Namaku Maria



Maria Sharapova (ist)
SETELAH Gabriela Sabatini memutuskan pensiun medio 1990-an, dalam usia terbilang muda, wartawan dan penulis tenis dunia sempat lama kehilangan gairah memakai diksi jelita dalam reportase mereka.

Sampai suatu hari di pertengan tahun 2004, si pirang mungil dari Siberia ini sontak menarik atensi lewat gemulai ayunan raketnya, rambut ekor kuda, sungging senyum dan terutama kiprahnya yang mencengangkan!

Ya, tahun 2004, dalam usia akil balig, baru dua bulan mereguk indahnya momen sweet seventeen, si pirang menjuarai turnamen tenis tertua dan paling bergengsi di dunia.

Dia jawara tunggal putri turnamen Grand Slam Wimbledon edisi ke-118.

Jagat tenis terkesima. Penasaran sungguh lalu mencari tahu siapa gerangan gadis remaja dari negeri berselimut salju abadi itu?

“Namaku Maria. Maria Yuryevna Sharapova,” katanya malu-malu saat memperkenalkan diri.

Datang ke All England Lawn Tennis and Croquet Club di Wimbledon sebagai bukan siapa-siapa, di puncak pesta pada 3 Juli 2004, justru Maria Sharapova bintangnya.


Maria Sharapova menjadi pemenang ketiga termuda dalam sejarah Wimbledon.

Ia mengalahkan sejumlah nama besar yang sedang bersinar kala itu.

Di babak peremptfinal, Maria Sharapova menekuk petenis Jepang Ai Sugiyama dalam drama tiga set yang menegangkan.

Setelah kalah 5-7 pada gim pertama, Sharapova berbalik unggul 7-5, 6-1 untuk melaju ke semifinal.

Di sana telah menanti petenis putri nomor satu dunia saat itu, Lindsay Davenport dari Amerika Serikat (AS).

Prediksi dan analisis menyebut Davenport bakal menang mudah atas lawannya hingga terjadi final sesama putri AS. Davenport vs Serena Williams.

Dunia tak nyana laju si pirang berlanjut. Mirip kejadian melawan Sugiyama.

Sharapova tertinggal jauh 2-6 di gim pertama, menang tie break 7-6 dan menutup set ketiga dengan skor telak 6-1.

Pertanda kuat betapa Davenport kehilangan akal mengatasi ngototnya remaja dari Siberia yang justru belajar tenis sejak usia 7 tahun di Amerika Serikat.

Sihir Sharapova lagi-lagi memesona di babak final.

Bayangkan, dia menang begitu enteng atas jagoan Amerika Serikat, Serena Williams 6-1, 6-4 dalam laga tak genap 120 menit.

Sharapova juara Wimbledon 2004 sekaligus mengabadikan namanya sebagai
petenis Rusia pertama yang memenangi turnamen tersebut.

Dia membawa pulang trofi Venus Rosewater Dish.

Sharapova mengakhiri tahun 2004 dengan kemenangan pada turnamen penutup tahun, WTA Championships.

Di final dia kembali menundukkan Serena Williams (4-6, 6-2, 6-4).

Dari bulan Juni 2004 sampai dengan semifinal turnamen Wimbledon tahun 2005, Sharapova memenangi 22 pertandingan tanpa henti di lapangan rumput, termasuk menjuarai turnamen di Birmingham dan Wimbledon.

Dia pernah lama menduduki peringkat 1 WTA. Dunia pun menyapanya ratu tenis.

Setelah juara Grand Slam pertamanya di Wimbledon 2004, Sharapova menambah koleksi prestasi dengan menjuarai US Open (2006), Australia Open (2008) dan dua kali French Open (2012 dan 2014).

Sharapova, sepanjang kariernya, telah memenangi lima gelar Grand Slam.

Meski lama berdomisili di Amerika Serikat, Sharapova tetap memegang paspor Rusia, negara yang sangat dia cintai.

Sejak Usia 4 Tahun

Maria Yuryevna Sharapova lahir di Nyagan, Khanty-Mansi Siberia, Rusia, tanggal 19 April 1987.

Raket tenis pertama dia dapat dari ayahnya, Yuri Sharapova pada usia 4 tahun. Masih anak PAUD kalau di Indonesia.

Dia berlatih secara otodidak sebelum mengikuti latihan rutin di bawah asuhan Yuri Yutkin.

Pelatih veteran asal Rusia ini merupakan orang pertama yang menemukan bakat natur Sharapova.

Menurut Yutkin, Sharapova memiliki talenta unik berupa koordinasi tangan dan mata yang luar biasa.

Umur 7 tahun, Sharapova dibawa ke AS oleh ayahnya untuk belajar tenis di Akademi Tenis Nick Bollettieri di Bradenton, Florida.

Pelatihan sejak usia dini merupakan kunci suksesnya meraih prestasi terbaik saat usia baru 17 tahun.

Maria Sharapova berlatih secara profesional sejak tahun 1993.

Ketika berumur 11 tahun, Sharapova telah mendapat kontrak dari produsen apparel ternama, Nike.

Bagi penggemar tenis lapangan, Sharapova tak hanya mencuri perhatian lewat penampilannya yang aduhai.

Dia selalu dikenang penonton akan dengkurannya saat memukul bola.

Dengkuran seksi, komentar seorang jurnalis Spanyol.

Saat berlaga di turnamen Wimbledon 2005 tingkat kebisingan dengkuran Maria Sharapova tercatat mencapai 101.2 db. Wow! Lumayan bising namun penonton Wimbledon sangat menyukainya.

Lenguhan seksi itu hanya milik Sharapova.

Jangan tanya soal penampilan. Di antara sederet petenis jelita, Sharapova tergolong modis.

Pada turnamen Grand Slam US Open 2006, misalnya, Sharapova tampil dengan kostum hitam ketat mirip gaun malam untuk pesta.

Terinspirasi dari artis Audrey Hepburn, kostum Sharapova itu berhiaskan kemulai kristal di bagian kerahnya.

Banyak yang suka namun Nike tidak memproduksinya secara massal. Rupanya spesial buat gadis Siberia.

Di luar lapangan tenis, banyak aktivitas publik yang dilakoni Sharapova.

Sejak tahun 2007, Maria Sharapova ditunjuk sebagai duta Program Pengembangan PBB untuk bidang pemulihan Chernobyl.

Masyarakat internasional akan selalu ingat bahwa pada tahun 1986, daerah ini mengalami musibah bocornya reaktor nuklir.

Ribuan orang kehilangan nyawa dan ratusan ribu lainnya mengungsi.

Radiasi radioaktif menyebabkan banyak anak lahir cacat dan sebagian penduduk menderita kanker.

Kedua orangtua Sharapova awalnya tinggal Gomel, cuma selemparan batu dari Chernobyl.

Waswas akan penyebaran radiasi radioaktif, pasangan suami istri asal Belarusia itu memilih hijrah sebelum Sharapova lahir.

Sebagai duta Program Pengembangan PBB untuk bidang pemulihan Chernobyl, Sharapova berhasil menjalankan misinya.

Penggemar permen tentu pernah mendengar Sugarpova bahkan sudah mencicipinya.

Ya, Sharapova bersama koleganya Jeff Rubin, memproduksi permen Sugarpova.

Popularitas Maria Sharapova linear pendapatannya.

Majalah Forbes menyebut Sharapova sebagai atlet wanita berpenghasilan tertinggi selama 11 tahun berturut-turut.

Kekayaan Shaporva sebagian besar berasal dari kontrak dengan sponsor seperti Nike, Head, Porsche dan Evian and Avon.

Sharapova memang dikenal sebagai atlet dengan pesona paling “menjual” di dunia.

Titik Terendah

Namun, hidup tak selamanya manis. Pasang surut mewarnai perjalanan karier Sharapova.

Selain prestasi menakjubkan, petenis semampai yang mengandalkan backhand dua tangan ini juga mengalami titik terendah dalam kariernya.

Pada tahun 2016, Maria Sharapova, tersandung kasus doping menjelang
turnamen Australia Open.

Sharapova divonis positif mengonsumsi melodium, zat yang telah dilarang Badan Anti-Doping Dunia (Wada) pada 1 Januari 2016.

Mantan kekasih vokalis Maroon 5, Adam Levine itu tak berkelit.

Dia mengakui perbuatannya dalam jumpa pers di Los Angeles, Amerika
Serikat, Senin (7/3/2016).

Dia menyesal telah membuat penggemarnya kecewa.

"Saya membuat kesalahan besar. Saya membiarkan fans dan tenis kecewa," katanya saat itu seperti dilansir Upi.com.

Pengakuan Sharapova mengejutkan dunia tenis.

Apalagi kurang lebih 10 tahun dia mengonsumsi melodium secara legal.

Menurut dia, zat terlarang tersebut dikonsumsi untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti flu dan diabetes yang merupakan penyakit keturunan keluarganya.

Akibat doping itu Maria Sharapova terkena hukuman larangan bermain selama 15 bulan.

Setelah menuntaskan masa hukuman, Sharapova sulit kembali ke performa terbaik.

Peringkatnya terus merosot hingga berada di ranking 373 dunia.

Cedera menambah deritanya. Penampilan terakhir Sharapova di turnamen resmi adalah Wimbledon 2019. Namun, dia mundur di babak pertama.

Menghadapi Pauline Parmentier, petenis asal Rusia itu menarik diri saat tertinggal 6-4, 6-7(4), 0-5. Sharapova menyebut cedera pada lengan kiri sebagai penyebabnya.

"Saya punya riwayat cedera tendon di lengan kiri dan itu terasa lagi di set pertama. Ini tidak mudah. Saya menempatkan diri di posisi yang cukup bagus untuk jadi bagian dari turnamen ini dan ini (mundur) bukan yang saya inginkan," kata Sharapova seperti dikutip Reuters.

Apa hendak dikata. Sehebat apapun manusia selalu mengenal batas.

Jangan paksa tubuh ketika dia minta rehat.

Hari Rabu tanggal 26 Februari 2020, Maria Sharapova mengucapkan sayonara untuk tenis
lapangan yang telah melambungkan namanya.

Setelah malang melintang selama tiga dekade, Sharapova menggantungkan raket selamanya.

Ah mengapa terasa begitu lekas?

Merinding baca kata-kata perpisahannya yang menggetarkan hati di laman Vanity Fair.

"Bagaimana Anda meninggalkan satu-satunya kehidupan yang Anda kenal? Bagaimana Anda meninggalkan permainan yang Anda cintai yang membuat tangis bahagia," tulis Sharapova.

"Bagaimana Anda meninggalkan olahraga di mana Anda menemukan keluarga, bersama dengan penggemar yang mendukung Anda selama lebih dari 28 tahun?"

"Saya baru saja melakukan ini, jadi tolong maafkan saya. Saya mengucapkan selamat tinggal untuk dunia tenis," kata Sharapova seperti dikutip Kompas.Com.

Sejumlah fansnya di Rusia dan Amerika menitikkan air mata.

Mereka takkan melihat lagi Maria beraksi di level kompetitif tenis dunia.

Sharapova pensiun dalam usia 32 tahun, sesungguhnya belum uzur buat seorang atlet tenis lapangan.

Bandingkan misalnya dengan raja tenis dari Serbia, Novak Djokovic (35) yang masih menempati peringkat nomor satu dunia di awal 2020.

Ada yang bilang menonton tenis lapangan itu membosankan.

Durasinya kadang berjam-jam. Pukulan bola ya bolak-balik begitu saja.

Beda amat ketimbang renang dan voli yang sensual, basket yang atraktif, gairah badminton apalagi hipnotis sepak bola.

Namun, kehadiran petenis jelita seperti Maria Sharapova memupus kejenuhan itu.

Menikmati tenis pada akhirnya tidak cukup andalkan logika.

Legokan rasa maka dikau akan terpukau olehnya. Jatuh hati. Selamanya.

Pada rambut ekor kudanya, dengkuran, senyum serta lirikan matanya, Maria Sharapova menghadirkan pesona.

Mereka yang jelita dan rupawan akan selalu datang dan pergi di jagat tenis dunia.

Seturut zaman bergulir.

Seiring detak waktu berlalu.

Tapi kenangan akan dikau abadi dan spesial di hati para pemujamu.

Tenis sungguh beruntung pernah memilikimu.

Terima kasih Maria. Maria Yuryevna Sharapova! (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Kearifan dari Susur Sungai



ilustrasi
SAYA selalu bersyukur sampai kapan pun karena menghabiskan masa kecil yang indah di bibir dua sungai, Lowo Ria dan Lowo Tulu.

Tentu nama itu senyap bagi sebagian orang termasuk mereka yang mendiami wilayah Kabupaten Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dua sungai cilik itu mengapit Kampung Mulawatu, desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende.

Watuneso adalah ibu kota kecamatan Lio Timur sehingga teman sekampungku kerap bangga menyebut diri sebagai anak Wanes--akronim Watuneso.

Lowo Ria merupakan induk sungai yang mempertemukan tirta dari sejumlah anak sungai termasuk Lowo Tulu.



Daerah Aliran Sungai (DAS) ini membentang kira-kira 16 kilometer dari pegunungan Ndura Nenda sampai pantai selatan Pulau Flores.

Airnya menghidupi mereka yang menghuni Kampung Wolonio, Mulawatu, Detuweru, Deturau, Aemalu, Watureajawa, Alo, Ngebondana, Puujita, Watuneso, Kolijana hingga Ase.

Lowo Ria dan Lowo Tulu menjadikan Kampung Mulawatu elok nian berhiaskan kelokan sungai yang mengalir sampai jauh hingga bermuara di Lia Tola, pantai selatan Flores yang ombaknya doyan bergemuruh riuh.

Letak muara Lowo Ria hanya selemparan batu dari Pantai Koka yang tersohor itu.

Hidup dalam lingkungan sungai membuat masa bocahku karib dengan hal yang boleh dan tidak boleh.

Sungai memiliki kearifan tersendiri, kata ayahku.

Ada seperangkat nilai yang mesti dijunjung agar sungai sungguh menjadi tirta amarta (air kehidupan) bukan sumber malapetaka.

Ayahku Thomas Bata (1933-2002) dan Ibuku Theresia Masi (1943-2011) merupakan dua tokoh utama yang sejak dini menanamkan nilai hakiki kepada kami anak-anaknya berenam mengenai seni hidup berdamai dengan sungai.

Sungai rawit sekalipun tak boleh dipandang remeh dan mendapat perlakuan semena-mena.

Musim hujan selalu kami rindukan ketika terik kemarau kelewat lama membakar bumi Nusa Nipa – nama manis Flores.

Tapi serentak pula musim itu meningkatkan sinyal kewaspadaan mengingat sisi ancamannya.

Orangtua kami acapkali mengingatkan bahaya sungai saat musim hujan tiba.

Sekalipun langit tampak cerah, tataplah dulu ke pegunungan Ndura.

Kalau wajah gunung yang empunya sumber mata air itu murung, maka jauhilah sungai.

Jangan bermain di sana apalagi nekat susur sungai seperti siswa-siswi SMP Negeri 1 Turi, Sleman Yogyakarta karena sesewaktu bisa tersapu banjir yang tiba-tiba datang lantaran hujan di hulu.

Musim hujan bukan saat yang tepat bagi anak-anak bersukaria sesukanya di bibir sungai.

Kalau hendak ke sungai, misalnya untuk memancing belut, cuci pakaian atau mandi, mesti ditemani orang dewasa atau orang tua agar anak-anak tidak takabur.

Pesan ayah ibu serta orang tua di kampung kami merujuk pada pengalaman pahit. Lowo Ria sudah menelan korban jiwa tak sedikit di masa lalu.

Leluhur kami cerdas dan bijak. Agar penerusnya selalu mengenang peristiwa kelam itu, mereka abadikan nama korban pada tempat kejadian.

Maka di sepanjang aliran Sungai Lowo Ria ada nama Tiwu Sana, Tiwu Bela, Tiwu Molu Ola, Tiwu Molu Suka dan nama-nama lainnya.

Tiwu Sana artinya kolam tempat Sana dari nama Susana yang meninggal dunia terseret sungai Lowo Ria. Tiwu Bela berarti kolam tempat Bela meninggal dunia.

Demikian pula Tiwu Molu Ola dan seterusnya.

Sampai detik ini selalu tertanam kuat di benak anak-anak Mulawatu dan kampung sekitarnya di daerah Wanes bahwa di tempat itu pernah jatuh korban jiwa sehingga mereka selalu awas, mengingat baik apa yang boleh dan tidak boleh saat berada di sungai.

Sejujurnya ini merupakan pengetahuan dasar agar kami hidup aman di sepanjang aliran sungai.

Bahasa kerennya mitigasi kebencanaan sungai.

Cara klasik tradisional tapi pesannya masuk ke otak dan hati lalu menjadi aksi konkret.

Itulah sebabnya kami yang berasal dari Wanes dan tentu siapapun yang hidup di bibir sungai umumnya lebih waspada terhadap kemungkinan musibah terseret atau tenggelam di sungai.

Kakakku nomor dua, Heri Bata, kini guru SMAK Syuradikara Ende, punya modal mitigasi apik saat mengabdi lebih dari lima tahun sebagai guru di sebuah kecamatan di pinggir Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Rupa-rupa Cara

Rupa-rupa cara orangtua di kampung kami mewariskan kearifan tentang sungai.

Mandi pun ada tata kramanya. Cara, waktu dan tempat harus tepat. Tidak boleh serampangan.

Tempat mandi terbaik di sungai adalah kolam, sebuah ceruk air yang tenang.

Bukan jeram! Anak-anak lazimnya tergoda untuk langsung cebur ke dalam kolam. Itu sangat tidak dianjurkan karena bisa kram kaki, tak sanggup berenang lalu tenggelam.

Sudah banyak kejadian demikian.

Orangtua mengajarkan kami, basahkan tubuhmu pelan-pelan mulai dari kaki, paha, pinggang, bagian perut dan selanjutnya hingga kepala.

Artinya ada proses penyesuaian suhu badan dengan air.

Setelah sekujur tubuh aman silakan berenang sepuas hati menikmati bening dan segarnya
kolam sungai.

Mandi siang bolong itu pemali. Orangtua di kampung kami acap menakut-nakuti anak dengan mengatakan kuntilanak suka jalan-jalan di sungai pada siang bolong.

Pesan moralnya adalah mandi di sungai mesti tepat waktu.

Saat terbaik pagi atau sore hari. Mandi tengah hari tak cukup baik bagi kesehatan.

Ratusan anak terkasih di Sleman diminta pembina Pramuka susur sungai
siang bolong, musim hujan pula. Air bah datang, sepuluh anak meninggal dunia.

Tidak adakah kearifan lokal di sana? Saya kok yakin ada, hanya si pembina abai dan remeh memandangnya. Kecerobohan yang mengalirkan air mata lara.

Arung sungai saat musim hujan butuh trik tersendiri. Waktu kecil saya kerap diajak sang ayah bepergian.

Ayahku, guru SD di kampung Wolonio, piawai dan hobi menunggang kuda. Kalau ada urusan di Watuneso, dia akan berkuda sejauh kurang lebih 16 km pergi pulang.

Kala itu belum ada jalan raya beraspal mulus. Kendaraan roda dua pun tergolong barang mewah.

Perjalanan dari Mulawatu ke Watuneso menyusur pinggir sungai Lowo Ria.

Empat sampai lima kali harus menyeberang kali yang sama. Salah satu titik paling menantang saat banjir adalah lokasi bernama Welalako.

Nah, saat melewati tempat itu ayahku akan mengetes dulu seberapa besar kekuatan arus air.

Dia akan perintahkan kuda putihnya masuk lebih dulu ke sungai sendirian.

Kalau si Putih tidak goyah langkah kakinya, itu pertanda arus sungai relatif aman diarungi.

Jika sebaliknya yang ditandai pula oleh ringkik nyaring si Putih, maka harus sabar menanti sampai banjir surut.

Cukup sering kami bermalam di kampung tetangga karena tidak bisa menyeberang ke Mulawatu saat itu juga.

Sungai butuh perlakuan adil. Keseimbangan ekosistemnya mesti terjaga agar dia terus memberi manfaat bagi manusia.

Tetua adat di kampung kami membatasi eksploitasi sumber daya sungai.

Tidak boleh potong pohon di dekat sumber mata air. Bahkan mencari udang, belut, ikan dan kepiting tidak sembarangan waktu.

Harus puasa 3-6 bulan baru boleh mencari lagi di lokasi yang sama.

Tetua kampung mengawal sungguh larangan itu. Yang melanggar dapat sanksi adat.

Mereka menyadari eksploitasi sungai sepanjang waktu akan melahirkan bencana.

Beri sungai waktu untuk pemulihan, menarik napas sejenak sehingga tercipta keseimbangan lagi.

Sungai mengajarkan manusia agar tidak serakah.

Hari-hari ini perlakuan kita terhadap sungai kejam nian. Sungai menampung sampah, limbah industri, kotoran hewan dan manusia. Sungai jadi tempat buangan orok hasil cinta semalam.

Kalau sekarang banjir di mana-mana, jangan salahkan siapa-siapa. Siapa suruh dikau berlaku curang terhadap sungaimu.

Natur alur sungai terawat akan selalu bergemuruh mengalun indah. Gemiriciknya menarik rindu, memendam romansa nostalgia.

Dawai bunyi batunya yang saling berbenturan syahdu di telinga.

Sungai mendambakan cinta kita.  (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Menunggangi Ombak


ilustrasi
MANTAN pimpinanku yang sudah belasan tahun pensiun, wartawan senior dari media terkemuka mengungkapkan kegundahannya ihwal kerja jurnalis masa kini.

Dia biasanya jarang berceloteh di akun medsos.

Namun, ketika perbarui statusnya beberapa hari lalu, sentilannya memancing perhatian mata.

“Saya dididik selalu berpikir positif. Namun sehari-hari melihat dan mendengar para pembawa acara TV selalu bekerja dengan pendekatan negatif. Padahal pikiran kita itu seperti tanah, jika ditanami jagung tumbuh jagung, tanam kedele tumbuh kedele. Jika pikiran kita "ditanami" hal-hal negatif, bukankah yang akan muncul perbuatan negatif, hal-hal yang tidak baik? Jurnalis kita lebih pentingkan judul daripada inti masalah bahkan sering tidak mau mendengarkan jawaban narasumber demi menggiring opininya sendiri. Apa itu yang juga diberikan kepada mahasiswa jurnalistik sekarang? Wah ambyar tenan!”

Lain lagi gerutuan pengamat media. Masih kerabatku juga.

“Seolah kecepatan adalah segalanya. Mayoritas portal berita online semata mengandalkan sumber dari medsos. Apa saja informasi yang berkeliaran di medsos langsung diolah sebagai bahan berita. Mereka mengabaikan prinsip cover both side apalagi cover all sides”.

Seniorku yang doyan mengikuti perkembangan bahasa Indonesia gemas.

Wartawan dan editor ‘zaman now’ rupanya gagal paham mengenai penggunaan kata “usai dan “seusai”. Salah kaprah ”usai tak kunjung usai” sudah berlangsung terstruktur, sistematis dan masif. Hahaha..

Komentar berikut tak kalah menohok.

“Mohon maaf, mulai hari ini saya berhenti berlangganan media Anda. Saya juga tidak akan akses lagi versi digital mediamu ketika saya tahu berita kalian 80 persen click bait. Isinya sampah. Maaf!”

Beberapa kutipan di atas sekadar contoh kegelisahan orang tentang konten media dewasa ini.

Para jurnalis, wartawan, editor tidak lagi menulis elok pada garis-garis bengkok demi benefit bagi publik.

Mereka justru menulis bengkok hingga melahirkan antipati bahkan benci.

Kenyataan ini tentu mengiris hati di tengah gemerlapnya perkembangan media era digital.

Memang tak sedikit wartawan profesional di ini negeri. Mereka bekerja dengan kesungguhan hati.

Karyanya jadi referensi. Mereka jurnalis yang bisa dipercaya karena berintegritas tinggi.

Akan tetapi masih banyak pula yang abai terhadap prinsip dasar kerja kewartawanan sehingga menghasilkan produk jurnalistik tak bermutu.

Pihak yang rugi adalah publik lantaran tidak mendapatkan pencerahan untuk memahami permasalahan sesungguhnya.

Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama kerap berpesan bahwa wartawan atau jurnalis hendaknya tidak pasif saat menangani berita.

Dia mesti proaktif sehingga piawai mengemas isi berita yang dapat memberi benefit sebesar besarnya bagi banyak orang.

Dalam bahasa Pak Jakob, wartawan itu harus menunggangi ombak (riding the wave) bukan diombang-ambingkan ombak atau malah ditenggelamkan ombak yang ganas.

Wartawan senior Kompas, Ninok Leksono menjabarkan sangat indah spirit riding the wave atau in full command of the news tersebut.

Menurut Ninok dalam bukunya, Yuk Simak Pak Jakob Berujar (Penerbit Kompas 2016), menunggangi ombak meniscayakan wartawan memiliki sejumlah persyaratan yang dibutuhkan.

Ia harus tekun, terus belajar agar memiliki pengetahuan dan punya semangat juang untuk menggeluti permasalahan.

Riding the wave menganjurkan jurnalis membekali diri dengan pemahaman atas duduk perkara suatu masalah, punya tekad kuat mengikuti perkembangan permasalahan dan punya insting untuk melihat biang masalah tersebut akan berujung.

Dengan mengusung spirit riding the wave, wartawan akan punya konteks atas permasalahan yang diliputnya, membawa hasil liputannya di posisi terdepan selain komprehensif dan mendalam.

Dengan spirit ini juga media tempat jurnalis bekerja akan dipercaya dan dikagumi.

Di era ketika persaingan antarmedia semakin ketat, terutama setelah menanjaknya media digital, kualitas konten merupakan kunci sukses.

Kelengkapan berita yang kaya serta luasnya perspektif wartawan menjadi faktor kompetitif.

Akan tetapi problem besar sebagian jurnalis hari ini antara lain sikap kerja seadanya di tengah banjir bandang informasi.

Mereka enggan berusaha memverifikasi data dan fakta sehingga informasi yang masih sumir pun terpublikasikan.

Akibatnya bukan kabar baik yang tersaji tapi malah fake news atau kabar bohong yang meresahkan khalayak.

Kecepatan seolah hantu.

Jurnalis cenderung menyajikan informasi sekadarnya di era digital yang mensyaratkan kegesitan.

Kedalaman dan kelengkapan terpinggirkan.

Yang penting jadi portal berita pertama yang mewartakan agar bisa menjaring kunjungan sebanyak-banyaknya.

Celakanya lagi ada yang senang click bait atau umpan klik.

Umpan klik merupakan suatu istilah peyoratif merujuk kepada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring sambil mengorbankan kualitas atau akurasi informasi.

Caranya bikin judul bombastis, sensasional.

Jauh panggang dari api. Judul lain isinya lain. Tujuannya semata demi klik. Judul dibikin sedemikian rupa untuk menarik perhatian orang.

Jualan paling laris biasanya masalah seks, kasus kriminal dan kadang menyerempet isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Golongan).

Sejak dulu para guru jurnalistik acap mengingatkan bahwa peristiwa itu hanyalah kapstok alias gantungan baju. Ya sebagai gantungan saja.

Itu berarti jurnalis tidak hanya puas dengan apa yang dia liput, dia dengar, lihat dari sebuah kejadian atau peristiwa.

Jadikan peristiwa sebagai kapstok berarti seorang wartawan hendaknya membuat liputan lengkap dan komprehensif. Menjaga kedalamannya.

Bagaimana mungkin dapat menghasilkan liputan komprehensif bila cara kerja sebagian jurnalis masih seperti gambaran dalam contoh berikut ini.

Senangnya berkumpul di ruangan humas saja, press room atau apalah namanya.

Rajin menunggu keterangan polisi, pejabat humas atau juru bicara suatu instansi atau menanti penuh harap untaian kata press release.

Sumber-sumber itu dipandang cukup. Atas nama setia kawan, siapa paling lekas merajut berita mesti berbagi lekas pula kepada kawan-kawan.

Jadilah angle dan isi berita nyaris sama dan sebangun.

Hanya beda tipis di judul, kata pembuka atau paragraf pertama.

Kemudahan teknologi hari ini ikut menyuburkan praktik copy paste berita.

Reporter cloning. Dia tidak perlu repot menyusun kata dan kalimat sendiri.

Maka sebagian wartawan belakangan ini tak ubahnya juru bicara polisi, jaksa, pengacara atau pejabat pemerintah.

Wartawan rilis. Titik.

Tak tergerak otak dan hatinya untuk menjadikan rilis itu sekadar informasi awal.

Dia mestinya lebih rajin turun ke lapangan, bertemu semua pihak terkait dengan peristiwa, pelaku, korban, keluarga, kolega dan jaringannya. Mencari juga referensi terkait.

Dengan menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi niscaya karya jurnalistiknya akan kaya perspektif.

Laksana pelaut, jurnalis yang baik itu harus menunggangi ombak, bukan mengkhayal mengayuh perahu dari daratan.

Dia mesti berada di tengah badai untuk mengecapi betapa indahnya pelangi permasalahan sosial.

Tatkala menggali dan mengumpulkan bahan berita atau tulisan, tak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki dan tak ada jurang yang terlalu dalam untuk dituruni seorang jurnalis.

Idealnya begitu. Berat? Ya pastilah.

Tapi bukan tidak mungkin dikerjakan kalau tuan dan puan mau menjadi jurnalis atau penulis yang baik. Profesional!

Dalam simakrama (silaturahmi) dengan para jurnalis belum lama berselang, seorang CEO grup media di Jakarta memberi wejangan meneguhkan.

“Ketika kamu menulis dengan baik, maka pertama-tama itu adalah modal pribadimu bukan lembaga tempatmu mencari nafkah. Kamu bisa pindah tempat kerja atau medan pengabdian kapan saja. Tapi kecakapan menulis merupakan modal hidupmu sehingga akan lebih mudah diterima di manapun. Ada kiasan, jadilah koin karena serendah apapun nilainya tetap dilirik atau dipungut orang. Jangan puntung rokok yang akan diremas lalu dimasukkan ke kotak sampah.”

Begitulah. Profesi jurnalis mensyaratkan sikap ikhtiar, terus mengasah kemampuan menulis hari demi hari.

Dari purnama ke purnama. Tak boleh berhenti selama hayat masih dikandung badan.

Rumitnya itu antara lain ada di sini.

Efa reformasi yang diwarnai deregulasi total di bidang penerbitan pers dan media massa tak otomatis menghadirkan pers berwajah baik.

Reformasi memudahkan siapapun mendirikan media. Apalagi media baru (digital) jauh lebih gampang caranya.

Cukup bermodalkan sekian juta rupiah sudah bisa bikin domain website news lalu unggah berita, foto dan video dan sebagainya.

Data Dewan Pers (2019) menyebutkan, jumlah media online di Indonesia kurang lebih 47.000.

Dari jumlah tersebut yang sudah terverifikasi Dewan Pers kurang dari 3.000.

Terbayangkan berapa banyak media digital yang hadir begitu saja memberikan informasi bagi masyarakat luas.

Si A yang kemarin bekerja sebagai kontraktor bangunan, misalnya, sontak alih profesi sebagai jurnalis karena sudah mendirikan media sendiri.

Kemudahan menjadi jurnalis meminggirkan pentingnya pendidikan dan pelatihan.

Proses rekruitmen seperlunya saja. Calon jurnalis tidak sungguh-sungguh dilatih sebelum terjun ke lapangan menggali bahan berita dan melaporkannya.

Asal paham sedikit unsur 5 W + 1 H dan bisa merangkai kata sudah boleh membuat berita.

Tidak penting amat apakah dia membuat kalimat sesuai kaidah bahasa Indonesia agar pesan tersampaikan secara jelas dan benar.

Bermodalkan kartu identintas dari medianya, si jurnalis bangga berkeliling ke mana-mana, menemui narasumber, memperkenalkan diri sebagai wartawan.

Giliran menulis, kata dan kalimat berlepotan, melepoti logika dan rasa.

Dan, dia berlagak tanpa beban. Tak merasa khilaf apalagi salah.

Jangan tanya lagi apakah dia mengerti secuil pesan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tentang sembilan elemen jurnalisme dan implementasinya.

Pada akhirnya memilih profesi jurnalis itu memang berat, seberat bisnis media di era generasi tik-tok ini yang membuat banyak orang tunggang-langgang.

Senjakala media cetak bukan isapan jempol belaka.

Jalan terjal menganga di depan sana akibat perangai disrupsi yang beringas dan tak terprediksikan.

Karena berat maka diperlukan usaha luar biasa lewat seperangkat daya kreasi dan inovasi.

Tak mungkin cuma setengah hati mengingat model bisnis media baru berubah lekas amat.

Life without problems is not a real life.

Hidup tanpa masalah bukanlah kehidupan yang nyata, kata kaum bijak bestari.

Memilih profesi jurnalis bukan tanpa masalah. Bisnis media bukan tanpa soal. Problem malah datang silih berganti, tumpang tindih selama kita masih bertemu matahari.

Demikianlah. Menjadi jurnalis kiranya tak semata merajut formula klasik 5 W tambah 1 H.

Jurnalis akan bergumul selalu dengan news value, bertengkar dan mencumbui realitas.

Dalam tugasnya bertengkar dan berdiskusi tentang realitas itu, wartawan sampai kapan pun mesti menjaga kredibilitas dan integritasnya.

Tentu butuh ikhtiar tanpa akhir serta pengorbanan.

Hanya dengan itu, seorang jurnalis tetap cerdas dan bijak menjahit fakta sosial dalam nada dan langgam yang indah, dalam cara rupawan elegan.

Mencubit tanpa meninggalkan sakit hati. Keras menghela tanpa melukai, mencandai dinamika hidup masyarakat tanpa hujat mempermalukan.

Menulis untuk dipahami secara benar oleh semua orang dari anak milenial hingga opa dan oma.

Pembaca, pemirsa atau pendengar tidak hanya boleh melibatkan pikiran tetapi juga melegokan perasaan.

Silakan masuk ke lokus logika, mengendap ke dasar palung rasa, dari testa turun ke hati.

Dengan begitulah seorang jurnalis akan dikenang dalam karir panjang dan terhormat.

Inilah sekeping otokritik dan refleksiku menjelang peringatan hari pers 9 Februari 2020.

Pasti tidak sepenuhnya benar, malah banyak keliru dan kurang. Mohon maaf.

Saya hanya ingin mengajak rekan seprofesi untuk sejenak menghampiri jendela, menatap gerimis, mengusap senja, mereken seberapa tangguh kita akan bertahan.

Biarkan diri terpana memandang cakrawala. Di kaki langit dan daratan yang jengang itu selalu ada asa.

Selamat Hari Pers Nasional. Dirgahayu. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Jerit Perih Peternak Babi di Bali


ilustrasi
BABI itu hewan kaya lemak berhidung besar yang rakus makan dan jarang diam.

Apalagi kalau perutnya belum terisi, maka seisi kampung pun bisa mendengar ‘gerutuannya’ yang khas. Riuh rendah.

Sejak penghujung 2019 hingga jelang purnama kedua 2020, riuhnya kisah babi tak kunjung usai di Bali.

Malah makin lantang mencabik langit Pulau Dewata lantaran kematian babi secara mendadak kian kencang saja.

Januari 2020 berakhir dengan catatan miris. Peternak di Sarbagita: Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan tunggang-langgang menelan pil pahit. Mereka tak mendengar lagi riuhnya suara babi yang mengisi keseharian.

Jumlah babi yang mati bikin merinding. Seuntai kabar buruk menjelang Hari Raya Galungan yang mestinya membuat peternak tersenyum.

Laporan jurnalis Tribun Bali sejak bulan Desember 2019 -- mengutip pernyataan pejabat berwenang setiap kabupaten dan kota sebagai berikut.

Kota Denpasar 54 ekor, Kabupaten Badung 564 ekor, Gianyar 36 ekor dan Tabanan 527 ekor (sampai 31 Januari 2020). Nah kalau ditotalkan 1.181 ekor.

Jumlah sebanyak itu mati mendadak dalam rentang waktu sebulan lebih. Ngeri!

Data terbaru Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, per 31 Januari 2020 jumlah babi mati di Bali mencapai 888 ekor.

Dari jumlah tersebut mayoritas kematian berada di kawasan Sarbagita.

Angka kematian tertinggi terjadi di Kabupaten Badung yaitu 598 ekor dan Kabupaten Tabanan berjumlah 219 ekor.

Selanjutnya di Kota Denpasar 45 ekor dan Kabupaten Gianyar 24 ekor.

Kabupaten Bangli dan Kabupaten Karangasem masing-masing satu ekor.

Perbedaan data kematian bukan masalah yang terlampau gawat.

Perkara ini menarik atensi justru karena fakta bahwa korban babi masih terus berjatuhan.

Makin ke sini angkanya melejit dengan cakupan wilayah epidemi kian luas.

Awal di Denpasar lalu menjalar ke Badung. Tak lama merambah Tabanan dan Gianyar.

Karangasem dan Bali di timur Bali pun mulai kena.

Mungkin tak lama lagi akan terdengar jeritan peternak babi dari Klungkung, Buleleng di utara dan Jembrana di jantung lalu lintas super sibuk Bali Jawa.

Kematian babi hari demi hari mengalirkan lara. Menurut  pengakuan sejumlah peternak, babi yang montok, sehat dan rakus tiba-tiba murung, mencret dan kehilangan nafsu makan.

Tak berselang lama ternak andalan sebagian besar petani di Bali itu meregang nyawa lalu mati. Tak terdengar lagi suaranya yang gaduh.

Dari sumber protein bernilai ekonomis tinggi, babi mendadak berubah jadi bangkai.

Celakanya lagi sejumlah orang tega membuang bangkainya ke sungai atau tebing. Duh!

Dampaknya perih mengiris. Bagai tersayat sembilu. Banyaknya babi yang mati di beberapa kabupaten membuat harga daging babi di Bali merosot tajam. Hampir 50 persen.

Umumnya peternak babi buru-buru menjual babi dengan harga murah.

Mereka berpandangan lebih baik jadi duit ketimbang ternak yang dipelihara dengan biaya tak secuil itu mati sia-sia.

Psikologi massa jauh lebih pelik. Kematian babi sungguh menebar cemas dan kepanikan.

Hari-hari ini masyarakat takut konsumsi daging babi sehingga penjualan di pasar menurun tajam.

Meski pakar kesehatan bersabda virus yang menyerang hewan ungulata asli Eurasia ini tidak menular pada manusia, tapi tetap saja orang mengerem niat konsumsi si omnivora tersebut.

Lagi-lagi peternak yang terpukul. Kematian babi, nama ilmiahnya sus dari familia suidae dan ordo artiodactyla, menimbulkan kerugian tidak sedikit.

Ambil misal seekor babi harganya Rp 2,5 juta (taksiran harga terendah) - maka kerugian peternak di Bali akibat kematian ribuan ekor babi itu bisa lebih dari Rp 2,5 miliar.

Bukan angka ecek-ecek. Bayangkan kalau kelipatannya mengingat harga babi lazimnya bervariasi sesuai umur dan bobot tubuh.

Harga tertinggi bisa Rp 9 hingga 10 juta per ekor. Bahkan lebih.

Harga babi di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, misalnya, tembus belasan juta rupiah atau mirip harga sapi tambun.

Memang, menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, populasi ternak babi di Bali sekitar 700 ribu ekor.

Jumlah kematian ribuan ekor itu tentu baru sepersekian persen dari total populasi.

Banyak yang bilang masyarakat tak perlu khawatir. Toh stok babi masih cukup memenuhi kebutuhan termasuk menyambut Hari Raya Galungan bulan Februari 2020.

Tapi masalah tak segampang itu, bung. Kerugian peternak tetaplah musibah yang pilu. Sebanyak 1.181 ekor babi bukan angka yang cilik.

Misteri hingga Hari Ini

Fakta kematian babi di Bali pun melahirkan fenomena cengang. Pun sedikit ganjil.

Kabar babi mati mendadak mencuat sejak Desember namun mengapa mati masih tetap sebuah misteri hingga detik ini.

Raungan tanya suara peternak mendapat jawaban sama dari pihak berwenang sampai wabah ini memasuki bulan ketiga.

Kesamaannya adalah entah apa yang merasuki dan membunuh babi-babi tersebut.

Rangkuman official statement dari pemerintah daerah melalui pejabat dinas terkait kira-kira demikian.

Petugas kami di lapangan sudah ambil sampel darah dan organ dalam babi yang mati mendadak untuk diteliti di laboratorium Balai Besar Veteriner (BB Vet) Denpasar.

Dari BB Vet Denpasar sampel tersebut dikirim ke BB Vet Medan untuk diteliti lebih lanjut.

Dari Medan hasilnya dibawa lagi ke Jakarta sehingga memerlukan waktu lama untuk identifikasi apakah kematian babi disebabkan penyakit African Swine Fever (ASF) atau demam babi yang mewabah di berbagai negara.

Dan, yang berwenang mengumumkan adalah pihak Kementerian Pertanian. Bukan kami di daerah.

Kami juga tidak bisa berbuat banyak lantaran obat dan vaksin penyakit babi tersebut belum tersedia.

Langkah yang sudah kami lakukan adalah memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mencegah penyebaran wabah.

Pencegahan dengan menerapkan bio sekuriti yaitu selalu menjaga kebersihan kandang, semprot disinfektan, membatasi ketat orang, barang, bahan dan hewan keluar masuk kandang babi guna mencegah virus.

Begitulah tuan dan puan. kurang lebih pernyataan pemerintah ihwal kematian babi di Bali. Jelas beda pandang dan aksi.

Tanggapan atas geger babi mati kalah sigap dibanding heboh virus corona dari Wuhan, kota dengan 206 danau.

Demam virus dari tepian Sungai Yangtze jauh lebih bergemuruh dan mendapat atensi ketimbang demam babi, ternak andalan ekonomi keluarga sebagian krama Bali.

Perbandingan ini mungkin bak rambutan dan apel, bukan apple to apple.

Cuma di tengah era keterbukaan informasi serta kemajuan teknologi, menanti hasil laboratorium berbulan-bulan itu sungguh sesuatu.

Sebenarnya ada apa denganmu? Hanya semesta yang tahu.

Tapi setidaknya Semeton Dewata pastilah tahu bahwa babi mati mendadak sudah mengguncang Indonesia sejak muncul kasus perdana di Tapanuli, Sumatera Utara September 2019.

Itu hampir setengah tahun yang lalu.

Berhari-hari kematian babi di sana menjadi berita utama media massa Tanah Air.

Makin menarik tatkala ribuan bangkai babi mengambang di danau dan sungai lantaran peternaknya malas mengubur dan bingung mau buang ke mana lagi.

Sampai bulan Desember 2019, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara menyebut jumlah babi yang mati mencapai 30.000 ekor.

Tercatat kematian massal ternak ini terjadi di 16 kabupaten Sumatera Utara.

Seperti diwartakan Kompas.Com, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara Azhar Harahap menyebutkan, daerah yang alami kematian babi secara massal adalah Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Simalungun, Pakpak Bharat, Simalungun, Siantar, Tebing Tinggi dan Langkat.

"Yang tertinggi di Dairi, Karo dan Deli Serdang," kata Azhar di kantor Gubernur Sumatera Utara, Jumat (20/12/2019).

Penyebab kematian babi di Sumatera Utara jelas yaitu virus hog cholera atau kolera babi dan terindikasi African Swine Fever (ASF).

Merebaknya virus itu dimulai sejak 25 September 2019. Matinya hewan itu terjadi sangat cepat. Dalam satu hari, angka kematian yang terlapor rata-rata 1.000 - 2.000 ekor.

Kecenderungan serupa itu mulai terjadi di Bali sekarang.

Kasus awal di Denpasar hanya belasan ekor. Seiring waktu berlalu jumlahnya meningkat
sekian kali lipat.

Angka kematian sudah lebih dari 1.000 ekor. Untuk wilayah serawit Bali, bila dibandingkan Sumatera Utara, bencana ini kiranya tidak dipandang remeh.

Keresahan peternak menebal. Maka bisa dimengerti bila mereka menuntut pemerintah segera mengumumkan hasil laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kematian babi dan solusinya.

Selama ini peternak sudah menjadi korban dari ketidakjelasan informasi tersebut.

“Ini kejadian yang luar biasa. Sangat berdampak terhadap peternak dan konsumen,” kata Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hari Suyasa kepada Tribun Bali, Jumat (31/1/2020).

Pengusaha ternak babi sangat menyayangkan hasil laboratorium tidak kunjung datang, dengan alasan yang berhak mengumumkan hasil laboratorium tersebut Kementerian Pertanian.

“Kita kan ingin tahu virus ini African Swine Fever atau bukan? Sampai sekarang kita masih menunggu,” kata Suyasa.

Menurut dia, jika sudah jelas penyebabnya, pemerintah dan peternak bisa menentukan tindakan yang tepat demi mencegah jatuhnya korban babi berikutnya.

Bola panas sekarang ada di tangan pemerintah daerah Bali.

Segera bergegas mengambil langkah cepat atau mendiamkannya.

Negara harus hadir di tengah penderitaan rakyat. Itulah idealnya.

Tugas pemerintah mempersuasi masyarakat agar kecemasan dan kepanikan segera berakhir.

Mendengar curahan hatinya sekaligus berikan solusi atas persoalan yang dihadapi.

Mengutip pandangan pakar Komunikasi Politik Jerman Elisabeth Noelle-Neumann, pemerintah tidak boleh menyuburkan fenomena yang dikenal sebagai teori Spiral of Silence atau Spiral Kebungkaman.

Orang takut mengungkapkan pandangan atau pendapat karena khawatir akan sesuatu.

Sebaliknya pemerintah wajib menularkan virus keterbukaan karena bonum commune (kebaikan bersama) hanya bisa tercapai dengan itu.

Tidaklah elok pemerintah justru memberi kesan seolah sedang menutup-nutupi sesuatu. Ah seandainya bulan bisa omong… (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Damyan Godho, Firmus Wangge dan Uskup Petrus Turang


Damyan Godho
TANGGAL 27 Juli itu istimewa. Setidaknya bagi ketiga tokoh ini, Firmus Wora Wangge, Damyan Godho dan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr.

Nama pertama dan kedua telah berpulang ke haribaanNya. Berselang setahun saja.  Damyan Godho meninggal dunia 29 Januari 2019.  Dua belas purnama kemudian Firmus Wangge menyusul, 6 Februari 2020.

Buat Om berdua yang terkasih, semoga bahagia di sisiNya. Amin.
Saya mengenang 27 Juli karena gara-gara tanggal itulah saya berintekrasi cukup intens  dengan mereka.

Itu dua dekade lalu, 23  tahun silam, tepatnya 27 Juli 1997. Setahun menjelang Soeharto lengser keprabon.

Saya masih wartawan muda.  Belum genap lima tahun berkiprah bersama Harian Pos Kupang  yang mulai terbit 1 Desember 1992.


Semua  bermula dari kota suci Vatikan tanggal 21 April 1997.

Kegembiraan disertai rasa penasaran menyeruak di Kupang serta kota dan desa seantero wilayah Keuskupan Agung Kupang  ketika pemimpin Umat Katolik Sedunia Paus Johanes Paulus II mengumumkan Petrus Turang sebagai uskup koajutor.

Umat  Keuskupan Agung Kupang (KAK) gembira mendapat seorang gembala. Serentak pula merebak rasa  penasaran mengenai sosok sang  gembala yang kala itu berusia 50 tahun  karena namanya belum begitu familiar.

Sebagai uskup koajutor, Mgr. Petrus Turang berhak menggantikan Uskup Agung Kupang Mgr. Gregorius Manteiro, SVD yang waktu itu telah memasuki usia pensiun. Kondisi kesehatan beliau pun tidak begitu bugar lagi.

Firmus Wangge
Saat Uskup Manteiro wafat  10 Oktober 1997,  Mgr. Petrus Turang meneruskan secara otomatis kepemimpinan keuskupan ini sampai sekarang.

Pascapengumuman Tahta Suci 21 April 1997 tersebut,  pekerjaan besar menanti hirarki gereja lokal dan seluruh umat  KAK  yaitu mempersiapkan acara penahbisan Uskup Petrus Turang.

Rapat menetapkan penahbisan tanggal 27 Juli 1997 di Kota Kupang. Firmus  Wangge didaulat  sebagai ketua panitia pentahbisan Uskup Turang.

Suatu  pagi yang cerah,  Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Damyan Godho memanggil saya ke ruang kerjanya di kantor kami, Jl. Kenari No 1 Naikoten I Kupang.

“Dion, saya sudah masukkan  kau di seksi Humas dan Publikasi Panitia Penahbisan Uskup Piet Turang. Kerja baik-baik ya,” kata Om Damyan Godho membuka percakapan.

 “Iya Om,:” jawab saya.

“Om Damy, sebagian besar masyarakat NTT sepertinya belum terlalu mengenal bapak uskup kita yang baru,” lanjut saya.

“Benar. Justru karena itu tugas kau untuk menulis sebanyak mungkin tentang beliau  sehingga bisa dikenal umat Keuskupan Agung Kupang dan masyarakat NTT pada umumnya,” kata Om Damy.

Sebelum saya pamit  dari pertemuan pagi itu, Om Damy meminta saya segera bersua  Firmus Wangge sebagai ketua panitia.

“Ingat, selalu koordinasi dengan kau pung Om  Firmus. Usahakan satu atau dua hari ada berita mengenai persiapan penahbisan.” kata Om Damy memberi arahan. Saya menganggukkan kepala.

Kurang lebih tiga bulan persiapan panitia, saya  jadinya berintekasi cukup intens dengan Om Firmus dan semua anggota panitia yang lain seperti Alo Djong Joko, para tokoh umat  termasuk Gubernur NTT saat itu, Herman Musakabe.

Semua informasi mengenai tahbisan  itu selalu saya publikasikan di Pos  Kupang yang merupakan satu-satunya koran harian yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat itu.

Jangan dikau tanya media online karena belum muncul  batang hidung dan sosoknya, sehingga  Pos Kupang  merupakan sumber informasi utama bagi masyarakat Flobamora.

Mgr. Petrus Turang, Pr
Hampir sebulan menjelang penahbisan saya menulis mengenai tema tersebut.

Beberapa topik yang saya tulis secara serial antara lain, sejarah Keuskupan Agung Kupang dari gereja diaspora hingga menjadi keuskupan,sejarah Gereja Katedral Kupang,  profil Uskup Gregorius Monteiro dan yang paling menantang saya adalah profil Uskup Petrus Turang.

Maklum sumber referensi mengenai Yang Mulia di sekretariat keuskupan pun tidak banyak.

Saya mesti  putar otak (baca: kerja keras)  untuk mendapatkannya.  Waktu itu belum ada Google,  bung. Jadi semua harus cari secara manual. Tapi di situlah letak keasyikannya.

Puji Tuhan semua bahan yang saya butuhkan tersedia pada waktunya. Maka saya menulis profil Mgr. Petrus Turang sejak masa kecil di Tondano, Minahasa, Provinsi  Sulawesi Utara, masa pendidikan di seminari, tahbisan imamat serta pengabdian beliau sebelum diangkat Paus Johannes Paulus II sebagai uskup.

Petrus Turang yang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974 sempat memegang jabatan sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Saya juga  menulis makna motto beliau Petransiit Benefaciendo atau Berkeliling Sambil Berbuat Baik (Kisah Para Rasul 10:38), makna lambang keuskupan dan lain-lain yang berkenaan dengan tugas sang gembala kelahiran Tataaran, Tondano Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, 23 Februari 1947 tersebut.

Bekerja dengan Om Firmus Wangge dalam kepanitiaan menyenangkan. Berlatarbelakang pengusaha, cara berpikir dan bertindak Om Firmus jauh dari birokrasi bertele-tele.

Apalagi waktu efektif bagi panitia pentahbisan saat itu tidak lama. Hanya kira-kira dua bulan lebih.

Om Firmus selalu memastikan setiap rencana dapat dikerjakan secara baik oleh masing-masing seksi dalam kepanitiaan. Orangnya tegas, bicara blak-blakan tapi juga mau mendengar setiap saran dan masukan.

Singkat cerita tibalah hari H  acara penahbisan Uskup Petrus Turang pada 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang.

Di lokasi tersebut kini berdiri megah Lippo Mall Kupang. Arena promosi yang dibangun masa pemerintahan Herman Musakabe  tak berbekas lagi.

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ bertindak sebagai Penahbis Utama  didampingi Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia yang bergelar Uskup Agung Tituler Bellicastrum, Pietro Sambi dan Uskup Agung Kupang saat itu, Gregorius Manteiro, SVD.

Upacara penahbisan berlangsung hikmat dan meriah. Sukses. Puluhan ribu umat Katolik tumpah ruah di sana.

Saya masih ingat  kepada siapa ucapan terima kasih pertama yang disampaikan Uskup Petrus Turang, Pr saat memberikan sambutan seusai prosesi penahbisan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada wartawan!

“Terima kasih wartawan yang telah menulis sangat banyak tentang saya dan keuskupan ini.” kata Uskup Petrus Turang.

Saya yang berdiri meliput dari sisi kanan tribune, merinding. Tak lazim seorang tokoh melakukan itu. Biasanya terima kasih bagi wartawan di bagian akhir, bahkan cukup sering tak ada  sama sekali.

Tentu bukan tujuan utama kami meminta atau mengharapkan ucapan terima kasih.

Menulis adalah tugas dan kewajiban jurnalis. Tapi ketika seorang gembala mengucapkan pada sebuah forum yang luar biasa, sungguh merupakan sesuatu.

Sampai akhir hayatnya, Om Damyan Godho dan Om Firmus Wangge menjalin relasi indah dengan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang.

Hubungan mereka tidak sekadar antara umat atau tokoh umat dengan sang gembala atau pemimpinnya. Mereka bersahabat. Teman diskusi. Saling berbagi.

Ketika kematian menjemput Om Damy dan Om Firmus, Yang Mulia Bapa Uskup Petrus Turang, orang pertama yang memberi peneguhan bagi keluarga.

Beliau juga yang memimpin misa requiem melepas jenazah kedua sahabatnya menuju tempat peristirahatan terakhir.

“Damy sudah berada di tempat yang lebih baik.” kata Mgr. Petrus Turang ketika memimpin misa pelepasan jenazah Om Damyan Godho di Gereja St Fransiskus dari Asisi Kolhua Kupang, akhir Januari 2019 silam.

Kata peneguhan dan penghiburan senada beliau sampaikan ketika memimpin misa requiem saat pemakaman jenazah Om Firmus Wangge di Gereja Katedral Kupang, Minggu 9 Februari 2020.

Saya, terus terang, belajar banyak dari beliau bertiga dalam membangun relasi. Saling berbagi dalam setiap gerak langkah untuk berkontribusi bagi pembangunan daerah, masyarakat luas, untuk Gereja dan Tanah Air.

Tatkala Om Damyan Godho dipercayakan Uskup Turang menjadi Ketua Panitia Pembangunaan Taman Ziarah Yesus Maria di Belo, Kabupaten Kupang, saya tidak kaget.

Bapak Uskup tahu betul kepada siapa beliau memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar tersebut.

Bukit tandus dan lerengnya seluas kurang lebih 5 hektare berubah menjadi taman ziarah yang indah setelah dibangun selama 4 tahun.

Menurut Mgr. Petrus Turang, lahan ini merupakan hibah dari seorang umat, Yoseph Soleman kepada Keuskupan Agung Kupang.

Keuskupan lalu berinisiatif membangun tempat ziarah dengan bantuan para dermawan serta swadaya umat.

Pembangunan taman ziarah tersebut  yang panitianya dipimpin Om Damyan Godho  mulai 1 Oktober 2009. Di taman ini ada 20 titik tempat berdoa dan satu kapel di puncak bukit, Kapel St. Yohanes Paulus II.

Dari halaman kapel itu peziarah akan menikmati pemandangan indah jika mengarahkan  pandangan mata ke Teluk Kupang serta pegunungan Fatuleu di kejauhan sana.

Pada hari Senin tanggal 25 November 2013, taman ziarah  Yesus Maria Belo diresmikan Kardinal dari Vatikan, Mgr. Stanislaw  Rylko.

Sampai akhir hayatnya Om Damyan Godho tercatat sebagai pengurus stasi taman ziarah tersebut. Setiap kali berziarah ke sana, saya selalu teringat beliau. Karyanya akan terkenang selalu.

Dalam wujud dan cara yang berbeda, kontribusi Firmus Wangge untuk Gereja dan Tanah Air  pun tidaklah kecil.

Dalam suatu forum diskusi kecil, saya melihat bagaimana Firmus Wangge, Damyan Godho dan Uskup Mgr. Petrus Turang bertukar pandangan untuk membangun daerah, membangun Indonesia. Mereka tak sekadar  bergumul dengan masalah tapi memberikan tawaran solusi.

Kesaksian mengenai peran penting Firmus Wangge itu antara lain diungkapkan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Frans Lebu Raya.

"Jasa beliau sangat besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur. Kita kehilangan seorang putra terbaik Flobamora," kata Frans Lebu Raya  hari Sabtu (8/2/2020) malam.

Firmus Wangge dikenal luas sebagai pengusaha dan  sesepuh Partai Golongan Karya (Golkar).

Pria kelahiran Ende, Flores tersebut  pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur.  Firmus juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Menurut Lebu Raya, ketika dirinya masih menjabat gubernur,  Firmus Wangge selalu menyempatkan waktu bertemu dan berdiskusi tentang pembangunan.

Frans Lebu Raya selalu mendengar dan menghargai masukan dari Firmus.

"Saya sering bertemu beliau untuk berdiskusi, tukar pikiran. Beliau selalu memberikan masukan yang sangat berharga bagi daerah ini. Saya sangat menghormatinya," kata Lebu Raya.

Ketua DPD I Partai Golkar NTT, Melki Laka Lena juga mengenang jasa mendiang Firmus Wangge bagi Nusa Tenggara Timur.

"Pak Firmus Wangge memberi warna ekonomi dan politik di NTT.   Sampai akhir hayatnya  masih terus berbicara dan mengamati perkembangan ekonomi dan politik NTT," kata Melki Laka Lena, anggota DPR periode 2019-2024.

Demikian sekeping catatanku  mengenang dua  tokoh yang bersahabat karib, Damyan Godho dan Firmus Wangge.

Om Damy…
Om Firmus…
Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. 

Bapa Uskupku, Mgr. Petrus Turang, sehat selalu dan bahagia.

Dengan penuh cinta

Dion DB Putra
Denpasar, 11 Februari 2020

Sampai Maut Memisahkan


ilustrasi
KABAR duka itu datang di hari Minggu atau hari Senin waktu Indonesia.
Dunia terguncang hebat, tak kalah geger dibandingkan demam virus Corona yang menebar cemas serta mengurai air mata.
Legenda bola basket NBA dan dunia, Kobe Bryant meninggal dunia setelah helikopter yang dia tumpangi menghujam bumi di California, Minggu pagi 26 Januari 2020.
Tragis. Sang bintang pergi dalam usia terbilang muda, 41 tahun.
Bryant tidak sendirian. Putri keduanya, Gianna Maria-Onore Bryant (13), meninggal pula dalam kecelakaan tersebut.
Gigi, panggilan Gianna, punya niat, minat dan bakat mengikuti jejak sang ayah di lapangan basket.
Ketika jatuh dan meledak hebat di lereng berkabut, helikopter Sikorsky S-76B nomor registrasi N72EX yang ditumpangi Bryant dalam menuju Mamba Sports Academy, kamp latihan basket miliknya di Thousand Oaks, California.
Pilot dan enam orang lainnya juga tewas dalam musibah ini.
Kepergiaan Kobe Bryant sontak mengalirkan lara sejagat.
Sepanjang hari Minggu dan Senin dia menjadi trending topic.
Bahkan hingga hari ini pun kenangan akan lelaki kelahiran Philadelphia, Pennsylvania, 23 Agustus 1978 itu masih bergulir di berbagai belahan dunia.
Kiranya dapat dimengerti manakala sebagian besar masyarakat dunia menangisi sang legenda berjulukan Black Mamba tersebut.
Kisah hidup Bryant telah menginspirasi banyak orang, tidak semata penggemar cabang olahraga bola basket yang sangat populer di tanah airnya.
Warisan Kobe Bryant yang bisa disebut antara lain kerja keras, telaten, disiplin, kerendahan hati, jujur, berjiwa besar, kerelaan memaafkan serta setia.
Selama 20 tahun kariernya yang gemilang di NBA, dia hanya membela satu klub yaitu Los Angeles (LA) Lakers tahun 1996-2016.
Mirip Francesco Totti di klub sepakbola AS Roma atau Paolo Maldini di AC Milan, Italia.
Tidak banyak atlet profesional yang setia dan loyal semacam ini.
Torehan prestasi Kobe Bryant bukan tanpa pengorbanan.
Selain kerja keras yang menjadi fondasinya, Bryant berkali-kali cedera serius yang nyaris mengakhirnya kiprahnya di lapangan basket.
Misal, dia mengalami patah tulang metakarpal tangan kanan pada musim 1999-2000.
Lalu, laserasi jari telunjuk kanan dan bahu kanan terkilir pada 2003-2004, disusul pergelangan kaki kanan terkilir pada 2003-2004.
Makin serius pada musim kompetisi NBA 2009-2010.
Dia mengalami retak avulsion jari telunjuk, pembengkakan lutut kanan, dan pergelangan kaki
kiri terkilir.
Pada musim 2012-2013, tendon achilles kaki kirinya sobek dan dioperasi.
Setahun kemudian, musim 2013-2014, tulang di lutut kirinya patah.
Setahun menjelang pensiun, rotator cuff yaitu kumpulan otot dan tendon yang melindungi sendi—bahu kanannya sobek.
Hebatnya, Kobe Bryant tidak patah semangat. Dia menyadari bahwa cedera merupakan risiko seorang atlet.
Mengakui Berzina
Tak ada gading yang tak retak, di luar lapangan basket NBA yang gemerlap itu, kehidupan pribadi dan keluarga Kobe Bryant tak kurang pula pasang surutnya.
Sisi kelam turut menyertainya.
Kobe Bryant pernah melakukan kesalahan fatal yang nyaris meremukkan bahtera rumah tangganya.
Kobe Bryant menikah dengan Vanessa Laine pada tahun 2001.
Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat anak.
Lahir berturut-turut Natalia Diamante Bryant (Januari 2003), Gianna Maria-Onore Bryant (Mei 2006-20 Januari 2020), Bianka Bella Bryant (Desember 2016), dan Capri Kobe Bryant (Juni 2019).
Guncangan hebat melanda keluarga pasangan ini pada tahun 2003 ketika Kobe Bryant sedang berada di puncak kejayaannya.
Kobe Bryant ditangkap pihak berwenang di Eagle, Colorado.
Bryant dituduh memperkosa seorang wanita, karyawati hotel berusia 19 tahun.
Orang yang melaporkan Kobe Bryant menyebut legenda Los Angeles Lakers itu memerkosa si perempuan muda pada malam sebelum Kobe menjalani operasi lutut.
Kobe Bryant jujur mengakui telah berzina dengan perempuan tersebut, namun membantah memerkosa.
Seperti diberitakan Tribun Bali, Selasa (28/1/2020), kasus ini berdampak besar bagi Kobe Bryant.
Reputasinya di mata publik hancur.
Kobe kehilangan sejumlah kontrak dengan perusahaan-perusahaan besar seperti McDonald's dan Nutella.
Penjualan replika jersey Kobe Bryant jatuh.
Pada tahun 2004, Kobe Bryant akhirnya mengakui kesalahannya secara terbuka.
Dia meminta maaf kepada perempuan tersebut atas tindakannya malam itu.
"Meskipun saya benar-benar meyakini kejadian ini antara kami atas dasar kesepakatan, dia tidak melihat kejadian ini seperti saya. Setelah berbulan-bulan meninjau, mendengarkan pengacaranya, dan bahkan kesaksiannya secara langsung, sekarang saya paham seperti apa perasaannya bahwa dia tidak setuju terhadap kejadian ini," ujar Bryant.
Apa yang membuat Bryant berani jujur dan berjiwa besar?
Dalam wawancara dengan Majalah GQ tahun 2015, Kobe Bryant menuturkan bagaimana iman Katolik yang dia yakini membantu dia mengatasi dampak tindakan atas wanita tersebut bagi hubungan pribadi dan citra profesionalnya.
Bagi Kobe kehilangan sponsor bukan menjadi perhatian utama, Dia justru sangat takut masuk bui.
Saat itu dia terancam hukuman penjara selama 25 tahun. Namun demikian, semangatnya tumbuh karena iman yang dia yakini.
"Satu-satunya yang sangat membantu saya selama proses itu, saya Katolik, saya tumbuh sebagai orang Katolik, anak-anak saya Katolik, adalah berbicara kepada seorang pastor," kata Kobe Bryant yang menjalani masa kecil selama 8 tahun di Italia.
"Lepaskan. Bangkitlah. Tuhan tidak akan memberikan kamu sesuatu yang tidak bisa kamu atasi, dan sekarang semuanya berada di tangan Dia. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Lepaskan," ujar Kobe menuturkan nasihat pastor itu kepada dia.
Dalam sesi wawancara tersebut Kobe Bryant pun menuturkan perjuangannya menyelamatkan pernikahan dengan Vanessa Laine.
Pasangan ini menikah pada 18 April 2001 di Gereja Santo Eduardus Sang Pengaku di Dana Point, California, Amerika Serikat.
Pada tahun 2011 Vanessa mengajukan cerai karena alasan perbedaan yang tidak bisa diatasi.
Pasangan ini bisa mengatasi masalah perbedaan tersebut 13 bulan kemudian.
"Saya tidak akan bilang pernikahan kami sempurna. Kami masih bertengkar, seperti pasangan lain. Tapi reputasi saya sebagai seorang atlet adalah saya punya tekad dan giat berlatih. Bagaimana saya bisa melakukan itu dalam kehidupan profesional saya jika saya tidak merasa seperti itu dalam kehidupan pribadi saya, ketika itu memengaruhi anak-anak saya? Tidak masuk akal," ujar Bryant.
Bahtera rumah tangga Kobe Bryant-Vanessa Laine langgeng sampai akhir, hingga maut memisahkan mereka pada 26 Januari 2020.
Kobe Bryant selalu teringat kalimat ini: yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.
Dia berpegang teguh pada tiga ciri perkawinan Katolik yaitu ikatan yang terus berlangsung seumur hidup, ikatan monogami, yaitu satu suami dan satu istri serta ikatan yang tak terceraikan.
Kobe Bryant hanya sekali menikah hingga akhir hayatnya.
Kobe Bryant sangat mengasihi keluarganya.
Legenda NBA, Michael Jordan, yang kini menjabat Presiden Charlotte Hornets, klub pertama Bryant mengungkapkan kesaksiannya.
"Ia adalah ayah yang luar biasa, lelaki yang mencintai keluarganya begitu dalam," kata Jordan.
Keluarga ini juga rutin menggelar aksi sosial melalui Kobe & Vanessa Bryant Family Foundation.
Melalui lembaga ini Bryant dan keluarga berusaha membantu orang-orang yang mengambil keputusan-keputusan buruk dalam hidup mereka untuk mencapai titik balik, termasuk para tunawisma.
Kobe Bryant melakukan itu karena menyadari bahwa dia sudah mendapatkan segalanya dan patut berbagi kepada sesama.
"Saya tidak bermaksud berlebihan dan mengutip Spider-Man, tapi kekuatan besar datang bersamaan dengan tanggung jawab besar," kata Bryant kepada The Times.
Dunia akan terus mengenang Bryant untuk inspirasinya yang luar biasa.
Di lapangan, Black Mamba memang punya beragam aksi menawan. Julukan Black Mamba itu berasal dari nama ular Afrika, yang gesit dan cepat gerakannya.
Penggemar basket pastilah akan suka meniru gaya slam dunk, three points, steal atau assistnya.
Black Mamba sudah menjadi legenda.Dia pergi selamanya pada umur 41 tahun. Dengan nama semerbak harum.
Selamat jalan Black Mamba. Dunia olahraga berduka tapi warisanmu akan terkenang lama.
Tak mudah lekang oleh waktu. Requiescat in Pace. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes