Kegagalan Negara Singkong

CARILAH ironi yang mencabik-cabik harga diri bangsa agraris-maritim dan itu kita  temukan di negeri tercinta ini. Di abad ke-21 yang seharusnya kita lebih tangguh, lebih cerdas dan lebih bermartabat. Faktanya Indonesia terus melapuk karena salah urus, karena pemimpin lebih suka ribut ketimbang berpikir tentang kesejahteraan umum.

Sekadar urusan isi perut pun kita  tidak sanggup menghasilkannya dari tanah sendiri. Kita bergantung dari hasil kerja bangsa lain yang bahkan luas lahan pertanian serta lautnya cuma sejengkal.

Oh My God. Apa yang salah dengan Indonesia? Bayangkan saja dalam kurun waktu lebih dari 15 tahun untuk kebutuhan pangan rakyat negeri tropis yang kaya sumber daya alam ini bergantung dari impor. Sejak lama  Indonesia dikenal sebagai negara pengimpor  beras, garam, kedelai, daging, gula, garam, susu dan buah- buahan.  Paling menggelikan kejadian terakhir. Pemerintah Indonesia  mengimpor singkong dari Vietnam dan China.

Benar-benar berita pilu buat petani Indonesia. Bukan hanya beras, gula dan garam asing yang menyerbu pasar domestik. Hasil pertanian sekelas singkong pun harus bersaing keras   menghadapi gempuran produk impor yang pasti harganya lebih murah. Pemerintah sungguh mau enaknya saja.   Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kran impor dibuka selebar-lebarnya. Silakan mekanisme pasar yang bekerja. Yang kalah bersaing pasti terjungkal.

Pemerintah tidak berpikir sebaliknya yaitu membangun bidang pertanian dengan sungguh-sungguh agar kebutuhan pangan dalam negeri bisa kita penuhi dari kebun sendiri.   Dari jumlah total penduduk Indonesia, sekitar 75 persen hidup dari pertanian. Maka betapa apesnya nasib mayoritas rakyat negeri ini. Yang disebut pemerintahan  pro rakyat hanyalah jargon. Sekadar pemanis bibir  politisi yang dalam praktiknya hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Kaum cerdik cendekia sudah mengingatkan beribu kali bahwa salah satu ciri negara gagal adalah kebutuhan pangan bergantung dari impor.  Bukankah hari-hari ini Indonesia sedang berziarah dengan lekas menuju negara gagal? 

Kalau ada yang berteriak nyaring bahwa warning negara gagal itu berlebihan, sebaiknya tutup mulut karena sekadar singkong dan garam pun kita impor. Laut kita paling luas di Asia. Eh, garam saja dipasok dari luar. Singkong itu tanaman Nusantara yang menghidupkan anak Indonesia  sejak abad ke-15. Di awal abad ke- 21, pemerintahnya malah mengimpor dari negara tetangga. Kemunduran mengerikan!

Bagaimana dengan kita di Sulawesi Utara, di  bumi Nyiur Melambai yang mendapat anugerah dari Tuhan lewat alam yang subur? Berkatalah jujur Kawanua. Tak banyak lagi petani di Sulut yang berkebun singkong. *
Sumber: Editorial Tribun Manado 19 Juli 2012 hal 10

Mumi Kaki More di Flores

Tempat mumi Kaki More (Kompas)
Wolondopo adalah sebuah kampung tradisional yang terletak di Desa Nuaone, Kecamatan Detusoko, Kabupaten  Ende, Flores,  Provinsi  Nusa Tenggara Timur. Selain ragam ritual sakral saat pesta panen, kampung tradisional ini juga dikenal karena keberadaan Mumi dari sang kepala suku (mosalaki) bernama Kaki More.

Selama hidupnya, Kaki More tidak pernah mengonsumsi air putih.  Kaki More lebih sering mengonsumsi tuak, yang dalam bahasa Suku Lio disebut moke dengan jenis jengi jila (bakar nyala). Apabila Anda ingin melihat langsung Mumi Kaki More, maka perlu disiapkan sebuah ritual khusus yang dilakukan oleh seorang Kepala Suku di Kampung tersebut. Dalam budaya masyarakat Lio disebut Rera Pati Ka.

Makam mumi
Menjelang wafatnya pada tahun 1948 dalam usia 80 tahun, Kaki More berpesan agar jasadnya tidak boleh dikuburkan, tetapi dimasukan dalam peti lalu dipancangkan di pinggir kampung.

Konon, keberadaan mumi sang mosalaki bernama Kaki More di Kampung Wolondopo mulai tersiar di Kampung Wolondopo dan sekitarnya sejak tahun 1953, sesaat setelah bencana puting beliung menimpa kampung tersebut yang sekaligus merobohkan pohon beringin tua tempat disemayamkan jenazah sang Mosalaki bernama Kaki More.

Jenazahnya ditemukan warga tetap utuh diatas batang pohon beringin tua yang rebah. Akhirnya warga setempat  serta para penerus dan keturunan Mosalaki Kaki More pun membuat sebuah tempat khusus untuk semayamkan jeanazah tersebut dalam sebuah peti yang ditempatkan pada rumah khusus disamping Hanga (pusat ritual gawi/tarian adat).

Kabar yang tersiar dari mulut ke mulut akhirnya menimbulkan keingintahuan seorang pejabat Dinas Pariwisata Kabupaten Ende untuk datang melihat secara langsung keberadaan mumi Kaki More tersebut pada tahun 1973.

Setelah melalui ritual khusus dan peti dibuka, masyarakat semakin dikejutkan karena jenazah yang sejak tahun 1953 diketahui telah menjadi mumi tetap utuh dan tidak rusak. Hal tersebut membuat masyarakat Kampung Wolondopo semakin meyakini bahwa Sang Mosalaki yang mereka cintai bukan merupakan orang sembarangan, melainkan orang yang semasa hidupnya sangat jujur, berwibawa dan juga sakti.

Dengan membuktikannya sendiri, akhirnya sang pejabat tersebut akhirnya membantu untuk menyiarkan keberadaan mumi tersebut, hingga dikenal sampai saat ini.  Mumi Kaki More, kini disemayamkan khusus dalam sebuah rumah kecil yang selalu terkunci dan hanya dapat dibuka oleh penerusnya.

Sumber:  - Kompas.Com 
              - Sumber Lain



Kami Terlalu Mencintai Pulau Ini

BAHAYA selalu mengintai Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Nyaris seluruh bagian pulau seluas 39,5 kilometer persegi ini adalah tubuh gunung api Rokatenda yang kerap meletus. Bahaya terbesar adalah terjadinya letusun gunung yang disusul tsunami sebagaimana terjadi saat Rokatenda meletus tahun 1928.

Jejak vulkanis Rokatenda terlihat dengan penyebaran fumarola nyaris di seluruh tubuh Pulau Palue. Fumarola merupakan terobosan panas bumi yang merupakan sisa-sisa kegiatan gunung api pada masa lalu.

Gunung ini memang hanya memiliki ketinggian 875 meter dari permukaan laut. Namun, menurut Data Dasar Gunung Api Indonesia yang disusun Badan Geologi tahun 2011, ketinggian Rokatenda jika dihitung dari dasar laut mencapai 3.000 meter.

Gunung api yang muncul dari dasar laut ini pertama kali meletus tahun 1928. Lalu, gunung ini diam 35 tahun. Sebelum tahun 1928, gunung ini beberapa kali meletus.

Akhir tahun 1963, Rokatenda kembali meletus. Sejak itu, dalam kurun 1-8 tahun, Rokatenda meletus, yaitu tahun 1966, 1972, 1973, 1981, 1984, dan 1985. Ketika meletus, gunung ini umumnya menghasilkan kubah lava, seperti terjadi dalam letusan terakhir pada 23 Maret 1985.

Letusan tahun 1985 itu terjadi pukul 17.40, didahului suara gemuruh. Sumber letusan berasal dari lereng kubah lava yang terbentuk pascaletusan 1981.

Abu menyembur hingga setinggi 2.000 meter dengan lontaran material hingga 300 meter dari puncak. Hujan abu menyelimuti Kampung Nitung, Waikoro, dan Koa. Tak ada korban jiwa dalam letusan tahun itu.

Tsunami vulkanis

Letusan yang menimbulkan korban terjadi 4 Agustus-25 September 1928. Sebanyak 266 orang tewas saat itu. Letusan Rokatenda tahun 1964 juga menyebabkan tiga orang luka.

Banyaknya korban tewas pada letusan Rokatenda tahun 1928 ternyata karena letusan itu juga memicu gelombang tsunami. Menurut laporan penelitian Neuman van Padang dalam The Tidal Waves During Rokatenda Volcano Eruption (1930), kebanyakan korban tewas dalam letusan tahun 1928 itu karena sapuan gelombang tsunami.

Warga yang menghindari letusan Rokatenda berkumpul di pinggir pantai ketika tsunami tiba-tiba melanda. Tsunami kemungkinan dipicu gempa vulkanik yang beriringan dengan letusan Gunung Rokatenda.

Neuman menyebutkan, tinggi gelombang tsunami yang melanda perkampungan Palue mencapai 5-7 meter. Gelombang tsunami juga disebutkan melanda pantai utara Pulau Flores, 35 km dari Pulau Palue. ”Berdasarkan laporan Residen, 7 rumah di Maoroleh (Marole) rusak, 6 orang tewas, dan 5 kapal dagang hancur,” tulis Neuman.

Fenomena tsunami karena letusan gunung api juga pernah terjadi beberapa kali di Indonesia, yaitu saat meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda tahun 1883 dan Gunung Tambora di Sumbawa tahun 1815.

Tsunami karena letusan Krakatau tahun 1883 sejauh ini tercatat tertinggi dan berdampak terbesar dalam sejarah letusan gunung api. Tsunami yang menerjang pasca-letusan Krakatau merupakan faktor pembunuh terbesar yang menewaskan 36.000 jiwa.

James E Begét, peneliti dari Alaska Volcano Observatory (2000), menyebutkan, pada 250 tahun terakhir terjadi 90 tsunami yang diakibatkan gunung api, dan 25 persen di antaranya berdampak fatal terhadap kehidupan. Tsunami akibat gunung api yang tertua yang teridentifikasi terjadi saat letusan Gunung Santorini di Yunani pada 1638 sebelum Masehi. Kombinasi letusan gunung dan tsunami ini yang diduga menghancurkan peradaban Kreta.

Letusan Gunung Vesuvius di Italia tahun 79, yang mengubur Pompeii, juga disusul gelombang tsunami. Tsunami besar juga terjadi di Jepang saat Gunung Unzen meletus tahun 1792. Tinggi gelombang yang diduga terjadi karena longsoran saat Gunung Unzen meletus diperkirakan 55 meter dan menewaskan lebih dari 10.000 jiwa.

Penelitian Gegar Prasetya dari Amalgamated Solution and Research (ASR) menyebutkan, ada 18 gunung api di Indonesia yang berpotensi menimbulkan tsunami jika meletus. Selain Rokatenda, Krakatau, dan Tambora, yang juga rentan memicu tsunami adalah Banda Api dan Kie Besi (Maluku Utara).

Rentan terdampak

Dengan riwayat letusan Rokatenda yang mengerikan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasukkan seluruh Pulau Palue dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) II. Disebutkan, seluruh Pulau Palue berpotensi tertimpa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Adapun KRB III, yang berarti sangat berpotensi terlanda awan panas dan aliran lava, meliputi separuh kawasan Pulau Palue. Dengan kata lain, Pulau Palue sangat berbahaya untuk dihuni.

Namun, Pulau Palue ternyata tetap dihuni. Camat Laurensus Regi mengatakan, jumlah penduduk di Palue mencapai 9.990 jiwa yang tersebar di delapan desa, yaitu Maluriwu, Reuwarere, Kesukoja, Lidi, Lodaloka, Tuanggeo, Rokirole, dan Nitunglea.

”Orang Palue tidak akan betah meninggalkan pulau ini,” kata Petrus Fidelis Cawa (70), tokoh adat dari Kampung Ngalu, Ruewarere.

Saat Rokatenda meletus tahun 1963, Petrus memandu orang Palue pindah ke Maumere, Pulau Flores. ”Di sana kami diberi sawah. Namun, warga tidak betah dan akhirnya kembali ke Palue,” katanya. ”Kami terlalu mencintai pulau ini.” (Samuel Oktora/Amir Sodikin)

Sumber: Kompas.Com

Tsunami Merenggut Kekasih Jumali...

Pulau Babi, Mei 2012 (foto Kompas)
LAUT sebening kaca. Pantai berpasir putih. Ikan warna-warni berseliweran di antara terumbu karang. Namun, bagi warga Pulau Babi, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, keindahan itu hanya masa lalu. Sudah 10 tahun ini mereka meninggalkan pulau permai yang mengapung di Laut Flores itu.

Jumali (42) hanya delapan bulan mengecap kebersamaan dengan Wasa’a, istrinya yang saat itu mengandung enam bulan. Gempa dan tsunami yang melanda Pulau Babi pada 12 Desember 1992 telah merenggut kebersamaan pengantin baru itu. ”Sejak hari itu saya tak pernah melihat istri saya,” kata Jumali, warga Pulau Babi.

Tsunami yang melanda sekitar pukul 14.00 WITA menewaskan 263 orang atau seperempat penduduk Pulau Babi yang berjumlah sekitar 1.000 orang. Pulau Babi merupakan pulau kecil yang berdiameter sekitar 2,5 kilometer dan berjarak 5 kilometer di utara Flores.

Adapun di seluruh Kabupaten Sikka, korban tewas diperkirakan 2.100 jiwa.

Petaka tsunami itu bermula dari gempa berkekuatan 7,8 skala Richter yang tiba-tiba mengguncang. ”Guncangannya kuat sekali,” kisah Jumali, yang saat kejadian tengah mencari nener, anakan bandeng, di tepi Pantai Tanjung Darat, Pulau Flores.

Begitu gempa mengguncang, air laut surut sekitar 100 meter dari bibir pantai. Sepuluh menit kemudian tsunami datang.

”Begitu gempa, saya bersama teman-teman lari ke gunung, kurang lebih 300 meter dari pantai,” katanya. Jumali pun melihat gelombang laut menghajar Pulau Babi. ”Saat itu juga langsung lemas karena saya pikir kampung kami pasti tenggelam,” kata Jumali.

Di Pulau Babi, tsunami dirasakan seperti kiamat. ”Begitu air laut naik, saya mencoba lari. Tetapi, tahu-tahu, saya sudah dihanyutkan air hingga tersangkut di puncak pohon kelapa,” kata Iradat (27), warga Pulau Babi.

Saat kejadian itu, Iradat masih duduk di kelas III sekolah dasar. Dia kehilangan tiga anggota keluarga, yakni Bute (bibi), Fitri (adik), dan Sunanti (kakak). ”Kejadiannya seperti mimpi, serba singkat dan tiba-tiba semuanya sudah habis,” ujarnya.

Nurdin Buton, warga lainnya, juga mengalami nasib serupa. Nurdin tersapu tsunami ketika hendak mengambil Base, kakaknya, dan Bongko, istrinya yang sedang hamil tiga bulan.

Nurdin sempat membawa Johora, mamanya yang lumpuh, menuju masjid. Namun, saat hendak mengambil kakak dan istrinya, tsunami sudah menerjang. Bahkan masjid yang dijadikan tempat pengungsian itu roboh disapu gelombang.

Nurdin pingsan saat tsunami menghanyutkannya. Dia baru sadar ketika air laut sudah surut dan dirinya tersangkut di bukit. Mayat bergelimpangan, sebagian terperosok ke dalam rekahan tanah. Di rekahan itulah mayat kemudian dikubur massal.

Dikosongkan

Pada hari-hari itu, warga Pulau Babi yang selamat harus berjuang sendiri. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sikka dan TNI baru tiba di pulau itu tiga hari kemudian. Saat itu pula semua warga selamat langsung diungsikan ke Desa Nebe dan Nangahale.

Saat ini, pengungsi dari Pulau Babi itu mendiami tanah milik Keuskupan Agung Ende seluas 10 hektar yang kemudian dihibahkan kepada pemerintah. Permukiman baru itu diresmikan istri Presiden RI saat itu, Tien Soeharto, tahun 1993.

”Pulau Babi sekarang tidak ditinggali, hanya ada beberapa gubuk untuk singgah warga yang ingin menengok kebun atau ternak,” kata Jais, Kepala Desa Nangahale. Warga yang dicekam trauma mendalam tak berani kembali menetap di Pulau Babi.

Namun, kehidupan di Nangahale ternyata tidak mudah. Kampung itu menjadi salah satu kantong kemiskinan di Sikka. Selain nelayan kecil, kebanyakan warga bekerja sebagai kuli di kota dan membuat garam dengan merebus air laut. Bahkan, hingga kini masih banyak yang belum dapat kepastian status tanah yang ditinggali di Nangahale.

Teddy Boen, Senior Advisor of World Seismic Safety Initiative, dan Rohit Jigyasu, arsitek dan konsultan konservasi, memublikasikan hasil penelitiannya tahun 2000 yang mengkritisi model relokasi Pulau Babi pascagempa dan tsunami.

Keduanya mempertanyakan sistem relokasi yang tidak disiapkan dengan baik. ”Relokasi tidak sekadar memindahkan orang dan keluarga, tapi seharusnya memindahkan komunitas,” papar Teddy dan Rohit.

Warga Pulau Babi itu dihadapkan pada pilihan sulit. Itu yang membuat sebagian warga nekat pulang-pergi dari Nangahale ke Pulau Babi tiap pekan. ”Aih..., kalau saya tidak ke Pulau Babi, apa yang bisa saya makan? Sulit cari kerja,” kata Darmi (45), warga yang membangun gubuk singgah di Pulau Babi.(Amir Sodikin/Samuel Oktora/Ilham Khoiri/Ahmad Arif)

Sumber: Kompas.Com

Gajah Mengerdil dan Kadal Meraksasa


Victor Dau, warga  Rampasasa yang tubuhnya kerdil  (Kompas)
MENGAPA manusia kerdil Homo floresiensis hingga kini hanya ditemukan di Flores? Mengapa pula gajah purba paling kerdil di Indonesia, Stegodon sondaari, juga ditemukan di Flores? Pengerdilan selalu menjadi tema menarik di Flores yang hingga kini belum semuanya terjawab dengan memuaskan.

Tak hanya pengerdilan, ada juga kasus fauna yang justru meraksasa. Mengapa kadal raksasa Varanus komodoensis ditemukan di Flores dan pulau-pulau di sekitarnya dan bahkan hingga kini masih lestari? Tak hanya biawak, tikus Papagomys sp pun di Flores menjadi raksasa.

Fachroel Azis, ahli paleontologi yang pernah memimpin ekskavasi di cekungan Soa, memaparkan pendapatnya soal teori umum biogeografi pulau. Katanya, jika mamalia tinggal di pulau terisolasi, dia akan mengecil. Jika reptil, dia akan membesar.

”Di pulau terisolasi, sumber makanan terbatas. Jadi, kalau dia besar, kan, cepat habis makanannya,” kata Azis. Karena itu, stegodon yang ditemukan di pulau-pulau terisolasi akan lebih kecil dibandingkan dengan stegodon yang ditemukan di Jawa.

Reptil seperti komodo justru jadi besar di pulau karena hampir tak ada predator tandingan. Bahkan, di Flores, gajah purba stegodon adalah mangsa dari komodo.

Di Flores ada stegodon yang kecil (Stegodon sondaari) ada juga yang besar (Stegodon florensis). Namun, jika yang besar itu dibandingkan dengan yang di Jawa (Stegodon trigonocephalus), jelas masih lebih kecil.

Stegodon florensis yang di Liang Bua, sama-sama satu spesies di Flores pun, lebih kecil dari yang di cekungan Soa. ”Itu karena terisolasi lebih lama karena itu diberi nama Stegodon florensis insularis,” tutur Azis.

Liang Bua, Manggarai Flores (foto Kompas)
Geolog dan paleontolog yang mendalami stegodon dari Universitas Wollongong Australia, Gert D van den Bergh, yang saat ini sedang aktif meneliti di cekungan Soa, mengungkapkan, gajah di Flores dulu kerdil sebagai adaptasi kondisi pulau. Di Pulau kecil tak perlu badan besar karena tak ada pemangsa seperti harimau.

”Tak ada gunanya memiliki badan besar di pulau,” kata Gert. Badan besar seperti gajah Afrika mereka bisa keliling 200-300 kilometer untuk mencari makanan. Kalau di pulau, seperti di Flores, jalan 100 kilometer sudah dari ujung ke ujung.

Sifat dari sebuah pulau yang terisolasi adalah miskinnya biodiversitas. Jumlah spesies yang ditemukan di cekungan Soa pun terbatas karena sejak lama Flores adalah sebuah pulau yang terisolasi dari dataran besar. Tidak ada jembatan darat sehingga banyak hewan yang tidak bisa sampai ke Flores.

”Kalau gajah, dia cocok untuk menyeberangi laut karena badan besar sehingga puasa tiga hari tidak akan mati,” papar Gert. Gajah juga tak bisa tenggelam karena tengkoraknya banyak memiliki kantong udara serta memiliki snorkel sehingga bernapas lebih mudah.

Jadi, dalam satu juta tahun, kata Gert, sekali-kali ada gajah yang menyeberang, mungkin karena tsunami. Skenario tsunami ini kuat dugaannya karena banyak satwa endemik lain di Flores yang bukan perenang ulung, seperti komodo, yang ternyata ada di Flores. Sejak zaman es, Flores memang tak pernah tersambung dengan daratan Asia atau Australia.

Uniknya, ketika gajah punah, komodo hingga kini masih lestari walaupun lokasinya makin terbatas. Hingga kini, spesies biawak raksasa ini seolah menolak teori umum biogeografi bahwa di pulau terisolasi, spesies akan mengalami kepunahan yang lebih cepat.

Nyatanya, komodo di Flores justru menemukan rumahnya dan menjadi komodo yang endemik di Flores. Sebaliknya, di tempatnya di daratan yang lebih luas, komodo sudah tak lagi ditemukan secara endemik.(Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas)

Sumber: Kompas.Com

Thanksgiving Day ala Minahasa

Pedagang di Amurang jual bambu untuk masak nasi jahe
PULUHAN unit sepeda motor memenuhi pelataran bengkel Ahass King Motor Malalayang- Manado, Jumat 6 Juli 2012. Agak tak lazim memang. Biasanya cuma satu dua unit sepeda motor yang datang dan pergi setelah mendapat perawatan dari kru bengkel. Yang terlihat siang itu justru sebaliknya. Para pemilik sepeda motor harus antre sekian jam sampai mendapat giliran tunggangannya ditangani montir.

Bukan hanya Ahass yang padat. Bengkel sepeda motor lainnya pun sama dan sebangun. Demikian pula dengan bengkel mobil.  Warga Kota Manado serta daerah sekitarnya  sejak awal Juli ramai-ramai mendandani kendaraan mereka. Umumnya melakukan servis  ringan semisal ganti oli,  cuci karburator, saringan udara, setel rem dan mengganti lampu.

Warga Kota Manado ke bengkel untuk memastikan kendaraannya aman dan nyaman saat dipakai bersama mengikuti acara Pengucapan Syukur pada hari Minggu 8 Juli 2012 di beberapa daerah di Minahasa.

Pengucapan Syukur alias perayaan Thanksgiving Day di Minahasa luar biasa. Kecuali  Maluku dan Papua, hampir tiga perempat bagian negeri tercinta ini telah saya kunjungi.  Dan, Saya tidak menemukan upacara Pengucapan Syukur sedahsyat di  Minahasa. Pengucapan syukur massal yang berlangsung setiap tahun. Biasanya bulan Juli bertepatan dengan liburan sekolah. Orang Minahasa dari berbagai penjuru dunia biasanya datang bertemu dengan keluarga mereka.

Sekurangnya tiga kabupaten di Sulawesi Utara yang merayakan Pengucapan Syukur saban tahun yaitu Minahasa, Minahasa Tenggara dan Minahasa Tenggara. Yang paling ramai adalah Minahasa Selatan. Keluarga Minahasa akan menyiapkan menu spesial bagi siapa pun yang berkunjung. Entah ada hubungan kekeluargaaan, pertemanan  atau tidak sama sekali, silakan mampir dan pasti dijamu tuan rumah dengan ramah. Nasi jahe dan dodol merupakan menu khas Pengucapan Syukur. Juga aneka sayur dan daging mulai dari daging paniki (kelelawar), babi, anjing, ayam, ikan dan sebagainya.

Membludaknya manusia yang mengikuti perayaan Pengucapan Syukur di Minahasa menimbulkan kemacetan lalulintas yang luar biasa. Panjang antrean bisa sekian kilometer jauhnya.  Dan, Kota Manado biasanya sepi.

Budaya Minahasa
Pengucapan syukur telah menjadi budaya tou (etnis) Minahasa secara turun- memurun. Keturunan Toar-Lumimuut percaya hasil panen seperti cengkih dan padi yang bergantung kepada alam sebagai berkat dari Opo Wananatas atau Sang Raja Alam Semesta.

Tradisi mensyukuri panen di Minahasa dapat dipastikan sudah setua masyarakat yang mendiami daratan utara Pulau Sulawesi ini.

Budaya ini tercermin pada Tarian Maengket sebagai ekspresi syukur tou Minahasa atau upacara syukur panen lainnya. 

Inkulturasi tradisi ini setelah masuknya Agama Kristen di Minahasa kian menyempurnakan hajatan tahunan tersebut.

Pesta pengucapan tumbuh dalam budaya agraris. Manusia memperoleh sumber penghidupan langsung dari alam. Sehingga rasa syukurnya langsung diarahkan kepada Sang Pencipta dan Pemelihara Alam Raya ini. 

Rasa syukur berhubungan erat dengan hasil yang diperoleh. Tak heran ketika harga cengkih mahal, pesta pun jadi amat mewah.

Pada perkembangannya, perayaan thanks giving di Minahasa, tak sekadar mengucap syukur kepada Tuhan setelah diberikan hasil panen pertanian, perikanan, perkebunan yang melimpah. Namun, hajatan tahunan ini menjadi ajang silahturahim antara saudara, kerabat, dan handai tolan.

Etnis Minahasa yang sudah hidup jauh di rantau senantiasa menjadikan momentum pengucapan syukur sebagai kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Suasana kekeluargaan yang tercipta tidak tergantikan oleh konsumsi hiburan lainnya.

Di Minahasa Selatan, tradisi ini bahkan dijadikan sebagai objek wisata. Pemda setempat mendukung penuh pelestarian pengucapan, bahkan diharapkan mampu menjadi event untuk memajukan pariwisata di masa mendatang. (*)

Lembayung Senja di Tahuna


Pulau Marampit (riz @TM)
 SUASANA haru menyembul di tengah rintik hujan yang membasahi Dermaga Samuel Languyu Satkamla VIII TNI-AL Bitung, Minggu 1 Juli 2012. Kala itu para istri, anak dan kekasih melepas kepergian  72 prajurit TNI yang tergabung dalam  Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Filipina 2012.


Meskipun  KRI Teluk Lampung yang mengangkut 72 prajurit  telah meninggalkan dermaga puluhan meter,  namun para istri, anak, dan kekasih  mereka tetap melambai-lambaikan tangan dari dermaga. Terlihat di antara mereka  ada yang meneteskan air mata. Lambaian tangan itu dibalas para prajurit yang berdiri di pagar besi dek kapal perang KRI Teluk Lampung. Sulit dipungkiri  mereka berat hati melepas  keluarga tercinta.

Praka Daud Halik asal Kompi Senapan A Tateli mengakui hal itu. Demi menjalankan tugas di tapal batas negara,  dia berpisah dengan putri bungsunya, Afikha Halik, yang baru berusia tiga  bulan.  "Rasa rindu pasti akan ada. Apalagi putri bungsu saya masih kecil sekali dan sedang lucu-lucunya. Tapi ini panggilan negara, saya harus siap ditugaskan kapan dan di mana saja," ujarnya kepada Tribun Manado yang ikut serta dalam KRI Teluk Lampung dalam pelayaran ke perbatasan Filipina.

Tahuna
Memang begitulah. Mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia  (NKRI) dengan menjaga pulau-pulau terdepan Indonesia menjadi tugas tahunan puluhan prajurit Yonif 712/Wiratama Manado. Demi tugas negara mereka berpisah  dari keluarga dan orang-orang terkasih. Di perbatasan Filipina mereka menghadapi pelintas batas ilegal, kasus penyelundupan dan lainnya  dengan nyawa taruhannya. Enam bulan sekali baru mereka bisa bersua lagi dengan keluarga.

Praka Daud  berharap agar si kecil tidak sakit. Sebab meskipun rekan-rekan di kompinya pasti siap membantu tapi jika terjadi apa-apa, pasti akan mempengaruhi kinerjanya selama bertugas di perbatasan RI-Filipina.

Berbeda dengan Danton Satgas Pamtas 2011, Lettu Inf Ahmad Rido yang justru merasa senang. Setelah bertugas selama lebih dari enam  bulan di perbatasan, akhirnya ia segera bertemu istri tercinta yang baru sebulan lalu melahirkan putra pertama mereka, Muhammad Yudha di Cianjur, Jawa Barat.

"Saat istri melahirkan pada Mei lalu, saya tidak mendapat izin lepas tugas dari komandan. Meski kecewa namun saya bersuka cita karena anak lahir dalam kondisi sehat. Lagipula komandan saya menjanjikan bahwa pergantian pasukan sudah tak akan lama lagi," tuturnya.

Perpisahan di Bitung 1 Juli 2012
Pelepasan pasukan Satgas Pamtas menuju pulau-pulau terdepan Indonesia di wilayah Sulawesi Utara ini dipimpin langsung Danyon 712/Wiratama, Mayor Inf Hartono di lapangan Mayon Teling, Minggu (1/7/2012) pagi. Prajurit TNI itu kemudian menuju Bitung dan berangkat ke perbatasan RI-Filipuna. Di sana  mereka disebar pada enam pos, yaitu Pos Tinakareng, Pos Kawaluso, Pos Matutuang, Pos Marore, Pos Marampit dan Pos Miangas. Keberangkatan mereka terasa istimewa karena ditemani Danrem 131/ Santiago, Kolonel Inf Johny L Tobing.

                        ***
SEJAK meninggalkan Bitung 1 Juli 2012, perjalanan ke tapal batas RI-Filipina memakan waktu selama enam hari. Perjalanan ini  sangat berkesan. Setelah 52 jam kapal limbung dihantam gelombang yang mengganas terutama di sekitar perairan Miangas, akhirnya kapal memasuki Teluk Tahuna yang tenang, Kamis (5/7/2012).

  Seharusnya Selasa malam (3/7/2012),  KRI Teluk Lampung 540 bersandar di Dermaga Miangas, Kabupaten Talaud untuk mengangkut 8 prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) yang sudah 7 bulan bertugas. Namun kondisinya tidak memungkinkan untuk berlabuh ataupun sekedar lego  di laut.

Memang sejak awal perjalanan dari Bitung, Minggu  (1/7/2012) hingga memasuki pos kedua di Pulau Kawaluso, Kabupaten Sangihe, Senin (2/7/2012) sore, lautan mulai bergolak tertiup angin barat. Tak seperti pada penurunan dan penarikan prajurit di Dermaga Tahuna, Senin (2/7/2012) pagi.

Di Pelabuhan Kawaluso, haluan KRI Teluk Lampung sempat menghantam dengan kuat sisi luar dermaga hingga terkikis sebagian betonnya. Beruntung tak ada kerusakan fatal pada bagian depan kapal. "Saat hendak memasuki dermaga, kapal sempat terhempas gelombang yang tiba-tiba muncul. Sehingga dengan seketika terdorong kearah Dermaga Kawaluso," kata Letkol Laut (P) M. Harahap.

Di pulau yang nihil signal komunikasi telepon ini, kedatangan KRI Teluk Lampung menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Tua-muda, pria-wanita, semua berkumpul di dermaga untuk  menyaksikan keangkuhan kapal berukuran 90,70 meter x 11,12 meter ini.

Usai bongkar muat sekitar pukul 19:00 WITA, kapal bersiap meninggalkan pulau. Namun,  kapal tidak bisa maju atau mundur karena adanya pendangkalan laut yang dipenuhi karang di sekelilingnya. Dengan panduan dari warga setempat yang berpengalaman mengatasi masalah seperti itu, akhirnya secara perlahan kapal berhasil meninggalkan Pulau Kalauso menuju pos ketiga di Pulau Matutuang.

Memakan waktu sekitar lima jam untuk melihat temaram lampu di daratan Pulau Matutuang, Selasa (3/7). Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Bulan purnama yang bergelayut di langit seperti lampu sorot menyinari pecahan-pecahan ombak berwarna putih yang hancur menghantam karang di tepi pulau.

Tak lama berselang, samar terdengar raungan perahu motor yang semakin keras. Dari kejauhan terlihat dua perahu mendekat ke arah KRI. Sebuah perahu kecil bermotor berisi dua  nelayan yang oleh penduduk setempat lazim disebut Perahu Pakura, dengan enggan menarik perahu tak bermesin yang lebih besar berisi 5 prajurit Yonif 712/Wiratama beserta tumpukan ransel dan berkotak-kotak kardus.

Meski timbul tenggelam dalam gelombang, perahu berusaha mendekati KRI yang lego jauh dari bibir pantai dan berhasil mencapai posisi aman embarkasi. Namun laut yang tak bersahabat mengayun-ayun ketiga kapal yang sangat berdekatan itu sehingga hampir bersenggolan. Dua nelayan pada Perahu Pakura seketika saja menancap gasnya untuk menghindari benturan. Dan justru karena hentakan gas seketika itulah Perahu Pakura kehilangan dayanya sehingga terhempas menampar lautan.

Seperti ikan, dengan cakap dua nelayan itu berenang menggapai perahu di belakangnya. Lima tentara yang terkejut dengan sigap mengangkat nelayan yang basah kuyup itu ke atas perahu kedua. Suasana mencekam itu terjadi dalam sekejap. Semua orang terpana, bersyukur tak ada korban jiwa. Perahu Pakura berbahan triplex pun menggapung di lautan menjadi bangkai.

 "Suasana sangat mencekam, dari pulau saja kami melihat lampu-lampu KRI bergoyang-goyang. Kami berlima paksakan diri untuk mendekat dengan ditarik oleh pakura nelayan karena perahu kami hanya memiliki 3 dayung yang tak mungkin melawan gelombang," ujar Serda Raimond Lumiwu, anggota Satgas Pos Matutuang.

Pulau Kawio dan Kamboleng
Ternyata tak hanya itu. Tiba-tiba tali yang saling mengikat terputus dari KRI. Lampu sorot KRI segera diarahkan untuk menerangi kedua kapal kayu yang terombang-ambing di lautan.  Di atas dek, para kru langsung menurunkan perahu karet LCR untuk secepat mungkin menggiring perahu kayu yang mulai menghilang di kegelapan. Beruntung LCR dapat mengejar perahu kayu dan mengarahkannya ke buritan KRI Teluk Lampung. Kelima personel beserta barang bawaan berhasil dinaikkan ke kapal. Sementara dua nelayan kembali ke Pulau Matutuang.

Dari tujuh anggota Satgas Pamtas 2011 Pos 3 Matutuang, hanya lima yang berhasil diangkut KRI. Sedangkan dua  lainnya terpaksa ditinggalkan di pulau tanpa kabar terbaru dari KRI yang seketika meninggalkan perairan Matutuang karena tak ada signal komunikasi telepon di pulau tersebut.

Baru setelah berada di perairan Pulau Marore, Selasa (3/7/2012) sekitar pukul 07:00 Wita, komunikasi nyambung lagi. Seperti lima jam sebelumnya, ombak masih memecah tinggi di Dermaga Marore. KRI tak dapat berlabuh di Pos 4 Marore. Di kecamatan terdepan sisi utara Indonesia ini, fasilitas cukup lengkap. Ada  Pos Angkatan Laut (POSAL) yang membantu embarkasi dan debarkasi pasukan beserta logistik dengan menggunakan perahu LCR. Proses bongkar-muat membutuhkan waktu yang cukup lama karena personel TNI yang seharusnya menempatkan pos ketiga Matutuang turut diturunkan di Marore sebagai pos terdekatnya.

***

Kehidupan di Sangihe
USAI bongkar-muat logistik dan menurunkan personel di Pulau Marore, Selasa (3/7/2012),  KRI Teluk Lampung yang membawa  prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Filipina menuju Pos 5 di Pulau Miangas.  Makan siang berlangsung dalam kondisi tak nyaman.

Air dalam gelas bergoyang seiring permukaan air laut yang menari. Makanan yang baru masuk ke dalam lambung pun tak bertahan lama. Sejumlah prajurit yang mabuk laut langsung mengeluarkan kembali seluruh isi perutnya.

Selama 11 jam KRI Teluk Lampung melawan hantaman gelombang Samudera Pasifik. Awan hitam menjadi kawan setia. Kilatan petir datang dari segala penjuru. Hingga akhirnya sepasang mata lampu seolah terlihat mengawasi kedatangan kami. Semakin dekat, suatu bentukan pulau samar mulai terlihat. Itulah Miangas, titik paling utara NKRI!

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 Wita. Pulau Miangas tinggal sepenggalan. Terdengar suara gaduh di atas dek dari sepatu-sepatu lars yang hilir-mudik memindahkan barang, bersiap untuk lego. Senjata disusun, ransel-ransel hijau ditumpuk dan para prajurit pun berbaris rapi menatap pulau terdepan NKRI ini.

Tiba-tiba terdengar panggilan lewat pengeras suara anjungan bagi Komandan Kompi (Danki) Satgas dan seorang perwira senior Angkatan Darat.

"Kapten Fransiskus....dan....Letkol Untung ....segera  ke... anjungan....ditunggu komandan ....kapal....!!!!," sahut suara putus-putus tertiup angin. Secara perlahan arah kapal mulai berbelok ke kanan seperti menjauhi sasaran utama. Laju kapal yang semula bergerak lambat, kini semakin cepat.  Ternyata menurut sonar dari anjungan, perairan Miangas  sedang bergelora hebat. Rapat para komandan di anjungan memutuskan sesegera mungkin keluar dari zona tersebut.

Embarkasi
Kekecewaan para prajurit yang sudah mempersiapkan mental tak digubris Danbekang 01 Manado, Letkol CbaUntung Sutrisno yang jadi penentu keputusan. "Jarak memang tak kurang dari 3 mil laut. Tapi risikonya terlalu besar," ujarnya. Danki Satgas Pamtas 2011, Kapten Frans Dahua juga menegaskan  yang terpenting dari semuanya adalah keselamatan prajurit dan senjata.

Komandan Satgas Pamtas 2012, Lettu Edy Sakli turut menjelaskan bahwa pasukan Miangas akan diturunkan di Pelabuhan Tahuna menyesuaikan jalur dari kapal  perintis yang ada. Sedangkan pasukan lama, baru akan kembali ke Manado sekitar satu minggu mendatang.

Dengan kecepatan penuh, KRI buatan Jerman Timur tahun 1979 ini menghindari terjangan gelombang dan terpaan angin. Kapal langsung menuju Marampit. Perlu waktu 10 jam untuk tiba di Pulau Marampit keesokan harinya, Rabu (4/7/2012). Meski tak seganas Miangas, di pos terakhir ini kapal hanya dapat berputar-putar tanpa bisa menyentuh dermaga. 

Meski dimanjakan keindahan berbagai gugusan pulau di Kabupaten Talaud, bongkar muat hanya berlangsung tiga jam. KRI harus memburu kapal perintis di Tahuna dalam waktu tak kurang dari 22 jam. Rasa lelah dan jenuh pun mulai merasuki setiap tubuh manusia yang ada di atas kapal. Untungnya di perairan Talaud banyak tersebar pulau-pulau sehingga lautan terasa sangat tenang.

Pelabuhan Bitung
Pagi keesokan harinya, Kamis (5/7/2012), kesibukan para nelayan di Teluk Tahuna menyambut kedatangan KRI Teluk Lampung. Setelah sandar di dermaga, komandan kapal yang mengetahui kondisi para penumpangnya memberi waktu cukup untuk beristirahat di daratan. Para prajurit yang lepas tugas pun memanfaatkan kesempatan ini untuk singgah di kedai kopi atau mengunjungi toko- toko souvenir yang menjual berbagai barang dari Filipina. "Ini oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Ada cangkir-cangkir buatan Filipina, pajangan kaligrafi dan air terjun, pokoknya saya borong," ujar Praka Atmam sambil memikul sekotak kardus besar.

Ia beralasan karena selain unik dan murah, benda-benda ini akan mengingatkan dirinya saat-saat berkesan dalam penugasan di perbatasan. Setelah melakukan apel terakhir untuk memeriksa kelengkapan personil, kapal pun menarik jangkar. Lembayung senja menghantar kepulangan menuju Bitung.

Malam harinya, para prajurit bercengkrama di atas dek terbuka menikmati semilir angin. Eksotisme Gunung Api Karangetan dalam siluet rembulan menjadi pemandangan terakhir menutup perjalanan pergantian Satgas Pamtas prajurit Yonif 712/Wiratama. (thanks for mas Rizky Adriansyah)

Sumber: Harian Tribun Manado, 8-9 Juli 2012 halaman 1

Ruang Kedap Suara

ilustrasi
KEPALA Biro Perlengkapan Sekretariat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara  Rudij Roring menyampaikan kabar menarik awal pekan ini. Menurut Roring, pemprov  menggelontorkan dana kurang lebih Rp 7 miliar untuk pembangunan ruang rapat yang baru. Ruangan dirancang kedap suara dengan interior mewah serta sound system yang mumpuni.

Ruang rapat kedap suara tersebut akan dipakai untuk rapat tertutup pejabat pemprov dan para kepala daerah. "Di Manado sepengetahuan saya,  baru yang kedua ruang akustik seperti ini," ujarnya kepada Tribun  hari Selasa (10/7/2012).

Roring menyatakan  dana Rp 7 miliar itu tidak berlebihan karena ruang yang akan dibangun cukup representatif dengan kapasitas ideal  200-300 orang bahkan bisa menampung  400 orang. Roring mengakui, rancangan interior menyumbang pengeluaran cukup besar. Selain pembangunan ruangan rapat baru, Pemprov Sulut juga mengeluarkan dana untuk renovasi ruang wakil gubernur  Rp 150 juta.

Pembangunan ruang rapat kedap suara tersebut tentunya sudah melalui perencanaan yang matang sesuai kebutuhan pemerintah daerah Sulawesi Utara. Sebagai daerah di Indonesia yang amat kerap dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggara event nasional bahkan berskala internasional,  Sulut memang sudah sepantas memiliki sarana dan prasana yang memadai.

Dengan kapasitas 200-300 orang,  maka ruang rapat tersebut  memang cukup representatif menjadi tempat pertemuan dengan peserta banyak. Manfaatnya pun tidak sebatas buat rapat kepala daerah. Pasti bisa digunakan untuk kebutuhan lain di masa depan, sehingga kitamemberi apresiasi positif  terhadap rencana pembangunan properti  tersebut sembari mengingatkan beberapa hal sebagai catatan kaki.

Pertama, pengalaman mengajarkankan kepada kita,  bukanlah hal sulit membangun sebuah gedung baru di lingkungan pemerintahan baik pemerintah pusat maupuan daerah. Toh dana bukan perkara rumit  karena lazimnya sudah dialokasikan lewat APBD atau APBD dalam  tahun anggaran berjalan. Prosedur dan ketentuannnya pun jelas, sehingga pembangunan fisik selesai tepat waktu dan siap dimanfaatkan.

Selalu membuat galau justru perawatannya setelah itu.  Tidak sedikit properti milik negara yang keindahan serta kemewahannya hanya bertahan beberapa saat karena lemahnya manajemen perawatan oleh pemerintah. Dalam sejumlah kasus bahkan gedung yang dibangun dengan dana miliaran rupiah justru mubazir karena salah perencanaan. Kita harapkan hal semacam ini tidak terjadi di Sulut.

Kedua, ruang rapat kedap suara memiliki pesan simbolis bagi publik. Bolehlah kedap suara untuk interior dan seluruh pernak-pernik di dalamnya. Jangan sampai para peserta rapat yang notabene merupakan para pemimpin pemerintahan di Sulawesi Utara kedap suara, tutup telinga, tutup mata dan tutup hatinya terhadap jerit tangis rakyat di luar sana.

Cukup sering kita mudah bilang peduli terhadap rakyat. Faktanya pemimpin tak meluangkan waktu mendengar suara rakyatnya. Mereka menempatkan diri terlampau jauh seperti bintang di tingginya langit.*

Sumber: Tribun Manado 12 Juli 2012 hal 10

Idola Indonesia

DALAM sepekan terakhir dua pemain bintang yang ikut mengantar  tim nasional Spanyol mempertahankan gelar Piala Eropa 2012 berkunjung ke Indonesia yakni Cesc Fabregas dan Xabi Alonso. Kehadiran mereka sungguh membius para penggemar bola di Tanah Air, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Xabi Alonso yang datang bersama istrinya, hari Minggu 8 Juli 2012 hadir dalam acara  Indonesia Mengoper Bola 2012 di Silang Barat Daya Monas Jakarta. Acara tersebut melahirkan  rekor baru Guiness World of Records bertitel Most  Consecutive Football Passes dengan jumlah operan bola sebanyak 1.074 kali.

Ribuan fans dari berbagai daerah pun membanjiri Silang Monas untuk melihat aksi idola mereka mengoper bola. Tidak semua fans Alonso bisa bertemu dan foto langsung dengannya. Tapi mereka tidak kehilangan akal. Papan  foto pemain Real Madrid tersebut jadi pilihan. Banyak yang memanfaatkan papan fotoAlonso untuk berpose sebagai kenang-kenangan.

Satu di antara fans Alonso bernama Irin. Seperti dilaporkan Tribunnnews, gadis berusia 24 tahun asal Galur ini pose bersama papan Xabi Alonso. "Abis susah foto langsung sama Xabi, jadi foto di sini aja deh," kata Irin. Anggi yang datang dari Cibubur bahkan sudah menunggu sejak subuh untuk melihat Xabi Alonso. Tetapi karena susah untuk berfoto langsung, ia pun memilih papannya saja.

Lain lagi aksi anak-anak dan remaja penggemar gelandang elegan Spanyol tersebut. Agar lebih jelas melihat Xabi mengutak-atik kulit bundar di Silang Monas mereka  memanjat pohon. Pohon setinggi kurang lima meter  tidak menyiutkan nyali.Mereka setia bertengger di dahan pepohonan  hingga Alonso  selesai mengoper bola.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir sudah banyak kelompok  bisnis di Tanah Air mendatangkan bintang sepakbola dunia. Kehadiran para atlet ternama itu selain  promosi demi meningkatkan branding juga demi memuaskan kerinduan masyarakat melihat langsung pemain idolanya. Itulah sebabnya kedatangan para bintang olahraga dunia ke Indonesia selalu sukses.

Masyarakat Indonesia sangat menggandrungi sepakbola. Di negeri ini bahkan seorang bocah pun menghafal nama pemain klub Barcelona seperti Lionel Messi atau kiper nomor satu Spanyol dari klub Real Madrid, Iker Casillas. Banyak fans club terbentuk di berbagai kota dan komunitas mereka sangat setia pada klub kesayangan masing-masing.

Kegandrungan semacam  ini sesungguhnya merupakan aset sosial yang luar biasa guna membangun olahraga sepakbola berprestasi. Tapi ironi justru melanda bangsa besar ini. Di cabang sepakbola kita belum bisa melahirkan bintang idola sendiri seperti yang sukses diperlihatkan Korea Selatan, China, Jepang dan negara Asia Timur lainnya. Maklum saja sepakbola Indonesia kisruh melulu. Ribut sepanjang waktu memperebutkan kursi di PSSI. Ketika secara organisasional kita rapuh, maka bintang idola sepakbola dari negeri sendiri sulit terwujud sampai kapan pun. Dan, anak-anak kita akhirnya semata mengidolakan tokoh semisal Xabi Alonso, Fabregas, Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. *

Sumber: Tribun Manado 9 Juli 2012 hal 1

Prahara Salah Urus

KITA prihatin! Kita sedih melihat kenyataan 50 atlet dari 10 cabang olahraga meninggalkan Hotel Yuta Manado, Kamis petang 5 Juli 2012. Mereka telah menghuni hotel tersebut hampir tiga bulan guna  menjalani pemusatan latihan daerah (pelatda) sebagai persiapan untuk  membela kehormatan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut)  di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau, September nanti.

Jujur mesti kita katakan, meski ini terasa pahit, bahwa peristiwa tersebut mencermikan betapa kita tidak memperlakukan putera-puteri terbaik Sulut di bidang olahraga dengan sepatutnya. Pengurus sepuluh cabang olahraga yang lolos terpaksa memerintahkan para atlet meninggalkan Yuta sebagai ekspresi ketidakpuasan atas berlarut-larutnya pencairan dana PON. 

Dampak ketiadaan dana sudah lama dirasakan atlet dan ofisial. Hampir tiga bulan di Pelatda, para atlet belum menerima uang saku. Sarana latihan mereka pun  seadanya, bahkan menggunakan peralatan bekas. Manajemen Hotel Yuta sempat mengunci pintu kamar hotel karena kecewa pembayaran hotel masih tertunggak.
Keputusan para atlet meninggalkan Hotel Yuta pada 5 Juli 2012 jelas menebarkan kegalauan. Persiapan kontingen Sulawesi Utara menuju PON XVIII Riau bisa berantakan kalau benang kusut itu tidak segera terurai. Secara psikologis para atlet dan pelatih sungguh terbebani oleh situasi ketidakpastian ini.

Masyarakat Sulut sudah tahu akar masalahnya. Persiapan atlet PON 2012  terbentur dana yang terbatas karena lemahnya perencanaan. Dalam APBD 2012 dana hanya dianggarkan Rp 10 miliar dari kebutuhan ideal Rp 20 miliar. Hingga bulan Juli 2012 atau dua bulan sebelum perhelatan  akbar olahraga nasional itu Pemerintah Provinsi dan DPRD Sulawesi Utara masih "ribut" siapa yang harus disalahkan atas kekurangan dana tersebut.

Meski dana kurang, KONI Sulut tetap mempersiapkan atlet. Pelatda terpusat digulirkan sejak April lalu. Para atlet dikumpulkan di Hotel Yuta sebagai rumah bersama guna memudahkan koordinasi serta konsentrasi latihan. Itupun  hanya untuk beberapa cabang olahraga.  Karena dana kurang, KONI pun terpaksa berutang sambil berharap pemerintah provinsi dan DPRD segera menata anggaran dalam APBD Perubahan 2012. Eh ternyata belum kelar juga. Mengapa lama nian?

Kadang sulit dipercaya prahara salah urus  ini kok terjadi di Sulawesi Utara, salah satu provinsi gudang atlet nasional. Sulut selama bertahun-tahun memberi kontribusi yang signifikan bagi kebanggaan Merah Putih. Prestasi atlet daerah ini menjadi indikator nasional seperti di cabang  brigde, terjun payung,  bulutangkis, tinju, bolavoli dan lainnya. Kadang sulit dipercaya perencanaan di bidang olahraga masih menjadi masalah besar di daerah sepopuler Sulut, tempat penyelenggaraan banyak event berskala nasional dan internasional. Daerah dimana para pejabat publiknya begitu rajin bepergiaan untuk studi banding, baik di dalam maupun ke luar negeri.

Pesan kita sederhana saja. Kalau mau melahirkan anak bangsa dengan karakter yang tangguh agar mampu bersaing di masa depan, uruslah olahraga dengan kesungguhan hati. Jangan cuma piawai menenun politik praktis dengan sasaran jangka pendek. Akhiri sudah prahara salah urus ini! *

Sumber: Tribun Manado 7 Juli 2012 hal 10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes