Tampilkan postingan dengan label Sharing pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing pengalaman. Tampilkan semua postingan

Kisah Sukses Orang-Orang Ulet

ilustrasi
Banyak manusia sukses di sekitar kita. Modalnya sederhana saja. Bekerja tekun, ulet, jujur  dan senantiasa bersyukur.
SALAH
satu inspirasi kehidupan itu bisa kita petik dari pengusaha bakso asal Pasuruan Jawa Timur, Imam Kuswandi. Dia merantau ke Manado, Sulawesi Utara. Dan, di kota ini dia sukses menjalankan bisnisnya. Namun, kesuksesan tersebut bukan dia peroleh dengan mudah. Dia sempat jatuh bangun. Harus melewati onak dan duri.

Suami dari Ruth Sahari ini memulai usaha bakso pada tahun 2000 dengan menjajakan bakso di Kota Manado menggunakan gerobak dorong. Modal usahanya diperoleh dari hasil kerja serabutan mulai dari tukang parkir hingga loper koran.

"Awalnya saya merantau ke Gorontalo tahun 1998 menjadi petani. Saat menerima gaji kadang berselisih dengan pemilik lahan. Tahun 2000 saya coba ke Manado, berusaha menjual bakso dengan modal awal di tangan hanya Rp 900 ribu," kata Imam saat ditemui Tribun Manado di salah satu tempat usahanya, Rabu (28/3/2012) lalu.

Dari modal uang 900 ribu tersebut, ayah dari tiga anak ini membeli kayu untuk bahan  gerobak bakso. Ternyata uang tidak cukup sehinga ia harus bekerja untuk menambah modal. "Saya menjual koran dan menjadi tukang parkir. Dari uang itu saya kumpul untuk menambah anggaran membeli roda gerobak bakso," ujarnya.

Setelah memiliki gerobak, Imam membuat bakso dengan modal awal sebesar Rp 75 ribu dan menjajakan jualannya di sekitar Jalan Babe Palar Manado. Tantangan tidak ringan. Dia pernah dipalak preman. "Mereka minta bakso, setelah  makan, dia banting makanannya," kata Imam.  Meski mendapat halangan Imam tak putus asa. "Ya kita tidak berkeluh kesah, karena saya dengan istri menyadari untuk makan saja sudah susah," tutur Imam.

Hampir lima bulan lamanya ia berkeliling menjajakan bakso dengan harga yang jauh lebih murah. Suatu ketika Imam bertemu seseorang bernama Simon. Simon hendak membeli bakso buatan Imam buat anaknya. Namun, karena dia  susah mencari Imam yang terus bergerak ke berbagai lokasi, Simon menyewakan tanah kepada Imam untuk menjual bakso di tempat yang tetap.  "Saya berterima kasih sama Pak Simon. Saat ini beliau sudah meninggal," katanya.

Menjual di suatu lokasi tidak berarti jualan Imam makin laris."  Saat mangkal, bakso enggak ada yang laku dan sepi. Hampir dua bulan sepi, sampai saya hampir mau jual karena sudah pasrah. Kemudian saya berdoa, Ya Allah, kalau di depanMu aku berhendak untuk mati, maka matilah. Namun, jika Engkau memberikan aku hidup, berikanlah jalan untukku," ucap Imam.

Dengan penuh kesabaran dan ketekunan, lambat laun, baksonya pelan-pelan mulai disukai warga sekitar. Hampir sekitar dua tahun ia mangkal di satu tempat ia mulai mendapat keuntungan rata-rata Rp 50 ribu atau Rp 150 ribu per hari dan sekarang keuntungan yang diperolehnya sudah berninai jutaan setiap har karena telah mempunyai lokasi jualan bakso Pasuruan di tiga tempat yakni Mantos, IT Center, dan kawasan Megamas Manado.  "Motivasinya adalah  kerja demi anak-anak dan istri karena mereka tanggung jawab saya.  Kita kerja menghidupi mereka. Karena saya tidak sekolah, kita jalani saja, rezeki sudah ada yang atur.  Intinya kesabaran dan kejujuran," tuturnya. (deffriatno neke)

Sumber: Tribun Manado 3 April 2012 hal 1

Nothing That is Worth Knowing Can Be Taught

Theodor-Heuss Akademie
Nothing That is Worth Knowing Can Be Taught. Tak satupun pengetahuan yang bermanfaat bisa diajarkan. Kalimat provokatif dari pengarang Irlandia, Oscar Wilde tersebut dikutip Direkttur FNS Indonesia, Rainer Heufers dalam kata pengantar buku Direktori Alumni IAF Indonesia 2011 yang diterbitkan Friedrich-Naumann-Stiftung fur die Freiheit (FNS) Indonesia pada bulan Mei 2011.

Lewat kutipan itu Heufers mau melukiskan filosofi kerja FNS melalui programnya melayani masyarakat Indonesia selama empat dekade. “Yayasan kami (FNS) tentu saja tidak bermaksud mengajari, baik di Indonesia maupun di akademi kami di Jerman. Sebaliknya yang kami lakukan adalah mempertemukan para pemimpin masa kini dan calon-calon pemimpin masa depan dan menyediakan platform dimana mereka dapat berbagai pandangan dan pengalaman,” tulis Heufers.

Begitu kembali ke Indonesia peserta ini menerapkan pengalaman mereka ke dalam praktek dan melakukan replikasi terhadap metote berbagi pengalaman tersebut dengan kolega-koleganya dan masyarakat umum yang tertarik dengan cara yang terbuka dan demokratis. Dengan satu atau lain cara, mereka semua telah membantu Indonesia membentuk institusi-institusi demokratis dan masyarakat sipil yang ada saat ini.

The International Academy for Leadership (IAF) atau Akademi IAF di Jerman menawarkan kursus-kursus tentang nilai-nilai liberal, manajemen konflik, pemerintahan daerah, perekonomian global dan banyak topik lainnya yang penting secara prinsipil dan politis. Kursus-kursus tersebut merupakan kursus singkat yang biasanya diikuti peserta dari 20-an negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa. Hal ini memungkinkan terjadi diskusi kritis dan konstruktif yang tidak hanya menjembatani perbedaan geografis melainkan juga perbedaan kepercayaan, budaya dan sistem politik dan ekonomi.

Menurut Heufers, selama bertahun-tahun ratusan peserta Indonesia telah mengikuti kursus-kursus tersebut di IAF yang terletak di Kota Gummersbach, Jerman.

Buku “Direktori Alumni IAF Indonesia 2011” dengan editor Nur Rachmi dan Fifianty Debora berisi 142 orang alumni asal Indonesia yang menimba ilmu di IAF sejak tahun 1990-an. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi. Buku direktori alumni IAF ini diterbitkan dalam rangka memperingati 40 tahun keberadaan FNS di Indonesia.

Saya merasa beruntung termasuk dalam 142 alumni dalam buku direktori tersebut. Saya mengkuti kursus di IAF pada bulan Maret 2010 bersama teman saya dari JIL, Saidiman Ahmad. Kami mengikuti kursus dengan topik: Liberalisme dan Religiositas. Ternyata banyak tokoh terkenal yang pernah mengenyam ilmu di IAF. Sebut misalnya mantan menteri, Yusril Ihza Mahendra, pengacara Todung Mulya Lubis, Anggota Dewan Etik ICW, Teten Masduki, staf pengajar dari FISIP UGM, Cornelis Lay, Guru Besar UI, Didick J Rachbini, J Kristiadi dari CSIS, wartawan senior Lukas Suwarso, Ketua BNP2TKI, Jumhur Hidayat dan lainnya.

Pada halaman 34 buku direktori alumni tersebut, saya menulis kesan sbb: Peserta seminar Liberalism and Religiosity 2010 sebanyak 24 orang dari 21 negara (Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa). Sembilan topik utama dalam seminar itu sungguh memperkaya wawasan saya tentang liberalisme, agama dan sekularisme. Topik seminar sangat relevan dengan kondisi Indonesia. Manfaatnya sangat besar bagi saya dalam menjalani profesi sebagai wartawan. Seminar itu sungguh merupakan amunisi ilmu pengetahuan dan pengalaman baru yang membuat saya lebih bijak dan obyektif mempromosikan sikap toleransi di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Terima kasih FNS.

Menurut Direktur IAF, Birgit Lamm, IAF telah aktif di Gummersbach, kota mungil tak jauh dari Koln, Jerman sejak tahun 1995. Sejak itu sekitar 300-an peserta internasional menghadiri seminar-seminar IAF setiap tahunnya. Angka ini membentuk komunitas alumni yang mengesankan yang terdiri dari lebih 5.000 orang di seluruh dunia, di antaranya adalah peserta dari Indonesia.

“Pengalaman IAF tidak hanya merupakan pengalaman dan pengetahuan baru, tetapi juga membantu menciptakan persahabatan dan jaringan yang berkelanjutan di antara para alumninya. Inilah barangkali salah satu pencapaian jangka panjangnya yang terpenting. Di banyak negara jaringan alumni meneruskan semangat IAF dan menyebarkan gagasan-gagasan liberal. Direktori alumni IAF Indonesia ini merupakan suatu langkah besar ke arah tersebut dan akan menjadi titik awal kontak yang lebih erat di antara para alumni IAF dari Indonesia sendiri dan semoga pula tercipta kerja sama di antara mereka di masa mendatang. IAF selalu mendorong proyek-proyek seperti ini dan menawarkan dukungannya kepada semua kegiatan pembentukan jaringan di antara alumni kami,” demikian Birgit Lamm dalam kata pengatar buku tersebut.

Harapan Lamm ini mestinya menggugah alumni IAF di Indonesia. Siapa yang mau mengambil inisiatif membentuk jaringan alumni???

Friedrich-Nauman-Stiftung Fur die Freiheit (FNS) didirikan pada tahun 1958 oleh Presiden pertama Republik Federal Jerman, Theodor-Heuss. Ia menamakan lembaga ini sesuai dengan nama seorang pemikir Jerman, Friedrich-Naumman (1860-1919), yang memperkenanlkan pendidikan kewarganegaraan di Jerman untuk mewujudkan warga yang sadar dan terdidik secara politis.

FNS mengawali kegiatannya di Indonesia pada tahun 1969 dan memulai kerja sama resminya dengan pemerintah Indonesia sejak 26 April 1971. FNS membagi pengetahuan dan nasihat kepada para politisi, pembuat keputusan, masyarakat sipil dan masyarakat secara umum. Lembaga ini bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintahan, organisasi masyarakat dan institusi-institusi pendidikan untuk berbagi pengetahuan dan membantu menciptakan perubahan yang positif dan damai pada masyarakat di negara-negara itu. Selengkapnya kunjungi www.fnsindonesia.org. (Dion DB Putra, alumni IAF 2010).

Promoting Secularism, Why Not?


By Dion DB Putra

A two week training in Gummersbach Germany from 7-19 March 2010 left a very deep impression in me. And it indeed brings lots of advantages. It changes my viewpoints on Liberalism, secularism and religiosity, meaning that I now have a better and more holistic concept than I did previously.

I have new knowledge and privilege experiences for my work as a journalist in Kupang, East Tenggara Province, Indonesia.

Lectures, presentations, interviews, debate, group discussions and all the different opinions were obviously pictured during the leadership training on Liberalism and Religiosity in Gummersbach. There were 24 participants from 21 different countries and continents (Asia, Africa, America, South America and Europe) discussing intensively about nine topics during the International Academy for Leadership in Gummersbach.


The seminar covered the following topics:

- A look at religion and its alternatives
- A liberal perspective on religion
- Contemporary issues in the field of religion and politics
- Religion, rule of law and human rights
- Religion and women's emancipation
- The concept and meaning of secularism
- Religion and the state in Germany
- Liberalism, the secular state and religion
- Separating state and religion and/or forging a new relationship between state and religion.

Friedrich Naumann Foundation was absolutely right to have chosen the nine topics for the training. I won't be discussing each of the whole nine topics but only choose several that I think the most impressive to my opinion.

The first is about Liberalism, religion and the secularism. Since the era of John Locke (1632-1704) and Immanuel Kant (1724-1804) the issue has long been argued as a perception and a way of life in a nation building. The theme is not only relevant to Indonesia now but also worth discussing from time to time.

Secularism, for instance, provides a clear separation between the state and religion. Yet, the state fully guaranties and strongly supports the freedom of religion. Secularism is one the basic elements of liberal democracy and a pre request for human rights development.

A case study in Turkey and India, the countries with Moslem and Hindus majority, was taken as an example in depth discussion on secularism . Turkey, for example, is questioned whether as a secular nation promoted by Mustafa Kemal Ataturk since the early 1920s can be the best model for secularism implementation or not. According to Dr, Hasan Yucel Basdemir, a participant from Turkey, most of turkey people agree upon the implementation of secularism in the country but there are still some arguments over the case. He gave an example of how people argue about the prohibition of Jilbab for female Moslem students in university. There are pros and cons even among the Moslems in Turkey.

Still according to Basdemir, who is a lecturer in Divinity Faculty Hit it University Corum Turkey, a secular nation should guaranty the freedom of religious worship for its citizens. That indicates that the state should not interfere the freedom of its people to do any kind of religious ways, including the use of religious symbols such as jilbab, or cross necklace, etc. This individual right and freedom should be guarantied by the state and become the most important part in secularism implementation in any country in the world including Indonesia.

Another example of a secular country is Germany. Dr. Stefan Melnik, the main facilitator of the training explained that German Federal does not fully prohibit the students of elementary and junior schools to wear any religious symbols. The state allows them to wear religious symbols in private schools but not in public schools. The reason is because public schools are funded by the tax of every citizen whose religion is various from one another. That's why the use of religious symbols is not allowed in public schools.

When reflecting on Indonesia's current situation, the discussion about secularism proved to be relevant and it enriches my perception about the role of a democratic country. In Indonesia there has long been a desire to undergo certain dogma of a certain religion. The majority religion has been trying to dominate and to impose their policy to the state. If that situation is truly realized, that will really put individual right and freedom on hold.

I think, a secular country is an option worth struggling by a plural country like Indonesia. In secularism spirit human decision and actions in political arena should be based more on logical reasons than religious beliefs and its influences. Each decision should be based on public interest, rule of law and the highest respect of human rights.

We were discussing a lot of things related to secularism, through working group or panel discussion including religion in our world, its advantages and alternatives, Can it work out? We also were discussing about secular religion; Marxism, Fasism as a religion, whether or not a religion live side by side with another religion like agnostistism and atheist and whether several religions are superior than others or not.

The majority religion being a fact in every participant's country apparently became important factor when discussing about secularism, religiosity and liberalism. Various professional background of the participants such as politician, journalist, university student, lecturer, NGO activist, religious leader, and researcher has made the discussions went very well and it enriched the experience of each participant.

Asian countries sent more participants in the training, ten participants. Indonesia and Palestine sent two participants each. Jordan, India, Pakistan, Tibet, Malaysia and Kyrgystan sent one participant each. Europe sent eight participants: two from Turkey and Israel, Russia, Ukraina, Estonia, Germany and Slovakia sent a participant each. Africa sent three participants, from Ghana, Maroco and Egypt while America sent three participants, they are from Argentine, Brazil and Mexico.


Thumbs up for Dr.Stefan Melnik from England and Gulmina Bilal from Pakistan. Director of Theodor Heuss Akademie, Dr. Birgit Lamm has chosen a very competent and professional facilitator. Two of them has lead the whole discussion focused and fun although the perspectives of each participant sometimes was very different from one another.

The second topic that impressed me much is the discussion about religiosity. The basic question during the discussion was how to face the exclusiveness of religion, tolerance and fundamentalism. Does religion has a guidance to face this problem or it has to find the solution out of that? How tolerance is a religion and what's the meaning of the right to express a religious belief of a human being?

Tolerance still leaves many problems in many countries in Asia, Africa, Europe and Latin America. The participants from the four continents expressed the same worry. " In our Christian majority country, social conflicts are still a major problem up to the present, " said Isaac Obeng Aboagye from Ghana. Isaac gave an example on how the Charismatic Christian perceived the Protestants and Catholics as `other People'. Worse yet, its attitude toward the non- Christians. It happens everywhere that one religion tries to dominate the others. The point is that not only the domination of majority over the minority but also each religion tends to feel superior than the others.

The same situation also happens in Indonesia. It's very hard to create tolerance in this country. It's a huge problem in Indonesia. In the discussion I mentioned a survey by LSI in 2006 as a mirror. The survey showed that Indonesians seemed to be tolerant with social life such as living side by side peacefully with people from different religions but the tolerance become less when it comes to theology and political area. Let's take an example of the problem aroused when building a place of worship. Indonesia's experience shows that religion is used as a political means to achieve its goal.

It's really not easy to transform tolerance to the diversity of Indonesian people. The state also many times fails to take a firm and clear decision in upholding the principle of equality and justice.

Discussion Panel finally reached a conclusion. Tolerance is not a one day work because it involves values that are deeply rooted in society. It needs a capital to develop tolerance as wisdom in plural society. First, tolerance needs an intensive social interaction. Second, there should be a trust among different groups and beliefs.

Other than intensive dialogue, education plays a great role. Since their early days children should be taught to recognize the difference as an important chance to create social relationship. The curriculum at schools needs to be reviewed.

Third, mass media both printed and electronic even the online should promote tolerance. It's a never ending promotion. This conclusion is closely related with my work as a journalist. In Gummersbach, a small and peaceful town I came to realize that I hadn't been sensitive to this issue all these years. Media tends to exploit the difference among religions and its conflicts rather than to promote the similarities of its values such as love and peace.

The training has enlightened my viewpoints. It's my duty to promote the spirit of tolerance in my editorial policy in Pos Kupang Daily. It's a need of my people in East Nusa Tenggara province. This is the biggest advantage I learned from Gummerbach. The majority of people in NTT are Christians, Protestants and Catholics but the tolerance between the two religions and among other religions like Moslems, Hindus, and Budhist needs to be cherished.

The discussion about Liberalism, whether it is an ideology, a belief or a concept of thought and whether the misconceptions among religious beliefs and the liberals is considered a problem, whether the gap will turn even wider were thoroughly discussed in working group. The first group discussed about why the religious leaders and traditional groups tend to view liberalism as an enemy and how the liberals should react to this issue.

Another working group discussed about liberalism as a representative of west imperialism values and whether it is a moral degradation, what the liberals justification about the issue, the possibility of a liberal being a part of religious group, why it is possible and why not. At the end of the discussion I came to think that liberalism is not a value from the west but it is a value rooted in every community in the world because it flourishes the values of humanism which are universally acceptable.

There were also some lectures from several resources followed by a session of dialogue with the participants. The lectures cover the following topics:

  1. Panel on the issue of religion at the municipal level in Bonn. Discussion with Achim Kansy, City Councillor (FDP) and Coleta Manemann, Municipal Commissioner for Integration.
  2. Liberating women: are anti-discrimination laws enough or what else do we need? Lecture by Dr.Nadia Butt, journalist and university lecturer, former FNF scholarship holder.
  3. Liberalism and the relationship between Church and State in Germany - a historical overview by Dr. Karl-Heinz Hense.
  4. Isolation or constructive engagement? What kind of relationship between religion and the state does the FDP want today? Presentation by Pascal Kober MdB, Member of the Group "Christian in the FPD" and Lutheran Pastor. Venue: Hotel Fortuna Reutlingen.
  5. Religion in schools: The special case of religious education in German educational system from a liberal perspective. Discussion with Dr. Otto Bertermann (MdL) and other members of the FDP Parlimentary group. Venue: Bayerischer Landtag, Munich.
  6. Religion as a factor in international conflicts. Discussion with Prof. Dr. Mariano Barbato, Department of International Politics at the University of Passau. Venue: Kolpinghaus Munchen Zentral.

Besides the discussions and lectures, we also did a three day city tour to Munich. It was very fun.
After a visit to Munich the last session was a closing discussion and sharing opinions on how to promote the idea of secularism, what can be done individually and and how we confront the possible obstacles. The session closed with some agreements and disagreements and a deep thought of the whole training such as the material of the training, the resources, the facilitators and etc. Taking into account the importance of the topic I suggested that The Theodor Heuss Akademie in cooperation with Friedrich Naumann can hold the same training in the following years because such topics are important for the whole world especially for developing country like Indonesia. Through series of discussions with stakeholders it is expected to find a solution to many problems faced by many countries in dealing with the relationship between the state and religion.

My great thank goes to the facilitators Mr. Stefan Melnik dan Ms. Gulmina Bilal who had lead a well and fun discussion during the training. Also to the director of Theodor Heuss Akademie, Dr. Birgit Lamm, seminar organisation Denise Kopmann and her assistant Bjorn Kant.

I thank the chief of Friedrich Naumann Stiftung (FNS) Jakarta, Mr. Rainer Heufers who has given me an opportunity to join the training. I am so grateful to have a chance to go to Germany.


As the meeting place for 24 participants from 21countries, the training has given all the participants new knowledge and experiences and it has made it possible to exchange ideas among the participants. Better perspectives are also achieved throughout the sessions about many different topics. Although not always on the same side in viewing the related issues, the two week training has deepened our brotherhood.

We are back to our own countries and our working environments but we still keep in contact through e-mail, facebook and other possible facilities to continuo our discussion or to just say hi to each other. Now there's an international network for promoting solidarity, liberalism and secularism in our own ways.

Drizzles of snow had welcomed me on my first arrival in Gummersbach on 7 March 2010. When I left the little town on March 19 in the afternoon, there was no more snow and cold weather. The sun shone brightly all over Germany and the Spring time started to come along. My memory of Gummersbach will stay with me forever. Thanks a lot FNS.

(Dion DB Putra, email: diondbputra@yahoo.co.id; dionbata@gmail.com)

Suatu Senja di Dome of Cologne


The Dome of Cologne (istimewa)
KALAU tidak bertemu Jonatan Lassa dalam sisa waktu yang sangat terbatas, mungkin saya melewatkan kesempatan melihat salah satu situs warisan dunia di Jerman.

"Om masih punya waktu 45 menit menunggu jadwal kereta berangkat ke Frankfurt. Sebaiknya lihat Dome dulu," kata Jonatan, moderator Forum Academia NTT (FAN) yang datang menemuiku bersama anaknya di Stasiun Kereta Api Koln, Jumat 19 Maret 2010 petang.

Sontak teringat Gereja Katedral Koln (The Dome of Cologne) yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Kami pun bergegas keluar dari stasiun menuju pelataran gereja yang letaknya persis di pinggir Sungai Rhine atau Rhein yang terkenal itu. Panoramanya sungguh indah.

Waktu hampir pukul 18.00 namun pengunjung masih menyemut di sana. Mereka umumnya menenteng kamera foto maupun video, mengabadikan diri dengan latar belakang berbagai sisi gereja yang dibangun sejak abad ke-12 serta didedikasikan khusus untuk St. Petrus dan Bunda Maria tersebut. UNESCO melukiskan gereja ini sebagai karya manusia yang luar biasa. Setiap hari rata-rata dikunjungi 20 ribu orang. Mereka adalah para turis serta peziarah yang datang dari berbagai belahan dunia (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Cologne_Cathedral).


Menyimak data dari situs resmi gereja ini, Katedral Koln sungguh membuat kagum. Pembangunan gedungnya berlangsung selama 632 tahun, mulai tahun 1248 dan baru rampung tahun 1880. Peletakan batu pertama gereja dilakukan Uskup Agung Konrad von Hochstaden 15 Agustus 1248. Setelah mengalami pasang surut pembangunan, gereja ini rampung tahun 1880. Selesainya katedral terbesar di Jerman itu dirayakan sebagai peristiwa nasional yang dihadiri Kaisar Wilhelm I.

Panjang keseluruhan gereja 144,5 meter, lebar 86,5 meter dan tinggi menara kembar 157,4 meter atau 516 kaki. Inilah bangunan indah bergaya gothic dari Abad Pertengahan yang keaslian arsitekturnya masih bertahan. Selama empat tahun, antara tahun 1880-1884 Katedral Koln sempat memegang rekor sebagai gereja dan bangunan terbesar di dunia. Rekornya baru berakhir saat Monumen Washington tegak berdiri di jantung ibukota negara Amerika Serikat.

Salah satu sisi menarik di dalam katedral adalah altar. Altar dari marmer hitam dengan sisi depan dilapisi marmer putih tersebut dibangun tahun 1322. Karya seni lainnya adalah Kuil Tiga Raja, sarkofagus berlapis emas dari abad ke-13 dan tempat pusaka yang secara tradisional dipercaya sebagai kenangan akan Tiga Orang Majus dari Timur. Dekat sakristi ada ukiran salib besar. Patung kayu Santa Perawan Maria dan Bayi Yesus yang dibuat tahun 1290 tampak anggun di sana.

Lolos dari Bom
Kisah-kisah mengagumkan tentang kreativitas manusia serta keajaiban mewarnai keberadaan Katedral Koln. Tanggal 1 September 1939, Jerman menyerang Polandia dan meletuslah Perang Dunia II. Tanggal 3 September 1939 Inggris dan Perancis mengumumkan perang kepada Jerman. Tanggal 8 Desember 1941, Jepang hancurleburkan Pearl Habour dan sehari kemudian Amerika Serikat (AS) nyatakan perang pada Jepang. Tanggal 11 Desember 1941 Jerman dan Italia umumkan perang kepada AS sehingga perang meliputi seluruh dunia.

Perang baru berakhir setelah Sekutu mendaratkan pasukan di Pantai Normandia, 6 Juni 1944, Jerman menyerah pada Sekutu Mei 1945 setelah kematian Hitler, tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom oleh AS dan Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945.

Selama Perang Dunia II (1939-1945), pasukan Sekutu menjatuhkan tujuh puluh kali bom udara di Koln. Kota itu rata tanah, namun gereja dengan menara kembarnya itu tetap tegak berdiri. Luar biasa! Ada pendapat bahwa pasukan Sekutu menjadikan menara kembar gereja sebagai navigasi yang mudah dikenali untuk menyerbu lebih jauh ke wilayah Jerman. Mungkin inilah alasan mengapa Katedral Koln tidak ikut remuk. Pendapat lain menyebutkan, Sekutu menjatuhkan bom secara membabi-buta di atas Koln namun bom selalu menjauhi gereja yang dibangun selama enam abad lebih.

Pada tahun 1996, katedral ini ditambahkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Tahun 2004 UNESCO peringatkan sebagai "World Heritage in Danger" karena ada rencana untuk membangun gedung bertingkat tinggi di dekatnya yang bakal merusak visual situs. Peringatan itu dihapus tahun 2006, setelah pihak berwenang di Jerman memutuskan untuk membatasi ketinggian gedung yang dibangun di dekat dan di sekitar Dome of Cologne.

Sebagai Situs Warisan Dunia dengan posisi yang nyaman dan memanjakan para turis atau peziarah, Katedral Koln adalah tempat yang tidak boleh Anda lewatkan jika sempat berkunjung ke Jerman. Katedral ini dibuka setiap hari mulai pukul 06.00-19.30. 

Masuk gratis kecuali jika Anda ingin mendaki ke menara gereja melewati 509 anak tangga spiral untuk menikmati keindahan Kota Koln dan keelokan Sungai Rhein dari ketinggian 98 meter. Bila ingin melepas lelah setelah puas mengelilingi Katedral, Anda bisa mampir di rumah makan atau bar yang menjamur di sekitar katedral. (dion db putra)

Pos Kupang edisi Minggu, 28 Maret 2010 halaman 11

Melihat 'Ban Oto' Terbesar di Dunia

Stadion Allianz Arena (14 Maret 2010)
"KALAU sudah berada di Munich, tidak lengkap kalau belum sempat melihat Stadion Allianz Arena," kata Christian Woff. Kolega yang sama-sama menjalani pelatihan kepemimpinan di Gummersbach itu mempromosikan Allianz Arena ketika kami dalam perjalanan dengan bus menuju Munich, akhir pekan lalu.

Sebagai anak Jerman yang gila bola, Wolff sangat bangga dengan stadion megah tersebut. "Saya sudah berkali-kali menonton pertandingan Bayern Munich dan tim nasional Jerman di stadion itu," kata Wolff yang tinggal di Kota Erlangen.

Sejak awal saya memang sudah berniat untuk bertandang ke Allianz Arena meskipun tidak begitu yakin apakah mungkin, mengingat jadwal pelatihan sangat padat dan disiplin tinggi khas Jerman. Niat itu akhirnya terwujud hari Minggu 14 Maret 2010. Setelah program city tour berjalan kaki yang cukup menguras energi di bawah siraman hujan salju, bersama Saidiman, sesama peserta pelatihan asal Indonesia, kami menuju Allianz Arena.


Keraguan sempat muncul mengingat kami "buta" tentang Munich dan baru pertama coba menjelajahi kota metropolitan terbesar di Jerman ini. Birgitt, resepsionis Hotel Maritim, tempat kami menginap, memupus keraguan dengan memberikan peta transportasi kota serta petunjuk tentang cara mencapai Allianz Arena. "Jika Anda bingung dalam perjalanan nanti, tanyakan pada orang-orang atau temui polisi. Mereka akan senang membantu," kata Birgitt dengan ramah.

Birgitt benar. Peta transportasi Kota Munich sangat memanjakan siapa pun yang berkunjung ke kota tersebut. Meskipun tertulis dalam bahasa Jerman yang relatif asing bagi kami, tetapi rute kereta api bawah tanah, trem dan bus memberi petunjuk jelas, baik berupa mesin penjualan tiket dan harganya, papan rute pemberhentian di setiap peron maupun pengumuman otomatis di setiap pemberhentian. Jadi agak muskil tersesat, kecuali kalau malu bertanya.

Setelah membeli tiket kereta api bawah tanah seharga 5 euro (sekitar Rp 65 ribu) yang berlaku sehari penuh, saya dan Saidiman memulai perjalanan ke Allianz Arena dari stasiun pusat Munich. Jaraknya sekitar 15 km dari pusat kota. Tidak ada kesulitan berarti meskipun harus berganti jalur kereta dan melewati sepuluh stasiun pemberhentian. Dengan peta di tangan kami menceklis setiap pemberhentian yang dilewati. Tidak sampai dua belas menit kami sampai di Fortmaning, stasiun pemberhentian terakhir menuju Allianz Arena yang berada di pinggiran Munich. Dari stasiun Fortmaning hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki untuk mencapai stadion.

"Ban Oto" Terbesar
Desain Stadion Allianz Arena futuristik dan unik. Keunikannya terletak pada bentuk dan kontur dinding penutup stadion sangat mirip "ban oto" alias ban mobil. Jadi bisa dilukiskan sebagai ban mobil terbesar di dunia. Dilihat dari udara maupun dari darat kesan pertama yang tertangkap adalah "ban mobil" dalam posisi tergeletak. Dari luar juga terlihat seperti sebuah pesawat UFO yang sedang parkir.

Keunikan lain Stadion Allianz Arena Munich terdiri dari tiga warna yang berganti sesuai keperluan, yakni warna merah, biru dan putih. Stadion triwarna ini adalah home base klub Bayern München atau Bayern Munich dan TSV 1860 Munich. Jika Bayern Munich atau FC Holywood menjadi tuan rumah maka stadion akan berwarna merah. Sebaliknya jika TSV 1860 München bermain akan berwarna biru. Stadion akan berwarna putih bila tim nasional Jerman bermain.

Ketika saya berkunjung ke stadion itu 14 Maret 2010, warna stadion putih. Artinya stadion itu milik Jerman. Jerman seolah mengatakan kepada dunia bahwa inilah wajah teknologi mereka yang super canggih.

Tri warna sesungguhnya warna pembungkus stadion yang terdiri dari 2.874 bantal udara transparan. Bantalan udara itu dapat memantulkan sinar cahaya dari dalam stadion. Artinya, perubahan warna merah, biru dan putih dipantulkan dari dalam stadion.

Allianz Arena dengan kapasitas kursi 59.416 menjadi tempat pembukaan Piala Dunia 2006 di Jerman. Ukuran lapangan 105 x 68 meter serta pencahayaan 1.500 lux menjadikan Arena salah satu stadion terbaik di dunia. Tanggal 19 Mei 2005, pukul 19.00 gawang Stadion Allianz Arena pertama kali digunakan Bayern Munich dan TSV 1860 sebagai tanda pra-pembukaan stadion.

Secara resmi stadion ini dibuka tanggal 30-31 Mei 2005. Tanggal 30 Mei adalah pertandingan TSV 1860 melawan FC Nurenberg dan 31 Mei pertandingan FC Bayern Munuich melawan timnas Jerman. Kedua pertandingan tersebut merupakan tanda resmi pembukaan Stadion Allianz Arena. Walikota Munich saat itu, Christian Ude memimpin pembukaan stadion Allianz Arena. Stadion ini pun ramah terhadap penyandang cacat. Tersedia tempat duduk khusus bagi sesama kita yang kurang beruntung secara fisik.

Saat bertandang ke sana stadion sedang tidak digunakan untuk bertanding. Namun, para pengunjung sangat ramai. Ada yang datang sendiri maupun dalam grup. Stadion ini rupanya menjadi salah satu obyek wisata di Jerman sekaligus tempat rekreasi. Di Stadion ini terdapat arena tour dan tempat berbelanja. Para petugas dengan ramah melayani para pengunjung yang ingin tahu data dan informasi.

Ada bioskop bernama Arena Kino. Ada FC Bayern Munich Megastore, TSV 1860 Megastore, Showroom Medion, Showroom Audi, Allianz-Arena shops untuk sovenir, T-Com Haus dan Restaurant Arena a la Carte.

Dengan alamat Werner-Heisenberg-Allee 25, 80939 Munich, siapa pun bisa mengunjungi "ban oto" terbesar di dunia ini karena akses ke sana sangat mudah, baik dari pusat kota atau dari Bandara Munich yang berjarak sekitar 29 km. Rute kereta api dan bus langsung ke stadion itu sehingga para penonton dari berbagai kota di Jerman atau dari kawasan Eropa tidak sulit saat pergi dan atau meninggalkan stadion tersebut.

"Kapan ya kita di Indonesia punya stadion seperti ini? Stadion yang bisa menjadi obyek wisata dan tempat rekreasi keluarga, " kata Saidiman. Saya tak tanggup menjawab! (Dion DB Putra, dari Munich)*

Data Sekilas:
Nama Stadion: Allianz Arena
Kota: Munich (penduduk 1,4 juta jiwa)
Investasi stadion : 340 juta euro
Kandang klub : Bayern Munih dan TSV 1860 Munich
Kapasitas total : 66.016 orang
Kapasitas kursi : 59.416

Pos Kupang edisi Minggu, 21 Maret 2010 halaman 1

Sekelumit Kisah Hanadi

"SAYA percaya adanya Tuhan, tapi saya tidak beragama. Saya bukan seorang Kristen, bukan juga Islam. Apakah Anda yang setiap hari Minggu pergi ke gereja lebih toleran dibandingkan dengan saya?"

Wuih! Pernyataan sekaligus pertanyaan "menohok" itu keluar spontan dari mulut Stanislav Fort, pria asal Slovakia. Aktivis partai yang sedang mencalonkan diri menjadi senator di negerinya itu menatapku tajam. Sebuah pernyataan reflektif yang dalam maknanya.

"Betul, saya ke gereja pada hari Minggu untuk berdoa. Apakah saya lebih toleran? Rasanya tidak!" jawabku. Stanislav tersenyum. Dia mengangguk-anggukkan kepala tanda sependapat.

"Orang boleh saja mengklaim diri sangat religius, tetapi belum tentu dalam kehidupan sehari-hari bisa bersikap toleran dengan orang lain yang berbeda agama," kata Stanislav.

Demikian sepenggal dialog dalam sesi diskusi focus group tentang masalah toleransi antar umat beragama di Theodor Heuss Akademie, Gummersbach-Jerman. Toleransi termasuk topik mendalam yang dibahas 24 peserta dari 21 negara yang mengikuti latihan kepemimpinan bertajuk Liberalisme dan Religiositas yang diselenggarakan Friedrich Naumann Stiftung tanggal 7-19 Maret 2010 di Gummersbach, kota kecil sekitar 50 km dari Koln.

Dinamika diskusi menarik perhatian. Toleransi ternyata masih menyisakan masalah di berbagai negara Asia, Afrika, Eropa dan Latin Amerika. Peserta seminar dari keempat benua itu mengungkapkan kecemasan yang mirip. "Di negeri kami yang mayoritas Kristen, konflik sosial berlatarbelakang agama masih terjadi sampai hari ini. Implementasi semangat toleransi memang tidak mudah," kata Isaac Obeng Aboagye asal Ghana.

Isaac memberi contoh, umat Kristen Kharismatik yang mayoritas di Ghana bahkan memandang saudaranya penganut Kristen Protestan dan Katolik sebagai "orang lain". "Apalagi dengan yang bukan Kristen," kata Isaac.

"Dan, terjadi di mana-mana, setiap agama berusaha mendominasi agama yang lain. Poin yang ingin saya tekankan adalah bukan hanya kelompok mayoritas yang ingin mendominasi minoritas?" tandas Natalia Davydova dari Ukraina. Natalia sungguh mengungkap realitas.
Pergumulan semacam itu terjadi di banyak negara.

"Turki adalah negara sekular modern. Tapi toleransi di sana pun masih bermasalah meskipun tidak terjadi dalam skala besar seperti di negara lain," kata Hasan Yucel Basdemir dari Universitas Hitit, Corum-Turki.

Bagaimana dengan wajah Indonesia? Hasil survai LSI tahun 2006 kiranya dapat dipakai sebagai cermin. Survai itu menunjukkan masyarakat Indonesia cukup toleran dalam masalah sosial. Misalnya, mereka tidak keberatan hidup bertetangga dengan orang yang berbeda agama. Tetapi sikap toleran itu berkurang apabila memasuki wilayah teologis dan politik seperti soal pembangunan tempat ibadah.

Sharing pengalaman peserta diskusi menunjukkan fakta sebangun. Betapa pun bagusnya kebijakan publik yang dibuat negara tentang toleransi tidak mudah ditransformasikan ke dalam realitas keragaman masyarakat. Apalagi negara cukup sering tidak berani mengambil keputusan tegas demi menegakkan prinsip kesetaraan dan keadilan.

Panel diskusi mengarah pada kesimpulan kecil. Toleransi bukan proses sekali jadi karena hal ini menyangkut nilai yang harus mengakar di tengah masyarakat. Tentu dibutuhkan modal untuk membangun toleransi sebagai nilai kebajikan dalam masyarakat plural. Pertama, toleransi membutuhkan interaksi sosial melalui percakapan dan pergaulan yang intensif.

Kedua, perlu merajut kepercayaan di antara beragam kelompok dan aliran. "Saya setuju dengan dialog intensif. Tetapi dialog harus berlandaskan semangat yang tulus dan keikhlasan menerima pandangan berbeda. Pengalaman mengajarkan kepada kita betapa dialog antarumat beragama sekadar basa-basi politis. Pengalaman di banyak negara menunjukkan, agama dipakai sebagai kendaraan demi mencapai tujuan politik," kata peserta asal Tibet, Yeshi Phuntsok. Nah?

Maka meluncurlah sekelumit kisah dari Hanadi Zughayyer dan Sharifa Mustafa Nasif. Kedua perempuan itu sama-sama asal Ramallah, Palestina. Hanadi beragama Kristen dan Sharifa beragama Islam. Peserta seminar dari negara lain sangat antusias menanyakan kondisi sosial di Palestina termasuk masalah toleransi langsung dari sumber pertama.

"Toleransi? Itu bukan masalah di Palestina bahkan bukan sumber masalah utama dalam konflik Palestina dengan Israel. Konflik di Palestina dan Israel itu masalah politik, bukan konflik agama," kata Hanadi. "Kami tidak saling mengganggu saat menjalankan ibadah agama masing-masing," kata Sharifa Mustafa Nasif.

Dalam seminar tentang Liberalisme dan Religiositas juga hadir peserta dari Israel, Amichay Findling. Keakraban peserta dari dua negara yang berseteru itu sungguh indah dipandang. Keceriaan mereka saat berdikusi, kehangatan bercengkerama di kala coffee break atau makan siang setidaknya menghapus kesan seram tentang "perang tak berkesudahan" antara Israel- Palestina.

Selasa malam 9 Maret 2010, saat kami melepas sedikit ketegangan setelah diskusi seharian di Restauran Shisha Oase milik Sukron asal Libanon, di pusat Kota Gummersbach, Hanadi, Sharifa dan Amichay berdendang dan berjoget ria. Hanadi dan Sharifa menyanyikan lagu Timur Tengah dan Amichay bergoyang ria.

Laura Elena Caballero asal Meksiko, Kamila Murzaeva dari Kirgystan, Omar Al Ma'aitah asal Yordania dan Shady Mokhtar Mogahed dari Mesir tak ketinggalan bergoyang. Sungguh saya terharu menyaksikan sepotong kedamaian itu. (Dion DB Putra, catatan dari Gummersbach-Jerman)

Pos Kupang edisi Minggu, 14 Maret 2010 halaman 1

Membagi Ilmu Action Plan

BERSAMA para pelatih dan mentor berpengalaman di bidang public relation dan jurnalistik asal Australia dan Indonesia, saya mendapat kesempatan ikut membagi ilmu kepada 20 peserta dari berbagai institusi Kupang, tanggal 14-19 Juli 2008. Inilah kesempatan pertama bagi saya selaku mentor IASTP di NTT membagi pengetahuan dalam suatu pelatihan yang diselenggarakan IASTP III.

Materi yang saya sampaikan sangat penting dalam setiap pelatihan IASTP III yaitu tentang Action Plan atau Rencana Aksi. Saya mendapat kesempatan pada hari pertama pelatihan, Senin 14 Juli 2008 setelah pembicara tamu Magdalena Wenas. Berikut dua berita yang disiarkan Pos Kupang tentang pelatihan tersebut.

20 Peserta Ikut Pelatihan Jurnalistik IASTP III

KUPANG, PK -- Kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia dalam program Indonesia Australia Specialised Training Project (IASTP) III menyelenggarakan pelatihan jurnalistik untuk aparat hubungan masyarakat (Humas) di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pelatihan selama enam hari dari tanggal 14-19 Juli 2008 di Badan Diklat Propinsi NTT, Jl. Fetor Foenay Kupang itu diikuti 20 peserta. Ditemui hari Senin (14/7/2008), Kepala Biro LKBN ANTARA Kupang, Key Tokan Abdul Asis, menjelaskan para peserta pelatihan berasal dari bagian humas pemerintah propinsi, kabupaten, ormas, LSM, kalangan kampus (Unwira, UMK - Kupang), Polda NTT dan dan TNI (Korem 161 Wirasakti).

Selama enam hari, kata Asis, peserta pelatihan akan dibimbing pelatih dan mentor berpengalaman di bidang jurnalistik dan kehumasan (public relation). SPRINT Consultant sebagai training provider menghadirkan pelatih berpengalaman asal Australia, Andrew Dodd dan Marianne Kearney. Dari Indonesia antara lain Martiningsih Agung Chandra, Ignatius Haryanto dan Zainal (mentor IASTP dari LKBN ANTARA Pusat).

Pada hari pertama kemarin, panitia menghadirkan pembicara tamu yang kompeten di bidang kehumasan yakni Magdalena Wenas.

Asis menambahkan, pada hari kedua peserta pelatihan akan melakukan kunjungan lapangan. Mereka diberi kesempatan melakukan studi tentang kemiskinan, terumbu karang, abrasi, pemukiman kumuh di sekitar kawasan pantai Pasir Panjang, Oesapa Kupang.

"Para peserta juga akan menggelar simulasi konferensi pers yang akan dihadiri wartawan senior untuk mengajukan pertanyaan kepada peserta, menulis siaran pers, lobi dan bagaimana membangun hubungan dengan media massa," katanya. (osi) Pos Kupang edisi Selasa, 15 Juli 2008, halaman 10.


Peserta Pelatihan IASTP Gelar Simulasi Jumpa Pers

KUPANG, PK -- Sebanyak 20 aparat hubungan masyarakat (Humas) di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (18/7/2008), menggelar jumpa pers di hadapan para wartawan media cetak di Kupang. Jumpa pers ini digelar sekadar simulasi dalam pelatihan jurnalistik yang sedang mereka ikuti di Balai Diklat Propinsi NTT di Jalan Fetor Foenay, Kupang, yang berlangsung atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan Australia dalam program Indonesia Australia Specialised Training Project (IASTP) III.

Ada empat wartawan yang hadir dalam simulasi ini, yakni Agus Sape dan Alfred Dama dari Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Yes Bale dari Harian Pagi Timor Express dan Rudi Tokan dari Mingguan Vista Nusa. Keempat wartawan ini adalah alumni IASTP III, baik yang pernah berlangsung di Australia maupun di Kupang. Simulasi jumpa pers tersebut merupakan salah satu materi pelajaran dalam pelatihan itu.

Dalam simulasi yang berlangsung dua jam dan dalam pengawasan para mentor tersebut, para peserta dibagi dalam empat kelompok dengan isu yang berbeda- beda. Mereka membahas isu korupsi, kemiskinan, angka putus sekolah dan gender. Setiap kelompok juga menampilkan fragmen sekadar ilustrasi untuk mendukung isu yang disampaikan.

Setiap kelompok mendapat kesempatan 15 menit untuk memaparkan isu/berita hasil temuannya di lapangan dan ingin dipublikasi melalui media massa. Sementara empat wartawan yang hadir berusaha menggali lebih dalam setiap isu itu dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kritis dengan gayanya masing-masing.

Setiap kelompok berusaha menjawab pertanyaan para wartawan selengkap mungkin, dan berusaha berkelit untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan.

Yes Bale dari Timex menyatakan kagum dengan cara setiap kelompok menghadapi wartawan dalam menyampaikan argumen publikasi. Hal yang sama dikemukakan Rudi Tokan dari Vista Nusa.

Alfered Dama dari Pos Kupang mengatakan, gaya para peserta menyampaikan rilis sangat baik, hanya kurang didukung dengan data yang biasanya sangat dibutuhkan wartawan untuk publikasi.
Agus Sape memuji keseriusan para peserta mengikuti pelatihan ini. Namun dia mengkritik salah satu kelompok yang menampilkan gambar-gambar minuman keras dan tidur-tiduran sebagai penyebab miskinnya masyarakat NTT.

Menurutnya, harus dicari penyebab yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan misikinnya masyarakat NTT. "Orang Eropa juga minum minuman keras dan tidur- tiduran, tapi faktanya mereka kaya dan pintar. Orang NTT banyak yang bekerja sangat keras, tapi tingkat kesejahteraannya tetap saja di bawah orang Eropa. Menurut saya harus dicari penyebab lain yang lebih tepat," kata Agus.

Kepala Biro LKBN ANTARA Kupang, Key Tokan Abdul Asis, menjelaskan para peserta pelatihan berasal dari bagian humas pemerintah propinsi, kabupaten, ormas, LSM, kalangan kampus (Unwira, UMK - Kupang), Polda NTT dan dan TNI (Korem 161 Wirasakti).

Selama enam hari, kata Asis, peserta pelatihan dibimbing pelatih dan mentor berpengalaman di bidang jurnalistik dan kehumasan (public relation). SPRINT Consultant sebagai training provider menghadirkan pelatih berpengalaman asal Australia, Andrew Dodd dan Marianne Kearney. Dari Indonesia antara lain Martiningsih Agung Chandra, Ignatius Haryanto dan Zainal (mentor IASTP dari LKBN ANTARA Pusat). (alf) Pos Kupang edisi Sabtu, 19 Juli 2008 halaman 7.

Humas

DUA puluh orang dari berbagai instansi pemerintah, militer, kepolisian, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga keagamaan dan perguruan tinggi berkumpul di Jl. Fetor Foenay, Kolhua-Kupang. Berkumpul, berdiskusi dan belajar sepanjang pekan di salah satu ruang sejuk Badan Diklat Propinsi NTT. Kebersamaan enam hari yang menggembirakan. Ada saat mengerutkan kening. Ada waktu terbahak-bahak. Menyadari betapa banyak kekurangan yang perlu dibenah.

Menarik sekali mengikuti jalannya pelatihan jurnalistik bagi aparat Hubungan Masyarakat (Humas) yang diselenggarakan Indonesia Australia Specialised Training Project (IASTP) III di Kupang tanggal 14-19 Juli 2008. Program ini bernaung di bawah payung kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia. Bagi publik Flobamora, terutama kalangan pemerintah, nama IASTP tentunya tidak asing lagi.

Pelatihan bertajuk Journalism for Public Relation Officers Training itu tampil beda. Beda warna, gaya dan isi dibandingkan pelatihan serupa yang pernah ada. Kekurangan tak dipungkiri tetapi peserta mendapat tambahan pengetahuan dan keterampilan. Demikian yang mereka tuturkan pada saat evaluasi menjelang acara penutupan Sabtu petang, 19 Juli 2008.

Sebagai mentor lokal IASTP di NTT, beta tak sanggup menolak penilaian tersebut. Senyum pun tersungging di bibir Key Tokan Abdul Asis, Kepala Biro LKBN ANTARA Kupang. Key Tokan bersama kru ANTARA Kupang adalah orang-orang yang sibuk mengurus segala sesuatu demi suksesnya pelatihan tersebut.

Sprint Consultant sebagai training provider bersama LKBN ANTARA (agen nasional dalam pelatihan di bidang jurnalistik), kali ini menghadirkan pelatih dan mentor berkompeten. Mereka pakar public relation (PR), pakar komunikasi, wartawan senior dan berpengalaman.

Berbahagialah ke-20 peserta karena tuan dan puan menerima ilmu dari orang yang tepat. Perlu disebut nama mereka di sini. Dua pelatih berasal dari Australia, Andrew Dodd dan Mariane Kearney. Pelatih dari Jakarta, Martiningsih Agung Chandra, Ignatius Haryanto dan Zainal, mentor Pusat IASTP dari LKBN ANTARA Jakarta. Martiningsih adalah staf pengajar di bidang public relation. Ignatius Haryanto sehari-harinya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) dan Direktur Program Mochtar Lubis Award yang 18 Juli 2008 lalu memberi penghargaan bagi para wartawan Indonesia yang membuat karya jurnalistik terbaik.

Tak lupa menyapa Wijanarko, Diana dan Rudi dari Sprint yang setia melayani kebutuhan pelatih dan peserta selama enam hari. Dan, Joy, penerjemah Andrew Dodd yang baru lancar menyebut kata terima kasih, bagus sekali, sampai jumpa.

Suasana menggairahkan terpancar sejak hari pertama ketika pembicara tamu Magdalena Wenas "membakar" para peserta tentang pentingnya tugas kehumasan. Wenas yang energik itu membongkar paradigma lama-- terutama di lingkungan pemerintah -- bahwa Humas itu tempat buangan. Pernyataan yang kembali ditegaskan Humas PT PLN (Persero) Wilayah NTT, Paul Bolla pada evening seminar di pinggir kolam renang Hotel Kristal-Kupang, Rabu (16/7/2008) malam.

Warna beda pelatihan IASTP III terletak pada metodenya yang inklusif dan sungguh menerapkan pembelajaran orang dewasa. Pesertalah yang aktif, bukan pelatih atau mentor. Suasana diciptakan sedemikian rupa sehingga selalu menyenangkan. Peserta bosan adalah haram hukumnya. Selama enam hari tak ada yang mengantuk di kelas. Semua terlibat aktif, baik dalam kelompok maupun tugas perorangan. Peserta juga dikejutkan dengan situasi krisis dan studi kasus sehingga mereka dituntut selalu siap untuk olah pikir dan beraksi.

Kearney, Dodd, Martiningsih dan Zainal membimbing peserta satu per satu. Mereka ikut turun lapangan ke Pantai Oeba dan Oesapa pada hari kedua pelatihan untuk melihat potret "kemiskinan NTT" dari sudut pandang beragam. Hasil studi lapangan itu menjadi bahan bagi peserta untuk dikampanyekan dalam kapasitasnya sebagai public relation atau staf humas.

Pelatihan itu juga menghadirkan empat wartawan senior yang menggugat, mengobok-obok dan menguji peserta saat simulasi jumpa pers. Luar biasa! Ke-20 peserta itu "lulus ujian" dan berhak mendapat sertifikat, suatu tanda bahwa mereka boleh pulang ke instansi atau organisasinya dengan bekal pengetahuan baru, cara berpikir dan wawasan baru.

Mudah-mudahan ke-20 peserta sungguh membawa semangat baru di tempat kerja masing-masing. Meyakinkan kepada atasan serta rekan kerja mereka bahwa tugas kehumasan itu sangat strategis karena menyangkut citra institusi. Ketika kita getol bercakap-cakap tentang akuntabilitas dan transparansi, mengemas public relation secara profesional merupakan jawabannya. Tidak bisa tidak! Ketertinggalan NTT antara lain karena fungsi public relation kita lemah dan tidak serius diurus.
Di rumah besar Flobamora, masih banyak orang berpikir tugas aparat Humas atau Infokom sekadar membuat siaran pers. Peran mereka lebih dari itu dan luas cakupannya.

Memang, tak ada jalan pintas untuk mengubah paradigma lama. Perubahan apapun butuh proses. Maka pesan penting dari pelatihan 14-19 Juli 2008 adalah Rencana Aksi. Mari beraksi mulai dari hal-hal kecil dan sederhana sebagaimana prinsip IASTP: visi tanpa aksi hanyalah mimpi. Aksi tanpa visi cuma membuang-buang energi. Untuk mengubah dunia, mulailah dengan mengubah diri sendiri dan lingkungan sekitarmu. Ayo, kawan-kawan jangan lupa Action Plan dengan kriteria SMART! * (email: dionbata@poskupang.co.id)

Rubrik Beranda Kita (BETA) Pos Kupang edisi Senin, 21 Juli 2008 halaman 1

Bukan Makan Siang Biasa

DI meja paling depan dekat podium berlogo burung Garuda, duduk berdampingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). SBY memakai baju safari kesukaannya. Wapres Jusuf Kalla berkemeja putih. Duet pemimpin nasional itu ditemani Presiden Komisaris Kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama, tokoh pers Rosihan Anwar, pemilik jaringan TV Trans Corp, Chairul Tandjung dan pemilik Media Group, Surya Paloh. Mereka menikmati santap siang sambil bercerita tentang macam-macam persoalan.
Di deretan meja lainnya tampak pemilik Jawa Pos Group, Dahlan Iskan, Direktur Utama RRI, Parni Hadi, Pemimpin Redaksi Kompas, Bambang Sukartiono, Karni Ilyas dari TV One, Siane Indriayani (Global TV), Rosiana Silalahi (SCTV), Olan Fatah (Radio Trijaya FM) dan para pemimpin redaksi media cetak dan elektronik lainnya. Wajah familiar dari Kabinet Indonesia Bersatu juga hadir di sana antara lain, Menko Polkam, Widodo AS, Menko Perekonomian, Budiono, Menteri Sekretaris Negara, Hatta Rajasa, Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhamad Nuh, Menteri Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi dan Kapolri Jenderal Sutanto.

Para menteri itu duduk berbaur dengan undangan. Acara jamuan makan siang sungguh jauh dari kesan formal. Suasana begitu cair. Presiden SBY mohon pengertian karena menu yang disiapkan tuan rumah ala kadarnya. Ada gado-gado. Ada nasi liwet. Ala kadar yang membanggakan karena semua produk lokal.
Acara yang lebih mirip reuni insan pers Indonesia itu tercipta di Istana Merdeka-Jakarta, hari Senin 5 Mei 2008. Para pemilik media massa, tokoh pers, pemimpin redaksi media cetak dan elektronik, anggota Dewan Pers dan pimpinan asosiasi kewartawanan hadir di sana. Jumlahnya mendekati 100 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia memenuhi undangan Presiden Republik Indonesia untuk makan siang. Tentu bukan makan siang biasa.

Pertemuan dengan pemimpin media massa bukan pertama kali dalam masa kepemimpinan SBY-JK. Tetapi 5 Mei 2008 itu memiliki catatan tersendiri. Paling besar dari sisi jumlah yang diundang. Tidak dominan pemimpin media berbasis di Jakarta dan yang hadir adalah pemilik sampai pemimpin redaksi. Jelas kaya makna dalam konteks kebangsaan dan pengelolaan negara. Pemerintah memandang posisi pers strategis, menyadari perannya sebagai mitra sehingga membutuhkan pandangan media terhadap masalah bangsa dan negara. Sebuah tradisi yang perlu ditumbuhkan terus-menerus. Tentu tidak dalam konteks membungkam kebebasan pers atau mengintervensi kebijakan redaksional.

"Saya dan wakil presiden mengundang Bapak/Ibu sekalian untuk mendengar langsung dari kami tentang kondisi bangsa dan negara kita saat ini dan apa yang akan ditempuh pemerintah. Kita menghadapi masalah berat akibat krisis energi dan pangan. Kita paling merasakan dampak dari krisis global itu," kata Presiden Yudhoyono ketika menyapa undangan.

***
SAPAAN presiden itu memastikan apa yang telah diprediksi para pemimpin media ketika menerima surat dari Sekretariat Negara. Dalam surat undangan itu hanya ditulis "Jamuan Santap Siang bersama Presiden Republik Indonesia". Namun, pemimpin media massa sudah bisa menebak materi yang bakal disampaikan presiden. Presiden kemudian membeberkan secara rinci dampak krisis energi terhadap Indonesia dengan meningkatnya harga minyak hingga 116 dolar AS per barel. Pemerintah mau tak mau harus mengambil langkah tidak populer yaitu menaikkan harga BBM yang realisasinya mungkin dalam satu dua hari ini. "Setelah pertemuan ini saya akan memimpin rapat kabinet membahas rencana kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak). Pemerintah butuh bantuan media untuk mempublikasikan secara arif kepada masyarakat," kata presiden.

Setelah menjelaskan posisi dan langkah pemerintah, presiden memberi kesempatan kepada pemimpin media menyampaikan pandangan dan sikap. Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama mendapat kesempatan pertama disusul Ketua SPS, Dahlan Iskan dan Karni Ilyas dari media elektronik. "Ya, saya ini mulai dituakan sehingga diberi kesempatan pertama bicara," kata Jakob Oetama yang membuat presiden, wapres, para menteri dan undangan tersenyum. Suasana pertemuan sungguh akrab.

"Suatu kehormatan bagi kami diundang untuk mendengarkan penjelasan pemerintah. Kita memang tidak siap. Tidak siap menghadapi krisis pangan dan energi sekarang. Tetapi Bapak presiden dan wakil presiden, wartawan Indonesia adalah wartawan dengan komitmen yang kuat. Memiliki komitmen terhadap kepentingan bangsa dan negara. Jika media mengecam, mengeritik atau mengontrol jalannya pemerintahan, tetap dalam frame kepentingan bangsa dan negara. Kami memahami beban pemerintah sekarang dan menyambut ajakan bapak presiden," kata Pemimpin Umum Harian Kompas itu.

Dahlan Iskan melukiskan kondisi negara saat ini ibarat ibu yang "hamil tua". Menurutnya, rencana pemerintah menaikkan harga BBM dapat dimengerti. "Menaikkan harga BBM adalah langkah yang tidak terelakkan. Kami memahami masalah itu," kata Dahlan. Dengan harga rata-rata minyak 116 dolar AS per barel, beban subsidi pemerintah Rp 120 triliun dan lonjakan subsidi bisa menembus angka Rp 200 triliun. Hanya dengan menaikkan harga BBM, angka subsidi bisa ditekan.

Dahlan juga mengungkapkan kondisi yang dihadapi media. "Sejak bulan lalu, media massa nasional sudah mengalami kondisi yang berat dengan kenaikan harga kertas hampir 25 persen. Jika pemerintah menaikkan harga BBM lagi, kami mendapat pukulan kedua," kata Dahlan. Dahlan mau mengingatkan semua pihak bahwa tidak satu pun di negeri ini yang bebas dari dampak krisis energi dan pangan. Biaya operasional media massa cetak maupun elektronik mengalami peningkatan dua sampai tiga kali lipat. Hal senada disampaikan Karni Ilyas. Ketua ATVSI tersebut menggarisbawahi salah satu dampak kenaikan harga BBM yaitu jumlah orang miskin di Indonesia bakal bertambah. Pemerintah perlu mengambil langkah yang tepat untuk menekan jumlah kelompok miskin itu. "Masyarakat kecil paling merasakan dampak kenaikan harga BBM nanti," demikian Karni Ilyas.

Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi memperkirakan, misalnya pemerintah menaikkan harga BBM sebesar 30 persen, akan menambah orang miskin 8,55 persen atau sekitar 15,68 juta jiwa (Kompas, 8 Mei 2008). Menurut data BPS, jumlah orang miskin se-Indonesia adalah 16,85 persen dari total populasi atau sekitar 36,8 juta jiwa. Jamuan makan siang di Istana Merdeka 5 Mei 2008 berlangsung akrab. Warna persaudaraan, pengertian, memahami posisi, peran serta tanggung jawab demikian kental.

Sebelum meninggalkan Istana Merdeka Senin siang itu menuju kantornya untuk memimpin rapat kabinet, Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla menyalami tamunya satu per satu. "Terima kasih sudah datang memenuhi undangan kami," kata presiden. Belum 200 meter keluar dari pintu Istana Merdeka, kemacetan lalulintas Jakarta menyambut riang. Klakson mobil dan sepeda motor bersahutan di tengah terik ibu kota. Krisis ini tidak cuma memerlukan komitmen tetapi butuh aksi nyata (dion db putra). ** Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 1.

Certificate IV in Training and Assessment 2007

Para mentor IASTP yang mengikuti Certificate IV 2007 di JakartaINDONESIA Australia Specialised Training Project (IASTP) Phase III kembali menyelenggarakan program Certificate IV in Training and Assessment tahun 2007. Training providernya adalah Politeknik Negeri Malang dan Victoria University - Melbourne.
Program ini terbagi dalam empat tahap kegiatan atau blok dengan setiap blok pelatihan selama lima hari. Di Jakarta berlangsung dari tanggal 30 Juli sd tanggal 30 November 2007. Kegiatan serupa juga berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan.Para peserta adalah mentor IASTP dari sembilan propinsi di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara dan Papua.
Saya merasa beruntung menjadi salah seorang peserta dalam program ini. Manfaat pelatihan ini sangat baik bagi saya. Saya mendapattkan pengetahuan dan pengelaman baru. Juga sahabat dan relasi yang baru. Tekad saya adalah mengikuti seluruh tahap pelatihan sampai selesai. Terima kasih buat IASTP, Poltek Malang dan Victoria University. (dion db putra)

Dari Pos Kupang untuk NTT

HARI ini, Senin 22 Oktober 2007, kami keluarga besar Surat Kabar Harian Pos Kupang kembali mempersembahkan sesuatu bagi masyarakat NTT. Kami menyelenggarakan kejuaraan tinju amatir antarsasana se- Nusa Tenggara Timur. Event ini memperebutkan Menpora Cup, berlangsung hingga tanggal 28 Oktober 2007. Titelnya Menpora Cup karena Kantor Kementerian itu menyiapkan dana Rp 50 juta. Jumlah yang belum cukup dan kami mencari tambahan dana dari sponsor lain, termasuk dari kantong sendiri (Pos Kupang). Bagi kami kepercayaan dari Kantor Menpora merupakan suatu tantangan yang harus dijawab dengan bekerja sungguh-sungguh menyukseskan kejuaraan ini.
Kejuaraan dibuka Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si. Ada 15 sasana yang ikut dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu, Flores Timur dan Sumba Timur. Titel NTT terwakili. Cukup representatif.
Acara pembukaan berjalan lancar walau agak terlambat sekitar 30 menit karena sasana peserta tidak tepat waktu. Ya, begitulah disiplin masyarakat kita. Sangat memprihatinkan. Padahal displin adalah kunci sukses dalam lapangan hidup manapun, termasuk olahraga.
Sempat memanaskan suasana karena dokter ring dari Pertina datang terlambat ke GOR Flobamora di Jl. WJ Lalamentik Kupang, tempat pertandingan berlangsung. Tapi itulah warna-warni membuat event yang melibatkan massa. Outdoor event istilahnya. Tidak gampang bung! Selalu saja ada kekurangan dan kelemahan di sana-sini, sehingga dibutuhkan kesabaran dan kepala dingin.
Kami punya secuil pengalaman menggelar event dengan melibatkan masyarakat. Sejak tahun 2005 menggelar kejuaraan sepakbola antarklub se-NTT bertitel Pos Kupang Cup. Sukses besar dan brand itu tertanam cukup kokoh-kuat sampai sekarang. Kami juga pernah menggelar jalan santai 10.000 orang di Kota Kupang tahun 2005. Sejak itu mata orang terbuka!
Saya bangga –secara pribadi dan dalam kapasitas sebagai unsur Pos Kupang. Antusiasme masyarakat cukup baik terhadap event yang dibuat Pos Kupang. Saya bangga atas partisipasi awak Pos Kupang yang bekerja keras menjadi panitia pelaksana. Setelah mendapat “suntikan” dari Om Damyan Godho (PU Pos Kupang) dalam pertemuan umum 10 Oktober lalu, teman-teman mulai sadar untuk menimbun sense of belonging terhadap Pos Kupang. Event Pos Kupang berarti semua unsur Pos Kupang wajib terlibat dan melibatkan dirinya!!!
Memang masih ada kru yang bekerja asal-asalan. Kelihatan sibuk tapi kontribusinya sungguh kecil. Ya, biasalah hal itu dalam suatu organisasi. Ada orang yang bekerja mati-matian, ada yang cuma numpang lewat, takut ambil resiko dan sebagainya. Saya sungguh berharap event ini sukses, sehingga brand Pos Kupang yang tanggal 1 Desember 2007 genap berusia 15 tahun tetap kuat dan semakin tertanam di hati masyarakat Nusa Tenggara Timur. Membangun trust (kepercayaan). Itulah yang harus terus-menerus ditumbuhkan.
Di tengah acara pembukaan malam ini ada yang menghampiri saya dan berkata. “Om Dion, kapan buat kejuaraan kempo? Kami iri kenapa Pos Kupang cuma buat event sepakbola dan sekarang tinju. Usahakan buat kejuaraan kempo,” kata salah seorang hakim tinju. Saya terharu. Apresiasi orang terhadap Pos Kupang tidaklah buruk.
Saya berkata kepada sahabat itu, “Terima kasih atas apresiasi ini. Kita urus satu per satu. Kami (Pos Kupang) juga punya keterbatasan. Mudah-mudahan suatu saat kami pun bisa membuat kejuaraan kempo.” Saya dikenal sebagai orang kempo karena pernah menekuni olahraga beladiri itu selama 3 tahun. Saya memahami perasaan “iri” mereka. Mudah-mudahan ada jalan bagi kami... (dion db putra)

Cintaku pada Mawar...





TALENTA dan cinta yang terpendam itu tidak pernah saya sadari dalam rentang waktu yang cukup lama. Setidaknya sejak duduk di bangku SMP Negeri 2 Ende, Flores awal tahun 1980- an, saya mengagumi bunga mawar.
Kekaguman itu berlanjut hingga saya kuliah di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Nusa Cendana Kupang (Undana) tahun 1988. Tetapi saya sebatas mengagumi. Tidak pernah berniat sungguh-sungguh untuk menanam bunga mawar yang harum wanginya itu.
Dalam tradisi Gereja Katolik, bunga mawar merupakan bunga untuk Sang Bunda Maria. Bunda Perawan yang Selalu Menolong itu.Adik sepupuku Yofin yang ketika itu kuliah di Fakultas Pertanian Undana suatu ketika menyentilku dengan kata-kata demikian. "Kalau cuma mengagumi bunga mawar ya percuma. Cobalah untuk menanam sendiri. Kakak akan lebih puas bila melihat mawar hasil tanaman sendiri mekar bunganya," kata Yofin, saudariku yang kini sudah menjadi ibu dengan satu anak.
Saya merasa tertantang dan sekitar awal tahun 1995 saya mulai menanam satu dua anakan bunga mawar di pekarangan tempat kost di Sikumana-Kupang. Kebetulan "bapak kostku" Thobias Iku yang perwira polisi asal Wolojita-Ende itu juga pencinta tanaman, sehingga dia sangat senang melihat saya mulai menanam bunga.
Namun, di mata Yofin yang akhirnya bergelar sarjana pertanian itu, cara saya menanam sungguh tidak lazim karena asal "tikam" saja ke tanah Kupang yang berkarang hitam itu.
Jika Anda pernah ke Kota Kupang atau ke Pulau Timor umumnya, Anda tentu tahu bagaimana keadaan tanah di wilayah kering ini.Dia tertawa terbahak-bahak sambil berkata dengan yakin tidak mungkin mawar yang saya tanam itu akan tumbuh.
"Stek bunga mawar itu harus ditanam dulu dalam polybag. Kalau sudah berakar baru dipindahkan ke media pot yang lebih besar. Tanah pun harus yang subur dan diberi pupuk. Ingat, mawar termasuk jenis tanaman hias yang manja bahkan kadang agak rewel sehingga butuh ketelatenan dalam merawat," kata Yofin bernada menceramahiku.
Saya mengangguk-anggukkan kepala karena adikku memang berkompeten bicara tentang tanaman. Tetapi mana sempat bagi saya untuk menyiapkan hal-hal yang dikatakan Yofin itu?
Praktis sejak bergabung dengan SKH Pos Kupang 1 Desember 1992 (sejak awal berdirinya harian pertama di NTT ini), waktu saya sebagian besar habis untuk bekerja sebagai wartawan. Maka saya tidak terlalu peduli apakah mawar yang ditanam itu bertumbuh atau tidak.
Ternyata mawar yang saya tanam seadanya di celah-celah tanah karang Kupang tumbuh baik adanya dan berbunga pada waktunya. Tidak jauh berbeda dengan bunga mawar hasil tangan Yofin di dalam pot besar dengan tanah subur.
Yofin geleng-geleng kepala seolah tidak percaya. Saya sih biasa saja, berpikir mungkin kebetulan saja mawar itu jadi. Hehe....Tahun 1998, saya pindah ke Perumahan Lopo Indah Permai, Kelurahan Kolhua-Kupang. Jaraknya kira-kira 7 km dari tempat kost saya di Kelurahan Sikumana.
Pindah ke rumah yang saya kredit sejak tahun 1996 (belum habis kreditnya.. Hehe..) Rumah kecil alias RSS yang di kalangan kami karyawan Pos Kupang diplesetkan menjadi Rumah Sulit Selingkuh. Mau selingkuh bagaimana kalau rumahnya dempet-dempetan? Kita masak apapun pasti diketahui tetangga sebelah, apalagi main selingkuh!
Di rumah yang halamannya tidak seberapa luas itu saya melanjutkan kebiasaan tanam bunga mawar. Tidak banyak jumlahnya karena lahan sempit. Sekitar 4 sampai 5 pohon saja.
Seperti di Sikumana, saya asal potong dan tancap saja ke tanah gersang dan anehnya semuanya bertumbuh dan berbunga hingga suatu ketika Yofin berkata, "Kak Dion tangan dingin. Senang sekali bisa seperti itu karena saya kalau tanam mawar harus bersusah payah. Bahkan yang saya tanam tidak semuanya jadi."
Tahun 2004 lalu karena harus membangun bak penampung air sekaligus menjadi teras rumah, lahan rumahku makin sempit sehingga sebagian mawar yang sedang mekar harus menjadi korban. Kami warga Kupang mutlak membangun bak air karena sampai detik ini krisis kekurangan air belum teratasi dengan baik walaupun pemimpin kota sudah berganti-ganti.
Saya cuma sempat menyelamatkan 1 pohon mawar. Sekian bulan berjalan saya merasa ada yang hilang, sehingga saya mengembakbiakkan lagi menjadi tiga pohon di dalam pot. Semuanya tumbuh baik dan mekar mewangi. Prinsip saya adalah tidak boleh berhenti menanam mawar.
Di rumah mungilku harus selalu ada mawar.Belakangan ini istriku pun mulai suka bunga mawar. Dia menjadi orang kesekian yang awalnya tidak percaya kalau mawar yang saya tanam bakal jadi. Setelah dia mencoba sendiri beberapa kali dan gagal, dia mengakui bahwa saya punya "talenta" dalam menanam mawar. Sekarang dia hanya mendatangkan anakan, tetapi tak pernah mau tanam sendiri. Tugas menanam adalah urusan saya.
Dua tahun yang lalu seorang sahabat memberi komentar yang mula-mula saya anggap tidak serius. Begini pernyataannya, "Teman harus menyadari bahwa teman 'tangan dingin'. Menanam mawar, bunga harum mewangi yang dikagumi banyak orang itu menandakan apa yang teman kerjakan dengan niat baik akan selalu membawa hasil. Ini talentamu. Pergunakan dengan sebaik-baiknya."
Pernyataan yang biasa itu saya coba refleksikan dengan perjalanan hidup saya sampai hari ini. Tidak semuanya keliru atau salah! Hakikatnya kita semua memiliki talenta masing-masing karena Tuhan itu baik hati dan menciptakan kita untuk bersama-sama dengan Dia memberi kebaikan kepada dunia.
Cuma kita kerapkali tidak menyadari talenta yang ada dalam diri sendiri. Kita hanya gampang mengeluh dan pasrah pada keadaan. Galilah talentamu dan kembangkan!
Saya sebenarnya masih ingin bercerita tentang mawar. Tapi rasanya cukup dulu episode kali ini. Jika Anda berminat mengetahui lebih jauh tentang mawar salah satu sumbernya bisa diakses ke http://id.wikipedia.org/wiki/Mawar dan sumber lain yang tak terbatas jumlahnya. (dion db putra)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes