Wallace pun Kehilangan Kata-kata...


"Jernihnya air memberiku salah satu pemandangan yang paling menakjubkan dan indah yang pernah aku lihat" (Russel Wallace)

SEKITAR Desember 1855 hingga Januari 1858, untuk kali pertama, Alfred Rusell Wallace, menginjakkan kakinya di tanah Ambon.

Matanya menatap tajam ke tengah hamparan birunya air Teluk Ambon di pesisir Perairan Timur Indonesia. Desiran pasir yang terempas ombak laut, membuat benaknya yakin, bahwa wilayah yang kini berpenduduk sekitar 51.000 jiwa itu adalah salah satu "surga kecil" milik Nusantara.

Wallace adalah seorang Naturalis asal Inggris, yang mengusulkan ide tentang Garis Wallace, tentang pembagian flora dan fauna di Asia. Ia juga diyakini sebagai orang yang berperan penting bagi Charles Darwin untuk menerbitkan buku Origin of Species,  yang berisi proses seleksi alam yang memicu teori evolusi, karena suratnya kepada Darwin, "Surat dari Ternate".

Dalam salah satu karyanya, The Malay Archipelago, Wallace pernah melukiskan, indahnya keanekaragaman flora bawah air Teluk Ambon. Dia kehilangan kata-kata untuk melukiskan keindahannya.

"Dasar laut benar-benar tersembunyi oleh serangkaian karang, karang, dan benda laut lain dengan berbagai dimensi yang megah, beragam bentuk, dan warna yang indah. Pemandangan yang bisa dilihat selama berjam jam  dan tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan indahnya pemandangan itu,"

Pernyataan Wallace bukan tanpa alasan. Karakteristik habitat yang kaya akan sumberdaya pesisir, produktifitas perairan yang bagus, membuat perairan Teluk Ambon sebagai salah satu lingkungan terkaya di dunia. Lihat saja, keragaman lamun, mangrove, dan tingginya koral menjadikan produksi ikan sangat tinggi dan beragam di perairan dengan luas sekitar 143,5 Km2 dan panjang 30 Km tersebut.

Kontur geografis Pulau Ambon yang menyerupai huruf "U" pun semakin menambah estetika Teluk Ambon. Belum lagi dengan aneka fauna dan fauna. Walhasil, hal itulah, yang membuat Wallace berulang kali berkunjung dan sempat tinggal di Paso, sebuah daerah yang menghadap dua teluk indah di Barat dan Timur, yang menghubungkan dua daratan, Hila dan Ambonia.

Lupa


Sepenggal kisah sejarah Wallace itu, membuat benak kita seraya bertanya bagaimana kondisi Teluk Ambon saat ini. Sejatinya, Kota Ambon, diakui masih memiliki kekayaan alam luar biasa. Para Nelayan masih bisa menggantungkan hidup kepada hasil laut. Begitu juga dengan anak kecil yang riang gembira bermain di hamparan rerumputan luas penuh dengan keanekaragaman flora dan fauna Indonesia.

Setali tiga uang, keindahan itu kini harus dibarengi dengan sejumlah masalah. Salah satunya adalah sampah dan limbah di sekitar Teluk yang sangat mengkhawatirkan. Keindahan pesisir Teluk itu seakaan dilupakan, karena banyaknya sampah-sampah plastik dan limbah dari kapal yang bersandar di beberapa dermaga maupun warga sekitar. Keindahan teluk itu pun semakin berkurang.

Lihat saja, di beberapa wilayah yang hingga saat ini masih menggambarkan bahwa sampah adalah pemandangan "biasa", seperti di sungai Passo, Wairuhu (Desa Galala) dan kawasan Pasar Lama. Sangat disayangkan, jika keindahan panorama alam dan warisan sejarah bahari Kota Ambon itu dirusak segelintir pihak maupun kelompok yang tidak bertanggungjawab.

Juli 2012 lalu, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon, Augy Syahailatua, mengungkapkan, Teluk Ambon saat ini dalam kondisi kritis. Bahkan, LIPI sempat mengeluarkan peringatan, dengan adanya fenomena alga beracun di perairan TDA dan bertambahnya bakteri e-coli di beberapa wilayah tertentu yang berasal dari sampah rumah tangga, domestik, yang semakin membuat ketidakseimbangan ekosistem alam Perairan Teluk Ambon.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Benny Gaspers, mengakui, sampah memang merupakan masalah yang masih dihadapi Pemerintah Kota Ambon. Menurutnya, pihaknya saat ini terus mengupayakan agar masalah itu bisa diselesaikan dengan membuat sejumlah program dan mensosialisasikannya ke masyarakat sekitar. "Ini juga perlu kesadaran dari masyarakat untuk tidak membuang sampah ke dalam air," katanya saat ditemui Kompas.com, Sabtu (29/9/2012).

Peduli

Melihat sejumlah fakta itu, jelas, saat ini harus ada kepedulian tinggi dari pemerintah Pusat dan Daerah untuk menjaga kelestarian Teluk Ambon. Perlu ada regulasi tegas agar pola pikir membuang sampah di tempat yang ditentukan dijadikan gaya hidup. Jika masalah ini diselesaikan, potensi laut dan pesona keindahan Teluk Ambon jelas dapat dijadikan sumber daya alam yang menghasilkan devisa negara.

Sejak Abad ke-16, para penjelajah di seluruh dunia, mengakui bahwa Nusantara adalah lumbung emas bagi perdagangan mereka. Tak jarang juga, hingga saat ini ratusan pelajar maupun peneliti luar negeri masih mengunjungi Indonesia untuk  memperoleh sumber atau pun catatan sejarah kebesaran Ibu Pertiwi di telinga Eropa maupun Asia.

Indonesia dewasa ini memang penuh dengan hiruk pikuk dari jutaan intrik para politisi yang tidak tahu diri. Hal-hal yang seharusnya diperhatikan, tak jarang malah diabaikan. Hal-hal yang pernah membuat Negeri ini bangga, sering berlalu begitu saja. Padahal kalau mereka sadar, ratusan hutan, gunung, sawah, dan lautan dari Sabang hingga Merauke, merupakan harta pusaka Indonesia.

Harus ada kesadaran dan kebesaran hati, agar riwayat catatan sejarah kebesaran Nusantara itu tetap terjaga untuk warisan anak cucu Bangsa. Jangan sampai, kisah mengenai ketakjuban para penjelajah dunia saat datang ke surga kecil milik Nusantara itu, hanya tinggal kenangan semata. *


Sumber: Kompas.Com

Indonesia Merindukan Gus Dur

Pojok Gus Dur (kompas@)
PELATARAN Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (28/9/2012) malam, begitu hening. Di atas panggung, lima tokoh lintas agama dan kepercayaan berdiri khusyuk. Ada KH Abdul Wahid (Islam), Romo Mudji Sutrisno (Katolik), Pendeta Palti Panjaitan (Protestan), Haksu Chandra R Mulyadi (Konghucu), dan Rahmi (Bahai).

Satu per satu mereka memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing. Ini membuka pertunjukan ”Ziarah Budaya”, salah satu rangkaian Peringatan 1.000 Hari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang wafat pada 30 Desember 2009. ”Ya Tuhan, berikanlah kami semangat Gus Dur. Berikanlah kami kekuatan meneruskan perjuangannya,” kata Mudji lirih.

Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu memberikan kesaksian bagaimana Gus Dur mewariskan semangat kebangsaan kepada kita semua. Bagi almarhum, setiap orang—apa pun latar belakang agama, suku, kelompok, dan golongannya—harus dihormati harkat martabatnya. Keindonesiaan adalah kemajemukan yang dirajut dengan kesetaraan dan keadilan yang tak boleh diganggu, apalagi dengan kekerasan.

Doa serupa dipanjatkan secara berurutan oleh KH Abdul Wahid, Pendeta Palti Panjaitan, Haksu Chandra R Mulyadi, dan Rahmi. Mereka mengajak bangsa Indonesia terus menghidupkan perjuangan Gus Dur. Cita-cita untuk membangun kehidupan bangsa yang damai, adil, dan saling menghormati.

”Gus Dur mengakarkan kita untuk saling menyayangi. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik, orang tak pernah bertanya apa pun agamamu,” kata Rahmi.

Pentas itu diteruskan oleh sejumlah penampil, seperti Paduan Suara dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin dari Bogor, orasi budayawan Mohamad Sobary, dan pembacaan puisi oleh penyair asal Madura, D Zawawi Imron. Ada pertunjukan musik Tribute to Gus Dur bersama putri Gus Dur, Inayah, penyanyi Glen Fredly, dan Kidung Sufi Candra Malik.

Perjuangan

”Ziarah Budaya” menjadi rangkaian Peringatan 1.000 Hari Wafatnya Gus Dur di tengah publik. Sebelumnya, bertempat di Ciganjur, digelar berbagai acara yang dihadiri ribuan umat Islam dan masyarakat. Ada pergelaran wayang, peluncuran buku, khataman Al Quran, shalawatan, dan ceramah. Semua itu menggambarkan kekayaan dimensi kehidupan almarhum.

Lahir tahun 1940, Gus Dur adalah putra KH Wahid Hasyim, tokoh kemerdekaan sekaligus menteri agama pertama RI. Kakeknya, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Seperti kesaksian tokoh lintas agama tadi, perjalanan hidup almarhum sarat perjuangan membangun bangsa Indonesia.

Ketika terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada 1984, Gus Dur memimpin organisasi besar Islam itu untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal dan menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk final negara ini. Almarhum juga menjadi salah satu tokoh Reformasi 1998 bersama Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Hamengku Buwono IX.

Di tengah masa transisi politik itu, Gus Dur terpilih menjadi presiden keempat RI (1999-2001). Selama kepemimpinannya, dia meneruskan gagasan dan perjuangan untuk kebangsaan, kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi. Diskrimasi terhadap keturunan Tionghoa dihapuskan, Tahun Baru China (Imlek) ditetapkan sebagai perayaan nasional, dan Konghucu disahkan sebagai salah satu agama resmi.

Dirindukan

Menurut Mohamad Sobary, Gus Dur sebagai pemimpin negara, umat Islam, dan tokoh masyarakat bekerja optimal untuk melindungi kelompok yang terpinggirkan oleh arogansi kekuasaan. Politik diarahkan untuk memastikan keadilan dalam semua bidang dan tingkatan. Ini diperlukan di tengah kecenderungan politik yang menjadi dangkal, praktis, dan hanya berorientasi kekuasaan.

Setelah Gus Dur tiada, orang makin merindukan sosok yang berani tampil untuk memperjuangkan keadilan dengan membela kelompok minoritas yang terpinggirkan oleh kekuasaan, politik, dan struktur yang arogan. ”Kini, orang-orang tak punya waktu, kebesaran hati, dan keberanian untuk membela kaum tertindas. Kelompok-kelompok lemah menjadi yatim piatu karena tak punya pelindung dan jaminan memperoleh keadilan dalam kehidupan,” katanya.

Kerinduan itu dirasakan semua kalangan dari berbagai kelompok. ”Orang-orang mencintai Gus Dur karena Gus Dur mencintai orang-orang. Gus Dur mencintai kemanusiaan,” kata pengasuh Pesantren Raudhah at-Tholibin di Rembang, Jawa Tengah, KH Musthofa Bisri, di Ciganjur. (Ilham Khoiri)

Sumber: Kompas.Com

TERKAIT

    Warga Tionghoa Turut Meriahkan Haul Gus Dur
    Festival Liong Meriahkan Peringatan Wafatnya Gus Dur
    Hidupi Gagasan Gus Dur
    Ribuan Jamaah Padati Makam Gus Dur di Jombang
    Haul Gus Dur, Bupati Bagikan 1.000 Kitab Akhlaq

Hengky Lasut Koleksi 800 Medali dan Piala

Hengky Lasut dan istri (foto erv@TM)
Di antara atlet terkemuka Sulawesi Utara, Hengky Lasut mungkin satu-satunya yang mengoleksi medali dan piala terbanyak hasil dari berbagai kejuaraan. 

MELIHAT sepintas dari luar, rumah di Jalan Bethesda 5 Kecamatan Sario Kota Manado  tersebut tidak jauh berbeda dengan rumah lainnya. Ada taman dengan aneka tanaman hias serta garasi untuk memarkir kendaraan pemiliknya.

Namun, ketika kita  masuk ke dalam,  rasa kagum sontak merebak  melihat medali, piala, piagam si pemilik yang begitu banyak jumlahnya. Barang-barang tersebut ditata dalam beberapa lemari besar dan kecil di ruang tamu. Karena tidak muat seluruhnya beberapa piala ditaruh di atas meja keramik dan meja di ruang tamu. Ruang tamu rumah dua tingkat itu pun terlihat penuh. Di lantai dua rumah tersebut ada medali yang tersimpan dalam lemari maupun tempat lainnya.

Pemilik rumah adalah atlet legendaris Sulawesi Utara (Sulut) yang masih berprestasi hingga kini di cabang olahraga bridge yakni Hengky Lasut. Dia  mengakui kesulitan  menyimpan medali dan penghargaan yang diraihnya dari berbagai kejuaraan baik tingkat nasional maupun internasional. Hengky Lasut bahkan tidak tahu persis berapa jumlahnya medali yang dia koleksi.

"Saya tidak tahu berapa jumlah pastinya, namun diperkirakan sekitar 800 medali, piagam serta tropi," ujarnya kepada Tribun Manado, Kamis (20/9/2012). Atlet bridge Sulawesi Utara tersebut baru saja menyumbangkan satu medali emas dalam PON XVI di Riau.

Medali dan piala yang menunjukkan eksistensi serta prestasinya di cabang olahraga bridge tersebut, kata Lasut, hanya sebagian saja yang dipajang di rumhah. Sisanya masih disimpan karena ketiadaan tempat. "Belum lagi ada satu lemari medali yang dicuri. Mungkin dikiranya emas, padahal hanya kuningan semata," katanya.

Dari semua penghargaan yang dia dapat itu memiliki kesan mendalam, namun yang paling membanggakan adalah medali maupun piala dari kejuaraan internasional. "Yang paling membanggakan dari kejuaraan internasional," katanya.

Seringnya meraih juara di berbagai event membuat Hengky Lasut merasa biasa saja. Kalau gagal meraih medali baru menjadi sesuatu yang luar biasa baginya.
Ke depan ia berencana membuat ruangan khusus untuk menaruh medali, piala, tropi serta berbagai piagam penghargaan sehingga tertata lebih rapi. 

"Saya memang berencana membuat ruangan khusus tempat menaruh medali, sehingga nantinya dapat tersusun dengan baik jalan cerita selama ia menekuni olahraga bridge," kata suami Corry Manoppo tersebut. (herviansyah)

Sumber: Tribun Manado 21 September 2012 hal 1

Edelweis buat Jakob Oetama

Jakob Oetama meniup lilin ulang tahun ke-81, Kamis (27/9/2012)
PENYANYI tiga zaman Titiek Puspa, penyanyi keroncong Sundari Soekotjo dan putrinya Intan Soekotjo meramaikan peringatan hari ulang tahun ke-81 Jakob Oetama, pendiri dan Pemimpin Umum Harian Kompas di Gedung Kompas Gramedia, hari Kamis (27/9/2012) pagi.

Titiek Puspa yang pada 1 November mendatang berusia 75 tahun, membawakan lagu "Edelweis", "Nasi Goreng" an "O My Papa", sedangkan Sundari Soekotjo berduet dengan putrinya Intan Soekotjo (21) membawakan antara lain "Stasiun Balapan", "Keroncong Kemayoran" dan "Keroncong Tanah Air".

Suasana gembira dan bahagia sangat terasa dalam peringatan HUT ke-81 Jakob Oetama, yang juga dihadiri CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo dan Wakil CEO KG Liliek Oetama, serta tamu undangan Ishadi SK dan Mien Uno.

Hadir juga sahabat-sahabat Jakob Oetama yaitu P Swantoro yang pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi, August Parengkuan, yang kini ditunjuk Pemerintah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia, St Sularto penulis biografi Jakob Oetama "Syukur Tiada Akhir" dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas. Hadir juga Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun, Direktur Komunikasi Korporat Kompas Gramedia Widi Krastawan, serta sejumlah pimpinan unit di Kompas Gramedia dan para editor Harian Kompas.

Romo Sindhunata SJ memimpin doa dalam peringatan HUT ke-81 Jakob Oetama yang sederhana tersebut.

CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo mengutip pakar fengshui mengatakan, orang yang lahir pada tanggal 27 September adalah orang yang baik hati. "Pada umumnya orang yang gembira dan optimistis, gemar berkesenian terutama musik dan kesusasteraan. Konon orang yang lahir pada tanggal ini memperoleh banyak rezeki, terutama yang lahir pagi hari," papar Agung yang disambut gelak hadirin.

"Orang yang lahir pada 27 September sangat fokus dengan hasil yang akan dicapainya dan selalu ingin menjadi nomor satu, tidak ada istilah nomor dua. Juga serius menghadapi tantangan," lanjut Agung. Salah satu orang yang lahir pada 27 September dan tertua di dunia adalah Li Jing Yun dari China, yang berusia 256 tahun.

Mengutip salah seorang dokter, Agung menambahkan, mereka yang memiliki harapan hidup hingga 100 tahun dalam keadaan sehat dan sejahtera adalah orang-orang yang pandai bersyukur terhadap apa yang diterimanya. "Pak Jakob selalu mengajarkan kepada kita semua untuk selalu bersyukur. Selamat ulang tahun, Pak Jakob," kata Agung Adiprasetyo.

Jakob Oetama dalam sambutan singkatnya mengatakan, "Saya hanya bisa bersyukur dan berterima kasih. Saya suka berpikir, saya ini siapa dan asal saya dari mana. Tentu saya bisa menjadi begini karena berkat Yang di Atas. Tentu karena kita juga menjawab dan menyahut berkat tersebut."

Menurut Jakob Oetama, akhir-akhir ini, ia sering melakukan refleksi diri. "Salah satu yang saya syukuri adakah Kompas Gramedia sebagai Indonesia mini, yang pluralis, majemuk, yang bersinergi, yang saling melengkapi. (Kompas Gramedia) diberi berkah dan bisa melangkah maju. Ini yang setiap kali saya syukuri. Sekalipun kecil terbatas, namun (Kompas Gramedia) bisa memberikan kontribusi terhadap apa yang disebut jalan positif, bagaimana membangun negara ini. Tentu melalui jalan yang kita pilih, melalui media, buku, televisi," katanya.

Jakob Oetama meminta apa yang sudah dikerjakannya selama ini untuk dilanjutkan. "Karena ini sangat berguna bagi bangsa dan negara. Kita masih membutuhkan sikap positif. "Atas kebaikan Anda semua, saya hanya bisa berterima kasih," kata Jakob.

Jakob Oetama yang lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931, adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat Kabar Harian Kompas. Saat ini Jakob adalah Presiden Komisaris Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.

Jakob merupakan putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Setelah lulus SMA (Seminari) di Yogyakarta, ia mengajar di SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta. Tahun 1955, ia menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Jakob kemudian melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta.

Karir jurnalistik Jakob dimulai ketika menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956 dan berlanjut dengan mendirikan majalah Intisari tahun 1963 bersama P.K. Ojong. Pada 28 Juni 1965, bersama PK Ojong, Jakob mendirikan Harian Kompas yang dikelolanya hingga kini. Tahun 1980-an Kompas Gramedia makin berkembang pesat, terutama dalam industri komunikasi. Saat ini, Kompas Gramedia memiliki unit bisnis yang bergerak di bidang media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV sampai universitas. (*)

Sumber: Kompas.com

Baca juga

    Jakob Oetama Bangga August Parengkuan Jadi Duta Besar
    Jakob Oetama: Jadilah Saluran Melahirkan Manusia Cerdas
    Berbahagia Bersama Jakob Oetama
    Lebih Nyaman Berada di Antara Sesama Wartawan
    Jakob Oetama: Alm PK Ojong Peduli Sesama

Melupakan Kekuatan Sendiri

ilustrasi
PEMBANGUNAN suatu bangsa yang berorientasi ke luar sudah terbukti gagal dalam sejarah. Gagal  karena resep dari luar yang kita telan mentah-mentah tidak membumi dengan kenyataan serta kebutuhan lokal. Justru sebaliknya malah makin meluas praktik trial and error.  Sekadar coba dan terus mencoba resep dan formula baru tanpa menghasilkan model pembangunan yang kokoh dan berhasil bagi kepentingan masyarakat umum.

Studi banding, misalnya, memang bukan hal yang buruk. Namun, teori-teori pembangunan menekankan bahwa studi banding  hanyalah faktor pelengkap bukan modal utama suatu bangsa membangun dirinya menuju kesejahteraan hidup. Sudah banyak contoh sukses bangsa yang meraih kejayaan karena mereka bermodalkan keutamaan-keutamaan dari dalam dirinya sendiri. Jepang, Korea Selatan dan China bisa disebut di antara kisah sukses tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita harus jujur mengakui masih jatuh  dan jatuh lagi di dalam lubang yang sama. Model pembangunan yang kita terapkan sangat kuat berorientasi ke luar. Kita cenderung memuji-muji formula bangsa A, bangsa B dan C. Kita ambil lalu menerapkan resepnya tanpa filter, tanpa  kreasi dan inovasi berbalutkan spirit jatidiri Indonesia.

Kita mudah terbuai untuk menuai hasil instan. Yang terjadi kemudian adalah litani kisah kegagalan. Bahkan menciptakan ketergantungan tak berujung. Ketika kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) rakyat Indonesia hari ini masih terus bergantung dari pasokan impor, itulah bukti kuat betapa rapuhnya model pembangunan yang kita anut selama puluhan tahun.

Bangsa ini dikaruniai tanah nan subur, lautan mahas luas, kekayaan rempah-rempah tak ada duanya di dunia, tetapi beras, singkong, garam, tahu dan tempe pun kita impor. Tanpa sadar kita menempatkan diri kita sebagai bangsa terjajah dalam urusan makan sehari-hari.

Virus orientasi ke luar itu pun merasuki cara berpemerintahan di negeri ini. Kuatnya orientasi tersebut menjelma dalam "hobi" studi banding pimpinan eksekutif dan legislatif, baik di pusat maupun di daerah-daerah.

Di Sulawesi Utara, misalnya, DPRD Provinsi baru saja menganggarkan dana Rp 3,5 miliar untuk perjalanan anggota dewan dalam tiga bulan. Dana tersebut tertata dalam APBD Perubahan (APBDP) 2012. Pada rapat sinkronisasi pembahasan APBDP antara Badan Anggaran DPRD dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD), Selasa (25/9), disebutkan dana kesekretariatan  DPRD  naik dari Rp 39,4 miliar menjadi Rp 46, 4 miliar.  Jumlah itu bertambah Rp 7 miliar dari Rp 8 miliar yang sebelumnya direncanakan. Dari penambahan Rp 7 miliar itu 50 persen atau setengahnya untuk perjalanan dinas luar kota dan ke luar negeri.

Dana perjalanan  yang tidak kecil bukan? Apakah hasilnya sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, silahkan rakyat Sulawesi Utara menunggu dengan muram. Kita  rajin nian berkeliling sambil menebarkan uang dari pajak rakyat. Mengapa bukan berkeliling di kampung sendiri agar uang jatuh di bumi Nyiur Melambai?*

Sumber: Tribun Manado 27 September 2012 hal 10



Jokowi dan Lima Perempuan Tangguh

DI balik kesuksesan Jokowi menaklukkan hati mayoritas warga Kota Jakarta, terdapat lima  perempuan tangguh dan penuh kasih yang selama ini menyemangatinya. Para srikandi ini tak lelah mendukung pria kelahiran Solo 51 tahun lalu itu.

Pada 20 September 2012,  saat pertarungan Jokowi vs Foke mencapai puncaknya, para perempuan itu juga terlihat di sekitar Jokowi dengan mengenakan baju kotak-kotak. Mereka adalah ibu Jokowi, Sudjiatmi Notomihardjo (70) dan tiga adiknya, Iit Sriyatini (47), Ida Yati (46) dan Titi Ritawati (44). Istri Jokowi, Iriana, pada hari itu dikabarkan ada di Jakarta, namun tidak terlihat di depan wartawan. Iriana baru terlihat di televisi pada Jumat 21 September 2012, mendampingi suaminya di Solo.

Ibu dan tiga adik Jokowi tiba dari Solo pada Rabu 19 September 2012. Setelah doa bersama di Posko Pemenangan di Jl Borobudur 22, Jakarta Pusat, keempatnya menginap di Rumah Saya milik pengusaha Rio Sarwono di Pasar Minggu, yang selama ini juga diinapi Jokowi. "Itu pun kami masih terus ngobrol ngalor-ngidul hingga pukul 3 dini hari," kata Iit seperti diberitakan Harian Detik edisi Minggu 23 September 2012.

Jokowi dan istrinya
Dua jam terlelap, mereka lantas beraktivitas seperti menemani Jokowi sarapan nasi bungkus dengan menu nasi uduk dan lauknya. Jokowi yang kala itu memakai baju kotak-kotak lantas berganti dengan kemeja putih. Jokowi lantas mengadakan sungkeman kepada ibunya, meminta doa restu sebelum berangkat ke rumah Megawati di Kebagusan guna menemani Megawati nyoblos.

Empat perempuan itu menemani Jokowi saat pengusaha mebel itu berkampanye putaran II pada 14-16 September 2012.  Bagi Iit dan adik-adiknya, kemenangan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta merupakan awal untuk bekerja keras karena harus membawa perubahan untuk Jakarta yang lebih baik. "Mas Joko adalah orang yang bisa memegang janji," kata Iit.

Ida menambahkan, Jokowi adalah sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Begitu ayah mereka meninggal pada tahun 2000, Jokowi-lah yang mengambil peran sebagai bapak bagi adik-adiknya. Sebab Jokowi adalah anak sulung dan anak lelaki satu-satunya di keluarga mereka.

Di mata Ida, Jokowi adalah kakak yang sabar. Meski Jokowi dalam keadaan marah, adik-adiknya tidak pernah mendengar Jokowi mengeluarkan kata-kata kasar. "Karena, kalau dia marah, dia diam," katanya.

Kalau menegur pun, Ida menambahkan, biasanya dalam gaya bertutur sopan dan halus. Selain penyabar, Titi menambahkan, Jokowi adalah pekerja keras. Salah satu yang paling melekat dalam ingatannya adalah saat Jokowi menasihati agar dia mencari calon suami yang punya bekal ilmu agama yang bagus, berkepribadian baik, jujur dan bertanggung jawab.

Air Mata Sang Istri
Perempuan kelima tentu saja Iriana, istri Jokowi. Air mata Iriana seketika menetes saat Joko Widodo (Jokowi) mencium lembut pipinya, Jumat (21/9/2012) sore, di rumah dinas walikota Solo, Loji Gandrung.  Jokowi mengusap kening istrinya, seolah sudah tak bertemu lama.

Nuansa kemesraan, meski malu-malu, memang tampak saat Iriana menyambut kehadiran Jokowi dari Jakarta. Di tengah ingar-bingar yel-yel simpatisan Jokowi, tingkah pasangan ini seakan memberi kesejukan tersendiri. "Udah, gitu aja kok disorakin," ujar Jokowi saat memeluk lengan sang istri. Para kuli tinta yang sejak siang menunggu di Loji pun tergelak.

Barangkali sentuhan lembut inilah yang hilang saat Jokowi bertarung habis-habisan di Ibu Kota. Setelah tiba di Loji Gandrung, sekitar pukul 15.40 WIB, Jokowi mengaku ingin langsung istirahat ditemani jamu ramuan istrinya. "Butuh tidur semalam. Jamunya nanti yang buatkan istri saya, jamu temu lawak dan madu," ujarnya sambil tersenyum.

Sebelum sampai di rumah dinasnya, gubernur terpilih DKI Jakarta versi quick count ini sempat diarak naik becak dari Lapangan Kotta Barat. Pemandangan itu sontak disambut gegap gempita warga Solo yang berada di sekitar Jl Slamet Riyadi. Kepada warga Solo, Jokowi mengaku sangat berterima kasih atas doa yang diberikan selama ini. "Ucapan terima kasih terbesar saya untuk warga Solo yang telah memberi doa. Saya tidak bisa memberikan apa-apa kecuali ucapan terima kasih," tutur Jokowi yang sore itu mengenakan batik parang warna cokelat. Jokowi menambahkan, pada Minggu (23/9/2012) pagi, dirinya siap menemui warga Solo di car free day.

Peraih Charta Politica Award ini lega proses Pilkada DKI berjalan aman dan sukses. Ia semakin plong saat Foke mengaku siap membantunya dalam membangun Jakarta. "Sempat telepon-telepon, minta dibantu dalam melaksanakan tugas. Ya Foke katanya siap membantu memetakan tugas dan masalah yang ada di Jakarta," ujarnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih, yang turut menyertai kepulangan Jokowi, mengaku bangga dengan prestasi kader PDI P tersebut. Menurutnya, kememangan Jokowi menegaskan potensi Jawa Tengah sebagai penghasil pemimpin yang berkarakter. "Bangga ada kepala daerah dari Jateng menang di provinsi yang sangat bergengsi di Indonesia. Semoga ini menjadi inspirasi seluruh daerah agar melakukan Pilkada bersih dan menang dengan cara-cara elegan," kata mantan Bupati Kebumen itu. (*)

Sumber: detik.comdetik.com dan solopos

Kisah Anak Kefa Bertubuh Mini...

Frengki (kompas.com)
FRENGKI Robianus Nailiu memiliki tubuh yang mungkin dinilai orang tidak sempurna. Bayangkan saja, warga Kelurahan Bitefa, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur itu hanya memiliki tinggi badan 130 cm di usianya yang sudah menginjak 24 tahun.

Namun, siapa yang menduga? Semangatnya untuk mandiri layak diacungi jempol. Frengki pun memilih profesi sebagai tukang ojek yang tentunya berisiko tinggi. Anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Yakobus Nailiu dan Alm. Yasinta Tael ini sudah menggeluti profesi tersebut sejak tahun 2011 lalu, meskipun awalnya ditentang keras oleh keluarganya karena kondisi badannya.

Kemauannya yang keras membuat Frengki akhirnya menjalani pekerjaan itu sampai sekarang. "Pertama kali saya belajar motor, sejak dua tahun lalu karena termotivasi dengan teman-teman yang ojek, sebab pemasukan mereka setiap hari menurut saya lumayan tinggi sehingga saya pun berkeinginan menjadi seperti mereka. Selain itu saya tidak ingin hidup hanya bergantung pada keluarga dan orang lain tetapi ingin mandiri," kata Frengki, saat ditemui di tempat mangkalnya, Pasar Lama Kefamenanu, Kamis (26/7/2012).

Menurut Frengki, pertama kali mengojek, para penumpang sempat ragu dan takut dibonceng olehnya. Tetapi, karena kemampuannya meyakinkan calon penunmpang sangat kuat, akhirnya banyak penumpang yang mau mengunakan jasanya. Bahkan kini, Frengki telah memiliki sejumlah langganan tetap.

Frengki pun mengaku tidak malu dengan kondisi tubuh. "Saya menganggap diri biasa saja seperti yang lain, hanya mungkin kekurangan saya ini agak sedikit mencolok, akan tetapi saya tetap optimis dalam hidup ini," kata Frengki yang hanya jebolan kelas II SMP.

Pemasukan bersih dari ojeknya bisa mencapai Rp 60.000 per hari dikala ramai penumpang. Namun, kalau toh terbilang sepi, ia tetap bisa membawa pulang uang Rp 30.000.  Semua pemasukan itu dia setor kepada pemilik motor yang tidak lain adalah adik iparnya. Pemasukan tersebut lantas dibagi 30 persen untuknya, sedangkan sisanya untuk iparnya dan untuk membayar cicilan motor.

Perjalanan terjauh yang pernah ditempuh oleh Frengki adalah mengantar penumpang dari Kefamenanu ke Atambua, Kabupaten Belu sejauh 87 kilometer dengan bayaran Rp 150.000 pulang-pergi.

Salah seorang penumpang, Feri Naimena mengaku tidak takut dibonceng oleh Frengki. "Meskipun kelihatan seperti anak kecil, tetapi pada saat membawa motor, Frengki sangat lincah dan berpengalaman seperti ojek lainnya. Jadi, bagi saya tidak ada masalah bila dibonceng olehnya," jelas Naimena.

 
Harapannya Terwujud

Kisah Frengki Robianus Nailiu (24 tahun), si tukang ojek bertubuh mini asal Kelurahan Bitefa, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, ternyata menyentuh hati pembaca Kompas.com.

Frengki pun mendapat sumbangan dari sejumlah pembaca Kompas.com yang berasal dari Jakarta. Total bantuan yang diberikan untuk pria bertubuh mini ini sebesar Rp 2.500.000.

Saat menerima uang tersebut, Frengki sempat meneteskan air matanya karena tak percaya kalau masih ada orang yang peduli terhadap dirinya.

"Terima kasih buat para penyumbang pembaca Kompas.com. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan mereka, dan uang pemberian dari para pembaca setia Kompas.com itu akan saya gunakan untuk membuka usaha ayam potong," ucap Frengki.

Menurut Frengki, selama ini dia memiliki harapan ingin membuka usaha kecil-kecilan di rumah, tetapi selalu terbentur dengan modal. Kini, dengan adanya uang sumbangan dari pembaca Kompas.com, harapan Frengki bisa terwujud. Dia menyatakan ingin membuka usaha demi memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa membebani orang lain.

Dia menilai, usaha ayam potong lebih cocok baginya dibanding menjadi tukang ojek. Selain itu, di kampungnya, penjual ayam potong belum terlalu menjamur sehingga dia yakin kalau bisnisnya akan menguntungkan.

Diberitakan sebelumnya, Frengki Robianus Nailiu memiliki postur tubuh pendek. Warga Kelurahan Bitefa, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, itu hanya memiliki tinggi badan 130 cm di usianya yang sudah menginjak 24 tahun.

Namun, semangatnya untuk mandiri patut diteladani. Frengki pun memilih profesi sebagai tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidup, meski risikonya tinggi.

Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Yakobus Nailiu dan alm Yasinta Tael ini sudah menggeluti profesi tukang ojek sejak tahun 2011. Meski awalnya ditentang keras oleh keluarga karena kondisi badannya, Frengki tetap menjalani profesi itu. (*)

Sumber: Kompas.Com
 

Kisruh yang Melelahkan

KISRUH yang melibatkan dua lembaga hukum terkemuka di negeri ini yakni antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian RI (Polri) memasuki babak baru.

Polemik yang melelahkan ini pertama kali mencuat pada awal Agustus 2012 ketika penyidik KPK mengusut dugaan korupsi proyek pengadaan simulator SIM di Korlantas Polri. Kala itu penyidik KPK sempat disandera berjam-jam lamanya saat hendak membawa barang bukti. Polri bersikukuh bahwa mereka sudah  lebih dahulu menangani kasus tersebut sehingga tidak patut bagi KPK untuk menanganinya. Sementara mata publik baru terbuka ketika KPK beraksi.

Ketentuan UU Nomor 30 Tahun 2002 pasal 50 ayat 3 dan 4 menyebutkan Polri harus menghentikan penyidikannya jika kasus sudah ditangani KPK. Namun, Polri tetap pada pendiriannya dengan mengacu pada MoU antarlembaga penegak hukum yakni KPK, Polri dan Kejaksaan Agung. Polri justru  menuding KPK melanggar MoU karena tak memberi tahu Polri soal pengeledahan di gedung Korlantas Polri.
Sampai saat ini perseteruan itu tidak menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Bahkan cenderung memanas dan berputar-putar di tempat saja.

Kondisi terbaru, Polri justru menarik 20 personelnya yang ditugaskan sebagai penyidik KPK. Pimpinan Polri beralasan masa tugas 20 penyidik tersebut telah berakhir sehingga mereka harus kembali ke lembaga Polri. Alasan lain adalah karier para penyidik tersebut tidak akan berkembang bila terlalu lama berada di KPK. Sebagian perwira Polri akan dikirim melanjutkan studi atau menempati jabatan baru sesuai pangkat dan kapasitasnya. Pimpinan Polri juga menyatakan sudah menyiapkan penyidik pengganti namun belum direspons pimpinan KPK.

Sikap KPK jelas yakni meminta pimpinan Polri untuk memperpanjang masa tugas ke-20 penyidik tersebut mengingat mereka saat ini sedang menangangi berbagai kasus korupsi. Bila mengganti penyidik di tengah jalan dikhawatirkan menggangu jalannya penyidikan.  Ketua KPK Abraham Samad melukiskann penarikan 20 penyidik itu sebagai langkah menyedihkan.  Abraham mengapresiasi pernyataan Kapolri Jenderal Timur Pradopo yang akan mengganti penyidik. Namun, kata dia, penggantian itu tidak menyelesaikan masalah seperti membalikkan telapak tangan lantaran penyidik baru harus mulai dari awal lagi.

Entah sampai kapan kisruh ini bakal berakhir. Dibutuhkan pihak ketiga yang berwenang untuk mempertemukan kedua pimpinan institusi tersebut agar tetap fokus pada upaya penegakan hukum di negeri ini.

Pihak ketiga itu bisa DPR, bisa juga Presiden RI. Presiden memiliki kewenangan  untuk memberi perintah kepada Polri karena lembaga itu berada di bawahnya. Namun, sampai saat ini belum ada tindakan nyata dari kepala negara. Yang sudah jelas bagi masyarakat jika kisruh dua lembaga penegak hukum itu berlarut-larut maka penanganan kasus korupsi akan terbengkalai. Hal ini niscaya menampar wajah pemerintah sendiri yang sudah berkali-kali menegaskan tidak berkompromi dengan praktik korupsi.*

Sumber: Tribun Manado 20 September 2012 hal 10

Gerakan Sadar Api

ilustrasi
KECIL jadi sahabat, besar malah membunuh, menghancurkan harta benda. Begitulah kiasan tentang api. Dan, pada awal pekan ini musibah kebakaran kembali menghantui warga Kota Manado. Dua hari berturut-turut yaitu tanggal 3 dan 4 September 2012 musibah kebakaran rumah penduduk terjadi di Kelurahaan Maasing, Kecamatan Tuminting dan Kelurahan Teling Atas, Kecamatan Wanea.

Dalam sekejap sekitar 70-an jiwa kehilangan tempat tinggal. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah tetangga, keluarga, handai tolan bahkan harus menyewa rumah yang baru. Selain itu harta benda yang dikumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun menguap begitu saja. Praktis tinggal pakaian di badan atau sangat sedikit barang berharga yang dapat diselamatkan.

Sungguh tidak mengenakkan hati menjadi korban musibah kebakaran. Perasaan traumatik terhadap api akan lama membekas. Rasa bersalah bahkan dendam memerlukan waktu lama untuk memupuskannya. Dendam akan tertuju kepada mereka yang diduga memicu kobaran api.  Rasa bersalah membelenggu seseorang yang lalai. Misalnya kebakaran gara-gara dia  menyalakan lilin atau obat nyamuk tanpa kontrol sehingga api yang semula kecil menyambar material mudah terbakar lalu menghanguskan seisi rumah dan merambat ke rumah lain.

Tinggal di kawasan pemukiman yang padat -- sebagai salah satu ciri perkotaan di Indonesia -- membutuhkan kesadaraan kolektif tentang bahaya api. Toh kita boleh saja sangat hati-hati menggunakan api. Tetapi bila tetangga bertindak ceroboh kita juga akan menjadi korban manakala terjadi kebakaran dalam kawasan pemukiman.
Gerakan Sadar Api mestinya sebuah keniscayaaan. Tak kalah pentingnya dengan gerakan sadar penyakit serta gerakan sosial lainnya yang tujuannya demi kebaikan bersama seluruh warga.

Menurut pandangan kita Gerakan Sadar Api bisa dimulai dari dalam rumah tangga kita masing-masing. Setiap orang harus menyadari bahwa kelalaiannya akan menjadi bencana bagi dirinya sendiri serta orang lain. Oleh karena itu segala hal yang menjadi pemicu  kobaran api maha dashyat memerlukan pengamanan ekstra. Salah satu fokus utama tentunya dapur. Dapur merupakan sumber api kehidupan kita setiap hari yang hadir lewat tungku kayu bakar, kompor listrik atau gas elpiji.

Sumber lain yang tak kalah serius adalah jaringan listrik. Dalam banyak kasus kebakaran penyebabnya adalah hubungan arus pendek. Percikan api akibat hubungan arus pendek itu merambat dan menghanguskan segala sesuatu. Adalah kebiasaan buruk kita yang kurang peduli terhadap hal-hal semisal ini. Kita kerap memandang remeh. Belum menjadi kebiasaan masyarakat memeriksa jaringan listrik di dalam rumah, gedung  atau properti lainnya secara rutin dan segera membenahinya manakala ada yang tidak beres.

Kadang ada yang enteng berkata, kebakaran merupakan musibah dan musibah cukup sering di luar kemampuan manusia untuk mencegahnya. Pandangan fatalis ini harus dibendung karena manusia diberi kemampuan berpikir dan bertindak. Tak salah kalau Gerakan Sadar Api kita awali dari hal-hal kecil seperti disebutkan di atas. Mulailah merajut kesadaran itu dari dalam diri sendiri, dari rumah kita sendiri.*

Sumber: Tribun Manado  6 September 2012 hal 10

Festival Budaya Bantik 2012

Festival Budaya Bantik 2012 di Malalayang-Manado
Tak ada canda dan gurau tatkala mereka mendengarkan narasi. Narasi sejarah perjuangan Bote yang heroik demi kemerdekaan Indonesia.

SEKILAS perjuangan Bote, panggilan akrab Robert Wolter Monginsidi dibacakan dan hening pun menyapu seisi lapangan Bantik Malalayang Manado, Rabu (5/9/2012).

 Hari itu berlangsung penyelenggaraan Festival Seni Budaya Bantik 2012 dan peringatan gugurnya pahlawan nasional asal Bantik, Robert Wolter Monginsidi.

"Persetan dengan grasi," ucap Bote kepada jaksa penuntut. Jaksa pun berkata, "Ini baru pemuda sejati" demikian bunyi narasi yang dibacakan Grace Monginsidi, anak dari kakak tertua Bote. Menyusul narasi itu, sebuah narasi lain yang mengisahkan pesan terakhir Bote sebelum dieksekusi.

"Sebelum kematian saya berpesan, yang pertama adalah setia hingga akhir dalam keyakinan, kedua, saya ingin dikubur di Polombangkeng karena banyak kawan yang gugur di sana dan sampaikan salam saya kepada papa, saudara-saudara saya di Malalayang serta teman-teman seperjuangan. Saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang, tidak ada rasa takut dan gentar demi kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta," ujar Grace lagi.

Festival Budaya Bantik 2012 di Malalayang
Narasi ditutup dengan deskripsi tentang kematian itu. Tentang Bote yang tidak mau ditutup matanya, tentang ia yang mati muda dan menyalami serta mengampuni para penembaknya, lalu kisah tentang kertas bertulis "setia hingga akhir dalam keyakinan" yang ditemukan dalam Akitab.

Hening kian menjadi-jadi. Pemuda-pemudi Bantik yang duduk dan berdiri di sekeliling lapangan pun tertegun mendengarnya. Tidak ada canda maupun gurau mendengar narasi sejarah. Sebaliknya mereka memekikkan kata merdeka seusai narasi dibacakan.

Narasi belum hilang, Roy Marten yang hari itu jadi tamu kehormatan pun muncul di atas panggung. Aktor senior ini mengaku kagum dengan sosok Bote. Sampai- sampai, ia mau membintangi kembali film  Tapak-tapak kaki Wolter Mongisidi yang akan produksi ulang.

"Saya sangat kagum dengannya, ia mati muda dan keyakinannya teguh pada Tuhan dan negaranya," kata Roy Marten.

Wali Kota Manado, Vicky Lumentut dalam sambutannya sangat mengapresiasi hajatan ini. Dibanding tahun lalu, festival kali ini lebih meriah.

Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado berbaur dengan warga
"Ini lebih meriah dari tahun lalu," tuturnya. Perhatiannya pun tertuju pada bocah- bocah yang duduk di atas rumput lapangan.  Vicky pun meminta para bocah mendekat. "Merekalah penerus Bote," tuturnya.

Selain pembacaan narasi dan sambutan, para penonton pun dihibur berbagai tarian seni budaya Bantik yaitu Mahamba dan Usapa. Yang unik adalah Usapa tarian mirip Kabasaran yang biasa dimainkan pria, kali ini dimainkan wanita.

Keempat wanita dari bengkol ini beraksi layaknya mau perang. Pemimpinnya pegang tombak, sedang para prajurit pegang golok dan penangkis. Seperti dalam laga, mereka bertarung satu dengan yang lain.

Tuti Wariki mengatakan para wanita ini dilatih seminggu dan baru turun pertama kali. "Mereka baru dilatih," tuturnya. Dalam latihan, dilakukan ritual hingga saat beraksi raga kasar para wanita ini ditempati roh para leluhur. Selain pejuang wanita, tarian pun menampilkan anak-anak. Meski menggunakan pedang dari kayu, para bocah berlaku seperti orang dewasa yang berusapa.

Golok digosokkan ke leher, kaki bahkan lidah. Ari, pelatihnya menyatakan, tanpa pedang betulan, mereka hanya menggunakan nyali. "Jika orang dewasa, pakai pedang betulan mereka mengiris leher, tangan hingga lidah, tentu itu didahului ritual," katanya. Ngeri dilihat memang, tapi aksi ini punya makna yaitu semangat juang dari suku Bantik untuk membela NKRI.

Ketua Panitia Pelaksana, Merry Sidharta menyatakan, kegiatan itu digelar selama tiga hari dengan mempertandingkan berbagai lomba.  "Ada lomba Mahamba antar SD se-Kota Manado, Upasa antar 11 kampung Bantik, Mahamba Bantik dewasa serta untuk pertama kalinya digelar ajang Yudo dan Yuyu 2012," tuturnya. 

Harapannya, adanya kegiatan ini dapat meningkatkan penghayatan generasi muda terhadap sosok pahlawan asal Bantik, Robert Wolter Monginsidi. "Semoga sosok Wolter Monginsidi dapat menginspirasi generasi muda Bantik untuk memberi yang terbaik bagi bangsa," tuturnya.

Usai acara digelar tarian Mahamba secara massal. Wali Kota Manado, Vicky Lumentut, Wakil Wali Kota Harley Mangindaan, Dandim Manado Yudianto Putrajaya, Asisten I Pemprov Sulut, Mecky Onibala, serta aktor Roy Marten berbaur dengan warga dari 11 kampung Bantik yaitu Buha, Kalasey, Talawaan, Meras, Molas, Minanga, Bengkol, Bailang, Singkil, Tanamom dan Samoit.

Mereka membentuk barisan, mengelilingi lapangan hingga berkali-kali. Yang di belakang menaruh tangan pada bahu orang yang di depan. Tak peduli itu pejabat atau warga biasa. Melihat kebersamaan itu, Bote pasti senang di alam sana. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado 6 September 2012 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes