Kamelus: Gaspar Wariskan Keteladanan

Gapar P Ehok
RUTENG, PK -   Ratusan orang pelayat, masyarakat Kota Ruteng, berbaur dengan sanak keluarga, kerabat dan seluruh aparatur Pemkab Manggarai mengantar Drs. Gaspar Parang Ehok, dimakamkan secara militer oleh Kodim 1612  Manggarai di Taman Makam Pahlawan Lalong Tana, Senin (29/2/2016) pagi.

Sebelum pemakaman, dilaksanakan misa requem dipimpin Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr, di Gereja Katedral. Semua bangku di dalam gereja terisi umat Katolik Kota Ruteng yang mengikuti perayaan misa, sebelum  diserahkan dari keluarga kepada Bupati dan Wabup Manggarai, Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H, dan Drs. Victor Madur di Kantor Bupati Manggarai.

Dandim 1612 Ruteng, Letkol (Kav) Imron Rosadi, SE, mengatakan, pemakaman militer  dilakukan TNI  untuk menghormati jasa-jasa  mantan bupati yang memimpin Manggarai tahun 1989-1999. 

"Kami  sudah siapkan upacara pemakaman secara militer mulai kemarin (Minggu). Semua  masyarakat kehilangan salah satu tokoh  dan penjasa," kata Imron kepada Pos Kupang, Senin pagi.

Deno Kamelus menggambarkan Gaspar sebagai sosok serdadu tua, tidak lekang dari ingatan. Ia hanya pelan-pelan  menghilang  bersama lemahnya memori setiap orang.  Ia pribadi yang  tegas  dan disiplin.  Karya  pembangunan yang dilakukan  di masanya  dinikmati oleh masyarakat Manggarai Raya dengan menjalin kerja sama dengan pihak gereja membangun jalan, air minum dan fasilitas pendidikan.

"Kamis malam saya dapat kabar  kepergiannya. Saya sungguh  rasa kehilangan salah satu  sesepuh yang bangun NTT sejak awal. Satu-persatu mereka meninggal  dunia," kata  Kamelus.

Masyarakat  Manggarai  di masa 1989-1999, kata Kamelus, sering mendengar suara tegas dan bariton dari  seorang pemuda berusia  40-an tahun lebih yang mengajak masyarakat Manggarai meretas  isolasi wilayah.  Gaspar, kata Kamelus, merupakan pamong praja tulen  yang mengurai masalah dari akarnya di desa.

Gaspar juga mewariskan keteladanan,  pemimpin cerdas, berpendirian tegas, visioner, punya ilmu pengetahuan luas,  relasi sosial  dan kebiasaan membaca sampai maut menjemputnya. Dalam mengelola pemerintahan dan  pembangunan, ia menunjukkan sikap pantang menyerah terhadap sesuatu yang diyakini benar dan bersentuh dengan kepentingan rakyat.

"Tegas  bahkan sangat tegas dalam bertindak. Terutama bersinggungan dengan ketidakdisiplinan. Pemberani, tidak takut kepada siapapun  dan apapun  terutama menemui tantangan  yang menyangkut hajat hidup. Dia pekerja  keras tapi tulus," kata  Kamelus. (ius)

Sumber: Pos Kupang 1 Maret 2016 hal 9

Gaspar Ehok Pemimpin Spektakuler

Gaspar Ehok
KUPANG, PK -Ratusan warga Manggarai di Kupang serta simpatisan, Jumat (26/2/2016) sekitar pukul 13.10 Wita, menjemput mantan Bupati Manggarai dua periode, almarhum Drs. Gaspar Parang Ehok, di Terminal Cargo, Bandara Internasional El Tari Kupang. Kehadiran almarhum diterima puluhan tokoh pemuda didampingi Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man.

Sosok almarhum Gaspar Ehok dinilai beberapa tokoh merupakan pemimpin yang spektakuler, ramah, rendah hati dan tidak membedakan suku, ras, agama, antargolongan (SARA). Kepergiannya memberikan rasa kesedihan mendalam bagi masyarakat Manggarai, khususnya dan NTT umumnya.

Pantauan Pos Kupang di Terminal Cargo Bandara Internasional El Tari Kupang, Jumat (26/2/2016), para penjemput yang hadir selain Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, ada juga tokoh rekan sejawat almarhum, seperti Drs. Frans Skera, Raimundus Lema, dr. Husen Pancratius, beberapa anggota DPRD NTT asal Daerah Pemilihan Manggarai, juga ratusan warga lainnya.

Sejak pukul 11.00 Wita, penjemput sudah siaga di terminal cargo menunggu kedatangan almarhum. Sekitar pukul 13.10 Wita, peti jenazah didorong petugas terminal dan diserahkan kepada keluarga untuk diusung menuju mobil ambulans dari Pemerintah Kota Kupang.

Wakil Walikota Kupang mendampingi proses pengusungan peti jenazah, terlihat istri almarhum dipapah beberapa ibu menuju mobil ambulans kemudian rombongan bergerak ke rumah duka di Jalan Hati Suci, Oebobo Kupang. Tidak ada upacara adat ataupun doa khusus pada penjemputan peti jenazah almarhum. Setiba di rumah pribadi almarhum, langsung ditempatkan di ruang tamu. Ratusan karangan bunga dari berbagai instansi, lembaga juga dari pribadi-pribadi terlihat dipajang di halaman depan rumah duka.

Salah satu tokoh Manggarai di Kupang,  Anton Ugak, seusai menjenguk almarhum mengatakan, sosok almarhum Gaspar Ehok merupakan pemimpin yang spektakuler. Masa jabatannya selama 10 tahun memimpin Manggarai yang belum dimekarkan menjadi tiga saat ini, dia sudah meletakan pembangunan yang terus dikenang generasi sekarang, contohnya infrastruktur jalan. Sosok almarhum merupakan pemimpin yang bekerja keras, membuka isolasi daerah-daerah di Manggarai.

"Saya menilai beliau tokoh yang spektakuler, bersahaja dan pekerja keras. Bayangkan, selama 10 tahun memimpin Manggarai, jalan-jalan beliau bangun. Sampai sekarang semua jalan zaman beliau tetap ada. Saya kira kita merasa kehilangan dengan kepergian beliau ini. Dia juga tokoh yang selalu memberikan pemikiran untuk pembangunan NTT," ujarnya.

Mantan Sekwilda Manggarai, Drs. WF Nope, seusai melayat almarhum, menyatakan keharuan mendalam setelah mendengar informasi bahwa mantan Bupati Manggarai ini telah meninggal dunia di Jogyakarta. Untuk itu, kata Nope, dirinya berkesempatan untuk bisa melihat almarhum. Dimatanya, kata Nope, almarhum merupakan orangtua, pemimpin yang ramah, rendah hati, tidak menyombongkan diri, tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan antargolongan.

"Saya bertugas menjadi Sekwilda Manggarai tahun 1998, jadi mengenal beliau sangat dekat. Memang banyak orang melihat beliau seperti 'angker' tetapi sesungguhnya tidak. Beliau sangat dekat dengan siapa saja dan membagi ilmu kepada siapapun. Kepemimpinannya sangat kuat, intelektualnya bagus, obyektif dan tidak berpihak. Saya menilai almarhum sosok yang mumpuni," kata Nope.

Dia menambahkan, kepergian almarhum tentu merupakan kehilangan tokoh hebat dalam menularkan ilmunya untuk generasi NTT mendatang. Tentu ilmu kepemimpinan yang selama hidup beliau tunjukan, dapat diilhami generasi berikutnya.

Kehilangan Dua Tokoh
Sementara Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengatakan, dalam bulan yang sama NTT kehilangan dua tokoh penting, yakni mantan Bupati Manggarai, Drs. Gaspar Parang Ehok dan Letkol (Purn) Is Tibuludji. Pemerintah dan seluruh masyarakat NTT sangat sedih dan kehilangan tokoh panutan yang selama ini telah menyumbangkan pemikirannya untuk pembangunan di daerah ini.

"Atas nama keluarga dan atas nama pemerintah juga seluruh warga NTT, turut berbelasungkawa atas berpulangnya kedua tokoh ini. Mereka telah mengabdikan dirinya untuk NTT. Pak Tibuludji tokoh NTT yang paling tua. Kita berikan penghormatan kepada beliau-beliau karena kita kehilangan. Pak Gaspar, kita semua tahu beliau sangat berjasa membangun NTT. Kita sedih tapi tentu semangat yang sudah mereka tunjukkan akan kita lanjutkan," ujar Gubernur Frans. (yon)


Mengelus Batu di Jalan Bari

PESAN singkat (SMS) dikirim seorang tua  warga Bari, Kecamatan Macang Pacar,
Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), masuk ke telepon genggam Drs. Christian  Rotok, Bupati Manggarai 2005-2010 dan 2010-2015, Jumat pagi (26/2/2016).
Pengirim pesan yang tak disebutkan  identitasnya menyampaikan  curahan hatinya  mendengar berita kepergian selamanya, Drs. Gaspar  Parang Ehok, Bupati Manggarai 1989-1999.  Gaspar menghembuskan nafas terakhir di RS Panti Rapih Yogyakarta, Kamis malam (25/2/2016).

Spontan, orang itu keluar dari dalam rumahnya menuju jalan  di depan rumahnya. Ia meratapi di jalan, kemudian  mengelus-elus batu bekas aspal lalu berujar," Pak Bupati Gaspar, di'a-di'a lako Dite.. Ho'o kid watu agu bekas pande dite. Sepenggal pesan penuh makna itu diteruskan  Chris kepada Pos Kupang mengingatkan kepemimpinan Gaspar di masa sulit dulu.

Sosok tegas, intelektual, disiplin, suka melanglang buana keluar masuk kampung, desa dan kecamatan bertemu rakyat. Chris yang mengenal dekat Gaspar  di  tahun 1970-an, mengatakan, Gaspar pantas menyandang tokoh pembangunan tiga wilayah Manggarai, sebelum Manggarai Barat dan Manggarai Timur dimekarkan. Ia pemimpin yang berintegritas dan pro rakyat.

"Dia selalu bilang, memimpin Manggarai harus pakai  hati yang bening supaya  bisa melihat semua persoalan dengan jernih," kata  Chris kepada Pos Kupang.
Bupati Manggarai, Dr. Deno Kamelus, S.H M.H, menilai Gaspar merupakan pribadi dan pemimpin yang komplit  dengan record pendidikan yang mendukung intelektualitasnya. Bekal yang besar membentuk visi yang kuat memimpin pemerintahan.

Gaspar memulai karier  pemerintahan dari staf  terendah sampai  ke jenjang jabatan pemerintahan tinggi yang membentuknya sebagai  pamong praja tulen. Bekal itu mengantarnya sebagai  pemimpin yang kuat memberi bimbingan,  mengarahkan  dan  menggerakkan.  Pribadi yang bisa membangun komunikasi  dengan semua pihak.
Membangun Manggarai di zaman yang sulit, Gaspar memanfaatkan semua sumber daya yang terbatas menggandeng  Gereja Katolik  membangun infrastruktur di  Manggarai yang luas dengan segudang masalah.

"Pribadi yang lengkap sehingga masyarakat Manggarai kehilangan tokoh panutan. Di  usianya  yang tua, dia jadi tempat bertanya, diskusi  dan meminta nasehat  membangun daerah," ujar Kamelus.

Sekda Manggarai, Manseltus Mitak, S.H,  menilai Gaspar pribadi visioner, tegas dan disiplin  yang  diwujudkan  dalam melaksanakan tugas.  Dia bahkan  telah membaca kebutuhan sumberdaya aparatur  yang dibutuhkan  jauh ke depan.

"Kami-kami ini menjadi pegawai dari golongan kecil di masa  Pak Gaspar. Dia membentuk karakter PNS  orang yang kuat  dan punya keperibadian. Laporan kegiatan camat harus menyertakan juga gotong-royong," kenang Manseltus, yang memulai karier  PNS  di Kantor Sospol Manggarai di masa Gaspar.

Silvanus Hadir yang menjadi juru penerangan (Jupen) di masa Bupati Gaspar, mengatakan, Gaspar punya visi kuat dengan program meretas isolasi wilayah, disiplin dan tegas memerintah. Segala sesuatu yang dikerjakan selalu fokus dan terukur, tak beda dengan yang digagas Deno Kamelus dengan fokus, terukur dan tuntas.
Rony Kaunang, mantan Kepala Cabang Dispenda NTT mengenang Gaspar sebagai pribadi konsisten dengan  ucapan dan keputusan, tak setengah hati. Apapun yang  telah diputuskan dan akan dikerjakan dipantau untuk memastikan apakah  telah dilaksanakan atau belum.

Membangun Manggarai  yang luas di masa sulit, Gaspar bergandengan dengan Gereja Katolik membangun dengan tanam batu yang masih kokoh sampai sekarang.  Dalam hal disiplin, Gaspar memberi contoh. Dia selalu hadir sebelum acara atau kegiatan apapun dimulai. (ius)

Buka Jalan Borong-Elar

MANTAN Bupati Manggarai dua periode itu juga dinilai Bupati Manggarai Timur, Drs. Yoseph Tote, M.Si,  sebagai tokoh inspirator pembangunan di wilayah Manggarai. Banyak hal yang dibuat oleh almarhum Gaspar Parang Ehok. Salah satu bukti pembangunannya adalah membuka isolasi wilayah Manggarai, khususnya membuka ruas jalan Borong-Elar Selatan dan Wae Lengga-Mok-Mukun yang saat ini telah dinikmati oleh masyarakat.

Bupati Tote yang ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (26/2/2016), mengatakan, banyak hal yang dibuat almarhum sejak ia menjabat sebagai Bupati Manggarai dan juga sebelum ia menjabat sebagai bupati.

Dikatakan Bupati Tote, Gaspar Parang Ehok dikenal tokoh inspirator pembangunan di wilayah Manggarai khususnya, dan tokoh NTT umumnya. Almarhum merupakan kebanggaan rakyat Manggarai Raya, secara khusus sebagai tokoh inspirator bagi pemimpin-pemimpin setelahnya. Almarhum juga melanjutkan karya pembangunan
yang belum tuntas dibangun oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Meskipun zaman itu masih sangat terisolasi dan kurangnya dana, namun beliau sangat berani bekerja. "Saya juga terinspirasi dari aplikasi kepemimpinan yang dilakukan beliau walaupun saat itu saya masih muda belia. Saya belajar banyak hal dari beliau, salah satunya kepemimpinan. Saya kenal almahrum sejak saya masuk SLTA. Saya lebih kenal pada saat kuliah, sebab beliau saat itu menjabat sebagai Sekretaris Walikota Kupang dan sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi NTT.

Banyak hal yang almarhum Gaspar Parang Ehok berikan. Salah satunya yang dia berikan, yakni  sebagai seorang pemimpin harus konsisten dan benar dalam kepemimpinan.

"Saya ingat waktu itu, kami ke Atambua 1981 reboisasi di Hutan Betun Malaka. Saya juga ingat kata-kata yang diungkapkan untuk memberikan inspirasi bagi kami. Katanya, kamu ini menjadi orang besar tapi kamu harus kuliah dan berorganisasi. Saat itu beliau menjadi ketua KNPI dan saya menjadi anggotanya," kata Bupati Tote.
Bupati Tote mengatakan, atasnama keluarga, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Matim ia mengucapkan belasungkawa atas kepergian almarhum Gaspar Parang Ehok. (rob)


Bupati Manggarai dari masa ke masa:
1924-1930: Kraeng Bagung
1959-1967: C. Hamboer
1967-1978: Frans Sales Lega
1978-1988: Frans Dula Burhan, S.H
1989-1999:  Drs. Gaspar Parang Ehok
2000-2005: Drs. Anthony Bagul Dagur, M.Si-Drs. Markus Djadur
2005-2010: Drs. Christian Rotok-Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H
2010-2015: Drs. Christian Rotok-Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H
2016-2021: Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H-Drs. Victor Madur


Sumber: Pos Kupang 27 Februari 2016 hal 9

Mengenang Kawan Gaspar Parang Ehok

Gaspa P Ehok
Oleh Daniel Dhakidae
Kepala LITBANG Kompas 1995-2005; Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Jurnal Prisma, Jakarta.

PERKENALAN dan perkawanan kami semasa menjadi mahasiswa SOSPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1970-an, berjalan begitu saja secara wajar dan alasannya juga wajar-wajar saja. Pertama, tentu saja sebagai sesama mahasiswa Flores.

Namun, terutama kedua, kesamaan ide dalam banyak hal baik terhadap situasi universitas seperti pendidikannya, kurikulumnya, dan yang paling mengikat kami semua adalah kesamaan pandangan mengenai Orde Baru Soeharto, dan militer.

Ketiga, karena dua alasan di atas kami juga sama dalam pandangan mengenai organisasi kemahasiswaan dengan identitas yang menjadi dasar, dalam hal ini apa yang harus dibuat oleh organisasi seperti PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia).

Dengan beberapa alasan seperti dikemukakan di atas itulah persahabatan yang wajar itu akhirnya menjadi ideologis, menyangkut suatu cita-cita besar, dalam arti kami bersama sejumlah teman yang akan dikisahkan di bawah ini menjadi comrades in arms, teman seperjuangan, dalam arti sesungguh-sungguhnya.

Gaspar dan Dunia Mahasiswa
Pengalaman penulis yang pahit di Ledalero menyebabkannya menarik diri ke dalam, dalam arti memutuskan hubungan dengan kegiatan di luar dunia kampus yang artinya menjadi mahasiswa yang "manis"--terima apa saja yang disuguhkan oleh dosen dengan diktat-diktat kuliahnya, menghapal, diuji, lulus, dan senang.

Namun, semuanya berubah total ketika mahasiswa ITB, Rene Coenrad, ditembak mati oleh tentara 1970, karena mahasiswa AKABRI kalah bermain bola. Pemberontakan mahasiswa menyala di semua kampus, termasuk kampus UGM. Penulis pun terjun ke dunia itu dan sejak itu berhenti menjadi mahasiswa yang duduk manis di ruang-ruang kuliah.

Inilah yang menyatukan kami semua, termasuk Gaspar, dalam suatu kelompok yang disebut waktu itu sebagai "kelompok independen"---dalam arti khusus yaitu tidak menjadi aktivis organisasi seperti HMI, PMII, GMNI, GMKI, PMKRI, dan lain sebagainya. Alasan sebetulnya sederhana yaitu bagaimana menjadi aktivis yang disegani; namun, tidak mengorbankan dunia akademi. Pengamatan sekeliling menunjukkan bahwa banyak aktivis organisasi yang menjadi tua sebagai mahasiswa, lama sekali menyelesaikan studinya sehingga diberi gelar MA, Mahasiswa Abadi, bukan Master of Arts.

Bagaimana memungkinkan itu?  Kami membentuk kelompok diskusi yang kami namakan "Kelompok Tiga Belas", karena terdiri dari tiga belas orang dan didirikan pada tanggal 13 Mei 1972. Sebagai mahasiswa tidak mampu kami memiliki kantor. Untuk itu paviliun kontrakan Gaspar dan Peter Hagul, yang agak besar di wilayah Kolombo, dijadikan kantor dan sekaligus menjadi ruang kuliah.

Tugas penulis ini adalah mengamati apakah ada para peneliti untuk disertasi doktor atau master atau profesor yang sedang meneliti di Yogya. Kalau ada penulis ini akan mendatangi mereka dan meminta berbicara dan berdiskusi dalam kelompok kami.

Sampai kami semua tamat kira-kira 15 peneliti doktor dan master yang berbicara di kelompok kami yang terdiri dari mereka yang kelak menjadi doktor-doktor terpandang dalam ilmunya masing. Nama-nama yang bisa disebut di sini adalah Dr. Peter McCawley, yang kelak menjadi deputi Perdana Menteri Australia, dari partai buruh; Dr. Chris Manning, dua-duanya ekonom; Profesor Niels Mulder, antropolog Belanda, yang melakukan studi banding antara kebudayaan Thailand dan Jawa; Marcell Bonnef dari Universitas Sorbonne, Perancis, yang melakukan studi tentang komik di Indonesia; dari Indonesia Yuwono Sudarsono yang baru saja menyelesaikan studi Master di Berkeley, California, Amerika Serikat.

Dengan demikian ketidakpuasan kami dengan kampus formal dipenuhi oleh studi sendiri di dalam kelompok studi seperti itu. Gaspar memainkan peran penting di sana. Mendengar para doktor, master, dan professor berbicara tentang tesisnya dengan sendirinya merangsang ambisi kami masing-masing juga untuk meraih gelar tertinggi di dunia akademia itu.

Nama-nama yang bisa disebut adalah Dr. Peter Hagul, Amerika Serikat; Dr. Mochtar Pabottingi, Amerika Serikat; Dr. Parakitri T. Simbolon, Belanda; Dr. Hotman Siahaan, Airlangga; dan Gaspar yang menggondol gelar master dalam administrasi publik dari Jerman, dan saya sendiri dari Universitas Cornell, Amerika Serikat.
Ketika pulang dari Jerman saya bercanda kepada Gaspar: "Gas, dari semua gelar teman-teman gelarmu itu yang paling menakutkan, Magister Rerum Publicarum", MA administrasi negara, dari Hochschule für Verwaltungswissenschaften di Speyer, Jerman, karena panjang ...dan dia hanya tertawa terbahak-bahak dengan gaya khasnya yang memecah keheningan.

Gaspar dan Kongres PMKRI Solo 1971
Aktivitas politik mahasiswa Gaspar tidak banyak diketahui orang. Pertama dan terutama adalah masuk menjadi anggota PMKRI meski Gaspar tidak pernah puas dengan organisasi itu. Namun, kami tetap mendesak agar dia maju menjadi ketua cabang PMKRI Yogya, dan memang dia terpilih menjadi ketuanya.

Gebrakannya terjadi di kongres PMKRI Solo, 1971. Tuntutan mahasiswa Yogyakarta pada waktu itu adalah mengubah orientasi PMKRI sebagaimana tercantum dalam namanya yaitu bukan perhimpunan mahasiswa Katolik Republik Indonesia akan tetapi menjadi Perhimpunan Katolik Mahasiwa Republik Indonesia.

Kalau yang pertama adalah organisasi tertutup, ekslusif, mahasiswa katolik saja, yang kedua adalah organisasi terbuka, inklusif, bagi siapa saja seraya mengundang siapa saja ke dalam organisasi Katolik itu. Orientasi organisasi tentu saja prinsip katolik akan tetapi anggotanya terbuka, persis seperti PKB zaman Gus Dur 27 tahun kelak, menerapkan apa yang kami mahasiswa menuntut tahun 1971 di Solo, Jawa Tengah.

Sebelum reformasi, 1998, Gaspar sudah jauh-jauh hari menuntut keterbukaan itu yang berarti lebih maju seperempat abad dibandingkan dengan kesadaran bangsa ini.
Tentu saja seruan semacam itu seperti menabrak dinding karena ditolak mentah-mentah oleh PMKRI pusat yang pada waktu itu dipimpin oleh Chris Siner Key Timu. Jakarta kami anggap konservatif, dan memang tuntutan Gaspar bergerak sejauh itu yaitu kalau perlu nama "katolik" dibuang dari nama organisasi, sehingga organisasi lebih menjadi seperti garam yang hancur-lebur ketika masuk ke dalam air masyarakat, dan diketahui oleh penyantab makanan hanya rasa asinnya sehingga organisasi itu benar-benar lebur menjadi sal terrae, garam dunia.

Kedua, kesan bahwa PMKRI menjadi organisasi dansa-dansi yang harus hilang, dan menjadi organisasi yang menyerahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan akademia, di luar perkuliaahan ala kampus akademia sedangkan dansa-dansi hanya menjadi pemanisnya. Semuanya ini didukung penuh oleh mentor PMKRI Romo Depoortére yang menjadi moderator PMKRI Yogyakarta.

Tentu saja dua-dua tuntutan "gila" itu tidak bisa memenangkan hati para peserta kongres. Namun, diskusi yang dirangsangnya dahysat sekali, sehingga acara tidak bergerak ke mana-mana sampai tengah malam.

Gaspar dan Mingguan Berita SENDI
Ketika gagal di Solo atau mungkin karena gagal di Solo muncul ide baru lagi dari Gaspar sendiri. Katanya, tidak mungkin mengubah organisasi seperti PMKRI dalam tempo semalam. Karena itu harus dicari jalan lain yaitu memiliki suatu organ yang bukan milik PMKRI, alias independen. Seperti "pungguk merindukan bulan" datanglah saat yang hampir tidak pernah kami bayangkan. Gaspar memfasilitasi pertemuan antara Moderator PMKRI Romo Depoortére dan kami dari kelompok independen.

Dalam pertemuan itu Romo Depoortére mengatakan sebagai berikut. Ibunya barus saja meninggal,sedangkan ayahnya sudah lama meninggalkan mereka,  dan dia adalah anak tunggal yang mewarisi harta peninggalan ayah dan ibunya. Dia tidak bersedia menyerahkan harta itu kepada gereja dan juga tidak bagi PMKRI, akan tetapi harus dipakai di dalam suatu kegiatan sosial yang berguna bagi orang banyak. Apakah kelompok independen ada ide untuk membuat sesuatu?

Ini sangat menantang kami. Setelah berdiskusi dan atas desakan Gaspar kami memilih memakai sejumlah uang dari romo itu untuk menerbitkan mingguan yang kelak kami berikan nama SENDI, yaitu titik temu antara dua tulang yang membagi-bagi fungsi sehingga menjadi pusat tenaga yang berguna bagi seluruh tubuh.

Mingguan itu kami terbitkan pada bulan Oktober 1972 yang mengejutkan Yogyakarta dengan gaya dan isi jurnalistik yang khas mahasiswa, penuh kejelian, dan kengawuran sekaligus, keberanian yang lebih berarti nekad, tanpa merasa takut apa pun terhadap Orde Baru. Dengan editorial berani kami menjalankan sesuatu yang berada di luar jurnalisme pada umumnya yaitu menjadikan SENDI bukan saja menjadi pusat informasi akan tetapi menjadi pusat aksi.

Dalam hubungan itu SENDI menggelar demonstrasi besar untuk menolak proyek Taman Mini Indonesia yang kami anggap pada waktu itu sebagai pemborosan karena kebutuhan dasar rakyat belum terpenuhi. Dinamika jurnalistik SENDI dan dinamika politik di luarnya saling mengisi sehingga SENDI bergerak sejauh itu untuk mempersoalkan preambul UUD 1945, dan memperolok-oloknya seperti "... bahwa sesungguhnya hasil kemerdekaan itu ialah hak segelintir orang dan oleh sebab itu, maka penindasan dan kesewenang-wenangan layak terjadi karena sesuai dengan kediktatoran dan militerisme".

Saya sendiri sudah menduga bahwa preambul itu akan menjadi soal besar, dan tidak perlu menunggu terlalu lama. Dalam apelnya KODAM Diponegoro di Semarang mengatakan bahwa ada surat kabar di Yogya yang sudah bergerak di luar batas dan akan diambil tindakan. Dua hari berikutnya penulis ini menerima telegram dari Departemen Penerangan RI yang mengatakan "bahwa dengan ini penerbitan saudara kami tutup untuk sementara."

Semua kami tahu apa artinya "sementara" untuk Orde Baru yaitu ditutup tanpa ketentuan waktu alias ditutup selama-lamanya pada awal tahun 1973. Kelak pemimpin redaksinya, Drs. Ashadi Siregar, diadili dan dijatuhi hukum penjara lima tahun, meski tidak perlu dijalankan.

Dengan semua yang dikatakan di atas dengan tajam kita bisa meneropong sosok seperti apa Gaspar Parang Ehok dalam dunia pendidikan, pergerakan, dan dunia kemahasiswaan.

Pada dasarnya dia adalah seorang pemberontak yang bagi kami sahabat-sahabatnya adalah kawan dalam perjuangan, comrade in arms, yang karena pragmatisme untuk memajukan tanah asalnya Nusa Tenggara Timur menyerahkan dirinya menjadi pejabat, yang juga dikerjakannya dengan sepenuh hati, karena sejatinya dialah seorang tulus dan baik hatinya. Adios Amigo! Adios my Friend! Selamat Jalan Kawan! *

Sumber: Pos Kupang 29 Februari 2016 halaman 4

LGBT Butuh Pengakuan

KUPANG, PK -Kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Kota Kupang serta NTT umumnya, membutuhkan pengakuan identitas dan perlakuan yang sama  dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Meski berbeda orientasi seksual tapi LGBT merupakan ciptaan Tuhan dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya.

Demikian harapan sejumlah lesbian, gay, biseksual, waria, transgender yang ditemui Pos Kupang di tempat berbeda hari Jumat hingga Senin (12-15 Februari 2016). Mereka di antaranya, Karen, Natacya Golsalves Nahak, Zamantha Karen, Riby Cesia, Ridho Carly, Olga Sabrina Victoria de Kolag, Santi Dewi dan Verra Gaya Trie.

Karen, seorang waria di Kupang, menilai warga Kupang sudah lebih cerdas menilai keberadaan waria dibandingkan sepuluh tahun lalu. "Kalau dulu, masyarakat masih memadang waria sebagai orang aneh. Tapi sekarang, masyarakat sudah lebih cuek dengan kehadiran waria. Tapi diskriminasi terhadap waria masih tetap ada," kata Karen, Sabtu (13/2/2016).

Menurut dia, waria lebih bisa diterima masyarakat karena sejak lama waria sudah tampil dalam kehidupan bermasyarakat dan banyak mengikuti kegiatan sosial. Berbeda dengan kaum lesbian, gay, biseksual dan transeksual (LGBT) yang masih menutup diri hingga kini. "Harapan saya masyarakat bisa benar-benar menerima keberadaan waria termasuk LGBT. Suka atau tidak suka, diakui atau tidak diakui, waria dan LGBT ada di mana saja,  rumah, di lingkungan kerja, lingkungan sosial, lingkungan gereja dan lingkungan kemasyarakan lainnya," kata alumni Fakultas Hukum UKAW Kupang tersebut.

Karen menilai pemerintah pun masih mendiskriminasi LGBT dalam berbagai bidang kehidupan. Saat melamar kerja, waria kerap ditolak karena berpenampilan 'cantik'.  "Waria  adalah laki-laki cantik, inilah salah satu alasan waria tidak diterima dalam bekerja. Tolong, jangan lihat sampul atau covernya, tapi lihat kualitas dan kemampuan kami, kaum LGBT," kata Karen.

Karen berharap LGBT meningkatkan kualitas SDM agar bisa berprestasi dan mendapat apresiasi positif dari masyarakat. "Mau akui silahkan, tidak juga silahkan. LGBT jangan tunggu diakui, tapi ayo berprestasi agar keberadaan kita bisa diakui. Sebab LGBT bisa diberdayakan dan punya potensi yang sama dengan kaum heteroseksual," kata Karen.

Keren menolak pandangan yang sering mengaitkan tindak kejahatan dengan orientasi seksual pelaku. "Kalau ada tindak kejahatan, pasti media mengaitkan dengan orientasi seksual si pelaku. Padahal kejahatan itu kan bisa dilakukan oleh siapa saja," demikian Karen.

Natacya (36), mengatakan, batasan pekerjaan membuat waria hanya bisa bekerja di bidang tertentu seperti salon atau tukang masak. Bahkan ada yang tidak punya pekerjaan tetap sehingga kerap dimanfaatkan oleh orang tertentu untuk menjerumuskan kaum waria ke hal negatif, seperti trafficking, narkoba dan prostitusi. "Masih ada pandangan bahwa waria menyediakan perempuan yang bisa `dipakai'. Anggapan keliru ini sangat memojokkan waria," kata pemilik Natacya Salon tersebut.

Riby Cesia (26), warga Kabupaten Sikka, punya kesan pihak tertentu manfaatkan kaum waria untuk kepentingan politik saja. "Contohnya, saat Pilkada di Kabupaten Sikka, waria dicari,  dikumpulkan, dirangkul untuk mengikuti berbagai kegiatan. Tapi setelah Pilkada, sudah menang, keberadaan waria tidak lagi diakui. Waria apalagi LGBT tidak pernah dilibatkan dalam program, pemerintah," kritik Riby, ratu Waria Sikka tahun 2013.

Waria lain di Maumere yakni Olga, Dewi dan Vera mengatakan, LGBT punya potensi dan kemampuan yang tidak kalah dengan kaum heteroseksual. Oleh karena itu seharusnya diposisikan sama dengan warga negara lainnya. "Tolong lihat keberadaan waria, LGBT. Akuilah kalau kami ada dan berikan kami kesempatan, libatkan kami dalam kegiatan pembangunan di daerah," kata pemilik Olga Salon ini.

Olga menyebut banyak waria hanya lulusan SD, SMP atau putus sekolah sehingga kualitas SDM rendah. Sedangkan program pemberdayaan masyarakat dari pemerintah hanya fokus bagi kelompok heteroseksual. Dewi berharap pemerintah memberikan bantuan kepada waria dan LGBT. "Saya ingat sepuluh tahun lalu itu pemerintah bagi-bagi bantuan alat salon dan alat masak untuk waria. Tapi sekarang program itu sudah tidak ada lagi," kata Olga yang jago masak ini.

                Hak yang Sama
Mengenai hak lesbian, Ketua Organisasi Berbasis Komunitas (OBK) Lesbian Biseksual Transgender (LBT) Female to Male di Kupang, Charly mengatakan, lesbian juga butuh pengakuan dari masyarakat dan negara. Lesbian punya hak yang sama dengan warga heteroseksual lain. "Ada sejumlah teman dikeluarkan dari pekerjaannya karena ketahuan dia lesbian. Hal ini harusnya tidak terjadi karena lesbian juga manusia dan punya hak untuk
bekerja," kata Charly.

Karena alasan itulah, kata dia, kaum lesbian belum berani tampil sebagaimana waria.  "Waria yang sudah lebih dahulu berani mengaktualisasikan diri saja sampai sekarang masih dapat diskriminasi dari masyarakat dan negara, sehingga lesbian masih sangsi menunjukkan jati dirinya," kata Charly.

Menurut Charly, tindak kekerasan terhadap lesbian itu tidak hanya terjadi di luar rumah. "Banyak lesbian yang dipaksa dan akhirnya terpaksa menikah dengan pria. Padahal lesbian tidak memiliki perasaan dengan pria. Akibatnya, setiap kali berhubungan suami istri, para lesbian merasa seperti diperkosa. Inilah keluhan yang disampaikan sejumlah teman saat berkumpul dan berdiskusi," kata Charly.

Menurutu Charly, ratusan lesbian yang berada pada 20 titik di Kupang rutin berkumpul untuk diskusi, nonton bareng film motivasi, berbagi pengalaman dan saling menguatkan. "Untuk sekarang, kegiatan kami masih sebatas penguatan intern bagaimana kami bisa lebih dulu menyadari keberadaan, bisa tahu dan pahan tentang LGBT, sehingga bisa siap menghadapi berbagai tantangan bahkan akhirnya mau dan bisa membuka diri kepada masyarakat," kata Charly.

Menurut Charly, sama seperti waria, gay dan biseksual atau trangendser, lesbian juga tidak menuntut diperlakukan secara istimewa oleh masyarakat dan negara. "Kami, lesbian, LGBT hanya minta tolong, akuilah hak dan keberadaan kami, lihat kemampuan kami dan berdayakanlah kami.  Kami ini ada, jangan anggap kami tidak ada dan jangan lagi mendiskriminasikan kami," harap Charly.

Hal senada disampaikan Ketua Komunitas Independen Man of Flobamora (Imof) Kupang, Ridho, mewakili sekitar 150-an gay di Kupang. Para gay juga masih sebatas berkumpul secara intern untuk menguatkan kapasitas anggota. Menurut Ridho, banyak gay yang terpaksa menikahi perempuan karena paksaan dan ingin menyenangkan orangtua. Akhirnya mereka hidup dalam kepura-puraan dan tersiksa setiap waktu.

"Harapan kaum gay sangat sederhana. Masyarakat tolong pahami orientasi seksual kami. LGBT bukan penyakit. Kami tidak sakit. Terima dan akui kami ini ada, manusiakan kami selayaknya manusia dan warga negara," kata Ridho yang berharap agar di Kupang dan di NTT tidak ada kekerasan dan diskriminasi yang mengatasnamakan agama atau kelompok tertentu untuk memojokkan dan menyerang HAM dari kaum LGBT. Menurut Ridho, jika tidak memahami LGBT dengan baik jangan  langsung  menilai dan menghakimi LGBT. Agama jangan dijadikan tameng dari cara berpikir yang salah kemudian menghalalkan kekerasan terhadap LGBT. "Agama dan dosa itu urusan vertikal manusia dengan Tuhannya," kata Ridho. (vel)

Dia Tetap Anak Saya

WILHELMUS Nahak (65), ayah Natacya Gonsalves Nahak, dan Marince Lulu, ibu Zamantha Karen, mengaku menerima pilihan hidup yang telah diambil anaknya untuk menjadi seorang wanita pria (waria). Wilhelmus mengatakan, dia sudah melihat perubahan Natacya saat SMP ketika Natacya memotong alisnya. "Saat itu dia baru pulang liburan dari Kupang dan kembali ke Timtim (Timor Leste, Red). Saya tanya, katanya alis begitu lagi ngetrend di Kupang," kata Wilhelmus, di kediamannya, Minggu (14/2/2016) malam.

Sejumlah teman Wilhelmus terus membicarakan perubahan tampilan Natacya. "Penyanyi Tony Parera pernah bilang ke saya, Emus, anakmu cantik sekali. Saya tanya, siapa? Dia bilang Natacya, tapi saya bingung Natacya siapa? Tony bilang Natacya itu anak laki-laki saya," kata pria asal Kabupaten Belu ini.

Lama-kelamaan Wilhelmus melihat sendiri perubahan fisik Natacya dan hal itu tidak dipersoalkannya. Wilhelmus mengaku tidak malu memiliki anak waria. "Kalau saya malu, apalagi kalau saya menyiksanya, memukulinya, maka pasti saya akan berdosa. Baik tidak baik, Natacya tetap anak saya dan saya bangga meski dia seorang waria," kata kakek lima cucu ini.

Menurut Wilhelmus, dulu dia menduga waria adalah penyakit keturunan karena keluarganya juga ada yang waria. Namun, akhirnya dia tahu dan paham bahwa waria itu bukan penyakit tapi karena pilihan hidup setiap orang.

Wilhelmus menilai hal itu ujian iman baginya dan dia selalu berpesan agar Natacya terus menjaga diri dan tidak bikin masalah hingga berurusan dengan hukum. "Saya pesan dia harus bekerja secara halal agar bisa punya penghasilan sendiri dan tidak membebankan keluarga. Harus rajin ke Gereja, berdoa, dan berbuat baik bagi saudara dan orang lain. Jangan sakiti hati orang," kata Wilhelmus.

Mengenai pacar anaknya, kata Wilhelmus, dia sering berpesan kepada laki-laki yang memacari anaknya agar bisa menjalin hubungan dengan baik. Jika cocok silahkan terus bersama tapi jika tidak cocok,  berpisahlah dengan baik dan tidak saling dendam.

"Saya serahkan semua kepada Natacya, jika dia mau kembali sebagai laki-laki normal dan memberikan keturunan kepada saya, saya bahagia. Tapi kalau dia mau tetap jadi waria dan hidup bersama pria, saya juga bahagia. Itu pilihan hidupnya," kata mantan pegawai RRI Timtim ini.

Wilhelmus berharap agar orangtua lain yang memiliki anak dengan orientasi seks yang berbeda seperti LGBT, hendaknya bisa menerimanya dan tidak melakukan tindakan kekerasan. "Memukul tidak menyelesaikan masalah. Memaksa dia untuk kembali ke kodratnya juga tidak bisa karena itu pilihan hidupnya. Biarkan anak kita memilih," ujarnya.

Hal senada disampaikan Marince Lulu. "Awalnya memang berat menerima kondisi ini. Tapi kami bisa melaluinya dan sangat menghargai pilihan Karen sehingga kami tidak pernah memarahi apalagi memukulinya. Hanya kami tetap punya kerinduan Karen bisa kembali menjadi laki-laki. Biarkan Tuhan dan waktu yang menjawabnya," kata Marince, Rabu (17/2/2016) sore.

Menurut Marince, apapun keberadaan dan pilihan Karen, Karen tetap anaknya. "Orang lain mau bilang apapun, biang anak saya meme, bilang anak saya banci, saya tidak peduli. Karen tetap anak yang saya cintai dan banggakan," kata Marince.
Marince mengaku sangat bangga kepada Karen karena tidak pernah lupa berdoa dan memberikan perpuluhan ke Gereja. "Saya bangga banyak kegiatan positif yang dilakukannya. Dan setiap kali menerima uang dalam amplop, dia selalu memanggil saya di kamar, kami berdoa lalu dia minta saya yang buka amplopnya dan langsung memisahkan perpuluhan untuk Gereja," kata Marince.  (vel)

NEWS ANALYSIS
Yuli Rustinawati
Ketua Arus Pelangi Jakarta
Bukan Perlakuan Khusus

LESBIAN, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) sebenarnya pilihan orientasi seksual yang diambil oleh setiap orang. Dan, hendaknya pilihan itu dihargai dan tidak dipersoalkan apalagi sampai diskriminasi atau kekerasan terhadap mereka. Bahkan seseorang menjadi LGBT itu sebenarnya sudah terbentuk sejak ia berupa janin di dalam kandungan.

LGBT bukan gaya hidup atau fenomena yang datang tiba-tiba dan menghilang. Tapi LGBT sudah ada sejak zaman dahulu, sekarang dan selamanya. LGBT itu bukan penyakit sehingga tidak bisa disembuhkan. Menjadi berbeda karena memilih orietatasi seksual yang berbeda itu tidak salah dan tidak dosa. Perbedaan itu harus dihargai dan diakui. Seperti perbedaan dalam suka akan warna tertentu atau berbeda dari segi fisik, kamu punya rambut lurus, saya rambut keriting. Yang terpenting bagaimana setiap orang yang berbeda itu bisa menyadari dirinya dan orang lain pun bisa menyadari dan mengakui keberadaannya, kemudian bisa mendapat perlakuan yang sama.

Namun kenyataannya, di Indonesia, keberadaan LGBT yang dinilai berbeda dengan kaum heteroseksual itu masih mendapat diskriminasi dan kekerasan dalam lingkungan keluarga maupun sosial. Tahun 2013,  Arus Pelangi pernah melakukan penelitian mengenai LGBT di tiga  kota besar di Indonesia yakni di Jakarta, Yogyakarta dan Makassar.

Hasilnya menyebutkan ada 89,3 persen kaum LGBT mengalami lima kekerasan. Yakni kekerasan fisik, psikis, seksual, budaya dan ekonomi. Hal ini menunjukkan LGBT masih rentan di ruang publik, belum semua masyarakat termasuk pemerintah menerima dan mengakui keberaaan LGBT dan memperlakukannya sebagaimana WNI.

LGBT hanya ingin diakui haknya sebagai warga negara, LGBT ada bukan untuk menerima siksaan, pelecehan dan diskriminasi. Tidak boleh ada manusia yang berhak mendiskriminasi LGBT dan mengatakan LGBT adalah golongan pendosa karena menyalahi kodratnya. Orientasi seksual adalah pilihan LGBT dan tidak boleh ada yang ikut campur.

Pemerintah harusnya tidak usah berbuat apa-apa terhadap LGBT, artinya tidak perlu ada perlakuan khusus terhadap LGBT. Perlakukan LGBT sebagai manusia dan WNI sebagaimana warga heteroseksual lain. Banyaknya diskriminasi dan tindak kekerasan terhadap LGBT terjadi karena faktor interen dan eksteren. Faktor interen LGBT belum tahu dan paham keberadaannya sehingga tidak berani membela diri. LGBT rendah diri, menutup diri. Apalagi dengan tekanan sosial, agama dan budaya maka LGBT belum berani menjadi dirinya sendiri. Juga rendahnya SDM LGBT karena tidak menyelesaikan sekolah lantaran selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif, dibully, diejek sebagai orang aneh. Akibatnya masa depan LGBT tidak lebih baik dari yang lain. Sedangkan faktor eksternal terjadinya diskriminasi terhadap LGBT karena masyarakat belum paham dengan benar tentang LGBT.

Mengekang pilihan orientasi seksual LGBT dan memaksa LGBT kembali ke kodratnya akan berdampak buruk. Langkah tepat yang harus dilakukan yakni bagaimana membuat kaum LGBT, masyarakat dan pemerintah bisa memahami dengan  benar tentang LGBT sehingga penafsiran dan tindakan yang dilakukan untuk menyikapi keberadaan LGBT itu tepat.

LGBT harus mulai membangun kepercayaan diri untuk bisa menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Memang tidak mudah mengungkapkan jati diri sebagai LGBT, tapi hal ini harus dilakukan agar tidak hidup terus dalam kebohongan akibat tekanan masyarakat. LGBT harus  mulai membuka diri kepada sesamanya, belajar, berdiskusi dan saling menguatkan satu sama lain. Di setiap daerah harus ada komunitas LGBT yang bisa mewadahi dan bisa meningkatkan kapasitas LGBT.

Arus Pelangi siap membantu memberikan penguatan melalui pelatihan dan lainnya baik kepada LGBT maupun masyarakat. Sebab visi Arus Pelangi adalah terus mendorong terwujudnya tatanan masyarakat yang bersendikan pada nilai-nilai kesetaraan, berperilaku dan memberikan penghormatan terhadap hak-hak kaum LGBT sebagai hak asasi manusia. Misi Arus Pelangi menyadarkan, memberdayakan dan memperkuat kaum LGBT yang tertindas. Berperan aktif dalam proses perubahan kebijakan yang melindungi hak-hak LGBT. Berperan aktif dalam proses penyadaran terhadap masyarakat serta proses penerimaan kaum LGBT di tengah masyarakat.

Pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah, hendaknya ikut bertanggungjawab untuk menyadarkan setiap orang menerima dan mengakui keberadaan LGBT. Semboyan Negara RI yakni Bhineka Tunggal Ika berlaku juga terhadap perbedaan orientasi seksual yang dimiliki kelompok minoritas kaum LGBT.  (vel)


Sumber: Pos Kupang 19 Februari 2016 hal 1

Sikap dan Pandangan Gereja Soal LGBT

PARA tokoh agama di NTT memiliki pandangan khas tentang  LGBT. Bagi Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Dr. Mery Kolimon, pembicaraan mengenai LGBT memang masih sensitif dalam masyarakat maupun Gereja. Seringkali masyarakat  tidak mau berbicara tentang hal ini meskipun LGBT itu ada di tengah-tengah masyarakat.

"Saya secara pribadi berpendapat bahwa sebagai Gereja dan masyarakat, kita harus belajar menerima keberadaan mereka di tengah kita. Jangan melakukan kekerasan baik secara verbal, fisik, psikologis, dan ekonomi terhadap mereka. Terima mereka sebagai ciptaan Allah yang mulia, yang memiliki kekhasan tersendiri di antara kita," kata Pdt. Mery, Senin (15/2/2016).

Menurut Mery, sampai hari ini GMIT belum membuat pernyataan resmi tentang LGBT. Karena masih harus melakukan studi serius terhadap hal ini kemudian membuat pendirian teologis secara bersama sebagai Gereja.

"Bagi saya sendiri, LGBT tidak perlu dikembalikan kepada kodratnya karena mereka juga adalah ciptaan Allah yang utuh.  Masyarakat jangan menghakimi dan melakukan kekerasan terhadap kaum LGBT. Belajarlah menerima mereka sebagai ciptaan Allah yang mulia. Mereka juga diciptakan dalam citra dan gambar Allah sebagaimana kaum heteroseksual," katanya.

Mery mendorong para orangtua dapat menerima keberadaan anak-anak mereka yang LGBT itu dengan penuh kasih sayang dan menerima seutuhnya, tanpa memaksa anak mereka mengubah diri. Untuk pemerintah, Mery menilai negara bertugas melindungi seluruh warga negara tanpa kecuali terhadap LGBT. "Kami harap negara tidak berlaku diskriminatif terhadap kaum LGBT. Di hadapan hukum, semua warga negara memiliki hak yang sama terhadap akses pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, peluang kerja dan lainnya. Jangan ada warga bangsa yang diperlakukan secara diskriminatif apapun alasannya," kata Mery.

Mery Kolimon berharap LGBT dapat belajar menerima diri apa adanya sebagai ciptaan Allah yang mulia. Buatlah hal-hal yang positif dalam jemaat dan masyarakat. Berikan sumbangan yang terbaik dari potensi khas yang dimiliki. "LGBT hindarilah melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain," katanya.

Sebelum GMIT memiliki sikap jelas mengenai tempat kaum LGBT dalam jemaat, Mery menyarankan  para pendeta tetap melayani LGBT tanpa membedakan mereka dari jemaat lain. "Beri mereka ruang untuk berpartisipasi dalam pelayanan jemaat sesuai talenta yang ada pada mereka. Didik anggota jemaat yang lain untuk tidak melakukan berbagai bentuk kekerasan terhadap kaum LGBT," kata Mery.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Abdul Kadir Makarim mengatakan, LGBT haram hukumnya dalam Islam. Kaum LGBT hendaknya kembali ke jalan yang benar, kembali ke kodratnya sebagai laki laki atau perempuan.

"Dalam ajaran Islam, lesbian, gay, biseksual dan transgender dilarang seperti dalam hadits  yang diriwayatkan oleh At Tarmidzi dan Achmad dari Ibnu Abbas yang berbunyi: Dilaknat oleh Allah orang yang melakukan  perbuatan kaum Nabi Luth (homo seksual) dan siapa saja yang kalian dapati melakukan  perbuatan kaum Luth, bunuhlah subyek  dan obyeknya," kata Abdul Kadir Makarim, Selasa (16/2/2016).

Abdul Kadir mengatakan, transgender merupakan perilaku yang dilaknat dalam Islam  sebagaimana hadist riwayat Abu Dawud at  Tarmidzi, Ibnu Majah dan Achmad bahwa "Rasullullah SAW telah melaknat wanita yang  menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita."

"Karena itu dalam Islam, ide dan perilaku LGBT jelas menyimpang dan abnormal. LGBT adalah ide haram dan perilaku LGBT adalah  dosa. Olehnya ide dan perilaku LGBT tidak boleh tersebar di masyarakat. Negara harus menjaga agar LGBT dibersihkan dari pikiran  masyarakat  Indonesia," jelas Abdul Kadir.

Uskup Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, melalui Romo Gerardus Duka, Pr mengatakan, ajaran moral Katolik menegaskan LGBT merupakan penyelewengan terhadap martabat dan tujuan luhur dari seksualitas dan perkawinan manusiawi. Moral Katolik menegaskan LGBT masuk dalam penyelewengan besar. Dan, tradisi suci Gereja dalam ajarannya tentang "Persona Humana" (Pribadi Manusia) juga menegaskan bahwa LGBT melawan hukum kodrat. Bahwa setiap tindakan seksualitas harus terbuka kepada kelahiran baru. Artinya, LGBT tidak memungkinkan kelahiran baru karena mengabaikan tindakan persetubuhan.

Persetubuhan merupakan ungkapan komunikasi cinta suci paling mendasar dan mendalam dari pria dan perempuan dengan tujuan kelahiran baru (spiritualitas Tubuh manusia) ada dalam relasi terbuka pria dan perempuan. Selain itu, LGBT tidak lahir dari kebutuhan yang benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual.
"Ajaran Katolik tidak membenarkan LGBT. Ada dua hal yang perlu dibedakan yakni antara kecenderungan sebagai LGBT dan dan menjadi pelaku LGBT. Kalau masih kecenderungan, belum masuk dalam kategori dosa karena belum masuk dalam aktivitas seksual. Karena kencenderungan itu merupakan objectifve disorder (ketakberaturan objektif) yang tak wajar," kata Romo Dus.

Namun,  dalam kenyataan bahwa LGBT itu ada sehingga Gereja tidak menolak kehadiran LGBT. Namun Gereja tak membenarkan perbuatannya. "LGBT tetap dihargai oleh Gereja dan menjadi bagian dari persekutuan Gereja yang sama dengan warga Gereja lain. Namun perbuatan LBGT tidak diterima oleh Gereja karena ajaran Moral Katolik yang menekankan martabat seksualitas dan persona humana," kata Romor Dus, Kamis (18/2/2016).

"Pendapat pribadi saya, LGBT adalah manusia dengan hak-hak yang juga tetap harus dihargai sambil tetap tidak mengabaikan tanggungjawabnya di dalam melaksanakan hidup secara sempurna di hadapan Tuhan dan lingkungan hidup bersama. Artinya, LGBT memiliki hak diberlakukan sesuai martabatnya. Tetapi tetap menegaskan bahwa tidak bebas nilai, dalam hal ini ajaran perihal martabat manusia, dan tujuan seksualitas perkawinan. LGBT adalah manusia, pribadi yang harus kita hargai dan cintai dengan martabatnya," kata Romo Dus.

Menurut Romo Dus, LGBT bukan penyakit tapi lebih sebagai penyelewengan terhadap moral seksual. Ada dua ciri yang hadir dalam hidup bersama, yakni sebagai kodrat tetapi juga oleh lingkungan (diri sendiri atau sosial). Yang bersifat kodrat  sulit untuk 'disembuhkan', sementara akibat lingkungan bisa dibantu untuk tidak berperilaku serupa.

Romo Dus menyarankan agar pemerintah tidak perlu menyingkirkan LGBT sebagai bagian utuh dari masyarakat. LGBT harus mendapat penghargaan dan hak yang sama dengan masyarakat lainnya. "Untuk itu Pemerintah perlu memberi perhatian baik secara politis sosial dan juga ekonomi demi membantu menemukan martabat seksualnya secara benar. Pendekatan hukum kurang manusiawi karena LGBT adalah manusia yang adalah warga masyarakat yang sama hak dan kewajibannya," kata Romo  Dus.

Masyarakat juga perlu menerima LGBT sebagai pribadi yang sama sambil membantu mereka memahami dan menghargai martabat seksualitasnya dengan benar. LGBT tidak boleh dipinggirkan tetapi diintegrasikan dalam masyarakat.

Untuk Gereja dan pelayan Gereja, demikian Rm. Dus, diharapkan bisa hadir sebagai gembala  bagi semua orang termasuk LGBT. "Bawalah LGBT untuk menerima dan menjumpai nilai pribadinya di dalam seksualitasnya sebagai ciptaan Tuhan untuk digunakan demi kelangsungan perkawinan suci. Pendekatan kerahiman adalah jalan mengantar mereka yang LGBT menjumpai dirinya, martabatnya secara benar, bukan sanksi yang membuka ruang yang 'luka' bagi mereka. Sapaan dan motivasi adalah pastoral yang dibutuhkan. Untuk LGBT agar dapat hidup dan membaur dengan masyarakat umumnya.  "LGBT harus berani berada bersama masyarakat umum dan jangan menjadikan diri sebagai warga yang lain dari masyarakat umumnya," kata Romo Dus. (vel)

Sumber: Pos Kupang 19 Februari 2016 hal 1

Natacya G Nahak Fokus Bekerja

Natacya G Nahak
MEMILIKI suara yang merdu, berkulit halus dan putih, dengan rambut  terurai panjang hingga pinggul, siapa yang menyangka dia adalah seorang wanita pria alias waria. Tak hanya punya tampilan fisik yang memukau, namun tingkah laku sopan dan cara berjalannya yang anggun itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi waria peranakan Belu-NTT-Indonesia dan Negara Timor Leste ini.

Dialah Natacya Gonsalves Nahak, anak pasangan Wilhelmus Nahak dan alm. Lena Gonzalves. Waria bertinggi badan 172 cm dan berat 60 kg ini terbilang sukses dalam usaha Natacya Salon  di Kelurahan Kolhua, Maulafa, Kota Kupang.

Keberhasilannya itu tidak diperoleh secara mudah. "Sengsara membawa nikmat, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian," kata pemilik nama asli Nata Lemus  Yoseph Pedro Gonzalves Nahak ini soal hidupnya dulu dan sekarang.
Memulai karier sebagai pekerja salon di Kupang, Natacya banyak menimba ilmu tentang make up dari seniornya di berbagai salon seperti Elda Salon, Ciniki Salon dan Pelapa Salon. Dari pengalaman yang menarik, menyedihkan, membahagiakan dan peristiwa suka duka dijalaninya dengan bersyukur dan berdoa.

"Gaji saya kecil, namun saya bersyukur karena pengalaman yag saya dapat banyak sekali sehingga sekarang saya bisa buka usaha salon sendiri. Setidaknya saya sudah bisa membiayai kehidupan saya dan membantu orangtua dan keluarga," kata Natacya.

Hal yang tidak dilupakan yakni ketika ketika Natacya harus bangun pukul 04.00 Wita untuk mengurus oma. Mulai dari memandikan, memasak bubur, meyuapkan makanan dan memastikan omanya tertidur lagi di tempat tidur sebelum dia berangkat  kerja pukul 05.30 Wita.

 "Saat bekerja, saya kunci oma di dalam kamar, karena oma sudah tidak bisa bangun lagi. Nanti jam 12 siang saya izin pulang untuk menyuapkan oma makan dan saya pergi kerja lagi. Begitu terus selama beberapa tahun hingga akhirnya oma meninggal dunia. Gaji saya sering dipotong karena saya selalu izin pulang rumah untuk urus oma," kenang Natacya.

Menurut Natacya, baktinya kepada oma tidak sebanding dengan pengorbanan omanya Paulina Lilo dan opanya Yoseph Nahak yang telah mengurusnya sejak berusia 40 hari. Sejak kecil hingga kelas 5 SD di Kupang, Natacya ke Timtim (tinggal bersama papanya hingga SMA. Kemudian Natacya pulang ke Kupang tinggal lagi bersama omanya lalu membuka salon hingga saat ini.

Menurut Natacya, kunci keberhasilan adalah disiplin, mulai dari bangun tidur, bekerja, berdoa, dan mengjerjakan pekerjaan lain. Kedisiplinannya itu dibentuk oleh opa dan omanya.

"Kalau saya pamit mau ke luar rumah, Oma membuang ludah di depan rumah dan berpesan, kamu harus pulang rumah sebelum air ludah kering. Jadi saya akan berusaha pulang ke rumah sebelum air ludah opa di depan pintu rumah kering. Makan harus di meja makan, ada waktu untuk belajar, bermain dan tidur," kata waria yang hobi berenang ini.

Natacya mengaku sejak kecil sudah senang merawat dirinya dengan produk kecantikan perempuan seperti handbody dan memakai bedak. Bahkan dia  suka jalan berlenggak lenggok ibarat model di depan omanya. "Saya bersyukur karena keluarga, ayah, juga opa dan oma tidak mendiskriminasi dan melakukan kekerasan terhadap saya saat mengetahui orientasi seksual saya sebagai waria," ujarnya.

Sejak SMA, waria kelahiran 25 Desember 1980 ini sering mengikuti perlombaan modeling untuk waria dan mendapat dukungan oma dan ayahnya. "Saya pernah meminjam kebaya oma saya untuk lomba kebaya waria. Saat itu oma marah-marah karena kebaya kesayangannya akan dipakai. Tapi saya bilang, saya nanti akan juara dan bawa pulang piala dan uang kasih oma. Ternyata malam itu saya juara satu dan oma senang sekali," kata waria yang mengaku belum punya pacar tetap ini.

"Kita para waria dan LGBT memang kaum minoritas namun kita punya hak yang sama dengan warga negara lain. Fokuslah bekerja dengan cara yang halal, sehingga kita bisa membiayai kehidupan kita dan juga membantu keluarga. Jangan peduli apa kata orang tentang kita," pesan alumni SMA2 Kupang ini. (vel)

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Mengenal Suka Duka Kehidupan LGBT

ilustrasi
Saya lebih mencintai laki-laki dan orientasi seks saya seperti itu sudah ada sejak duduk di bangku SMP.

SAMPAI kapanpun, Riby Cesia (26), wanita pria (waria) asal Kota Maumere, Kabupaten Sikka, tak akan bisa melupakan kisah tragis yang yang dialaminya. Riby Nyaris mati ditebas  parang oleh kakaknya karena melihatnya mengenakan busana perempuan.

"Hari itu saya ketahuan mengenakan pakaian wanita sehingga kakak saya marah. Saya dikejar dengan parang lalu rambut saya digunting. Keluarga memaksa saya kembali jadi laki-aki, tapi saya tidak bisa," tutur Riby, bungsu dari dua bersaudara di Kupang, Minggu (14/2/2016) malam.

Untunglah Riby melarikan diri dan bersembunyi di rumah tetangga. "Kalau malam itu saya tidak sembunyi, pasti saya sudah mati dipotong oleh kakak," ujar Riby, didampingi pasangan prianya, Dodi (21). Riby mengaku tak ambil pusing dengan ancaman keluarganya itu dan dia tetap memilih menjadi waria.  "Saya pasrah, mau dipukul, mau dibunuh, saya tetap jadi waria. Saya tidak bisa mencintai perempuan, saya lebih tertarik dengan laki laki. Syukurlah sekarang keluarga dan orangtua sudah menerima saya sebagai waria," kata pemilik Riby Salon, di Kelurahan Madawat, Maumere.

Riby  bersyukur karena sudah tiga tahun dia menjalani hidup dengan pria bernama, Dodi. Ia  mencintai Riby dan tidak melihat Riby itu sebagai waria.  "Saya sayang dan cinta Riby. Dia baik dan kami saling mendukung. Saya tidak peduli Riby itu waria atau bukan waria, karena saya mencintai seseorang bukan melihat jenis kelaminnya," tutur Dodi.

Kekerasan fisik juga dialami waria Olga Sabrina Endang Endong de Kolag, tahun 1990- an di Jakarta. Setiap malam, Olga mengekspresikan diri sebagai waria dan mejeng bersama teman warianya di Cipinang.  "Saat dini hari pulang mejeng dengan pakaian dan dandanan perempuan, kakak laki-laki sudah tunggu di depan rumah. Saya dipukul habis- habisan dengan tripleks sampai tripleks terbelah jadi empat. Beberapa wig, BH, sepatu heels high saya dibakar pakai minyak tanah," kenang Olga, Ketua Perkumpulan Waria Kabupaten Sikka (Perwakas), Senin (15/2/2016) malam. 

Olga tetap memilih menjadi waria dan keluar dari rumah, kost dan mencari pekerjaan untuk biayai hidupnya. Dari menjadi penjaga bunga di perusahaan Mitra Tani Mandiri Jakarta, bekerja di sejumlah salon dan akhirnya pulang ke Maumere tahun 2000-an untuk membuka Olga Salon hingga saat ini. Olga mengaku, menikmati hidupnya sebagai waria meski tidak memiliki pacar tetap. Seringkali keluarga memintanya untuk menikahi perempuan. "Kalau diminta menikah dengan perempuan, saya bilang bahwa saya sudah bahagia hidup seperti sekarang ini. Saya juga bahagia sudah bisa membahagiakan keluarga dan almarhumah Mama saya," kata Olga, yang memiliki adik bernama Vera Gaya Trie, yang juga seorang waria itu.

Olga mengatakan, waria adalah pilihan hidupnya dan ia akan terus menjalaninya hingga ajal menjemputnya. "Saya sudah bosan dan kebal mendengar caci maki, dipukul, diejek, saya tidak peduli lagi. Kita semua punya sisi baik dan buruk. Mau bilang berdosa, semua orang berdosa, sehingga jangan menuduh waria paling berdosa," kata Olga.

Lain lagi cerita Santi Dewi, yang merantau ke Merauke dan pulang ke Maumere tahun 1996. Dewi mengaku sejak kecil sudah merasa ada yang berbeda dalam dirinya karena dia lebih menyukai pria ketimbang perempuan. Saat umurnya 20-an tahun, Dewi diajari berdandan dan mengenakan busana perempuan oleh Nurul.

Ketika suatu saat Dewi pergi ke pesta mengenakan busana wanita dan berdandan, saudara laki-lakinya datang ke tempat pesta sambil membawa balok. "Di depan tenda pesta saya dipukul pakai balok oleh kakak saya. Semua lihat dan saya malu sekali. Saya lari dari rumah, saya kost dan bekerja sebagai tukang cuci pakaian dengan gaji hanya Rp 35.000 per bulan per pelanggan. Saya cuci pakaian di banyak orang agar bisa mendapat ratusan ribu meski capainya  bukan main," tutur Dewi.

Lalu Dewi yang pendidikannya tidak memadai itu bekerja di Sinta Pub membantu Aci Moi di dapur. "Saya belajar memasak dan jadi tukang masak lalu bekerja di beberapa rumah makan. Tapi sekarang tidak kerja lagi," kata Dewi.

Dewi menunggu panggilan memasak dari rumah yang akan mengadakan acara. Namun biayanya tidak besar. "Kalau saya ada peralatan masak yang memadai pasti uang yang saya dapat lebih banyak," kata Dewi, bungsu dari enam bersaudara ini. Ia sudah menjalani kehidupan bersama seorang pria sejak tujuh tahun lalu.

Ridho, seorang gay, mengaku selama bertahun-tahun berupaya menyembunyikan identitasnya pada keluarganya. Namun karena banyak omongan di luar sehingga keluarga besarnya berkumpul dan memanggilnya untuk mengklarifikasikan informasi tersebut.
Saat itu, tutur Ridho, ia mengaku seorang gay dan dia siap menanggung risiko. "Saya bilang jika keluarga mau usir, mau hapus nama marga pada nama saya, saya akan terima. Saat itu mama bilang, apapun keadaan Lu (kamu). Lu tetap beta (saya) pung (punya) anak. Keluarga tidak terima lu, beta akan terima karena beta adalah mama kandungmu," kata Ketua Komunitas Independen Man of Flobamora (Imof) Kupang ini.

Pengakuan Ridho dihargai orangtua dan keluarganya dengan catatan Ridho tidak boleh membuat masalah lain yang bisa menyulitkan dirinya dan keluarga. Ridho mengatakan, untuk menyakinkan orientasi seksualnya itu, ia pernah berpacaran dengan beberapa orang perempuan, namun dia tidak memiliki rasa sayang dan cinta terhadap perempuan.  "Saya lebih mencintai laki-laki dan orientasi seks saya seperti itu sudah ada sejak saya duduk di bangku SMP. Akhirnya saya yakin bahwa saya adalah gay," kata Ridho yang sudah lima tahun membina hubungan dengan seorang pria di luar NTT.

Ridho berharap agar masyarakat bisa menerima keberadaan LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) dan tidak melakukan diskrimiasi serta tindak kekerasan terhadap LGBT karena LGBT juga manusia yang juga punya hak dan kewajiban yang sama dengan manusia lain.

Tidak Nyaman dengan Laki-laki
Tidak sedikit kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang coba membuka diri untuk mencintai lawan jenisnya, namun tak berhasil. Sejumlah lesbian (perempuan yang tertarik secara emosional dan seksual dengan perempuan) dan Gay (laki-laki yang tertarik secara emosional dan seksual dengan laki-laki) mengaku pernah mencoba namun tak berhasil.

Charly (29), lesbian yang berprofesi sebagai dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Kupang, NTT, misalnya. Charly mengaku pertama kali punya rasa suka dengan sesama jenis saat  kelas 3 SD. "Saya selalu cemburu jika ada teman perempuan saya yang didekati oleh teman laki - laki. Saat itu saya tidak tahu kenapa saya punya perasaan seperti itu," tutur Charly yang sudah lima tahun berhubungan dengan perempuan.

Beranjak remaja, Charly merasa kekuatan perasaannya terhadap sesama jenis. Dia mulai mencari tahu mengaa memiliki perasaan seperti itu. "Dari buku-buku saya akhirnya tahu kalau perasaan saya itu mengindikasikan bahwa saya adalah lesbian, penyuka sesama jenis. Saya bingung dan juga merasa tidak tahu harus bagaimana," ujar Charly.

Dia  mulai mengekspresikan rasanya itu dengan sejumlah teman perempuannya saat di bangku SMP dan SMA. Charly mulai berani mengungkapkan rasa sukanya dan berpacaran dengan perempuan. Namun, selama menjalani hubungan sesama jenis, Charly masih berusaha menyakinkan pilihan orientasi seksualnya dengan cara membuka diri dan berpacaran dengan laki-laki. Bahkan, secara bersamaan Charly pernah berpacaran dengan laki-laki dan perempuan, namun tidak berjalan baik.

"Sekitar tiga kali saya pacaran dengan laki-laki. Tapi saya tidak bisa menipu rasa cinta di hati. Saya tidak nyaman dengan laki-laki, sehingga saya minta putus dan berpacaran dengan perempuan hingga saat ini," tutur Charly.

Hingga kini Charly masih menyembunyikan orientasi seksualnya kepada keluarga dan masyarakat karena belum yakin keberadaannya diterima. Charly berpesan agar teman-teman lesbian khususnya dan LGBT umumnya, bisa lebih cerdas saat menjalani kehidupan sebagai LGBT apalagi memilih kekasih.  "Jangan mudah tergoda dengan seseorang yang mengaku sayang atau cinta. Karena tidak sedikit  orang yang hanya memanfaatkan kaum LGBT untuk kepentingan sesaat dan menarik keuntungan dari hubungan itu," katanya.

Charly mengaku kini merasa jauh lebih nyaman karena sudah tahu dan yakin  dirinya lesbian. "Orangtua saya belum mengetahui kondisi saya. Suatu saat nanti saya akan memberitahu mereka," kata Charly. Ia berharap agar ke depan pemerintah bisa  menerima dan mengakui keberadaan LGBT. Charly juga berharap ada lembaga yang siap membantu kaum LGBT jika mengalami kekerasan fisik dan psikis.

"Teman lesbian saya banyak mengalami kekerasan karena dipaksa menikah dengan laki- laki. Selama hidupnya, mereka merasa diperkosa oleh suaminya karena mereka tidak mencintai laki-laki. Di manakah kaum lesbian dan LGBT bisa mendapat perlindungan agar tidak mengalami diskriminasi dan kekerasan," kata Charly.

Cerita lain disampaikan Zamantha Karen, wanita pria (waria) kelahiran 16 November 1985. Karen mengaku sudah menyukai permainan dan melakoni peran-peran anak perempuan sejak kecil.  "Sejak kecil saya lebih suka bermain boneka ketimbang mobil-mobilan. Saat  melewati masa purbertas, saya lebih deg-degan jika melihat anak cowok ketimbang melihat anak perempuan yang cantik. Dan akhirnya saya tahu bawa saya tidak punya ketertarikan terhadap perempuan, tapi  dengan laki-laki," tutur Karen.

Karen mulai make up dan mengenakan busana perempuan sejak duduk di SMA tahun 2.000, meski masih sembunyi-sembunyi. Barulah tahun 2007, Karen berani tampil mengikuti ajang Top Model Waria dan menjadi pemenang.

"Saya mendapat juara 1 Top Model Waria dan wartawan mewawancarai saya. Foto saya panjang di media. Mama tahu dan beberapa hari kemudian saya dipanggil dan duduk di depan keluarga. Ada mama, papa dan saudara laki-laki saya," kenang Karen.

Malam itu, sambil menangis Karen jujur mengakui bahwa dia lebih suka menjadi perempuan ketimbang menjadi seorang pria. Hingga kini Karen enggan melakukan terapi hormon esterogen sebagaimana yang dilakukan waria lain.

Bagi Karen, untuk menjadi seorang perempuan tidak perlu memiliki anggota tubuh seperti perempuan. "Tak harus memiliki sepasang payudara atau operasi kelamin untuk menjadi seorang perempuan. Cukup perasaan dan tingkah laku seperti perempuan, bagi saya itu sudah cukup," ujarnya.


Terkait pernikahan sesama jenis, Karen mengatakan, para LGBT di Kupang atau Indonesia, tak perlu bermimpi untuk menikahi pasangannya. Karena pernikahan sesama jenis belum bisa diterima di Indonesia, meskipun ada yang diam-diam melakukannya.
"Saya tidak punya mimpi yang muluk. Saya hanya ingin bisa berguna bagi keluarga dan daerah ini. Dan saya punya harapan, agar hubungan saya dengan seorang pria yang sudah berjalan sekitar tiga tahun ini tetap langgeng meski kami tak bisa menikah," kata Karen.
(novemy leo)

Sumber: Pos Kupang 19 dan 20 Februari 2016 hal 1

Prestasi Atlet Atletik NTT di PON

Edu Nabunome (tengah)
PON V/1961/Bandung   
Wempy Foenay -  Medali Perak - Lempar Cakram
Wempy Foenay - Medali Perak  -  Tolak Peluru   

PON VIII/1973/Jakarta   
Mathilde Fanggidae Medali Emas - Tolak Peluru
Mace Sihaineni  Medali Perak - Tolak Peluru
Mathilde Fanggidae Medali Perunggu - Lempar Cakram

PON IX/1977/Jakarta   
Mace Sihainenia Medali Emas - Tolak Peluru
Mace Sihainenia Medali Perunggu - Lempar Cakram

PON X/1981/Jakarta   
Mace Sihainenia Medali Emas- Tolak Peluru
Yumina Tunliu    Medali Perak - 1500m
Welmintje Sonbay Medali Perak - 3000m

PON XI/1985/Jakarta
Dorkas Benuf - Medali Emas     - 10.000m
Eduardus Nabunome - Medali Emas - 5000m
Martha Kase Medali Perak - 3.000m
Mace Sihainenia  Medali Perak - Tolak Peluru
Welmintje Sonbay Medali Perunggu- 1500m

PON XII/1989/Jakarta   
Eduardus Nabunome Medali Emas - 10.000m
Eduardus Nabunome Medali Emas  5000m
Eduardus Nabunome Medali Perak - 1.500m
Osias Kamlasi  Medali Perak  - 10.000m
Maria Ati Medali Perunggu - 10000m
Mace Sihainenia Medali Perunggu- Tolak Peluru
Tersiana Riwu Rohi Medali Perunggu- Jalan Cepat

PON XIII/1993/Jakarta   
Eduardus Nabunome - Medali Emas -5000m
Eduardus Nabunome - Medali Emas Marathon
Eduardus Nabunome - Medali Emas 1500m
Eduardus Nabunome Medali Perak - 10000m

Tersiana Riwu Rohi - Medali Perak - Jalan Cepat
Fransina Mailabana Medali Perak - Marathon
Mace Sihainenia Medali Perak - Tolak Peluru


PON XIV/1996/Jakarta
Eduardus Nabunome Medali Emas - 5000m
Eduardus Nabunome Medali Emas - Marathon
Eduardus Nabunome Medali Perak - 10.000m
Fransina Malaibana Medali Perak   - Marathon
Anthon Fallo Medali Perunggu 10.000m
Anthon Fallo Medali Perunggu Marathon
Tersiana Riwu Rohi Medali Perak - Jalan Cepat
Oliva Sadi Medali Perak - 5000m
Ferry Subnafeo Medali perunggu - Marathon
Ferry Subnafeo - Medali perunggu - 10.000m
Oliva Sadi Medali perunggu - 1500m

PON XV/2000/Surabaya
Anthon Fallo Medali Perak  10.000.
Anthon Fallo Medali Perak - Marathon
Tersiana Riwu Rohi Medali Perak - Jalan Cepat
Oliva Sadi - Medali Perak - 5000m
Ferry Subnafeo Perunggu - Marathon
ferry Subnafeo Perunggu - 10.000m
Oliva Sadi - perunggu - 1500m

PON XVI/2004/Palembang
Oliva Sadi medali Emas -3000m
Oliva Sadi Medali emas- 1500m
Ferry Subnafeo Emas - Marathon

Oliva Sadi Medali Perak - 800m
Tersiana Riwu Rohi Medali Perak - Jalan Cepat
Nelci Tolai Perunggu - 1500m

PON XVII/2008/Kaltim
Adriana Waru Perak -- 3000 stch
Tersiana Riwu Rohi Perunggu Jalan Cepat 20km
Mery Paijo Perunggu - 10.000m


PON XVIII 2012/Riau
Oliva Sadi Perak  800m
Afriana Paijo Perak 1500
Merry Paijo Perak - Marathon
Adriana Waru Perunggu - 3000 stch

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Atlet Atletik Bidik Tiga Emas di PON 2016

KUPANG, PK - Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Nusa Tenggara Timur (NTT) menargetkan medali emas minimal sama seperti yang sudah diraih atlet cabang olahraga (cabor) NTT saat lolos PON XIX/2016 di Bandang, Jawa Barat.

"Target NTT tiga medali emas dari  atletik. Ini harus diperjuangkan, bukan cuma melalui latihan intensif yang keras namun juga melalui doa. Dan harapannya hasil yang diraih bisa ditingkatkan saat atlet atletik NTT tampil di PON XIX/2016. Oliva dan Afriana Paijo sudah teruji di level nasional. Apalagi ini olahraga terukur," kata Ketua Umum Pengprov PASI NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si,  saat ditemui Pos Kupang di kediamannya di Jalan Anggrek, Kelurahan Naikolan, Kupang, Jumat (19/2/2016).

Untuk meraih target di PON 2016, tegas Esthon, atlet atletik NTT harus latihan intensif. Atlet atletik lolos ke PON 2016 melalui sejumlah even kualifikasi. Ini menjadi acuan yang dipakai.  Ia menjelaskan, hasil atletik Pra PON 2015, Oliva Sadi   meraih medali emas nomor 5.000 meter, 10.000 meter dan marathon. Ance Paijo meraih emas nomor 1.500 meter dan Eldat Kafolamau meraih perunggu marathon.

"Hal ini menjadi pendorong bagi atlet atletik  NTT untuk meraih hasil lebih baik lagi di PON XIX/2016 sesuai harapan Gubernur NTT, Pak Frans Lebu Raya, yang juga Ketua Umum KONI NTT serta menjadi harapan masyarakat NTT ," kata Esthon.

Menurut dia, cabor atletik sangat terukur dan even kejurnas atletik serta Pra PON mirip ajang PON karena atlet dari seluruh daerah di Indonesia  ikut. "Sama-sama sudah tahu kemampuan lawan karena catatan waktu  dipegang masing-masing pelatih. Tinggal taktik dan strategi saat turun di lintasan untuk bertarung menjadi yang tercepat dan yang terbaik," ujarnya.

Pelari NTT, kata Esthon, sangat disegani pelari provinsi lainnya karena tampil sederhana, tapi tangguh saat di lintasan sirkuit. Ini juga menjadi daya dorong. Esthon mengaku PASI NTT sedang mengajukan surat usulan kepada PB PASI untuk mengakamodir  atlet atletik NTT Delvita Bakun untuk  tampil di PON XIX/2016.

"Tiga pelatih atletik NTT, Pak Julius Lona Koni, Edmundus Parera, dan Adnan Abdulah sudah membuat program pelatihan musim pelatda desentralisasi hingga TC sentralisasi. Nanti akan ada try out  bagi atlet untuk mengukur kemampuannya," kata Esthon.
Mantan Wagub NTT ini memuji kepemimpinan Drs. Frans Lebu Raya, selaku Ketua Umum KONI NTT yang dengan kebijakannya bersama Ketua Harian KONI NTT, Ir. Andre W Koreh, sudah menyiapkan bonus  memadai sebagai motivasi dan pelecut bagi atlet untuk tampil membela NTT di PON XIX/2016.

"Ada bonus rumah dan uang yang nilainya sangat signifikan. Juga kepiawaian Pak Frans Lebu Raya dan Pak Andre Koreh yang mampu menghimpun dana dari pihak ketiga pada HUT KONI serta Harbak PU di luar bantuan dana APBD  NTT yang nilainya miliaran rupiah sehingga bisa terus menopang keberlajutan kegiatan pada awal musim pelatda," ujar Esthon. Ia berharap atlet atletik NTT  terus berlatih intensif. "Atlet NTT selalu tampil bisa walaupun dalam keterbatasan untuk mengharumkan nama masyarakat NTT," demikian Esthon. (fen)

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Oliva Sadi Latihan Pagi dan Sore

Oliva Sadi
TETESAN keringat membasahi tubuhnya yang langsing.  Baju kaos olahraga dan celana  yang dipakainya basah.  "Sekarang ini udara Kota Kupang sangat panas sehingga  menyedot energi saat latihan. Sudah jam empat sore, tapi udara masih cukup panas," kata Oliva Sadi kepada Pos Kupang ketiak istirahat latihan  berlari belasan kali mengitari lintasan sirkuit atletik Stadion Oepoi Kupang, Jumat (19/2/2016) sore.

Oliva Sadi yang didampingi tiga orang pelatih, Drs. Julius Lona Koni, Edmundus Parera  dan Adnan Abullah tetap tersenyum.

Sambil berjalan mengitari lintasan Sirkuit Atletik di Stadion Oepoi-Kupang untuk menurunkan suhu tubuh setelah berlari satu jam mengitari lintasan stadion tersebut, Oliva mengaku sedang latihan intensif mengikuti program pemusatan latihan daerah (pelatda) desentralisasi sejak Januari hingga Maret 2016. 

Program itu berupa persiapan umum untuk tiga bulan pertama menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Bandung,  Jawa Barat. Oliva tidak gentar menghadapi persaingan ketat di PON nanti.  "Semua atlet tentu berdoa kepada yang Di Atas. Namun sekarang tinggal siapa yang banyak berdoa dan direstui Tuhan menjadi yang terbaik. Ini harus latihan intensif. Harus Ora Et Labora," kata gadis berlesung pipit itu.

Gadis kelahiran  Kabupaten Manggarai Timur, tanggal 1 Juni 1982 yang diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS)  tahun 2011 mengatakan, saat ini ia fokus latihan di nomor lari jarak jauh (marathon) dan 10.000 meter.

Olivia pernah  meraih medali emas  nomor 5.000 meter pada  SEA Games di Vietnam tahun 2005. "Saat ini kami satu minggu 11 kali latihan pagi dan sore hari di Stadion Oepoi Kupang. Kadang latihan berlari melintasi jalan raya. Kecuali pada hari Minggu istirahat," tutur Oliva, yang saat ini bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga NTT.

Saat ditanya tentang target meraih medali di PON XIX/2016 Jawa Barat, peraih medali perak PON XVIII di Riau tahun 2012  mengatakan, butuh perjuangan dan mohon dukungan doa masyarakat NTT untuk bisa masuk tiga besar. "Semua tentu punya target medali. Doakan agar Oliva bisa mempersembahkan medali atau masuk tiga besar di PON XIX/2016," pungkas Oliva. (ferry ndoen).

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes