Dua Nelayan Lerek Tenggelam

LEWOLEBA, PK -- Dua nelayan asal Desa Lerek, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Yoseph Toling dan Romanus Henaken, tenggelam saat memancing ikan di Pantai Waibura, Desa Dulir, Senin (27/4/2009) pukul 20.30 Wita. Sampai Kamis (30/4/2009) pagi, Romanus belum ditemukan. Sedangkan Yoseph menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sampan.

"Nelayan yang berhasil menyelamatkan diri itu sudah melapor kepada anggota polisi di Pospol di Atadei," kata Camat Atadei, Tange Yohakim, Rabu (29/4/2009) malam.

Menurut Yohakim, Yosep dan Romanus menggunakan sampan ke Pantai Waibura. Belum sampat membuang pancing muncul arus balik dari darat yang sangat deras. Sampan mereka tenggelam. Yoseph menggapai sampan dan memegangnya. Sedangkan Romanus mencoba berenang melawan arus menuju darat yang jaraknya hanya sekitar 10 meter. Namun usahanya sia-sia dan dia terseret arus dan akhirnya menghilang. Sedangkan Yosep tetap memegang sampan dan akhirnya dia selamat. Ia bahkan masih bisa membalikkan sampannya dan masuk ke dalamnya.

"Sampai tadi sore (Rabu sore) masyarakat, aparat desa dan camat menyisir pantai namun tak menemukan Romanus. Mudah-mudahan dia selamat," kata Yohakim.
Belum ditemukannya Romanus, ayah satu anak perempuan berusia tiga tahun itu menimbulkan kesedihan dan kecemasan istrinya yang sedang hamil tiga bulan.

Menurut warga Lerek dan Dulir, jelas Camat Yohakim, tidak banyak nelayan memasang rumpon atau mencari ikan di lokasi kejadian karena arus laut yang keras.
Menurut Yoseph Toling, keduanya diterjang arus deras sekitar pukul 20.30 Wita. Saat itu mereka belum sempat melepas pancing. 

"Kami berdua melompat ke air dan Romanus berenang ke darat. Dia katakan, kau urus saja sampan itu," kata Yosep.

Beberapa saat kemudian, Romanus terseret arus dan menghilang. "Saya sempat tarik sampan cari dia sekitar 30 menit. Saya sempat dengar ada teriakan minta tolong, tapi suaranya sudah jauh dari tempat kejadian. Waktu itu gelombang besar dan saya tidak mampu," kisah Yosep kepada Pos Kupang, Kamis (30/4) pagi. Ia menelpon dari Kalikasa, ibukota Kecamatan Atadei menggunakan telpon genggam Camat Atadei.

Sendirian tak mampu menolong rekannya, Yoseph berjalan kaki ke Desa Dulir,sekitar tiga kilometer dari lokasi kejadian, san melaporkan musibah ini kepada kepala desa setempat dan minta bantuan pemerintah desa dan masyarakat untuk mencari Romanus. Di malam gelap itu, mereka ramai-ramai turun ke pantai mencari Romanus namun tidak menemukannya.

Yoseph mengakui ia sering bersama Yosep memancing di lokasi itu. Dia mengaku trauma atas musibah yang dialaminya. Ia makin sedih karena rekannya Romanus belum berhasil ditemukan.

Komandan Tagana Lembata, Andres Koban, mengirim pesan singkat kepada Pos Kupang, Rabu malam, bahwa anggota Tagana sudah mencari Romanus sejak Selasa dan Rabu namun tidak menemukannya.

Ia menambahkan, hari Jumat (24/4/2009) sekitar pukul 11.00 Wita, terjadi musibah kecelakaan di laut antara Waiwuring, Pulau Adonara dan Tanjung Tuak di Kecamatan Ile Ape. Sebuah perahu motor yang ditumpangi empat orang, tenggelam di sekitar Tanjung Tuak, tenggelam. Dua orang berhasil menyelamatkan diri, sedangkan dua orang lainnya, yakni seorang ibu dan anaknya berusia empat tahun, dilaporkan hilang. 

"Kami dengar informasi pukul 12.30 Wita dan turun ke lokasi dengan speed boad. Ibu itu sudah diselamatkan, tetapi anaknya meninggal dunia. Jenazah dibawah ke kampung di Pulau Adonara," kata Andreas. (ius)


Di Gunung Api Bawah Laut

BANYAKNYA ikan di perairan Pantai Waibura, Desa Dulir, menjadi daya tarik bagi para nelayan dan penduduk pesisir Kecamatan Atadei. Segala jenis ikan dasar dan "ikan-ikan kelas satu" banyak di lokasi ini.
Namun laut di sini sangat "temperamental". Gelombang dan arus muncul setiap waktu.
Namun ada nelayan yang "gelap mata" karena banyaknya ikan di lokasi itu. Sama juga dengan Yoseph Toling dan Romanus Henaken, dua nelayan yang akhirnya tenggelam akibat diterjang arus sekitar satu kilometer dari gunung api bawah laut, Gunung Hobal. 

Letak gunung ini sekitar 200-an meter dari pesisir Pantai Waiteba, pantai yang disapu gelombang tsunami bulan Juli 1979. Musibah kala itu menenggelamkan separuh dari wilayah bekas ibukota Kecamatan Atadei, bersama ratusan penghuninya.

Yoseph Copurtino Pati Lajar, warga Desa Lerek mengisahkan, sebelum Gunung Hobal meletus sekitar 1970-an, puncaknya nongol di atas permukaan laut saat air surut. Namun saat terjadi pasang, gunung api itu kembali "tenggelam". Namun kini, saat air surut pun gunung itu tak kelihatan lagi. Kemungkinan puncaknya sudah tergerus gelombang laut.

Ia mengatakan, warga Lerek dan Dulir sering memanah ikan di sekitar lokasi. Dulu, di saat gunung mengeluarkan lahar, mereka masih berani mendekati dan memungut ikan yang mati. "Ikan di lokasi ini banyak dan rasanya sangat enak sekali, " kata manajer Kopersi Kredit Ankara ini, kepada Pos Kupang, Kamis (30/4/2009).

Nikolaus Nunang, koordinator Tagana memimpin pencarian Romanus menggunakan speed boad mengakui arus di lokasi itu sangat keras dan gelombangnya besar. Pantainya curam dan dalam. Ia menduga letaknya dekat gunung api bawah laut ini menjadi penyebabnya.

Menurut dia, kalau korban Romanus terseret arus ke pantai maka kemungkinan terbentur pada dinding tebing batu kerang. Kalau terbawa arus maka kemungkinan sampai ke Pulau Pantar di Kabupaten Alor. 
Pada saat ini arus keluar ke arah Pulau Pantar. "Dia bisa terdampar di sekitar TKP saat arus balik pada bulan purnama," kata Nikolaus.

Dia menambahkan, pencarian hari Selasa melibatkan delapan anggota tim Tagana. Mereka menyisir ke Dulir dan Lamanunang atau hampir seluruh Tanjung Atadei sejauh sekitar 10 km, namun tidak menemukan korban. Hari Rabu pagi diadakan seremoni adat di pantai dihadiri warga dan sanak famili korban. Mereka yakin korban sudah meninggal. (eugenius mo'a)

Pos Kupang edisi Jumat, 1 Mei 2009 halaman 1

Kadis PU Kabupaten Alor Ditahan

KALABAHI, PK -- Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Alor, Ir. Sumardin Sutiyo ditahan penyidik Reskrim Polres Alor, Kamis (30/4/2009). Sutiyo ditahan sebagai tersangka kasus hilangnya besi kendaraan (sasis) dari gudang Dinas PU Alor.

Kepala Bagian Operasi (KBO) Reskrim Polres Alor, Ipda Dedi Kurniawan mengatakan bahwa panahanan itu dilakukan setelah polisi memperoleh bukti-bukti awal yang cukup tentang keterlibatan Sutiyo dalam kasus tersebut.

Selain Sutiyo, polisi juga menahan Trisno Gorang alias Lolong, pihak yang membeli besi yang dicuri dari gudang Dinas PU.

Kapolres Alor, AKBP Edi Yudianto yang di konfirmasi melalui ponselnya, kemarin, mengatakan, Sutiyo ditahan sebagai tersangka kasus penggelapan dalam jabatan.
Dia mengatakan, polisi terus mengembangkan kasus ini dengan memeriksa saksi-saksi.

"Semua orang sama di hadapan hukum. Polisi tidak pandang bulu. Kalau melakukan perbuatan melawan hukum, kami akan proses," tegas Yudianto.

Tersangka Sutiyo yang ditemui di ruang Unit II Reskrim Polres Alor, sebelum dibawa ke sel Mapolres, mengatakan keberatan dengan penahanan tersebut.
Dia mengatakan, penahanan itu berdasarkan informasi dari penadah (Trisno Gorang alias Lolong) yang mengaku mendapat besi itu dari dirinya. "Saya tidak pernah memberikan besi itu kepada dia. Saya keberatan," tandas Sutiyo.

Dia juga mempertanyakan mengapa kasus hilangnya besi gelagar yang "satu paket" dengan kasus hilangnya sasis, tidak diproses. 

Sementara itu Trisno Gorang alias Lolong mengatakan, sebagai pembeli dia membeli saja besi dari siapapun yang menjual. Dia mengatakan bahwa sasis kendaraan truk jenis Izusu yang dipotongnya itu diketahui oleh pejabat di Dinas PU Alor.

"Saya ini orang tidak sekolah, saya usaha untuk hidup. Kalau orang kasih atau jual, maka sebagai pembeli saya ambil, saya bayar," ujarnya.

Dia meminta polisi arif dan tidak menahannya karena dia miliki tanggungan keluarga, yakni anak yang masih kecil dan dua orang anaknya sedang sekolah perawat di Jawa yang membutuhkan dana besar.

"Lebih baik kasih berdiri saya di tiang bendera dan tembak kasi mati saya sekarang juga daripada ditahan," tegas Lolong kepada Ipda. Dedi dan Aipda John Sidadore.


Meski ada permintaan Lolong untuk tidak ditahan, polisi tetap menahannya bersama-sama Sutiyo. Keduanya ditahan dalam sel Mapolres Alor. (oma)

Pos Kupang edisi Jumat, 1 Mei 2009 halaman 1

Babu Eha dan Mboeik Pimpin Sementara

KUPANG, PK -- Untuk merebut empat kursi DPD RI yang dialokasikan untuk NTT, Emanuel Babu Eha dan Sarah Lery Mboeik untuk sementara menempati urutan teratas. Babu Eha sudah memperoleh 64.532 suara dan Lery Mboeik memperoleh 63.735 suara. 

Di tempat ketiga bertengger Paul Liyanto dengan 58.869 suara dan Piet Djami Rebo yang memperoleh 56.638 suara.

Demikian data rekapitulasi suara yang diperoleh dari KPUD NTT, KPUD Sumba Timur dan KPUD Belu, Kamis (30/4/2009). Hasil rekapitulasi KPUD Sumtim dan KPUD Belu belum diplenokan oleh KPUD NTT.

KPUD NTT sampai Rabu (29/4/2009), baru merekapitulasi perolehan suara dari sembilan kabupaten yakni Ngada, Sumba Barat, Sumba Tengah, Ende, Sikka, Nagekeo, Rote Ndao, Kabupaten Kupang dan Manggarai.

Sesuai rekap dari sembilan kabupaten itu, Rikardus Wawo dan Sarah Lery Mboeik, di posisi teratas dimana Dus Wawo memperoleh 61.857 suara dan Lery Mboeik memperoleh 56.597 suara, terpaut 5.260 suara di bawah Wawo.

Posisi kedua semestinya ditempati Anton Yohanis Bala yang memperoleh 57.764 suara, terpaut 4.093 suara dari Wawo, namun Bala didiskualifikasi karena tidak memasukkan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye (LPPDK) ke KPUD.

Meski Dus Wawo di urutan pertama, posisinya belum aman. Dia bisa digeser calon lain seperti Lery Mboeik dan Paul Liyanto. Sebab beberapa kabupaten di daratan Timor seperti TTS, TTU dan Belu diperkirakan menjadi basis perolehan suara dari kedua calon tersebut.

Di sembilan kabupaten yang sudah selesai dihitung, suara yang sudah dikoleksi Paul Liyanto mencapai 47.684 suara. Ditambah 11.185 suara dari Belu, Paul Liyanto sudah mengoleksi 58.869 suara.

Saingan lainnya yakni Carolina Nubatonis-Kondo yang saat ini telah mengumpulkan 27.704 suara.
Sementara itu, calon lainnya, Piter Djami Rebo juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Mantan Kadis Kimpraswil NTT ini terus mendempet Liyanto dan Lery dengan 40.948 suara. 

Calon lainnya, Adrianus Dengi juga terus melaju dengan memperoleh 36.111 suara, Boni Oldam Romas 33.075, Georgius Soter Parera 31.384 suara. 

Perkembangan perolehan suara DPD sering berubah karena masing-masing calon punya kekuatan sendiri di daerah asal. Dengan demikian, belum bisa diprediksi siapa-siapa dari calon-calon yang ada yang akan ke kursi DPD RI.

Fraksi PKPI Hilang
Dari Waingapu dilaporkan, dua wakil ketua DPRD Sumba Timur, Lukas Kaborang dan Darius Hawu Djoh dipastikan tidak lagi menjadi anggota Dewan. 

Sesuai perhitungan KPUD Sumba Timur, Rabu (29/4/2009) malam, Lukas Kaborang yang menjadi caleg untuk DPRD setempat, hanya mengantongi 309 suara. Sedangkan Darius Hawu Djoh yang menjadi caleg DPRD NTT hanya mengantongi 1.258 suara, kalah dari Antonius Landi yang mengantongi 4.339 suara. 

Kursi DPRD Sumtim yang ditempati Lukas diperkirakan akan digantikan Amos Kulandima yang meraih 1.852 suara. 

Selain dua wakil ketua, satu fraksi di DPRD Sumba Timur yakni Fraksi PKPI dipastikan hilang. Dalam pemilu legislatif kali ini, di Dapil I, PKPI hanya meraih 121 suara, Dapil II 281 suara, Dapil III, 242 suara dan Dapil IV hanya 58 suara. 

Partai Demokrat diperkirakan akan muncul sebagai fraksi baru di DPRD Sumba Timur karena memperoleh suara cukup signifikan. Demokrat diperkirakan meraih empat kursi. 

Jumlah kursi terbanyak masih dipegang Partai Golkar, meski turun dibanding lima tahun lalu. Kali ini Golkar diperkirakan memperoleh sembilan kursi atau turun dua kursi dari 11 kursi yang diperoleh pada Pemilu lima tahun lalu.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan PDK juga dipastikan meraih masing-masing empat kursi. Partai lain yang diperkirakan akan mendapat kursi di DPRD Sumba Timur yakni, Gerindra, PPP, PPI. 

Diperkirakan komposisi keanggotaan sebagian besar didominasi orang baru dan tokoh-tokoh muda. Anggota DPRD periode 2004/2009 yang masih bertahan diperkirakan tidak sampai lima persen. 

Sementara untuk DPRD NTT, perolehan suara tertinggi masih ditempati Golkar (29.129 suara) diikuti PDIP (17.334 suara), Demokrat 14.732 suara dan PDK 8.762 suara. Untuk DPR RI, Demokrat berada pada urutan teratas dengan perolehan 24.631 suara, diikuti Golkar 20.734 suara, PDIP 12.949 suara, Gerindra 6.384 suara, PKPB 4.834 suara dan Hanura 2.769 suara. 

Untuk DPD, posisi teratas ditempati Emanuel Babu Eha dengan 53.584 suara, diikuti Ir. Piet Djami Rebo, 15.690 suara, Marthen Malo, 3.985 suara. Penetapan perolehan suara di KPUD Sumba Timur sempat diwarnai protes dari para saksi karena ada suara dari para caleg maupun partai yang dinilai hilang di PPK. (gem/ff/dea/yon)

10 Calon DPD Unggul Sementara:
1. Rikardus Wawo : 61.857 suara
2. Anton Yohanis Bala : 57.764 suara
3. Sarah Lery Mboeik : 56.597 suara
4. Abraham Paul Liyanto : 47.684 suara
5. Piter Djami Rebo : 40.948 suara
6. Adrianus Dengi : 36.111 suara
7. Boni Oldam Romas : 33.075 suara
8. Georgius Soter Parera : 31.384 suara
9. Carolina Nubatonis-Kondo : 27.704 suara
10. Joseph Bona Manggo : 25.238 suara
--------------------------------------------------------
* Sumber: Hasil pleno KPUD NTT dari 9 kabupaten

Pos Kupang edisi Jumat, 1 Mei 2009 halaman 1

Selamat datang para yuniorku

SETELAH enam tahun tidak merekrut reporter baru, awal tahun 2009, manajemen Pos Kupang kembali membuka lapangan kerja bagi putra-putri Nusa Tenggara Timur yang berminat di dunia jurnalistik. 

Selain menggantikan sejumlah wartawan yang mengundurkan diri karena alih profesi seperti PNS, politisi, wirausaha, penerimaan wartawan baru sejalan dengan kebutuhan Pos Kupang. Lebih dari 30 orang memasukkan lamaran ke Bagian PSDM Pos Kupang sampai batas akhir yang ditentukan.

Dari jumlah tersebut 16 orang lolos syarat administrasi dan dipanggil guna mengikuti tes tertulis, psikotes dan wawancara. Dan, hanya 10 orang yang lulus dan berhak mengikuti pelatihan dasar jurnalistik selama tiga pekan. 

Ke-10 calon wartawan itu adalah Mayelus Dori Bastian (Mayelus), Junus Imanuel Hauteas (Jumal), Salomo Haba (Ginz), Agnesta Silviana Radja (Esthy), Yohanes Taena (John), Servatius Mammilianus (Servan), Fredrikus Royanto Bau (Edy), Moses Watu (Mosel), Viktor D Mbura (Itho) dan Margaret Rego da Silva (Reth).

Pelatihan berlangsung di Gedung PWI, Jl. Veteran Kupang sejak tanggal 23 Maret hingga 6 April 2009. Pelatihan setiap hari mulai pukul 08.00-17.00 Wita. Materi pelatihan 80 persen praktek dan sisanya teori di kelas. Tim pelatih terdiri dari saya dan para Redpel/Manajer Produksi yaitu Dami Ola, Tony Kleden, Benny Dasman dan Hyeron Modo. Sejumlah redaktur juga dilibatkan pada saat membimbing calon reporter menulis berita langsung dan features.

Setiap kali melatih calon wartawan baru, saya selalu merasa disegarkan kembali tentang jurnalisme. Kembali 'memperbarui janji dan komitmen' saya untuk berbakti di medan jurnalistik.

Bahagia sekali melihat semangat mereka menjalani pelatihan dengan tekun, serius dan tidak mudah mengeluh. Para calon reporter itu berusaha sekuat mungkin memahami langkah- langkah yang kami berikan. Kepada mereka selalu saya katakan, lulus tidaknya tergantung dirimu sendiri. Maka berusahalah sebaik mungkin.

Dari sepuluh orang itu, tujuh orang lulus ujian yaitu Mayelus Dori Bastian (Mayelus), Junus Imanuel Hauteas (Jumal), Salomo Haba (Ginz), Agnesta Silviana Radja (Esthy), Yohanes Taena (John), Servatius Mammilianus (Servan) dan Fredrikus Royanto Bau (Edy). Baik yang lulus maupun tidak lulus, Manajemen Pos Kupang memberikan semacam sertifikat, suatu tanda bahwa mereka telah mengikuti pelatihan dasar jurnalistik. Ya, selamat datang para yuniorku. Selamat bergabung dengan Pos Kupang. "Jadilah wartawan yang bisa dipercaya!" (*)

Benny Dasman Raih XL Award 2008

KUPANG, PK -- Karya jurnalistik (feature) wartawan Pos Kupang/SPIRIT NTT, Benny Dasman, berjudul, "Mencari Sinyal di Pohon Asam," memenangi XL Award 2008 Writing and Photo Competition yang diselenggarakan oleh PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) di Jakarta.

Tulisan Benny yang melakukan on the spot ke Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, 13-14 Oktober 2008, itu meraih juara pertama untuk kategori karya jurnalistik wartawan. Karya jurnalistik wartawan dari seluruh Indonesia yang mengikuti lomba ini sebanyak 111 tulisan.

Penganugerahan atau awarding untuk para pemenang telah dilakukan di Mario's Place, Menteng-Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2009), namun Benny tidak mengikutinya karena sedang dalam pemulihan kesehatan.

Untuk kategori Foto jurnalistik karya Ocha Alim Bachri dari Harian Tribun Timur (Makassar) berjudul Telepon menjadi kampiunnya. Sementara karya tulis kategori umum dimenangi Pani Zaristian V (Yogyakarta) dengan karya berjudul, "Menilik Peran Industri Seluler Dalam Menyingkap Tabir Korupsi, Terorisme, dan Pemilu 2009." Dan, untuk foto kategori umum, karya IBN Primarta (Denpasar), berjudul Baca SMS merebut juara pertama.

Siaran pers Panitia XL Award 2008 yang diperoleh Pos Kupang dari Jakarta, Kamis (5/3/2009), menyebutkan total materi peserta yang diterima panitia lomba sebanyak 1.148 karya. Dari jumlah ini, 111 karya jurnalistik wartawan dari seluruh Indonesia, 269 karya tulis umum, 554 karya foto umum, dan 214 karya foto wartawan. Jumlah peserta XL Award 2008 ini melebihi jumlah karya XL Award tahun-tahun sebelumnya atau meningkat 300 persen. Asal peserta juga semakin beragam, dengan peserta luar Jawa semakin meningkat. Sementara yang meraih juara didominasi peserta dari luar Jakarta.

Karya jurnalistik wartawan dan karya tulis kategori umum ini dinilai dewan juri yang terdiri dari Budiono Darsono (wartawan senior), Maswigrantoro Roes Setiyadi (praktisi) dan Myra Junor (XL). Sementara lomba foto dinilai juri yang terdiri dari Oscar Motulloh (fotografer senior), Edward Tigor Siahaan (praktisi), dan Benny Herlambang (XL).

Lebih Optimis
Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi, mengatakan, "Lomba karya tulis dan foto XL Award kami selenggarakan untuk menggali pendapat masyarakat dalam menyikapi kemajuan industri telekomunikasi Indonesia, termasuk XL sebagai salah satu operator. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ide-ide dan masukan yang tertuang dari karya peserta selalu membuat kami menjadi lebih optimis untuk menghadapi tantangan ke depan."

Salah satu juri karya tulis, Budiono Darsono, mengatakan, XL Award kali ini menunjukkan kualitas penulisan yang sangat beragam dan penyebaran peserta yang tidak lagi hanya dari kota-kota besar. "Keberadaan blog saya kira ikut mempengaruhi kualitas karya dan kuantitas peserta. Saya kira ini kemenangan para blogger," lanjutnya.

Untuk diketahui, XL adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia yang dimiliki oleh TM International Bhd melalui Indocel Holding Sdn Bhd (83,8%), Etisalat melalui Emirates Telecommunications Corporation (Etisalat) International Indonesia Ltd (16%) dan publik (0,2%). XL satu-satunya yang memiliki jaringan serat optik yang luas. XL beroperasi secara komersial sejak 8 Oktober 1996, dan bisnis XL saat ini adalah Consumer Solutions sebagai penyedia layanan dan jaringan seluler berkualitas dan Business Solutions sebagai penyedia layanan solusi korporat. Pada 21 September 2006, XL telah meluncurkan XL 3G, layanan telekomunikasi selular berbasis 3G pertama yang tercepat dan terluas di Indonesia. (eni)

PEMENANG XL AWARD 2008
* Karya Jurnalistik Wartawan
- Juara 1: Benny Dasman/Pos Kupang/SPIRIT NTT (Mencari Sinyal di Pohon Asam)
- Juara II: Sulistiono/Harian Media Indonesia (Wabah Tekno 'Menjangkiti' Timbulharjo)
- Juara III: FX Bambang Irawan/Tabloid Sinyal (Koran 'Versi M' sebagai VAS Masa Depan)
- Juara IV: Masuki M Astro/Antara Jatim (Kerja Wartawan di Era Telepon Seluler)
- Juara V: Chandra Wirawan/ Majalah e-Indonesia (Memadukan Teknologi Seluler Dengan Sistem Peringatan Dini Tsunami)

* Karya Tulis Umum
- Juara 1: Pani Zaristian V (Menilik Peran Industri Seluler Dalam Menyingkap Tabir Korupsi, Terorisme dan Pemilu 2009) 
- Juara II: Joko Guntoro (Sinyal Hadir: Meretas Peluang Ekonomi Antar Daerah)
- Juara III: Titiek Hariati (HP Tahu-Tempe)
- Juara IV: Ayos Purwoaji (Sinyal dari Seliuk)
- Juara V: Gunawan Sutanto (Buah Konvergensi Tekhnologi Informasi Dan Telekomunikasi Di Indonesia)

* Kategori Foto Wartawan
- Juara 1: Ocha Alim Bachri/Tribun Timur (Telepon)
- Juara II: Ari basuki/Koran Tempo (Cuaca Bukan Masalah)
- Juara III: Surya Adi Lesmana/Bernas Jogya (radisi dan Teknologi Informasi)
- Juara IV: Andi Kurniawan Lubis/Harian Analisa (Semakin Murah)
- Juara V: Abdul Malik MSN/Gatra (Foto Bersama) 

* Kategori Foto Umum
- Juara 1: IBN Primarta (Baca SMS)
- Juara II: IB Andi Sucitra (Kabar dari Ananda)
- Juara III: M Arif Prabowo (Bentar Lagi Bapak Pulang)
- Juara IV: Rawisyah Aditya (Terima Panggilan)

Wartawan Pos Kupang Juara Penulisan Trafficking

KUPANG, PK -- Wartawan Pos Kupang, Benny Jahang, ditetapkan sebagai pemenang untuk dua kategori dalam lomba jurnalistik dengan thema 'Situasi Perdagangan Orang (Trafficking) di Indonesia, yang diikuti para wartawan dari enam Propinsi di Indonesia. Dua kategori yang disabet Benny Jahang, yakni kategori cetak dan online meraih juara III. Selain itu, dewan juri juga menetapkan Benny Jahang sebagai pemenang I kategori pengirim berita terbanyak dan kontekstual.

Dalam surat pengumuman pemenang lomba jurnalistik 'Situasi Perdagangan Orang di Indonesia' yang ditandatangani Deputy Program Manager Cross Border Counter Trafficking Project Indonesia-Malaysia, Fatimana Agustinanto yang diperoleh Pos Kupang, Selasa (27/4/2009), lomba jurnalistik itu diikuti para wartawan dari enam propinsi, antara lain Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan penilaian dewan juri, kata Fatimana Agustinanto, artikel yang dikirim wartawan Pos Kupang, Benny Jahang dengan judul "Ketika Terperangkap Jaringan Mafia" ditetapkan dewan juri sebagai pemenang III untuk kategori cetak dan online. 

Selain meraih juara III, kata Fatimana Agustinanto, Benny Jahang juga meraih juara I untuk kategori pengiriman berita terbanyak dan kontekstual dalam lomba jurnalistik yang digelar International Catholic Migration Commission (ICMC) didukung European Union dan US Departmen Of State tersebut.

Dengan keberhasilan ini, Benny Jahang diundang mengikuti seminar regional Penanggulangan Perdagangan Orang Indonesia-Malaysia di Samarinda-Kalimantan Timur (Kaltim) tanggal 13-15 Mei 2009 mendatang. (fen)

Pos Kupang edisi 30 April 2009 halaman 2

Selamat Jalan Pak Piet

KUPANG, PK---Ribuan pelayat, warga Kota Kupang dan sekitarnya, utusan dari daerah-daerah, sahabat kenalan dan simpatisan menghantar jenazah (alm) Piet Alexander Tallo, S.H ke Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, Kota Kupang, Rabu (29/4/2009). Makam Gubernur NTT periode 1998-2003, 2003- 2008 itu satu deret dengan makam pendahulunya Gubernur El Tari.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, yang menjadi inspektur upacara, atas nama masyarakat NTT mengucapkan selamat jalan kepada almarhum. "Atas nama masyarakat NTT, saya ucapkan selamat jalan Pak Piet, " kata Lebu Raya.

Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum disemayamkan di Gereja Maranatha Oebufu dan Kantor Gubernur NTT, Jalan El Tari I, sebagai penghormatan terhadap almarhum. Acara pemakaman dilakukan secara kedinasan, diawali dengan ibadat yang dipimpin Pdt. Thobias Bani, mulai pukul 09.00 Wita di rumah duka di Jalan Amabi, Oebufu. 

Sebelum jenazah almarhum diserahkan pihak keluarga oleh Ny. Erny Tallo kepada inspektur upacara, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, tokoh adat dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) melantunkan natoni. Acara ini mengisahkan perjalanan hidup almarhum, termasuk menjabat Bupati TTS selama dua periode, 1983-1988, 1988- 1993, Wakil Gubernur NTT 1993- 1998, dan Gubernur NTT dua periode, 1998- 2003 dan 2003- 2008 serta pengabdian dan dedikasinya dalam membangun NTT.

Chris Tallo, adik kandung almarhum, dalam sambutannya mewakili keluarga di rumah duka mengatakan, Tuhan tak pernah bermain dadu terhadap semua peristiwa kematian yang dialami umat manusia, termasuk (alm) Piet Tallo. Kematian merupakan rencana Tuhan terhadap manusia ciptaanNya. Kematian juga merupakan peristiwa manusiawi yang tak bisa dihindari.

Chris menyampaikan terima kasih kepada Gubernur NTT sebelumnya, mulai dari El Tari hingga Herman Musakabe yang telah memberi dukungan dan pembinaan terhadap almarhum. 

"Atas nama keluarga, saya minta para staf dan masyarakat NTT untuk memaafkan almarhum selama kepemimpinannya, baik sebagai Bupati TTS, Wakil Gubernur NTT, Gubernur NTT maupun jabatan lainnya. Kami menyadari sebagai manusia, almarhum pasti seorang manusia yang tak sempurna. Hanya dengan cara itu, almarhum bisa masuk dalam kerajaan surga," pinta Chris.

Selaku inspektur upacara, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, mengatakan, hidup manusia adalah sebuah ziarah yang dimulai sejak lahir hingga meninggal, bahkan sampai kehidupan kekal. Dalam konteks kebersamaan selama hidup, kematian pasti membawa duka bagi mereka yang ditinggalkan. Meninggalnya almarhum tak hanya membawa duka bagi keluarga, tapi juga pemerintah dan masyarakat NTT serta orang-orang yang pernah mengenalnya.


Menurut Lebu Raya, sebagian hidup almarhum dibaktikan untuk daerah ini. Karena itu, NTT telah kehilangan seorang putra terbaik, tokoh, guru dan bapak yang telah meletakkan dasar-dasar pembangunan. Karena itu, kata Lebu Raya, sangat pantas kalau sosok almarhum dijadikan tokoh panutan. 

"Saya minta kepada semua pihak agar semangat hidup dan semua aspek positif yang dilakukan almarhum tetap dijadikan sebagai pedoman hidup. Kita harus menjadikannya sebagai contoh dalam hidup dan karya kita dalam rangka mewujudkan NTT Baru. Almarhum adalah pekerja keras dan tak mau lamban dalam bekerja. Terkadang almarhum bersikap keras. Ini mau menunjukkan bahwa kerja haruslah dengan cepat dan tepat," kata Lebu Raya.

Sebagai penghormatan dan penghargaan, jenazah almarhum disemayamkan di Kantor Gubernur NTT beberapa menit lalu diberangkatkan ke TMP Dharma Loka untuk dikebumikan. 
Saat diantar ke TMP Dharma Loka, di pinggir kiri dan kanan jalan dipadati warga Kota Kupang yang memberikan penghormatan terakhir dengan caranya masing-masing. Ada yang melambaikan tangan, ada yang menatap tak bersuara dan ada yang berteriak memanggil nama almarhum. Ratusan kendaraan dan sepeda motor mengarak jenazah almarhum ke TMP Dharma Loka.

Di TMP Dharma Loka, jenazah almarhum dimakamkan melalui upacara militer oleh TNI. Almarhum dimakamkan satu deret dengan El Tari. Usai pemakaman dilanjutkan dengan tabur bunga di makam El Tari yang kemarin genap 31 tahun meninggal dunia. 

Pemakaman Piet Tallo dihadiri Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, mantan Gubernur NTT, Hendrik Fernandez bersama Ny. Mia Fernandez, Herman Musakabe, Bupati TTU, Gabriel Manek, Bupati Rote Ndao, Lens Haning, Wakil Bupati Belu, Wakil Bupati Sumba Barat, Wakil Sumba Tengah, Wakil Sumba Barat Daya, Wakil Bupati Flotim, Wakil Bupati Sikka, Wakil Walikota Kupang, para pimpinan SKPD, anggota DPRD NTT seluruh PNS lingkup Setda NTT serta sanak keluarga serta simpatisan lainnya.(gem/den) 


Air Mata Lebu Raya

SUARA Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, tersekat. Tak kuasa menahan haru. Matanya memerah. Butir-butir air mata bening pun jatuh, menambah hening suasana di tenda duka. Semua yang hadir hanyut dalam duka. 

Suasana itu terjadi ketika Lebu Raya mengungkapkan kenangan saat pertama bertemu (alm) Piet Tallo saat masih menjabat Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) di SoE. Ketika itu Lebu Raya masih mahasiswa. Lebu Raya ke SoE dalam kegiatan GMNI. Dalam perjalanan waktu, pertemuan itu terajut lebih erat lagi ketika duet ini memimpin NTT. Piet Tallo menjadi gubernur dan Lebu Raya menjadi wakil gubernur untuk periode kepemimpinan 2003-2008. 

"Banyak nasihat yang beliau berikan. Beliau menyampaikan nasihat dengan santun dan kata-katanya penuh makna. Petuah itu tetap saya ingat dalam perjalanan hidup saya. Tak disangka, saya mendampingi beliau sebagai gubernur dan saya wakilnya. Kami pun mengakhiri kepemimpinan lima tahun dengan baik. Beliau selalu berpesan, jaga dan bina kebersamaan. Atas nama masyarakat NTT, saya mengucapkan selamat jalan Pak Piet," kata Lebu Raya meneteskan air mata. 

"Dia adalah seorang pendoa yang kuat. Suatu ketika, beliau datang ke ruang kerja saya dan mengajak saya untuk berdoa. Ini sesuatu yang sangat luar biasa bagi saya ketika bersama-sama memimpin daerah ini," kenang Lebu Raya.

Dihubungi Pos Kupang, Sabtu (25/4/2009) malam, saat Piet Tallo menghembuskan nafas terakhir di Jakarta, Lebu Raya juga mengungkapkan pesan yang diberikan beliau kepadanya saat dia menjabat Ketua GMNI Cabang Kupang. "Kalau mau besar, harus keluar dari lubang batu," kata Lebu Raya mengutip nasihat Piet Tallo.

Petuah itu dilukiskan Lebu Raya sarat makna. Awalnya, kata Lebu Raya, dia sulit menerjemahkan petuah itu. Lama kelamaan Lebu Raya mengerti petuah itu, dan keluar dari lubang batu memimpin PDIP NTT, mendampingi almarhum maju dalam pemilihan gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2003- 2008, dan unggul satu suara pada putaran kedua. 

"Saya sama sekali tak menyangka menjadi pendamping beliau. Saat pertemuan di SoE sama sekali tak ada bayangan bahwa kami harus bersama-sama memimpin NTT. Saya belajar banyak dari beliau," kata Lebu Raya. (gem/den)

Pos Kupang edisi Kamis, 30 April 2009 halaman 1

Manajemen RSUD Larantuka Diduga Gelapkan Pajak

LARANTUKA, PK -- Manejemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Larantuka diduga kuat menggelapkan pajak belanja obat dan obyek pajak lainnya tahun anggaran 2002-2004. Total pajak yang diduga digelapkan ini mencapai lebih dari Rp 95 juta.

Kasus ini sedang diselidiki Kejaksaan Negeri (Kejari) Larantuka sejak Februari 2009 lalu. Baik pihak kejaksaan maupun pihak rumah sakit menegaskan, orang yang bertanggung jawab dalam kasus ini ialah mantan Bendahara RSUD Larantuka, Wilibroda K Liliweri, alias Wiwin.

Namun, sumber Pos Kupang yang menginformasikan kasus ini menyebutkan, dua mantan Direktur RSUD Larantuka patut dimintai pertanggungjawabannya. Keduanya, yakni dr. Edward Kleruk (2002-2003) dan dr. Daslyati (2004-2005). Keduanya perlu dimintai pertanggungjawaban karena penyelewengan pajak ini terjadi tiga tahun berturut-turut. 

"Kasus ini sedang diusut jaksa. Beberapa pegawai rumah sakit termasuk direktur sekarang (dr. Yoseph Kopong Daten, Red) sudah dipanggil dan dimintai keterangannya oleh jaksa. Ibu Wiwin memang pelaku utamanya, tetapi saya pikir pimpinan waktu itu harus pula bertanggung jawab karena mengetahui adanya kasus ini. Kalau dia tidak tahu, berarti fungsi kontrol dan pengawasannya buruk," jelas sumber Pos Kupang di RSUD Larantuka, Rabu (29/4/2009) pagi.

Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) RSUD Larantuka, Yohanes Ritan, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, kemarin siang, membenarkan adanya kasus ini. Ritan mengatakan, kasus yang sama masih terjadi tahun 2005 berdasarkan hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Kupang. Pada tahun 2005 ini, kata Ritan, BPK menemukan kasus pajak belum disetor ke kas negara lebih dari Rp 33 juta. Setelah temuan ini, pimpinan RSUD Larantuka memanggil Wiwin guna mengembalikan dana tersebut.

Perihal pajak 2002-2004 yang tidak disetor ke kas negara melalui Bank NTT Cabang Larantuka, Ritan mengatakan, murni tanggung jawab Wiwin selaku mantan bendahara. Ritan tidak mengetahui apakah mantan direktur saat itu melaksanakan tugas kontrol dengan baik atau tidak. "Saya baru masuk di sini tahun 2006 sehingga sebelumnya saya tidak tahu," kata Ritan.

Menurutnya, pendapatan pajak di RSUD Larantuka berasal dari beberapa obyek. Tetapi yang menonjol dari belanja obat dan peralatan kesehatan. Dari laporan yang ia ketahui, selama 2002-2004, total pajak yang tidak disetor oleh Wiwin lebih dari Rp 95 juta.

Kajari Larantuka, A I Kapuy, S.H, melalui Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus), Robert Silalahi, S.H, yang ditemui di ruang kerjanya, kemarin siang, juga membenarkan sedang mengusut kasus tersebut. Bahkan, kata Silalahi, dalam waktu dekat pihaknya menaikkan status kasus ini ke tahap penyidikan (dik).

"Kasusnya ialah pajak tidak disetor ke kas negara selama tiga tahun berturut-turut, 2002 sampai 2004. Dari hasil pemeriksaan sementara ini, mantan bendahara, Wilibroda K Liliweri yang melakukan. Dalam waktu dekat, kami akan periksa dia dan setelah itu kasusnya dinaikkan ke penyidikan," jelas Silalahi. (dar)

Pos Kupang edisi Kamis, 30 April 2009 halaman 1

Medah Bisa Tembus BPP

KUPANG, PK--Mantan Bupati Kupang, Drs. Ibrahim Agustinus Medah, calon anggota legislatif (caleg) nomor 11 untuk DPRD NTT dari Partai Golkar, diperkirakan bisa menembus bilangan pembagi pemilih (BPP) untuk Daerah Pemilihan NTT I yang meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan Rote Ndao. 

Untuk Dapil I, tinggal Kota Kupang yang belum diplenokan. Untuk Kabupaten Kupang dan Rote Ndao, Medah telah mengoleksi 66.962 suara, terdiri dari Kabupaten Kupang 35.972 dan Rote Ndao 11.525 suara. Untuk dua kabupaten ini, Golkar telah meraih 71.474 suara, terdiri dari Kabupaten Kupang 55.437 suara dan Rote Ndao 16.037 suara dari total suara sah 219.585, terdiri dari Kabupaten Kupang 166.432 dan Rote Ndao 53.153 suara. 

Rivalnya PDI Perjuangan baru mengumpulkan 23.261 suara sah terdiri dari Kabupaten Kupang 19.900 suara dan Rote Ndao 3.361 suara. Dari jumlah ini, Nelson Matara menempati peringkat atas dengan jumlah suara 8.903 menyusul Martha Nyoko Lomi 3.882 suara. Sementara Partai Demokrat mengumpulkan 21.588 suara. Caleg nomor urut 1, Marthen Kaseh telah mengumpulkan 412 suara. Tiga partai ini merupakan partai perolehan suara terbanyak pada pemilu kali ini. 

Untuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD), hasil pleno Kabupaten Kupang, Rabu (29/4), menunjukkan Abraham Paul Liyanto lebih unggul dari calon lain, dengan perolehan 28.628 suara. Menyusul Ir. Sarah L. Mboeik mendapat 26.266 suara. Diikuti Ir. Piter Djami Rebo, 21.750 suara.

Urutan keempat dan kelima, masing-masing diraih Carolina Nubatonis-Kondo dan Pdt. Lorry V. Lena-Foeh masing-masing 12.859 suara dan 11.349 suara. Rikardus Wawo yang unggul di beberapa daerah di daratan Flores, hanya mengumpulkan 1.977 suara. Jumlah suara DPD dari Kabupaten Kupang, sebanyak 167.290. 

Untuk DPR RI, juga Partai Golkar tetap memimpin dengan 39.159 suara. Sedangkan PDIP yang menempati urutan kedua di tingkat propinsi harus puas dengan posisi ketiga dengan perolehan suara 22.533. Demokrat berada pada posisi kedua, yakni 30.469 suara.

Caleg Golkar yang mengumpulkan angka terbanyak di tingkat pusat adalah Setya Novanto 17.126 suara. Caleg dari Partai Demokrat, Jefri Riwu Koreh, mengumpulkan 12.872 suara. Caleg lain hanya memperoleh 206 sampai 7.678 suara.
Herman Herry dari PDIP mendapat suara 11.417, caleg lain dari PDIP hanya 233 hingga 2.517 suara.

Baik tingkat propinsi maupun pusat, Partai Bulan Bintang merupakan partai terendah dalam perolehan suara di Kabupaten Kupang. Partai ini hanya mendapat 174 suara di propinsi dan 160 suara untuk DPR RI.

Di Larantuka
Dari Larantuka dilaporkan, Dapil Flores Timur 4 yang terdiri dari dua kecamatan di Pulau Solor (Kecamatan Solor Timur dan Solor Barat), diperkirakan tiga wajah baru dapat menduduki kursi DPRD Flotim. Ketiganya adalah Michael MOF Lewai alias Mell Fernandez dari Partai Golkar, Syafrudin Abas dari Partai Matahari Bangsa (PMB) dan Matias Enai dari Partai Gerindra. Satu kursi lain diperoleh calon legislatif dari PKPI atas nama Mikael Kolin yang saat ini masih aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Flotim.

Sementara Dapil 3 yang meliputi Kecamatan Adonara Barat, Adonara Tengah dan Wotan Ulumado, direbut caleg dari empat partai politik, yakni Golkar atas nama Marius Pati Payong, Demokrat (Theodorus Wungubelen), PPDI (Agustinus Payong Boli) dan PNKBI atas nama Anton Sili.

Di Dapil 4, Kolin meraih 1.307 dari 1.928 yang diraih PKPI. Mell Fernandez meraih 783 suara dari 1.717 suara perolehan Golkar. PMB mendapat 999 suara, 645 di antaranya berasal dari caleg nomor urut 1, Abas. Sedangkan kursi terakhir diraih Enai yang mendapat 524 suara dari 872 total suara Gerindra. 
Di Dapil 3, perolehan suara untuk Golkar, 1.913 suara (Payong menyumbang 539), Demokrat 1.836 (Wungubelen, 757), PPDI, 1.372 (Boli, 1.077) dan PNBKI, 851 (Sili, 457).

Perkiraan perolehan kursi oleh empat partai di dua dapil ini berdasarkan pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Flotim hingga Rabu (29/4/2009) pukul 14.20 Wita. KPU Flotim melakukan pleno rekapitulasi sejak Sabtu (18/4/2009). Hingga kemarin siang, baru 11 dari 18 PPK yang dirampungkan hasil rekapitulasi penghitungan suaranya. 

Sebelas PPK tersebut, yakni Solor Timur, Solor Barat (Dapil 4), Adonara Barat, Adonara Tengah dan Wotan Ulu Mado (Dapil 3), Klubagolit, Witihama, Adonara Timur, Adonara (Dapil 2), Wulanggitang dan Ilebura (Dapil 1). 

Perolehan suara tingkat pusat untuk 11 PPK yang sudah dipleno, Golkar unggul dengan 15.400 suara. Melchias Mekeng meraih 6.022). PDIP mendapat 7.179 suara, Honing Sonny menyumbang 3.524 suara. Demokrat mendapat 6.316 suara dan sebagiannya merupakan perolehan Beny Kabur Harman (3.233). 
Untuk DPRD NTT, Chris Boro Tokan meraih 2.041 suara dari suara Golkar 11.379. Posisi kedua PDIP (9.727), Viktor Mado Watun pendulang suara terbanyak 2.163. Demokrat di tempat ketiga (4.245) dan 1.516 suara berasal dari Gabriel Suku Kotan.
Untuk DPD, empat teratas dikuasai M. Adnan 13.761, Anton Bala 4.687, Martinus Ipir 4.575 dan Wilhelmus Sodi 4.505.(gem/ff/dar) 

Pos Kupang edisi Kamis, 30 April 2009 halaman 1

Pak Tua


MUSIM caleg caleg berguguran hampir mendekati puncaknya. Dan, segera berganti musim baru. Musim semi buat wajah baru atau muka lama naik panggung. Dari Ende dan Lembata tersiar warta, muka baru riang berpesta pora. Nagekeo, Ngada, Manggarai, Flotim, Sumba Timur, Sumba Barat, Alor, Rote Ndao, Kupang, TTS, TTU pun Belu mirip-mirip kendati belum pasti lantaran rekap KPU masih terseok-seok. Pelan mendayu. 

Tuan dan puan kiranya telah melihat setitik cahaya. Pemilu ini cenderung memilih yang muda energik, doyan remaja naik badan, suka perawan minim pengalaman. Demikianlah gambaran sementara hasil gempa politik 2009. Buah segar tsunami pemilu legislatif multipartai yang namanya masih sulit kuingat. Makin hari semakin bening siapa terlempar, siapa terdepak, siapa terbahak. Sebagian wajah lama niscaya mengucapkan sayonara kepada Dewan Terhormat. Yang bertahan tak banyak. Oh Pak Tua, sudahlah...!


Amboi... inilah politik yang memang repot tapi asyik. Potong sapi, potong babi, anjing, kambing, ayam, beras atau bagi uang pulsa saat sosialiasi belum tentu dibayar dengan suara. Pasang baliho tak ditengok, sebar kartu nama cuma mengendap di laci saku dan meja, sibuk mengetuk pintu ke pintu ternyata tertipu. 

Wajah lama tak lolos menguatkan pesan betapa suara rakyat tak bisa lagi ditipu. Pemilu lalu suara diatur partai induk. Ukurannya nomor urut. Nomor kepala atau kaki. Suara terbanyak belum tentu jadi. Kini di tahun 2009, formula suara terbanyak mengobrak-abrik tatatan. Pemalas tunggang-langgang. Oportunis meringis. Yang ingat diri dan kelompok selama lima tahun menampakkan diri secara telanjang. Ketahuan sudah siapa yang merakyat, siapa yang elitis. Siapa tokoh, siapa ditokoh- tokohkan atau menokohkan diri sendiri. Suara rakyat sungguh mujarab bukan?

Kira-kira begitu data (sementara) pesta demokrasi yang sudah bisa kita lihat. Warga sekampung ramai-ramai jadi caleg aneka partai di satu dapil. Mereka sekeluarga- serumpun. Mengail ikan di kolam yang sama; jaringan keluarga, kolega dan sahabat. Tidak masuk akal tapi tak ada yang mau mengalah. Semua egois, semua nekat. Hasilnya gigit jari sendiri. Urut dada yang sesak berdesak memikirkan duit dan energi yang telah terkuras. Sekarang mereka menatap orang lain menggenggam tiket Dewan. Bergumam diam-diam, ah seandainya... seandainya 9 April lalu suara warga sekampung-sekomunitas diarahkan pada salah satu caleg saja, maka lapanglah jalannya ke gedung Dewan. Mau bilang apa, penyesalan selalu datang belakangan. 

Satu tetes kesedihan adalah gempa politik musim ini mencerai-beraikan jalinan keluarga. Famili sikut-sikutan. Kawan berbenturan. Berharap tinggi meraih kursi tanpa timbang data betapa pendukung terbatas jumlah. Tidak mesti ahli statistik atau pakar matematika untuk tahu berapa suara DPT yang bisa direbut dalam satu dapil. Bius kuasa dan jabatan sungguh membutakan hati dan otak. Saudara bersaudara bertarung. Bertarung secara tidak fair dengan hasil sama-sama gagal. 

Gagal karena suara terbagi merata. Biar kecil-kecil asal semua dapat bagian. Harga kursi Pemilu 2009 pun "murah meriah". Di level DPRD Kabupaten/Kota cukup mengoleksi dua ratus lima puluh hingga tiga ratus suara sudah masuk titik aman dan berpeluang besar menyandang sapaan wakil rakyat yang terhormat.

Partai banyak bikin gara-gara. Tak bakal ada lagi mayoritas dalam tubuh Dewan lima tahun ke depan. Paling tinggi satu atau dua partai yang dapat membentuk fraksi sendiri. Yang lain wajib bergabung karena umumnya cuma bermodalkan satu dua kursi. Dunia persilatan lidah dan lobi di legislatif kita bakal lebih seru. Seribu satu jurus bakal beradu. Suara-suara akan semakin riuh. Pilkada berikut akan kena dampaknya. Kita akan menyaksikan pentas politik seribu rasa. Ramai rasanya!

Kita syukuri jika sungguh terjadi semakin banyak wajah segar di parlemen, entah kabupaten, propinsi maupun di Senayan. Setidaknya itu bermakna ada regenerasi- kaderisasi. Yang muda menggantikan Pak Tua. Mengambil posisi mereka yang sudah dua tiga periode menyandang wakil rakyat. 

Bahaya wajah baru cuma satu. Minim pengalaman. Masih polos-perawan. Belum paham lebatnya rimba raya parlemen, masih gelap peta persilatan legislator.  Namun, seiring berjalannya waktu tuan dan puan akan tahu jua. Tak butuh waktu lama bagi wajah baru untuk beradaptasi. Enam bulan cukup. Akan kelihatan idealismenya masih perawan atau jebol amat lekas. Wajah segar bugar tahun ini, tahun depan mulai kelihatan bopengnya. Tahun pertama tuan dan tuan dapat membedakan mana ular, mana merpati. Siapa preman, siapa pemikir, siapa punya otak, siapa asal omong, siapa bermutu, siapa sekadarnya saja. 

Empat hari silam beta terima surat elektronik dari seorang sobat. "Apa kado terindah bagimu sebagai warga Kota Kupang?" tanya si kawan di milis pertemanan kami. Dia buru-buru menjawab sendiri. "Kado terindah adalah listrik makin sering padam, air bersih masih sulit, sampah bung urus sendiri kan? Kemana gerang para wakilmu yang terhormat?" 

Beta mau jawab apa? Toh kawanku yang kupilih lima tahun lalu masih merapat ke KPU. Melihat-lihat angka, bertanya-tanya selalu: lolos atau tidak? Sekonyong- konyong syair lagu lama terngiang nyaring di kuping kiri, lima tahun sekali baru mereka ingat rakyat! (dionbata@poskupang.co.id)

Pos Kupang edisi Senin, 27 April 2009 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes