Hermien Kleden, Sang Guru dan Kakak Kami

Hermien Y. Kleden

Oleh: Yophiandi Kurniawan

Mantan Wartawan Tempo

POS-KUPANG.COM -  “Are you leaving?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan. Malam itu,  kak Hermien memanggil saya. Khusus. 

Di hadapannya, saya sempat melamun. Masih bertanya dalam hati. Apakah benar langkah saya meninggalkan TEMPO. 

Sebelumnya, Nugroho Dewanto sudah mencolek saya di tengah rapat perencanaan Majalah TEMPO siang hari. 

Pada 2011 kantor Majalah TEMPO pindah ke kawasan Velbak, Kebayoran Baru. Punggung-punggungan dengan kantor Koran TEMPO. 

Pertanyaan mas Dede—panggilan Nugroho Dewanto—mirip-mirip dengan Kak Hermien. “Lu jadi cabut?”

Saya tersanjung. Merasa diperhatikan oleh dua orang yang kualifikasinya mumpuni sebagai pejabat teras Majalah TEMPO. Apalagi kala itu, saya sempat tertinggal naik pangkat dan jabatan. 

Kalah cepat lulus M1 (baca M satu). Sebuah jenjang transisi menuju staf redaksi dari status reporter. 

Padahal saya pernah bangga. Naik status M1 dari Reporter urutan ketiga diantara enam orang di angkatan waktu itu.

Ditegur, dengan kalimat itu, saya terbangun dari lamunan saya. Saya tak memberi jawaban tegas. Apakah menerima tawaran yang sangat menggiurkan secara gaji. 

Tapi saya paham segala kemewahan sebagai wartawan bakal hilang. Salah satunya eksklusifitas dan memahami sebuah masalah. 

Di TEMPO saya mulai menyadari begitu ruwetnya negeri ini. Bukan karena masalahnya. Tapi karena orang-orang di seputar masalah itu. 

Sejak ada di Koran TEMPO menangani rubrik Olahraga, saya menyaksikan bagaimana kak Hermien mendidik banyak wartawan muda yang hijau-hijau. 

Pertanyaan-pertanyaannya membuat kita tahu bahwa kita tahu lebih banyak dari yang kita sudah tulis. 

Bisa juga, ternyata kita tak tahu sebanyak yang kita kira. Pertanyaan si kakak senantiasa tajam dan dingin. 

Untuk rubrik Olahraga pun yang menurut banyak orang rubrik santai, HYK —panggilan Hermien Y Kleden — membuatnya jadi santai sekaligus serius. 

Hasilnya, judul dan anglenya memang jadi terasa berbeda. Bang Yon Moeis, jagoan rubrik Olahraga terutama Sepakbola punya banyak cerita soal ini.  

Perkenalan saya pertama kali adalah saat kak Hermien sedang memegang halaman depan Koran TEMPO. 

Saat itu saya mempunyai dokumen rencana pembelian alutsista di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. 

Tak segan kak HYK bertanya soal ini itu tentang spesifikasi pesawat tempur yang rencananya mau dibeli tapi tak terlihat awalnya di APBN. 

Mengapa dan apa manfaat atau malah tak bermantaatnya buat negara dan masyarakat Indonesia. 

Pertanyaan-pertanyaan itu untuk memastikan bahwa cerita itu memang berita layak TEMPO.

***

“Dek, kok gak pulang?” Dinihari itu—saya lupa harinya—, saya pikir saya sendirian di lantai dua kantor Majalah TEMPO di jalan Proklamasi nomor 72. 

Dia bilang cemas karena saya baru pemulihan. Tangan pun masih digendong. 

Waktu itu saya baru beberapa pekan aktif lagi di kantor, setelah istirahat lebih dari lima bulan. 

Tulang selangka saya patah. Terbentur separator bus Transjakarta. Di depan kantor Kementerian Luar Negeri. Waktu mengejar Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang sedang menemui Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda. 

Saya memang sengaja begadang karena tengah menunggu narasumber di San Fransisco, Amerika Serikat. 

Rebiya Kadeer, pemimpin suku Uyghur yang terasing dari tanahnya di Xinjiang, Tiongkok. 

Saya tak akan pernah tahu, kalau Arif Zulkifli, waktu itu redaktur eksekutif Majalah TEMPO menyatakan Kak Hermien memperjuangkan saya lulus segera M1. Menjadi staf redaksi. 

Itu setelah kali kedua saya begadang. Yakni menunggu Michael Bloomberg, Wali Kota New York waktu itu. Michael adalah pemilik media ekonomi Bloomberg yang tersohor itu. 

HYK memang sangat perhatian kepada para reporter. Tak cuma soal sudah makan atau belum. Terlebih berbagi ilmu dan tips menjadi wartawan yang keren. 

Mempelajari karakter orang yang hendak diwawancara adalah salah satu tipsnya. 

Seorang Handry Satriago — almarhum adalah orang Indonesia yang jadi bos General Electrics — contohnya. 

Kak Hermien bertanya kepada saya sampai soal mood dan kesukaan Handry yang saya tahu. Sebagai persiapan untuk mewawancarainya untuk Majalah TEMPO. 

Kebetulan saya pernah menulis tentang sang CEO di rubrik Sehari Bersama di Koran TEMPO Minggu. Hasilnya, dari pengakuan Handry, dia suka dengan garapan di Majalah. 

Sementara di Koran, Handry menilai ada beberapa kekurangan. Bukan data, tapi bagaimana cara dirinya diprofilkan. 

Ecep S Yasa, pemimpin redaksi portal berita TVOne pernah bercerita. Ditanya setiap hari apakah sudah makan, minum vitamin, dan istirahat cukup. 

Setiap hari Ecep dipantau karena sedang intensif melakukan investigasi di pedalaman sebuah provinsi. Tentang kejahatan di daerah itu. Ini spesialisasi TEMPO.  

Panduan dari HYK membuat tulisan Ecep di rubrik Investigasi jadi pujian seisi newsroom. 

Setelah tulisan itu, polisi baru bergerak, berlaku menumpas kejahatan. 

***

Kak HYK, dan Kak Hermien adalah panggilan kami para bocil di TEMPO. 

Bocil, karena memang jam terbang kami perbedaannya jauh sekali terbentang. 

Kakak sudah ke sana kemari di masa Orde Baru, kami masih mahasiswa. Kak HYK berada dalam naungan Pak Fikri Jufri di Majalah Matra. 

Untuk Pak FJ ini pun saya angkat topi. Salut dengan pendekatannya kepada anak buah. 

“Your Excellency, please introduce our best reporter in TEMPO,” begitu kata Pak FJ menyanjung anak buahnya di hadapan para kenalannya. Biasanya kenalannya adalah orang-orang asing. 

HYK juga begitu. Sama persis dengan FJ. Menyanjung reporter di depan narasumber. 

Bahkan untuk beberapa anak, dia bahkan tertarik mencari tahu siapa ayah ibu dan saudara-saudaranya. 

Termasuk saat Mawar Kusuma —sekarang wartawan Harian Kompas — menukil sebuah ayat Perjanjian Baru di tulisannya. 

Tambahan dari HYK adalah, sudah berapa ratus tahun usia ayat itu ketika diturunkan. 

Selain pujian, HYK juga bisa tak segan memanggil reporter kembali ke kantor untuk menulis ulang laporannya atau bertanya lagi kepadanya tentang apa yang diliputnya. 

Bahkan tak jarang saat si reporter sedang berkencan nonton di bioskop Megaria—sekarang Metropole. 

Bioskop di ujung jalan Proklamasi itu memang sering jadi tempat melepas penat atau mencari lead tulisan. 

Bahkan berkencan sebentar. Lalu balik lagi ke kantor untuk menuntaskan tulisan memenuhi tenggat atau deadline.

Tulisan saya tentang kedatangan Barack Obama ke Indonesia jadi ciamik karena polesannya. 

Waktu itu sebagai wartawan di rubrik Luar Negeri, kedatangan Obama ke Jakarta jadi sampul cerita utama Majalah TEMPO. 

Tugas saya mendapat insight dan background. Informasi saya dapat dari beberapa orang di Departemen Luar Negeri. 

Salah satunya dari Retno Marsudi, waktu itu Dirjen Amerika dan Eropa. Kemudian jadi Menteri Luar Negeri. 

***

Kami berempat diminta tak bercerita tentang yang dialaminya. Februari 2025. Waktu itu di antara kami, saya sudah diberitahu di akhir 2023 tentang penderitaannya. 

Tapi “vonis” baru datang pada 2025. Sembari seluruh persiapan operasi pada Mei 2025 yang diutarakannya. 

Kami berempat yakin. Ada mukjizat kesembuhan pascaoperasi. Optimisme yang dibangun kami berlima—termasuk kak Hermien. Ada banyak misi yang tengah kami rampungkan. Misi yang mulia. 

Dalam dua tahun terakhir,  kami berlima intensif bertemu. Dan jadi lebih dekat. Kami, selain Ijar Karim, —fotografer andalan TEMPO—, sudah purna tugas dari TEMPO.  

Kak Hermien sering meminta saya mengebrief tentang situasi terkini. Ekonomi politik. Nasional. 

Kadang kalau saya dapat insight yang internasional, juga saya ungkapkan. No secret.

Saya merasa informasi yang saya terima lebih berguna untuk kak Hermien. Ada kepuasan. 

Bertahun-tahun dengan bimbingan di TEMPO—termasuk utamanya dari kak HYK—saya bisa menyumbang karya-karya eksklusif bagi media elektronik tempat saya bekerja kemudian. 

Berbagai wawancara eksklusif, juga visual-visual yang betul-betul cuma media elektronik itu yang punya. Dan seperti pesan kak Hermien. Tak usah kamu labeli eksklusif, biar penonton yang tahu bahwa itu memang tak ada di tempat lain. 

“Itulah eksklusif sebenarnya.” Ini nasihat yang saya ingat bersama nasihat lain. “Pastikan di tempat lain, karakter kamu tidak hilang.” 

Saya telah menjalankan pesan-pesan itu dengan baik. 

Selasa malam, sehari menjelang 1 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila 2025, anggota keluarga, sahabat, kerabat, dan handai taulan saling sapa di Rumah Duka Santo Carolus. Banyak senyum juga tawa. 

Tak sedikit yang menangis. Termasuk mas Wahyu Muryadi, mantan pemimpin redaksi Majalah TEMPO. 

Agus Martowardoyo, mantan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan era SBY juga menitikkan air mata saat memberikan testimoni. 

Ada juga para petinggi, romo-romo di Konferensi Waligereja Indonesia dan Keuskupan Agung Jakarta serta kalangan Katolik umumnya. 

Aktivis Pemuda Katolik, PMKRI, dan banyak lagi. Hermien memang tak cuma aktif jadi wartawan. Juga dalam kerasulan awam di semesta Katolik. 

Mereka melepas Hermina Yosephine Kleden, ke tempat istirahatnya di pemakaman di Jagakarsa. 

Paripurna tugas Hermien di dunia. Jadi kakak, guru, teman, dan bisa juga orang tua bagi yang mengenalnya. 

Istirahatlah dalam keabadian kekal di Rumah Bapa, kak Hermien. Tuhan memberkati selalu. (*)

Sumber: Pos Kupang 

Mak Comblang


Saya dan Dokter Husein (kanan)
Ada yang bilang kami agak mirip dalam beberapa hal. Beta aminkan saja.  Pertama soal kumis. Beliau doyan kumis hitam tebal mengilap, saya senang yang tipis-tipis saja.

Bentuk hidung kami sebelas dua belas. Berkaca mata pula. Tidak seprofesi tapi sama bekerja berkompaskan kode etik. 

 Beliau dokter, saya wartawan. Kami kerap bertemu dan dipertemukan oleh tugas masing-masing. 

Dia tergolong narasumber yang menyenangkan jurnalis. Tak tak pelit berbagi informasi, dan siap melayani wartawan kapan saja. Pria cerdas, rendah hati, bijaksana dan humoris. 

Sebagai pemimpin dia tipe pemimpin yang melayani.  Dalam suatu masa yang panjang nian, namanya identik dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. 

Sebut RSU Johannes Kupang, sontak ingat sosok dr. Husein Pancratius Rukeng alias Dokter Husein.

Ya beliau merupakan orang kesebelas yang menjadi direktur rumah sakit milik Pemerintah Provinsi NTT yang dibangun Belanda pada tahun 1941 ini.

Masa kepemimpinan Husein Pancratius sebagai direktur paling lama di antara 17 orang yang pernah memimpin RSUD Johannes Kupang sejak 1941 sampai sekarang.

Beliau menjabat direktur selama 13 tahun yaitu sejak tahun 1988 sampai 2001. 

Ketika saya berstatus mahasiswa baru Universitas Nusa Cendana tahun 1988, Husein Pancratius telah menjadi direktur RSU Kupang. Dia menggantikan pendahulunya, dr. Hendrik Roman Klaran (1985-1988).

Tiga gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) pernah menjadi atasannya yaitu dr. Hendrik Fernandez (Gubernur NTT periode 1988-1993), Herman Musakabe (1993-1998) dan Piet A. Tallo (1998-2008).

Masa kepemimpinannya lebih lama dibandingkan dengan direktur pertama RSUD Johannes Kupang, dr. Habel, yang menjabat tahun 1941-1952 (sumber: sejarah RSUD Johannes Kupang).

***

Tahun 1992 saya lolos seleksi masuk menjadi wartawan Harian Pos Kupang yang terbit perdana 1 Desember 1992. 

Pos Kupang mengangkasa di Flobamora hanya berjarak  dua pekan sebelum gempa dan tsunami meluluhlantakkan Pulau Flores yang menelan korban jiwa sedikitnya 2.080 orang.

RSUD Johannes Kupang yang dinakhodai dr. Husein Pancratius merupakan rumah sakit terbesar dan terlengkap di  NTT kala itu. 

Korban gempa dan tsunami  yang tak bisa ditangani pada fasilitas kesehatan di Flores, umumnya dirujuk ke rumah sakit tersebut. 

Kesibukan dan level pelayanan di RSUD Johannes Kupang  meningkat pesat. Sang direktur menjadi orang yang paling diburu para jurnalis untuk mengetahui perkembangan terbaru mengenai perawatan korban.

Perkenalanku dengan beliau berawal dari situ dan terus berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian lantaran wilayah tugas saya paling lama sebagai wartawan di Kota Kupang. 

Sementara teman-teman seangkatanku yang lain mendapat tugas dari Om Damyan Godho selaku pemimpin redaksi Pos Kupang di 11 kabupaten yaitu Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur, Alor, Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Timur.

Dokter Husein adalah pria humoris dengan kumis hitam mengilap dan logat Manggarai yang kental. Dia juga seorang yang sangat berperhatian.

Suatu hari di pertengahan tahun 1995, dia mengejutkanku dengan pertanyaan menggelitik ini, "Dion, kamu sudah ada pacar atau belum?" 

Saya spontan tersenyum. Beliau lanjut bertutur. "Di sini (RSUD Prof Dr. W.Z. Johannes Kupang)  banyak nona perawat yang belum ada nyong (baca: pacar). Kalau ada yang kamu orang suka, beritahu saya."

Rupanya beliau mau menjadi mak comblang. Saya kembali meresponsnya dengan tertawa.

Perjalanan hidup membawaku sampai pada titik ini. Nona perawat di RSUD Johannes Kupang ternyata orang lain pung jodoh. Bukan jodoh saya.

"Bapa dokter saya sudah beristri, tapi dia bukan perawat," kataku kepada beliau dalam suatu acara di awal tahun 2000-an. Beliau ngakak.

Respek, rendah hati, hangat  dan kebapaan merupakan keutamaan sosok Dokter Husein Pancratius.

Tahun 2001 ia melepas tugasnya sebagai direktur RSUD Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang. Posisinya digantikan dr. E. H. J. Mooy yang menahkodai manajemen rumah sakit itu sampai tahun 2006.

Selanjutnya rumah sakit itu dipimpin dr. Y. A. Mitak, MPH (2006-2008), dr. Alphonsius Anapaku, Sp.OG (2008-Agustus 2015),  drg. Dominikus Minggu,M.Kes (Agustus 2015-Januari 2019),  dr.drg. Mindo E. Sinaga, M.kes Februari (2019-2024) dan dr. Stefanus Dhe Soka, Sp.B, M.KM (2025-sekarang).

***

Setelah meninggalkan RSU Johannes, Dokter Husein Pancratius Rukeng sempat memangku sejumlah tanggung jawab penting di lingkup Pemerintah Provinsi NTT, antara lain Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Asisten Setda NTT dan penjabat Bupati Flores Timur (April-Agustus 2005).

Dokter Husein pun sempat menjadi Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Dedari Kupang selama lima tahun sejak 2010 hingga 2015.

Pengabdian lainnya yang amat monumental bagi masyarakat Flobamora  terkait masalah  HIV/AIDS. 

Beliau merupakan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur selama belasan tahun.

Gusti Brewon yang selama 10 tahun menjadi stafnya di KPA Provinsi NTT memberi kesaksikan yang menegaskan kepedulian beliau tersebut.

"Banyak kenangan dalam kebersamaan saya dan Bapa Dokter Husein  Singkatnya, Dokter Husein ini figur yang komplet. Cerdas, humoris, bijaksana dan peduli. Banyak pelajaran kehidupan yang saya timba selama menjadi staf beliau," kata Gusti Brewon.

 Menurut Gusti Brewon yang lebih lama menjadi staf dokter Husein adalah Rini Karsidin. 

"Rini jadi staf sejak tahun 2009, saat bapa dokter dipercaya sebagai sekretaris KPA Provinsi NTT hingga beliau meninggal, 16 tahun lamanya.  Meski demikian, rasanya saya paling banyak menemani beliau dalam perjalanan dan tugas di KPA Provinsi NTT. Karena sebagai Pengelola Program, saya biasanya akan membantu beliau dalam kegiatan pertemuan, sosialisasi dan advokasi. Saya berhenti dari KPA NTT tahun 2019," tulis Gusti di akun Facebooknya.

Kepedulian dan kerja keras  Husein Pancratius  untuk menanggulangi masalah HIV/AIDS di NTT sungguh tak ternilai. 

Pemerintah dan masyarakat Provinsi  Nusa Tenggara Timur patut berterima kasih kepada tokoh kemanusiaan ini. Di tangannya, NTT bisa menekan laju kasus HIV/AIDS secara signifikan.

Penghargaan yang layak untuk tokoh kemanusiaan ini rasanya perlu dipertimbangkan pemerintah daerah.

'Sejak kabar kepergiannya tersiar pada Selasa pagi 26 Agustus 2025, pelayat tak henti-hentinya mendatangi rumah duka di kawasan Kota Baru,  Kupang. 

Mereka merupakan pasien, kerabat, handai taulan, orang-orang dari berbagai kalangan masyarakat yang pernah mengalami perjumpaan personal dengan mendiang semasa hidupnya.

Beta bersaksi Husein Pancratius Rukeng (78)  adalah orang baik. Beliau sungguh seorang dokter, pemimpin, dan orang tua yang bijaksana dan penuh kasih. 

Di rumah duka Selasa petang kutatap wajah lembut kebapaannya. Terlintas senyum hangatmu dulu. 

Aih Bapa dokter, candamu akan selalu menarik rindu. Selamat jalan. Bahagia kekal di sisiNya. 

Tuhan meneguhkan dan menghibur Mama Wati, Adik Tedi, Alo Geong dan semua rumpun keluarga terkait. (*)

Sumber: Pos Kupang

Imam Pertama dari Wolonio


Romo Vincent Bata
 Dia imam dari Wolonio, Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Watuneso, Keuskupan Agung Ende. Namanya RD Vincentius Budi Bata Putra.

Dia bukan imam pertama dari Paroki Watuneso. Tapi yang pertama dari Wolonio, kampung kecil di kaki pegunungan Ndura. 

RD Vincentius Budi Bata Putra lahir di Mulawatu, kampung tetangga Wolonio. 

Secara administratif pemerintahan,  kampung itu masuk wilayah Desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dia datang paling akhir dari kami berenam, tapi yang pertama pulang ke rumah sang khalik, empunya kehidupan.

Dari kami berenam, dia yang pertama bersua di keabadian bersama kedua orangtua kami terkasih Thomas Bata (1933-2002) dan Theresia Masi (1943-2011).

Kisah hidup Romo Vincent Bata berakhir pada hari Senin, 18 November 2024 kira-kira pukul 16.00 Wita. 

Kami berlima saudara kandungnya dan seluruh rumpun keluarga serta handai taulan bak tersambar petir mendengar kabar duka Senin petang itu.

Kehidupan dan kematian memang begitu tipis. Kematian hadir kapan saja dia mau. Dia tak pernah bertanya kapan kita siap.

Sekian purnama telah berlalu sejak adik kami Romo Vincent Bata berpulang. Tapi jujur dikatakan, kegetiran masih membekas di hati kami manusia biasa yang rapuh.

Walau demikian serentak pula  kami memadahkan rasa syukur berlimpah, memuji Allah Tritunggal Mahakudus yang telah menuntun dan menopang kami, segenap keluarga melalui semua fase duka yang getir ini, hingga  hari ini.

Adik Romo Vincent Bata telah berdiam di keabadian. Kini tersisa kepingan-kepingan kenangan tentang dia yang berkelindan, terbayang-bayang di dalam benak, dan semoga akan terus hidup sebagai kenangan manis di hati  semua yang pernah mengenalnya. 

Meski  terus menyimpan rasa duka yang tersekat di batin saat melewati via dolorosa ini, kami segenap keluarga merasa diteguhkan dan dimampukan untuk tiada henti memuji Nama Tuhan yang maha kasih.

Terima kasih Tuhan yang telah menyembuhkan kekasih hati kami Romo Vincen dengan cara-Nya yang ajaib. Sejak 18 November 2024,  adik bungsu kami tidak sakit lagi. Tidak menderita lagi.

Vincen Bata nyaris sepanjang hidupnya selama 47 tahun selalu bersinggungan dengan klinik, rumah sakit dan obat. Muri menga gebi no oba, lukisan kata dalam Bahasa Lio. 

Tapi Tuhan sungguh baik padanya. Tuhan mengasihi dan menguatkannya. Dia paripurna melakoni hidup sebagai iman Tuhan sejak ditahbiskan di Gereja Salib Suci Maurole 23 Agustus 2007.

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah namaNya. Kepergian Aji Cen ke alam baka merupakan momen duka yang besar, namun sekaligus peristiwa mulia bagi keluarga.

Dia menyusul ayah kami Thomas Bata yang berpulang pada 8 Februari 2002 dan Mama Theresia Masi pada 3 Agustus 2011.

Kami yakin dan percaya Aji Vincen, Bapa Thomas dan Mama Theresia kini telah bersua kembali di surga. 

***

Atas kepergiannya pada 18 November 2024, kami berterima kasih kepada karyawan-karyawati Rumah Bina Kerahiman Ilahi (RBKI) Ende. 

Mereka adalah keluarga terdekat Romo Vincent sejak tahun 2016 hingga akhir hayatnya. Adik Rusmini Jeniku, Abe dan anak-anak lainnya.

Mereka telah hidup bersama penuh kasih di bawah naungan atap RBKI, medan pelayanan Romo Vincent setelah melepas tanggungjawabnya sebagai ekonom di Seminari Tinggi Interdiosesan Ritapiret Maumere.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pelayat yang datang dari mana-mana. Bajawa, Mataloo, Ruto, Laja, Mbay, Mauponggo, Nangaroro, Watuneso, Maumere dan lain-lain 

Terima kasih berlimpah kepada Bapa Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, para imam, diakon, biarawan, biarawati serta umat yang mendoakan Romo Vincent serta meneguhkan kami keluarga.

Kami sungguh merasa diteguhkan dan dikuatkan melihat begitu banyak orang yang datang melayat, mendoakan Romo Vincent Bata pada malam jaga hingga pemakamannya di Ndona pada Rabu siang 20 November 2024. 

Demikian pula pada misa peringatan 40 hari di Gereja St. Yosef Onekore Ende, 29 Desember 2024.

Kehadiran Bapa Uskup Paulus Budi Kleden, para imam seangakatan Romo Vincent serta kurang lebih 1.000 umat pada misa 40 hari, suatu bukti betapa imam dari Kampung Wolonio tersebut sungguh dikasihi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada kerabat dekat dan atau jauh yang tak mungkin kami sebut satu persatu. Tuhan maha pemurah akan membalas semua budi baik dan kasihmu buat Romo Vincent Bata, adik terkasih kami.

Teriring permohonan maaf yang tulus dari kami segenap keluarga atas khilaf dan salah Romo Vincent semasa hidup. 

"Sudah selesai," begitu kata-kata Yesus ketika wafat di Salib. Romo Vincent Bata pun telah menggenapi dengan iman perkataan Yesus, sang Imam Agung itu. "Sudah selesai!" 

Ihwal kematian, pujangga asal Libanon, Kahlil Gibran melukiskan dengan kata-kata indah berikut ini. 

"Ratap tangis oleh karena kematian manusia di Bumi, sesungguhnya adalah pesta meriah para malaikat di Surga." 

Adik terkasih Romo Vincent, beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)

Pope Of the People



Oleh: Helga Maria Evarista Gero

Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang - NTT

POS-KUPANG.COM - Dalam lanskap dunia modern yang ditandai oleh ketimpangan, migrasi paksa, kekerasan berbasis identitas, dan krisis ekologis, kehadiran Paus Fransiskus menjadi semacam suara kenabian yang melintasi batas-batas keagamaan. 

Dijuluki Pope of the People, Paus Fransiskus membawa wajah baru bagi institusi Katolik yang selama ini cenderung dianggap elitis dan konservatif.

Sejak terpilih pada 2013, Paus Fransiskus membawa angin pembaruan dalam cara Gereja Katolik memaknai keberadaannya di tengah masyarakat global yang makin dilanda krisis: ketimpangan ekonomi, krisis migran, konflik bersenjata, kerusakan lingkungan, serta dekadensi moral dalam institusi keagamaan itu sendiri. 

Ketika ia berkata, “Ini adalah waktu belas kasih, bukan Waktu ketertutupan,” ia sedang menentang arus populisme xenofobik yang tumbuh di Eropa dan Amerika Latin. Paus tidak tinggal diam. 

Ia menjadikan hak asasi manusia (HAM) sebagai basis teologis dan praksis pelayanan Gereja. 

Kita dapat membaca pendekatan Paus Fransiskus sebagai bentuk reformasi praksis — sebuah gerakan yang menyatukan spiritualitas dengan perjuangan sosial. 

Agama dalam konteks ini bukan sekadar ritual, tapi alat pembebasan. Inilah jiwa yang menjadi fondasi moral perjuangan Paus Fransiskus membela kaum miskin, tertindas, dan terpinggirkan.

Gereja yang Berjalan Bersama Kaum Miskin

Dalam dunia yang semakin dikendalikan oleh struktur neoliberal global, peran institusi keagamaan sering kali terpinggirkan, atau justru dijadikan alat legitimasi kekuasaan. 

Paus Fransiskus menolak posisi ini. Ia menegaskan bahwa Gereja tidak boleh menjadi sekadar institusi moral yang netral, melainkan komunitas perlawanan terhadap ketidakadilan.

Paus Fransiskus menyebut Gereja ideal sebagai “rumah sakit lapangan”—institusi yang hadir bukan di tempat nyaman, melainkan di tengah luka sosial: pengungsi yang tersisih, buruh migran yang diperas, keluarga miskin yang kehilangan tanah, dan lingkungan hidup yang dihancurkan. 

Gereja harus turun tangan, bukan hanya berdoa dari kejauhan. Dalam banyak pernyataannya, Paus dengan lantang mengecam sistem ekonomi global yang menciptakan “budaya pembuangan” (throwaway culture) dan menyebut kapitalisme tanpa kendali sebagai bentuk baru dari penyembahan berhala.

Enrique Dussel dan Paulo Freire (meski lebih dikenal di bidang pendidikan) mendorong gereja dan institusi sosial untuk menjadi subjek aktif dalam proses emansipasi rakyat. 

Dalam semangat itu, Paus Fransiskus mempopulerkan konsep “Gereja yang berjalan bersama umat” (synodality), yaitu gereja yang bukan menara gading tapi komunitas yang mendengarkan jeritan rakyat kecil.

Sebagai contoh, Laudato Si’ — ensiklik lingkungan yang menjadi dokumen moral dunia dalam isu krisis iklim. 

Paus Fransiskus tidak hanya bicara soal kerusakan bumi, tapi menyentuh dimensi sosial-ekologis: bahwa penderitaan bumi selalu paralel dengan penderitaan kaum miskin. 

Dalam kerangka ini, pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) bukan semata agenda politik, melainkan ekspresi iman yang hidup.

Tindakan Paus Fransiskus merupakan pembalikan struktur kekuasaan tradisional dalam gereja. 

Ia meruntuhkan tembok hierarki dan menggantinya dengan spiritualitas kerendahan hati. 

Gereja yang diperjuangkannya adalah gereja yang mengakar pada penderitaan, dan oleh karenanya, wajib menjadi bagian dari perjuangan sosial.

Kepausan dan Solidaritas Global dalam Dunia yang Terpecah

Dunia kini dilanda gelombang konservatisme, populisme, dan politik identitas yang memecah belah. 

Dalam situasi ini, Paus Fransiskus tampil sebagai tokoh dialog yang melampaui batas agama dan ideologi. Ia menjadi satu dari sedikit pemimpin dunia yang konsisten membela HAM universal.

Dalam dokumen Fratelli Tutti, Paus Fransiskus menyerukan persaudaraan lintas iman dan lintas bangsa. 

Ia juga mengecam nasionalisme sempit dan xenofobia yang berkembang di banyak negara Barat. 

Dalam setiap pidatonya, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa setiap manusia—migran, pengungsi, tahanan, bahkan penjahat—memiliki martabat yang tak dapat dicabut. 

Ia menyebut pengabaian terhadap kaum migran sebagai “skandal moral global.”

Dapat dikatakan bahwa otoritas religius tidak dapat dipisahkan dari relasi kuasa dan simbol. 

Paus Fransiskus menggunakan posisi simboliknya sebagai pemimpin religius dunia untuk melawan narasi eksklusi dan kekerasan. 

Ia menggagas budaya perjumpaan sebagai antitesis dari budaya kebencian dan polarisasi.

Dalam dunia yang makin dipenuhi tembok (secara harfiah dan simbolik), Fransiskus memilih membangun jembatan. 

Ia tidak hanya menyerukan doa bersama, tetapi juga mendesak aksi kolektif: reformasi ekonomi global, pelindungan minoritas, penghapusan hukuman mati, dan penghormatan terhadap kelompok terpinggirkan.

Paus Fransiskus bukan tanpa kritik, baik dari kelompok konservatif dalam Gereja maupun dari pihak luar yang menganggap pendekatannya terlalu politik. 

Namun justru di sanalah letak kekuatan sosok ini: ia meredefinisi peran pemimpin agama sebagai pejuang nilai-nilai kemanusiaan universal, bukan sekadar penjaga doktrin. 

Dalam konteks Indonesia, khususnya di wilayah timur seperti NTT yang masih bergumul dengan kemiskinan, ketimpangan, dan marginalisasi, inspirasi dari Paus Fransiskus bisa menjadi suluh moral.

Perjuangan HAM, misalnya, bisa dimulai dari hal-hal konkrit: membela hak pekerja migran, mendampingi korban kekerasan seksual, mengadvokasi anak-anak putus sekolah, serta melindungi tanah adat dari perampasan oleh korporasi. 

Paus Fransiskus bukan hanya “Pope of the People”—ia adalah simbol yang mengajarkan bahwa iman sejati berada di jalanan—di tempat di mana suara-suara yang dibungkam harus dibela, dan martabat manusia harus ditegakkan. 

Alih-alih menjadi penonton, kita dipanggil untuk menjadi aktor transformatif.  Seperti yang dikatakan Paus: “Iman yang tidak menjadi solidaritas adalah iman yang mati.” (*)

Sumber: Pos Kupang


Paus Fransiskus dan Orang Muda Katolik

 

Paus Fransiskus di Jakarta 2024

Oleh : Frids Wawo Lado 

POS-KUPANG.COM - Dalam satu kunjungan pastoral ke Rio de Janeiro pada 2013, Paus Fransiskus berdiri di hadapan jutaan anak muda dalam World Youth Day dan berseru: “Hagan lío!” yang berarti “Bikin keributan!”

Akan tetapi keributan yang dimaksud bukan kerusuhan, melainkan keributan iman: iman yang berani bertanya, yang tidak diam ketika dunia buta arah, yang tidak gagap menyuarakan kasih dalam zaman yang semakin gaduh dan sarkastik.

Orang Muda Katolik bukan figuran dalam drama Gereja. Mereka adalah tokoh utama di babak baru sejarah iman.

Dari Takhta Menuju Trotoar

Paus Fransiskus bukan Paus biasa. Ia bukan tipe pemimpin yang menyukai kursi empuk atau tongkat gading. 

Sejak awal kepausannya pada 2013, ia menghindari kemewahan Vatikan dan memilih tinggal di Wisma Santa Marta.

Ia lebih suka bicara tentang “Gereja yang berdebu karena keluar ke jalan” daripada “Gereja yang steril tapi mandul karena nyaman di balik tembok.”

Ia memeluk logika inkarnasi: Allah yang menjadi manusia, bukan untuk duduk di singgasana, tapi berjalan di debu jalanan. 

Maka, dalam diri Paus Fransiskus, banyak anak muda menemukan sosok gembala yang tidak menggurui, tapi berjalan bersama. 

Seperti Yesus yang berjalan dengan dua murid di Emaus, mendengarkan sebelum menjelaskan (Luk 24:13–35).

Iman yang Relevan atau Romantis Sesaat?

Bagi generasi yang dibesarkan dalam era digital, kesabaran bukanlah virtue utama.  Mereka tumbuh dalam algoritma instan dan informasi yang membanjiri.

Gereja tak bisa lagi bicara dengan bahasa abad pertengahan dalam dunia yang sedang berdansa dengan kecerdasan buatan.

 Maka Paus Fransiskus, dalam Christus Vivit (2019), menulis: "Orang muda bukan hanya masa depan Gereja, mereka adalah masa kini Allah."

Di sini ada pesan teologis yang tajam: iman tidak bisa hanya diwariskan, ia harus dikonversi secara eksistensial, menjadi milik pribadi, bukan saja tradisi keluarga.

Ini menggemakan seruan Paulus: “Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam aku” (Gal 2:20).

Data menunjukkan bahwa banyak orang muda Katolik saat ini merasa jauh dari institusi Gereja. 

Survei Pew Research Center (2022) menyebutkan bahwa lebih dari 50 persen orang muda Katolik di Amerika Latin merasa “kurang relevan” dengan pengajaran resmi Gereja. Tapi anehnya, mereka tetap tertarik pada Yesus.

Mereka mungkin kecewa pada institusi, tapi tidak pada Injil. Maka, tugas Gereja bukan membuat mereka kembali pada “aturan,” tapi menemani mereka kembali pada “relasi.”

Cor ad cor loquitur: Hati Bicara Kepada Hati

Paus Fransiskus sangat memahami adagium ini. Ia tahu, orang muda tidak sedang mencari Gereja yang “benar,” tapi Gereja yang “tulus.” 

Mereka tidak lapar doktrin, mereka haus otentisitas. Mereka ingin didengar sebelum diajari.

Maka dalam banyak homilinya, Paus lebih suka berbicara sebagai teman, bukan hakim. 

Dalam dunia yang letih oleh kebisingan, suara keheningan yang empatik justru lebih didengar.

Dalam hal ini, gaya Fransiskus sangat Augustinian: In necessariis unitas, in dubiis libertas, in omnibus caritas. 

Dalam hal-hal yang esensial: kesatuan. Dalam hal-hal yang meragukan: kebebasan. Dalam semua hal: kasih.

Orang Muda Jangan Hanya Duduk di Bangku

Proses Sinode tentang Sinodalitas (2021–2024) yang digagas Fransiskus adalah momen emas untuk mendobrak hierarki satu arah.

Ini bukan reformasi kecil-kecilan. Ini revolusi spiritual. Paus Fransiskus ingin agar Gereja bukan lagi seperti menara gading yang turun perintah, tapi seperti tenda Abraham yang terbuka, menampung suara dari pinggiran, termasuk suara orang muda yang sering hanya dijadikan objek, bukan subjek.

Ia menantang mereka untuk tidak pasif. Dalam Laudato Si’, ia berbicara tentang krisis ekologi dengan nada kenabian, dan di situlah orang muda sangat aktif, karena mereka sadar, masa depan bumi adalah masa depan mereka.

Di sinilah titik temu antara iman dan aksi sosial. Iman yang tidak mengakar dalam dunia nyata hanyalah mistik semu. Fides sine operibus mortua est, Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17).

Menjadi Katolik Bukan Menjadi Lama, Tapi Menjadi Dalam

Orang muda bukan ingin meninggalkan iman. Mereka ingin iman yang bisa berjalan bersamarealitas mereka. 

Mereka ingin tahu bahwa menjadi Katolik bukan berarti kembali ke masalampau, tapi masuk lebih dalam ke masa kini, dengan roh kasih, bukan topeng moralitas kosong.

Paus Fransiskus mengajak semua orang muda untuk jangan takut berbeda. Iman bukan soal menjadi mainstream, tapi menjadi meaningful.

Dalam dunia yang memuja kecepatan, iman mengajak untuk bertumbuh. Dalam dunia yang menuntut pencitraan, iman mengajak untuk menjadi otentik.

Maka tugas orang muda Katolik hari ini bukan mempertahankan institusi, tapi menghidupkan relasi, dengan Allah, sesama, dan bumi.

Paus Fransiskus hanya membuka pintu. Tapi kitalah yang harus melangkah masuk dan duduk di meja sejarah, membawa suara yang jernih dan hati yang bersinar.

Iman yang Bersuara, Harapan yang Bertindak

Gereja bukanlah museum orang kudus. Ia adalah rumah sakit bagi yang luka. Dan dalam rumah sakit itu, orang muda bukan hanya pasien. 

Mereka juga bisa jadi dokter, perawat, bahkan arsitek tata ruang yang baru.

Paus Fransiskus percaya pada kekuatan anak muda. Maka dunia Katolik hari ini bukan milik para kardinal di Roma semata, tapi milik mahasiswa yang gelisah di Jogja, pegiat lingkungan di Kupang, relawan sosial di Papua, dan seniman rohani di Bandung.

“Veritas vos liberabit.” Kebenaran akan memerdekakan kamu (Yoh 8:32). Tapi kebenaran hanya akan didengar jika ia disampaikan dengan kasih dan kehadiran yang nyata.

Jadi, jangan hanya bikin konten. Bikin perbedaan. Jangan hanya hadir di misa. Hadirlah di dunia.

Karena seperti kata Paus Fransiskus: “The Church needs you. The world needs you. Don’t be afraid to dream big.” Gereja membutuhkanmu, dunia membutuhkanmu, jangan takut bermimpi besar.

Selamat jalan menuju keabadian Papa Fransiskus, dan selamat berjumpa dengan Sang Gembala Agung. Nasihat dan kebajikan-kebajikanmu menjadi inspirasi kami semua yang masih berziarah di muka bumi yang fana ini. (*)

Sumber: Pos Kupang

Dikasihi maka Dipilih, Kenangan Atas Sri Paus Fransiskus

Paus Fransiskus di Jakarta 2024

Oleh: RD. L  eo Mali

Rohaniwan dan Dosen Filsafat pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang

Pada pagi yang tenang, 21 April 2025, pukul 07.35 waktu Roma, lonceng lonceng Vatikan berdentang dalam hening yang menggema ke seluruh penjuru dunia. 

Kabar duka datang: Kardinal Joseph Kevin Farrell, Camerlengo Takhta Suci, mengumumkan, "Il Vescovo di Roma è tornato alla casa del Padre." Uskup Roma, Paus Fransiskus, telah kembali ke rumah Bapa. 

Sejenak dunia berhenti, dan hati saya — seorang imam kecil yang pernah mengenyam pengalaman studi di Roma — terdiam, terangkat dalam doa yang perlahan berubah menjadi kenangan. 

Selama berada di Roma, saya pernah bertemu beliau dua kali dalam audiensi Natal, pada Desember 2018 dan 2019. 

Namun, bukan pertemuan-pertemuan itu yang terpatri paling kuat dalam hati saya meski banyak hal yang bisa diceritakan. 

Namun hal yang ingin saya tulis di sini adalah justru sebuah pertemuan yang tak pernah terjadi. Anehnya, justru peristiwa itulah yang paling mendalam, membentuk ikatan batin yang lebih kuat, lebih spiritual.

Kisah ini bermula dari satu devosi yang sederhana namun penuh makna: “Maria yang Mengurai Simpul Kehidupan” — Madonna che scioglie i nodi. 

Devosi ini dikenal Paus Fransiskus, saat itu masih seorang Pastor Bergoglio, ketika menjalani studi di Jerman tahun 1986. 

Di sebuah gereja kecil di Augsburg, ia menemukan lukisan karya Johann Georg Melchior Schmidtner dari abad ke-18: Maria sedang mengurai pita yang kusut, dibantu dua malaikat. Ia terdiam di hadapan lukisan itu. 

Bagi Bergoglio, Maria dalam lukisan itu bukan sekadar simbol. Ia adalah Ibu yang sabar, lemah lembut, yang mengurai kerumitan hidup umat manusia, simpul demi simpul, tanpa keluh, tanpa henti. 

Sepulang ke Argentina, devosi ini diperkenalkannya kepada umat, dan perlahan berkembang menjadi salah satu devosi paling dicintai di Amerika Latin. 

Namun, devosi ini tidak hanya berkembang karena pewartaan, tetapi karena ia sendiri pernah terjerat simpul-simpul kehidupan. 

Studi doktoralnya di Frankfurt tidak selesai, mungkin karena kendala bahasa, tekanan pastoral, atau ketidakcocokan dengan pendekatan akademik Jerman. 

Pengalaman itu menjadi luka batin. Tapi justru dari luka itulah ia tumbuh  dan berkembang.

Tahun 1990-1992, ia mengalami masa yang oleh banyak orang disebut sebagai “pengasingan spiritual”. Ia dikirim ke Córdoba, jauh dari pusat kekuasaan Gereja, tanpa jabatan, tanpa peran publik. 

Ia hidup dalam kesunyian: menjadi pembimbing rohani, mendengar pengakuan dosa, membaca, dan menulis. 

Dua tahun itu menjadi masa discernment, pembedaan roh. Dalam keheningan dan kerapuhan, ia belajar mendengar suara Roh Kudus yang halus tapi pasti. 

Di sanalah ia belajar bahwa Allah berkarya bukan hanya dalam kemenangan dan pencapaian, tetapi juga dalam kegagalan, kejatuhan, dan luka-luka yang dihayati dalam kepercayaan. 

Kelemahan-kelemahan manusia adalah jalan untuk mengenal belas kasih dan kerahiman Allah. 

Itulah titik di mana harapan tumbuh. Motto kepausannya, Miserando atque eligendo— “Ia dikasihi, maka dipilih” — tidak dapat dipisahkan dari pengalaman-pengalaman seperti ini. 

Bagi Paus Fransiskus, belas kasih bukanlah konsep atau retorika. Ia adalah jalan hidup.  Dan Maria, dalam devosi yang ia cintai, adalah Ibu yang setia berjalan bersama manusia, bahkan dalam kesendirian dan kekusutan hidup mereka.

Pada tahun 2021 hingga 2023, saya mengalami masa-masa yang berat selama studi di Roma, terutama dalam pengerjaan disertasi pasca-pandemi. 

Dalam kelelahan dan keraguan dan hampir putus asa, saya teringat pada kisah Pastor Bergoglio muda di Jerman dengan problemnya dan devosi kepada Maria yang mengurai simpul kehidupan. 

Dengan mendengarkan dorongan hati, saya menulis surat kepada Paus Fransiskus pada 17 Februari 2023 — curahan hati, permohonan doa, dan pengakuan atas beban batin yang sedang saya tanggung sebagai seorang pastor student. 

Tak lama kemudian, pada 15 Mei 2023, saya menerima jawabannya. Singkat tapi lembut dan penuh kehangatan. 

Tidak ada kalimat panjang. Tapi cukup untuk membuat air mata saya menetes. Ia, Sri Paus yang agung itu, meluangkan waktu menjawab surat seorang mahasiswa biasa. 

Dalam kata-katanya, saya merasakan pemahaman yang tidak lahir dari buku atau teori, melainkan dari luka yang disucikan dan dijalani dalam doa. 

Saya tahu, dia sungguh mengerti. Sebuah pengertian yang lahir dari pengalamannya sendiri.

Tapi sebelum saya menerima surat jawaban beliau, beberapa hari setelah saya kirim surat melalui seorang kawan imam, tepatnya 25 Februari 2023, saya terpilih menjadi salah satu dari enam mahasiswa yang pertanyaannya akan dijawab langsung oleh Paus dalam sebuah audiensi khusus di Vatikan.

Namun, malam sebelumnya saya terjaga hingga dini hari, menyelesaikan bagian disertasi yang harus dikirim pagi harinya. Kelelahan membuat saya tertidur dan melewatkan kesempatan berharga itu.

Ketika terbangun, telepon saya dipenuhi pesan dari rekan-rekan imam Indonesia: “Romo, di mana? Namamu dipanggil berkali-kali.” 

Awalnya ada rasa sesal, tentu. Tapi kemudian saya tahu bahwa pertemuan sesungguhnya terjadi melalui suratnya, dalam devosinya, dalam hidupnya. 

Saya tahu apa pertanyaan saya. Dan saya tahu pula bahwa jawabannya telah ia beri: dalam caranya menghidupi cinta yang penuh belas kasih, dalam ketekunannya berjalan bersama mereka yang hidupnya terjerat simpul, dan dalam keyakinannya bahwa Maria akan selalu hadir, sabar mengurai keruwetan masalah hidup kita.

Paus Fransiskus pernah berkata bahwa Maria adalah ibu yang tidak meninggalkan kita di tengah malam kehidupan. 

Karena itu, ketika ajal menjemput, ia meminta untuk dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore —tempat yang ia selalu ia kunjungi sebelum dan sesudah setiap perjalanan apostoliknya. 

Di sana, ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Ibu yang senantiasa mengurai benang kusut kehidupan kita dan menenun kembali simpul-simpul yang tercerai. 

Saya merasa bersyukur bisa mengenalnya, meski hanya sejenak, dari kejauhan, melalui kata dan doa. 

Ia adalah imam, gembala, murid Maria, yang menunjukkan bahwa kesucian hati tumbuh dalam keheningan, dalam luka yang dipeluk dengan iman, dalam doa yang tak terdengar tapi penuh kasih dan harapan. 

Selamat jalan, Bapa Suci. Dari dalam simpul-simpul hidup kami yang belum terurai, kami tahu engkau kini mendoakan kami — bersama Maria, Ibu yang lembut, yang tidak pernah lelah membantu kami menemukan kembali makna dari pengharapan dan cinta. (*)

Sumber: Pos Kupang

Warisan Paus Fransiskus Tak Pernah Mati



Paus Fransiskus di Jakarta 2024

Oleh: Gabriel Ola

Umat Katolik,  tinggal di Keuskupan Maumere

POS-KUPANG.COM - Kabut duka menyelimuti Vatikan. Ar mata berderai menetes di setiap kelopak mata umat Katolik sejagat. 

Dunia menangis ketika mendengar pemimpim umat Katolik  Paus Fransiskus meninggal pada Senin, 21 April 2025 di Vatikan. Lonceng berdentang di Basilika St. Petrus sebagai penanda telah berpulangnya sang pemimpin.

Gema lonceng membahana ke seluruh telinga, menembus sukma insan. Terdengar oleh semua suku,agama, golongan, ras dan bangsa; kerena ia bukan sekadar gembala Katolik. Dia  adalah imam dunia. Ia adalah penabur dan pemerkokoh nilai-nilai kemanusiaan universal.

Untuk mengenang kepergiannya (17 Desember 1936-21  April 2025) sepantasnya kita melihat dan mengenang kembali pemikiran (nilai) yang diwariskannya teritimewa tentang pentingnya merawat bumi yang telah dirumuskan dalam ensiklik Laudato Si. 

Bumi adalah ibu; menggambarkan bumi sebagai sumber kehidupan dan tempat yang memelihara semua makhluk hidup. 

Oleh kerena itu kita perlu merawat dan menjaga keseimbangan, kelestarian demi kepentingan generasi mendatang.

Tentang merawat bumi adalah ibu menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat manusia dan diletakan dalam sebuah kesadaran bahwa merupakan panggilan kolektif  dan sebagai perwujudan iman tentang mencintai ciptaan Tuhan.

Bagi Jorge Mario Bergoglio, nama asli Paus Fransiskus,  dalam buku Laudato Si,  bumi saat ini sedang terluka akibat dari ulah kaum kapitalis yang mengeruk demi kepentingan penguasaan ekonomi. 

Keprihatinan Paus Fransiskus diungkapkan melalui ensiklik Laudato Si. Ia mengkritik kapitalisme sebagai, “penyembahan terhadap pasar dan mengejar keuntungan di atas segalanya dapat mengakibatkan pengabaian akan martabat manusia dan lingkungannya”.

Beliau menegaskan bahwa  “pasar sendiri tidak  dapat menjamin pembangunan manusia yang inklusif dan berkelanjutan (LS.109). Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa kapitalisme sebagai bentuk “kolonialisme baru.”

Pandangan ini menunjukkan bahwa penguasaan terhadap sumber daya alam oleh kaum kapitalis  telah memarjinalkan kaum miskin yang tidak memiliki daya akses terhadap persaingan ekonomi yang begitu pesat dan kuat dari kaum kapitalis. 

Menghadapi situasi ini Paus Fransiskus menyuarakan dengan lantang “dampak dari pelanggaran terhadap lingkungan hidup terutama dirasakan oleh kaum miskin paling rentan,  mereka tidak memiliki sumber daya untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim atau untuk menghadapi bencana alam yang sring terjadi (LS.25).

Manusia, teristimewa kaum kapitalis, saat ini cendrung melihat bumi dan isinya merupakan sumber daya yang mesti dikelola umtuk menguatkan daya ekonomi mereka. 

Mereka saling berlomba uutuk penguasaan terhadap berbagai kekayaaan yang ada dalam perut bumi dengan tidak memperhatikan keseimbangan ekosistim lingkungan. 

Mereka mengabaikan keutuhan ciptaan Tuhan. Mereka lupa bahwa bumi diciptakan oleh Tuhan untuk kepentingan umat manusia  secara keseluruhan bukan untuk kepentingan sekelompok orang (kaum kapitalis) apalagi penguasaan secara sepihak dengan merusak alam, dan merusak alam merupakan dosa terhadap Tuhan dan terhadap alam dan sesama. 

Saai ini umat manusia sedang mengalami degradasi kesadaran ekologis. Oleh karena itu Paus Fransiskus menyerukan perlunya pertobatan ekologis.

Sebuah pertobatan agar adanya perubahan mendalam dalam cara manusia memandang, berinteraksi dan berperilaku dengan alam. 

Pertobatan ekologis juga mencakup perubahan gaya hidup ekonomi, dan politik untuk menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan. 

Pertobatan ekologis menurut Laudato Si merupakan panggilan untuk menjadi warga dunia yang bertanggungjawab, peduli dan mencintai alam sebagai rumah bersama.

Semangat Laudato Si yang digaungkan oleh Paus Fransiskus seperti yang diuraikan di atas mestinya dibumikan dalam konteks lokal agar nilai yang telah diwariskan tidak mati ditelan bumi tapi mesti dihidupi. 

Dalam konteks lokal kita menyaksikan berbagai kondisi riil yang menjadi perdebatan hangat terkait  rencana pengelolaan Geothermal di daratan Flores yang berpotensi terciptanya ketidakseimbangan ekosistem lingkungan. 

Situasi ini telah memicu sekelompok masyarakat menolak rencana pengelolaan geothermal. 

Tidak hanya  sekelompok masyarakat,  sejumlah uskup yakni Uskup Agung Ende, Uskup Maumere, Uskup Larantuka, Uskup Denpasar, Uskup Manggarai  dan Uskup Labuan Bajo memberikan reaksi penolakan terdadap rencana pengelolaan geothermal di Flores. 

Sikap gereja menunjukkan keberpihakan terhadap kaum yang terdampak dari proyek geothermal. 

Sikap para uskup mencerminkan perlunya menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan sehingga bumi Flores tidak menjadi tempat yang membahayakan bagi umat dan masyarakat. 

Sikap para uskup juga menjadi sebuah awasan gara para pihak yang berkepentingan  semakin bijaksana dalam mengambil  keputusan sehingga bumi Flores yang penuh kedamaian, ketenangan, bumi yang sejuk, ramah tetap terpelihara.

Kita patut beri apresiasi kepada para uskup yang telah mengambil Langkah konkret untuk menjaga bumi seperti yang diamanatkan  dalam Laudato Si. 

Karena itu Paus Fransiskus telah meninggalkan kita semua tapi nilai yang diwariskan mari kita hidupi. Warisannya tak pernah mati.

Paus mengatakan “Agama harus berhenti hanya membicarakan surga.” Katanya “jika ia membiarkan bumi menjadi neraka bagi generasi mendatang”.

Bagi Sri Paus, bumi adalah bagian dari tubuh spiritual manusia, bumi adalah tubuh bersama (our common home). 

Karena itu menjadi panggilan suci nuntuk semua umat manusia untuk secara kolektif mari kita merawat bumi kita, bumi adalah ibu kita. 

Laudato Si mengingatkan kita bahwa manusia bukan menguasai bumi, tapi bumi adalah saudara tua dari ciptaan lainnya.

Maka peran kita bukan menaklkukan tapi memelihara dan bukan mengambil tanpa batas. 

Sekali lagi peran gereja sangat sentral dalam mengajak umat dan masyarakat untuk memelihara lingkungan. 

Karena itu Bapak Uskup Maumere dalam Surat Gembala   dengan tema Pertobatan Ekologis telah mengajak umat keuskupan Maumere untuk merawat bumi.

Berpulangnya Paus Fransiskus meninggalkan kenangan bagi masyarakat Indonesia. 

Kunjungan kenegaraan dan pastoral ke Indonesia pada  tanggal 3 – 6 September 2025 adalah kunjungan kemanusiaan dengan misi menebar nilai cintah kasih antar sesama dan memperkokoh toleransi antarumat beragama dalam sebuah negara yang sangat majemuk. 

Kunjungan ini juga memberi pesan keteladanan dalan hidup sederhana, kerena ia tak sungkan menyapa umat, masyarakat yang dijumpai dengan keramahannya.

Dia  mengasihi tanpa batas, mengasihi dalam perbedaan. Ia datang untuk meneguhkan kembali serpihan toleransi. 

Baginya mencintai apalagi mencintai yang lemah dan papa adalah nilai universal. 

Ia menanamkan cinta yang utuh yakni cinta terhadap Tuhan, cinta terhadap sesama dan cinta kepada alam ciptaan-Nya. “Kita tak bisa mencintai Pencipta sambil terus menyakiti Ciptaan-Nya”.

Paus Fransiskus engkau adalah pemimpin umat Katolik dan dunia. Jasadmu telah bersatu dengan bumi tapi nilai yang telah engkau wariskan kepada umat dan dunia tentang merawat bumi serta keserderhanaan dan cinta melampaui batas  adalah nilai yang tak akan pernah mati. 

Kami akan mewariskannya. (*)

Sumber: Pos Kupang

Legasi Paus Fransiskus bagi Kelestarian Ekologis


Paus Fransiskus di Jakarta 2024

Oleh: Patrix Wea

Pegawai pada Kanwil Kementerian Agama NTT

POS-KUPANG.COM - Ensiklik Laudato Si (2015) dari Paus Fransiskus telah menjadi tonggak penting dalam perjuangan global untuk kelestarian ekologis. 

Dengan judul "Tentang Merawat Rumah Bersama Kita," dokumen ini menekankan bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan adalah masalah moral yang memerlukan tindakan konkret dari seluruh umat manusia.

Kerusakan lingkungan dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah lingkungan telah mencapai tingkat yang sangat serius. 

Deforestasi terus menjadi bentuk pencemaran lahan yang sangat merusak, dengan luasan besar tutupan pohon yang dibabat setiap tahun untuk tujuan pertanian demi memenuhi permintaan komoditas yang terus meningkat. 

Pencemaran lingkungan melalui sampah plastik juga  semakin serius, dengan sekitar 150 juta ton sampah plastik yang terakumulasi di lautan dan sungai dunia pada tahun 2020. Diperkiran sampah plastik tersebut akan berlipat ganda pada tahun 2040. 

Di Indonesia, berdasarkan laporan Greenpeace Asia Tenggara, antara tahun 2015-2019, sekitar 4,4 juta hektar lahan telah terbakar di Indonesia, yang setara dengan 8 kali luas Pulau Bali.

Pada tahun 2019, kebakaran hutan tahunan terburuk sejak 2015 membakar 1,6 juta hektar hutan dan lahan. 

Selain itu, 30 persen dari area kebakaran berada di konsesi kelapa sawit dan bubur kertas. Kerusakan lingkungan ini tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tetapi juga mengancam satwa liar asli Indonesia yang terancam punah.

Data Forest Watch Indonesia juga mencatat antara 2017 hingga 2021, Indonesia kehilangan 2,54 juta hektare hutan per tahun—setara dengan enam lapangan sepak bola hilang setiap menit. 

Ini bukan sekadar angka, tetapi alarm dari jantung bumi. Kita sedang kehilangan warisan kehidupan.

Dalam konteks lebih sempit, di kota Kupang, masalah utama yang dihadapi saat ini adalah masalah sampah. 

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang tahun 2022, sampah di Kota Kupang mencapai 86 ton sampah per hari sementara tahun 2021 mencapai 218,98 ton per hari.

Laudato Si

Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa lingkungan adalah karya Tuhan yang harus kita hargai dan jaga. 

Ia menekankan bahwa kita memiliki kewajiban moral untuk merawat bumi ini, tidak hanya untuk kesejahteraan kita sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang.

Lingkungan adalah sumber kehidupan dan kesehatan bagi semua makhluk hidup, dan kerusakan lingkungan dapat berdampak buruk pada kesejahteraan manusia dan keanekaragaman hayati.

Paus Fransiskus menjelaskan, lingkungan adalah karya Tuhan yang harus kita hargai dan jaga. 

Ia menekankan bahwa kita memiliki kewajiban moral untuk merawat bumi ini, tidak hanya untuk kesejahteraan kita sendiri, tetapi untuk generasi mendatang. 

Lingkungan adalah sumber kehidupan dan kesehatan bagi semua makhluk hidup, dan kerusakan lingkungan dapat berdampak buruk pada kesejahteraan manusia dan keanekaragaman hayati.

Paus melihat beberapa masalah lingkungan yang sangat mendesak, antara lain perubahan iklim, pencemaran dan sampah, serta kehilangan keanekaragaman hayati. 

Paus Fransiskus mengakui perubahan iklim adalah fenomena nyata yang terutama disebabkan aktivitas manusia. 

Ia menekankan bahwa perubahan iklim dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti peningkatan suhu global, peningkatan permukaan laut, dan peningkatan bencana alam.

Pencemaran lingkungan dan masalah sampah menurutnya lahir dari tingginya budaya konsumsi dan rendahnya kesadaran ekologis. Pembuangan sampah plastik telah menciptakan lingkungan yang semakin tercemar. 

Pencemaran udara, air, dan tanah telah mencapai tingkat yang sangat merusak. 

Terkait krisis keanekaragaman hayati, Paus Fransiskus menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati di bumi telah terancam karena deforestasi, perburuan liar, dan perubahan habitat. Ia menekankan bahwa keanekaragaman hayati adalah bagian penting dari keseimbangan ekologis.

Laudato Si menawarkan beberapa solusi dan tindakan konkret untuk mengatasi masalah lingkungan, antara lain melalui Kebijakan dan Regulasi, Pendidikan dan kampanye kesadaran ekologis serta  tindakan individu.

Paus Fransiskus menyerukan perlunya kebijakan pemerintah yang tegas dan terorganisir untuk menjatuhkan sanksi terhadap pelanggaran lingkungan. 

Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam mengatur industri dan mempromosikan kegiatan yang ramah lingkungan. Paus juga menekankan pentingnya pendidikan dan kesadaran lingkungan. 

Ia mengajak sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan lainnya mengintegrasikan isu lingkungan dalam kurikulum mereka.

Kedua hal tersebut pada akhirnya berujung pada tindakan individu. Paus Fransiskus mengajak setiap individu mengambil tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari. 

Setiap orang dapat berkontribusi nyata dalam menciptakan dan menjaga kelestarian ekologis dengan mengurangi penggunaan plastik dan mendukung produk-produk ramah lingkungan.

Bagaimana dengan kita? Pemerintah Indonesia telah memiliki kesadaran terkait krisis ekologis, antara lain dengan lahirnya Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan dan Undang-undang No. 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. 

Undang-undang No. 41 tahun 1999 antara lain menyebutkan pengelolaan hutan harus dilakukan dengan kegiatan-kegiatan seperti tata hutan, penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan, rehabilitasi dan reklamasi hutan, serta perlindungan hutan dan konservasi alam. 

Sementara Undang-undang No. 18 tahun 2008 menegaskan antara lain tentang pengelolaan sampah yang perlu dilakukan secara komprehensif, yang meliputi tindakan pengurangan sampah dan penanganan sampah. 

Peraturan-peraturan tentu bagus bila dapat diimplementasikan. Sayangnya aturan-aturan turunannya, terutama dalam bentuk Perda/Perbup/Perwali, sepertinya  belum cukup dan tidak bersifat komprehensif. 

Sebagai misal masalah sampah saja. Solusi yang diberikan oleh pemerintah sampai hari ini sepertinya solusi palsu yang hanya memindahkan sampah dari satu lokasi ke lokasi lain. 

Kegiatan bersih-bersih kota tentu baik dan harus terus ada baik oleh masyarakat maupun instansi pemerintah. Namun kegiatan bersih-bersih  seperti itu saja tidak cukup untuk menangani permasalahan sampah tersebut. 

Wacana wali kota Kota Kupang yang baru  menelurkan regulasi yang bersifat koersif dengan memberikan sanksi bagi pembuang sampah sembarangan tentu menjadi salah satu solusi yang patut kita apresiasi dan dukung.

Hal penting kedua yang menjadi catatan kita adalah perlunya kampanye masif untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. 

Sebagaimana dikatakan Paus di atas, sekolah, universitas, dan Lembaga pendidikan lainnya perlu  integrasikan isu lingkungan dalam kurikulum mereka. Hal ini penting untuk menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini. Kita akui bahwa hal ini belum menjadi perhatian. 

Pendidikan dan kurikulum di Indonesia saat ini sepertinya belum berkiblat untuk menumbuhkan kesadaran ekologis peserta didik.

Kampanye masif juga dapat dilakukan melalui gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh pemerintah dan LSM, antara lain seperti yang dicanangkan oleh Kementerian Agama RI melalui Gerakan Nasional Penanaman Satu Juta Pohon Matoa, pada peringatan Hari Bumi, 22 April 2025. 

Regulasi dan kampanye kesadaran ekologis tersebut ujung-ujungnya mesti menumbuhkan kesadaran ekologis dan tindakan individu pada masyarakat kita. 

Selama belum ada kesadaran dan Tindakan individu dan komunal, maka selama itu krisis ekologis akan terus menjadi pekerjaan rumah yang tidak habis-habisnya, sampai ketika semuanya sudah terlambat dan bumi tidak lagi menjadi tempat diam yang nyaman.

Paus Fransiskus dalam Laudato Si mengingatkan kita bahwa lingkungan adalah karya Tuhan yang tak ternilai dan harus kita hargai serta jaga dengan penuh tanggung jawab. 

Ia menekankan bahwa kita memiliki kewajiban moral yang tak terbantahkan untuk merawat bumi ini, bukan hanya untuk kesejahteraan kita sendiri, tetapi lebih dari itu, untuk generasi mendatang yang akan mewarisi dunia ini. 

Seperti dikatakannya, "Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita. Kita meminjamnya dari anak cucu kita." Kebijaksanaan ekologisnya ini mengingatkan kita bahwa setiap tindakan hari ini akan menentukan masa depan bagi mereka yang belum lahir. 

Kebijakan yang tegas, pendidikan dan kampanye ekologis yang komprehensif, dan tindakan individu yang nyata, kiranya menjadi legasi Paus Fransiskus kita untuk dapat mulai memperbaiki kerusakan yang telah terjadi dan menciptakan dunia yang lebih baik. 

Buon viaggio Papa Francesco! (*)

Sumber: Pos Kupang


Fransiskus: Sang Gembala dengan Bau Domba


Paus Fransiskus 

Oleh: AS Laksana

Pada malam 13 Maret 2013, ketika ia pertama kali muncul di balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, setelah terpilih sebagai Uskup Roma ke-266, Jorge Mario Bergoglio tidak mengangkat tangannya untuk memberkati. 

Ia berkata “Buona sera”—selamat malam—dan membungkuk, meminta orang-orang memberkatinya. Gestur itu sederhana dan memukau. Malam itu, orang menyaksikan kepausan yang tidak menampilkan keagungan, tetapi kerendahan hati.

Ia menolak salib emas dan memilih salib logam biasa di dadanya, menolak mantel merah dan memilih jubah putih, dan memilih nama Fransiskus, nama santo yang hidup bersama kaum miskin, menolak kekuasaan, dan mencintai ciptaan. 

Ia lebih suka menyebut dirinya Uskup Roma, untuk menjadikan posisinya setara dengan semua uskup di tempat-tempat lain, ketimbang Pontif atau Vikaris Kristus atau gembala tertinggi. 

Dalam hitungan jam, dunia menyadari bahwa ia akan menjadi paus yang sangat berbeda.

Dan memang begitu. Selama 12 tahun masa kepausannya, Paus Fransiskus berusaha menata ulang sirkuit moral Gereja Katolik, mengarahkannya dari kekuasaan dan kemurnian ajaran menuju belas kasih dan kedekatan, dan itu tidak mudah. 

Kepausannya kerap terhambat oleh inersia Vatikan dan perlawanan internal. Namun ia berhasil, setidaknya sebagian, dalam upayanya mengembalikan “bahasa Injil”—bahasa yang digunakan oleh Yesus terhadap kaum jelata—ke pusat Gereja Roma. Ia tidak mereformasi doktrin; ia mengubah nada bicara.

Di Buenos Aires, sebelum menjadi paus, Uskup Agung Bergoglio kerap terlihat di Jalur E metro, mengenakan pakaian hitam rohaniwan, tak dikenali oleh sebagian besar penumpang. 

Suatu ketika, ia duduk di dekat pintu dan seorang perempuan di sampingnya bertanya, “Padrecito, maukah anda mendengarkan pengakuan dosa saya?” Ia mengangguk. 

Di hari lain, seorang pria mencurahkan daftar dosa yang begitu panjang hingga ia harus menghentikan orang itu: “Bueno, saya turun dua halte lagi.”

Mengenai hal itu, ia berpegang pada keyakinan bahwa para imam harus “berbau seperti domba mereka”. Mereka harus benar-benar mengenal kehidupan orang-orang yang mereka layani. 

Ia akrab dengan jalanan berlumpur dan perkampungan kumuh, tempat di mana negara nyaris tak hadir dan Gereja hampir tak terlihat, dan singgah di sana untuk memberkati anak-anak, ikut dalam prosesi, berbicara dengan para migran, pecandu, dan ibu dari orang-orang hilang. Mereka memanggilnya Padre Jorge. 

Ia pernah menemui gadis kecil yang menyaksikan kengerian yang tak seharusnya dilihat oleh anak mana pun. 

Gadis kecil itu, yang diadopsi dari perkampungan kumuh, menggambar adegan-adegan mengerikan di rumah, yang kemudian terungkap di dalam terapi bahwa ia telah menyaksikan aborsi. Ia melihat janin dilempar ke anjing untuk dimakan. 

Orang tua angkatnya terpukul. Padre Jorge tidak. Ia akrab dengan dunia itu dan akrab dengan segala jenis kekerasannya. 

Pada 2009, ketika salah satu imamnya, Pastor Pepe Di Paola, secara terbuka menentang perdagangan narkoba di kawasan kumuh Buenos Aires, Bergoglio, sang uskup agung, memindahkan Padre Pepe ke paroki lain di utara kota ketika ancaman dari para bandar semakin menakutkan. 

Kepadanya Bergoglio mengatakan: “Aku lebih memilih mereka membunuhku daripada salah satu dari kalian.”

Ketika seorang imam jatuh cinta dan mengatakan kepadanya ingin keluar dari imamat, ia mempersilakannya, dengan nasihat jangan buru-buru punya anak. Dua tahun kemudian, ketika hubungannya kandas, sang imam kembali dan memohon diterima lagi. 

Bergoglio mengizinkannya, tapi ia harus lebih dulu menjalani lima tahun selibat sebagai warga biasa. Kini, pria itu, menurut para imam setempat, adalah salah satu yang paling dihormati di kota.

Fransiskus memimpin dengan cara merangkul dan mendengarkan, dan ia tak suka pada kekakuan birokratis—pada para rohaniwan yang menghalangi sakramen dengan peraturan dingin dan pemungutan biaya. 

Orang-orang miskin, katanya, hidup demi bertahan hidup, bukan untuk lulus ujian moral. Ia ingin gereja hadir bukan untuk mengontrol orang, melainkan menemani mereka.

“Saya ingin Gereja menjadi miskin dan dekat dengan orang-orang miskin,” katanya. Itu membuat orang-orang di Kuria Roma, “kabinet” dalam sistem kepausan, resah. 

Sejak awal masa jabatannya, Fransiskus menghadapi berbagai kecurigaan dan bahkan perlawanan aktif. Kardinal-kardinal berpengaruh melobi dan menentang reformasinya dan menyebarkan keraguan tentang ortodoksi teologinya. 

Fransiskus, seorang Jesuit yang menempa dirinya di daerah-daerah kumuh, tahu cara menghadapi urusan semacam itu: ia memilih diam, atau membuat khotbah yang tajam meskipun nadanya tetap lembut. 

Ia mengkritik “kaum Farisi modern,” sebutannya untuk mereka yang lebih peduli pada aturan daripada kasih. Ia mengecam “Alzheimer spiritual” yang menimpa mereka yang melupakan sukacita Injil. 

Tetapi pada dasarnya ia seorang humoris. Ia sering bercanda tentang kematiannya, tentang kepausan sebagai “salib yang tidak dicari”, dan tentang bangsanya sendiri. 

Orang Argentina sering dianggap percaya diri berlebihan (kadang dianggap arogan), termasuk oleh bangsa-bangsa Latin lainnya, dan tentang hal itu ia berkelakar: “Tahu bagaimana cara orang Argentina bunuh diri? Ia akan naik ke atas egonya sendiri lalu meloncat.”

Ia lahir di Buenos Aires, 1936, anak dari imigran Italia, menjadi seorang Jesuit, imam, lalu uskup, dan terus menempuh jalan yang akan ia lanjutkan kelak di masa kepausannya, ialah berjalan bersama kaum miskin dan mendengarkan mereka yang butuh didengarkan, seperti yang ia sering lakukan di metro.

Tak lama setelah ia terpilih, fotonya menjadi viral: Ia memeluk seorang pria dengan neurofibromatosis yang menjadikan wajahnya sangat cacat. 

Ia juga memeluk para narapidana, membasuh kaki para pengungsi, mencium anak-anak penyandang disabilitas, dan ia suka menelepon. 

Ia menelepon perempuan yang suaminya dibunuh, ibu yang anaknya diperkosa, dan seorang anak yang menulis surat tentang kematian. Ia sendiri yang menelepon mereka dari Vatikan.

Bagi banyak kaum tradisionalis, ia terlalu sering mengejutkan. Para pengkritik menyebut teologinya terlalu lembek. Prioritasnya, kata mereka, tidak tepat. 

Ia menjawab dengan menunjuk Kristus. “Tuhan tidak takut pada hal-hal baru,” katanya. “Itu sebabnya Dia selalu mengejutkan kita.” 

Namun Fransiskus juga menghadapi badai yang tak bisa dihindari. Kasus pelecehan seksual di Gereja, yang menjadi masalah sejak lama, meledak juga di masa kepausannya. 

Dan ia melakukan kesalahan saat membela para uskup di Chili yang menutupi kasus pelecehan. Baru kemudian ia menyadari bahwa ia keliru, dan ia meminta maaf atas kekeliruan itu.

Kesulitan terbesarnya yang lain adalah mereformasi Kuria Roma. Ia memulai proyeknya, menghadapi perlawanan, dan terus mencoba. Beberapa langkahnya berhasil—seperti mereformasi keuangan Vatikan dan menjadikannya lebih transparan. Yang lain mandek. 

Penanganan pelecehan seksual di banyak keuskupan tetap lamban, pendekatannya terhadap LGBT dan orang-orang yang bercerai dan menikah lagi memicu perpecahan karena tak pernah diatur secara jelas.

Tahun-tahun terakhirnya ditandai dengan penurunan, baik dalam energi maupun jangkauan, terutama karena kesehatannya merosot. 

Namun, ia ingin terus berjalan dan tak punya rencana mengundurkan diri, sebab baginya pelayanan kepausan adalah komitmen seumur hidup, kecuali jika kondisi fisiknya benar-benar menghalanginya untuk menjalankan tugas. 

Ia tahu ada banyak kritik terhadap kepemimpinannya, tetapi ia merasa masih memiliki banyak hal yang ingin ia capai dalam pelayanannya.

Seperti tak mau istirahat, pada Kamis Putih, 17 April 2025, ia mengunjungi penjara Regina Coeli di Roma. 

Para narapidana meneriakkan "doakan kami!", dan ia menjawab, seperti yang ia ucapkan di hari pelantikannya: "Doakan saya." 

Ia juga menelepon komunitas Kristen di Gaza menyampaikan bahwa ia berdoa untuk mereka, memberkati mereka, dan berterima kasih atas doa-doa mereka untuknya.

Pada hari Paskah, Minggu 20 April 2025, ia memberikan berkat Urbi et Orbi—untuk kota (Roma) dan dunia—yang dibacakan oleh anggota klerus setelah ia menyampaikan sapaan pembuka: "Saudara-saudari, Selamat Paskah!" 

Pada 21 April 2025 ia harus rela melepaskan banyak hal yang masih ingin ia capai. 

Ia meninggal pada usia 88, dan ia meninggalkan jalan kepausan yang belum pernah ditempuh oleh para pendahulunya: ke bawah, menuju yang paling hina; ke luar, menuju dunia; ke dalam, menuju wajah Kristus. (*)

In Memoriam Paus Fransiskus


Paus Fransiskus

Oleh Denny JA

Pada musim dingin tahun 2013, sebuah perahu kayu yang rapuh karam di lepas pantai Lampedusa, Italia. Itu pulau kecil di perbatasan Afrika Utara dan Eropa.

Lebih dari 360 pengungsi dari Eritrea dan Somalia tenggelam dalam laut yang membeku. Mayat-mayat mereka ditemukan terapung, terbungkus selimut darurat aluminium, di antara puing-puing perahu dan doa yang tak sempat diselesaikan.

Beberapa hari kemudian, Paus Fransiskus datang ke Lampedusa. Tanpa prosesi megah. Tanpa singgasana emas.

Ia hanya membawa salib kayu yang terbuat dari serpihan kapal karam. Di atas altar darurat, ia merayakan misa bagi jiwa-jiwa yang tak sempat disambut dunia.

Dengan suara gemetar, ia berdoa:

“Kami telah kehilangan rasa menangis. Kami telah membiarkan budaya kematian menjangkiti nurani kami. Ya Tuhan, ampunilah kami.”

Di hadapan laut biru yang menjelma makam tanpa nama, Paus melempar karangan bunga. Air mata para ibu dan doa-doa yatim piatu menggema bersama desir angin.

Hari itu, Lampedusa menjadi tanah suci. Tempat duka dunia dijadikan altar cinta.

-000-

Wafatnya Paus Fransiskus pada awal 2025 bukan hanya meninggalkan duka bagi umat Katolik, melainkan bagi seluruh jiwa yang rindu akan agama yang lembut, membumi, dan penuh kasih.

Ia adalah pelita di tengah dunia yang gelap dan terpolarisasi. Dua warisan utamanya menjelma cahaya: ekologi spiritual dan inklusivitas tak bersyarat.

Angin di Vatikan membawa pesan baru ketika ia memperkenalkan Laudato Si’. Sebuah ensiklik yang tak hanya mengguncang doktrin gereja, tetapi mengetuk hati umat manusia.

Di dalamnya, bumi tidak lagi dipandang sebagai benda mati untuk dieksploitasi, melainkan sebagai tubuh hidup yang menderita—makhluk spiritual yang terluka karena keserakahan manusia.

“Tanah, air, udara, dan semua makhluk adalah bagian dari keluarga kita,” tulisnya. Kalimat sederhana, tapi memuat revolusi teologis dan ekologis yang dalam.

Paus Fransiskus memutar arah agama: dari hanya memandang langit sebagai tujuan, menuju bumi sebagai amanah dan tanggung jawab.

Ia bukan hanya pemimpin Katolik; ia adalah nabi zaman krisis iklim. Di balik jubah putihnya, seorang pejalan sunyi mendengarkan rintih daun kering dan batuk sungai yang keruh.

Ia membaca Injil bukan hanya dari kitab suci, tetapi juga dari retakan tanah, badai yang menerjang, dan es yang mencair di kutub.

Bagi Fransiskus, dosa ekologis bukan konsep abstrak—tapi luka nyata. Dalam dunia yang mengukur nilai dari laba dan pertumbuhan tak terbatas, ia berdiri sebagai suara sunyi yang berkata: cukup.

Paus menyebut keserakahan industri telah melahirkan “kebudayaan sampah”— sebuah sistem yang menjadikan alam dan manusia sebagai barang pakai-buang.

Inilah krisis spiritual terbesar zaman ini: ketika bumi diperlakukan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang suci.

-000-

Paus Fransiskus menyerukan pertobatan ekologis. Bukan hanya perubahan cara hidup, tapi perubahan cara mencinta.

Ia mengajak kita membumikan doa—bukan sekadar untuk keselamatan jiwa, tetapi juga untuk pemulihan tanah, air, dan udara.

“Agama harus berhenti hanya membicarakan surga,” katanya, “jika ia membiarkan bumi menjadi neraka bagi generasi mendatang.”

Dan ini bukan retorika. Ia mendorong gereja-gereja memakai energi terbarukan, mendukung pertanian organik, dan menolak proyek ekstraktif yang melukai ekosistem lokal.

Ia memeluk para aktivis lingkungan seperti ia memeluk para pengungsi. Itu  karena keduanya korban dari sistem yang sama: sistem yang mengeksploitasi dan memutus ikatan manusia dengan alam.

Bagi Fransiskus, spiritualitas tidak sah jika tak menyentuh tanah. Relasi dengan Tuhan tak bisa dipisahkan dari relasi dengan bumi.

Kita tak bisa mencintai Pencipta sambil terus menyakiti ciptaan-Nya.

-000-

Apa yang disuarakan Paus Fransiskus melampaui Katolik. Ia merangkul kosmologi spiritual dari banyak tradisi.

Dalam Islam, bumi adalah hamparan kasih sayang Allah, dan manusia adalah khalifah yang bertanggung jawab.

Dalam Hindu, alam adalah manifestasi dari Brahman yang ilahi. Dalam kearifan pribumi, tanah adalah ibu, dan sungai adalah darah kehidupan.

Ia menghidupkan kembali semangat St. Fransiskus dari Assisi— yang menyapa matahari sebagai saudara, dan bulan sebagai saudari.

Laudato Si’ bukan sekadar dokumen keagamaan. Ia adalah puisi cinta untuk planet ini.

-000-

Bumi, kata Paus, adalah bagian dari tubuh spiritual manusia. Apa yang dirasakan bumi, dirasakan pula oleh jiwa kita.

Ketika hutan dibakar, kita kehilangan nafas. Ketika laut tercemar, batin kita menjadi keruh.

Bumi adalah tubuh bersama—our common home. Sebagaimana kita merawat tubuh sendiri, kita juga harus merawat planet ini: dengan gaya hidup berkelanjutan, energi bersih, dan rasa syukur atas secukupnya.

Ia mengingatkan: manusia bukan penguasa bumi, tetapi saudara tua dari ciptaan lainnya. Peran kita bukan menaklukkan, tapi memelihara. Bukan mengambil tanpa batas, tapi memberi dalam diam yang hormat.

-000-

Kini, dunia berkabung. Tapi lebih dari itu: dunia terinspirasi. Ia tak memberi solusi instan, tapi menanam benih kesadaran yang akan tumbuh dalam tindakan-tindakan kecil: menanam pohon, mengurangi sampah, mencintai cahaya pagi dan udara bersih.

Ia membukakan jalan bahwa religiusitas bukan hanya misa atau salat, tapi juga tidak membuang sampah di sungai.

Ia ajarkan bahwa spiritualitas tak  selalu ke langit.  Kadang ia  justru terletak di tanah, dan dalam air mata makhluk hidup yang kita abaikan.

Dalam kepergiannya, Paus Fransiskus meninggalkan pesan: Jika engkau ingin menemukan Tuhan, pergilah ke hutan. Dengarkan suara daun. Di sana, semesta sedang berdoa.

-000-

Filosofi spiritual Paus Fransiskus yang paling agung: Cinta adalah hukum tertinggi.

Bukan cinta yang pasif dan manis, melainkan cinta yang membasuh kaki yang kotor, yang menjahit luka bumi, yang memulangkan mereka yang terbuang ke pelukan Tuhan.

Baginya, agama bukan menara gading bagi para suci, tetapi tenda terbuka bagi para pendosa, pengungsi, pecinta bumi, dan pencari makna.

Ia buka pintu bagi yang tertolak: imigran lelah yang mengangkut duka, LGBT yang rindu dipeluk surga, dan iman lain yang haus cahaya. Mereka diundang  semua duduk setara di meja cinta.

-000-

Ketika kabar wafatnya Paus menggema, lonceng berdentang di Basilika Santo Petrus. Namun gema cintanya terdengar jauh lebih luas: di kamp pengungsi, di hutan yang dibakar, di pelukan pasangan yang dulu tersembunyi dari altar.

Ia bukan sekadar gembala Katolik. Ia adalah imam dunia, yang menyatukan doa dalam berbagai bahasa dan air mata dalam segala warna.

Di Jakarta punya kenangan sendiri soal Paus Fransiskus. Itu  malam 4 September 2024, di depan Galeri Nasional.

Mobil Paus melambat. Jendela terbuka. Seorang perempuan mendekat, membawa lukisan saya: Paus membasuh kaki rakyat Indonesia.

Perempuan itu Pendeta Sylvana Maria Apituley, dari Papua. Dengan gemetar, ia serahkan lukisan itu. Paus memberkatinya— dan Jalan Merdeka menjadi altar jalanan.

Lukisan itu, yang dulu hanya kanvas dan warna, kini menjadi relik.

Sylvana menulis keesokan harinya: “Aku menangis bahagia… tak mau cuci tangan.”

-000-

Kini, tugas kita bukan sekadar mengenang. Tapi meneruskan. Menyiram tanah dengan kasih. Merawat sesama dengan kelembutan. Menerima yang berbeda seperti tubuh kita sendiri.

Karena, sebagaimana Paus Fransiskus wariskan: Cinta adalah satu-satunya doktrin yang tak pernah mati. *

Jakarta, 21 April 2025

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes