Wartawan juga Butuh Doa


Mgr. Petrus Turang, Pr

"Dion, saya dengar dari Dami, kau tugas di Manado," katanya kepadaku suatu hari di awal tahun 2013.

"Benar sekali Bapa Uskup. Saya tugas di Manado. Makan enak terus di sana. Saya sudah pergi ke tempat kelahiran Bapa Uskup di Tondano," jawabku.  Bapa Uskup Mgr. Petrus Turang tersenyum simpul.

Dami yang beliau sebut itu adalah Om Damyan Godho. Om Damyan adalah orang tua,  guru sekaligus pemimpin saya di Harian Pos Kupang. 

Om Damy dan Mgr. Petrus Turang bersahabat karib. Bestie, meminjam istilah anak zaman now.

Pada kesempatan lain, saya bertemu beliau di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Kabupaten Kupang.

Saya hadir di taman doa yang asri tersebut bersama umat dari Perumahan BTN Kolhua Kupang. 

Sebagaimana lazimnya kami umat Katolik, begitu mendengar beliau datang, saya bergegas mendatangi Sang Gembala lalu mencium cincin di tangannya.

Saya juga beritahu  hadir di taman itu untuk berdoa sekaligus ikut kerja bakti bersama umat lainnya. 

"Baiklah. Wartawan juga butuh doa. Jangan kamu hanya tulis-tulis orang punya masalah saja," katanya. Lugas dan tegas. 

Begitu sosok Mgr. Petrus Turang. Bapa Uskup kami yang terkasih telah mengakhiri ziarahnya di bumi fana pada hari Jumat 4 April 2025.

Selamat jalan, Yang Mulia. Tuhan maha rahim mendekapmu dalam damai abadi.

***

Semasa hidupnya dan terutama ketika menggembalakan umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang selama 27 tahun, Mgr. Petrus Turang dekat dengan semua kalangan.

Dia tokoh lintas batas. Merangkul dan memberi tempat bagi semua. Uskup Petrus Turang pun selalu respek pada pekerjaan jurnalistik.

Dia mengenal para wartawan dengan baik, menghargai karya mereka. Memberi koreksi dan nasehat.

Apakah beliau suka publikasi? Sama sekali tidak. Petrus Turang bukan gembala umat yang doyan diberitakan media. 

Seturut pengalaman saya, Uskup Petrus Turang baru mau diwawancarai langsung untuk tema tertentu yang dianggapnya penting dan harus beliau sendiri yang menyuarakan.  Mgr. Petrus Turang lebih banyak bekerja daripada bicara.

"Mgr. Turang bukan tipe gembala yang mencari sorotan, namun langkahnya senantiasa terasa dalam diam. Ia berjalan jauh untuk menjangkau yang jauh," demikian dosen pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang, RD. Dr. Leo Mali dalam catatannya mengenang almarhum yang dipublikasikan Pos Kupang hari ini.

Menurut Romo Leo Mali, Mgr. Petrus Turang hadir di pelosok, mendengar suara umat kecil, dan merawat harapan mereka yang seringkali dipinggirkan oleh waktu dan sistem. 

Di tanah Nusa Tenggara Timur yang keras dan kerap diwarnai tantangan sosial, ia menjelma seperti sungai tenang yang memberi hidup bagi banyak jiwa.

Sebagai gembala, Mgr. Petrus Turang menunjukkan keseimbangan antara teologi dan pastoral. Ia menghidupi imannya tidak hanya dalam ritus dan rubrik, tetapi terutama dalam kedekatan. 

Meski kadang, sebagai seorang yang sangat cerdas dan berwawasan sangat luas, ia menjadi kurang sabaran di antara kawanannya sendiri. 

Ia memanusiakan jabatan uskup, bukan dengan melemahkan wibawanya, tetapi dengan menjadikannya cermin kasih Kristus yang merangkul. 

"Ia tidak mengejar pengaruh, tapi pengaruhnya menetap dalam kesetiaan panjang umat terhadap bimbingannya."

"Dalam banyak kesempatan, ia tampil sebagai penafsir zaman. Ia mengangkat suara terhadap ketidakadilan sosial (meski kadang dengan cara yang sangat halus), mendukung pendidikan yang bermartabat, dan menyuarakan pentingnya solidaritas lintas iman," demikian Leo Mali. 

***

Perkenalanku dengan Petrus Turang  bermula dari pengumuman penting di kota suci Vatikan 21 April 1997.

Pada hari Senin 21 April 1997 (Indonesia merayakan Hari Kartini) - kegembiraan disertai rasa penasaran menyeruak di Kupang serta kota dan desa seantero wilayah Keuskupan Agung Kupang (KAK).

Hari ituPaus Yohanes Paulus II mengangkat Petrus Turang sebagai uskup koajutor Keuskupan Agung Kupang.

Umat  KAK  gembira mendapat seorang gembala. Serentak pula merebak rasa  ingin tahu mengenai sosok sang  gembala yang kala itu berusia 50 tahun  karena namanya belum begitu familiar di Nusa Tenggara Timur.

Sebagai uskup koajutor, Mgr. Petrus Turang berhak menggantikan Uskup Agung Kupang Mgr. Gregorius Monteiro, SVD yang waktu itu telah memasuki usia pensiun. Kondisi kesehatan beliau pun tidak begitu bugar lagi.

Ketika Uskup Monteiro wafat  10 Oktober 1997,  Mgr. Petrus Turang otomatis meneruskan kepemimpinan keuskupan yang wilayahnya meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, Alor, Rote Ndao dan Sabu Raijua ini.

Pascapengumuman Takhta Suci 21 April 1997,  pekerjaan besar menanti hirarki gereja lokal dan seluruh umat  KAK  yaitu mempersiapkan acara penahbisan Uskup Petrus Turang.

Rapat menetapkan penahbisan tanggal 27 Juli 1997 di Kota Kupang. Firmus  Wangge didaulat  sebagai ketua panitia.

Suatu  pagi yang cerah,  Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Damyan Godho memanggil saya ke ruang kerjanya di kantor kami, Jl. Kenari No 1 Naikoten I Kupang.

“Dion, saya sudah masukkan  kau di seksi Humas dan Publikasi Panitia Tahbisan Uskup Piet Turang. Kerja baik-baik,” kata Om Damyan Godho membuka percakapan.

“Iya Om,” jawab saya. 

“Sebagian besar masyarakat NTT sepertinya belum terlalu mengenal bapa uskup kita yang baru,” lanjut saya.

“Justru karena itu tugas kau untuk menulis sebanyak mungkin tentang beliau  sehingga bisa dikenal umat Keuskupan Agung Kupang dan masyarakat NTT pada umumnya,” kata Om Damy.

Om Damy meminta saya segera bersua  Firmus Wangge sebagai ketua panitia. Saya menganggukkan kepala.

Kurang lebih tiga bulan persiapan panitia, saya  berinteraksi cukup intens dengan Om Firmus dan semua anggota panitia yang lain seperti Alo Djong Joko, para tokoh umat  termasuk Gubernur NTT saat itu, Herman Musakabe.

Atas penugasan dari Om Damy, semua informasi mengenai tahbisan  itu selalu dipublikasikan  Pos  Kupang yang merupakan satu-satunya koran harian yang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat itu.

Hampir saban hari selama sebulan penuh menjelang penahbisan, saya menulis mengenai tema tersebut.

Beberapa topik yang saya tulis secara serial antara lain, sejarah Keuskupan Agung Kupang dari gereja diaspora hingga menjadi keuskupan,sejarah Gereja Katedral Kupang,  profil Uskup Gregorius Monteiro dan yang paling menantang adalah profil Uskup Petrus Turang.

Maklum sumber referensi mengenai Yang Mulia di sekretariat keuskupan pun tidak banyak.

Saya mesti esktra keras mendapatkannya.  Waktu itu belum ada Mbah Google. Jadi semua harus cari secara manual. Di situlah letak keasyikannya.

Puji Tuhan semua bahan yang saya butuhkan tersedia pada waktunya. Maka saya menulis profil Mgr. Petrus Turang sejak masa kecil di Tondano, masa pendidikan di seminari, tahbisan imamat serta pengabdian beliau sebelum diangkat Paus Yohanes Paulus II sebagai uskup.

Petrus Turang yang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974 sempat menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Saya juga  menulis makna motto beliau Petransiit Benefaciendo atau Berkeliling Sambil Berbuat Baik (Kisah Para Rasul 10:38), makna lambang keuskupan dan lain-lain yang berkenaan dengan tugas sang gembala kelahiran Tataaran, Tondano Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, 23 Februari 1947 ini.

Bekerja Bersama  Om Firmus Wangge dalam kepanitiaan menyenangkan. Berlatarbelakang pengusaha, cara berpikir dan bertindak Firmus Wangge jauh dari birokrasi bertele-tele.

Apalagi waktu efektif bagi panitia penahbisan saat itu tidak lama. Hanya kira-kira dua bulan lebih.

Om Firmus selalu memastikan setiap rencana dapat dikerjakan secara baik oleh masing-masing seksi dalam kepanitiaan. Orangnya tegas, bicara blak-blakan seperti Petrus Turang tapi juga mau mendengar setiap saran.

Singkat cerita tiba jua penahbisan Uskup Petrus Turang pada hari Minggu, 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

Arena pameran tak berbekas lagi. Di lokasi tersebut kini berdiri megah Lippo Plaza dan Rumah Sakit Siloam Kupang. Tak jauh dari situ ada kantor Harian Pos Kupang.  

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ bertindak sebagai Penahbis Utama  didampingi Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia yang bergelar Uskup Agung Tituler Bellicastrum, Mgr. Pietro Sambi dan Uskup Agung Kupang saat itu, Gregorius Monteiro, SVD.

Upacara penahbisan berlangsung hikmat dan meriah. Sukses. Puluhan ribu umat Katolik tumpah ruah mengikutinya secara langsung di Fatululi.

Saya masih ingat kepada siapa ucapan terima kasih pertama yang disampaikan Uskup Petrus Turang, Pr saat memberikan sambutan seusai prosesi penahbisan. Beliau ucapkan terima kasih kepada wartawan!

“Terima kasih wartawan yang telah menulis sangat banyak tentang saya dan keuskupan ini,” kata Uskup Petrus Turang.

Saya yang berdiri meliput dari sisi kanan tribune, merinding. Terharu. 

Tentu bukan tujuan kami meminta atau mengharapkan ucapan terima kasih.

Menulis adalah tugas dan kewajiban jurnalis. Tapi ketika seorang gembala mengucapkan pada sebuah forum yang luar biasa, sungguh merupakan sesuatu.

Sampai akhir hayatnya, Om Damyan Godho dan Om Firmus Wangge menjalin relasi indah dengan Uskup Mgr. Petrus Turang.

Hubungan ketiganya tidak sekadar antara umat atau tokoh umat dengan sang gembala atau pemimpinnya. Mereka bersahabat. Teman diskusi. Saling berbagi suka dan duka.

Ketika kematian menjemput Om Damy dan Om Firmus, Yang Mulia Bapa Uskup Petrus Turang, orang pertama yang memberi peneguhan bagi keluarga.

Beliau juga yang memimpin misa requiem melepas jenazah kedua sahabatnya menuju tempat peristirahatan terakhir.

“Damy sudah berada di tempat yang lebih baik,” kata Mgr. Petrus Turang ketika memimpin misa pemakaman jenazah Om Damyan Godho  di Gereja St Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang, Kamis 31 Januari 2019.

Kata peneguhan dan penghiburan senada beliau sampaikan ketika memimpin misa requiem saat pemakaman jenazah Om Firmus Wangge di Gereja Katedral Kupang, Minggu 9 Februari 2020.

Terus terang saya respek pada beliau bertiga dalam hal membangun relasi. 

Mereka saling berbagi dan menopang dalam setiap gerak langkah bagi pembangunan daerah, masyarakat luas, untuk Gereja dan Tanah Air.

Tatkala Om Damyan Godho dipercayakan Uskup Turang menjadi Ketua Panitia Pembangunaan Taman Ziarah Yesus Maria di Belo, Kabupaten Kupang, saya tidak kaget dan heran.

Bapa Uskup tahu betul kepada siapa beliau memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar tersebut.

Bukit tandus dan lerengnya seluas kurang lebih 5 hektare berubah menjadi taman ziarah yang indah setelah dibangun selama 4 tahun.

Menurut Mgr. Petrus Turang, lahan ini merupakan hibah dari seorang umat, Yoseph Soleman kepada Keuskupan Agung Kupang.

Keuskupan lalu berinisiatif membangun tempat ziarah dengan bantuan para dermawan serta swadaya umat.

Pembangunan taman ziarah tersebut  yang panitianya dipimpin Om Damyan Godho  mulai 1 Oktober 2009. Di taman ini ada 20 titik tempat berdoa dan satu kapel di puncak bukit, Kapel St. Yohanes Paulus II.

Dari halaman kapel itu peziarah akan menikmati pemandangan indah jika mengarahkan mata ke Teluk Kupang serta pegunungan Fatuleu di kejauhan sana.

Pada hari Senin tanggal 25 November 2013, taman ziarah  Yesus Maria Belo diresmikan Kardinal dari Vatikan, Mgr. Stanislaw  Rylko.

Sampai akhir hayatnya Om Damyan Godho tercatat sebagai pengurus stasi taman ziarah tersebut. Setiap kali berziarah ke sana, saya selalu teringat beliau. Karyanya akan terkenang selalu.

Dalam wujud dan cara yang berbeda, kontribusi Firmus Wangge untuk Gereja dan Tanah Air pun tidaklah kecil.

Dalam suatu forum diskusi kecil, saya melihat bagaimana Firmus Wangge, Damyan Godho dan Uskup Mgr. Petrus Turang bertukar pandangan untuk membangun daerah, membangun Indonesia. 

Mereka tak sekadar  bergumul dengan masalah tapi memberikan tawaran solusi.

Kesaksian mengenai peran Firmus Wangge itu antara lain diungkapkan Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2008-2018, Drs. Frans Lebu Raya.

"Jasa beliau sangat besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur," kata Frans Lebu Raya, Sabtu (8/2/2020). Frans Lebu Raya pun telah berpulang.

Pria kelahiran Adonara, Kabupaten Flores Timur ini meninggal dunia di Denpasar Bali hari Minggu, 19 Desember 2021.

Mendiang Firmus Wangge dikenal luas sebagai pengusaha dan  sesepuh Partai Golkar NTT. Pria kelahiran Ende- Flores tersebut  pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT. Firmus juga aktif dalam aneka kegiatan sosial kemasyarakatan.

Demikian sekeping catatan mengenai tiga tokoh yang bersahabat karib, Mgr. Petrus Turang,  Damyan Godho, dan Firmus Wangge. Kini mereka sama-sama telah berada di keabadian.

Om Damy…

Om Firmus…

Bapa Uskup Petrus Turang...

Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. 

Kami mengenangmu dengan penuh cinta. (*)

Sumber: Pos Kupang

Duel Para Mantan


Bintang Timur juara ETMC 2024-2025

Kompetisi sepak bola Liga 4 Nusa Tenggara Timur - El Tari Memorial Cup (ETMC) 2024/2024 tersisa dua pertandingan lagi. Hari ini dan besok. Amboi waktu berlalu lekas!

Salut buat panitia dan Asprov PSSI Provinsi NTT yang mengubah jadwal. Semula perebutan juara  dan tempat ketiga berlangsung pada hari yang sama, Minggu 23 Maret 2025.

Berkaca pada antusiasme penonton ketika laga semifinal, babak final antara Persebata Lembata vs Bintang Timur Atambua digeser ke hari Senin, 24 Maret 2025 mulai pukul 19.00 Wita.

 Hari ini Minggu 23 Maret 2025 mulai pukul 19.00 Wita akan tersaji laga perebutan tempat ketiga.

Ini merupakan duel para mantan. Perseftim Flores Timur versus Perse Ende. Pemenang dari pertandingan tersebut berhak meraih satu tempat di seri nasional mewakili NTT. 

Dua tiket merupakan milik finalis yaitu Persebata dan Bintang Timur Atambua (BeTA). ETMC 2024/2025 pun mencetak sejarah yaitu lahirnya tim jawara baru. 

Finalis sama-sama belum pernah juara. Pencapaian terbaik mereka adalah runner-up. Persebata runner-up 2022 ketika menjadi tuan rumah, BeTA menggapainya tahun 2023 di Rote Ndao.

Perse dan Perseftim patut dilukiskan sebagai mantan terindah. Tim bermental juara. 

Reputasi mereka di ajang kompetisi El Tari Memorial Cup lumayan gacor. Joss!

Menurut data Wikipedia, Perseftim lima kali juara (1968, 1969, 1974, 1978, 2009). Perse Ende tiga kali kampiun yaitu tahun 1999, 2017 dan 2022. 

PSN Ngada seng ada lawan. Paling jago mereka dengan koleksi gelar juara terbanyak. Delapan kali (1970, 1982, 1986, 1997, 2001, 2003, 2007, 2023).

PSK Kupang (ketika kota Kupang belum lahir sebagai daerah otonom) enam kali juara yaitu tahun 1972, 1979, 1988, 1991, 1993, dan 1995.

Prestasi Persami Maumere sama dengan tetangganya Ende, tiga kali juara EMTC pada tahun 1976, 1984, dan 2015.

Persekota Kupang dua kali juara yaitu pada tahun 2002 dan 2010. Sedangkan tujuh daerah lainnya sama mengoleksi satu kali jawara. 

PS Malaka (2019), Persamba Manggarai Barat (2013), Persada Sumba Barat Daya (2011), Persap Alor Pantar (2006), Persim Manggarai (2005), Persewa Waingapu (2004) dan Perss Soe Timor Tengah Selatan tahun 2000).

Pada penyelenggaran ke-33 tahun ini sudah pasti lahir juara baru dan akan menjadi tim ke-14 yang pernah meraih trofi El Tari Memorial Cup. 

Persebata Lembata atau Bintang Timur Atambua? Kita tunggu hasil akhir pada laga final besok malam.

Kembali ke duel para mantan hari ini, siapa yang akan keluar sebagai pemenang?

Kinerja Perse dan Perseftim di ajang ETMC 2024/2025 mirip. Mereka bermain indah, taktis dan menjebol gawang lawan melalui skema serangan apik terencana.  

Lini tengah sama-sama solid. Punya penyerang yang dingin dan presisi bila mendapat ruang tembak di kotak penalti. 

Cuma kurang konsentrasi di masa kritis. Kekalahan Perse dan Perseftim di semifinal sama-sama terjadi di menit akhir. 

Perse nyaris menang 1-0 atas Persebata tapi  harapan mereka menguap sirna saat injury time 2x45 menit. 

Demikian pula Perseftim. Sebiji gol BeTA tercipta ketika pertandingan tinggal 10 menit akan usai. 

Kalau mereka sedikit lebih rapi dan fokus malam itu, laga bisa berlanjut ke extra time 2x15 menit bahkan adu penalti.

Artinya, siapa yang paling fokus dan konsisten selama pertandingan malam ini berpeluang besar jadi pemenang.

Beta yakin sekali le, Perse dan Perseftim akan bertanding sambil mengusung spirit "jaga waka". Apa gerangan?

 Jaga waka, dalam bahasa daerah Ende Lio (Flores)  kurang lebih bermakna menjaga wibawa atau kehormatan, baik peorangan, masyarakat atau teritorinya.

Demi kehormatan itu, mereka akan menghibur penonton lewat aksi sportif  dan elok  meski tak enteng mengutak-atik bola di lapangan "gundul" Stadion Oepoi Kupang. 

Dalam terang jaga waka pula, niscaya Perse vs Perseftim bakal bermain indah menawan hati.

Seindah desahan suara seksi Raisa mendendangkan tembang Mantan Terindah. 

Bukankah Perse dan Perseftim merupakan mantan terindah bagi para pemujanya?  Mungkin termasuk tuan dan puan. Hahaaa... 

Selamat menonton. Salam bola!

Dulang Ikan pun Ikut Bernyanyi


Bintang Timur Atambua juara ETMC 2024-2025

Catatan Sepak Bola Dion DB Putra

Lembata tak hanya manis, semanis musik dan syair lagu Sedon Lewa Papan karya Nelys Manuk yang viral mendunia. 

Lembata tak cuma cantik, secantik nona Lembata rambut merah-merah. Lembata tak sekadar tenar, setenar semburan mamalia Pausnya yang melegenda global.

Anak-anak Lembata juga hebat mengolah si kulit bundar. Begitu piawainya mereka sampai dulang ikan pun ikut bernyanyi riang.

Ya, ekspresi mama-mama di pasar TPI Lewoleba bikin beta merinding serentak terharu bangga.

Begitu Cesar Making cetak gol telat kemenangan ke gawang Perse Ende 2-1 pada babak kedua extra time, TPI Lewoleba meledak dalam sukacita. 

Dalam video yang beredar luas, termasuk diunggah Oa Fince Bataona di akun Facebooknya,  terlihat ema-ema (emak-emak) penjual ikan bersorak girang. 

Dejavu seolah menghampiri. Macam terdengar seruan magis khas Lamalera, baleoooo ... baleoooo...baleooo..!

Seorang emak cantik pukul dulang ikan sekencang-kencangnya. Pantat ember juga jadi sasaran. Ada pula yang lari berjingkrak-jingkrak. 

Ekspresi spontan. Natur. Apa adanya. Membuktikan sekali lagi betapa sepak bola itu mempesona. Bola selalu melahirkan perayaan kemanusiaan.

***

Perayaan lebih heboh menggetarkan hati terjadi di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Stadion Oepoi Kota Kupang. 

Penonton tumpah ruah pada hari Jumat, 21 Maret 2025 ketika berlangsung babak semifinal El Tari Memorial Cup 2025 antara Perse vs Persebata, Perseftim Flores Timur vs Bintang Timur Atambua.

Makin malam semakin membludak. Kapasitas tempat duduk di Stadion Oepoi Kota Kupang itu maksimum 10.000 orang.  

Panitia sempat kerepotan karena penonton terus datang mengalir terutama menjelang laga semifinal kedua antara Perseftim vs Bintang Timur Atambua. 

Pertandingan tertunda lebih dari satu jam dari jadwal pukul 18.30 Wita gara-gara membanjirnya penonton.

Mau tolak mereka tak mungkin, terima pun ada dilema karena seluruh tribune Stadion Oepoi telah sesak berdesak.

Opsi tersisa adalah menempatkan penonton di sisi lapangan setelah pagar pembatas stadion. 

Meski tidak sesuai standar PSSI-FIFA, demi keamanan dan kenyamanan pemain dan ofisial pertandingan, mau bilang apa?

Ribuan penonton pun berdiri berjejer di pinggir lapangan. Padat amat. "Seperti pertandingan tarkam," kata teman karib saya, Bli Komang Agus Ruspawan lewat pesan WA-nya dari Denpasar.

Saya kira banyak yang degdegan. Waswas, mengingat sempat terjadi kericuhan pada babak penyisihan El Tari Memorial Cup 2025 pekan lalu.

Bagaimana kalau tiba-tiba penonton menyerbu masuk lapangan karena merasa tidak puas? Tentu berbahaya bagi pemain, wasit dan perangkat pertandingan.

Syukur alhamdulilah. Puji Tuhan. Kekhawatiran itu pupus karena semua berjalan baik-baik saja.

Pertandingan antara Perseftim vs Bintang Timur Atambua selama 90 menit berlangsung ketat, keras tapi indah, menawan hati. Serangan silih berganti. Pemain sportif. 

Bintangnya malam itu milik Bintang Timur dari timurnya Timor. Macan tapal batas menang tipis 1-0 atas "laskar kepala batu" yang tidak benar-benar kepala batu. 

Pemainnya hangat. Penontonnya sopan, respek dan tetap ceria berdendang. Perseftim kalah secara terhormat. 

Setelah puasa mencapai babak semifinal ETMC lebih dari 12 tahun, Perseftim 2025 sangat menghibur. Lebih dari itu tim ini punya masa depan cerah. 

Mereka juga masih berpeluang lolos ke seri nasional, asalkan bisa mengatasi Perse Ende dalam perebutan juara ketiga ETMC, Minggu 23 Maret 2025.

Penonton pertandingan "tarkam" Jumat malam berlaku tertib tentunya berkat kehadiran aparat keamanan yang bekerja profesional. 

Hormat dan salut pada anggota Polri - terkhusus brimob yang gagah, tenang dan berwibawa di Stadion Oepoi malam itu. 

Senjata laras panjang mereka bukan untuk menakutkan. Senjata itu demi kenyaman dan keamaan semua.

Semoga suasana tertib dan nyaman  berlangsung pada hari puncak, babak final Liga 4 NTT El Tari Memorial Cup, Minggu petang hingga malam, 23 Maret 2025.

Dalam spirit persaudaraan Flobamora, saya yakin perayaaan yang indah berkesan pada Jumat malam akan terulang. 

Danke banyak untuk kerja keras dan kerja cerdas panitia di bawah pimpinan Ibu Reny Marlina Un. 

Terima kasih Ketua Asprov PSSI NTT, Om Chris Mboeik, adik-adikku pengurus teras PSSI,  Abdul Muis, Pieter Fomeni, Lukman Hakim dkk. 

Terima kasih juga buat saudaraku Karel Muskanan dan seluruh kru Bidora Channel yang menghadirkan kejuaraan ini begitu dekat dengan Anda semua pemuja bola di seantero Flobamora dan diaspora NTT seluruh dunia.

Keterlaluan bila dikau tidak berterima kasih kepada pengelola kanal YouTube Bidora. Tanpa mereka ETMC 2025 takkan seheboh dan sedekat dirimu sekarang.

Sebelum mengakhiri catatan omong kosong soal bola ini, beta mau berkata jujur soal satu hal. 

Jujur le, beta amat terusik kalimat dari netizen ini, entah dengan tuan dan puan. 

"Saya nggak ngerti yang main bola bule lawan bule, tapi yang kalah Indonesia. Hahaaa..." 

Aue...kaka Patrick Kluivert, apa kabarmu hari ini? 

Mari berkomtemplasi sejenak. Bae sonde bae, Marselino Ferdinan, anak kita bukan. Flobamora lebe bae kan? 

Selamat berakhir pekan.  Salam bola! (*)

Sumber: Pos Kupang

Lupakan Kluivert!

 

Persebata Lembata
Lupakan sejenak Patrick Kluivert dan Timnas Indonesia. Menguasai bola 61 persen atas Australia tapi kebobolan 5 gol itu seperti disayat sembilu, bukan? 

Buang jauh dulu kecewamu terhadap si arsitek asal Belanda, bos PSSI Erick Thohir atau siapa pun yang terkait Skuat Garuda 2025. 

Mari kita layangkan pandangan ke Stadion Oepoi Kota Kupang. Jumat sore ini hingga malam, 21 Maret 2025, empat tim bertarung untuk meraih tiket final.

Perse Ende vs Persebata Lembata, dan Bintang Timur Atambua versus Perseftim Flores Timur. Julukannya asoi. Manis manja. Sembur Paus (Lembata), Rore (Ende), Laskar Lewotana (Perseftim), dan BeTA (Bintang Timur Atambua).

Empat tim tersebut merupakan yang terbaik dari 31 peserta Liga 4 Nusa Tenggara Timur - El Tari Memorial Cup 2024/2025.

Laga pertama antara Perse vs Persebata mulai pukul 16.00 Wita berselimut revans. Kedua tim sebelumnya berjumpa di final Eltari Memorial Cup 2022 di Lembata. Tuan rumah kalah.

Bertanding di Stadion Gelora 99 Lewoleba lembata, Kamis (29/9/2022), Persebata kalah tipis 5-4 lewat adu penalti setelah bermain 2-2 di waktu normal. 

Pasukan Rore- julukan Perse bawa pulang trofi ke Ende. Tapi Ende gagal mempertahankan gelar setahun kemudian di Pulau Rote. 

Perse terhenti di babak 16 besar. PSN Ngada keluar sebagai jawara setelah menang atas Bintang Timur Atambua di final.

Nah tahun ini kesempatan Persebata Lembata untuk revans sekaligus meraih tiket final. Perjalanan laskar Sembur Paus lumayan apik sejauh ini.

Mereka ke semifinal setelah mematuk Persami Maumere 3-1. Hasil yang  cukup mengejutkan mengingat Persami tampil elok sejak penyisihan sampai babak 16 besar.

Di fase grup Persebata menggilas Platina FC asal Kota Kupang 4-0, bermain imbang 1-1 melawan Bajak Laut dan mengalahkan Persab Belu 2-0. Di babak 16 besar, Lembata menang 1-0 atas PS Malaka.

Mereka punya modal kuat meladeni Perse Ende yang sempat tumbang 1-3 melawan Bintang Timur Atambua pada laga perdana penyisihan grup 4 Maret 2025.

Lini serang Persebata tajam. Pilar pertahanan cukup solid. Persebata banyak pemain muda dengan energi besar untuk bertarung spartan selama 120 menit. 

Kudengar di sana ada siswa SKO alias Sekolah Keberbakatan Olahraga. Mereka punya dasar bermain bola yang bagus.

Hati-hatilah Perse Ende. Keutamaan Perse punya mental juara dan waktu istirahat untuk pemulihan fisik dan psikis lebih lama dibandingkan Lembata.

Perjalanan Perse pun lumayan baik. Setelah keok 1-3 dari Bintang Timur Atambua di laga perdana Grup D, mereka bangkit. Menang  3-2 atas BMU Alor, dan unggul 2-1 atas Sergio Malaka.

Di babak 16 besar, Perse Ende mengalahkan juara bertahan  PSN Ngada dan di babak perempat final menyingkirkan Persamba  Manggarai Barat 2-1. Meski sempat tertinggal dan gagal  penalti, Ende akhirnya lolos berkat gol Alfian dan Vergil Gale.

Lini depan Perse Ende cukup produktif. Sebaliknya pilar pertahanan kerap kedodoran terutama di babak kedua. 

Duel Persebata vs Perse merupakan ujian taktik dan mengelola irama permainan. Rotasi pemain tak kalah penting mengingat ada yang kena akumulasi kartu maupun cedera atau kurang fit untuk bermain.

Boleh jadi pertandingan tidak berakhir 2x45 menit. Bisa berlanjut extra time bahkan adu penalti.

Semifinal kedua antara Perseftim Flores Timur vs Bintang Timur Atambua  mulai pukul 18.30 Wita tak kalah asyik. 

Sudah lebih dari 10 tahun tim dari ujung timur Pulau Flores itu menantikan kesempatan bermain di semifinal ETMC. 

Perseftim  lolos ke semifinal setelah menang 3-0 atas klub asal Manggarai Barat, Bajak Laut  di Stadion Oepoi, Kupang, Rabu (19/3/2025) malam. 

Ketiga gol Perseftim tercipta pada babak kedua masa perpanjangan waktu 2x15 menit.

Perseftim Flores Timur melaju ke semifinal untuk bersua Bintang Timur Atambua alias BeTa. Sehari sebelumnya BeTA lolos ke empat besar setelah menang dramatis 3-2 atas Tiara Nusa FC dari Manggarai Timur.

Di atas kertas, pemuja sepak bola NTT lebih mengunggulkan Bintang Timur Atambua. Bisa dimengerti mengingat kinerja mereka relatif stabil dalam dua tahun terakhir. Tim bimbingan Serena Francis ini finalis 2023 di Rote.

Pencapaian BeTa sejak babak penyisihan ETMC 2025 pun sangat meyakinkan. Skuat dari tapal batas RI-Timor Leste itu bermaterikan pemain usia muda. 

Mereka terlatih sangat baik, disiplin dan solid di semua lini. Pantang menyerah dalam posisi tertinggal seperti Ketika melawan Perse dan Tiara Nusa.

Ihwal daya juang di lapangan, para pemain Perseftim juga menyala, kaka! 

Apalagi suporter Flores Timur sepertinya  bakal menguasai tribune Stadion Oepoi Kupang malam ini. Fans Bintang Timur pun tak mau kalah. Duel BeTA vs Perseftim akan menjadi tontotan menawan.

Petugas keamanan kiranya perlu berkerja ekstra agar dua laga semifinal hari ini berjalan lancar dan nyaman bagi semua.

Semoga cuaca bersahabat agar bola bergulir indah di lapangan. Tidak elok kalau hujan tercurah secara berlebihan. Oepoi akan jadi kolam lele.

Pawang hujan ko naik gunung sudah eee 

Selamat bertanding Perse, Persebata, BeTA dan Perseftim. Junjung bae-bae sportivitas. 

Salam bola!

Macam Liga Eropa


Persebata Lembata

Sobat kental sepantaran awak jengkel bukan kepalang. Dia penggemar berat sepak bola. Tim lokal kesayangannya adalah Persib Bandung dan Perfeftim Flores Timur.  

Kalau tim mancanegara, dia sejak lama jatuh cinta pada klub Barcelona FC (Spanyol) dan Timnas Argentina.

Niatnya menonton laga 16 besar El Tari Memorial Cup (ETMC)  antara Perseftim  versus klub Citra Bhakti Ngada luruh oleh usia kategori pra lansia.

Umur yang secara natur tak cukup kuat lagi mete alias begadang hingga malam larut. 

"Saya tidak kuat lagi mete le, teman. Mengapa panitia atur jadwal main sampai tengah malam begini. Macam nonton liga Eropa saja," katanya tertawa. 

Hahahaaa.. saya juga ngakak di ujung telepon genggam. "Sudahlah, teman. Kita mesti tahu diri. Besok pagi bisa nonton ulang di kanal YouTube Bidora. Saya juga mau tidur sekarang," kataku kepadanya. Klik. Telepon mati.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.55 Wita hari Senin, 17 Maret 2025. Sesaat lagi hari telah berganti.

Saya memang melewatkan laga Perseftim vs Citra Bhakti Ngada yang berakhir 4-1 lewat adu penalti. 

Duet ketat selama dua jam hasilnya cuma kaca mata (0-0). Saat adu penalti, pemain-pemain Perseftim lebih jago sebagai algojo. Citra Bhakti terhenti. 

Musim kompetisi kali ini nasib baik rupanya menyelimuti anak-anak Ngada.

Laga babak 16 besar antara  Perseftim vs Citra Bhakti Ngada tercatat sebagai yang paling larut bergulir selama kompetisi Liga 4 Nusa Tenggara Timur - El Tari Memorial Cup 2025. 

Bisa dimaklumi mengingat pertandingan sebelumnya antara tuan rumah Persekota Kupang vs Bajak Laut (Manggarai Barat) juga berakhir via adu penalti.  

Bajak Laut lolos ke perempat final setelah menang tipis 8-7 (1-1). Pada hari kedua babak knock out ETMC 2025, terjadwal empat pertandingan mulai pukul 14.00 Wita. 

Namun, pertandingan tertunda kurang lebih dua jam lantaran panitia harus mengeringkan lapangan Stadion Oepoi dari genangan air hujan. 

Air langit deras tercurah mengguyur Kota Kupang dan sekitarnya pada Senin pagi hingga siang kemarin.

Maka pemain Perseftim vs Citra Bhakti yang berada di urutan keempat, mesti  mengutak-atik si kulit bundar larut malam sampai Selasa dini hari 18 Maret 2025.  

Tentu tidak lazim bagi kita di bumi Flobamora yang belum terbiasa bermain sepak bola pada malam hari. 

Di NTT, stadion yang representatif untuk bermain malam hari baru dua yaitu Stadion Marilonga di Kota Ende dan Stadion Oepoi Kota Kupang. Stadion Marilonga di kampung beta merupakan pionir.

Idealnya laga babak 16 besar ETMC 2025 tidak dipadatkan wajib tuntas dalam dua hari saja. 

Sangat elok menawan hati bila berlangsung empat hari sehingga saban hari hanya dua pertandingan.

Namun, panitia ETMC 2025 sudah mematok babak final kompetisi yang bergulir sejak Senin 3 Maret 2025 adalah hari Minggu, 23 Maret 2025. 

Itulah sebabnya padatnya jadwal merupakan konsekwensi logis. Patut diterima. Semua tim peserta kiranya sudah sepakat saat pertemuan teknis.

Kalau perpanjang waktu kompetisi lagi  bakal menyedot energi tidak sedikit terutama biaya akomodasi dan lain-lain. 

Di tengah isu efisiensi anggaran dan pemangkasan dana di sana-sini, pilihan ini rasional. 

Semoga kompetisi ETMC berikut lebih longgar jadwalnya agar aksi pemain sungguh berkualitas karena mereka tampil dalam kondisi fisik dan psikis lebih bugar.

Hanya jeda istirahat sehari untuk kompetisi Liga 4 sekelas ETMC sangat tidak ideal. Pemulihan butuh waktu sekurang-kurangnya 48 jam.

Kita seolah tega "menghukum pemain" dan pelatih untuk memforsir tenaga dan pikiran sehabis-habisnya demi meraih kemenangan.

  Coba tuan dan puan tanya delapan tim yang sekarang berada di babak perempat final, apa masalah mereka?  Saya kok agak yakin satu di antaranya adalah faktor kelelahan!

Mereka letih dan lesu. Psikis maupun fisik, terkhusus tim yang  menjalani laga lebih dari dua jam seperti Perse Ende, Perseftim Flores Timur dan Bajak Laut Manggarai Barat.

Sedikit lebih bugar kiranya memihak skuat Bintang Timur Atambua, Persamba, Persebata Lembata dan Persami Maumere yang main "gagah ngeri" ketika mematuk lawan-lawannya.

Setelah beristirahat hanya sehari, Perse Ende hari ini Selasa 18 Maret 2025 mulai pukul 15.00 Wita akan melawan Persamba Manggarai Barat.  Kedua tim asal Pulau Flores itu berjuang meraih satu tempat di semifinal ETMC 2025.

Laga kedua mempertemukan runner-up ETMC 2023, klub Bintang Timur Atambua (BTA) melawan Tiara Nusa dari Manggarai Timur.

Perse dan Bintang Timur mungkin saja lebih ente unggulkan menang mengingat rekam jejak mereka sebelumnya. Tapi bola itu bundar. Segala sesuatu mungkin terjadi selama 2x45 menit. Bahkan 120 menit sampai adu penalty.

Besok, Rabu 19 Maret 2025 empat tim lain akan berjuang meraih tiket empat besar yaitu Persami, Persebata, Bajak Laut dan Perseftim.

Siapa yang paling lekas pulih, lebih siap fisik dan mental akan keluar sebagai pemenang sampai hari puncak 23 Maret 2025.

Oh ya, tim dari  utara dominan di ETMC 2025. Utara yang saya maksudkan ialah tim asal Pulau Flores dan Lembata. 

Dari delapan tim yang bertahan sejauh ini, tujuh kesebelasan berasal dari Flores dan Lembata.

Bintang Timur Atambua menjadi satu-satunya yang "jaga waka" (baca: jaga nama) anak-anak selatan Flobamora: Timor, Sumba, Rote dan Sabu.

Pesan kecil buat tim-tim asal Flores Lembata, jangan tepuk dada dulu, kawan. Biar sendirian, siapa tahu malah Bintang Timur Atambua yang akan jadi jawara. Mereka tuan tanah na. 

Akhir kata, selamat bertanding tim delapan besar ETMC 2025. Kalian semua merupakan yang terbaik. 

Jaga fair play. Junjung tinggi spirit persaudaraan Flobamora. 

Ubur-ubur ikan lele

Nona entete lincah-lincah le

Nyong ganteng pemain bola NTT

Jangan bakalai e...

Salam bola!

Ngada di mana-mana

 


Usai sudah perjalanan kesebelasan Persatuan Sepak Bola Ngada (PSN) di ajang kompetisi Liga 4 Nusa Tenggara Timur, El Tari Memorial Cup 2025.

Langkah sang juara bertahan terhenti di babak 16 besar. PSN kalah dengan kepala tegak dalam drama adu penalti setelah laga melelahkan selama 2 jam lebih. Mereka bahkan sempat mandi hujan pula. 

Ketika  adu penalti bergulir menjelang malam larut (hampir pukul 11 malam), PSN Ngada menyerah 1-2 (0-0) melawan "musuh sekaligus sahabat karibnya" Perse Ende. 

Hanya satu dari lima algojo PSN yang sukses menjebol gawang Ende. Selebihnya diblok kiper Perse dan melambung jauh di atas mistar gawang. 

Sulit menampik betapa kelelahan membuat anak-anak dari kota dingin Bajawa dan sekitarnya kehilangan konsentrasi dan daya sengat.

Para pemain  Perse Ende lebih beruntung. Dewi Fortuna memeluk mereka kali ini. Semoga sukses terus sampai puncak ETMC 2025.

PSN dan Perse menciptakan malam nan indah di Stadion Oepoi Kupang, Minggu 16 Maret 2025. 

Final dini, kata banyak pemuja sepak bola Flobamora. Apa mau dikata. Bola bergulir mempertemukan mereka di 16 besar.

Duel malam itu  panas luar dalam. Membara di dalam lapangan maupun di tribune penonton Stadion Oepoi Kupang. Pertarungan hidup mati.

Tapi begitulah watak dasar anak Ende dan Ngada, dua kabupaten bertetangga rapat di Pulau Flores. Panas kompetisi bola yes, bersaudara pasti!

Meskipun pertandingan berjalan alot, ketat dan tensi tinggi, hati para pemain, pelatih, ofisial dan penonton tetap dingin. Cool abis.

Suporter PSN dan Perse bernyanyi-nyanyi, berjingkrak ria, memberi dukungan sepenuh-penuhnya untuk tim kesayangan masing-masing.

Pemain di lapangan tak kalah ganas. Serangan silih berganti, adu fisik, uji otak, strategi, teknik dan taktik. Hasil tetap 0-0 hingga waktu normal 90 menit serta extra time 2x15 menit.

Perse menang pada akhirnya namun mereka tak jemawa.  Pemain Perse memeluk, menghibur pemain PSN Ngada, pelatih serta ofisial. Tak ada keributan, protes apalagi hujatan.

Sepanjang sejarah El Tari Memorial Cup, PSN dan Perse sudah berjumpa banyak kali. Duel klasik super asyik. Bertempur sesudah itu berangkulan hangat.

Para penonton dari kedua kubu pun berjalan keluar dari stadion dengan tertib. Mereka saling menyapa dan bercanda tawa.

Semoga kehangatan semacam ini terus menular dan menginspirasi semua tim hingga kompetisi sepak bola El Tari Memorial Cup 2025 berakhir.

Malu kita kalau sepak bola NTT selalu diwarnai perang mulut dan adu jotos. Sedih nian bila pemain bola berubah peran jadi karateka atau petinju.

***

Kisah PSN di ETMC 2025 sudah tutup buku. Tapi jangan lupa kawan, anak Ngada masih ada di mana-mana.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pemain sepak bola asal Kabupaten Ngada menjadi incaran tim atau klub dari daerah lain di NTT.

Secara umum bakat dan skill mereka mengolah si kulit bundar di atas rata-rata. Daya juang tinggi dan berkarakter baik.

Silakan tuan dan puan periksa tim-tim peserta El Tari Memorial Cup 2025, terutama dari Flores dan Lembata. 

Hampir pasti ada satu dua pemain asal Ngada yang bergabung di sana. Mereka masuk skuat bukan sekadar penggembira. Lazimnya starting eleven list.

Saya ingat tahun 1999 saat meliput El Tari Memorial Cup di Kota Ende. Tuan rumah Ende akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan PSN Ngada 3-2 di final.

Laga final di Stadion Marilonga, Selasa sore 7 Desember 1999 berlangsung sengit. 

Meremas jantung para suporter kedua tim sejak Wasit Umar Wongso melakukan kick-off hingga duel 2x45 berakhir. 

PSN kala itu merupakan juara bertahan. Sayang mereka gagal pertahankan gelar di bumi danau Tri Warna Ende. Yang mau saya ceritakan adalah, pemain kunci Perse saat itu adalah anak Ngada.

Yosef Bebo namanya. Pria gagah  yang berperan sebagai jenderal lapangan tengah Perse.

Yosef Bebo tangguh dan taktis. Umpan-umpanya terukur untuk trisula lini depan Perse, Lody Mitan, Vevi Kumanireng dan Alit Santika. 

Yosef Bebo juga piawai mengatur kedalaman sehingga blok tengah PSN Ngada yang dipimpin Johni Dopo sulit bergerak bebas.

Dengan mematikan Johni Dopo, Perse mengambil peluang terus menekan dan hasilnya diperoleh pada menit ke-9 tatkala Yosef Bebo sendiri menjebol gawang Imu Kadu hasil tembakan bola dari jarak sekitar 25 meter.

Gol pertama anak Ngada ini membuat mental bertanding PSN down hingga menyerah dengan skor tipis 2-3. Ende juara. Yosef Bebo dielu-elukan.

 Tahun 2025 masih tim yang diperkuat sejumlah putra Ngada yang bertahan di kompetisi dan  berpeluang jawara.

Sampai hari ini Senin 17 Maret 2025, tercatat empat tim yang melaju ke babak perempat final ETMC 2025. 

Mereka adalah Persamba Manggarai Barat,  Perse Ende,  Tiara Nusa (Manggarai Timur) dan Bintang Timur Atambua.

Mengapa kal ini beta sentil banyak mengenai PSN dan Perse? Harap maklum, kedua tim itu selalu di hati. 

Alasannya? Aih, mohon maaf kawan. Ini rahasia keluarga. Hahahhaa...

Bagaimana saya bisa pindah ke lain hati mengingat cantiknya Inerie? Apalagi gurihnya kopi kelas dunia - kopi Bajawa? 

Wala ame ka'e, susah amat le melupakannya.

Buat tim yang berlaga hari ini, Persebata vs PS Malaka, Persami vs Biru Muda Perkasa, Persekota vs Bajak Laut, dan Perseftim vs Citra Bhakti Ngada, ayo bertanding seperkasa mungkin. Fair Play!

Bagi penonton mari ramah-ramah, jangan marah-marah! 

Nonton bola untuk Bahagia, bukan bikin naik darah. Di NTT cukup ikan saja yang naik di pantai.

Semoga hujan segera berlalu biar Stadion Oepoi sore nanti asyik untuk bermain dan menonton. 

Salam bola!

Selamat jalan Ka'e Daniel Bheto Dedo


Daniel Bheto Dedo

Keluarga besar suku Lise berdukacita. Mosalaki yang berkedudukan di Kampung Ratenggoji, Desa Taniwoda, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende berpulang.

Ka'e (kakak) Daniel Bheto Dedo meninggal dunia dengan tenang di rumahnya pada Minggu dini hari 16 Maret 2025.

Keluarga besar Tani Woda, Dosi Woda dan Senda Woda berduka. Nie, demikian sapaan Kakak Daniel meninggal dunia dalam usia lebih dari 80 tahun.

Daniel berpulang menyusul adik laki-lakinya Gerardus Baba yang berpulang pada tahun 2022.

Selamat jalan Kakak Daniel Bheto Dedo. Bahagia kekal di sisiNya.

Ndori

 

Saya dan Ka'e Frans Sarong (kiri)

Kala itu saya masih wartawan baru. Baru jadi jurnalis. Belum lama terbius pesona jurnalisme yang nyatanya memang asyik. 

Saya sedang berada di Ende. Cuti tahunan. Pulang sejenak dari Kupang demi menengok orang tua dan saudara. 

"Aji (bahasa Ende yang artinya adik) Dion, besok saya mau ke Ndori. Kalau aji tidak sibuk, ayo ikut," katanya lugas kepada saya di rumahnya yang mungil di Jalan Kokos Raya, Perumnas, Kota Ende.

"Siap ka'e (kakak)," jawabku.

Siapa berani menolak? Bagi saya ajakan itu bak durian runtuh.  Saya bisa jalan-jalan sambil meliput bersama  kakak,  guru dan mentor jurnalistikku.

Keesokan hari kami berangkat pagi-pagi. Kabut tipis masih menyelimuti Gunung Wongge, Meja dan Gunung Iya.

Mesin mobil sudah dihidupkan, siap meluncur. Gass!  Eh, tiba-tiba dia matikan mesin lalu bergegas turun  menuju ke rumah. Rupanya mau mengambil sesuatu. Ternyata sebilah parang.

Saya tak bertanya apa-apa. Mengapa bawa parang?

Mobil meninggalkan Perumnas, bergerak ke timur dalam kecepatan sedang. Kami melewati Roworeke, Wolotolo, Detusoko, Nduaria, Moni, Wolowaru. 

Terus ke timur meliuk-liuk termasuk melewati kaki kampung nan permai bernama Pemo, Desa Wolosoko, Kecamatan Wolowaru, tempat kelahiranku. Ini kampung kakek nenekku dari garis ibu.

Jarak dari Kota Ende ke Ndori kurang lebih 90-an kilometer. Lumayan jauh apalagi kondisi jalan pada tahun 1990-an tidak baik-baik saja.

Sampai di Kampung Aebara, mobil belok kanan. Kami meluncur ke pesisir selatan Pulau Flores, melewati Wonda hingga tujuan akhir Pantai Ndori, Maubasa.

Tapi baru kira-kira sepuluh menit meninggalkan Aebara, aral melintang datang. Jalan di depan kami terhalang sebatang pohon bambu yang baru tumbang.

Kendaraan tidak bisa lewat. Sang guru sigap mengambil parang. Dia turun dari mobil lalu mulai memotong dan membersihkan bambu tersebut dari jalanan. Saya ikut membantu.

Pahamlah awak sekarang, mengapa tadi beliau membawa parang dari rumah. Kalau tanpa barang, susah su datang menimpa. Hahaaa..

Setelah itu perjalanan kami lancar jaya sampai Pantai Ndori. Di sana kami melihat aktivitas dan mewancarai sejumlah nelayan yang piawai dan tangguh menangkap ikan pari.

Ya, nelayan Ndori Maubasa terkenal tangguh menangkap ikan pari. Seperti saudara mereka di Lamalera-Lembata yang piawai menangkap paus, nelayan Ndori tak asal tangkap ikan pari.

Mereka menjunjung tinggi kearifan lokal. Menangkap pari secukupnya untuk konsumsi dan sebagian dijual. 

Pari yang ditangkap bukan anak pari atau pari yang produktif. Mereka tahu mana ikan pari yang layak ditangkap.

Setelah mendapatkan bahan berita yang cukup di Pantai Ndori, kami kembali ke Kota Ende dan baru tiba menjelang larut malam.

Beberapa hari sesudahnya saya baca feature menarik di Harian Kompas, judulnya mengelitik "Untung Bawa Parang". 

Karangan khas tersebut tak semata bercerita tentang ikan pari dan nelayan Ndori yang tangguh melaut. 

Isinya kaya warna termasuk apik nian melukiskan susahnya akses jalan menuju Wonda, Ndori, Maubasa pada masa itu. 

Ndori sekarang sudah menjadi wilayah kecamatan sendiri, mekar dari Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, NTT. Kondisi jalan ke sana kiranya sudah jauh lebih baik. 

Pengalaman adalah guru terbaik. Kisah tentang parang itu sungguh membekas di benak dan hati saya. Sampai sekarang.

Sang mentor mengajari kami para juniornya di dunia jurnalistik, tidak semata lewat kata-kata tapi aksi. 

Dia memang penulis feature yang hebat. Pembaca  Kompas pasti mengenal dan suka mencicipi karya jurnalistiknya. 

Penulis yang tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman. Dia selalu dengan senang hati menuntun dan memotivasi. 

Saya, Pascal Bin Saju, Jannes Eudes Wawa dan banyak wartawan lain pernah merasakan bimbingannya.

Namanya Frans Sarong. Inisialnya ketika masih aktif sebagai wartawan Harian Kompas adalah ANS. 

Minggu 2 Maret 2025, Ka'e Frans Sarong ulang tahun.  Pada hari yang indah ini, saya hanya mau bilang, sehat dan bahagia selalu Ka'e Frans. 

Tuhan menyertai dan mengasihi ka'e dalam setiap pelayanan dan pengabdian bagi sesama.

Salam hangat buat Kak Tina, Anak Ellen, Mario dan David. (*)

Perintah Ratu



 Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, S.T memerintahkan Inspektorat segera mengaudit pengelolaan program dana desa di 173 desa di kabupaten tersebut.  

Audit, menurut Bupati Ratu Wulla, sangat penting agar bisa mengetahui pengelolaan dana desa yang baik serta kendala  di setiap desa. 

Perintah mengaudit dana desa sejalan  dengan visi misi Bupati dan Wakil Sumba Barat Daya periode 2025-2030, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, S.T-Dominikus A. Rangga Kaka, S.P yakni membangun desa, menata kota.

Ratu Wulla menyampaikan hal ini saat memimpin apel perdana sebagai bupati yang diikuti seluruh ASN lingkup Pemkab Sumba Barat Daya dan para kepala desa di halaman Kantor Bupati Sumba Barat Daya di Tambolaka, Senin (3/3/2025). 

Dikatakannya, audit bukan menakuti-nakuti kepala desa dan seluruh perangkatnya tetapi mau memastikan pengelolaan dana desa sesuai ketentuan  yang berlaku dan  proses pembangunan desa tetap berjalan. 

Urgensi mengaudit dana desa kiranya bukan hanya kebutuhan Kabupaten Sumba Barat Daya yang kini dinakhodai Ratu Wulla. Seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) patut melakukannya. Mengapa demikian? 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa program dana desa yang bergulir di negeri ini sejak 2014 belum sepenuhnya mengatasi ketimpangan pembangunan antarwilayah. 

Dalam periode 2015-2024, pemerintah telah mengalokasikan dana desa lebih dari Rp 400 triliun. Akan tetapi program yang bertujuan mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi kemiskinan masih jauh dari harapan ideal.

Data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menunjukkan selama satu dekade, dana desa sudah dipakai membangun lebih dari 200.000 kilometer jalan desa, 1.200 jembatan, 22.000 unit sarana air bersih, dan ribuan fasilitas kesehatan serta pendidikan.  

Program ini telah menciptakan lebih dari 4,2 juta lapangan kerja di pedesaan. 

Akan tetapi ada  kenyataan pahit yang menyertai yakni banyak proyek gagal, mutu pembangunan fisik buruk, dan dana tidak tepat sasaran.  

Korupsi merupakan penyakit utama. Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sejak 2015 hingga 2024, lebih dari 900 kasus korupsi terkait dana desa yang diungkap. 

Nilai kerugian negara lebih dari Rp 1,5 triliun.  Modus operandi korupsi mulai dari penggelembungan anggaran proyek, proyek fiktif, hingga pemotongan dana oleh aparat pemerintah desa atau pejabat daerah. 

Kondisi serupa pun terjadi di sejumlah desa di Provinsi NTT. Oleh karena itu, audit berkala merupakan langkah yang tepat sehingga program dana desa mencapai tujuan yang seharusnya. 

Sebagai daerah serba terbatas terutama dana, mestinya program dana desa merupakan solusi terbaik bagi Flobamora mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Syaratnya adalah kelola dana desa sebaik mungkin demi kemajuan masyarakat desa. (*)

Sumber: Pos Kupang

Mama Belgi Menangis

MAUMERE, FS -- Air mata Mama Belgi tumpah di Panti Asuhan Stella Maris Nangahure-Maumere, Kamis (6/5/2010). 

Mama Belgi tak menyangka bakal menerima bantuan uang Rp 100 juta serta satu ton beras dari Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang.

Maria Jeanne Colson E.A.J atau yang bagi masyarakat Kabupaten Sikka lebih akrab disapa Mama Belgi meneteskan air mata usai menerima bantuan tersebut. 

Ia tidak menyangka Pemerintah Kabupaten Sikka akan membantu panti asuhan dalam jumlah cukup besar.

Melihat Mama Belgi menangis, pekerja dan penguni panti pun ikut meneteskan air mata di hadapan Bupati Sikka. Demikian pula sejumlah pejabat tak tahan menahan air mata mereka melihat Mama Belgi menangis.

Perempuan asal Belgia yang sepanjang hidupnya mengabdi untuk masyarakat Flores ini berulangkali menyampaikan terima kasih kepada Bupati Sikka. Ia terharu sekaligus senang menerima bantuan tersebut.

Menurut Mama Belgi, baru kali ini Pemerintah Kabupaten Sikka memberikan perhatian kepada panti asuhan dalam jumlah yang cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan makan penghuni panti setiap bulan, Mama Belgi membutuhkan tiga ton beras. Panti Stella Maris menampung penguni sebanyak 300 orang.

"Saya terharu dan senang. Baru kali ini bantuan sebesar ini diberikan Pemkab Sikka kepada kami di Panti Asuhan Stella Maris. Ini sangat membantu kami untuk menghidupi anak panti yang kami tampung. Terima kasih pak bupati," kata Mama Belgi.

"Bantuan ini merupakan wujud kepedulian yang besar bagi kami. Kami berharap ke depan ada yang peduli terhadap kami," tambah Mama Belgi usai menerima bantuan.

Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang, mengatakan bantuan ini merupakan wujud perhatian pemerintah terhadap anak-anak panti asuhan. "Pemerintah harus berterima kasih kepada Mama Belgi yang telah melakukan karya kemanusiaan di Kabupaten Sikka selama puluhan tahun," kata Bupati Mitang.

Pemerintah daerah, diakui Bupati Sikka, belum membangun panti asuhan seperti yang telah dibuat Mama Belgi. Karena itu bantuan kepada panti asuhan itu sudah semestinya. (ris)


Berkuda dari Kampung ke Kampung

MAMA Belgi berada di Paroki Mater Boni, Watublapi awal tahun 1970-an. Di Watublapi, Mama Belgi membantu Pater Bolen, pastor paroki saat itu mengurus anak-anak yatim piatu. 

Pada masa itu di wilayah Paroki Watublapi angka kematian ibu melahirkan sangat tinggi karena sulitnya transportasi dan belum ada puskesmas. Satu-satunya andalan umat adalah dukun bersalin sehingga risiko kematian ibu sangat tinggi.

Mama Belgi terpanggil untuk mengasuh anak-anak yatim piatu. Bukan hanya anak yang ditinggal mati ibu. Anak-anak korban kekerasan, misalnya sang ibu dibunuh ayah juga diasuh Mama Belgi. 

Untuk mendapatkan anak yatim piatu, anak cacat, gizi buruk dan anak-anak dari keluarga tak mampu secara ekonomi, setiap pagi Mama Belgi menunggang kuda masuk keluar kampung. 

 Seekor kuda jantan berwarna coklat setia menenami Mama Belgi menapaki jalan lumpur dan batu, semak berduri dan lorong-lorong yang kurang bersahabat. 

 Mama Belgi selalu membawa gula-gula untuk dibagikan kepada anak-anak yang berjejal di pinggir jalan. Mereka umumnya sudah hafal bunyi hentakan kaki kuda yang ditunggangi Mama Belgi.

Dari Watublapi, Mama Belgi harus menempuh perjalanan yang melelahkan ke Kloangpopot, bahkan ke Halehebing yang merupakan daerah terisolir di zaman itu. 

Tak kenal lelah, Mama Belgi memacu kudanya agar bisa menemui anak-anak yang membutuhkan bantuan. Setiap kampung yang disinggahi, Mama Belgi menanyakan kepada kepala dusun atau tua adat soal keberadaan anak-anak yang membutuhkan bantuan atau butuh penanganan khusus.

Sekembali dari kampung-kampung di sore hari, Mama Belgi menggendong satu atau dua orang bayi ke pastoran. Di sana anak-anak itu ditampung di sebuah rumah yang kemudian bediri menjadi panti asuhan.

 Di sana Mama Belgi mengasuh anak-anak itu, ibarat seorang mama yang selalu memberikan belaian kasih sayang kepada anak-anaknya sendiri. Panti asuhan itu terus berkembang dan Mama Belgi memperluas pelayanan ke wilayah Lio, seiring dengan hadirnya kasus busung lapar di Wolofeo.

Mama Belgi dan Pater Bolen sungguh peduli terhadap anak- anak yatim piatu, anak-anak yang putus sekolah dibiayai sampai SLTA bahkan perguruan tinggi. Banyak orang telah menjadi manusia yang sukses. Terima kasih Mama Belgi. (gerardus manyella)


Dari Kongo ke Sikka

Nama lengkap: Marie Jeanne Colson E.A.J
Tempat/tgl lahir: Sint Naafs Vijve, 7 Maret 1935
Anak kelima dari tujuh bersaudara
Kebangsaan: Belgia
Nama ayah: Colson Frans (Alm)
Nama Ibu: Adrienne Libbrecht (Almh)

Pendidikan
1942: TK Sint Baafs Vivje
1948: SD Sint Baafs Vivje
1953: Normaalsschol (Peadagogie) Leuven
1961: Chirojeugd: Kursus Central Kaderinstitut Roeselare
1962: Chirojeugd:Kursus Central Kaderinstitut Roeselare
1967: Caritas: Kursus Pendidikan Asisten Perawat Roeselare
1968: Kursus: Problematiek der Technische Bijstand di Universitas Cato Kortrijk.
1968: Kursus Cooperation au development di Brussel
1979: Kursus pendidikan Kader gizi Universitas Atma Jaya

Pengabdian
September 1953-Oktober 1968: Guru SD di Bavikhove Belgia
Jan. 1968-September 1968: Asisten Perawat Sukarelawan di RS .O.L.Vrouw Kortrijk.
Oktober 1968-Agustus 1970: Conseill ere pedagogique di Diosis Indiofa Zaire (Kongo).
September 1970-Juni 1973: Animatrice de la Catechese di Sekteur di Banga Ibundula Diosees Indiofa Zaire sekaligus Directrice Du Centre de formation d'anematrices rurales di Bunga Mission Catholique Zaiere (Kongo).
1974: Tiba di Maumere.
1974-1975: Menangani masalah social di Watublapi
24 September 1975: Mendirikan Panti Asuhan Nativitas Watublapi.

Juni 1980: Mendirikan Panti Asuhan Resurexio, Lekebai.
Agustus 1980: Mendirikan Panti Asuhan Assumptio Wolofeo
Mei 1989: Mendirikan panti asuhan Maria Visitasi Nebe
Juli 1993: Mendirikan Panti Putri Remaja St. Theresia Nebe
Feb 1996: Mendirikan Panti Asuhan Maria Stella Maris Nangahure.
10 Juli 2000: Merayakan Pesta perak pengabdian di Kabupaten Sikka mendapat cicin emas kelas II dari Pemda NTT.

Tahun 2003: Mendirikan Panti Asuhan St.Damian Wairii
19 Oktober 2005: Mendirikan usaha produktif di Waiara
26 September 2005: Mendirikan TK Maria Stella Maris Nangahure.
Tahun 2006: Mendirikan bengkel kayu Bina Mandiri Waipare.
Tahun 2006: Mendirikan SD Napung Biri
1975-2005: Koordinator Panti Asuhan se-Kabupaten Sikka
2008: Mendirikan Rumah petugas usaha produktif Waiara
2008: Membangun Kantor Pusat Yayasan Nativitas di Maumere.

Harian FloresStar, 7 Mei 2010 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes