Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Cuci Otak
dion bata
APA kado istimewa Hari Pendidikan Nasional? Jelas bukan Ujian Nasional (UN) 2011 yang hasilnya belum diumumkan. Bukan juga prestasi akademik anak Indonesia yang mengguncang dunia. Kado Hari Pendidikan Nasional yang kita rayakan hari ini, 2 Mei 2011 bernama Cuci Otak!
Betapa tidak. Laporan media massa terang benderang memaparkan fakta memilukan yang melanda dunia pendidikan kita. Dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir telah ratusan bahkan ribuan mahasiswa Indonesia menjalani proses cuci otak yang dilakukan jaringan organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Tuan dan puan tentunya maklum bahwa usia organisasi tersebut setua negara ini. Dia bergerak di bawah tanah. Timbul tenggelam dalam sejarah Indonesia tapi tak pernah mati untuk selamanya.
Sepak terjang organisasi NII kembali menghiasi langit Ibu Pertiwi tatkala sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dilaporkan hilang dari tempat kos atau rumah orangtuanya awal tahun ini. Mereka pergi tanpa pesan kepada keluarga dan sahabat. Belakangan baru diketahui kalau anak-anak muda tersebut direkrut jaringan NII.
Mereka direkrut lewat cara yang rapi dan sistematis. Ada yang menggunakan jasa perempuan cantik dan wangi. Ada pula yang melalui senior mereka di kampus, lewat jaringan pertemanan dan sebagainya. Setelah mendapat indoktrinasi NII, anak-anak muda itu seolah hilang ditelan bumi. Mereka tidak lagi berkomunikasi dengan keluarga, sahabat dan pihak kampus. Sebagian dari mereka baru kembali ke rumah setelah berbulan-bulan hilang entah ke mana. Namun, tak sedikit pula yang nasibnya masih misteri sampai detik ini. Yang berhasil pulang ke rumah pun tidak sepenuhnya normal seperti sedia kala. Mental mereka rusak. Cenderung menyendiri di dalam rumah. Malu bersosialisasi dengan orang lain.
Setelah terkuak di Malang, di Sumatera Utara belasan orangtua ramai-ramai melaporkan kasus kehilangan anak mereka kepada polisi pada medio April 2011. Ada yang hilang sejak tahun 2009. Kebanyakan hilang tahun 2010 dan 2011. Yang hilang dominan mahasiswi semester awal. Kabar kabur menyebut mereka direkrut masuk aliran keagamaan tertentu di wilayah Nangroe Aceh Darusalam. Menurut kesimpulan sementara polisi, cara kerja jaringan di Aceh itu mirip dengan NII yang kiprahnya lebih mengakar di Pulau Jawa.
Peristiwa di Malang dan Sumatera Utara menguak fakta baru yang lebih mencengangkan. Kampus-kampus terkemuka di Tanah Air ternyata sudah lama menjadi bidikan NII. Jaringan tersebut sudah masuk ke berbagai kampus seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro dan lainnya. Sejumlah pengamat memperkirakan pengikut setia NII sekitar 40 ribu orang. Dan, mereka juga tersebar di berbagai perguruan tinggi. Ngeri!
Fenomena tersebut telah membuka mata banyak orang. Negara dianggap lalai atau melakukan pembiaran sehingga NII beranak-pinak dan berhasil menanamkan ajaran mereka lewat generasi muda. Sudah banyak suara dikumandangkan mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, DPR hingga kepala negara RI dengan pesan yang sama yaitu tidak boleh lagi memandang NII dengan sebelah mata. Kiprah organisasi tersebut harus dihentikan.
Pertanyaan menarik, mengapa NII justru menggarap kampus dan sukses melakukan proses cuci otak terhadap mahasiswa? Mereka pasti tahu kelemahan kurikulum pendidikan tinggi kita yang belakangan ini semakin meminggirkan pentingnya wawasan kebangsaan. Jujur saja tuan dan puan, diskusi serta dialog tentang nasionalisme tidak lagi bergaung kencang di kampus-kampus Indonesia.
Kampus kita dalam sejumlah kasus malah secara telanjang mempertontonkan praktik primordialisme. Melakukan pengkotak-kotakkan atas dasar SARA. Dalam situasi demikian bibit perpecahan mendapatkan lahan yang subur. Proses cuci otak pun mudah mencapai tujuannya. Bukankah kenyataan demikian juga terbentang di beranda Flobamora?
Pertikaian di lembaga perguruan tinggi bukan warta luar biasa di kampung halaman kita. Cukup sering pertikaian tersebut tak berujung. Dendam kesumat terus dipupuk dari waktu ke waktu. Penyimpangan dan atau penyelewengan di kampus terbungkus rapi. Semua sama-sama tahu, tetapi tak banyak yang mau bersiul. Uang dan kuasa membutakan mata hati. Juga akal sehat. Kampus dengan karakter begini perlu menjalani proses 'cuci otak' agar segera kembali ke jalan yang benar bukan? (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang Senin, 2 Mei 2011 halaman 1
Paus Yohanes Paulus II Jadi Beato
dion bata
![]() |
| Paus Yohanes PP II |
Upacara beatifikasi merupakan tahap pertama sebelum seorang Katolik resmi ditahbiskan sebagai orang suci atau santo. Untuk menyambut beatifikasi bagi Paus Yohanes Paulus II, Takhta Suci di Vatikan sudah membuka akses menuju Lapangan Santo Petrus bagi para pengunjung sejak Minggu (1/5/2011) dinihari, sekitar pukul 03.00 waktu Italia.
Sedikitnya 500.000 orang yang datang dari berbagai belahan dunia bakal ikut ambil bagian dalam misa beatifikasi tersebut. Sekitar pukul 07.00 waktu setempat Vatikan akan mengumandangkan dan menyanyikan doa favorit kepada Bunda Maria dari almarhum mantan Uskup Agung Gdansk, Polandia itu. Paus Benediktus XVI akan memimpin misa beatifikasi satu jam setelah doa tersebut.
Kota Roma sudah dilanda demam Yohanes Paulus II sejak beberapa pekan lalu. Peziarah dari berbagai belahan dunia telah berdatangan untuk mengikuti misa beatifikasi pemimpin umat Katolik sedunia yang meninggal enam tahun silam.
Poster-poster mendiang paus asal Polandia, yang punya nama asli Karol Wojtyla itu tertempel di bus-bus, tiang lampu dan di berbagai pelosok Kota Roma.
Seperti juga ketika upacara pemakaman paus yang meninggal pada 2 April 2005, ribuan orang Polandia berduyun-duyun ke Vatikan, dengan pesawat, kereta, bahkan mobil, untuk ikut merayakan upacara beatifikasi hari ini. Persiapan upacara beatifikasi yang langka di Vatikan berlangsung meriah.
Perjalanan seorang Katolik diangkat sebagai orang suci melalui prosedur yang tidak mudah. Beatifikasi adalah langkah pertama seseorang dinyatakan sebagai orang suci. Untuk dinyatakan sebagai beato, harus lebih dahulu ada peristiwa mukjizat yang bertalian dengan orang yang disucikan tersebut.
Mukjizat yang membawa mendiang Paus Yohanes Paulus II diusulkan sebagai orang suci adalah ketika seorang biarawati Perancis penderita penyakit parkinson bisa sembuh setelah berdoa meminta kesembuhan pada saat kematian paus tersebut. Nama biarawati itu adalah Marie Simon-Pierre. Paus Yohanes Paulus II didera penyakit parkinson pada 12 tahun terakhir masa hidupnya.
Seperti diwartakan AP dan AFP, biarawati asal Perancis, Marie Simon-Pierre memberi kesaksian saat acara doa pada Sabtu (30/4/2011) malam di kawasan situs kuno Circus Maximus. Suster Marie kembali memberi kesaksian di hadapan sekitar 100.000 orang.
Sangat Ketat
Gereja Katolik Roma sangat ketat untuk menetapkan seseorang diangkat sebagai beato dan kemudian santo. Perlu setidaknya penyelidikan mendalam, paling cepat lima tahun setelah kematiannya. Sementara penyelidikan atas diri Paus Yohanes Paulus II dilakukan hanya dua bulan setelah wafatnya.
Proses kilat juga terjadi pada Ibu Teresa, biarawati yang sepanjang hidupnya mengabdi kepada orang-orang miskin di Kalkutta, India. Ia dibeatifikasi pada tahun 2003, hanya enam tahun setelah kematiannya yang ditangisi dunia.
Untuk diangkat sepenuhnya sebagai santo, diperlukan satu laporan mukjizat lagi menyangkut dirinya. Jika ada satu bukti mukjizat lagi, dilakukanlah upacara kanonisasi untuk menyatakan bahwa orang tersebut adalah orang suci.
Segala berkas, baik untuk proses beatifikasi maupun kanonisasi, disampaikan kepada semacam "promotor" di Vatikan, yang perannya mencari dan menemukan hal-hal yang menguatkan seseorang untuk dibeatifikasi.
Setelah konsultasi dengan segenap uskup (pemimpin umat Katolik di bawah paus) dan para kardinal pembantu paus, berkas disampaikan kepada paus untuk ditandatangani dan diumumkan sebagai orang suci. (ap/afp/rtr/kompas.com)
Sumber: Pos Kupang Minggu 1 Mei 2011 halaman 1
Daun Muda
dion bata
USIANYA baru 15 tahun tetapi dia sudah mengerti lika-liku bisnis yang satu ini. Bisnis melayani sekelompok perempuan kota yang membutuhkan kepuasan. Dia piawai merayu. Juga cerdas membujuk teman sebaya hingga mau melayani pelanggan dengan imbalan uang!
Demikian secuil kisah prahara daun muda dari Kota Pahlawan Surabaya. Hari Kamis 13 April 2011, bisnis remaja tanggung berinisial RA tersebut tersibak. Dia ditangkap polisi karena ketahuan menjual temannya sendiri kepada tante girang di Jalan Dinoyo, Surabaya. Menurut polisi, RA menawarkan dua temannya, MWA (16) dan MI (16) kepada tante girang dengan harga Rp 500.000 per orang.
Menerima tawaran tersebut, MWA dan MI dengan senang hati melayani pelanggan RA. Keduanya juga mengikuti permintaan RA agar membawa serta kartu identitas pelajar dengan alasan bisa lolos apabila ada razia. Padahal maksudnya terselubung. Kartu pelajar merupakan jaminan dari RA kepada pelanggannya bahwa "pesanan" mereka benar-benar pelajar alias daun muda. Selain cerdas, RA juga licik. Kedua temannya hanya mendapat jatah Rp 200.000 setelah melayani pelanggan. Sisanya masuk kantong RA. Dia berdalih ada biaya operasional sehingga mereka hanya mendapat Rp 200 ribu per orang. Nah?
Kehidupan perkotaan yang sangat keras dan permisif memungkinkan terjadi fenomena sosial semacam ini. Bayangkan tuan dan puan. Remaja berusia 15 tahun sudah berani menjalankan pekerjaan "mucikari" gigolo. Remaja seusia itu setidaknya baru duduk di kelas 1 atau kelas 2 SMA. Masih sangat hijau. Tapi begitulah. Orang bilang kita hidup di zaman edan! Anak atau remaja lekas dewasa dari usia seharusnya. Kebebasan tanpa kendali telah menyeret jutaan generasi muda di persada ini melakoni kehidupan yang tercabik-cabik.
Fenomena tante girang dan pria hidung belang bukan baru. Setiap zaman selalu ada kelompok manusia doyan daun muda serupa itu, baik laki-laki maupun perempuan. Kelompok itu lazimnya sudah mapan secara ekonomi. Mereka membidik kaum remaja guna menyalurkan hasrat ragawi. Menyenangkan diri sesaat. Menurut beberapa kawan yang paham kehidupan malam, fenomena tante girang juga mulai mekar di beranda Flobamora, misalnya di Kupang yang kini nyaris hidup 24 jam serta beberapa kota di Flores seperti Maumere. Kalau puan-puan kurang yakin, silakan telusuri sendiri. He-he-he...
Prahara daun muda dari Surabaya mestinya menjadi berita besar karena menampilkan wajah bangsa yang sesungguhnya. Betapa ribuan bahkan jutaan anak dan remaja Indonesia menjalani kehidupan yang suram. Namun, sayang seribu sayang warta tersebut tenggelam dalam hingar-bingar goyang India polisi Norman Kamaru. Berita RA sekali tayang selesai. Beda jauh dengan Norman yang mendadak bintang. Norman didukung penuh para bosnya yang memikul bintang di bahu kiri kanan. Norman pun bagoyang di mana-mana. Menyanyi di banyak tempat sampai pinjam baju seragam dan dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan.
Tidak ada yang salah dengan kebintangan Norman Kamaru. Bakat seninya sungguh menghibur. Dia pun mendapat durian runtuh. Sekejap sontak jadi kesohor. Itulah keberuntungan manusia. Kritik mestinya tuan dan puan sasarkan ke kami orang-orang media. Media massa di Indonesia dipuji Amnesti Internasional sebagai pers paling bersemangat di Asia dalam sepuluh tahun terakhir. Namun, Amnesti mungkin lupa bahwa pers Indonesia kerapkali tergoda memblow-up hal-hal yang kurang penting. Cuma utamakan sisi menarik semata, sehingga masalah mendasar berkaitan dengan kebutuhan publik justru terabaikan.
Simak acara televisi kita. Jam tayang informasi selebriti yang isinya kawin-cerai, gosip selingkuh, baju baru, tentang perawatan wajah serta tetek bengek yang kurang penting justru menyita durasi terpanjang dalam sehari. Tidak banyak media yang cerdas membedakan yang penting dan menarik. Tuan dan puan sebagai pembaca, pendengar atau pemirsa mesti kritis, memilah dan memilih. Tidak menelan mentah-mentah sajian media.
Kembali ke prahara daun muda, kisah berikut merupakan tragedi daun muda dalam arti sesungguhnya. Dalam sebulan terakhir sebagian besar masyarakat Indonesia telah direpotkan dengan invasi ulat bulu yang memakan daun muda. Mulai dari daun mangga, asam, advokad, ceri, sampai daun singkong. Serbuan ulat bulu dalam jumlah jutaan membuat masyarakat kalang kabut.
Laporan media menyebutkan, serangan ulat bulu yang bermula di Pulau Jawa telah meluas ke Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Invasi ulat bulu membuat bulu kuduk merinding. Konon inilah wabah ulat bulu terparah dalam sejarah Indonesia. Di daerah Probolinggo, Jawa Timur, jutaan ulat bulu bergelantungan di pepohonan. Satu pohon rata-rata diserbu 500 sampai 1.000 ulat. Ngeri! Setelah menghabiskan daun mangga muda, ulat nakal itu masuk ke umah warga. Ulat yang bikin gatal itu membuat orang sibuk. Kegiatan warga sehari-hari terganggu karena harus membersihkan ulat. Pakaian yang dijemur pun dijaga. Sebab kalau disentuh ulat akan menimbulkan gatal-gatal saat pakaian itu dikenakan.
Jumlah pohon yang diserang ulat bulu lumayan banyak. Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi mengatakan ulat bulu telah menyerang 2,5 persen dari populasi pohon di Indonesia. "14.500 pohon dari 1,8 Juta pohon sudah diterkena ulat bulu," kata Bayu usai kuliah umum di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, 14 April 2011.
Fakta penting terungkap di Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat. Ulat bulu di sana bandel dan kebal terhadap pestisida. Meski sudah disemprot berkali-kali mereka tidak mati. Malah terus berbiak. Pemusnahan dengan obat kimia sia-sia belaka. Menurut teori, ulat bulu biasanya bersembunyi pada siang hari. Yang terjadi sekarang si ulat muka buruk itu tampil percaya diri siang dan malam. Gila!
Menurut pakar serangga, ledakan populasi ulat bulu dari famili Lymantriidae itu sesungguhnya dapat dicegah. Untuk jangka pendek, kita harus menjaga kebersihan lingkungan karena fase kepompong umumnya di serasah, sampah, dan tumpukan balok kayu. Langkah jangka panjang, menjaga keseimbangan ekosistem. "Ledakan populasi terkait ulah manusia," kata peneliti serangga (entomolog) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rosichon Ubaidillah seperti dikutip Kompas, Jumat (15/4/2011).
Sudah bukan rahasia lagi kalau keserakahan manusia mengganggu keseimbangan ekosistem. Invansi ulat bulu di Indonesia terjadi karena berkurangnya populasi burung predator, semut, kepik, kelelawar, lebah pemangsa dan parasitoid dikaitkan dengan perburuan. Sebab lain adalah penggunaan pestisida berlebihan, kerusakan kawasan karst hingga cuaca ekstrem.
Solusinya cuma satu. Harus ada perubahan perilaku manusia agar lebih ramah lingkungan ditunjang dengan penegakan hukum atas pelanggaran di bidang lingkungan hidup. Celakanya negeri kita kurang peduli. Kita masih saja serakah merusak alam dan hukum lingkungan tak bergigi. Orang kita lupa korupsi di bidang lingkungan dampaknya dashyat. Bisa tujuh turunan anak manusia yang akan menerima risikonya.
Invasi ulat bulu menandakan alam sedang marah. Kemarahan alam juga diperlihatkan kelelawar di Kolaka, Sulawesi Tenggara awal April lalu. Bayangkan, ribuan ekor kelelawar merusak ratusan hektar pohon kelapa milik warga Desa Tondowolio, Kecamatan Uluiwoi, Kabupaten Kolaka. Dinas Perkebunan setempat mengakui masuknya kelelawar ke pemukiman penduduk dan merusak kelapa akibat kerusakan hutan di desa tersebut. Bukankah tidak lazim kelelawar merusak kelapa? Kalau mangga dan pisang, iyalah.
Bila peringatan alam itu kita abaikan, akan muncul lagi keanehan-keanehan baru di masa depan. Di ini negeri yang tidak aneh adalah beberapa hal berikut. Anggota Dewan nonton film porno saat bersidang di gedung Wakil Rakyat Yang Terhormat, prahara `daun muda' dan para pemimpin marah besar bila disentil kritikan. Salam ulat! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 18 April 2011 halaman 1
Inong
dion bata
CANTIK, wangi dan kaya. Ke mana-mana mengendarai mobil mewah Ferrari. Dia bisa bergonta-ganti mobil Ferrari kapan pun dia mau karena koleksinya lebih dari satu. Jika bosan naik Ferrari dia akan memilih jenis mobil mewah lainnya. Toh dia punya segalanya. Hidupnya sungguh bergelimang harta.
Tidak ada yang aneh dengan gaya hidup Inong Malinda alias Malinda Dee tersebut. Benar bahwa sebagian besar rakyat Indonesia tergolong papa, tetapi orang Indonesia yang kaya raya dan memilih cara hidup seperti Malinda juga banyak. Saban tahun Majalah Forbes selalu merilis lebih dari 50 warga Indonesia masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia.
Bedanya Malinda Dee (47) diduga mendapatkan kekayaan dengan cara haram. Karyawati senior Citibank itu menggarong uang nasabah senilai Rp 17 miliar! Sejak pekan lalu perempuan berparas ayu dengan belahan dada yang bikin iri artis Julia Perez tersebut ditahan polisi. Dia berurusan dengan proses hukum yang berpeluang menghantarnya ke balik jeruji besi. Sudah ada bukti permulaan yang cukup bahwa Malinda Dee memang mengambil uang nasabah Citibank untuk memperkaya diri. Modus yang ditempuh Malinda adalah memindahkan dana nasabah ke beberapa perusahaan.
Terkuaknya kasus Malinda Dee mempertegas fakta tentang kejahatan perbankan yang sulit dibasmi. Dari waktu ke waktu ada saja karyawan-karyawati bank yang menyalahgunakan wewenang dan tanggung jawabnya. Sebagai orang dalam mereka tahu betul bagaimana memanfaatkan celah untuk mencuri. Hasil survai menunjukkan, pembobolan bank di Indonesia dominan dilakukan oleh orang dalam, bekerja sama dengan orang dalam atau pelakunya mantan orang dalam. Hanya kurang dari 5 persen dilakukan pihak luar memanfaatkan kelemahan sistem keamanan perbankan.
Hampir semua bank di Indonesia pernah mengalami pembobolan dana oleh orang dalam. Harian Kompas mencatat delapan kasus besar terjadi sejak tahun 2009 dengan total dana yang dirampok lebih dari Rp 270 miliar. Pembobolan terbesar terjadi tanggal 4 Februari 2009 di Bank Mandiri, Jelambar, Jakarta Barat. Cek milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara senilai Rp 200 miliar dipindahkan ke deposito berjangka tiga bulan. Dalam kasus ini Kepala Cabang Bank Mandiri, Jelambar jadi tersangka. Pembobolan oleh Malinda Dee yang terungkap akhir Maret 2011 merupakan kasus ketiga terbesar dalam empat tahun terakhir (Kompas, 31 Maret 2011 hal 1).
Jauh sebelum Malinda Dee beraksi di Jakarta, kasus serupa sudah menghebohkan beranda Flobamora. Enam tahun lalu Kota Kupang geger saat seorang karyawati bank berparas ayu ketahuan mencuri uang nasabah. Dia pun masuk penjara. Hal yang sama terjadi di Kalabahi, Kabupaten Alor. Karyawati bank milik pemerintah melarikan uang nasabah miliaran rupiah.
Begitulah kalau orang gagal mengendalikan diri terkait dengan uang. Kata orang bijak, sifat uang itu hanya dua: kurang dan selalu ingin pergi. Uang selalu ingin pergi dari dompet, dari rekening, dari kartu kredit untuk memuaskan hasrat primitif manusia yaitu belanja. Tidak penting apakah belanja itu atas nama keinginan semata atau benar-benar karena kebutuhan. Bersamaan dengan itu uang hanya mengenal kata kurang. Orang tak pernah mengaku kelebihan uang. Kalau kurang uang, banyak!
Kejahatan oleh orang dalam ibarat tikus yang hidup di dalam rumah atau gedung. Rumah mewah sekalipun tak mungkin luput dari hewan mamalia tersebut. Dia akan selalu bersama dengan penghuni rumah. Jika penghuni lengah si tikus akan mencuri makanan, menggigit kasur, bantal atau pakaian. Itulah hukum alam. Hukum yang menuntut agar manusia senantiasa waspada. Tikus mengingatkan pemilik rumah atau gedung tidak membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa kontrol.
Nah, lembaga mana pun perlu menyadari adanya fenomena tikus. Kejahatan perbankan akibat ulah orang dalam bisa terjadi pada lembaga keuangan lainnya atau perusahaan swasta. Jangan sekali-kali percaya bahwa karyawan-karyawati semuanya orang baik dan jujur. Di antara mereka pasti ada yang berkelakuan buruk. Menurut teori kejahatan, penyalahgunaan keuangan terjadi tidak semata karena adanya niat. Jika ada peluang dan kesempatan, orang baik pun bakal tergoda. Prinsipnya tidak ada malaikat di dunia fana ini, sehingga kemungkinan terjadi pencurian uang harus dikunci lewat alat kontrol yang terukur.
Omong-omong soal orang dalam, terminologi ini merupakan warisan Orde Baru. Orang dalam adalah mereka yang memiliki hak istimewa, kesempatan spesial dan peluang emas. Untuk jadi pegawai di suatu instansi, misalnya, peran orang dalam amat menentukan. Jika tuan dan puan tidak punya koneksi dengan orang dalam, jangan harap akan mudah meraih kesempatan kerja. Orang dalam merupakan tokoh kunci. Maka banyak memo atau titipan diberikan kepada orang dalam. Memo itu tidak gratis. Rupa-rupa namanya. Bisa disebut uang terima kasih, uang transport, uang rokok dan sebagainya.
Apakah di zaman ini orang dalam sudah sirna? Aih, jangan salah bro. Orang dalam masa kini menyembul dalam rupa berbeda tetapi tabiatnya masih sama dan sebangun. Ada beberapa kelompok orang dalam yang berbiak di era Reformasi. Sebagai misal, orang dalam yang populer disapa pembisik. Mereka masuk lingkaran dalam kekuasaan. Setiap saat mereka berkesempatan untuk memberi masukan kepada si Bos. Bisikan-bisikan mereka lebih didengar ketimbang bisikan dari orang yang secara formal memang bertanggung jawab soal itu. Pertimbangan dari pembisik lebih mempengaruhi si Bos dalam mengambil keputusan.
Di lingkungan pemerintah, orang dalam masih bertualang bebas. Seorang teman, birokrat tulen dan sarat pengalaman sebagai pamong praja membocorkan rahasia kepada beta belum lama berselang. Menurut dia, dalam proses rekruitmen calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD), yang punya kuasa dan wewenang akan mengatur sedemikian rupa agar formasi itu sesuai dengan latar belakang pendidikan anak atau anggota keluarganya. Cara itu dibalut dengan manis dan rapi sebagai kebutuhan daerah setempat.
Masyarakat umum tak banyak tahu kalau itu cuma akal-akalan orang dalam agar anggota keluarganya bisa masuk. Jadi, tidak penting formasi pegawai disesuaikan dengan kebutuhan riil daerah. Maka tuan dan puan tak perlu heran bila CPNSD yang ahli rancang bangun pesawat, misalnya, justru ditempatkan di Dinas Perkebunan. He-he-he... Bangsa kita terkenal piawai mengutak-atik urusan semacam begini.
Apakah bocoran dari kawan birokrat tadi benar adanya, silakan tuan dan puan telusuri sendiri. Beta sekadar membagi cerita. Jika benar maka sangat disayangkan karena penerimaan pegawai tidak sesuai dengan kebutuhan daerah. Penerimaan pegawai negeri sekadar memenuhi kepentingan orang atau kelompok tertentu.
Fenomena orang dalam juga kasat mata terjadi dalam alokasi proyek pembangunan setiap tahun anggaran. Kontraktor yang masuk kelompok orang dalam atau lingkaran dalam so pasti memiliki peluang lebih besar untuk menang tender.Keributan dalam tender proyek di berbagai daerah di NTT mencerminkan indikasi tersebut benar. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 11 April 2011 halaman 1
Baca
dion bata
AKU telah mencari ketenangan di mana-mana dan tidak di suatu tempat pun aku menemukannya kecuali di sebuah sudut kecil dengan membaca buku. Bagi seorang Thomas â Kempis ketenangan justru hanya diperolehnya lewat jalan membaca! Bagaimana dengan tuan dan puan?
Thomas â Kempis (1379-1471) adalah seorang mistikus Kristen terkenal dari Abad Pertengahan. Nama aslinya Thomas Hemerken. Ia lahir di Kempen, dekat kota Koln-Jerman. Thomas memiliki banyak karya tulis namun yang paling terkenal adalah karya klasiknya tentang Mengikuti Jejak Kristus sebanyak empat jilid yang pada akhir abad ke-15 mengalami 99 kali cetak ulang (wikipedia).
Jika pengalaman batin Thomas â Kempis tersebut dipakai untuk melihat minat baca anak zaman ini agaknya kita segera tahu kian langka saja orang seperti Thomas. Coba tuan dan puan perhatikan seseorang atau sekelompok orang kita yang sedang menunggu di halte, terminal bus, pelabuhan atau bandara. Tidak banyak orang yang membaca buku, majalah atau koran. Yang paling umum adalah duduk melamun, mengobrol, menonton televisi atau mengutak-atik telepon genggam.
Coba lakukan survai ala kadarnya di berbagai tempat umum di Kota Kupang. Tuan dan puan akan menemukan pengelola fasilitas publik yang sangat sadar televisi. Kotak ajaib itu pasti ada di lobi hotel, salon, apotek, rumah makan, terminal bus, bandara atau pelabuhan. Tetapi tidak banyak fasilitas umum yang menyiapkan majalah atau koran. Kalaupun ada majalah dan koran, dominan edisi lama. Mereka siapkan seadanya.
Belum menjadi komitmen pengelola untuk memberikan yang terbaik kepada para tamu atau pengunjung.
Nah, jangan tanya lagi soal buku. Belum ada di kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini yang mentradisikan buku sebagai bagian dari servis bagi tamu. Buku masih dianggap barang mahal dan tempatnya ada di toko buku, perpustakaan sekolah, universitas, kantor atau lembaga swadaya masyarakat. Padahal perpustakaan mini mestinya bisa disajikan di mana saja pada tempat yang sepantasnya. Tidak perlu mewah.
Indah nian bila Kupang atau kota lain di NTT mau dikenal sebagai kota buku pertama di Indonesia. Buku mudah diperoleh di banyak tempat. Maklum dalam hal minat baca buku, kondisi Indonesia sangat menyedihkan. Dua tahun lalu UNDP melakukan penelitian di 41 negara Asia dan Afrika tentang minat baca. Mau tahu posisi Indonesia? Kita di urutan ke-39.
Gawat! Data terbaru dirilis UNESCO bulan Januari 2011. Hasil survai organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan itu menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat terendah di Asia Tenggara (ASEAN).
Beta ingat beberapa tahun lalu penyair terkemuka Indonesia, Taufik Ismail, membeberkan fakta miris. Menurut Taufik, rata-rata buku (karya sastra) yang dibaca siswa sekolah di Indonesia nol setiap tahun. Dia membandingkan siswa di Amerika Serikat rata-rata membaca 32 buku setahun. Di Singapura, 12 buku per tahun. Bayangkan siswa yang pergumulan utamanya tentang buku dan pelajaran, tidak pernah baca buku. Bagaimana dengan jutaan manusia Indonesia yang bukan siswa? Silakan elus dada.
Apakah tuan pernah mendengar para pemimpin di beranda Flobamora fasih omong soal baca buku atau sungguh-sungguh memberi contoh tentang gemar baca buku? Kalau bersilat lidah soal APBD atau trik politik pemilu kada, semua jagoan. Semua hebat-hebat dan cerdas. He-he-he... Jadi, kalau ada pemimpin atau calon pemimpin di kampung besar NTT punya ide gila guna menumbuhkan minat baca masyarakat patut diapresiasi dengan baik.
Ikhwal manfaat membaca tuan dan puan tentu punya rumusan masing-masing. Izinkan beta mengutip manfaat baca bagi kesehatan seperti dilansir Lifemojo dan dipublikasikan detik.com, Sabtu (12/3/2011). Pertama, melatih otak. Keuntungan membaca buku adalah mengasah otak, menjaga otak agar selalu menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat membaca, otak dituntut berpikir lebih sehingga orang semakin cerdas.
Kedua, meringankan stres. Stres adalah faktor risiko dari beberapa penyakit berbahaya. Keindahan bahasa dalam tulisan dapat menenangkan pikiran dan mengurangi stres, terutama membaca buku fiksi sebelum tidur. Ketiga, menjauhkan risiko penyakit alzheimer. Membaca meningkatkan daya ikat otak. Ketika membaca otak akan dirangsang secara teratur. Hasil penelitian menunjukkan latihan otak seperti membaca buku atau majalah, bermain teka-teki silang, sudoku dan lain-lain dapat menunda atau mencegah kehilangan memori. Menurut para peneliti, kegiatan ini merangsang sel-sel otak dapat terhubung dan tumbuh.
Keempat, mengembangkan pola tidur yang sehat. Kebiasaan membaca sebelum tidur itu bertindak sebagai alarm bagi tubuh. Dia mengirimkan sinyal bahwa sudah waktunya tidur. Ini akan membantu kita mendapatkan tidur nyenyak dan bangun segar di pagi hari. Kelima, meningkatkan konsentrasi. Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Tak mudah pikun. Jadi sebaiknya jangan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton televisi atau bermain game
komputer tetapi luangkan waktu lebih lama untuk baca buku, majalah atau surat kabar.
Kata orang bijak, sahabat yang tidak pernah mengecewakan adalah buku. Buku bisa tuan bawa ke manapun pergi. Seorang teman yang gemar membaca dengan usil melukiskan perasaannya begini: "Membaca bagiku adalah relaksasi, menulis adalah masturbasi, tulisanku menginspirasi adalah ejakulasi." Kawan lain menimpali, "Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku menguak sepetak langit. Dan, jika aku membaca sederetan kalimat baru, aku lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya." Selamat membaca! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 4 April 2011 halaman 1
Ro'a
dion bata
BUKAN walangsangit bukan kakatua. Bukan pipit pun belalang kumbara. Bukan celeng atau wereng. Jika tuan pergi ke ladang-ladang petani Flores sekarang segera saja menemukan hama baru. Namanya ro'a!
Ro'a menurut salah satu bahasa lokal Flores artinya kera alias monyet. Dulu monyet hidup berkoloni di rimba hutan, di ranting rerimbunan pohon, di gunung nan sunyi. Kini ro'a bahkan berkeliaran bebas di sudut kampung, di tengah pemukiman penduduk serta di pinggir jalan raya yang padat lalu lintas kendaraan bermesin.
Ro'a sejak lama menjadi mimpi buruk bagi petani seperti Agustinus Muwa, Bernadus Nggala, Ignas Weri, Markus Rasi, Maria Londa, Margaretha Pia dan Yohana Daba. Mereka letih melawan ro'a. Tak berdaya menghadapi serbuan monyet dari berbagai arah. Serbuan itu bisa datang kapan saja. Sejak fajar menyingsing hingga mentari kembali ke peraduannya.
Hampir semua jenis tanaman petani tidak luput dari amukan kera. Mulai dari palawija, ubi-ubian, buah-buahan hingga komoditi perdagangan bernilai ekonomis tinggi seperti kakao dan kopi.
Populasi monyet di Pulau Flores diperkirakan telah meningkat tiga sampai empat kali lipat dalam dua puluh tahun terakhir. Mereka beranak-pinak tanpa kendali. Populasi ro'a yang melesat tidak ditopang dengan ketersediaan pangan yang cukup di belantara. Sebagai hewan yang konon mudah beradaptasi, ro'a pun sangat lentur menyesuaikan selera makan dan minumnya. Menurut pengakuan para petani, makanan yang dulu tidak lazim bagi kera sekarang malah jadi biasa.
Tanaman jagung, misalnya, pada masa lalu baru dilirik ro'a tatkala jagung berbulir dan siap dipanen. Kini anakan jagung yang baru saja bertumbuh telah menjadi incaran ro'a. Mereka makan daunnya. Jika sudah kenyang anakan yang lain dicabut lalu dibiarkan berserakan.
Dalam keadaan demikian para petani harus berjaga-jaga sepanjang waktu, yakni sejak benih jagung ditanam hingga masa panen. Energi petani sangat tersita untuk mengatasi hama berekor yang menurut para ilmuwan masih `satu garis keturunan' dengan manusia tersebut. Ketika bertemu Ignas, Maria, Bernadus dan Yohana yang pucat dan kurusan, beta coba menebak musababnya. Mereka kurang istirahat. Selain melawan anomali iklim, mereka harus berhadapan dengan serangan hama kera dan hama jenis lainnya.
Singkong atau ubi kayu dicabut ro'a sebelum waktu panen. Jangan tanya lagi kalau pisang. Pisang merupakan salah satu makanan kesukaan kaum ro'a sejak zaman baheula. Di sejumlah wilayah di Flores kelapa pun jadi incaran kera.
Buah kakao dari jauh kelihatan bernas berisi. Saat didekati tinggal kulit pembalut. Isinya sudah dikuras habis. Monyet mengisap buah kakao. Demikian pula dengan kopi. Biji kopi luruh sebelum waktunya. Kawanan kera mengisap biji kopi lalu membuang isinya yang belum matang.
Menurut pengakuan Agus Muwa, hanya tanaman cengkeh yang relatif aman dari serbuan ro'a. Mungkin aroma cengkeh yang harum tidak menyenangkan bagi hewan bermuka buruk itu. Cengkeh terselamatkan karena aromanya mungkin membuat ro'a pusing kepala.
Para petani menduga populasi kera di Flores meningkat pesat bersamaan dengan wabah penyakit rabies sejak tahun 1997 yang telah menelan korban jiwa lebih dari 300 ratus orang. Anjing termasuk hewan penebar virus rabies (HPR). Salah satu solusi menekan rabies adalah eliminasi. Nah, anjing yang merupakan sahabat petani dalam menjaga kebun ramai-ramai dibantai sehingga jumlahnya menyusut drastis. Dewasa ini sulit menemukan anjing pemburu yang andal menghadapi hama kera, celeng dan lainnya.
Selain itu terjadi pergeseran cara bertani. Petani zaman ini tidak terbiasa lagi berburu. Dulu teman petani saat ke ladang adalah parang, busur, anak panah dan tombak. Sekarang kawan petani justru telepon genggam. Dulu tangan petani piawai melepaskan anak panah menuju titik bidikan. Kini jemari petani lebih lentur memainkan tuts hp.
Tak ada yang salah dengan itu karena zaman berubah. Sedihnya perubahan tidak direspons dengan cerdas.
Di masa beta kecil, petani ramai-ramai membuka ladang pada satu kawasan sehingga mereka bisa bekerja dalam tim membasmi hama mulai dari celeng, wereng, walangsangit hingga pipit. Sekarang ini petani di kampung buka ladang sendiri-sendiri. Dalam kesendiriaan mana mungkin mampu menahan serbuan ro'a dari delapan penjuru angin? Solidaritas para petani merenggang.
Hal lain adalah tenaga produktif di kampung semakin menciut karena orang kita doyan merantau.Penghuni kampung dominan para lansia, anak-anak dan wanita. Program membangun desa sejak era Orde Baru hingga era Reformasi bisa dilukiskan gagal total menciptakan kelas menengah baru di kampung yang dibutuhkan sebagai motor penggerak menuju peri kehidupan yang lebih baik. Model pembangunan ini negeri masih sama dan sebangun. Kota tetaplah primadona. Kota merupakan magnet sehingga orang berlomba ke sana . Tak lagi peduli urus ladang dan sawah. Jadi kalau krisis pangan melanda kita tak perlu heran. Krisis pangan akan makin parah hari-hari mendatang.
Kera telah menjadi hama di Flores , apakah hal ini sudah menjadi perhatian Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat? Apakah mereka sudah memiliki program pemberantasan hama kera guna membantu petani? Beta tidak begitu yakin dengan itu. Mereka masih tidur, kawan!
Apakah fenomena ro'a menjadi obyek penelitian serius kaum cerdik pandai di beranda Flobamora? Sorry bro. mereka lebih doyan membahas pemilukada. He-he-he.
Seorang kawan yang pulang kampung setelah meraih sarjana menganjurkan begini. Perlu dihidupkan segera wisata kuliner khusus daging kera. Konon daging kera itu nikmat tak kepalang jika diolah dengan baik. Bisa diolah macam-macam. Misalnya diasapkan menjadi daging se'i.
Tuan dan puan, mari kita coba berandai-andai. Jika selera makan anak NTT terhadap kera meningkat, restoran ro'a niscaya laris manis. Ro'a yang semula hama akan bernilai ekonomis tinggi. Misalnya, satu ekor kera jantan tambun dihargai Rp 300 sampai 400 ribu per ekor (setara harga anjing), niscaya orang akan berlomba menangkap kera hidup. Lama-lama kelamaan akan terjadi keseimbangan ekosistem. Populasi kera lebih terkendali. Dan, si buruk muka itu tak lagi menjadi mimpi buruk petani kita. Salam ro'a. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang edisi Senin, 28 Maret 2011 halaman 1
Celana Dalam
dion bata
DANI, Nur Cholis, Rino, Naban, Akhyar dan rekan-rekannya pagi itu duduk manis di tribun utara ruang sidang DPRD Bekasi. Sekelompok anak muda itu diundang guna mengikuti sidang paripurna peringatan HUT ke-14 Kota Bekasi.
Sidang paripurna yang dibuka Ketua DPRD Kota Bekasi, Azhar Laena, awalnya berjalan tertib. Sepuluh menit berlalu Nur Cholis dkk bikin kejutan. Dari balkon gedung DPRD mereka melemparkan puluhan lembar celana dalam pria dan wanita serta BH alias kutang.
Busana aneka warna yang fungsinya menutup ruang privat manusia itu beterbangan, melayang, berputar-putar lalu jatuh berhamburan tepat di hadapan pejabat teras Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kota Bekasi dan pimpinan Dewan.
Insiden celana dalam dan BH praktis menginterupsi jalannya sidang hari Kamis, 10 Maret 2011. Suasana gaduh. Sidang makin tak terkendali saat anak-anak muda tersebut berorasi. Mereka menghujat Dewan dan pejabat pemerintah.
Aparat polisi pamong praja (Pol PP) dan Polri bergerak. Menciduk dan menahan Nur Cholis dkk dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) Bekasi. Sidang paripurna diskors selama 15 menit. Memberi kesempatan kepada anggota Dewan dan pejabat pemerintah memenangkan diri.
"Pakaian dalam itu adalah visualisasi bahwa eksekutif dan legislatif Kota Bekasi bencong karena tidak tegas. Misalnya, masalah APBD 2011 yang sampai saat ini belum disahkan," ujar Ketua KAMMI Bekasi, Nur Cholis saat diperiksa di Kantor Polresta Bekasi. Setelah sekian jam ditahan polisi, Nur Cholis dan keempat rekannya dibebaskan dari tahanan. Mereka berlima mengalami luka-luka saat diciduk aparat Pol PP dan polisi.
"Pelemparan kutang dan celana dalam itu simbol keprihatinan kami agar anggota Dewan lebih jantan," kata Humas KAMMI Bekasi, Joko Purnomo. KAMMI menilai molornya pembahasan APBD terkait ngototnya pemerintah membangun gedung sepuluh lantai untuk dinas-dinas yang kurang disetujui DPRD Bekasi. "Selain itu, ada fee dua persen bagi setiap anggota Dewan terkait APBD," tambah Joko.
Ternyata generasi twitter dan facebook pun masih doyan menggunakan simbol primitif saat berdemonstrasi. Celana dalam dan kutang mereka maknai sebagai simbol tidak jantan, tidak tegas dan dikaitkan dengan bencong. Ini sungguh makna bias gender bukan? Siapa bilang bencong tidak tegas? Tidak tegas dalam hal apa? Tapi begitulah. Pakaian dalam manusia di ini negeri masih saja dimaknai secara salah kaprah.
Dulu sikap tidak tegas atau ragu-ragu kerap ditautkan dengan perempuan. Jangan salah bro. Sudah terbukti dalam sejarah dunia perempuan pemimpin lebih berani, lebih tegas dan lebih konsisten dibandingkan laki-laki. Bahkan banyak penelitian membuktikan kaum perempuan lebih cerdas dan daya tahan fisiknya lebih kuat dibanding kaum pria. Tuan dan puan berani membantah fakta ini?
Mempertontonkan pakaian dalam di depan umum jelas tidak etis. Melanggar sopan santun yang berlaku umum. Jika itu dipakai sebagai alat saat berdemonstrasi, maka maknanya untuk mengingatkan seseorang atau sekelompok orang agar tunjukkan rasa malu. Dalam kasus di Bekasi, Nur Cholis cs menitipkan pesan bagi anggota Dewan dan pejabat pemerintah kota itu mestinya malu karena terlambat menetapkan APBD tahun 2011. Rasa malu memang makin mahal di negeri kita. Mereka yang mendapat mandat atau kepercayaan dari rakyat untuk mengurus kepentingan publik tidak malu menunjukkan kepongahan dan kelalaiannya.
Kota Bekasi itu letaknya persis di depan hidung Jakarta, Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kok kenyataannya mirip dengan beberapa daerah di beranda Flobamora ya? Legislatif dan eksekutif begitu lama bersidang untuk menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2011. Sidang berkali-kali tapi gagal ambil keputusan. Padahal mereka tahu bahwa telat menetapkan APBD itu dampaknya tidak sedikit.
Omong-omong, misalnya di kampung besar Nusa Tenggara Timur mendadak muncul kelompok orang muda yang latah menerbangkan celana dalam dan kutang di gedung Dewan, kira-kira gedung Dewan mana yang layak dan pantas? Maaf beta tak bermaksud memprovokasi. Beta sekadar bertanya. Toh bertanya begini belum dilarang kan? Ha-ha-ha.
Menurut penilaian seorang teman yang dulu suka turun ke jalan memimpin demo, anak muda Flobamora sekarang mungkin sudah mulai bosan menyampaikan aspirasi lewat demonstrasi. Kalau APBD terlambat ditetapkan mereka diam-diam saja alias malas tahu.
Mungkin mereka anggap APBD bukan isu yang seksi sebagai bahan demonstrasi ke gedung Dewan. Mungkin mereka merasa lebih santun dengan berbisik saja. Tak apalah. Toh banyak jalan ke Roma. Banyak cara menyampaikan aspirasi. Demo hanya salah satu cara. Begitulah. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 14 Maret 2011 halaman 1
Nurdin
dion bata
AWAL Maret di bawah mendung senja yang menggantung, bocah-bocah ingusan bermain bola di lapangan sempit berlumpur Kolhua.Sebagian di antara mereka memakai kostum Merah Putih dengan nomor punggung dan nama Christian Gonzalez, Irfan Bachim dan Firman Utina. Di saat jedah menendang bola kumal, mereka ngerumpi soal Nurdin. Mereka juga berdendang turunlah Nurdin...!
Oh bola. Batinku bergumam. Anak-anak ini mengerti apa soal perseteruan di Senayan? Mereka mungkin tak peduli dengan itu. Yang pasti mereka tertular demam Nurdin Halid, ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang sontak menjadi selebriti. Harus kita akui merupakan news maker nomor wahid di persada Ibu Pertiwi selama tiga bulan terakhir.
Pertama dalam sejarah Indonesia, seorang ketua umum induk organisasi olahraga digoyang lewat gelombang demonstrasi massa yang mengamuk hampir di seluruh negeri. Jika rakyat Tunisia dan Mesir membutuhkan waktu kurang dari sebulan untuk melengserkan diktator Ben Ali dan Hosni Mubarak, gelombang demonstrasi Indonesia sekian bulan tak sanggup menurunkan Nurdin. Luar biasa!
Sampai detik ini Nurdin masih bertahan di kursinya. Argumentasinya di hadapan pers dan wakil rakyat sungguh meyakinkan. Dia paham statuta FIFA. Dia berpegang teguh pada aturan PSSI yang mengharamkan intervensi. Dan, Nurdin memiliki pendukung setia. Sebagian dari mereka sempat diajak berkeliling menonton Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan jalan-jalan ke Eropa.
Saat kisruh PSSI meledak banyak pihak harus peras keringat mencari solusi dan klarifikasi, termasuk mengutus seorang Duta Besar menemui Presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA), Sepp Blatter di Swiss. FIFA sudah memberikan jawaban di akhir pekan, tetapi pergumulan PSSI masih jauh dari selesai. Siapa bilang riwayat Nurdin di PSSI segera berakhir?
Nurdin merupakan sosok menarik dalam jagat sepakbola Indonesia. Dialah ketua umum PSSI dalam sejarah Republik ini yang menyedot perhatian publik sejak awal memimpin. Statusnya sebagai tersangka, terdakwa hingga narapidana dalam kasus korupsi tidak menggeser seinci pun kedudukannya sebagai ketua umum PSSI. Dia tetap memimpin PSSI dari balik jeruji sampai menghirup kebebasan.
Tiga bulan terakhir tiada hari tanpa berita Nurdin di televisi, radio, koran dan majalah. Nurdin juga menjadi topik diskusi di pangkalan ojek sampai warung kopi. Jika hari ini diadakan survei tentang tokoh paling populer di Indonesia, hampir pasti akan menjadi milik Nurdin. Mungkin popularitasnya cuma kalah tipis dibandingkan dengan orang nomor satu Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Maka beta tak begitu heran ketika para bocah di bukit Kolhua Kupang lebih hafal nama Nurdin ketimbang Gonzalez, Markus Horison atau Irfan Bachim.
Mengapa Nurdin ngotot sekali mempertahankan kedudukannya sebagai ketua umum PSSI meskipun sudah memimpin dua periode? Tidak sulit menemukan akar pemicunya. Sejak dulu ketua umum PSSI selalu diincar banyak orang. Maklum sepakbola merupakan cabang olahraga terpopuler di Indonesia. Orang tetap menyukai sepakbola kendati prestasi tim Indonesia tak pernah menjulang meski sekadar kawasan Asia Tenggara. Penggemar bola datang semua kalangan. Sebagai cabang olahraga terpopuler, ketua umum PSSI merupakan "jabatan" bergengsi.
Kongres untuk memilih ketua umum PSSI lazimnya lebih riuh ketimbang pemilihan ketua umum KONI Pusat serta ketua umum induk organisasi cabang olahraga lain.
Nurdin kiranya menyadari pesona sepakbola yang mendongkrak popularitas. Dan, popularitas dekat sekali dengan politik. Di era pemilihan langsung seperti sekarang menjadi ketua umum PSSI merupakan pilihan logis. Jadi kalau tuan dan puan mau populer atau lebih meningkatkan popularitas, jadilah ketua PSSI. He-he-he... Kalau tujuannya sekadar popularitas, Nurdin Halid sudah mewujudkan misinya.
Silvio Berlusconi adalah salah satu contoh tokoh politik dunia yang amat piawai memanfaatkan pesona sepakbola untuk popularitas. Pria Italia kelahiran Milan 29 September 1936 itu merupakan pemilik klub AC Milan. Di tangannya, AC Milan berubah menjadi klub raksasa dengan prestasi segudang. Dengan uangnya yang banyak, Berlusconi membeli pemain bintang dari seluruh dunia. Milan menjadi the dream team. Tuan dan puan tentunya ingat ingat kejayaan Milan bersama trio Belanda, Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten. Di era 1990-an Liga Italia adalah kiblat sepakbola sejagat. Prestasi AC Milan demikian hebat antara tahun 1986-2004, masa dimana Berlusconi menjadi presiden klub itu. Bahkan kebesaran AC Milan masih bertahan hingga sekarang.
Menyadari nama besarnya bersama Milan, tahun 1994 Berlusconi mendirikan Partai Forza Italia. Itulah kendaraannya memasuki panggung politik Italia. Saat pemilu mayoritas rakyat Italia memilih dia sebagai Perdana Menteri (PM). Ia menjadi Perdana Menteri selama tujuh bulan (10 Mei 1994-17 Januari 1995) dan kembali terpilih tahun 2001 hingga sekarang. Pemerintahan Berlusconi tercatat sebagai yang terlama dalam sejarah republik Italia. Berlusconi masih memimpin Italia sampai hari ini meski di usianya yang senja dia terlibat skandal dengan perempuan muda.
Banyak yang lupa pesona sepakbola yang lain adalah tambang uang. Sumber kekayaan berlimpah. Selain memiliki perusahaan media massa, dari klub AC Milan sumber uang Berlusconi mengalir deras. Menurut majalah Forbes, Berlusconi adalah orang terkaya di Italia dan orang terkaya ke-25 di dunia.
Bagaimana dengan sepakbola Indonesia? Jangan salah duga kawan. Perputaran uang tidaklah kecil mengingat sebagian besar klub peserta Liga Super Indonesia pendanaannya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sponsor serta subsidi dari FIFA atas nama pembinaan. Indonesian Corruption Watch (ICW) menaksir nilai kucuran APBD untuk klub mencapai Rp 720 miliar per tahun. PSSI tentu mendapat jatah juga.
Tentang potensi komersial kompetisi sepakbola di Indonesia, Repucom, sebuah perusahaan survei dan analisis independen merilis angka mencengangkan. Pertandingan yang melibatkan klub besar bisa bernilai Rp 10 miliar setiap pertandingan. Kalau dalam satu musim kompetisi ada 300 pertandingan, maka nilai komersialnya menembus angka Rp 3 triliun. Kalau perkiraan itu meleset sekitar 30 persen, tetap saja uang yang masuk sungguh berlimpah. Jadi, kalau banyak orang tergiur mengurus organisasi sepakbola atau mengelola kompetisi sepakbola Indonesia bukan tanpa sebab. Ada gula ada semut. Ada bola ada uang! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 7 Maret 2011 halaman 1
Obat
dion bata
"BAPA wartawan tolong dulu. Kenapa obat yang mereka simpan rapi di rak apotek ini tidak ada label harganya? Coba kalau ada daftar harga kan beta bisa beli obat yang murah sesuai kemampuan beta." Mama Susi, penjual sayur langgananku di Pasar Inpres Naikoten-Kupang bertanya di saat kami bersama antre menunggu giliran membeli obat di sebuah apotek yang padat pengunjung di Kota KASIH belum lama berselang.
"Aduh, mama e...beta juga tidak tahu kenapa obat itu tidak diberi label daftar harga," jawabku sekenanya saja. "Payah, bapa ini wartawan tapi tidak tahu apa-apa" Bep! Mulutku terkunci. Kali ini beta benar-benar kena batu karena kurang pengetahuan. Mama Susi, penjual aneka sayur di Pasar Inpres hari itu membeli obat flu dan batuk buat keponakannya. "Kalau begitu na, obat-obat ini sama dengan sayur yang kami jual di pasar. Tidak pakai label harga," kata Mama Mia sambil terkekeh.
Otak beta seperti tersengat lebah. Mama Susi benar. Beta memang payah. Pantas kalau dia menertawaiku. Selama ini tidak jeli melihat kalau obat-obatan, entah generik atau obat paten, tidak disertai label harga. Misalnya, obat flu merek A harganya sekian rupiah, obat flu merek B harganya sekian rupiah. Kalau ada label harga disertai logo jaminan mutu obat dari pemerintah maka pembeli atau konsumen seperti beta dan Mama Susi dapat memilih obat flu sesuai kapasitas isi dompet.
Beta coba cari argumentasi pembenaran diri. Ah, Mama Susi ada-ada saja. Orang sakit mana sempat berpikir melihat label harga obat sekaligus tawar-menawar? Psikologi si sakit adalah secepatnya makan dan minum obat biar cepat sembuh. Beda kalau beta beli sayur Mama Susi di pasar, masih ada kesempatan untuk tawar-menawar harga. Pembeli seperti beta selalu berusaha menawarkan harga semurah mungkin. Tidak peduli Mama Susi cuma dapat keuntungan sedikit karena dia toh bukan orang pertama yang terima sayur dari tangan petani asal Oesao, Tarus, Oekabiti, Camplong atau Baun.
Setelah merenung beta berkesimpulan bahwa pertanyaan sederhana Mama Susi masuk akal juga. Mengapa obat-obatan di apotek tidak disertai dengan label harga seperti produk makanan atau minuman yang dipajang di pusat perbelanjaan atau toko? Dengan label harga, pembeli atau konsumen bisa memilih sesuai daya beli. Di apotek daftar harga obat hanya diketahui petugas. Daftar harga obat tidak diumumkan secara terbuka. Langka nian mendengar konsumen menawarkan harga obat. Berapa pun yang dipatok pasti dibeli. Tanpa tanya apalagi protes.
Bulan Maret tahun lalu saat mengikuti sebuah pelatihan di Kota Gummersbach-Jerman, pada hari ketiga beta terserang sakit perut akibat komplikasi makanan. Maklum perut dari kampung di Timor `sontak terkejut' dimasuki menu makanan Eropa. Bersama teman dari Meksiko dan Tibet kami ke apotek yang letaknya tidak jauh dari tempat pelatihan. Di sana ada beberapa merek obat sakit perut yang paten dengan komposisi sejenis. Harganya bervariasi. Beta beli yang paling murah. Minum dan sembuh. Itu sekadar contoh betapa obat-obatan biasanya ada label harganya di negara lain.
Di ini negeri entah mengapa obat tanpa label harga? Juga tidak selalu muncul logo generik pada kemasan obat serta jaminan mutu dari pemerintah. Sebagai pembeli kadang kita bingung mana obat generik, yang mana obat paten. Tahunya obat saja dan mutunya terjamin. Berapa pun harganya kita beli.
Tuan dan puan mungkin sama dengan beta dan Mama Susi yang tidak tahu pasti kapan harga obat naik. Alat untuk tahu harga obat naik cuma mengandalkan ingatan. Misalnya begini. Oh enam bulan lalu beta beli satu strip paracetamol harganya 10 ribu rupiah. Sekarang sudah jadi 15 ribu rupiah. Berarti sudah terjadi kenaikan.
Beta tidak mau menduga yang bukan-bukan alasan tentang obat tanpa label harga itu. Paling bijak jika bapak ibu dokter yang tergabung dalam IDI (Ikatan Dokter Indonesia) atau para ahli kesehatan masyarakat berkenan membantu untuk menjelaskan hal-hal begini kepada orang kecil seperti Mama Susi. Apakah daftar harga obat bukan termasuk hak konsumen untuk tahu?
Jujur saja tuan dan puan, dalam keseharian beta kerap mendengar pertanyaan-pertanyaan sederhana dari orang kecil seperti Mama Susi. Pertanyaan mereka kadang membangunkan kesadaran, mengingatkan betapa kita mudah lupa.
Ikhwal kondisi rumah sakit umum di Kupang, misalnya, mereka bertanya mengapa jumlah tempat tidur tidak pernah bertambah dari angka 371 yang selama ini sudah kerap dirilis manajemen? Sebagai rumah sakit rujukan di Propinsi Nusa Tenggara Timur serta satu-satunya rumah sakit milik pemerintah di Kota Kupang yang melayani rawat inap, jumlah kamar sebanyak itu bisa dilukiskan 'selalu kurang' untuk menampung pasien.
Keluhan pasien kesulitan mendapatkan tempat tidur di RSUD Prof WZ Johannes Kupang bukan baru terjadi sekarang. Keluhan tersebut sudah lama terdengar. Itu sudah menjadi lagu lama. Yang jarang terdengar adalah solusinya. Solusi jangka panjang lewat program kerja terencana.
Dulu begitu riuh rencana membangun rumah sakit baru di Kota Kupang. Rencana itu entah berujung di mana? Sekarang Pemerintah Kota Kupang sudah punya rumah sakit sendiri. Salut! Tetapi mereka baru sanggup melayani rawat jalan. Yang rawat inap tetap saja lari ke RSUD Johannes Kupang. Waktu terus berganti. Kapasitas rumah sakit andalan rakyat Flobamora ya masih seperti dulu. Jadi, Mama Susi mohon bersabar... Jangan lagi tanya beta mengapa demikian? Penjelasan ananda cuma sekian saja. Salam sehat! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 28 Februari 2011 halaman 1
Tangkap
dion bata
LANGKAH cepat ditempuh Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Ir. Esthon L Foenay, KONI NTT dan teman-teman dari Bidang Olahraga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT. Tidak sampai sepekan setelah kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama empat hari ke NTT, 8-11 Februari 2011, NTT telah mendapat kabar pasti tentang pembangunan sarana olahraga yang memadai.
Tuan dan puan kiranya telah mengetahui informasi itu melalui warta media massa. Tanggal 16 Februari 2011, Wagub NTT, Ir. Esthon L Foenay, Sekretaris Umum KONI NTT, George Hadjoh, dan Kepala Bidang (Kabid) Olahraga pada Dinas PPO NTT, Drs. Ary Moelyadi, M.Pd, bertemu Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Mallarangeng, di Jakarta. Mereka bersua Menpora tentu tidak dengan tangan kosong alias sekadar omong-omong saja. Mereka membawa serta proposal rencana pembangunan GOR lengkap dengan maket, perincian biaya yang dibutuhkan serta mengapa harus bangun GOR?
Kepada Wagub Esthon Foenay, Menpora memastikan bantuan dana Rp 10 miliar untuk pembangunan Gelanggang Remaja di kompleks Stadion Oepoi Kupang yang peletakan batu pertama telah dilakukan Menpora pada peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2011. Kementerian Pemuda dan Olahraga juga akan membangun Gelanggang Olahraga (GOR) di Pulau Sumba dan Flores. Kepastian dari Menpora merupakan kabar gembira di tengah minimnya sarana dan prasarana olahraga yang memadai di beranda Flobamora.
Respons cepat serupa itu kiranya mengacu pada pemikiran sederhana. Mumpung kunjungan Presiden Yudhoyono ke NTT masih panas dan segar dalam ingatan sehingga harus segera ditangkap. Segera dikunci lewat eksekusi keputusan konkret. Jika kita lengah atau menunda-nunda, maka bukan mustahil Jakarta akan lupa dan janji pemerintah pusat sekadar manis di bibir saja. Sekadar menghibur pemerintah dan rakyat Flobamora yang menyambut kunjungan presiden dengan antusias. Janji manis itu akan hilang bersama sang waktu.
Kepergian Wagub ke Jakarta menemui Menpora guna memastikan dana pembangunan GOR berlangsung hanya sehari setelah Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, memimpin rapat dengan seluruh pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di lingkup pemerintah propinsi pada Hari Kasih Sayang, 14 Februari 2011. Pesan gubernur dalam rapat itu tegas dan jelas. Setiap pemimpin SKPD agar segera menindaklanjuti janji pemerintah pusat menggelontorkan dana Rp 5,3 triliun untuk program percepatan pembangunan di NTT dengan kementerian terkait. Misalnya Kepala Dinas Pertanian harus segera mengajukan proposal rencana pembangunan kepada Menteri Kehutanan. Kepala Dinas PPO kepada Menteri Pendidikan Nasional, Kepala Dinas Sosial kepada Menteri Sosial dan seterusnya.
Gubenur dan Wakil Gubernur NTT memberi contoh bagaimana bekerja cepat, cerdas dan tuntas. Contoh tersebut mudah-mudahan memberi inspirasi sekaligus melecut semangat para pimpinan SKPD agar dapat bertindak serupa. Ketahuilah masyarakat Nusa Tenggara Timur hari-hari ini sedang menunggu hasil kerja para pejabat daerah ini dalam merepons kunjungan kerja presiden bersama 'satu peleton' menteri Kabinet Indonesia Bersatu 8-11 Februari 2011. Akan segera ketahuan siapa yang bergerak cepat dan kerja cerdas, siapa yang tergopoh-gopoh, siapa yang gagap dan telmi, siapa yang bingung karena tidak tahu harus berbuat apa dan siapa yang cuek bebek alias masa bodoh. Sebanyak 4,7 juta rakyat NTT menunggu reaksi cepat para manajer pemerintahan. Beta percaya mereka sekarang sedang 'tikam kepala' alias bekerja keras untuk mewujudkan itu.
Pasti tidak semudah membalik telapak tangan. Dalam proposal yang diajukan kepada pemerintah pusat mesti jelas peruntukkan dana Rp 5,3 triliun demi percepatan pembangunan di Propinsi NTT. Targetnya apa saja, berapa lama dicapai, kira-kira berapa tenaga kerja lokal NTT yang bisa diserap, misalnya dalam membangun sentra industri garam, pembibitan sapi dan lainnya. Idealnya paper tentang program percepatan pembangunan NTT yang menurut gubernur akan dipayungi Keputusan Presiden RI (Keppres) itu segera terbit dan diumumkan kepada publik. Lembaga perencana pembangunan di ini propinsi mesti tertantang untuk merealisasikan hal tersebut. Lebih cepat lebih baik!
Terkait Keppres Percepatan Pembangunan di NTT, beta bayangkan kaum cerdik pandai dari Undana, Unwira, UKAW, Universitas Muhammadiyah, Universitas Flores dan perguruan tinggi lainnya serta komunitas para cendekia semisal FAN (Forum Academia NTT) tidak tinggal diam. Indah nian bila spirit percepatan pembangunan NTT lewat perlakukan khusus pemerintah pusat menjadi bahan penelitian atau kajian ilmiah dengan rekomendasi yang konkret bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di daerah ini.
Artinya, semua pihak mesti bergerak bersama-sama. Saling menopang. Tidak hanya berpangku tangan dan menyuburkan apriori. Tidak hanya mengeritik atau berteriak dari pinggiran jalan. Beri solusi. Beri alternatif jalan keluar bagi NTT yang tidak sepantasnya miskin ini. Para akademisi NTT hendaknya tidak sekadar bermental tukang. Mereka mesti bekerja dengan spirit kaum cerdik pandai yang menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau sekadar urusan perut.
Terakhir tapi sangat penting adalah kontrol. Menurut beta, koalisasi media, masyarakat sipil dan parlemen mutlak mengontrol pelaksanaannya agar tidak menyimpang dan hanya melahirkan orang kaya baru di NTT melalui cara-cara yang haram. Sudah terbukti, dana pembangunan NTT yang tidak seberapa sejak dulu masih saja terjerumus perkara salah urus. Salam NTT Bisa! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 21 Februari 2011 halaman 1










