Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Pilkada di Zona Merah
dion bata
Espana 82
dion bata
![]() |
| Paolo Rossi |
Saya baru sesaat melepas seragam putih merah ketika dia menjadi bintang pujaan dunia.
Belum banyak paham soal bola tapi sebagai anak dusun saya sungguh beruntung dianugerahi ayah hebat bernama Thomas Bata yang hobi dengar radio transistor.
Pun mengoleksi majalah bulanan dan buku-buku.
Siaran idola ayahku mulai dari RRI, Radio Australia, Suara Amerika (VoA) hingga BBC London.
Itulah sebabnya sekalipun bermukim di kampung udik Lio Timur Flores, saya dan kakak adikku berenam tidak terlalu jauh ketinggalan informasi.
Sekilas terekam dalam memori bocahku satu nama yang berulangkali disebut penyiar berita olahraga RRI. Radio Autralia ataupun BBC.
Awalnya kudengar sambil lalu saja. Namun, saat masuk SMP Negeri 2 di Kota Ende pada bulan Juli yang hangat 1982, saya mulai mengenal lebih jauh tentang sang bintang.
Lebih-lebih lagi pada sampul depan buku tulis yang kakak sulungku, Eman Bata Dede beli di Toko Fungkam Ende, terpampang jelas foto dan nama Paolo Rossi.
Dia sedang beraksi bersama si kulit bundar. Tertulis pula di sana dengan huruf mencolok, Espana 82.
Espana 82 menunjuk pada kejuaraan sepak bola empat tahunan Piala Dunia yang berlangsung di Spanyol tanggal 13 Juni hingga 11 Juli 1982.
Italia juara Piala Dunia untuk kali ketiga. Setelah tahun 1934 dan 1938, Italia baru juara lagi tahun 1982 berkat kontribusi luar biasa Paolo Rossi.
Paolo Rossi menjadi idola kami pada masa itu. Saya memiliki lebih dari tiga buku tulis untuk catat mata pelajaran bersampul depan foto Paolo Rossi.
Kawan-kawan sekelasku di SMPN 2 Ende seperti Mohammad Husen. Kletus Kamu, M Khaidir, Baltasar Kadju, Ishak Marzuki, Gerard Gaga dan Dus Lolo juga sama.
Ketika bermain bola plastik saat isi waktu istirahat di halaman sekolah di Jalan Kelimutu Kota Ende, kami membayangkan diri sebagai Paolo Rossi.
Pun ketika anak seusia kami main bola di pantai Ipi, Nanganesa, Ndao, Roworeke, Nuabosi, Detusoko, Wolowaru, Watuneso, Nggela, Jopu, Nangapanda, Pulau Ende atau di bawah rimbunnya pohon kelapa di Onekore tempo itu.
Ya, demikianlah sejumput kenangan tentang Paolo Rossi, legenda sepak bola Italia yang meninggal dunia di Siena, 9 Desember 2020.
Kepergiannya menambah duka setelah dunia ditinggalkan megabintang Argentina, Diego Maradona yang wafat p25 November 2020.
Kurang dari sebulan dua seniman besar lapangan hijau menghadap Sang Khalik.
Paolo Rossi yang lahir 23 September 1956 di Prato, daerah Santa Lusia Italia, meninggalkan seorang istri dan tiga anak yaitu Alessandro Rossi, Sofia Elena Rossi, dan Maria Vittoria.
Kabar meninggalnya Rossi bermula dari cuitan rekan kerjanya di RAI Sport, Enrico Varriale. Paolo Rossi bekerja sebagai pakar sepak bola di saluran tv tersebut, sedangkan Varriale adalah pembawa acara saluran itu.
"Berita yang sangat menyedihkan: Paolo Rossi telah meninggalkan kami," tulis Enrico Varriale di Twitter yang dikutip Reuters. "Pablito yang tak terlupakan, yang membuat kita semua jatuh cinta pada musim panas 1982."
Istri Paolo Rossi, Federica Cappelletti mengunggah foto diri dan suaminya di Instagram disertai pesan mengharukam. Ia membubuhkan kata "selamanya."
Ucapan duka cita mengalir dari dunia sepak bola, di antaranya dari pahlawan Jerman, Jurgen Klinsmann. "Pabilto, kami selalu mengingat Anda!" tulis Klinsmaan di akun twitternya.
Tiga Kali Operasi Lutut
Paolo Rossi mungkin tak sefenomenal Diego Armando Maradona yang bagi sebagian orang di negerinya bahkan dunia dipandang sebagai dewa bola. Tapi bagi Italia, Paolo Rossi merupakan juru selamat.
Setelah Italia tercoreng skandal pengaturan skor yang memalukan, pada tahun 1982 Rossi memimpin negerinya meraih gelar Piala Dunia FIFA edisi ke-12. Dia mencetak enam gol untuk memenangkan Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak dan Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen nomor wahid sejagat.
Rossi adalah satu dari hanya tiga pemain yang meraih ketiga penghargaan di Piala Dunia sekaligus. Dia sejajar dengan Garrincha tahun 1962, dan Mario Kempes 1978. Rossi pun meraih Ballon d'Or 1982.
Bersama Roberto Baggio dan Christian Vieri, dia pencetak gol terbanyak Italia dalam sejarah Piala Dunia, dengan sembilan gol secara keseluruhan.
Wikipedia mencatat di level klub, Rossi merupakan pencetak gol produktif bagi Vicenza. Dia pencetak gol terbanyak Serie B tahun 1977, memimpin timnya promosi ke Serie A.
Musim berikutnya, Rossi mencetak 24 gol, menjadi pemain pertama yang memuncaki daftar pencetak gol Serie B dan Serie A Liga Italia di musim berurutan. Hebat!
Pada tahun 1981 Rossi debut untuk Juventus.
Dia membantu tim berjuluk La Vecchia Signora (Nyonya Tua) itu memenangkan dua gelar Serie A, Coppa Italia, Piala Winners UEFA, Piala Super UEFA, dan Piala Eropa.
Dunia mengingat Paolo Rossi sebagai pesepakbola Italia terbesar sepanjang masa, Pada tahun 2004, dalam rangka perayaan 100 Tahun FIFA, Pele menobatkan Paolo Rossi sebagai satu dari 125 pesepakbola terbaik yang masih hidup. Pada tahun yang sama, Rossi berada di peringkat ke-12 dalam Polling Jubilee Emas UEFA.
Paolo Rossi merupakan Juventini sejati. Namun, masa awal kariernya bersama Si Nyonya Besar justru kurang menggembirakan. Debut profesionalnya di Liga Italia bersama Juventus mulai tahun 1973.
Cedera terus menyerangnya sehingga dia hanya tampil tiga kali di Coppa Italia bersama Juventus antara tahun 1972 dan 1975 dan nihil mencetak gol. Rossi bahkan naik meja operasi sebanyak tiga kali untuk operasi lutut.
Dia kemudian dikirim ke klub Como untuk memperkaya pengalaman bermain.
Tubuhnya yang kecil bukan penghalang ketika pelatih Como menempatkannya sebagai pemain sayap kanan. Dia mencatat enam penampilan Serie A untuk klub itu tapi lagi-lagi gagal mencetak gol.
Kariernya mencapai titik balik ketika Vicenza Calcio meminjamnya.
Pelatih Fabbri memindahkan Rossi dari sayap ke tengah tengah serangan, mengganti posisi striker utama yang cedera sebelum musim kompetisi bergulir.
Paolo Rossi mengaum bagai singa lapar. Gol demi gol lahir dari kaki dan kepalanya. Dia meraih Sepatu Emas Serie B dengan 21 gol di tahun pertama pada posisi ideal tersebut.
Pada musim kompetisi 1976-1977, kualitas Rossi makin mumpuni. Dia membawa Vicenza promosi ke Serie A dan babak penyisihan grup kedua Coppa Italia.
Pada musim berikutnya (1977-1978), Rossi mencetak 24 gol, menjadi pemain pertama yang memuncaki daftar pencetak gol di Serie B dan Serie A di musim berturut-turut, juga membawa Vicenza ke posisi kedua Serie A setelah Juventus.
Pelatih tim nasional (timnas) Italia Enzo Bearzot mulai jatuh cinta pada Rossi. Dia masuk skuat Piala Dunia 1978.
Rossi menjalani debutnya bagi Italia 21 Desember 1977 saat Italia menang 1-0 atas Belga dalam laga persahabatan .
Dunia mulai mengenal namanya di ajang Piala Dunia 1978.
Bermain sebagai penyerang tengah, ia kerap tukar posisi dengan dua penyerang lainnya. Dia bisa bermain dari posisi aslinya di sayap kanan.
Rossi mencetak tiga gol dan empat assist saat Italia finis posisi keempat di Piala Dunia yang berlangsung di Argentina tersebut.
Rossi meraih Bola Perak sebagai pemain terbaik kedua Piala Dunia 1978. Dia hanya kalah tenar sedikit dibandingkan bintang tuan rumah Mario Kempes.
Pada musim 1978-79, Rossi merasakan kompetisi level Eropa bersama Vicenza di Piala UEFA. Kendati mencetak 15 gol untuk klub di Serie A, cedera kembali menderanya hingga Vicenza degradasi ke Serie B. Rossi kemudian dipinjamkan ke Perugia untuk bermain di Serie A musim berikutnya.
Skandal Totonero
Di Perugia, ia berhasil mencetak 13 gol di Serie A selama musim 1979-80 serta membantu klub tersebut melaju ke babak 16 besar Piala UEFA.
Namun, namanya tercoreng di sini. Dia terlibat dalam skandal taruhan pengaturan skor pertandingan tahun 1980 yang dikenal di Italia sebagai Totonero.
Dilansir BBC, skandal Totonero pertama kali terkuak 23 Maret 1980. Sejumlah pemain sepakbola dari klub Seri A dan Serie B menjual pertandingan sepakbola untuk mendapatkan uang.
Klub-klub Serie A yang terlibat dalam skandal ini adalah Avellino, Bologna, Juventus, Lazio, AC Milan, Napoli, Perugia, Pescara.
Dari Serie B yakni klub Genoa, Lecce, Palermo, Pistoiese dan Taranto.
Paolo Rossi dihukum selama tiga tahun yang kemudian dikurangi menjadi dua tahun saja. Hukuman itu membuatnya absen di Piala Eropa 1980 bersama Italia.
Gli Azurri yang bermain di kandang sendiri gagal juara. Harus puas di posisi keempat. Sama seperti Piala Dunia 1978.
Meskipun dilarang bermain, Rossi selalu mengaku tidak bersalah, dan menyatakan dia telah menjadi korban ketidakadilan. Untung dalam posisi sebagai orang terhukum, Juventus tidak pernah meninggalkannya.
Juventus mengontrak Rossi lagi tahun 1981, dan dia kembali ke starting line-up tepat pada waktunya untuk akhir musim 1981-1982. Kehadirannya membantu Juventus meraih gelar Serie A. Rossi mencetak satu gol dalam tiga penampilan.
Manajer timnas Italia Enzo Bearzot memasukkan Rossi dalam skuat untuk Piala Dunia FIFA 1982 di Spanyol. Para jurnalis sepak bola Italia dan tifosi protes keras.
Mereka menilai Bearzot salah mengambil keputusan. Memberi kesempatan bagi Rossi dalam kondisi yang sangat buruk.
Jurnalis Italia secara keji melukiskan Rossi sebagai "hantu yang berkeliaran tanpa tujuan di lapangan", merujuk pada penampilannya dalam tiga laga penyisihan grup Espana 82. Tak satu biji gol pun lahir dari kaki Rossi.
Enzo Bearzot kukuh pada keputusannya. Dia tetap mempercayakan Rossi untuk putaran robin yang menentukan di babak kedua.
Italia harus berhadapan dengan juara bertahan Argentina serta Brasil, tim favorit yang berkekuatan pemain berkelas seperti Sócrates, Zico, dan Falcão.
Italia mengalahkan Argentina 2-1, sebagian berkat kerja keras Claudio Gentile dan Gaetano Scirea yang membungkam bintang muda Argentina Diego Maradona.
Laga paling mengesankan tatkala Paolo Rossi mencetak hattrick bagi Italia saat mengalahkan Brasil 3-2 dan lolos ke semifinal.
Sejak itu Paolo Rossi semakin tak tertahankan.
Melawan Polandia di semifinal, dua gol Rossi memenangkan Italia, memberi negeri pizza itu tempat di final Piala Dunia 1982.
Jurnalis dan tifosi yang semula menyebut Rossi sebagai hantu, kini berbalik memujinya.
Di final melawan Jerman Barat, Paolo Rossi mencetak gol pertama dari tiga gol Italia. Sontekan mautnya memanfaatkan bola mati tidak langsung dari Gentile gagal dihadang kiper Jerman.
Italia menaklukkan Jerman Barat 3-1, meraih gelar Piala Dunia ketiga sepanjang sejarah.
Dengan total enam gol, ia meraih Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak turnamen serta Bola Emas untuk pemain terbaik. Tahun 1982 milik Rossi. Dia juga mendapatkan gelar Pemain Terbaik Eropa dan Pemain Terbaik Dunia 1982.
Eksploitasi mencetak golnya selama turnamen membuatnya mendapat julukan Pablito dan Torero. Antara gol dan assistnya sepanjang turnamen, Rossi secara langsung bertanggung jawab atas 58 persen gol timnya selama Piala Dunia 1982.
Sampai detik ini Paolo Rossi masih dianggap sebagai satu di antara penyerang Italia terbesar dan paling produktif sepanjang masa.
Menonton kembali rekaman video aksinya di lapangan hijau, Paolo Rossi merupakan penyerang yang unik.
Meskipun tidak memiliki fisik ideal untuk tipikal striker, Rossi adalah penyerang tengah yang elegan, cepat, lincah, dan produktif.
Berkat teknik yang baik, keseimbangan, reaksi sangat cepat, tembakan akurat dan ketajaman. memungkinkan dia mampu berkelit di antara tembok tangguh bek di kotak penalti lawan. Bola yang ada di kaki atau kepalanya dia ubah secara menawan menjadi gol.
Paolo Rossi tipe striker oportunis. Kurang lebih mirip yuniornya Filippo Inzaghi. Dia menebus kekurangan kekuatan fisik dan daya tembak lewat penempatan posisi yang tepat dan terukur.
Saya kagumi keberaniannya berduel yang ditopang kualitas keterampilan kedua kaki yang sama bagus serta akurasi sundulan kepala.
Cukup sering dia unggul dalam duel udara. Bahkan mengalahkan lawan yang lebih besar posturnya untuk mendapatkan bola. Kekurangan Rossi tidak terlalu mahir dalam permainan bola-bola mati.
Hebatnya lagi Rossi fleksibel dalam posisi. Meski umumnya beroperasi di area tengah penalti, ia bisa bermain dari sayap kanan serta menjadi penyerang pendukung.
Misalnya saat di Juventus, dia menjadi pelayan bagi Zbigniew Boniek dan Michel Platini di jantung serangan Super Juve.
Berakhir di Verona
Setelah Piala Dunia 1982, Paolo Rossi tetap menjaga ketajamannya di kotak penalti lawan.
Dia terus bermain bersama Juventus.
Selama musim 1982-1983, Juventus finis kedua di Serie A. Rossi membantu tim ini meraih Coppa Italia 1983, dengan menyumbang lima gol.
Rossi juga membantu Juventus mencapai final Piala Champions (kini Liga Champions Eropa) 1983, namun kalah 0-1 dari Hamburg. Dia menyelesaikan turnamen itu sebagai pencetak gol terbanyak, dengan koleksi enam gol.
Selama musim 1983-1984, Rossi meraih gelar scudetto kedua bersama Juventus. Dia mencetak 13 gol serta membantu Super Juve menggenggam trofi Piala UEFA Cup Winners 1983-84 disusul Piala Super UEFA 1984.
Pada musim terakhirnya bersama Juventus, Paolo Rossi meraih trofi Piala Champions Eropa tahun 1985, menyumbang total 5 gol, di belakang rekan setimnya Michel Platini, dan Torbjörn Nilsson dengan 7 gol.
Dari Juventus, ia pindah ke AC Milan, berjuang selama satu musim pada tahun 1985.
Di AC Milan, ia selalu dikenang atas penampilan menawannya saat mencetak dua gol ke gawang Internazionale Milan dalam duel klasik derbi Milan.
Pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, Paolo Rossi masuk skuat timnas Italia. Sayang tidak sempat bermain dalam kompetisi yang melambungkan nama besar Diego Maradona tersebut.
Cedera memaksa Rossi tahu diri. Dia gagal tes kebugaran. Giuseppe Galderisi menggantikan posisinya di starting line-up timnas Italia.
Paolo Rossi terakhir memakai kostum timnas Italia pada 11 Mei 1986, dalam kemenangan kandang 2-0 atas China di Kota Napoli.
Pada usia belum genap 30 tahun, Paolo Rossi harus mengucapkan sayonara kepada timnas Italia. Cedera merupakan alasan utama dia memilih pensiun.
Setahun kemudian, dia mengakhiri karier sebagai pemain profesional di klub Hellas Verona setelah membantu timnya finis di urutan keempat Serie A.
Setelah pensiun dari lapangan bola pada usia 31 tahun, Paolo Rossi tak tak pernah lepas dari pelukan dunia bola. Dia bekerja sebagai pakar sepak bola Sky, Mediaset Premium, dan Rai Sport hingga akhir hayatnya 9 Desember 2020.
Ciao, Rossi Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)
Sumber: Tribun Bali
Diego yang Abadi
dion bata
"Saya tidak mengabaikan kekhawatiran bahwa Diego Maradona bisa mati mendadak di lapangan sepak bola atau sedang berjalan."
Kalimat ini terlontar dari bibir Ricardo Grimson, dokter pribadi Maradona.
Grimson mengatakan itu 24 tahun silam. Tepatnya 2 Oktober 1996 atau 28 hari menjelang usia Maradona ke-36.
Di balik kejeniusannya di lapangan bola, kesehatan Diego Maradona memang menyedihkan sejak usianya masih belia. Penyebabnya satu, ketergantungan pada narkoba dan alkohol.
Maradona pada 2 Oktober 1996 menderita cedera otak akibat kecanduan terhadap kokain. Tahun 1995 dokter Grimson pun sempat membawa Maradona ke klinik rehabilitasi obat terlarang di Buenos Aires dalam keadaan koma. Saat itu Diego bahkan tidak mengenali orang-orang terdekatnya.
Sisi kelam Diego berasyik-masyuk dengan narkoba terjadi sejak berusia 22 tahun atau tepatnya kala membela Barcelona. Kecanduannya menjadi-jadi kala berseragam Napoli.
Ia pernah disebut-sebut dekat dengan Camorra, organisasi mafia yang berpusat di Kota Napoli, Italia.
Pihak berwenang Italia pernah menciduknya di Bandara Fiumicono pada tahun 1990 atas kasus penyelundupan kokain senilai 840 ribu dolar AS yang iduga berkaitan dengan bisnis narkoba Camorra. Dalam persidangan di Roma, Maradona divonis penjara 14 bulan serta denda 3.200 dolar AS.
Narkoba dan alkohol menodai reputasi, prestasi dan nama besarnya sebagai pemain sepak bola terbaik abad ke-20 bersama Pele. Di Piala Dunia 1994 dia terjerat doping hingga diskors FIFA selama 15 bulan.
Dalam sebuah wawancara media, Maradona mengaku memakai narkoba karena ia menduga akan menjadi lebih hebat, besar dan kuat. Narkoba dan alkohol dapat menghilangkan stres, frustasi dan rasa tertekan. Dugaan yang keliru besar.
"Setiap kali menenggak obat bius, saya merasa seolah-olah telah menaklukkan dunia. Tetapi setelah itu, saya merasakan kesunyian mengerikan dan ketakutan yang mencekam. Saya mulai merasa tidak yakin dan percaya diri. Obat bukannya menolong, melainkan memperlemah bahkan membunuh saya," kata Maradona.
Tahun 1997 dia pensiun dari lapangan bola. Sejak itu kesehatannya tidak pernah benar-benar bugar. Langganan masuk keluar rumah sakit. Maradona masuk rumah sakit dan hampir meninggal tahun 2000 dan 2004 karena masalah jantung.
Pada 3 November 2020 ia menjalani operasi darurat untuk hematoma subdural, yakni pembekuan darah dalam otak. Setelah dinyatakan sembuh dari operasi subdural hematoma, Maradona tinggal di Tigre, Buenos Aires.
Hari Rabu 25 November 2020, Maradona meninggal dunia dalam usia 60 tahun 25 hari. Juru bicaranya mengonfirmasi sang megabintang terkena serangan jantung.
Benar kata-kata dokter Ricardo Grimson 24 tahun silam, Maradona bisa mati mendadak kapan saja. Sang pemilik gol Tangan Tuhan telah kembali ke pangkuan Tuhan. Adios Diego!
Sakitnya Hati Inggris
Sebagai pemain bola, Diego Maradona adalah anak bola jenius, seniman hebat yang pernah ada. Pemujanya miliaran orang sejagat. Menulis dan mengulas mengenai aksinya di lapangan hijau takkan habis-habisnya.
Publik Inggris akan selalu ingat tanggal 22 Juni 1986. Inggris karena sakit hati sampai hari ini karena ‘kesaktian’ Maradona mencetak gol Tangan Tuhan.
Kala itu Argentina bertemu Inggris di babak perempatfinal Piala Dunia Meksiko 1986. Tensi pertandingan panas. Di luar lapangan juga membara. Maklum secara politik, kedua negara sedang berseteru memperebutkan Pulau Malvinas.
Paruh pertama berjalan skor imbang tanpa gol. Kedua tim sama-sama menyajika permainan memikat. Maradona mengubah semuanya pada babak kedua.
Menit ke-51, Maradona penetrasi apik dari sisi kiri. Ia mengirim umpan ungkit ke arah Jorge Valdano dan kemudian bergerak maju memasuki kotak penalti.
Valdano gagal mendapat bola karena Steve Hodge sukses memotong aliran bola itu. Namun upaya Hodge membuang bola justru membuat bola mengarah ke mulut gawang.
Maradona ada di tempat yang tepat. Kiper Peter Shilton berpostur hampir 20 cm lebih tinggi dari Maradona punya keunggulan, termasuk pakai tangannya. Eh tapi dalam momen genting itu, justru Maradona cerdik menyundul bola dengan tangan kidalnya. Gol! Maradona bersorak dan lari ke pinggir lapangan diikuti rekan-rekannya.
Para pemain Inggris langsung berlarian memprotes keras gol tersebut, namun wasit Ali Bin Naser teguh pada keputusannya mengesahkan gol Maradona. Dia tidak melihat Maradona menggunakan tangan. Masa itu belum ada VAR.
Ketika tayangan ulang video memperlihatkan Diego menyundul pakai tangan, dia enteng berkata, "Sebagian karena kepala Maradona dan sisanya dibantu tangan Tuhan.” Diksi Gol Tangan Tuhan identik Diego sampai kapanpun.
Gol kontroversial tersebut menjadi tajuk utama koran-koran dunia saat itu bahkan popularitasnya awet hingga kini. Gol tersebut paling ikonik yang dikenang dari Piala Dunia 1986.
Publik Inggris memang kecewa berat. Namun, mereka pun mengakui indahnya gol kedua Maradona ke gawang Peter Shilton untuk menentukan keunggulan Argentina 2-1. Maradona ukir gol menawan, melewati lima pemain sekaligus.
Dari lapangan tengah, Diego memperdayai Peter Beardsley, Peter Reid dan Terry Butcher. Terry Fenwick berusaha mentekel di kotak penalti, tapi Diego lebih cepat sepersepuluh detik untuk menaklukkan Shilton.

Di babak semifinal Piala Dunia 1986, Maradona kembali memborong dua gol ke gawang Belgia. Pada babak final, dalam tatapan mata 110.000 penonton Stadion Azteca Mexico City serta jutaan pemirsa di seluruh dunia, Maradona mengalahkan Karl Heinz Rummenigge dkk 3-2. Jerman menangis, Argentina larut dalam pesta.
Nama Maradona yang cuma memiliki tinggi badan 165 cm dan agak gemuk itu melambung jauh. Lebih dari 100 orangtua bayi yang lahir bulan Mei-Agustus 1986 merasa perlu memberi nama anak mereka Maradona. Demam Diego di mana-mana. Maradonamania menghipnotis dunia.
Seorang gadis dari Benfleet Inggris, Jeniece Harris rela membayar 3 ribu poundsterling kepada seorang ahli hukum guna mengubah namanya menjadi Janiece Jennifer Dorothy Arsenal Maradona.
Para pakar membuat penelitian khusus tentang Maradona. Hasilnya, anatomi tubuh Diego Armando Maradona yang paling berperan adalah pinggul. Kesimpulan lain, Maradona adalah jenius bola, skill-nya merupakan gabungan lima seniman bola terbesar dalam sejarah.
Ia mampu mengutak-atik bola seperti Pele (Brasil), menguasai lapangan tengah selevel Johan Cruyff (Belanda), berkelit bagaikan George Best (Irlandia Utara), gerakan kakinya laksana Roberto Baggio (Italia) dan umpan-umpannya amat matang seperti Franz Beckenbauer (Jerman) pada masa puncaknya.
Tahun 1986, Maradona yang dikaruniai lima orang anak mereguk segalanya. Nama besar, harga diri, kekayaan dan istri yang setia, Claudia. Di Argentina, ia menjadi anak angkat Presiden Carlos Menem, mendapat anugerah warga negara teladan.
Dunia mencetak namanya dengan tinta emas. Siapapun mengakui sang bintang kelahiran 30 Oktober 1960 tersebut adalah primadona. Saat gol tangan Tuhan tercipta dan dia menjadi arsitek kemenangan tim Tango di final, sebagian penduduk Argentina bahkan menyebutnya sebagai El Dios atau Tuhan.
Dunia Berduka
Dunia sepak bola berduka atas kepergian Maradona. Di Argentina, Presiden Alberto Fernandez menetapkan tiga hari masa berkabung nasional. Sejumlah suporter sang legenda berkumpul di jalan-jalan Kota Buenos Aires.
Di dekat markas bekas klub Maradona, Buenos Aires, tampak sejumlah penggemar menaruh krans bunga duka cita. Sebagian berkerumun di San Andres dekat rumah Maradona. Pun di La Plata, kota dekat Buenos Aires, tempat sang legenda menghabiskan waktu sebagai direktur teknis klub Gimnasia y Esgrima.
"Diego adalah yang terbaik di sini, selamanya. Saya bertemu istri pada 1986 ketika Diego mencetak gol Tangan Tuhan-nya," kata Jose Luis Shokiva, warga Buenos Aires berusia 53 tahun.
Pemimpin Gereja Katolik sekaligus kepala negara Vatikan, Paus Fransiskus, mendoakan kepergian Maradona. Sejak memimpin Tahta Suci 2013, Paus asal Argentina itu beberapa kali menemui Maradona yang berkunjung ke Vatikan.
"Paus mendapat kabar kepergian Maradona, beliau terus mengingatnya dalam setiap doa, sebagaimana dilakukannya beberapa hari terakhir karena perkembangan kondisi kesehatan Maradona," ujar juru bicara Vatikan, Matteo Bruni. dilansir Reuters.
Legenda sepak bola Brasil, Pele, menyatakan duka mendalam. "Saya yakin, suatu hari nanti kita akan bermain sepak bola di atas langit sana," kata Pele.
Kendati tak pernah bertemu di lapangan hijau, sebab Maradona baru memperkuat timnas Argentina 1977, enam tahun selepas Pele pensiun dari tim Samba, keduanya kerap disebut dalam perdebatan siapa pemain terhebat sepanjang masa. Desember 2000, FIFA menobatka Pele dan Maradona, dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Abad Ini.
Klub Italia, Napoli, yang dibela Maradona 1984-1991 dan menjuarai Serie A 1986/87 dan 1989/90 menyebut kepergian legenda seperti pukulan telak. "Kami berduka cita. Rasanya seperti petinju yang dipukul KO. Kami begitu terkejut. Engkau tetap di hati kami. Selamat jalan Diego."
Asosiasi sepak bola Argentina (AFA) melepas kepergian Maradona dengan tangis. "Presiden AFA Claudio Tapia, mewakili kesedihan mendalam atas kepergian legenda kami, Diego Armando Maradona. Kau akan selalu di hati kami."
Boca Junior, klub Argentina yang dibela Maradona 1981-1982 dan 1995-1997 mengucapkan terima kasih tak terhingga. "Terima kasih kekal. Diego yang abadi."
Rekan Maradona di Argentina, Osvaldo Ardiles, mengenang momen-momen yang ia lewati bersama mendiang kala mengantar Argentina juara Piala Dunia 1978.
"Terima kasih Diego atas pertemananmu dan sepak bolamu yang mahamulia tanpa tanding. Pesepak bola terbaik dalam sejarah olahraga ini. Begitu banyak momen-momen menyenangkan bersama. Sulit mencari mana yang terbaik. Berisirahatlah dalam damai, kawan."

Begitulah Maradona. Dia sungguh seorang legenda. Kisah hidupnya mencerminkan kisah kemanusiaan seutuhnya. Ada saat untung, ada kala malang melanda.
Diego lahir untuk sepak bola. Ia merupakan aktor bola paling brilian sekaligus paling kontroversial dalam sejarah. Ia pun anak sepakbola yang lahir sambil menanggung beban paling lengkap.
Ia pernah dipuja dan dipuji melampaui gunung tertinggi, tetapi juga terhempas ke jurang terdalam karena kelemahan manusiawinya,
Kematian adalah sesuatu yang pasti. Setiap manusia tak luput dari hukum kenisbian, bahwa seorang gladiator sekalipun, suatu waktu harus menyarungkan pedang. Bintang di langit tak selamanya terang. Ada waktu ia redup tertutup awan.
Untuk Diego Armando Maradona yang hebat, terima kasih untuk pelajaran hidup yang luar biasa. Selamat jalan. Requiescat In Pace. (dion db putra)
Kisah Wartawan yang Pertama Kutip Gol Tangan Tuhan Maradona
dion bata
![]() |
| Gol Tangan Tuhan Maradona |
TRIBUN-BALI.COM - "Tangan Tuhan" menjadi kutipan olahraga paling ikonik sepanjang masa.
Namun, dunia yang berbahasa Inggris hampir tak bisa mendengar renungan tajam Diego Maradona tentang golnya yang terkenal saat Argentina menang 2-1 atas Inggris dalam Piala Dunia Meksiko 1986 tersebut.
Koresponden olahraga kantor berita Reuters Rex Gowar berada di Stadion Azteca setelah pertandingan itu ketika Maradona mengaku sebagai orang yang paling sering dibicarakan berbuat curang dalam sejarah sepak bola.
"Saat itu adalah liputan Piala Dunia pertama saya bersama Reuters," kata Gowar, yang pertama kali bertemu dengan Maradona saat masih remaja di Buenos Aires sebagai fotografer untuk sebuah surat kabar Argentina.
"Kami berada dekat ruang ganti dengan sekelompok penulis sepak bola Argentina, saat itu adalah semacam perdebatan biasa yang Anda alami setelah pertandingan sepenting itu," kata Rex Gowar.
Sementara itu jauh sebelum adanya ponsel, media sosial dan berita 24 jam non stop, kemarahan sudah muncul setelah tayangan ulang TV dengan jelas memperlihatkan Maradona menggunakan tangannya untuk menepis bola guna melewati kiper Inggris Peter Shilton yang menjadi gol pembuka Argentina saat mereka menang 2-1.
Fakta bahwa gol keduanya yang dia ciptakan beberapa menit kemudian adalah karya jenius dibayangi oleh kontroversi liar atas gol pertamanya.
Seolah menuangkan bensin ke dalam api, Diego Maradona kemudian mengucapkan kata-kata yang lalu menjadi berita besar di seluruh dunia.
"Un poco con la cabeza de Maradona y otro poco con la mano de Dios (sedikit berkat kepala Maradona dan sedikit berkat tangan Tuhan)," kata Maradona kepada beberapa wartawan terpilih yang mengendus kutipan terkenal hari itu.
Kutipan itu laksana emas.
"Saya adalah bagian dari kaget mendengar kutipan itu," kata Gowar, yang meliput keempat Piala Dunia yang diikuti Diego Maradona.
"Kutipan itu keluar dari kami saat kami menanyai dia. Tidak ada yang tahu persis kepada siapa dia mengatakan kalimat itu, tetapi tentu saja begitu saya mendengar kutipan itu, saya terkesan dan tentu saja meja sunting saya terkesan," kata Gowar.
Bdrikut interpretasi media Inggris
Media massa Inggris berusaha mempelajari sesuatu dari pernyataan itu sebagai kambing hitam kegagalan timnya mengulang sukses Piala Dunia 1966.
Mereka mengutip salinan kutipan itu dibalut rasa menjadi korban ketidakadilan akibat aksi tipu menipu terang-terangan Maradona.
Namun, mengingat tanpa ada terjemahan resmi, mereka belum mendengar pengakuan Maradona itu sampai kawat Reuters masuk ke kantor mereka.
Beberapa media, kata Gowar, tidak percaya Mardona sungguh mengatakan hal itu, mungkin kesal karena mereka melewatkan kutipan paling menghebohkan dekade itu.
Ketika para penulis sepak bola Inggris marah, rekan-rekan mereka dari Argentina malah memuji Maradona.
"Mereka tak berusaha memasalahkan bahwa dia telah menggunakan tangannya," kenang Gowar.
"Mereka tahu apa yang telah terjadi tetapi menganggap hal itu tidak sopan kepada dia, mereka terkesan bahwa dia lolos begitu saja."
Anehnya, Rex Gowar nyaris melewatkan momen ikonik tersebut setelah terpeleset di kamar mandi hotelnya pada pagi dalam hari pertandingan itu gelar.
"Setelah terjatuh dengan siku kanan saya yang masih membawa bekas luka, saya membalut perban dan menuju Stadion Azteca," tulis dia hari itu.
"Apakah kami, orang Argentina, percaya bahwa Inggris hanyalah rintangan lain yang mudah dilewati dalam perjalanan menuju gelar Piala Dunia kedua mereka? Mudah saja beranggapan hal itu saat ini, tapi Maradona sudah punya trik sebagai jaga-jaga."
Duduk di tribun media di atas, Gowar mengisahkan momen yang akan menjadi bagian dari legenda olahraga itu.
"Rekan-rekan saya dari Reuters terkejut ketika Maradona yang berpura-pura menyundul gol pembuka, berlari merayakan gol itu. Wasit, menunjuk ke titik tengah (pertanda gol), dikelilingi para pemain Inggris yang menuntut keluarnya keputusan hand ball," kata dia.
"Tribun pers yang terletak di atas di barisan ketiga stadion raksasa itu dan jauh dari gawang di mana dia mencetak gol seketika gempar hampir tidak percaya wasit melewatkan trik itu."
Beberapa jurnalis bisa membanggakan wawasan Gowar tentang karier Maradona yang luar biasa.
Dia mendapat wawancara eksklusif dengan Maradona ketika masih berusia 19 tahun pada April 1980, beberapa pekan sebelum dia memukau Inggris di Wembley dalam tur Eropa sang juara dunia baru kala itu.
Dia juga berada di Amerika Serikat 14 tahun kemudian ketika impian Maradona memenangkan Piala Dunia kedua dihancurkan oleh tes doping yang hasilnya positif.
"Itu menghancurkan mimpi kami juga," kata Gowar seperti dikutip Reuters.
Sumber: Tribun Bali
Ketika Duri-duri Tak Lagi Terasa
dion bata
![]() |
| Elcid Li dan Fima Inabuy (kanan) |
Tepatnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tetangga terdekat Bali.
Daerah itu sudah memiliki Laboratorium Biomolekuler untuk tes massal Covid-19.
Kalau sekadar bangun lab sih biasa. Yang luar biasa adalah NTT membangun lab pertama di Indonesia atas inisiatif masyarakat.
Mereka sukses merajut kerja kolaborasi apik dengan pemerintah daerah.
Kehadiran laboratorium tersebut memungkinkan tes massal Covid-19 gratis bagi masyarakat. Sebuah inovasi yang membanggakan.
Lebih menggetarkan hati justru pihak yang berinisiatif pertama kali dan bekerja tanpa mengeluh.
Mereka adalah sekelompok anak muda Nusa Tenggara Timur dari aneka latar belakang profesi dan pendidikan.
Ada mahasiswa, tukang batu, sarjana baru lulus, para doktor tamatan luar negeri, dosen dan lain-lain.
Mereka kerja bahu-membahu. Hari ini 28 Oktober 2020, sontak saya ingat mereka. Pemuda-pemudi Indonesia modern yang sungguh menghayati makna Sumpah Pemuda.
Tuan dan puan. Lab karya kolaborasi itu sudah beroperasi.
Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto meresmikan laboratorium biomolekuler hasil kerja sama masyarakat, Pemerintah Provinsi NTT dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan Forum Academia NTT (FAN) di Kupang, Jumat 16 Oktober 2020.
Seperti dikutip dari pos-kupang.com, Menteri Terawan dalam sambutan yang dia sampaikan melalui aplikasi zoom di hadapan Gubernur NTT Viktor B Laiskodat, Wakil Gubernur Joseph Nae Soi, Rektor Undana Prof Fred Benu serta Ketua Tim Pool Test Dr Fima Inabuy menyampaikan apresiasi kepada NTT.
"Saya mengapresiasi sinergi dan kolaborasi masyarakat dan Pemerintah NTT dalam meningkatkan akses layanan pemeriksaan spesimen Covid-19 ini," kata Terawan.
Menteri Terawan mengharapkan mutu dan kedisiplinan serta aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan penerapan laboratorium biomolekuler tetap diperhatikan saat lab tersebut melayani pemeriksaan spesimen Covid-19.
Menteri Kesehatan menilai keberadaan laboratorium biomolekuler ini bukti kerja sama kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas dari masyarakat NTT. Dia mengharapkan laboratorium tersebut meringankan beban masyarakat NTT di tengah pandemi Covid-19.
Gubernur Viktor Laiskodat mengatakan dengan adanya laboratorium biomolekuler itu, pemerintah provinsi NTT menggratiskan layanan pemeriksaan menggunakan alat tes diagnostik cepat maupun pemeriksaan spesimen usap guna mendeteksi penularan Covid-19.
Gubernur Viktor sudah menandatangani surat keputusan mengenai penyediaan layanan tes cepat dan pemeriksaan spesimen usap gratis.
"Kemarin saya sudah panggil beberapa pihak, mulai dari pihak Universitas Nusa Cendana, untuk mulai hitung-hitung dan saya rasa kalau hanya rugi beberapa saja tidak apa-apalah," ujar Gubernur Viktor.
Inisiatif Rakyat
Moderator Forum Academia NTT (FAN), Dominggus Elcid Li merupakan satu di antara tokoh muda NTT yang berinisiatif menghadirkan laboratorium hasil kerja kolaborasi ini.
Elcid Li dan teman-temannya di Forum Academia NTT bersyukur akhirnya niat luhur tersebut terwujud.
“Jalanan yang dulu tiada, kini terbuka, dan mulai ramai dilalui. Bahkan pertemuan yang tak disangka menjadi mungkin. Ide berkembang, bertumbuh, dan yang terlibat berlipat ganda,” ujarnya.
“Kegembiraan itu datang dari pertemuan, kerja sama, dan semangat untuk belajar. Tangan yang terbuka, bersedia memberi jauh lebih dibutuhkan daripada tangan yang mengambil,” kata Elcid Li dalam catatan refleksi perjalanan membangun laboratorium biomolekuler untuk tes massal atau pool test Covid-19 ini.
Menurut doktor jebolan Universitas Birmingham, Inggris tersebut, laboratorium ini adalah laboratorium pertama di Indonesia yang khusus melakukan riset inovasi terkait tes massal.
“Laboratorium datang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk Indonesia. Krisis tidak hanya melahirkan penderitaan tetapi melahirkan inovasi. Gambaran ini muncul pada Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D, doktor biomolekuler pertama asal NTT lulusan Washington State University.” kata Elcid Li.
Elcid yang juga anggota Tim Pool Test untuk NTT mengatakan, rekannya Inabuy yang juga angota FAN, datang dengan ide tes massal Covid-19.
Proses inkubasi idenya seiring dengan rekan lain di Bandung, Hafidz.
Tak heran mereka kerap berkomunikasi bersama dengan Dahlan Iskan, wartawan senior itu.
Pada tanggal 1 Mei 2020 Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D dari Forum Academia NTT pertama kali mempresentasikan idenya tentang pembuatan laboratorium biomolekuler untuk test massal di depan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT.
Ia menjelaskan dengan gamblang tentang metode pooled test. Ide itu diam cukup lama, tidak mendapatkan sapaan balik dari pemerintah.
Meski demikian, Fima, demikian sapaan akrab Fainmarinat S. Inabuy, tetap punya keyakinan. Ia mulai merekrut, dan melakukan pelatihan untuk para laboran di awal bulan Juni 2020.
Dukungan pertama datang dari Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang. Mereka menyiapkan ruangan, alat, dan reagen.
Tak hanya itu, acara pembukaan dan penutup pun mereka persiapkan. Mereka masih sempat memberikan tenun tanda persaudaraan untuk semua peserta.
Awalnya, Fima sempat mendesain acara pelatihan selama setengah hari saja. Pelatihan berhenti sebelum jam makan siang.
“Ya, dana makan siang memang tidak ada. Kas Forum Academia NTT sisa Rp 500 ribu. Hanya cukup untuk makanan ringan,” kata Elcid.
Namun dukungan publik ternyata luar biasa.. Gelombang dukungan masyarakat NTT maupun dari luar NTT mengalir.
BLK (Balai Latihan Kerja) dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT pun turun tangan.
Mereka ikut membawa makan siang. Pelatihan bisa selesai sore jam 6, dan peserta masih bisa makan malam bersama atau dibawa pulang.
Elcid mengatakan, kebanyakan laboran anak kos. Sejak itu tim pool test berisi para laboran muda terbentuk.
Pelatihan demi pelatihan mereka jalankan. Sejak Juni mereka bekerja tanpa mengharapkan upah.
“Hanya semangat. Modalnya gerakan sukarelawan. Gotong royong. Prinsipnya jika saling membantu kita tidak pernah kekurangan, sebaliknya jika ini dianggap proyek, duit selalu kurang,” ujarnya.
Sejak Juli 2020, SK untuk pendirian laboratorium biomolekuler keluar. Laboratorium ini ditempatkan di Universitas Nusa Cendana (Undana).
Sejak itu selama tiga bulan, Fima, doktor biomolekuler ini tak hanya membaca jurnal. Ia adalah mandor pembangunan laboratorium.
Mandor bukanlah kata yang pas, sebab Fima dan keluarganya kemudian juga memberi secara harian.
“Seluruh makan siang para laboran disumbangkan oleh Ibu Ietje yang adalah mama dari Fima, dari Sekolah Abdi Kasih Bangsa, Kupang.” kata Elcid.
Sikap sukarelawan itu menular. Setidaknya ada 8 laboran pejuang yang bertahan hingga kini dari 16 orang. Bekerja dari pagi hingga menjelang tengah malam adalah hal biasa.
Sebagai anak muda. Mereka telah bertarung hingga titik tertinggi.
“Memberikan yang terbaik tanpa pamrih. Bekerja dalam kondisi darurat syaratnya hanya satu: one for all, all for one. Humanity. Anak-anak muda ini tak hanya laboran. Mereka adalah pasukan task force sesungguhnya. Dari memasak, cleaning service, mencatat laporan keuangan, hingga membuka jurnal membahas alur pool test mereka kerjakan dalam satu hela napas.” kata Elcid Li.
Ia menambahkan, kehadiran doktor biomolekuler kedua asal NTT juga amat membantu. Alfredo Kono, Ph.D yang pulang dari Iowa State University juga turut mengambil sebagian peran dari pundak Fima.
Edo, sapaan akrab Alfredo, pulang lebih cepat ke Kupang untuk membantu.
Jika sudah tiba membaca hasil PCR, mereka bercakap-cakap dalam dunia mikro itu. Mereka tenggelam dalam alam laboran.
“Hening dan detil. Waktu seolah diam. Dari Dinas Kesehatan Provinsi ada srikandi pejuang. Ibu Erlina R. Salmun. Ia adalah pejuang pekerja di dalam birokrasi. Ia membantu yang belum macet. Menyambungkan yang perlu. Ia adalah anomali dalam birokrasi. Pakai hati,” ujarnya.
Onak dan duri dialami Elcid Li dkk. Menurut Elcid, beberapa bulan lalu tim interdisipliner dari Forum Academia NTT yang menginisiasi pembangunan laboratorium ini sempat difitnah mendapatkan uang 900 ribu per jam oleh beberapa oknum wartawan.
“Namun isu tidak pernah mereka selesaikan dengan bukti. Tapi, semua itu sudah lama berlalu. Kini, duri-duri itu tak lagi terasa, hanya ada bunga yang mekar.”
“Malam-malam menunggu hasil tes dari PCR sudah terbayarkan. Panas dalam APD di ruang ekstraksi sudah lewat. Jari yang penat menggunakan micro pipet, sudah berlalu. Tubuh yang dingin diguyur air dingin tengah malam keluar dari ruang ekstraksi sudah tak lagi terasa.” kata Elcid Li.
Elcid dengan bangga mengatakan, 16 Oktober 2020, anak-anak muda Indonesia asal Provinsi NTT sedang mencatatkan sejarah bersama.
Mereka membuat Laboratorium Biomolekuler yang hadir karena insiatif rakyat.
Momentum semangat persaudaraan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh mereka buktikan.
“Ya, insiatif ini mungkin yang pertama terjadi di dunia. Laboratorium rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Semangat itu yang sering hilang. Rakyat adalah entitas politik dari republik. Tanpa rakyat tidak ada republik.” jelas Elcid Li.
Menurut Elcid, ketika ide dikerjakan tanpa kepentingan (interest), dan uang hanya menjadi salah satu variabel dan bukan tujuan ternyata bisa menghasilkan sesuatu.
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pun tergerak. Gubernur berjanji memberikan swab gratis untuk seluruh warga.
Untuk bersama-sama sehat, semua harus punya akses yang sama di saat pandemi Covid-19.
“Prioritas tim saat ini adalah mengurai antrean sampel swab sebanyak 3000-an, dan membantu tim surveillance Dinas Kesehatan Provinsi/Kota/Kabupaten di NTT Kita sedang berjalan bersama keluar dari krisis,” kata Elcid Li.
Elcid Li benar. Pendekatan ekonomi saja tidak lagi menjadi solusi. Pendekatan Ekonomi-Kesehatan harus menjadi panglima.
Selama para teknokrat dan birokrat meminggirkan rakyat, hanya ada nestapa beruntun.
Sebaliknya jika republik dikerjakan dalam politik kerakyatan, untaian bunga mawar menjadi hadiah perjalanan melalui sekian duri dan onak. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
“Mengerjakan republik perlu dilakukan dengan gembira. Agar pekik ‘merdeka’ dilepaskan ke angkasa tanpa beban, cuma rasa syukur masih bisa saling sapa dan bantu demi kehidupan yang lebih baik. Semoga pemulihan akibat krisis bisa lebih cepat,” demikian Elcid Li. Ya begitulah harapan kita semua. (dion db putra)
Sumber: Tribun Bali






