Sejarah Lahirnya Paroki Simon Petrus Tarus

Sejarah lahirnya Paroki Simon Petrus, merupakan peristiwa dan dinamika iman yang luar biasa. Berikut sejarah lahirnya gereja ini yang dirangkum dari buku tentang Sejarah Berdirinya Stasi Simon Petrus, karangan Marianus Kleden.

STASI Santo Simon Petrus Tarus dimulai tahun 1948 ketika beberapa orang Katolik berkumpul untuk berdoa dari rumah ke rumah (bdk.Kis.2:42). Mereka adalah Petrus Pehang, Suban Beribe, Yohanis  Melo, Bernardus Hipir, Jakobus Klau, Josef Klau, Alex Maulelo, Petrus Herin, Pius Kolin, Yosef Beda Baran, Stanis Lanang, Petrus Lanang yang dikenal dengan Pe'u Gong, Petrus Leway, Lorens Mitang, Yohanes Beribe, Simon Meluk, Agus Pati, Paulus Longo, Petrus Funan, Niko Rianghepat, Martinus Lonek, Paulus Longo, Lamber Nahak, Aloysius Djadjo, Willem Teti, Yos Agamite, Petrus Mau, Philipus Pali, Petrus Bolang, Thomas Tego Hayon, Philipus Padak, Andreas Dendo dan Simon Klau.

Andreas Dendo yang disebut sebelum Simon Klau adalah seorang polisi asal Sumba yang tinggal di sebuah perkampungan kecil di Kilometer 10 Jalan Timor Raya. Karena jarak Lasiana-Tarus cukup jauh, disepakati bahwa Andreas Dendo membentuk persekutuan doanya sendiri di Lasiana. Apalagi karena adiknya Dominikus Dendo bisa memimpin doa, membaca Alkitab dan memberikan renungan. Sebuah areal yang cukup luas di sekitar rumahnya kemudian dibebaskan untuk pembangunan sebuah kapela yang mengabadikan nama perintis: Kapela Santo Andreas Lasiana. Kita dapat mengerti sekarang mengapa bentangan wilayah dari Km 9 hingga Km 10 dipenuhi dengan warga Katolik asal Pulau Sumba.

Lahirnya persekutuan doa di ujung barat tahun 1950-an yang kemudian berkembang menjadi Stasi Santo Andreas ternyata merupakan sebuah peristiwa antisipatoris dari lahirnya Stasi Maria dari Ibu Anjelina di ujung Timur tahun 2000-an. Stasi Maria dari Ibu Anjelina sebelumnya merupakan Kelompok V yang kemudian berubah nama menjadi KUB Ave Maria. Untuk mengenang sejarah, nama "KUB Ave Maria" tetap dipertahankan untuk salah satu KUB di seputaran gedung gereja dan gua Maria di Stasi yang baru ini.

Warga jemaat awal cikal bakal Stasi Tarus datang dari sembilan rumah tangga yang tersebar dari Lasiana hingga Noelbaki, yang bentangan wilayahnya mencapai 5 kilometer. Angka 'sembilan' inilah yang kadang-kadang menimbulkan salah kaprah bahwa jemaat perdana Tarus terdiri atas sembilan orang atau sembilan KK. Bukan sembilan orang, bukan juga sembilan kepala keluarga melainkan sembilan rumah tangga. Waktu itu paham dan praktik keluarga luas masih jamak dilakukan sehingga dalam satu rumah tangga bisa terdapat beberapa KK.

Orang-orang yang disebutkan ini bukan datang serempak tetapi datang dalam kurun waktu 1950-an sampai 1970-an. Sebagai pengurus gereja Simon Klau ditunjuk menjadi Guru Agama, Paulus Longo sebagai koster dan Petrus Pehang menjadi Ketua Umat.

Keberadaan umat Katolik yang terikat dalam persekutuan kasih dan doa ini tidak luput dari pengamatan dan perhatian hirarki gereja. Namun hingga tahun 1940-an pelayanan rohani bagi umat Katolik di wilayah TTS dan Kupang (termasuk Tarus) tidak selamanya mudah dilakukan karena berdasarkan perjanjian yang dilakukan antara Pemerintah Belanda dan Portugis, wilayah Belu dan TTU masuk wilayah pelayanan misi Katolik, sementara kawasan TTS, Kupang, Rote, Sabu dan Alor menjadi wilayah karya Zending Protestan.

Tetapi sejarah berubah, diplomasi berjalan dan di atas segalanya Tuhan berkarya.  Memang, tahun 1927 Timor menjadi Dekenat dengan Pater Schroder sebagai Rektor yang menetap di Halilulik dan dalam tahun yang sama P. Schroder diangkat menjadi Penilik Sekolah untuk seluruh Pulau Timor. Ini berarti akses ke kawasan TTS dan Kupang mulai terbuka, tetapi suasana belum kondusif untuk pelayanan rohani bagi umat Katolik. Tahun 1936 P. Jacobus Passers, SVD sempat merayakan misa di Nunhila, tetapi beliau dilempari batu oleh pihak-pihak yang tidak suka. Suasana yang tidak kondusif ini membuat peran awam menjadi amat menonjol.

 Salah seorang di antaranya yang cukup dikenal luas untuk kawasan Kupang adalah Bapak Piet Parera. Tidak mengherankan kalau dalam komunitas yang lebih kecil selalu ada tokoh awam yang menonjol, seperti misalnya Petrus Pehang atau Simon Klau untuk komunitas Tarus.

Tanggal 1 Desember 1938 berdiri paroki sulung untuk kawasan Kupang yaitu Paroki Bonipoi yang kemudian berganti nama menjadi Paroki Kristus Raja Kupang. Sesudah itu berturut-turut berdiri banyak paroki baru di wilayah yang sebelumnya merupakan wilayah eksklusif Zending. Tahun 1949 berdiri Paroki Gembala Baik Kalabahi, Alor. Empat tahun kemudian, tahun 1953, diresmikan berdirinya paroki perdana di TTS, Paroki St. Maria Dolorosa SoE dengan P. Vincent Lechovic (atau lebih dikenal sebagai P. Vinsen Leko) sebagai pastor paroki pertama. Tahun 1962 lahir Paroki Niki-Niki dengan P.C.W. Kooy SVD sebagai pastor perdana. Tahun 1967 berdiri Paroki Put'ain yang digembalakan oleh P. Erich Breunig SVD, dan tahun berikutnya (1968) dibuka paroki baru pemekaran dari Paroki Kritus Raja, yaitu Paroki St. Yoseph Naikoten dengan pastor pertama P. C.W.Nellisen SVD. 
Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Pr

Selanjutnya tahun 1969 merupakan tahun yang penting bagi Stasi Santo Simon Petrus Tarus karena dalam tahun ini diresmikan berdirinya Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui (di mana komunitas Tarus berada) dengan P. Konijn SVD sebagai pastor paroki pertama. Suasana sebelum berdirinya Paroki Penfui tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi di Tarus. Lebih dari dua dasawarsa sebelum berdirinya Paroki, persekutuan doa dan kasih sudah berlangsung di antara orang-orang Katolik asal Flores Timur yang datang sejak tahun 1946 sebagai tukang atau buruh yang mengerjakan Bandara El Tari.

Pater Zenon Jual Mobil Jeep, Umat Jual Babi

PATER Konijn yang sudah berpengalaman sebagai misionaris perintis di Rote dan Sabu selalu melakukan kunjungan ke komunitas-komunitas kecil yang menjadi cikal-bakal kapela yang kemudian meningkat menjadi stasi. Maka di sekitar tahun 70-an Pater Konijn paling kurang sebulan sekali menyempatkan diri mengunjungi umat Katolik di kawasan Tarus dan merayakan misa di sebuah kapela di mana sekarang berdiri Rumah Makan Mamami.

Tanah tempat dibangunnya gereja pertama itu dihibahkan oleh Petrus Lanang. Biasanya sesudah misa Pater makan di rumah Bapa Simon Klau, sehingga Mama Orpa Klau, istri Bapa Simon Klau tidak bisa menghadiri misa karena menyiapkan konsumsi Pastor. Pater Konijn kemudian digantikan oleh Pater Zenon, SVD. Di masa Pater Zenon inilah, gagasan pendirian sebuah gedung gereja mulai dikemukakan, didiskusikan dan direalisasikan dalam kepanitiaan.

Sebagai Pastor Paroki, Pater Zenon juga mengatur agar perayaan ekaristi dapat dilakukan setiap minggu. Maka Pater Dan Siga, SVD, Pater Gabriel Atok, SVD, Pater Theo Tidja Balela, SVD, Pater Hendrik Molan Tokan, SVD, Pater Willem Laga, SVD bahkan Mgr. Gregorius Manteiro sendiri secara bergantian datang melayani misa di Tarus. Sesudah Pater Zenon, Rm. Arnold Bria dapat dipandang sebagai 'kapelan tetap' untuk jangka waktu yang cukup panjang hingga digantikan oleh Pater Herman Embuiru, SVD yang juga mengabdi untuk jangka waktu yang cukup panjang. Sesudah Pater Herman, model 'kapelan tetap' dipandang tidak bagus untuk manajemen keparokian, sehingga pastor yang bertugas di stasi dirotasi secara mingguan atau paling lama dua mingguan.


Sampai tahun 1977, Bapa Simon Klau merasa dirinya sudah terlalu tua, sehingga diadakanlah beberapa kali pertemuan secara bergantian di rumah Bapak Petrus Pehang dan Bapak Simon Klau untuk membahas perlu dibentuknya kepengurusan baru umat Katolik di wilayah Tarus hingga Noelbaki. Diputuskanlah melakukan Novena untuk meminta petunjuk Roh Kudus agar mereka dapat memilih orang yang tepat untuk menggantikan posisi Simon Klau sebagai guru agama.

Setelah Novena berakhir Bapa Simon Klau mendatangi Petrus Golok (lengkapnya Petrus Buga Una Golok)  dan menyampaikan kepadanya bahwa sesuai petunjuk Tuhan, Petrus Golok harus menggantikan dirinya menjadi guru agama. Tanggal 26 Desember 1977 dalam misa yang dipimpin oleh Pater Zenon, SVD, dilantiklah badan kepengurusan baru Kapela Tarus dengan susunan sebagai berikut. Ketua Umat: Yohanes Mello, Guru Agama: Petrus Golok, Wakil Guru Agama: Titus Akoit, Ketua Pembangunan: Lamber Nahak. Upacara pelantikan berlangsung di kapela yang berlokasi di SDK St. Yosef Noelbaki sekarang. Tanah ini dihibahkan oleh Hendrik Matara seorang pensiunan tentara dan Yoksan Matara sebagai ucapan terima kasih atas biaya pendidikan yang mereka terima dari seorang pastor.
                                  ***
KALAU nama Simon Klau tidak lagi muncul dalam kepengurusan baru umat Katolik di wilayah Tarus karena usia tua, maka tidak dimunculkannya nama Petrus Pehang dilatarbelakangi pertimbangan praktis belaka. Petrus Pehang ketika itu menjabat sebagai Kepala Desa Noelbaki yang seluruh waktu dan tenaganya tersita untuk berbagai urusan kemasyarakatan dan pemerintahan, sementara kepengurusan baru Kapela Tarus ini bertanggung jawab atas rencana pembangunan gereja yang membutuhkan komitmen total waktu dan tenaga.

 Demikian pula manajemen keuangan dalam kaitan dengan pembangunan juga perlu dilakukan dengan teliti dan cermat (atau transparan dan akuntabel menurut istilah sekarang) sementara dalam kepemimpinan Petrus Pehang hal ini belum dilakukan dengan cukup profesional. Hal ini sedikit menimbulkan ketersinggungan bahkan ketegangan di antara para pihak tetapi akhirnya masing-masing pihak menyadari bahwa inilah jalan terbaik demi pembangunan gereja.

Gereja Tarus mula-mula berlokasi di Rumah Makan Mamami yang sekarang, beberapa meter sebelah barat PDAM Tarus. Gedung gereja dan halaman gereja tidak begitu luas sehingga di antara umat terjadi pembicaraan untuk mencari lokasi yang baru yang lebih luas, tempat membangunan gedung gereja dengan daya tampung lebih besar. Umat waktu itu, menurut kesaksian Bapa Yohanes Mello, berjumlah 60 - 70 KK.

Dalam pada itu ada seorang Kristen Protestan bernama Titus Tuka mendengar informasi bahwa orang Katolik mencari sebidang tanah yang lebih luas untuk ditukarkan dengan tanah gereja yang kala itu sudah dimiliki. Kebetulan Titus Tuka juga menginginkan tanah milik gereja Katolik itu karena letaknya yang strategis. Dia mau menukarkannya dengan tanah miliknya yang lebih luas (yaitu tanah di mana dibangun gereja Stasi St. Simon Petrus Tarus yang sekarang) yang terbentang dari pinggir jalan Timor Raya sampai tangga pertama gereja lama.

Tahun 1978 dibentuklah panitia pembangunan dengan ketua Bapak Lamber Nahak. Pencarian dana dilakukan secara swadaya.  Petrus Mau bolehlah dibilang sebagai orang pertama yang memberi sumbangan dalam bentuk seekor babi. Babi miliknya 'dileis' dan dagingnya dijual oleh Bapa Petrus Golok. Dalam pada itu Pater Zenon menjual mobil jeepnya seharga Rp 3 juta. Selanjutnya pencarian dana terus dilakukan dengan cara 'meleis' hewan tetapi hasilnya tidak selamanya memuaskan. Ada pula pejabat pemerintah yang menolak memberi sumbangan dengan alasan-alasan yang tidak selamanya jelas. Umat dimintai sumbangan Rp 2.000 per KK, dengan cara mencicil hingga selesai, artinya waktunya tidak ditentukan. Jumlah ini kurang lebih setara dengan Rp 200.000 sekarang.

Ketika hendak dilakukan peletakan batu pertama, Pater Zenon berkeberatan dan mengusulkan, alangkah bagusnya kalau gereja dibangun di atas ketinggian. Dilakukanlah pendekatan kepada pemilik tanah, yaitu Soleman Matara dan Tobias Costa. Karena beberapa gadis dari marga Matara menikah dengan orang Katolik, kedua tokoh Protestan ini menghibahkan daerah berbukit untuk dibangun gereja Katolik. "Supaya saudara perempuan kami juga bisa mempunyai tempat ibadat yang pantas," begitu kurang lebih perasaan hati Bapa Soleman dan Tobias. Maka dibangunlah gereja di atas bukit, yang mengingatkan kita akan kata-kata Yesus, "Di atas bukit batu ini akan Kudirikan GerejaKu" (Mat.16:18). Masa kepemimpinan Yohanes Mello berakhir tahun 1981 dan digantikan oleh Ignas Suban Beribe untuk masa bakti 1981-1985.


Gunakan Konsep 'Bapa Ani' dan 'Mama Ani'
 

POLA ketua umat dirasakan tidak cocok lagi dengan perkembangan modern gereja sehingga dimulailah struktur baru kepengurusan gereja. Maka dibentuklah Dewan Pastoral Stasi Tarus dengan ketua yang pertama Bapak Lorens Mitang. Beliau dibantu oleh Lorens Ensy sebagai wakil ketua, Andreas Ila sebagai sekretaris dan John Lowo sebagai bendahara. Kepemimpinan Loreng Mitang berlangsung dari 1985 hingga 1988.

Dalam sebuah wawancara dengan beliau, salah satu kesan yang amat kuat ialah usaha beliau untuk menciptakan tali persaudaraan di antara warga jemaat dengan saling menjadi wali baptis atau wali nikah untuk anak-anak yang dibaptis atau pemuda-pemudi yang menerima sakramen perkawinan.

Orang Kupang menyebut dengan istilah 'Bapa Ani' dan 'Mama Ani'. Persaudaraan tidak didasarkan atas ikatan darah melainkan ikatan rohani. Lorens Mitang kemudian digantikan oleh Welem Tety (masa bakti 1988-1991) dengan susunan kepengurusan, Ketua DPS: Welem Tety, Wakil Ketua: Yan Muda Mite, Sekretaris: Andreas Ila, Bendahara: Magdalena Kova. Welem Tety kemudian digantikan oleh Sipri Djiling (1991-1994) dengan susunan kepengurusan, Ketua DPS: Sipri Djiling, Wakil Ketua: Yohanes Mello, Sekretaris: Petrus G Hayon, Bendahara: Magdalena Kova. Dalam masa kepemimpinan Sipri Djiling, pagar gereja dibangun, meskipun masih berwujud kawat berduri.

Andreas Ila yang dalam dua kepengurusan sebelumnya menjadi sekretaris kini tampil menggantikan Sipri Djiling. Dalam masa kepemimpinan Andreas Ila -- yang oleh umat disapa Pak Ande -- kepengurusan diperluas dan semangat kemandirian digalakkan. Pak Ande dibantu oleh Alfons Bunga Naen sebagai ketua I, Arnold Seme sebagai ketua II, Kristianus Manek sebagai sekretaris umum, Dasi Sura Rafel sebagai sekretaris I, Sergius Se sebagai sekretaris II dan Frans Jakatamu sebagai bendahara umum. Masa bakti Pak Ande 1994-1997. Dalam masa ini pagar gereja yang sudah dirintis oleh Sipri Djiling dalam bentuk rentangan kawat ditingkatkan mutunya menjadi tembok.

Andreas Ila kemudian digantikan oleh Alfons Bunga Naen (1997-2000) dengan struktur kepengurusan yang kurang lebih sama. Pak Alfons dibantu oleh ketua I yang kemudian menjadi ketua umum antarwaktu: Arnold Seme, sekretaris I: Dasi Sura Rafael, sekretaris II: Sergius Se, bendahara umum: Yoseph Belang. Arnold Seme bertindak sebagai ketua umum antarwaktu karena di pertengahan 1998, Pak Alfons melanjutkan studi ke jenjang strata 2 di Yogyakarta hingga meraih geral Magister Pendidikan.

                                                            ***
TAHUN 1998, ketika Gereja Tarus merayakan 50 tahun, gereja 'dibaptis' ulang dengan nama Stasi Santo Simon Petrus Tarus. Nama ini diusulkan oleh Pak Alfons Bunga Naen, ketua Dewan Stasi waktu itu. Pak Alfons sendiri adalah dosen fisika pada Unika Widya Mandira. Adalah sebuah koinsidensi yang menarik, bahwa Gereja Stasi Tarus mempunyai guru agama pertama bernama Simon dan ketua umat pertama bernama Petrus, serta guru agama kedua yang masih hidup sampai sekarang yang juga bernama Petrus. Nama Simon Petrus mengingatkan kita akan Santo Petrus yang di atas namanya dan tubuhnya dibangun Basilika Roma, gereja terbesar di dunia yang menjadi simbol Gereja Katolik universal.

Ada banyak orang yang telah menjadi pengurus DPS Simon Petrus Tarus. Jika ditulis tidak akan cukup halaman untuk membeberkan pengorbanan keringat dan air mata mereka. Ada yang masih hidup, ada yang sudah pergi.

Saat kepemimpinan Ande Illa sebagai Ketua DPS, gereja dibangun baru sama sekali dengan perencanaan yang jauh lebih matang. Yang membanggakan dari Kapela Tarus ini ialah bahwa bangunan ini dikerjakan dengan swadaya murni umat. Panitia pembangunan dibentuk dengan ketua Pak Gaspar Ga'a, dibantu Moses Bheo sebagai wakil, Sergius Se sebagai sekretaris dan Herman Taek sebagai bendahara. Keempat tokoh ini praktis selalu berada di gereja, entah pagi, entah sore, entah secara bersama, entah secara sendiri-sendiri untuk memantau jalannya pembangunan. Umat memberikan sumbangan dalam bentuk ucapan syukur. Sumbangan bagi pembangunan gereja diberi nama pernyataan syukur. Istilah ini diusulkan oleh Marianus Kleden. Menurut Marianus, ada begitu banyak berkat yang kita terima dari Tuhan, dan sebagai tanda ucapan syukur kita menyisihkan sebagian dari pemberian Tuhan itu untuk diserahkan lagi kepada Tuhan. (julianus akoit)

Sumber: Pos Kupang edisi 27, 28 dan 29 Oktober 2014 hal 9-15

Stasi Simon Petrus Tarus Jadi Paroki

ilustrasi
Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, meresmikan Stasi Simon Petrus Tarus menjadi Paroki Simon Petrus Tarus, dalam misa syukur, Minggu (26/10/2014) pagi.

Stasi Simon Petrus Tarus sebelumnya bergabung dengan Paroki Santu Josep Pekerja Penfui. Uskup Agung Kupang juga mengangkat Romo Philips Pilick, Pr menjadi Pastor Paroki Simon Petrus Tarus untuk masa jabatan tiga tahun ke depan.
Dengan demikian, Paroki Simon Petrus Tarus menjadi paroki ke-29 di bawah naungan Keuskupan Agung Kupang (KAK). Paroki Simon Petrus Tarus memiliki jumlah umat sebanyak 5.137 orang dengan membawahi Stasi Santa Maria Angelina Noelbaki, dan tiga kapela.

"Saya minta paroki yang baru diresmikan ini menjadi paroki yang efektif dan produktif. Itu hanya tercapai jika ada persatuan, persaudaraan dan semangat cinta kasih atas dasar saling menghormati satu sama yang lain. Jangan ada yang merasa paling berjasa, saling menegur dalam semangat cinta kasih jika ada yang salah," pinta Mgr. Petrus Turang, Pr.

Berdirinya Paroki Simon Petrus Tarus, kata Uskup Agung Kupang, merupakan peristiwa iman luar biasa melalui proses dan dinamika iman yang melibatkan para pendahulu dan perintis.

"Dinamika iman itu lahir dari doa dan kerja yang keras dan terus-menerus. Gedung Gereja Paroki Simon Petrus Tarus yang sedang dibangun ini, belum rampung. Saya minta pastor paroki dan umat terus kerja dan berdoa. Kerja sedikit-sedikit juga tidak apa-apa asal dilakukan dengan tulus dan iklas. Teruslah berusaha meski dalam keterbatasan," kata Uskup Agung Kupang.

Empat  tokoh umat Katolik setempat, Siprianus Djiling, Anderias Illa, Yosep B Akoit dan Petrus Golok, mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Uskup Agung Kupang yang telah meresmikan Paroki Simon Petrus Tarus.

"Ini peristiwa iman luar biasa. Penyelenggaraan rahmat melalui para perintis gereja ini. Sumbangsih cinta kasih dan perhatian, kerja keras dalam semangat persatuan umat, maka gereja kecil ini menjadi besar dan kini sudah menjadi paroki," jelas Anderias Illa didukung Siprianus Djiling.

"Siapa menyangka gereja kecil ini kelak menjadi sebuah paroki. Ini mujizat Tuhan. Dan ini harus disyukuri penuh iman. Dan ini juga berarti Tuhan menuntut tanggung jawab kita untuk terus memelihara dan mengembangkan gereja ini dan mutu iman umatnya," kata Yosep B Akoit dan Petrus Golok, mantan guru agama tahun 1980-an.

Pantauan Pos Kupang, Gereja Paroki Santu Simon Petrus Tarus yang megah dibangun di atas sebuah bukit karang. Meski belum rampung, gedung gereja ini sudah digunakan umat untuk merayakan misa. Dalam acara peresmian menjadi paroki, ribuan umat hadir dan khusuk mengikuti misa syukur. (ade)
 
Sumber: Pos Kupang 27 Oktober 2014 halaman 9

Panas-panas Tahi Ayam

ANGGOTA Kabinet Kerja rupanya langsung tancap gas sebagaimana diinstruksikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pasca pelantikan, para pembantu presiden tersebut beraksi sesuai bidang tugas dan tanggung jawab mereka di kementerian masing-masing. Seperti gaya Jokowi, para menteri Kabinet Kerja melakukan blusukan atau kunjungan kerja ke lapangan. Mereka bukan hanya mengatur dari balik meja. Umumnya mereka memilih sidak (inspeksi mendadak).

Dari sekian anggota kabinet yang melakukan sidak sepekan terakhir, langkah menarik diperlihatkan Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri. Menteri dari latar belakang profesional partai itu membuat heboh saat sidak ke tempat penampungan calon tenaga kerja Indonesia (TKI) di Gang Z, Jalan F, Kelurahan Asem Baris, Kecamatan Tebet Jakarta Selatan, Rabu (5/11/2014). Di gang tersebut terdapat dua rumah penampungan calon TKI.

Menaker Hanif Dhakiri sempat mengamuk dengan suara tinggi karena dihalang-halangi saat hendak masuk ke tempat penampungan calon TKI tersebut. Menaker pun tidak kehilangan akal. Dia melompat pagar tempat penampungan  dan berhasil menemui para calon TKI di sana.

Kondisi penampungan itu memang jauh dari standar Kementerian Tenaga Kerja sesuai Permen Nomor 7 Tahun 2005.  Para  calon TKW tidur berdesak-desakan di lantai. Bahkan ruang tamu pun dipakai untuk tidur karena keterbatasan ruang penampungan. Hanif Dhakiri  terkejut dan kesal melihat kondisi semacam ini. Dia berjanji menutup semua tempat penampungan calon TKI yang tidak memenuhi standar pemerintah.

Kita  memberi apresiasi positif  terhadap langkah Menaker Hanif Dhakiri. Sudah sepantasnya seorang menteri bertindak demikian. Melihat langsung kondisi lapangan, memperingatkan perusahaan pengerah tenaga kerja serta meneguhkan harapan bagi  para calon TKI yang diperlakukan kurang manusiawi. Melalui sidak seperti ini niscaya memberi efek 'warning' kepada manajemen perusahaan pengerah tenaga kerja agar bekerja benar  sesuai ketentuan. Jangan mengeksploitasi tenaga kerja yang adalah saudara kita sendiri sesama warga bangsa Indonesia. Sudah terlalu banyak anak bangsa ini yang diperlakukan secara tidak adil di tengah perjuangan mereka mendapatkan lapangan kerja demi menyambung hidup.

Kita  mengharapkan gebrakan Menaker yang membuat heboh dan diliput luas media massa tidak sekadar demi pencitraan pada awal masa tugas kabinet kerja pemerintahan Jokowi-JK. Bukan panas-panas tahi ayam. Masyarakat membutuhkan konsistensi pemerintah dalam mengelola masalah ketenagakerjaan yang lebih baik di negeri ini.

Pengelolaan yang lebih baik sangat dirindukan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai salah satu daerah di Tanah Air yang selalu mengirim TKI. Warta nestapa masih saja menghantui daerah ini terkait TKI ilegal,  penyiksaan bahkan kasus perdagangan manusia. Penegakan hukum pun begitu buram. Banyak nian pelaku yang bebas beraksi mengeksploitasi tenaga dan keringat saudaranya sendiri.
Semoga pemerintahan Jokowi-JK lebih peka dan bekerja lebih baik. *

Sumber: Pos Kupang 7 November 2014 hal 4

Takdir Sepak Bola Indonesia

 Takdir adalah sesuatu yang selalu ingin manusia capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi dan mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka.

Namun, dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan manusia bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdirnya. Daya itu adalah kekuatan-kekuatan yang kelihatannya negatif, tetapi sebenarnya menunjukkan cara kepada setiap manusia mewujudkan takdir tersebut.

Daya itu mempersiapkan roh dan kehendak manusia, sebab ada satu kebenaran mahabesar di planet ini. Siapapun dan apapun yang manusia lakukan, kalau mereka sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu adalah hasrat yang bersumber dari jiwa jagat raya. Itulah misi manusia di dunia ini.

Begitu petuah lelaki tua bernama Melkisedek kepada anak gembala asal Spanyol, Santiago, yang sedang mencari harta karun dalam novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Novelis asal Brasil tersebut menuliskan "petuah Melkisedek" itu untuk siapa saja, termasuk juga kepada setiap manusia yang terlibat dalam dunia sepak bola.

Toh, sepak bola juga tidak bisa dilepaskan dari takdir, yang tidak bisa didikte oleh manusia. Setiap pesepak bola mempunyai mimpi meraih kemenangan. Namun, ingat, tidak ada yang bisa dipastikan dalam sepak bola. Orang boleh menjagokan tim nasional Brasil menjadi favorit juara, tetapi sudah banyak bukti bahwa seringkali justru malanglah nasib mereka jika mereka difavoritkan.

Dengan begitu, sepak bola ibarat menjadi rangkaian olahan permainan manusia yang seakan menggambarkan kehidupan di dunia yang tidak bisa ditebak. Memang akhirnya tetap akan ada takdir baik berbentuk kemenangan atau kekalahan. Akan tetapi, kedua hal tersebut mau tidak mau harus diterima dengan lega karena itulah hasil dari perlawanan, perjuangan, dan olahan manusia itu sendiri.

Indonesia
Berbicara soal takdir sepak bola, pada Minggu (12/10/2014) muncul pernyataan dari pelatih tim nasional Indonesia U-19, Indra Sjafri, sesudah Evan Dimas dan kawan-kawan dinilai gagal total dalam targetnya mencapai semifinal Piala Asia U-19 2014 Myanmar.

"Mereka (pemain timnas U-19) sudah berusaha, tetapi takdir di tangan Tuhan. Soal gol atau tidak, keberuntungan juga berperan di situ," kata Indra sesudah Skuad Garuda Jaya dikalahkan Australia 0-1. "Masyarakat tentu sangat arif menilai pertandingan ini. Memang ini sudah jalan dari Tuhan untuk kita."

Seusai pertandingan, seluruh pemain timnas U-19 tampak murung dan melangkah gontai di atas lapangan sembari tertunduk lesu. Kesedihan tidak bisa disembunyikan dari raut wajah mereka. Bahkan, Evan Dimas dan Muhammad Sahrul Kurniawan menangis tersedu-sedu sebelum akhirnya dihampiri oleh Indra Sjafri.

Indra memeluk mereka, sembari melontarkan semangat. Satu per satu Indra menghampiri anak asuhnya yang tergontai lemas di atas lapangan. "Saya berharap, para pemain jangan disalahkan. Kasihan mereka. Mereka sudah melakukan apa yang terbaik yang mereka punya. Ini bukan aib," kata Indra mengomentari perjuangan timnya.

Kekalahan itu membuat perjuangan Indonesia terhenti di Piala Asia. Ratusan juta masyarakat negeri ini kecewa. Pun halnya seluruh pemain serta ofisial timnas. Akan tetapi, sekali lagi, tidak logis jika pemain dan pelatih disalahkan atas kegagalan tersebut. Toh, ini bukan kali pertama Indonesia menuai kegagalan di kancah sepak bola internasional.

Nama timnas U-19 mencuat ketika mereka berhasil meraih gelar Piala AFF U-19 2013. Itu adalah trofi Asia Tenggara pertama bagi Indonesia semenjak torehan emas di SEA Games 1991. Memang, usia muda tidak bisa saklek dijadikan patokan prestasi. Akan tetapi, di tengah kerinduan panjang akan prestasi, tidak bisa disalahkan pula jika masyarakat Indonesia memupuk harapan tinggi dari perjuangan mereka.

Pertanyaan
Kegagalan timnas U-19 ini seakan kembali melontarkan pernyataan yang sudah muncul sejak puluhan tahun lalu, apa yang salah dengan sepak bola Indonesia? Semenjak emas terakhir di SEA Games 1991, kegagalan demi kegagalan terus terjadi. Belum ada bukti kegagalan itu dijadikan pelajaran berharga bagi para pengurus sepak bola di negeri ini.

Mengapa pertanggungjawaban harus dialamatkan kepada para pengurus PSSI? Jawabannya tentu karena prestasi dalam dunia olahraga apapun, tidak hanya sepak bola, adalah cerminan kinerja dari para pengurus federasinya. Dengan begitu, bisa jadi, salah satu faktor utama kegagalan itu adalah belum adanya sumber daya pengurus yang mampu membina para pesepak bola di negeri ini dengan niat baik dan benar.

Di Indonesia seringkali muncul satire seperti ini: "Masa iya, ada lebih dari 200 juta penduduk yang sebagian besar merupakan penggila bola, negeri ini tidak bisa membentuk timnas yang hebat?" Tidak perlu dulu kita bicara soal prestasi, tetapi sudah adakah proses yang benar untuk membentuk timnas yang memadai? Di sinilah muncul titik krusial krisis prestasi yang harus dipertanyakan kepada pengurus sepak bola Indonesia.

Dengan segala bakat melimpah manusia di nusantara, sudah pasti ada potensi besar bagi negara ini untuk berbicara di level dunia. Namun, ketika muncul secercah harapan, mulailah "penyakit lama" para pengurus sepak bola di negeri ini kumat, penyakit yang kerap membuat prestasi para pemain muda dijadikan komoditas politik untuk pamer kesuksesan atau bisa jadi pula mengeruk keuntungan.

Mau bukti? Tidak usah jauh-jauh melihat ulah mereka bertikai saat memperebutkan kekuasaan atau karut-marutnya kompetisi sepak bola Indonesia. Teranyar, tengoklah kondisi yang terjadi ketika timnas U-19 menuai kesuksesan mengangkat trofi Piala AFF 2013 atau kegemilangan permainan mereka saat mengalahkan Korea Selatan 3-2 di penyisihan Piala Asia U-19 2014.

Atas kesuksesan itu, di tengah euforia masyarakat Indonesia yang rindu akan prestasi sepak bola, PSSI mulai bereaksi. Mulai dari Tur Nusantara jilid I dan II hingga rangkaian turnamen-turnamen internasional dipersiapkan untuk dijadikan ajang uji coba. Namun, jika menilik standar persiapan uji coba level usia muda, melaksanakan pertandingan lebih dari 40 kali juga rasanya berlebihan.

Dan tampaknya cuma di Indonesia pula yang seluruh rangkaian laga uji coba para pemain timnas muda itu disiarkan langsung oleh televisi nasional. Padahal, cara seperti itu bisa kembali memunculkan pertanyaan, bukankah langkah tersebut justru menjadi keuntungan bagi calon lawan Indonesia karena mereka mudah mendapat rekaman video permainan Evan Dimas dan kawan-kawan?

Kompetisi
Kini, apapun apologi yang dikeluarkan PSSI, kembali, kegagalanlah menjadi yang menjadi bukti nyata hasil kinerja mereka. Sekarang, publik pun pantas kembali bertanya, selanjutnya bagaimana nasib Evan Dimas dan kawan-kawan? Dan jawabannya, bagi para penikmat sepak bola Indonesia bisa jadi mengerikan, karena mereka mau tidak mau harus meniti karier di kompetisi Indonesia.

Mengapa mengerikan? Jawabannya simpel saja: hingga saat ini sudah adakah bukti sistem kompetisi di Indonesia bisa menghasilkan pemain-pemain muda berkualitas yang bisa menghasilkan prestasi di level senior? Jika berkaca kepada para penggawa timnas U-19, jelas mereka merupakan kumpulan pemain yang sudah disatukan bersama-sama sejak berada di level U-16.

Lalu, bagaimana jika akhirnya para pemain timnas U-19 saat ini harus berpisah untuk ikut serta dalam kompetisi Indonesia? Bisakah hingga ke level senior mereka tetap menjaga kondisi dan mental bertanding sebagai seorang pemenang yang selalu memainkan sepak bola dengan riang gembira? Pertanyaan itu tentunya hanya bisa dijawab oleh para pengurus sepak bola yang bertugas menyelenggarakan kompetisi di negeri ini.

Toh, pelajaran yang dapat dipetik dari perjuangan timnas U-19 di Myanmar, salah satunya adalah manusia tidak bisa memastikan kemenangannya, justru pada saat mereka berada di puncak prestasinya. Dengan begitu, jelas bukan awal, melainkan hasil akhirlah yang menentukan segalanya dalam sepak bola. Legenda Perancis, Michel Platini pernah berkata, "Dalam sepak bola, siapa yang memberikan segalanya pada awalnya, mereka jarang memperoleh ganjaran setimpal pada akhirnya."

Jika sudah ada contoh negara penggila sepak bola yang telah menciptakan sistem kompetisi baik saja masih kerap menemui kegagalan, bagaimana dengan di negara yang sudah nyeleneh dari awal? Inilah yang terus menjadi pertanyaan membosankan mengenai keabsurdan serta karut-marutnya sistem kompetisi sepak bola Indonesia, yang timnas seniornya terakhir kali berprestasi di ajang internasional pada 23 tahun silam.

Dalam kasus seperti ini, wajar jika ada manusia berbicara mengenai sesuatu yang tidak berasal dari usaha, perhitungan, atau rasionalitasnya. Pun halnya, di tengah dunia modern yang membenci irasionalitas, tidak bisa pula manusia disalahkan jika ada yang beranggapan sepak bola harus mau mengakui kuasa keberuntungan yang melawan rasionalitas itu. Dan bisa jadi kuasa itulah yang dinamakan takdir sepak bola.

Namun, seperti yang dikatakan dalam The Alchemist, pada saat manusia menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantu meraihnya. Para pemain di dalam timnas U-19 adalah salah satu bukti nyata bahwa Indonesia adalah gudangnya pesepak bola bertalenta. Pertanyaannya, siapakah yang bisa mewujudkan misi untuk menyelesaikan takdir dari anugerah tersebut? Itulah kewajiban dari kumpulan manusia yang menjelma sebagai pengurus sepak bola Indonesia.

Dengan kata lain, jika para pengurus itu punya ide dan melaksanakannya secara habis-habisan demi kebaikan untuk memajukan sepak bola Indonesia, alam semesta bakal bekerja sama membantu mereka memperolehnya. Sebaliknya bila tidak, tinggal tunggu saja, hasil akhir apa yang bakal terjadi terhadap dunia sepak bola di negeri ini.

"Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang." -
The Alchemist, Paulo Coelho.

Sumber: Kompas.com

Jangan Takut

Paus Yohanes Paulus II
(Merenda Usia Perak Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Maumere)

Oleh Philip Ola Daen, CD

Rohaniwan

POS Kupang dalam beberapa edisi terakhir ini memuat seputar Paus Yohanes Paulus II dan visit kegembalaannya ke Maumere, Flores, NTT, Indonesia dan bermalam semalam di Ritapiret. Ritapiret menjadi Vatikan semalam. Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ini berlangsung dari tanggal 11-12 Oktober 1989.

Kunjungannya ini semakin bernas muatan isinya karena ia sudah digelar kudus dengan nama Santo Yohanes Paulus II pada tanggal 27 April 2014. Dengan demikain peristiwa kunjungannya ini telah mencapai usia perak. Karena itu, peristiwa perak ini menjadi momentum  untuk berhenti sejenak dan menoleh sekejap ke belakang untuk merefleksikan hati, pikiran dan  jiwanya.

Momentum refleksi ini menjadi teramat penting karena ia adalah  satu sosok dari sekian banyak sosok yang paling penting dan berpengaruh dalam dunia dewasa ini, dan satu paus dari sekian banyak paus yang paling elokuent dan inspiratif  sepanjang zaman dengan salah satu seruannya "Be Not Afraid". Karena itu, untuk merendah usia perak kunjungannya ke Maumere menjadi lebih indah dan bermakna baiklah diangkat dan direfleksikan lagi seruannya  be not afraid - jangan takut.

Be not afraid - jangan takut adalah satu seruan yang diwartakan di Basilika Santu Petrus pada tanggal 22 Oktober 1978 saat ia mengawali kepausannya. Seruan ini membahana ke seantero jagat. Seruan ini sungguh mengembalikan harapan ketika harapan itu nyaris pupus dan membangkitkan keberanian ketika keberanian itu mulai berubah menjadi ketakutan.

Realitas dunia yang dihadapi adalah semata kekalahan demi keekalahan dalam perjuangan hidup. Di sini orang merasa bahwa Allah seakan tidak lagi berpihak pada mereka;  kebohongan dunia seakan selalu menang dan penderitaan seakan selalu mengincara hidup tanpa pernah berakhir. Namun bagi Yohanes Paulus II, realitas keputusasaan dan ketakutan tidak boleh menang.

Seruan be not afraid - jangan takut yang diwartakannya adalah satu kesaksian yang lahir dari pengalaman iman personal yang tangguh. Karena itu, seruannya ini tidak pernah pupus oleh waktu dan tawar oleh kebiasaan. Malahan seruannya ini semakin urgen dan relevan dalam realitas dunia dewasa ini ketika penderitaan dan kebohongan semakin merambah seluruh lini kehidupan yang mencemarkan dignitas humana dan merusak bonum commune.  Karena itu, untuk memaknai seruan be not afraid - jangan takut ini secara praktis dan aplikatif, baiklah dipresentasikan secara bebas secuil syering pengalaman imannya yang mendasari ketidaktakutannya.

Syering kekayaan imannya ini hendakya menjadi bahan untuk menstimulasi inspirasi kita dalam menghadapi realitas dunia dewasa ini ketika ada perasaan menggelinding seakan Allah tidak berpihak pada kita,  ketika ada perasaan mengemuka seakan kebohongan selalu menang, dan ketika ada perasaan mengusik seakan penderitaan tidak pernah berakhir.

Be not afraid. Jangan takut bahwa Allah gagal menyiapkan apa yang kita butuhkan. Ia akan selalau menyediakannya untuk kita. Ingat! Aku kehilangan seluruh anggota keluargaku sebelum aku berusia 21 tahun. Saudariku satu-satunya meninggal sebelum aku lahir. Ibuku meninggal ketika aku berusia 8 tahun.

Kakakku satu-satunya, seorang dokter yang sangat aku cintai dan kagumi juga meninggal tiga tahun kemudian; dan kurang dari satu dekade sesudah itu, ayahku yang menjadi inspirasi spiritualku yang luar biasa juga meninggal secara tragis. Jadi pada saat usiaku menanjak 20 tahun aku sudah kehilangan semua orang yang aku kasihi. Tetapi Tuhan selalu ada di sana bagiku, dan Ia selalu juga ada di sana bagimu.

Be not afraid of lies. Jangan takut akan kebohongan. Kebohongan yang dunia ceritakan padamu setiap hari adalah tentang pribadi manusia, tentang hidup dan maknanya. Ketika aku hidup di bawah aturan Nazi dan Komunis di Polandia aku memerangi kebohongan ini setiap hari. Aku tahu kebenaran itu berakar dalam imanku dan aku wartakannya secara terbuka dan lugas sejauh aku dapat. Nazisme dan Komunisme adalah sistem politik dan ekonomi yang dibangun di atas kebohongan yang luar biasa, sehingga mereka dibodohi dari sejak permulaan.

Banyak orang terkejut ketika komunisme Soviet runtuh di Eropa Timur pada tahun 1990-an tetapi aku tidak terkejut. Apa yang dibangun di atas kebohongan, pada akhirnya mati. Karena itu, jangan takut akan kebohongan.

Be not afraid of sufferings. Jangan takut akan penderitaan. Dalam hidup aku menderita dalam aneka cara. Aku hanya mengatakan padamu beberapa dari antaranya: kehilangan semua anggota keluargaku sebelum aku berusia 21 tahun; hidup bertahun-tahun di bawah tekanan Nazi dan Komunis dan aku terpakasa belajar untuk menjadi imam secara sembunyi-sembunyi. Ada juga penderitaan yang lain seperti, saat aku ditembak di pelataran Basilika Santo Petrus pada tahun 1981 dan hampir mati, dan juga perjuanganku yang panjang dan sulit dengan penyakit Parkinson. Tetapi melalui semua penderitaan ini dan semua pencobaan yang lain dalam hidupku, aku memandang Allah dan menemukan kekuatanku di dalamNya.

RahmatNya selalu cukup buatku, dan itu juga akan selalu cukup buatmu. Untuk itu, be not afraid-jangan takut.

Paus Yohanes Paulus II sudah tidak ada lagi. Namun seruan imannya, be not afraid - jangan takut terus menggemah dan menjadi inspirasi yang berdayagugah dan berdayagugat. Karena itu, be not afraid - jangan takut hendaknya menjadi inspirasi kita dalam memperjuangkan martabat manusia sebagai imago dei, dialog, perdamaian, kedailan dan politik karena kita tahu bahwa mengubah dunia tidak semudah membalikan telapak tangan.

Ada banyak tantangan dan kesulitan; ada banyak kegentaran dan ketakutan. Tetapi ia telah membuktikan kebenaran seruannya itu sampai akhir hidupnya. Dan sekarang ia sudah digelar kudus yang pestanya dirayakan pada tanggal 22 Oktober setiap tahun. Sebagai orang kudus Santo Yohanes Paulus II juga pasti terus menyertai perjuangan kita dengan doanya yang tak kenal putus dan  terus meneguhkan kita dengan seruannya  tanpa henti  Be Not Afraid - Jangan Takut. *

Sumber: Pos Kupang 15 Oktober 2014 hal 4

Maestro Kemanusiaan itu 'Putra' Konsili Vatikan II

Paus Yohanes Paulus II
(Mengenang 25 Tahun Lawatan Paus Yohanes Paulus II di Indonesia)

Oleh Rm. Richard Muga Buku, Pr

Koordinator Totus Tuus Community Cristo Re Maumere.


TANGGAL 2 April 2005 waktu Vatikan (3 April waktu Indonesia), Paus Yohanes Paulus II melepaskan napasnya yang terakhir. Menarik bahwa Bapa Suci ini meninggal pada tahun ke-40 penutupan Konsili Vatikan II. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sosok ini aktif dalam seluruh pergulatan Konsili Ekumenis yang makan waktu kurang lebih 3 tahun itu.

Ia bahkan mengakui `Putra dari Konsili Vatikan II' sebagai ekspresi betapa mendalamnya ia dipengaruhi Konsili Vatikan II dalam seluruh karya kepemimpinannya sebagai orang ke-264 yang menduduki takhta warisan Santo Petrus. Dan saat ini ketika umat Katolik Indonesia mengenang 25 tahun lawatan Paus yang sudah dikanonisasi (digelar santo) pada tanggal 27 April 2014 itu dan 50 tahun Konsili Vatikan II, baiklah kita menyelisik kiprah Bapa Suci yang boleh digelari Putra dari Konsili Vatikan II ini.

Ketika pada tanggal 28 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumunkan akan diadakan sebuah konsili ekumenis, Karol Wojtyla baru saja beberapa bulan menerima tahbisan sebagai uskup pembantu di keuskupan Krakovia. Dalam usia yang relatif masih muda, 38 tahun, Woijtyla yang kala itu dosen etika sosial katolik pada Universitas Katolik Lublin (KUL: Katolicki Uniwersytet Lubelski), menjadi uskup termuda dalam sejarah Gereja Polandia. Doktor teologi jebolan Universitas Angelicum Roma ini sebelumnya ditarik dari tugas rutin pastor pelajar dan mahasiswa di paroki Santo Florianus untuk memperkuat staf pengajar Universitas Lublin.

Tesis habilitasinya mengenai karya monumental Max Scheler: Der Formalismus in der Ethik und die Materiale Werethik. Neuer Versuch der Grundlegung eines Ethischen Personalismus (Formalisme dalam Etika dan Etika Nilai Material. Percobaan baru Pendasaran Personalisme Etis) yang pada hematnya tidak dapat diandalkan sebagai dasar teoritis untuk membangun etika Kristen.

Tesis berjudul An Assessment of the Possibility of Building a Cristian Ethic on the Principles of the System of Max Scheler (Penilain terhadap Kemungkinan Membangun Sebuah Etika Kristen Atas Dasar-Dasar Sistem Etika Max Scheler) itu diaprovisasi (=diterima) oleh para dosen serentak `membaptisnya' menjadi dosen etika di KUL pada tahun 1955 sampai pada penunjukkan dirinya sebagai Uskup Agung Krakovia di tengah sesion perhelatan Konsili Vatikan II.
Pada tanggal 24 Desember 1959, Wojtyla mendapat tugas khusus dari Komisi Persiapan Konsili Vatikan II untuk merancang materi seputar krisis humanisme (=krisis kemanusiaan) yang tengah dihadapi dunia pada saat itu. Tentu bukan tanpa alasan persoalan ini dilimpahkan kepada seorang dosen muda di wilayah berbasis komunisme. Pemikir dengan `nada dasar' pembelaan manusia sebagai persona ini justru sangat memberi penekanan pada martabat manusia sebagai persona.

Manusia adalah makhluk yang unik, hidup di dunia ini dengan nutrisi spiritual, suatu misteri baik bagi dirinya sendiri maupun untuk yang lain, suatu ciptaan yang martabatnya tersingkap dari kedalaman hidupnya sebagai citra Allah. Krisis humanisme mendesak Gereja untuk tidak hanya bagi hidup dan untuk dirinya sendiri. Kehadiran Gereja di dalam dunia mesti memainkan peran humanisasi dalam kemasan nilai-nilai kekristenan agar dapat mengimbangi segala janji humanisasi yang mengandalkan sarana-sarana duniawi yang justru menciptakan dehumanisasi dan degradasi dalam banyak aspek kehidupan manusia. Inilah salah satu simpul perjuangan Uskup Wojtyla selama kehadirannya dalam ruangan konsili.

Seperti diketahui Konsili Vatikan II dibuka secara resmi pada tanggal 11 Oktober 1962. Dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun hingga penutupannya tanggal 7 Desember 1965, Uskup Wojtyla melakukan beberapa intervensi (=masukan/pertimbangan dalam suatu session sidang). Pada tanggal 7 November 1962 ia berbicara dalam suatu intervensi tentang `Pembaharuan Liturgi Gereja' dan menyusul tanggal  21 November 1962  tentang `Wahyu Ilahi'. Pada tanggal 3 Juni 1963 Paus Yohanes XXIII yang membuka pintu konsili meninggal dunia. Gereja yang sedang berupaya membuka diri tidak ingin terlalu lama berada dalam kevakuman (sede vacante).

Tanggal 21 Juni 1963 Paus Paulus VI memegang kendali Gereja sekaligus melanjutkan cita-cita pendahulunya. Pada musim gugur 1963, kembali Uskup Wojtyla berbicara di hadapan konsili yang sedang membahas topik `Umat Allah', sebuah tema yang memberi visi baru yang kaya mengenai Gereja. Selanjutnya tanggal 25 September 1964, ia melakukan sebuah intervensi mengenai `Kebebasan Beragama'.

Intervensi yang terakhir ia berikan ketika para bapa konsili berbicara tentang kiprah `Gereja di tengan dunia kontemporer' pada tanggal 21 Oktober 1964, tema yang cukup mendapat sentuhan filsafat personalistis Wojtyla dan menempatkan Wojtyla sebagai salah seorang anggota tim perumus draft final konstitusi Gaudium et Spes, sebuah dokumen konsili yang membahas bagaimana Gereja yang sedang ber-aggiornamento ini mestinya berada dan berperan di tengah dunia kontemporer.

Dari intervensi-intervensi tersebut, kiranya dua yang berikut ini perlu diberi perhatian. Pertama, intervensinya pada sesion ketiga konsili yang berbicara tentang `ekumenisme' yang bermuara pada dokumen Dignitatis Humanae. Dalam intervensi yang ia bawakan pada tanggal 25 September 1964 ini, Uskup Agung Krakovia amat menekankan penghargaan terhadap kebebasan beragama sebagai dasar dari gerakan ekumene. Kebebasan amat eksistensial bagi setiap manusia. Bukan saja `kebebasan dari' tapi terutama `kebebasan untuk', khususnya kebebasan untuk mencari dan menemukan kebenaran. Kebebasan adalah unsur esensial dalam ziarah menuju kebenaran.

Kebebasan membimbing kita kepada kebenaran. Karena itu kebebasan mesti bertanggung jawab. Seseorang bukan saya bisa berkata `saya bebas', tapi mesti juga berkata `saya bertanggung tawab'. Orang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan dalam kebebasannya. Semakin bebas, semakin orang harus bertanggung jawab. Itulah kebebasan eksistensial, kebebasan melekat pada martabat manusia.

Dalam koridor demikian setiap orang secara bebas dapat mengekspresikan personalitasnya dan juga bertanggung jawab atasnya. Atas dasar itulah, manusia juga secara bebas berelasi di tengah dunia dan dengan ajaran agama yang diyakini dapat melambungkan dia kepada kebenaran sebagai puncak ekspresi kebebasannya. Judul dokumen konsili vatikan II Dignitatis Humanae yang secara harafiah berarti `kebebasan manusia' jelas menampilkan dimensi filosofis kebebasan setiap orang untuk beragama sebagai yang melekat erat pada martabat personalitas dan otonomitasnya.

Kedua, Gaudium et Spes, sebuah dokumen konsili vatikan II yang berbicara tentang kiprah `Gereja di tengan tata dunia kontemporer'. Perdebatan seputar dokumen ini dimulai pada hari Rabu 22 September 1965. Selasa pada minggu berikutnya, 28 September 1965, Uskup Agung Wojtyla berbicara di hadapan Bapa-Bapa Konsili  mengemukakan apa yang menurut sejumlah pengamat dinilai sebagai pidatonya yang paling terkenal selama konsili berlangsung.

Dia tegaskan bahwa konstitusi pastoral yang baru mesti lebih sebagai sebuah permenungan dari pada suatu tuntutan doktrinal karena keprihatinan dasariahnya adalah pribadi manusia, manusia dilihat sebagai persona yang dimengerti dalam kebersamaan relasi dengan manusia lain dan segala yang mengitarinya. Penegasan persona manusia sebagai dasar meretas relasi Gereja dengan dunia kontemporer ini disampaikan sedemikian semangat dan berapi-api oleh mantan dosen etika Universitas Lublin ini sampai moderator sidang, Kardinal Döpfner dari München menginterupsi dengan mengatakan `waktu bicara sudah selesai'. Wojtyla menyinggung realitas dunia kontemporer saat itu yang masih amat kuat dipengaruhi ateisme modern.

Gereja bagaimana pun mesti juga berdialog dengan ateisme modern sebagai kenyataan yang tak bisa ditampik. Dialog dengan para ateis mesti berpijak pada fundamen yang diakui bersama yakni  martabat manusia sebagai persona. Sebagai persona, setiap manusia memiliki kebebasan di dalam dirinya. Perbedaan antara orang beragama dan orang ateis terletak pada pemaknaan kebebasan itu sendiri. Bagi orang kristen kebebasannya dimaknai dalam keintiman hubungan dengan Allah, sedangkan kaum ateis dalam kebebasannya justru semakin menjauhkan diri dari Allah, mengingkari Allah dan dengan itu mereka justru semakin terpuruk dalam kesunyian yang radikal, kesunyian yang menakutkan. Di titik itulah, dalam dialog dengan kaum ateis, orang-orang beragama menawarkan jalan pemaknaan baru kebebasan bagi mereka.

Gaudium et Spes adalah dokumen yang mendapat banyak sentuhan intelektual Karol Wojtyla. Agar lebih memahami nilai strategis dokumen ini, orang mesti memahami konteks dunia kontemporer masa itu. Gereja yang ingin membuka diri kepada dunia saat itu diharapkan untuk tidak saja turun dengan sejumlah doktrin atau tutuntan iman tapi dengan pemahaman yang brilian tentang manusia sebagai persona yang memiliki nilai-nilai ultim dalam dirinya sendiri.

Gereja tampil dengan konsep humanisme baru, humanisme yang diilhami perjumpaan manusia dengan Kristus yang berinkarnasi bukan untuk mengasingkan manusia dari kemanusiaannya tetapi justru menyingkap tabir kebenaran yang utuh martabat manusia dan nasib akhirnya yang mulia dan bahagia. Dalam relasi dengan Kristus manusia tidak mengalami keterasingan atau rasa hampa makna yang radikal (sebagaiman nasib kaum ateis) tetapi justru mengalami kebersamaan sebagai suatu rahmat untuk saling memberi dan menerima diri. Di sana humanisme baru terbentuk, humanisme yang diwarnai oleh penghargaan terhadap tiap pribadi sebagai persona yang secara bebas mengada bersama dalam kesalingan memperkaya yang harmonis.

Wojtyla memberi suatu `visi dari dalam' yang begitu kuat terasa sehingga ada yang `membaptis' Konsili Vatikan II dengan `Konsili Personalistis'. Refleksinya seputar martabat manusia sebagai persona ia tuangkan juga dalam sebuah buku yang mengulas struktur tindakan manusia berjudul Osoba y czyn atau Pribadi dan Tindakan. Buku buah refleksi filosofis di sela-sela perhelatan konsili tersebut mengupas struktur tindakan manusia sebagai pengungkapan personalitasnya. Manusia mengungkapkan antara lain siapa dirinya melalui tindakannya. Buku ini dibahas dengan dua pendekatan filosofis yang saling memperkaya, filsafat Aristoteles-Thomas Aquino dan `filsafat fenomenologi' sebagaimana dikembangkan oleh Max Scheler. Seorang mantan murudnya, Tadeus Styczen berkomentar bahwa dalam karya ini, Wojtyla mengajak kita beralih dari afirmasi Rene Descartes: cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada) kepada cognosco ergo sum (saya mengenal/saya memahami maka saya ada). Pengenalan atau pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman yang lahir dari tindakan-tindakan sadar manusia sebab dalam dan melaluinya manusia bukan saja mengenal sesamanya tetapi juga mengungkap siapa dirinya.

Tindakan yang dimaksud bukanlah tindakan yang egosistis tapi yang terjadi dalam relasi dengan sesama yang juga saya hargai sebagai persona. Untuk itu Wojtyla menekankan dimensi sosialitas ini dengan menampilkan tida kta kunci `partisipasi, solidaritas dan transendensi'.

Penekanan terhadap persona manusia ini menjadi warna dasar karya kepausan Karol Wojtyla. Tidak perlu dideretkan lagi di sini apa saja yang pernah ia lakukan sebagai bentuk pembelaannya terhadap persona manusia. Ia adalah maestro di bidang kemanusiaan. Martabat manusia menjadi paradigma setiap bentuk interaksi dan relasi. Manusia sebagai pribadi yang bermartabat tidak pernah boleh -meminjam istilah filsuf Immanuel Kant- digunakan sebagai sarana untuk kepentingan apapun. Inilah paradigma paling kokoh jika kita ingin membangun masyarakat bangsa dan dunia yang semakin manusiawi; suatu tatanan hidup bersama di mana individu-individu yang bergabung di dalamnya tidak hanya puas dalam kungkung subyektivisme, relativisme, komunalisme atau juga totalisme yang merusak kemanusiaan universal.

Akan tetapi kenyataan bersaksi bahwa nilai-nilai kemanusiaan universal atau martabat manusia kadang hanya sebatas retorika yang menopeng maksud dan kepentingan-kepentingan tertentu. Dalam hal ini patut kita angkat topi sekali lagi kepada Immanuel Kant yang menegaskan `kehendak baik' sebagai yang amat penting dalam pemaknaan moralitas hidup manusia. Hanya sayang bahwa yang tahu tentang maksud baik seseorang ada orang itu sendiri. Kejujuran menjadi ciri kemartabatan dan mutlak penting bagi seseorang menampilkan personalitasnya apa adanya, bebas dan bertanggung jawab.

Dimensi inilah yang antara lain diperjuangkan oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II selama hayatnya masih di kandung badan. Peranan mantan Uskup Agung Krakovia ini selama Konsili Vatikan II mungkin tidak sehebat para Kardinal seperti Kardinal Franz König, Kardinal Frings, Kardinal Döpfner, Kardinal Alfrink, Kardinal Suenens atau juga tidak segigih Kardinal Bea yang sangat besar pengaruhnya dalam meloloskan dokumen Nostra Aetate, dan tentu saja tidak sepengaruh Kardinal Alfredo Ottaviani, kepala Sanctum Officium yang dengan semboyangnya semper idem berupaya untuk mereduksi sejauh mungkin hasil-hasil sidang agar selaras dengan kehendak Curia Romana.

Wojtyla hadir dalam Konsili Ekumenis itu sebagai salah seorang Uskup dari Gereja lokal Polandia, Gereja yang menderita. Dia tahu apa artinya penderitaan dan dia tahu pula bagaimana Gereja semestinya berkiprah dalam realitas penderitaan. Selain aktif dalam hampir semua sesi konsili, Wojtyla adalah pendengar yang setia dan kreatif. Ia amat menyadari betapa bernasnya Konsili Vatikan II. Ia adalah `Putera dari Konsili' yang tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjawabi harapan-harapan Konsili. Hal itu ia buktikan dalam 26 tahun lebih masa pontifikatnya yang berakhir pukul 21.37 tanggal 2 April 2005 waktu Vatikan. Dan, hari-hari ini mengenang 25 Tahun Kunjungannya ke Indonesia dan 50 tahun berlangsungnya Konsili Vatikan II ini baiklah dijadikan sebagai momentum untuk mencermati wajah Gereja lokal Indonesia saat ini dalam terang semangat pastoral, gagasan-gagasan dan spiritualitas Santo Yohanes Paulus II dan amanat Konsili Vatikan II.*

Sumber: Pos Kupang 13 Oktober 2014 hal 4

Kamar Santo Yohanes Paulus II di Maumere Jadi Tempat Ziarah

Romo Ewaldus di kamar Santo Paus Yohanes Paulus II
KAMAR yang ditempati mendiang Santo Paus Yohanes Paulus II di Seminari Santo Petrus Ritapiret, Maumere saat mengunjungi Sikka 11-12 Oktober 1989 lalu,  telah menjadi kamar doa dan tempat ziarah bagi umat Katolik.

Kamar itu pun telah direnovasi dan semua perlengkapan di dalam kamar yang ada kala itu dikembalikan ke posisi semula.

Demikian Praeses Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret Maumere, Romo Edwaldus Martinus Sedu, Pr saat ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (10/10/2014) pagi.

Dikatakan Romo Ewal, demikian dia disapa, beberapa fasilitas yang perlu disimpan di Kamar  Paus,  antara lain kasula yang pernah dipakai Paus saat pimpin misa, kursi  yang diduduki saat misa dan piala.

Sampai saat ini pihak seminari belum bisa mengidentifikasi Kasula yang dipakai Paus kala itu. Sedangkan kursi, berada di Gereja Katedral Maumere. Sedangkan  piala dan tempat Paus berlutut untuk berdoa, menurut rencana segera  dikembalikan dan disimpan di Kamar Paus pada pemberkatan kamar itu, Minggu (12/10/2014).

Misa mengenang 25 tahun kehadiran Santo Paulus Yohanes Pualus II  di Ritapiret itu digelar Minggu (12/10/2014) dipimpin oleh Romo Patrick Guru, Pr, dihadiri internal komunitas Ritapiret dan umat sekitar. 

Pekan-pekan terakhir menjelang peringatan puncak itu, Centro John Paul II, panitia khusus yang menggali spiritualitas Santo Paulus II menyelenggarakan seminar, retret dan sosialisasikan spiritualitas Santo Yohanes Paulus II kepada pelajar SMAK Yohanes Paulus II Maumere.

Romo Ewal mengakui pasca bencana gempa bumi 1992, kamar itu tidak diperhatikan secara khusus. Kamar Paus digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan lainnya.
Santo Yohanes Paulus II

"Kita sudah renovasi kamar Paus dan kita upayakan kembali seperti keadaan semula. Kamar itu sudah jadi kamar doa dan tempat ziarah, terutama mereka yang secara khusus berdevosi kepada Sang Santo," kata Romo Ewal.

Meski masih secara sporadis, tetapi setiap tahun secara regular terdapat kelompok-kelompok yang datang mengunjungi Kamar Paus. Mereka datang untuk berdevosi kepadanya.

"Terutama kalau menjelang Proses Samana Santa di Larantuka. Sebelum mereka ikut ke sana, mereka banyak singgah di sini," tutur Romo Prases yang kala kunjungan Paus, tengah berada di semester V di seminari itu.

Kamar  Paus berada di tengah-tengah kamar para frater, padahal seminari itu memiliki kamar khusus untuk para tamu istimewa kala itu.

Romo Ewal sendiri belum menemukan jawaban mengapa Paus menempati kamar di antara para frater kala itu.

"Dugaan kita, mungkin demi keamanan saja. Semua frater waktu itu, tidak tahu kalau kamarnya di sana. Padahal ada kamar lain untuk para imam, " kata Romo Ewal.

Disaksikan Pos Kupang, tempat tidur Paus masih rapi dengan sprei putih dan bantal. Pada dinding di atas kepala, dipasang pigura Sang Santo ketika wafat pada 2 April 2005 lalu di Roma.

Di sisi kiri dan kanan tempat tidur terdapat masing-masing satu lemari kecil. Terdapat dua meja, satu meja buku dan satu lagi meja kerja dan terdapat satu kursi kayu.

Sedangkan di ruangan di depan kamar tidur Paus terdapat satu meja makan dengan empat kursi terbuat dari rotan dan tiga kursi bersantai. Sedangkan dinding diriasi foto kenangan ketika Paus berada bersama frater di Seminari Tinggi Ritapiret.

Seminari Tinggi Ritapiret juga menata kamar yang ditempati Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Fransesco Canalini dan Sekretaris Pribadi Paus, Stanislao Sziwisz. Keduanya mendampingi Paus saat berkunjung ke Maumere.

Pada dinding di luar kamar, telah dipasang prasasti sederhana menuliskan kamar paus itu. Menurut rencana, seminari akan membangun satu patung Sang Santo di taman di depan kamar. 

Sedangkan di Gelora Samador Maumere, tempat Paus menyelenggarakan misa akbar tidak ditemukan tanda mata yang mengingatkan kehadiran tokoh bersejarah dalam gereja Katolik ini. Gelora hanya terdapat coretan dan tidak terurus. (*)

Sumber: Pos Kupang 11 Oktober 2014 halaman 9

Fernandez dalam Kenangan Herman Musakabe


Musakabe (kedua dari kiri), Fernandez (ketiga dari kiri)
KUPANG, PK--Gubernur NTT periode 1988-1993, dr. Hendrik Fernandez, yang meninggal dunia pada Sabtu (6/9/2014) dalam usia 81 tahun 10 bulan, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darma Loka-Kupang, Selasa (9/9/2014).

Pemakaman dr.Hendrik Fernandez diawali  misa requiem pukul 10.00 Wita di rumah duka di Jalan WR Mongonsidi II No. 3 Kota Kupang. Misa dipimpin Vikjen Keuskupan Agung Kupang, Romo Geradus Duka, Pr, didampingi imam konselebran lainnya.

Misa diikuti sekitar 800 orang, termasuk pejabat Pemerintah Provinsi NTT. Hadir  Gubernur NTT periode 1993-1998, Herman Musakabe;  Gubernur NTT, Frans Lebu Raya; Sekda NTT, Frans Salem; Wakil Walikota Kupang, Herman Man; Danrem 161/Wira Sakti Kupang, Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Achmad Yuliarto, dan beberapa pajabat lainnya.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, ditanyakan kesannya terhadap almarhum dr. Hendrik Fernandez  mengatakan, "Apa yang saya  lakukan selama menjadi Gubernur NTT belum sebanding dengan apa yang sudah dilakukan oleh almarhum Hendrik Fernandez semasa menjadi Gubernur NTT."

Melalui program Gempar dan Gerbades, demikian Frans Lebu Raya, Hendrik Fernandez mampu mengubah dan meningkatkan perekonomian masyarakat NTT menjadi lebih baik.

"Satu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan dengan beliau waktu saya masih menjadi seorang aktivis, di mana pada saat kami ingin mengadakan kegiatan terkendala pendanaan. Dan di situ almarhum Hendrik Fernandez yang waktu itu menjadi Ketua Partai Golkar NTT hadir menjadi solusi kami. Beliau memberikan bantuan dana sehingga kegiatan kami berjalan baik. Satu lagi putra terbaik NTT yang pergi. Selamat jalan Pak Fernandez, semoga arwahmu mendapatkan ketenangan di dalam Kerajaan Surga," ujar Frans Lebu Raya.

Mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe, mengatakan, kepergian dr. Hendrik Fernandez bukan tanpa meninggalkan apa-apa. Beliau telah banyak berbuat untuk masyarakat NTT, baik sewaktu menjabat Direktur RSUD Prof. WZ Johannes Kupang, anggota DPR RI, Kepala Kanwil Kesehatan NTT dan saat menjabat Gubernur NTT.
Menurutnya, almarhum Hendrik Fernandez merupakan tipe pemimpin yang selalu melayani, bukan hanya waktu menjadi gubernur, juga setelah tidak lagi menjadi Gubernur NTT. "Beliau tetap melayani masyarakat NTT  menjadi dokter di Klinik Kartini miliknya. Pak Fernandez adalah tipe pemimpin yang kebapakan. Dia selalu melindungi, memberikan kita rasa nyaman dan  memberikan kita teladan melalui sikapnya yang selalu rendah diri dan tekun dalam doa," ujarnya.

Selain itu, demikian Herman Musakabe, Pak Fernandez adalah pemimpin yang konsisten, prinsip, namun tetap lembut di dalam perbuatannya. "Yang selalu saya ingat dari dia adalah saat dia dalam keadaan sakit, masih sempat memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada temannya. Bahkan langsung datang ke rumah temannya. Ini adalah bukti bahwa almarhum Hendrik Fernandez adalah sosok yang pantas kita teladani,"  ujar Herman Musakabe.

                                    
Bangun dari Desa
Wakil Walikota Kupang, Herman Man, mengatakan, dr.Hendrik Fernandez adalah mantan pemimpin yang membangun NTT dimulai dari tingkat desa.  Gerakan membangunan NTT mulai dari tingkat desa, lanjut Herman Man,  sekarang ini mulai diikuti oleh pemimpin-pemimpin tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Sebab, dampaknya luar biasa dalam menciptakan kemandirian masyarakat desa.

"Sebagai seorang dokter kita kehilangan dokter terbaik. Beliau pemimpin kami sewaktu menjadi Kepala Kanwil Kesehatan NTT. Beliau memiliki peran penting dalam meningkatkan  kesehatan masyarakat NTT. Kita kehilangan seorang sosok pemimpin yang menjadi teladan dengan sikap rendah hati," ujarnya.

Dokter Andreas Fernandez, anak kandung almarhum dr. Hendrik Fernandez, mewakili kaluarga mengucapkan terima kasih kepada  semua pihak yang mengikuti acara pemakaman  Hendrik Fernandez.  "Kami keluarga minta maaf kepada semua pihak jika semasa hidup bapak pernah menyakiti hati siapa saja," ujar Andreas.

Pantauan Pos Kupang, jenazah almarhum Hendrik Fernandez,  menunju TMP Darma Loka Kupang sekitar pukul 13.00 Wita, diiringi kendaraan roda empat dan kendaraan
roda dua.

Almarhum Hendrik Fernandez dimakamkan dengan upacara militer. Komandan upacara Kapten Yuli Hartarto dan Inspektur Upacara, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Pemakaman dr.Hendrik Fernandez sempat mengalami masalah saat peti jenazah hendak dimasukkan ke dalam lubang kubur. Pasalnya, peti jenazah berukuran  lebih besar daripada lubang kubur yang telah disiapkan.  Akibatnya, upacara pemakaman secara militer  sempat terganggu. Keluarga sempat melaksanakan  ritual adat setelah upacara militer. Ukuran peti mati lebih panjang kurang lebih 4 cm dari lubang kubur. Para petugas kubur mengikis  dinding kubur sehingga peti jenazah bisa dimasukkan ke dalam lubang kubur.  (dd)

Sumber: Pos Kupang 10 September 2014 hal 1

Hendrik Fernandez Dimakamkan di Darma Loka

dr Hendrik Fernandez
Gubernur NTT periode 1988-1993, dr. Hendrikus Fernandez, akan dimakamkan hari Selasa (9/9/2014) di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darma Loka, Kupang.   Prosesi pemakaman diawali misa requiem di Gereja Santa Maria Assumpta, Selasa (9/9/2014), pukul 09.00 Wita.

Anak kandung almarhum Hendrik Fernandez, yaitu dr. Andreas Fernandez,  ditemui di rumah duka di Jalan Wolter Mongonsidi II No. 3 Kota Kupang, Minggu (7/9/2014), mengatakan, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, bersama Ibu Lusia Adinda Lebu Raya, ketika melayat menyampaikan niat baik Pemerintah Provinsi  NTT memakamkan almarhum dr. Hendrik Fernandez,  di TMP Darma Loka.

"Kami keluarga  berterimah kasih atas niat baik dari Pemprop NTT. Keluarga besar sudah sepakat untuk memakamkan almarhum dr. Hendrik Fernandez  di TMP Darma Loka. Semua persiapan pemakaman sudah beres, dan kami masih menunggu keluarga besar dari Larantuka yang akan tiba di Kupang, Senin (8/9/2014) menggunakan kapal feri," ujar Andreas, dokter penyakit dalam di RSU WZ Johannes Kupang itu.

Andreas menjelaskan, banyak tokoh masyarakat yang melayat almarhum dr. Hendrik Fernandez. Di antaranya, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dan Ibu Lusia Adinda Lebu Raya, Esthon Foenay, dan dr. Husein Pankratius.

Andreas mengatakan, bapaknya almarhum dr.Hendrik Fernandez adalah sosok yang punya prinsip dalam hidupnya. "Bagi bapak walau banyak orang menentang apa yang bapak yakini sebagai suatu kebenaran, maka itu yang akan dia lakukan, termasuk dalam hal mendidik kami. Apa yang menurut bapak baik dan benar untuk kami anak-anaknya, itu harus kami lakukan. Bapak orangnya humoris, tapi tegas. Kalau bicara soal prinsip, tidak bisa ditawar lagi. Apa yang bapak ajarkan kepada kami, sekarang sudah kami nikmati," ujar Andreas. (dd)

Sumber: Pos Kupang 8 September 2014 hal 1

In Memoriam Dokter Hendrik Fernandez

Fernandez bersama Paus Yohanes Paulus II (1989)
KUPANG, PK--Gubernur NTT periode 1988-1993, dr. Hendrik Fernandez, tutup usia. Pria kelahiran Weetabula, Sumba Barat Daya (SDB), 7 November 1932 ini meninggal dunia di Rumah Sakit Kartini Kupang, Sabtu (6/9/2014) siang.  Mantan Gubernur NTT itu meninggal dalam usia mendekati 82 tahun atau tepatnya 81 tahun 10 bulan.
Jenazah mantan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kesehatan NTT itu, dibawa dari Rumah Sakit (RS) Kartini Kupang ke rumah duka di Jalan WR Mongonsidi II No. 3 Kota Kupang, sekitar pukul 14.20 Wita.

Saat jenazah Hendrik tiba di rumah disambut isak tangis keluarga dan kerabat. Beberapa dokter dan pejabat pemerintah ikut mengantar jenazah almarhum dari RS Kartini ke rumah duka.

Istri almarhum, Ibu Mia Fernandez, memandangi wajah suaminya yang terbaring kaku di tempat tidur. Sejak tiba di rumah duka, ibu Mia Fernandez  mendampingi jenazah suaminya. Ibu Mia menerima ucapan turut berduka dari keluarga dan warga yang datang melayat.

Fransiska Sin Fernandez, putri almarhum dr. Hendrik Fernandez, ditemui di rumah duka, mengatakan, ayahnya meninggal dunia karena terserang penyakit stroke.
Almarhum meninggalkan seorang istri, tiga orang anak dan tujuh orang cucu. Ketiga anak almarhum, yakni Fransiska Sin Fernandez, S.H, Dokter Andreas Fernandez, Sp.PD, dan Ir. Mikhael Fernandez.

"Bapak dirawat di RS Kartini sejak hari Kamis (4/9/2014). Bapak mengalami stroke sejak empat tahun lalu. Penyakitnya sudah lama. Selama ini bapak dirawat di rumah saja oleh anak sendiri, dr. Andreas Fernandez, Sp.PD, dibantu dua orang perawat," tutur Sin Fernandez.

Ia mengatakan, karena ayahnya sudah menderita stroke cukup lama, maka keluarga, terutama ibu (Ibu Mia Fernandez) dan anak-anak serta cucu  terlihat tegar menghadapi kenyataan atas meninggalnya bapak.

"Padahal, mestinya tanggal 7 Oktober 2014, bapak dan mama akan merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan mereka. Bapak dan mama menikah pada 7 Oktober 1964," ujar Sin.

Sin menuturkan, bapak adalah orang sederhana dan suka kedamaian. Kepada anak- anak dan cucu-cucu, bapak selalu berpesan agar hidup damai dengan orang lain. Juga jangan suka marah dengan orang dan jangan sombong.  "Hiduplah selalu dalam kedamaian dan berbuat baik dengan orang lain," tutur Sin mengutip pesan bapaknya ketika masih bersama mereka selama ini.

"Salah satu anak saya, sangat mengidolakan kakeknya (dr. Hendrik Fernandez). Terutama ajaran untuk selalu hidup damai dan sederhana. Bapak juga selalu  ingatkan kami untuk berjuang supaya hidup menjadi lebih maju," ujarnya.

Bagi Sin, ada banyak kebersamaan dirinya dengan sang ayah yang begitu berkesan selama hidup. Dari sekian banyak kesan itu, tutur Sin, gaya hidup almarhum ayahnya yang sederhana dan selalu berpesan agar hidup damai dengan orang lain merupakan kesan yang sangat berarti. "Bapak tidak memberikan pesan terakhir sebelum meninggal, karena bapak sudah tidak bisa bicara akibat stroke. Tidak ada komplikasi penyakit lain. Bapak hanya mengalami stroke saja," kata Sin.

Selama ini, lanjut Sin, ibu selalu berdoa untuk kesembuhan bapak. "Apa mau dikata, Tuhan yang menentukan nasib hidup seorang manusia. Sebagai manusia, keluarga berharap almarhum dr. Hendrik Fernandez, diterima di sisi kanan Allah di surga," ujarnya.

Menyinggung rencana pemakaman, Sin mengatakan, sesuai informasi yang sempat ia terima dari Pak Esthon Foenay, mantan Wagub NTT ketika menjenguk ayahnya di RS Kartini Kupang, jenazah bapak  akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darma Loka Kupang.

"Tadi, Pak Esthon Foenay bilang kemungkinan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Darma Loka. Cuma pihak keluarga belum mengambil keputusan mau makam di mana dan kapan bapak dimakamkan. Keluarga runding dulu," kata Sin. (mar/roy)


Kehilangan Seorang 'Pelari Estafet'

HARI ini (kemarin) pukul 10 lewat 15 menit, Saudara Charles Agoha, mantan ADC ketika saya Gubernur NTT, menelepon saya: "Bapak, ada berita duka: dr. Fernandez baru 5 menit lalu, meninggal di RS Kartini, Jl. El Tari."  Kematian dr. Fernandez sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga dan handai taulan.  Maklumlah kondisi kesehatannya sudah pada tahap terminal hampir 1,5 tahun yang lalu.  Penderitaannya sudah lebih lama dari kondisi sekarat itu.  Hanya mereka yang pernah terkena stroke mampu mengerti wujud penderitaan itu.  Menurut saya kematian bukan saja menjadi pintu ke kehidupan yang kekal, tetapi sekaligus merupakan suatu pembebasan dari penderitaan yang berat itu.

Perkenalan saya dengan dr. Fernandez sudah hampir 70 tahun lamanya, sebagai murid di Schakelschool Ndao, Ende, sehabis Perang Dunia Kedua, dan 17 tahun kemudian sebagai Dokabu dan Kepala RS di Flores dan Kupang.  Yang agak lama adalah sebagai politisi Golkar.  Beliau adalah Ketua Partai Katolik Flores Timur ketika saya ajak menjadi caleg Golkar pada Pemilu 1971, beliau selanjutnya menjadi politikus Golkar dari tahun 1971 sampai menutup matanya hari ini.  Saya kira!

Ketika saya berhenti dari jabatan gubernur tahun 1988, beliau menggantikan saya menduduki kursi gubernur di Jalan El Tari itu.  Sebagai politikus dengan pengalaman pribadi yang berbeda-beda, logis sekali bahwa pandangan-pandangan beliau tidak selalu sama dengan pandangan saya.  Dan, pencabangan pandangan itu membuat komunikasi pribadi kami terputus, malahan praktis hilang sama sekali.  Generasi muda sekarang perlu mengerti bahwa perbedaan pandangan dalam berpolitik adalah normal sekali, kendati dalam satu partai.  Memang di zaman Orde Baru dahulu, perbedaan itu sepertinya tabu!  Maklum Orde Baru itu cenderung monolitik dalam pandangan politiknya.  Saya berbahagia bahwa di senjanya usia, dr. Fernandez dan saya, saya mengumpulkan keberanian moril untuk melupakan dan menghapuskan ingatan-ingatan lama itu, sehingga dengan ikhlas tenggelam bersama terbenamnya matahari di ufuk barat dengan damai.

Banyak atau sedikit kontribusi dr. Fernandez kepada rakyat Flobamora tercinta tergantung dari apresiasi masing-masing warga Nusa Tenggara Timur.  Tetapi satu hal yang pasti bahwa dr. Fernandez telah menyumbang tenaga dan pikiran bagi Nusa dan Bangsa, sebagai dokter dan pamong praja paling kurang selama setengah masa hidupnya dengan setia.  Hakim sejarah saja akan mengadili beliau, apakah dia pamong praja yang berani, apakah dia pamong praja dengan "judgement" yang baik, apakah dia seorang pejabat yang berintegritas dan apakah dia seorang gubernur dengan kadar dedikasi yang tinggi.  Dan paling akhir Tuhan Allah akan mengadili dia sebagai seorang Kristiani yang konsekwen.  Saya dan juga pembaca tidak berhak untuk kedua-duanya!
Nusa Tenggara Timur kehilangan lagi salah seorang "pelari estafet" kepemimpinan Flobamora, menyusul para almarhum Lalamentik, El Tari, Piet Tallo, ke alam baka.  Semoga Tuhan Allah yang Maha Kasih memberi tempat yang layak kepada dr. Hendrik Fernandez. Requiescat in Pace dr. Fernandez. (*/eni)


IA Medah: Melahirkan Banyak Kader

KETUA DPD 1 Partai Golkar NTT dan mantan Ketua DPRD NTT, Ibrahim Agustinus Medah punya kesan tersendiri terhadap almarhum mantan Gubernur NTT, dr. Hendrik Fernandez (alm).

Menurut Medah, almarhum dr. Hendrik Fernandez,  sudah berjasa besar untuk NTT. "Kita harus menghargai karya beliau yang sudah begitu besarnya untuk NTT, baik
sebagai Ketua Golkar maupun sebagai gubernur," ujarnya.

Dari sosok beliau sebagai Ketua Golkar, demikian Medah, almarhum Hendrik Fernandez telah melahirkan banyak kader Golkar yang mengabdi bagi negara dan bagi daerah ini, baik di bidang eksekutif dan legislatif maupun di bidang lain.
Bahkan setelah Pak Fernandez berhenti dari Ketua Golkar, beliau tetap mengabdi dan berkarya di bidang politik melalui Partai Golkar. Karena itulah, lanjut Medah, sampai saat beliau meninggal, tetap sebagai Ketua Dewan Penasehat/Pembina Partai Golkar NTT.

Sebagai gubernur, kata Medah, almarhum Hendrik Fernandez, sudah banyak memberikan andil dalam pembangunan di NTT ini. "Karenanya saya selaku Ketua Partai Golkar NTT, memberi penghargaan yang setinggi-tinggi dan sebesar-besarnya atas pengabdian beliau, baik sebagai ketua Partai Golkar maupun sebagai gubernur semasa hidup beliau," ujar Medah.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013, Esthon Foenay mengatkan, Pak Hendrik Fernandes (alm) seorang pekerja keras dan rendah  hati.

"Pola hidupnya sederhana. Kita semua masyarakat NTT kehilangan seorang figur  pemimpin  yang luar biasa. Cintanya pada  masyarakat NTT sangat besar. Saya mantan kepala  Biro  Binsos Setda NTT di era pemerintahan  Pak Hendrik Fernandez," ujar Esthon. (roy)

Sumber: Pos Kupang 7 September 2014 hal 1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes