
Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Perintis Lahirnya Bank NTT
dion bata

ALMARHUM Frans Seda adalah perintis lahirnya Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT, saat ini berubah nama menjadi Bank NTT. Tahun 1960, Seda dan Jusuf Indra Dewa merintis lahirnya bank di NTT. Bank ini akhirnya diresmikan tahun 1962.
Hal ini dikisahkan Thomas Tho, salah seorang mantan Direksi BPD NTT, yang ditemui di kediamannya, Jalan Seruni, Naikoten, Kupang, Sabtu (2/1/2010).
Menurut Thomas, sekembali dari studinya di Belanda tahun 1956, setahun kemudian Seda yang merupakan sarjana pertama asal Flores, membuka perusahaan di Ende, yang dikenal dengan Holding Company PT Nusa Bunga. Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan kopra, pelayaran, pabrik sabun merek Kaboreta, pabrik dendeng kerbau di Reo dan pabrik hollobriks (batu cetak tahan api) di Maumere.
Holding Company menghimpun perusahaan- perusahaan di Flores dengan perusahaan pelayaran Tanjung Bunga. Dalam perjalanan, timbul perselisihan antara Seda dengan Dion Lamury. Dion Lamury mengambilalih perusahan pelayaran dan berdiri sendiri. Peristiwa itu terjadi antara tahun 1956-1957.
Saat itu, katanya, Seda juga bekerja di PT Perintis Jakarta. Dia memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak NTT yang potensial. Thomas Tho dan Donatus Say dikirim mengikuti pendidikan sebagai kader bank pada IBC (Indonesian Bank Cooperation) Jakarta. Adol Parera (almarhum) dan seorang lagi mengikuti pendidikan di Bank Boperasi Bandung. Ada yang mengikuti pendidikan pengolahan dendeng dan dua orang lagi mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk pabrik sabun.
Tahun 1960 Seda dan Indra Dewa merespon pendidiran Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT. Di bidang ekonomi, perhatian Seda lebih fokus pada koperasi. Ada dua koperasi besar, yakni Koperasi Kopra (Kokop) di Flores dan Gabungan Koperasi Hewan (Gakowan) untuk Timor dan Sumba serta Flores bagian barat (Ngada dan Manggarai,Red).
Dua koperasi ini tumbuh subur. Setahun Kokop mengirim 2.000-an ton kopra ke Surabaya dan kota besar lain di Jawa dan koperasi hewan yang diketuai Bung Kanis mengekspor 2.000-an ekor ternak ke Hongkong. Seda, demikian Thomas, sangat mencintai Flores yang disebutnya Nusa Bunga sehingga perhatian ke Flores khususnya, dan NTT umumnya, sangat tinggi.
Cerita soal perhatian Seda di bidang perdagangan dan koperasi, juga dituturkan Damyan Godho, wartawan Kompas saat itu. Sebagai wartawan Kompas, Damy mengetahui banyak terobosan yang dilakukan Seda untuk kemajuan NTT.
Di bidang politik, Seda bergabung dengan Kasimo di Partai Katolik. Dalam perjalanan, Kasimo mundur dan Seda naik sebagai ketua umum. Saat menjabat ketua umum Partai Katolik, Kasimo mengusulkannya untuk duduk dalam Kabinet 100 menteri yang dicanangkan Presdien Soekarno. Seda dipercayakan Bung Karno sebagai Menteri Perkebunan. Di masa Soeharto, Seda dipercayakan menduduki jabatan Menteri Keuangan, Menteri Pertanian dan terakhir Menteri Perhubungan.
Partai Katolik, kata Thomas dan Damy, juga pernah mencalonkan Seda sebagai gubernur pertama di NTT. Namun karena tokoh Katolik di Flores pecah sehingga niat itu gagal dan Lalamentik yang terpilih sebagai gubernur pertama di NTT. Seda terus membina kader partai untuk menjadi bupati seperti almarhum Frans Sales Lega di Manggarai, Jan Jos Botha di Ngada dan P C da Cunha di Sikka. Kader partai saat itu, kata Thomas, dididik dengan baik sehingga banyak yang sukses di pentas politik. Seda juga sebagai tokoh yang sangat menentang PKI.
Pasca G 30 S PKI, lanjut Thomas, Indonesia "ambruk" dan Seda sangat berperan dalam melobi negara- negara Eropa untuk terus memberikan bantuan ke Indonesia. Akhirnya dia dipercayakan sebagai Menteri Keuangan yang banyak orang menolaknya, karena kerumitan yang sedang dihadapi bangsa saat itu. (gem)
Pos Kupang, Senin 4 Januari 2010 halaman 1
Frans Seda: Pahlawan Perhubungan NTT
dion bata

MAUMERE, PK -- Almarhum Frans Seda telah banyak berbuat untuk kemajuan kawasan timur Indonesia, termasuk NTT. Kontribusinya bagi kemajuan bidang perhubungan di NTT (transportasi laut dan udara), tidak kecil. Almarhum adalah pahlawan bagi kemajuan perhubungan di NTT.
Sewaktu menjabat sebagai Menteri Perhubungan RI (Era Presiden Soeharto), sejumlah kapal perintis "didrop" ke NTT untuk meretas keterisolasian wilayah, meski pada akhirnya pengelolaan kapal-kapal itu oleh pemerintah daerah menjadi tidak jelas dan akhirnya "hilang" tak berbekas. Penerbangan perintis oleh pesawat Merpati ke sejumlah daerah di NTT, juga berkat campur tangan almarhum Frans Seda.
Mantan Ketua DPRD NTT, Drs. Daniel Woda Palle mengakui besarnya perhatian Frans Seda tersebut. Dia memberi contoh bagaimana Frans Seda memperhatikan pentingnya sarana perhubungan (bandar udara).
"Setelah menjadi Menteri Perhubungan, benar-benar saya akui beliau begitu memperhatikan Indonesia timur, termasuk NTT dan Sikka. Saya ingat betul, landasan pacu (bandara) Waioti itu dulu rumput peninggalan Jepang. Tetapi waktu dia jadi Menteri Perhubungan landasan itu diaspal, tambah luas lalu dibangun tower. Saya yang memanfaatkan tower itu. Saya waktu itu Bupati Sikka. Saya kadang-kadang naik di tower, kendalikan pesawat yang datang ke Maumere bawa turis. Anda bisa lihat Waoiti sekarang, kita boleh bangga untuk tingkat lokal. Itu jasa Frans Seda," tandas Woda Palle yang ditemui di kediamannya di Maumere, Sabtu (2/1/2010).
Kesaksian tentang besarnya perhatian Frans Seda bagi perhubungan di NTT, juga disampaikan Damyan Godho, Pemimpin Umum SKH Pos Kupang. Saat Frans Seda menjadi Menhub, Damyan adalah wartawan Harian Kompas yang bertugas di NTT.
Frans Seda, katanya, membuka penerbangan dan pelayaran perintis di NTT. Dia memberi lima kapal perintis untuk NTT.
"Tiap kapal itu kapasitas angkutnya sekitar 150-250 ton.
Salah satu kapal namanya Kelimutu. Sekarang ini ada kapal Pelni namaya Kelimutu, itu nama kapal yang dulu diberikan oleh Frans Seda untuk NTT," kata Damyan.
Kapal-kapal perintis tersebut dikelola oleh Perusahaan Pelayaran Daerah NTT (Peldan). "Yang mengurus perusahaan itu namanya Hendrik Mujur," katanya.
Untuk kepentingan penerbangan perintis, kata Damyan Godho, Frans Seda banyak memberi inspirasi kepada El Tari, Gubernur NTT saat itu, untuk membuat bandara- bandara di NTT guna mendukung penerbangan perintis.
Seda membagi maskapai penerbangan ke beberapa daerah dan NTT dapat jatah pesawat Merpati.
Selain pembangunan bidang perhubungan, Seda juga memperhatikan pembangunan pendidikan dan Pariwisata di NTT. "Almarhum mendirikan sekolah- sekolah di Magepanda dan Mego. Kemudian yang penting juga adalah perhatiannya pada bidang parawisata. Dia bangun Flores sebagai daerah wisata maka lahirlah Sao Wisata. Dibangun sebelahnya Sea World Club. Dan titik itu menjadi sentral wilayah Flores. Itu kenangan saya tentang Frans Seda sebagai tokoh nasional," ujar Woda Palle.
Tak Lapuk dan Lekang
Kenangan akan Frans Seda yang tak terlupakan oleh Woda Palle adalah ketika Frans Seda menikah. Resepsi pernikahan berlangsungi Lekebai, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.
"Saya masih ingat betul, saat itu saya masih muda. Ketika Frans Seda menikah dengan seorang gadis bernama Yoge Pattinaya keturunan Ambon Minahasa. Mereka nikah di Jakarta tapi resepsinya di Lekebai. Saya waktu itu, usia kurang lebih 21 tahun. Saya pimpinan Grup Band Garuda waktu itu dan band saya harus tampil dalam acara resepsi itu. Zaman itu tidak ada tape recorder. Jadi band saya diminta tampil dalam acara yang besar itu. Kami mulai main band jam lima sore. Entah ada kekuatan apa, kami main band sepanjang malam sampai jam selapan pagi baru berhenti," kenang Woda Palle.
Kesan Pak Frans Seda waktu itu? "Dia panggil saya, 'Hei kau ini resepsi belum mulai kau sudah main musik, selama resepsi kau main musik. Kami sudah mengantuk dan tidur kau masih main musik. Kami bangun tidur kau tetap masih main musik. Kenapa kau bisa begitu?' Saya katakan saya bangga dan ini sumbangan saya untuk pernikahan ini," tutur Woda Palle.
Saat resepsi pernikahan tersebut, lanjutnya, paman Frans Seda yang bernama Guru Mali Seda bertutur tentang sosok Frans Seda dalam Bahasa Lio.
"Begini katanya, 'Kau (Frans Seda, Red) ini, ele leza di nara meta, ele uza di nara jigha'. Artinya tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas. Makna dari ungkapan adat itu yaitu biar panas Frans Seda tetap segar, mekar dan hijau. Biar hujan kau berbunga. Saya terkesan sekali akan tutur adat itu, karena memang dalam perjalanan terbukti. Di era Soekarno, Frans Seda dicintai, di jaman Soeharto dia disayangi dan saat era Reformasi dia jadi panutan. Jadi tak lapuk dan lekang oleh perjalanan waktu," katanya. (ris/gem)
Pos Kupang, Senin 4 Januari 2010 halaman 1
Kuku dan Rambut Dibawa ke Lekebai
dion bata

JENAZAH Frans Seda dikebumikan di pemakaman San Diego Hills, Kerawang Jawa Barat. Namun kuku dan rambut serta sedikit tanah di pemakamannya itu akan dibawa pulang keluarga ke Lekebai untuk dimakamkan secara simbol. Prosesi pemakaman kuku, rambut dan tanah makam itu dilakukan salam prosesi adat Lio.
Pihak keluarga di Lekebai menjadwalkan acara itu pada tanggal 7 Januari 2010.
Demikian penjelasan keluarga almarhum, Gerfasius B Mude kepada Pos Kupang melalui telepon, Minggu (3/1/2010) sore.
Saat dihubuhngi, Gerfas Mude masih berada di Jakarta, di rumah almarhum Frans Seda. Pihaknya bersama keluarga besar Seda dari Maumere, akan kembali ke Maumere setelah malam keempat.
"Kami akan kembali ke Maumere dengan membawa kuku, rambut dan tanah makam almarhum untuk dibuatkan kuburan di Lekebai sebagai simbol bagi keluarga di Lekebai guna menghormati dan selalu menjadi tempat keluarga mengenang almarhum. Kalau sudah selesai acara di Jakarta kami akan kembali tanggal 6 Januari. Kalau tidak ada halangan, setiba di Maumere kami langsung buat pertemuan guna menggelar acara adat dan pembuatan makam pada tanggal 7 Januari," katanya.
Pemakaman kuku, rambut dan tanah makam almarhum Frans Seda itu, katanya, akan dilaksanakan dalam prosesi adat Lio.
Sementara itu, Ny. Waldeltrudis, kerabat almarhum Frans Seda di Lekebai, mengatakan, keluarga besar di Lekebai sejak Frans Seda meninggal dunia dan selama proses pemakaman, juga menggelar doa bersama dan misa. Keluarga masih menunggu kedatangan anggota keluarga yang mengikuti proses pemakaman di Jakarta. Sekembali dari Jakarta akan ada acara adat. Keluarga juga akan membawa kuku, rambut dan tanah makam almarhum Frans Seda untuk dikuburkan juga di Lekebai.
"Biar jenazahnya dikuburkan di Jakarta tapi almarhum juga punya keluarga sehingga ada tanda di Lekebai supaya keluarga bisa bakar lilin dan berdoa di sini untuk almarhum," kata Waldetrudis, istri Camat Mego ini. (ris)
Pos Kupang, Senin 4 Januari 2010 halaman 1
Pluralisme Pasca-Gus Dur
dion bata
Oleh Zuhairi Misrawi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam prosesi pemakaman Gus Dur menyatakan bahwa almarhum adalah Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme. Sultan Hamengku Buwono X juga menyebut Gus Dur sebagai pejuang pluralisme, Kamis (31/12).
Kematian Gus Dur sungguh mengejutkan seluruh pihak. Doa senantiasa menggema di jagat republik ini, termasuk dalam pesta malam Tahun Baru yang lalu. Penulis sangat terharu ketika melihat langsung ratusan ribu warga menyambut kedatangan jenazah almarhum di pesarean Pesantren Tebuireng. Mereka melambaikan tangan sembari melafadzkan pujian kepada Tuhan dan Muhammad SAW, sebagaimana lazimnya dalam tradisi NU.
Salah satu jasa besar Gus Dur adalah mengukuhkan panji-panji pluralisme. Sebab itu, pernyataan Gus Dur sebagai bapak dan pejuang pluralisme merupakan sebuah realitas yang tidak terbantahkan lagi. Meskipun demikian, pernyataan tersebut meninggalkan dua hal: harapan dan tantangan.
Harapan, karena pluralisme masih menjadi laku sosial-politik. Mereka yang mendukung tegaknya kebinekaan merupakan kelompok mayoritas. Sebaliknya, mereka yang menolak pluralisme adalah kelompok kecil yang kadang kala suara mereka lantang di permukaan. Meskipun suara mereka lantang, tetapi kehendak publik pada pluralisme tidak akan mampu ditundukkan oleh ambisi dan tendensi mereka.
Gus Dur berada di barisan garda depan untuk memperkuat pluralisme di republik ini. Istimewanya, pluralisme yang dikembangkan Gus Dur tidak hanya pada tataran pemikiran, melainkan menjadi sebuah tindakan sosial-politik. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan Gus Dur secara eksplisit menjadikan kebangsaan sebagai pijakan utamanya. Padahal, partai tersebut didukung sepenuhnya oleh basis kalangan Muslim tradisional. Gus Dur telah mampu menggabungkan antara pemikiran dan tindakan pluralisme.
Gus Dur juga memperlakukan kelompok-kelompok minoritas, terutama mereka yang tertindas, sebagai warga negara yang mempunyai hak sama di depan hukum. Tatkala menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur juga memulihkan hak politik etnis Tionghoa. Gus Dur selalu menegaskan bahwa kelompok minoritas mempunyai hak sipil-politik ataupun hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sama dengan hak-hak kelompok ”pribumi”. Eksistensi mereka dilindungi oleh konstitusi. Dalam hal ini, pemikiran tentang pluralisme sejalan dengan spirit demokrasi, bahkan makin memperkukuh. Keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan.
Tantangan
Meskipun demikian, harus diakui bahwa pluralisme masih menghadapi tantangan yang serius, terutama pasca-fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme. Beberapa hari lalu, dalam sebuah khotbah Jumat di salah satu masjid di Ciputat, penulis masih mendengarkan seorang khatib yang mengutip fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme.
Fatwa semacam ini merupakan tantangan serius dalam membangun harmoni dan kebersamaan. Karena seolah-olah ketika berhubungan dengan kelompok lain yang berbeda, maka dianggap akan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Padahal, dialog dan perjumpaan justru dapat menjadi kekuatan dan potensi, terutama dalam konteks kebangsaan.
Pluralisme pertama-tama dimulai dari kesadaran tentang pentingnya perbedaan dan keragaman. Sebab perbedaan merupakan fitrah yang harus dirayakan dan dirangkai menjadi kekuatan untuk membangun harmoni. Adapun anggapan bahwa pluralisme akan menjadi sinkretisme merupakan pandangan yang cenderung mengada-ada. Faktanya, pluralisme dan sinkretisme sangat tidak identik.
Pluralisme makin mendapat tantangan karena tindakan intoleransi sepanjang tahun 2009 masih menjadi momok yang menakutkan. Setidaknya, menurut pemantauan Moderate Muslim Society, ada sekitar 59 tindakan intoleransi. Puncaknya adalah aksi terorisme yang membuktikan bahwa ekstremisme dengan mengatasnamakan paham keagamaan tertentu masih mengemuka. Pelaku dan jaringannya berhasil ditangkap, bahkan dibunuh, tetapi paham dan habitatnya masih terus berkembang.
Fatwa keagamaan berupa penyesatan dan pengharaman terhadap kelompok minoritas dalam intra-agama sepanjang tahun 2009 juga menjadi tantangan serius. Fatwa tersebut dapat digunakan untuk melakukan tindakan hukum yang dapat dianggap sebagai diskriminasi dan kriminalisasi terhadap kelompok minoritas. Fatwa tersebut kerap kali dijadikan sebagai landasan untuk melarang kegiatan dan memejahijaukan mereka dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dan KUHP Pasal 156a tentang penodaan agama. Di samping itu, kelompok minoritas harus mendapatkan perlakukan tidak manusiawi oleh sekelompok masyarakat yang tidak beridentitas, baik penyerangan maupun pengusiran.
Oleh sebab itu, Pew Forum on Religion and Public Life (2009) dalam rilisnya tentang indeks diskriminasi yang dilakukan pemerintah, Indonesia termasuk negara dalam kategori high dan very high karena masih ada undang-undang dan hukum yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk melakukan tindakan intoleran, baik berupa restriksi, dehumanisasi, dan opresi. Bahkan, diskriminasi yang terjadi di republik ini menyerupai Pakistan dan Afganistan.
Dalam hal ini, menghidupkan dan mengembangkan kembali pemikiran Gus Dur menjadi sangat relevan. Di antaranya diperlukan pandangan keagamaan yang berorientasi kebangsaan, yang dapat melindungi seluruh warga negara, apa pun agama, keyakinan, kelompok, ras, dan sukunya. Dalam buku Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, Gus Dur menegaskan bahwa umat Islam Indonesia harus mengembangkan pandangan keislaman yang berorientasi kebangsaan. Salah satu pesan yang kuat dalam Al Quran adalah bahwa Muhammad SAW diutus oleh Tuhan untuk membangun persaudaraan bagi seluruh umat (QS al-Anbiya [21]: 107).
Istilah tersebut menjadi salah satu prinsip yang menonjol di lingkungan Nahdlatul Ulama, yaitu Islam Rahmatan lil ’alamien. Islam menyebarkan ajaran tentang perdamaian dan toleransi, bukan ajaran yang menebarkan konflik, apalagi kekerasan. Gus Dur senantiasa menyatakan bahwa keberislaman yang berkembang di Tanah Air berbeda dengan keberislaman yang berkembang di Arab Saudi. Interaksi kebudayaan di antara berbagai kelompok di Tanah Air telah menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka terhadap perbedaan dan keragaman, bahkan mendorong demokratisasi.
Oleh karena itulah, dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Gus Dur sebagaimana dilakukan oleh Presiden Yudhoyono, akan sangat baik apabila MUI menarik kembali fatwa pengharaman terhadap pluralisme. Dan, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawa MUI. Tradisi penangguhan dan koreksi fatwa dilakukan oleh ulama terdahulu, sebagaimana dilakukan oleh Imam Syafi’i dengan diktum pendapat lama (qaul qadim) selama masih di Irak dan pendapat baru (qaul jadid) ketika menetap di Mesir.
Tentu, pada masa mendatang, kehidupan berbangsa dan bernegara yang relatif toleran dan harmonis ini harus didukung oleh kebijakan publik dan pandangan keagamaan yang secara sungguh-sungguh dapat memperkuat kebinekaan. Itulah sesungguhnya yang menjadikan Gus Dur sebagai pendekar pluralisme di republik ini. Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda NU dan Ketua Moderate Muslim Society.
Sumber: Kompas, 4 Januari 2010
Gus Dur Telah Pergi
dion bata
Oleh Franz Magnis-Suseno
Meskipun tahu bahwa Gus Dur sakit-sakitan, saat kemarin Tuhan mengatakan, ”Gus, sudah cukup!”, mengagetkan juga. Banyak dari kita, khususnya tokoh dan umat berbagai agama di Indonesia, merasa kehilangan. Kita menyertai arwahnya dengan doa-doa kita agar ia dengan aman, gembira, dan pasti terheran-heran dapat sampai ke asal-usulnya.
Betapa luar biasa Abdurrahman Wahid, Gus Dur kita ini! Seorang nasionalis Indonesia seratus persen, dengan wawasan kemanusiaan universal. Seorang tokoh Muslim yang sekaligus pluralis dan melindungi umat- umat beragama lain. Enteng-enteng saja dalam segala situasi, tetapi selalu berbobot; acuh-tak acuh, tetapi tak habis peduli dengan nasib bangsanya. Orang pesantren yang suka mendengarkan simfoni-simfoni Beethoven.
Rahasia Gus Dur adalah bahwa ia sama sekali mantap dengan dirinya sendiri. Ia percaya diri. Ia total bebas dari segala perasaan minder. Karena ia tidak pernah takut mengalah kalau itu lebih tepat, ia tidak takut kehilangan muka (dan karena itu memang tak pernah kehilangan muka), dan ia juga tidak gampang tersinggung karena hal-hal sepele.
Gus Dur berhati terbuka bagi semua minoritas, para tertindas, para korban pelanggaran hak-hak asasi manusia. Umat-umat minoritas merasa aman padanya. Gus Dur membuat mereka merasa terhormat, ia mengakui martabat mereka para minoritas, para tertindas, para korban.
Tak perlu defensif
Ada yang tidak mengerti mengapa Gus Dur begitu ramah terhadap agama-agama minoritas, tetapi sering keras terhadap agamanya sendiri. Namun, Gus Dur demikian karena ia begitu mantap dalam agamanya. Karena itu, ia tidak perlu defensif dan tidak takut bahwa agamanya dirugikan kalau ia terbuka terhadap mereka yang berbeda.
Apakah Gus Dur seorang demokrat? Ia sendiri sebenarnya lebih menyerupai kombinasi antara kiai dan raja Jawa. Namun, ia seorang demokrat dalam arti yang lebih mendalam. Ia betul-betul meyakini dan menghayati hak-hak asasi manusia. Ia tidak tahan melihat seseorang terinjak martabatnya, ia menentang kekejaman atas nama apa pun.
Bagi saya, Gus Dur mewujudkan Islam yang percaya diri, positif, terbuka, ramah. Dengan demikian, ia memproyeksikan gambar yang positif tentang Islam. Dan, kalau pada kunjungan negara ia menyalami kepala negara lain dengan lelucon, mereka menyadari bahwa presiden Muslim ini seorang humanis dan warga dunia.
Bahwa karier politik aktif Gus Dur kontroversial berkaitan juga dengan kenyataan bahwa ia tidak dapat melihat. Keterbukaannya tidak pernah berubah.
Apa yang tinggal sesudah Gus Dur pergi? Sekurang-kurangnya dua. Pertama, hubungan begitu baik antara umat beragama yang dirintisnya akan berkembang terus.
Kedua, dengan generasi muda NU, Gus Dur meninggalkan kader intelektual bangsa yang terbuka, pluralis, dan cerdas; modal bagus bagi masa depan bangsa.
Yang dirintis Gus Dur akan berjalan terus. Nevertheless, Gus, we will miss you. Resquiescat in pace.
Franz Magnis-Suseno Rohaniwan dan Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Sumber: Kompas Senin, 4 Januari 2010
Selamat Jalan, Pak Frans Seda!
dion bata
Oleh Frans M PareraPernah dalam sebuah seminar di Hotel Mulia, Frans Seda membandingkan dirinya dengan Sutami yang bersama Bung Karno membangun jembatan Semanggi di Jakarta. Sutami orang Jawa, dia orang Flores. Usia Sutami pendek, badan kurus seperti kurang gizi. Sementara Frans Seda bisa berusia lanjut, badan tidak kurus dan menjadi cerdas karena sejak kecil selain minum susu ibu juga makan ulat bambu yang tumbuh subur di Flores.
Tokoh yang baru saja meninggal dunia pada usia 83 tahun (1926-2009) ini memang berasal dari Indonesia timur, tepatnya dari Pulau Flores, Provinsi NTT. Lahir di desa terpencil Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, pada masa Hindia Belanda dari keluarga pemuka setempat; bapaknya seorang guru. Belajar di Sekolah Guru Tomohon, Manado; pamannya seorang kapitan (camat sekarang), mereka tinggal di rumah beratap sirap bambu dan seng di tengah perkampungan beratap alang-alang atau daun kelapa.
Tak heran jika di dinding ruang tengah tergantung sebuah lukisan berukuran besar Danau Kelimutu di Lio-Ende, tempat kelahiran Frans Seda. Istrinya, Johanna Maria Pattinaja, berasal dari keluarga Manado, Maluku, dan Belanda, tetapi dikenal sebagai kolektor kain-kain tenun NTT.
Sejak Frans Seda meninggal sampai dikuburkan secara kenegaraan hari ini di pekuburan San Diego Hills, Karawang, begitu banyak perhatian dan minat publik terarah pada tokoh nasional ini. Para pelayat berdatangan ke rumah duka di kawasan Pondok Indah. Karangan bunga dari segala relasinya memenuhi halaman rumahnya sampai sepanjang jalan.
Memukau Bung Karno
Pembicaraan tentang dirinya, karyanya, prestasinya, serta jasa- jasanya kepada bangsa dan negara meramaikan suasana duka. Sosok ini merajut sebuah collective memory sebagai tokoh tiga zaman. Mulai masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai NKRI berdiri selama lebih dari enam puluh empat tahun usianya. Biografinya memasuki gerbang collective memory sejarah kemanusiaan, masyarakat, bangsa Indonesia, diawali dengan sebuah peristiwa kecil di sekolahnya, yang setingkat SMP di Ndao Ende.
Peristiwa penting itu terjadi sekitar 75 tahun lampau di lingkungan sekolah Katolik tempat dia belajar di Ndao. Pada waktu itu Bung Karno dibuang dari Sukamiskin, Bandung, ke Ende dan ditempatkan di lingkungan kauman Ende, komunitas kecil beragama Islam. Polisi rahasia menyebarkan isu kepada kalangan gereja Katolik di Flores bahwa tokoh yang dibuang itu seorang komunis-marxis. Mereka tahu bahwa musuh utama gereja Katolik sedunia pada tahun tiga puluhan adalah partai komunis internasional dengan misi propaganda ateismenya. Gereja Katolik adalah lembaga politik antikomunis terutama sejak revolusi Bolshevik di Rusia tahun 1917.
Bung Karno dikaitkan sebagai anggota aliran komunis dan ateis. Ketika Bung Karno menyampaikan keinginannya mau mengunjungi SMP Ndao, pemimpin sekolah pada dasarnya menolak kedatangan Bung Karno. Namun, Bung Karno menunjukkan sikapnya dengan sungguh-sungguh mau mengunjungi sekolah Katolik itu, maka kepala sekolah mempersiapkan kedatangan tokoh pergerakan politik itu dengan mengemas acara penerimaan yang sederhana. Seorang murid yang sudah pandai berbahasa Belanda diminta mempersiapkan diri berpidato dalam bahasa Belanda menerima kunjungan Bung Karno yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu. Bung Karno terkesan dengan penampilan seorang anak kecil tetapi cerdas, anggota keluarga kapitan perbatasan Lio dan Sikka/Maumere, Lekebai. Bocah itu bernama Frans Seda.
Sekitar sepuluh tahun kemudian ketika Frans Seda ikut berjuang sebagai Tentara Pelajar di Yogyakarta dan Jakarta mendapat kesempatan bertemu dengan Presiden Soekarno di Yogyakarta. Frans Seda memperkenalkan dirinya dari Flores. Memori Bung Karno dibuka kembali dengan kisah kunjungannya ke Ndao. Nasib Frans Seda berubah karena perkenalan dengan Bung Karno di Yogyakarta dan selanjutnya di Jakarta. Pak Frans Seda menjadi menteri kepercayaan Bung Karno; sahabat dekat Bung Karno dengan keluarga besarnya sampai sekarang.
Kini beberapa pihak sedang memperjuangkan agar Ende menjadi heritage, di mana Bung Karno memikirkan persatuan suku-suku di Indonesia untuk menjadi sebuah bangsa, bangsa Indonesia. Pancasila lahir di kota itu. Pancasila menjadi abadi juga di kota itu karena Bung Karno empat tahun hadir dan berada di tengah denyut dinamika orang Flores.
Bila di Jawa Uskup Soegijopramoto mengambil sikap cepat mendukung perjuangan para pendiri NKRI, maka berbeda sekali sikap uskup-uskup di Indonesia timur yang antikomunis. Biarpun Vatikan merupakan salah satu negara yang mengakui eksistensi NKRI, gereja Katolik Indonesia timur tidak demikian cepat bersimpati dengan NKRI karena adanya PKI sebagai partai resmi NKRI pada waktu itu.
Komunis harus dihadapi dengan gerakan kesejahteraan rakyat yang merata, maka uskup-uskup Flores mengirim anak-anak muda Flores belajar segala macam ilmu di Belanda. Frans Seda disuruh belajar ilmu ekonomi pembangunan, ekonomi kerakyatan.
Pahlawan keuangan RI
Peranan nasional Frans Seda meningkat ketika IJ Kasimo surut dari permainan politik istana bersama Natsir dari Masyumi, mereka menolak kehadiran partai komunis dalam kabinet Presiden Soekarno. Dengan dukungan Angkatan Darat yang antikomunis, Frans Seda diterima dalam lingkungan kabinet era Bung Karno, mulai dari menteri perkebunan dan pertanian, melanjutkan kebijakan pertanian yang dirintis dalam Kasimo Plan.
Para menteri yang menjadi tim pembantu presiden baik era Bung Karno maupun era Soeharto mengenang Frans Seda, diberitakan secara luas di media masa pada tahun enam puluhan ketika dia menjabat sebagai menteri keuangan. Dia dipercayai oleh Soeharto pada awal masa kepresidenannya. Menteri Emil Salim yang amat mengenalnya sampai memberi gelar kepada Frans Seda Pahlawan Keuangan Indonesia. Ini dinyatakan Emil Salim di Unika Atma Jaya, Jakarta, ketika menghormati 80 Tahun Usia Frans Seda,
Lalu mengapa Frans Seda begitu singkat masanya menjadi menteri keuangan pertama Orde Baru? Penyebabnya adalah perbedaan tradisi transparansi dan kontrol yang dipelajari Frans Seda di Belanda tidak klop dengan tradisi rahasia militer rezim Orde Baru. Naskah akademis Undang- Undang Keuangan Negara yang disiapkan Frans Seda dan anggota staf Departemen Keuangan ditolak oleh kalangan militer. Mereka menolak maksud baik Frans Seda untuk menyehatkan keuangan negara miskin karena mismanajemen hampir di segala bidang.
Di pengujung tahun 2009, ketika Indonesia sebagai sebuah sekolah raksasa diguncangkan oleh kehebohan dalam bagian administrasi keuangan, meninggal dua guru inspiratif, guru bangsa yakni Gus Dur dan Frans Seda. Mereka mempunyai kesamaan dan kemiripan membangun kembali moral sekolah ini dengan konsep moral force baru, yakni moralitas dibangun dari agama, intelektualitas/rasionalitas dan keuangan (kapital) untuk kesejahteraan umum karena dibedakan dengan tegas milik publik dan milik sendiri.
Akhirnya sesudah bergumul dengan berbagai komplikasi penyakit selama beberapa waktu, Frans Seda meninggal dunia di rumahnya di Pondok Indah pada tanggal 31 Desember 2009 pukul 05.00. Berita meninggalnya tokoh nasional ini tersebar cepat di tengah perhatian publik terarah pada proses penguburan jenazah Gus Dur di Jombang. Banyak pelayat datang menjenguk dan mendoakan arwahnya.
Telah pergi seorang manusia yang telah mengisi kehidupannya sebagai the man of values. Bagaimana publik memberikan penghormatan pada tokoh yang baru meninggal ini, sudah memperlihatkan memori kolektif di mana tokoh ini sudah berperan aktif dan mewariskan hal-hal permanen di tengah masyarakat. Selamat jalan, Pak Frans Seda! RIP!
Sumber: Kompas, 2 Januari 2010
Diplomasi Frans Seda
dion bata
Oleh Pieter P GeroTidak ada yang keliru saat Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Frans Seda agar lebih baik beristirahat. Maklum, Frans Seda saat itu sudah berusia 81 tahun. Beliau juga sudah duduk di kursi roda pula. Namun, keinginan Frans Seda yang disampaikan kepada Wapres Kalla untuk membantu menyelesaikan utang Indonesia di Dana Moneter Internasional atau IMF itu adalah bagian dari semangat diplomasi yang kuat dan andal dalam diri Frans Seda.
Pria bernama lengkap Franciscus Xaverius Seda ini mencatat sukses dalam misi diplomasi yang diembannya. Masih segar dalam ingatan, bagaimana pria sederhana kelahiran Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, ini mengisahkan misi diplomasinya menghindari perang pembebasan Irian Jaya yang kini dikenal dengan Papua.
Saat wawancara dengan beliau guna mempersiapkan artikel ”Lebih Jauh dengan Frans Seda”, berkenaan dengan hari ulang tahunnya yang ke-70 pada 4 Oktober 1996, Frans Seda mengisahkan bagaimana dia memainkan peran diplomasi ke Belanda guna melunakkan Pemerintah Belanda saat itu yang tetap tak mau menyerahkan Irian Jaya kepada Indonesia.
”Angkatan Darat pernah menugaskan saya, tahun 1962, menyelesaikan Irian Jaya (Barat),” ujarnya bersemangat saat ditemui di rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta. Frans Seda selalu berapi-api jika menceritakan perannya menyangkut kepentingan bangsa dan negara.
Saat itu Pemerintah Amerika Serikat, di bawah Presiden John F Kennedy, mengajukan upaya perdamaian yang dikenal dengan Plan Bunker. ”Kita sudah setuju Plan Bunker dari Kennedy untuk menyelesaikan soal Irian Jaya, tapi Belanda belum. Bersama ABRI dan Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution), kita mencari jalan. Saya lalu dikirim ke Belanda untuk diplomasi,” tegasnya.
Plan Bunker intinya meminta Indonesia dan Belanda agar mengupayakan jalan damai bagi penyelesaian Irian Jaya. John F Kennedy mengutus adiknya, Robert Kennedy, ke Jakarta pada Februari 1961 untuk menyampaikan rencana ini, tetapi Pemerintah Belanda saat itu tetap menolak. Menlu Belanda Joseph Luns (1952-1971) paling keras menolak.
Karena Frans Seda saat itu tokoh Partai Katolik di Indonesia, mula-mula pembicaraan dilakukan dengan Partai Katolik di Belanda yang juga partai berkuasa. ”Tapi mereka tidak mau menerima, apalagi pemerintah. Menlu Belanda Joseph Luns saat itu juga melarang semua menteri menemui saya. Saya bilang, terserah,” ujar Frans Seda.
Frans Seda hanya mengatakan, ”Saya datang untuk menyatakan kalau kamu tidak menerima rencana itu, terjadi perang. Dan kalau terjadi perang, kau yang salah, kau yang harus pikul darah orang-orang yang mati.”
Saat itu Indonesia memiliki sejumlah kapal perang, kapal selam, pengebom, dan pesawat tempur mutakhir buatan Uni Soviet. Pada 2 Januari 1962, Komando Mandala untuk membebaskan Irian Jaya sudah dibentuk. Panglimanya Brigjen TNI Soeharto (kemudian Presiden Soeharto) yang saat itu menjabat Deputi KSAD Wilayah Indonesia Timur.
Pada hari ke-10, Partai Katolik Belanda rapat dan membicarakan masalah Plan Bunker dan akan mengusulkan ke kabinet. ”Saya bilang, tanggal 19 Mei saya masuk Indonesia dari Singapura. Kalau bisa, saya dapat kabar sebelum itu karena harus lapor kepada Bung Karno,” ujar Frans Seda.
Dari sana Frans Seda ke Roma (Italia), bertemu dengan Menlu Vatikan. ”Saya bilang bila Belanda tidak menerima Plan Bunker, berarti perang. Vatikan bila dengar soal pembunuhan amat responsif,” tutur Frans Seda. Pendekatan sebagai sesama Katolik dimanfaatkan.
Pulang ke Singapura. Pada 18 Mei 1962 malam, telepon berdering. ”Frans, dengar siaran radio Pemerintah Belanda semalam? Pemerintah Belanda menerima rencana itu.” Tiba di Jakarta, Frans Seda langsung ke Istana dan bertemu dengan Jenderal Achmad Yani.
Saat Frans Seda bertemu dengan Achmad Yani, datang Mayjen Soeharto. Sebagai Panglima Komando Mandala, pangkat Soeharto dinaikkan satu tingkat. ”Ia marah karena di luar diberitakan soal Irian ini kemenangan diplomasi Deplu,” ujar Frans Seda yang untuk pertama kalinya bertemu dengan Soeharto.
Tapi Achmad Yani langsung bilang, ”E... nanti dulu Pak Harto. Ini orangnya. Yang menjalankan diplomasi bukan mereka, tetapi kita. Ini orangnya di sini. Jangan kecil hati.” Frans Seda hanya berdiam diri saat ditunjuk Jenderal Achmad Yani.
Achmad Yani menegaskan, ini kemenangan tentara, walau di bidang diplomasi. ”Bukan kemenangan Subandrio,” ujar Frans Seda mengutip Achmad Yani. Subandrio adalah Menteri Luar Negeri yang ketika itu bertolak belakang secara politik dengan tentara.
Frans Seda sudah berpulang kepada Sang Pencipta 31 Januari 2009. Pertanyaan terakhir pada wawancara itu, apa yang dilakukan Pak Frans jika diperkenankan mengulang hidup lagi.
Dengan tertawanya yang khas, Frans Seda menjawab, ”Pertama, saya akan kawin lagi dengan istri yang sama, ha-ha-ha.... Kedua, bila diberi kesempatan, saya akan kembali turut mengatur negara ini sebab bangsa ini bangsa yang baik. Bila ditangani orang baik, akan bagus. Ketiga, coba lagi menjadi Katolik, ha-ha-ha..., jadi Katolik yang lebih baik.”
Frans Seda menikahi Yohanna Maria Pattinaya pada 11 Mei 1961 di Jakarta. Frans gemar menonton tonil yang salah satu bintangnya adalah sang istri. Terima kasih Pak Frans Seda. *
Sumber: Kompas 4 Januari 2010
Seda: NTT Harus Jaga Pancasila
dion bata

KUPANG, PK -- Sesepuh NTT di Jakarta, Frans Seda, telah tiada. Salah satu pesannya yang terakhir untuk NTT adalah agar segenap warga propinsi ini tetap menjaga Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan Frans Seda untuk NTT itu disampaikannya melalui Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dalam pertemuan terakhir di Jakarta, Juli 2009. Saat itu Frans Seda berpesan agar warga NTT jangan mudah terprovokasi isu yang ingin memecah belah NKRI. Warga NTT harus ikut menjaga keutuhan NKRI.
Pesan almarhum untuk NTT itu disampaikan Gubernur Lebu Raya di Kupang, Jumat (1/1/2010). Frans Seda, kata Gubernur, berpesan pula agar Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila harus terus dijaga di kawasan timur Indonesia.
"Beliau berpesan agar NTT dijaga baik-baik. Bangun kesejahteraan rakyat melalui peningkatan infrastruktur, sumber daya manusia, ekonomi kerakyatan, kesehatan, dan kerja sama antarkelompok masyarakat," kata Gubernur Lebu Raya.
Dia mengatakan akan menggelar misa arwah bersama warga di Kupang, 6 Januari 2010. Dalam misa itu warga NTT mendoakan Frans Seda dam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebab, kedua tokoh itu memiliki peran besar bagi Indonesia umumnya dan NTT khususnya.
Frans Seda meninggal dunia di rumahnya di Jalan Metro Kencana V No. 5 Pondok Indah, Jakarta, Kamis (31/12/2009) pagi. Jenazahnya dikebumikan di Sandiego Hills, Kerawang, Sabtu (2/1/2009) setelah misa requiem di Gereja Katedral Jakarta yang dipimpin Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja.
Banyak tokoh nasional, termasuk Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri, melayat ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Frans Seda.
Di mata SBY, Frans Seda adalah tokoh tiga zaman. "Kita mengenal beliau tokoh tiga zaman. Beliau pernah menjadi menteri di era Bung Karno dan menteri di berbagai portofolio pada masa Pak Harto. Juga pada era reformasi berkontribusi dalam pengembangan demokrasi dan pengembangan era baru ini," kata Kepala Negara.
Frans Seda, katanya, adalah tokoh bangsa dan pemikir yang kritis yang memberikan solusi untuk kepentingan pembangunan. Presiden menambahkan, semua yang masih menjadi cita- cita Frans Seda adalah tanggung jawab semua pihak untuk mewujudkannya demi menuju masa depan yang lebih baik.
Almarhum Frans Seda punya nasehat yang selalu diingat Megawati Soekarnoputri. "Om Frans selalu bilang saya enggak boleh menyerah," kata Mega usai melayat di rumah duka, Jumat (1/1/2010) malam.
Di mata Mega, Frans Seda adalah sesepuh PDI Perjuangan. "Sampai akhir hayatnya, Om Frans tetap PDI Perjuangan," tuturnya.
Sejumlah tokoh dan mantan pejabat pemerintah juga tampak melayat, seperti mantan Menperindag Rini Suwandi, mantan Menteri Negara Perumahan Rakyat Siswono Yudo Husodo, dan mantan Wapres Try Sutrisno.
"Beliau selalu memikirkan perekonomian yang ditata sesuai dengan aturan ekonomi kerakyatan yang berdasar Pancasila itu," tandas Try.
Wapres Boediono saat melayatm berpesan kepada Johanna Maria Pattinaja, istri Frans Seda, "Negara merasa kehilangan, terutama atas jasa di bidang ekonomi. Tabah ya Bu."
Menurut Wapres, Frans Seda adalah ekonom nasionalis yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kelompok dalam menjalankan tugas dan peran. Ia meminta semua komponen bangsa meneladaninya.
Mantan Wapres Jusuf Kalla, yang sedang di Australia, juga menyatakan duka mendalam atas berpulangnya Frans Seda. Frans Seda dikenalnya gigih dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, khususnya pembangunan di wilayah timur Indonesia. "Semangat hidup dan semangat memikirkan bangsa ini luar biasa. Kadang kala semangatnya itu berlebihan untuk orang seusia dia," kata Kalla.
Kalla mengisahkan suatu peristiwa dua tahun silam. Dengan menggunakan kursi roda, Frans Seda mengunjunginya di Istana Wapres. Frans Seda bicara soal utang Pemerintah Indonesia yang terlalu besar dan menawarkan diri untuk membicarakan soal itu dengan koleganya di Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.
"Saya bilang, kolega Bapak di sana tentu sudah pensiun. Jadi, Bapak istirahat saja, jaga kesehatan dengan baik," kata Kalla.
Selain di bidang kenegaraan, Frans Seda turut berperan dalam kelahiran harian Kompas, 28 Juni 1965, bersama PK Ojong (almarhum) dan Jakob Oetama. Jakob menyebutkan, almarhum merupakan sosok yang tidak pernah membosankan diajak berdiskusi.
"Orangnya tegas, pandai. Saya kenal lama. Pak Frans juga salah satu pendiri Kompas yang selalu menulis tentang keresahan di negeri ini," ujar Jakob Oetama.
Jakob mengakui terakhir bertemu Frans Seda sekitar setengah tahun lalu saat ia berkunjung ke Kompas. "Itu hanya sebentar. Beliau sudah sulit bicara," ujarnya.
Sebagai pejabat negara, Jakob menambahkan, Frans Seda adalah sosok yang tak pernah membedakan daerah satu dengan yang lain. "Beliau selalu meperhatikan semua daerah, infrastruktur yang rusak diperbaiki, dan tidak ada diskriminasi," katanya.
Frans Seda meninggalkan seorang istri dan dua anak, Francisia Saveria Sika Seda dan Yoanesa Maria Yosefa Seda. Frans Seda lahir dari pasangan Paulus Setu Seda dan Sipi Soa Seda, 4 Oktober 1926, di Lekebai, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, sekitar 30 kilometer sebelah barat Maumere. (kompas.com/kor/sem)
Biodata:
Nama lengkap: Franciscus Xaverius Seda
Tempat dan tanggal lahir: Maumere, 4 Oktober 1926
Agama: Katholik
Istri: Johanna Maria Pattinaja
Anak:
1. Francisia Saveria Sika Seda (Ery)
2. Yoanesa Maria Yosefa Sipi Seda (Nessa)
Alamat rumah: Jln. Metro Kencana V No. 5 Pondok Indah, Jakarta 12310, Telp. (021) 769-5625
Pendidikan:
- Sekolah Rakyat (SR), Ndao, Flores (1940)
- Koles Xaverius Muntilan, Jawa Tengah
- SMP Bopkri, Yogyakarta (1946)
- Hollandsche Burgerschool (HBS), Surabaya (1950)
- Jurusan Ekonomi di Katholike Economische Hogeschool, Tilburg, Nederland, Belanda (1956)
Perjalanan Karir:
- Ketua Umum Partai Katolik (1961-1968)
- Anggota Dewan Penasihat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) (sejak 1971)
- Anggota DPRGR dan MPRS (1960-1964)
- Menteri Perkebunan (27 Agustus 1964- 28 Maret 966)
- Menteri Pertanian (28 Maret 1966-25 Juli 1966)
- Departemen Keuangan (25 Juli 1966-17 Oktober 1967)
- Menteri Keuangan (17 Oktober 1967-6 Juni 1968)
- Menteri Perhubungan (6 Juni 1968-28 Maret 1973)
- Duta Besar untuk Masyarakat Ekonomi Eropa di Brussel,
Kerajaan Belgia dan Luxemburg (1973-1976)
- Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) (1976-1978)
- Presiden Komisaris PT Kredosindo Perkasa
- Penasihat Ekonomi Presiden BJ Habibie (1 Juni 1998-
Oktober 1999)
- Penasihat Ekonomi Presiden Abdurrahman Wahid
- Penasihat Ekonomi Presiden Megawati Soekarnoputri
Kegiatan Lain:
- Anggota Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS)
- Anggota Batalyon Paraja/Lasykar Rakyat GRISK/TNI
Masyakarakat (1945-1950)
- Ketua Pemuda Indonesia di Surabaya
- Anggota Panitia Pembubaran Negara Jawa Timur
- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sementara Daerah Jawa Timur (Mewakili Pemuda)
- Anggota Panitia Konggres Pemuda di Surabaya, Jawa Timur
- Peserta Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia I di
Yogyakarta (1949-1950)
- Anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Nederland,
Belanda
- Pendiri/pengurus Ikatan Mahasiswa Katolik Indonesia (IMKI) di Nederland (1950-1959)
- Wakil Ketua Yayasan Bentara Rakyat (Penerbit Harian Kompas)
- Anggota Dewan Komisaris PT Gramedia
- Presiden Komisaris PT Narisa
- Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Perdagangan Tekstil Indonesia (1982-1988)
- Ketua Asian Federation of Textile Industries-AFTEX (1983-1985)
- Anggota Dewan Penasehat untuk Asia dari Sears & Roebuck World Trade, Chicago, Amerika Serikat (1983-1984)
- Anggota Komisaris PT Bayer Indonesia (sejak 1982)
- Ketua Joint Working Party Indonesia United Kingdom (1981-1985)
- Presiden Komisaris PT Pantara Wisata Jaya (kerja sama dengan Japan Airlines dalam promosi pariwisata di Indonesia)
- Komisaris PT Saowisata Seaside & Diving Resort
- Ketua Umum Yayasan Atma Jaya (Penyelenggara Universitas Atma Jaya, Jakarta (1961)
- Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta (1961-1964)
- Ketua Bidang Dana KONI (1980-1982)
- Anggota Desan Harian Nasional Angkatan '45 Ketua Bidang Ekubang
- Anggota Komisi Kepausan mengenai Keadilan dan Perdamaian (Iustitia Et Pax) di Roma, Italia (1984-1989)
- Dewan Pertimbangan PMI Pusat (sejak 1986)
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adipradana II dari Republik Indonesia
- Grandcross of St. Silvester dari Paus Paulus II di Vatican
- Grandcross de L'Ordre de Leopold II dari Kerjaan Belgia
- Grandcross in de Orde van Oranje Nassau dari Kerajaan Belanda
- Grandcross de L'Ordre Royal du Saha Metrei dari Kerajaan Kamboja
- Grandcross of St. Thomas University dari Filipina
- Commander in the Order of Maritime Merit dari State California (USA) dan San Francisco Port Authority (Governor Ronald Reagan)
Pos Kupang edisi Minggu, 3 Januari 2010 halaman 1
Miu ta'u mata!
dion bata
Oleh Dion DB PutraWAIARA, 29 Oktober 2005. Fajar baru menyingsing. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang luas di tengah siraman matahari pagi, di bawah hamparan nyiur melambai.
Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.
Gelak tawa dan canda membahana di Pantai Waiara pagi itu. Tergelak oleh beragam kisah yang meluncur dari mulut Drs. Frans Seda. Orang tua itu tak henti- hentinya mempromosikan keindahan alam bawah laut di perairan Waiara serta alam Flores umumnya.Tiga pimpinan teras kelompok KompasGramedia, St. Sularto, Wandi S Brata dan Petrus Waworuntu menyimak dengan riang.
Tanggal 29 Oktober 2005 adalah hari ketiga ziarah dua sahabat pendiri Harian Kompas, Frans Seda dan Jakob Oetama ke Flores. Dua sahabat itu, antara lain sempat mengunjungi Lekebai, kampung halaman Frans Seda, berziarah ke Patung Bunda Maria di Nilo serta berdiskusi dengan civitas akademika STFK Ledalero.
Karena suatu urusan penting, Jakob Oetama lebih dahulu berangkat ke Denpasar bersama Rikard Bagun (kini Pemimpin Redaksi Kompas), Julius Pour dan August Parengkuan hari Sabtu 29 Oktober 2005 dan bermalam di Bali. Sedangkan Frans Seda dan lainnya berziarah ke Biara Pertapaan (Trappist) Lamanabi, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur. Saya ikut bersama rombongan Frans Seda menuju Lamanabi yang sempat melahirkan drama menegangkan!
Sejak Jumat (28/10/2005) malam, kami sudah diingatkan Manajer Flores Sao Resort (FSR), Heribertus Ajo bahwa perjalanan ke Tanjung Bunga dengan kapal berkapasitas 8-10 orang mulai pukul 06.00 Wita. "Jangan lupa ko besok bangun pagi-pagi," katanya malam itu.
Pukul 05.00 kamar sudah digedor staf FSR. Mata sebenarnya masih terasa berat karena tidur belum genap tiga jam. Om Frans Seda? Aih, orang tua itu sudah di Pantai Waiara sejak pukul 05.40. Di sana sudah ada St. Sularto, Wandi S Brata, Petrus Waworuntu dan Heri Ajo. Kapal pun sudah siap. Tergopoh-gopohlah saya, Philip Gobang dan Heri Soba. Kami berlari-lari kecil menuju pantai. Saya bahkan orang paling akhir berkumpul karena curi waktu sejenak untuk minum kopi. Khawatir kepala pening dalam perjalanan ke Lamanabi.
Frans Seda berhasil meyakinkan St. Sularto dan Wandi S Brata bahwa perjalanan laut ke Lamanabi aman. Sedangkan Petrus Waroruntu memilih berziarah ke kota Reinha Larantuka dengan mobil. Sekitar pukul 06.45 kami meninggalkan Pantai Waiara. Kapal itu membawa delapan orang termasuk ABK. Kami dikawal speed boat berkapasitas dua penumpang. Pagi yang cerah. Perjalanan terasa nikmat.
Sudah terbayang di depan mata Tanjung Bunga-Lamanabi karena perjalanan dengan kapal mesin ganda berkekuatan 150 PK itu hanya sekitar dua jam.
Ketegangan tiba tiga puluh menit kemudian. Satu mesin kapal mendadak mati. "Solar banjir," kata jurumudi asal Lembata, Nikolaus Nara. Heri Ajo ambil-alih kemudi. Om Niko utak-atik mesin. Sepuluh menit berlalu. Mesin hidup tapi mati lagi. Gantian Heri menghadap mesin, Niko pegang kemudi. Kapal tetap melaju walau perlahan karena hanya andalkan satu mesin.
"Jalan terus. Tidak apa-apa," kata Frans Seda sambil bercerita tentang keindahan alam bawah laut Maumere, pantai pasir putih Pulau Besar serta sisi lain Pulau Babi kepada St. Sularto dan Wandi Brata. Penerima Bintang Mahaputra Adipradana dari pemerintah RI itu terkesan cuek. Philip Gobang berbisik ke telinga saya, "Orang tua ini pintar sekali alihkan perhatian, biar kita tidak memikirkan mesin kapal mati."
Heri Ajo dan Niko tetap bolak-balik mengurusi mesin itu tapi tak kunjung sukses. "Heri, coba kau kontak speed boat pengawal kita. Mana mereka? Pengawal tidak boleh jauh-jauh. Panggil mereka biar kita pakai kapal kecil itu saja," kata Frans Seda. Wah? Heri Ajo mengambil radio (HT) menghubungi dua pengawal. Mereka tidak bisa dikontak. Heri melambaikan tangan sambil memberi tanda agar kembali. Lambaian sia-sia karena speed boat itu malah semakin melaju. Dalam sekejap hilang dari pandangan mata. Celaka duabelas!
"Tidak apa-apa. Terus. Jalan terus!" kata Frans Seda seraya bangkit dari tempat duduk dan menuju kemudi. "Niko, kau urus mesin, biar saya yang bawa," katanya sambil tertahak. St. Sularto dan Wandi S Brata terkesima. Momen indah. Mantan Menteri Perhubungan RI yang kala itu berusia 79 tahun menjadi "kapten" kapal.
Waktu hampir jam sembilan pagi. Arus laut mulai menguat. Tak sadar hampir satu setengah jam berlayar. Posisi kapal telah sejajar dengan Pulau Besar dan kurang 1 mil laut di depan Pulau Babi. Sejumlah penumpang mulai keringatan dan memilih diam. Saya mendekati orang tua itu lalu berkata pelan, "Om, kita kembali saja ke Waiara."
"Aih..miu ta'u mata!" sambarnya dengan suara tinggi diakhiri tawa berderai. Om Frans Seda menanggapi permohonan saya tadi dengan bahasa daerah Lio yang artinya, ah kalian ini takut mati! Kapal terus berjalan pelan.
Sepuluh menit kemudian, Heri Ajo berusaha lagi membujuk beliau agar mengakhiri perjalanan ke Lamanabi. "Bapa, lebih baik kita turun di teluk Wair Terang saja," kata Heri. Om Frans menganggukkan kepala. Syukurlah. Kapal pun putar haluan menuju Wair Terang dengan kemudi tetap dipegang Frans Seda. "Tapi Heri, kita harus tetap ke Lamanabi hari ini," kata Frans Seda.
Mendekati Wair Terang sinyal HP muncul. Heri cepat menghubungi stafnya di Waiara. Minta segera meluncur ke Wair Terang dengan dua mobil. Perasaan kami lega. Keputusan Heri Ajo yang memahami dengan baik lintasan Waiara-Tanjung Bunga itu tepat -- mengingat setelah Pulau Babi akan sulit mencari daratan terdekat jika terjadi apa-apa dengan mesin yang satunya lagi.
Mesin kapal mati hari itu menciptakan ketegangan lain di Tanjung Bunga. Gervasius Seda dan kawan-kawannya gundah. Demi menjemput kami yang diperkirakan tiba sekitar pukul 08.00 Wita, keponakan Frans Seda itu lebih dulu meluncur ke Larantuka, Jumat (28/10/2005) malam dan pagi-pagi menuju Tanjung Bunga. Tapi mereka menanti kapal yang tak pernah datang.
Menunggu sambil menahan lapar dan dahaga lebih dari 13 jam! Menanti dalam ketidakpastian di pantai yang sepi, tanpa telepon, tanpa Handy Talkie (HT). Sempat terbersit niat menghubungi tim SAR di Larantuka bahwa kapal yang ditumpangi Frans Seda mungkin mengalami kecelakaan. Untung niat itu tidak terlaksana karena sekitar pukul 13.00 mereka mengetahui duduk perkaranya.
Kapal tiba dengan selamat di Wair Terang. Heri Ajo dan Niko Nara melompat lebih dulu dari kapal. Dan, Om Niko langsung pasang pundak. Dibantu Philip Gobang dan Heri, Frans Seda yang kala itu mengenakan celana jins biru dan baju kaus duduk manis di pundak Om Niko saat meninggalkan kapal. Tiba di darat, orang tua itu berkelakar, "Heri, jangan lupa kasih naik gajinya." Heri Ajo tersenyum. Om Niko Nara adalah salah seorang karyawan Sao Wisata yang setia. Meski terlambat dan agak melelahkan, ziarah ke Lamanabi tetap terlaksana hari itu.
Demikian sekelumit kenangan dengan Frans Seda, salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia yang meninggal dunia di Jakarta tanggal 31 Desember 2009 lalu. Frans Seda meninggal dunia dalam usia 83 tahun. Tokoh ini dikenal berpendirian teguh, pekerja keras, berani, jujur dan lembut hatinya. Beliau sangat serius saat berdiskusi atau memberikan pandangan-pandangannya. Tetapi dia pun bisa jenaka.
Frans Seda suka bercerita dan cerdas dalam memberikan motivasi. Ingatannya sangat kuat. Setiap kali bertemu beliau tak lupa menyapa atau berdiskusi dalam bahasa daerah. "Kau tidak usah malu pakai bahasa ibumu," katanya suatu ketika.
Sisi lain Frans Seda adalah kecintaannya terhadap makanan tradisional dari kampung halaman. Beliau suka makan are gau (ketupat), are mera (nasi dari beras merah), ulat bulu atau ulat bambu, horo ipu dan mbarase (sambal dengan bahan utama ikan kecil yang mudah diperoleh di perairan Paga-Maulo'o), singkong rebus, ae mage (kuah asam-ikan) atau kura mbo (udang dan ikan dari sungai).
"Ulat bulu itu makanan kesukaan saya sejak kecil. Rasanya enak sekali, Jakob," kata Frans Seda saat makan siang di Waiara bersama sobatnya Jakob Oetama, 27 Oktober 2005. "Apa sih khasiatnya Pak Frans?" tanya Wakil Pemimpin Umum Kompas, St. Sularto saat itu. "Oh, khasiatnya luar biasa. Itu makanan bergizi tinggi. Makanya saya sehat dan kuat sampai sekarang," kata Frans Seda.
Rasanya tidak berlebihan bila tokoh tiga zaman seperti dilukiskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu dikaruniai umur yang panjang. Dia ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI serta mengisi kemerdekaan bangsa bhineka ini dengan sepenuh hati. Frans Seda, seorang nasionalis sejati hingga akhir hayatnya. Selamat jalan Om Frans. Beristirahatlah dalam damai.*
Pos Kupang edisi Minggu, 3 Januari 2010 halaman 1
Gus Dur Tak Punya Kepentingan Lagi...
dion bata

Saya datang ke makam, karena saya tahu mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi (K.H.Abdurrahman Wahid)
INDONESIA berduka! Tokoh pemersatu bangsa, K.H Abdurrahman Wahid atau yang populer dengan sapaan Gus Dur meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB. Indonesia jelas kehilangan seorang tokoh humoris yang cinta perdamaian, pejuang hak asasi manusia (HAM) yang gigih serta pembela kaum minoritas itu.
Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, 4 Agustus 1940. Ayahnya, K.H Wahid Hasyim adalah anak pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asy'ari. Ibunya, Hj. Sholehah juga merupakan keturunan tokoh besar NU, K.H Bisri Sansuri. Ketika kecil, Gus Dur sempat bercita-cita menjadi anggota ABRI (kini TNI). Namun, keinginannya itu kandas di tengah jalan karena sejak berusia 14 tahun ia harus memakai kacamata minus.
Menyelesaikan SD di Jakarta, Gus Dur melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta hingga lulus tahun 1957. Selepas itu, Gus Dur memasuki dunia pendidikan agama secara intensif. Mula-mula ia menimba ilmu agama selama sekitar dua tahun di Pesantren Tegalrejo (Magelang).
Selanjutnya di Pesantren Tambak Beras (Jombang), Gus Dur bekerja sambil meneruskan pendidikan di pesantren sebagai santri senior. Bagi Gus Dur, kehidupan pesantren bukan hal baru. Sewaktu kecil, ia sudah diajar mengaji dan membaca Alquran oleh kakeknya di Pesantren Tebuireng (Jombang).
Salah satu hobi Gus Dur adalah mendengar musik klasik terutama lagu-lagu karya Beethoven dan Mozart, lagu Umm Khulsum dari Mesir, Janis Joplin dan penyanyi balada terkemuka Indonesia, Ebiet G. Ade. Hobi lain adalah menonton sekaligus menganalisis pertandingan sepakbola.
Pada usia 22 tahun, Gus Dur menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo. Saat di Mesir itulah Gus Dur melangsungkan 'pernikahan jarak jauh' dengan Siti Nuriyah. Pasangan ini dikaruniai empat orang putri. Setelah menyelesaikan pendidikan di Mesir, pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Baghdad, Irak. Dia kuliah di Universitas Baghdad mengambil spesialisasi ilmu sastra dan humaniora. Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademisnya ke sejumlah negara Eropa. Dia sempat tinggal di Belanda sekitar enam bulan, belajar di Universitas Leiden.
Kembali ke Tanah Air tahun 1971, Gus Dur bergabung dengan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari. Dia mengajar teologi dan beberapa ilmu agama. Selanjutnya sejak tahun 1974 ia dipercaya sebagai sekretaris pesantren Tebuireng. Bersamaan dengan itu nama Gus Dur mulai dikenal orang melalui tulisannya di berbagai surat kabar, majalah dan jurnal.
Kiprahnya di dunia politik dimulai sekitar awal 1980-an, ketika ia mulai banyak bersinggungan dan secara terbuka menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, HAM, dan lain-lain. Tindakan politiknya semakin kentara sejak ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo -- justru ketika NU kembali kepada khittah 1926, yang berarti NU menarik diri dari dunia politik praktis. Hal ini bisa terjadi karena dengan khittah itulah hubungan NU dengan pemerintah Orde Baru yang semula tegang menjadi cair.
Melalui peran Gus Dur pula NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima pemberlakuan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun kemudian hubungan Gus Dur dengan pemerintah kembali merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto, posisinya sebagai Ketua Umum PBNU dapat dipertahankannya selama dua kali muktamar berturut-turut, yaitu tahun 1989 dan 1994.
Bagi sebagian orang, gagasan-gagasan dan tindakan Gus Dur kerap dipandang kontroversial dan mengejutkan. Tak jarang dia suka melawan arus. Gus Dur, misalnya, pernah menghebohkan Indonesia melalui kunjungannya ke Israel tahun 1994, justru ketika masyarakat banyak menyoroti kelicikan negeri itu terhadap nasib rakyat Palestina. Bahkan, sepulangnya dari sana Gus Dur menyarankan agar pemerintah RI membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Gus Dur seolah memantapkan gelarnya sebagai tokoh kontroversial ketika ia justru beberapa kali mengunjungi Soeharto setelah penguasa Orde Baru itu lengser tahun 1998. Kontroversi lainnya, pada pemilu 1999 ia dicalonkan sebagai presiden bukan oleh PKB yang dideklarasikannya, tapi oleh beberapa partai "Poros Tengah".
Saat menjabat Presiden RI (1999-2001), Gus Dur "mengolok" anggota DPR seperti murid Taman Kanak-Kanak. Pernyataan yang membuat sebagian anggota DPR/MPR kala itu gerah. Belakangan para politisi Senayan yang tidak puas dengan kiprah Gus Dur, membangun kekuatan untuk melengserkannya di tengah jalan. Posisi presiden pun pindah ke tangan Megawati Soekarnoputri yang berawal dari skandal Buloggate dan Bruneigate.
Gus Dur tak pernah gentar mengungkapkan sesuatu yang diyakininya benar, meski banyak orang sulit memahami, bahkan menentangnya. Pesan Gus Dur lazimnya baru dipahami di kemudian hari. Putra sulung dari enam bersaudara itu sering berbicara keras menentang politik keagamaan sektarian. Sikapnya sering menempatkannya pada posisi sulit, melawan pemimpin Islam lainnya di Indonesia.
Seperti saat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri tahun 1991 yang diketuai BJ Habibie, Gus Dur secara terbuka menentang. Gus Dur menyebut ICMI akan menimbulkan masalah bangsa di kemudian hari. Dia pun mendirikan Forum Demokrasi sebagai penyeimbang ICMI.
Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur. Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.
Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM. Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur nasional diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.
"Almarhum Gus Dur adalah sosok Muslim dengan Nadhlatul Ulama-nya yang humanis merangkul semua kelompok masyarakat, termasuk kelompok minoritas sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang plural." Demikian kesaksian salah seorang rekan Gus Dur, Romo Mudji Sutrisno.
"Sosok Gus Dur sudah diakui dunia internasional sebagai perekat persaudaraan antar umat beragama," kata Ketua Mahkamah Konsitusi, Mahfud MD. "Kita benar-benar kehilangan seorang tokoh besar, tokoh pemersatu bangsa dalam sejarah modern Indonesia," kata Wapres, Boediono seperti dikutip Antara semalam.
Suatu ketika wartawan pernah bertanya tentang kebiasaan Gus Dur berguyon dalam situasi genting sekalipun ."Di pesantren, humor itu menjadi kegiatan kami sehari-hari. Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat," kata Gus Dur.
Kebiasaan lain Abdurrahman Wahid adalah sangat percaya pada isyarat dari makam para leluhur. Karena itu Gus Dur sangat rajin berziarah ke makam meskipun hal itu sering merepotkan koleganya. Tentang kebiasaannya itu, Gus Dur enteng berkata, "Saya datang ke makam, karena saya tahu mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi." Kini Gus Dur sudah tidak punya kepentingan lagi. Tugas kita untuk melanjutkan keutamaan beliau.Meneruskan perjuangan almarhum yang belum selesai. Selamat Jalan Gus Dur. Beristirahatlah dalam Damai. (dion db putra/dari berbagai sumber)
Pos Kupang edisi Kamis, 31 Desember 2009
Data Diri
Tempat, Tanggal Lahir : Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940
Istri : Sinta Nuriyah
Anak :
1. Alissa Qotrunnada Munawaroh (P)
2. Zannuba Arifah Chafsoh (P)
3. Annita Hayatunnufus (P)
4. Inayah Wulandari (P)
ALAMAT
Rumah :
Jl. Warung Silah No. 10, Ciganjur
Jakarta Selatan 12630 - Indonesia
Kantor :
Jl. Duren Tiga Raya No. 4
Jakarta 12760 - Indonesia
PENDIDIKAN
1966-1970: Universitas Baghdad, Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab
1964-1966 : Al Azhar University, Cairo, Mesir, Fakultas Syariâ?Tah (Kulliyah al-Syariâ?Tah)
1959-1963 : Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Indonesia
1957-1959 : Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
JABATAN
1998-Sekarang: Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia, Ketua Dewan Syuro DPP PKB
2004-Sekarang : The WAHID Institute, Indonesia, Pendiri
2000-Sekarang : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Indonesia, Mustasyar
2002-Sekarang : Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Indonesia (Rektor)
PENGALAMAN JABATAN
1999-2001: Presiden Republik Indonesia
1989-1993 : Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
1987-1992 : Ketua Majelis Ulama Indonesia
1984-2000 : Ketua Dewan Tanfidz PBNU
1980-1984 : Katib Awwal PBNU
1974-1980 : Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng
1972-1974 : Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang (Dekan dan Dosen )
PENGALAMAN ORGANISASI
2003: Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional, Penasihat
2002 : Solidaritas Korban Pelanggaran HAM, Penasihat
1990 : Forum Demokrasi, Pendiri dan Anggota
1986-1987 : Festifal Film Indonesia, Juri
1982-1985 : Dewan Kesenian Jakarta, Ketua Umum
1965 : Himpunan Pemuda Peladjar Indonesia di Cairo â?" United Arab Republic (Mesir), Wakil Ketua
AKTIVITAS INTERNASIONAL
2003-Sekarang : Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan, Presiden
2003-Sekarang : International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel,
Anggota Dewan Internasional bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bild
2003-Sekarang : International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris, Presiden Kehormatan
2002-Sekarang : Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat, Anggota Dewan Penasehat Internasional
2002 : Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat,
Presiden
1994-Sekarang : Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel, Pendiri dan Anggota
1994-1998: World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat, Presiden
1994 : International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda, Penasihat
1980-1983: The Aga Khan Award for Islamic Architecture, Anggota Dewan Juri
PENGHARGAAN
2004: Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia
2004: The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia
2003: Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat
2003: World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan
2003: Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris â?oDare to Failâ??, Kuala Lumpur, Malaysia
2002: Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia.
2002: Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
2001: Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat
2000: Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat
2000: Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International
1998 :Man of The Year, Majalah REM, Indonesia
1993: Magsaysay Award, Manila , Filipina
1991: Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir
1990: Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia
DOKTOR KEHORMATAN
2003: Netanya University , Israel
2003: Konkuk University, Seoul, South Korea
2003: Sun Moon University, Seoul, South Korea
2002: Soka Gakkai University, Tokyo, Japan
2000: Thammasat University, Bangkok, Thailand
2001: Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand
2000: Pantheon Sorborne University, Paris, France
1999: Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand

