Lulin Sering Dikira sebagai Orang Lain


Kembar identik Yanfei (kiri) dan Lulin
SELAMA tiga tahun Bao Lulin mendapati dirinya selalu dikira orang lain oleh sejumlah orang yang tidak pernah dia kenal. Lulin, seorang waitress (pelayan) dari Jiuyang di Guizho, China bagian selatan, bingung dengan jumlah orang yang mendekati dan berbicara kepadanya seolah-olah mereka kenal dia.

Mereka bertanya tentang pekerjaannya di Provinsi Fujian, mengira dia menantu dari seseorang yang tidak dia kenal atau bertanya mengapa dia tidak mengenali mereka. Namun, Lulin belum pernah sekali pun melihat orang-orang itu dalam hidupnya.

Perempuan 24 tahun itu bersumpah untuk melacak sosok misterius yang menyerupai dirinya itu dan sangat terkejut saat menemukan bahwa dia punya saudara kembar identik yang telah dipisahkan darinya sejak lahir. Kisah luar biasa Lulin soal penemuan itu dimulai pada Juni 2009, saat dia membantu seorang saudaranya menjaga lapak buah. Ketika itu, empat nenek mendekatinya. "Kamu sudah kembali dari Provinsi Fujian? Kenapa kamu tidak memberi tahu kami?" kata salah seorang dari mereka.

Saat Lulin bingung dan bertanya siapa mereka, seorang nenek mengejek, "Ya sudah, kamu pasti telah mendapatkan uang banyak, dan tidak ingin kenal kami lagi."

Mereka memiliki bekas luka yang sama
Selang beberapa bulan, seorang pria setengah baya mendekati Lulin, yang saat itu bekerja sebagai kasir di sebuah restoran di Jiuyang. Pria itu mengatakan kepadanya, "Kamu terlihat benar-benar identik dengan salah seorang kerabat saya."

Tidak lama setelah itu, seorang remaja yang tampak bingung makan malam di restoran itu mendekati Lulin lalu berkata, "Yanfei, kamu bekerja di sini sekarang?" Lulin memutuskan untuk mencari Yanfei yang misterius itu. Namun, ia kemudian hamil dan harus menunda rencana tersebut.

Perempuan yang telah menikah dan punya seorang anak itu berkata, "Ide untuk mencarinya selalu ada dalam pikiran saya. Saya ingin mencari dia setelah anak saya sedikit lebih besar."

Akhirnya, Lulin mulai mencari orang yang katanya mirip dengan dirinya itu tiga tahun sejak kali pertama dikira sebagai kenalan, keluarga, atau teman dari orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal itu.

Pada Oktober, Lulin sekali lagi dikira seabgai Yanfei di tempat kerjanya, dan kali ini dia melihat kesempatan. Ia berhasil mendapatkan alamat perempuan bernama Yanfei itu.

November lalu, Yang Yanfei, yang juga tinggal Jiuyang, sedang bermain dengan putranya di rumah ketika tiba-tiba mendengar ibu mertuanya berteriak, "Yanfei, kemari sekarang!"

Yanfei khawatir dengan nada mendesak ibu mertuanya. Ketika ia berlari keluar, seorang perempuan yang berdiri memunggunginya tiba-tiba berbalik. Yanfei kaget, Lulin hampir identik dengan dirinya.

Ibu satu anak itu berkata, "Saya merasa saya sedang melihat ke cermin." Lulin menambahkan, sebagaimana dikutip Mail Online, Selasa (4/12), "Kami merasa seperti kami sudah saling kenal selama bertahun-tahun."

Yanfei dan Lulin kemudian tahu bahwa mereka diadopsi saat masih bayi dan menyadari bahwa mereka pasti kembar yang dipisahkan sejak lahir. Ada banyak kemiripan yang tampak luar biasa di antara mereka selain kemiripan fisik.

Keduanya menikah tahun 2007, suami mereka punya nama panggilan yang sama yaitu Bin, dan anak-anak mereka juga terlihat mirip. Keduanya memiliki warna suara yang sama, sama-sama ramah, berkepribadian menyenangkan, punya sejumlah hobi yang sama, gaya berpakaian sama, dan menyukai makanan yang sama. Mereka bahkan punya bekas luka yang sama di jari mereka setelah mengalami jenis kecelakaan yang sama ketika mereka berusia enam tahun.

Bayi-bayi perempuan sering diberikan untuk diadopsi di China karena kebijakan Anak Satu. Anak laki-laki lebih dihargai di masyarakat China karena mereka yang akan mewarisi nama leluhur, dan hukum waris hanya mewariskan harta kepada anak laki-laki. Karena itu, ratusan ribu bayi perempuan ditelantarkan di China setiap tahun. (*)

Sumber: Kompas.Com

TERKAIT

Bertemu Kebetulah, Eh ternyata Bersaudara
Kembar Indonesia Bertemu Lagi Setelah 30 Tahun

Bertemu Kebetulan, Eh Ternyata Bersaudara!


Dakotah Zimmer (tengah), Isaac Noltin (kanan) dan Ashley
DUA anak laki-laki yang sedang bermain di sebuah kolam renang pada musim panas lalu menyadari bahwa mereka tampak sangat mirip. Cara berjalan mereka bahkan sama.

Namun, Isaac Noltin, 12 tahun, dan Dakotah Zimmer, 13 tahun, terguncang begitu mengetahui bahwa mereka bukan hanya sekadar mirip: mereka memang bersaudara.

Dakotah menceritakan kepada Ishak bahwa ia tahu ia punya saudara. Namun, dia tidak pernah bertemu saudaranya itu yang diadopsi oleh seorang perempuan bernama Dawn. "Hah, itu nama ibu saya," kata Ishak.

Kisah mengharukan tentang bagaimana Dakotah dan Ishak bertemu merupakan salah satu kecemasan ibu angkat Ishak, Dawn Noltin.

Noltin, yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan binatu, menceritakan kisahnya kepada TODAY.com dan eMissourian. Dia mengatakan, dirinya memikirkan soal kapan harus memberitahu anaknya bahwa ia diadopsi.

Selama berminggu-minggu sebelum Ishak dan Dakotah bertemu, dia telah meminta saran teman-temannya dan pendeta tentang bagaimana cara memberitahu anaknya bahwa ia punya saudara. Ia tahu soal itu harus disampaikan sebelum kedua anak itu mulai sekolah. Mereka akan memasuki sekolah menengah yang sama di Washington, Missouri, dan pasti, entah bagaimana caranya, akan menemukan satu sama lain.

Pada malam setelah Ishak dan Dakotah bertemu, Isaac mendekati ibunya dan bertanya apakah dia diadopsi. Ketika Nolting, 42 tahun, bertanya mengapa ia berpikir begitu, anaknya menjawab, "Karena saya pikir saya telah menemukan kakak saya."

Ibu dan anak itu mulai menangis. "Saya sangat senang bahwa saya punya saudara," kata Ishak kepada TODAY.com. "Saya selalu meminta seorang saudara."

Nolting bertemu ibu Isaac beberapa tahun lalu ketika ia sedang keluar untuk makan malam dengan mantan suaminya. Seorang teman mantan suaminya itu kemudian mengundang mereka untuk bertemu dengan pacarnya dan putra mereka yang baru lahir. Ibu berumur 16 tahun itu baru saja melahirkan Ishak sembilan hari sebelumnya, dan sudah punya seorang putra berusia satu tahun, yaitu Dakotah.

Noltin sendiri telah menjadi ibu tunggal. Ia sendiri punya anak perempuan pada usia 19 tahun. Dia mengatakan kepada TODAY.com bahwa naluri keibuan mendorongnya. Ia pun menawarkan diri untuk mengurus bayi yang baru lahir itu.

Beberapa bulan berlalu, Noltin menerima telepon bahwa ibu kandung Ishak hamil lagi. Nenek perempuan itu bertanya apakah Noltin ingin mengadopsi Ishak secara legal. Delapan belas bulan kemudian, Ishak secara legal menjadi anaknya.

Ibu kandung Ishak dan Dakotah meninggal tahun 2007, dan ayah biologis mereka meninggal setahun kemudian.

Dakotah dan saudari, Ashley, tinggal bersama nenek biologis Ishak, Debi Bay.

Bay mengatakan, Dakotah selalu tahu dia punya saudara. "Saya senang mereka bertemu," katanya tentang pertemuan dua cucunya itu.

Meski keduanya tidak tahu keberadaan satu sama lain selama lebih dari satu dekade, mereka seolah-olah tumbuh bersama, kata Noltin. "Sepertinya mereka tidak pernah berpisah," kata dia setelah mengamati kedua bocah itu.  (*)

Sumber: Kompas.Com


TERKAIT

Kembar Indonesia Bertemua Lagi Setelah 30 Tahun 
Lulin Sering Dikira sebagai Orang Lain

Andi Mallarangeng Mundur

Andi Mallarangeng
PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara resmi telah memberikan pernyataan terkait status hukum yang dikenakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora)  Andi Alfian Mallarangeng. Andi dicekal dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang.

Hari Jumat 7 Desember 2012, Andi mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Menpora dan Presiden SBY menerima pengunduran diri tersebut. "Setelah mendengar dengan seksama dan membaca surat pengunduran diri yang bersangkutan, maka saya menerima dan menyetujui pengunduran diri itu," kata Presiden SBY dalam keterangan pers di Istana Negara, kemarin siang.

Menurut SBY ada tiga alasan yang diajukan Andi sebagai dasar pengunduran diri. Pertama, dengan dikenakannya status cekal, ia tidak bisa menjalankan tugas secara efektif. "Dengan tidak efektifnya dalam mengemban tugas sebagai Menpora, tentu akan mengganggu Kabinet Indonesia Bersatu II dan dikhawatirkan justru akan memberikan beban pada  Presiden dan Kabinet," ujar Presiden SBY. Alasan ketiga, Andi ingin berkonstrasi menghadapi masalah hukum terhadapnya.

Kita patut memberi apresiasi terhadap KPK di bawah pimpinan Abraham Samad. Setelah melalui proses panjang dan berliku bahkan sempat dihantui keraguan publik,  KPK akhirnya menetapkan Andi Mallarangeng sebagai tersangka terkait kasus proyek Hambalang di Bogor, Jawa Barat. Dalam sejarah keberadaan KPK di negeri ini,   Andi merupakan menteri aktif pertama yang ditetapkan lembaga pemberantasan korupsi tersebut.

Sudah pantas dan selayaknya KPK bertindak demikian. Di mata hukum semua orang sama kedudukannya. Tidak boleh ada pilih kasih, tebang pilih  atau diskriminasi. Penetapan Andi sebagai tersangka kiranya membuka tabir lebih jelas tentang dugaan korupsi proyek Hambalang. Patut diduga masih ada tersangka lain yang terlibat dalam kasus yang sama. Salah satu nama yang sudah lama menjadi konsumsi publik adalah Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Kita tunggu langkah KPK selanjutnya. Status apa yang bakal dikenakan kepada Anas

Tak kalah penting kita mencermati sikap Andi Mallarangeng pasca penetapan dirinya sebagai tersangka. Acungan jempol pantas kita berikan untuk mantan juru bicara Presiden SBY tersebut. Andi dengan jiwa besar mengatakan mundur dari jabatannya sebagai Menpora. Dia pun mundur dari jabatan sebagai ketua dewan pembina partai. Kebesaran hati semacam ini yang diharapkan masyarakat. Tidak banyak pejabat tinggi negara yang bersikap seperti Andi.

Dalam kebanyakan kasus, seseorang yang sudah jelas tersangkut kasus hukum tetap berusaha dengan segala cara guna mempertahankan jabatannya. Sisi keteladanan telah diberikan Andi Mallarangeng. Secara moral langkah itu positif bagi dirinya dan keluarga. Andi masih terbilang muda. Dia pasti belajar dari peristiwa ini untuk menata kembali hidupnya di masa datang.*

Sumber: Tribun Manado 8 Desember 2012 hal 10

Kelangkaan Tabung Gas Elpiji

ilustrasi
MENJELANG hari raya Natal dan Tahun Baru fenomena kelangkaan tabung gas elpiji khusus ukuran 3 kilogram sulit terbantahkan di berbagai wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Selain langka,  harga tabung gas pun terus bergerak naik secara bervariasi,  jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah daerah.

Fakta kelangkaan paling parah sudah terjadi selama sebulan terakhir di Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon. Sepekan terakhir kejadian serupa melanda Kota Manado. Di Kota Manado, misalnya harga jual tabung gas elpiji 3 kg sudah mencapai Rp 17.500 hingga Rp 20 ribu. Jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15 ribu. Kenaikan harga pun terjadi di daerah lain seperti Bolaang Mongondow (Bolmong), Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara dan Bitung.

Pemilik pangkalan tabung gas elpiji ukuran 3 kg  baik di Minahasa maupun Kota Manado mengakui jatah yang mereka terima dari agen mengalami pengurangan jumlah sampai 50 persen. Sementara permintaan dari masyarakat pada bulan Desember ini grafiknya terus meningkat.

Masih menjadi pertanyaan sampai saat ini mengapa terjadi pengurangan jatah dari agen ke pangkalan? Apalagi pengurangan tersebut justru berlangsung di tengah meningkatkan permintaan masyarakat menjelang hari raya.  Sementara Pertamina dan pemerintah  telah berulangkali menjamin ketersediaan stok tok tabung gas elpiji sesuai kebutuhan masyarakat Sulut. Kalau demikian di mana letak soalnya sehingga masyarakat mengeluh sangat sulit mendapatkan tabung gas elpiji?

Kita berharap Pertamina serta pemerintah daerah di Sulut tidak tinggal diam melihat kenyataan tersebut. Perlu ditelusuri lebih mendalam mengapa stok tabung gas elpiji begitu lekas habis terjual. Fakta semacam ini mengandung dua sisi yang menarik.

Pertama, meningkatnya permintaan masyarakat terhadap tabung gas elpiji menunjukkan bahwa program pemerintah tentang konversi bahan bakar dari minyak tanah ke gas elpiji  telah berhasil. Sosialisasi yang dilakukan pemerintah selama ini memberikan hasil positif. Masyarakat makin paham menggunakan tabung gas yang selain harganya terjangkau juga praktis penggunaannya. Beban pemerintah memberikan subsidi untuk minyak tanah berkurang secara signifikan.

Kedua, fakta kelangkaan tersebut boleh jadi menunjukkan kenyataan bahwa pemerintah belum siap beradaptasi dengan keberhasilan program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Permintaan masyarakat makin meningkat tidak diikuti dengan penambahan stok sesuai kebutuhan yang terus berkembang.

Kita menyarankan pemerintah daerah di Sulut serius menangani permasalahan ini. Jangan memandang remeh mengingat semua orang butuh bahan bakar untuk memasak makanan dan minuman sehari-hari. Terobosan kebijakan harus ditempuh segera, misalnya menggelar operasi pasar atau langkah lain yang bisa mengatasi kelangkaan tabung gas elpiji saat ini. Semoga! *

Sumber: Tribun Manado 6 Desember 2012 hal 10

Sepakbola Gaduh

EKSPETASI masyarakat Indonesia yang luar biasa terhadap tim nasional (timnas) sepakbola berakhir tragis di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur Sabtu 1 Desember 2012. Timnas Indonesia yang hanya butuh hasil imbang untuk lolos ke babak semifinal Piala AFF 2012 justru keok dengan skor 0-2 atas juara bertahan Malaysia. Irfan Bachdim dan kawan-kawan meninggalkan Bukit Jalil dengan langkah gontai.

Indonesia tersingkir di babak penyisihan grup dan pulang kampung lebih awal bersama tiga tim lainnya yaitu Laos, Vietnam dan Myanmar. Empat tim akan merebut tiket final yaitu Malaysia vs Thailand dan Singapura menghadapi Filipina.

Sejak awal keberangkatan timnas ke Piala AFF 2012 memang telah dibayangi keraguan publik. Maklum saja para pemain yang masuk tim asuhan Pelatih Nilmaizar itu rata-rata minim pengalaman bertanding serta kualitasnya  pas-pasan.
Pertikaian tiada ujung di tubuh PSSI menyebabkan lebih dari separuh pemain inti timnas Indonesia yang masuk final Piala AFF 2010 serta runner-up SEA Games 2011  hanya menjadi penonton.Nilmaizar harus meramu kekuatan tim yang sangat
terbatas. Namun, Andik Vermansah Cs tidaklah buruk memulai kompetisi ini.

Mereka bermain imbang 2-2 dengan Laos pada laga perdana Grup B dan secara mengejutkan mengalahkan Singapura 1-0 sehingga sempat memimpin klasemen. Kemenangan atas Singapura pun cukup bersejarah, diraih timnas setelah 14 tahun!

Hasil  dua laga tersebut sempat membangkitkan lagi harapan ratusan juta pecinta sepakbola nasional.Ternyata harapan yang demikian besar itu pupus. Belum ada cerita indah tentang prestasi sepakbola Indonesia di level internasional. Indonesia kalah segalanya menghadapi tuan rumah Malaysia yang tampil solid, tenang dan taktis. Kematangan mereka sebagai juara bertahan tidak diragukan meski sempat kalah 0-3 melawan Singapura pada partai pembuka Grup B Piala AFF 2012.

Kita patut berterima kasih  kepada para pemain timnas 2012. Mereka kalah tetapi kekalahan yang elegan karena perjuangan mereka sudah habis-habisan.  Segala kemampuan terbaik telah mereka persembahkan untuk kehormatan Merah Putih. Apresiasi yang sama pun patut kita berikan kepada Pelatih Nilmaizar. Dia tidak menyalahkan siapa-siapa atas kekalahan itu. Dia memikul tanggung jawab penuh.

Pelatih dan pemain tidak bermasalah. Masalah terbesar sepakbola kita justru pada diri para pengurus yang egois yang gaduh tiada akhir. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) sama-sama mengklaim sebagai yang paling berhak mengurus sepakbola nasional.

Redupnya prestasi timnas merupakan imbas nyata dari konflik kedua lembaga tersebut. Bohong besar prestasi sepakbola bisa terukir di tengah konfilik. Selama PSSI dan KPSI terus berselisih, harapan masyarakat Indonesia agar timnas  mencetak prestasi hanya mimpi di siang bolong. Ketika bangsa lain kian maju, pengurus sepakbola kita justru tidak malu merawat sepakbola gaduh.*

Sumber: Tribun Manado 3 Desember 2012 hal 10

Lokon: Gunung Api Teraktif di Dunia

Gunung Lokon meletus, September 2012
WARGA panik. Ribuan orang berhamburan keluar rumah sesaat setelah mendengar dentuman keras layaknya suara bom. Mereka berteriak-teriak mengajak sanak keluarga menyelamatkan diri. Saat itu, warga Kota Tomohon benar-benar panik menghadapi dahsyatnya letusan Gunung Lokon.

Meski sudah akrab dengan Gunung Lokon yang sering 'batuk', namun warga Tomohon tetap saja panik ketika mendengar ledakan. Mereka juga terus siaga terhadap bencana erupsi gunung yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi. "Kami sampai berhamburan keluar rumah, karena kami kira ada bom meletus," ujar Oscar Lolowang, warga Tinoor.

"Saya terkejut karena mendengar letusan keras, dikira bom, ternyata Gunung Lokon yang meletus," ungkap Ruddy Pitoy, warga Kolongan.

Rabu 28 November 2012 sekitar pukul 10.05 Wita, Gunung Lokon kembali meletus. Kali ini letusan cukup dahsyat karena menimbulkan suara keras hingga menggetarkan rumah-rumah warga.

Abu vulkanik pun menyembur hingga 3.500 meter, sebuah ketinggian yang tidak biasa. Beberapa kali meletus, semburan abu vulkanik hanya mencapai 500-2.500 meter. Ini ada peningkatan ketinggian yang cukup signifikan.

"Abu vulkanik yang keluar akibat letusan Gunung Lokon mencapai ketinggian 3.500 meter," ujar Suwarno, petugas Pos Pemantau Gunung Lokon kepada Tribun Manado.

Abu vulkanik yang keluar dari Kawah Tompaluan belum menjangkau wilayah Tomohon karena masih berada dalam posisi vertikal ke udara. "Untuk sementara abu vulkanik belum bisa diprediksi akan jatuh ke mana, karena masih dalam posisi vertikal ke udara," jelasnya.

Sejak sehari sebelumnya, tanda-tanda akan terjadinya letusan memang sudah terlihat dengan meningkatnya kegempaan pada sesmograf di Pos Pemantau, baik gempa tremor maupun vulkanik.

"Supply energy masih terus berlangsung setelah letusan, jadi warga harus terus berhati-hati, dengan tidak melakukan aktivitas dalam radius bahaya 2,5 kilometer atau mendaki hingga ke puncak," pintanya.

Abu Lokon kemarin memang tidak menyasar Tomohon, melainkan melayang hingga Tanawangko. Seorang warga yang melakukan perjalanan dari Minahasa Selatan ke Manado, Martino Limpong mengaku mengalami gangguan pandangan mata akibat abu vulkanik.

Perjalanan dari rumahnya di Minsel menuju Manado saat melewati Tanawangko, Minahasa terlihat cuaca seperti berkabut. "Abu lokon bikin kabut tebal, jarak pandang terganggu," ujarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara, Hoyke Makarawung dalam pesan pendeknya menjelaskan Gunung Lokon masih berstatus Siaga. "Ketinggian asap letusan mencapai tiga kilometer dari Kawah Tompaluan. Condong mengarah ke Barat Daya Tombariri-Tanawangko," ujarnya.

Meski demikian saat letusan gunung terjadi berbarengan dengan hujan di tempat-tempat tertentu sehingga efek dari keluarnya abu tak banyak berikan pengaruh buruk. Selain itu, menurutnya koordinasi instansi dan monitoring serta pemantauan petugas telah dilakukan.

Sejak ditetapkan dengan status Siaga pada Juli 2011, menurut Kepala Pos Pemantau Gunung Api Lokon dan Mahawu, Farid Ruskanda Bina, ini adalah letusan terbesar. Dan sejak status Siaga, Lokon sudah meletus lebih dari 800 kali. Ini menandakan Lokon sebagai salah satu gunung api teraktif di dunia.

Wali Kota Tomohon Jimmy Eman mengaku bersyukur sebab kendati terjadi letusan besar, namun Gunung Lokon tak sampai memberi dampak buruk bagi daerah ini. "Tomohon ini memang daerah yang diberkati dan dilindungi, lihat saja kendati Lokon meletus, tapi tak satu pun dampak yang dirasakan masyarakat. Lokon menjadi berkat bagi Tomohon, karena semakin dikenal dunia luar," katanya.
(war/rob)

Sumber: Tribun Manado 29 November 2012 hal 1

Menguji Nyali di Nimanga River

Sungai Nimanga, Minahasa, Sulawesi Utara
Sulawesi Utara benar-benar memiliki pesona luar biasa. Sungai yang membelah Desa Timbukar, Kabupaten Minahasa menjadi bukti pesona itu.

SEBANYAK 24  wartawan, di antaranya lima jurnalis Harian Tribun Manado masing- masing Anton Iwan, Arthur Rompis, Charles Imanuel Komailing, Wastef Abisada dan Dion DB Putra  berkesempatan menjajal arung jeram sungai di Desa Timbukar dalam gelaran Media Gathering PT Daya Adicipta Wisesa, Sabtu 24 November 2012.

Sebelum meluncur ke lokasi gathering, para jurnalis berkumpul dulu di main dealer Honda PT Daya Adicipta Wisesa yang berada di Maumbi.

Persiapan
Pada kesempatan itu, dipaparkan sistem PGM-FI yang akan berlaku pada semua motor Honda mulai tahun depan. Erik Winata Sugiarto, Marketing and Promotion Departement Head menyatakan, hal ini dilakukan Honda untuk mendukung kampanye lingkungan bersih yang sedang berlangsung di berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Ini merupakan teknologi Honda yang ramah lingkungan," kata Erik seraya menambahkan,  teknologi PGM-FI sudah nyantol di motor Honda sejak 1982. "Ada motor tertentu yang sudah memakai teknologi ini," sebutnya.

Setelah 1982, berturut-turut pada 1993, 2002 hingga akhirnya dicanangkan semua motor Honda akan menggunakan teknologi ini pada 2013.

Para wartawan juga diajak menengok aktivitas di gudang Honda pada bagian sparepart dan unit. Masuk ke dalam 'area rahasia" Honda, para jurnalis dilarang bawa kamera.
Simak penjelasan instruktur

Mereka hanya dapat mencatat pada BlackBerry atau secarik kertas, hal-hal yang dijelaskan oleh penjaga gudang. Dijelaskan tentang barang-barang sparepart sewaktu diterima lalu dipak untuk dijual ke distributor yang ada di tiga daerah yaitu Sulut, Maluku dan Gorontalo.

Pada ruangan yang mampu menampung ribuan sepeda motor, para peserta gathering sempat terkejut begitu tahu motor-motor itu sudah terjual semua. Pada sisi kanan ruangan berkapasitas 1.500 motor itu, ada satu ruang berukuran kecil yang difungsikan sebagai tempat reparasi motor yang masuk.

Keluar gudang, para jurnalis langsung digiring menuju dua buah bus yang akan membawa mereka ke Timbukar.

Selama satu setengah jam lebih, perjalanan ditempuh dari Maumbi menuju Timbukar masuklah di daerah perbukitan dengan jalan sangat sempit. Namun di kanan kiri, pemandangan begitu indah. Bahkan beberapa kali ditemui air terjun.

Dan akhirnya tibalah di tempat rafting bernama Karapi Rafting Nimanga River Timbukar itu. Sungai sudah menderu-deru serta pepohonan menari-nari di pelupuk mata seperti memanggil-manggil, tapi "adu nyali" belum dimulai.

Sesudah makan siang yang riang, suasana jadi "mencekam" ketika para peserta gathering yaitu para jurnalis dan karyawan PT DAW mengambil perlengkapan rafting satu per satu mulai dari pelampung, helm pelindung hingga dayung.

Adrenalin para peserta membara ketika mendengar pasal demi pasal aturan rafting dibacakan. "Ada beberapa komando yaitu dayung depan, dayung belakang, pindah kiri dan kanan, buum yang berarti menunduk, buum, buum, buum yang artinya duduk. Juga pegang dayung ada caranya yaitu pegang ujung dan bagian tengahnya," kata seorang instruktur panjang lebar.

Penjelasan itu disambut anggukan kepala, tanda paham. Perahu karet sebanyak delapan buah sudah terparkir di tepi Sungai Nimanga.  Peserta menghampirinya dan mengambil posisi, dua di belakang, satu di tengah serta sang kapten yang bertugas mengawasi, duduk pada posisi paling belakang.

Jeram Say Goodbye


Puluhan wartawan dan karyawan PT Daya Adicipta Wisesa itu terjun ke sungai yang membelah Desa Timbukar. Lalu mereka meluncur menumpang perahu karet.
Siap meluncur dari titik start

Delapan perahu karet itu ditumpangi 4-6 orang. Satu orang merupakan pemandu dari Karapi Rafting Nimanga River Timbukar. Air sungai mengalir tenang diiringi rintik hujan.

Setengah jam setelah meluncur, tiba-tiba muncul arus deras dari atas. Air berwarna hitam dan membawa berbagai material, utamanya batang pohon ukuran sedang. Air semakin deras dan mereka yang ada di lokasi start pun panik.

Pengelola rafting yang stand by di lokasi start pun meluncur dengan sepeda motor, menyusul mereka yang mengikuti rafting. Tujuannya meminta mereka minggir dan melihat situasi, apakah perjalanan bisa dilanjutkan atau harus dihentikan. Semua untuk keselamatan peserta.

Di awal-awal perjalanan, semua merasa tegang. Saat dijelaskan mereka menganggu-anggukkan kepala, tapi medan yang beringas itu membuat teori di kepala buyar.

"Saya perintah dayung ke belakang, tapi kamu kamu dayung ke depan," hardik sang kapten bernama Doni kepada seorang peserta yang gugup.

Berbagai kesalahan mendasar dilakukan pada awalnya, mulai dari salah dengar komando hingga salah pegang dayung. "Pegang dayung baik-baik," kata sang kapten.

Jeram pertama dilalui dengan mulus karena bisa dilewati dengan mudah. Namun kala jeram kedua dan ketiga terlewati, itu pasti karena ketrampilan dan kekompakan.

Takut yang sempat muncul di awal perjalanan lenyap berganti nyali untuk terus menjajal rute sepanjang 12 kilometer melintasi dua desa beda kabupaten yaitu Desa Timbukar Kabupaten Minahasa dan Desa Tangkunei, Kabupaten Minahasa Selatan.

"Bole sampe jembatan Maruasei kalu bagini," seloroh seorang peserta. Perahu terus  bergerak mengikuti arus. Tak melulu ke depan, para peserta juga mengayuh ke belakang mengikuti perintah sang kapten.

Gerak perahu kadang terhalang oleh batu besar di tengah sungai, atau tersendat - sendat kala melalui permukaan air yang melapisi hamparan batu kecil di bawahnya.
Tiba selamat di finish

Tegak, lalu oleng lagi, para peserta harus berjuang keras melawan arus. Hingga suatu ketika, perahu memasuki area tenang.

Tak perlu berkelahi dengan arus, para peserta meletakkan dayung masing-masing di sisi perahu. Perahu kemudian menepi dan berhenti pada suatu tempat.

Di sini, para peserta beristirahat dengan cara duduk pada tepi perahu. Sambil menyudut rokok atau meminum air mineral yang dibawa, para peserta berbagi pengamalan seru yang barusan dialami.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang pria yang tak lain pengelola yang menyusul akibat ada gelombang besar. Sang pengelola minta menunggu arus sampai tenang kembali.

Para peserta tegang lagi mendengar peringatan itu, apalagi mengetahui rute yang dijalani baru tiga kilometer. Berarti masih ada sembilan kilo lagi sebelum peserta benar-benar finish. "Di depan, tantangan yang ada makin ekstrem, " kata Donny.

Benar saja, ketika perahu dilepas sudah terasa adanya sesuatu yang seram menanti di depan sana. Bebatuan berukuran besar maupun kecil, jumlahnya lebih banyak ketimbang tiga kilometer pertama tadi.
Awak Tribun Manado

Arus yang makin kencang memukul bebatuan itu membuat gelombang makin besar. Bukan hanya oleng, perahu kadang berputar-putar hingga 180 derajat.

Perlu usaha ekstra keras untuk mengembalikan perahu pada posisi semula. Keadaan sempat tenang lagi, ketika peserta tiba pada suatu tempat yang tidak terlindung pepohonan.

Dari situ, tampak matahari bersinar cerah, perahu melaju mulus pada area yang tak banyak batunya itu. Kayuh dicelupkan pada permukaan air dan teraba dasarnya tanda air di situ tak dalam.

 Namun, seperti bunyi pepatah, tenangnya air di situ hanya pertanda sebelum datangnya badai. Tak jauh dari situ terdapat salah satu jeram maut bernama Say Goodbye.  Nama itu merujuk pada seringnya peserta jatuh dari perahu usai melalui tempat itu. Dari jauh, buih sudah terlihat. Perahu pun goyang kembali. Saking bahayanya, perahu yang datangnya berombongan harus melewati jeram maut itu satu per satu.

Satu perahu, kemudian dua, tiga dan empat perahu melewati jeram itu dengan cara meluncur dari atas ke bawah. Sial bagi perahu kelima. Seorang peserta  terlempar dari perahu, dayungnya pun terlepas dibawa air sungai.

Namun semua tantangan itu berhasil dilalui hingga tiba di garis finish. Mereka pun bergembira. Ronald Manueke, Marketing Communication PT Daya Adicipta Wisesa menyatakan, kegiatan ini digelar sebagai wujud apresiasi perusahaan terhadap insan pers yang telah menjalin kerja sama dengan baik. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado 25-26 November 2012 hal 1

Momen Bagus untuk Investasi

PUNCAK peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Manado pada  awal tahun depan akan menjadi gelaran yang meriah sekaligus momen yang sangat berharga untuk menumbuhkan investasi di Provinisi Sulawesi Utara. Pernyataan lugas ini disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono saat berkunjung ke Manado dalam rangka launching logo HPN 2013.

"Melihat pertumbuhan Manado yang luar biasa sekarang ini rasanya HPN nanti akan didorong ke arah bagaimana mendatangkan investasi di Sulawesi Utara," tutur Margiono di Manado, Selasa 27 November 2012 lalu.

Secara khusus Margiono membuat perbandingan dengan pelaksanaan HPN tahun 2011 di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasca HPN 2011 iklim investasi di NTT bertumbuh. Dampak langsung yang dirasakan Provinsi NTT  adalah makin besarnya perhatian pemerintah pusat ke daerah tersebut. "Ini momen yang sangat baik bagi pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara," katanya.

Margiono tidak sedang berbasa-basi membesarkan hati Sulawesi Utara (Sulut) sebagai tuan rumah HPN 2013. Pernyataannya memiliki bukti empiris yang layak menjadi patokan bagi daerah Nyiur Melambai mengemas momen HPN sedemikian rupa agar menarik sebanyak mungkin investor ke daerah ini.

Pengalaman menunjukkan HPN tidak hanya menghadirkan para tokoh pers, pemilik media massa nasional serta para wartawan, baik media cetak, elektronik maupun online. Momen HPN selalu menjadi magnet yang luar biasa bagi pemilik modal di negeri ini  untuk mengenal lebih jauh potensi ekonomi suatu daerah yang menjadi tuan rumah. 

Karakter pebisnis itu unik. Awalnya mereka sekadar jalan-jalan ke suatu daerah seperti  pelancong. Namun, naluri bisnisnya akan jalan bareng. Bila melihat peluang emas, dia langsung menangkap peluang tersebut lewat aksi nyata. Sekali dia tertarik lalu jatuh cinta, dia takkan berpaling.

Sulawesi Utara setidaknya dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir telah menjadi magnet baru di Timur Indonesia. Sulut memiliki modal sosial yang membuat investor mudah jatuh cinta. Pemerintah daerah ini tak henti-hentinya membangun infrastruktur, kemudahan birokrasi serta iklim yang kondusif bagi dunia usaha. Pesatnya pembangunan fisik di Kota Manado serta kota lain di Sulut belakangan ini  merupakan bukti betapa Sulut bukanlah medan yang sulit untuk berinvestasi. Maka peringatan HPN 2013 di Manado merupakan momen emas bagi Sulut  mempromosikan kemudahaan berinvestasi.

HPN jangan sekadar acara seremonial tahunan insan pers nasional. Pesta itu mesti meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah ini. Jika investor masuk Sulut, akan terbuka lapangan kerja baru, peluang-peluang baru yang niscaya akan melahirkan senyum di bibir putra-putri Sulut yang merindukan kehidupan yang lebih baik. Mari kita sukseskan HPN Manado 2013! *

Sumber: Tribun Manado 29 November 2012 hal 1

Pesona Flores yang Mematikan

Maria Susana Flores Gomez
MEREKA adalah ratu-ratu kecantikan tinggi-langsing yang kadang-kadang jatuh ke pelukan para pengedar narkotika Meksiko yang kaya-raya dan kejam. Beberapa dari mereka beralih dari catwalk yang mengagumkan ke perp walk (parade memamerkan tersangka pelaku kejahatan di depan umum) yang memalukan.

Namun, bagi Maria Susana Flores Gomez, Putri Sinaloa 2012, hal itu menjadi sebuah contoh kasus tentang pesona yang mematikan. Gadis berambut coklat berumur 22 tahun itu tewas dalam baku tembak antara sebuah geng obat bius dengan tentara di negara bagian Sinaloa di Meksiko barat laut, pekan lalu.

Flores sedang naik mobil dengan para tersangka anggota geng, termasuk pacarnya, ketika kelompok itu terlibat baku tembak dengan tentara. Empat warga sipil, termasuk Flores, dan seorang prajurit tewas dalam baku tembak tersebut.

Tentara melaporkan, model itu keluar dari mobil dengan senjata di tangannya, tetapi dia tampaknya telah digunakan sebagai "perisai manusia," kata seorang pejabat kantor kejaksaan. Pihak berwenang menduga, kelompok itu merupakan sebuah kelompok kecil yang sedang bekerja untuk kartel narkotika Sinaloa yang dipimpin Joaquin "El Chapo" Guzman, orang yang paling dicari di Meksiko, yang menikah dengan seorang ratu kecantikan.

Orang-orang di Culiacan, ibu kota Sinaloa, mengklaim bahwa perempuan dari wilayah mereka adalah perempuan-perempuan paling cantik di Meksiko, terkenal sebagai perempuan berpostur tinggi dengan karakter yang tangguh. Namun, beberapa dari mereka berakhir pada hubungan tragis dengan para pengedar narkotika yang melimpahi mereka dengan pakaian-pakaian mahal dari desainer papan atas, sepatu hak tinggi, dan berlian.

Para gangster "selalu ingin didampingi perempuan cantik, dan mereka mengubah para perempuan itu sesuai selera mereka melalui operasi plastik," kata Elmer Mendoza, penduduk asli Sinaloa yang menulis novel tentang kartel narkoba, kepada AFP.

Tahun 2007, enam tahun setelah melarikan diri dari penjara dalam sebuah keranjang cucian, Guzman menikahi Emma Coronel Aispuro yang berusia 18 tahun, yang telah ia bantu meraih kemenangan dalam kontes kencantikan di sebuah kontes lokal di negara bagian Durango, tetangga Sinaola. Coronel dilaporkan telah melahirkan anak perempuan kembar di California pada Agustus 2011, tetapi tidak ditangkap.

Kasus Laura Zuniga, pemenang kontes kecantikan Nuestra Belleza Sinaloa tahun 2008, menginspirasi film Miss Bala (Miss Bullet) tahun 2011, yang mengisahkan seorang calon ratu kecantikan yang dipaksa masuk ke dunia kelam geng narkotika. Dalam kehidupan nyata, Zuniga ditangkap pada Desember 2008 di negara bagian Jalisco bersama tujuh tersangka anggota kartel Juarez. Dia kemudian dibebaskan.

Tahun 2011, model Kolombia, Juliana Sossa Toro, ditahan bersama pacarnya, tersangka pengedar narkoba asal Meksiko, Jose Jorge Balderas, di Mexico City. Dia kemudian dibebaskan. Balderas dituduh telah menembak mantan pemain sepak bola Paraguay, Salvador Cabanas, di sebuah bar Mexico City tahun 2010.

Pertalian antara para perempuan cantik Sinaloa dengan para anggota gangster yang berkuasa bermula beberapa dekade lalu. Dalam salah satu kasus yang paling tua, Kenya Kemmermand Bastidas, "Senorita Sinaloa 1958", ditemukan tewas di Sisilia enam tahun setelah memenangi kontes. Dia menikah dengan Vittorio Giancana, keponakan seorang bos mafia Italia-Amerika.

Tahun 1990, raja obat bius Francisco Arellano Felix menculik Carmen Lizarraga yang berusia 18 tahun demi mencegah ratu kecantikan Mazatlan Carnival itu menikahi seorang saingan. Tiga tahun kemudian, Arellano ditangkap dan dikirim ke penjara dengan keamanan maksimum. Ia dibebaskan tahun 2008.

Jose Carlos Ceniceros, salah seorang penulis bersama buku Las Jefas del Narco (The Women Narco Chiefs), mengatakan, dunia berbahaya perdagangan narkotika dapat menjadi sebuah daya tarik ampuh buat para perempuan dengan kondisi ekonomi yang kurang menjanjikan. "Ini bukan hanya tentang uang. Ini juga tentang kekuasaan," katanya. "Ada pembunuh bayaran perempuan, misalnya, yang mungkin tidak secantik para kontestan ratu kecantikan," kata dia.

"Mereka terbiasa dengan sebuah kehidupan yang mewah dan (berani) mengambil risiko, dengan asumsi mereka akan segera mati, tetapi mereka menginginkan kemuliaan yang sesaat." (*)

Sumber: Kompas.Com

TERKAIT

    Ratu Kecantikan Itu Tewas karena Dijadikan "Perisai"
    Ratu Kecantikan Meksiko Tewas dalam Baku Tembak

Selamatkan Hutan Sulawesi Utara

ilustrasi
TIDAK mengejutkan lagi bila kita mendengar kabar tentang praktik illegal logging di negeri ini. Peramabahan kawasan hutan secara liar berlangsung hampir saban hari dan merata di seluruh pelosok Nusantara termasuk di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Akibat perambahan hutan yang terus bergulir itu, hutan Indonesia semakin mengalami deforestasi, kerusakan serta alih fungsi tak terkendali.

Fakta adanya perambahan hasil hutan secara melawan hukum terungkap dua hari lalu, Selasa 20 November 2012. Tim Terpadu Pengamanan Hutan Sulawesi Utara menyita sedikitnya 72 kubik berbagai jenis kayu hasil perambahan secara liar (illegal logging). Seorang oknum aparat negara ditangkap dalam operasi yang berlangsung pekan lalu. Operasi digelar tim terpadu yang terdiri dari Dinas Kehutanan, Polda Sulut, Badan Intelejen Nasional (BIN) dan Korem. Mereka beroperasi di sejumlah titik kawasan hutan di  Kabupaten  Minahasa Tenggara, Minahasa Selatan dan Bolaang Mongondow.

Kita memberi apresiasi terhadap operasi tim terpadu yang masih berlangsung saat ini. Operasi rutin diikuti dengan penegakan hukum diyakini dapat menekan praktik illegal logging di Sulut. Tertangkapnya oknum aparat negara dalam operasi tersebut mengindikasikan bahwa ada yang pihak bermain-main dengan regulasi. Regulasi sekadar dipakai sebagai tameng untuk melindungi perbuatan mereka merambah hutan secara sembrono demi kepentingan diri sendiri.

Kita sepakat dengan penegasan Kepala Polda Sulut Brigjen Dicky Atotoy bahwa kepolisian tidak pandang bulu dalam menangani masalah ini. Aparat negara yang terlibat sudah selayaknya ditindak dan perbuatannya diproses secara hukum agar memberikan efek jera. Kita pun  sependapat dengan  sikap Komandan Korem  Brigjen Johny Tobing yang akan menindak oknum bawahannya yang terlibat.

Menyelamatkan hutan di Sulawesi Utara mesti menjadi komitmen semua pihak. Kita tidak mungkin hidup nyaman tanpa hutan yang lestari. Hutan bukan sekadar  sumberdaya alam yang menunjang pembangunan ekonomi, tetapi juga sumberdaya alam yang menunjang pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup. Hutan akhirnya terkait dengan hidup matinya manusia.

Maraknya praktik illegal logging di Sulut mencerminkan kegagalan. Dan, sikap terbaik adalah berusaha bangkit dari kegagalan tersebut. Mari kita belajar dari  egoisme masa lalu ketika orang mencuri hasil hutan secara berlebihan untuk memperkaya diri hingga tidak lagi memperhatikan keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungannya. Kerusakan DAS Tondano, perambahanan hutan di Gunung Klabat serta kawasan lain di Sulawesi Utara harus dicegah. Berat memang tetapi harus kita lakukan agar  kehidupan warga Sulut hari ini terjamin juga demi masa depan anak cucuk kelak. *

Sumber: Tribun Manado 22 November 2012 hal 10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes