Tampilkan postingan dengan label Mengenang Damyan Godho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang Damyan Godho. Tampilkan semua postingan

Wanita itu Menyapanya Padre


Maxi Ebu Tho
"Dion, kau lagi buat apa?" Begitu sapaan khas Om Damyan Godho dari balik telepon (interkom).

"Lagi edit berita nih Om."

"Kau ke ruang saya sekarang! Ada sesuatu yang mau saya sampaikan," kata Om Damyan Godho, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang.

Dialog itu terjadi medio 1997 di kantor lama Pos Kupang, Jl. Kenari No.1 Kelurahan Naikoten 1 Kupang.  Cuma sejengkal dari pasar tradisional terbesar di Kota Kupang, Pasar Inpres Naikoten.

Sampai di ruang kerja Om Damy di lantai 1, beliau langsung memberikan kepada saya sepucuk surat undangan.

"Kau tugas ke Dili ya. Kau bisa menulis banyak artikel menarik," kata Si Om.

Isi surat mengundang wartawan Pos Kupang mengikuti workshop tentang HIV/AIDS di sebuah hotel di Dili. Isu HIV/AIDS memang sedang hangat pada waktu itu.

Saya termasuk beruntung karena sebelumnya pernah mengikuti pelatihan intens di tempat novelis terkenal Ashadi Siregar di Kota Yogyakarta.

Om Damyan  menugaskan saya ke Dili agar bisa memperluas wawasan mengenai penyakit yang menyerang kekebalan tubuh manusia tersebut.

Saya mengatakan siap berangkat dua hari kemudian dengan bus Trans Timor. Tapi siap berangkat ke Dili disertai permintaan tambahan.

"Kalau hanya meliput di Kota Dili tidak terlalu menarik Om," kataku.

"Ah kau ini. Memang  mau ke mana?"

"Ya, kalau bisa sampai ke kawasan timur seperti Baucau, Lautem, Los Palos..."

"Baik nanti saya coba hubungi orang yang bisa membantu kau jalan-jalan ke beberapa tempat di sana," jawab Om Damyan Godho.

Saya tahu Om Damy punya selusin relasi di Timor Timur dan mereka tentu  siap membantu.

Pembicaraan senja itu berakhir. Om Damyan dan saya melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.

Singkat cerita saya berangkat ke Dili dua hari berikutnya.  Bus Kupang-Atambua habiskan waktu sekira 8 jam.

Ganti bus di Atambua lanjut ke Kota Dili kira-kira 4 jam. Total 12 jam perjalanan.

Workshop berlangsung sehari penuh. Telaah materi dan diskusinya asyik.  Sungguh memperkaya pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Sebelum meninggalkan Kupang, Om Damy memberitahu bahwa ada kenalannya bernama Maxi yang akan menghubungi saya di Dili.

Benar adanya. Malam itu seusai workshop  kira-kira pukul 19.00 Wita, resepsionis Hotel Turismo menginformasikan ada seseorang bernama Maxi ingin bertemu.

Saya bergegas menemuinya di lobi hotel. Kami bersalaman dan saling memperkenalkan diri.

Baru saya tahu Om  Maxi  berasal dari Flores. Tepatnya Boawae, Kabupaten Nagekeo,  sekampung halaman dengan Om Damyan Godho. Masih kerabat dekat pula.

Rupanya Om Damy sengaja tidak beritahu saya sebelumnya biar ada kejutan dan saya perlu mencari tahu sendiri.

Orangnya ramah. Tutur katanya lembut. "Besok pagi saya akan ke Baucau. Kaka Damy bilang, Dion mau jalan-jalan, silakan bersama saya nanti," kata Om Maxi.

"Wah terima kasih Om. Memang itu yang saya harapkan biar bisa menulis hal-hal menarik di luar Dili," jawabku. Wajah berbinar ceria.

Keesokan hari sekira pukul 08.30 Wita, Om Maxi menjemput saya di hotel.
Setengah jam kemudian kami sudah meninggalkan Dili. Bergerak dalam kecepatan sedang dengan mobil yang dikemudikan sendiri Om Maxi.

Kami terus meluncur ke timur Pulau Timor dalam siraman matahari pagi dan udara yang cerah.

Inilah pertama kali saya ke wilayah timur pulau itu. Pengalaman yang sangat berkesan.

Medio 1997, ‏kira-kia dua puluh purnama sebelum Timor Timur akhirnya mengucapkan sayonara kepada Indonesia melalui referendum.

Situasi politik dan keamanan kala itu tak  bisa dibilang aman-aman saja. Apalagi di tanah Timor Timur. Tensi panas terasa di banyak tempat. Pun di Indonesia.

Gejolak reformasi mulai berembus kencang yang mencapai puncaknya 21 Mei 1998 saat Soeharto lengser keprabon.

Sepanjang perjalanan dari Dili ke Baucau yang berjarak 122 km, Om Maxi bercerita banyak hal kepada saya. Dia juga menunjukkan sejumlah tempat penting dan bersejarah.

Baucau adalah kota terbesar kedua di Timor Leste, setelah Dili, ibu kota negara itu. Kota mungil eksotik di pesisir utara Pulau Timor.

Masih ada  peninggalan Portugis di kota ini, seperti rumah, gereja dan bangunan umum lainnya.

Setelah puas berkeliling  Baucau dan beristirahat, Om Maxi selanjutnya membawa saya ke wilayah Lautem lalu kami bergerak ke selatan. Menuju Distrik Viqueque.

Bukan perjalanan biasa. Om Maxi sejatinya sambil melakoni pekerjaannya sebagai aktivis LSM. Saya juga bekerja. Merekam banyak hal yang kemudian saya sajikan bagi pembaca Pos Kupang.

Saat itu Om Maxi merupakan pimpinan LSM Yayasan Bina Swadaya di Timor Timur. LSM ini bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat antara lain melalui sektor pertanian.

Kami selalu mampir di setiap tempat binaan dan dampingan Om Maxi. Bangga dan terharu melihat kedekatan beliau dengan masyarakat setempat. Mereka antusias dan riang menyambutnya.

Di suatu tempat di wilayah Viqueque, seorang wanita berusia 60-an tahun sontak berlari kecil mendekati mobil. Dia pun spontan merangkul Om Maxi sambil berkata,  "Padre...padre."

Padre artinya pastor. Imam Katolik. Sejurus kemudian, wanita itu baru menyadari yang datang  Om Maxi, bukan pastor. Mereka pun terbahak.
Saat perjalanan kami berlanjut, saya bercanda. "Wajah dan tutur kata Om Maxi memang mirip pastor na." Dia terkekeh.

Tur Timor 1997 tak selalu penuh senyum dan tawa. Berkali-kali Om Maxi menghentikan mobil di sisi jalan dekat perkampungan.

Saya penasaran, mengapa mendadak berhenti? Ternyata Om Maxi menanti iring-iringan kendaraan lain.

"Kita tidak boleh jalan sendirian Dion. Rawan. Usahakan selalu ada mobil atau kendaraan lain. Kalau terjadi apa-apa, ada yang bisa bantu," katanya dengan mimik serius.

Jangan bayangkan jalanan ramai seperti sekarang. Keheningan sangat terasa. Jarang nian berpapasan dengan kendaraan lain.

Ya begitulah. Tahun 1997 kontak senjata antara prajurit TNI dengan pejuang kemerdekaan Timor Leste lazim terjadi.  Korban kerap berjatuhan di kedua belah pihak.

Sepanjang jalan  dalam jarak kira-kira 300-500  meter selalu ada pos jaga TNI. Prajurit senantiasa siaga.

Om Maxi paham betul bahwa saya butuh lebih dari sekeranjang bahan berita. Itulah sebabnya kami mampir di banyak tempat termasuk di seminari, biara dan gereja.

Om Maxi memang punya relasi luas, mulai dari orang-orang biasa sampai pejabat, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Di sebuah gereja paroki kami dijamu makan siang pastor asal Spanyol dan Filipina. Mereka berbagi banyak cerita menarik tentang dinamika kehidupan masyarakat Timor Leste saat itu.

Kami  menelusuri tempat-tempat penting dan bersejarah di Viqueque. Setelah menginap semalam baru kembali ke Dili.

Saya mendapatkan banyak bahan untuk artikel. Lebih dari itu bisa menikmati lekak-lekuk alam Timor yang indah, flora dan fauna serta dinamika masyarakatnya, baik yang kontra maupun pro-kemerdekaan.

Kenangan indah Tur Timor Leste  1997 tak terlupakan berkat jasa Om Maxi. Nama lengkapnya Kasintus Proklamasi Ebu Tho.

Setelah Timor Timur pisah dari Indonesia tahun 1999, Om Maxi dan keluarga meninggalkan daerah yang dicintainya itu.

Kembali ke Timor barat, tepatnya Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Beliau kemudian aktif di politik melalui Partai Gerakan Indonesia Raya atau Partai Gerindra. Partai politik di Indonesia yang didirikan dan dipimpin Prabowo Subianto.

Khusus di Provinsi NTT, Om Maxi merupakan perintis berkembangnya partai yang berdiri pada tanggal 6 Februari 2008 tersebut.

Beliau mendapat mandat untuk pembentukan DPC Partai Gerinda Kabupaten Ende,  Ngada, Nagekeo dan Sikka pada tahun 2008.

Om Maxi pun terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi NTT periode 2009-2014. Bahkan menjabat Wakil Pimpinan DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Gerindra.

Sabtu malam 11 Juli 2020, saya mendapat kabar duka dari Kupang. Om Maxi berpulang.

Kabar itu pertama kali disampaikan Bung Winston Rondo di grup WA Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) NTT.

Hatiku sontak teriris. Sedih. Pertemuan kami terakhir di rumah Om Damyan Godho (alm).

Selamat jalan Om Maxi. Om Kasintus Proklamasi Ebu Tho.

Saya dan keluarga turut berduka.

Tuhan maharahim memelukmu dalam keabadian dan meneguhkan Mama Yohanna Sarjumiyati Ebu Tho beserta anak dan cucu.

Teriring doaku
Denpasar, 12 Juli 2020


Sumber: Pos Kupang

Damyan Godho, Firmus Wangge dan Uskup Petrus Turang


Damyan Godho
TANGGAL 27 Juli itu istimewa. Setidaknya bagi ketiga tokoh ini, Firmus Wora Wangge, Damyan Godho dan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr.

Nama pertama dan kedua telah berpulang ke haribaanNya. Berselang setahun saja.  Damyan Godho meninggal dunia 29 Januari 2019.  Dua belas purnama kemudian Firmus Wangge menyusul, 6 Februari 2020.

Buat Om berdua yang terkasih, semoga bahagia di sisiNya. Amin.
Saya mengenang 27 Juli karena gara-gara tanggal itulah saya berintekrasi cukup intens  dengan mereka.

Itu dua dekade lalu, 23  tahun silam, tepatnya 27 Juli 1997. Setahun menjelang Soeharto lengser keprabon.

Saya masih wartawan muda.  Belum genap lima tahun berkiprah bersama Harian Pos Kupang  yang mulai terbit 1 Desember 1992.


Semua  bermula dari kota suci Vatikan tanggal 21 April 1997.

Kegembiraan disertai rasa penasaran menyeruak di Kupang serta kota dan desa seantero wilayah Keuskupan Agung Kupang  ketika pemimpin Umat Katolik Sedunia Paus Johanes Paulus II mengumumkan Petrus Turang sebagai uskup koajutor.

Umat  Keuskupan Agung Kupang (KAK) gembira mendapat seorang gembala. Serentak pula merebak rasa  penasaran mengenai sosok sang  gembala yang kala itu berusia 50 tahun  karena namanya belum begitu familiar.

Sebagai uskup koajutor, Mgr. Petrus Turang berhak menggantikan Uskup Agung Kupang Mgr. Gregorius Manteiro, SVD yang waktu itu telah memasuki usia pensiun. Kondisi kesehatan beliau pun tidak begitu bugar lagi.

Firmus Wangge
Saat Uskup Manteiro wafat  10 Oktober 1997,  Mgr. Petrus Turang meneruskan secara otomatis kepemimpinan keuskupan ini sampai sekarang.

Pascapengumuman Tahta Suci 21 April 1997 tersebut,  pekerjaan besar menanti hirarki gereja lokal dan seluruh umat  KAK  yaitu mempersiapkan acara penahbisan Uskup Petrus Turang.

Rapat menetapkan penahbisan tanggal 27 Juli 1997 di Kota Kupang. Firmus  Wangge didaulat  sebagai ketua panitia pentahbisan Uskup Turang.

Suatu  pagi yang cerah,  Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Damyan Godho memanggil saya ke ruang kerjanya di kantor kami, Jl. Kenari No 1 Naikoten I Kupang.

“Dion, saya sudah masukkan  kau di seksi Humas dan Publikasi Panitia Penahbisan Uskup Piet Turang. Kerja baik-baik ya,” kata Om Damyan Godho membuka percakapan.

 “Iya Om,:” jawab saya.

“Om Damy, sebagian besar masyarakat NTT sepertinya belum terlalu mengenal bapak uskup kita yang baru,” lanjut saya.

“Benar. Justru karena itu tugas kau untuk menulis sebanyak mungkin tentang beliau  sehingga bisa dikenal umat Keuskupan Agung Kupang dan masyarakat NTT pada umumnya,” kata Om Damy.

Sebelum saya pamit  dari pertemuan pagi itu, Om Damy meminta saya segera bersua  Firmus Wangge sebagai ketua panitia.

“Ingat, selalu koordinasi dengan kau pung Om  Firmus. Usahakan satu atau dua hari ada berita mengenai persiapan penahbisan.” kata Om Damy memberi arahan. Saya menganggukkan kepala.

Kurang lebih tiga bulan persiapan panitia, saya  jadinya berintekasi cukup intens dengan Om Firmus dan semua anggota panitia yang lain seperti Alo Djong Joko, para tokoh umat  termasuk Gubernur NTT saat itu, Herman Musakabe.

Semua informasi mengenai tahbisan  itu selalu saya publikasikan di Pos  Kupang yang merupakan satu-satunya koran harian yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat itu.

Jangan dikau tanya media online karena belum muncul  batang hidung dan sosoknya, sehingga  Pos Kupang  merupakan sumber informasi utama bagi masyarakat Flobamora.

Mgr. Petrus Turang, Pr
Hampir sebulan menjelang penahbisan saya menulis mengenai tema tersebut.

Beberapa topik yang saya tulis secara serial antara lain, sejarah Keuskupan Agung Kupang dari gereja diaspora hingga menjadi keuskupan,sejarah Gereja Katedral Kupang,  profil Uskup Gregorius Monteiro dan yang paling menantang saya adalah profil Uskup Petrus Turang.

Maklum sumber referensi mengenai Yang Mulia di sekretariat keuskupan pun tidak banyak.

Saya mesti  putar otak (baca: kerja keras)  untuk mendapatkannya.  Waktu itu belum ada Google,  bung. Jadi semua harus cari secara manual. Tapi di situlah letak keasyikannya.

Puji Tuhan semua bahan yang saya butuhkan tersedia pada waktunya. Maka saya menulis profil Mgr. Petrus Turang sejak masa kecil di Tondano, Minahasa, Provinsi  Sulawesi Utara, masa pendidikan di seminari, tahbisan imamat serta pengabdian beliau sebelum diangkat Paus Johannes Paulus II sebagai uskup.

Petrus Turang yang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974 sempat memegang jabatan sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Saya juga  menulis makna motto beliau Petransiit Benefaciendo atau Berkeliling Sambil Berbuat Baik (Kisah Para Rasul 10:38), makna lambang keuskupan dan lain-lain yang berkenaan dengan tugas sang gembala kelahiran Tataaran, Tondano Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, 23 Februari 1947 tersebut.

Bekerja dengan Om Firmus Wangge dalam kepanitiaan menyenangkan. Berlatarbelakang pengusaha, cara berpikir dan bertindak Om Firmus jauh dari birokrasi bertele-tele.

Apalagi waktu efektif bagi panitia pentahbisan saat itu tidak lama. Hanya kira-kira dua bulan lebih.

Om Firmus selalu memastikan setiap rencana dapat dikerjakan secara baik oleh masing-masing seksi dalam kepanitiaan. Orangnya tegas, bicara blak-blakan tapi juga mau mendengar setiap saran dan masukan.

Singkat cerita tibalah hari H  acara penahbisan Uskup Petrus Turang pada 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang.

Di lokasi tersebut kini berdiri megah Lippo Mall Kupang. Arena promosi yang dibangun masa pemerintahan Herman Musakabe  tak berbekas lagi.

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ bertindak sebagai Penahbis Utama  didampingi Pro-Nuncio Apostolik untuk Indonesia yang bergelar Uskup Agung Tituler Bellicastrum, Pietro Sambi dan Uskup Agung Kupang saat itu, Gregorius Manteiro, SVD.

Upacara penahbisan berlangsung hikmat dan meriah. Sukses. Puluhan ribu umat Katolik tumpah ruah di sana.

Saya masih ingat  kepada siapa ucapan terima kasih pertama yang disampaikan Uskup Petrus Turang, Pr saat memberikan sambutan seusai prosesi penahbisan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada wartawan!

“Terima kasih wartawan yang telah menulis sangat banyak tentang saya dan keuskupan ini.” kata Uskup Petrus Turang.

Saya yang berdiri meliput dari sisi kanan tribune, merinding. Tak lazim seorang tokoh melakukan itu. Biasanya terima kasih bagi wartawan di bagian akhir, bahkan cukup sering tak ada  sama sekali.

Tentu bukan tujuan utama kami meminta atau mengharapkan ucapan terima kasih.

Menulis adalah tugas dan kewajiban jurnalis. Tapi ketika seorang gembala mengucapkan pada sebuah forum yang luar biasa, sungguh merupakan sesuatu.

Sampai akhir hayatnya, Om Damyan Godho dan Om Firmus Wangge menjalin relasi indah dengan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang.

Hubungan mereka tidak sekadar antara umat atau tokoh umat dengan sang gembala atau pemimpinnya. Mereka bersahabat. Teman diskusi. Saling berbagi.

Ketika kematian menjemput Om Damy dan Om Firmus, Yang Mulia Bapa Uskup Petrus Turang, orang pertama yang memberi peneguhan bagi keluarga.

Beliau juga yang memimpin misa requiem melepas jenazah kedua sahabatnya menuju tempat peristirahatan terakhir.

“Damy sudah berada di tempat yang lebih baik.” kata Mgr. Petrus Turang ketika memimpin misa pelepasan jenazah Om Damyan Godho di Gereja St Fransiskus dari Asisi Kolhua Kupang, akhir Januari 2019 silam.

Kata peneguhan dan penghiburan senada beliau sampaikan ketika memimpin misa requiem saat pemakaman jenazah Om Firmus Wangge di Gereja Katedral Kupang, Minggu 9 Februari 2020.

Saya, terus terang, belajar banyak dari beliau bertiga dalam membangun relasi. Saling berbagi dalam setiap gerak langkah untuk berkontribusi bagi pembangunan daerah, masyarakat luas, untuk Gereja dan Tanah Air.

Tatkala Om Damyan Godho dipercayakan Uskup Turang menjadi Ketua Panitia Pembangunaan Taman Ziarah Yesus Maria di Belo, Kabupaten Kupang, saya tidak kaget.

Bapak Uskup tahu betul kepada siapa beliau memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar tersebut.

Bukit tandus dan lerengnya seluas kurang lebih 5 hektare berubah menjadi taman ziarah yang indah setelah dibangun selama 4 tahun.

Menurut Mgr. Petrus Turang, lahan ini merupakan hibah dari seorang umat, Yoseph Soleman kepada Keuskupan Agung Kupang.

Keuskupan lalu berinisiatif membangun tempat ziarah dengan bantuan para dermawan serta swadaya umat.

Pembangunan taman ziarah tersebut  yang panitianya dipimpin Om Damyan Godho  mulai 1 Oktober 2009. Di taman ini ada 20 titik tempat berdoa dan satu kapel di puncak bukit, Kapel St. Yohanes Paulus II.

Dari halaman kapel itu peziarah akan menikmati pemandangan indah jika mengarahkan  pandangan mata ke Teluk Kupang serta pegunungan Fatuleu di kejauhan sana.

Pada hari Senin tanggal 25 November 2013, taman ziarah  Yesus Maria Belo diresmikan Kardinal dari Vatikan, Mgr. Stanislaw  Rylko.

Sampai akhir hayatnya Om Damyan Godho tercatat sebagai pengurus stasi taman ziarah tersebut. Setiap kali berziarah ke sana, saya selalu teringat beliau. Karyanya akan terkenang selalu.

Dalam wujud dan cara yang berbeda, kontribusi Firmus Wangge untuk Gereja dan Tanah Air  pun tidaklah kecil.

Dalam suatu forum diskusi kecil, saya melihat bagaimana Firmus Wangge, Damyan Godho dan Uskup Mgr. Petrus Turang bertukar pandangan untuk membangun daerah, membangun Indonesia. Mereka tak sekadar  bergumul dengan masalah tapi memberikan tawaran solusi.

Kesaksian mengenai peran penting Firmus Wangge itu antara lain diungkapkan mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Frans Lebu Raya.

"Jasa beliau sangat besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur. Kita kehilangan seorang putra terbaik Flobamora," kata Frans Lebu Raya  hari Sabtu (8/2/2020) malam.

Firmus Wangge dikenal luas sebagai pengusaha dan  sesepuh Partai Golongan Karya (Golkar).

Pria kelahiran Ende, Flores tersebut  pernah menjadi Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur.  Firmus juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Menurut Lebu Raya, ketika dirinya masih menjabat gubernur,  Firmus Wangge selalu menyempatkan waktu bertemu dan berdiskusi tentang pembangunan.

Frans Lebu Raya selalu mendengar dan menghargai masukan dari Firmus.

"Saya sering bertemu beliau untuk berdiskusi, tukar pikiran. Beliau selalu memberikan masukan yang sangat berharga bagi daerah ini. Saya sangat menghormatinya," kata Lebu Raya.

Ketua DPD I Partai Golkar NTT, Melki Laka Lena juga mengenang jasa mendiang Firmus Wangge bagi Nusa Tenggara Timur.

"Pak Firmus Wangge memberi warna ekonomi dan politik di NTT.   Sampai akhir hayatnya  masih terus berbicara dan mengamati perkembangan ekonomi dan politik NTT," kata Melki Laka Lena, anggota DPR periode 2019-2024.

Demikian sekeping catatanku  mengenang dua  tokoh yang bersahabat karib, Damyan Godho dan Firmus Wangge.

Om Damy…
Om Firmus…
Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. 

Bapa Uskupku, Mgr. Petrus Turang, sehat selalu dan bahagia.

Dengan penuh cinta

Dion DB Putra
Denpasar, 11 Februari 2020

Daftar Riwayat Hidup Damyan Godho


Damyan Godho
Nama lengkap           : Damyan Godho
Tempat tanggal lahir     : Boawae, Kabupaten Nagekeo, Flores,  25 Maret 1945
Nama ayah              : Lambertus Laga Nenu
Nama Ibu             : Klara Wona

Damyan Godho adalah putra kedua dari 9  bersaudara 

Saudara kandung
1. Getrudis
2. Sofia Uta
3. Fabianus Aga
4. Wens Mola
5. Lusia Fesa
6. Adel Tawa
7. Fransiskus
8. Yohanes Kasto Tue Nenu

Keluarga
Damyan Godho menikah dengan Theodora Menodora Mandaru pada  tanggal 26 Juni 1977 di  Waerana, Kabupaten  Manggarai Timur

Pasangan ini dikaruniai empat orang anak yaitu:
1. Romanus Krisantus Tue Nenu (almarhum)
2. Eleonora Ira
3. Berno Marselino
4. Clara Fransisca 

Pendidikan
1.    Menamatkan pendidkan SR  pada tahun  1957 di Boawae
2.    Menamatkan SMP Kotagoa Boawae pada tahun 1961
3.    Menamatkan SGA (Sekolah Guru Atas) Ndao Ende pada tahun 1964
4.    Setelah menamatkan pendidikan SGA beliau merantau ke Kupang

Karier di bidang Pers
1. Pada 1977 sampai dengan 1984 mengelola Mingguan  Kupang Post
2. Pada tahun 1976 bergabung ke Harian Kompas Jakarta dan diangkat menjadi karyawan pada tanggal 1 Januari  tahun 1990
3. Pada tahun 2005 beliau pensiun sebagai wartawan Harian Kompas. Masa kerja beliau di harian terkemuka Indonesia tersebut kurang lebih selama 30 tahun.

4.  Pada tanggal 1 Desember 1992 bersama-sama dengan Bapak  Valens Goa Doy (alm) dan Bapak Rudolf  Nggai (alm)  mendirikan Harian Umum Pos Kupang beralamat di Jl.  Jenderal Soeharto 53 Kupang, lokasi  Hotel Syilvia saat ini. Pos Kupang merupakan koran harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

5. Pada tahun 1996 Harian Pagi Pos Kupang memiliki gedung kantor sendiri di Jalan. Kenari No. 1 Naikoten 1. Kupang  dan berkantor sampai dengan 8 Januari 2018. Kini Pos Kupang memiliki kantor baru di Jalan RW Monginsidi III, Kelurahan Fatululi Kota Kupang.

6. Pada tahun 1998-2008 beliau dipercayakan sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT. Beliau memimpin PWI selama dua periode.

7. Damyan Godho merupakan pemegang Kartu Pers Utama yang diberikan Komunitas Hari Pers Nasional yang terdiri dari Dewan Pers, PWI, IJTI, SPS, Serikat Grafika Pers, ATVSI, ATVLSI, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia dan  PRSSNI. Pemegang kartu ini adalah para tokoh pers yang karya jurnalistiknya diakui di tingkat nasional dan internasional dan menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu secara konsisten dalam kurun waktu 25 tahun.

7. Pada tahun 2013  Damyan Godho  menerima penghargaan dari pemerintah provinsi NTT  berupa cincin emas. Penghargaan itu diberikan  pada saat peringatan HUT ke-55 Provinsi NTT.

8. Sampai  akhir hayatnya beliau merupakan komisaris  Harian Pos Kupang.


Riwayat Sakit
Pada bulan Februari 2017 almarhum  mulai sakit dan sempat ke Singapura untuk pemeriksaan lengkap. Pada Agustus 2018 almarhum sempat merasa pinggang sakit dan dibawa ke RS Siloam. September  2018 beliau menjalani perawatan di  Penang Malaysia. Perawatan selanjutnya di Kupang hingga beliau menghembuskan napas terakhir pada tanggal 29 Januari 2019 pukul 01.30 Wita di RS St. Carolus Borromeus Belo, Kupang. Beliau meninggal  pada usia 73 Tahun, 10 Bulan, 4 Hari.

Demikian  riwayat hidup singkat Bapak Damyan Godho

Catatan: Daftar riwayat hidup ini dibacakan Dion DB Putra (Pemimpin Redaksi Pos Kupang) saat misa pemakaman di Gereja Fransiskus dari Assisi Kolhua Kupang, 31 Januari 2019.

Selamat Jalan Om Damy Godho


Damyan Godho
"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat."

SETELAH disemayamkan semalam di Gereja St. Fransiskus Assisi BTN Kolhua Kota Kupang, jenazah Damyan Godho kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa, Kamis (31/1/2019) siang. Upacara pemakaman diiringi hujan.

Istri Damyan Godho, Theodora Menodora Mandaru bersama tiga anaknya, Eleonora Ira, Berno Marselino dan Clara Fransisca mendampingi jenazah hingga kubur ditutup.

Acara pemakaman jenazah dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr, Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi. Meski hujan, kerabat kenalan mengikuti proses pemakaman sampai selesai yang ditandai dengan peletakan karangan bunga.



Sebelum dikebumikan, dilaksanakan misa requiem di Gereja St. Fransiskus Assisi, dipimpin Romo Simon Tamelab, Pr dan 19 imam konselebrantes dan 1 orang diakon.

Pelayat memenuhi gereja, termasuk karyawan PT. Timor Media Grafika, perusahaan penerbit Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang.

Sejumlah tokoh dan pejabat pemerintah hadir, di antaranya Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno, Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Ir. Ben Polo Maing, Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, Wakil Bupati Manggarai, Viktor Madur dan General Manager SDM dan Umum Kompas, Pieter P Gero.

Selain itu Ketua dan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi Sianto dan Muhammad Ansor, Mantan Pejabat Bupati Ende, Oswaldus Toda dan insan pers. Mereka memberi penghormatan terakhir kepada tokoh pers NTT dan pendiri SKH Pos Kupang ini.

Saat memberi sambutan, General Manager SDM Umum Kompas, Pieter P Gero mengatakan, Damyan Godho merupakan 'orang besar'. Sebagai wartawan Kompas, ia mengabdi selama 30 tahun dan sering memberitakan kabar dari NTT sampai ke pelosok-pelosok daerah di NTT.

"Kami kehilangan seorang tokoh besar," katanya sembari melukiskan sosok jurnalis yang memulai kiprahnya sebagai koresponden Kompas itu.


Sebagai wartawan Kompas, Damyan Godho termasuk jajaran wartawan di daerah yang sangat berpengaruh. Bukan hanya itu, sebagai pemimpin Harian Pos Kupang, pengaruhnya justru sangat luar biasa.

"Saya pernah membantu Pos Kupang selama dua bulan. Om Damy dan Valens Goa Doi, Eja Dion (Pemred Pos Kupang kini, Dion DB Putra) kami bersama-sama dalam ruang redaksi yang sempit itu. Suara Om Damy yang paling menggelagar."

Menurutnya, Komisaris Umum Pos Kupang itu selalu menggunakan 'kata seru' untuk menggambarkan kepribadiannya yang tegas dan keras dalam prinsip.

"Kalau tidak pakai kata seru itu bukan Om Damy. Akumulasi pengetahuan Om Damy dan integritasnya sangat luar biasa. Dia betul-betul menjalankan tugas sesuai tagline Kompas 'Hati Nurani Rakyat," bebernya.

Pieter Gero ingat pesan Om Damy yang selalu disampaikan kepada para wartawan, yaitu tidak perlu menulis berita atau feature yang tidak membawa manfaat bagi rakyat.
"Om Damy adalah sosok jurnalis sejati sebab dalam membuat karya jurnalistiknya, ia harus melihat dan terjun langsung ke lapangan. Kalau ada bencana, misalnya, dia selalu ada di lapangan."

Pieter pun mengisahkan bagaimana seorang Damyan Godho membawa motornya dari Kupang menggunakan pesawat hanya untuk meliput putusnya jembatan Kali Wajo di Lekebai, Kabupaten Sikka. Hal seperti inilah yang membuat Pieter menilai kalau Om Damy selalu menulis dengan penuh empati dari pelosok daerah sehingga acapkali membuat dia sering meninggalkan keluarga.

Mewakili keluarga besar Harian Kompas, Pieter berterima kasih kepada keluarga yang telah menjaga sosok jurnalis kawakan tersebut. Sisi lain dari Damyan Godho juga dibeberkan Pieter pada kesempatan itu.

Disampaikannya, Om Damy juga sangat peduli dengan daerah asalnya, Kabupaten Nagekeo dan orang yang selalu setia dengan sahabat. Ia pun mengisahkan bagaimana ia pernah meloloskan sahabatnya, Valens Goa Doi dari kejaran tentara saat konflik Timor Timur.

"Orang yang baik dan lurus jalannya bisa dilihat dari begitu banyak orang yang datang memberi penghomatan terakhir hari ini. Bagi kami Om Damy jelas adalah panutan bagi kita, bagi Kompas dan Pos Kupang.


Ketua Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (Ikabana), Marsianus Djawa mengatakan, sudah sejak kemarin orang-orang menyampaikan kisah-kisah inspiratif dari seorang Damyan Godho sebab pengabdiannya untuk NTT begitu besar.

"Bagi Ikebana Kupang, kami merasa kehilangan sosok inspirator. Karyamu tidak akan terkikis oleh waktu," ucap Djawa.

Kepala Inspektorat Provinsi NTT ini juga menuturkan kembali kisah yang pernah diceritakan almarhum kepadanya. Om Damy, kenangnya, pernah di penjara di Kupang karena dengar radio Malaysia dan baru dibebaskan pada 17 Agustus 1965.

Ketua DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno menyebut Om Damy juga merupakan aktivis pemuda pada zamannya yang menanamkan nilai-nilai perjuangan dan idealisme untuk daerah ini.

 Baginya, Damyan Godho  tidak hanya seorang tokoh pers, jurnalis Kompas dan pendiri Pos Kupang yang telah banyak melahirkan kader pers di NTT, lebih dari itu, dia adalah tokoh yang memberi sumbangsih pikiran, gagasan, kepedulian dan karya nyata bagi NTT di pelbagai bidang kehidupan.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian sang tokoh NTT.

"Bapak Damy boleh mati dalam hidup tapi sekarang menemukan kehidupan. Dia orang yang tegas dalam prinsip dan iman. NTT bersedih karena kepergian seorang tokoh. Dia telah meninggalkan benih-benih kebaikkan, ketegasan dan luar biasa. Terima kasih kepada keluarga. Jasanya tidak pernah akan dilupakan oleh seluruh rakyat NTT," ujarnya.

Mendengar semua sanjungan dan kesaksian ini, Eleonora Ira, anak tertua almarhum mengaku tersentak dan tidak menyangka semua hal besar yang dilakukan ayahanda tercinta.

Dalam mendidik anak-anak, kata Ira, bapaknya jarang memberi nasihat dengan kata kata. Sebaliknya, nasihat itu ia wujudkan dengan tindakan dan teladannya sendiri.
Beberapa hal yang ia ajarkan seperti, peduli pada sesama dan spirit untuk tidak pernah menyerah dalam hidup.

"Seumur hidup tidak pernah lihat bapak sakit. Paling parah itu flu. Jadi kaget juga karena bapak sakit."

Bagi Ira yang kini melanjutkan jejak bapaknya sebagai jurnalis CNN Indonesia, ayahnya itu adalah sahabat terbaiknya.

"Kami sering membicarakan banyak hal. Mulai dari hal yang paling serius sampai yang tidak serius," ujar Ira.

Karyawan SKH Pos Kupang memberi penghormatan terakhir dengan mendendangkan sebuah lagu bertitel Tak Satu Pun, disertai pembacaan pusi.

'Apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/kelaparankah, ketelanjangankah/tak satu pun tak satu pun/apa yang dapat memisahkanku/dari kasihMu Tuhan sahabatku/aniayakah, penderitaankah/tak satu pun tak satu pun."

Demikian sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan di depan jenazah Damyan Godho. Lagu yang dipopulerkan oleh Grezie Epiphania ini disenandungkan oleh para karyawan Pos Kupang sambil berurai air mata kesedihan yang luar biasa.

Setelah misa requiem, jenazah Damyan Godho dihantar ke TPU Damai Fatukoa. Iring- iringan kendaraan yang panjang mengantar jenazah tersebut. Saat jenazah dibawa keluar dari gereja, hujan pun mengguyur. Namun, prosesi pemakaman berjalan lancar sampai selesai. (ricko wawo)

Sumber: Pos Kupang 1 Februari 2019 hal 1

Uskup Agung Kupang Mengenang Damyan Godho


Damyan Godho
KUPANG, PK -Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr mengenang kebersamaannya dengan tokoh pers NTT, Damyan Godho. Hal itu disampaikan Uskup Turang saat memimpin misa requiem di Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi,  Kolhua, Kota Kupang, Rabu (30/1/2019) malam.

"Sebagai seorang wartawan senior, pendiri harian Pos Kupang, Om Damy telah melahirkan banyak wartawan muda yang berkompeten. Di samping itu, sebagai seorang tokoh umat. Damyan Godho telah mewariskan kepada umat Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo," ucap Uskup Turang dalam khotbahnya.

"Setiap kali kita berkunjung ke Taman Ziarah Oebelo, kita bertemu dengan dia secara rohani. Itu yang dia berikan untuk pengembangan hidup iman supaya kita belajar," tambahnya.


Uskup Turang mengatakan, semasa hidupnya Om Damy telah melakukan apa yang Yesus minta, yakni berbuat yang baik dan benar. Mantan wartawan harian Kompas juga memberikan kegembiraan untuk semua orang dalam keseluruhan karya baktinya selama hidup di dunia.

"Kepergian Om Damy adalah suatu kehilangan. Akan tetapi sesungguhnya, kita tidak pernah alami kehilangan karena itu bagian dari hidup kita. Sekarang yang dia bawa adalah perbuatan baiknya. Hanya perbuatan baik yang bisa kita negosiasikan dengan Tuhan. Yang paling penting itu adalah kebaikan," ujar Uskup Turang.

Uskup Turang mengucapkan turut berbelasungkawa kepada keluarga dan sahabat kenalan yang ditinggalkan.

Misa requiem diikuti ratusan kerabat kenalan, termasuk Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi. Selain Uskup Turang, misa dihadiri sepuluh imam konselebrantes di antaranya RD Gerardus Duka, RD Simon Tamelab, RD Dus Bone, dan RD Sipri Senda.

Jenazah Damyan Godho dibawa dari rumah duka di Jl Fetor Funay menuju Gereja Paroki St. Fransiskus Asisi, BTN Kolhua. Sebelum pelepasan jenazah, keluarga mengadakan ritual adat singkat dan doa bersama.

Jenazah tiba di gereja tepat pukul 18.00 Wita dan langsung disambut dengan bunyi lonceng doa Angelus selama beberapa menit. Di gereja paroki, jenazah pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini diterima Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi, RD Simon Tamelab dan RD Longginus Bone.

Jenazah disemayamkan semalam di gereja, selanjutnya dilaksanakan pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai Fatukoa Kupang, Kamis (31/1/2019). Upacara pemakaman dimulai pukul 10.00 Wita.

Pada Rabu (30/1/2019) pagi, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka. Gubernur memberikan peneguhan kepada istri dan anak-anak almarhum. Gubernur cukup lama berada di rumah duka.

Sahabat almarhum, Adrianus Ceme mengatakan, Om Damy merupakan seorang motivator, tokoh inspirasi yang sangat vokal tetapi tetap rendah hati.

Adrianus mengatakan selain dikenal sebagai jurnalis senior, Om Damy juga adalah tokoh umat katolik.

Semasa hidupnya, ia pernah menjabat sebagai Penasihat Dewan Pastoral Paroki St Fransiskus Asisi, Ketua Panitia Percepatan Pembangunan Gereja paroki dan Ketua DPP Taman Ziarah Yesus Maria Yoseph Oebelo Kabupaten Kupang.

Sementara itu tokoh perempuan NTT, Emilia Nomleni mengatakan, Damyan Godho merupakan orang yang sangat ramah dan banyak ide. "Beberapa kali kita bertemu meskipun tidak dalam diskusi yang besar, tapi itu sudah menggambarkan  sosok Om Damy," katanya saat ditemui di rumah duka. (ll)


Sumber: Pos Kupang 31 Januari 2019 hal 1

Damyan Godho Legenda Pers NTT



Damyan Godho
Oleh Pater Edu Dosi, SVD
Pakar Komunikasi dari Unwira Kupang

Saya mengingat catatan Bapak Damyan Godho atau biasa disapa Om Dami  tentang SKH Pos Kupang yang didirikannya. Sang legenda pers ini mencatat bahwa dalam perjalanan ke Restoran Pantai Timor, Kupang, Senin sore 30 November 1992, tempat akan berlangsungnya Acara Peresmian POS KUPANG di benaknya penuh khayalan.

Dengan hati berbunga-bunga membayangkan koran yang akan diterbitkan perdana esok hari Selasa 1 Desember 1992: "Suatu hari nanti, POS KUPANG seperti KOMPAS beredar luas. Dibaca banyak orang, dipercaya dan disayangi...di halte-halte, di bawah tiang listrik, di pasar dan dimana-mana terlihat orang asyik membaca...setidaknya membawa koran di tangan". Koran itu adalah POS KUPANG yang telah menjadi kebutuhan.


Setelah mimpinya sebagian menjadi kenyataan sang Khalik memanggilnya kembali ke rumah Ilahi, di kampung keabadian tempat kenyang pada segala musim. Di sana keindahan cinta diberitakan seperti halnya Om Dami memberitakannya pada surat khabar Pos Kupang dengan segala kelebihan dan kekurangan serta kelemahannya. Tuhan sudah meminjamkan Om Dami kepada kita,dan kita merasa bahagia karena pernah memiliki dia.

Kematian telah mendekatinya pada jam 1.30 dini hari 29 Januari 2019, setelah kurang lebih semenit Om Dami menggenggam erat jemari Rany putrinya lalu menghembus nafas terakhir.

Guru, Orangtua, PemimpinKita pernah memiliki Om Dami, kita mengalami bahwa beliau sosok yang dihadiahkan Tuhan bagi kita. Kita pernah merasakan susah senang hidup bersama dia. Kita mengenal dia dalam banyak ragam pengalaman. Pada saat kematiannya kita mengingat dan merenungkannya.

Dalam kisah hidup, Dion Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang tak bisa melupakan Om Dami. Dion menyebut bahwa baginya Om Dami adalah pemimpin, orangtua dan guru kehidupan.

Dari sisi pers, Om Dami adalah guru wartawan. Guru wartawan yang profesional adalah guru yang mengajar bahwa panggilan wartawan bukan sekadar sebagai suatu kewajiban dan mata pencaharian tapi sebagai panggilan hidup yang dijalani dengan sepenuh hati, kesungguhan otak dan hati sanubari serta bekerja untuk suatu tujuan  mulia.

Panggilan ini dijalani dengan pembawaannya yang sederhana, bernyali, tegas, kritis, rendah hati, konsisten, teguh pada jalan kebenaran. Om Dami bisa marah dan terus terang tapi dia sangat kebapaan yang merangkul wartawan dan karyawan Pos Kupang. Vian Burin menulis bahwa Om Dami mentor yang keras tetapi sebenarnya baik hatinya.

Om Dami berharap bahwa apa yang ditulis tidak hanya sebagai berita saja. Tetapi sebaliknya tulisan itu harus dapat mengubah keadaan masyarakat NTT, menciptakan transformasi sosial masyarakat NTT. Sehingga komunikasi tidak tinggal komunikasi saja.

Tak mustahil bila om Dami berani membuat pernyataan-pernyataannya yang pedas kepada penyelenggara pemerintahan karena perhatiannya untuk kemajuan Negeri Flobamora tercinta.

Om Dami bersama SKH Pos Kupang berusaha untuk menjalankan profetisme pers. Profetisme pers di suatu Negara seperti di Indonesia dan satu wilayah seperti NTT bukanlah gampang. Om Dami berkehendak agar wartawan Pos Kupang berdedikasi yang tinggi dan memiliki totalitas serta menanggung risiko.

Romo Sindhunata SJ (wartawan Kompas tahun 1977-1980) menulis, dedikasi seorang wartawan adalah totalitas dan berani menanggung risiko. Akibat tulisannya wartawan berani dicari-cari polisi. Ketika mengejar berita di Lewoleba, wartawan berani menahan lapar dan mengetuk pintu rumah orang untuk minta sekadar penambahan kekuatan.

Bagi Om Dami, Pak Jacob Oetama mengajarkan dedikasi yang tinggi, setiap saat Om Dami siap ditelpon oleh Pak Jacob. Wartawan siap sedia ketika diminta berangkat ke daerah bencana atau ketika sedang ada masalah, kapan pun itu.

Catatan indah antara lain datang dari Bapak Mundus Lema, sahabatnya : RIP kakanda tercinta Damyan Godho, selesai sudah ceritera suka, duka dan perjuangan kerasulan awam di bumi Cendana Timor.

Dialah salah satu dari yang sedikit pemuda Flores yang menjadi benteng kerasulan awam dan komandan serdadu Kristus dan sejarah perjalanan Gereja Katolik di Pulau Timor, khususnya Kota Kupang mencatat tapak-tapak perjuangan heroik kak Dami terutama pada saat bersama Bung Kanis Pari menghadapi PKI di era 60-70 an. Inilah bukti bahwa dia 100 persen Katolik 100 persen Pancasila-NKRI. Slamat jalan kakanda terkasih menuju "Sao Ria Bewa Kebahagiaan Kekal-Abadi Surgawi bersama ananda Romi anak tersayang. Salve.

Wartawan ProfesionalBagi saya nama Damyan Godho telah menjadi legenda pers NTT. Ia menjadi salah satu tonggak pers NTT, beliau telah menjadi tokoh pers NTT. Tulisan ini sebagai penghargaan yang tulus pada Om Dami yang memberi keteladanan pada komitmen sebagai pekerja pers. Dia telah memberikan bimbingan dan tuntunan yang sangat bernilai.

Hingga ajal kematian menjemputnya Om Dami telah berusaha menjadi wartawan yang profesional. Kata profesional mengandung arti yang jauh lebih dalam, To profess adalah mengaku dengan seluruh eksistensi.

Jadi profesi berarti pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati, dan dengan segenap jiwa, tekun dan setia
dengan mutu dan disiplin serta bersedia menanggung konsekuensi sesuai dengan nilai-nilai luhur profesi itu.

John Hohenberg dalam bukunya "The Professional Journalist" mengemukakan beberapa syarat menjadi wartawan, antara lain: Tidak pernah berhenti mencari kebenaran; maju terus menghadapi jaman yang berubah dan jangan menunggu sampai dikuasai olehnya; melaksanakan jasa-jasa yang berarti dan ada konsekuensinya bagi umat manusia; memelihara suatu kebebasan yang tetap teguh.

 Wartawan harus mencoba untuk menemukan, menyusun dan menjabarkan fakta serta opini kepada khalayak ramai yang kian bertambah maju.

James Reston, editor eksekutip surat kabar New York Times, berkesimpulan bahwa vitalitas merupakan kunci bagi wartawan yang sukses. Selain itu ada kewaspadaan, dan memiliki nilai-nilai moral.

Tak berlebihan bila Om Dami dengan segala keunggulan dan kekurangannya telah berusaha menjadi wartawan profesional seperti yang dilukiskan oleh John Hohenberg dan James Reston.

Om Dami, terimakasih berlimpah makna hidupmu yang bisa menegaskan lagi komitmen kami pada panggilan professional, entah sebagai pekerja pers, pemimpin dll, selamat jalan sang legenda pers . (*)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 4

NTT Kehilangan Tokoh Pers Inspiratif


Damyan Godho
KUPANG, PK - Tokoh pers Nusa Tenggara Timur (NTT), Damyan Godho wafat dalam usia 73 tahun 10 bulan. Pendiri Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang ini mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit (RS) St. Carolus Borromeus Kupang, Selasa (29/1/2019) pukul 01.30 Wita.

Kepergian Damyan Godho untuk selama-lamanya, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, melainkan masyarakat NTT, lebih khususnya lagi kalangan dunia pers. Berbagai pihak merasa kehilangan sosok yang tegas, visioner, berhati lembut dan humoris ini.

Damyan Godho meninggalkan seorang istri, Theodora Mandaru-Godho dan tiga orang anak, Ira Godho, Ino Godho dan Rany Godho. Anak sulung, Romi Godho sudah lebih dahulu menghadap sang Khalik.


Saat ini jenazah Damyan Godho disemayamkan di rumah duka di Jl. Fetor Foenay Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Menurut rencana, jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Abadi di Keluarahan Fatukoa, Kamis (31/1/2019).

Pria yang akrab disapa Om Damy ini pertama kali menggeluti dunia jurnalistik dengan bergabung bersama Harian Kompas pada tahun 1980, bertugas di NTT. Pada 1 Januari 1990 diangkat menjadi wartawan Kompas.

Om Damy kemudian mendirikan SKH Pos Kupang pada tanggal 1 Desember 1992. Beliau sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kupang selama dua periode (1998-2008). Om Damy juga pernah menjabat Ketua Dewan Penasehat PWI Cabang Kupang.

Atas jasanya dalam pembangunan di NTT, khususnya dalam bidang pers, Om Damy mendapat penghargaan cincin emas dari Pemerintah Provinsi NTT. Penghargaan diberikan Gubernur NTT saat itu, Drs. Frans Lebu Raya. Acara penyematan cincin emas terjadi saat peringatan HUT ke-55 Provinsi NTT yang berlangsung di Alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (20/12/2013) silam.

"Beliau memang kita nilai pantas dan layak menerima penghargaan ini. Beliau kita nilai berhasil dan konsisten bergerak di bidang pers. Banyaknya usaha media dan pers di NTT ini tidak terlepas dari kontribusi beliau," kata Asisten I Sekda NTT, Johana Lisapali saat itu.


Ketua DPRD Provinsi NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H mengatakan, masyarakat NTT tentu merasa kehilangan sosok yang semangat dan sudah banyak menorehkan sejarah dalam pembangunan pers di NTT.

"Almarhum sudah lahirkan banyak kader-kader muda yang profesional di bidang jurnalistik. Karya dan semangatnya  juga tetap menjadi panutan," kata Anwar saat ditemui di rumah duka.

Anwar juga mengatakan, secara pribadi dirinya menangkap kesan humanis pada sosok Om Damy. Selain itu, Om Damy sangat dekat dengan keluarga dan masyarakat.
Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man mengatakan Damyan Godho merupakan  temannya. Menurutnya, Damyan Godho merupakan orang yang sangat berjasa dalam pembangunan NTT.

"Beliau adalah orang yang perkenalkan NTT dulu melalui Harian Kompas. Dulu saya baca berita tentang itu ada inisal DAG dan itu beliau. Jadi bagi kami beliau orang pertama yang cukup berjasa promosi NTT lewat Kompas," kata Herman.

Saat melaksanakan tugasnya sebagai seorang jurnalis, kata Herman, Damyan Godho selalu memberikan kritik kepada pemerintah khususnya mengenai pembangunan dan pelayanan publik.

"Pak Damy selalu kritik kami. Tapi kritikannya itu membangun dan memberi kami motivasi," ujarnya.

"Beliau pelaku sejarah, karyanya turut berkontribusi bagi NTT. Kita kehilangan orang berjasa, karena Pak Damy sudah perkenalkan NTT lebih dahulu dari yang lain," ucap Herman.

Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur memiliki kesan tersendiri dengan sosok Damyan Godho. "Pak Damy itu sosok yang sangat visioner. Pikiran-pikirannya sangat maju, selalu memberikan dorongan dan bijaksana. Dalam beberapa kali pertemuan, Pak Damy selalu mengatakan jangan takut kalau melakukan sesuatu yang diyakini benar untuk kepentingan banyak orang," kata Yentji Sunur ketika dihubungi, Selasa siang.

Menurutnya, dalam beberapa kesempatan bertemu Pak Damy di Kupang, dirinya merasakan betapa gaya berpikir Pak Damy jauh ke depan dan sangat visioner.
Pesan lain yang diterima langsung dari Pak Damy, demikian Yentji Sunur, adalah jangan takut kalau apa yang hendak dilakukan itu diyakini benar dan baik untuk kepentingan banyak orang.   "Pesan itu selalu diingat sampai sekarang," ujarnya.

Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si mengatakan, Damyan Godho adalah aset daerah yang kita banggakan. "Kita sangat kehilangan sosok inspiratif," ujar Esthon saat ditemui di rumah duka.

Esthon mengisahkan awal mula mengenal Damyan Godho, yaitu ketika dirinya masuk kuliah di Fapet Undana.

"Saya masuk kuliah ternyata sama-sama dengan ibu Dora (istri Damyan Godho). Saya teman baik ibu Dora. Jadi karakter Pak Damy dari dulu seperti ini," tambahnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTT, Ir. Andre Koreh, MT, sosok Damyan Godho tak hanya sebagai guru tapi juga sahabat dan teman diskusi yang bisa mencairkan semua kebekuan.

"Beliau juga tokoh panutan bagi generasi muda dan seorang pekerja keras yang handal dan gigih," kata Andre.

Menurut Andre, Om Damy juga merupakan tokoh yang lugas dalam membangun komunikasi dengan semua kalangan, dan dengan semua generasi. Om Damy juga selalu berpikir logis dalam setiap masalah dan memberi saran konstruktif untuk mencari solusi.

"Saya secara pribadi merasa sangat kehilangan figur Om Damy," ucap Andre.

Pemimpin Redaksi SKh Pos Kupang, Dion DB Putra mengatakan, "Om Damy adalah segalanya bagi saya. Guru terbaik dalam kehidupannya sebagai karyawan maupun kehidupan pribadi."

Menurut Dion Putra, Om Damy sebagai pemimpin yang hebat. "Om Damy banyak membimbing, mendidik, menggembleng selama mengelola Harian Umum Pos Kupang," ujarnya saat ditemui di rumah duka.

Dikatakannya, Om Damy telah memberikan banyak kesempatan kepadanya untuk memimpin Pos Kupang. Semua karyawan Pos Kupang pantas untuk berterima kasih atas segala jasa Om Damy semasa hidup.

"Lembaga ini sangat kehilangan sosok Om Damy, sebagai pendiri Surat Kabar Harian Umum Pos Kupang. Ada ribuan karyawan yang pernah menghidupi dirinya dan keluarga. Kita bisa makan dan minum dari lembaga ini karena jasa baik Om Damy," ucap Dion Putra.

"Om Damy itu keras dalam sikap tetapi sesungguhnya sangat lembut dalam cara," tambahnya.

Mantan Pemimpin Perusahaan (PP) PT Timor Media Grafika, Daud Sutikno memiliki kesan sendiri terhadap Damyan Godho. "Sosok yang baik. Guru dan orangtua terbaik," ucap Daud Sutikno.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTT, Veronika Ata alias Tory Ata mengatakan, Damyan Godho merupakan sosok yang luar biasa dalam memimpin Pos Kupang.

"Saya sangat kehilangan beliau, tokoh dan putra terbaik NTT dalam dunia pers.  Beliau seorang motivator. Selalu memberi semangat. Kita patut apresiasi kepada om Damy karena selama ini beliau dan teman-teman jusnalis di SKH Pos Kupang telah mencerahkan masyarakat melalui karya jusnalistiknya," kata Tory.

Direktris LBH APIK NTT, Ansy Damaris Rihi Dara, SH menilai sosok Damyan Godho adalah seorang yang tegas, disiplin, berwibawa dan memiliki karakter yang baik.

"Saya sangat mengagumi jiwa kepeloporan, komitmen dan profesionalisme dunia jurnalistik itu dari beliau, Om Damyan Godho. Hal ini ditunjukkan dari hasil karya tulisannya dan juga dari keberadaan SKH Pos Kupang hingga saat ini," kata Ansy, Selasa (29/1/2019). (yel/kro/vel/kas/aca)


Pergi ke Taman Ziarah Oebelo


PUTRI bungsu Damyan Godho, Rany Godho menceritakan detik-detik menjelang kepergian ayahnya, Senin dini hari. Saat itu, Rany memang berada di dekat ayahnya yang terbaring lemah.

Rany menuturkan, pada Senin (28/1/2019) siang sepulang dari Kantor Bank NTT tempatnya bekerja, dirinya langsung menemani ayahnya yang sudah seminggu terakhir dirawat di RS St. Carolus Borromeus.

Ketika tiba, sang ayah langsung berkata, "Eh..kamu kemana saja? Hari ini kita bersama Bapak Uskup (Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr) akan pergi ke Gua Maria Oebelo."

Rany sempat bingung dengan perkataan ayahnya yang mengajak ke Taman Ziarah di Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Padahal ayahnya tidak ada janjian berziarah ke Gua Maria Oebelo.

"Mendengar itu saya hanya tersenyum dan bertanya-tanya dalam hati, apa maksud papa bilang seperti itu?" ungkap Rany saat ditemui di rumah duka.

Rany berusaha menepis rasa penasarannya dengan bercanda. Rany sangat bahagia siang itu karena ayahnya ceria dan bersemangat. "Ada bapak kecil saya, kakak sulung dan ibu, kami banyak bercerita dan bercanda," ujarnya.

Pada malam hari, Rany mulai gelisah saat mendengar bunyi ngorok ayahnya. Menurutnya, suara ngorok itu terdengar aneh, tidak biasa. Ia bergegas menemui perawat untuk menanyakan apa yang terjadi dengan ayahnya.

Singkat cerita, suasana di ruang tempat Damyan Godho dirawat berubah. Dokter dan perawat sibuk memompa jantungnya. Rany bersama ibunya serta anggota keluarga lainnya hanya menangis.

Rany mengatakan, detik-detik sebelum menghembuskan napas terakhir, ayahnya menggenggam erat jemari tangan kanannya. Hal itu dilakukan kurang lebih selama semenit. Namun tak ada kata-kata yang terucap. "Kami hanya bisa menangis," ujarnya mengenang.

Bagi Rany, ayahnya adalah sosok yang tegas tapi juga lembut. Selalu memberi teguran dan nasehat setiap kali dirinya membuat kesalahan. "Dari situlah Rany selalu belajar untuk jadi lebih baik hari demi hari," katanya.

Ayahnya juga sosok yang lembut hati. Tidak akan memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. "Yang penting kita juga bisa memberikan penjelasan yang masuk akal atau
tentunya dipertimbangkan dengan matang."

Rany menjelaskan, ayahnya suka berteman dengan siapa saja. Ayahnya pernah berpesan, hal yang penting dalam menjalani hidup ialah merawat hubungan dengan orang lain.

"Bagi ayah, relasi atau hubungan itu lebih berharga daripada harta dan kekayaan. Itulah yang Rany teladani, selalu menjaga relasi atau hubungan baik dengan orang lain," kata Rany.

Rany juga mengungkapkan kebiasaan ayahnya saat berada di rumah. Menurutnya, ayahnya suka menanam dan mempretel mobil, bahkan ketika kondisi kesehatanya mulai memburuk.

"Di rumah kami ini hijau karena banyak tanaman. Bapa memang suka menanam selain itu juga suka mempretel mobil," ungkap Rany.

Beberapa hari sebelum meninggal, kata Rany, ayahnya menyampaikan beberapa pesan penting kepadanya. Salah satunya adalah menjaga dan merawat ibunya.

"Papa sering bilang, tolong jaga dan rawat ibu baik-baik. Kalau papa meninggal, papa mau dikubur dekat almarhum kakak sulung Rany," ucapnya lirih.

Ira Godho menambahkan, ayahnya mulai mengalami sakit dan terasa pada Februari 2017 lalu. Ketika itu, lanjut Ira, keluarga berupaya untuk berobat, bahkan sampai ke Singapura. Kemudian, pada Agustus 2018, mengalami sakit pinggang dan sempat dibawa ke RS Siloam. Selanjutnya sang ayah dirawat di RS St. Carolus Borromeus Kupang. "Upaya yang dilakukan keluarga ternyata lain yang terjadi sehingga papa meninggal pada Selasa dini hari," ujar Ira. (yel/kk)

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 1

Jenazah Damyan Godho Disemayamkan di Gereja


Damyan Godho
SELAIN kerabat kenalan dan masyarakat umum, sejumlah tokoh melayat jenazah Damyan Godho di rumah duka, Jl. Fetor Foenay Kelurahan Kolhua Kota Kupang, Selasa pagi hingga malam. Ada juga yang menyatakan duka cita dengan mengirim karangan bunga. Isak tangis dan deraian air mata silih berganti.

Beberapa pejabat pemerintah terpantau hadir melayat, di antaranya Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dan dr. Herman Man serta Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno bersama istri. Dua mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay dan Yohanes Pake Pani serta Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr juga ikut melayat. Tak ketinggalan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur, Josef Nae Soi.

Uskup Turang tiba di rumah duka, Selasa (29/1/2019) pagi. Uskup Turang sempat berdiri di depan jenazah Damyan Godho, lalu memanjatkan doa.


Saat bertemu dengan keluarga, Uskup Turang sempat berbicara lepas. Hal ini dijelaskan anggota keluarga, Linda Uta. "Kau sudah jalan e Damy. Saya mau buat misa tapi harus di gereja. Kau mau ya Damy..," ujar Linda mengutip pernyataan Uskup Turang.

Hal senada dijelaskan John Elphi Parera dan Isyak Nuka. Keduanya mengatakan, Uskup Turang menghendaki agar misa arwah berlangsung di gereja.

"Karena itu permintaan Bapak Uskup, maka kita pada Rabu (30/1/2019) akan membawa jenazah Bapak Damyan Godho ke Gereja St. Fransiskus dari Assisi BTN Kolhua," ujar Elphi Parera.

Isyak Nuka menambahkan, saat Uskup Turang melayat, langsung meminta agar misa arwah hari berikut harus dilakukan di gereja. "Kami juga sudah berembuk bersama keluarga, maka pada Rabu (30/1/2019) ini jenazah bapak Damy akan kita pindahkan ke gereja," terang Isyak.

Perayaan misa di Gereja St. Fransiskus dari Assisi, Rabu malam dimulai pukul 19.00 Wita. Misa dipimpin Romo Geradus Duka. Sedangkan misa pemakaman dilaksanakan Kamis (31/1/2019) pukul 10 :00 Wita. Jenazah Damyan Godho akan dimakamkan di TPU Damai Kelurahan Fatukoa.

Pada Selasa malam, berlangsung misa yang dipimpin RD Gerardus Duka di rumah duka. Usai misa, anggota Komunitas Terang, Theodorus Widodo menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Damyan Godho. Komunitas Terang didirikan Damyan Godho.

Theo Widodo mengatakan, dirinya sudah mengenal Damyan Godho sejak tahun 1980-an. "Om Damy sangat tegas, sangat peduli pada sahabat. Kami tentu merasa sangat kehilangan seorang kakak dan orangtua teristimewa bagi Komunitas Terang," ucapnya.

Sebulan sekali, jelasnya, bersama Om Damy, Komunitas Terang mengadakan kegiatan di gereja dan kegiatan sosial seperti pengobatan gratis. "Kesan kami semua, Om Damy betul-betul seorang bapak yang bisa mengayomi kami semua dan mau berbaur."

Kebersamaan lainnya, lanjut Theo Widodo, saat bersama-sama pergi ke Taman Ziarah Oebelo, Kabupaten Kupang. "Bisa dikatakan Taman Ziarah Oebelo adalah buah tangan Om Damy. Orang yang selalu setia ada di taman ziarah. Sehari bisa dua kali ke taman ziarah," katanya.

Dia juga mengatakan, Om Damy sangat tegas dan keras. Bahkan pada saat sakit, tidak mau kalau banyak orang mengetahui kondisinya. "Setelah beberapa kali, baru Om Damy mau kami datang pada tanggal 6 Januari 2018 menjenguknya," tutur Theo Widodo.

Menurut Theo Widodo, kepergian Om Damy merupakan jalan terbaik karena beliau sangat menderita. "Kita yakin karena iman dan perbuatan baik, ia sudah berbahagia di surga," pungkasnya. (yel/kk/ll)

Damyan Godho di Mata Mereka


Damyan Godho
PAK Damy Godho adalah aset daerah yang kita banggakan. Kita sangat kehilangan sosok inspiratif. (yel)

- Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay -


Lahirkan Banyak Kader

MASYARAKAT NTT tentu merasa kehilangan sosok yang semangat dan sudah banyak menorehkan sejarah dalam pembangunan pers di NTT. Almarhum sudah lahirkan banyak kader-kader muda yang profesional di bidang jurnalistik. Karyanya dan semangatnya juga tetap menjadi panutan. (yel)

- Ketua DPRD Provinsi NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H -


Sosok Visioner

PAK Damy Godho itu sosok yang sangat visioner. Pikiran-pikirannya sangat maju, selalu memberikan dorongan dan bijaksana. Dalam beberapa kali pertemuan, Pak Damy selalu mengatakan jangan takut kalau melakukan sesuatu yang diyakini benar untuk kepentingan banyak orang. (kro)

-- Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur -



Karya Istimewa Tetap Abadi

PAK DAMY boleh tiada tapi karya-karya istimewanya tetap abadi di hati kami semua. Karyanya membanggakan dan sulit dilupakan. Beliau salah satu orang hebat NTT. Selamat jalan! (yel)

- Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT, Winston Neil Rondo -


Punya Daya Ingat Tajam

DAMYAN Godho adalah seorang motivator, pemberi semangat dan memiliki daya ingat yang kuat atau tajam. Kita sangat kehilangan tokoh dan putra terbaik NTT dalam dunia pers. Kita patut memberikan apresiasi kepada Om Damy karena telah memimpin pers di NTT yang mampu mencerahkan masyarakat melalui karya-karya jurnalisik di Pos Kupang. (vel)

- Ketua DPD WKRI NTT, Ursula Gaa Lio Dando -


Menghargai Orang Muda

SAYA ingat, sekitar tahun 1998 kalau tidak salah, SKh Pos Kupang mengalami masa sulit, masa kritis, namun Om Damy tetap bertahan dan mempertahankan eksistensi SKH Pos Kupang sampai hari ini. Beliau juga sangat menghargai orang muda dan selalu memberi kesempatan orang muda untuk maju di bidangnya masig-masing. Beliau mau mendengarkan pendapat kami walapun posisi kami sebagai anak. (vel)

- Henderina Malo, SH, MH, Jaksa Kejari Kupang -

Sumber: Pos Kupang 30 Januari 2019 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes