Senja yang Merindu

Cristiano Ronaldo dan Bruno Fernandes
Catatan  Dion DB Putra

TRIBUNLOMBOK.COM - Cristiano Ronaldo berada di remang senja kariernya sebagai pemain sepak bola. Tak seorangpun yang bisa memungkiri. Usia Ronaldo sudah 37 tahun.

Tapi senja menjelma indah  justru karena kepergiannya yang amat lekas, bukan? 

CR7 sedang berjuang mewariskan keindahan senja yang merindu  kepada adik-adiknya, penerus kejayaan Portugal di masa depan.

Cristiano Ronaldo tidak mencetak gol saat Portugal membekap Uruguay 2-0 pada laga kedua Grup H, Senin malam 28 November 2022. 

Sepasang gol Portugal yang mengantar  Selecao das Quinas ke babak 16 besar,  persembahan pemain  Manchester United, Bruno. Bruno Fernandes.

Bruno Fernandes bikin gol menit ke-54 dan menit ke-90 dari titik penalti. 

FIFA sempat mencatat gol  menit ke-54 itu milik Cristiano Ronaldo. FIFA meralat beberapa saat kemudian.

Terciptanya gol Bruno memang ada sedikit kontribusi Cristiano Ronaldo di depan gawang Uruguay. Aksi CR7 melompat tinggi  untuk menyambar umpan Bruno mengelabui kiper Uruguay, Sergio Rochet.

Menerima umpan Raphael Guerreiro di ujung kanan luar kotak penalti Uruguay, Bruno Fernandes bermaksud mengirimkan umpan lambung ke arah Cristiano Ronaldo. 

Ronaldo  melompat untuk menyundul. Bola masuk mulus menembus jaring Sergio Rochet. 

Dalam tayangan ulang dan foto yang beredar luas di media sosial, Cristiano Ronaldo memang melompat untuk menyundul bola umpan lambung Bruno Fernandes. 

Akan tetapi, pemain yang baru saja mengucapkan sayonara kepada  Manchester United itu tidak menyentuh bola sedikitpun. 

Alhasil, gol tersebut murni milik Bruno Fernandes yang sejak enam tahun silam sudah disebut-sebut sebagai penerus CR7.

Cristiano Ronaldo mengagumi  karakter juniornya. Bruno anak yang manis dan rendah hari. Pekerja tekun di lapangan. Punya jiwa kepemimpinan.  Kalau dia pensiun setelah Piala Dunia 2022, sudah ada pengganti yang tepat.

Mimpi  juara masih hidup

Cristiano Ronaldo sulit menyembunyikan sukacita hatinya menyambut sukses menuju 16 besar Qatar 2022. Dia melukiskan pencapaian tersebut sebagai mimpi juara yang masih hidup.

"Kita berada di babak 16 besar Piala Dunia! Kerja yang hebat, tim!" cuit Cristiano Ronaldo di akun media sosialnya.

Megabintang berusia 37 tahun itu memang bertekad membawa Portugal meraih trofi  Piala Dunia, gelar yang belum dia raih selama kariernya yang panjang.

Apalagi ini merupakan Piala Dunia terakhir bagi  Ronaldo. Piala Dunia 2026, CR7 hampir pasti sudah pensiun sebagai pemain tim nasional.

Wajar mimpi besar CR7 terus menyala. Toh mereka sudah berada di babak 16 besar. 

Di akun twitternya, CR7 menulis dalam bahasa ibu.  "Estamos nos oitavos do Mundial! Grande trabalho, equipa! Frente a um adversário de grande mérito, fizemos valer a nossa força e a nossa qualidade. Vamos em frente! Estamos na luta e o nosso sonho continua bem vivo! Força, Portugal!

"Melawan tim yang memiliki prestasi besar, kami menegaskan kekuatan dan kualitas kami. Ayo melaju! Kami sedang berjuang dan impian kami masih hidup! Kekuatan, Portugal!" demikian Cristiano Ronaldo.

Tambahan tiga poin membuat Portugal memimpin  klasemen sementara Grup H Piala Dunia 2022 dengan enam poin unggul tiga angka atas Ghana yang berada di peringkat dua. 

Uruguay yang baru mengoleksi satu poin menduduki posisi juru kunci Grup H, kalah selisih gol dari Korea Selatan yang menempati peringkat ketiga. 

Pada laga pamungkas Grup H, Jumat 2 Desember 2022 mulai pukul 22.00 WIB, Portugal akan melawan Korea Selatan, sedangkan Uruguay melakoni duel hidup mati kontra Ghana.

Korea Selatan, Uruguay dan Ghana berjuang mendampingi Cristiano Ronaldo dkk ke babak knock out alias babak 16 besar.

Tiket babak 16 besar merupakan kesempatan emas bagi Cristiano Ronaldo menambah koleksi golnya di ajang Piala Dunia.

Lawan Portugal adalah juara atau runner-up Grup G yang dihuni Brasil, Serbia, Swiss, dan Kamerun. 

Brasil sudah memastikan diri lolos. Masih dinanti siapa pendamping Brasil. Bisa Swiss, Swedia atau Kamerun lantaran mereka sama berpeluang.

Bagi pemain aktif seangkatannya, Cristiano Ronaldo merupakan sedikit pria yang beruntung. Dalam usia seuzur sekarang dia masih menjadi andalan tim nasional.

Dia bahkan sudah mencatat rekor istimewa.  Pada pekan pertama pesta bola  Piala Dunia 2022 Qatar,  Cristiano Ronaldo dan bintang Argentina, Lionel Messi (35) sama-sama mengukir catatan bersejarah. 

CR7 dan La Pulga, julukan Messi, menorehkan rekor setelah  memimpin tim negara masing-masing meraih kemenangan di Piala Dunia 2022. 

Cristiano Ronaldo memimpin skuat Portugal pada laga pertama Grup H Piala Dunia 2022 melawan Ghana di Stadion 974, Doha, Kamis 24 November 2022. Dalam laga super ketat, Portugal sukses menaklukkan Ghana dengan skor tipis 3-2.

Gol pembuka Selecao das Quinas ke gawang Ghana dicetak Ronaldo dari titik penalti   pada menit ke-65. Itu adalah gol kedelapan Cristiano Ronaldo dalam lima kali penampilannya di ajang Piala Dunia sejak tahun 2006 di Jerman. 

Ronaldo merupakan   pemain pertama dalam sejarah yang mampu mencetak gol pada lima edisi Piala Dunia berbeda. 

Lionel Messi tak mau ketinggalan. Dua hari berselang,  Lionel Messi mencetak satu gol saat membantu Argentina menang  2-0 atas Meksiko pada laga kedua Grup C, Sabtu 26 November 2022  malam waktu Qatar atau Minggu dini hari WIB, 27 November 2022. 

Melawan musuh bebuyutannya Meksiko di Stadion Ikonik Lusail, Messi memecahkan kebuntuan Argentina lewat golnya pada menit ke-64. 

Dua puluh tiga menit kemudian, Messi memberikan assist untuk gol Enzo Fernandez yang mengunci kemenangan La Albiceleste jadi 2-0.  Jika Cristiano Ronaldo mengukir catatan bersejarah soal gol, Messi mengukir  rekor dalam hal assist. 

Dilansir Kompas.com dari Squawka, Messi menjadi pesepak bola pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mampu mencetak assist dalam lima turnamen berbeda.

Lionel  Messi mencatatkan assist perdana di Piala Dunia 2006 Jerman, dalam laga debutnya kontra Serbia-Montenegro yang berakhir 6-0 untuk  kemenangan Argentina. 

Sama-sama mengukir catatan bersejarah, Messi dan Ronaldo kini berdiri sejajar dalam urusan koleksi gol di Piala Dunia.

Dua megabintang  kini sama-sama telah mencetak delapan gol di Piala Dunia. Cristiano Ronaldo mencapai catatan delapan gol di Piala Dunia dalam 18 pertandingan, sedangkan Lionel Messi membutuhkan 21 laga untuk berada di level yang sama. 

Siapa yang terbesar di antara mereka? Fans Messi dan CR7 pasti punya pendapat masing-masing. Bisa sama, dapat pula berbeda bak langit dan bumi. Soal pujaan hati sebaiknya jangan dikau perdebatkan, kawan!  

Sisi paling  ekstrem dari psikologi idola adalah  hanya mengenal prinsip tahi kucing pun rasa cokelat.

Satu hal pasti, dunia hari ini  patut berterima kasih kepada dua anak bola yang usianya hampir sepantaran itu. Messi dan CR7 adalah karunia terindah  yang membuat jutaan hingga miliaran orang jatuh cinta pada sepak bola.

Seturut hukum alam, mereka berdua sedang berada di remang senja pemain aktif.  Piala Dunia berikut mungkin dikau tidak menjumpainya lagi. 

Percaya deh, engkau akan merindukan gocekan Messi yang aduhai, mendambakan liukan  menawan Cristiano Ronaldo. Gol!  (*)

Sumber: Tribun Lombok


Jogo Bonito ala Tite


Catatan Dion DB Putra

TRIBUNLOMBOK.COM - Nama lengkapnya Richarlison de Andrade. Lebih populer Richarlison. Dia lahir 25 tahun lalu di Nova Venecia, Espirito Santo, Brasilia. 

Klub yang dia bela Tottenham Hotspur  masuk kelompok medioker di Liga Inggris. Prestasi tak sehebat Liverpool, Man City atau Manchester United.

Pemain timnas Brasil kelahiran 10 Mei 1997  tersebut belum setenar Neymar Jr atau Dani Alves. Tapi di Qatar 2022, namanya lebih mendunia.

Popularitas sedang menyelimuti  Richarlison de Andrade berkat keindahan golnya ke gawang Serbia pada laga perdana  Grup G Piala Dunia 2022.

Di Stadion Lusail Doha, Kamis malam 24 November atau  Jumat dini hari waktu Indonesia, 25 November 2022, Richarlison  mencetak brace menit ke-62 dan ke-73. 

Gol  pertama Richarlison biasa saja.  Gol kedua bikin dunia tercengang. Dia menjebol gawang Serbia lewat sentuhan  akrobatik manis di kotak penalti memanfaatkan umpan empuk Vinicius Junior. 

"Gol akrobatik, terbaik dalam karier saya.  Saya sangat senang telah melakukannya di Piala Dunia. Ini merupakan  malam yang indah," kata Richarlison dilansir dari laman TyC Sports.

Kemenangan malam itu merupakan laga ke-110 Brasil sepanjang partisipasi mereka di Piala Dunia sejak 1930. Rekor terbanyak dari semua negara.

Brasil pun menambah rekor  tak terkalahkan pada pertandingan pembuka mereka di Piala Dunia dalam 80 tahun terakhir.  

Tim Samba menghadapi Swiss di Stadion 974  Doha,  Senin malam 28 November 2022, dan duel akhir grup melawan Kamerun pada  2 Desember 2022 waktu Qatar.

Merindukan jogo bonito

Brasil adalah simbol keindahan.  Keindahan permainan sepak bola yang membuat miliaran  pemuja  bola jatuh hati padanya.

Jogo bonito atau total football ala Belanda membuat sepak bola selalu mampu mencuri hati banyak penggemar di seluruh dunia dari zaman ke zaman. Sampai hari ini.

Frasa jogo bonito pertama kali trending ketika diucapkan megabintang Brasil di masa silam, Edson Arantes do Nascimento alias Pele. 

Pele menggunakan frasa jogo bonito atau permainan indah dalam bahasa Portugis, untuk merujuk pada olahraga sepak bola. 

Bleacher Report menyebut, Pele  tidak hanya  pencetus tetapi mewujudkan frasa jogo bonito lewat aksinya yang memukau saat bermain membela timnas Brasil. 

Ketika memperkuat timnas Brasil, Pele sukses mengantarkan timnya meraih gelar juara Piala Dunia sebanyak tiga kali yakni pada 1958, 1962, dan 1970.

Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sudah memberikan gelar pemain terbaik abad ke-20 kepada Pele, bersama Maradona, pada Desember 2000. 

Kembali ke Qatar 2022, gol Richarlison ke gawang Serbia  menghidupkan kerinduan akan jogo bonito yang selama lebih dari dua dekade terakhir cenderung meredup dari goyang Samba Brasil.

Pengamat bola hampir sepakat bahwa Brasil meninggalkan filosofi permainan indah yang menjadi ciri khasnya. Belakangan ini Brasil memilih pragmatis, lebih mengutamakan hasil akhir ketimbang proses yang elok menawan.

Mengutip Goal, anggapan tersebut muncul melihat penampilan timnas Brasil setelah era keemasan Pele, yakni pada Piala Dunia 1994 dan 2002.

Trofi juara Brasil di USA 1994 dipandang berasal dari dominasi permainan lini tengah yang sangat apik dikoordinir Dunga, sang kapten  timnas Brasil saat itu.

Ketika Brasil berjaya di Piala Dunia 2002,  penampilan mereka tak beda jauh dari tim asal Eropa. Maklum kala itu Brasil bermodal  trio bintang yang berkiprah di kompetisi negara Eropa yaitu Ronaldinho, Ronaldo Nazario, dan Rivaldo.

Bahkan  saat Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, bentuk permainan elok  ala jogo bonito tidak lagi terlihat di negeri asalnya.  

Brasil malah dipermalukan timnas Jerman, yang akhirnya meraih gelar juara, dengan skor 1-7 di semifinal. Sudah bermain pragmatis,  eh kalah telak  lagi di kandang sendiri. Memalukan!

Parreira, Scolari  hingga Tite

Jogo bonito Brasil memang mulai memudar sejak tim nasional negara itu diasuh  Carlos Alberto Parreira awal 1990-an.

Di Piala Dunia 1994, tim Samba asuhan Carlos Alberto Parreira menjadi kampiun turnamen empat tahunan tersebut setelah mengandaskan Italia di babak final.

Sebelum itu, Parreira hanya melatih timnas Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA). Kuwait pernah ia asuh di Piala Dunia 1982 dan kandas di fase grup. 

Sedangkan di Piala Dunia 1990,  Parreira membawa UEA gugur di fase grup setelah menelan tiga kekalahan beruntun. 

Tatkala  mengasuh timnas Brasil 1994, Parreira mengutamakan hasil akhir. "Keindahan bermain bola tidak menyelamatkan kehormatan kita," katanya saat itu.

Di Piala Dunia 1998, pelatih Mario Zagallo pun tidak begitu mementingkan keindahan dalam permainan sepak bola Brasil.

Zagallo sukses mengantar Ronaldo dkk hingga ke babak final. Namun, Brasil gagal mempertahankan gelar karena kalah melawan tuan rumah Prancis di final.

Brasil takluk 0-3 dari Prancis setelah gol-gol Les Bleus –julukan Prancis– dicetak Zinedine Zidane pada menit 27, (45+1) dan Emmanuel Petit (90+3).

Luiz Felipe Scolari yang menjadi pelatih Brasil di Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan, mirip pula karakternya.

Luiz Felipe Scolari yang terkenal keras kepala tidak sudi pemain Brasil mementingkan jogo bonito. "Orang ingat kalau kita menang dan jadi juara," ujarnya.

Scolari  menerapkan gaya sepak bola menyerang dan timnya mengobarkan semangat juang tiada duanya.  Terbukti Felipe Scolari sukses memberikan Brasil trofi kelima pada tahun 2002. Sejak itu Brasil belum mencicipi lagi pesta juara Piala Dunia.

Pelatih pragmatis Brasil di era 2000-an adalah Dunga. Selain menjadi satu di antara pemain paling berprestasi di Brasil, Dunga  merupakan manajer terbaik.  Dunga memiliki karier cemerlang bersama tim nasional Brasil.

Dia bermain selama hampir 11 tahun untuk Selecao dan memenangkan 4 trofi utama termasuk Piala Dunia FIFA 1994 dan Piala Konfederasi.

Karier manajerial Dunga dimulai tahun 2006 saat ia memimpin tim nasional Brasil.

Dunga memenangkan Copa America dan Piala Konfederasi sebagai manajer selama tugas pertamanya bersama tim Samba.

Dia diangkat kembali sebagai manajer tim utama setelah kekalahan memalukan Brasil di Piala Dunia 2014 melawan Jerman. 

Dunga mengasuh skuat Samba selama 2 tahun guna mengembalikan moral tim yang ambruk. 

Sejak tahun 2016 Federasi Sepak Bola Brasilia mempercayakan Adenor Leonardo Bacchi atau yang akrab disapa Tite sebagai pelatih timnas.

Tite sedang menjalani ujian jogo bonito di Qatar 2022. Apakah dia mengembalikan Brasil yang bermain indah sekaligus berjaya atau pragmatis saja asalkan menang.

Tuan dan puan akan menjadi saksi bagaimana Brasil  hasil racikan Tite saat  melawan Swiss malam ini  28 November 2022  mulai pukul 23.00 WIB, dan Sabtu dini hari 3 Desember 2022 menghadapi Kamerun di laga terakhir Grup G. 

Selamat menonton! (*)

Sumber: Tribun Lombok

Menentukan Nasib Sendiri


Catatan Dion DB Putra

TRIBUNLOMBOK.COM - Nasib Jerman berada  di ujung tanduk. Menang berarti memelihara asa. Kalah  ya pulang lebih lekas. 

Kalau cuma seri sungguh ngeri-ngeri sedap deh karena nasib di  Qatar 2022 tergantung orang lain.

Lawannya malam ini atau Senin dini hari 28 November 2022 mulai pukul 02.00 WIB,  bukan tim kaleng kaleng.

Spanyol secara head to head lebih baik ketimbang Jerman.  Dari lima kali pertemuan kedua tim sejak 8 Juli 2010, Spanyol menang 2 kali, Jerman hanya sekali menang dan 2 laga berakhir seri.

Tim Matador itu musuh yang sulit bagi Der Panzer sepanjang sejarah sepak bola.

Tak ada pilihan lain. Tim nasional atau timnas sepak bola Jerman 2022  sedang bergelut dengan apa yang disebut hak menentukan nasib sendiri atau  right to self-determination.

Hak setiap orang untuk bebas menentukan kehendaknya sendiri, khususnya dalam hal prinsip mengenai status politik dan kebebasan mengejar kemajuan di bidang ekonomi, sosial, serta budaya.

Sepak bola merupakan tanda kemajuan bangsa Jerman di bidang sosial budaya dan ekonomi. 

Bola  telah mengangkat martabat Jerman  menjulang langit dan disegani lewat koleksi empat trofi Piala Dunia, 1954, 1974, 1990 dan 2014. Belum lagi kejuaraan Eropa serta lainnya.

Hanya Italia yang menyamai prestasi Jerman, dan Der Panzer cuma berada satu level di bawah Brasil yang lima kali meraih trofi FIFA World Cup, 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.

Hari ini  27 November 2022 atau 28 November waktu Indonesia,  para serdadu Jerman harus menentukan nasib sendiri yaitu menekuk Spanyol di Grup E. Tak penting berapa skor akhir. Asal menang!  

Jalan ke sana tetap terbuka bagi tim asuhan Hansi Flick. Contoh teranyar  Argentina yang bisa keluar dari tekanan setelah dipermalukan Saudi Arabia pada laga perdana.

Meladeni Meksiko yang super ulet pada 26 November 2022, Lionel Messi memadukan kejeniusan dan kerja keras  lewat gol menawan menyusur tanah ke sudut sempit gawang Guillermo Ochoa.

Ochoa pun dipaksa memungut bola kedua hasil placing aduhai dari anak muda bernama Enzo. 

Enzo Fernandez, umurnya baru 21 tahun. Dia bintang masa depan Tim Tango. Sejak dulu Argentina tak kehabisan pemain muda berbakat mengolah si kulit bundar.

Argentina memang belum aman meski  unggul  2-0 atas Meksiko. Tapi setidaknya peluang lolos ke fase knock out terbuka lebar. 

Argentina  butuh kemenangan atas Polandia pada laga terakhir Grup C,  Kamis, 1 Desember 2022. 

Arab Saudi juga masih berpeluang lolos dengan syarat menekuk Meksiko pada laga terakhir grup yang akan digelar pada waktu bersamaan. 

Tim Sombrero Meksiko pun punya peluang lolos jika mengalahkan Arab, kendati  tipis amat dan tergantung hasil akhir pertandingan Argentina vs Polandia.

Tiki taka versus kolektivitas

Kembali ke nasib Jerman yang menghuni  Grup E Piala Dunia 2022 bersama Spanyol, Jepang, dan Kosta Rika.

Kosta Rika baru saja mengalahkan Jepang 1-0, Minggu (26/11/2022), sehingga persaingan di grup ini masih ketat.

Menonton duel Jerman vs Spanyol tidak hanya klasik tapi lazimnya  memikat hati.  

Ini pertemuan dua sumbu sepak bola Eropa yang memiliki ciri khas unik. Simpelnya adalah perang antara tiki taka versus kerja kolektif disiplin. 

Jerman dikagumi dunia antara lain karena kedisiplinan mereka dalam hidup sehari-hari. Di jagat bola pun sebangun. 

Jerman tak selalu mengandalkan pemain bintang ketika mereka berjaya di Piala Dunia  karena yang utama adalah kerja sama 11 pemain di lapangan.

Jerman 2022 asuhan Hansi Flick sesungguhnya tidak buruk. Di sana bermukim pemain berpengalaman serta pemain muda yang sedang bagus kinerja di klubnya masing-masing.

Sebut misalnya Serge Gnabry, Jamal Musiala dan Kai Havertz. Kiper sekaligus kapten tim Manuel Neuer sarat pengalaman.

Dia ditopang pilar pertahanan, Nico Schlotterbeck, Niklas Sule, dan Antonio Rudiger. Di gelandang ada David Raum, Joshua Kimmich, İlkay Gündoğan dan pemain veteran Thomas Muller.

Mengusung formasi 4-2-3-1,  skuad Hansi Flick cukup apik menjaga harmonisasi irama permainan. 

Kekalahan 1-2 atas Jepang pada laga perdana semata karena daya gedor para pemain Samurai Biru memang luar biasa di saat Jerman agak lengah di babak kedua. Flick pasti belajar banyak dari kekalahan tersebut.

Di kubu Spanyol, sang arsitek Luis Enrique kemungkinan besar mempertahankan starting eleven saat membekuk Kosta Rika 7-0.

Spanyol 2022 dominan pemain muda yang lincah dan gesit dengan daya juang ala Matador. 

Dalam formasi  4-3-3, Spanyol bakal memperagakan aksi tika taka guna menerobos pertahanan Der Panzer Jerman.

Komposisi skuad awal tak jauh  berubah. Unai Simon akan berada di bawah mistar gawang dibantu César Azpilicueta, Aymeric Laporte, Rodri, dan Jordi Alba di lini belakang.

Di tengah ada trio Pedri, Sergio Busquets, dan Gavi. Sedangkan Dani Olmo, Marco Asensio dan  Ferran Torres menjadi andalan lini depan tim juara Piala Dunia 2010 tersebut.

Kerja kolektif timnas Jerman serta pengalaman para pemain merupakan modal yang dapat diandalkan untuk mengalahkan Spanyol.  

Akan tetapi mereka akan kerepotan jika tak sanggup menghentikan aksi tika taka Spanyol yang sudah terbukti manjur di banyak pentas sepak bola.

Semoga tersaji duel yang memikat.  Sang pemenang kembali ke prinsip menentukan nasib sendiri.  

Baik Jerman maupun Spanyol  mesti bekerja sekuat dan secerdas  mungkin untuk menjadi yang terbaik sekaligus menjaga keharuman nama mereka sebagai tim raksasa sepak bola dunia. 

Ya, Piala Dunia adalah panggung keharuman nama terkait semangat dan aksi  olahragawan sejati yang akan senantiasa menginspirasi banyak orang.

Niscaya  membuat haru biru melihat anak muda bekerja sepenuh jiwa semisal pangeran Prancis, Kylian Mbappe.

Pun respek buat bintang rendah hati, sabar  dan tekun macam anak Polandia, Robert Lewandowski.

Kylian Mbappe mencetak dua gol ke gawang Denmark sekaligus mengantar juara bertahan  Prancis menjadi tim pertama yang lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2022.

Dalam laga di Stadion 974, Doha, Qatar, Sabtu (26/11/2022) malam, Prancis menang 2-1 atas Tim Dinamit Denmark.

Melawan Dermark, Mbappe yang kini membela klub Paris Saint Germain itu membuat brace ( cetak dua gol) pada menit ke-61 dan 86.

Kylian Mbappe sudah mengoleksi 31 gol untuk Les Bleus, julukan timnas Prancis.

Jumlah gol itu sama dengan koleksi pemain legendaris Prancis yang menjadi bintang di Piala Dunia 1998, Zinedine Zidane.

Kylian Mbappe baru berusia 23 tahun tapi ini bukan Piala Dunia pertama baginya. 

Dia ikut membantu Prancis meraih trofi di Rusia empat tahun silam. Bahkan kini koleksinya golnya sudah setara Zidane. Anak muda yang hebat!

Kapten timnas Polandia, Robert Lewandowski pada usia 34 tahun menorehkan rekor istimewa dalam kariernya.

Hal itu terwujud dalam laga Polandia vs Arab Saudi di Education City Stadium, Al-Rayyan, Sabtu (26/11/2022) malam.

Pertandingan itu dimenangkan Portugal 2-0. Arab Saudi yang sebelumnya membuat kejutan dengan mengalahkan Argentina 2-1, gagal membendung laju Polandia yang bermain solid.

Polandia meraih kemenangan pertama di Piala Dunia 2022 berkat gol persembahan Piotr Zielinski pada menit ke-39 dan Robert Lewandowski menit ke-82.

Gol ke gawang Arab Saudi juga membuat Lewandowski kokoh tercatat  sebagai top skor timnas Polandia dengan koleksi total 77 gol.

Jumlah 77 gol itu sekaligus mengantarkan Robert Lewandowski menyamai raihan gol legenda timnas Brasil,  Edson Arantes do Nascimento alias Pele, di level internasional.

Robert Lewandowski pun  menjadi pesepak bola Polandia pertama yang mencetak gol dan assist dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak Janusz Kupcewicz melakukannya di Piala Dunia  1982 melawan Prancis.

Lionel Messi, Kylian Mbappe dan Robert  Lewandowski merupakan contoh olahragawan yang semangat dan aksi mereka memberi inspirasi. Tentang kerendahan hati, respek, ketekunan dan kerja keras.

Piala Dunia 2022 masih  bergulir hingga 18 Desember 2022, saat dunia akan tahu siapa pemegang trofi. Mari kita menonton aksi para seniman bola dengan hati yang gembira. Salam bola!  (*)

Sumber: Tribun Lombok 

Messi, Raja Salman dan Pesona Sepak Bola


Catatan Dion DB Putra

TRIBUNLOMBOK.COM - Jagat olahraga hanya mengenal dua soal, kalah atau menang. Pun demikian di dunia sepak bola.

Kalah melulu ya membosankan. Menang terus juga muskil. Ada saat buntung, ada waktunya untung. Di situlah bersemayam pesona sepak bola sebagai olahraga terpopuler di dunia.

Hari ketiga bergulirnya FIFA World Cup Qatar, Selasa 22 November 2022 sejumlah teman, kolega dan sohibku baper. Mereka agak sensitif setelah Lionel Messi dkk terkapar 1-2 di kaki pemain Saudi Arabia.

Ya, Argentina punya sejuta umat. Lionel Messi telanjur membuat banyak orang jatuh hati sehingga mereka lupa usia La Pulga sudah tua.

Kemenangan Arab Saudi ibarat David melawan Goliath. Timnas Argentina yang gagah perkasa prestasinya takluk dalam permainan spartan anak-anak Asia Barat.

Arab Saudi bertarung tanpa minder atas nama besar Lionel Messi, Angel di Maria dan para bintang Argentina lainnya.

Kemenangan tim padang gurun meruntuhkan rekor timnas Argentina yang tidak terkalahkan dalam 36 pertandingan sejak bulan Juli 2019.

Tim Tango gagal melewati pencapaian timnas Italia. Gli Azzurri, julukan Italia, masih tercatat sebagai pemegang rekor tak terkalahkan dalam sejarah sepak bola internasional dengan catatan 37 laga beruntun.

Italia, sang juara Eropa yang gagal lolos ke Piala Dunia 2022, mengukir rekor elok ini pada periode 2018-2021 dalam asuhan manajer bertangan dingin, Roberto Mancini.

Fans Argentina mesti segera "move on". Jangan terlalu lama sedih. Argentina keok di laga pembuka bukan yang pertama.

Di Italia 1990, Diego Maradona dkk kalah 0-1 melawan Kamerun. Juara bertahan terkapar lawan tim anak bawang dari Afrika. Dunia tercengang.

Tapi pesona Maradona justru mendapat ujian yang pas. Pelan tapi pasti Tim Tango melangkah hingga final sebelum kalah tipis 0-1 melawan Jerman lewat gol penalti Andreas Brehme sehingga gagal mempertahankan trofi yang diraih 1986.

Tersungkur kemudian bangkit berjaya. Itulah Spanyol. Timnas Argentina 2022 kiranya perlu belajar dari tim Matador.

Di Afrika Selatan 12 tahun lalu, Spanyol bangkit menjadi juara Piala Dunia 2010 setelah mengawali turnamen dengan kekalahan 0-1 dari Swiss.

Mirip Arab Saudi tahun ini. Swiss kala itu meremukredamkan rekor fantastik timnas Spanyol yang tak terkalahkan dalam 35 pertandingan dalam rentang 2007-2009. Spanyol juga juara bertahan Piala Eropa.

Akan tetapi suguhan tiki-taka membawa Spanyol sukses melaju sampai final. Spanyol menekuk Honduras (2-0) dan Chile (2-1), melaju ke fase gugur sebagai juara grup.

Sejak itu Spanyol tak tertahankan. Mereka menang 1-0 atas Portugal (16 besar), 1-0 atas Paraguay (perempat final), dan 1-0 lagi atas Jerman di semifinal.

Di laga puncak, La Furia Roja bertarung apik selama 120 untuk mengalahkan tim Oranye Belanda dan membawa pulang trofi Piala Dunia ke Madrid

Kemenangan Spanyol 2010 sungguh meninggalkan luka di hati pemuja Belanda. Betapa tidak, tim Oranye menyapu bersih kemenangan sejak laga perdana tapi pulang ke Amsterdam dengan tangan hampa.

Belanda mulai dengan menumbangkan Denmark 2-0, mengalahkan Jepang 1-0 dan Kamerun 2-1 untuk meraih predikat juara Grup E.

Di fase gugur, Belanda memulangkan Slovakia 2-1. Mereka juga menundukkan Brasil 2-1 di perempat final dan menggulingkan Uruguay 3-2 di semifinal.

Gol tunggal gelandang lincah Spanyol, Andres Iniesta pada menit ke-116 di babak final, meruntuhkan keharuman total football Belanda.

Begitulah misteri sepak bola. Tim yang secara teknikal dan prestasi lebih cemerlang belum tentu memetik hasil menawan. Tim medioker dan pas-pasan malah bisa jadi naik podium jawara.

Artinya, Lionel Messi dan kawan-kawan masih punya kans melaju lebih jauh dengan syarat wajib menang atas Polandia dan Meksiko.

Timnas Argentina asuhan Lionel Scaloni akan menghadapi Meksiko, Minggu (27/11/2022) dini hari WIB.

Libur nasional

Sampai hari ketiga Piala Dunia 2022, kejutan besar sudah terjadi lewat kemenangan heroik Arab Saudi atas Argentina 2-1.

Hasil lainnya masih dipandang fajar. Tim unggulan Inggris, Belanda dan Prancis mengoleksi poin sempurna. Inggris menghajar Iran 6-2.

Belanda menang dramatis 2-0 atas Senegal. Juara bertahan Prancis membekuk Australia 4-1. Kehilangan Paul Pogba, Karim Benzema dan Kante seolah tidak berpengaruh pada penampilan Les Bleus.

Meksiko Polandia dan Denmark vs Tunisia bermain agak membosankan sehingga wajar kalau hasil akhirnya 0-0.

Trending topic hari ini tetaplah anak-anak Saudi. Green Falcons, julukan Arab Saudi menjadi tim Asia pertama yang menumbangkan sang favorit juara, Argentina di ajang Piala Dunia.

Arab Saudi setidaknya mengikuti jejak Korea Selatan yang mengalahkan tim raksasa di Piala Dunia.

Korea Selatan sukses menumbangkan Italia di Piala Dunia 2002, dan Jerman di Piala Dunia 2018.

Kemenangan Arab Saudi atas Argentina memberi inspirasi bahwa tim Asia bukanlah yang terkecil di antara gunung gemunung semesta bola.

Kabar terbaru dari Riyadh pagi ini sungguh menguatkan pesona si kulit bundar yang ukurannya kecil tak seberapa itu.

Raja Salman telah bertitah libur nasional merayakan kemenangan atas Argentina.

Sang Raja menyetujui usulan putra mahkota Mohammed Bin Salman untuk menjadikan hari libur pada Rabu 22 November 2022 kepada para karyawan dan pelajar serta mahasiswa Saudi Arabai.

Menurut Arab News, pengumuman hari libur Rabu 23 November 2022 sudah dikeluarkan Raja Salman.

Disebutkan usulan libur untuk memberi kesempatan bagi perayaan kemenangan itu berasal dari putra mahkota Kerajaan Saudi yang juga penguasa de facto negara kaya minyak itu.

Selain libur nasional sehari, Kementerian Pendidikan Kerajaan Saudi mengatakan, ujian sekolah yang dijadwalkan pada hari Rabu 23 November 2022 ditunda hingga 7 Desember 2022.

Bursa Efek Saudi, yakni Tadawul, juga mengumumkan akan menangguhkan perdagangan pada hari ini dan melanjutkan buka lagi pada hari Kamis 24 November 2022 sehubungan dengan hari libur tersebut.

Sepak bola adalah perayaan kemanusiaan. Teman-teman saya dari Tribun Ternate melaporkan, para pendukung Brasil di sana merayakan kekalahan Argentina.

Lebih menarik lagi Wakil Wali Kota Tidore, Muhammad Sinen yang merupakan fans Argentina diceburkan ke laut oleh rakyatnya. Begitulah tradisi di sana. Sepak bola menyihir dan mempesona.

Piala Dunia 2022 Qatar masih panjang jalannya. Mari menanti kejutan berikutnya sambil ingat tragedi Kanjuruhan belum tuntas diurus. Pun empati bagi saudara saudari kita di Cianjur. Salam bola! (*)

Sumber: Tribun Lombok


In Memoriam Yulius Lopo: Persembahan GMIT untuk Papua


Yulius O Lopo

Oleh Paul E Bolla

Wartawan Pos Kupang 1992-1999

"Malam to'o. Saudara kita Om Yulius Lopo baru saja berpulang di Timika karena sakit." Itulah pesan singkat dari Om Dion Db Putra, pada Sabtu, 27 Agustus 2022, malam hari.

Informasi via pesan WA ini membuat beta tersentak. Kaget. Tidak percaya. Berdua sering berkirim pesan selamat pagi disertai pesan-pesan biblis. Tidak ada keluhan atau informasi sedang sakit.  

Selanjutnya beta minta update informasi dan langsung cecar Om Dion dengan banyak pertanyaan informatif. Sedangkan Om Dion mesti lanjut bertanya ke Marthen L. Moru, wartawan Timika Express, di Papua, sebagai pemberi informasi awal ke Om Dion.

Kelengkapan informasi berkualifikasi 5 W + 1 H, penting sekali akurasinya. 

Karena kabar duka ini harus saya teruskan kepada handai taulan, baik dari kalangan media massa, komunitas gereja GMIT, khususnya alumni Fakultas Theologi UKAW Angkatan 84, dan keluarga.

Kabar berpulangnya sosok yang beta biasa panggil Om Lius, atau Om Yol, inisial semasa wartawan Pos Kupang, harus segera beredar. 

Maka info duka ini beta langsung posting di facebook, dengan menyebut sumber infonya. Sehingga jika ada pertanyaan lanjutan, saya harus menghubungi kembali pemberi informasi.

Komunikasi informasi tidak berjalan mulus mengenai keputusan keluarga membawa jenazah ke Kupang. Keterlambatan update info menjadi masalah. 

Saya sudah fb-kan waktu kedatangan jenazah dari Timika ke Kupang pada Senin, 29 Agustus 2022. Tiba Kupang diperkirakan jam 13:00 Wita. 

Om Dion meneruskan info ini setelah menerima kabar berantai dari Marthen Moru, dan Indah Lopo, putri bungsu Om Lius.

Ketika teman-teman pendeta GMIT, angkatan 84 dan teman-teman wartawan Pos Kupang bersiap menjemput ke Bandara Eltari, muncul simpang siur informasi. 

Ada info pesawat delay, dan ternyata jenazah sudah tiba di Kupang dan disemayamkan di Baumata, di rumah adik perempuan.

Beta dan rombongan teman-teman pendeta GMIT angkatan 84, memutuskan langsung menuju rumah  duka. 

Di tengah perjalanan baru ada update informasi dari Om Dion, yang juga terlambat menerima perubahan informasi ketika sudah dalam perjalanan ke bandara. 

Bersama Om Fery Jahang, kelimpungan mencari alamat rumah duka  Info dari nona Indah Lopo, meminta maaf karena ternyata jasad ayahnya lebih dulu ke Kupang pada penerbangan pagi hari. Keluarga membawa ke rumah duka di Baumata. 

"Saya dan KK laki" Bru menuju ke kupang. Begitu pesan WA yang dikirim nona Indah ke Om Dion, yang baru beta terima hampir jam 13:00 Wita. Si suling dan bungsu terbang terpisah dengan bapanya.

"Jangan sampai Om Yol sengaja, supaya Om Dion dan kita semua harus cari rumah duka sampai dapat," nyeletuk Om Paul Burin, salah satu wartawan angkatan pertama.

Akhirnya beta ketemu Om Dion dan Om Fery Jahang  di rumah duka. Lalu tiba menyusul dari Pos Kupang, yakni, Etty Turut, Paul Burin, Fery Ndun dan Gerardus Manyela.

Demikian sekadar klarifikasi atas status informasi keliru yang termuat di facebook.

*** 

Nama lengkap YULIUS OKTOVIANUS LOPO. Lahir pada 18 Oktober 1964. Menempuh pendidikan theologia di UKAW Kupang. 

Setelah menjalani masa vikariat, ditabiskan menjadi Pendeta di GMIT Elim-KiE November 1989, bersama Pdt. Ebenhaezer  Nuban Timo dan mendiang Pdt. Yes Tlaan. 

Om Lius meninggal dunia di RSUD Mimika, Papua, Sabtu (27/8/2022), sekira pukul 17.25 WIT. 

Om Lius sudah lebih dahulu ditinggalkan istrinya Melly Rita Sirituka pada 6 Januari 2016 dan meninggalkan tiga orang anak, yakni, Inyo, Indri dan Indah.

Yulius Lopo adalah Pendeta GMIT, yang ditugaskan Sinode GMIT untuk menjadi wartawan pada Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang sejak tahun 1992. Penugasan itu pada masa Ketua Sinode Pdt. Dr. Benyamin Fobia. 

Penugasan menjadi wartawan itu bagian dari persiapan akan hadirnya koran yang terbit harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Pendiri Pos Kupang, mendiang Julius Siyaranamual dan Damyan Godho, berkunjung ke Kantor Sinode GMIT. 

Kunjungan itu bertujuan meminta Sinode GMIT mengutus kader-kader terbaiknya untuk mengikuti pelatihan jurnalistik sebagai persiapan menjadi wartawan SKH Pos Kupang. 

Sinode GMIT akhirnya mengutus lima orang, yakni, Pdt. Yulius O. Lopo, STh, Pdt. Ebenhaezer Nubantimo,STh, Pdt. Mesakh AP Dethan,STh,  Esther M. Rihi Ga, STh dan Paul Bolla, STh.  

Lima utusan GMIT ini resmi menjadi wartawan Pos Kupang, yang mulai terbit percobaan pada minggu terakhir November 1992. Lalu terhitung 1 Desember 1992, Pos Kupang resmi terbit harian dan diperingati sebagai hari lahirnya. 

Keputusan Ketua Sinode GMIT,  Pdt. Dr. Benny Fobia dengan mengikhlaskan lima orang kadernya dilandasi pikiran ini.  

"Koran juga dapat menjadi sebuah Jemaat baru, tempat pendeta GMIT melayani. Tempat  untuk bisa menyentuh hati orang lain, tidak dengan mulut,  tetapi dengan tangan yang menulis. Mewartakan kabar baik lewat tulisan. Tulisan yang mengubah manusia dan dunia, melintasi batas sebuah jemaat atau gereja. Demikian pertimbangan Pdt. Dr. Benny Fobia kala itu.

Beta kira Pdt. Fobia sudah berpikir jauh ke depan tentang tugas seorang pendeta. Yang harus diurus seorang pendeta, khususnya pendeta GMIT, tidak lagi terbatas hanya pada Jemaat-Jemaat GMIT. 

Pendeta GMIT harus juga melayani manusia dan dunia. Itulah kontribusi GMIT untuk membuat manusia dan dunia ini terus menjadi lebih baik. 

Menugaskan pendeta GMIT menjadi wartawan adalah cikal bakal konsep adanya Pendeta Pelayanan Umum atau Pendeta Pelum.

Saat ini Sinode GMIT sedang kewalahan mengakomodir banyaknya alumni fakultas teologi yang tidak dapat diakomodir. 

Jumlah tempat atau gereja atau Jemaat terbatas, sedangkan alumni teologia yang melamar berlimpah. 

Pelamar bukan hanya berasal dari lulusan Theologi UKAW Kupang, tetapi dari UKSW Salatiga, UKDW Yogya, STT Intim Makassar, STT Jakarta, dan sekolah teologia lainnya.

Pdt. Fobia sudah membuka mata GMIT, bahwa ada banyak ladang pelayanan yang sudah saatnya membutuhkan perhatian. 

Ladang Fungsional, seperti Pendeta ASN bisa membantu pemerintah membina dan membimbing ASN,  Pendeta Komunitas, seperti Petugas Parkir, Ojek, Cleaning Service, Satpam dan seterusnya. 

Pendeta Kategorial, khusus melayani kategori anak, remaja, teruna, pemuda, perempuan, ibu, bapak, lansia, dst. 

Begitu juga Pendeta Profesional, pendeta media massa, pengusaha, TNI-Polri, Satpam, pramuniaga, dst. Begitu juga pendeta petani, sopir, peternak, nelayan, dstnya. Ada kebutuhan pendeta yang melayani sesuai pergumulan khas.

Setiap kategori memiliki banyak anggota. Jika dijumlahkan bisa menyamai jumlah anggota sebuah gereja. 

Jika ada seorang pemdeta khusus, maka pelayanan bisa lebih fokus dalam mendampingi permasalahan khas yang dihadapi. 

GMIT perlu membuat kajian serius mengenai tugas seorang pendeta pelum, ditengah rumit dan uniknya permasalahan manusia dengan beragam kategori. Banyak soal terjadi dalam masyarakat seharusnya bisa dicegah atau diminimalisir, jika gereja hadir secara spesifik. 

Hadirnya pandemi Covid 19 telah membuka mata gereja yang lambat merespon perkembangan dunia. 

Ketika ibadah tatap muka menjadi potensi terjadi penularan, banyak gereja kelabakan bagaimana cara bisa hadir melayani umatnya. Aspek multimedia mendadak harus menjadi perhatian. 

Saat ini GMIT mulai membenahi aspek kemampuan literasi para pendetanya. Padahal Pdt. Fobia sudah memulainya di tahun 1992. Lima orang sudah mulai disemaikan di Pos Kupang. Sayang sekali tidak diteruskan. 

Padahal GMIT memiliki ikatan batin khudus dan saham moral dalam pendirian koran Pos Kupang. Berulang kali beta sudah mengingatkan GMIT. 

Pos Kupang bisa menjadi tempat praktek pendeta, atau KKN mahasiswa theologi. 

Fakultas theologi UKAW Kupang, misalnya, pernah mempercayakan tiga mahasiswa teologi kkn di koran NTT Ekspres Kupang, yakni, John Famaney, Leny Bees, dan seorang lagi saat ini pendeta di GMIT Betlehem Oesapa Barat. 

Semoga berpulangnya Om Lius menjadi momentum GMIT memikirkan diversifikasi model pelayanan gereja. Semoga Om Lius tidak menjadi utusan yang terabaikan. 

Sebagai wartawan Pos Kupang, Yulius Lopo, sempat bertugas di Sumba Barat. Kemudian beta menjadi  penggantinya tahun 1994. 

Om Lius kemudian ditugaskan berturut-turut ke Alor, Manggarai, Sikka, dan kembali ke mabes di Kupang.

Pos Kupang yang bernaung dalam jaringan koran daerah, bentukan Kompas Grup, dibawah organisasi Pers Daerah atau Persda. Tahun 2000, Om Lius direkrut Persda pindah ke koran Metro Bandung (kini Tribun Jabar). 

Di Bandung, Om Lius dipersiapkan untuk memimpin koran Timika Pos, kerjasama KKG dan PT Frerport. Untuk misi ini Om Lius diundang khusus sesepuh KKG Jacob Oetama. 

Selain Om Lius, juga  Om Damyan Godho dan Dion Db Putra yang  pernah bertatap muka di ruang kerja bos KKG itu.

Om Lius mulai mewartakan di bumi Papua sebagai Pemred  koran baru Timika Pos sekitar Juli 2000. Ada lima wartawan dari NTT yang direkrut khusus untuk membantu Om Lius di Timika Pos. 

Selama berkiprah di Papua, setelah Timika Pos, Yulius Lopo, juga tercacat bergabung di beberapa media cetak di Timika dan Jayapura. 

Bahkan merambah ke televisi, seperti Top TV dan Golden TV. Hingga akhir hayatnya Om Lius tercatat  bergabung ke media Salam Papua. 

Ini pertanda bahwa GMIT bahkan NTT bisa mensuplai kader-kadernya untuk Indonesia. Selama 22 tahun membangun Papua dari dunia jurnalistik, Om Lius termasuk wartawan senior di Papua yang dihormati.

Beta dan Om Lius sudah lama tidak bertemu sejak kami bersama merancang hadirnya koran NTT Ekspres tahun 2000, bersama mendiang Hans Louk, Dany Ratu, Ana Djukana dan mendiang Harry Harzufri. 

Kami berdua "suten" siapa yang tetap di Pos Kupang. Hasilnya, Om Lus tetap di Pos Kupang dan saya bergabung ke NTT Ekspres.

Tahun 2002, Om Lius sempat pulang Kupang. Kami berdua ngobrol banyak hal hingga tengah malam di rumah saya yang baru mulai dibangun. 

Kami berdua bermimpi... kelak, bila beta sudah ditabis jadi pendeta, dan Om Lius dipanggil kembali oleh Sinode GMIT, berdua bercita-cita membangun GMIT dari sisi media dan membantu teman-teman agar bisa menulis. 

GMIT harus memiliki banyak penulis. Karena ketika mengasuh Rubrik Opini, jarang sekali menerima naskah opini dari kalangan teologi, mahasiswa atau pendeta.

Semasa bersama di Pos Kupang, Om Lius adalah wartawan Pos Kupang angkatan pertama, dan termasuk wartawan kesayangan Om Damy, Pemimpin Redaksi. 

Ketika Pos Kupang memiliki sepeda motor, hasil barter iklan, Om Lius menjadi orang kedua mendapat jatah sepeda motor Yamaha bebek, setelah seniornya mendiang Hans Louk. Lainnya tetap cari berita dengan jalan kaki.

Meski jauh di Papua, teman-teman Yulius di GMIT, khususnya alumni angkatan 1984 Theologi UKAW tetap bisa terus berkomunikasi lewat "The Eighties Fourth" WA Grup buatan Pdt.  Eben Nubantimo. Pada 12 Juni 2022, Yulius memberi tahu di grup WA dia mengikuti Ibadah Minggu pagi secara online dari GMIT Kota Baru Kupang, saat dipimpin Pdt. Tien Hawu-Muni.

Saat mendapat kabar duka, beta berharap  jasad Om Lius akan  kembali perut bumi Timor.  Bukan hanya asalnya dari Bokong, Kupang Tengah, tetapi Om Lius tercatat sebagai pendeta GMIT yang ditugaskan menjadi wartawan. 

Kembali ke tanah Timor ke pangkuan GMIT. Om Lius juga menjadi orang pertama asli produk Pos Kupang yang mendapat hati Om Herman Darmo, bos Persda, dan pemilik KKG Jacob Oetama, untuk menolong Papua. 

Kembali ke tanah Timor adalah pulang agar tumbuh kader-kader baru yang bisa disumbangkan untuk membangun Indonesia.

Beta  tidak tahu persis apakah Om Lius masih tercatat sebagai Pendeta GMIT, sekaligus karyawan GMIT. 

Beta juga kurang tahu, apakah Om Lius pernah dipanggil kembali melayani oleh Sinode GMIT, karena statusnya diutus ke Pos Kupang. 

Selamat Jalan sahabat rasa saudara, Yulius Oktovianus Lopo.  Ibadah Pelepasan di rumah duka jam 10:00 Wita, dilanjutkan Ibadah Pemakaman di Gereja Imanuel Baumata jam 11:00 Wita.

Tuhan menjaga anak Inyo, Indri dan Indah, serta menguatkan keluarga besar Lopo-Sirituka. *

Sumber: Pos Kupang cetak 30 Agustus 2022 halaman 2, rubrik opini.

Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi


Oleh Dion DB Putra 

UNTUK kurun waktu yang cukup panjang, dia selalu disandingkan dengan nama besar sang suami, dr. Ben Mboi. Namun, sejatinya dia pun memiliki jejak tersendiri yang tak kalah mengagumkan. 

Sebagaimana suaminya,  dr. Andi Nafsiah Walinono-Mboi, SpA, MPH atau lebih dikenal sebagai dr. Nafsiah Mboi, merupakan tokoh yang sungguh bekerja keras memajukan wilayah dan masyarakat. 

Pasangan suami istri (pasutri) ini mengabdi untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak daerah ini baru setahun jagung menjadi provinsi otonom.  

Totalitas pengabdian  keduanya menjadi penuh tatkala Ben Mboi mendapat kepercayaan sebagai gubernur NTT selama dua periode, 1978-1988.

Ketika itu Nafsiah dan Ben Mboi  telah membuat Flobamora mencuat di antara provinsi lain karena lonjakan kemajuan warganya.

 Prestasi mereka  di bidang pelayanan publik diakui tidak hanya di dalam negeri tetapi secara internasional, antara lain berupa penghargaan Ramon Magsaysay Award, Agustus 1986. 

Saya baru naik kelas 2 SMA Negeri 1 Ende kala itu.  Nama pasangan ini menjadi buah bibir. Siaran radio lokal hingga sekelas RASI dan BBC London berulang menyebut nama mereka. Media nasional tak ketinggalan mengupas.

Majalah bulanan Dian, media kebanggaan kami di Flores dan NTT umumnya, mengulas lengkap dan tuntas. Ende, kampung halamanku, kota pengasingan sang Proklamator RI, Bung Karno (1934-1938) tentu saja spesial buat pasutri dokter tamatan Universitas Indonesia tersebut.  

Di Ende mereka sama-sama mengabdi bagi rakyat Indonesia dalam masa yang sulit. NKRI baru merdeka. Di kota mungil ini pula putri sulung mereka lahir.

Almarhum ayahku, Thomas Bata, seorang guru SD di pelosok Lio Timur,  Kabupeten Ende punya kenangan tentang Ben dan Nafsiah. 

"Dokter Ben dan dokter Nafsiah memang orang hebat. Ramon Magsaysay adalah pengakuan atas kegigihan mereka bekerja untuk rakyat NTT lewat Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, dan Operasi Nusa Sehat," kata Thomas.

Nafsiah dan Ben Mboi

Ya, ketiga program unggulan itu memang tertanam kuat di benak sebagian besar masyarakat  NTT. Hingga saat ini.  Ben Mboi sungguh pemimpin pendobrak yang menumbuhkan harapan. Ben dan Nafsiah Mboi merupakan kombinasi yang saling mengisi. Seperti dwitunggal.

Peran Nafsiah Mboi jelas tak terkira. Nafsiah  memiliki jejak tersendiri yang mengagumkan. Perjalanannya panjang dan berliku sebelum mendapat kepercayaan mengemban tugas sebagai Menteri Kesehatan RI (2012-2014). 

Nafsiah Mboi adalah perempuan pertama dari suku Bugis, Makassar yang menjadi dokter dan dokter spesialis anak. Untuk NTT, dia merupakan dokter spesialis anak pertama yang melayani masyarakat Flobamora.

Nafsiah merupakan orang Asia pertama yang menjadi ketua Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-bangsa (CRC) dan perempuan Indonesia pertama yang menduduki posisi direktur pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sampai detik ini pun Nafsiah diakui ketokohannya dalam isu HIV/AIDS. Dia memperjuangan pendekatan kemanusiaan dan HAM untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS)   dan memahami pentingnya pemberdayaan populasi kunci dalam penanggulangan  HIV/AIDS.

***

Yogyakarta medio 1995. Di tempat novelis terkenal asal Siantar, Bang Ashadi Siregar, pertama kali saya belajar tentang HIV/AIDS bersama sejumlah rekan wartawan dari berbagai daerah di Tanah Air. Mentor kami dr. Nafsiah Mboi.

Ibu Nafsiah mengingatkan kami agar menulis HIV/AIDS dengan hati, penuh empati. Meletakkan nilai kemanusiaan sebagai pertimbangan utama. 

Nafsiah Mboi saat menjabat Menkes

Suatu malam di Yogya yang mendung, saya menitikkan air mata. Tak tahan mendengar curahan hati seorang ODHA yang dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri. 

Menjadi ODHA pada masa awal HIV/AIDS merebak sungguh berat.  Hari ini kiranya sudah jauh lebih baik.  Nafsiah merupakan satu di antara tokoh di negeri ini yang begitu gigih berjuang agar ODHA tidak diperlakukan semena-mena.

Ketokohannya dalam isu HIV/AIDS hanya satu di antara sederet keutamaan Nafsiah Mboi. Banyak hal tentang dirinya terserak di berbagai media.  

Namun, kekaguman terhadap tokoh tersebut tergenapi ketika membaca buku biografi berjudul  "Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi" karya Maria Hartiningsih dan Agung Adiprasetyo (Penerbit Buku Kompas, 2022).

Nafsiah Mboi

Biografi Nafsiah Mboi diluncurkan di Jakarta, Selasa 14 Juni 2022. Saya beruntung dapat undangan mengikuti acara  via zoom. Banyak tokoh penting di negeri ini yang hadir secara offline. Mereka merupakan sahabat, kolega, teman kerja Nafsiah. 

Mereka memberikan testimoni yang menyentuh. Saya ingat beberapa di antaranya yang memberikan testimoni. Aburizal Bakrie, Harry Tjan Silalahi, Martha Tilaar, Hasan Wirajuda, Ery Seda, dan Rikard Bagun.

Buku setebal 456 halaman ini mengungkapkan banyak sekali aspek kehidupan Nafsiah Mboi yang belum pernah terpublikasikan beserta mazmur syukur yang senantiasa alumni PMKRI itu daraskan pada setiap langkah hidupnya.

Membaca biografi Nasfiah laksana mendengar nyanyian kehidupan. Mulai dari cerita soal  Sengkang, kota kecil di Sulawesi Selatan pada 14 Juli 1940,  benih cinta yang bersemi di Jalan Pos Jakarta hingga Nafsiah menapak tangga tertinggi dalam kariernya. 

Penulis biografinya keren. Saya mengenal  baik. Maria Hartiningsih adalah jurnalis Harian Kompas (1984-2015).  Saya selalu suka menikmati tulisan Mbak Maria. Sentuhannya apik berbobot dalam masalah kemanusiaan dan HAM, keadilan, kesetaraan dan keberagaman.  

Agung Adiprasetyo adalah pimpinanku. Beliau mantan CEO Kompas Gramedia. Beberapa kali berkunjung ke Kupang, dan Maumere, Ledalero. Tahun 2009 terpilih sebagai satu di antara CEO terbaik.

Agung Adiprasetyo  aktif menulis di Kompas, Kontan, majalah Fortune dan lainnya. Diksinya menawan, menukik terukur dan kaya pesan. Biografi Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi lahir dari tangan dua penulis top ini. Kata pertama hingga akhir mengalir indah. Menggoda untuk terus membaca.

Tepat kiranya Nafsiah Mboi mempercayakan Mbak Maria dan  Mas Agung  menulis biografinya. Mereka piawai menenun pengalaman Nafsiah Mboi dalam buku yang terbagi dalam 15 bab  ini sebagai undangan untuk belajar tentang ketekunan, belajar soal totalitas.

Nafsiah Mboi saat peluncuran biografi

Tentang kehendak untuk terus belajar yang tak pernah padam, kegigihan dan keberanian mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran, kesetaraan dan keadilan. Pun belajar tentang empati dan kerendahan hati.

Lebih dari itu, kita belajar dari Nafsiah yang menjalani semuanya dengan rasa terima kasih dan syukur yang mendalam, detik demi detik. 

Buku ini layak dibaca siapapun. Dari mahasiswa, orang kebanyakan, aktivitas sosial hingga para pemimpin pada level dan komunitas manapun.

Mbak Maria dan Mas Agung menulis: Nafsiah Mboi bagai batu karang di tengah samudra. Gelombang yang menghempasnya, ombak dan riak yang mengitarinya ketika angin utara mereda, sayup-sayup membentuk rangkaian nada yang dimainkan oleh orkestra alam, menciptakan nyanyian kehidupan (hal 417).

Tidak  sulit kalau tuan dan puan ingin memiliki Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi.  Buku Penerbit Kompas lazimnya tersedia di Toko Buku Gramedia. *

* Dipublikasikan Pos Kupang cetak edisi Rabu 29 Juni 2022 halaman 2, rubrik opini.



Profil Sirkuit Mandalika

Sirkuit Mandalika (ist)

Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika akan menjadi saksi sejarah kembalinya ajang kejuaraan balap motor dunia ke Indonesia dengan digelarnya MotoGP seri kedua musim 2022.

Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika akan menjadi saksi sejarah kembalinya ajang kejuaraan balap motor dunia ke Indonesia dengan digelarnya MotoGP seri kedua musim 2022.

Sehari hari lagi desing suara mesin motor pebalap MotoGP akan membahana berpacu di lintasan Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

Lintasan sepanjang 4,3 km ini akan menjadi saksi sejarah kembalinya pentas kasta tertinggi kejuaraan balap motor dunia.

Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika dibangun oleh MRK1 Consulting yang berkantor di Bahrain. 

Konsultan ini mengerjakan layout sirkuit, pavement sirkuit, dan drainase sirkuit. 

Konsultan ini juga mengerjakan sirkuit balap kelas dunia, seperti Sirkuit Internasional Chang di Thailand yang juga menggelar MotoGP. 

Sementara untuk struktur tunnel atau terowongan sirkuit dan bangunan race control ditangani oleh konsultan Amsecon.

Dalam dokumen PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) disebutkan jangka waktu pengerjaan sirkuit ini sejak 15 Juli 2020–30 Juni 2021. 

Akibat pandemi Covid-19, pengerjaan proyek sirkuit ini sempat mengalami beberapa kali penundaan.

Secara umum, sirkuit ini memiliki tiga area, yaitu lintasan sirkuit, garasi motor pebalap, dan tribune penonton.

Disamping ketiga area tersebut, tidak kalah penting adalah fasilitas penunjang sirkuit yang menambah lengkap dan estetis, seperti selasar gerbang sirkuit yang bisa digunakan sebagai ruang publik bagi pejalan kaki dan untuk swafoto, area usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), area pendaratan helikopter, unit kesehatan (medical centre), dan area parkir bagi penonton.

Lintasan sirkuit

Dalam data proyek sirkuit yang dikeluarkan ITDC, lintasan memiliki panjang 4,301 km, lebar 15 meter, 17 tikungan terdiri 6 tikungan ke kiri dan 11 ke kanan. Sirkuit ini juga dilengkapi lintasan service road selebar 14 meter. 

Service road membentang di sisi kanan dan kiri sepanjang lintasan. Service road berfungsi sebagai lintasan darurat sirkuit untuk mengangkut kendaraan atau pebalap yang terjatuh dan tidak melanjutkan balapan.

Lintasan sirkuit memiliki pengamanan berupa run off area yang terdiri dari permukaan aspal, rumput, dan kerikil. 

Run off area berfungsi ketika pebalap yang melebar saat memacu kendaraannya, maka tidak akan langsung masuk rumput atau kerikil. 

Lebar run off area sangat bervariasi tergantung dari karakter tikungan dan kecepatan laju motor pebalap. 

Run off area dan gravel paling luas berada di tikungan 10 karena untuk mengantisipasi kecepatan laju motor dari tikungan 6, 7, 8, dan 9 yang berkarakter tikungan cepat dan mengalir saat pembalap memacu motornya.

Trek lurus yang membentang di gand stand utama di depan garis start dan finish memiliki panjang 507 meter. 

Saat tes pramusim 11-13 Februari lalu, top speed atau kecepatan puncak diraih Johaann Zarco (Pramac Ducati) mampu melaju hingga 314,8 kilometer per jam pada sesi Jumat dan Minggu. 

Sementara jawara seri MotoGP Qatar lalu, Enea Bastianini (Gresini Racing), dengan motor Ducati juga meraih kecepatan puncak yang sama pada hari Sabtu (12/2/2022). 

Dari tiga hari tes pramusim, catatan tercepat satu putaran diraih Pol Espargaro (Repsol Honda) meraih 1 menit 31,060 detik pada hari ketiga.

Lapisan aspal yang digunakan menggunakan teknologi stone mastic asphalt (SMA). 

Setelah tes pramusim lalu, dilakukan pengaspalan ulang dari tikungan 16,5 menuju tikungan 5,5 sepanjang 1,602 kilometer dipimpin oleh dua ilmuwan dari Universitas Ulster, Irlandia, yaitu Campbell Waddell dan David Woodward. 

Mereka merupakan pakar pengaspalan dan pengujian lapisan permukaan lintasan balap dari konsultan Roads Runways Racetracks (R3). 

Pengaspalan dilakukan agar kondisi lintasan lebih bersih dan aman setelah dilakukan evaluasi pada tes pramusim.


Garasi

Paddock atau garasi untuk memarkir dan menyetel motor pebalap merupakan tempat paling penting bagi pebalap dan kru untuk berkomunikasi mendapatkan setelan terbaik saat latihan, kualifikasi, dan lomba. 

Sirkuit Mandalika memiliki 50 garasi yang membentang di sepanjang trek lurus start dan finish. Kapasitas garasi mampu menampung semua tim yang berlomba di Moto3, Moto2, dan MotoGP.

Di belakang area garasi juga dilengkapi hospitality atau ruangan pebalap dan kru yang cukup luas. 

Ruangan tersebut juga bisa digunakan kru ataupun pebalap untuk beristirahat dan terdapat dapur untuk menyiapkan kebutuhan makanan dan minuman bagi pebalap dan kru balap. 

Di sekitar kawasan ini juga terdapat tempat yang digunakan untuk menyiapkan komponen pebalap, seperti ban cadangan dan komponen suku cadang sepeda motor.

Area garasi juga berdekatan dengan ruangan race control yang digunakan untuk memonitor balapan oleh para juri lomba. 

Di ruangan ini pula “jantung” jalannya lomba ditentukan, termasuk menentukan, misalnya, bendera kuning yang mengindikasikan ada insiden atau kecelakaan pebalap maupun bendera merah yang mengindikasikan balapan dihentikan. 

Race control dilengkapi 40 kamera yang tersebar di semua sudut lintasan dan trek lurus yang bisa berputar 360 derajat dan memperbesar visual hingga sangat detail.


”Grand stand”

Tribune penonton atau yang dikenal sebagai grand stand dibagi dalam empat kategori berdasarkan tiket penonton, yakni Premiere Class sebanyak 900 tiket, VIP Deluxe sebanyak 2.000 tiket, Premium Grand Stand, yakni tribune dengan atap, 21.056 tiket, dan Standard Grand Stand, yakni tribune tanpa atap, sebanyak 28.578 tiket.

 Sementara General Admission atau kuota tiket penonton tanpa tempat duduk sebanyak 10.000 tiket.

Menariknya, sirkuit ini selain tempat duduk tribune berwarna-warni, beberapa tribune juga dihiasi dengan warna tempat duduk warna merah-putih yang merupakan lambang kebangsaan Indonesia, yakni tribune terbuka Zona I. 

Sementara terdapat pula dua tribune yang diperuntukkan bagi penggemar atau fans Marc Marquez di tribune Zona J dan fans Maverick Vinales di tribune Zona K.

Bagi penonton juga akan disediakan shuttle bus yang secara rutin akan terus berkeliling area parkir menuju gate atau pintu masuk 1, 2, dan 3. 

Shuttle bus ini difungsikan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dari area parkir barat dan area parkir timur. 

Khusus Premiere Class dan VIP Deluxe Class diberikan akses parkir di dekat sirkuit yang berdekatan dengan tribune kedua kelas ini.

Sirkuit Mandalika juga menyediakan tempat menonton bagi area VVIP pemerintah di Observation Deck yang terletak di ketinggian 21 mdpl di ujung tikungan pertama sehingga memiliki posisi strategis menghadap secara langsung posisi start pebalap melaju menuju tikungan 1, 2, 3, dan 4.

Hal yang menarik dan menjadi perhatian selama ini adalah area penonton di kawasan bukit 360 derajat yang memungkinkan penonton melihat langsung jalannya lomba hampir di semua sudut tikungan karena posisinya yang tinggi. 

Penonton akan lebih nyaman jika menggunakan teropong untuk memantau tikungan yang agak jauh. 

Selain itu, penonton juga bisa menikmati panorama dan keindahan pantai yang menghampar di sepanjang lintasan lurus setelah tikungan 8, 9, dan 10 disertai embusan angin laut.

Penonton tidak perlu khawatir kebutuhan makanan dan minuman sebab Mandalika Grand Prix Association (MGPA) sebagai penyelenggara balapan dan Dyandra Promosindo selaku event organizer telah menyiapkan area bagi UMKM penyedia makanan dan minuman yang tersedia di sekitar tribune penonton.

 Selain makanan dan minuman, juga tersedia cendera mata, seperti gelang, gantungan kunci, kaus, kemeja, topi, hingga jaket bermotif tematis MotoGP, mulai dari tim balap dan motif layout Sirkuit Mandalika.

Panitia penyelenggara menyiapkan panggung hiburan live music yang akan menampilkan penyanyi dan grup musik papan atas Indonesia yang akan menghibur penonton. 

Fasilitas penonton dilengkapi dengan tempat ibadah, seperti mushala, sarana air bersih, dan toilet. Penonton juga bisa memanfaatkan sarana kesehatan yang disediakan di area sirkuit.

Menikmati MotoGP di Sirkuit Mandalika seirama dengan peradaban yang sedang dibangun di kawasan Kuta Mandalika. 

Perpaduan industri otomotif, olahraga kelas dunia, dan wisata diharapkan memiliki daya ungkit untuk memulihkan kembali perekonomian lokal dan nasional. (Litbang Kompas/TOPAN YUNIARTO, EDITOR: WISNU AJI DEWABRATA)


Artikel ini telah dimuat pada Surat Kabar Harian Kompas edisi Rabu (16/3/2022).

Simak liputan lengkap seputar MotoGP Mandalika dan berita mendalam khas Kompas lainnya di https://klik.kompas.id/mandalikatribun/

Artikel ini juga telah dimuat TribunLombok.com

Foto Klasik dari Budapest

 


Foto Attila Manek
Foto yang indah diambil oleh seorang fotografer telah menjadi klasik yang beredar selama beberapa dekade. 

Seorang fotografer Hungaria, Attila Manek, secara tidak sengaja menjepret seorang ibu yang sedang membeli buah & sayuran di sebuah pasar di Budapest, Hungaria pada tahun 1987, membawa bayi kecil dalam kantong plastik transparan, dan bayi itu mengunyah apel.

Dalam foto tersebut, ibu dengan rambut pendek diprofilkan & dia tampak anggun & tampak seperti Putri Diana dari Inggris, yang membuat kagum banyak orang. 

Namun, yang lebih menarik perhatian adalah dia pergi ke pasar sayur dan membawa bayinya di dalam kantong plastik besar. 

Garis otot urat tampak dilengan beban berat telah membuat foto ini banyak dikirim ulang  oleh netizen selama bertahun-tahun.

33 tahun kemudian, fotografer Attila Manek sekali lagi menemukan pasangan ibu & anak Hungaria. 

Saat itu, bayi dalam kantong plastik telah tumbuh menjadi wanita dewasa muda berusia 30-an.

Fotografer dan pasangan ibu & anak itu sekali lagi ke pasar Budapest, untuk menciptakan kembali pemandangan tersebut dengan cara yang lucu.

Sang putri dengan senang hati memegang foto yang diambil oleh Attila Manek sebelumnya dan berpose untuk berfoto setelah 33 tahun. 

Attila Manek membagikan foto terbaru ibu & anak Budapest ini pada awal 2020 dan karyanya dengan cepat mengundang banyak komentar dari netizen: "Sangat menyentuh! Bayi kecil itu tumbuh sehat dan sang Ibu setelah lebih dari 30 tahun masih anggun dan cantik.", 

Foto Atilla Manek

"Saya sangat menyukai pasangan ibu dan anak ini, saya melihat hubungan mereka sangat baik", "Ibu benar-benar terlihat seperti Putri Diana, dan masih memancarkan temperamen yang luar biasa."

Sebuah rana sesaat menghubungkan cerita 33 tahun terpisah, meninggalkan gambar & kenangan abadi. Ini adalah kombinasi dari humanisme hangat & teknologi fotografi.

Sumber: Diambil dari Grup Warga PWI 7 Agustus 2021. Kiriman mas Hendro Basuki

Sumber lain di SINI

Tragedi De Kuip


Italia juar Euro 2020
Juara Piala Dunia empat kali. Yes! Tapi jangan bilang Italia selalu bahagia karena sepak bola. 

Euro adalah jalan sengsara bagi Squadra Azzurra. Jejak pilu berurai air mata dalam penggalan waktu lebih dari lima puluh tahun. Derita setengah abad yang belum berujung. 

Setelah pesta gemerlap 1968 berkat kemenangan 2-0 atas Yugoslavia, dua kali Italia mencapai tangga puncak Piala Eropa.  Namun, kegetiran menyelimuti justru ketika hampir semua orang yakin mereka meraih trofi juara.

Di antara via dolorosa Gli Azzurri, tak ada yang lebih perih ketimbang tragedi De Kuip. 

Sayatan sembilu itu masih membekas utuh di hati Paolo Maldini Cs meskipun sudah lebih dari seratus purnama berlalu.

Rotterdam Belanda 2 Juli 2000. Final Euro, Italia vs Prancis. Duel membosankan malam itu baru luruh terurai ketika pertandingan bergulir hampir satu jam.

Melihat rekannya Luigi Di Biagio, Stefano Fiore dan Francesco Totti kesulitan menembus benteng Prancis yang dikawal super ketat Lilian Thuram, Marcel Desailly dan Laurent Blanc, Gianluca Pessotto naik membantu.

Menit ke-55, Pessotto bergerak lincah dari sisi kanan lalu melepaskan umpan silang terukur ke kotak penalti lawan. 

Marco Delvecchio yang lolos dari kepungan Thuram, Bixente Lizarazu dan Blanc, menyambar bola lewat sontekan cantik kaki kiri. Gol!

Fabien Barthez berdiri kaku dengan mulut sedikit terbuka. Terkejut menatap bola telah mencabik gawangnya. Laurent Blanc urung membuat ritual, mengecup kepala botak kiper Fabien Barthez.

Italia unggul 1-0. Pendukung Gli Azzurri tak henti bernyanyi di Stadion De Kuip Rotterdam. Fans Les Bleus membisu di seberang tribune. Hening.

 Prancis asuhan Roger Lemerre berbalik menyerang. Berduel spartan dalam sisa waktu 30 menit. Akan tetapi Didier Deschamps dkk begitu sulit menembus pertahanan Italia yang digalang apik Paolo Maldini, Alessandro Nesta,  Mark Iuliano,dan Pessotto.

Italia memimpin hingga menit terakhir injury time 90 + 4. Sesaat lagi akan ada pesta di Roma, Milan, Turin, Napoli. Sementara ketegangan memuncak di Paris.

Tiga puluh detik menjelang Wasit Anders Frisk dari Swedia meniup peluit akhir, Fabien Barthez keluar jauh dari sarangnya. 

Dia mengirim bola langsung kepada David Trezeguet yang berdiri sedikit luar kotak 16 meter pertahanan Gli Azzurri. 

Trezeguet menyundul bola umpan kepada Sylvain Wiltord yang bergerak di sayap kiri. 

Dua langkah sesudahnya, Wiltord melepaskan tembakan mendatar kaki kiri yang indah mematikan. Bola menyusur tanah, melewati jangkauan kiper Italia Francesco Toldo.

Skor 1-1. Pertandingan harus berlanjut ke masa perpanjangan waktu memakai sistem golden goal (gol emas). Semangat bertanding Italia runtuh. 

Les Bleus menggila. Tepat sebelum paruh waktu masa extra time, Robert Pires memotong bola dari kiri, memberikan kepada David Trezeguet yang sekali sentuh menembakkan gol emas lewat kaki kiri ke sudut atap gawang Toldo. 

Sesuai aturan golden goal, Anders Frisk langsung meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga final. Squadra Azzurra terluka. Remuk redam dalam tragedi 30 detik yang menyesakkan dada. Kota Paris bercahaya. Duka Roma tak terkira.

Dunia mengelu-elukan Prancis. Zinedine Zidane dkk membawa pulang trofi Euro 2000 ke Paris, melengkapi kejayaan mereka dua tahun sebelumnya meraih gelar juara Piala Dunia 1998. Pesta kembang api menghiasi menara Eiffel dan Champs-Élysées.

Tragedi De Kuip paling menyakitkan bagi pelatih Italia saat itu Dino Zoff dan kapten tim nasional Paolo Maldini.

Dino Zoff menyebutnya sebagai takdir Gli Azzurri. Menurut pahlawan Italia di Piala Dunia 1982 ini, tim asuhannya memang ditakdirkan untuk kalah. "Tiga puluh detik menghapus kemenangan kami," kata Zoff. 

“Kami memiliki waktu yang hebat di final tersebut. Pemain kami sangat kompak dan segalanya berjalan baik hingga saat-saat terakhir,” kata Paolo Maldini seperti dirilis uefa.com.

“Hingga 30 detik sebelum berakhirnya final, kami merupakan juara Eropa. Namun, kami memang melawan tim yang tidak pernah menyerah dan mereka berhasil menyamakan kedudukan di 30 detik pertandingan,” ujar  Maldini.

“Kami tiba-tiba langsung menyadari kami akan kalah. Itu bukan sekadar  gol menyamakan kedudukan,” ungkap Maldini.

Setelah gol Wiltord, kata Maldini, dia  berusaha  memotivasi rekan-rekannya untuk terus berjuang hingga menit terakhir.

“Kami saling mengingatkan agar bangkit dan memenangi final. Tapi itu hanya kata-kata, karena di hati kami paling dalam, kami sadar gol Wiltord merupakan pukulan psikologis amat besar,” ujarnya.

Sistem gol emas sungguh menghadirkan sudden death. Meski masih tersisa waktu 15 menit, Italia tak punya kesempatan lagi untuk membalas gol Prancis.

Federation Internationale de Football Association (FIFA) mulai menerapkan golden gol tahun 1993. Usia aturan ini tidak panjang karena dianggap tidak adil. Pada tahun 2004 FIFA mencabut aturan gol emas tersebut.

Dua belas tahun setelah malam jahanam di Rotterdam, Kiev kembali menghadirkan harapan bagi Italia berjaya di Piala Eropa setelah 1968.

Mario Balotelli dkk lolos ke final Euro melawan Spanyol 1 Juli 2012. Apalah daya. Tim generasi emas La Furia Roja tampil begitu perkasa.

Sungguh sakti mandraguna.  Final Euro 2012 menjadi momen antiklimaks yang memilukan. Spanyol menang telak 4-0.

 Dalam waktu 90 menit, Gianluigi Buffon empat kali memungut bola dari gawangnya.

Gol Spanyol sumbangan  David Silva (14'), Jordi Alba (41'), Fernando Torres (84'), dan Juan Mata (88'). Gol tercipta amat mudah. 

Spanyol seolah tak mendapat perlawanan apa-apa. Itulah sebabnya Italia menerima kekalahan final 2012 dengan lapang dada. Tak seperih "takdir 30 detik" dua belas tahun sebelumnya di Belanda.

***

Malam ini 11 Juli atau 12 Juli 2021 waktu Indonesia, Italia menapaki babak grandfinal Euro yang keempat sepanjang sejarah Piala Eropa. 

Mereka melawan Inggris yang bermain di kandang sendiri, stadion legendaris Wembley London. 

The Three Lions sedang berada pada level permainan terbaik. Penuh gairah yang meluap-luap karena untuk pertama kali mencicipi final Piala Eropa.

Italia dan Inggris sudah bertemu di berbagai event sebanyak 27 kali.  Italia menang 11 kali, kalah 8 kali dan sisanya imbang. Rekor head to head yang menawan.

Khusus di ajang Piala Eropa dan Piala Dunia, Italia selalu mengalahkan Inggris dalam empat pertemuan mereka. Piala Eropa 1980 di Roma, Italia mengalahkan  Inggris 1-0 di fase grup. 

Italia menekuk Inggris 4-2 (0-0) lewat adu penalti pada babak perempat final Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina.

Saat perebutan posisi ketiga Piala Dunia 1990 di Roma, Gli Azzurri menang 2-1 atas Inggris. Teranyar, Italia mencampakkan Inggris 2-1 pada babak penyisihan grup Piala Dunia 2014 di Brasil.

Inggris baru sekali masuk final dan meraih juara Piala Dunia 1966 saat menjadi tuan rumah. Italia mencapai final Piala Dunia enam kali, dan empat di antaranya juara yaitu 1934, 1938, 1982 dan 2006.

Sejak tahun 2018, tim asuhan Roberto Mancini meraih 33 kemenangan beruntun termasuk enam pertandingan sejak penyisihan Euro 2020. Mancini memancarkan harapan baru pascakegagalan negeri itu lolos ke Piala Dunia 2018.

Sejak fase grup Euro 2020, Italia mencetak total gol  12 dan gawang Gianluigi Donnaruma hanya kebobolan 3 gol. 

Hebatnnya lagi, lima pemain Italia masing-masing mencetak dua gol yaitu Lorenzo Insigne, Ciro Immobile, Federico Chiesa, Manuel Locatelli, dan Matteo Pessina. 

Ada sedikit soal, Italia kehilangan bek kiri Leonardo Spinazzola yang cedera parah saat melawan Belgia. Posisi bek kiri kemungkinan diisi Emerson Palmeiri. 

Kinerja Inggris pun fantastik. Tim Tiga Singa memenangi 11 dari 12 laga terakhir  termasuk enam partai Euro 2020 dengan mencetak 10 gol dan hanya kemasukan 1 gol.

Dari 12 laga terakhir, skuat asuhan Gareth Southgate mencetak total 25 gol, mencatatkan 10 clean sheet, dan cuma kebobolan 2 gol. Pertahanan yang keren.

Penampilan Inggris terus membaik sejak menyingkirkan Jerman. Inggris memiliki lini belakang tangguh, baru kebobolan sebiji gol selama Euro 2020. Lini depan khususnya sang kapten Harry Kane, semakin tajam. 

Kane sumbang empat gol dari tiga laga. Sementara Raheem Sterling yang sempat dicibir bikin diving melawan Denmark di semifinal, telah mengoleksi tiga gol.

Tidak ada pemain yang absen karena cedera atau hukuman kartu. Semua pemain Inggris siap tempur melawan Italia di Wembley.

 ***

Bagaimana kemungkinan  duel malam ini?  Hampir pasti berjalan alot selama 90 menit bahkan lebih.

Menarik untuk melihat siapa yang terbaik dalam lima lima pertempuran  kunci di setiap lini. Yang pertama, duel antara Harry Kane vs Giorgio Chiellini.

Baik Kane maupun Chiellini tidak menikmati perjalanan  mulus sepanjang turnamen ini, tetapi keduanya berperan penting untuk memenuhi harapan tim meraih trofi. 

Kapten Inggris, Harry Kane adalah pencetak gol terbanyak di babak kualifikasi, tetapi tumpul di babak penyisihan grup.

Inggris bersyukur striker Tottenham yang memenangkan Sepatu Emas Piala Dunia 2018 itu, bangkit dengan mencetak empat gol dalam tiga pertandingan fase gugur. 

Ketajamannya membawa Inggris ke final turnamen besar pertama selama 55 tahun.

Bek tengah veteran Italia, Chiellini  pun lambat panas. Terutama sejak pertandingan Grup A Italia melawan Swiss sampai kemenangan perempat final atas Belgia.

Namun kapten Azzurri itu, bersama bek Juventus, Leonardo Bonucci telah memainkan peran besar  membantu Italia menahan serangan gencar penyerang berbahaya Belgia di perempat final dan striker Matador di semifinal.

Duel berikutnya antara Raheem Sterling vs Giovanni Di Lorenzo. Pemain sayap Manchester City itu telah menjadi bintang Inggris sejauh ini.

Dia cetak gol kemenangan melawan Kroasia,  saat melawan Republik Ceko di penyisihan grup, dan gol pembuka dalam kemenangan 2-0  atas Jerman di babak 16 besar.

Dia juga membantu Inggis saat mengalahkan Denmark di semifinal, setelah  mencetak asis untuk gol pembuka Kane melawan Ukraina di perempat final. 

Di Lorenzo kemungkinan ditugaskan Mancini untuk meredam pergerakan Sterling. 

Bek kanan Napoli itu tampil baik meski sempat kesulitan meladeni kecepatan Jeremy Doku saat laga melawan Belgia, sehingga kebobolan gol penalti karena pelanggaran yang tidak perlu terhadap pemain remaja itu.

Duel selanjutnya adalah Kalvin Phillips vs Jorginho. Jorginho telah dianggap sebagai detak jantungnya lini tengah Italia. 

Lini tengah Italia banyak ditentukan kiprah Jorginho. Pemenang Liga Champions itu tidak dominan di semifinal  melawan Spanyol, ketika dia  menghadapi pemain muda sensasional Barcelona, Pedri.

Jorginho dan Pedri lebih banyak bermain di turnamen ini daripada Phillips yang dilatih Marcelo Bielsa di Leeds.

Inggris akan berharap Phillips dapat menggunakan energinya secara  baik demi meredam pengaruh Jorginho, seperti yang dia lakukan pada Luka Modric dalam pertandingan pembukaan  melawan Kroasia.

Duel kunci berikutnya adalah Luke Shaw vs Federico Chiesa. Dua pemain bintang turnamen akan saling berhadapan di sayap kanan Italia. 

Pemain muda Juventus, Chiesa telah menyiksa pertahanan lawan dengan kecepatan dan keterampilannya, termasuk saat mencetak gol brilian melawan Austria dan Spanyol.

Bek kiri Luke Shaw akan bertugas untuk menghentikannya. Bek MU itu juga menjadi ancaman saat menyerang. Dia telah menyumbang tiga asis di Euro 2020.

Kedua tim berharap bisa membuat lawannya lebih sibuk bertahan, daripada dibiarkan bebas berlari bersama bola menyerang ke lini pertahanan.

Duel kelima antara Harry Maguire vs Ciro Immobile. Immobile sejauh ini belum tampil maksimal di Euro 2020. Tetapi sudah mencetak dua gol dan memiliki rekor gol brilian untuk Lazio di Serie A.

Dia harus tetap dalam kondisi terbaik untuk menimbulkan masalah bagi Maguire, mengingat bek tengah Inggris itu tampil mengesankan sejak pulih dari cedera.

Immobile dapat berperan menekan Maguire selama mungkin sehingga bisa mencegahnya memainkan umpan ke depan yang sangat berbahaya.

Pertandingan final Minggu malam ini akan menjadi kesempatan tim Inggris untuk meraih gelar juara Eropa pertama kali. 

Bagi Azzurri, laga final ini bisa menandai kelahiran kembali sepak bola Italia setelah masa kegelapan bertahun-tahun. Terutama setelah gagal tampil di Piala Dunia 2018. 

Siapa pemenang di Stadion Wembley Senin dini hari nanti? Apakah tragedi De Kuip kembali menghampiri Gli Azzurri? 

Penggemar Inggris dan Italia silakan jawab sendiri ya. Selamat menonton!

* Artikel ini ditulis menjelang laga final Euro 2020 antara Inggris vs Italia di Stadion Wembley London 11 Juli 2021. Italia akhirnya menang 3-2 (1-1) lewat adu penalti dan meraih trofi Piala Eropa kedua dalam sejarah setelah tahun 1968. Artikel dipublikasikan Tribun Bali dan Pos Kupang online.


Ibu yang Malang


Dion dan Bukunya
Inggris adalah tanah air sepak bola, ibu yang melahirkan cabang olahraga terpopuler di Bumi. 

Seluruh dunia tahu tentang hal itu secara baik. Sejarah bola mencatatnya dengan tinta emas dan segala orang menerima tanpa prasangka. 

Tetapi Inggris adalah ibu yang malang, dan tidak bahagia. Ibu yang kesepian karena sang anak pergi sangat lama, bertualangan terlampau jauh hingga ke mana-mana. 

Begitu mesra mengasihi dan dikasihi oleh segala bangsa, sehingga ia lupa pulang ke pangkuan  ibu kandung yang melahirkannya.

Memang, pada suatu penggalan masa yang sudah lama sekali, anak bandel itu sempat pulang ke pangkuan ibunda. Tahun 1966, Britania yang menjadi tuan rumah World Cup menyanyikan tembang football coming home. 

Koor itu sungguh terbukti ketika Geoff Hurst dkk menumbangkan Jerman Barat 4-2 pada final tanggal 30 Juli 1966. Jules Rimet, trofi resmi Piala Dunia 1966 direbut Inggris. 

Sri Ratu Elizabeth II  yang hadir di  Stadion Wembley mengucapkan selamat, seluruh rakyat Inggris larut dalam pesta. Pelatih Alf Ramsey dipuja laksana dewa.

Namun, pesta itu hanya berlangsung sekali dan begitu cepat berakhir. Hari berganti, musim berlalu, bulan dan tahun terus bergulir, tapi prestasi Inggris tak lagi mencapai langit. 

Sebagai ibu kandung, segala cara sudah ditempuh agar sang anak betah di rumah sendiri. Ironisnya anak itu lebih memilih pergi jauh. 

Dengan entengnya ia berjalan-jalan menikmati indahnya pantai Copacabama Brasilia, bercengkerama dengan gadis-gadis latin bermata coklat.

Dia mengembara ke bumi Andalusia, ikut berjingkrak bersama para matador. 

Di lain waktu  melanglang buana ke negeri musikal Jerman, menikmati anggur oranye Belanda, bergoyang Tango bersama bocah Argentina atau tenggelam ria dalam pesta dansa di negeri mode Prancis dan Italia.

Setelah 1966, tim nasional sepak bola Inggris memang selalu gagal di event dunia, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia. 

Ketika Piala Eropa 1996 berlangsung di tanah Britania,  tersembul harapan baru akan datangnya gelar terbaik. 

Sayang sekali, kenangan manis 1966 tak terulang. Inggris kalah 5-6 di semifinal melawan Jerman yang akhirnya menjuarai Euro 1996 setelah mematuk Ceko 2-1 di final. (Dion DB Putra dalam Bola Itu Telanjang, 2010, halaman 159).

  ***

Malam ini 7 Juli 2021, dua puluh lima tahun setelah kepedihan 1996, si anak bola pulang ke rumahnya, Wembley. Inggris sudah berada di babak semifinal Euro 2020 menghadapi Denmark. 

Italia  menanti di grandfinal 11 Juli 2021 setelah kemarin mengalahkan musuh klasiknya Spanyol 4-2 lewat adu penalti (1-1).

 Perjalanan Inggris begitu apik di Euro 2020 yang bergulir di tengah jerit tangis pandemi Covid-19. 

Gawang Jordan Pickford masih steril. Lima pertandingan tanpa kebobolan. Satu-satunya dari 24 tim peserta.

Inggris berjaya sejak fase grup D. Tekuk Kroasia 1-0, imbang 0-0 melawan Skotlandia, dan menang 1-0 atas Republik Ceko. Sesudahnya, skuat Gareth Southgate mempermalukan Jerman 2-0, dan menggilas Ukraina 4-0 di perempat final.

Harry Kane dan Raheem Sterling menjadi penymbang gol terbanyak, masing-masing tiga gol. The Three Lions sedang on fire, berada pada level terbaik kinerjanya. 

Langkah Denmark tertatih berliku. Terjal. Lolos untung-untungan ke babak 16 besar. Kalah dalam dua laga grup, nasib baik masih memihak mereka. 

Di fase gugur sumbu Dinamit meledak. Pasukan Kasper Hjulmand memukul Wales 4-0, dan menaklukkan Republik Ceko 2-1 di perempat final.

Suasana batin Denmark seolah kembali ke tahun 1992 ketika mereka pertama kali meraih trofi Piala Eropa. Veni, vidi, vici. 

Sempat terpukul pascainsiden kolapsnya Christian Eriksen pada laga pertama, Simon Kjaer Cc kini sudah menginjakkan kaki di empat besar. Selangkah lagi Denmark di partai puncak.

Rekor head to head Inggris lebih sakti. Dari 21 pertemuan, Inggris menang 12 kali, kalah 4 kali dan 5 laga berakhir imbang.

Dalam lima pertemuan kedua tim sejak 2005 skornya sama. Inggris menang 2 kali, kalah 2 dan sekali seri. Artinya Denmark bukanlah lawan mudah bagi Harry Kane dkk.

Sebelum Euro 2020, Inggris dan Denmark terakhir kali bertemu di ajang UEFA Nations League pada Oktober 2020 di Stadion Wembley, London 

Kala itu Inggris kehilangan Harry Maguire yang mendapatkan kartu kuning kedua, dan Denmark menang 1-0 lewat penalti Christian Eriksen.

Malam ini di Wembley yang pasti riuh penonton merupakan pertemuan mereka ke-22 sepanjang sejarah untuk merebut tiket final Euro 2000. 

Tiket emas yang belum pernah dicicipi Inggris sejak turnamen ini bergulir 60 tahun silam. 

Malam ini 7 Juli 2021, dunia menyaksikan si anak bola pulang ke rumahnya ibunya, Wembley. 

Setelah 90 atau 120 menit di sana apakah dia tetap tinggal di tanah airnya atau malah bertualang lagi, entah ke Kopenhagen atau kota abadi Roma.

Bagaimana menurut tuan dan puan? 

Selamat menonton!


* Ditulis menjelang laga Inggris vs Denmark di babak semifinal Euro 2020 tanggal 7 Juli 2021. Inggris  menang 2-1 dalam laga selama 120 menit dan lolos ke final bertemu Italia yang di semifinal mengalahkan Spanyol 4-2 (1-1) lewat adu penalti.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes