Capello-Gaal menangis, Otto terpental

Oleh Dion DB Putra

PEKAN
ini, setidaknya ada tiga peristiwa di Eropa yang seluruhnya berkaitan dengan sepakbola. Peristiwa itu pun amat besar bobotnya, karena berada pada detik-detik akhir kompetisi liga tahun 1995/1996 dan melanda klub-klub raksasa.
Kisah pertama, yang sangat tragis ialah terdepaknya Otto Rehhagel dari singgasananya sebagai Pelatih Bayern Muenchen-Jerman. Otto dipecat Presiden klub Bayern, Kaisar Franz Beckenbauer, hanya sehari setelah Bayern dicukur Hansa Rostock 1-0, Minggu (28/4/1996) dalam lanjutan kompetisi Bundesliga.
Memang, sungguh mengenaskan nasib Otto, karena ia ditendang justru pada saat-saat genting, ketika Bayern sedang berusaha merebut juara liga musim ini sekaligus Piala UEFA untuk pertama kalinya dalam sejarah klub itu. Pemecatan Otto oleh Beckenbauer, sangat mengejutkan publik Jerman.
Mereka hampir tak percaya, Beckenbauer mengambil langkah seberani itu. Di mata bangsa Jerman, sang Kaisar dikenal penuh kebapaan, bijaksana dan humanis. Sejauh ini, hubungannya dengan Otto Rehhagel, rekan seangkatannya ketika membela Jerman pada era 1970-an cukup baik.
Belakangan, meski masih samar, sikap Beckenbauer itu diambil lantaran Otto kurang memberi perhatian ekstra terhadap latihan pemain dan jadwal pertandingan Bayern. Menurut Kaisar, disiplin pemain Bayern sangat parah, sehingga mereka terus menelan kekalahan, justru pada saat perebutan gelar Bundesliga yang kian ketat dengan juara bertahan Borussia Dortmund.
Kaisar akhirnya langsung mengambilalih kursi pelatih hingga akhir kompetisi. Tangan dinginnya kembali terbukti, ketika Bayern secara menyakinkan menang 2-0 atas Bordeaux Perancis pada babak final pertama Piala UEFA, Kamis dini hari Wita (2/5/1996).
Kaisar juga cukup yakin, Bayern Muenchen bakal merenggut piala UEFA tahun ini, meskipun Juergen Klinsmann dkk masih harus bertandang ke Bordeaux 15 Mei 1996. "Sebuah tim, hanya bisa dibangun kalau para pemainnya disiplin," kata Beckenbauer. Karena disiplin pula, Otto harus terpental dari singgasana Muenchen. Untuk disiplin, Kaisar memang sulit diajak kompromi.

***
FABIO Capello dan Louis van Gaal menangis! Itulah kisah lain dari bumi Eropa pekan ini. Hampir dalam saat yang bersamaan, Fabio Capello menangis sesenggukan di pinggir lapangan Stadion San Siro Milan, Minggu (28/4). Di Stadion De Meer Amsterdam, Louis van Gaal tak mampu membendung air mata, setelah Ajax mengalahkan Willem II Tilburg 5-1.
Capello menangis di tengah lautan pesta tifosi-tifosi fanatik Kota Milano, setelah AC Milan memukul Florentina 3-1. Kemenangan itu sungguh berkesan, karena Milan memastikan diri merebut juara Liga Italia Seri A 1995/1996. Meskipun Liga Italia masih bergulir satu pekan, Capello akhirnya berhasil juga membawa Milan merebut jaura liga ke-15 kalinya.
Inilah persembahan terbaik dari Capello bagi publik Milan yang amat mengaguminya. Di tangan Capello selama lima tahun terakhir, AC Milan juara liga empat kali. Ini belum termasuk juara Piala Champions, Piala Toyota dan Piala Liga. Capello memang luar biasa. Pelatih berwajah keras itu, telah membuat senyum Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi semakin cerah di atas langit negeri spaghetti.
Tangisan Capello Minggu malam itu, semakin berarti - karena tiga hari kemudian, ia memastikan sikap meninggalkan AC Milan. Capello pada musim kompetisi 1996/1997, akan menangani klub raksasa Spanyol, Real Madrid. Setelah melalui perundingan alot dengan Berlusconi dan Ketua Real Madrid, Lorenzo Sanz, Capello hijrah ke Spanyol selama empat tahun dengan kontrak senilai Rp 24 miliar. Dibanding Otto, langkah Capello sungguh manis. Ia meninggalkan Milan dengan kejayaan, dengan prestasi monumental!
Di Amsterdam, tangisan Louis van Gaal hampir sama musababnya dengan air mata Capello di San Siro, Milan. Van Gaal menangis, karena untuk ketiga kalinya secara berturut-turut ia mampu membawa Ajax ke puncak juara Liga Belanda atau gelar ke-26 yang diraih Ajax.
Sehari kemudian, warga Amsterdam melakukan pesta rakyat di Stadion De Meer. Nama Van Gaal pun membumbung tinggi di bumi kincir angin. Van Gaal pewaris total football serta pencetak pemain muda berbakat itu menangis - karena ia tak mampu menahan haru atas sambutan masyarakat yang larut dalam kebahagiaan.
Sambutan itu tentunya bukan basa-basi, karena Van Gaal sudah memahatkan Ajax sebagai juara dunia sejati 1995 dengan merenggut Piala Champions, Piala Toyota dan Piala Super Eropa. Tahun inipun, Van Gaal sudah berhasil membawa Ajax sampai ke final Piala Champions melawan Juventus Italia di Roma 22 Mei mendatang.
Tinggal selangkah lagi, Van Gaal bakal mempertahankan gelar, sekaligus memulai masa emas Ajax di Piala Champions Eropa seperti yang tercipta pada era emas Johan Cruyff 1971-1973. Untuk Van Gaal dan Capello, tuan berdua memang hebat dan layak dapat bintang. Sayang sekali Otto, ente mesti memikul duka. Mau bilang apa, inilah sepakbola! ** Dipublikasikan Pos Kupang edisi Sabtu, 4 Mei 1996.

Jangan jadi pengecut, Rocha!

Oleh Dion DB Putra

ITALIA
adalah negara yang melahirkan sepakbola negatif. Ini sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat pecinta sepakbola. Bahwa saat ini, Italia menjadi surga para bintang lapangan hijau, memiliki kompetisi liga paling marak sejagat serta telah menanggalkan kesan negatif itu - dunia toh tetap akan mengenang gaya cattenacio-nya.
Cattenacio mengajarkan orang bermain bola bukan untuk sebuah keindahan. Bola tak laik dinikmati sebagai salah satu karya seni. Yang penting ialah menang, harus bisa menumpas lawan dalam waktu 2x45 menit pertandingan.
Praktek paling nyata dari sepakbola negatif ala Italia adalah bertahan habis-habisan. Barikade pertahanan harus berlapis-lapis untuk menjaga lawan memasukkan bola. Bila perlu, setiap aksi pemain lawan yang membahayakan harus dibabat. Prinsipnya, pemain sih boleh lewat, tetapi bola tidak!
Untuk mewujudkan sasarannya, sepakbola negatif biasanya menempatkan tujuh sampai delapan pemain di zona pertahanan. Cuma satu striker yang disiapkan untuk melakukan counter attack (serangan balik). Dalam posisi sudah unggul, seluruh pemain bahkan turun memperkuat daerah pertahanan.
Itulah sebabnya, cattenacio selalu melahirkan rasa benci terhadap sepakbola. Tim yang memainkan pola ini kerap disapa pengecut, tidak bersikap jantan di lapangan. Italia, ketika masih kuat menerapkan prinsip itu - menjadi monster paling menakutkan. Kebencian dunia, membuat Italia tahu diri lalu perlahan meninggalkannya -- terutama pada era kepemimpinan Arigo Sacchi.
Lawan dari sepakbola negatif ialah sepakbola menyerang, yang kita ketahui sangat teguh dipegang Belanda lewat total football. Rinus Michel merupakan tokoh paling sukses dengan sepakbola menyerang ini. Total football membuat tim nasional atau klub-klub Belanda sangat disegani setiap lawannya.
Tetapi, sejarah pun telah membuktikan, fanatisme akan sepakbola menyerang jua yang menobatkan Belanda harus puas sebagai juara tanpa mahkota. Prinsip menyerang tanpa henti, hasilnya justru kecolongan pada detik-detik kritis. Sakit sekali!

***
RASA sakit hati akibat praktek sepakbola negatif itu direguk Ajax Amsterdam ketika menjamu Panathianikos Yunani pada putaran pertama semifinal Piala Champions dua pekan silam. Menguasai pertandingan sejak babak pertama, menyerang tanpa henti ke setiap lini, Ajax malah kecolongan gol Krsytof Warzyca hanya tiga menit menjelang pertandingan bubar.
Kemenangan Panathinaikos 1-0 di Stadion De Meer Amsterdam kala itu, merupakan buah strategi pelatih Juan Ramon Rocha yang memerintahkan pemainnya melakukan pertahanan total. Para penonton menyaksikan aksi pemain Ajax menyerang, namun tak satupun gol tercipta karena ketatnya pertahanan anak-anak Rocha. Rocha memang berhasil melabuhkan impiannya. Tetapi tindakan "pengecut" itu, sangat keterlaluan karena Juan Ramon Rocha berdarah Argentina, ia datang dari negara berkultur anti sepakbola negatif.
Rabu malam ini waktu Athena atau Kamis dini hari (18/4/1996) sekitar pukul 02.30 Wita, pasukan Ramon Rocha kembali menjamu Ajax, juara bertahan Piala Champions 1996 di kandangnya. Anda yang menggemari kulit bundar sebaiknya meluangkan waktu untuk begadang, karena RCTI langsung menayangkannya dari Athena.
Bagaimana aksi para pemain Panathinaikos di depan pendukung fanatiknya? Apakah penampilan dua pekan silam di Amsterdam kembali terulang? Bila strategi di Stadion De Meer dipertahankan Rocha, pertandingan malam ini akan sangat membosankan. Bagi penikmat bola yang mendewakan permainan atraktif - pola defensif ala cattenacio Italia amat menyebalkan. Rocha bakal ditangisi sebagai "pengecut" yang hanya mendambakan kemenangan untuk membalas dendam atas kekalahan Panathinaikos 0-2 dari Ajax pada final Piala Champions 25 tahun silam di Stadion Wembley.
Apapun hasil akhir pertandingan Kamis dini hari nanti, Ajax hampir pasti tetap pada kulturnya menyerang selama pertandingan. Tak ada pilihan lain bagi Louis van Gaal, karena untuk lolos ke final timnya harus menang minimal 2-0. Risiko kecolongan, sudah tidak penting, karena Ajax berada pada posisi sangat dilematis. Daripada sekadar basa-basi menyerang, lebih baik mandi sekalian.
Kita berharap, Panathinaikos berani melakukan langkah serupa, sehinga duel kali ini menjadi tontonan yang nikmat. Paling tidak, sedikit demi sedikit memberi kepuasan karena Anda mungkin cukup lelah dan terkuras stamina, lantaran harus mete (begadang) sampai hari menjelang fajar. Selamat menyaksikan. ** Disiarkan Pos Kupang, edisi Rabu, 17 April 1996

Utak-atik, Ajax pun tak berkutik

Oleh Dion DB Putra

ASYIK menyerang, memainkan bola dengan sangat piawai dari kaki ke kaki, kepala ke kepala, mempertontonkan aksi individu nyaris tanpa cacat -- tetapi hasil akhir, Ajax kalah! Itulah drama paling menggetarkan dan mengharukan di Stadion De Meer Amsterdam, Rabu malam atau Kamis dini hari Wita (4/4/1996). Di hadapan publik sendiri, Danny Blind dkk tak berkutik.
Kekalahan Ajax pada masa kritis (injury time) itu - merupakan kado Paskah paling menyakitkan. Ajax yang tak pernah kalah dalam kompetisi Eropa selama dua tahun terakhir serta melahirkan prestasi monumental selama 1995 - membuat publik dunia terkesima dan heran. Rasanya seperti mimpi, Ajax ditumbangkan Panathinaikos Yunani, tim yang tak banyak dijagokan.
Kalau ditanya, siapa yang paling dikenang ribuan penggemar Ajax saat ini - maka Kryzstov Warzycha-lah orangnya. Gol anak Polandia pada menit ke-87 ini, menaifkan kebesaran Ajax. Menyimak pertandingan itu, Ajax sebenarnya tampil bagus. Ajax hampir 90 persen mendominasi jalannya pertandingan 2x45 menit itu. Sejak kick off babak pertama, permainan praktis hanya berlangsung setengah lapangan.
Kalau ada serangan Panathinaikos, cuma sesekali mengandalkan counter attack (serangan balik). Namun, di sinilah kepiawaian pelatih Panathinaikos asal Argentina, Juan Ramon Rocha. Rocha rupanya sadar benar bahwa anak buahnya menghadapi tim yang melahirkan kultur sepakbola menyerang (total football), sehingga jalan satu-satunya bermain defensif dengan menjaga risiko melakukan pelanggaran terhadap lawan sekecil mungkin.
Hal ini benar-benar tampak. Rocha memerintahkan delapan pemain untuk melakukan pertahanan total. Praktis cuma dua pemain yang agak ke depan untuk sesewaktu melakukan counter attack, yakni George Donis dan Warzycha. Playmaker asal Argentina, Juan Jose Borelli di tengah sebagai penghubung. Selebihnya tak sedikitpun berani keluar sarang. Mereka sangat disiplin menjaga zona pertahanan sekaligus man to man marking ketat tatkala lawan mengepung di luar atau dalam kotak terlarang.
Akibatnya, Patrick Kluivert, Jari Litmanen, Nwanko Kanu dan Finidi George berkali-kali gagal menembus gawang Panathinaikos yang dikawal Josef Wandzik. Meski penampilan Ajax dipengaruhi kurang fitnya jari Litmanen, Ronaldo de Boer, Edgar Davis dan Michael Reiziger yang baru pulih dari cedera, namun pasukan Louis van Gaal itu melakukan kesalahan fatal karena terjebak pola permainan lamban yang diterapkan anak asuh Ramon Rocha.
Rocha, selain melakukan pertahanan berlapis juga memperlambat tempo. Taktik ini sangat jitu, sehingga pemain-pemain Ajax yang biasanya melakukan sentuhan satu dua - menggempur tanpa henti secara sporadis ke semua lini - menjadi ompong sama sekali.
Ketika memasuki kotak penalti, para pemain Ajax suka sekali mengutak-atik bola dari kaki ke kaki. Prinsip kerjasama tim yang diinstruksikan Van Gaal tak dapat diragukan, namun akibatnya mereka kurang berani melepaskan tembakan ke gawang. Pemain-pemain Ajax tampaknya ingin mencetak gol indah, tak mau berspekulasi.
Nwanko Kanu memang mendapatkan peluang manis itu, yakni pada menit ke-20 dan 34 babak pertama. Namun, tembakannya melebar hanya beberapa senti di sisi kiri gawang Josef Wandzik. Keragu-raguan melakukan spekulasi tendangan jarak jauh juga dikarenakan Ajax memang tidak memiliki pemain khusus dengan kualifikasi penembak lini kedua (second line).
Kemampuan seperti ini, sesungguhnya ada pada Marc Overmars dan Danny Blind. Sayang, Overmars cedera sejak Desember 1995 dan mungkin absen sampai tiga bulan mendatang. Kapten Danny Blind, entah kenapa tidak pernah memanfaatkannya. Edgar Davids hanya sekali mencoba menit ke-58, tapi tendangannya melenceng jauh di samping kanan gawang.
Sisi lemah Ajax justru di sini, ketiadaan penembak second line. Mereka punya segudang striker murni, di antaranya Kanu dan Kluivert. Tetapi pertahanan berlapis Yunani, tak dapat ditembus sama sekali. Gol tunggal Wazycha menit ke-87, merupakan buah dari titik konyol sepakbola menyerang. Gol itu, harus diakui merupakan imbas dari keasyikan Ajax menyerang lalu lupa bertahan. Secara individu, Michael Reiziger patut disalahkan karena tidak disiplin menjaga wilayahnya.
Dengan hasil itu, sungguh berat perjuangan Ajax dalam pertandingan tandang di kandang Panathinaikos, 17 April mendatang. Ajax harus menang 2-0 untuk lolos ke final. Ini jelas tidak mudah, karena Panathinaikos susah dikalahkan di depan publik sendiri. Sejarah mencatat, tim tamu selalu keok di Athena. Apalagi bila Ajax tetap pada penampilan dua hari lalu, tak mungkin mampu membungkam juara Yunani itu.
Kerja agak enteng, bakal dilakoni Juventus yang menang 2-0 atas Nantes (Perancis) di kandang sendiri. Vialli dkk tinggal mencari hasil seri untuk lolos ke final di Roma 22 Mei 1996. Keruntuhan Ajax di Stadion De Meer Kamis dini hari, sekaligus mengingatkan Anda, untuk sesaat melupakan grand final impian Juventus versus Ajax. ** Dipublikasikan Pos Kupang edisi Sabtu, 6 April 1996.

Memburu rekor pangeran

Oleh Dion DB Putra

SELAMA tahun 1995, dunia tiba-tiba tercengang menatap prestasi Ajax Amsterdam Belanda yang sangat monumental. Berasal dari juara Liga Belanda tiga tahun berturut-turut, Ajax naik ke tangga terhormat dengan menjuarai Piala Champions Eropa. Juara di ajang paling bergengsi itu -- terasa nikmat lantaran Danny Blind dkk mengalahkan the dream team AC Milan 1-0 di final.
Usai pesta kemenangan di Piala Champions, Ajax lagi-lagi mencatat sejarah dengan merebut Piala Toyota di Tokyo pada akhir November 1995 dengan mengalahkan juara Amerika Latin asal Brasil, Gremio 4-3. Prestasi klub Belanda itu kian lengkap dengan menjuarai Piala Super Eropa.
Di tahun 1996, juara Liga Belanda tampaknya akan menjadi milik anak buah Louis van Gaal. Walaupun selama musim kompetisi 1995/1996 ini, Ajax sudah kalah tiga kali termasuk melawan Roda pekan lalu - namun peluang untuk menjadi juara terbuka lebar.
Namun, ujian berat akan dialami Ajax malam ini waktu Amsterdam atau Kamis dini hari Wita besok. Ajax diuji keperkasaannya untuk mempertahankan juara Piala Champions Eropa melawan juara Yunani, Panathinaikos pada babak semifinal pertama.
Di atas kertas, Ajax hampir pasti lebih banyak menyedot dukungan yang menjagokannya sebagai pemenang. Kebanyakan pengamat bola tentu lebih dominan memihak Ajax, karena dalam banyak aksi, prestasi Panathinaikos memang belum apa-apa.
Akan tetapi, berita terbaru sebagaimana dikutip Kantor Berita Nasional Antara kemarin menyebutkan, Ajax kali ini tanpa diperkuat beberapa pemain terbaiknya sehingga Pelatih Louis van Gaal kesulitan memilih susunan pemain. Ia harus menurunkan mantan striker PSV Eindhoven, Peter Hoekstra dan pemain asal Brasil Marcio Santos untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Martijn Reuser, Marc Overmars dan Nordin Wooter yang masih cedera.
Namun, pemain belakang Michael Reiziger kemungkinan dapat bermain setelah tampil pada latihan, Senin (1/4), pemain asal Finlandia Jari Litmanen dan pemain nasional Belanda Edgar Davids dan Ronald de Boer, yang absen ketika Ajax dikalahkan Roda Kerkrade pekan lalu, akan dipilih bersama-sama Sonny Silloy.
Di kubu Panathinaikos, pada pertandingan nanti akan mengandalkan playmaker asal Argentina, Juan Jose Borelli (25). Mereka juga akan mengandalkan striker Krzystof Warzycha untuk mencetak gol. Panathinaikos yang harus mengakui keunggulan Ajax 0-2 dalam final mereka yang pertama di Piala Champions 25 tahun lalu, tampaknya menyadari bahwa mereka harus bekerja keras dalam pertandingan di kandang lawan itu.
"Kami tahu akan menghadapi tim terkuat dunia, tapi siapa tahu kami bisa mengulang sejarah dan tampil sebagai pemenang," kata Juan Ramon Rocha, pelatih Panathianikos asal Argentina. Pimpinan Liga Yunani itu akan bertandang ke Amsterdam tanpa pemain terbaik keduanya, penyerang Alexis Alexoudis yang masih cedera lutut.
Partai Ajax melawan Panathinaikos merupakan partai ulangan pada final Piala Champions 1971, yang meurpakan awal dari kemenangan klub Belanda di arena Piala Champions sebelum menjadi juara tiga kali berturut-turut. Kala itu, Ajax memukau dunia lewat kepiawaian "sang pangeran bola" Johan Cruyff. Cruyff yang kini menjadi pelatih Barcelona Spanyol, menjadi simbol kebesaran Ajax dan tim Oranye Belanda.
Era kebesaran sang pangeran pula, dunia menjuluki Belanda sebagai juara tanpa mahkota, karena masuk final Piala Dunia dua kali berturut-turut (1974 dan 1978), namun gagal menjadi juara dunia. Prestasi Ajax kini membangkitkan lagi kenangan akan kebesaran Cruyff dan Belanda era 1970-an.
Karena itu, mungkin tidak berlebihan bila Danny Blind dkk akan berusaha mempertahankan Piala Champions sekaligus memburu rekor sang pangeran, pendahulunya. Anda sebaiknya langsung menatap ke Amsterdam dini hari ini, lewat layar kaca RCTI mulai pukul 03.00 Wita. Tentu lebih bijaksana, bila Anda bisa menjadi salah satu saksi sejarah perjuangan Ajax. ** Dipublikasikan Pos Kupang edidi Rabu, 3 April 1996

Sepakbola Eropa: E Finito Italia!

Oleh Dion DB Putra


SELURUH kota di Italia tiba-tiba sunyi senyap, hari Minggu 17 Maret 1996. Di Kupang, penggemar berat Liga Seri A marah dan kecewa, karena RCTI tak dapat melakukan program rutinnya menayangkan secara langsung pertandingan sepakbola dari Italia.
Hari itu - roda Liga Italia, mulai dari seri A sampai C1 memang seluruhnya mati total, menyusul aksi mogok para pemain berkaitan dengan jumlah tuntutan dari asosiasi pemain pimpinan Sergio Campana.
Asosiasi, antara lain menginginkan jaminan bagi pemain agar mereka tetap menerima gaji walaupun klubnya jatuh pailit serta pembatasan pemain asing yang boleh digunakan dalam satu klub. Salah seorang pelopor, Gianluca ‘botak’ Vialli diibaratkan pahlawan dalam kisah legenda rakyat Britania, Robin Hood.
Dari Paris, mega bintang Diego Armando Maradona yang kebetulan sedang berkunjung ke kota itu menyatakan dukungannya terhadap aksi mogok ini. Harian terkemuka Italia, La Republica melukiskan dampak pemogokan itu dengan mengatakan, “Sehari tanpa sepakbola di akhir pekan, bagaikan hidup seabad di gurun pasir.”
Meskipun aksi tersebut hanya berlangsung sepekan, namun citra Italia sebagai negarai adidaya sepakbola dunia sontak ambruk. Para pemerhati menilai, sebagus-bagusnya manajemen sepakbola di negeri spaghetti itu, ternyata masih ada lubang kelemahannya. Sangat keterlaluan, karena Italia yang mampu membeli hampir pemain terbaik seluruh benua dengan rekor harga terbesar tapi tak mampu membayar jaminan sosial, tuntutan yang manusiawi, berlaku universal untuk profesi apa saja.


***
TERLEPAS dari kasus mogok itu -- perkembangan sepakbola Italia sampai 90 hari kita menjalani tahun 1996 ini cukup menarik dicermati. Tinggal dua bulan berlangsungnya Kejuaraan Sepakbola Piala Eropa 1996 di Inggris, Italia menampilkan wajah kusam yang sangat memilukan.
Ini tampak dari hasil kompetisi Eropa, baik di Piala Champions, UEFA dan Winners. Bila pada tahun sebelumnya, klub-klub Italia merajai ketiga ajang tersebut, bahkan menjuarainya -- tahun ini muka Italia praktis hanya diselamatkan Juventus yang berhasil menjadi salah satu semifinalis Piala Champions. Semifinalis lainnya Nantes (Perancis), Ajax (Belanda) dan Panathinaikos (Yunani).
Selebihnya, klub-klub Italia termasuk calon kuat juara liga 1995/1996, AC Milan tak dapat berbuat banyak. Parma yang berlaga di Piala Winner serta AC Milan di Piala UEFA secara mengejutkan tumbang. Padahal dengan hanya meraih hasil seri, kedua klub itu berhak maju ke semifinal.
Apa yang terjadi-sebenarnya menunjukkan bahwa Italia bukan lagi satu-satunya negara kuat sepakbola di Eropa. Kekuatan itu sudah mulai bergeser ke negeri Belanda, Perancis, Spanyol bahkan negara-negara dari kawasan Eropa Timur yang kini hadir sebagai monster menakutkan.
Perancis, tuan rumah piala Dunia 1998 menunjukkan dominasinya dengan meloloskan tiga klubnya ke semifinal. Nantes di Piala Champions, Bordeaux yang menggagalkan AC Milan di Piala UEFA dan Paris St Germain, pembunuh Parma (Italia) di Piala Winners. Spanyol dan Belanda meloloskan dua tim. Spanyol melalui Barcelona (UEFA) dan Deporvito La Coruna (Winners) sedangkan Belanda lewat Ajax, juara bertahan Piala Champions dan Feyenoord (Winners)
Sangat menarik fakta dan data-data ini. Sebab pada tanggal 8-30 Juni 1996 mendatang, Italia, Belanda, Perancis dan Spanyol termasuk dalam 16 finalis Piala Eropa yang bakal bertarung hidup mati di Inggris. Meskipun kekuatan klub belum menjamin keterandalan tim nasional, namun dengan menatap pergeseran peta kekuatan seperti sekarang -- jangan sekali-kali terlalu menjagokan Italia sebagai juara Eropa 1996.
E Finito....E...Finito Italia! Demikian kalimat dan kata-kata yang menjadi pergunjingan masyarakat bola di Italia hari-hari belakangan ini. E Finito (Habis sudah) Italia, merupakan ungkapan sakit hati atas kejatuhan yang tak pantas dinikmati, kekalahan yang tak pernah menjadi cita-cita. ** Dipublikasikan Pos Kupang Maret 1996.

Sepakbola Eropa: E Finito Italia!

Oleh Dion DB Putra


SELURUH kota di Italia tiba-tiba sunyi senyap, hari Minggu 17 Maret 1996. Di Kupang, penggemar berat Liga Seri A marah dan kecewa, karena RCTI tak dapat melakukan program rutinnya menayangkan secara langsung pertandingan sepakbola dari Italia.
Hari itu - roda Liga Italia, mulai dari seri A sampai C1 memang seluruhnya mati total, menyusul aksi mogok para pemain berkaitan dengan jumlah tuntutan dari asosiasi pemain pimpinan Sergio Campana.
Asosiasi, antara lain menginginkan jaminan bagi pemain agar mereka tetap menerima gaji walaupun klubnya jatuh pailit serta pembatasan pemain asing yang boleh digunakan dalam satu klub. Salah seorang pelopor, Gianluca ‘botak’ Vialli diibaratkan pahlawan dalam kisah legenda rakyat Britania, Robin Hood.
Dari Paris, mega bintang Diego Armando Maradona yang kebetulan sedang berkunjung ke kota itu menyatakan dukungannya terhadap aksi mogok ini. Harian terkemuka Italia, La Republica melukiskan dampak pemogokan itu dengan mengatakan, “Sehari tanpa sepakbola di akhir pekan, bagaikan hidup seabad di gurun pasir.”
Meskipun aksi tersebut hanya berlangsung sepekan, namun citra Italia sebagai negarai adidaya sepakbola dunia sontak ambruk. Para pemerhati menilai, sebagus-bagusnya manajemen sepakbola di negeri spaghetti itu, ternyata masih ada lubang kelemahannya. Sangat keterlaluan, karena Italia yang mampu membeli hampir pemain terbaik seluruh benua dengan rekor harga terbesar tapi tak mampu membayar jaminan sosial, tuntutan yang manusiawi, berlaku universal untuk profesi apa saja.
***

TERLEPAS dari kasus mogok itu -- perkembangan sepakbola Italia sampai 90 hari kita menjalani tahun 1996 ini cukup menarik dicermati. Tinggal dua bulan berlangsungnya Kejuaraan Sepakbola Piala Eropa 1996 di Inggris, Italia menampilkan wajah kusam yang sangat memilukan.
Ini tampak dari hasil kompetisi Eropa, baik di Piala Champions, UEFA dan Winners. Bila pada tahun sebelumnya, klub-klub Italia merajai ketiga ajang tersebut, bahkan menjuarainya -- tahun ini muka Italia praktis hanya diselamatkan Juventus yang berhasil menjadi salah satu semifinalis Piala Champions. Semifinalis lainnya Nantes (Perancis), Ajax (Belanda) dan Panathinaikos (Yunani).
Selebihnya, klub-klub Italia termasuk calon kuat juara liga 1995/1996, AC Milan tak dapat berbuat banyak. Parma yang berlaga di Piala Winner serta AC Milan di Piala UEFA secara mengejutkan tumbang. Padahal dengan hanya meraih hasil seri, kedua klub itu berhak maju ke semifinal.
Apa yang terjadi-sebenarnya menunjukkan bahwa Italia bukan lagi satu-satunya negara kuat sepakbola di Eropa. Kekuatan itu sudah mulai bergeser ke negeri Belanda, Perancis, Spanyol bahkan negara-negara dari kawasan Eropa Timur yang kini hadir sebagai monster menakutkan.
Perancis, tuan rumah piala Dunia 1998 menunjukkan dominasinya dengan meloloskan tiga klubnya ke semifinal. Nantes di Piala Champions, Bordeaux yang menggagalkan AC Milan di Piala UEFA dan Paris St Germain, pembunuh Parma (Italia) di Piala Winners. Spanyol dan Belanda meloloskan dua tim. Spanyol melalui Barcelona (UEFA) dan Deporvito La Coruna (Winners) sedangkan Belanda lewat Ajax, juara bertahan Piala Champions dan Feyenoord (Winners)
Sangat menarik fakta dan data-data ini. Sebab pada tanggal 8-30 Juni 1996 mendatang, Italia, Belanda, Perancis dan Spanyol termasuk dalam 16 finalis Piala Eropa yang bakal bertarung hidup mati di Inggris. Meskipun kekuatan klub belum menjamin keterandalan tim nasional, namun dengan menatap pergeseran peta kekuatan seperti sekarang -- jangan sekali-kali terlalu menjagokan Italia sebagai juara Eropa 1996.
E Finito....E...Finito Italia! Demikian kalimat dan kata-kata yang menjadi pergunjingan masyarakat bola di Italia hari-hari belakangan ini. E Finito (Habis sudah) Italia, merupakan ungkapan sakit hati atas kejatuhan yang tak pantas dinikmati, kekalahan yang tak pernah menjadi cita-cita. ** Dipublikasikan Pos Kupang Maret 1996.

Belajar dari Kaisar, Klinsmann!

Oleh Dion DB Putra

"KEJAYAAN seorang pemain atau suatu tim sepakbbola pasti mengenal batas. Tak pernah ada sebuah kesebelasan yang terus berjaya. Mereka sadar betul bahwa suatu ketika ia akan jatuh, meski tidak pernah dikehendakinya. Dalam pengalaman saya sebagai pemain maupun pelatih, saya pernah bahkan berulang-ulang merasakan sakitnya sebuah kekalahan."
Kata-kata ini, dengan polos dan tegas pernah dilontarkan sang Kaisar Franz Benckenbauer pada tahun 1994, tatkala dia menghibur rekan seangkatannya Berti Vogts yang kecewa karena gagal membawa Jerman mempertahankan Piala Dunia. Jerman kala itu kalah 1-2 dari Bulgaria di babak perempatfinal.
Bangsa Jerman mencerca Vogts, menuding Lothar Matthaeus dan Klinsmann yang tak berdaya mempertahankan nama besar negerinya. Tim Panser yang kalah pada saat injury time lewat gol si kepala 'jambul' Iordan Lechkov, pulang ke Bonn seperti manusia tanpa roh.
Berti Vogts didesak mundur dari posisinya sebagai pelatih tim nasional. Vogts di mata orang Jerman, bagai guru tua yang mulai kehilangan daya pukaunya, sehingga tak dapat mengajarkan bagaimana bermain sepakbola yang benar, bagaimana menyuguhkan sepakbola khas manusia Aria.
Beruntunglah nasib Vogts, karena masih ada sang Kaisar Frans Beckenbauer yang membelanya. Kata-kata rendah hati dari Beckenbauer pada detik akhir, ternyata mampu meluluhkan kekerasan hati rakyat Jerman. Seburuk-butuknya, sang Kaisar masih didengar. Franz menyadarkan bangsanya yang terkenal dengan prinsip Deutch Uber Alles itu bahwa di kolong langit ini, tak ada yang palling hebat. Segala bangsa sama-sama memiliki kekuatan dan kelemahan. Dan, itulah kehidupan yang sesungguhnya.

***
HARI-HARI INI, bukan mustahil suasana seperti pertengahan Juli 1994 kembali bergejolak di Jerman. Mendung bakal menggantung di atas langit Bonn, Berlin, Hamburg, Frakfurt hingga pelosok terjauh di negeri itu-tatkala Juergen Klinsmann dan kawan-kawan tiba dari Sofia dengan membawa kekalahan 2-3 melawan Bulgaria di penyisihan grup VII Piala Eropa 1996.
Vogts, sungguhpun masih menyembulkan optimisme bahwa timnya akan lolos ke Inggris tahun depan, tak mungkin menutup mata melihat kerutan wajah publik sepakbola Jerman yang menatapnya dengan pandangan sinis serta bola mata memerah. Sakit, sakit sekali hati orang Jerman, karena untuk kedua kalinya dalam jangka waktu belum setahun, tim kebanggannya terantuk pada tim yang sama, Bulgaria.
Padahal, Bulgaria di masa lalunya, tak lebih dari tim ayam sayur yang selalu menjadi santapan ringan tim Panser. Dari delapan kali pertemuan, Jerman masih unggul 5-3 dengan jumlah gol mencolok, sehingga di atas kertas adalah muskil Jerman tak mampu menaklukkannya.
Akan tetapi, Berti Vogts, Juergen Klinsmann atau Thomas Haessler mungkin sedikit lupa bahwa keperkasaan Bulgaria kini di arena sepakbola dunia merupakan buah dari kebebasan. Bulgaria, negeri komunis Eropa Timur yang mendapat terpaan glasnost dan perestorika tiupan mantan pemimpin Soviet, Michael Gorbachev tahun 1985, kini mulai memetik hasil kebebasan bangsanya dari cengkraman ketidakadilan, anti demokrasi dan keterasingan.
Bulgaria di masa ini sedang menikmati indahnya seruan dari masa lalu, penyair Aljazair Khalil Gibran dan pemikiran bernas filsuf Imanuel Kant tentang kebebasan. Karena kebebasan itulah, maka Hristo Stoichkov, Balakov, Emil Kostadinov atau Iordan Leechkov bebas melanglang buana ke seluruh dunia untuk bermain sepakbola profesional-sesuatu yang tidak pernah dialami para pendahulunya pra glasnost dan perestroika.
Pengalaman bertanding di negeri orang, mengasah pemain Bulgaria menjadi bintang yang tak kalah piawainya dengan bintang negeri-negeri lain di Eropa. Sehingga tidaklah mengherankan, bila tim nasionalnya begitu perkasa, tak terkalahkan dari enam kali bertanding di penyisihan grup VII Piala Eropa.
Dengan menjadi juara empat pada Piala Dunia tahun 1994, Bulgaria sebetulnya telah membuka mata bumi, betapa berharganya sebuah kebebasan. Kebebasan selalu lebih bernilai dari emas.
Nah, di sinilah letak arti penting kata-kata Kaisar Franz, mega bintang yang sukses membawa Jerman menjadi juara dunia ketiga kalinya tahun 1990 silam. Dalam peluang yang kian tipis menuju Stadion Wembley Inggris, Berti Vogts perlu melakukan refleksi diri, membenah kekuatan anak asuhnya, menyadari bahwa masa emas Jerman mulai memasuki titik renta. Kepada Juergen Klinsmann dkk, pantas diingatkan, belajarlah dari kata-kata kaisar. ** Dipublikasikan Pos Kupang edisi Jumat, 9 Juni 1995

Neraka di Sofia dan Hati Lothar yang terkoyak1

Oleh Dion DB Putra

NASIB
, kalau ada, mungkin sangat kejam terhadap Lothar Matthaeus, terhadap nama besar bangsa Jerman di dunia persepakbolaan sejagat. Nasib, sungguh tega meluluhlantakan hati seorang Lothar Matthaeus, karena malam ini, dia harus menyaksikan pertarungan menentukan melawan Bulgaria di Sofia hanya dari bangku cadangan.
Lothar Matthaeus, nama yang menyatu di hati bangsa Aria. Pemain perkasa di lapangan hijau yang membawa Jerman menjuarai Piala Dunia ketiga kalinya tahun 1990 di Italia, memang malang nasibnya. Hampir setahun terakhir, dia istirahat total dari aktivitas sepakbola karena cedera berkepanjangan yang menderanya.
Padahal bila bicara tentang tim nasional Jerman, amat sulit dipisahkan dari peranan kapten yang selalu mengenakan kostum bernomor punggung 10 itu. Di bawah komandonya, Jerman selalu menakutkan semua lawan-lawannya. Di lapangan, Matthaeus adalah seorang jenderal bola.
Kepiawaiannya, terutama sebagai inspirator tim hanya bisa disaingi Franco Baresi di tim nasional Italia dan George Hagi dalam tubuh kesebelasan Rumania. Pengabdiannya untuk Jerman tak terkira. Matthaeus sudah lebih dari 100 kali memperkuat tim nasional dan selama enam tahun terakhir memanggul ban kapten. Sayang sekali, pada detik-detik akhir pengabdiannya buat Jerman agar bisa tampil di Piala Eropa tahun 1996 mendatang, nasib buruk justru melindas.
Cedera bagi setia pemain sepakbola memang sesuatu yang sulit terelakkan, sekalipun setiap pemain selalu berusaha sedapat mungkin menghindar. Benturan keras dengan lawan dalam pertandingan merupakan momok yang menakutkan. Pupusnya kebesarn si pirang asal Belanda, Marco van Basten karena cedera, menjadi salah satu bukti bahwa daging manusia memang lemah. Daging lemah itu pun dirasakan Mattaheus pada usia 34 tahun. Lebih-lebih lagi, pada saat Jerman harus bertarung hidup mati menuju stadion Wembley-Inggirs.
***
NERAKA, kalau ada di bumi fana, maka malam ini mungkin akan terjadi di Sofia, ibukota negara Bulgaria. Neraka itu bakal melanda Jerman usai pertandingan yang dimulai tepat pukul 17.30 waktu setempat atau pukul 02.00 Kamis dini hari (8/6) Wita.
Bermain di kandang lawan dan tanpa kehadiran sang "jenderal' Lothar Mathaeus, Jerman tampak sulit menaklukkan Bulgaria yang sama-sama tergabung dalam grup VII. Anak asuh Berti Vogts terlampau berat membalas sakit hati kepada Hristo Stoichkov dkk yang mempermalukan tim Panser pada babak perempatfinal Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Kala itu, Jerman kalah 1-2 dan gagal ke semifinal. Tekad menjuarai Piala Dunia keempat kalinya harus ditangguhkan.
Sungguhpun kekuatan tim Jerman tidak hanya bertumpu kepada Lothar Matthaeus, sehingga tanpa kehadiran Jerman tetap kompak-namun fakta telah membuktikan, Juergen Klinsmann yang kini menjadi kapten, masih lebih sebagai tombak tajam dan cerdik di kotak penalti lawan daripada inspirator tim dan sutradara untuk mengatur irama permainan bagi 10 rekannya di lapangan.
Tim Vogts kali ini memang menampilkan beberapa muka baru. Pemain lama yang masih dipertahankan tinggal Klinsmann, Andreas Koepke, Andreas Moeller, Mario Basler, Stefan Reuter dan Thomas Helmer. Berti Vogts juga masih pusing lantaran dua pemain intinya Juergen Kohler dan Matthias Sammer mungkin tidak dapat diturunkan karena cedera. Dengan kekuatan yang pas-pasan serta rata-rata pemain masih lelah karena ketatnya kompetisi Bundesliga, peluang Jerman untuk menang sangat tipis.
Kondisi tersebut, berbeda dengan Bulgaria. Pelatih Dimitar Penev masih mempertahankan bintang-bintang lamanya yang sukses membawa Bulgaria ke semifinal Piala Dunia 1994. Di sana masih ada Hristo Stoichkov, Iordan Letckov, Emil Kostadinov, kiper tangguh Borislav Mikhailov dll.
Bermain di kandang sendiri, Bulgaria akan menjadi 'singa' lapar yang siap memangsa. Dengan tetap mengandalkan ciri khasnya dalam pertandingan dini hari nanti, Bulgarian akan menguasai semua lini terutama lapangan tengah. Tombak kembar, Hristo Stoichkov dan Kostadinov akan leluasa merusak pertahanan belakang Jerman.
Optimisme Bulgaria untuk lolos ke Inggris sangat besar. Itu sudah mereka buktikan sebagai tim tak terkalahkan serta memimpin grup VII dengan nilai 15. Kalau Jerman berhasil membalas kekalahannya di Piala Dunia, maka hal itu sangat membanggakan. Namun jika sebaliknya, Vogts bakal dicerca, Klinsmann akan diratapi bangsa Aria dan hati Lothar Matthaeus semakin terkoyak-koyak! **

Perkiraan pemain
Jerman: Andreas Koepke, Stefan Reuter, Ralf Weber, Steffen Freund, Thomas Helmer, Markus Babbel, Dieter Elits, Mario Basler, Juergen Klinsmann, Andreas Moeller, Heiko Herrlich.
Bulgaria: Borislav Mikhailov, Emil Kremenliev, Trifon Ivanov, Tsanko Tsvetanov, Petar Hubtvhev, Zlatko Yankov, Emil Kostadinov, Hristo Stoichkov, Lyuboslav Penev, Balakov, Iordan Letchkov


Klasemen sementara grup VII
Bulgaria 5 5 0 0 15-2 15
Jerman 5 4 1 0 10-3 13
Georgia 6 3 0 3 8-5 9
Moldavia 6 2 0 4 5-15 6
Wales 6 1 1 4 6-15 4
Albania 6 1 0 5 5-9 3

Disiarkan Pos Kupang edisi Rabu, 7 Juni 1995

Foto Dion DB Putra

Selalu optimis ...

Gambar diambil bulan September 2005 saat pelatihan
Capacity Building IASTP III di Badan Diklat NTT.



Saya dengan seragam biru Pos Kupang bulan
September 2007. Di ruang kerja sederhana, lantai
II Kantor Redaksi, Jl. Kenari No.1 Kupang-NTT

Di kaki Gunung Inerie...

KABAR duka itu membawaku ke kaki Gunung Inerie setelah lebih dari 13 tahun! Aku berduka bersama saudariku, aku juga ikut bersukacita mengantar adik bungsuku ke padang penggembalaannya. Tuhan sungguh menghadirkan sesuatu dengan cara yang unik.

HARI Rabu 10 Oktober 2007 menjelang pukul 12.00 Wita, handphone saya berdering. "Om Dion, Mama Evie di Wirajaya sudah pergi..." begitu suara Sinta, istri John Wasa dari balik telepon.Kecemasan sekian lama akhirnya menjadi kenyataan. Selamat jalan Mama Evie....
Mama Evie adalah sapaan akrab buat Elisabet Ire-Manafe, ibunda John Ire, ipar saya. Saya tidak hanya mengenal Mama Evie karena pernikahan John dan adik perempuan saya, Veronika Hando Bata. Saya mengalami perjumpaan secara pribadi dengan almarhumah jauh sebelum ikatan cinta menyatukan John dan Ronnie.
Mama Evie atau Ibu Evie adalah guru saya di SMAN 1 Ende, Flores-NTT. Guru bahasa Inggris yang mengajar dengan penuh perhatian dan mengenal baik setiap kelemahan dan kekurangan muridnya. Dan, saya adalah salah seorang murid kesayangan almarhumah.Mama Evie meninggal dunia di rumah duka Jl. Lorong SMAN 1 Ende sekitar pukul 10.30 Wita hari Rabu, 10 Oktober 2007.
Mama Evie menderita sakit sejak dua tahun terakhir. Bermula dari operasi mata dan berlanjut dengan operasi pengangkatan kista. Ternyata ada tumor ganas yang membuat kondisi Mama Evie terus menurun. Suaminya Thomas Ire dan ketujuh putra- putrinya sudah berencana membawa Mama Evie ke Surabaya untuk operasi di rumah sakit dengan fasilitas lebih memadai, namun Tuhan berhendak lain.
Mama Evie pergi begitu lekas dalam usia 60 tahun empat bulan lebih. Pergi di saat sebagian besar anak-anaknya masih membutuhkan perhatian seorang ibu."Jujur kae (kakak), kami memang belum siap menerima kenyataan Mama sudah pergi," kata John Ire dengan air mata berlinang.
Saat kutelepon John sedang berada di rumah Om Edi Manafe di Penfui, pamannya. Dia ke Kupang untuk suatu kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Beruntung John sudah miliki tiket pesawat ke Ende sehingga hari itu juga bisa langsung pulang ke sana.
Setelah rapat dengan panitia tinju dan Pertina NTT di kantor Redaksi Pos Kupang dilanjutkan rapat umum dengan PU Pos Kupang, Damyan Godho -- pikiran dan perasaan saya tercurah ke Ende. Pulang atau tidak? Pertanyaan itu yang selalu terngiang.
Setelah berkonsultasi dengan istri dan beberapa kali diingatkan untuk segera mengambil keputusan, sekitar pukul 15.30 Wita saya meminta Voni (staf PSDM Pos Kupang) untuk segera memesan tiket PP Kupang-Ende. "Usahakan saya dapat tiket untuk besok (11 Oktober 2007) dan pulang hari Minggu atau Senin," kataku kepada Voni.
Ada kekhawatiran karena mulai 13 Oktober ada libur panjang PNS dan swasta berkaitan dengan Hari Raya Lebaran. Sekitar pukul 17.00, tiket PP sudah diperoleh. Dan, saya mendapat SMS dari kakak ipar di Ende bahwa pemakaman Mama Evie akan dilangsungkan hari Kamis 11 Oktober 2007 pukul 16.00 Wita. Legalah hati saya karena bisa menghadirinya. Pesawat dari Kupang pukul 12.00 dan akan tiba 40 menit kemudian.
Hari Kamis itu saya tiba di rumah duka sekitar pukul 13.00 Wita. Tangisan anak-anak, Bapa Thomas Ire dan keluarga sungguh menyayat hati. Saya mengabadikan peristiwa itu dengan kamera. Ya, itulah salah satu sumbangan yang bisa saya berikan sesuai kompetensi saya.Pukul 16.00 Wita pemakaman dimulai. Ibadat sabda dipimpin frater dari Paroki St. Yoseph Onekore. Pemberkatan jenazah dilakukan adik bungsuku, Romo Vincentius Budi Bata Putra, Pr.
Romo Vincent hari itu bergerak dari Mataloko, tempat ia menjalani retret bersama para pastor lainnya se-Kevikepan Bajawa. Seperti sudah diatur akhirnya jenazah Mama Evie diberkat oleh anaknya sendiri, Romo Vincent yang baru ditahbiskan sebagai imam di Paroki Salib Suci Maurole, 23 Agustus 2007.
Mama Evie dimakamkan di depan rumah. Ini sesuai isyarat dari almarhumah menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Banyak yang mengantar kepergiannya. Saya tak dapat mengingat satu per satu. Selain sesuai ajaran agama Katolik, upacara pemakaman juga berlangsung secara kedinasan. Guru-guru SMAN 1 Ende mengantar koleganya itu ke tempat peristirahatan terakhir.Peristiwa kedukaan itulah yang akhirnya membawaku ke kaki Gunung Inerie...
Tidak mau kami susah
Mama Evie seperti "merencanakan" kepergiannya pada saat yang tepat. Tepat dalam arti Mama Evie tidak mau menyusahkan orang-orang yang dikasihinya. Isyarat itu sudah beliau sampaikan kepada putra sulungnya, John Ire. Namun, isyarat itu baru bisa dimengerti setelah kepergiannya pada 10 Oktober 2007.
Sejak bulan Mei 2007, kami keluarga di Onekore telah disibukkan dengan berbagai persiapan menyambut pentahbisan adik Vincent. Persiapan itu berlangsung di tengah-tengah perasaan teriris mengingat Mama Evie terbaring sakit di rumah, Jl. Lorong SMAN 1 Ende.
Ronnie dan John, Bapa Thomas Ire menguatkan mama dan Kak Eman untuk tetap berusaha agar urusan adik Vincent berjalan baik. Mereka tetap terlibat penuh. Dan, Mama Evie selalu mendorong agar Ronnie dan John membantu sepenuhnya mama Theresia Masi dan Kak Eman Bata Dede. Luar biasa hati mama ini.
Pentahbisan adik Vincent menjadi imam di Maurole 23 Agustus 2007 berjalan sukses. Demikian pula dengan misa perdana di Gereja St. Yoseph Onekore pada 27 Agustus 2007 dan Misa Syukur Keluarga di Onekore 31 Agustus 2007.
Selama bulan September 2007, Vincent juga secara maraton mempersembahkan misa keluarga mulai dari Ratenggoji (9 September), Wolonio (16 September), Pemo (19 September) dan Watujuke (30 September). Semua acara itu diikuti mama, Kak Eman, Kak Geradus Baba dan keluarga inti kami yang lain.
Setelah semua itu berlalu baru mama Evie pergi. Mama Evie memang tidak mau menyusahkan orang-orang yang dikasihinya.
Kematian mama Evie juga memberiku kesempatan ikut mengantar adik Vincent ke tempat penggembalaannya yang perdana sebagai imam Tuhan, Paroki St. Martinus Ruto, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Hari Sabtu 13 Oktober 2007 kami mengantar adik Vincent ke Ruto.
Kami menggunakan dua mobil dan dua sepeda motor. Dalam mobil kijang saya, mama Thres, Mama Resa, adik Sipri, Romo Vincent dan ponakan-ponakan, Salsa, Elsa, Resa, Icha dan Putra, anak dari adik Marten. Kakak Gerardus Baba, istrinya Fatima dan anak Jovan memakai mobil pick-up mereka. Sedangkan kak Eman dan istri serta Marten dan istri menggunakan sepeda motor.
Perjalanan Ende-Ruto sejauh 165 km PP (Pergi-Pulang) sungguh melelahkan namun indah. Semua ponakan kecuali Salsa, mabuk kendaraan dan muntah. Mama Theresia mandi muntah Elsa, romo kena muntah Icha dan Putra. Mama Resa direpotkan oleh Resa yang mabuk sepanjang jalan. Kami empat kali berhenti sepanjang perjalanan itu untuk memulihkan kondisi anak-anak yang muntah.
Di Terminal Watujaji-Bajawa bertemu adik Aris Ninu, wartawan Pos Kupang di Bajawa. Saya titip lima buah proposal dana untuk penerbitan buku 15 Tahun Pos Kupang sekaligus menitipkan bahan untuk mengurus SIM bagi adik Vincent. Di luar dugaan, adik Aris pun mau menunggu rombongan kak Geradus Baba yang baru keluar dari Ende jam 12.30 Wita.
Aris janji menjadi penunjuk jalan bagi Kak Geradus menuju Ruto. Dan dia memenuhi janjinya itu, tiba di Ruto bersama Kak Geradus sekitar pukul 18.30 Wita.Rombongan pertama kami tiba di Ruto sekitar pukul 15.00 Wita. Di sana disambut pastor paroki, Romo Paul dan ibu-ibu Santa Anna.
Mereka rupanya sudah menunggu kehadiran kami sejak pagi. Setelah minum dan makan, kami diajak jalan-jalan ke pantai Ruto-- sekitar 200 meter dari Gereja. Pantai yang indah alami di kaki Gunung Inerie.
Malam jam 19.30 Wita ada acara resmi penyambutan Romo Vincent oleh DPP Paroki Ruto. Diawali upacara adat, sambutan-sambutan dan makan malam bersama. Luar biasa kegembiraan umat Ruto menyambut kehadiran Vincent sebagai pastor pembantu (pastor kapelan). Untuk pertama kalinya, Paroki yang sudah ada sejak tahun 1954 itu memiliki seorang pastor pembantu.
Dengan jumlah umat 7.000 orang lebih, seorang pastor yang melayani mereka sungguh melelahkan. Dengan kehadiran pastor kapelan, pelayanan kepada umat akan lebih baik lagi. "Doa kami terkabul," kata mama-mama St. Anna.
Mewakili keluarga, Kak Geradus mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan bantuan umat Ruto saat misa syukur keluarga di Onekore 31 Agustus 2007. Ruto datang dengan tarian jai dan soka yang khusus mereka persembahkan bagi Vincent. Mereka juga membantu materi berupa moke, minyak kelapa dan beras.Vincent memperkenalkan kami semua anggota keluarga dari Ende.
Romo Paul pun mengungkapkan rasa syukurnya karena sekarang dia telah mendapat bantuan seorang teman imam. Kebahagiaan serupa diungkapkan Ketua DPP Paroki Ruto (maaf saya lupa namanya).
Hari Minggu, 14 Oktober 2007 kami mengikuti misa jam 07.00 Wita yang dipimpin Romo Vincent. Dia mempersembahkan ujud khusus untuk jiwa Mama Evie. Di tengah misa yang khusuk, meriah dipadati umat serta lantunan suara koor yang merdu, saya teringat akan Mama Evie. Saya yakin beliau hadir bersama di tengah kami, sama dengan ayah saya Thomas Bata almarhum dan para leluhur...
Usai misa dan makan pagi serta foto-foto, kami kembali ke Ende sekitar jam 11.00 Wita dan tiba dengan selamat pukul 17.00 Wita. Malam jam 20.00 saya ke rumah duka lagi untuk berdoa bagi Mama Evie Manafe.. Dan 15 Oktober 2007 saya pamit kembali ke Kupang. (dion db putra)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes