Fren, Tulus dan Gaul Minta Klarifikasi

KUPANG, PK--Tim kampanye tiga pasangan calon gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2008-2013, Frans Lebu Raya-Esthon Foenay (Fren), Gaspar Parang Ehok- Julius Bobo (Gaul) dan IA Medah-Paulus Moa (Tulus) memberikan sikap yang berbeda terkait berubahnya data pemilih terdaftar (DPT). Tulus menyatakan menerima, sedangkan Fren dan Gaul akan meminta klarifikasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT.

Demikian pernyataan perwakilan ketiga paket ini saat dihubungi Pos Kupang, Minggu (25/5/2008). Wakil Ketua I Tim Pemenangan Paket Tulus, Gustaf Jacob mengatakan, paket Tulus menerima keputusan KPU NTT tentang perubahan DPT sebagaimana disampaikan saat rapat koordinasi dengan tim kampanye, Rabu (21/5/2008).

Menurutnya, sehari setelah rapat koordinasi ini, paket Tulus langsung membahasnya. "Kami sudah bahas sehari setelah rapat dengan KPU NTT tentang jadwal kampanye dan penyampaian tentang perubahan itu. Pada prinsipnya kami menerima keputusan KPU NTT tersebut dengan catatan ini sudah final dan benar," ujarnya. Agak berbeda dengan Tulus, paket Fren dan Gaul menyatakan belum mengambil keputusan secara tegas karena masih harus meminta penjelasan KPU NTT.

Sekretaris Tim Pemenangan Fren, Piet Djami Rebo, melalui ponselnya mengatakan, pihaknya masih mengkaji beberapa isu terkait perubahan DPT. "Kami masih akan menanyakan ke KPU NTT beberapa hal yang dalam pandangan kami belum jelas," katanya.

Penjelasan serupa juga disampaikan Ketua Koalisi Abdi Flobamora yang mengusung paket Gaul, John Dekresano. Menurut Dekresano, tim kampanye Gaul belum membahas persoalan ini secara mendalam. Tetapi kalau ditemukan ada hal- hal yang mencurigakan, pihaknya akan meminta klarifikasi dari KPU NTT dalam waktu dekat.

Anggota KPU NTT, Hans Louk, saat jumpa pers di Sekretariat KPU NTT, Sabtu (24/5/2008), menjelaskan, pengurangan data pemilih seperti di Kabupaten Flores Timur lebih dari 7 ribu orang karena kesalahan teknis pengentrian data. Ia mencontohkan, ada kasus pendobelan nama atau nomor urut mengalami lompatan.

Tentang daerah yang mengalami penambahan jumlah pemilih, Hans Louk mengatakan, terdapat kesalahan penghitungan total pemilih di tingkat PPS. Menurutnya hal ini bisa dimaklumi karena perhitungannya masih manual.
Ditanya tentang persiapan ketiga paket ini sehubungan dengan pembukaan kampanye hari ini, Senin (26/5/2008), baik Gustaf, Djami Rebo maupun Dekresano menyatakan siap. Mengenai kemungkinan tidak digelarnya paripurana DPRD NTT tentang pemaparan visi misi calon, ketiganya kembali memberikan penjelasan yang berbeda.

Menurut Dekresano, paripurna DPRD mendengarkan visi misi calon memang diatur oleh aturan. Namun kalau pada hari yang dijadwalkan belum bisa terlaksana, ia mengusulkan untuk menyerahkan secara tertulis. "Substansinya ialah Dewan mengetahui visi misi calon. Kalau satu dan lain alasan sehingga paripurna belum digelar, saya kira alternatif lainnya adalah menyerahkan secara tertulis," ujarnya.

Bagi Gustaf, rapat paripurna DPRD NTT sesuatu yang harus dibuat karena perintah aturan. Namun kalau DPRD NTT belum mempunyai agenda tentang hal ini, ia menyarankan agar pemaparan visi misi itu disesuaikan dengan waktu yang ditetapkan Dewan nanti.

Sementara Djami Rebo enggan mengomentari hal ini karena mengaku tidak ikut membahas persoalan ini. "Saya baru dari luar daerah sehingga ada hal-hal seperti itu yang saya tidak ikuti," jawabnya singkat. (dar)

Pos Kupang edisi Senin, 26 Mei 2008 halaman 1

Tiga Paket Angkat Masalah Kemiskinan

KUPANG, PK -- Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013, yakni Paket Fren (Frans Lebu Raya-Esthon Foenay), Gaul (Gaspar P Ehok-Julius Bobo) dan Tulus (Ibrahim A Medah- Paulus Moa) sama-sama mengangkat masalah ketertinggalan daerah dan kemiskinan masyarakat NTT dalam rumusan visi, misi dan program mereka.

Hal ini terungkap saat ketiga paket tersebut memaparkan visi, misi dan program mereka dalam rapat paripurna DPRD NTT, Senin (26/5/2008) malam. Rapat paripurna dipimpin Ketua DPRD NTT, Drs. Mell Adoe. Lebu Raya mengatakan, penanggulangan kemiskinan merupakan agenda khusus Paket Fren.

Dia mengutip data UNDP, Bappeda dan BPS (2005) bahwa indeks pembangunan manusia NTT di urutan ke 24 dari 26 propinsi di Indonesia dengan skor HDI 60,4. Sementara jumlah penduduk miskin NTT pada tahun 2007 sebanyak 1.166.600 orang.

"Ini semakin mempertegas bahwa persoalan mendasar pada masyarakat NTT umumnya dan masyarakat desa khususnya adalah kemiskinan dengan sejumlah rentetan ikutannya. Sebagai salah satu propinsi dengan prosentase penduduk miskin yang masih tinggi diperlukan strategi khusus yang direalisasikan melalui program yang pro rakyat miskin," katanya Lebu Raya.

Agenda khusus lainnya adalah pembangunan daerah perbatasan, pembangunan daerah kepulauan, pembangunan daerah rawan bencana. Sedangkan agenda lainnya yang akan dilakukan yaitu pemantapan kualitas pendidikan, pembangunan kesehatan, pembangunan ekonomi, pembangunan infrastruktur, pembenahan sistem hukum daerah yang berkeidilan, konsolidasi tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, anak dan pemuda.

Gaspar Ehok dari Paket Gaul, mengatakan, persoalan ketertinggalan, kemiskinan, pengangguran, busung lapar dan KKN di NTT disebabkan pembangunan di NTT yang keluar dari arah dan kebijakan strategi.

"Selama dua tahun kami mendengar, melihat dan merasakan apa yang dialami masyarakat. Dan, kemiskinan melanda seluruh dimensi. Mengapa seperti ini? Karena ada persoalan dimana sistim dan kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat miskin. Kemiskinan hanya menjadi komoditas politik. Kebijakaan sektoral terpusat dan kebijakan menjadi urusan birokrasi. Selain itu kurangnya kemitraan serta masyarakat miskin diposisikan sebagai obyek. Masalah kemiskinan di semua daerah dipandang sama, padahal terjadi diversiasi. Di sisi lain, peran swasta masih pasif, masih menunggu proyek. Oleh karena itu perlu peran yang pasti dari swasta dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat," kata Gaspar.

IA Medah dari Paket Tulus, mengatakan, NTT merupakan daerah tertinggal jika menggunakan pendidikan, kesehatan, pendapatan perkapita sebagai indikator. "Dibutuhkan kualitas gubernur dan kekuatan birokrasi untuk memacu pertumbuhan di semua sektor dengan menggerakkan dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Dua hal yang dilakukan adalah mewujudkan birokrasi yang bersih dan mewujudkan masyarakat mandiri yang adil dan sejahtera," kata Medah.

Medah juga menegaskan bahwa salah satu target jika ia dan Paulus Moa terpilih memimpin NTT, adalah menambah daerah pemekaran, diantaranya menjadikan Flores sebagai propinsi.

Pemaparan visi dan misi ini dihadiri Wakil Ketua DPRD NTT, Drs. Kristo Blasin dan Hendrik Markus, Sekda NTT, Jamin Habid yang mewakili Gubernur NTT, anggota Dewan dan jajaran Muspida NTT. Ketua Panwas Pilgub, Drs. Djidon de Haan juga hadir. Ketua dan anggota KPU NTT tidak terlihat. Massa pendukung ketiga paket ikut menyaksikan dari luar ruangan sidang Dewan.

Rapat paripurna ini digelar setelah DPRD NTT mendapat SK Mendagri No. 121.53-357 Tahun 2008 tanggal 24 Mei 2008, tentang Penundaan Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. SK ini menyatakan bahwa hari pencoblosan Pilgub NTT yang dijadwalkan tanggal 2 Juni 2008 diundur ke tanggal 14 Juni 2008.

Kemarin pagi, Ketua KPU NTT, Robinson Ratukore menandai dimulainya masa kampanye Pilgub NTT ditandai pengibaran bendera Parpol pengurung tiga paket di halaman Sekretariat KPU NTT. Selanjutnya diikuti dengan pembacaan dan penandatangan ikrar kampanye damai oleh tiga pasangan calon. (aca)

Pos Kupang edisi Selasa, 27 Mei 2008 halaman 1

Tulus-Gaul Protes Kehadiran Megawati di Waingapu

WAINGAPU, PK -- Tim sukses Paket Tulus (Ibrahim A Medah-Paulus Moa) dan Paket Gaul (Gaspar P Ehok-Julius Bobo) di Kabupaten Sumba Timur memprotes kehadiran Ketua Umum DPIP, Megawati Soekarnoputri di Waingapu untuk acara temu kader, Kamis (29/5/2008). Sebab, hari itu merupakan jadwal kampanye Paket Tulus di Sumba Timur.

Protes tim sukses Paket Tulus dan Gaul disampaikan dalam rapat pengamanan Pilgub NTT di Sekretariat KPUD Sumba Timur, Selasa (27/5/2008). Rapat dipimpin Ketua KPUD Sumba Timur, Siliwoloe Ndjoeroemana, dihadiri Kapolres Sumba Timur, AKBP Drs. Arief Yuliman Susetyana.

Ketua Tim Sukses Paket Tulus di Sumba Timur, Robert Riwu mengatakan, apapun alasannya kehadiran Megawati tidak dapat diterima. Robert menilai, alasan pengurus DPC PDIP Sumba Timur yang mengatakan bahwa kehadiran Megawati bukan kampanye tapi untuk temu kader hanyalah kamuflase.

"Kalau mau datang mengapa tidak pada saat jadwal kampanye paket Fren (Frans Lebu Raya - Esthon Foenay) karena setiap paket sudah punya jadwal masing-masing dan waktunya ditentukan empat hari. Kalau memang hanya kunjungan biasa mengapa tidak tahun lalu atau sebelum ini. Jangan ganggu waktu kampanyenya Paket Tulus," kata Robert.

Menurutnya, akan sulit bagi masyarakat untuk membedakan apakah acara temu kader Megawati itu kampanye atau bukan karena perbedaannya sangat tipis. "Arak-arakan massa dari bandara sampai ke tempat acara saja sudah kategori kampanye," tambah Robert.
Tim sukses Gaul mengatakan, jika dalam pertemuan dengan kader nanti Megawati mengeluarkan kata-kata yang berbau kampanye, pihaknya akan menghentikan acara tersebut.

Kunjungan Megawati ke Sumba Timur juga dipersoalkan Ketua Panwas Pilgub NTT Tingkat Kabupaten Sumba Timur, Pendeta Muhu. Dia mengaku menerima surat pemberitahuan dari DPC PDIP Sumba Timur bahwa pada tanggal 29 Mei 2008 Megawati akan melakukan tatap muka dan temu kader di Waingapu. Muhu mengatakan, Panwas dilematis karena redaksi surat itu hanya berupa pemberitahuan. Padahal, lanjutnya, Megawati datang bertemu kader yang dalam SK KPU NTT tatap muka dan temu kader masuk dalam kategori kampanye.

"Kami bingung. Kalau memang Ibu Megawati datang untuk kampanye berarti surat ke Panwas tidak bisa hanya sekedar pemberitahuan," katanya.

Ketua KPUD Sumba Timur, Siliwoloe Ndjoeroemana mengatakan, KPUD belum mengetahui kalau Megawati akan berkampanye di Sumba Timur. Jika itu benar, kata Siliwoloe, harus ada pemberitahuan ke KPUD karena setiap orang dari luar yang datang kampanye ke Sumba Timur harus sepengetahuan KPUD setempat.

Kapolres Sumba Timur, AKBP Drs. Arief Yuliman Susetyana mengatakan, tugas pengamanan sudah menjadi kewajiban polisi, apalagi Megawati adalah mantan Presiden RI. Arief mengatakan pengamanan terhadap Megawati bukan sebagai Ketua PDIP tetapi sebagai seorang mantan kepala negara.

Menanggapi keberatan dari tim sukses Tulus dan Gaul, Yohanes Wuluwanja dari Tim sukses Paket Fren, menjelaskan, Megawati hanya singgah di Sumba Timur setelah melakukan perjalanan dari Kupang. "Kebetulan singgah di Sumba Timur, jadi beliau minta tatap muka dan ketemu kader PDIP di sini. Sebab dalam Pilpres yang lalu pendukung Ibu Megawati di Sumba Timur cukup banyak," kata Yohanes.

Dia menegaskan, pihaknya tidak bisa melarang Megawati berkunjung dan bertemu kader di Sumba Timur karena acara itu sudah dirancang jauh hari sebelum jadwal kampanye Pilgub NTT dikeluarkan KPUD NTT. (dea)

Pos Kupang edisi Rabu, 28 Mei 2008 halaman 8

Tulus Merasa Difitnah

LEWOLEBA, PK -- Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013, Ibrahim Agustinus Medah dan Paulus Moa (Paket Tulus) merasa difitnah oleh lawan-lawan politiknya dengan menghembuskan isu- isu negatif.

"Mereka ketakutan dengan Paket Tulus, sebab itu dicari jalan menjatuhkan kami dengan fitnah. Oleh karena itu, jangan cari pemimpin yang merusak lawan dengan fitnah. Belum jadi pemimpin saja sudah memfintah, apalagi kalau sudah jadi, kerjanya hanya fitnah," tandas Medah di hadapan pendukung dan simpatisan Paket Tulus yang memadati kampanye Paket Tulus di lokasi eks Pasar Inpres Lewoleba, Selasa (27/5/2008).

Medah menyebutkan bahwa dirinya difitnah membangun komitmen dengan umat beragama tertentu. Dia juga mengaku telah difitnah dengan cara menyebarkan isu bahwa dirinya menyiapkan lahan untuk membangun 10.000 unit rumah untuk orang beragama tertentu.

"Itu semua fitnah. Isu-isu itu sengaja dilontarkan lawan politik untuk menjatuhkan dan menghambat popularitas dan nama baik Paket Tulus," tegasnya. Menurut Medah, isu-isu negatip itu dihembuskan oleh lawan politiknya yang takut kalau Paket Tulus menang dalam Pilgub.

Duet Tulus dan rombongannya tiba di Lewoleba pukul 13.00 Wita dengan speed boad dari Larantuka. Usai kampanye di Lewoleba, Tulus menggelar kampanye di Pulau Adonara, Selasa siang. Pagi ini, Medah-Moa tampil di Larantuka sebelum melanjutkan perjalanan ke Sikka.
Kampanye perdana di Lewoleba, kemarin, menampilkan juga fungsionaris Golkar, Drs. Andres Duli Manuk (Bupati Lembata) dan Drs. Herman Wutun, (jurkam pusat).

Tawarkan Tiga Program
Medah mengatakan, jika dia bersama Moa terpilih memimpin NTT, maka ada tiga program utama yang dikerjakan selama lima tahun kepemimpinan. Ketiga program itu adalah sektor pendidikan dengan menggratiskan pendidikan SD-SLTA, peningkatan kesehatan masyarakat dengan program kesehatan gratis dan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian masyarakat.

Medah juga menegaskan bahwa rencana pembentukan Propinsi Flores telah dibelokkan dan disesatkan dengan isu pengusiran orang Flores dari Kupang. Padahal gagasan memekarkan wilayah kabupaten dan propinsi merupakan apsirasi murni yang tumbuh dari rakyat yang menghendaki porsi pembangunan bisa lebih cepat dirasakan.

Paulus Moa menegaskan, aspirasi Flores menjadi propinsi telah tumbuh sejak tahun 1958 ketika Komisi Nasrun tiba di Ende. Namun aspirasi itu dicekal dan dikebiri sekelompok orang tertentu yang tidak menghendaki wilayah Flores bisa tumbuh lebih cepat.

"Kami akan realisasikan, kalau kami terpilih. Rakyat Pulau Flores dan Lembata sudah lama menghendaki propinsi sendiri. Supaya pelayanan kemasyarakatan, pemerintahan dan pembangunan bisa lebih cepat dinikmati," tandas Moa, mantan Bupati Sikka ini.

Jurkam Andreas Duli Manuk menegaskan, visi dan misi Paket Tulus sangat sederhana melalui program pendidikan dan kesehatan gratis, ekonomi kerakyatan terbukti mampu dilakukan ketika Medah menjabat Bupati Kupang dan Moa menjabat Bupati Sikka. Dasar pendidikan, pengalaman pemerintahan yang dibangun dari tingkat bawah, kompetensi dan komitmen keduanya sudah teruji.

Manuk mengaku heran, lawan politik memfitnah Paulus Moa dengan isu bahwa Moa tidak tamat APDN, meski mereka seangkatan di bangku kuliah hingga tamat. Manuk optimis Paket Tulus akan menang di Lembata karena Lembata punya pengalaman dan modal memenangkan paket Golkar pada Pilkada 2006.

Herman Wutun memuji program rasional dan strategis yang dirancang Medah-Moa. Peningkatan produktivitas ekonomi kerakyatan yang difokuskan pada sektor pertanian. Program ini sejalan dengan krisis pangan dan bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi masalah global saat ini. Pengalaman dan komitmen memajukan produktivitas pertanian, katanya, akan mampu menolong petani keluar dari masalah kemiskinnan dan pendapatan rendah. (ius)

Pos Kupang edisi Rabu, 28 Mei 2008 halaman 1

Atoin Meto Jangan Jadi Penonton

SOE, PK -- Calon Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay mengingatkan masyarakat yang tinggal di Pulau Timor agar jangan menjadi penonton dalam Pilgub NTT. Sudah saatnya pribumi Timor (atoin meto) menduduki salah satu pucuk pimpinan di NTT.

"Banggalah saudara-saudara semua. Selama 50 tahun NTT belum pernah ada orang Timor yang jadi gubernur, wakil gubernur atau sekda. Dari tiga paket yang muncul dalam pertarungan Pilkada NTT 2008, hanya paket Fren saja yang mengusung orang Timor menjadi calon Wakil Gubernur NTT," kata Esthon Foenay ketika tampil berkampanye di Lapangan Puspenmas SoE, Rabu (28/5/2008).

Esthon yang saat naik ke panggung mengenakan baju adat Timor berulang kali mengatakan, sudah saatnya atoin meto menduduki salah satu jabatan pucuk pimpinan NTT. "Jangan sampai orang Timor menjadi penonton di daerah sendiri," katanya.

Esthon tampil di panggung kampanye di TTS tanpa Frans Lebu Raya. Esthon didampingi juru kampanye (Jurkam) Paket Fren, diantaranya, Drs. Pieter R Lobo, M.Si, Drs. Godlief Tobe dan Ny. Amelia Nomleni.
Esthon mengatakan, sebanyak 56 persen pemilih di NTT adalah atoin meto. Untuk itu, tidak ada kata lain dalam Pilgub NTT bagi masyarakat Timor selain mendukung atoin meto utuk memimpin NTT.

"Saat Frans Lebu Raya meminta saya untuk mendampinginya dalam pertarungan Pilkada sebagai calon wakil gubernur, saya optimis sudah saatnya salah satu putra Timor menjadi salah satu pucuk pimpinan NTT. Kalau tidak sekarang kapan lagi saudara-saudara," ujar Esthon disambut tepuk tangan pendukungnya Fren.

Rabu kemarin, Frans Lebu Raya berkampanye di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada dua tempat yaitu di Desa Mansena, Kecamatan Insana Barat dan di Kiupukan, Kecamatan Insana.
Kepada masyarakat TTU, Lebu Raya juga meminta mendukung atoin meto memimpin NTT.

"Pak Esthon merupakan orang Timor satu-satunya yang masuk dalam Pilkada. Pak Esthon juga orang TTU sehingga sangat pantas kalau masyarakat TTU memilih pasangan Fren untuk memimpin NTT lima tahun ke depan. Kemenangan di TTU harus kita awali dari Insana, wilayah paling Timur di TTU. Untuk itu saya mengajak semua warga TTU, petani, pedagang, nelayan, peternak, guru, keluarga polisi/TNI, olahragawan, tokoh masyarakat, tokoh adat, untuk jangan lupa tanggal 14 Juni 2008 nanti jatuhkan pilihan pada gambar paling kiri Nomor I tulisan Fren. Lihat muka saya baik-baik sehingga pada harinya nanti tidak salah tusuk," ujar Lebu Raya.

Dia mengatakan, Fren tidak menyampaikan program yang muluk-muluk. Program yang ditawarkan sesuai dengan realitas masyarakat. "Fren tidak sedang mengobral janji. Kalau ada yang datang bilang mau sekolah gratis, itu tidak akan mungkin. Saya sangat paham tentang bagaimana pengelolaan APBD. PAD NTT sangat terbatas dan kalau mau diarahkan hanya ke sekolah gratis, lalu bagaimana dengan program-program lainnya. Fren memberikan program yang riil," katanya.

Mengakhiri kampanyenya, Lebu Raya memohon maaf karena Fren tidak bisa menemui semua warga dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung. "Pesan saya, sebutkan selalu Fren, Nomor I pada setiap kesempatan, baik itu di sekolah, pasar, kendaraan, di tempat kedukaan, dan dimana saja. Dan pastikan bahwa Fren menjadi pemenang dalam Pilkada," ujarnya.

Suasana kampanye Lebu Raya terasa hidup karena dipandu master ceremony (MC) kondang yang adalah Putra Rote Ndao, Bastian Dethan. Bastian memberi guyonan segar dan joke-joke ringan sehingga pendukung dan simpatisan Fren tertawa terbahak-bahak. (aly/yon)

Pos Kupang edisi Kamis, 29 Juni 2008.

NTT Butuh Pemimpin Tegas dan Jujur

KUPANG, PK--Berkarakter tegas, jujur, bersih dari KKN, tak punya catatan hitam, Drs. Gaspar P Ehok merupakan figur yang tepat untuk menakhodai NTT selama lima tahun ke depan. Selain itu, dengan mengusung program kerja utama menata ekonomi menuju NTT MAS (Makmur, Adil dan Sejahtera) dan merombak birokrasi untuk mengembalikan fungsi PNS sebagai pelayan masyarakat, figur Gaspar Ehok diterima masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Juru Kampanye (Jurkam), Drs. Daniel Hurek, ketika berorasi di Arena Pameran Kerajinan Rakyat Fatululi, Kota Kupang, Sabtu (31/5/2008). Daniel Hurek menggarisbawahi pilihan PKB NTT terhadap Paket Gaul karena dinilai mampu mengatasi 'penyakit' yang menggerogoti NTT saat ini, antara lain kemiskinan, gizi buruk, korupsi, pengangguran, ketertinggalan dan sebagainya.

Alasan utama bagi PKB mengsung Gaul, katanya, karena figur Gaspar Ehok dan Julius Bobo tidak tercela dan sudah tahu bagaimana memanage NTT lima tahun ke depan.

"Saya tak pernah dengar Pak Gaspar berurusan dengan polisi karena mencuri uang rakyat. Saya tak pernah mendengar Pak Gaspar membawa uang rakyat dari kantor ke rumah untuk kepentingan pribadinya. Bahkan disebut-sebut terlibat KKN saja tak pernah. Singkatnya, Pak Gaspar dan Pak Julius tak pernah memiliki catatan buruk. Pemimpin seperti ini yang dibutuhkan rakyat NTT saat ini," tegas Hurek.

Daniel Hurek juga mengingatkan pendukung dan simpatisan Paket Gaul agar mengawal proses Pilgub NTT terutama pada masa rawan usai pencoblosan, 14 Juni 2008. "Jangan hanya pergi coblos Paket Gaul tetapi kawal hasilnya mulai dari penghitungan suara di TPS sampai di kelurahan/desa/kecamatan/kabupaten," katanya.

Bukan pilih atlet tinju
Jurkam lainnya, Ketua Koalisi Abdi Flobamora, Drs. John R Dekresano, MA, menanggapi pelbagai penilaian miring terhadap Paket Gaul sebagai kandidat tua.
"Kalau ada calon yang muda, itu hanya umurnya saja. Untuk apa pilih yang muda kalau tidak berprestasi. Untuk apa pilih yang muda kalau tidak kredibel. Untuk apa pilih yang muda kalau tidak tegas. Gaul sudah berpengalaman memimpin dan rakyat NTT sudah menikmati hasil dari kepemimpinannya selama menjadi birokrat," tegas Dekresano.

Jurkam lainnya, Elias Ludji Pau mengatakan, "Pilgub NTT bukan untuk pilih atlet tinju. Kalau untuk atlet tinju, kita pilih yang muda. Pilgub NTT ini untuk memilih pemimpin yang bisa menakhodai NTT ke arah yang lebih baik. Jadi, pilih pemimpin yang tahu memanage NTT. Dan, kriteria ini ada pada Paket Gaul karena sudah berpengalaman."

Gaspar Ehok, diakui Ludji Pau, adalah sosok pemimpin yang tegas, cerdas, mengambil keputusan yang tepat pada setiap momen. Tak pernah berurusan dengan pihak berwajib karena KKN. "Pada saat menjabat Kadispenda NTT, Gaspar Ehok mengembalikan sebuah mobil dinas mewah kepada Gubernur NTT meski mobil itu didapat karena prestasinya memimpin Dispenda NTT. Ini contoh pemimpin yang jujur.

Mengembalikan apa yang bukan haknya. Dan, sosok Gaspar Ehok ini sangat cocok untuk pimpin NTT lima tahun ke depan. Kini, di NTT banyak maling, dan ini yang Gaul bersihkan nanti," ujar Ludji Pau.

Menyoal minimnya baliho yang dipasang sebagai sarana sosialisasi diri Paket Gaul pada masa kampanye ini, Ludji Pau mengatakan, itu bukan ukuran. "Baliho Paket Gaul adalah hati dan itu sudah dipasang di sanubari masyarakat NTT," ujarnya.

Atoin Meto
Jurkam Stanis Tefa, S.H, menyayangkan orang yang mengklaim dirinya Atoin Meto baru pada masa Pilgub NTT ini. "Pada saat atoin meto yang lain menderita, didera banyak masalah, tak ada yang memperhatikan dan mengaku atoin meto. Kini, baru pada saat Pilgub NTT, ada yang turun ke desa menyebut diri atoin meto. Rakyat NTT sudah pintar dan sudah tahu siapa pemimpin yang dipilihnya," tegas Stanis.

Kampanye paket Gaul ini dimeriahkan artis nasional, Margareth Mama Mia, Mama Saida dan Mama Dian dari Gaul Center Jakarta. Margareth tampil memukau dengan beberapa lagunya. Ia juga meriakkan yel-yel GAUL (Gubernur Anda Untuk Lima tahun) dan PILGUB (Pilih Gaspar dan Yulius Bobo). Margareth meminta simpatisan yang hadir mendukung dan memilih paket Gaul pada saat pencoblosan, 14 Juni 2008.

Selama kampanye, pimpinan lima partai pengusung paket Gaul, Melky Ndarang (PNBK), Daniel Hurek (PKB), John Dekresano (PPDI), Stanis Tefa (Partai Pelopor), dan Piet Etidena (PKPI), juga tak henti-hentinya membakar emosi para pendukung untuk memilih paket Gaul pada 14 Juni 2008. Selain mereka, tim sukses dari Gaul Center seperti dr. Herman Man ikut membakar emosi warga untuk memenangkan paket Gaul. "Pada saat berada di bilik suara 14 Juni 2008 nanti, buka kertas suara baik-baik. Beri senyumanmu kepada yang nomor satu. Minta permisi baik-baik sebelum menatap gambar calon nomor dua (Gaul). Di nomor dua ini tataplah calon pilihan Anda itu dan coblos (lubangi) mulutnya dengan paku. Sebab, dari mulut itu nanti akan keluar kebijakan-kebijakan untuk membawa Flobamorata ini menuju NTT MAS. Sesudah mencoblos gambar nomor dua, sapalah tetangga Gaul yang berada di nomor tiga dan katakanlah padanya, "Maaf, kami sudah punya pilihan," pesan Melky Ndarang, jurkam PNBK dan Gaul Center.

Sementara jurkamnas sebagaimana disampaikan Herman Man kepada Pos Kupang di Gaul Center, Jumat (30/5/2008) seperti Zannuba AC Wahid, MPA (Yeni Wahid), Eros Djarot, Meutia Hatta Swasono, H Mentik Budiwiyono, Drs. Muhyidin Arubusman, Yoseph Willem Lea Wea, Eko Suryo Santjojo, S.H, BI, Ir. Ristiyanto, Sulfan Linda, Semuel Samson dan Alberth Banunaek tidak terlihat pada kampanye ini. Para jurkamnas ini akan tampil pada kampanye penutupan paket Gaul di Waikabubak, Sumba Barat, Sabtu (7/6/2008), bersama artis Margareth Mama Mia dari Gaul Center-Jakarta.

Mulai Sabtu (31/5/2008), paket Gaul berkampanye pada zona satu dimulai dari Kota Kupang menyusul Belu (Atambua, Betun), TTU (Kefamenanu, Eban), SoE, Kabupaten Kupang (Takari, Oesao), Alor (Kalabahi, Alor Kecil) dan Rote Ndao. Kampanye pada zona satu ini berlangsung hingga Rabu (4/6/2008). (dar/eni)

Pos Kupang edisi Senin, 2 Juni 2008

Belum Sepenuhnya Siap

DARI sisi penyelenggaraan, pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) NTT periode 2008-2013 belum sepenuhnya siap. Hari H pencoblosan tinggal sembilan hari lagi, namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Sebagai misal, empat kabupaten sampai saat ini belum memiliki panitia pengawas (Panwas) Pilgub NTT. Empat kabupaten itu, yakni Rote Ndao, Belu, Ende dan Kabupaten Flores Timur. Demikian keterangan resmi dari Ketua Panwas Pilgub NTT, Drs. Djidon de Haan dua hari lalu. Djidon mengatakan, meskipun tanpa Panwas, penyelenggaraan tahapan Pilgub tetap dianggap sah. Karena yang melakukan pengawasan bukan oleh Panwas saja tetapi melibatkan masyarakat dan pemantau.


Konteksnya bukan semata sah atau tidaknya pelaksanaan dan hasil Pilgub NTT. Panwas mutlak ada sebagaimana digariskan dalam UU dan ketentuan lainnya yang berkaitan dengan Pilgub. Secara institusional, Panwas hendaknya ada di semua daerah agar fungsi pengawasan berjalan simultan di seluruh wilayah Flobamora. Kita berharap dalam waktu yang tersisa, Panwas di empat kabupaten tersebut segera dilantik dan mulai melaksanakan tugas mereka. Sesungguhnya sudah sangat terlambat kehadirannya karena Panwas semestinya mengawal seluruh tahapan Pilgub sejak titik nol, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Keterlambatan membentuk Panwas Pilgub NTT di berbagai daerah merupakan pelajaran berharga. Cermin bahwa kita tidak cukup siap menghadapi pesta demokrasi untuk memilih pemimpin formal propinsi ini. Kita kalah dibandingkan saudara-saudara kita di propinsi lain yang rapi dan disiplin dalam hal penyelenggaraan Pilgub.

Dengan kondisi lembaga Panwas demikian, kita menggugah masyarakat untuk sungguh- sungguh menjadi saksi, ikut mengawasi seluruh proses Pilgub terutama pada hari H pencoblosan tanggal 14 Juni 2008 dan penghitungan suara. Kita juga mendorong ketiga pasangan calon untuk menyiapkan saksi di setiap TPS. Tentu saja tim pemantau independen dituntut bekerja lebih keras agar pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT 2008-2013 jauh dari intimidasi, teror, kecurangan dan manipulasi.
Masalah lain yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah logistik. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Propinsi NTT menjamin logistik berupa kartu pemilih, surat suara dan formulir C akan tiba atau diterima KPU Kabupaten/Kota se-NTT pada hari ini tanggal 5 Juni 2008.

Mudah-mudahan jaminan KPU tersebut benar adanya karena di Kota Kupang saja, kartu pemilih belum sampai ke tangan masyarakat yang berhak memilih.

Jika di Ibu kota propinsi pun masih memendam soal, kita dapat membayangkan distribusi logistik Pilgub di sejumlah kabupaten dengan kendala transportasi yang berat, khususnya wilayah kepulauan dan pedesaan yang terisolir. Misalnya Kabupaten Alor, Kupang, Manggarai, Manggarai Barat, Sumba dan lainnya. Dengan waktu efektif tidak lebih dari semingu, patut disampaikan kemungkinan logistik terlambat tiba di tangan pemilih dan penyelenggara di level terdepan, TPS.

Kita harapkan KPU Propinsi NTT bersama mitra pelaksana pengadaan logistik untuk bekerja sungguh-sungguh. KPU harus memastikan dan menunjuk bukti bahwa logistik Pilgub siap di seluruh wilayah minimal dua hari sebelum 14 Juni 2008.

Dan, satu perkara yang tidak kalah penting menyangkut akurasi data pemilih. Perubahan data pemilih beberapa kali bukan mustahil akan menjadi sumber konflik pada saat pencoblosan serta penghitungan suara. Mudah-mudahan KPU Propinsi NTT sudah mengantisipasi kemungkinan itu dan menyiapkan solusi sesuai rambu- rambu ketentuan yang berlaku agar tidak merugikan ketiga pasangan calon dan masyarakat pemilih. **
Salam Pos Kupang edisi Kamis, 5 Juni 2008, halaman 14.

Pisang Beranga

BUDI daya pisang beranga Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur yang telah dilakukan di kawasan percontohan di dua desa pada tahun 2007 akan diperluas lagi di 29 desa pesisir yang tersebar di sembilan kecamatan.

Di pertengahan tahun 2007 itu telah dilakukan budi daya di dua tempat - masing-masing di lahan seluas 10 hektar (ha), yaitu Desa Wolokota, Kecamatan Ndona dan Desa Ndito, Kecamatan Detusoko.

Dari daerah percontoha n itu tahun ini sudah berpr oduksi, dan hasilnya baik. Selanjutnya lah an budi daya pisang beranga akan diperluas lagi di 29 desa pesisir. Sebab kondisi di desa pesisir memiliki potensi, salah satunya banyak terdapat lahan tegalan, kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Subdin Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Ende Fransiskus Xaverius Ndoki, Selasa (3/6/2008), di Ende.

Kesembilan kecamatan untuk perluasan lahan budi daya dimaksud adalah Ndona, Ndori, Lio Timur, Kotabaru, Wewaria, Maurole, Maukar o, Nangapanda, dan Ende. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ende tahun 2002, produksi pisang mencapai 59.792 ton, termasuk di dalamnya pisang beranga.

Pisang Beranga Kelimutu asal Ende merupakan varietas unggulan nasional, dan d i wilayah NTT pisang jenis ini diminati masyarakat setempat, karena buahnya memiliki keunggulan spesifik antara lain rasa manis yang khas tidak asam, dan aromanya wangi ketika dimakan.

Menurut Xaverius, hasil budi daya di Desa Wolokota yang meru pakan daerah dataran rendah, satu tandan rata-rata memiliki 7-13 sisir. Tiap sisirnya terdiri antara 9-17 buah. Sementara di Ndito yang merupakan daerah dataran sedang, jumlah buah untuk tiap sisir relatif lebih sedikit, yakni 7-13 buah.

"Produksi pisang beranga Kelimutu masih sangat terbatas, sehingga belum mampu untuk diekspor. Fokus budi daya lebih diarahkan untuk mendukung agrowisata, " ujar Xaverius. (SEM)

Link http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/03/22020718/lahan.budi.daya.pisang.beranga.kelimutu.di.ende.diperluas

I Love U Mom...

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu. Sebagai balasannya.. . kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan. Sebagai balasannya.. . kamu kabur waktu dia memanggilmu.

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang. Sebagai balasannya.. . kamu buang piring berisi makananmu ke lantai.

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna. Sebagai balasannya.. . kamu corat coret tembok rumah dan meja makan.

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah.. Sebagai balasannya.. . kamu memakainya bermain di kubangan lumpur.

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah... Sebagai
balasannya.. . kamu berteriak "NGGAK MAU..!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola. Sebagai balasannya.kamu melemparkan bola ke jendela tetangga.

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim... Sebagai dalasann ya..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu. Sebagai balasannya.. . kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar.

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun. Sebagai balasannya.. . kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop. Sebagai balasannya.. . kamu minta dia duduk di barisan lain.

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa. Sebagai balasannya.. . kamu tunggu sampai dia keluar rumah.

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya. Sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan. Sebagai balasannya.. . kamu nggak pernah menelponnya.

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu... Sebagai balasannya.. . kamu kunci pintu kamarmu.

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil. Sebagai balasannya.. . kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya.

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting. Sebagai balasannya.. kamu pakai telpon nonstop semalaman.

Waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. Sebagai balasannya.. . kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi.

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertana. Sebagai balasannya.. . kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. Sebagai balasannya.. . kamu menjawab "Ah, cerewe t amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu. Sebagai balasannya.. . kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi... Sebagai balasanmu... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri.

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu. Sebagai balasannya.. . kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan. Sebagai balasannya.. . kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu. .. Sebagai balasannya.. . kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya.. . kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu. Sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya.. . kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya.

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan,... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam.

MAKA...
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA...BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI. JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU
.


Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang
bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar.

Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar".

Jika Anda menyayangi ibumu, teruskan pesan ini kepada sahabat-sahabatmu.

Indikatornya
1 orang :Kamu tidak sayang ibumu
2-4 orang :Kamu sayang ibumu
5-9 orang :Bagus! Ternyata Kamu Sayang juga Kepada Ibumu
10/lebih : Waahhhh....Kamu akan disayangi Ibumu dan juga semua orang...

KAMU SAYANG IBUMU????

Jangan oh Jangan

BILA jeli membaca berita atau iklan media massa cetak, mendengar radio atau menonton televisi hari-hari ini, tuan dan puan tentu menemukan kata yang paling banyak dipakai. JANGAN. Diksi ini sedang menjadi primadona. Doyan dipilih mereka yang sedang "ada maunya" dengan rakyat. Sedang berusaha membuatmu jatuh cinta. Siapa lagi kalau bukan Anda dan beta?

Jangan pilih yang tua. Pilihlah orang muda yang energik dan visioner. Jangan pilih yang belum berpengalaman. Pilihlah yang pernah menjadi kepala wilayah satu atau dua periode. Kami jago mengelola birokrasi. Hebat, andal dan telah teruji mengurus pemerintahan dan pembangunan. Jangan pilih koruptor. Pilihlah calon pemimpin yang bermoral seperti saya. Jangan percaya isu yang menjelek-jelekkan kami. Isu itu tidak benar. Tuhan tahu apa yang kami kerjakan. Inilah sepuluh alasan jangan memilih si A. Dan baca ini baik-baik: Seratus alasan mengapa memilih beta!

Begitulah sejumlah "jangan" yang tersiar di mana-mana dan ke mana-mana via beragam cara. Dari sekadar bisik-bisik, omong-omong di warung dan terminal sampai via brosur, pamflet, kertas koran, majalah hingga siaran radio dan televisi. Sepekan terakhir kata-kata itu amat kencang menggelegar dari panggung kampanye, baik di lapangan terbuka maupun di dalam ruangan terbatas. Setiap kali bertutur "jangan pilih dia", tepuk tangan membahana. Juga suit-suitan dan yel.

Eh, jangan salah kira. Kita hidup di zaman "bisa diatur". Tepuk tangan dan yel bisa diatur-diatur. Diskenariokan sedemikian rupa agar melahirkan suasana marak- meriah dan menggairahkan sepanjang show. Mobilisasi massa yang jujur cuma di zaman Orde Baru. Sekarang mobilisasi diam-diam saja dan tak ada yang mau mengaku.Cemas dianggap buruk. Khawatir dicap kurang percaya diri. Padahal banyak orang tahu spontanitas itu langka untuk pesta-pora pemilihan umum.

Hiruk-pikuk di beranda rumah besar Flobamora sungguh menarik perhatian kita. Hiruk-pikuk berlabel Pemilihan Umum Gubernur-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2008-2013 yang puncaknya jatuh pada 14 Juni 2008. Masih sembilan hari lagi masa kampanye. Kampanye dalam rupa-rupa wujud. Jual diri alias sosialisasi dengan beragam pola. Sayang seribu sayang. Yang berubah hanya soal cara. Cuma beda kemasan. Isi pesan tak beranjak jauh dari masa lalu. Masih menjual kecap nomor satu. Datar saja. Normatif cuma. Selalu yang baik mereka tampilkan. Cuma yang hebat-hebat, gagah-perkasa yang mereka perlihatkan.
Bandul demokrasi di rumah kita bergerak di tempat. Masih seperti kemarin.


Demikianlah politik. Dimengerti dan dimaklumi banyak orang. Maka dalam sisa masa kampanye, jangan sekali-kali merindukan calon yang berani berkata, kekuatan kami adalah ini dan itu. Tapi kami punya sederet kelemahan. Banyak kelemahan. Kami pernah gagal menangani masalah, misalnya membuat jalan mulus ke pelosok kampung. Cuma mulus ke kampung sendiri. Kami pernah kelewat sibuk mengurus diri sampai lupa rakyat yang memilih kami. Kami kurang berani memikul resiko, mengambil keputusan yang tidak populer. Gampang menyerah dan banyak janji kami yang belum ditepati saat berkuasa. Namun, kami belajar dari kelemahan dan kekurangan itu. Cara kami mengatasinya adalah begini.

Percayalah, tak mungkin ada kampanye semacam itu karena akan dicap bukan politisi sejati. Buta hukum kampanye pemilu yang hanya mengenal kehebatan, keperkasaan, kepiawaian dan kedigdayaan. Kampanye itu ajang menjual kebaikan semata. Ente bakal dianggap politisi kurang cerdas kalau mengakui kelemahan. Salah kaprah itu sudah warisan dan kita masih memeliharanya dengan riang gembira. Bangga. Elite kita berpandangan politik bukan sakramen!

Usai masa kampanye, kita akan masuk masa tenang. Tenang dalam kata di bibir karena sejatinya hati tetap deg-degan. Malam tidur tak lelap, pikiran membebani pagi dan siang. Tentu bagi mereka yang berkepentingan dengan Pilgub-Pilwagub. Berkepentingan dengan hasil coblos 14 Juni 2008.

Pada akhirnya, urusan kita sebagai rakyat cuma soal paku sepotong. Paku untuk menusuk foto pasangan pria berjas-berdasi. Di rumah induk dengan populasi perempuan terbanyak ini --- yang cantik dan anggun belum dilirik. Disepelekan dengan beragam argumentasi. Keterlaluan memang! Tapi Anda pun tak tahu sampai kapan diskriminasi itu berakhir meski masih tersisa 10 pilkada lagi.

Tikamlah paku dengan hatimu. Jangan...oh jangan percaya bisikan siapa-siapa. Percayalah dirimu sendiri. Yang terpilih belum tentu terbaik. Yang terbaik belum pasti memuaskan dahaga marhaenmu. Demokrasi hanyalah salah satu cara yang baik di antara banyak jalan memilih pemimpin. (email:dionbata@poskupang.co.id)

Beranda Kita Pos Kupang edisi Senin, 2 Juni 2008, halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes