Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Puting
dion bata
DALAM hitungan detik 160 rumah penduduk dan fasilitas umum di delapan kelurahan dalam Kota Kupang porak-poranda. Puting menerbangkan atap. Beliung mengobok-obok rumah dan segala isinya. Rumah para jelata berdinding bebak, beratap seng kumal dengan konstruksi bangunan seadanya.
Tak ada korban jiwa, namun terjangan angin puting beliung Jumat 14 Januari 2011 memaksa ratusan jiwa kehilangan tempat bernaung dalam sekejap. Air mata tumpah lagi di Kota KASIH. Beta sedih dan prihatin mengingat nasib para korban.
Seorang ibu nyaris kehilangan bayi berusia enam bulan. Si buah hati sedang lelap dalam kantong tidur dari bahan tenunan Timor saat beliung menerbangkan rumah. Jika ibu muda itu terlambat meraih kantong tidur yang sedang dihela angin, tak tahu lagi seperti apa nasib anak yang mungil. "Tuhan masih sayang beta pung anak," katanya sambil memeluk erat putranya.
Siapa orang pertama yang berada di lokasi bencana? Tak segera tampak batang hidung mereka yang bertanggung jawab di Kota Kupang. Yang saban hari bercakap demi rakyat! Di hari Jumat kelabu itu, beta maklum mereka masih merapatkan barisan guna melanjutkan rapat. Mereka amat disibukkan oleh penjadwalan ulang agenda sidang di gedung kokoh nan megah.
Terima kasih puting. Syukur untuk beliung. Alam selalu punya cara menampar kepongahan manusia. Kalau manusia bisa menciptakan puting beliung lewat pertarungan kepentingan politik antarelite, alam juga bisa menghadirkan puting beliung yang bikin kepala pening. Kalau manusia bangga melancarkan badai kebohongan publik, alam cukup kirim si topan Vince.
Vince mencurahkan air dari langit berhari-hari. Tak kenal siang dan malam. Manusia pun tunggang-langgang.
Perlawanan alam terhadap manusia di awal tahun 2011 ini lewat media air dan angin. Air bah melanda hampir seluruh muka bumi. Di Australia, Kota Brisbane nyaris lumpuh. Sejumlah wilayah di ibukota Queensland yang elok kini laksana zona perang. Banjir menenggelamkan rumah, membenamkan mobil, menggerus bangunan pencakar langit. Merusak jaringan listrik dan air bersih. Taman kota buruk rupa. Bunga-bunga berlumuran lumpur dan sampah. Teknologi canggih Australia lunglai menghadapi tumpahan air. Sedikitnya 80 orang tewas, sebagian besar korban hilang entah ke mana.
Di negeri bola Brasilia, 270 orang tewas tertimbun tanah longsor dan banjir saat mereka lelap dalam mimpi. Di malam gelap tak berbintang tanah longsor mengubur hidup-hidup warga kota pegunungan di dekat Kota Rio de Janeiro.
Saat fajar menyingsing, tim SAR menemukan mayat tergeletak di banyak tempat dalam kondisi mengenaskan. Sebagian tertimbun lumpur. Hujan lebat juga menewaskan 13 orang di negara bagian Sao Paulo, 130 orang di Teresopolis dan 107 orang di Nova Friburgo. Brasil yang baru saja berdansa atas terpilihnya Dilma Rousseff sebagai perempuan pertama negeri itu menjadi presiden kini berduka.
Brasil tidak sendirian diterjang tanah longsor yang berawal dari curah hujan di atas rata-rata. Tragedi yang sama terjadi di Belu, tapal batas Indonesia-Timor Leste. Longsor di jalan raya Halilulik-Nanaet Duabesi mengisolasi tiga desa, yaitu Desa Nananoe, Fohoeka dan Nanaet sejak Kamis 13 Januari 2011.
Kisah air bah kini sudah menjadi kenyataan sehari-hari. Dunia dikepung air. Dari laut lewat abrasi, tsunami dan terus naiknya permukaan air akibat pemanasan global. Di daratan gundul banjir mengamuk. Dan, langit menumpahkan air lebih dari lazim. Badai sekadar menyempurnakan kesengsaraan bumi.
Ingat air bah, bangsa Rusia rupanya terinspirasi kisah Nabi Nuh. Perusahaan arsitektur Rusia, Remistudio tengah merancang hotel yang berperan sebagai bahtera penyelamat saat permukaan air laut naik secara ekstrim dan menenggelamkan sebagian bumi. Namanya Ark Hotel yang bisa berada di laut atau darat. Hotel mirip kerang ini tahan banjir, gelombang dan gempa. Ark Hotel bisa mengapung dan muncul otomatis di permukaan air.
Arsitek Rusia mengklaim, desain yang terdiri dari konstruksi busur dan kabel dengan bantalan bisa mendistribusikan berat secara merata. Selain itu struktur bawah tanah berbentuk tempurung, tanpa tepian atau sudut. Hotel raksasa ini diklaim juga sebagai biosfer, surga yang nyaman bagi penghuninya. Desain hotel futuristik itu menggunakan panel matahari dan instalasi pengumpul air hujan guna menjamin ketersediaan energi dan air bagi penghuninya. Lingkungan yang mirip rumah kaca memungkinkan tanaman tumbuh subur, meningkatkan kualitas udara dan menyediakan makanan. Hebat!
Beta ingat inspirasi batin dari Ramakrishna yang diceritakan kembali Anthony de Mello, SJ. Menurut Ramakrishna, Allah tertawa pada dua kesempatan. Pertama, Allah tertawa saat dokter berkata kepada seorang ibu. "Jangan takut, anak itu akan saya sembuhkan." Allah berkata kepada dirinya sendiri. "Saya merencanakan untuk mengambil hidup anak ini, tetapi orang ini berpikir bahwa ia dapat menyelamatkannya!"
Allah juga tertawa kalau Ia melihat dua orang bersaudara membagikan tanah mereka, menandainya dengan garis dan berkata, "Sisi ini adalah milikku dan sisi lain adalah milikmu." Allah berkata kepada dirinya sendiri. "Jagat ini adalah milik saya dan mereka merasa berhak menjadi pemilik atas bagian-bagiannya!"
Jadi, silakan saja orang Rusia yang pintar itu membuat Ark. Mereka lupa dalam hitungan detik si empunya hidup dapat melumat Ark. Siapa mampu meraba rencana Tuhan? Yang jelas ada yang bisa tuan raba dan lihat di beranda kampung kita. Sebagian pemimpin tiada henti bertarung. Kata-kata mereka tidak saling menyembuhkan. Itulah puting beliung yang menerbangkan harapan dan mencabut rumah persaudaraan. Dampaknya? Oe.. ngeri kawan! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 17 Januari 2010 halaman 1
Pemain
dion bata
KITA adalah homo ludens, makhluk bermain. Maka bermainlah adik. Jadilah pemain, main sesuai aturan main. Jika permainanmu dimainkan main-main hasilnya sekadar mainan. Tiada berguna. Kau akan jadi korban permainan, terhempas dari gelanggang kehidupan yang demikian keras.
Kata-kata manis itu acap diucapkan para senior saat membina anak baru di organisasi ekstra kampus tahun 1980-an dulu. Pembinaan iman kali otak kali watak selalu dikemas dalam suasana bermain. Ada waktu bermain logika. Ada saat mainkan rasa. Rasa dan nalar mesti seimbang. Nalar semata dunia akan kehilangan hati. Rasa melulu hidup enggan mati tak mau.
Urusan main, pemain, bermain, permainan dan aturan main kini menghangatkan Indonesia yang baru sepuluh hari menghirup udara 2011. Juga memanasi tungku beranda Flobamora yang hari-hari ini terus diguyur hujan disertai angin.
Di fora nasional hardikan perang terlontar dari mulut Nurdin Halid, ketua umum PSSI, merespons inisiatif Arifin Panigoro menggulirkan Liga Primer Indonesia (LPI) mulai 8 Januari 2011. Pemain yang bermain di klub peserta LPI haram masuk tim nasional karena kompetisi tanpa dana APBD tersebut dianggap ilegal. Nurdin berdalih sesuai aturan main PSSI dan FIFA hanya mengakui kompetisi sepakbola di bawah asuhan PSSI yaitu Liga Super Indonesia (LSI). Wuih!
Hardikan itu sungguh membilur luka. Masyarakat Indonesia yang baru saja mereguk secuil bahagia atas penampilan apik tim Garuda di ajang Piala AFF selama Desember 2010, meski gagal menjadi juara, tiba-tiba sadar menjejak bumi yang getir. Betapa negeri ini amat riang mencabik-cabik. Melukai.
PSSI kobarkan perang terhadap LPI. Konfrontasi. Ganyang habis. Lebih garang ketimbang semangat ganyang Malaysia yang gagal Merah Putih taklukkan di final Piala AFF 2010. Kental benar arogansi pengurus organisasi tertinggi persepakbolaan nasional. Jalan dialog seolah tabu di medan bola Indonesia.
Sebagai ajang kompetisi yang dicita-citakan menjadi profesional dan menjujung tinggi fair play, seyogianya LPI diberi kesempatan dulu untuk membuktikan misinya tanpa harus diganggu. Ini belum apa-apa PSSI sudah main ancam. Tebar teror! Atas nama aturan main, inisiatif LPI dimainkan PSSI sedemikian rupa agar layu sebelum berkembang.
PSSI tidak berperan sebagai induk yang memelihara anak-anak bola Indonesia agar tumbuh besar dan berjaya. Oleh kepentingan terselubung PSSI justru menjadi pemain. Pemain dengan karakter menyerang siapa saja yang dianggap mengganggu privelesenya. Jangankan level Asia atau dunia, sekadar jawara di Tenggara Asia pun sekadar mimpi bila mengelola sepakbola dengan cara main-main semacam ini.
Pemain paling yahud alias top markotop tak pelak lagi milik Gayus Tambunan.
Gayus mempermainkan aturan main serta keangkeran Tahanan Brimob dengan uangnya berkarung-karung. Setelah heboh pelesir ke Bali yang wajahnya terekam kamera wartawan, tanggal 24-30 September 2010 Gayus juga melakukan perjalanan ke luar negeri yakni ke Makau dan Kuala Lumpur dengan paspor palsu, rambut palsu, identintas palsu. Namanya Sony Laksono. Dapat paspor dari kantor imigrasi menggunakan jasa calo.
Negeri ini kalah melawan seorang Gayus yang mungkin berprinsip terlanjur basah lebih baik mandi sekalian. Semua orang tahu kelihaian Gayus memainkan aturan perpajakan demi perkaya diri. Uang gemuk, kenapa tidak dipakai? Selagi mungkin manfaatkan kesempatan. Mumpung penjaga tahanan juga muka uang. Sekali sorong langsung monyong. Dengan uang Gayus menunjuk bukti bahwa dia tidak sendirian. Gayus bukan pemain tunggal di medan laga korupsi, kolusi dan nepotisme. Hampir semua lini penegak hukum merupakan pemain profesional.
Republik ini mirip kartel yang dikendalikan para bandit dan penggarong. Fiat justitia et ruat coelum. Keadilan harus ditegakkan meskipun langit runtuh adalah utopia di negeri kita. Langit hukum di ini negeri telah runtuh beribu kali. Dewi hukum berderai air mata oleh permainan memuakkan.
Saat heboh Gayus pelesir ke Bali terungkap medio November 2010, pemimpin negeri berkoar dalam waktu sepuluh hari kasus itu masuk pengadilan. Puihh... omong kosong belaka. Hampir dua bulan sudah proses hukumnya tidak jelas. Kalau di jantung ibukota negara saja cara kerjanya semacam itu, apalagi jauh di dusun seperti Nusa Tenggara Timur. Hancur-lebur.
Dalam dua tahun terakhir beribu kali media mewartawakan penahanan batu mangan oleh aparat negara karena melawan aturan main. Belum seorang pun masuk bui karena mangan. Maklumlah semua pemain profesional. Mangan adalah uang. Menjadi kabur air siapa pemain, siapa wasit, siapa penjaga.
Di ujung Timur Nusa Bunga yang kaya panorama gunung dan laut membiru, permainan tak kalah menggemparkan. Setahun sudah Pemilu kada Flores Timur jalan di tempat. Pengatur laku telah berganti tapi perang, perang dan perang lagi. Semua ingin menang sendiri. Perjuangkan kepentingan sendiri.
Semua jadi pemain, entah kiri dalam atau kanan luar. Aturan main dimain-mainkan. Menjadi bola permainan baru. Repotnya lagi semua mau menjadi pemain menyerang. Serang sana serang sini. Tak ada yang berbesar hati menjadi wasit saja. Pengamat saja. Menjadi penengah atau pengayom menuju solusi. Lilin sudah lama redup di Nagi. Sedih. Energi rakyat nyaris terkuras habis.
Energi juga tercurah di Kota Kupang. Jalan buntu ketika elite eksekutif dan legislatif membahas anggaran untuk pembangunan dan pemerintahan tahun 2011. Mereka bertemu tapi tak saling sapa. Bersua tanpa jumpa. Kau di sana, aku di sini. Ini dadaku, mana dadamu? Dialog seolah haram. Pintu maaf terkunci rapat. Natal Bersama dengan pesan damai riuh rendah bergema di kota seribu gereja ini. Hallo para pemimpin, tunjukkan secuil kepada kami apa makna pesan damai dan kasih itu? Main, pemain, permainan, aturan main, main aturan, main-main, mainkan, mainan dimain-mainkan untuk permainanmu?
Saat guntur mencabik langit Kupang, angin dan hujan tumpah berjam-jam lamanya sepanjang akhir pekan lalu, seorang teman menulis status di akun FB-nya. Tuhan e.., apakah ini tanda-tanda ada yang mau tumbang ko? Tuhan tahu meski Ia tak menyahut.
Beta berkomentar, bukan lagi-lagi tanda-tanda bung, memang sudah ada yang tumbang! Ya, itu... beberapa pohon di dekat pondok tinggalku di Kolhua. Dia ngakak dari balik telepon. Senang beta masih ada tawa di Kota KASIH, di tengah telaga kasih yang kian mengering. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang Senin, 10 Januari 2010 halaman 1
Kudis
dion bata
PAYAH! Tahun ini kinerja unit yang kupimpin tidak mencapai target yang telah dituangkan dalam KPI (Key Perfomance Indicator). Soalnya saya dan para stafku menderita banyak penyakit, kudis, asma, TBC, kram, asam urat, ginjal, pucat dan flu. Selain sering flu, saya sendiri malah kena penyakit kudis.
Demikian isi pesan singkat dari seorang kawan perempuan jelang tutup tahun 2010. Beta tercenung sejenak. Kok bisa ya? Wanita karir secantik dia yang selalu rutin ke salon merawat diri dan dua kali sepekan berolahraga kena kudis? Kalau pilek sih maklumlah, itu penyakit dasar yang bisa menimpa siapa saja. Apalagi saat cuaca kurang bersahabat seperti sekarang. "Ah tidak mungkin kamu kudisan," jawabku enteng.
Tiba-tiba telepon genggam berdering. "Serius bung, saya kudis alias kurang disiplin, sehingga kinerja tahun ini anjlok," ujarnya diikuti tawa berderai. Sialan! Beta terkecoh. Kemudian meluncurlah cerita panjang lebar dari mulutnya tentang delapan jenis penyakit yang dia sebutkan tadi.
Kudis: kurang disiplin dia lukiskan sebagai penyakit utama. Sebagai pemimpin unit dia kurang disiplin mengendalikan seluruh kegiatan sehingga pencapaian target tidak terpenuhi. Kudis pun menjadi tabiat umum para staf. Mereka kurang disiplin masuk kerja, kurang disiplin menyelesaikan pekerjaan harian, membuat laporan bulanan dan kurang disiplin melakukan evaluasi dan sebagainya.
Penyakit kedua asma: asal mengisi absen. Bagi sebagian karyawan-karyawati yang penting mengisi absen sesuai ketentuan agar tercatat masuk kerja. Tidak terlalu penting bagi mereka bagaimana hasil kerja. Absensi hanya menjadi tanda yang sah bahwa mereka masuk kantor. Perkara setelah absen terus pelesiran ke pasar, toko atau pusat perbelanjaan sampai ditangkap aparat Sat Pol PP, itu bukan masalah besar.
Penyakit ketiga TBC: Tidak Bisa Computer. "Maksudku kalau kerja dengan komputer suka gagap. Paling lancar ya MS Word. Kalau kita minta pakai program excel atau powerpoint hanya satu dua orang yang mampu," kata temanku itu. Dia merasa heran di 'zaman komputer' dewasa ini masih banyak yang gatek alias gagap teknologi. Beta bilang tidak perlu heran karena banyak juga bos-bos di banyak kantor yang TBC. Maklum kebiasaan suruh anak buah. Saat harus kerja sendiri dengan komputer bingung. He-he-he..
Penyakit keempat kram: kurang terampil. Kebanyakan pegawai kurang terampil dan teliti (akurat) saat mengerjakan suatu tugas yang diberikan. Mereka kerjakan asal jadi sehingga hasilnya jauh dari harapan. Ada karakter umum orang kita yakni tidak mau belajar lagi atau mengasah keterampilan setelah menjadi pegawai atau karyawan tetap. Akibatnya mereka miskin inisiatif dan kreativitas untuk melakukan suatu perubahan.
Kelima, penyakit asam urat: asal sampai kantor terus uring-uringan atau tidur. Uring-uringan itu terjadi karena beragam sebab yang memicu. Boleh jadi karena tugas pokok tidak sesuai minat dan kompetensi pegawai yang bersangkutan. Selain itu dari sononya ada saja tipe pegawai pemalas. Kerja tunggu perintah atau komando. Kalau tidak disuruh dia tidur- tiduran. Sonde malu makan gaji buta, kata orang Kupang.
Penyakit keenam, ginjal: ingin selalu naik gaji meski kerja lamban. Kalau urusan duit kiranya terjadi di mana-mana. "Yang ada dalam otak dan hati pegawai adalah gaji naik. Bila perlu naik berkali-kali," kata temanku tadi. "Orang lupa kalau uang itu hanya mengenal kata kurang," tambahnya. "Setuju dengan pandangamu. Cuma sebagai pemimpin kita ini mendadak pelit kalau bicara soal gaji," jawabku sekenanya saja. Sebelum melanjutkan cerita dia terdiam sejenak. Beta tidak tahu apa yang sedang bergejolak di hatinya. Dalamnya hati siapa tahu?
Pucat: pulang cepat. Itulah penyakit ketujuh. Masuk kantor acap terlambat, tapi pulang selalu yang pertama bahkan sebelum jam kantor berakhir sekian menit. Untuk perilaku semacam ini ada istilah yang mirip yakni tenggo. Teng Go! Misalnya jam pulang kantor pukul 16.00, maka tepat jam itu pegawai tertentu langsung go (pergi). Dia tidak peduli apakah pekerjaannya hari itu sudah rampung atau belum. Baginya tepat jam harus pulang.
Pekerjaan sisa lanjut besok. Kalau mau tambahan jam kerja hitung baik-baik dulu uang lembur.
"Nah penyakit yang kedelapan ini bikin saya pusing soal cara meminimalisirnya yakni flu: facebook melulu," ujar temanku. Sejak booming facebook (fb) di Indonesia dua tahun terakhir para stafnya ketagihan fb. Saat masuk kerja pagi, pekerjaan pertama adalah up date status. Banyak waktu kerja tersita untuk berkomunikasi dengan teman di fb.
Mereka lupa tugas pokok yang lebih urgen. Gara-gara fb kita melihat banyak orang senyum sendiri di pojok ruangan kerja, di kantin atau di dalam angkutan umum. Mereka asyik senyam senyum sambil menatap layar komputer, laptop atau ponsel di tangan. Tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya.
Senyum sendiri di zaman ini bukan hanya tabiat orang gila sungguhan. Selamat tahun baru 2011. Apanya yang baru bagi tuan dan puan? (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 3 Januari 2011 halaman 1
Suanggi Makan Korban di Adonara
dion bata
![]() |
| ilustrasi |
LARANTUKA, POS KUPANG.Com -- Setelah di Rote, Alor, Kota Kupang dan Ende, tuduhan suanggi kembali makan korban. Kali ini terjadi di Adonara, Kabupaten Flores Timur. Dua rumah hancur dirusak massa. Penghuni yang dituduh suanggi tinggalkan Adonara.
Korban tuduhan suanggi adalah Dominggus Libu Kleden (66) dan Kamilus Ketan Lier Kleden, warga RT 6/RW 12, Dusun Watodei, Kecamatan Adonara Barat. Rumah keduanya dirusak massa hingga rata tanah pada Jumat (31/12/2010) dan Sabtu (1/1/2011).
Semua harta benda milik korban tidak terselamatkan kecuali pakaian di badan. Bahkan, semua perkakas dapur dan rangka jendela untuk bangunan sekolah dasar (SD) Danibao dihancurkan dan bakar massa sekitar 100 orang.
Warga Dusun Watodei menuding korban sebagai suanggi yang menyebabkan anak mereka meninggal dunia. Karena itu mereka membakar dan mengusir korban yang sudah bermukim puluhan tahun di desa tersebut.
Dominggus Libu Kleden saat ditemui di rumah keluarganya di Kelurahan Lewerang, Kecamatan Larantuka, Selasa (4/1/2011), menuturkan kronologis kejadian itu. Menurut dia, pada Rabu (29/12/2010), menantunya Florentina Perada yang juga kader posyandu diminta salah satu keluarga di desa itu untuk menyembuhkan seorang balita menggunakan jampi-jampi.
Dia melarang karena menantunya bukan dukun. Namun keluarga itu terus memaksa untuk menyembuhkan balita itu. Sehari kemudian, balita yang diduga menderita gizi buruk tersebut meninggal dunia. Karena balita itu meninggal, Kamis (30/12/2010), beberapa anggota keluarga balita itu langsung datang ke rumah Keleden dan marah-marah.
"Mereka mengatakan kami menggunakan ilmu hitam sehingga anak mereka meninggal. Apa yang mereka sampaikan, kami tidak tanggapi. Namun, esoknya mereka datang membawa massa sekitar 100 orang lebih hendak membakar rumah saya yang permanen dan rumah anak saya yang semi permanen. Saat itu saya bersama istri, anak dan cucu berada dalam rumah. Rumah tidak dibakar. Mereka melempar rumah saya dengan batu dan benda-benda keras lainnya. Saat itu, kami sekeluarga keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri. Dibantu beberapa keluarga yang ada di desa serta pihak keamanan kami ke Larantuka," tutur Kleden yang pada kesempatan itu didatangi Penjabat Bupati Flotim, Drs. H. Muhammad S. Wongso, ketua Tim Penggerak PKK, Hj. Rosmini Semsi Wongso, SE, Inspektorat Daerah (Irda) Flotim, Ahmad Bethan, Kabag Humas, Rufus Koda Teluma, Camat Adonara Barat, Valentinus Basa, Lurah Lewerang, Yoseph K. Matutina serta keluarga korban.
Ia mengakui, setelah rumahnya dirusak harta benda di dalamnya dibakar. "Saya tidak bisa menghitung kerugian, karena yang dibakar selain dua rumah juga kios dan mebel. Kami tidak punya apa-apa lagi. Kami harus memulai dari nol," kata Kleden sambil menahan air mata.
Kleden mengakui, saat itu dia sempat berpikir untuk berhadapan dengan warga yang datang dengan beringas saat itu. Namun, mengingat sejumlah cucunya yang masih kecil di dalam rumah sehingga ia memilih untuk keluar dari rumah.
"Saya ini tidak takut dengan orang, tapi berpikir banyak anak dan cucu. Ini negara hukum sehingga saya memilih mengamankan keluarga saya. Dan, saya juga minta kepada keluarga agar tidak terpancing. Biarlah pemerintah yang mengatur. Kami ingin keadilan. Karena itu, kami minta kepada bapak Kapolres, bapak bupati untuk memberikan rasa adil kepada kami. Kami kami juga berterimakasih kepada semua khususnya bapak kapolres, bupati, kapolsek dan masyarakat yang bersimpati kepada kami," katanya.
Korban akibat tudingan suanggi sebelumnya menimpa rumah pasangan suami- istri Frans da Cunha dan Yosefina da Lima di Jalan Undana, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende. Rumah mereka dilempari massa, Minggu (28/11/2010) sekitar pukul 02.00 Wita. Rumah itu dihujani batu hingga pintu dan jendela rusak. Tuan rumah, Yosefina terkena lemparan batu di pelipis. Ia dilarikan ke RSUD Ende.
Polisi masih menyelidiki motif dari pelemparan itu. Tetapi kuat dugaan aksi itu dilatarbelakangi tudingan yang menyebutkan keluarga ini memiliki ilmu hitam atau suanggi. (iva)
Serahkan Bantuan
KEJADIAN tragis yang menimpa dua warga Dusun Watodei, mendapat atensi dari Penjabat Bupati Flotim, Drs. Muhammad S Wongso. Di hadapan Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, Kapolres Flotim dan Dandim Larantuka pada acara Natal bersama di Gedung Orang Muda Katolik (OMK), Senin (3/1/2011) malam, Wongso meminta agar Kapolres Flotim menangani kasus tersebut secara juga meminta uskup dan para rohaniwan mendoakan keluarga yang sedang didera masalah.
"Pantaskah di tengah-tengah kita melaksanakan kedamaian di malam Natal ini, masih ada saudara kita yang diperlakukan tidak adil. Batin tidak tenang. Karena itu saya minta agar Kapolres memberikan mereka keadilan. Negara ini negara hukum. Tidak ada yang boleh main hakim sendiri," kata Wongso.
Wongso yang baru menerima informasi dari Camat Adonara Barat, Senin (3/1/2011) malam, langsung meminta stafnya menyiapkan bantuan. Hari Selasa (4/1/2010), Wongso menyerahkan bantuan berupa uang Rp 10 juta dan beras 500 kepada keluarga korban. Bantuan itu diterima Dominggus Libu Kleden (66) dan istri, Yasinta Tulit (65) di rumah keluarga mereka di Kelurahan Lawerang.
"Bantuan ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerugian yang bapak derita, namun ini bagian dari partisipasi pemerintah untuk keluarga bapak. Bahwa bapak tidak sendiri namun bersama kami semua," kata Wongso.
Ia juga meminta kepada Camat Adonara Barat agar mengurus cucu-cucu dari keluarga Kleden yakni, Yohanes Sabon Ama Doni, SMP kelas I, Magdalena Tuto Kleden, SD kelas 4, Philipus Dahe Kleden SD kelas 5 dan Stevenia Ina Libu Kleden, SD kelas II untuk sekolah di Larantuka.
"Saat ini camat masih konsentrasi pemulihan suasana di Desa Bukit Saburi. Anak-anak harus sekolah. Jangan dipersulit saat proses pemindahan untuk dititipkan sementara agar pendidikan mereka tetap jalan," harapnya.
Sementara Kapolres Flotim, AKBP Eko Kristianto yang dihubungi pertelepon ketika berada di Adonara Barat mengakui, pihaknya sedang mengidentifikasi pelaku.
"Kami masih melakukan identifikasi. Secepatnya, kami akan ungkapkan siapa pelaku pengrusakan karena tidak semua orang yang datang ke kediaman korban ikut merusak," katanya. (iva)
FloresStar 5 Januari 2011 halaman 1
Tuhan Lengah
dion bata
DUA hari menjelang HUT ke-24 Propinsi Nusa Tenggara Timur, Bung Kanis menghangatkan sidang paripurna DPRD NTT di Kupang dengan kisah fantasi tentang untaian kepulauan di ini propinsi.
Berkisahlah Si Bung dengan gaya oratornya yang khas sebagai berikut. Pada hari terakhir di saat Tuhan hendak beristirahat dari pekerjaan mencipta ini dunia, Jawa telah subur luas mendatar. Sumatra dengan lebam rimba rayanya biru-biru hitam terkapar. Kalimantan berat terhampar tersegi-segi membola.
Sulawesi nakal-nakal lincah menari-nari mengempat jari, dan ke sebelahnya Dia serak lempar Kepulauan Maluku, kilat berkilau- kilau hidup kilau sawah habis terluku. Papua? Sengaja Tuhan ciptakan mengepala burung, kepala burung Kasuari.
Tuhan puas. Puas memandang butiran intan permata yang sengaja Ia kalung khatulistiwa. Terciptalah sudah lilitan permata, terciptalah sudah jamrud khatulistiwa, terciptalah sudah Republik Indonesia.
Dan, Tuhan hendak beristirahat. Tapi eeii ... ada tanah melekat di tangan, masih gumpalan kecil-kecil tanah liat melingkup jari jemari. Sejenak Tuhan lengah dan Dia mengebaskan tangan. Gaib ajaib kebasan Alwasia. Tanah yang melayang terkebas, membentuk rentetan pulau-pulau kecil baru di tengah lautan.
Tuhan kaget. Tampak hijau timbul tenggelam pulau yang enam. Semua kecil, terlalu tidak berarti tidak berdaya di tengah pulau- pulau jantan besar.
Tuhan bimbang. Mau diapakankah pulau-pulau kecil itu, memanjang tidak berdaya digelung buas ombak samudera terselatan? Terciptakan tidak tertakdirkan kembang enam seuntai, sama membentuk gugusan Nusa Tenggara.
Tuhan tafakur. Ai tidak! Tuhan tidak hendak menganaktirikan kembang seuntai, meski cuma ciptaan kebetulan, hasil lengah kebasan tangan hendak istirahat.
Dengan senyum kasih Tuhan merelakan masing-masingnya keistimewaan. Bali lemah gemulai tari dewangga raya; Lombok hamparan subur tanah ladang tanah sawah; Sumbawa madu berlepotan di dedahanan rimba belantara; Sumba dengus ringkik kuda lumba; Timor hewan limpah di tandusnya sabana dan Flores pesona panorama.
Mencegah tercipta kebetulan baru, jauh di atas gunung-gunung Flores, tertegun Tuhan mencuci tangan. Eii lihat! Air kotor cuci tangan, menitik jari-jemari Ilahi, membuat pesona baru: Tiga buah danau, Kelimutu unikum dunia. Danau berwarna tiga; yang satu merah darah, satu lagi hijau girang pupus pisang, di sampingnya putih-putih kabur kulit telur asin. Kain penggosok tangan Ia lempartebarkan ke permukaan, mengepul menguaplah harum firdaus, hutan cendana harum mewangi di Timor.
Cerita fantasi tentang Nusa Tenggara Timur itu dituturkan Kanis Pari sebelum menyatakan sikap fraksinya, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menerima Nota Keuangan dan Rancangan Perubahan APBD I NTT tahun anggaran 1982/1983 untuk ditetapkan dalam Perda pada sidang paripurna DPRD NTT tanggal 18 Desember 1982 (Kanis Pari, Jangan Takut Berpolitik, 2004: 265).
Setiap kali merayakan hari jadi ini propinsi, beta suka membaca kembali cerita fantasi Bung Kanis Pari. Kisah fantasi yang menggelitik sekaligus memberi ruang sejenak untuk introspeksi. Benarkah Tuhan menciptakan gugusan pulau-pulau kecil di kawasan Nusa Tenggara ini tanpa rencana? Hasil lengah kebasan tangan Ilahi saat hendak istirahat? Ah, si Bung ada-ada saja. Tuhan tentu punya rencana sendiri dengan menghadirkan gugusan pulau yang indah di kawasan selatan NKRI. Kepulauan ini menyimpan keistimewaan yang tidak dipunyai pulau yang lain, baik dari sisi manusia, alam maupun budayanya.
Bukankah Bali cukup sering lebih populer di mata dunia internasional ketimbang nama Indonesia? Bukankah Lombok kini disebut sebagai Bali plus karena keistimewaan mereka merawat dan memanfaatkan karunia Tuhan lewat pembangunan total di bidang pariwisata?
Dua hari menjelang HUT ke-52 Propinsi NTT, pemerintah propinsi meluncurkan Visit Flobamora di Aula El Tari-Kupang dengan target kunjungan 1 juta wisatawan pada tahun 2013.
Tekad yang luar biasa. Kita salut dan hormat. Sudah semestinya NTT lebih percaya diri karena dibandingkan dengan Bali, Lombok atau Sumbawa, gugusan 566 pulau di kawasan ini jauh lebih kaya. Kaya tak terkira.
Masalah Flobamora sejak dulu hanya satu, kita kurang fokus dan total mengurus satu soal agar dunia mengenal NTT sebagai apa. Kita mau mengurus banyak hal sehingga serba tanggung lalu tercecer di mana-mana.
Tentang pembangunan pariwisata, beta ingin mengutip pesan inspiratif dari P. Robert Ramone, CSsR, salah seorang pemenang NTT Academia Award 2010. Menurut pastor dari kongregasi Redemptoris yang berkarya di Pulau Sumba tersebut, kuranglah tepat diksi menjual obyek wisata karena karya tangan Tuhan yang indah itu sesungguhnya sudah menjual dirinya sendiri. Tugas pemerintah (negara) adalah membuka akses agar setiap orang dapat bepergian ke obyek- obyek wisata tersebut dengan mudah.
Nah, bagaimana kenyataan hari ini di beranda Flobamora? Tuan dan puan sudah tahu sehingga beta tak perlu beri tahu. Dirgahayu Nusa Tenggara Timur. NTT Bisa (lebih baik). Kalau mau! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 20 Desember 2010 halaman 1
Penjaga Kampung Adat Waikabubak
dion bata
![]() |
| Dani Ladu |
Oleh Kornelis Kewa Ama
KOMPAS.com - Setiap tamu yang melintas dengan kendaraan atau berjalan kaki di Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, biasanya langsung tergoda untuk melihat dari dekat sekelompok bangunan tua tradisional yang terletak di bukit Tarung dan Waitabar.
Bukit yang juga perkampungan adat Tarung dan Waitabar itu sengaja dipertahankan oleh Dani Ladu Ringgulangu sejak tahun 1970-an. Selama empat periode masa pemerintahan bupati Sumba Barat, kampung adat Tarung dan Waitabar itu hendak digusur untuk diganti dengan pertokoan dan perhotelan.
Ketika ditemui di kampung adat Waitabar, awal November, Ringgulangu, Ketua Paguyuban Penganut Kepercayaan Sumba Barat ini mengatakan, dia tidak paham dengan cara berpikir pemerintah daerah setempat. Kampung adat yang jelas-jelas sering dikunjungi para turis asing itu malahan tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah.
”Pemerintah Kabupaten Sumba Barat berulang kali ingin menggusur kampung ini karena letaknya di tengah Kota Waikabubak. Sesuai rencana (Pemerintah Kabupaten Sumba Barat), kawasan ini akan dimanfaatkan untuk perhotelan karena pemandangannya cukup menarik. Dari ketinggian ini, hampir seluruh wilayah Waikabubak dapat terlihat,” kata Ringgulangu.
Kampung adat itu, menurut Ringgulangu, ditempati Marapu, leluhur orang Sumba menurut ajaran agama asli Sumba. Pada kayu, batu, bukit, kuburan, dan rumah-rumah adat yang ditempati warga, para leluhur Sumba tetap tinggal.
Kukuh mempertahankan adat
Melengkapi prinsipnya untuk tetap mempertahankan kampung adat tradisional yang sering disebut kampung pariwisata itu, Ringgulangu pun bersumpah tidak akan bersedia dibaptis atau menjadi Kristen sampai mati.
Dia ingin tetap menjadi penganut kepercayaan asli Marapu, yang menghormati leluhur dan roh-roh halus sebagai perantara kepada Sang Pencipta.
Tetapi, Ringgulangu mengizinkan enam dari tujuh anaknya untuk dibaptis dan menganut agama Kristen agar bisa mengikuti pendidikan. Putra bungsunya, Lango Reda Mata (9), tidak dibaptis dengan tujuan agar bisa melanjutkan adat tradisi.
Oleh karena itulah setiap ada upacara adat Marapu, Lango Reda Mata selalu dilibatkan. Bahkan, pada kesempatan tertentu, dia sudah diberi kepercayaan untuk memimpin ritual adat Marapu.
”Di Sumba Barat mayoritas orang beragama Kristen, kecuali Sumba Barat Daya yang beragama Katolik. Di sini, sekolah-sekolah bisa dikatakan mewajibkan anak-anak memiliki surat baptis. Di sekolah negeri pun, yang mengajar guru-guru dari kalangan Kristen,” kata Ringgulangu.
Kampung adat di tengah Waikabubak itu memiliki nilai tersendiri. Di rumah warga, termasuk rumah Ringgulangu, terdapat puluhan rahang babi dan tanduk kerbau. Setiap kali dilaksanakan adat pemulihan kampung, selalu dikorbankan ternak peliharaan kepada Marapu. Tanduk atau rahang hewan korban kemudian dilekatkan di dinding rumah.
Di kampung itu, para turis, budayawan, peneliti, mahasiswa dan para pelajar sering berkunjung. Mereka tak sekadar melihat, tetapi sebagian di antaranya sampai mempelajari budaya dan adat istiadat Marapu.
Ringgulangu bercerita, dia jarang meninggalkan kampung adat itu. Setiap hari dia setia menemani dan menunggu para tamu. Buku tamu pun dia sodorkan, termasuk kesan dan pesan para tamu.
”Umumnya para tamu mendukung perjuangan saya agar kampung adat ini dipertahankan, terutama tamu-tamu asing. Mereka bahkan mengusulkan agar dibangun semacam homestay agar mereka juga bisa menginap dan menyaksikan kehidupan tradisional masyarakat,” kata Ringgulangu.
Segala sesuatu yang bernilai mistis, magis, dan mengandung nilai-nilai kepercayaan asli masih dianut oleh sekitar 300 warga di dua kampung berdekatan itu. Kampung itu pun dibangun sesuai konstruksi asli yang dikehendaki para leluhur.
”Semua bahan bangunan di sini dari hutan, tidak ada bahan bangunan dari bahan besi, aluminium atau produk pabrik. Jika ada bahan produk pabrik, nenek moyang tidak setuju, penghuni bangunan tidak aman tinggal, selalu sakit, dan bangunannya cepat rusak,” katanya.
Ringgulangu berharap, pemerintah turut memerhatikan kampung adat pariwisata itu, bukan sebaliknya berupaya menggantikannya dengan hotel. Kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh bangunan–bangunan modern, tetapi juga oleh keberadaan tradisi-tradisi lokal yang masih dipertahankan.
Ringgulangu juga mempertahankan keberadaan kubur batu tua peninggalan para raja di kampung itu. Setiap ada kegiatan adat di Kampung Tarung dan Waitabar, Ringgulangu kerap kali tampil sebagai penggerak.
Kodrat manusia
Ringgulangu bercerita, dia sudah beberapa kali mengikuti seminar, pertemuan atau pembahasan mengenai aliran kepercayaan di tingkat nasional. Ternyata semua agama di dunia ini mengakui adanya suatu kekuatan yang luar biasa, dan mereka memberi nama berbeda-beda, termasuk aliran kepercayaan Marapu.
”Marapu, sama dengan aliran kepercayaan lain di Jawa, memiliki nilai religius dan kuasa besar yang terealisasi lewat perlindungan, hukuman, kegagalan, kutukan, pertolongan, keselamatan, dan bencana alam. Dalam bahasa adat Marapu disebut Ina papa nuku, ama papa sara, artinya semua manusia dan segala isi bumi terlahir dari sumber yang sama. Semua manusia sesuai kodratnya adalah sama,” katanya.
Menurut kepercayaan Marapu, hutan-hutan di sekitar kampung itu, termasuk seluruh daratan Sumba, memiliki penjaga dari leluhur. Hutan tidak boleh ditebang sebelum dibuat ritual adat, meminta izin kepada leluhur.
Sumber mata air yang keluar di kaki Bukit Tarung dan Waitabar pun diyakini sebagai pemberian dari Yang Kuasa, dan bagi masyarakat Sumba diyakini sebagai pemberian Marapu.*
Sumber: Kompas
Kekayaan Alam NTT Belum Dioptimalkan
dion bata
![]() |
KOMPAS.com - Rata-rata pendapatan per kapita penduduk Nusa Tenggara Timur tahun 2009 Rp 4,88 juta, jauh di bawah rata-rata nasional yang Rp 21,48 juta. Minimnya infrastruktur dan kondisi alam yang kering sering disalahkan atas rendahnya kesejahteraan rakyat Nusa Tenggara Timur.
Kalau kita masuk ke pelosok NTT, payahnya infrastruktur mudah ditemui. Keluar dari jalan penghubung antarkota/kabupaten yang beraspal menuju kampung-kampung, umumnya kita akan langsung menapak jalan tanah yang berdebu di musim kemarau dan licin di musim hujan. Padahal, jalanan itu naik turun tanjakan curam mengikuti topografi NTT yang berbukit-bukit. Tak jarang kendaraan harus menyeberang sungai karena belum ada jembatan atau perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Sarana transportasi laut juga minim. Kebanyakan mengandalkan kapal pelayaran rakyat yang keamanannya tak terjamin dan jumlah penumpang melebihi kapasitas. Penerbangan pun banyak mengandalkan pesawat kecil.
Jangankan di pulau kecil, kondisi seperti itu bertebaran di Pulau Flores, Timor, maupun Sumba yang terhitung besar. Hal itu diakui Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora. ”Jalan dan jembatan baru memadai di jalur utama yang menghubungkan Waingapu, ibu kota Sumba Timur, dengan wilayah sekitarnya. Di wilayah jauh ke selatan serta pegunungan, baru ada jalan tanah yang sulit dilewati di musim hujan,” katanya.
APBD yang terbatas, Rp 552 miliar, lebih dari 60 persen digunakan untuk membayar gaji pegawai negeri, tidak memungkinkan untuk membangun. Sisa APBD diprioritaskan untuk pendidikan, kesehatan, serta pengembangan pertanian. Usulan kepada pemerintah pusat untuk memperluas pelabuhan, membangun bendungan untuk irigasi pertanian, belum mendapat respons. Keluhan serupa diungkapkan kepala daerah lain.
Kondisi alam NTT kering. Musim hujan berlangsung pada bulan November sampai Maret dengan jumlah hari hujan rata-rata 44-61 hari per tahun. Sementara, musim kemarau antara April dan Oktober. Kondisi ini tidak cocok untuk padi atau jagung yang perlu air cukup.
Pengamat pertanian, Viator Parera, berpendapat, Pemerintah Provinsi NTT sebaiknya fokus pada pengembangan pertanian lahan kering yang cocok dengan kondisi geografis dan iklim NTT.
Kinerja pegawai
Bicara tentang kinerja pegawai pemerintah, sudah waktunya dilakukan pembenahan. Terkait hasil yang belum maksimal, Wakil Gubernur NTT Esthon L Foenay mengakui, aparat yang mengelola tidak efektif dan efisien dalam melaksanakan serta tidak disiplin anggaran. Penyebab lain, anggaran turun dekat habis tahun anggaran sehingga program tidak maksimal.
Stepanus Makambombu, Direktur Stimulant Institute, menyatakan, ada kecenderungan pelaksana me-mark up pengadaan barang sehingga mutu atau kualifikasi tidak sesuai akibat kurang pengawasan.
Persoalan lain yang mendasar adalah bagaimana warga memandang kesejahteraan mereka. Marianus Kleden, pengajar antropologi politik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, menuturkan, ada kecenderungan orang puas dengan apa yang ada. ”Kalau dengan hasil kebun dan ternak yang ada sudah bisa survive, ngapain mencari yang lebih. Untuk itu perlu ada mediasi agar mereka bisa melihat taraf hidup yang lebih layak dan terpacu untuk lebih bergiat mencapainya,” katanya.
Menurut Kleden, etos wirausaha memang baru berkembang. ”Kita banyak belajar dari etnik Tionghoa, Jawa, Padang, dan Sulsel tentang kerja keras. Lewat proses magang, etos ini perlahan-lahan diinternalisasi oleh generasi muda. Satu hal yang amat khas pada orang NTT adalah kecenderungan untuk mendapatkan uang tunai secara cepat dan tidak menempatkan uang dalam manajemen ekonomi jangka panjang,” katanya.
Terkait pesta adat yang menghabiskan banyak biaya, Marianus menyatakan, dalam masyarakat NTT yang berpola pikir sosial kolektif, pesta adat merupakan kesempatan bagi orang untuk mengukuhkan posisi dan status sosialnya di masyarakat.
Agar masyarakat NTT bangkit mengejar ketertinggalan, internalisasi sikap wirausaha perlu ditingkatkan. Di banyak tempat telah tumbuh semangat untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Warga mengembangkan komoditas perkebunan. Hal ini harus dibantu dengan infrastruktur yang baik sehingga mudah dimobilisasi serta didukung tata niaga yang kondusif. Dengan demikian, nasib orang NTT akan lebih baik. (ATK)
Sumber: Kompas
Pemerhati Teori Musik Tradisi NTT
dion bata
![]() |
| Djony Teedens |
Oleh Kornelis Kewa Ama
KOMPAS.com - Banyak jenis musik tradisional yang berkembang di tengah masyarakat Nusa Tenggara Timur tidak memiliki dasar teoretis. Musik tradisi itu muncul di kalangan masyarakat tertentu, berkembang, tetapi ada pula yang punah begitu saja. Padahal, musik lokal itu memiliki latar belakang sejarah, budaya, dan legenda tertentu.
Pemerintah daerah belum memberikan perhatian khusus terhadap musik-musik tradisional. Para seniman lokal mesti berjuang sendiri, membuat kreasi dan mengeluarkan modal pribadi untuk melakukan penelitian, melestarikan, sampai memperkenalkannya kepada publik. Bahkan kemudian menulis buku tentang musik tersebut.
Djony Teedens adalah salah seorang seniman NTT yang memiliki kepedulian besar terhadap musik-musik tradisi di daerah itu. Ia menyebut, ada ratusan jenis musik dan alat musik tradisi di NTT, tetapi yang masih bertahan hanya sekitar 20 jenis alat musik lokal.
Di antara jumlah yang sedikit itu, antara lain sasando dari Rote Ndao, foy doa dari Ngada, sasong dari Flores Timur, ketadomara dari Sabu Raijua, ada pula leku, khobe, dan feku dari Timor, serta jungga dari Sumba.
”Tetapi, dari 20-an alat musik tradisional itu, hanya 2-5 alat musik yang masih sering dilihat warga. Yang lain, meski masih ada, jarang diperdengarkan karena kalah bersaing dengan musik pop,” kata Teedens di Kupang, beberapa waktu lalu.
Menurut pengamatan Teedens, generasi muda tidak lagi meminati musik tradisional karena dianggap ketinggalan zaman, tidak bernilai ekonomis, iramanya tidak enak untuk berdansa, dan nadanya monoton atau membosankan. Kondisi itu menyebabkan banyak musik tradisional punah atau hilang.
Musik tradisional hanya bisa bertahan kalau memiliki nilai– nilai khusus bagi masyarakat penggunanya, seperti nilai mistis-magis, nilai pendidikan, persaudaraan, nilai ekonomis, nilai sejarah, keunikan dan keindahan. Setiap musik tradisional lahir dari kelompok masyarakat tertentu, memiliki legenda khas, seperti asal-usul suku atau kelompok masyarakat itu.
Sejumlah legenda tua di Timor, Flores, dan Sumba menyebutkan, keberadaan musik lokal dari daerah itu terkait kehadiran nenek moyang, yang mengisahkan legenda terbentuknya sebuah pulau, sejarah perang suku, pembentukan suku, dan tradisi beternak atau bertani.
Di Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, dan Belu, misalnya, feku sering digantung di depan rumah, bahkan di leher peternak untuk memanggil ternak sapi, babi, dan kerbau. Jika alat itu sudah dibunyikan, ternak akan bergerak menuju rumah atau mendekati tuannya. Namun, kini feku jarang digunakan. Penggembala ternak lebih suka menggunakan anjing untuk menghalau kawanan ternak.
Teori musik
Selama 51 tahun Provinsi NTT berdiri, musik tradisional tidak berkembang, bahkan cenderung punah. Teedens menyadari pentingnya musik-musik tradisional memiliki dasar teoretis sebagai pegangan dan agar mudah dipelajari, dikembangkan, dilestarikan, dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Jika suatu jenis alat musik ingin bertahan dan bersaing, ia tidak hanya asal dibunyikan.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini sejak tahun 1990-an menulis sejumlah buku teori dasar musik tradisi NTT, seperti teori alat musik sasando, foy doa, ketadomara, knobe, feku, dan heo.
Buku Teori Dasar Sasando yang disusun Teedens telah mendapat persetujuan Pemerintah Kota Kupang untuk menjadi bahan muatan lokal di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di seluruh Kota Kupang mulai tahun ajaran 2011/2012.
Kini, ia sedang memberi kursus sasando kepada para guru musik se-Kota Kupang. Setiap pekan ada lima guru dari setiap sekolah yang mengikuti kursus sasando di pusat kursus musik ”Halelluya” milik Teedens di Kelurahan Naikoten, Kupang. Teedens membuka tempat kursus musik itu tahun 2003. Salah satu tujuannya adalah mempertahankan dan mengembangkan musik-musik tradisi NTT.
Ia berharap melalui para guru itu, sasando dapat berkembang di sekolah-sekolah dan masyarakat Kota Kupang. Suatu saat sasando menjadi mata pelajaran khusus di setiap sekolah di NTT. Saat ini sasando baru dikenal di kalangan warga Kota Kupang dari Suku Rote Ndao.
Di tempat kursus musiknya, tidak hanya warga Kupang yang belajar, tetapi juga warga Jakarta, Yogyakarta, bahkan dari Belanda, Jepang, dan Australia. Biasanya mereka mengikuti kursus kilat sasando selama masa liburan.
Di antara peserta kursus ada anak-anak berkebutuhan khusus. Anak-anak ini, menurut Teedens, memiliki kelebihan di bidang musik dan bidang seni lain sehingga perlu dikembangkan. Selain sasando, Teedens juga memberikan kursus gitar, keyboard, dan piano.
Pembinaan dan pelestarian
Dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, Teedens dipercaya pemerintah daerah untuk membina dan melestarikan musik tradisi NTT. Ia sering mengunjungi sanggar seni dan kerajinan yang tersebar di NTT untuk memberi petunjuk teoretis mengenai alat musik tradisi di daerah itu.
”Kebanyakan pelaku dan penggiat seni tradisi tidak paham mengenai nada-nada yang dihasilkan alat musik itu. Mereka asal membunyikan saja,” katanya.
Teedens ingin mendirikan sekolah tinggi musik NTT sebagai upaya menggali dan mempertahankan musik-musik lokal NTT yang sedang terancam punah. Melalui sekolah tinggi musik, sejumlah musik tradisional yang sudah punah dapat digali dan dilestarikan lagi.
”Pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta Gubernur NTT sudah memberi lampu hijau. Semoga masyarakat NTT dan teman-teman pencinta seni NTT juga mendukung,” kata Teedens berharap.*
Sumber: Kompas
Penemu Inang Primer Cendana
dion bata
![]() |
| Komang Surata |
KOMPAS.com - Cendana atau Santalum album Linn adalah jenis tumbuhan bersifat semiparasit. Oleh karena itu, dalam siklus hidupnya, cendana membutuhkan pohon inang. Krokot atau Althernantera sp adalah jenis tumbuhan lokal yang paling sesuai sebagai inang primer ketika anakan cendana sedang dalam persemaian.
Penggunaan krokot sebagai inang cendana yang kini dipraktikkan di banyak tempat di dunia adalah hasil temuan Komang Surata, peneliti utama Balai Penelitian Kehutanan Kupang, Nusa Tenggara Timur.
"Saya menikmati menjadi peneliti, tetapi kebahagiaan terasa memuncak ketika hasil penelitian saya diakui dan dimanfaatkan secara luas hingga dunia internasional," kata Komang Surata di Kota Kupang, lepas siang Kamis (25/11/2010) itu.
Dalam siklus kehidupan cendana, sejak persemaian hingga dipanen pada usia 30 tahun, membutuhkan tiga tahapan inang dari jenis pohon berbeda.
Setelah krokot pada masa persemaian, pertumbuhan cendana membutuhkan inang sekunder dari jenis pohon turi atau gala gala (Sebasnia grandiflora) atau akasia (Acacia villosa) untuk jangka menengah. Selanjutnya, inang johar (Casuarina junghunniana) dibutuhkan untuk pendampingan jangka panjang. Pohon inang itu dibutuhkan guna membantu penyerapan unsur hara dari tanah.
"Penggunaan inang gala gala atau turi sebenarnya hasil temuan saya juga, tetapi yang monumental itu temuan inang krokot karena sekarang menjadi pilihan utama sebagai inang primer dalam pembudidayaan cendana secara internasional," kata Komang Surata yang menjadi peneliti sejak 1987, dua tahun setelah dia menyelesaikan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Hampir punah Cendana adalah jenis pohon endemik NTT. Oleh karena aromanya yang harum, cendana telah mencuatkan kawasan NTT sejak abad ke-4. Pada abad ke-7, cendana asal NTT dilaporkan berhasil menembus pasaran India dan China.
Mulai abad ke-14, para pedagang dari kedua negara tersebut sampai berkunjung langsung ke NTT untuk membeli cendana dan madu. Hingga 1990-an, cendana menjadi penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah NTT.
Namun, akhir 1990-an, hampir mustahil menemukan pohon cendana di kawasan hutan. Tegakan tersisa hanya bisa dijumpai di kebun dan pekarangan penduduk, itu pun amat jarang. Salah satu penyebab utama kehancuran cendana di Timor dan pulau lain di NTT adalah regulasi yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Sejak zaman Belanda hingga Indonesia merdeka, cendana, baik yang tumbuh di kawasan hutan, di kebun, maupun pekarangan penduduk, diklaim menjadi milik pemerintah. Masyarakat diwajibkan menjaga dan merawat cendana, tetapi hanya pemerintah yang berhak memanfaatkannya. Masyarakat yang melalaikan ketentuan itu akan dikenai sanksi. Akibatnya, cendana dianggap masyarakat sebagai pembawa petaka.
Kesadaran nyaris punahnya cendana membuat pemerintah mengubah kebijakan dengan payung Peraturan Daerah No 2/1999 yang berpihak kepada masyarakat.
Gubernur NTT Frans Lebu Raya sejak awal kepemimpinannya pada 2008 mencanangkan pembudidayaan cendana guna mengembalikan NTT sebagai "provinsi cendana". Tekad itu sekaligus mencuatkan nama krokot karena dibutuhkan sebagai inang saat persemaian bibit cendana.
Sebelumnya, persemaian cendana menggunakan inang tanaman cabai (Capsicum annum), sebagaimana direkomendasikan peneliti IPB, Jufriansah, pada 1970-an.
Sejak bertugas di Balai Penelitian Kehutanan Kupang, Komang Surata mencatat sejumlah kelemahan pohon cabai sebagai inang primer cendana. Di antaranya, pohon cabai sulit hidup ketika dipindahkan dari tempat tumbuh awalnya. Kelemahan lain, sulit mendapatkan benih cabai dalam jumlah banyak, terancam mati jika tajuk pohonnya dipangkas, serta tak mampu bertahan hidup di antara rerumputan lain.
Surata lalu berinisiatif melakukan penelitian sejak 1988. Ia melakukan berbagai uji coba guna mendapatkan inang primer pengganti. Dua tahun kemudian ia menemukan krokot sebagai inang primer pengganti tanaman cabai.
"Uji coba itu melibatkan 18 jenis tumbuhan sebagai calon inang, termasuk cabai. Hasil akhirnya menunjukkan, krokot paling cocok sebagai inang primer," katanya.
Keunggulan krokot Krokot memiliki sejumlah keunggulan. Menurut Surata, krokot sangat membantu pertumbuhan cendana selama masa persemaian. Krokot juga tidak menimbulkan kompetisi, tajuknya kecil, sistem perakaran sukulen atau lunak, mudah tumbuh setelah dipangkas, berumur panjang, relatif mudah didapat, serta tahan hidup dalam kekeringan.
Hasil temuan inang krokot itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional, Sandalwood Newsletter, di Australia pada 1992. Setelah publikasi, pemanfaatan krokot sebagai inang primer cendana meluas di dunia internasional, antara lain di Australia bagian barat serta di sejumlah negara Pasifik, seperti Fiji, Kaledonia, Solomon, dan Vanuatu.
Kini, Surata sedang menekuni model budidaya cendana melalui regenerasi tunas, yakni memotong beberapa jaringan akar di sekitar kaki pohon cendana dewasa. Jika pemotongan dilakukan secara benar dan tepat waktu, yakni dengan memerhatikan perkembangan akar diikuti pengaturan iklim mikro, bagian akar yang terputus dari induknya akan bertunas sebagai anakan baru.
"Mimpi kami ke depan dalam budidaya cendana di NTT adalah pohon cendana punya anakan alam dari tunas akarnya sendiri, sebelum pohon induk ditebang setelah mencapai usia panen 30 tahun. Proses regenerasi anakan cendana bisa dilakukan secara variatif mengikuti siklus tebangan," kata Surata, ilmuwan asal Karangasem, Bali, tersebut.(Frans Sarong)
Sumber: Kompas
Bawa Mimbar ke Mana-mana
dion bata
![]() |
| Sefnat Sailana |
Oleh Alfred Dama
BERPENAMPILAN sederhana namun berwawasan luas. Itulah Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Pria kelahiran Alor ini sehari-sehari berkarya sebagai pelayan di Jemaat Ebenhaezer Apui, Kecamatan Alor Tengah Selatan- Kabupaten Alor.
Pdt. Sefnat merupakan salah satu dari banyak mutiara- mutiara di bumi Flobamora yang melakukan kegiatan besar namun luput dari perhatian banyak orang, termasuk pemerintah.
Sejak 11 tahun silam, Sefnat telah mendedikasin diri kepada umat, bukan hanya sebagai pendeta tetapi juga mensejahterakan masyarakat melalui upaya penyelamatan hutan. Dedikasinya dalam hal penyelamatan lingkungan inilah yang membuatnya Forum Acedemia Nusa Tenggara Timur (FAN) memberikan Academia Award 2010 kategori Inovasi Pembangunan kepada Pdt. Sefnat. Ia dipandang berjasa dan berdedikasi tanpa pamrih dalam membangun lingkungan di Apui.
Pdt. Sefnat, lulusan Fakultas Theologia Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang ini, mengisahkan, berkarya dalam bidang lingkungan hidup sudah menjadi pergumulannya sejak 11 tahun mengabdi di Apui. Keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan dimana-mana membuatnya terpanggil untuk melakukan sesuatu.
Bersama-sama jemaatnya dan warga desa umumnya, mereka menjalankan manajemen pengelolaan dan distribusi air minum di Desa Apui. Dimulai dari membuat lubang-lubang resapan air sampai menjalankan manajemen pengelolaan air minum desa yang sampai saat ini masih berjalan.
Pekerjaan tetap sebagai pendeta bukan menjadi penghalang bagi upaya menyelamatkan lingkungan.
Ia bagai membawa mimbar kemana-mana untuk mengajak masyarakat menanam dan menanam untuk menghijaukan lingkungan. Bukanlah mimbar sentris, tetapi mimbar untuk mengajak masyarakat mencintai dan menghargai ciptaan Tuhan berupa menanam dan melindungi hutan.
Ajaran dalam Alkitab tidak sekadar diucapkan tetapi diwujudnyatakan dalam aksi nyata sehari-hari. Sebagai Ketua Klasis di Kecamatan Alor Tengah Selatan, Pdt. Sefnat memiliki program kerja bagi gereja-gereja yang berada dalam Klasis Alor Tengah Selatan. "Ini berangkat dari keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan hidup yang terjadi dimana-mana," jelasnya.
Aksi itu dimulai dengan memrogramkan setiap gereja memiliki hutan jemaat. "Setiap gereja memiliki hutan jemaat karena saya berpikir, gereja juga harus punya andil dalam merehabilitasi kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan karena tebang pohon untuk pembangunan," jelasnya.
Lahan-lahan kritis mulai ditanami, dijadikan hutan jemaat. Jebakan-jebakan air dan sumur resapan dibuat dan lingkungan ou menjadi hijau. Pohon di hutan tak lagi ditebang.
Ide untuk membuat sumur resapan dan jebakan air ini didapat setelah membaca sebuah majalah dan bacaan itu pun diplikasikannya. "Saya baca dari majalah dan kemudian diprogramkan di tingkat klasis," jelasnya.
Selama ini, katanya, masyarakat kurang peduli pada berkat Tuhan berupa air hujan. Air hujan yang turun ke bumi langsung mengalir masuk laut. Dengan mengembangkan sumur resapan, maka air hujan "ditahan" untuk menjadi cadangan air. "Ada kendala, dimana kadang ada kesulitan menyakinkan dan mengajak warga menanam dan membuat sumur resapan. Warga berpikir instan, hari ini kerja besok rasakan manfaatnya. Mestinya harus berpikir jangka panjang," urainya.
Pdt. Sefnat juga aktif memotivasi jemaat untuk menjaga sumber-sumber air dengan melakukan mengadakan ibadah pada setiap Hari Air. "Bertepatan dengan Hari Air Internasional, kita bikin ibadah pada sumber-sumber air. Juga melaukan kegiatan penanaman pohon," jelasnya.
Pendeta Sefnat juga menggelar doa melarang penebangan hutan secara sembarangan sehingga daerah-daerah tangkapan air terpelihara. Ada masyarakat yang membangkang namun dengan pola pendekatan pastoral, kebiasaan masyarakat yang suka menebang hutan ini akhirnya berkurang. Ada pula kebaktian padang dimana jemaat dilarang membakar padang.
Pdt Sefnat juga mencintai keindahan. Ia menyarankan masyarakat selalu menanam bunga di halaman rumah. Dia bahkan sempat dicap menyebar ajaran sesat karena berbagai aksi nyatanya itu. Namun anggapan atau tuduhan itu hilang dengan sendirinya begitu orang melihat hasil nyata yang diperoleh.
Dia juga melarang umatnya membeli pohon natal. Sebagai gantinya dirancang anakan pohon hidup sebagai pohon natal.
"Yang menjadi komitmen kami di sana adalah bagaimana membawa mimbar ke tengah-tengah alam atau tempat kerja," jelasnya.
Ada filosofi nenek moyang yang diajarkan kembali pada jemaat bahwa kita harus mencintai pohon. Pohon ibarat orangtua yang semestinya dijaga dan dilindungi. Sebab, pohon-pohon itu pula yang akan melindungi kehidupan dengan menyediakan air. Alam pun harus dilihat sebagai orangtua, sebab dengan demikian maka alam akan memberikan apa yang dibutuhkan.
Berkat kerja keras Pdt Sefnat bersama masyarakat maka di Apui, kini, bagi mereka yang ingin menebang satu pohon, mereka harus menanam lima pohon. Jika ada yang menebang pohon sembarangan, maka akan dikenakan sanksi harus menanam seratus anakan pohon baru. Semua itu disepakati dalam persidangan jemaat dan masih berjalan sampai sekarang.
Kini setiap gereja memiliki hutan jemaat. Di jemaat Ebenhaezer Apui, setiap tahun diadakan kebaktian khusus untuk mencegah kebakaran hutan dan penggunaan potas, kebaktian pelarangan perusakan kolam air, kebaktian syukur atas hujan pertama, kebaktian perayaan hari lingkungan hidup, Hari Bumi dan Hari Air Sedunia dalam liturgi tahunan gereja. *
Data Diri:
Nama : Pdt. Sefnat Sailana, S.Th
Pekerjaan : Pendeta Jemaat Ebenhaezer Apui,
Ketua KPWK Alor Tengah Selatan
Asal : Desa Apui, Kel. Keilasi Timur, Kec. Alor Selatan
Sumber: Pos Kupang, 21 Desember 2010 halaman 1











