Alorawe

Menunggu sekantung raskin
Tidur di jalan berhari-hari


ALORAWE yang tidak terkenal itu sontak menghentak dan menggugat. Menggugat kebijakan sinterklas yang ditempuh pemerintah dengan rasa bangga selama ini melalui program beras untuk keluarga miskin (raskin) dan bantuan langsung tunai (BLT).

Alorawe sekadar berita kecil harian ini edisi 4 Juni 2009. Berita yang mungkin tak sempat dikecapi isinya oleh tuan dan puan. Berita itu tak memiliki daya ledak tinggi di tengah hingar-bingar pesta politik jelang pemilu presiden-wakil presiden.


Sayang betul jika tuan tak sempat membaca kisah Alorawe. Warta kecil itu sungguh menikam jantung Flobamora yang sedang gairah bergerak kembali ke pangan lokal. Alorawe menggegerkan penghuni rumah Flobamora, betapa kita telah jauh tersesat. Tersesat hingga tak sadar telah berada di bibir jurang kerapuhan!

Beta kisahkan ulang tentang Alorawe kepada tuan dan puan. Alorawe itu nama sebuah desa di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga desa itu yang masuk daftar penerima raskin rela berhari-hari 'menginap' di pinggir jalan menunggu truk Bulog yang biasa mengantar raksin untuk mereka. Penantian mereka selama empat hari pada akhir Mei 2009 berakhir dengan kekecewaan karena truk Bulog yang ditunggu tak kunjung tiba.

Kenyataan itu direspons Kepala Desa Alorawe dengan cara melaporkan kepada atasannya, Camat Boawae, Emanuel Ndun. Camat tidak mengingkari peristiwa itu. Dia menjelaskan, Desa Alorawe merupakan salah satu desa terpencil di wilayah Kecamatan Boawae. Lokasi desa itu terisolir karena belum ada jalan raya ke sana. Satu-satunya cara mencapai Alorawe dengan jalan kaki. 

"Untuk sampai ke desa itu harus menempuh perjalanan sulit, jalan kaki naik turun gunung selama satu jam lebih. Kendaraan roda dua dan roda empat belum bisa sampai ke Alorawe," kata Emanuel Ndun yang ditemui wartawan 1 Juni 2009 lalu. Menurut Ndun, kendala transportasi itu tidak menjadi alasan bagi Bulog untuk mengabaikan warga Desa Alorawe yang berhak mendapat raskin. 

Bulog tetap memenuhi kewajibannya tetapi hanya bisa mengantar beras sampai ke pinggir jalan raya yang telah disepakati dengan warga dan aparat pemerintahan Desa Alorawe. Jika tiba jadwal pembagian raskin, masyarakat Alorawe ramai-ramai turun gunung dan menunggu di titik ruas jalan yang telah disepakati tersebut. 

Nah, ketika tiba jadwal penyaluran raskin bulan Mei 2009, mereka kembali menunggu di ruas jalan itu namun raskin belum datang jua. Mereka kecewa! Sebagai camat, Emanuel Ndun berharap Bulog tepat waktu menyalurkan raskin kepada warga Desa Alorawe. "Bayangkan kalau warga desa menunggu di pinggir jalan selama berhari- hari untuk mendapat raskin. Wajar jika masyarakat kecewa karena telah membuang waktu dan pekerjaan berhari-hari," demikian Ndun. Beta yakin Bulog pasti memenuhi kewajibannya. Mungkin ketika tuan dan puan membaca tulisan ini, masyarakat Alorawe bahkan telah menerima hak mereka.
***

TEMANKU, seorang anggota DPRD yang mengenal dekat masyarakat Alorawe memberi catatan menarik. Menurut dia, meski terpencil warga Alorawe adalah masyarakat mandiri. Mereka punya pangan lokal yang cukup, punya ternak, tinggal di tepi sungai yang kaya ikan dan udang. Warga Alorawe terkenal sebagai pemburu tradisional yang piawai. Jarang terdengar warta kurang gizi dari sana. "Nah kalau sekarang mereka tergantung BLT dan raskin, mereka kena penyakit ketergantungan. Ini fenomena aneh dan mengkhawatirkan," kata sobatku itu.

Beta setuju dengan pandangan itu. Alorawe dalam kisah ini sekadar contoh kasus. Kiranya banyak kejadian serupa di daerah lain NTT. Masyarakat kita yang dulu mandiri telah terjangkit "penyakit" ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar. Program pemerintah seperti BLT dan raskin menyempurnakan ketergantungan itu. Dan, pangan telah dimengerti sekadar beras. Identik dengan beras! Makan tanpa nasi dianggap belum makan. 

Kecuali beberapa daerah lahan basah yang subur seperti Sumba bagian barat, Flores barat, pesisir utara Flores serta beberapa kawasan di Pulau Timor, makanan pokok mayoritas rakyat NTT bukan beras. Sumber pangan utama rakyat NTT yang 70 persen wilayahnya merupakan lahan kering adalah jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Untuk kebutuhan sehari-hari mestinya mereka dapat menyediakan pangan lokal itu dengan memanfaatkan lahan pertanian yang ada.

Mengapa tidak terjadi? Kenapa warga Alorawe yang terkenal mandiri itu, misalnya, rela menanti raskin berhari-hari di pinggir jalan? Harap maklum. Bertahun-tahun NTT "dipaksa" secara sistemik untuk bergantung pada beras. NTT diciptakan menjadi pasar beras yang menguntungkan daerah kaya beras. Sembilan puluh persen beras yang dikonsumsi warga NTT didatangkan dari luar propinsi. Belum terlihat keberanian untuk menolak atau membatasi pasokan dari luar agar pangan lokal kembali mendapat tempat terhormat di kampung sendiri. Program sinterklas memang tumbuh subur dan berbiak girang di beranda Flobamora. Rasa malu disebut miskin kini hampir tidak ada lagi!

Pekan lalu kita kembali mendengar berita klasik. Dalam tahun 2009, Propinsi NTT mengalami defisit beras 139 ribu ton. Kekurangan itu akibat gagal panen, hama dan bencana alam. Tapi bersamaan itu tersiar warta gembira yang juga klasik. Tahun ini NTT surplus jagung 357 ribu ton, umbi-umbian 180 ribu ton dan kacang-kacangan 10 ribu ton. NTT surplus pangan non-beras, lalu mengapa rakyat tidur di tepi jalan berhari-hari menanti beras berlabel raskin? Tekad menuju "propinsi jagung dan propinsi koperasi" mestinya tidak sekadar omong-omong lagi. Kini saatnya aksi, aksi dan aksi bung! (dionbata@poskupang.co.id)

Pos Kupang edisi Senin, 8 Juni 2009 halaman 1

Rekahan di Fatuleu Sepanjang 12 Km

KUPANG, PK -- Rekahan tanah akibat pergeseran kulit bumi yang terjadi di wilayah Kecamatan Fatuleu- Kabupaten Kupang, sudah mencapai sekitar 12 kilometer mulai dari Desa Oebola Dalam sampai ke wilayah Bipolo. 

Bergesernya tanah sejak Februari 2009 itu, sejauh ini sudah menimbulkan longsor di beberapa tempat, termasuk Desa Tolnaku yang merusak rumah-rumah penduduk dan memaksa warga setempat mengungsi.

Pantauan Pos Kupang, Jumat (5/6/2009) di Dusun I Pua'ana, terlihat rekahan yang memanjang dari utara ke selatan. Menurut warga setempat, tanah dengan kemiringan sekitar 10-15 derajat itu terus bergerak. Awalnya menimbulkan retakan kecil namun makin lama makin lebar dan dalam membentuk rengkahan. Lempengan wilayah yang bergerak turun itu membuat batu-batu berpindah tempat, pohon-pohon mulai miring dan ada yang sudah tumbang. Di beberapa titik terlihat seperti longsor.

Kerusakan paling parah terjadi pada pemukiman warga. Di Dusun Pua'ana itu terdapat 26 rumah warga yang hancur akibat longsoran, satu di antaranya tertimbun tanah. Gedung Gereja Kemah Injil Koinonia Pua'ana bahkan bergeser dari tempatnya semula, sejauh sekitar 100 meter dan ambruk rata tanah. Warga setempat sudah mendapat bantuan tenda guna membangun tempat darurat untuk ibadah.

Bentangan longsor yang memanjang dari utara ke selatan nampak berada persis di tengah-tengah tiga batuan besar masing-masing batu Nekon, Bolbesi dan Fatumonas. Di kaki batu-batu ini merupakan hulu dari longsoran itu. Longsoran ini bisa mengancam warga hingga wilayah Bipolo dan sekitarnya. 

Di Desa Tolnaku, luas wilayah longsoran mencapai sekitar 400 meter persegi dan tidak lama lagi lokasi pemukiman itu hanya tinggal kenangan. Tidak bisa dihuni lagi karena porak poranda. Sejauh mata memandang, kampung yang yang dulunya dipenuhi rumah warga dan tanaman pekarangan maupun perkebunan lainnya, kini tersisa puing-puing.

Sementara di Desa Oebola Dalam, rengkahan tanah dan longsor di beberapa titik sudah "mengobrak-abrik" ratusan pohon jati milik warga. Longsor dan rengkahan tanah sudah membentuk genangan air seluas 50-60 meter persegi. Air yang tergenang dalam longsoran itu tetap keruh meski tidak ada hujan.

Belahan-belahan tanah yang pecah itu tidak beraturan dengan lebar pecahan atau keretakan mencapai 1-2 meter dan dalam 1,5 meter. Tepat di antara longsoran itu terdapat sebuah sungai yakni Sungai Fatutasu. Alur sungai ini sebagian sudah tertimbun bongkahan tanah yang runtuh.


Pergerakan tanah itu pun mengakibatkan dataran di bawahnya yang selama ini dipakai untuk areal persawahan, muncul gundukan tanah baru. 

Warga sudah mengungsi dari rumah mereka yang sudah rusak dan kini mereka membuat rumah darurat berdinding bebak dan atap daun lontar dengan ukuran 5 x 4 meter persegi. 

Camat Fatuleu, Batarudin Rosna yang ditemui terpisah meminta warga tetap waspada. "Pantauan kami terakhir, longsor sudah mencapai 10 sampai 12 kilometer," kata Rosna. (yel)


Sehari Bergeser 1 Meter

DUSUN Puaana di Desa Tolnaku dihuni 117 warga. Wilayah dusun itu, mungkin akan tinggal nama. Rumah- rumah tinggal puing. Pepohonan pada miring sana-sini di sela-sela bebatuan dan bongkahan tanah yang longsor.
Kini semua warga sudah pindah. Dalam trauma dan was- was mereka memetik hikmah bencana itu. Bahkan warga menyatakan syukur karena longsor tidak terjadi sekejab. Mereka yakin itu adalah campur tangan Tuhan.

"Kalau Tuhan tidak tolong kami maka saat kejadian itu kami semua pasti meninggal, namun rencana Tuhan begitu indah sehingga kami bisa luput dari bencana itu," kata

Fredik Mau kepada Pos Kupang di lokasi pemukiman baru. Di sana, warga secara gotong royong membuat rumah sangat sederhana untuk tinggal.

"Kalau saat itu longsor datang satu kali dengan cepat maka tidak tahu apakah kita masih bertemu atau tidak," katanya. 
Karena tanah yang tadinya hanya retak kemudian timbul rengkahan, katanya, maka warga berkesempatan mengevakuasi barang-barang mereka dari dalam rumah untuk dipindahkan ke tempat yang aman.

Longsor pertama kali terjadi pada hari Kamis 12 Juni 2009. Longsor terjadi pada malam hari dan tidak disadari warga. Keesokan pagi sampai siang, warga terperangah karena tanah semakin bergerak turun, bergeser dan mulai timbul rengkahan. Pohon-pohon mulai terlihat miring, tanah mulai runtuh. Warga bergegas memindahkan barang-barangnya, termasuk ternak.

"Saya akhirnya membuat tanda dengan menancap batang kayu di sekat bibir retakan tanah. Satu hari saya lihat retakan makin mendekati kayu dan dua hari kemudian sudah mencapai kayu yang saya tanam itu. Akhirnya saya tempatkan patok lagi dengan jarak enam meter dan pada hari keenam pergeseran lempengan tanah yang longsor itu sudah mencapai patok tersebut sehingga saya perkirakan dalam satu hari pergeseran itu mencapai satu meter," jelasnya.

Benyamin Kono dan Gabriel Kase, dua warga setempat, menuturkan, warga bersyukur kepada Tuhan karena bencana yang menimpa mereka tidak sama seperti tanah longsor di tempat lain yang terjadi begitu mendadak dan singkat sampai menelan banyak korban jiwa.

Keduanya mengatakan, kejadian yang sama pernah dialami tahun 1975 silam namun itu akibat gempa bumi.

Sungai Bawah Tanah
Longsoran yang terjadi di Desa Oebola dalam dan Dusun Nunpisa Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang karena adanya pergeseran kulit bumi. Pergeseran itu, menurut data base yang ada di Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) Jakarta, akibat kondisi tanah yang pada lapisan atasnya berupa batu kapur dan di bagian bawahnya terdapat tanah lempung yang berupa rongga-rongga. 

Melalui rongga-rongga tanah itu ada aliran air atau sungai di bawah tanah. Kemungkinan longsoran terjadi karena adanya amblasan pergeseran bebatuan disebabkan karena ada sungai di bawah tanah. 

Demikian Kepala Bagian Sosial Kabupaten Kupang, Dominggus Bulla, kemarin, mengutip penjelasan tim peneliti dari Badan Geologi Nasional Bandung yang telah meneliti wilayah yang saat ini terkena longsor. Bulla mendampingi tim peneliti itu saat berada di lokasi penelitian di daerah block sistim atau daerah patahan, termasuk di Desa Oebola dan Dusun Nunpisa Kecamatan Fatuleu.

Bulla menjelaskan, longsor di Oebola dan Dusun Nunpisa itu tidak ada korban jiwa. Warga mengalami kerugian antara lain rusaknya rumah dan harta benda lainnya. "Saat ini semua warga telah di pindahkan ke tempat pengungsian," katanya.

Panjang longsoran, katanya, diperkirakan mencapai 10 - 14 km. Sedangkan panjang patahan bisa mencapai puluhan kilometer. 

Sesuai penjelasan tim peneliti, katanya, tanah akan terus bergerak dan diikuti longsoran. Bila longsoran terus terjadi maka, 63 KK atau 240 jiwa yang tinggal di Dusun IV Kiusak, Desa Oelatimo Kecamatan Kupang Timur, juga akan terancam. "Saat ini lokasi bencana tanah longsor sudah sampai di perbatasan antara Kecamatan Fatuleu dan Kecamatan Kupang Timur dan kecamatan Amfoang Tengah," katanya. 

Ditanya tentang bantuan yang sudah diberikan Bulla mengatakan, Pemkab telah memberikan bantuan yang sifatnya darurat yakni 500 kg beras 300 kg kacang hijo. Sedangkan, bantuan jangka panjang yang sangat dibutuhkan yakni sarana dan prasarana, relokasi serta sarana air bersih.

Bulla mengimbau kepada warga di sekitar daerah bencana agar tidak membaut pemukiman baru di sekitar wilayah longsoran. Apabila hujan, warga dilarang melintas di kawasan yang labil karena sesewaktu akan runtuh. (yel/den)

Pos Kupang 6 Juni 2009 halaman 1 

Laut Jadi Andalan Kabupaten Sabu

SEBA, PK -- Pembangunan sektor kelautan akan menjadi salah satu prioritas Kabupaten Sabu Raijua. Potensi kelautan seperti ikan dan rumput laut menjadi andalan di kabupaten yang baru diresmikan 26 Mei 2009 di Jakarta itu.

Penjabat Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly mengatakan itu kepada wartawan di Seba, Jumat (5/6/2009). 

Dengan prioritas di sektor kelautan itu, katanya, maka dari selapan dinas dan lima badan yang akan dibentuk, salah satunya adalah Dinas Perikanan dan Kelautan yang akan menjadi motor penggerak. Selain itu sektor pendidikan dan kesehatan juga menjadi prioritas.

"Struktur yang telah saya rancang sederhana, efisien dan efektif. Dinas yang lain seperti pekerjaan umum, pertanian dan perkebunan juga masuk dalam rancangan saya," ujar Tobias.

Dia juga mengatakan akan fokus pada kebutuhan listrik dan transportasi. Uly mengatakan sudah memanggil manager PLN Ranting Sabu untuk menyampaikan pentingnya kebutuhan listrik. Menurut penjelasan manajer PLN, katanya, salah satu gardu listrik yang jebol akan segera diperbaiki.

"PLN hanya menyalakan listrik pada malam hari, sedang pada siang hari semua jaringan listrik di Pulau Sabu dipadamkan. Bagaimana untuk membangun Sabu Raijua ke depan dengan kondisi listrik macam ini," keluh Kire Buli, seorang tokoh masyarakat Sabu.

Dia meminta penjabat bupati segera menyelesaikan masalah ini.Selain masalah listrik, wilayah yang baru mekar dari Kabupaten Kupang itu juga mengalami masalah transportasi. Hampir seluruh jalan di Kota Seba maupun kecamatan-kecamtan lainnya sangat memprihatinkan karena kondisinya rusak berat. "Kondisi ini juga jadi perhatian utama kami ke depan," tegas Uly.

Bantuan dari pemkab induk dan propinsi sebesar 10 miliar akan digunakan untuk penataan kelembagaan dan pembangunan awal termasuk rencana membangun depot pertamina untuk memenuhi kebutuhan BBM yang juga sering bermasalah di pulau terluar NTT itu. (aa/ant)

Pos Kupang 6 Juni 2009 halaman 1

Longsor di Fatuleu, 117 Warga Dipindahkan

KUPANG, PK --- Sebanyak 31 kepala keluarga (KK) atau 117 warga Dusun I, Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, dipindahkan ke pemukiman Fatukoto di wilayah setempat akibat tanah longsor yang terjadi di wilayah itu sejak Februari lalu sampai sekarang. 

Warga yang terkena longsor membangun rumah darurat di Fatukoto. Tanah longsor juga menyebabkan ratusan tanaman perkembunan milik warga rusak. Sampai Kamis (4/6/2009), masih ada sembilan KK yang bertahan di lokasi longsoran.

Fredik Mau, salah satu korban bencana longsor yang ditemui Pos Kupang di sekitar lokasi pemukiman, Kamis (4/6/2009) sore, mengatakan, tanah longsor yang terjadi di desa mereka itu sudah berlangsung sejak Februari lalu dan sampai sekarang masih terus terjadi. 

Menurut Mau, para korban semuanya adalah petani yang kebanyakan memiliki rumah semi permanen dan semuanya rusak akibat tanah longsor tersebut. 

"Yang kami heran longsoran itu terjadi bukan saja musim hujan tetapi pada saat sekarang juga masih terjadi sehingga kami pindah ke Fatukoto. Di sana kami buat rumah darurat dari daun lontar untuk tinggal," kata Mau.

Dia menuturkan, awalnya tanah longsor mengancam 26 rumah warga dan satu bangunan gereja. Kini semua rumah warga itu sudah tidak dihuni lagi karena sudah rusak dan warga takut. Gereja itu pun sudah tidak dipakai lagi.

" Dua puluh enam rumah itu milik 31 KK itu. Mereka semua sudah pindah ke lokasi yang tidak terlalu jauh dari pemukiman yang terkena longsoran sebelumnya. Sampai sekarang kami semua yang mengungsi sekitar 117 orang. Sedangkan ada sembilan KK lagi yang masih bertahan di lokasi longsoran itu," katanya. 

Mau juga mengakui, lokasi tempat mereka direlokasi itu hanya berjarak sekitar 1,5 km saja dari lokasi pemukiman mereka yang terkena longsoran sehingga mereka masih dilanda was-was. Mereka khwwatir longsoran akan meluas dan menjangkau tempat mereka direlokasi.

Dia mengatakan, tidak ada korban jiwa akibat bencana tersebut. Hanya masyarakat menderita kerugian material antara lain kerusakan rumah dan tanaman perkebunan serta rumah ibadah.

"Lokasi yang kami tempati baru itu memang agak dekat, hanya saja kita perkirakan jika longsoran terjadi dari titik utama longsoran atau di pemukiman lama maka kemungkinan agak sulit untuk sampai ke pemukiman baru itu," tuturnya.


Ketua RW V Desa Oebola Dalam, Charles Utan yang ditemui di kediamannya kemarin petang, membenarkan terjadinya longsoran yang sudah berlangsung di wilayah desa tetangganya itu. 

Dia menyebut kejadian longsoran itu sebagai kejadian yang aneh karena tidak hanya terjadi pada musim hujan namun terjadi juga pada musim kemarau saat ini. Bahkan, katanya, dalam satu minggu bisa dua kali terjadi longsor. Kadang satu bulan hanya satu kali terjadi longsor.

Pantauan Pos Kupang, lokasi longsor yang terjadi di wilayah Tolnaku memanjang hingga ke Desa Oelatimu, Kecamatan Kupang Timur. Longsoran juga terjadi di perbatasan antara Desa Tolnaku dan Desa Oebola Dalam, Kecamatan Fatuleu Barat. Beberapa titik longsoran cukup parah. Di salah satu titik longsor terlihat tanaman perkebunan dan kayu jati milik warga ikut ambruk. Longsor memanjang dan luasnya mencapai sekitar 500 meter persegi. Di bawah bentangan longsoran ini terdapat Sungai Lubus. (yel)

Selalu Terjadi pada Jam Enam

JALAN menuju Desa Oebola Dalam di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, adalah jalan berbatu dan sebagiannya berupa jalan tanah. Desa dengan ratusan penduduk itu pada Kamis (4/6/2009) petang, bagai wilayah tak bertuan. Rumah-rumah yang terdapat di sisi kiri dan kanan jalan seperti tidak berpenghuni. Jarak antara satu rumah dengan yang lainnya sekitar 50 meter hingga 100 meter.

Cahaya matahari senja yang kian suram menjemput malam menambah seram suasana sepi di desa itu. Warga enggan keluar rumah karena hari menjelang malam. Desa itu belum terjangkau aliran listrik sehingga warga hanya mengandalkan lampu dari minyak tanah untuk penerangan malam.

Desa ini bertetangga dengan Dusun I, Desa Tolnaku yang tertimpa tanah longsor sejak Februari sampai sekarang. Kejadian longsor di desa tetangga itu dianggap aneh karena tidak hanya terjadi pada musim hujan tetapi terjadi pula pada musim kemarau saat ini. Tak heran, warga merasa was-was, apa gerangan yang sedang atau akan menimpa wilayah mereka.

Apalagi titik utama longsor di Desa Tolnaku itu telah memicu munculnya beberapa titik longsor dan rengkahan atau tanah terbelah di beberapa desa tetangga termasuk Desa Oebola Dalam. Untuk mencapai lokasi longsoran tepatnya di perbatasan wilayah Kecamatan Fatuleu Barat dan Kecamatan Fatuleu, harus ditempuh dengan berjalan kaki, kecuali melalui wilayah Oelbitena yang jalannya bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Kemarin sore, Kamis (4/6/2009), Pos Kupang mengajak beberapa warga untuk pergi melihat langsung wilayah longsoran. Namun warga enggan karena takut. Menurut mereka, longsor selalu terjadi pada jam enam, pagi maupun sore hari. Itu sebabnya pada sore hari menjelang pukul 18.00 Wita, tidak ada lagi warga yang berani keluar rumah. Mereka takut ikut terjerembab saat tanah longsor.

Salah satu warga, Marthen Padama, akhirnya bersedia menemani Pos Kupang ke lokasi tanah longsor setelah diberi "uang jasa". Padama tidak bisa menyembunyikan rasa was-wasnya saat menemani Pos Kupang. Setelah berjalan kaki beberapa lama, tibalah kami pada lokasi terjadinya tanah longsor di wilayah Tolnaku. Longsoran memanjang hingga ke Desa Oelatimu, Kecamatan Kupang Timur. 

Dalam perjalan Padama pun nampaknya tergesa-gesa, namun Pos Kupang tetap memberi pengertian, tidak akan mendekati titik longsoran apabila ada tanda-tanda longsor. Ketakutan Padama dan warga lainnya di wilayah beralasan karena sejak 12 Februari 2009 sampai saat ini, tanah longsor selalu terjadi pada jam enam pagi atau sore. Warga setempat selalu diliputi was-was akan terjadinya longsor susulan.

Ketua RW V, Desa Oebola Dalam, Charles Utan membenarkan bahwa tanah longsor yang terjadi di desa tetangga hingga meluas sampai ke sebagian wilayah mereka itu terjadi sejak Februari. 

"Longsoran yang terjadi ini memang agak aneh karena terjadi bukan saja saat hujan tapi saat ini pun masih terjadi. Kita tidak bisa tahu persis kapan longsor itu terjadi, karena bisa saja dalam satu minggu itu satu kali atau dua kali, bahkan bisa juga dalam satu bulan satu kali. Warga di sini sangat heran, kenapa selalu terjadi pada jam enam," katanya.

Apapun gejala alam yang sedang terjadi di wilayah itu, yang jelas warga setempat membutuhkan pertolongan. 
(yakobus lewanmeru)

Pos Kupang 5 Juni 2009 halaman 1

Udo Sae

UDO Sae atau Udo Hae. Nama ini tidak asing lagi di telinga masyarakat Ngada. Yaitu tempat menyimpan jagung, ketika para petani selesai memanen. Maklum, sebagian besar masyarakat Ngada berprofesi sebagai petani ladang. 

Menurut tradisi orang Ngada, rajin tidaknya seorang petani dalam sebuah kampung dilihat dari besar kecilnya Udo Sae. Sebab, tempat berupa pancangan tiang dari bambu ini dibuat tepat di depan rumah. Beberapa bambu bulat dipancang di dalam tanah. Masing-masing tiang berjarak antara setengah meter hingga satu meter. 

Setelah bambu ini pancang, bagian tengahnya dilubangkan dan dipalang dengan belahan bambu kecil yang dinamakan lat. Biasanya dibuat beberapa tingkat supaya kuat. Besar kecilnya Udo Sae tergantung hasil panen dan luas kebun masing-masing petani atau banyaknya kebun si petani. 

Jagung yang sudah tua dibuka kulitnya beberapa lembar dan diikat (peti) satu dengan yang lainnya. Supaya seimbang satu ikatan dibuat tiga-tiga batang. Saat jagung dipanen (rewa sae) biasanya tuan kebun mulai mengundang tetangga atau kerabat dekatnya untuk sama-sama mengikat (peti sae). 

Udo Sae biasanya dibuat secara gotong royong. Tradisi nenek moyang ini memang masih kita dapatkan saat ini di sebagian besar masyarakat Ngada, terutama di desa-desa, karena penghasilan utama petani di Ngada adalah jagung (sae). Orang akan segera mengambil kesimpulan bahwa musim ini lapar atau kenyang, hanya dengan melihat banyak atau besar tidaknya udo yang dibuat masing-masing petani. Jagung disimpan di udo juga lebih tahan lama, meskipun cuaca panas atau terkena hujan pada musim hujan, apalagi kalau udo dibuat dengan sedikit ritual yang baik oleh pemiliknya. Ritual biasanya menggunakan sedikit darah ayam yang dioleskan di tiang-tiang bambu. Jika dibuat ritual demikian, jagung disimpan di udo tersebut tidak akan rusak. 

Tiga tahun lalu (2006), ketika cuti dan pulang kampung, saya mendapatkan masyarakat di desa saya, Ube Dolo Molo, Kecamatan Bajawa, sudah sangat sedikit membuat udo sae. Tidak tahu apa alasannya. Tapi, kalau dirunut lebih jauh, masyarakat sudah semakin maju. Jagung yang dipanen biasanya langsung diluruh (pula) untuk dikeringkan dan dijual semuanya, untuk membeli beras atau kebutuhan rumah tangga lainnya. 

Kalaupun tidak dijual, jagung yang sudah diluruh dan dikeringkan ini biasanya dimasukkan ke dalam karung atau drum yang disimpan di rumah. 

Ya, zaman memang semakin maju, individualisme mulai nampak, orang cenderung bekerja sendiri-sendiri. Apalagi, pekerjaan untuk mengikat jagung juga butuh banyak orang dan harus mengeluarkan biaya banyak untuk orang-orang yang mengerjakannya. Saat ini masyarakat yang mulai terkontaminasi dengan kemajuan di perkotaan tidak mau lagi bekerja yang rumit-rumit. 

Mungkin juga karena bambu semakin susah didapatkan di sana. Kalaupun ada, harus dibeli dan harga satu batang bambu sudah mencapai Rp 15 - 20 ribu/batang. 

Untuk membuat udo, dibutuhkan minimal lima atau enam batang. Belum lagi harus mencari bambu dan kebun-kebun bambu di Ngada biasanya di gunung. Bayangkan saja, kalau harus ke gunung, menebang dan memikul bambu-bambu tersebut ke kampung dengan jalan yang berliku-liku dan mendaki. Mungkin ini salah satu alasan, mengapa petani di kampung saya lebih suka menyimpan jagung di karung-karung setelah diluruh daripada harus menyimpan di udo.

Dulu, ketika jagung masih disimpan di udo, banyak hal yang didapatkan. Selain jagung bisa disimpan lama dan hanya akan diambil atau diturunkan ketika musim lapar atau musim panen berikutnya, rasa jagung juga terasa lebih manis dan empuk dibandingkan dengan jagung yang diluruh, dikeringkan dan disimpan di dalam karung atau drum. 

Menyimpan jagung di udo juga bisa meningkatkan rasa persaudaraan dan kegotongroyongan di antara warga kampung. Susah atau kesulitan satu orang menjadi susah bersama di kampung tersebut. (Apolonia Mathilde Dhiu)

Pos Kupang edisi Sabtu, 6 Juni 2009 halaman 10

Gubernur NTT Cuti untuk Menangkan Mega

KUPANG, PK -- Ketua DPD PDIP NTT, Drs. Frans Lebu Raya menyatakan siap cuti dari tugasnya sebagai Gubernur NTT, berkampanye memenangkan Mega- Prabowo di NTT. 

"Saya akan mengajukan cuti untuk kampanye memenangkan Mega-Prabowo di NTT. Itu tanggung jawab saya sebagai ketua partai. Tapi saya juga punya tanggung jawab terhadap kesejahteraan seluruh rakyat NTT. Jadi saya ajak seluruh rakyat NTT memenangkan Mega-Prabowo," kata Lebu Raya saat deklarasi pasangan Mega-Prabowo dan pengukuhan tim pemenangan paket itu di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Oeba, Rabu (3/6/2009). 


Lebu Raya mengatakan, pasangan Megawati-Prabowo adalah pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sangat peduli terhadap rakyat kecil.

"Mega-Prabowo juga secara tegas menyatakan mendukung keutuhan NKRI dan Pancasila. Ketegasan ini memang kita tunggu-tunggu sehingga tidak berspekulasi mengenai ideologi yang bakal diemban pasangan calon presiden ke depan," kata Lebu Raya.

Menurut Lebu Raya, ketika Megawati menjadi Presiden RI selama 2,5 tahun, ia telah melakukan banyak hal, misalnya gaji PNS ke-13. "Ibu Mega tidak pernah mempersoalkan bantuan langsung tunai, tetapi cara merealisasikan bantuan, yang melibatkan ratusan orang saling berdesak-desakan sampai ada yang meninggal dunia memang patut disoroti," kata Lebu Raya.

Dalam pemilu presiden 2004, Megawati menang 72 persen di NTT berarti dukungan suara seperti ini harus dipertahankan saat Pilpres nanti. Megawati memiliki komitmen memperhatikan rakyat miskin dan tertinggal bila didukung rakyat NTT. NTT akan mengalami perubahan besar bila Megawati menang dalam Pilpres.
Lebu Raya menyampaikan, Mega-Prabowo merupakan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang pro rakyat. Pasangan ini tak mungkin menjual bangsa dan daerah ini untuk memperkaya diri, sehingga sangatlah keliru kalau masyarakat tak memilih Mega-Prabowo pada Pilpres nanti.

"Saya minta tim pemenangan untuk merapatkan barisan dan merumuskan strategi guna memenangkan Pilpres. Kemenangan itu bukanlah untuk memperkuat kekuasaan tapi memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.

Acara deklarasi dan pengukuhan tim pemenangan paket Mega-Prabowo itu dihadiri pedagang kecil, kaum buruh, petani dan nelayan.

Ketua DPD Gerindra NTT, Libert Samuel Foenay yang didaulat melantik tim pemenangan pemilu mengajak semua komponen untuk bersatu memenangkan Mega-Prabowo di NTT. 

Acara deklarasi itu ditandai dengan pelepasan enam ekor burung merpati, pembacaan pernyataan sikap dukungan dari unsur petani, buruh pelabuhan, nelayan, pedagang pasar dan ojek. Juga dilakukan penandatanganan dukungan kader, simpatisan dan relawan secara sukarela pada selembar kain putih. Ini bermakna bahwa dukungan yang diberikan tersebut dengan ketulusan.

Hadir pada kesempatan itu, ribuan kader dan simpatisan PDIP dan Gerindra, Walikota Kupang, Daniel Adoe, tokoh masyarakat Sumba Timur, Lukas Mbadi Kaborang, serta pimpinan partai politik dan kader parpol pendukung Mega-Prabowo.(gem/aa)

Pos Kupang 4 Juni 2009 halaman 1

Lima Mesin PLN Tiba di Kupang

KUPANG, PK -- Lima unit mesin pembangkit listrik milik PT Vinarindo Wiranusa Elektrik yang akan disewa PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Kupang untuk mengatasi krisis daya listrik, sudah tiba di Kupang. Lima mesin tersebut memiliki kapasitas 3 megawatt (MW) dan diharapkan bisa mengatasi krisis listrik yang selama ini terjadi.

Operator PT Suntraco, Marthen Lenggu yang ditemui di Pelabuhan Tenau, Selasa (02/6/2009), menjelaskan, kelima mesin yang akan dirental oleh PT PLN Cabang Kupang itu dibawa ke Kupang dengan tiga kapal laut, yakni KM Alken Pemuda pada 26 Mei, KM Catleya pada 27 Mei dan tiga unit yang terakhir dibawa ke Kupang dengan KM Dandelion pada 1 Juni 2009.

"Empat unit sudah dibawa ke PLTD Tenau," ujar Lenggu. 
Humas PLN, Paul Bolla yang ditemui di kantor PLN Wilayah NTT mengatakan bahwa ada beberapa upaya yang sudah dilakukan PLN untuk mengatasi krisis listrik yaitu, perbaikan satu unit mesin Nigata yang mengalami kerusakan pada turbo, serta mesin caterpilar yang mengalami kerusakan pada generator. Upaya lainnya adalah rental mesin dengan daya 10 MW. "Tahap pertama ini sudah datang lima unit mesin dengan total kapasitas sebesar tiga megawatt. Lima mesin itu milik PT Vinarindo Wiranusa Elektrik," ujarnya. 

Bolla menambahkan, kontrak dengan PT Vinarindo sebesar 6,5 MW tetapi untuk tahap pertama ini sudah didatangkan lima mesin dengan kapasitas 3 MW dan sisanya akan menyusul. Kontrak lainnya dengan PT Selindo sebesar 3,5 MW. Bolla mengatakan, mesin rental tersebut berfungsi untuk membantu PLN mengatasi krisis daya. 

Saat ini, lanjutnya, PLN mengalami defisit lima MW. Karena itu kalau mesin-mesin yang baru didatangkan itu sudah selesai diinstal, maka akan sangat membantu mengurangi defisit menjadi hanya dua MW saja. Apabila kerusakan pada mesin MAK yang berkapasitas dua MW bisa teratasi maka beban puncak akan sama dengan daya mampu. "Dan jika tidak ada gangguan mesin atau gangguan jaringan maka pemadaman bisa teratasi," ujarnya. (ira)

BPK Bisa Audit PLN

BADAN Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Kupang bisa mengaudit PT PLN Wilayah NTT maupun PLN Cabang Kupang apabila memperoleh mandat dari BPK pusat. Mandat dari BPK pusat untuk mengaudit itu tergantung dari surat permintaan resmi dari DPRD NTT.

Kepala BPK Perakilan Kupang, Muhammad Yusuf Guntur mengatakan itu di ruang kerjanya, Selasa (2/6/2009). Dia dikonfirmasi terkait sikap DPRD NTT dalam rapat dengar pendapat dengan PLN NTT, Senin (1/6/2009), dimana DPRD NTT menyatakan akan mengeluarkan rekomendasi agar BPK mengaudit keuangan PT PLN di NTT.

Guntur menjelaskan bahwa audit BUMN, termasuk PLN, bukan kewenangan BPK Perwakilan Kupang. Dari tujuh unit pelaksanaan tugas auditorat utama keuangan negara (AKN), BPK Perwakilan Kupang (termasuk AKN VI) mempunyai tugas mengaudit keuangan pemerintah daerah (Pemda) yang bersumber dari APBD. Sedangkan audit BUMN termasuk tugas AKN VII.

Guntur menegaskan bahwa pihaknya tidak berkeberatan dengan rekomendasi Dewan tersebut. "Hal yang perlu diketahui publik, di BPK itu ada tujuh unit auditorat utama keuangan negara atau yang dikenal dengan sebutan AKN. BPK Perwakilan Kupang termasuk AKN VI yang kewenangan pemeriksaannya pada Pemda wilayah timur dengan sumber dananya dari APBD atau lembaga lain yang mendapat dana dari APBD," jelasnya.

Oleh karena audit BUMN termasuk kewenangan AKN VII, Guntur menjelaskan, pihaknya hanya bisa mengaudit PLN sejauh mendapat mandat dari BPK (Pusat). "Tetapi itu juga tergantung ada surat permintaan atau tidak. Kalau Dewan merekomendasikan kami audit, kami menunggu surat resminya untuk kami kirim ke pusat. Bisa jadi pusat akan minta kami audit atau biasanya kami berkoordinasi dengan AKN VII yang tugasnya mengaudit BUMN," jelas Guntur.

Guntur juga menegaskan, dari pemberitaan yang ada, ia menangkap kesan bahwa PLN di wilayah ini belum transparan. "Saya sudah mencium banyak hal yang janggal, tetapi kebenarannya nanti kami audit dulu," ujar Guntur. (dar)

Pos Kupang 3 Juni 2009 halaman 1

PLTU Ropa Punya Dua Unit Pembangkit

ENDE, PK -- Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ropa di Desa Keliwumbu Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende memiliki dua unit pembangkit, cukup untuk mengatasi kebutuhan listrik warga di wilayah Kabupaten Ende dan Sikka.

"Ada dua unit pembangkit dan pembangkit yang pertama direncanakan rampung pada bulan Februari tahun depan dan pembangkit berikutnya rampung pada bulan April tahun depan. Setelah selesai dikerjakan pembangkit kedua, maka dipastikan saat itu juga PLTU Ropa sudah bisa beroperasi," kata Site Project Reprentative (SPR) PLTU Ropa, Panca BS menjawab Pos Kupang di lokasi pembangunan PLTU Ropa, Selasa (2/6/2009). 

Rencana beroperasinya PLTU Ropa pada April 2010 itu, katanya, masih ditentukan oleh selesainya pembangunan semua tapak tower untuk kebutuhan interkoneksi jaringan ke arah Kota Ende dan seterusnya ke wilayah Kabupaten Sikka.

"Kalau tapak towernya juga telah siap maka dipastikan PLTU Ropa akan beroperasi sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan," kata Panca.

Secara teknis, papar Panca, pelaksanaan pembangunan PLTU Ropa telah mencapai 40-45 persen yang ditandai pembangunan sejumlah tiang fondasi untuk dudukan pembangkit. Sementara komponen utama pembangkit seperti generator dan turbin sudah ada di lokasi PLTU Ropa.

Panca menjelaskan PLTU Ropa menggunakan bahan bakar batu bara yang didatangkan dari Kalimantan. Dengan penggunaan batu bara secara teknis lebih menguntungkan jika dibandingkan menggunakan mesin diesel yang berbahan bakar solar. 

PLTU Ropa, katanya, akan menggunakan batu bara 289 ton/hari atau 8.670 ton/bulan atau 130.032 ton/tahun.
Selama bekerja di PLTU Ropa, dia mengakui mengalami kendala-kendala teknis seperti kesulitan pendropingan material ke lokasi proyek akibat keadaan topografi wilayah. 

"Jadi kendala teknis. Sedangkan masyarakat sangat mendukung. Memang ada kendala seperti pembebasan tanah warga, tetapi warga mendukung pelaksanaan pembangunan PLTU Rota," katanya.

Dia menegaskan bahwa kehadiran PLTU Ropa sangat penting untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi warga di dua wilayah kabupaten yaitu Ende dan Sikka.
Dia menambahkan bahwa dana yang dipakai untuk membiayai pembangunan PLTU Ropa bersumber dari APBN sebesar Rp 180 miliar. 

Disaksikan Pos Kupang di lokasi PLTU Ropa, tampak para pekerja sedang sibuk menyelesaikan pembangunan PLTU Ropa. PLTU Ropa dibangun di atas tanah seluas lima hektar. (rom)

Pos Kupang 3 Juni 2009, halaman 1

Tradisi Menangkap Ikan Paus (1)

Oleh Alfons Nedabang

BATAR. Demikian suku Fujon menamai tempat itu. Berada di bukit sekitar 1,5 Km dari perkampungan Lamalera. Untuk mencapai batar dengan berjalan kaki, butuh waktu sekitar dua jam. Waktu tempuh cukup lama karena jalannya mendaki, melintasi beberapa bukit.

Batar diyakini sebagai tempat tinggal nenek moyang suku Fujon, tuan tanah di Desa Lamalera. Dari sinilah ritual adat penangkapan ikan paus dimulai. Tempat itu diberi sesajen, diantaranya membakar tembakau, tuang tuak, menabur beras jagung giling serta memecah telur ayam. Syair adat juga mulai dikumandangkan dari tempat ini, sembari membunyikan gong.

Peserta ritual adat enam orang, dipimpin Agustinus Olak Fujon. Agus adalah generasi ketujuh suku Fujon. Lima lainnya adalah Yeremias Bala, Arnoldus Gesi, Alexander Manu, Gaspar Boli dan Marsianus Dua. Mereka adalah adik dan anak Agus Olak. 
Dari lima peserta itu, dua diantaranya memegang tombak, dan dua lainnya menenteng gong. Kepala mereka dimahkotai dedaunan. Setiap mereka memakai singlet dengan bawaannya novi (kain sarung).

Dari batar, tuan tanah berjalan satu-satu menuruni bukit, lalu berhenti di Wato Koteklema. Wato Koteklema adalah batu yang bentuknya menyerupai ikan paus. Warnanya hitam. Panjang batu itu sekitar 10 meter, dengan lebar dua meter dan tinggi sekitar 1,5 meter. Sama seperti di batar, di Wato Koteklema juga dibuat sesajen.

Perjalanan dilanjutkan menuju laut. Setiap kali perjalanan, syaratnya tidak boleh menoleh atau melihat ke belakang. Syair adat pun tetap dirapalkan Agus Olak dan disahut lainnya.

Sebelum sampai di laut, mereka berhenti di empat tempat, dua tempat diantaranya adalah rumah adat suku Fujon di Dusun Lamanu, Desa Lamalera A dan lango kelake, rumah milik suku Bataona di Desa Lamalera B, sekitar 50 meter dari pantai.

Menurut Agustinus Olak, beberapa tempat persinggahan itu merupakan tempat peristirahatan nenek moyang karena hidup mereka selalu berpindah-pindah tempat (nomaden). Di setiap tempat persinggahan, mereka makan sirih pinang sembari menenggak tuak.

Setelah sampai di pantai, empat orang menceburkan diri ke laut, sebagai ritual memanggil ikan. Sementara dua orang pemegang tombak menanti di pantai. Upacara berakhir ketika empat orang itu keluar dari laut dan berkumpul di depan Kapela Santo Petrus dan Paulus yang ada di pantai.

Seremoni adat dengan tujuan memanggil roh ikan paus, yang diselenggarakan Jumat (1/5/2009) dari pagi hingga siang itu, dikenal dengan sebutan iyegerek. Ritual ini dimulai dari gunung karena masyarakat Lamelera meyakini bahwa ikan paus sesungguhnya berasal dari gunung. Paus adalah perwujudan dari nenek moyang yang memberikan diri sebagai makanan.

Sebelumnya, Kamis (30/4/2009), juga dilaksanakan seremoni adat di lango kelake. Tujuannya untuk perdamaian. Kalau ada tutur kata, sikap dan perbuatan yang salah, termasuk perbedaan pendapat soal konservasi, diselesaikan. Permasalahan harus diselesaikan sebelum dimulainya misa arwah dan misa lefa.

Pihak-pihak yang terlibat adalah tuan tanah suku Fujon dan suku Tufan serta lika telo yang meliputi suku Bataona, Blikololong dan Lewotukan. Meski yang hadir suku Fujon dan suku Bataona, ritual adat tetap dilaksanakan, diakhiri dengan minum darah ayam.

Bagi masyarakat Lamalera, perdamaian harus terjadi sebelum dimulai penangkapan ikan paus. Jika tidak, maka akan berpengaruh pada hasil tangkapan di laut. Ada ceritra, beberapa waktu lalu, pernah terjadi perselisihan antara tuan tanah dan lika telo. Akibatnya, selama tiga tahun nelayan tidak menangkap ikan paus. Namun, setelah berdamai, hasil tangakap banyak.

Ini menandakan masyarakat Lamalera meyakini bahwa hubungan antara yang di darat dan di laut merupakan hubungan sebab akibat. Keduanya saling mendukung dan saling menentukan. Oleh karena itu, harmoni harus tercipta sebelum memasuki musim lefa atau olanua.

Prosesi ritual tradisi sebelum musim lefa ini menjadi menarik karena mendapat bentuk baru dengan upaya inkulturasi dari gereja Katolik. Setelah upacara iyegerek, digelar misa arwah di Kapela Santo Petrus dan Paulus di pantai pada Jumat (1/5/2009) sore. Jauh sebelumnya, selama tiga hari berturut-turut (27-29 April 2009) telah dilaksanakan sembayang. Masyarakat menyebutnya dengan Tridum.


Misa lefa dipimpin Rm. Bartolomeus Na Helan, Pr, pastor pembantu, dengan ujud mendoakan para nelayan yang telah meninggal. Selesai upacara ekaristi, Romo Bartol mengarahkan umat menghadap ke laut sambil memegang lilin bernyala di tangan. Bersamaan dengan itu, dibacakan nama-nama nelayan yang meninggal di laut. Perayaan misa arwah ditutup dengan penaburan bunga di laut dan pemasangan lilin. Masyarakat Lamalera percaya, jika orang yang sudah meninggal tidak diperhatikan maka arwahnya akan marah.

Di hari pelaksanaan misa arwah, masyarakat Lamalera tidak melaut. Bunyi-bunyian juga tidak terdengar. Desa Lamalera A dan Lamalera B yang terletak di kaki bukit gopo, bedilolo dan bukit kapasono, itu sunyi.

"Masyarakat menyakini bahwa saat itu arwah nenek moyang datang. Tanda-tanda kedatangan arwah tercium lewat bau terumbu karang," kata Dion Bediona.
Keesokan harinya, Sabtu (2/5/2009) pagi, bertempat di kapela, digelar misa lefa dipimpin Rm. Yacobus Adobala Dawan, Pr, pastor paroki. Misa lefa menandai memulai musim turun ke laut. Upacara berlanjut dengan pemberkatan laut dan peledang (perahu yang digunakan untuk menangkap ikan paus). Pastor memercikkan air pada peledang Praso Sapang. Usai diberkat, Praso Sapang didorong ke laut dan berlayar menangkap ikan paus. Sebelum Praso Sapang melaut, air laut dianggap 'steril'. Satu kejadian di hari misa lefa, sebuah speed boat yang mengangkut turis hendak menepi tapi diusir masyarakat yang dimotori Kepala Desa Lamalera A, Hendrikus Keraf. Speed boat memutar haluan, lalu bergerak menjauh meninggalkan laut Lamalera. 

Hal lainnya yang dilarang adalah ikan paus yang muncul pada hari misa arwah dan waktu misa lefa, tidak ditangkap. Bagi masyarakat Lamalera, kemunculan ikan paus pada saat-saat itu pertanda baik.

Selanjutnya, Romo Yakobus memberkati satu per satu peledang yang tertambat di rumah peledang (naje). Ada 37 naje di pantai sepanjang sekitar 150 meter itu. Sembilanbelas naje dibangun di sisi kiri kapela dan sisanya di sisi kanan. Peledang- peledang itu bisa melaut setelah peledang Praso Sapang pulang. 

Misa lefa merupakan upacara puncak penangkapan ikan paus. Setelah misa lefa, masyarakat Lamalera selama tiga bulan ke depan (Mei-Oktober) mengawasi Laut Sawu. Apabila melihat semburan paus, maka masyarakat akan berteriak bersahut- sahutan "baleo..., baleo..., baleo..." Peledang pun segera didorong ke laut untuk mengejar ikan paus. (bersambung)

Pos Kupang 1 Juni 2009 halaman 1

Tradisi Menangkap Ikan Paus (2)

Oleh Alfons Nedabang

PLEDANG bukan perahu biasa, sebagaimana kebanyakan perahu milik nelayan lainnya di sejumlah daerah. Setidaknya, hal ini diketahui dari proses pembuatannya hingga tata cara pemanfaatannya.

Pledang terbuat dari kayu krapa, sejenis kayu besi. Dikerjakan orang khusus, atamola. Pledang tidak dibuat sembarang, termasuk sambungan kayu atau papan dan pemasangan ketilo. Hal yang dilarang adalah ketilo tidak boleh sebaris, tapi harus selang-seling. Sebelum pledang dicat, atamola harus dipanggil kembali untuk memastikan tidak ada yang salah dalam proses pembuatannya.

Jika pledang dibuat salah atau keliru, maka akan membawa dampak buruk terhadap proses penangkapan. Kesalahan itu akan ditunjuk oleh ikan paus dengan 'mengetuk' pledang. Dalam konteks ini, paus dianggap sebagai cermin. Setelah itu, nanti sampai di darat baru atamola dipanggil untuk memperbaiki pledang.

"Kesalahan pledang akan ditunjuk paus. Paus pukul pledang. Setelah pulang baru diperbaiki. Paus sebagai cermin besar. Kalau tidak ada kesalahan, maka pledang dianggap lulus ujian," kata Frans Kedang, matros (anak buah) pledang Tite Keri.
Untuk menyelesaikan satu pledang, memakan waktu lebih dari satu bulan. Meski demikian, setiap tahun belum tentu ada pledang baru. Panjang pledang sekitar 10 meter. Kru pledang berkisar sembilan sampai 13 orang. Setiap pledang dibagi untuk tempat duduk juragan, matros dan tempat lamafa. 

Pledang bukan satu-satunya peralatan tradisional yang digunakan. Peralatan lainnya adalah layar, tali yang dibuat dari benang kapas, daun gebang dan serat kulit pohon waru. Ada juga kafe yaitu tempuling atau harpoon, galah terbuat dari bambu sebagai tempat menancapkan harpoon untuk menombak. Alat untuk menggayung air, gentong air, maupun faye (alat untuk mendayung). Semua perlengkapan ini disiapkan dan diletakkan dalam pledang, di tempatnya masing-masing. Dalam satu pledang terdapat enam tempuling dan satu kenate. 

Tempuling untuk menikam paus, sedangkan kenate untuk menarik paus merapat ke pledang. Pemilik pledang adalah suku. Umumnya satu suku satu pledang. Ada juga suku yang memiliki lebih dari satu pledang. Sebaliknya, ada suku yang tidak punya pledang.

Untuk pledang baru, sebelum beroperasi harus dibuat seremoni dengan memberi makan masyarakat satu kampung. 
Martinus Lelaona mengatakan, setiap orang yang makan bagian di pledang, seperti lamafa, juragan dan matros, masing-masing menanggung bahan makanan, diantaranya tuak, nasi dan jagung titi serta binatang. Suku pemilik pledang juga menyiapkan makanan. Tidak selesai di sini. Pledang baru bersama pledang lain akan diberkati oleh pastor pada upacara misa lefa. 

Selanjutnya, saat ada baleo....,pledang bergerak ke tengah laut, ke arah semburan ikan paus. Lamafa bersiap di depan. Semakin dekat, orang pledang sudah bisa menetapkan di mana keberadaan kelompok paus tersebut. Para nelayan sudah bisa mengetahui paus yang akan ditikam.

Kalau sampai di tempat yang ditandai, kelompok ikan paus tersebut tiba-tiba menghilang ditelan laut, itu artinya rezeki belum datang. Atau, pada saat lamafa akan menghujamkan tempuling, paus mengangkat ekornya, maka lamafa akan urung melompat menikam paus tersebut. Orang pledang meyakini paus menolak untuk ditikam.

Namun, apabila paus menyerahkan diri, maka dengan sigap lamafa menghujamkan tempuling ke tubuh paus. "Serentak di dalam perahu bersorak. Hirkae, lefo hirkae. Sorakan ini akan mengecilkan nyali paus," kata Martinus.

Ketika paus sudah tidak berdaya, para nelayan mengikat hidungnya dengan kenate yang tersambung tali plastik. Kemudian, paus itu diseret ke pantai. Dalam perjalanan pulang, demikian Martinus, para nelayan bernyanyi bersahutan, sora tarre bala (raksasa bertanduk gading), dan dijawab, tala lefo rae tai (mari kita masuk kampung).

Sepanjang musim lefa, pledang tidak mendapat hasil apa pun kalau di suku ada anak gadis hamil atau pemuda menghamili gadis di luar nikah. Pantangan lainnya adalah orang pledang termasuk lamafa harus puasa seks. 

"Selama musim lefa, kami tidak melakukan hubungan suami istri. Ini pantangannya. Kalau dilanggar maka akan ada dampaknya saat proses penangkapan," ujar Aloysius Genesa Tapaona, lamafa.

Selain terikat pada tradisi dan tata cara adat yang mencakup pembuatan pledang, penyiapan peralatan perahu, alat penangkap ikan, proses turun ke laut serta pantangan-pantangan yang harus dihindari, nelayan Lamalera juga memberlakukan tata cara adat pada pembagian hasil tangkapan ikan paus. Seluruh hasil tangkapan ikan, pertama-tama diperuntukkan bagi para janda, fakir miskin, dan para yatim piatu. Mereka mendapat tempat utama dalam seluruh proses perburuan ikan. Selanjutnya dibagikan kepada tuan tanah, lamafa, rumah adat, matros, dan pemilik perahu sesuai bagian-bagian ikan paus yang ditetapkan. 

Misalnya, sebagaimana diungkap Stefanus Fotu dari pledang Java Tena, bagian mata dan rahang milik tuan tanah. Juru tikam dapat nova’k (bagian leher). Ikan paus juga dibagikan kepada sejumlah warga. 

Dalam proses pembagiannya tidak ada kecurangan.
Selain untuk makan, ikan paus juga digunakan sebagai alat transaksi. Ikan dibarter dengan hasil-hasil pertanian yang dibawa masyarakat dari gunung. Begitu tersiar kabar paus ditangkap, berbondong-bondong orang gunung yang pekerjaannya bertani turun ke pantai. Mereka membawa hasil pertanian seperti jagung, ubi dan kacang untuk ditukar dengan daging paus. Misalnya, tiga lempeng dendeng ikan paus seharga satu piring jagung yang sudah dipipil. Transaksi dilakukan tidak ada tawar menawar.

Kulit ikan paus juga dimakan. Sementara minyaknya bisa untuk minyak goreng dan pengganti minyak tanah. Satu-satunya bagian yang sampai sekarang belum dimanfaatkan optimal adalah tulang ikan paus. Kebanyakan tulang ikan paus dibuang, bahkan ada yang menjadikannya pagar rumah.

Masyarakat Lamalera meyakini bahwa dengan menangkap ikan paus, dapat menghidupkan seluruh masyarakat Lamalera. Dengan ikan paus, masyarakat Lamalera dapat menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. Lebih dari itu, dalam nama kulit, darah, daging, dan minyak ikan paus, setiap orang di Lamalera dan sekitarnya bersatu. (bersambung)

Pos Kupang 2 Juni 2009 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes