semua informasi mengenai tahbisan  itu selalu dipublikasikan  Pos  Kupang yang merupakan satu-satunya koran harian yang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat itu.

Hampir saban hari selama sebulan penuh menjelang penahbisan, saya menulis mengenai tema tersebut.

Beberapa topik yang saya tulis secara serial antara lain, sejarah Keuskupan Agung Kupang dari gereja diaspora hingga menjadi keuskupan,sejarah Gereja Katedral Kupang,  profil Uskup Gregorius Monteiro dan yang paling menantang adalah profil Uskup Petrus Turang.

Maklum sumber referensi mengenai Yang Mulia di sekretariat keuskupan pun tidak banyak.

Saya mesti esktra keras mendapatkannya.  Waktu itu belum ada Mbah Google. Jadi semua harus cari secara manual. Di situlah letak keasyikannya.

Puji Tuhan semua bahan yang saya butuhkan tersedia pada waktunya. Maka saya menulis profil Mgr. Petrus Turang sejak masa kecil di Tondano, masa pendidikan di seminari, tahbisan imamat serta pengabdian beliau sebelum diangkat Paus Yohanes Paulus II sebagai uskup.

Petrus Turang yang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974 sempat menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Saya juga  menulis makna motto beliau Petransiit Benefaciendo atau Berkeliling Sambil Berbuat Baik (Kisah Para Rasul 10:38), makna lambang keuskupan dan lain-lain yang berkenaan dengan tugas sang gembala kelahiran Tataaran, Tondano Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, 23 Februari 1947 ini.

Bekerja Bersama  Om Firmus Wangge dalam kepanitiaan menyenangkan. Berlatarbelakang pengusaha, cara berpikir dan bertindak Firmus Wangge jauh dari birokrasi bertele-tele.

Apalagi waktu efektif bagi panitia penahbisan saat itu tidak lama. Hanya kira-kira dua bulan lebih.

Om Firmus selalu memastikan setiap rencana dapat dikerjakan secara baik oleh masing-masing seksi dalam kepanitiaan. Orangnya tegas, bicara blak-blakan seperti Petrus Turang tapi juga mau mendengar setiap saran.

Singkat cerita tiba jua penahbisan Uskup Petrus Turang pada hari Minggu, 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

Arena pameran tak berbekas lagi. Di lokasi tersebut kini berdiri megah Lippo Plaza dan Rumah Sakit Siloam Kupang. Tak jauh dari situ ada kantor Harian Pos Kupang.  

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ bertindak sebagai Penahbis Utama  didampingi Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia yang bergelar Uskup Agung Tituler Bellicastrum, Mgr. Pietro Sambi dan Uskup Agung Kupang saat itu, Gregorius Monteiro, SVD.

Upacara penahbisan berlangsung hikmat dan meriah. Sukses. Puluhan ribu umat Katolik tumpah ruah mengikutinya secara langsung di Fatululi.

Saya masih ingat kepada siapa ucapan terima kasih pertama yang disampaikan Uskup Petrus Turang, Pr saat memberikan sambutan seusai prosesi penahbisan. Beliau ucapkan terima kasih kepada wartawan!

“Terima kasih wartawan yang telah menulis sangat banyak tentang saya dan keuskupan ini,” kata Uskup Petrus Turang.

Saya yang berdiri meliput dari sisi kanan tribune, merinding. Terharu. 

Tentu bukan tujuan kami meminta atau mengharapkan ucapan terima kasih.

Menulis adalah tugas dan kewajiban jurnalis. Tapi ketika seorang gembala mengucapkan pada sebuah forum yang luar biasa, sungguh merupakan sesuatu.

Sampai akhir hayatnya, Om Damyan Godho dan Om Firmus Wangge menjalin relasi indah dengan Uskup Mgr. Petrus Turang.

Hubungan ketiganya tidak sekadar antara umat atau tokoh umat dengan sang gembala atau pemimpinnya. Mereka bersahabat. Teman diskusi. Saling berbagi suka dan duka.

Ketika kematian menjemput Om Damy dan Om Firmus, Yang Mulia Bapa Uskup Petrus Turang, orang pertama yang memberi peneguhan bagi keluarga.

Beliau juga yang memimpin misa requiem melepas jenazah kedua sahabatnya menuju tempat peristirahatan terakhir.

“Damy sudah berada di tempat yang lebih baik,” kata Mgr. Petrus Turang ketika memimpin misa pemakaman jenazah Om Damyan Godho  di Gereja St Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang, Kamis 31 Januari 2019.

Kata peneguhan dan penghiburan senada beliau sampaikan ketika memimpin misa requiem saat pemakaman jenazah Om Firmus Wangge di Gereja Katedral Kupang, Minggu 9 Februari 2020.

Terus terang saya respek pada beliau bertiga dalam hal membangun relasi. 

Mereka saling berbagi dan menopang dalam setiap gerak langkah bagi pembangunan daerah, masyarakat luas, untuk Gereja dan Tanah Air.

Tatkala Om Damyan Godho dipercayakan Uskup Turang menjadi Ketua Panitia Pembangunaan Taman Ziarah Yesus Maria di Belo, Kabupaten Kupang, saya tidak kaget dan heran.

Bapa Uskup tahu betul kepada siapa beliau memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar tersebut.

Bukit tandus dan lerengnya seluas kurang lebih 5 hektare berubah menjadi taman ziarah yang indah setelah dibangun selama 4 tahun.

Menurut Mgr. Petrus Turang, lahan ini merupakan hibah dari seorang umat, Yoseph Soleman kepada Keuskupan Agung Kupang.

Keuskupan lalu berinisiatif membangun tempat ziarah dengan bantuan para dermawan serta swadaya umat.

Pembangunan taman ziarah tersebut  yang panitianya dipimpin Om Damyan Godho  mulai 1 Oktober 2009. Di taman ini ada 20 titik tempat berdoa dan satu kapel di puncak bukit, Kapel St. Yohanes Paulus II.

Dari halaman kapel itu peziarah akan menikmati pemandangan indah jika mengarahkan mata ke Teluk Kupang serta pegunungan Fatuleu di kejauhan sana.

Pada hari Senin tanggal 25 November 2013, taman ziarah  Yesus Maria Belo diresmikan Kardinal dari Vatikan, Mgr. Stanislaw  Rylko.

Sampai akhir hayatnya Om Damyan Godho tercatat sebagai pengurus stasi taman ziarah tersebut. Setiap kali berziarah ke sana, saya selalu teringat beliau. Karyanya akan terkenang selalu.

Dalam wujud dan cara yang berbeda, kontribusi Firmus Wangge untuk Gereja dan Tanah Air pun tidaklah kecil.

Dalam suatu forum diskusi kecil, saya melihat bagaimana Firmus Wangge, Damyan Godho dan Uskup Mgr. Petrus Turang bertukar pandangan untuk membangun daerah, membangun Indonesia. 

Mereka tak sekadar  bergumul dengan masalah tapi memberikan tawaran solusi.

Kesaksian mengenai peran Firmus Wangge itu antara lain diungkapkan Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2008-2018, Drs. Frans Lebu Raya.

"Jasa beliau sangat besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur," kata Frans Lebu Raya, Sabtu (8/2/2020). Frans Lebu Raya pun telah berpulang.

Pria kelahiran Adonara, Kabupaten Flores Timur ini meninggal dunia di Denpasar Bali hari Minggu, 19 Desember 2021.

Mendiang Firmus Wangge dikenal luas sebagai pengusaha dan  sesepuh Partai Golkar NTT. Pria kelahiran Ende- Flores tersebut  pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT. Firmus juga aktif dalam aneka kegiatan sosial kemasyarakatan.

Demikian sekeping catatan mengenai tiga tokoh yang bersahabat karib, Mgr. Petrus Turang,  Damyan Godho, dan Firmus Wangge. Kini mereka sama-sama telah berada di keabadian.

Om Damy…

Om Firmus…

Bapa Uskup Petrus Turang...

Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. 

Kami mengenangmu dengan penuh cinta. (*)

Sumber: Pos Kupang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes