Proficiat Sonata

POS KUPANG.COM, LARANTUKA -- Tiga paket calon mengucapkan proficiat kepada pasangan calon yang diusung koalisi Sonata (Soga Naran Lewotanah), Yoseph Lagadoni Herin-Valens Tukan, yang untuk sementara memperoleh suara terbanyak hasil pemungutan suara Pemilu Kada Flotim priode 2011-2016.

Tiga paket yang mengucapkan proficiat itu yakni pasangan Yosep Yulius Diaz-Markus Amalebe Tokan (Dian), Hironimus Semau Johny Odjan-H Ludin Lega (Join) dan paket Yeremias Bunganaen-Kristoforus Keban (RR-Yes). Sementara dua paket calon lainnya, yakni Mondial (Simon Hayon-Fransiskus Diaz Alffi) dan Felix Fernandes-Ismail Arkian masih menunggu hasil akhir proses penghitungan suara yang dilakukan KPUD setempat.



Cabup paket Dian, Yosep Yulius Diaz, Rabu (1/6/2011), mengatakan menerima hasil perhitungan sementara yang kini sudah menjadi konsumsi publik. Dia menyatakan menyampaikan proficiat kepada paket yang mendapat suara terbanyak dari masyarakat Flotim.

"Kita terima hasil perhitungan sementara ini walau kami tahu dalam proses pelaksanaan Pemilu Kada Flotim masih menyisakan banyak carut marut. Ini adalah pilihan rakyat. Kita hormat. Kami sampaikan proficiat buat pasangan yang terpilih. Namun, kita berharap ke depan perlu ada pembenahan dalam proses berdemokrasi, perlu ada pendidikan politik dari pemimpin untuk masyarakat sehingga dapat menekan gesekan-gesekan yang mengakibatkan terjadinya benturan di masyarakat," kata Yusdi, sapaan Yoseph Yulius Diaz.

Dia berharap, pasangan yang memimpin Flotim nanti mampu merekatkan kembali hubungan-hubungan yang sudah retak saat berlangsung Pemilu Kada.

"Rekatkan kembali tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, para pemuda dan lembaga-lembata agama dan adat yang ada untuk memperkuat barisan dalam membangun Flotim. Sebab selama pemilu kada, anak-anak Lewotana tercabik-cabik hanya karena kepentingan-kepentingan para paket. Dan fokuslah bekerja untuk masyarakat Flotim karena kemenangan yang diraih adalah kemenangan rakyat. Jangan buat sekat di antara sesama anak Lamaholot, karena sejahteraan masyarakat adalah keberhasilan pemimpin," kata Yusdi.

Dia juga menyampaikan terikasih kepada pendukung paket Dian. "Kita sudah berjuang maksimal dan hasil yang kita dapatkan juga maksimal. Kerja dua minggu hasilnya empat ribu lebih warga yang memilih kita, ini luar biasa. Saya anak tanah, besar di luar tapi sebagian rakyat Flotim percaya kami," katanya.

Belum Matang
Cabup dari paket Join, Hironimus Semau Johny Odjan juga menyampaikan proficiat kepada paket Sonata yang untuk sementara mendulang suara terbanyak.
"Kami melihat proses demokrasi belum matang. Prores pembelajaran demokrasi belum menyentuh ke akar rumput sehingga yang terjadi adalah pragmatisme. Namun, itulah demokrasi, suara terbanyak dialah pemenangnya. Karena itu, kami menyampaikan proficiat kepada pasangan Sonata yang untuk sementara meraup suara terbanyak. Suara yang diraih adalah suara rakyat dan kami menerima itu. Apalagi, sudah satu tahun rakyat belum memiliki pemimpin defenitif. Rakyat sudah rindu pemimpin defenitif, dan kami menerima hasil sementara ini," kata Johny Odjan.

Meski demikian, Odjan mengatakan masih menunggu keputusan resmi hasil pleno KPUD FLotim.
Cabup pasangan RR-Yes, Yeremias Bunganaen juga menyatakan menerima hasil sementara perolehan suara. "Kami sudah bekerja maksimal namun kami sedikit menyesal dengan hasil yang kami terima karena namanya politik ya seperti itu. Kami sosialisasi dan bekerja begitu gencar, bekerja dengan otak dan otot namun lemah di ongkos. Apa yang diraih Sonata, sambil menunggu keputusan final KPUD, kami terima. Suara rakyat adalah suara Tuhan, vox populi vox dei. Apalagi landasan perjuangan paket kami adalah cinta kasih. Karena itu, ke depan kami berharap paket yang menang mampu mensejahterakan masyarakat dengan membawa Flotim lebih maju," katanya.

Sementara itu, Cabup Felix Fernandez mengatakan masih menunggu hasil keputusan dari KPUD Flotim. "Kami masih menunggu keputusan final KPUD Flotim," katanya.

Cawabup pasangan Mondial, Fransiskus Diaz Alffi yang dikontak, kemarin, mengaku sedang berada di Jakarta dan tidak mengikuti perkembangan. "Saya ada di Jakarta, bisa hubungi sekrtariat (Mondial)," katanya.
Ketua DPD Partai Golkar Flotim, Nani Bethan mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan KPUD FLotim. "Kami masih menunggu hasil pleno KPUD Flotim. Kami akan sandingkan data-data yang dimiliki KPUD Flotim dan selanjutnya melakukan evaluasi untuk menetapkan langkah-langkah," katanya. (iva)

Pos Kupang, 3 Juni 2011 halaman 1

Pasangan Lagadoni Herin Pawai Kemenangan

POS KUPANG.COM -- Meskipun proses penghitungan suara masih berlangsung dan belum ada keputusan resmi KPUD, massa pendukung paket Sonata (Yosep Lagadoni Herin-Valens Tukan) sudah menggelar pawai kemenangan di Larantuka, Rabu (1/6/2011).

Sempat terjadi insiden kecil ketika arak-arakan pawai melintas di jalan raya di Kelurahan Postoh. Beberapa pemuda melempar es batu yang mengenai pendukung paket Sonata. Pawai sempat terhenti dan suasana sempat tegang namun selang beberapa menit, anggota Brimobda NTT langsung terjun mengamankan suasana.


Pendukung Sonata kembali melanjutkan konvoi. Arak- arakan awalnya bergerak dari Waibalun hingga Weri dan kembali ke rumah adat di Waibalun.

Ketua Koalisi Sonata, Antonius Hubertus G Hadjon kepada wartawan, Rabu (1/6/2011), mengatakan, kemenangan yang diraihnya merupakan kemenangan rakyat, bukan kemenangan pribadi atau kelompok.

"Kami yakin, kami sudah menang karena itu kami pawai. Pawai ini spontanitas atas kegembiraan dari para pendukung yang bekerja selama ini untuk paket Sonata. Namun, ini adalah kemenangan rakyat, bukan kemenangan kami perorangan atau kelompok. Ini masyarakat Flores Timur," katanya.


Anton mengakui, proses Pemilu Kada Flotim masih banyak carut marutnya. "Masyarakat terkotak-kotak, namun semua yang terjadi ini adalah untuk mencari bentuk demokrasi yang sebenarnya. Karena itu, para pendukung paket Sonata menyampaikan terimakasih kepada semua masyarakat Flotim yang mendukung Sonata," katanya.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada lima paket calon lain bersama tim suksesnya masing-masing. "Tanpa lima paket tentunya pemilu kada tidak berjalan dan tidak ada yang bisa terpilih menjadi pemimpin. Karena itu, paket Sonata menyampaikan rasa hormat kepada lima paket sebagai sama-sama putra daerah. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Kemenangan adalah milik rakyat. Sekarang kita satukan pikiran membantu pasangan terpilih untuk membangun Flotim," pungkasnya. (iva)

Pos Kupang, 3 Juni 2011 halaman 1

Lagadoni Herin Pimpin Sementara di Flores Timur

LARANTUKA, PK -- Pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Flores Timur (Flotim) yang diusung koalisi Soga Naran Lewotana (Sonata), Yoseph Lagadoni Herin-Valens Tukan, untuk sementara memimpin perolehan suara hasil pemungutan suara Pemilu Kada Flotim, Selasa (31/5/2011).

Data perolehan suara sementara yang diperoleh Pos Kupang, pukul 23.00 Wita, semalam, suara sah yang sudah dihitung mencapai 103.761 suara. Dari jumlah itu, Sonata mendulang 36.618 suara (35,29 persen) disusul paket Mondial (Simon Hayon-Frans Diaz Alffi) yang memperoleh 31.357 (30,22 persen).



Perolehan suara empat paket lainnya tidak sebanyak perolehan dua paket tersebut. Pasangan Felix Fernanez-Ismail Arakian mendapat 13.752 suara, pasangan Yoseph Yulius Diaz-Markus Amalebe Tokan (DIAN) memperoleh 4.882 suara, JOIN (Hironimus Johny Odjan- H. Ludin Lega) mendapat 11.072 suara, Yeremias Bunganaen-Kristofurus Keban memperoleh 6.080 suara. 
Pantauan Pos Kupang di Larantuka, proses pemungutan suara dan penghitungan suara berlangsung lancar. 

Para pemilih berdatangan di TPS-TPS untuk 
memberikan suaranya. Para pemilih bahkan sudah datang ke TPS pada pukul 07.00 Wita pagi.
Proses pemungutan suara berlangsung sampai pukul 13.00 Wita. Bahkan ada TPS yang sudah selesai pemungutan suara sebelum pukul 13.00 Wita.
Usai memberikan suaranya, warga menyaksikan proses penghitungan suara. Setiap pasangan calon yang mendapat suara disambut teriakan kegembiraan pendukungnya.

Sementara itu data resmi perolehan suara sementara belum bisa diperoleh dari KPUD setempat. Proses perhitungan cepat yang dijanjikan KPUD Flotim tidak berjalan. Hingga pukul 18.00 Wita, kemarin, para petugas yang ditempatkan untuk melakukan perhitungan cepat belum melakukan perhitungan.

Pantauan Pos Kupang di beberapa TPS, kemarin, seperti di TPS 1 Lokea, di sini pasangan FF-IA memperolej 114 suara, Sonata 86 suara, DIAN 27 suara, JOIN 47, RR-YES 4 suara dan Mondial 23 suara. 

Di TPS 06, Kelurahan Pukan Tobi Wangi Bao, FF-IA memperoleh 19 suara, Sonata 124 suara, DIAN 6 suara, JOIN 286 suara, RR-YES 10 suara dan Mondial 21 suara.
Di TPS 1 Sarotari, Paket FF-IA mendapat 11 suara, Sonata 65 suara, DIAN 5 suara, JOIN 314 suara, RR-Yes tiga suara dan Mondial 33 suara.

Juru bicara KPUD FLotim, Ernesta Katana yang dihubungi sekitar pukul 23.00 Wita semalam, mengatakan proses perhitungan di KPUD belum selesai karena belum semua data terkumpul dari kecamatan-kecamatan. "Data belum terkumpul semua dan masih dalam perjalanan," katanya. (iva)


Warga Datangi KPUD FLotim

PULUHAN warga, Selasa (31/5/2011) sekitar pukul 08.00 Wita, mendatangi sekretariat KPUD Flores Timur (Flotim) di Larantuka, memprotes nama mereka yang tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Mereka menilai KPUD FLotim mengabaikan hak politik mereka untuk mengikuti pemilihan Bupati-Wakil Bupati Flotim priode 2011-2016.

"Jangan kebiri hak politik kami. Kami sudah menjadi penduduk Pohon Bao sejak lama, tapi nama kami tidak ada dalam DPT. Ada warga yang baru masuk tapi ada nama untuk coblos. Ini aneh tapi nyata," teriak seoarang ibu rumah tangga di depan kantor KPUD Flotim.

Mereka menilai, kinerja KPUD FLotim buruk karena banyak pemilih yang tidak bisa menggunakan hak politik mereka dalam Pemilu Kada. "Mestinya kalau pemilu ditunda suaranya makin naik bukan makin turun. Yang ada suara makin turun. Kami minta, proses pencoblosan dihentikan sambil menunggu penyelesaiaan agar kami bisa menggunakan hak kami. Apalagi, yang sedang terjadi banyak terjadi pendobelan nama, dan banyak pemilih yang tidak ada dalam kelurahan itu tapi ada namanya," teriak ibu yang lain.


Sementara di dalam ruangan, Ketua KPUD Flotim, Aloys Kene Masan berdialog dengan utusan yang diwakili, Ny. Fat, Mas'ad dan beberapa yang lain. Ketua KPUD didampingi Wakapolres Flotim, Kompol Agustinus Nggana.

Dalam ruangan itu, mereka meminta Ketua KPUD Flotim memberikan kebijakan kepada merka agar mereka dapat menggunakan hak pilih mereka. "Masa pada pemilu legislatif dan presiden kami ikut coblos, tapi ketika memilih bupati dan wakil bupati kami, hak kami tidak diakomodir. Kami minta pertanggungjawabkan. Kalau tidak, hentikan dulu proses pencoblosan. Apalagi ada banyak kartu pemilih yang tertahan di kantor Lurah Pukan Tobi Wangi Bao," kata Arsyad.

Terhadap permintaan warga tersebut, Kene Masan mengatakan bahwa pemilih yang namanya tidak ada dalam DPT tidak bisa ikut mencoblos.

Terhadap pernyataan Aloys tersebut, warga sempat marah namun akhirnya mereka memilih keluar ruangan dan duduk di luar. "Lebih baik kita keluar, tidak ada solusi duduk di sini, Apalagi jam coblos hampir berakhir," kata Ny. Fat.

Di Kelurahan Pohon Bao diperkirakan sekitar 200 lebih pemilih yang tidak terdata dalam DPT. (iva)

Pos Kupang, 1 Juni 2011 halaman 1

134.958 Pemilih di Flotim Coblos 31 Mei

LARANTUKA, PK -- Sebanyak 134.958 pemilih yang tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Flores Timur (Flotim) siap mencoblos hari ini, Selasa (31/5/2011). Mereka memilih enam paket calon Bupati-Wakil Bupati Flotim yang mengikuti Pemilu Kada Flotim priode 2011-2016.

Pemilih terbanyak didominasi perempuan sebanyak 74.475 orang dan laki-laki 60.483 pemilih. Para pemilih itu menggunakan haknya mencoblos hari ini di 373 tempat pemungutan suara (TPS) yang sudah dibangun di 226 desa.



"Pada H minus satu (H-1), semua TPS sudah dibangun. Dan KPU telah menyelesaikan dana untuk pembangunan TPS," kata Juru Bicara KPUD Flotim, Ernesta Katana.

KPUD, katanya, tidak membuat TPS khusus di rumah sakit maupun rumah tahanan (rutan) sebagaimana peraturan KPU Nomor 19/2008. Para pasien rawat inap dan keluarganya yang mendampingi, serta para petugas medis yang sedang bertugas, mencoblos di TPS terdekat.

Kapolres Flotim, AKBP Eko Kristianto, SiK, M.Si, didampingi wakilnya, Kompol Agustinus Nggana, Senin (30/5/2011), mengatakan, semua personel polisi, baik di Polres Flotim maupun personel yang di-BKO Polda NTT ke Flotim, yaitu total 686 personel, telah disebar di lapangan untuk mengawal proses pendropingan logistik maupun menjaga keamanan pada pemungutan suara sampai penghitungan suara.

"Untuk pengamanan, satu TPS satu anggota polisi yang dibantu aparat TNI dan Linmas. Sedangkan untuk kecamatan ditempatkan satu perwira sebagai pengendali di tingkat kecamatan. Hingga saat ini, situasi di lapangan dalam kondisi aman," kata Eko.

Pantauan Pos Kupang, kemarin, di Larantuka, warga bersama membangun TPS untuk digunakan hari ini. Ada TPS menggunakan kompleks sekolah, kantor dan ada yang membangun tenda di pekarangan warga

Belum Terima Kartu Pemilih
Sebanyak 100 lebih pemilih di kompleks Perumahan Batu Ata, Kelurahan Pohon Bao, Kecamatan Larantuka, hingga Senin (30/1/2011) malam belum menerima kartu pemilih dan surat undangan untuk mencoblos, hari ini.
Warga yang belum menerima kartu pemilih umumnya sudah menetap di kompleks perumahan tersebut. 

Sebelum menghuni perumahan tersebut, mereka sudah mengantongi surat pindah dari kelurahan asal, seperti Kelurahan Posto, Kampung Baru, Amagarapati dan Lewerang. Sebagian lain masih didata sebagai pemilih di kelurahan asal, Postoh.


Beberapa warga kepada Pos Kupang, mengaku kecewa terhadap kinerja petugas pendata karena tidak mendata mereka menjadi pemilih. "Kami merasa rugi dan kecewa karena hak kami diabaikan. Kami sudah lama tinggal di perumahan tapi tidak didata. Di kelurahan asal pun nama kami sudah dicoret. Kami minta kebijakan KPU untuk mengakomodir kami," kata Ny. Asty, dibenarkan juga oleh Abdullah, Ny. Esti, Ama Kia dan sejumlah warga lainnya.

Menurut Abdullah, dalam keluarganya tidak ada satu pun yang menerima surat undangan. Sama juga dengan Ny. Esti dan suaminya dan sejumlah warga lainnya di Perumahan Batu Ata.

Ketua RT 20, RW 03, Abdul Kadir mengakui banyak warga yang mengadu kepadanya karena tidak terakomodir sebagai pemilih. "Banyak warga yang mengadu ke saya bahwa mereka tidak didaftarkan menjadi pemilih. Saya cek ternyata banyak. Ini baru di RT saya, belum di RT lain. Perumahan ini adalah 200 lebih kepala keluarga," kata Abdul Kadir.

Ia berharap ada kebijakan KPUD untuk mengakomodir pemilih yang belum terdaftar dalam daftar pemilih tetap. "Memang ada yang cuek, anggap tidak penting. Tapi banyak juga yang merasa rugi karena hak mereka diabaikan," katanya.

Menurut Ernesta Katana yang dihubungi sebelumnya, pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT tidak bisa mencoblos, kecuali pemilih yang terdaftar di DPT namun tidak menerima kartu pemilih dan surat undangan.
"Kalau yang tidak punya kartu pemilih dan surat panggilan tapi nama mereka dalam DPT boleh memilih dengan membawa KTP atau SIM. Namun, yang tidak ada nama dalam DPT maka tidak dapat memilih," katanya. (iva)

Dinsos Drop Beras

SEHARI sebelum pemungutan suara Pemilu Kada Flotim, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Flores Timur (Flotim) mendrop beras bantuan sosial (bansos) ke Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong dan ke Pantai Besar, Kecamatan Larantuka.

Sekitar 50-an pendukung paket calon Hironimus Semau Johny Odjan-H. Ludin Lega (JOIN) memrotes dinas tersebut. Mereka menuding paket calon tertentu memanfaatkan kesempatan untuk menuai simpati masyarakat dengan mendrop beras bansos pada hari Senin (30/5/2011) itu.

Syaiful Sengaji yang mengkoordinir pendukung paket JOIN, mempertanyakan alasan Dinsos mendrop beras bansos pada masa tenang.

"Kami menduga ada muatan politik dalam pembagian 
beras bantuan yang dilakukan Dinas Sosial. Kalau mau bagi mestinya bukan saat ini, tapi jauh-jauh hari atau nanti dulu setelah pemilu," kata Syaiful.

Dari kantor Dinsos, pendukung JOIN menemui Kapolres Flotim, AKBP Eko Kristianto, di kantornya. Mereka diterima Kapolres dan sejumlah perwira di Polres Flotim.
Kepada Kapolres Kristianto, para pendukung JOIN mengatakan bahwa bantuan sosial apapun harusnya tidak didrop pada masa tenang karena dapat menimbukan konflik. 

"Kami minta polisi untuk menangani masalah ini agar tidak terjadi konflik di tengah-tengah masyarakat. Apalagi bantuan di saat masa tenang Pemilu Kada Flotim," kata Syaiful.

Kapolres Kristianto usai pertemuan dengan para pendukung JOIN, melakukan pertemuan dengan Kadis Sosial dan Tenaga Kerja Flotim, Kor Carfallo. "Kita minta proses bantuan lanjutan menunggu selesai pemilu kada," kata Eko.

Kor Carfallo menjawab wartawan, mengatakan, bantuan yang disalurkan pada hari Senin (30/5/2011) tidak ada hubungannya dengan masa tenang Pemilu Kada karena ditujukan kepada panitia Gereja Lewokluok dan panitia pembangunan Kapela Pantai Besar.

"Bantuan untuk Gereja Lewokluok semestinya diambil pada tanggal 26 Mei 2011 lalu namun kepala desanya minta ambil tanggal 30 Mei. Karena itu, sebagai pemerintah kami melayani ketika mereka ambil. Apakah salah kami melayani masyarakat. Tidak ada pikiran untuk kepentingan politik karena beras bantuan dua ton itu untuk gereja, bukan masyarakat. Sementara beras untuk Kapela Pantai besar ditujukan ke panitia, bukan masyarakat. Dan beras ini bantuan dari Gubernur NTT ketika gubernur melakukan kunjungan kerja di Flotim dan dijanjikan bantuan untuk kapela. Apakah ini salah? Kami melayani masyarakat tanpa melihat apakah hari tenang atau tidak, karena hari itu adalah hari kerja, bukan hari libur," tambahnya.

Ketua Panwas Permilu Kada Flotim, Mardan Patiraja, S.H mengaku sudah menyelesaikan masalah tersebut. "Masalahnya sudah selesai. Kebetulan beras tersebut belum didrop sehingga kami minta tidak didrop hingga Pemilu Kada selesai. Dan, permintaan itu disetujui pemerintah," katanya. (iva)

Pos Kupang, Selasa 31 Mei 2011 halaman 1

4 Juli Coblos Ulang di Lembata

LEWOLEBA, PK---Pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati Lembata dari paket TITEN (Herman Loli Wutun-Viktus Murin) dan Paket Lembata Baru (Eliaser Yentji Sunur-Viktor Mado Watun) bertarung ulang pada Pemilu Kada Lembata putaran kedua. Tanggal 4 Juli 2011 ditetapkan sebagai hari pencoblosan untuk memilih satu dua paket ini untuk pemimpin Lembata lima tahun ke depan.

Pemilu Kada Lembata mesti menjalani dua putaran karena hasil pemilu putaran pertama tidak ada satu paket yang keluar sebagai pemenang. Dari rapat pleno terbuka penetapan hasil rekapitulasi penghitungan perolehan suara tingkat kabupaten dan penetapan pasangan calon terpilih di Gedung Damian Lewoleba, Rabu (25/5/2011), paket TITEN mengantongi perolehan suara terbanyak, yakni 15.101 (26,4 persen), diikuti paket Lembata Baru yang mendulang suara 13.083 (22,9 persen). Berturut-turut kemudian Paket JONSON 8.798 (15,4 %), Paket AYO 6.914 (12,1 %), Paket LiRik KusPlus 6.800 (11,9 %) dan terakhir Paket SINAR 6.406 (11,2 %).



Dengan komposisi perolehan suara seperti ini, maka tidak ada paket yang menang karena tidak mencapai 30 persen sebagaimana disyaratkan Undang-undang Pemilu Kada. Setelah rapat pleno penghitungan suara, KPUD Lembata menetapkan paket TITEN dan Lembata Baru untuk maju lagi pada putaran kedua. Ketetapan ini dituangkan dalam Surat Keputusan KPUD Lembata nomor 25 tahun 2011 dan dimuat dalam berita acara KPU Kabupaten Lembata Nomor 29/BA/KPU-LBT/V/2011 tentang penetapan pasangan calon pemenang pertama dan pemenang kedua dalam pemilu kada Lembata tahun 2011.
Mengenai pemilu kada putaran kedua, Ketua KPUD Kabupaten Lembata, Alexius Rehi, SH, mengatakan, berdasarkan putusan KPUD Nomor 24 dan 25 itu, maka pemilu kada Lembata putaran kedua otomatis dilakukan. 

"Untuk putaran kedua, kita tetap mengacu pada lampiran keputusan KPUD Nomor 8 tahun 2010 tentang tahapan dan jadwal yang telah dirancang hingga putaran kedua. Yang akan kita lakukan adalah persiapan teknis ke dalam. Prosesnya akan dimulai tanggal 30 Mei ini dengan pengadaan/pendistribusian perlengkapan pemilu kada sampai dengan KPPS sampai tanggal 20 Juni 2011. Sedangkan pemungutan suaranya tanggal 4 Juli 2011," jelas Rehi.

Disaksikan Pos Kupang, rapat pleno terbuka kemarin dipimpin Ketua KPUD Kabupaten Lembata, Aleksius Rehi, SH, didampingi empat anggota lainnya. Hadir para saksi dari pasangan calon, para anggota PPK dan PPS dan dari pasangan calon bupati dan wakil, Anthanasius Aur Amutoda, Bernadus Boli Hipir, calon Wakil Bupati paket TITEN, Viktus Murin bersama istri dan calon wakil bupati dari paket Lembata Baru, Viktor Mado Watun. 

Turut hadir Kapolres Lembata, Kajari Lewoleba dan Ketua PN Lembata. Acara ini dimulai sekitar pukul 09.00 Wita hingga pukul 18.45 wita. Seluruh proses berjalan lancar dan aman meski ada protes dari beberapa saksi. (gg)


15 Persen Tidak Pilih

PADA Pemilu Kada Lembata putaran pertama, dari total daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 70.977, yang menggunakan hak pilihnya hanya 59.870 atau sebesar 84,35 persen, sementara 11.107 atau 15,65 persennya tidak menggunakan hak pilihnya. 

Dalam rapat pleno terbuka penetapan hasil rekapitulasi penghitungan perolehan suara tingkat kabupaten dan penetapan pasangan calon terpilih di Gedung Damian Lewoleba, Rabu (25/5/2011), terungkap bahwa dari 11.107 atau 15,65 persen itu, 58,5 persen (6.498) di antaranya adalah pemilih perempuan dan 41,5 persen atau 4.609 adalah pemilih laki-laki.

Data lainnya, total surat suara yang didistribusikan untuk Pemilu Kada Lembata adalah dari sebanyak 72.846 surat suara, yang terpakai sebanyak 59.943, yang rusak sebanyak 138 dan surat suara yang tidak terpakai sebanyak 12.765. Total surat suara tidak sah sebanyak 2.841.

Menurut beberapa Ketua PPK yang dimintai komentar dan Jurubicara KPUD Kabupaten Lembata, Satria Wulan Betekeneng, Selasa (24/5/2011), salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya jumlah warga yang tidak menggunakan hak pilih adalah karena tidak diberlakukannya TPS berjalan seperti pemilu sebelumnya. (gg)

Pos Kupang, 26 Mei 2011 halaman 1

Semua Paket di Lembata Yakin Menang

LEWOLEBA, PK -- Enam paket peserta Pemilu Kada Lembata sama-sama yakin menang satu putaran dengan perolehan suara 30-an sampai 50-an persendari total pemilih 70.952 jiwa. Pemungutan suara dilakukan hari ini, Kamis (19/5/2011).

Para paket melalui tim suksesnya mengklaim memiliki basis massa yang jelas sehingga optimis menang dalam satu putaran pemilihan. Mereka juga menyatakan siap menang, tetapi juga siap menerima kekalahan. Yang menang akan merangkul yang kalah, sebaliknya yang kalah akan mendukung yang pasangan menang
demi Lewotana Lembata.



Paket Nomor Urut 1, SINAR (Anthanasius Aur Amuntoda-Bernadus Boli Hipir) yang merupakan pasangan birokrat ini yakin menang satu putaran
dengan perolehan suara sekitar 31 persen atau 24 ribu suara. Wilayah yang diklaim sebagai kantong suara bagi paket ini adalah Kecamatan Omesuri, Buyasuri,
Nagawutung bagian selatan, Wulandoni bagian selatan, Ile Ape, Ile Ape Timur dan Nubatukan. Paket ini telah
menyiapkan 220 saksi untuk mengawal proses pemungutan suara di 220 TPS. 

"Dengan apa yang telah kita lakukan selama ini, paket kami sudah siap menang menang satu putaran. Kantung
massa kita minus Kecamatan Lebatukan karena selama masa kampanye, kecamatan Lebatukan tidak maksimal," kata tim pemenangan paket ini, Ferry Koban, Rabu (18/5/2011) sore.

Paket Nomor Urut 2, Lembata Baru (Eliaser Yentji Sunur-Viktor Mado Watun) adalah pasangan dari golongan muda yang berlatar belakang politisi. Yance Sunur adalah anggota DPRD Kota Bekasi dan Viktor Mado Watun adalah anggota DPRD NTT selama dua periode.

Melalui tim pemenanganya, Hyasintus Burin, paket PDIP ini, juga mengklaim menang satu putaran. Paket ini bahkan menyiapkan 451 saksi, dimana 220 orang untuk bertugas di 2020 TPS, sembilan saksi di PPK dan dua saksi di KPUD. 

Paket ini menargetkan perolehan suara sekitar 40 persen atau 30 ribu suara. Basis massa andalan paket ini adalah Kecamatan Buyasuri, Omesuri, Ile Ape dan Ile Ape Timur. "Yang lainya hanya untuk tambah-tambah saja, minimal 1.000 suara saja setiap kecamatan, kita sudah menang," kata Burin, kemarin.

Paket Nomor Urut 3, LiRik KusPlus (Bediona Philipus-Fredrikus W Wahon) adalah pasangan muda energik yang dibaptis sebagai paket anti tambang. Melalui Ketua Koalisi Pondok Perubahan, Doni Astrianus Kares, paket ini yakin menang satu putaran dengan basis massa merata untuk setiap kecamatan. Paket yang diusung gabungan partai gurem yang tergabung dalam Koalisi Pondok Perubahan (PKPI, PPRN, PKDI, Barnas, PNBKI, Kedaulatan, Pakar Pangan, PPIB) ini mengandalkan pemilih rasional dari kalangan generasi muda. 

Paket ini menyiagakan 1.100 saksi dengan alokasi setiap TPS ada lima saksi. "Kita yakin menang dan perolehan suara merata di setiap kecamatan," kata
Kares. 

Paket Nomor Urut 4, AYO (Andreas Nula Liliweri-Yoseph Meran Lagaor) merupakan pasangan birokrat. Andreas adalah Wakil Bupati Lembata dan Yosep adalah merupakan wakil ketua DPRD Lembata, mantan Lurah Lewoleba dan Camat Nubatukan. Pasangan ini mengandalkan perolehan suara di Nagawutung, Wulandoni, Nubatukan, Atadei, Buyasuri dan
Omesuri. 

Melalui divisi humasnya, Antonius Gelat, paket ini menyatakan menang satu putaran dengan perolehan suara di atas 40 ribu suara atau lebih dari 50 persen. "Saksi yang kami siapkan ada 440 dan untuk
setiap TPS ada dua orang," kata Gelat. 

Paket Nomor Urut 5, TITEN (Herman Loli Wutun-Viktus Murin), adalah paket yang diusung Partai Golkar. Paket ini pun optimis menang satu putaran dengan
perolehan suara lebih dari 50 persen.

Paket ini mengklaim memiliki basis pendukung di Nubatukan, Lebatukan, Atadei, Wulandoni, Buyasuri dan Ile Ape. "Melihat perkembangan selama ini, kami yakin menang satu putaran dengan perolehan suara di atas 40 ribu," kata Divisi Humas Paket TITEN, Piter Bala Wukak. Saksi yang telah disiapkan, katanya sebanyak 440 orang untuk 220 TPS.

Paket Nomor Urut 6, JONSON (Yohanes Lake-Simon Krova), melalui tim pemenangannya, Servas Ladoangin, mengaku sudah menyiapkan 220 orang saksi untuk mengawal proses pemungutan dan perhitungan suara di 220 TPS, ditambah sembilan untuk PPK.

Paket ini yakin menang satu putaran dengan target perolehan suara minimal 22 ribu suara. "Penumpang dasar (basis massa) di Kedang (Buyasuri dan Omesuri) yang memiliki 20 ribu pemilih. Minimal kita
dapat 12 ribu di Kedang, di Nagawutung dan Wulandoni masing-masing 2.000 suara, Atadei minimal 1.000, Lebatukan 700, Ile Ape Timur seribu, Ile Ape 2.500 suara dan Nubatukan kita targetkan 3.500 suara,"
kata Ladoangin. (gg)

Pos Kupang, 19 Mei 2011 halaman 1

Takdir Messi

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

Lionel Messi
SERGIO Batista mungkin satu-satunya manusia bola di bumi yang tidak peduli hasil akhir laga final ke-17 kejuaraan antarklub Eropa (Liga Champions) Sabtu malam, 28 Mei 2011 di Stadion Wembley, London. Barcelona kalah atau menang, Lionel Messi menangis atau tertawa, tidak ada bedanya bagi Batista.

"Sebab tak ada lagi yang diperjuangkan Lionel untuk menjadi pemain terbaik sepanjang sejarah bola, kecuali satu gelar yaitu Piala Dunia," kata Batista, pelatih tim nasional (timnas) Argentina yang melanjutkan jabatan itu pasca kegagalan Maradona di Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

"Legenda Argentina Diego Maradona dan Messi sama-sama pemain besar. Maradona telah menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa, Lionel berada di jalur itu. Saya ingin melihat dia memegang tropi Piala Dunia di Brasil 2014," kata Batista yang mengangkat Messi sebagai wakil kapten timnas Argentina untuk Copa America, Juli 2011 mendatang.

Sergio Batista menyampaikan pesan yang benar tentang Lionel Messi, pemain paling fenomenal dalam sejarah klub Barcelona dengan kawanan penggemar tak terhitung banyaknya di seluruh dunia. Mungkin termasuk Anda. Jika Messi sukses mengantar El Barca merebut tropi Liga Champions Eropa dengan menekuk Manchester United (MU) di Wembley malam ini, gelar itu bukanlah yang luar biasa. Kalau Barcelona kalah pun tak ada bedanya. Toh Messi sudah meraih semua gelar terbaik sepakbola di level Eropa dan dunia. Cuma satu yang belum dia miliki yaitu Piala Dunia. Maka Messi sangat sensitif jika bicara tentang Piala Dunia karena Argentina dan penggemar bola semesta hanya mengenang Maradona, bintang terakhir yang mempersembahkan kepada negeri itu tropi World Cup 1986.

Dua rekan mungilnya di Barcelona, Andres Iniesta dan Xavi Hernandez memahami kegalauan Messi. Mereka sangat hati-hati menyinggung Piala Dunia manakala bercengkerama dengan Lionel, baik di dalam maupun di luar lapangan. Sebab takdir Messi dalam buku sejarah bola adalah menangis di Jerman 2006 dan Afrika Selatan 2010. "Di Afrika Selatan tahun lalu saya menghibur dia. Saya tahu hatinya remuk," kata Iniesta, pahlawan Spanyol di final Piala Dunia 2010 melawan Belanda.

Lionel Messi masih muda dan berpeluang mewujudkan impiannya. Dia tidak mau takdir bola menempatkannya serupa dengan bintang dunia lainnya yang gagal di Piala Dunia seperti Roberto Baggio dari Italia yang gagal di Piala Dunia USA 1994 atau bintang Inggris, David Beckham. Meski begitu piawai sebagai tukang umpan dan penembak bola-bola mati, Bechkam gagal mengantar Inggris menjadi juara Eropa dan Piala Dunia selama kariernya. Takdir Beckham dan Baggio adalah bintang klub, bukan yang terbaik untuk negara di ajang Piala Dunia.

Pelatih Barcelona, Josep "Pep" Guardiola berterima kasih kepada Batista yang mengingatkan dirinya soal motivasi Messi menjelang laga krusial di Wembley. Tugas Pep Guardiola tidak lagi di tataran teknis karena Barcelona punya segalanya. Yang paling berat justru merawat motivasi Messi agar tetap on fire demi membakar MU di Wembley. Berbahaya bila Messi kehilangan motivasi intrinsik menuju yang terbaik. Tanpa mengabaikan peranan pemain lainnya, nyawa tim Catatan ada di kaki dan kepala Messi.

Rupanya pesan itu sudah merasuk Messi. Minggu lalu Lionel berkata kepada Goal, gengsi final Liga Champions setara dengan Piala Dunia. "Pertarungan dalam ajang ini melibatkan pemain terbaik di dunia dan biasanya mempertemukan dua tim terbaik di partai final. Jadi merupakan kehormatan bagi saya dapat menjadi bagian dari laga final," kata Lionel. "Senang mendengar kata-katanya itu," ujar Guardiola.

Pep sadar betul motivasi terbaik anak asuhnya musim ini sudah berlalu. Itulah titik lemah Barcelona yang bisa dimanfaatkan MU. Pelatih MU, Sir Alex Ferguson sudah membaca gelagat itu dengan pura-pura memuji Barcelona sebagai favorit juara, sementara menempatkan timnya sebagai underdog.

Momentum emas Barca adalah memburu gelar juara Liga Spanyol dan menyingkirkan musuh abadi mereka, Real Madrid di semifinal Liga Champions 2011. Gelar juara La Liga yang ketiga secara beruntun sudah di tangan. Lionel Messi dkk pun sukses menghentikan Los Galacticos Madrid dengan skor 2-0 dan 1-1 di semifinal. Secara pribadi, rivalitas bintang Liga Spanyol musim ini antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo (Madrid) terbukti memihak Messi. Produktivitas gol Ronaldo di liga memang lebih baik. "Tapi kami menang perang. Kami juara liga dan kini di final Champions," kata Carles Puyol.

Selain menjaga motivasi intrinsik Messi dkk agar tetap membara di Wembley, pekerjaan Pep Guardiola adalah merawat soliditas tim. Pep sangat mungkin tetap membuka laga malam ini dengan formasi andalannya 4-3-3. Pep membumikan taktiknya lewat atraksi operan cepat yang dikenal dengan tiki-taka. Seluruh pemain bekerja keras dilandasi keindahan dan kelenturan tubuh.

Selama tiga tahun melatih Barcelona dengan koleksi enam gelar, Pep sudah terbukti sukses mengawinkan gaya dribel pendek ala Catalan dengan kecermatan dan kecepatan bertukar posisi pemain warisan legenda Ajax, Johan Cruyff. Gaya itu telah menempatkan Barcelona sebagai tim elite dengan statistik penguasaan bola paling tinggi di Eropa.

Dengan target menguasai bola selama mungkin dan menghabisi MU di lini tengah, formasi tim inti Barcelola tak akan bergeser jauh dari dari Victor Valdes di bawah mistar, Daniel Alves, Gerard Pique, Javier Mascherano, Carles Puyol atau Eric Abidal, Sergio Busquets, Xavi, Andres Iniesta; Pedro atau Ibrahim Avellay, Lionel Messi, David Villa atau Seydou Keita.

Pasukan Guardiola akan menghadapi daya gempur MU yang sejak dulu fanatik pada format 4-4-2 adonan Sir Alex Ferguson. Edwin van der Sar, Patrice Evra, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Rafael Da Silva, Michael Carrick, Darren Fletcher, Ryan Giggs, Nani atau Park Ji Sung, Wayne Rooney, Dimitar Berbatov atau Javier "Chicharito" Hernandez hampir pasti menjadi pilihan pertama Fergie -- sapaan akrab Alex Ferguson -- untuk menyukseskan misi balas dendam kekalahan 0-2 dari Barcelona di Stadion Olimpico Roma, 27 Mei 2009 lalu.

Fergie, salah seorang pelatih terbaik abad ini dengan koleksi 47 trofi selama kariernya di Old Trafford tentu sudah merancang skema menjinakkan trio Messi-Iniesta-Xavi. Fergie tahu betul Iniesta dan Xavi adalah pekerja keras, pelayan yang paham kemauan Messi merobek gawang Edwin van Der Saar setelah meliuk-liuk di antara kaki Evra, Vidic dan Rio Ferdinand.

Fergie pun mewaspadai pemain berwatak perusak, David Villa. Villa yang posisi idealnya di wing kiri bisa mengganggu perhatian lawan saat dia bergerak zig zag ke tengah dan kanan untuk memberi ruang kepada Messi agar lepas dari kawalan. Jika Villa, Messi atau Keita dikawal, masih ada Xavi dan Iniesta yang akan menari-nari dari lini kedua. Konsistensi menjadi kunci.

Guardiola mengharapkan MU main terbuka karena itulah jalan terbaik Barcelona memenangi laga. Menghadapi lawan yang defensif, permainan Barcelona lazimnya tidak berkembang. Harapan itu mungkin sulit terwujud karena Fergie kemungkinan memilih rapatkan pertahanan dulu baru menyerang dengan bola panjang langsung ke jantung pertahanan. Sir Alex diprediksi menghindari duel lapangan tengah karena kuartet MU yang dikoordinir Ryan Giggs dan Park Ji Sung bakal keteteran menghadapi soliditas Xavi-Iniesta, pemain kunci Spanyol yang sukses di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010.

Statistik UEFA menunjukkan MU adalah tim dengan pertahanan terbaik di Liga Champions musim ini. Juara Liga Inggris 2011 itu hanya kebobolan empat gol sejak penyisihan grup. Situasinya sedikit berbeda dengan Barcelona. Pilar lini pertahanan Barca, Carles Puyol, Gerard Pique dan Eric Abidal kerapkali keasyikan membantu lini tengah sehingga lupa posisi. Dengan modal pertahanan kokoh dan agresivitas yang mengandalkan kecepatan, MU bakal merepotkan Barcelona. Konsentrasi El Barca bisa rusak bilamana MU mencetak gol lebih dahulu pada 25 menit pertama. Sebaliknya MU sulit bangkit manakala kebobolan lebih dulu dan permainan Barcelona konsisten hingga akhir.

Rekor pertemuan kedua klub di berbagai level kompetisi berimbang. Laga final di Wembley 2011 merupakan pertemuan ke-11 antara Barcelona dan MU. Saat ini, kedua tim mengoleksi tiga kemenangan dan empat partai berakhir seri. Barcelona menang dua tahun lalu, sementara MU unggul pada final Piala Winner 1991 di Rotterdam. Kedua tim pun mengincar tropi Liga Champions keempat, untuk menyamai perolehan Ajax Amsterdam, Bayern Muenchen dan memperpendek jarak dengan Liverpool (5), AC Milan (7) serta Real Madrid (9).

Sampai semalam bursa taruhan dunia lebih mengunggulkan Barcelona ketimbang MU. Apa komentar Guardiola dan Fergie? Keduanya tidak percaya. "Saya tidak percaya ramalan. Ini permainan bola bukan judi," kata Pep. "Kami sudah berulangkali menang justru ketika tidak diunggulkan di bursa taruhan," demikian Fergie. Wow! Yang pasti dua hari menjelang laga final malam ini atau Minggu (29/5/2011) dinihari Wita, Pep dan Fergie menjanjikan pertandingan memikat. Mudah-mudahan janji itu terwujud di Wembley. Selamat menonton!

Pos Kupang, Sabtu 28 Mei 2011 halaman 1

Artikel ini dibuat menjelang pertandingan final Liga Champions Eropa ke-17 antara Barcelona vs Manchester United di Stadion Wembley London. Barcelona akhirnya menang 3-1 dan Messi menyumbang satu gol serta terpilih sebagai man of the match.


Nonton gol-gol terbaik Messi di SINI

Dor!

I Love You. Itulah kata terakhir Philip Chlanda kepada sang pacar sebelum ia menembak kepalanya dengan pistol dan tewas seketika. Cemburu buta menyebabkan kisah asmara polisi berusia 29 tahun tersebut berakhir tragis.

Philip, salah seorang polisi di Kota New York, Amerika Serikat itu, seperti disiarkan NYDailyNews, Kamis (19/5/2011), nekat menembak kepalanya di depan sang kekasih karena dia merasa akan ditinggalkan. Philip melihat profil Facebook pacarnya yang mengindikasikan kalau sang kekasih telah melirik pria lain.



Philip rupanya tidak kuat menghadapi kemungkinan putus cinta dengan kekasihnya. Kasus bunuh diri karena cinta dilakukan Philip setelah mereka bertengkar hebat. "Dia punya kesan bahwa sang pacar mungkin bakal meninggalkannya," kata Paul Browne, juru bicara kepolisian setempat. Akhirnya jalan pintas bunuh diri pun menjadi pilihan Pak Polisi.

Jalan pintas yang sama ditempuh rekannya sesama profesi namun beda negara dan bangsa, Brigadir Satu (Briptu) Edwin Leihu (23) di Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, hari Sabtu 28 Mei 2011. Anggota Brigade Mobil (Brimob) itu bunuh diri setelah bertengkar dengan sang kekasih. Motif pertengkaran Edwin dengan kekasihnya belum terkuak, namun cara bunuh dirinya mirip aksi Philip di New York. Tiga butir peluru menembus kepala Edwin dari pistol yang ditembakkan Edwin sendiri dari bawah dagunya. Ngeri!

Anggota polisi mengakhiri hidup lewat bunuh diri. Bukankah kasus serupa makin banyak terjadi di negeri ini? Dalam tiga tahun terakhir -- menurut data yang dihimpun dari laporan media massa terjadi sedikitnya 16 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang melanda aparat kepolisian RI. Tahun ini tercatat tiga kasus hingga bulan Mei 2011. Hampir 99 persen aksi bunuh diri oleh polisi menggunakan senjata api. Dalam kasus-kasus yang terjadi di Indonesia, selain polisi menembak diri sendiri karena suatu sebab ada juga polisi tembak sesama rekannya lalu bunuh diri, tembak istri atau kekasih kemudian dor kepala sendiri!

Di Indonesia, tuan dan puan masih sulit menemukan data spesifik yang akurat dan mudah diakses tentang kasus bunuh diri, apalagi kasus bunuh diri aparat kepolisian. Kuat kesan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) belum menempatkan perkara tersebut sebagai agenda penting dalam konteks pembinaan SDM Polri dan penguatan kelembagaan. Rekan polisi mati bunuh diri dipandang sebagai peristiwa kemanusiaan biasa, sama saja dengan kasus bunuh diri yang melanda warga masyarakat sipil lainnya. 

Sebuah penelitian oleh lembaga independen tahun 1994 mengungkap fakta miris di Departemen Kepolisian Kota New York, AS. Dalam kurun waktu sepuluh tahun (1984-1994), sebanyak 137 petugas kepolisian meninggal saat menjalankan tugas. Tapi dalam periode yang sama terdapat 300 kematian di departemen kepolisian akibat kasus bunuh diri. Publik New York terguncang menatap angka ini. Publik bereaksi lantaran data tersebut tidak pernah dipublikasikan kepada masyarakat secara transparan. Artinya, polisi menutup-nutupi kasus bunuh diri anggotanya.

Kepolisian New York akhirnya melakukan reformasi mulai dari proses rekrutmen anggota, kurikulum pendidikan hingga beban tugas yang fair bagi setiap petugas kepolisian di salah satu kota terbesar Amerika Serikat itu. Keterlibatan psikolog kemudian menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap personel. Manakala seorang anggota polisi berperilaku aneh yang berindikasi stress atau putus asa, maka dia segera masuk kelas konseling. Dibebastugaskan sementara waktu. 

Sejak itu terjadi perubahan signifikan, yakni angka bunuh diri menurun drastis. Bahwa ada kasus bunuh diri seperti yang menimpa Philip Chlanda, itu merupakan pengecualian. Toh tidaklah mungkin kasus serupa nihil selamanya.

Pengalaman New York boleh jadi sudah lama menghampiri institusi Polri. Banyak kasus bunuh diri anggota yang ditutup-tutupi atau dikemas ke publik sebagai informasi yang tidak murni lagi. Kecenderungan terkini di mana makin banyak kasus bunuh diri di kepolisian mestinya menjadi momentum bagi Polri melakukan pembenahan lebih sungguh. Apalagi tantangan Polri ke depan tidak bertambah enteng. Modus kejahatan makin kompleks. Siapa pun warga bangsa ini kiranya tidak mau hidup berdampingan dengan polisi yang cepat stres, mudah putus asa dan riang menembak diri sendiri untuk mengakhiri hidup yang indah ini. Sebagai pelindung masyarakat idealnya polisi lebih tangguh secara fisik dan mental.

Banyak suara di tengah masyarakat yang mempersoalkan proses rekruitmen anggota kepolisian yang masih jauh dari prinsip jujur dan adil bagi seluruh anak bangsa. Kuat nian rumor berembus bahwa di masa kini makin langka anak tuan dan puan masuk kepolisian secara murni tanpa duit pelicin. Duit pelicin itu so pasti tanpa bukti kwitansi. Jumlahnya membuat tuan merinding karena sudah bermain di kisaran angka puluhan juta dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Demi menjadi anggota Polri -- salah satu lapangan kerja yanw terbuka bagi tamatan SMA -- orang kita berani berutang demi masa depan anaknya. Namanya saja rumor, bisa benar bisa juga tidak. Tapi bila benar, bisa dibayangkan kualitas SDM Polri. Tes psikologi, tes tertulis sejumlah mata pelajaran serta tes fisik mungkin sekadar formalitas karena uang yang lebih menentukan lulus atau tidak.

Dari sisi kuantitas, Indonesia masih butuh 365.000 polisi karena jumlah polisi saat ini sekitar 395.000 orang atau masih jauh dari angka ideal 760.000 orang. Mengacu pada jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta orang, maka rasio polisi dengan jumlah penduduk saat ini satu berbanding 580 orang. Idealnya seorang polisi melindungi 300 warga.

Dengan demikian Polri sesungguhnya masih memberi kesempatan yang sangat luas bagi putra-putri Indonesia untuk bergabung. Dan, kematian seorang anggota Polri akibat bunuh diri seperti dialami almarhum Edwin di Ruteng merupakan kehilangan tiada tara. Kita berduka cita untuk keluarga besar Polri sekaligus berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Kuncinya kembali ke institusi Polri sendiri. Apakah memandang drama bunuh diri anggotanya sekadar kematian biasa atau justru menggugat Polri melakukan perubahan mendasar.

Omong-omong soal bunuh diri, data Data Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO) berikut bikin bulu tengkuk berdiri. Ternyata setiap tahun hampir satu juta manusia di dunia mati karena bunuh diri. Data WHO menunjukkan angka kematian bunuh diri rata-rata terjadi setiap 40 detik. Selama 50 tahun terakhir angka bunuh diri meningkat 60 persen hingga menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian ketiga terbesar yang terjadi pada kelompok usia 15-44 tahun. 

Angka di atas belum termasuk percobaan bunuh diri yang 20 kali lebih sering daripada bunuh diri. Itu berarti lebih banyak orang mati karena bunuh diri daripada konflik bersenjata di dunia. Di beberapa negara, seperti Jepang dan China angka bunuh diri bahkan lebih gemuk ketimbang kematian akibat kecelakaan lalulintas. 

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut WHO pada tahun 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindakan bunuh diri tiap tahun. Itu data 2005. Data terbaru bisa diasumsikan lebih tinggi lagi. Bukankah kita hidup di tengah tata dunia yang makin sinting? Nah, tuan dan puan mari kita berbuat sesuatu. Paling tidak berpikir dan berbuat baik hari ini agar kesintingan dunia sedikit terkikis. Dor! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang, Senin 30 Mei 2011 halaman 1

Bunuh

KEHENINGAN malam di kawasan kilometer lima jalan lingkar Kota Kefamenanu terusik. Di malam menjelang larut itu warga dikejutkan oleh penemuan seonggok mayat di tengah jalan berdebu, Kamis (19/5/2011) sekitar pukul 22.00 Wita. Mayat seorang pria muda dengan leher digorok nyaris putus. Darah berceceran. Duh!

Polisi datang tak lama setelah menerima laporan masyarakat. Misteri mayat pun terkuak. Namanya Simon Subun, usia 20 tahun, warga Tublopo, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Simon yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek diduga jasi korban pembunuhan dalam suatu aksi pencurian. Indikasi tersebut muncul setelah sepeda motor jenis Shogun biru nomor polisi DH 4846 CD yang dikendarai Simon, raib entah ke mana.



Horor penemuan mayat belum berakhir di situ. Sembilan jam kemudian warga temukan lagi mayat seorang pria berusia 33 tahun di ruas jalan Ponu-Atambua Atas, Jumat (20/5/2011) sekitar pukul 07.00 Wita. Namanya Markus Beli (33) asal Kampung Oekoro, Kelurahan Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, TTU. Jenazah Markus ditemukan dalam kondisi telentang di jalan dengan luka tusuk pada leher dan kaki kiri, tempurung kepala bagian belakang terbuka serta luka gores di sekujur tubuh seperti bekas seretan. Markus mungkin dihabisi sang pembunuh baru mayatnya diletakkan di pinggir jalan. Sadis!

Begitulah warta pembunuhan yang disiarkan sejumlah media massa Nusa Tenggara Timur akhir pekan lalu. Mungkin sebagian orang menganggap biasa saja peristiwa semacam itu. Toh manusia bakubunuh sudah ada sejak zaman Kain dan Abel. Lagipula kematian bisa terjadi kapan saja dan akan menimpa semua orang yang bernyawa. Yang berbeda hanya soal cara mati, waktu dan tempat kematian.

Namun, bagi tuan dan puan yang jeli mengikuti perkembangan, tindak pidana pembunuhan di wilayah hukum Timor Tengah Utara telah menebarkan teror yang menakutkan karena negara seolah absen dalam setiap peristiwa sadis yang menimpa warganya. Data Pos Kupang menunjukkan indikasi tersebut. Dalam tempo sepuluh tahun terakhir, tercatat sedikitnya 20 kasus pembunuhan di wilayah hukum TTU yang belum sampai ke pengadilan. 

Data berikut memberi secuil gambaran. Di kepolisian sektor (Polsek) Ponu ada tujuh kasus pembunuhan sejak tahun 2003 yang berkasnya belum sampai ke pengadilan. Ditambah kasus terbaru yang menimpa Markus Beli, maka ada delapan kasus pembunuhan di Polsek ini yang belum terungkap. Di Polsek Nunpene terdapat lima kasus pembunuhan, termasuk kasus kematian Paulus Usnaat di kamar tahanan Polsek Nunpene yang sempat menggegerkan beranda Flobamora lantaran salah seorang tersangka merupakan figur terkenal. Di Polsek Kota Kefamenanu ada empat kasus dan Polsek Noemuti satu kasus pembunuhan.

Dengan demikian jelaslah betapa para pembunuh berkeliaran bebas di luar sana. Boleh jadi si pembunuh itu tetangga rumahmu, rekan kerjamu atau bahkan pimpinanmu di suatu instansi swasta maupun pemerintah. Dia bisa saja seorang yang ramah, rajin berdoa dan dermawan. Boleh jadi dia adalah tokoh masyarakat, orang yang terpandang secara sosial. Tapi mereka luput dari jeratan hukum. Mereka pun merasa tidak bersalah meski telah menghilangkan nyawa sesamanya dengan keji. Pembunuh yang luput dari hukum, baik perorangan maupun kelompok dapat saja mengulangi perbuatannya di kemudian hari. Membunuh dianggap sebagai cara menyelesaikan masalah yang paling mudah. 

Kasus pembunuhan misterius tidak hanya terjadi di wilayah Timor Tengah Utara. Kasus serupa juga banyak terjadi di berbagai wilayah Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu dan Lembata). Sumba merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kriminalitas tinggi di NTT. Tidak sedikit kasus bakupotong kepala manusia di sana yang menguap begitu saja.


Tuan dan puan kiranya belum lupa sejumlah kasus dengan ekspetasi besar dari publik. Misalnya kasus kematian Romo Faustinus Sega, Pr di Ngada dan Nurdin Devyanto di Maumere, Kabupaten Sikka. Kasus Romo Faustin memang sampai ke meja pengadilan, namun vonis hakim di level pengadilan tinggi membebaskan para terdakwa. Artinya, jika Romo Faustin dibunuh maka pembunuhnya masih misteri sampai detik ini. Sang pembunuh tertawa ngakak mengolok ketidakmampuan penegak hukum menjeratnya.

Kisah kematian Nurdin Devyanto pun setali tiga uang. Kepolisian Daerah (Polda) NTT menunjukkan keseriusan dengan membentuk dua tim penyidik untuk mengusut kasus ini. Tim pertama berkesimpulan Nurdin mati akibat kecelakaan lalulintas. Tim kedua meyakini Nurdin dibunuh. Sejumlah tersangka ditangkap dan ditahan di Kupang. Sampai masa penahanan tersangka berakhir, berkas mereka sekadar bolak-balik dari polisi ke jaksa. Entah sampai kapan kasus tersebut baru sampai ke pengadilan. Mungkin sudah masuk kotak. 

Kasus paling heboh dari Timor Tengah Utara adalah misteri kematian Paulus Usnaat di kamar tahanan Polsek Nunpene tahun 2008. Polisi memang sempat menangkap dan menahan tersangka. Tapi nasibnya sama dengan kasus Nurdin. Sampai masa penahanan tersangka berakhir, berkas Usnaat mengandung banyak kekurangan alias tidak lengkap. 


Kematian Paulus Usnaat pun menebaran horor yang lebih mengerikan. Bayangkan, sel polisi begitu mudah diterobos pembunuh dan polisi gagal membekuknya untuk diproses hukum. Kalau di "rumah polisi" saja tidak aman, bagaimana dengan dunia di luar sana? Masuk akal kalau kasus pembunuhan misterius akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Rupanya kemampuan aparat penegak hukum kita baru sebatas itu, kendati ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang sangat maju. Secanggih apapun teknologi tetaplah manusia yang paling menentukan. Person behind the gun. Kalau etos kerja manusianya loyo, teknologi tak bisa menolong. Kalau manusia tidak punya nurani, hancur leburlah segalanya.

Begitu banyaknya kasus pembunuhan di beranda Flobamora yang tidak terungkap memberi pesan tegas kepada semua. Bahwa tuan dan puan sesungguhnya hidup di zaman barbar. Siapa yang kuat dialah yang menang. Yang berlaku adalah hukum rimba meskipun institusi hukum formal sebagai perangkat negara demokrasi memang ada. Penegak hukum ada di mana-mana dengan seragam rapi, pangkat, fasilitas dan kantor megah. 

Kemunduran sebagai bangsa itu sungguh nyata, kawan! Kegagalan negara melindungi warganya bukan isapan jempol semata bukan? Horor bisa menimbulkan kesurupan. Celaka tiga belas hidup di negara kesurupan. Histeris melulu. Ribut terus. Kisruh. (dionbata@yahoo.com) 

Pos Kupang, Senin 23 Mei 2011 halaman 1

Nahor

MALAM menjelang larut. Ringkih tertatih. Gerimis menyelimuti sepi. Udara pegunungan Timor yang dingin di awal Mei nakal menyelinap lewat jendela kaca nako yang pecah. Sesekali suara angin menderu-deru sampai jauh. Eliazar duduk terpekur di beranda gubuk berdinding bebak itu. Pikirannya melayang jauh...

Nahor, putra semata wayangnya pergi entah ke mana. "Hampir pasti Nahor akan pulang dinihari lagi. Seperti hari-hari sebelumnya," kata Eliazar membuka pembicaraan. Pria dengan uban di kepala itu menarik napas panjang lalu meluncurlah kisah dari balik bibirnya yang kerontang. "Mangan dan uang telah menghancurkan rumah tangga anak saya," ujarnya. Getir menyeruak dari suara bas Eliazar.



Nahor adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Lebih dari itu dia seorang suami yang setia dan ayah yang bertanggung jawab terhadap putra-putrinya, cucu Eliazar. Nahor rajin berkebun, cekatan memberi makan sapi paron dan sesekali mengisi waktu menjadi tukang ojek. Pendapatannya tak jauh beda dengan orang sekampung. Pas-pasan saja tetapi mereka tak berkekurangan. Mereka masih bisa makan dan minum sekurangnya dua kali sehari. 

Suatu hari di awal tahun 2010 datang seorang pengusaha mangan ke kampung Eliazar. Dia mencari orang-orang yang mau menjadi kaki tangan sebagai pengumpul mangan dari masyarakat. Tanpa berdiskusi lebih matang dengan ayahnya, Nahor memutuskan mau bekerja sebagai pengumpul. Toh upah yang ditawarkan pengusaha berkulit putih, rambut lurus dan mata agak sipit yang datang dari pulau seberang sungguh menggiurkan. Jauh berbeda dengan penghasilan Nahor sebagai petani dan tukang ojek musiman.

Bekerjalah Nahor sebagai pengumpul mangan dengan modal dari pengusaha tadi. Hampir tiap hari dia melanglang buana dari kampung ke kampung membeli mangan dari masyarakat. Ojek yang dulu muat manusia, sekarang jadi tunggangan batu mangan. Jadilah dia obama (ojek bawa mangan). Jika sudah terkumpul sekian banyak dia lapor ke bosnya yang indekos di salah satu ibukota kabupaten di Pulau Timor. Sang bos akan kirim dump truk pengangkut mangan untuk selanjutnya dibawa ke Surabaya via Pelabuhan Tenau-Kupang.

Latar pendidikan SMA membantu Nahor mudah beradaptasi dan cepat belajar. Nahor bekerja sungguh-sungguh dan mengikuti petunjuk serta petuah bosnya. Dia paham bagaimana trik menyelipkan uang pelicin buat pegawai berseragam agar urusan mangan lancar. Dia hafal siapa saja yang bermain mangan di Timor, mulai dari kelas keroco hingga orang-orang top manajer di lingkup pemerintahan, partai politik dan instansi penegak hukum.

Nahor menjadi salah seorang staf lapangan yang dipercaya bos. Selain upah bulanan, dia juga kerap mendapatkan insentif. "Saya senang melihat penghasilannya meskipun semula saya tidak suka dia kerja mangan. Tapi kesenanganku tidak lama karena setelah punya uang, sikap Nahor berubah. Dia mulai ringan tangan terhadap istri dan anak-anaknya," kata Eliazar. Uang memang mengubah Nahor. Mengubah juga lingkungan pergaulan dan tabiatnya. Dari seorang petani di kampung yang berteman dengan ilalang dan berkarib dengan sapi, dia masuk kehidupan ala kota. Punya uang seolah merasa bisa segalanya. 

Penghasilan yang jauh lebih baik malah tidak membawa berkah bagi keluarga muda itu. Mangan tidak membawa nikmat. Nahor mengelola uangnya sendiri, entah untuk apa dan buat siapa. Ketika diomeli sang istri, tangan Nahor melayang. Kata-kata kasar meluncur deras dari bibirnya yang merah bata karena kebiasaan mamah sirih pinang. Isteri mana bisa bertahan dalam situasi demikian? Jika anak-anak merengek sesuatu, tuan Nahor cuek bebek. 

Sang isteri yang selama ini diam-diam belajar tentang cara kerja Nahor jadi pengumpul mangan tak mau kalah dengan suaminya. Perempuan itu beranikan diri melamar sebagai pengumpul mangan. Ternyata ada pengusaha yang mau menggunakan tenaganya. Maka pasangan suami isteri tersebut menjalani pekerjaan yang sama. Nahor meradang ketika tahu sang isteri pun bisa! "Sejak isterinya bekerja, tabiat buruk Nahor semakin menjadi-jadi. Tiada hari tanpa bertengkar. Tidak ada mau yang mengalah," kata Eliazar, pria sepuh yang ditinggal mati isterinya saat Nahor masih duduk di kelas satu SMA.

Cemburu buta ikut membumbui 'perseteruan' antara Nahor dengan isterinya. Nahor menuduh isterinya selingkuh. Sang isteri bilang Nahor punya wanita simpanan di kota. Gubuk bambu pun berubah menjadi ring tinju dan kebun binatang. Hampir semua nama binatang dilitani manakala Nahor dan isterinya beradu mulut siang dan malam. Anak-anak tak lagi dibelai dengan kasih. Keluarga Kristen yang dulu rukun harmonis, tak rutin lagi ke gereja pada hari Minggu dan hari raya. "Saya gagal nak. Saya malu sekali. Mengapa di usia senja begini saya harus memikul salib yang sangat berat?" tutur Eliazar yang bagi orang sekampung dipandang sebagai tokoh jemaat. Pemuka gereja.

Sepekan menjelang hari Kasih Sayang 14 Februari 2011, kasih di dalam rumah tangga Nahor benar-benar luruh. Sang isteri pergi meninggalkan gubuk bebak bersama anak-anaknya. Dia pulang ke kampung asal. Dia pergi tanpa pamit kepada Nahor, bahkan terhadap mertuanya Eliazar. "Kalau Nahor dan isterinya pisah, silakan saja karena mereka sudah dewasa. Saya hanya ingat nasib cucu-cucu saya," kata Eliazar dengan suara bergetar. Tanpa sadar air bening meleleh di pipi keriputnya.

Begitulah tuan dan puan. Tatkala Timor, Flores, Sumba, Alor, Rote, Sabu dan Lembata menyadari karunia cuma-cuma berupa hamparan mangan di mana-mana, banyak prahara menyertainya -- semisal kisah nyata keluarga Eliazar di atas. Di kampung besar kita betapa banyak air mata tumpah karena mangan. Mati sia-sia saat menggali mangan. Terkubur hidup-hidup menghirup racun mangan. Keluarga remuk karena mangan. Kakak adik berkelahi demi mangan. Pemerintah dan rakyat bakumaki karena mangan yang dijual murah. Bukan salah mangan dikandung bumi Flobamora. Manusialah yang serakah dan tidak tahu diri mengelola mangan demi adab kehidupannya.

Di Timor, tempat beta hidup lebih dari dua dasawarsa, kian banyak petani meninggalkan ladang, makin sepi gembala meniup seruling di padang. Tofa rumput (cabut rumput) mulai lupa. Mamar dan ladang padat ilalang. Timor dulu harum cendana wangi, terkenal sampai ke India, tersiar hingga ke Tiongkok sana. Cendana melapuk. Habis dibabat tak lebih dari setengah abad. Zaman berubah, kesadaran memelihara bumi dan isinya justru makin tak karuan. Siapa yang pongah, kita atau anak-anak Flobamora zaman batu? Sepuluh, dua puluh atau lima puluh tahun dari sekarang, ada apa dengan Timor, Sumba, Flores, Alor dan Lembata jika tuan mengeruk isi perutnya semata demi uang? 

Percayalah, Timor akan menjadi tumor ganas, Sumba menyumbang sengsara, Flores menuju fatamorgana dan Lembata luruh ke lembah derita. Bumi memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Namun, bumi harus ditimang bijak, dicicipi dengan kasih. Duhai tuan dan puan! Laksana pipit di padang sabana, teruslah bercicit demi bumi lestari meski sayup mencabik nurani. Bumimu rumahmu. Tuan tega merusak rumah sendiri? (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 16 Mei 2011 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes