"Kembali" ke Kupang


bildad11.jpg


IKAN BAKAR — Menikmati ikan bakar di pantai Kupang (1997) bersama Bildad (paling kiri), Paul Bolla dan pasangannya, kemudian Ana Jukana, Peter A Rohi, dan Hans Christian Louk. Ikan termasuk murah di Kupang, terutama kalau kita mau beli langsung dari nelayan pas mereka naik dari laut. Ikan segar itu langsung dibersihkan dengan air laut, dibakar, disantap. Gurih sekali.

Buku Kiriman Dion

“KAKA.. Ini be kirim buku 15 Tahun Pos Kupang. Baca sudah! Tapi jang bilang-bilang orang laen. Be cuma bawa beberapa sa untuk ketong pung teman yang perna di Kupang, na!”

ITULAH yang dibisikkan Dion Dosi Bata Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang di sela-sela Rapat Kerja pimpinan koran-koran daerah Persda di Ciater, Subang, Jawa Barat, 5 Desember 2007. Ia merogoh ransel, mengeluarkan buku bersampul biru.

Saat membacanya kemudian, saya tersedot kembali ke Kupang. Kembali ke masa-masa belajar dari para guru, mulai dari Bildad sampai Pius Rengka. Dari pendeta Paul Bolla, sampai Pater Jan Menjang (alm). Dari Daniel Rattu sampai guru besar Damyan Godho, dan masih banyak nama lagi yang harus saya sebut dengan rasa hormat karena telah begitu bermurah hati membagikan ilmu mereka.

Saya teringat kembali ketika untuk pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Karang itu pertengahan tahun 1995. Apa yang disaksikan lewat jendela pesawat, tanah tandus kecoklatan dengan tonjolan-tonjolan karang, jadi lebih nyata beberapa saat setalah mendarat di bandara El Tari.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Domu Warandoy dan Evi H Pello yang menjemput saya, menunjukkan tempat-tempat di kiri kanan jalan yang kami lalui. Aduh! Tak terbayangkan bagaimana sulitnya mengembangkan koran di tempat seperti ini. Tempat di mana beli dan baca koran entah jadi prioritas keberapa dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Pertama terbit 1 Desember 1992, sampai saat itu (1995) Pos Kupang terbit teratur sebagai koran harian berformat tabloid delapan halaman. Ya, tabloid. Ya, cuma 8 halaman. Atau setara dengan selembar koran broadsheet! Dicetak hitam-putih, dengan logo POS KUPANG di kiri atas. Jadi, meskipun “setebal” delapan halaman, koran ini jadi tipis jika selesai dibaca langsung kita lipat-lipat, masuk saku.

Sekarang, setelah berusia 15 tahun, tentu saja Pos Kupang tidak seperti dulu lagi. Ia terbit dalam bentuk broadsheet 16 halaman, dengan empat halaman warna. Ia pun sudah melakukan cetak jarak jauh di Ende dan di Maumere (Flores) di seberang laut. Nah, buku kiriman Dion itu antara lain berkisah tentang jejak langkah perjalanan Pos Kupang.

Ada testimoni dari pada pelaku, maupun mantan pelaku (banyak yang sudah berhasil di berbagai bidang, baik di NTT maupun di ibu kota dan di daerah lain), dan lebih banyak lagi berisi telaah mengenai peran Pos Kupang pada berbagai sisi kehidupan masyarakat di provinsi itu. Tokoh masyarakat, ilmuwan, kaum rohaniwan, kalangan birokrat, mantan pejabat dan lain sebagainya menuliskan pandangan kritis mereka terhada surat kabar ini.

Dus, meski buku ini diterbitkan menandai 15 tahun surat kabar itu, ia terhindar dari kesan sebagai kecap dapur yang biasanya lebih banyak berisi puji-pujian atas diri sendiri. Ia sekaligus jadi referensi yang cukup bernas mengenai perkembangan pers dan perannya di dalam kehidupan masyarakat setempat.

Tapi, bagi saya, buku itu seakan membawa saya kembali ke Kupang. Melalui buku ini, saya “bertemu” lagi dengan para guru yang luar biasa gairahnya membangun koran di negeri kering dan serba minim. Saya “bertemu” lagi dengan Pius Rengka yang kata-katanya luar biasa tajam, kokoh, dan indah.

“Bertemu” lagi dengan Hans Ch Louk yang ramah, suaranya pelan dan seperti tak pernah punya marah, namun tulisan-tulisannya lugas dan menyentak. “Betemu” lagi dengan pak pendeta, Yulius O Lopo yang kini jadi direktur pemberitaan Top TV Papua. Kepada merekalah –tentu pula dengan Dion dan Om Damyan Godho yang jadi tokoh sentral Pos Kupang– saya belajar banyak bagaimana gairah, ruh, spirit, bahu-membahu untuk menjalankan sebuah niat, membangun koran. Dan, mereka berhasil.

di-bandung-nasi-pun-berpayung-kaka.jpg
Santap malam sebelum rapat kerja: “Ai Kaka… di Bandung, nasi pun berpayung ko? “
***
SAYA masih ingat betul, bagaimana sulitnya merekrut tenaga wartawan. Ketika itu, Pos Kupang baru saja ditinggal “bedol desa” oleh sejumlah wartawan dan redakturnya yang ikut Valens Goa Doy yang diberi kepercayaan mengelola Berita Yuda versi baru. Belakangan, proyek Berita Yuda itu tak berlanjut.

Rekrutmen pertama, berhasil menghimpun kemudian menyaring calon wartawan. Empat orang! Kami melatihnya secara penuh, kelas dan lapangan. Sampai akhir masa pelatihan, tak ada satu pun yang memadai. Bisa dipaksakan, tapi akan menyiksa mereka sendiri dan mungkin mengganggu sistem. Maka, buka lagi rekrutmen. Hasilnya, nihil lagi.

Toh, akhirnya dapat juga. Itu setelah berlangsung rekrutmen “ronde” ketiga. Dari sejumlah pelamar yang masuk dan lulus testing, kali ini tampak bibit-bibit yang sangat potensial. Dan terbukti, sebagian di antara mereka kini menduduki posisi-posisi penting di Pos Kupang. Satu dua lainnya, juga jadi tokoh jurnalis di luar Pos Kupang.

Itu dari satu sisi, SDM. Sisi lain, infrastruktur, jalur distribusi, persebaran penduduk di puluhan pulau, adalah tantangan lain yang hanya akan bisa diterobos dengan gairah yang dimiliki para awak Pos Kupang. Jika tidak, koran itu mungkin kini tinggal nama, bukan lagi jadi satu pilar yang kokoh dalam kehidupan demokrasi dan bisnis di NTT sebagaimana sosoknya yang tampak hari-hari ini.

Sebelum belajar ke Pos Kupang, saya sudah “sekolah” di Bandung (Bandung Pos, Mingguan Pelajar, Salam, dan kemudian Mandala – saat koran ini digandeng Kelompok Kompas-Gramedia), di Yogya (Bernas), di Palembang (Sriwijaya Post). Sarana, fasilitas dan infrastruktur di koran-koran itu boleh dibilang termasuk sederhana untuk ukuran sebuah industri koran di Jawa dan Sumatera saat itu. Tapi, begitu masuk ke Pos Kupang, saya seperti sedang menyaksikan dan ikut dalam sebuah gegar tekonologi (jika istilah ini ada).

Sampai pada proses pracetak, infrastruktur Pos Kupang tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang digunakan di Bernas. Tapi begitu masuk proses cetak, ya ampun. Saya seperti terlontar ke masa silam. Masa sekitar tahun 70-an, manakala saya sering ngintil paman saya mengantarkan naskah untuk korannya ke percetakan Ganaco NV di Bandung. Itu pun, mesinnya sudah agak lebih “modern” dibanding dengan yang digunakan Pos Kupang.

Sebagai ilustrasi, untuk mencetak 3000-4000 Pos Kupang saat itu, kami membutuhkan waktu antara 6-7 jam! Selain mesin, puluhan orang –tetangga sekitar– juga terlibat dalam penerbitan surat kabar ini. Tiap pagi, mulai pukul 03.00 belasan orang berderet di meja lipat di sisi lain percetakan. Ya, mereka jadi juru lipat dan juru sisip koran tabloid “setebal” delapan halaman itu!

Itu jika mesin tidak ngadat. Namanya mesin sepuh yang “berpengalaman” panjang, tentu pula acapkali macet. Ada saja gangguannya. Sampai-sampai pernah Om Damy meminta khusus pastor memberkati mesin itu. Menyembahyangi, kemudian memercikkan air suci.

Toh, mesin tak jua mau kompromi, sesekali penyakitnya datang lagi. Sampai sekali waktu, Om Damy mendatangkan paranormal untuk –jika ada– mengusir demit penyakit yang ngendon di itu mesin. Upacara pun digelar di lantai pelat baja sisi mesin. Potong ayam dan mengucurkan darahnya di lantai. Lalu ditaruhlah telur di atas genangan kecil darah itu. Beberapa saat kemudian, darah terserap entah ke mana!

Paranormal itu bermeditasi, merapal mantra, lalu bangkit bergerak ke arah mesin. Ia menunjuk sebuah titik hitam di sisi luar dinding mesin itu. Mengorek-ngoreknya sebentar, dan…. seperti ujung rambut, sepotong kawat mencuat. Ditariklah kawat itu, ternyata panjang. Seperti terkait ke suatu mekanisme di dalam mesin.
Dan ternyata, mesin itu tetap saja dengan sifat tuanya. Sesekali masih ngadat dan ogah mencetak. Jika sudah begini, tak ada jalan lain kecuali memindahkan cetakan ke Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) milik Deppen setempat.

Tapi, bagi saya, “pastor” maupun “pawang” mesin itu yang sesungguhnya adalah Ign Setya Mudya Rahartono (kini mengepalai unit cetak Pos Kupang). Putra Yogya inilah yang dengan telaten ngopeni mesin peninggalan zaman “purba” itu hingga mampu mengantar Pos Kupang menuju masa-masa kejayaan.

Tokoh lain yang menurut saya berperan besar adalah Bildad yang berhasil memegang kunci pengelolaan infrastruktur teknologi informatika Pos Kupang. Yang mengagumkan saya dari Bildad, adalah dia belajar secara otodidak mengenai IT. Pada masa itu, di Kupang belum ada lembaga, bahkan sebatas, kursus mengenai komputer/IT. Ilmu yang berhasil dikuasasinya ternyata menjadi tulangpunggung kelancaran proses kerja penerbitan surat kabar di Tanah Timor itu.

Selain  soal mesin dan keterbatasan infrasutrktur pendukung,  kertas juga jadi masalah utama, karena sangat tergantung pada pengriman dari Surabaya. Kapal pengirim, tergantung cuaca. Pernah sekali waktu, proses pracetak sudah rampung, tapi percetakan tak bisa bergerak karena kertas habis. Kiriman belum masuk karena kapal tertahan jauh dari pelabuhan. Belum bisa merapat.

Maka, menjelang tengah malam, Om Damy dan Domu melesat ke seantero pojok kota Kupang, menggedori toko yang menjual kertas ukuran plano. Dapat! Beberapa rim, cukup untuk oplaag hari itu. Mesin cetak pun bergerak. Dan hari itu Pos Kupang terbit warna warni. Kertasnya, yang warna warni! Ada yang warna telur-asin, hijau muda, kuning muda, putih, ada yang gabungan antara kertas putih dan warna lain!
Hebatnya, koran itu tetap laris dibeli orang!

***
borong-abis-na.jpg
ayo-foto-bersama-yang-melirik-nona-sendiri.jpg
Usai rapat kerja, 6 Desmber 2007, singgah ke Tribun Jabar. Ayo foto bersama! ajak Dion. Klik, dan di antara “kebersamaan” itu, cuma satu orang yang melirik ade nona! Hehehehehe…. Atas: Sempat pula pi pesiar sambil borong abis macam-macam barang. Saya diapit Dion dan Daud (Pemimpin Perusahaan Pos Kupang)
***
ITU cuma sekelumit dari gambaran nyata keadaan saat itu. Kini cerita itu tentu tinggal kenangan. Para kerabat kerja Pos Kupang telah mulai mereguk hasil kerja keras mereka yang tiada henti. Koran ini sudah mendarah daging dan jadi bagian hidup warga NTT, menjadi ruh informasi mereka, menjadi penerang, jadi penggerak opini publik, jadi pengontrol yang awas dan dipercaya.

Dion yang kini jadi pemimpin redaksi koran itu selalu bersemangat saat menceritakan, membandingkan dan menggugat, jika kami sedang rapat kerja, setidaknya setahun sekali. Keadaan sekarang, mungkin sudah jauh berubah. Setidaknya, sarana, fasilitas, dan infrastruktur pendukung, mungkin sudah lebih baik dibanding 12-15 tahun silam.

Tapi, tentu segalanya masih jauh tertinggal oleh perkembangan yang terjadi di daerah-daetah lain di luar NTT, terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Toh Dion Cs tetap dalam spiritnya, tetap dalam gairah yang sama dengan saat-saat saya mulai berguru kepada mereka 12 tahun silam. Hebat!
Buku yang dihadiahkannya itu sedikit mengobati kerinduan saya untuk menghirup kembali udara Kupang. Setidaknya, lewat buku itu saya bertemu dan “mendengar ” pembicaraan mereka, tidak saja mengenai Pos Kupang, melaikan mengenai hal-hal lain yang ingin saya ketahui dalam konteks kekinian.

Terimakasih, Dion. Terimakasih Om Damyan Godho. Terimkasih para guru besar saya di Kupang !! **
orang-bandung-makan-daun-ko.jpg
“Orang Bandung cuma makan daun ko, Kaka?”

Sejarah Pers di Nusa Tenggara Timur

KALAU kita membolak-balik buku-buku sejarah pers nasional, mulai dari zaman kolonial sampai era Orde Baru, nyaris tidak disinggung tentang pers Nusa Tenggara Timur. Yang ada hanya sejarah pers di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan bahkan di Maluku (Ternate).

Dari ketiadaan informasi ini, orang bisa saja berkesimpulan bahwa tidak ada pers di NTT pada masa itu. Tidak terlalu salah kesimpulan itu. Tetapi, coba kita sedikit memperluas penelitian kita. Artinya, tidak hanya berpusat pada dokumen-dokumen atau buku-buku yang diterbitkan oleh negara atau lembaga swasta nasional.

Cobalah menelusuri sejarah perkembangan gereja di wilayah ini. Mengejutkan, gereja yang sudah masuk ke wilayah ini sejak masa kolonial memiliki dokumentasi yang lengkap mengenai berbagai hal yang terjadi, termasuk kehidupan pers di daerah ini.

Hanya memang harus diakui, penerbitan pers di NTT sejak masa kolonial secara nasional dilihat sebagai pers golongan. Jelasnya, pers yang berhaluan Kristen (Katolik). Media-media tersebut terbit sebagai sarana pewartaan gereja. Pemimpinnya hampir semua dari lembaga gereja.
Kendati demikian, dalam prakteknya tidak semata-mata hal-hal berbau gereja yang menjadi subyek pemberitaannya. Hal-hal umum berkaitan dengan kepentingan profan masyarakat pun menjadi perhatiannya.

Sejak masa kolonial masyarakat NTT sudah bisa membaca koran karena gereja pada waktu itu sudah mendirikan sekolah-sekolah. Di Larantuka sekolah putra dibuka pertama kali pada tahun 1862 diikuti sekolah putri pada tahun 1879. Di Maumere sekolah putra pertama dibuka tahun 1875, diikuti sekolah putri pada tahun 1882. Di Lela sekolah putra pertama tahun 1897 dan sekolah putri 1899. Di Ndona (Ende) sekolah putra dibangun pertama kali pada tahun 1915 dan sekolah putri 1920. Di Todabelu (Ngada) sekolah putra pertama dibangun tahun 1921 dan sekolah putri 1931. Di Ruteng sekolah putra pertama tahun 1921 dan sekolah putri tahun 1943.

Di Lahurus (Belu-Timor) sekolah pertama tahun 1890 dan sekolah putri tahun 1921. Sekolah-sekolah ini antara lain mendidik masyarakat lokal untuk bisa membaca.
Karena itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi pers nasional untuk mengabaikan fakta sejarah ini.

***
MAJALAH pertama Bintang Timoer terbit di Ende pada tahun 1925, dengan sub-judul: Soerat Boelanan Katolik yang Bergambar. Majalah ini diterbitkan oleh Serikat Sabda Allah (SVD/Societas Verbi Divini). Ukurannya 19 x 26,5 cm, tebal 16 halaman, bergambar dengan kulit khusus.

Majalah ini memberitakan pokok-pokok keagamaan, masalah-masalah pertanian, pendidikan, keluarga, dan sebagainya. Juga berita-berita daerah dan internasional. Alamat redaksinya: R.K. Missie, Lela-Maumere, di bawah pimpinan P. Fries, SVD, kemudian dilanjutkan oleh P. F. Cornelissen, SVD.

Selama beberapa tahun Bintang Timoer dicetak di Percetakan Kanisius Yogyakarta (mulai 1925). Tapi, sejak tahun 1928 dicetak di Percetakan Arnoldus Ende. Percetakan ini pun milik SVD Ende.

Majalah Bintang Timoer tidak terbit lagi sejak Juni 1937. Faktor-faktor penyebabnya terutama kurangnya minat masyarakat dan sumbangan finansial. Sejak itu sampai dengan Indonesia merdeka nyaris tidak ada penerbitan di NTT.

Baru sesudah Perang Dunia II (1942-1945) diterbitkan dua mingguan Bentara dalam tahun 1946. Ukurannya, 25 x 32 cm, tebal 8 halaman, bergambar, tanpa kulit. Secara garis besar isinya sama seperti Bintang Timoer. Tapi, dalam perkembangannya muncul banyak tulisan mengenai perkembangan negara dan kehidupan masyarakat umum, di samping tulisan-tulisan bersifat agama (renungan-renungan).

Bersamaan dengan terbitnya Bintang Timoer, tahun 1925 terbit dalam bahasa Sikka majalah bulanan Kristus Ratu Itang. Ukurannya, 21 x 14,8 cm. Isinya, soal-soal agama, pokok-pokok sosial ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya, berita-berita daerah dan juga dunia internasional. KRI lenyap bulan Desember 1938.

Pada tahun 1950-an, terbit majalah Bentara, yang dipimpin P. A. Conterius, SVD, kemudian oleh P. Markus Malar, SVD, dan akhirnya oleh Frans Tan. Sempat mencapai oplah 3.300, Bentara terbit sampai 1959, tak lama setelah terbentuknya Propinsi NTT dan sejumlah kabupaten pada akhir 1958.

Sejalan dengan Bentara diterbitkan majalah bulanan untuk anak-anak, Anak Bentara. Ukurannya, 21 x 14,8 cm, tebal 16 halaman, dihiasi gambar-gambar. Peredarannya mencakup seluruh Indonesia dengan oplah 35.000. Yang banyak berjasa untuk Anak Bentara adalah P. G. Kramer, SVD bersama para siswa Seminari Mataloko. Sejak tahun 1961 Anak Bentara tidak terbit lagi.

Untuk para guru diterbitkan, majalah Pandu Pendidikan sejalan dengan sistem pendidikan Sekolah Pembangunan yang dicetuskan Menteri P dan K waktu, Mashuri. Pemimpin redaksinya berturut-turut, P. Cornelissen, P. Swinkels, P. Lambert Lame Uran. Pandu Pendidikan terbit sampai tahun 1959.

Menjelang pemberontakan Permesta pada tahun 1956/1957, di Ende terbit sebuah majalah Gelisah. Majalah ini dicetak di Percetakan Arnoldus Ende. Bagaimana kelanjutannya dan kapan berakhirnya tidak diketahui. Hampir pasti majalah itu berjalan tidak sampai tahun 1960.
Pada tahun 1960 terbit pula beberapa majalah yang berumur singkat: Ekonomi, Sebuk, Muda Katolik, Serbukin, Pemuda Penjaga (dari Manggarai). Untuk Flores, pemerintah daerah Flores menerbitkan Zaman Baru dan Sinar Sembilan.

Pada tahun 1960-an Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Comite Daerah Besar (CDB) menerbitkan Mingguan Pelopor di Kupang. Pelopor lahir mengikuti Instruksi Presiden ketika itu, supaya setiap partai politik memiliki terbitan sendiri. Mingguan Pelopor terbit dalam bentuk stensilan setebal 12 halaman, karena waktu itu belum ada percetakan di Kupang. Pelopor berhenti terbit pada tahun 1965, sejak penumpasan G30S/PKI.

Untuk mengimbangi Pelopor waktu itu, Petrus Kanisius Pari selaku aktivis Pemuda Katolik menerbitkan Mingguan Pos Kupang pada tahun 1962. Kopnya dicetak di Percetakan Nusa Cendana, selebihnya dalam bentuk stensilan. Majalah ini hanya terbit selama beberapa bulan.
Selanjutnya, pada tahun 1965, Kanis Pari menerbitkan Mingguan Kompas dalam bentuk stensilan. Tapi, umurnya cuma tiga bulan karena tidak mengantongi surat izin terbit (SIT) sendiri. Dia hanya menggunakan izin terbit Harian Kompas Jakarta. Pada akhir tahun 1965, Mingguan Kompas tidak terbit lagi.

SKM Dian

Sejak lahirnya Orde Baru yang sarat dengan tuntutan pembangunan, NTT praktis ketiadaan surat kabar. Informasi terutama berkaitan dengan pembangunan sepi. Terdorong oleh situasi demikian, maka pada tanggal 24 Oktober 1973 surat kabar Dian terbit berdasarkan Surat Izin Terbit (SIT) yang diperoleh melalui Keputusan Menteri Penerangan RI No.
01455/SK/DIRJEN-PG/SIT/1973, tanggal 6 Agustus 1973. Pada waktu itu Dian terbit sebagai majalah dua mingguan dengan ukuran 21 X 29 cm, setebal 12 halaman dan oplah 6.000 eksemplar. Pemimpin umum/pemimpin redaksinya, P. Alex Beding, SVD.

Dian diterbitkan oleh Yayasan St. Paulus di Ende, sebuah badan hukum milik Serikat Sabda Allah (SVD), yang bergerak di berbagai bidang kerasulan serikat tersebut, termasuk kerasulan komunikasi.

Sebagai sebuah surat kabar, Dian mempunyai visi sebagai pedoman bagi arah perjuangannya. Visi itu termaktub dalam motonya Membangun Manusia Pembangun. Dengan motto ini Dian menawarkan dirinya sebagai salah satu agen pembangunan (change agent) sumber daya manusia dalam lingkup pembacanya sekaligus agen pembangunan fisik dan sumber daya alam dalam lingkungan penyebarannya.

Sesuai dengan moto di atas dan searah dengan tujuan pers Indonesia sebagai alat perjuangan nasional dan media yang bersifat aktif, dinamis, kreatif, informatoris dan mempunyai fungsi kemasyarakatan sebagai pendorong dan pemupuk daya pikir kritis dan progresif yang meliputi segala perwujudan kehidupan masyarakat, Dian terbit sebagai upaya gereja setempat (dalam hal ini Serikat Sabda Allah--SVD) untuk melibatkan diri secara langsung dalam upaya pembangunan mental-rohani dan ekonomi masyarakat pembacanya.

Selain itu, Dian secara sadar hadir sebagai alat kontrol sosial dalam upaya pembangunan sikap politik sesuai dengan asas dan semangat Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila demi penegakan hukum, kebenaran dan keadilan serta perdamaian.

Singkatnya, Dian bertujuan untuk menjadi partner pemerintah dan gereja dalam upaya meningkatkan mutu hidup manusia menuju pembangunan manusia seutuhnya (integral human development).

Dalam kerangka itu sejak awal Dian sudah secara konsisten menyebarkan informasi-informasi yang berdampak positif bagi pembangunan manusia seutuhnya itu, yang meliputi bidang politik, ekonomi, keagamaan, hukum, keamanan dan ketertiban, keadilan dan perdamaian, serta hak dan tanggung jawab manusia sebagai warga suatu bangsa dan negara, termasuk tanggung jawab di bidang IPTEK.

Setelah sekian tahun diterbitkan oleh Yayasan St. Paulus, pada tahun 1986 penerbitannya dialihkan kepada Yayasan Dian yang juga mengelola majalah bulanan untuk anak-anak, Kunang-Kunang. Pada akhir tahun 1986, Dian maju selangkah lagi. Ia mulai terbit berdasarkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) No. 218/SK/Menpen/SIUPP/B.1/1986, tertanggal 2 Desember 1986. Oleh karena itu, Dian merasa perlu mengubah bentuk dan wajahnya. Sejak Januari 1987, Majalah Dua Mingguan Dian berubah menjadi Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian dalam bentuk tabloid berukuran 29,5 X 43 cm, setebal 12 halaman. Sejak saat itu, SKM Dian selalu terbit secara teratur sekali seminggu. Dalam setahun sesuai dengan jadwal, Dian selalu berhasil terbit sebanyak 48 nomor (edisi). Pada pertengahan tahun 1993, SKM Dian terbit dengan 16 halaman. Tetapi sejak minggu terakhir Juli 1995, akibat melonjaknya harga kertas, Dian kembali terbit dengan 12 halaman.

Dian senantiasa bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya. Sikap ini mendapat tanggapan positif dari pemerintah karena pada dasarnya pers merupakan sarana pemerintah dalam menyebarluaskan berbagai gagasan pembangunan.
Pada tahun 1986, Dian dipercayakan oleh pemerintah RI untuk terlibat dalam program nasional Koran Masuk Desa (KMD) dengan tujuan utama membangun dan mengembangkan masyarakat desa lewat jasa pers.

Program KMD ini terwujud dalam bentuk penerbitan lembaran khusus sebanyak empat halaman yang diterbitkan sebagai suplemen dengan kop Dian untuk Desa. Lewat program ini misi Dian untuk membangun manusia pembangun semakin dipertajam oleh  penyebaran berbagai informasi pembangunan lewat rubrik-rubrik pedesaannya, seperti teknologi tepat guna, kampanye lingkungan sehat, pendidikan keterampilan dan sebagainya.

Sejalan dengan tujuan Dian, sasaran misi Dian adalah masyarakat desa yang terdiri dari petani/nelayan dan para pejabat desa. Sasaran lain adalah kaum muda yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan pemuda remaja lepas sekolah. Kecuali itu, juga para pengusaha kecil dan wiraswasta, para guru dan pegawai dan terutama pemerintah sebagai agen pembangunan dalam jalur formal. Semua pembaca tersebut tersebar di seluruh wilayah NTT dan di tempat-tempat di mana terdapat orang-orang asal NTT. Oplah Dian sempat mencapai 7500 eksemplar per edisinya.

Posisi Dian mulai tergeser sejak lembaga yang sama menerbitkan Harian Flores Pos pada tanggal 9 September 1999, berdasarkan SIUPP No. 169/SK/Menpen/SIUPP/1999, tanggal 19 Agustus 1999. Dian yang biasanya terbit pada setiap hari Jumat bergeser ke hari Minggu sampai sekarang. Penampilan dan penyajiannya pun banyak berubah, nyaris menjadi edisi Minggu-nya Harian Flores Pos. Bedanya hanya ada kop Dian.

Terbitan lain SVD adalah Berita Regio Ende (BRE), Pastoralia dan Vox (Seminari Tinggi Ledalero). Pada tahun 173, Keuskupan Agung Ende juga menerbitkan Penyalur Berita Dioses. Sementara Keuskupan Larantuka menerbitkan Warta Dioses Larantuka.
Mingguan Kupang Post

Atas dorongan Gubernur NTT El Tari, pada tanggal 5 Desember 1977 terbit Mingguan Kupang Post di Kupang. Dicetak di Percetakan Arnoldus Ende setebal empat halaman. Isinya menyangkut hal-hal umum berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah dan kepentingan masyarakat. Kupang Post terbit atas rekomendasi Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Penerangan (Deppen) NTT dan surat izin terbit (SIT) dari Menteri Penerangan RI. Pemimpin redaksinya Damyan Godho yang pada waktu itu juga wartawan Harian Kompas Jakarta untuk wilayah NTT.

Ketika Damyan berhenti sebagai Pemred pada tahun 1978, pengelolaan Kupang Post diteruskan oleh Kanwil Deppen NTT. Namun karena pengelolaan yang tidak profesional, Kupang Post berhenti terbit sekitar tahun 1983/1984.

Pada tahun 1980-an, Yayasan Karya Sosial (YKS) Maumere menerbitkan Majalah Duta Masyarakat sampai awal 1990-an. Sementara di Kupang, sejak matinya Kupang Post, nyaris tidak ada terbitan. Masyarakat hanya bisa membaca Majalah Dian dan sejumlah surat kabar harian terbitan Jakarta, seperti Kompas, Suara Karya, Sinar Harapan, Media Indonesia, Majalah Tempo, Mingguan Hidup dan Bali Post. Media-media ini juga menempatkan wartawannya di NTT, yang secara rutin mengirim berita-berita menyangkut NTT ke kantor redaksinya.
Kendati demikian, pemerintah senantiasa mendorong supaya ada media cetak lokal di Kupang. Maka, pada tahun 1987 Menteri Penerangan RI Harmoko mendirikan Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Kupang. Maksudnya, untuk mendorong tumbuhnya media cetak lokal di Kupang. Harmoko bahkan sempat mendorong Damyan Godho, namun hal itu tidak segera terwujud karena terbatasnya modal dan wartawan.

Sampai pada tahun 1992, NTT tercatat sebagai salah satu dari enam propinsi yang belum memiliki media cetak harian. Karena itu Harmoko sekali lagi mendorong Damyan Godho dengan memberi kemudahan memperoleh SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), sehingga terbitlah Harian Pos Kupang pada tanggal 1 Desember 1992. Harian Pos Kupang didirikan bersama oleh Damyan Godho, Valens Goa Doi dan Rudolf Nggai, berdasarkan SIUPP No: 282/SK/Menpen/SIUPP/A.6/1992, tanggal 6 Oktober 1992.

Sejak itu ketiga orang ini mulai mengumpulkan orang-orang NTT, baik untuk menjadi wartawan maupun menjadi pengelola bisnisnya. Harian Pos Kupang tercatat sebagai harian pertama dalam sejarah NTT dengan peredaran menjangkau semua kabupaten yang ada.

Untuk mengatasi kesulitan distribusi akibat kondisi NTT sebagai daerah kepulauan, pada tahun 1998 Pos Kupang melaksanakan cetak jarak jauh di Percetakan Arnoldus Ende untuk melayani pembaca di seluruh Flores dan Lembata. Namun pada tahun 2000, Pos Kupang berhenti cetak jarak jauh di Ende lalu mulai dengan cetak jarak jauh di Maumere menggunakan mesin cetak sendiri. Hal yang sama dilakukan di Ruteng sejak November 2003 sampai sekarang, untuk melayani pembaca di Manggarai, Manggarai Barat dan Ngada. Sejak tahun 1997, Pos Kupang juga menjadi media elektronik yang bisa dibaca melalui internet di seluruh dunia.

Krisis ekonomi pada tahun 1997 menjadi tantangan tersendiri bagi Pos Kupang. Kenaikan harga material cetak yang sangat tajam ketika itu sempat membuat Pos Kupang seperti kapal yang sedang dihempas gelombang hebat. Tapi, Pos Kupang berhasil melewati tantangan itu, bahkan boleh dibilang tantangan membuat Pos Kupang semakin matang. Pos Kupang semakin maju. Pada tahun 2006 Pos Kupang menerima penghargaan sebagai salah satu dari 10 koran terbaik nasional pada tahun 2005 menurut penilaian Dewan Pers.

***
Eforia yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia sejak kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998 juga dialami pers. Terlebih setelah Menteri Penerangan Junus Josfiah mencabut semua ketentuan era Orde Baru yang menghambat kebebasan pers, diikuti pengesahan Undang-Undang No. 40/1999 tentang Pers.

Meskipun negara sedang dilanda krisis ekonomi, gairah masyarakat untuk mendirikan penerbitan pers tidak surut. Hanya dalam dua pekan sejak ketentuan baru diberlakukan, Deppen sudah mengeluarkan 20 SIUPP baru. Hingga tanggal 15 April 1999 jumlah SIUPP baru meningkat lagi menjadi 852, selanjutnya terus meningkat hingga ribuan penerbitan.

Eforia itu juga menggerakkan orang-orang di NTT untuk mendirikan penerbitan pers. Pada tanggal 29 April 1999, sejumlah wartawan yang hengkang dari Harian Pos Kupang mulai menerbitkan Harian Umum Surya Timor di Kupang. Tebalnya 12 halaman. Eforia reformasi mewarnai kehadiran media ini. Selain terungkap dalam motonya, Suara Masyarakat Indonesia Baru, juga terlihat dalam isi, gaya pemberitaan serta cara-cara memperoleh informasi yang benar-benar bebas.

Harian Surya Timor terbit berdasarkan SIUPP No:1114/SK/Menpen/SIUPP/1999, tanggal 23 Maret 1999. Pemimpin umumnya, Servatius Djaminta, pemimpin redaksi, Wens John Rumung, redaktur eksekutif, Alex Dungkal, dan redaktur pelaksana, Fredy Wahon.

Namun, segera pula terasa bahwa mengelola media baru di era reformasi tidak gampang. Baru berjalan dua tiga tahun Surya Timor tampaknya tidak bisa bertahan di Kupang. Sejumlah wartawan yang diandalkan pun hengkang. Pada tahun 2001, redaksi Surya Timor pindah ke Maumere, Kabupaten Sikka. Namanya pun berubah menjadi Surya Flores, kemudian pindah lagi ke Ruteng, Kabupaten Manggarai. Sekarang Surya Timor/Surya Flores tinggal nama.

Pada saat yang bersamaan Harian Pos Kupang menerbitkan tabloid mingguan Kompak. Tapi juga tidak bertahan lama. Orang-orang yang hengkang dari Surya Timor kemudian ada yang mendirikan Harian Independen NTT Ekspres, ada juga yang mendirikan Harian Suara Timor dan Metro Kupang. NTT Ekspres terbit berdasarkan SIUPP No: 1563/SK/MENPEN/SIUPP/1999, tanggal 3 Agustus 1999, dengan moto, Aktual, akurat dan tuntas berlandaskan kasih. NTT Ekspres diterbitkan oleh Yayasan Lentera Kehidupan. Pemimpin umumnya, Ir. Alex Foenay, pemimpin redaksi: Hans Christian Louk, pemimpin perusahaan, Decky Budianto, redaktur pelaksana, Paul Bolla, dan manajer produksi, Anna Djukana. Terbit dengan 12 halaman tujuh kolom, NTT Ekspres pun menghilang dari peredaran sekitar 2002/2003.

Pada tahun 1999 juga terbit Harian Sasando Pos. Pemimpin redaksinya Pius Rengka dan redaktur pelaksana Yos Lema. Harian ini coba tampil sebagai koran ekonomi bisnis di Kupang, tapi juga tidak bertahan. Dalam satu sampai dua tahun saja, Sasando Pos hilang dari peredaran.
Pada tahun 2000 terbit Harian Umum Radar Timor di Kupang. Terdaftar di Pengadilan Negeri Kupang Nomor 65/AN/YS, tanggal 21 Agustus 2000. Motonya, kritis, objektif dan rasional. Pemimpin umumnya, H. Maria Pinto Soares, pemimpin redaksi Fredy Wahon. Terbit 12 halaman dengan ukuran tabloid. Kehadirannya cukup menyaingi Harian Pos Kupang, tetapi akhirnya menghilang sekitar tahun 2004/2005.

Beberapa staf redaksi yang hengkang dari Radar Timor mendirikan Harian Kupang News pada akhir 2003 atau awal 2004.

Pada tahun 2001/2002 terbit pula Harian Cendana Pos di Kupang. Pemimpin umumnya, Drs. Valentinus Seran, pemimpin redaksi, Cyriakus Kiik, dan koordinator liputan Yesayas Petruzs. Tapi tidak bertahan juga, lalu Cyriakus Kiik mendirikan Harian Suara Masyarakat sekaligus menjadi pemimpin redaksinya.

Ketika Harian NTT Ekspres menghilang pada akhir tahun 2002 atau awal tahun 2003, Ana Djukana langsung beralih dengan mendirikan Harian Kursor sekaligus bertindak sebagai pemimpin umum/pemimpin redaksinya. Kursor terdaftar di PN Kupang No. 1/AN/PMT/LGS/2003/PN Kupang, tanggal 21 Maret 2003, dan mulai terbit 1 April 2003. Kursor masih terbit hingga saat ini. Semboyannya, Untuk Keadilan dan Kesetaraan. Fokus pemberitaannya, Kota Kupang dan kesetaraan jender.

Pada pertengahan tahun 2003 juga di Kupang terbit Harian Pagi Timor Express (Jawa Pos Group). Timor Express terbit 16 halaman berwarna masing-masing pada halaman muka dan belakang. Pada tahun 2007, Timor Express merayakan hari ulang tahun (HUT) keempat dan tampaknya akan terus berkembang dan menjadi penyaing berat Harian Pos Kupang. Pemimpin redaksi/penanggung jawabnya, Yusak Riwu Rohi, dan redaktur pelaksana, Simon Petrus Nilli.
Masih banyak lagi media yang terbit pada masa reformasi. Selain harian, banyak juga yang terbit mingguan dan bulanan, baik di Kupang maupun di daerah-daerah.

Contohnya Mingguan Berita Rote Ndao Pos, yang terdaftar di PN Kupang No. 18/AN/YS/LGS/R001/PN.Kpg, tanggal 14 Maret 2001. Dicetak di PNRI Kupang, mingguan ini terbit mulai 2002 dan masih terbit sampai sekarang. Pemimpin redaksi/penanggung jawabnya, Kanis Mone SP, redaktur pelaksana, Mixcris Seubelan.

Juga pernah terbit tabloid mingguan Swara Lembata (cover depan berwarna) mulai 20 Desember 2001, setebal 12 halaman. Alamat redaksinya di Lewoleba, Kabupaten Lembata. Mulai April 2006 Swara Lembata tidak terbit lagi.

Media cetak lainnya adalah tabloid mingguan Flotim Pos/Asas, mingguan Suara Flobamora (Kupang), Duta Flobamora (Waingapu), Sinar Alor Pos (Kalabahi), Ngada Pos (Kupang), Udik (Kupang), Duta Flobamor (Kupang), Alor Pos (Kalabahi), Saksi (Kupang), Marturia (Kupang), Suara Selatan Daya (Kupang), Media Entete (Kupang), Sabana (Waikabubak), Global (Atambua), Buser Timur, Expo Lamaholot (Kupang), Belu Pos (Atambua), Gelora Info (SoE), Bentara (Kupang), Talenta (Kupang), Solusi (Kefamenanu), Lontar (Kupang), Delegasi (Lewoleba), Start Sport (Kupang), Asmara (Kupang), Wunang Pos (Waingapu), Media Info (Larantuka), Biinmaffo (Kefamenanu), Media Rakyat (Ruteng), Tamsis (Kupang), dan yang terakhir mingguan Spirit NTT, yang merupakan kerja sama Harian Pos Kupang dengan sejumlah Pemda di NTT.

Tabloid yang terbit mingguan di NTT umumya berumur pendek. Selain karena tidak didukung modal yang cukup kuat, media-media ini umumnya kalah bersaing atau kurang diminati pembaca. Setelah satu media berhenti terbit, personelnya menerbitkan media baru dengan pemodal yang baru pula.

Namun, satu hal positif yang bisa diambil dari muncul tenggelamnya usaha media cetak di NTT bahwa ternyata orang memiliki jiwa perintis dan minat besar dalam bidang pers. Semangat ini bukan hal baru dalam lintasan sejarah NTT. Hanya di masa lalu para perintis itu terbentur dengan keterbatasan fasilitas.

Tidak hanya di NTT, wartawan NTT juga banyak merintis penerbitan pers nasional. Gerson Poyk dikenal sebagai perintis berdirinya Harian Sinar Harapan pada tahun 1960-an sekaligus menjadi wartawan andalan. Drs. Frans Seda adalah orang yang berada di balik berdirinya Harian Umum Kompas. Aco Manafe, selain menjadi wartawan Sinar Harapan sejak tahun 1968, juga menjadi perintis berdirinya Harian Sore Suara Pembaruan tahun 1989.

NTT juga masih punya nama-nama seperti Petrus Kanisius Pari (Indonesia Raya, Penabur), Hendrik Ola Hadjon (Asas, terbit di Surabaya), Pius Karo (Harian Kompas), Damyan Godho (Kompas), Louis Taolin (Suara Karya), Marcel Weter Gobang (Suara Karya, Surya, Pos Kupang), Cypri Aoer (Suara Pembaruan).

Saat ini pun sejumlah orang NTT tampil sebagai pemimpin media-media terkemuka di Jakarta: Rikard Bagun (Kompas), Piter Gero (Kompas), Cyrilus Kerong (Bisnis Indonesia), Laurens Tato (Media Indonesia), Hermin Kleden (Tempo), , Claudius Boekan (Metro TV), dan masih banyak lagi.

Kehadiran media dan wartawan di NTT akan terus dibutuhkan untuk mendorong pembangunan. Harus diakui masih banyak keluhan mengenai kualitas wartawan di daerah ini. Menjadi tugas perusahaan media dan para wartawan sendiri untuk membenahi diri sehingga kualitasnya semakin baik.

Tidak hanya di media cetak, orang NTT pun harus mulai melirik media elektronik, seperti radio, televisi dan terlebih internet (media online). Media online diramalkan bakal menggeser posisi media cetak.Untuk itu, tidak ada cara untuk bisa menggapainya, selain belajar dan belajar.* (Agus Sape, wartawan Pos Kupang)

Daftar Pustaka
1. Suryomiharjo, Abdurrachman, dkk, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Januari 2002.
2. Suranto, Hanif, dkk, Pers Indonesia Pasca Soeharto Setelah Tekanan Penguasa Melemah (Laporan Tahunan 1998/1999), LSPP dan AJI, 1999.
3. Haryanto, Ign dan Setiawan, HW, Pers Diterpa Krisis, AJI dan LSPP, April 1998.
4. Daros, Henri, Karya SVD di Bidang Komunikasi dalam Dalam Terang Pelayanan Sabda (Kenangan Tujuh Puluh Lima Tahun Karya SVD di Indonesia, Provinsi SVD Ende, 1990.
5. Sape, Agustinus, Ketidakadilan Dalam Perspektif 'Asal Omong' Dian (Skripsi), STFK Ledalero, 1996.
6. Godho, Damyan, wawancara, Kupang, 18 Juli 2007.
7. Embuiru, Dr. Herman, SVD, Menelusuri Pendidikan di NTT (Refleksi Sejarah dalam Perspektif Katolik) dalam Perspektif Pembangunan, Dinamika dan Tantangan Pembangunan Nusa Tenggara Timur, Yayasan Citra Insan Pembaru Kupang, 1994.


Sumber: Blog Agus Sape

Media Seharusnya Menjaga Rasa

ilustrasi
KELUARGA korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 memprotes tayangan langsung yang dilakukan berbagai media saat serah terima jenazah di halaman Polda Jatim di Surabaya.

Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol. Awi Setiyono usai menerima keluhan dari keluarga korban terkait dengan adanya tayangan langsung saat serah terima jenazah dari tim identifikasi kepada keluarga korban.

"Mulai besok, kami harapkan kepada rekan media agar prosesi serah terima jenazah tidak perlu diliput. Hal ini karena keluarga korban merasa keberatan dan merupakan masalah pribadi, mari bersama kita hargai," kata Awi Setiyono dalam keterangan pers tentang AirAsia di Surabaya, Jumat (2/1/2015).

Ia berharap kepada sejumlah media nasional maupun media asing untuk menghargai "privasi" para keluarga korban yang keberatan dengan adanya tayangan langsung serah terima jenazah.

Sementara itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengimbau lembaga penyiaran agar berempati terhadap keluarga korban dalam peliputan kecelakaan pesawat AirAsia QZ 8501 dari Surabaya menuju Singapura.

"Lembaga penyiaran dalam peliputan yang melibatkan pihak-pihak yang terkena musibah wajib mempertimbangkan perasaan duka, dan kondisi psikologis keluarga korban," kata Komisioner KPI Pusat Bidang Pengawasan Isi Siaran Agatha Lily melalui surat elektroniknya yang diterima di Jakarta.

Pihaknya minta agar lembaga penyiaran tidak memaksa dan menekan keluarga korban untuk menjawab pertanyaan yang akan menambah rasa duka dan trauma, apalagi memaksa mengambil gambar kondisi keluarga yang sedang terpukul.

Agatha menegaskan bahwa Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran KPI secara jelas telah mengatur pedoman peliputan bencana yang wajib dipatuhi oleh seluruh lembaga penyiaran.

Bahkan, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengingatkan kembali stasiun televisi swasta di Tanah Air untuk mematuhi teguran keras dari KPI terkait pemberitaan mengenai jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501terutama terkait penayangan gambar jenazah korban secara vulgar.

"Teguran kan lebih keras dari peringatan. Lewat batas selangkah lagi kena sanksi yang lebih berat," katanya di kantor Wakil Presiden, Jakarta, 2 Januari.

Tiga media televisi mendapat teguran dari KPI terkait penayangan gambar jenazah korban AirAsia QZ8501 yang terapung di laut.

Menurut Rudiantara, media massa seharusnya memperhatikan etika dan kaidah-kaidah jurnalisme, terutama dalam pemberitaan yang terkait bencana.

Ia menampik bahwa teguran KPI hanya formalitas semata karena lembaga itu tidak bertaring. "KPI punya taring. Ada dua dalam hal ini, KPI dan Kemenkominfo. Dua-duanya harus jalan sama-sama. Bukan satu punya taring, satu tidak. Kita akan koordinasi terus bagaimana caranya untuk lebih mendisiplinkan industri media," tandas dia.

Meminta Maaf
Menkominfo Rudiantara meminta media untuk mematuhi etika jurnalistik dalam memberitakan musibah AirAsia QZ8501. Apabila merasa melanggar etika, menurut dia, sudah sepantasnya media yang bersangkutan meminta maaf.

"Saya minta agar mengikuti etika yang berkaitan dengan fungsi media. Media juga bukan hanya televisi, tapi juga cetak, online. Itu semuanya punya kode etik, ada Dewan Pers juga," katanya.

KPI telah mengeluarkan teguran tertulis kepada satu televisi swasta yang menayangkan gambar jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 dalam proses evakuasi dengan kondisi mengapung di laut tanpa busana lengkap.

Selain itu, KPI memberi peringatan kepada satu televisi swasta lainnya, dan satu lembaga penyiaran publik atas tersiarnya gambar-gambar korban musibah jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

"KPI sudah mengeluarkan teguran lisan, dan tanggal 31 Desember suratnya sudah dikeluarkan oleh KPI. Dua teguran, dan satu peringatan tertuju untuk lembaga penyiaran swasta dan LPP (lembaga penyiaran publik)" kata Rudiantara.

Ketiganya dinilai terlalu vulgar menampilkan jasad korban yang sedang dalam proses evakuasi di laut, dalam kondisi yang tanpa proses editing atau proses blur yang tidak sempurna.

Atas teguran dan peringatan tersebut, menurut Rudi, salah satu televisi swasta telah menyampaikan permintaan maafnya.

Lembaga penyiaran swasta tersebut, kata Rudi, berjanji tidak mengulangi lagi kesalahan dalam penyiaran semacam itu. "Seharusnya jadi efek jera," ujar dia.

Sementara itu, KPI menyesalkan masih adanya stasiun televisi yang tidak mengindahkan imbauan KPI, dengan tetap menayangkan isi siaran yang tidak layak dipertontonkan.

Terkait pemberitaan mengenai musibah AirAsia tersebut, KPI menerima banyak pengaduan dan keberatan dari masyarakat atas tayangan di beberapa televisi yang meliput langsung proses evakuasi korban.

Pengaduan itu disampaikan langsung ke KPI, baik melalui SMS, email, media sosial, serta telepon.

Sumber: ANTARA

Jokowi di Bawah Pohon Asam Itu...

Jokowi di Belu 20 Desember 2014
Gaya  blusukan ala Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang harus tahan fisik, tenaga dan emosi. Sebab, gaya pemimpin dengan ciri khas baju putih lengan panjang ini, tidak terlalu protokoler. Baginya, cepat dan tuntas. Tidak perlu basa-basi, langsung turun lapangan. Itulah yang terjadi ketika Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Belu, Sabtu (20/12/2014).

JARUM jam menunjukkan pukul 10.50 Wita. Tiga helikopter, dua  helikopter milik TNI Angkatan Udara (AU) dan satu milik TNI Angkatan Darat (AD) jenis Puma, terbang rendah di langit Atambua. Para pejabat pemerintah, undangan lain dan awak media sudah menunggu sejak pagi hari.

Helikopter Puma milik TNI AD berada paling depan disusul dua helikopter di belakangnya. Pukul 11.00 Wita, helikopter Puma mendarat. Semua mata tertuju ke helikopter itu. Hadirin menerka helikopter mana yang ditumpangi Jokowi. Ternyata Jokowi bersama Ibu Negara, Iriana, menumpang helikopter TNI AU paling belakang. Tepuk tangan membahana ketika helikopter yang ditumpangi berhenti di apron.

Mula-mula Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, didampingi Ny. Lusia Adinda Lebu Raya, turun dari helikopter, disusul Menteri Perindustrian, Saleh Husin, dan beberapa pejabat negara lainnya. Selang beberapa menit, Jokowi yang mengenakan baju putih lengan panjang turun dari tangga helikopter dan melambaikan tangan ke arah hadirin.
Jabat tangan seperlunya dengan pejabat yang hadir seperti Sekda Belu, Kapolres Belu, Dandim 1605 Belu, Kajari Belu, Ketua PN Atambua. Jokowi tidak langsung ke ruang VIP Bandara AA Bere Talo.

Jokowi malah menuju penari likurai dan menyalami penari. Sontak saja hadirin menyerbu ingin berjabat tangan dengan Jokowi. Paspampres kewalahan. Jokowi didampingi Ibu Iriani Jokowi, dengan senyum sumringah, melambaikan tangan kepada warga dan menuju ke mobil RI I untuk selanjutnya jalan darat menuju Mota'ain di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, di utara Kota Atambua.

Sekitar 20 menit perjalanan darat menaiki bukit, menuruni lembah menuju Mota'ain. Tanpa ada penyambutan protokoler, Jokowi langsung menuju gedung pelayanan satu atap. Memulai dari Unit Karantina, Unit Imigrasi, terus ke Kantor Pelayanan Bea Cukai. Di setiap unit, dibutuhkan waktu 10 menit untuk mendengarkan keterangan petugas.

Pagar betis aparat TNI-Polri tak mampu membendung warga yang ingin melihat langsung sosok Jokowi. Panas terik matahari tidak menyurutkan semangat warga. Jokowi tetap tersenyum dan melambaikan tangan ke arah warga.

Sekitar 30 menit Jokowi dan Ibu Iriana berada di Mota'ain. Melihat sekeliling kawasan itu dari pinggir jembatan pembatas dua negara bertetangga itu. Walaupun keringat membasahi keningnya, Jokowi berkesempatan menerima permintaan warga untuk berjabat tangan dan foto bersama.

Rombongan kembali ke Atambua. Iring-iringan kendaraan melaju santai. Tidak pernah terbayangkan kalau Jokowi tiba-tiba blusukan dalam perjalanan ke Atambua. Di Dusun Haas, Desa Kabuna, Jokowi turun dari kendaraannya dan langsung menuju belakang rumah warga di dusun itu. Di bawah pohon asam, sekitar puluhan orangtua sedang duduk-duduk. Jokowi langsung menuju para orangtua dan ikut nimbrung.
Dan, yang paling mengesankan, Jokowi mengambil posisi duduk di batu yang kelihatan masih basah terkena air hujan. Sedikit bicara, dan seketika itupun Jokowi mengeluarkan sebungkus amplop coklat berisi uang Rp 112 juta. Pesan singkat Jokowi, "Pergunakan uang itu sebaik mungkin untuk beli ternak sapi, Pak Ketua RT tolong diperhatikan". 

Jokowi beranjak menuju Atambua. Dasarnya sudah blusukan, Jokowi kembali membuat rombongan harus tahan napas. Jokowi turun menemui warga membeli sirih pinang. Bahkan, yang mencengangkan, ketika sudah masuk area Bandara AA Bere Talo, Jokowi berkesempatan bercengkrama dengan warga yang duduk di pinggir pematang sawah tadah hujan.

Sekitar 10 menit berdialog dengan warga di pematang dengan posisi duduk bersama warga di tanah. Lagi-lagi Jokowi memberikan uang pemberdayaan ekonomi kepada warga senilai Rp 148 juta yang diterima ketua RT setempat.

Figur Jokowi ibarat magnet yang setiap detik memancing warga. Ketika memasuki area Bandara AA Bere Talo, warga menerobos barisan blokade aparat keamanan untuk menyalami Jokowi. Bahkan hingga ke tangga helikopter, warga tetap mengejar untuk sekadar melihat wajah Jokowi. Dan, kejadian di luar dugaan, ketika Presiden Jokowi sudah menaiki tangga helikopter dan sudah melambaikan tangan, selang lima menit, Jokowi turun kembali untuk ke kamar kecil.

Sontak warga mengejar mengerumuni Jokowi. Warga mengejar, berdesak-desakan masuk ke ruangan VIP menunggu Presiden Jokowi untuk bisa berjabatan tangan. Walau sebagian tidak sempat berjabatan tangan langsung, tetapi mereka bisa mengabadikannya melalui kamera digital maupun handphone-nya hingga Jokowi naik kembali ke helikopter TNI AU untuk kembali ke Kupang. (fredi hayong)

Sumber: Pos Kupang 22 Desember 2014 hal 1

Mimpi Titu Eki di Kaki Bukit Fatualiman

ilustrasi
Sabtu (20/12/2014), Presiden RI, Ir. Joko Widodo (Jokowi) meletakkan batu pertama tanda dimulainya pembangunan  Bendungan Raknamo di Desa Raknamo,  Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang.

Bendungan Raknamo akan mulai dibangun awal tahun 2015 hingga selesai tahun 2017. Biaya pembangunan menelan dana Rp 660 miliar bersumber dari APBN. Nantinya, bendungan ini dibangun di lembah di kaki perbukitan yang membentuk setengah lingkaran, seperti tapak kaki kuda.

Lembah subur ini dikelilingi bukit Fatualiman di sebelah utara, bukit Tunme'e di sebelah timur dan tenggara serta bukit Kuneru di sebelah selatan. Di atas bukit Kuneru inilah rumah-rumah penduduk Desa Raknamo bertebaran, mulai dari ujung Desa Manusak di sebelah barat hingga ke bagian selatan dan tenggara. Ada sekitar 600 kepala keluarga (KK) atau 1.800 jiwa penduduk di desa ini.

Ke arah barat dan barat laut, dari lembah yang subur itu, tampak areal persawahan tadah hujan seluas hampir 2.500 hektar yang membentang di Oebatina dan Kodemopu. Warga Raknamo cuma menggarap areal persawahan itu saat musim hujan.  Semakin ke arah barat, ada areal persawahan yang membentang di Desa Manusak, Desa Naibonat dan Kelurahan Naibonat (areal persawahan Air Kom), sebagian wilayah Amabi Oefeto serta Desa Oesao dan Kelurahan Oesao. Total sekitar 8.000 hektar sawah. Semua areal persawahan ini cuma mengandalkan air tadah hujan. Belum ada saluran pengairan yang memadai apalagi yang moderen.

Lalu air berlimpah datang dari mana? Sungai Naikoen, yang melingkar di seperti ular raksasa dari hulu sekitar kawasan hutan di Kecamatan Amabi Oefeto Timur, singgah sebentar di ketiak bukit Fatualiman dan bukit Tunme'e. Sebelum pergi melintasi lembah di sebelah barat hingga bermuara di Teluk Kupang.

Sungai ini tetap mengalirkan air jernih meski kemarau panjang melanda. Ada juga belasan anak sungai di sekitar perbukitan dan lembah subur itu. Sungai dan anak sungai ini dibendung airnya, lalu dijadikan bendungan untuk mengairi lembah subur di kaki bukit Fatualiman dan sekitarnya..

Potensi lahan basah ini yang membuat Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, merajut mimpinya. Pria berambut putih ini bermimpi kelak lumbung beras dan jagung dipasok dari lembah subur di kaki bukit Fatualiman. Bahkan kebutuhan sayuran dan buah-buahan untuk warga Kota Kupang dan sekitarnya juga dipasok dari lembah subur ini.

Dan, mimpi Titu Eki ini, sebentar lagi akan diwujudkan setahap demi setahap. Dimulai dengan pembangunan bendungan raksasa dilanjutkan dengan pembangunan sarana irigasi untuk 8.000 hektar lahan sawah.

"Saya juga ingin bendungan itu akan ditata sedemikian rupa menjadi tempat wisata mengandalkan wahana air. Misalnya, tempat memancing di kolam ikan milik warga, ada waterboom dan sebagainya," jelas Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, saat sosialisasi di Gereja Talitakumi, Desa Raknamo, awal tahun 2013 lalu.

Ia juga meminta warga menangkap peluang bisnis seperti membuka lapak jual sayur dan jagung muda sepanjang jalan raya, mulai dari Desa Manusak hingga Desa Raknamo, yang berjarak 9 kilometer dari Jalan Timor Raya, Kelurahan Naibonat.

"Jangan cuma tanganga saja liat (lihat) oto-oto mangkilat (kendaraan mengkilat) masuk keluar kampung menuju bendungan. Nanti kalau bendungan sudah jadi, saya minta para kepala desa meminta warganya mendirikan lapak jual sayur, jagung muda dan buah-buahan di depan rumah. Jadi bila tamu pulang berwisata dari bendungan, bisa membeli ole-ole seperti sayuran, jagung muda dan aneka buah-buahan. Jangan malas dan harus kreatif menangkap peluang," kata Titu Eki, di hadapan warga dan jemaat yang memenuhi gereja tua itu.

Saking bersemangatnya Titu Eki, ia telah menyediakan dana rekayasa sosial yang bersumber dari APBD Kabupaten Kupang tahun anggaran 2014 sebagai 'uang sirih pinang' memindahkan kuburan nenek moyang milik warga setempat yang berada di lembah subur itu. Yang diperkirakan akan terkena dampak genangan air dari Bendungan Raknamo.

Setiap kuburan diberi Rp 25 juta dalam bentuk tabungan di Bank NTT. Penyerahan uang sirih pinang itu sudah dilakukan awal bulan November 2014 lalu. Sementara status lahan, tidak ada masalah lagi. Warga setempat dan pemilik tanah sudah iklas menyerahkan kepada pemerintah untuk dibangun bendungan.

Dewa Penyelamat

HAMPIR 60 tahun sejak Indonesia merdeka, warga Raknamo harus minum air dari Sungai Oenisa, yang mengalir di Lembah Kaniti dan Saha, di kaki Bukit Fatualiman. Warga yang berdomisili di Dusun Kaneru, harus berjalan kaki tiga kilometer menuruni bukit ke lembah. Sebuah sumur kecil digali persis di bibir sungai. Di situlah warga mengambil air minum, mandi dan untuk minuman ternaknya.

"Kami pulang dari sungai, harus mendaki bukit. Sampai di kampung, kami sudah basah oleh keringat. Jadi percuma saja mandi di sungai, sampai rumah sudah bau pesing keringat," jelas Kades Raknamo, Yunus Taek, dibenarkan Mansur Oematan, dan warga lainnya.

Sedangkan warga yang berdomisili di Dusun Oerete, Posut dan Kiukasen, masih mendingan. Mereka cuma berjalan kaki sekitar satu kilometer ke sumber air di Sungai Oenisa. Namun tetap saja sama. Sebab saat pulang ke kampung, harus mendaki bukit. Peluh bercucuran, bau pesing keringat menyergap. Jadi percuma kalau mandi di sungai.

Baru pada tahun 2008/2009, tutur Kades Raknamo, Yunus Taek,  desanya mendapat bantuan jaringan pipa air bersih dan bak air dari PNPM. Airnya diambil dari Desa Fatukanutu, yang berjarak 19 kilometer dari Desa Raknamo.

"Meski begitu airnya kurang lancar. Kami berharap, bendungan raksasa ini menjadi dewa penyelamat bagi kami dalam persediaan air baku. Baik bagi manusia maupun bagi ternak," jelas Mansur Oematan.

Ia mengingatkan agar kasus perebutan air baku di Bendungan Tilong, antara Pemkab Kupang dan Pemkot Kupang, jangan sampai terulang di Raknamo. "Bukti paling jelas, warga sekitar Bendungan Tilong, kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan ada yang beli air tanki. Padahal pipa induk air melewati halaman rumah mereka," kata Oematan.
Ia berharap air Bendungan Raknamo, dipakai seluruhnya untuk kebutuhan irigasi di Kecamatan Amabi Oefeto dan Kecamatan Kupang Timur. "Sisanya untuk kebutuhan air baku. Air bersih bagi penduduk di puluhan desa di dua kecamatan tersebut. Semoga tidak terjadi perebutan air oleh orang-orang di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Lalu mereka saling rebut air, kami yang menderita kekeringan," kata Oematan mengingatkan.

Kekhawatiran warga Desa Raknamo ini diredam oleh penjelasan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Ir. Mudjiadi, M.Sc, saat menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Bendungan Raknamo, Sabtu (20/12/2014).

"Bendungan ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan air baku Ibukota Kabupaten Kupang dan sekitarnya dengan debit 100 liter/detik, untuk memenuhi kebutuhan irigasi bagi lahan pertanian seluas 1.250 hektar. Jadi air sangat berlimpah. Jangan khawatir," jelas Mudjiadi.

Selain itu, tambahnya, Bendungan Raknamo dibangun untuk  pengendalian banjir di daerah hilir di Oelamasi, yang merupakan kawasan pengembangan Ibu Kota Kabupaten Kupang. Juga air yang berlimpah dipakai untuk pengembangan pariwisata, serta pembangkit listrik Tenaga Mikro (PLTM) 216,675 kW (1 unit)-  0.216 MW (per unit). "Masyarakat cuma diminta menjaga hutan sekitar bendungan. Jangan tebang pohon, jangan bakar hutan. Jika hutan lestari, air akan terus melimpah sepanjang tahun," pintanya.

Bendungan Raknamo berada di Sungai Noel Puames, Desa raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, NTT. Daerah luas genangan waduk untuk spillway direncanakan mencapai elevasi +104,00 meter dari permukaan laut, dan memerlukan tanah seluas + 147,30 hektar, dan puncak bendungan akan mencapai elevasi +110,20 meter dari permukaan laut.

Pembangunan Bendungan Raknamo akan dilaksanakan dalam jangka waktu 51 bulan (6 tahun anggaran) terhitung sejak Tahun Anggaran 2014 sampai dengan Tahun Anggaran 2019.

Adapun data teknis Bendungan Raknamo dan bangunan penunjangnya adalah sebagai berikut: Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 38,34 km2, Panjang Sungai 15,71 km, Hujan Tahunan rata-rata Sta Camplong 1,258 mm, Sta Raknamo 1,522 mm, Inflow Tahunan Q 80%= 14,59 juta m3, Debit rata-rata musim hujan 1,380 m3/dt, debit rata-rata musim kemarau 0,233 m3/dt. (julianus akoit)

Sumber: Pos Kupang 20-21 Desember 2014 hal 1

22 Tahun Tsunami Maumere

ilustrasi
GEMPA dan Tsunami yang memorak-porandakan Maumere genap berusia 22 tahun pada tanggal 12 Desember 2014. Bertepatan dengan peringatan tersebut, wartawan Pos Kupang, Feliks Janggu, mengisahkan kembali peristiwa yang memilukan itu berdasarkan penuturan sejumlah saksi hidup di Maumere.

KARTINI Ace (60) mengernyitkan dahi ketika mengisahkan kembali kejadian Gempa dan Tsunami 12 Desember 1992, di kediamannya di Kampung Wuring, Maumere, Selasa (9/12/2014). Ekspresi alis dan dahinya menggambarkan trauma yang mendalam atas bencana alam yang menewaskan 2.000-an warga Kabupaten Sikka.

Tentu berbeda dengan reaksi sebagian generasi muda Kampung Wuring yang tidak pernah mengalami dan menyaksikan atau mendengar kisah bencana alam 22 tahun lalu itu. Meski pemerintah mengingatkan Kampung Wuring masuk dalam zona merah gempa dan tsunami di Kota Maumere, pembangunan pemukiman penduduk semakin banyak.

"Saya kadang menceritakan kepada cucu-cucu saya. Ada yang takut sekali. Tetapi saya bilang kepada mereka, cukup kami saja yang menderita karena bencana gempa dan tsunami. Jangan terjadi lagi pada cucu-cucu kami," cerita Kartini kepada Pos Kupang.

Pada saat gempa dan Tsunami, Kartini menyelamatkan diri di atas perahu. Berjam-jam perahu yang mereka tumpangi terombang-ambing di tengah hempasan gelombang Tsunami. Jumlah mereka  yang menyelamatkan diri di atas perahu sebanyak 32 orang.

Rumah-rumah di Wuring hancur berantakan. Mereka pun bergegas menghidupkan mesin perahu menuju Ngolo, Pemana Kecil, salah satu pemukiman di salah satu pulau di utara Pulau Flores.
"Pas kami tiba di Ngolo, semua rumah tidak ada yang sisa. Hanya buih putih yang menutup bangunan rumah. Semua orang lari ke gunung. Kami juga lari ke gunung," kata Kartini.

"Bulu badan saya berdiri memang. Gelombang pertama, kemudian surut lagi. Lalu datang gelombang kedua. Setelah itu gelombang ketiga langsung rata semua. Rumah-rumah hancur semua, hanya masjid ini (Masjid Al-Rahmat Wuring-red) yang tersisa. Kami 32 orang lari di atas perahu," kisah keturunan Bajo yang sejak nenek moyangnya telah menetap di Maumere itu.

Menurut data yang dilansir http://id.wikipedia.org/wiki/  gempa dan tsunami dahsyat itu terjadi sekitar pukul 13.29 wita. Gempa itu berkekuatan 7,8 pada skala Richter di lepas pantai Flores menyebabkan Tsunami setinggi 36 meter, menewaskan sedikitnya  2.100 jiwa, 500 orang hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 orang mengungsi.

Gempa ini menghancurkan sedikitnya 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya. Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur.

Diceritakan Kartini, banyak warga Wuring tewas terjepit bangunan.  Mereka yang selamat melarikan diri ke perbukitan, lalu bermukim di Hewuli, Alok Barat. Tetapi mereka tidak betah, dan kembali lagi ke Kampung Wuring. 

"Kami lihat dari atas perahu, semua rumah rata, kapal-kapal rusak. Kami terus bergerak meski gelombang cukup deras. Syukur mesin motor tidak mati," kata Kartini lagi.
Setelah 22 tahun, pertumbuhan penduduk di Kampung Wuring cukup pesat. Rumah-rumah makin padat. Kehidupan ekonomi pun semakin maju. Pelabuhan Wuring telah menjadi salah satu pusat perekonomian masyarakat di Kota Maumere.

"Kami ini orang Bajo, cari makan di laut. Kami tidak nyaman di Nangahure, jadi saya orang pertama yang kembali ke Wuring. Kami tidak mungkin tangkap ikan, kemudian bawa ke Nangahure. Waktu itu Nangahure tidak ada tambatan perahu," kata Kartini.

Kampung Wuring kini memiliki pelabuhan rakyat (Pelra) dengan aktivitas bongkar muat barang yang cukup padat dari Sulawesi, Kupang, dan Surabaya. Terdapat pasar ikan, ramai dikunjungi warga kota tiap petang hari hingga malam.

Reruntuhan bangunan yang mengingatkan warga akan kejadian 22 tahun lalu lenyap bersama munculnya bangunan-bangunan rumah yang cukup megah, rumah panggung yang kokoh. Menjadi  gambaran pesatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat Wuring.

Puluhan kapal nelayan berlabuh di tepi pantai, di samping rumah-rumah penduduk yang dibangun di sekitar Pelra Wuring. Banyak rumah dibangun menjulur ke tengah laut. "Sekarang semua orang bangun rumah bagus di sini. Kalau ingat dulu, rumah di sini masih sederhana semua. Tapi bencana itu merusak semuanya," kata Kartini.

Diceritakannya, ada empat bencana besar yang menimpa masyarakat Kota Maumere kala itu, di antaranya angin kencang, gelombang tinggi, bumi bergetar (gempa-red) dan kebakaran.Apakah tidak khawatir tinggal di zona merah gempa dan Tsunami? Kartini mengatakan, Allah akan menjaga masyarakat Wuring, menjaga anak-anak cucunya lepas dari bencana serupa.Keyakinan akan penyelenggaraan dan perlindungan Allah inilah yang menguatkan warga Wuring untuk tetap bertahan tinggal di pesisir pantai meski masuk zona merah gempa dan Tsunami.

"Banyak yang selamat di dalam masjid ini. Ada kesaksian waktu itu, bahwa air di dalam masjid hanya setinggi lutut. Orang yang berlindung di Masjid ini semuanya selamat," tutur Kartini.

Hari Berkabung Daerah


TRAUMA para korban Gempa dan Tsunami 12 Desember 1992  belum hilang sampai saat ini. "Bicara gempa dan Tsunami, masyarakat di sini sangat trauma dan trauma sekali. Orang-orang tua semua masih trauma di sini," kata Hasan Basry, ketua RW.08 Kampung Wuring,  Kelurahan Wolomarang, Maumere, Sikka.
Masyarakat Kampung Wuring, kata Hasan, selalu mendapat informasi dari pemerintah bahwa wilayah Kampung Wuring termasuk dalam zona merah dan berbahaya untuk pemukiman penduduk.

Namun, tambahnya, sejauh ini belum ada informasi meyakinkan dari pemerintah tentang dasar penetapan wilayah itu zona merah. "Menarik kalau omong zona merah. Saya mau omong itu, kita bisa diskusi. Pertanyaan saya dan  juga masyarakat di sini, apa dasarnya Wuring disebut zona merah?" tanya Hasan.

Beberapa titik yang menurut Hasan sama dengan wilayah Wuring adalah pesisir Kota Uneng, wilayah pertokoan Kota Maumere, pemukiman penduduk di Kampung Beru, wilayah sekitar Hotel Pelita dan pemukiman Waioti.

"Mengapa Wuring zona merah dan kompleks pertokoan tidak? TPI (tempat pendaratan ikan) tidak? Hotel Pelita tidak? Waioti tidak?" tanya Hasan.

Terlepas dari penetapan zona merah, Hasan mengharapkan secara lokal kedaerahan masyarakat diwajibkan mengenang peristiwa 1992 itu dan diatur di dalam peraturan daerah (Perda). Pasalnya, kata Hasan, gempa dan Tsunami Maumere 1992, termasuk bencana nasional terbesar kedua setelah Aceh. 

"Bagi saya mungkin perlu suatu perda atau semacamnya yang menetapkan 12 Desember tiap tahunnya sebagai hari duka daerah atau hari berkabung daerah Kabupaten Sikka," kata Hasan.
Kehidupan masyarakat Wuring dan Maumere saat ini beda dengan 22 tahun silam. Mereka sudah bisa bangkit dari keterpurukan akibat hantaman Tsunami yang dahsyat. Rumah-rumah semakin padat, kapal-kapal semakin banyak, aktivitas pasar di Wuring makin ramai tiap hari.

Bayang-bayang ketakutan akan terulangnya Tsunami 1992 masih terasa ketika berjumpa para korban yang mengalami langsung peristiwa itu. Namun ketakutan itu tidak mengalahkan keyakinan mereka akan penyelenggaraan Allah yang akan melindungi anak-anak dan cucu mereka di masa mendatang.

"Cukup kami saja yang menderita terkena bencana dan jangan terjadi lagi pada cucu-cucu kami. Allah akan melindungi kami. Masjid ini telah menyelamatkan banyak orang waktu itu," ujar Kartini Ace (60), sambil mengelus lengan. "Bulu badan saya berdiri memang," tambahnya.

Seperti korban bencana gempa dan Tsunami 1992, ribuan warga Palue korban letusan Gunung Rokatenda harus mengungsi dari kampung halaman mereka. Tetapi masih ada di antara mereka yang menolak direlokasi dan memilih bertahan hidup di zona merah gempa.

Hal ini menjadi pekerjaan berat pemerintah daerah ke depan untuk memberikan sosialisasi intensif agar masyarakat secara sukarela meninggalkan lokasi-lokasi yang dianggap berbahaya bagi keselamatan mereka manakala terjadi bencana serupa di masa mendatang.

Semoga moment peringatan gempa dan Tsunami 1992, pada Jumat, 12 Desember 2014, menyadarkan kita kemungkinan bencana serupa pada waktu mendatang. Semoga jiwa ribuan korban mendapat istirahat yang kekal di Surga.

Dia Akan Datang Lagi...

BENCANA alam gempa, tsunami, letusan gunung berapi dan bentuk bencana alam lainnya memaksa manusia untuk mengambil sikap dan memutuskan langkah  mengatasi persoalannya.

Persoalan serius yang dihadapi adalah semua pesisir utara Kabupaten Sikka, terutama Kota Maumere, termasuk dalam wilayah rawan bencana. Hampir semua titik berada dalam zona merah bencana.

Namun di sisi lain, tempat-tempat ini menjadi tempat yang paling padat dihuni masyarakat. Misalnya, wilayah pesisir Kota Maumere, Kampung Wuring, Kota Uneng, Kampung Beru, Waioti, Geliting dan wilayah pesisir utara lainnya.

Oscar Parera Mandalangi, budayawan dan tokoh adat di Kota Maumere, mengingatkan bahwa bencana tetap akan menjadi momok menakutkan masyarakat Kota Maumere di masa mendatang. "Bencana seperti tahun 1992 tetap akan datang (terjadi) lagi. Lempengan daratan menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana sangat tipis dan mudah retak," kata Oscar kepada Pos Kupang, Sabtu (13/12/2014).

Oscar mengatakan, hanya ada dua solusi menghindari masyarakat pesisir dari bencana alam tsunami di masa depan. Pertama, masyarakat harus direlokasi, pindah ke tempat lebih aman. Kedua, membangun rumah dengan konstruksi tahan bencana alam.

"Jika mereka tidak mau pindah, itu artinya mereka mengambil risiko serius di masa depan. Pemerintah juga bisa mengambil inisiatif buat kajian, konstruksi rumah model apa yang cocok dengan wilayah zona merah kita," kata Oscar.

Pemerintah, demikian Oscar, bisa membuat peraturan rumah bentuk apa yang boleh dibangun di  zona rawan gempa. "Rumah-rumah tembok itu tidak perlu ada di sana. Cari design rumah yang cocok untuk wilayah itu, pemerintah harus buat kajian serius. Hanya itu solusinya," kata Oscar.

Tidak kalah penting, lanjut Oscar, masyarakat perlu terus dilatih (simulasi) menghadapi bencana. "Daerah-daerah itu perlu terus melakukan simulasi bencana," ujarnya.

Menurut dia, sosialisasi harus terus menerus dilakukan. Khususnya oleh pemerintah desa, agar warga masyarakat dengan sadar mencari tempat pemukiman yang lebih layak.
                               
Hutan Bakau Tipis

Anggota DPRD Sikka, Alex Agato mengingatkan pemerintah serius menangani masalah bencana di Kabupaten Sikka. Masalah serius yang dihadapi, demikian Agato, adalah semakin menipisnya hutan bakau (mangrove) pesisir utara Maumere. 
"Badan Lingkungan hidup kita minta serius dengan program menanam bakau sebanyak-banyaknya di pantai utara, khusus kota Maumere dulu. Turap pantai itu tidak bisa bertahan lama di masa depan," kata Alex.

Ia menyatakan, pemerintah tidak bisa menghabiskan anggaran begitu besar dengan membangun turap pantai di semua pesisir utara Kota Maumere. Mesti didukung dengan program penanaman mangrove yang berkesenambungan.

"Ini langkah yang lebih penting dan harus digarap serius oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH). Selain bisa menahan abrasi, menanam bakau juga memberikan dalam bagi kesehatan lingkungan hidup di Kota Maumere," kata Alex.

Memindahkan masyarakat pesisir seperti warga Kampung Wuring bukan persoalan yang mudah. Tetapi jika pemerintah berhasil meyakinkan masyarakat secara terus menerus, bukan tidak mungkin masyarakat akan secara sukarela meninggalkan lokasi yang ada.

Pemerintah juga bisa membantu masyarakat  untuk menunjukkan lokasi pemukiman yang baru bagi masyarakat. "Ini memang risiko pemerintah, jika mau relokasikan mereka, maka harus menyiapkan pemukiman baru bagi mereka. Perlu pendekatan terus menerus," tegas Alex.

Kampung Wuring, salah satu wilayah pesisir yang termasuk dalam zona merah, sudah menjadi salah satu permukiman padat di Kota Maumere saat ini.  Warga di sana mengaku tahu bahwa wilayah masuk zona merah, namun enggan merespons hal itu secara serius.

Kartini Ace (60) berpegang pada keyakinan bahwa Allah tidak mungkin akan menimpakan malapetaka bagi umatNya. Allah pasti akan melindungi para penghuni Kampung Wuring.

Sementara  Hasan Basry, warga lainnya mempertanyakan kebenaran tentang Kampung Wuring termasuk di dalam zona merah. Masyarakat belum diyakinkan dengan dasar penelitian atau regulasi yang menetapkan wilayah itu sebagai wilayah zona merah bencana.

Antara keingingan pemerintah dan keinginan masyarakat pasti selalu akan bertentangan satu sama lain. Tetapi jika pemerintah bisa meyakinkan masyarakat, maka masalah itu akan  diselesaikan secara bersama-sama, dan masyarakat terhindar dari risiko bencana. (feliks janggu)


Sumber: Pos Kupang 13, 14 dan 15 Desember 2014 hal 1

Bapak Diam-diam Daftar Saya di Seminari

Romo Hiro diarak dari Busalangga ke Baa (foto PK)
Rumah Yohanes Nitsae (alm) dan Marselina Nitsae-Bailaen di Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut (RBL), dipadati keluarga dan umat, Minggu (30/11/2014) siang. Ada apa? Simak Laporan Wartawan Pos Kupang, Maksi Marho dari Rote Ndao.

BUKAN cuma kalangan keluarga yang beragama Katolik yang berkumpul di rumah itu, tetapi juga keluarga yang beragama Protestan. Juga terlihat dua orang suster dan seorang pastor, Pater Dagobertus Sotaringgi, SVD (Mantan Pastor Paroki Sikumana).

Di samping timur rumah, tepatnya di sebuah tanah lapang yang biasa dipakai sebagai lokasi pasar tradisional, sudah dibangun tenda dan sebuah podium sebagai persiapan misa perdana imam baru, Romo Hironimus Nitsae, pada Selasa (2/12/2014).

Sekitar pukul 14.00 wita, salah satu perwakilan keluarga menyampaikan kata sambutan sebagai pengantar persiapan untuk perarakan Diakon Hironimus Nitsae menuju Paroki St. Kristoforus Ba'a untuk ditahbiskan menjadi imam  oleh  Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Jarak dari Busalangga menuju pastoran paroki sekitar 15 kilometer dan ditempuh dengan kendaraan sekitar 20 menit.

Setelah pengantar dari keluarga, Pater Dagobertus kemudian memimpin ibadat singkat, memohon berkat Tuhan agar seluruh rangkaian acara pentahabisan imam baru nantinya berjalan lancar. Usai berdoa, Diakon Hironimus Nitsae didampingi sang mama Marselina Nitsae-Bailaen dan seorang pria yang mewakili almarhum ayahnya, dijemput dengan tarian adat setempat saat keluar dari rumah menuju mobil yang siap mengantar mereka menuju gereja paroki.

Sekitar pukul 14.30 wita, Diakon Hironimus Nitsae  diarak belasan mobil dan ratusan sepeda motor menuju Ba'a. Calon imam baru itu tampak tenang saat berada di atas mobil sambil berdiri dengan mengenakan pakaian ada Rote Ndao lengkap dengan topi Ti'i langga. Ia tampak tenang dan sesekali tersenyum.

Saat tiba di depan gereja, Diakon Hironimus Nitsae dan keluarga disambut Pastor Paroki St. Kristoforus Ba'a, Romo Aloysius Lake, Pr. Rombongan calon imam baru ini kemudian beristirahat sejenak di pastoran paroki sambil menunggu dimulainya misa pentahbisan,  dipimpin Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang.

Misa pentahbisan Diakon Hironimus Nitsae menjadi imam dimulai pukul 16.00 wita, dihadiri puluhan pastor, belasan suster serta ribuan umat katolik setempat. Juga dihadiri Wakil Bupati Rote Ndao, Jonas C Lun dan sejumlah pejabat Pemkab Rote Ndao, Wakapolres Rote Ndao, Kompol Samuel S Simbolon,  para tokoh agama dari gereja Protestan, Islam dan undangan lainnya.

Romo Hironimus Nitsae adalah anak keempat dari enam bersaudara buah cinta pasangan ayah (Almarhum) Yohanes Nitsae dan mama Marselina Nitsae-Bailaen. Ia lahir di Busalangga, 10 Agustus 1986. Ayahnya bekerja sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Busalangga, mamanya ibu rumah tangga.

Romo Hiro, begitu RD Hironimus Nitsae disapa, mengawali pendidikan di SD Inpres Busalangga tahun 1992-2005 dan melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 4 Rote Barat Laut (RBL) di Busalangga tahun 1998-2001. "Waktu tamat SMP, diam- diam bapak daftar saya di SMA Seminari St. Rafael Oepoi-Kupang. Setelah pulang daftar di SMA seminari baru bapak beri tahu saya. Saya kaget juga, tapi namanya disuruh sekolah di Kupang, siapa yang tidak mau. Karena itulah saya melanjutkan pendidikan di SMA Seminari St. Rafael Oepoi selama tahun 2001-2005. SMA-nya lima tahun karena sebelum lanjut ke SMA harus masuk kelas peralihan dulu selama dua tahun, baru masuk kelas satu SMA," cerita Romo Hiro ketika ditemui di Pastoran Paroki St. Kristoforus Ba'a, Sabtu (29/11/2014) siang.

Sewaktu kecil, cerita Romo Hiro, sebenarnya ia tidak bercita-cita untuk menjadi pastor. Hanya saja, ketika masih di kelas dua SMP, pernah ada kunjungan beberapa pastor ke Stasi Isidorus Busalangga. Saat itu, satu orang pastor tidur di rumah mereka sehingga timbul keinginan dalam dirinya untuk menjadi pastor. Keinginannya itu yang mungkin diketahui ayahnya sehingga secara diam-diam sang ayah mendaftarkan dirinya ke SMA Seminari.  RD Hironimus Nitsae merupakan pastor Katolik pertama dari Kabupaten Rote Ndao.

Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, dalam sambutannya pada acara syukuran penthabisan, mengingatkan imam baru agar selalu berusaha memberi kesaksian tentang Kristus. Sebagai imam, harus membuat manusia atau sesama untuk selalu memperbaharui hidupnya sehingga menjadi manusia yang lebih baik sesuai ajaran Allah dari hari-kehari.

Wakil Bupati Rote Ndao, Jonas C Lun, mengucapkan selamat kepada RD Hironimus Nitsae yang telah ditahbiskan menjadi imam Katolik dan menjadi imam Katolik pertama dari Kabupaten Rote Ndao. Peristiwa penthabisan ini, kata Lun, merupakan peristiwa  bersejarah bagi masyarakat Rote Ndao.

"Gereja Katolik telah banyak berperan dalam pembangunan. Karena itu, atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Rote Ndao, kami mengucapkan selamat kepada imam baru, RD Hironimus Nitsae yang telah ditahabiskan menjadi imam oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang," kata Lun.

RD Hironimus Nitsae mengambil moto tahbisannya: "Ya Bapa..." yang diambil dari Injil Yoh 17:24. Kata "Ya Bapa..." dalam moto tersebut, menurut RD Hironimus Nitsae, merupakan bentuk jawaban dan kesediaan dirinya untuk menjadi rasul Yesus, dan siap mewartakan Injil kepada semua manusia. Profisiat. *


Sumber: Pos Kupang 7 Desember 2014 hal 1

Uskup Turang Tahbiskan Pastor Pertama dari Rote

Romo Hiro diarak dari Busalangga ke Baa untuk ditahbiskan (foto PK)
USKUP Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr mentahbiskan Diakon Hironimus Nitsae menjadi imam baru Gereja Katolik di Gereja Paroki St. Kristoforus Ba'a, Minggu (30/11/2014) sore. RD Hironimus Nitsae  merupakan pastor  pertama dari Kabupaten Rote Ndao.

Acara pentahbisan RD Hironimus Nitsae oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, dihadiri puluhan pastor, belasan suster serta ribuan umat Katolik setempat. Juga hadir Wakil Bupati Rote Ndao, Jonas C Lun, dan sejumlah pejabat Pemkab Rote Ndao, Wakapolres Rote Ndao, Kompol Samuel S Simbolon, serta para tokoh agama dari gereja Protestan, Islam dan undangan lainnya.

Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr dalam sambutannya pada acara syukuran pentahbisan imam baru, mengingatkan imam baru agar selalu berusaha memberi kesaksian tentang Kristus. Sebagai imam harus membuat manusia atau sesama untuk selalu memperbaharui hidupnya sehingga menjadi manusia yang lebih baik sesuai ajaran Allah.

Sementara Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki St. Kristoforus Ba'a, Pius Mali, dalam sambutannya mengatakan, sudah sejak lama umat Katolik di Rote Ndao mendambakan dan merindukan lahirnya seorang imam baru yang berasal dari Rote Ndao. Dambaan dan kerinduan masyarakat Rote Ndao itu akhirnya terjawab dengan ditahbiskannya RD Hironimus Nitsae, putra dari bapak Alm. Yohanes Nitsae dan mama Marselina Nitsae-Bailaen.

Peristiwa pentahbisan imam baru, imam pertama dari Kabupaten Rote Ndao ini, kata Pius Mali, membawa rahmat berlimpah bagi masyarakat Kabupaten Rote Ndao, bahkan bukan cuma umat yang beragama Katolik. Karena itu, umat di Kabupaten Rote Ndao mengucapkan banyak terima kasih kepada Uskup Agung Kupang yang mau mentahbiskan salah satu putra terbaik Kabupaten Rote Ndao tersebut.

Wakil Bupati Rote Ndao, Jonas C Lun, dalam sambutannya, mengucapkan selamat kepada RD Hironimus Nitsae yang telah ditahbiskan menjadi imam Katolik dan menjadi imam Katolik pertama dari Kabupaten Rote Ndao. Peristiwa pentahbisan ini, kata Lun, merupakan peristiwa bersejarah bagi masyarakat Kabupaten Rote Ndao. (mar)


Ya Bapa....

RD Hironimus Nitsae mengambil moto : "Ya Bapa..." yang diambil dari Injil Yoh 17:24 sebagai moto tahbisannya. Kata "Ya Bapa..." dalam moto tersebut, menurut RD Hironimus Nitsae, merupakan bentuk jawaban dan kesediaan dirinya untuk menjadi rasul Yesus, dan siap mewartakan Injil kepada semua manusia.

Hal ini dikatakan RD Hironimus Nitsae dalam sambutannya pada acara syukuran pentahbisan yang digelar di halaman Pastoran Paroki St. Kristoforus Ba'a, Minggu (30/11/2014) malam.  Dikatakan RD Hironimus Nitsae atau Romo Hiro, kata "Ya Bapa..." juga merupakan kata-kata dalam doa Tuhan Yesus di Taman Getsemani sebelum ia diserahkan kepada orang Yahudi untuk disalibkan. Hal ini berarti ia pun siap menjadi pengikut Kristus dalam kondisi apapun bahkan rela mati demi mewartakan kemulian Tuhan.

RD Hironimus Nitsae adalah anak keempat dari enam bersaudara, anak dari Yohanes Nitsae (alm) dan mama Marselina Nitsae-Bailaen. Ayahnya berdarah Timor dari Kabupaten TTU, sementara mamanya berdarah asli Rote Ndao dari Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut (RBL). Selama ini, keluarganya tinggal di Busalangga. (mar)

Sumber: Pos Kupang 3 Desember 2014 halaman 9

Memberi Rasa Nyaman Kepada yang Susah

ilustrasi
Oleh Dr. Pdt. Ebenhaizer Nuban Timo
Mantan Wartawan SKH Pos Kupang
Latar Belakang
Harian umum daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bernama POS KUPANG merayakan ulang tahunnya yang ke-22 pada 1 Desember 2014. Sebagai ungkapan cinta kasih dan hormat kepada kiprah POS KUPANG, termasuk semua krunya, saya membuat tulisan ini. Saya mau mulai dengan merenungkan hakikat ulang tahun. Umumnya orang memahami ulang tahun sebagai moment untuk mengingat awal keberadaannya supaya menjalani masa kini secara bermakna sesuai dengan tekad masa depan yang dicanangkan pada masa awal keberadaannya.

Ada sekurang-kurangnya 3 kata dalam bahasa Inggris yang erat berkaitan dengan arti ulang tahun yang baru saja kita definisikan. Kata pertama: remember. Ia terdiri dari dua patah kata: re yang artinya adalah kembali dan member yang adalah anggota. Jadi secara harafiah remember  artinya kembali menjadi anggota, balik kepada komunitas mula-mula, persekutuan azali. Kata kedua: commemoration. Kata ini juga merupakan konjungasi dari co yang artinya bersama dan memory yang adalah ingatan atau kenangan. Jadi commemoration dapat kita artikan kumpul ingatan-ingatan yang ada. Kata ketiga: recollection artinya kembali ke dalam kumpulan.

Jiwa dari ketiga kata yang berhubungan dengan gagasan mengingat seperti yang kita gali dari pemahaman orang Inggris adalah kembali menjadi anggota keluarga atau persekutuan dari mana kita berasal, atau kumpul-kumpul untuk ingat kembali (memorize) cita-cita yang telah ditetapkan pada awal titik berangkat keberadaan kita.  Dalam semangat pemaknaan seperti inilah saya menulis untuk POS KUPANG menyambut ulang tahunnya yang ke-22.

Awal Mula POS KUPANG
Salah satu aktivitas penting pada hari ulang tahun adalah mengingat. Baiklah saya menceritakan kembali apa yang saya ingat tentang POS Kupang di awal kiprahnya di Kupang, Kota Kasih. Ketua Sinode GMIT waktu itu, Almarhum Dr. Benyamin Fobia bertemu saya di ruang redaksi majalah Berita GMIT. "Eben. Sebentar sore pergi ke toko Silvia untuk ikut pelatihan menjadi wartawan." Tanggal persisnya percakapan itu saya tidak ingat lagi. Tapi itu terjadi sekitar tanggal 25 atau 26 November 1992.

Tanpa banyak bertanya karena itu memang berhubungan dengan tugas saya sebagai redaktur pelaksana majalah Berita GMIT, sore harinya saya pergi ke Toko Silvia di bilangan Tingkat Satu. Dengan mengendarai sepeda motor Honda GL milik ayah, saya menerobos hujan gerimis di Kupang sore itu. Ternyata di sana sudah ada sekitar 20-an orang muda. Orang-orang yang saya kenal adalah Paulus Bolla, Mesakh Dethan dan Yulius Lopo.

Kami dikumpul dalam satu ruang sempit, kira-kira 6 x 7 meter lalu mulai dikasih pengarahan tentang bagaimana manulis straight news. Pembicara waktu itu adalah Julius Siranamual. Juga ada seorang lagi yang menyapa saya dalam bahasa Timor dialek Amarasi. Belakangan saya tahu nama senior itu adalah Hans Itta. Dia juga salah seorang pendamping kami dalam kursus kilat malam itu.

Di penghujung materi yang diberikan oleh Julius Siranamual yang berambut gondrong itu, kepada kami dibagikan potongan berita dari Koran berbahasa Inggris. Tugas kami adalah menerjemahkan berita itu dalam bahasa Indonesia. Setelah bekerja kira-kira 25 menit, hasil terjemahan itu dikumpulkan. Lalu kami diminta bertemu khusus dengan bapak Julius Siranamual secara berkelompok. Saya bergabung dengan Paul Bolla, Mesakh Dethan dan Yulius Lopo sebagai satu kelompok.

Barulah dalam percakapan dengan bapak Julius Siranamual saya tahu bahwa dalam waktu dekat akan mulai terbit harian daerah POS KUPANG. Rupanya pak Julius Siranamual mengkontak Pdt. Dr. Benyamin Fobia untuk mengirim beberapa pendeta muda dalam proses rekrutmen sebagai wartawan untuk POS KUPANG, katanya supaya ada keseimbangan komposisi pemberitaan antara dua denominasi Kristen terbesar di NTT. Pak Julius Siranamual juga menjelaskan kepada kami apa tugas pers. Kalau saya tidak salah ingat, beliau katakan: "Kami akan direkrut menjadi wartawan untuk mengerjakan tugas pers, yakni menjalankan fungsi edukasi, melakukan kontrol sosial yang konstruktif, menyalurkan aspirasi rakyat dan memperluas komunikasi dan partisipasi masyarakat."

Giliran kami sudah selesai. Kami keluar untuk makan nasi bungkus. Kelompok lain menggantikan kami bertemu bapak Julius Siranamual. Selanjutnya kami masuk lagi ke ruangan kursus kilat untuk mendengar arahan tentang apa yang harus kami buat besok. Saya tidak ingat persis siapa pemandu acara, tetapi kami ditugaskan untuk besok meliputi berita di lapangan. Saya dapat tugas meliput arus keluar masuk bus antar kota di Terminal Oebobo, terutama pelayanan publik di situ.

Singkat cerita, tiga hari berturut-turut kami menjalani training. Kalau memori saya masih belum terganggu, hasil belajar kami itu kemudian diterbitkan dalam edisi ujicoba, tentu saja dengan editing ketat dari pemimpin unit.

POS KUPANG Membuat Tikus Tidak Bebas Menari

Terbitnya POS KUPANG segera mengubah pola komunikasi masyarakat Kupang pada waktu itu, mengingat POS KUPANG memang adalah harian umum pertama di Kupang. Sebelum POS KUPANG, pernah ada KUPANG POS. Saya lupa kapan persisnya. Sepertinya waktu saya masih di bangku SMA. Entah apa sebabnya KUPANG POS mati dan untuk waktu yang lama (sekitar 5-6 tahun) tidak ada harian umum pengganti. Karena itu terbitnya POS KUPANG benar-benar memberikan angin segar. Peristiwa-peristiwa sosial dan pemerintahan, politik dan religius di Kupang dan NTT umumnya yang selama ini saya disampaikan dari mulut ke mulut, lebih mirip desas-desus sehingga batas antara kebenaran dan gossip murahan sangat tipis segera mendapat bobot sebagai berita berimbang, karena ada komentar dari pihak-pihak terkait.

POS KUPANG ternyata tidak hanya menyajikan berita berimbang melalui satu proses cek dan recek. Ia juga melakukan kontrol sosial atau menjadi pengawal demokrasi. Peran ini, seperti yang saya sebutkan tadi ibarat menjadi kucing yang membuat tikus tidak lagi bebas menari di atas makanan milik bersama. Saya punya beberapa pengalaman untuk hal ini yang berkaitan langsung dengan POS KUPANG  di masa awalnya. Demi kenyamanan bersama baiklah saya tidak menyebut contoh itu, tetapi contoh yang lebih umum, seperti pencabutan SIUPP harian Sinar Harapan oleh pemerintah orde baru tanggal 8 Oktober 1986 karena sebuah pemberitaan yang menggangu kenyamanan Orde Baru.

Berita-berita yang disampaikan pers kapada masyarakat, investigasi yang dilakukan wartawan terhadap sebuah kasus sosial, politik, pendidikan, dll, dengan tujuan utamanya adalah melakukan edukasi, melaksanakan kontrol sosial yang konstruktif, menyalurkan aspirasi rakyat dan memperluas komunikasi dan partisipasi masyarakat ternyata bermakna ganda.

Tony Kleden, wartawan POS KUPANG merumuskan manfaat ganda itu dengan mengutip Finley Peter Dunne, penulis Amerika abad ke-19, seperti yang kami jadikan sebagai sub judul tulisan ini: "Pers memberi rasa nyaman kepada orang yang kesusahan dan menyusahkan orang yang hidupnya nyaman."

Tugas ganda tadi ternyata juga diemban oleh POS KUPANG. Dalam arti ini POS KUPANG khususnya menjalankan pekerjaan keselamatan. POS KUPANG memang bukan juruselamat dunia, tetapi dia menjalankan tugas-tugas tertentu dari Sang Juruselamat. Para wartawan memang bukan pendeta atau imam, tetapi mereka menjalankan tugas-tugas keimamatan itu di bidang jurnalistik. Kalau menggunakan analogi yang dibuat Marthen Luther, wartawan adalah imam-imam tanpa jubah keimamatan. Nurani keimamatan mereka tidak dinampakan pada jubah, melainkan pada pensil yang mereka pakai.

Kalimat-kalimat terakhir ini saya mau garisbawahi secara khusus dengan dua maksud. Pertama, sebagai bentuk apresiasi saya kepada pers dan para wartawan, secara khusus keluarga besar POS KUPANG. Ada banyak surat kabar harian di Kupang. Tetapi tidak banyak yang menyampaikan informasi dan kontrol bertolak dari nurani keimamatan. Yang saya maksudkan dengan nurani keimamatan adalah yang menyampaikan informasi secara konstruktif, berimbang dan santun. POS KUPANG termasuk pada yang tidak banyak itu.

Kedua, pers yang memiliki nurani keimamatan bukan pertama-tama diukur dari besarnya kuota pemberitaan aktivitas religius, apalagi jika isi pemberitaannya cenderung polimis dan apologetis. Pers dengan kepekaan nurani imamat apalagi dalam konteks kebhinekaan seperti Indonesia adalah sebuah aktivitas jurnalistik yang panorama pemberitaannya menyejukkan kepelbagaian keyakinan religius, yang kritik-kritik sosialnya disampaikan secara santun dan konstruktif dan konten liputannya mengajak penerima kritik untuk masuk ke dalam nurani imannya untuk sendiri mengambil keputusan pertobatan.

Contoh paling aktual untuk itu dalam Alkitab sebagai sebuah produk jurnalistik adalah yang kritik yang dibuat Natan kepada raja Daud usai seksual affair (perselingkuhan seksual) dan war deceptive-strateby (strategi permainan perang-perangan) yang dia rancang dengan Yoab untuk mengakhiri hidup Uria, istri Batseba. Karya jurnalistik seperti ini akan membuat akan membuat pelakunya tetap dibutuhkan oleh pihak yang dikritik.  Tanpa mengabaikan kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang masih perlu dibenani, dalam pantauan saya di NTT jurnalisme POS KUPANG masih tetap berada pada koridor ini. Atas pertimbangan tadi saya secara sadar memilih POS KUPANG untuk opini-opini saya.

Media Yang Penuh Ragi Tuhan

Pers yang memberi perhatian pada nurani keimamatan dalam geliat jurnalismenya akan selalu dibutuhkan, juga oleh kelompok yang sering jadi sasaran kritik.  Saya ingin mengangkat sebuah kisah dari perbendaharaan kesaksian iman saya, Alkitab untuk memperlihatkan ciri dari pers yang bernurani tadi. Kisah itu berhubungan dengan kematian Absalom, anak kesayangan Daud, raja Israel yang disegani (II Sam. 18:19 dst).

Setelah mayat Absalom ditemukan tergantung di pohon, Yoab meniup sangkala sehingga pasukannya berhenti mengejar pasukan Absalom yang berserak tanpa pimpinan. Berita kematian Absalom perlu disampaikan kepada Daud di tempat pelariannya. Ahimaas bin Zadok menawarkan diri kepada Yoas. "Biarlah aku berlari menyampaikan kabar yang baik itu kepada raja, bahwa TUHAN telah memberi keadilan kepadanya dengan melepaskan dia dari tangan musuhnya."

Yoab menolak permintaan Ahimaas karena ia tahu bahwa berita itu akan melukai hati raja, yang bisa berakibat negatif bagi sang pembawa berita. Dari kasus sebelumnya, yakni Daud menyuruh memenggal kepala orang Amalek yang menyampaikan kepadanya berita tentang kematian Saul, Yoab menduga bahwa Daud akan melakukan hal yang sama bagi orang yang membawa kabar kematian Absalom. Itu sebabnya Yoab menjawab Ahimaas: "Pada hari ini bukan engkau yang menjadi pembawa kabar, pada hari lain boleh engkau yang menyampaikan kabar, tetapi pada hari ini engkau tidak akan menyampaikan kabar karena anak raja sudah mati."

Yoab lalu memerintahkan seorang lain, seorang Etiopia untuk berlari kepada. Setelah orang Etiopia itu pergi, Ahimaas sekali lagi berkata kepada Yoas untuk mengijinkan dia menyusul orang Etiopia itu, apapun juga resikonya. Sekali lagi Yoas mengingatkan Ahimaas akan harga yang harus dia bayar. Tetapi Ahimaas siap membayar harga itu. Ia berkata kepada Yoab: "Apa pun yang terjadi, aku mau berlari pergi."

Singkat cerita Ahimaas mendapat ijin dari Yoab. Dia memilih route yang lebih singkat sehingga lebih dahulu sampai ketempat raja. Waktu ditanyai raja ia  memberikan jawaban berikut: "Aku melihat keributan yang besar, ketika Yoab menyuruh pergi hamba raja, hambamu ini, tetapi aku tidak tahu apa itu." Ahimaas menghadirkan bagi raja sebuah data riil di lapangan agar raja menyimpulkan sendiri pesannya. Wartawan kedua, orang Etiopia itu segera menyusul. Ia mengemas beritanya dalam kalimat berikut: "Tuanku raja mendapat kabar yang baik, sebab TUHAN telah memberi keadilan kepadamu pada hari ini dengan melepaskan tuanku dari tangan semua orang yang bangkit menentang tuanku."

Waktu raja mendesak dia dengan bertanya to the point mengenai nasib Absalom dia kembali memberikan jawaban: "Biarlah seperti orang muda itu musuh tuanku raja dan semua orang yang bangkit menentang tuanku untuk berbuat jahat."
Dua orang wartawan yang diutus Yoab menyampaikan kabar buruk kepada raja diperlakukan dengan hormat, tidak seperti orang Amalek dalam kisah kematian Saul yang disuruh raja untuk kepalanya dipocong. Ini karena kedua wartawan tadi memoles berita itu dengan memperhatikan nurani keimamatan. Berita buruk disampaikan secara santun. Raja dibiarkan membuat kesimpulan sendiri. Untuk itu mereka menyodorkan data-data lapangan yang berkualitas, yang tidak dilebih-lebihkan, tidak juga dibelokkan untuk kepentingan pembawa berita. Inilah mediawan yang penuh dengan ragi Tuhan. Jurnalisme yang mereka hasilkan memproduksi perdamaian.

Media yang penuh dengan ragi Tuhan, menurut D.A. Peransi memiliki beberapa kualitas: 1. Ia menciptakan komunitas yang setara, tidak melihat penerima pesan sebagai mangsa. Dalam rangka membangun kesetaraan ia mengembangkan manusia dan kebudayaan masyarakat. 2. Ia mendorong tumbuhnya hidup bermasyarakat yang manusiawi, bukan masa yang sentimental sehingga mudah digiring oleh kekuatan tertentu. Ia mengajar orang berpikir bijak dalam melihat keterbatasan-keterbatasannya tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang diberikan Tuhan kepadanya. 3. Watak profetis yang melekat pada media yang beragi adalah profetis-alternatif. Artinya, dia tidak hanya mengajukan kritik tetapi juga menawarkan solusi. 4. Akhir, media yang penuh dengan ragi Tuhan dibidani oleh mediawan yang telinga, mata dan hatinya terbuka untuk Sabda Allah. 

Penutup
POS KUPANG memasuki usia ke-22. Kehadirannya di NTT dalam rentang waktu 22 tahun sebagaimana yang dialami banyak orang ternyata mampu memberikan suara kepada kaum tak bersuara. Ia juga sudah menunjukkan diri sebagai media yang membuat orang-orang yang berkuasa tidak bisa sesukanya menindas dan menginjak mereka yang lemah dan tanpa atribut kuasa.

John Dewey seorang filsuf Amerika menegaskan bahwa fungsi ritual atau upacara-upacara yang terjadi dalam hidup adalah untuk menjadikan nilai-nilai ideal yang mau kita kejar tetap menjadi fungsional dalam tindakan, agar nilai-nilai tetap ideal dalam semangat. Apa yang tidak dapat dilaksanakan di dalam praktek kehidupan, kita laksanakan di dalam ritual supaya kita tidak mati idealisme.


Peringatan hari lahir yang dilakukan POS KUPANG adalah untuk mengingatkan dirinya bahwa betapapun dalam praktek ideal-ideal tadi belum sepenuhnya bisa diwujudkan, bahkan dalam banyak hal gagal diwujudkan, tetapi melalui peringatan itu tekad para kru POS KUPANG dibangunkan, dikobarkan semangat untuk tetap memelihara nilai ideal itu.

Salah satu penyakit yang paling sering menyerang insan pers dan mematikan idealisme para pekerja keselamatan adalah masalah survive strategy.  Karena ingin survive pers berkolaborasi dengan pihak yang berkuasa atau pemilik modal. Akibatnya fungsi kontrol, edukasi, penyalur aspirasi rakyat dan pengawal demokrasi runtuh. Pers berubah jadi loud speaker penguasa atau memilik modal. Dengan berbuat begitu, pers sesungguhnya tengah melakukan onani atau masturbasi.

POS KUPANG  akan tetap survive di NTT dan menjadi surat kabar kesayangan masyarakat apabila ia menjalankan keempat fungsi pers secara konsisten sambil tetap menjaga keseimbangan pemberitaan dan investigasi sebagaimana yang disinyalir pak Yulius Siranamual. Jelasnya POS KUPANG harus terus menampilkan diri sebagai media yang penuh dengan ragi Tuhan. Inilah tekad yang harus dijaga tetap membara dalam hati para kru POS KUPANG setelah aktivitas remember, recollection dan  commemoration di HUT ke-22 ini. DIRGAHAYU POS KUPANG. Teruslah berkarya untuk memberi rasa nyaman kepada orang yang berkesusahan dan menyusahkan orang yang hidupnya nyaman. *

Sumber: Pos Kupang 1 Desember 2014 halaman 32 (edisi ulang tahun ke-22 terbit 60 halaman)

Mengkaji Isi Media Pos Kupang

ilustrasi
Oleh Dr. Edu Dosi, SVD, M.Si

Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unwira Kupang   

POS KUPANG.COM -
Pada tanggal 1 Desember 2014 PK (Pos Kupang) memasuki umur ke-22. Dalam rentang umur 22 tahun tentu ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap PK. Saya ingin membahas faktor-faktor yang mempengaruhi isi media PK. Pada tahun 2010, saya pernah mengkaji pemberitaan PK tentang pemilu legislatif 2014. Kajian ini menggunakan kerangka pemikiran Pamela J Shoemaker and Stephen D Reese, 1996, Mediating the Message: Theories of Influence on Media. Saya yakin kajian ini masih mempunyai relevansi yang signifikan dengan keberadaan PK pada umur ke-22 tahun ini.

Dalam memproduksi isinya, media PK dipengaruhi oleh macam-macam faktor, yaitu faktor internal, dari dalam institusi media PK sendiri  dan faktor eksternal, di luar institusi media PK. Shoemaker dan Reese (1996:64) membagi faktor-faktor tesrebut  dalam lima level, yaitu  individual, media routines, organizational, extramedia, dan ideological.  

Individual Level    
Faktor ini berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media PK. Level ini melihat pengaruh aspek-aspek personal  dari pengelola media PK mempengaruhi pemberitaan yang akan ditampilkan kepada khalayak.

Dalam level ini, terdapat pengaruh potensial yang berasal dari interaksi faktor intrinsik pekerja media PK, yaitu:  karakteristik dari pekerja media PK (seperti gender, etnik, dan orientasi politik) dan latar belakang pribadi (status sosial ekonomi), kemudian mempengaruhi kepercayaan, perilaku dan nilai pribadi yang dianut oleh pekerja media PK tersebut juga mempengaruhi latar belakang profesionalnya (pendidikan).  Latar belakang profesional ini kemudian mempengaruhi orientasi etika profesionalisme yang dimiliki oleh pekerja media PK.

Ditemukan bahwa pekerja media PK cenderung bersikap netral. Seragam melalui standarisasi profesional.  PK tidak cenderung memihak pada satu kekuatan. PK berusaha menjadi pengawal kalau ada kecenderungan keberpihakan. Karena kalau media cenderung berpihak kepada satu kelompok, maka media tinggal tunggu waktu saja untuk mati, ternyata PK masih hidup hingga saat ini. Sejarah membuktikan bahwa pada zaman orba media yang berpihak pada partai tertentu duluan ambruk sebelum pemiliknya ambruk.

Korporat PK adalah KKG (Kelompok Kompas Gramedia) memiliki sikap netral, maka PK pun netral. Juga nurani PK  mengatakan  netral sesuai dengan  misi Pos Kupang.

Pemimpin Redaksi Pos Kupang pada saat itu Dion Putra (12 Januari, 2009) menyatakan bahwa pekerja media Pos Kupang tidak terlibat dengan partai tertentu sehingga dipengaruhi oleh partai tertentu.

"Ada dua orang yang jadi caleg dan mereka harus keluar dari Pos Kupang. Mereka harus memilih. Antara Pos Kupang dan caleg. Pada waktu itu kami juga ambil jalan lain, ada wartawan kita yang kita beri kesempatan untuk menjadi panwaslu karena pada waktu itu di daerah-daerah belum ada pers. Itu pun kami membuat aturan lagi agar mereka terhindar dari konflik interes sebagai anggota panwaslu dan seorang wartawan. Kerja dia 50% saja sebagai wartawan. Walaupun itu utusan dari lembaga".

Lebih lanjut dikatakannya tentang, "apakah ada sedikit konflik interes dalam pemberitaan?" "Saya berupaya menjaga karena netral. Saya justru kecewa dengan PDIP, dari partai wong cilik, namun kemudian berkuasa menjadi otoriter. Memang ada banyak godaan dan sangat tinggi jadi inilah, jadi itulah. Tetapi saya katakan tidak. Kalau simpati dengan partai ini itu normallah sebagai manusia tetapi untuk saya terikat tidak. Karena saya tahu aturan profesinalisme kami di KKG (Kelompok Kompas Gramedia) itu jelas. Dan dalam pemberitaan saya berupaya harus memberikan contoh kepada semua wartawan agar obyektif".

Media Routine
Ditemukan bahwa kegiatan rutinitas memiliki ketergantungan pada sumber elit dan perspektif elit. Kegiatan rutinitas media massa cetal lokal NTT, termasuk PK, mempunyai kesamaan proses. Laporan dari reporter disampaikan kepada masing-masing kepala desk. Para redaktur mengadakan rapat membahas laporan yang masuk guna mempertimbangkan laporan  mana yang layak dan tidak layak dan jika layak ditempatkan pada halaman berapa. Setelah diputuskan berita mana yang akan dimuat, maka naskah laporan dari reporter  tersebut diserahkan kepada redaktur pelaksana atau redaktur eksekutif untuk disunting oleh para redaktur penyunting. Setelah dilakukan penyuntingan, maka dilakukan proses teknis menuju percetakan.


Dalam menyajikan berita tentang pencalonan legislatif lokal NTT tahun 2004 Pos Kupang, demikian juga beberapa koran daerah NTT menyadari adanya faktor subjektivitas, ada kesengajaan memberikan perspektif tertentu, latar belakang  dan aspek-aspek yang terkait  untuk memberikan orientasi kepada para pembaca, yaitu memberi manfaat kepada pembaca sesuai dengan visi dan misi surat kabarnya masing-masing, kompetisi dalam merebut dan menjaga pasar.

Objektivitas, netralitas terganggu oleh bayaran iklan dari caleg. Wartawan punya frame sendiri terhadap caleg, pertimbangan, sudut pandang sendiri, kedekatan dengan caleg dan partai. Wajah media  banyak didominasi caleg dan partai yang berduit (Golkar). Signifikan peningkatan  oplah dan iklan dan keuntungan 20%.

Organizational Level
Pertimbangan-pertimbangan ekonomi dalam produksi isi media dapat membatasi pencarian berita dan memiliki pengaruh  tidak langsung pada kepentingan editorial dan kemudian dapat menjadi sesuatu yang mendikte isi berita (Shoemaker dan Reese, 1996:151).

Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion Putra (12 Januari, 2009) mengemukakan tentang target hubungan antara kerja redaksi dan pencapaian target jumlah oplah dalam peliputan pemilu tahun 2004: "Kami menawarkan kepada semua partai dengan proposal-proposal kami bahwa Anda sekalian dapat menggunakan halaman-halaman tertentu dengan bayaran sekian. Dengan demikian mereka sekalian tahu. Kenapa partai tertentu selalu di halaman 1 karena mereka tahu ternyata partai itu memiliki duit untuk pasang di sana. Dan kami beritahu bahwa itu advertorial. Tetapi berkait dengan berita pemilu bahkan kami menjadwalkan, kampanye di setiap partai itu mendapatkan tempat yang sama secara bergilir. Karena ada pedoman dan formnya. Misalnya, partai A kemarin di halaman 1 dengan gambar dan hari ini dia harus masuk ke halaman dalam atau gabungkan dengan kalimat sedikit. Berita adalah berita. Iklan adalah iklan. Iklan, Anda punya uang Anda mendapat tempat yang baik, tetapi kalau tidak ya tidak. Tetapi berita semuanya dapat tempat yang sama. Iklan, hukum ekonomi berlaku. Berita hukum profesional yang berlaku. Penjadwalan berita itu kami lakukan sampai sekarang di pilkada dan dilanjutkan di pemilu 2009. Kami berusaha untuk memberi ruang yang sama untuk tidak dikomplain oleh publik. Ada kecenderungan (oplag) naik seperti itu tetapi kemudian turun kembali. Pada waktu pilpres itu naik sampai 20% untuk cetak dan itu lebih banyak eceran. Karena perilaku pembeli kita itu bersifat eceran, dia ada duit dia beli. Dia tidak mau terikat. Jadi kami mencoba memainkan emosi mereka sewaktu pemilu supaya mereka beli eceran".

Extra Media Level

Ada pasar yang luas untuk teks bingkai pencalonan anggota legislatif lokal NTT. Dari aspek demografis tidak terlihat ada indikasi yang membedakan pola konsumsi para pembaca. Pos Kupang sebagai surat kabar bisnis dibaca oleh pembaca yang heterogen menjadi rujukan  atas nilai-nilai jurnalistik dari suatu liputan. Pembaca Pos Kupang lebih menyukai liputan peristiwa mendalam sehingga dapat mengetahui  latar belakang peristiwa. Pembaca Pos Kupang lebih menyukai berita-berita tentang korupsi dan berita-berita tentang perjuangan menegakkan keadilan.

Ideological Level

Terdapat pengiklan dan peran pasar (revenue source), mereka memiliki peran yang besar seperti yang dikemukakan oleh Altschull, "The pers is the piper and the tune the piper plays is composed by those who pay the piper" (Shoemaker dan Reese, 1996:190).

Dalam penyajian isinya media mempertimbangkan realitas pasar, memperoleh kapital material, kapital politik, kapital agama. Pos Kupang sebagai surat kabar bisnis lebih mementingkan unsur komersial. Flores Pos dari lingkungan bisnis Gereja Katolik (SVD), Flores Pos isinya merefleksikan bisnis Gereja Katolik, komunitas agama Katolik, membawa ideologi yang bersumber dari agama Katolik. Timor Express sebagai surat kabar bisnis, komunitas Protestan  lebih terbuka, lebih mementingkan unsur komersial dan komunitas Protestan (Tony Kleden cs., 2007:1-12).

Dalam diskursus media massa cetak lokal NTT, korelasi isi media dan kepentingan ideologi orang atau sumber daya yang membiayai pers khusus, yang menonjol terjadi adalah: Media massa cetak lokal NTT  merefleksikan ideologi kelompok pemilik media yaitu kelompok Kompas, Jawa Pos, Gereja Katolik/SVD. Media massa cetak lokal NTT, termasuk PK, merefleksikan ideologi kelompok pengiklan seperti  partai politik Golkar, PDI, juga pemberi dana, seperti gereja, pemerintah. *
 
Sumber: Pos Kupang 1 Desember 2014 halaman 1 (edisi khusus HUT ke-22 terbit 60 halaman)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes