Reba, Pesan Persatuan Warga Ngada


KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA-  Para tetua adat memperlihatkan tarian adat Reba, sebagai salah satu bagian penting dalam pesta Reba Ngada di Desa Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (16/1/2015).

MENGENAKAN bawahan sarung hitam, kemeja putih, dan kepala berbalut kain merah, ribuan warga Ngada berbaur di pelataran rumah adat Desa Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (16/1/2015). Mereka datang atas panggilan leluhur untuk merajut kembali hubungan harmonis sebagai satu leluhur, yang tersimbol dalam pesta adat Reba dengan Uwi sebagai pemersatu.

Empat puluh lima rumah adat dibangun di pelataran rumah adat terletak di Sub Kampung Bhorani seluas hampir satu hektar. Hampir semua rumah memakai bahan bangunan hasil pabrik, seperti seng, paku, kayu, dan lainnya.

Tujuh rumah di antaranya cuma berukuran 1 meter x 2 meter, dengan atap lonjong, terletak di tengah perkampungan, dibangun menggunakan bahan lokal dengan tiang penyangga bangunan itu dari kayu lokal berkualitas. Tiang dicor dengan kekuatan tertentu agar hewan kurban (kerbau), yang ditambatkan saat disembelih tidak menggoyahkan rumah itu.

Willem Beo Paru (82), tokoh adat Ngada, mengatakan, Reba diselenggarakan sedikitnya di tujuh titik di Ngada, terhitung sejak 27 Desember hingga 28 Februari. Pembukaan Reba di kampung tua, Bena, sekitar 16,7 kilometer selatan Bajawa, berlangsung 27 Desember. Reba lalu berlanjut di kampung lain, termasuk Desa Langa pada 15-17 Januari, dan berakhir 27 Februari di Dusun Beiposo, Ngada. Reba Langa adalah Reba terbesar dengan menghadirkan sekitar 10.000 warga Langa dari berbagai provinsi dan kabupaten.

Seluruh keturunan Langa, tempat Reba diselenggarakan, wajib hadir pada kegiatan itu. Jika mereka tetap di luar Ngada, wajib menyelenggarakan Reba dengan cara menyembelih ayam, bertepatan dengan penyembelihan ayam di rumah adat keluarga besar, Sao Meze, termasuk memasak dan mengonsumsi hewan kurban.

Pada Reba kali ini, hadir sejumlah warga Langa, mulai anggota DPR RI hingga biarawan dan biarawati katolik. Para mahasiswa dan mahasiswi, serta pelajar asal Langa di berbagai daerah pun ikut hadir.

Desa Langa yang terletak 2,5 kilometer dari Bajawa, memiliki tujuh dusun (kampung) yang disebut Nuwa. Selain itu masih terdapat sembilan sub dusun yang disebut Bho, artinya bertunas. Pelaksanaan Reba bertujuan merajut kembali hubungan persaudaraan yang lebih harmonis warga Langa, di mana pun mereka berada, dengan adat dan tradisi warisan leluhur yang sama.
Refleksi

Wakil Bupati Ngada Paul Soli Woa mengatakan, Reba sebagai refleksi tahunan di kalangan masyarakat Ngada tentang kehidupan. Refleksi itu melibatkan semua orang Ngada, yang tersimbol dalam pengambilan bagian, pada perjamuan makan malam bersama di rumah induk atau Sao Meze. Mereka berkumpul sebagai orangtua, saudara, kakak beradik, kakak ipar, adik ipar, anak, cucu, dan cicit.

Refleksi siklus kehidupan itu terdiri atas tiga tahap Reba yakni kobe dheke, malam awal, semua warga berkumpul dengan niat dan janji hati masing-masing, yang disebut Gua Reba. Keluarga dari berbagai tempat datang dengan membawa uang, hewan kurban, beras, dan minuman tradisional sebagai persembahan kepada leluhur.

Barang-barang yang dibawa ke Sao Meze, adalah ungkapan syukur dan terima kasih atas rezeki, perlindungan, dan umur panjang yang telah diperoleh. Barang-barang itu disampaikan secara tulus. Ternak kurban ayam dan babi, disembelih secara adat oleh kepala Sao Meze.

Hewan kurban itu dibelah untuk diamati jantung, hati, dan usus sambil menghadap mesbah rumah atau maga raga, tempat penyimpanan benda-benda purba seperti keris, mas kawin, mata uang purba, mangkuk tua, dan seterusnya. Saat itu semua anak laki-laki harus berada di dalam Sao Meze. Jika ada bagian tertentu dari hewan kurban rusak, tidak ada, berarti ada kesalahan dari pemilih hewan kurban itu, mereka harus mengakui kesalahan di depan ”mata raga”.

Kobe dhoi yakni saat mendekati akhir pesta Reba, sebelum bubar, semua anggota keluarga besar berkumpul pada malam hari untuk pesta Reba.

Zaman dulu kala, pesta yang dimaksud adalah perjamuan asli, yang disebut uwi, jenis umbi-umbian rambat yang biasa tumbuh di hutan dengan isi yang panjang (1,5 meter) dan lebar (80 cm). Ubi itu dibawa ke tengah pelataran, dimakan bersama sambil menari dan bernyanyi, mengelilingi kampung. Sisa dari ubi itu dimasukan ke dalam rumah sebagai persiapan Sui Uwi, makan bersama dalam keluarga masing-masing.

Uwi dipahami sebagai anugerah Tuhan dalam kehidupan masyarakat Ngada, dengan berbagai ungkapan adat seperti uwi meze go lewa laba atau ubi sebesar gong setinggi gendang, khoba rapuh lizu (menjalar sampai ke langit). Ladhu wai poso berbentuk tiang agung bagaikan gunung tinggi. Kehebatan ubi jenis ini yakni meski dimakan babi hutan, tidak pernah punah, dan tetap bertahan sepanjang masa. Lalu, kutu koe koe koe, ana koe, meski landak menjungkir balik tanah dengan duri tajam sampai dalam, ubi tetap ada untuk anak cucu. Inilah makanan hutan milik leluhur.

”Dalam perkembangan, setelah gereja Katolik masuk tahun 1800-an, pemahaman Reba dengan pesta uwi seperti ini masuk dalam inkulturasi gereja, sehingga upacara Reba selalu diawali dengan misa. Ubi kemudian diterjemahkan sebagai simbol anugerah Tuhan, dewa zetha nitu zale atau Tuhan penguasa yang tersirat dalam pribadi Yesus,” kata Soli.

Tahun 1900-an ketika padi mulai dibudidayakan, Reba tidak lagi menyajikan uwi, tetapi makanan berbagai jenis, dengan mempertahankan menu tradisional yakni beras, daging hewan kurban, dan minuman tradisional, arak, dengan ungkapan, kha maki nazi, inu thua theme, makan nasi yang enak, minum tuak yang sedap. Setelah sesajian hewan kurban diberikan kepada leluhur, kepala rumah besar mengajak semua peserta untuk makan pesta bersama. Pada pesta ini semua orang yang datang dipanggil makan.

Marselinus Ngamo, tokoh Langa yang juga dosen Unika Kupang, mengatakan, malam perjamuan dilaksanakan bersamaan dengan khobe sui (malam perutusan).

Kepala Soa Meze menyampaikan pesan-pesan moral, antara lain, jangan menjelekkan orang lain dengan lidah dan mulut, jalan lurus ke depan (perilaku jujur dan adil), dan pergi mencari hidup yang lebih baik.

Hari berikutnya, dilaksanakan tarian tradisional secara massal, yang disebut Oouwi Reba. Tarian tradisional itu digelar setelah desa-desa tetangga hadir di pelataran kampung adat, tempat pesta Reba diselenggarakan. Warga Bhorani sebagai penyelenggara Reba wajib memberi makan dan minum tamu. (Kornelis Kewa Ama)

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes