Rebutan Gendong Amelia

Kru Tribun Manado baksos di Tompaso 15 Des 2012
TOMOHON, TRIBUN - Tawa riang para bocah itu menyambut kedatangan keluarga besar Tribun Manado di Panti Asuhan Wale Ne Oki Bethesda yang berada di Jln Nasaret No 346 Desa Matani III Lingkungan VIII Kecamatan Tomohon Tengah Kota Tomohon, Sabtu (15/12/2012).

Tawa anak-anak beusia satu sampai lima tahun itu klop dengan suasana riang gembira kru Tribun Manado sepanjang perjalanan dari Manado menuju Tomohon untuk berbagi kasih dengan menyerahkan bantuan kepada anak-anak panti.

Selain di Panti Asuhan Wale Ne Oki Bethesda Tomohon, rombongan juga datang ke Panti Asuhan Putera Wisma Anugerah Tompaso Minahasa. Acara ini merupakan rangkaian ibadah Natal yang sebelumnya digelar di GKIC Novotel Manado.

Kejar - kejaran satu dengan yang lain, tingkah para bocah ini memang menggemaskan. Karyawan Tribun Manado pun meraih mereka satu-satu untuk digendong.

Bayi bernama Amelia yang baru berusia satu tahun jadi rebutan untuk digendong. Bayi itu lucu dan tidak menangis meski jatuh ke pelukan satu per satu karyawan Tribun Manado.

Bahkan, ada juga anak-anak yang meghibur dengan gerak tari. Lenda Tumbel Rambitan, Kepala Panti Asuhan yang bernaung di bawah Yayasan Sosial Ds A.Z.R Wenas GMIM menyatakan, para bocah ini memang tengah menirukan gerak Cherrybell. "Mereka memang menirukan artis idola mereka," katanya.

Dijelaskannya, anak-anak ini kebanyakan datang dari latar belakang keluarga yang kurang mampu, meski ada juga yang memang tak puanya orangtua. Jika jelang Natal, banyak pihak yang datang memberi bantuan.

Kesulitan kadang dialaminya serta 12 pengasuh yang merawat 42 anak yang ada di situ, meski panti asuhan itu mendapat bantuan dari gereja dan pemerintah setempat. "Saat kesulitan kami berdoa dan bantuan Tuhan selalu tepat pada waktunya.Terima kasih Tribun Manado," katanya lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke  Panti Asuhan Putera Wisma Anugerah Gereja Bala Bala Keselamatan di Desa Liba Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa. Ternyata anak-anak sudah menanti di Aula William Booth yang terletak di samping panti asuhan.

Suasana haru tercipta ketika belasan anak membawakan sebuah lagu tentang Natal yang indah.  Karyawan Tribun Manado  yang mendengar lagu itu menangkap kisah sedih anak-anak itu, yang oleh nasib terpaksa merayakan Natal jauh dari orang tua dan kampung halaman.

'Tangisan yang dinyanyikan' itu membuat beberapa karyawan berlinang air mata.
Salah satu anak yang menyanyikan lagu itu adalah Dwiki. Siswa SMP berusia 14 tahun ini berada di panti asuhan itu sejak masih di bangku SD. "Saya di sini sejak SD," kata bocah berkulit hitam manis itu.

Tri Prasetyo, Asisten Panti Asuhan menyatakan, ada 44 anak yang ditampung di panti asuhannya. Umumnya mereka berasal dari keluarga ekonomi lemah, broken home serta yatim piatu.  "Mereka cuci baju sendiri, setelah pulang sekolah ada yang menjadi loper koran yang menjual Tribun Manado," sebutnya.

Nelson Nau, Pemimpin Panti Asuhan menyebutkan, kedatangan Tribun Manado sangat dinanti-nanti oleh anak-anak, terlebih mereka yang biasa jadi loper koran. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Tribun Manado," ujarnya.

Fahmi Setiadi, Pemimpin Perusahaan Tribun Manado menyatakan, kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan sosial menjelang Natal yang rutin dilaksanakan oleh Tribun Manado. "Semoga ini bisa memberi manfaat bagi anak anak," katanya. (art)

Sumber: Tribun Manado 16 Desember 2012 hal 8

Sekilas Tentang Ritual Pemilihan Paus

Konklav di Kapel Sistine tahun 2005
Oleh Pastor Markus Solo SVD, dari Vatikan

Konklav, ritual khas untuk memilih Sri Paus, sang Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma--akan diadakan lagi Selasa  12 Maret 2013. Konklav dilakukan ntuk memilih penerus Tahta Santo Petrus ke-265, setelah Paus Benediktus XVI secara resmi mengundurkan diri Kamis lalu, 28 Pebruari 2013 tepat jam 20.00 waktu Roma oleh karena umur dan kesehatan.

 Sejak itu Tahta Santo Petrus mengalami sede vacante" (Latin, artinya Tahta Kosong). Di dalam masa ini para Kardinal di seluruh dunia di bawah 80 tahun sejak sede vacante berkumpul di Vatikan untuk mengadakan konklav.

Seperti yang telah diputuskan secara bersama-sama oleh para Kardinal pemilih, Selasa mendatang, ke-115 Kardinal pemilih akan memulai dengan konklav. Pukul 10.00 pagi hari itu dirayakan Misa mulia Pembukaan Konklav di Basilika Santo Petrus, Vatikan, yang disebut dengan istilah "Pro Eligendo Romano Pontifice" (Misa pemilihan Paus Roma) dipimpin oleh Pemimpin Kollegium para Kardinal, yakni Kardinal Angelo Sodano. Perayaan Misa tersebut dihadiri oleh seluruh Kardinal Pemilih dan bukan pemilih, artinya yang sudah berumur di atas 80 tahun sejak sede vacante, dan terbuka untuk seluruh umat Katolik.

Di dalam Misa ini ujud utama yang dikedepankan adalah memohon bantuan Allah Tritunggal agar memberkati upacara konklav dan memohon bantuanNya melalui penerangan Roh Kudus agar para Kardinal Pemilih dapat memilih seorang Paus yang sungguh-sungguh tepat sesuai kehendak Tuhan sendiri.

Sore hari, tepat pkl. 16.30 para Kardinal pemilih berkumpul di Kapela Paulina di dalam Vatikan, lalu berarak dalam prosesi dan suasana doa menuju Kapela Sixtina, di tengah-tengah bangunan Vatikan, tempat konklav akan berlangsung. Perarakan ini didahului oleh ajuda pemegang Salib dan diikuti oleh rombongan Koor Sixtina yang terdiri dari anak laki-laki dan pria dewasa.

Para Kardinal pemilih mengenakan pakaian merah dengan segala perlengkapannya sebagai layaknya menghadiri sebuah peristiwa penting. Selama perarakan, para Serdadu Swiss dan Polisi Italia akan mengawal dan memastikan bahwa tidak ada pihak luar yang berkontak dengan para Kardinal Pemilih atau sebaliknya.

Setibanya di dalam Kapela Sixtina, para Kardinal memilih tempat duduk seperti yang sudah disediakan. Setelah acara doa selesai, Master Seremoni Papale, Monsignor Guido Marini, adalah orang pertama yang berbicara dengan kata-kata berikut: Extra Omnes, artinya semua yang bukan Kardinal Pemilih harus meninggalkan Kapela Sixtina.

Kapela Sixtina sendiri telah disiapkan sebelumnya, termasuk pembangunan cerobong asap, ofen pembakar kertas pilih, pencabutan segala jaringan telepon, internet, pembersihan surat-surat kabar dan perusakan signal handphone untuk menghindari kontak dengan dunia luar. Juga di tempat para Kardinal pemilih, Domus Sanctae Marthae (Rumah Santa Marta) di dalam Vatikan, segala bentuk alat komunikasi, baik cetak maupun elektronik, diamankan. Jendela-jendela kamar mereka disegel dan signal telepon genggam juga diblok. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bagi para Kardinal untuk bersalaman satu dengan yang lain. Akan tetapi mereka harus mengelakan pembicaraan-pembicaraan yang berkaitan dengan calon kandidat pilihan mereka atau segala diskusi terkait.

Setelah diadakan pengecekan dan pasti bahwa hanya ada 115 Kardinal pemilih di dalam Kepela Sixtina, pintu Kapela Sixtina ditutup sebagai tanda penarikan diri mereka dari dunia luar secara sah dan konklav secara resmi dapat dimulai. Sejak itu hanya ada 115 Kardinal berada di dalam Kapela Sixtina dan mengurus segala sesuatu secara sendiri.

Di awal konklav, Kardinal Kepala Kollegium memilih tiga Kardinal termuda sebagai tenaga-tenaga pelancar selama konklav. Hari-hari berikutnya bisa dipilih tiga Kardinal muda lainnya.

Pada hari pertama, Selasa malam, pemilihan hanya terjadi satu putaran saja. Sedangkan pada hari-hari selanjutnya sebanyak empat kali, yakni dua putaran di pagi hari, dan dua putaran di sore hari.

Sebelum memulai dengan pemilihan, kepada masing-masing Kardinal dibagikan sebuah kertas pemilih berukuran seperempat dari selembar kertas dina 4, di atasnya tertera sebuah kalimat di dalam bahasa Latin: Eligo in Sumum Pontificem Meum, artinya: Saya memilih Pemimpin Tertinggiku, di bawahnya terdapat ruangan untuk menulis nama orang yang ingin dipilih.

Setelah semua Kardinal memilih, mereka diminta untuk beranjak dari tempat duduknya menuju Altar, di mana sudah disemdiakan sebuah tempayan atau piala, tempat mereka akan memasukan kertas suara mereka. Mereka dipanggil menurut pangkat dan jabatan. Setiba di depan Altar, setiap Kardinal berdiri dengan posisi menghadap sidang Kardinal, mengangkat kertas pilihannya tinggi-tinggi untuk membuktikan bahwa dia telah memilih secara sah, kembali berdiri menghadap Altar lalu berlutut untuk berdoa.

Bunyi doanya adalah: Testor Christum Dominum, qui me iudicaturus est, me eum eligere, quem secundum Deum iudico eligi debere" (Aku memanggil Kristus Tuhan sebagai hakimku untuk menjadi saksi bahwa saya telah memilih calon ini, yang saya yakin sungguh bahwa dia akan dipilih sesuai kehendak Tuhan). Setelah berdoa demikian, si Kardinal pemilih bangun berdiri, melipatkan kertas pilihannya dua kali sehingga berukuran kecil sekitar 2X2 cm, lalu meletakkannya ke tempayan atau piala yang telah disediakan. Setelah itu dia kembali ke tempat duduk dan disusul oleh Kardinal lainnya hingga akhir.

Setelah ke-115 kardinal melakukan tahap ini, ketiga Kardinal termuda yang telah dipilih untuk melancarkan upacara pemilihan, menghitung kertas suara dan mengumpulkan suara, lalu mengumumkan hasil pemilihan. Kalau proses pemilihan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka pemilihan dinyatakan sukses.

Untuk konklav kali ini, berbasis pada motu proprio Paus Benediktus yang melengkapi peraturan konklav dari pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II, seandainya seorang calon terpilih dengan mayoritas 77 suara, artinya duapertiga dari jumlah seluruh pemilih, maka dengan itu seorang Paus sudah terpilih. Jika belum ada minimal mayoritas duapertiga,maka pemilihan akan dilanjutkan ke putaran berikutnya. Akan tetapi jika lebih dari putaran ke-30 dan belum juga terpilih seorang Paus, maka, sesuai motu proprio Paus Benediktus tahun 2007, dua kandidat dengan perolehan suara terbanyak, akan dipilih oleh para Kardinal, di mana kedua yang terpilih ini otomatis kehilangan hak memilih.

Di akhir sebuah putaran, kertas-kertas yang sudah terbuka akan dilobangkan dengan sebuah jarum lalu dibariskan pada seutas benang lalu dimasukan ke dalam ofen untuk dibakar. Kalau putaran tersebut belum menghasilkan seorang Paus, maka kertas-kertas itu dibakar dengan campuran zat kimia yang menghasilkan asap warna hitam.

Hal ini memberikan isyarat kepada umat Katolik seluruh dunia bahwa Paus belum terpilih. Di berbagai sudut Vatikan sekitar 5000 wartawan cetak dan elektronik sudah siap untuk memantau cerobong asap selama masa konklav dan sesegera mungkin lenajutkan isyarat ini ke seluruh dunia. Ribuan umat yang menanti sehari.hari di Lapangan Santo Petrus juga akan mengarahkan pandangan hanya ke satu titik, yakni ke cerobong asap.

Seandainya sebuah putaran telah menghasilkan mayoritas yang dibutuhkan, artinya seorang Paus sudah terpilih, maka Kardinal Dekan menanyakan kepada yang bersangkutan dalam keadaan berdiri, apakah dia menerima pemilihan tersebut. Ketika dia menjawab Ya sebagai tanda kesediaanya, maka kepadanya dilontarkan pertanyaan kedua: Apa nama yang digunakan sebagai Paus. Setelah memberikan jawaban kepada kedua pertanyaan ini dengan jelas, Paus baru dikenakan sebuah tanda khusus berupa sebuah pakaian kebesaran. Dulu, Paus terpilih dikenakan sebuah mahkota, tetapi tradisi ini sudah tidak berlaku lagi.

Setelah mengenakan pakaian khusus ini, Paus terpilih beranjak dari tempatnya menuju ke Altar, di mana di depan Altar tersebut sudah disediakan kursi khusus. Di hadapannya para Kardinal (saat itu berjumlah 114 orang) mengucapkan janji setia dan ketaatan mereka kepadanya. Setelah itu semua bertepuk tangan dan mengucapkan Selamat kepada Paus terpilih.

Pada saat itu pengurus pembakaran kertas pilihan memasukkan kertas-kertas yang sudah dideretkan pada seutas tali dan dibakar dengan campuran kimia yang menghasilkan asap warna putih, sebagai tanda bahwa Gereja Katiolik sudah memiliki seorang Paus. Asap putih dari cerobong di atas atap Kapela Sixtina akan diiringi dengan bunyi lonceng raksasa.

Pada saat yang sama, Paus baru dihantar menuju sebuah kamar di samping Altar yang disebut camera lacrimatoria", artinya Kamar Air Mata, di mana dia beristirahat, memikirkan apa yang harus dikatakan beberapa saat kemudian ketika diperkenalkan kepada dunia dari balkon Basilika Santo Petrus. Kamar itu dinamakan Kamar Air Mata" karena berbagai alasan, antara lain sebuah tempat khusus, di mana Paus baru meluapkan segala perasaanya, yang umumnya di dalam sejarah berupa deraian air mata kegembiraan atau keterharuan. Di sini pula Paus baru tersebut dikenakan pakaian lain untuk ditampilkan ke publik.

Dalam selang waktu antara 20 sampai 30 menit, ketika ratusan ribu umat dan peziarah bergegas menuju Lapangan Santo Petrus, Paus baru dihantar oleh rombongan Kardinal menuju Balkon Basilika Santo Paulus yang berbingkai merah dan ditutup dengan kain lebar berwarna merah pula. Dua ajuda mendamping seorang Kardinal Diakon yang akan mengumumkan kepada dunia nama Paus baru sebagai hasil konklav. Kali ini, Kardinal Diakon yang akan mengumumkan nama Paus baru adalah Jean-Louis Kardinal Tauran, yang adalah juga Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, tempat Penulis bekerja.

Kardinal Diakon tampil ke Balkon, diiringi dengan tepukan tangan dan teriakan histeris hadirin yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu, lalu mengumumkan nama Paus baru dengan rumusan berikut: Annuntio vobis gaudium magnum: Habemus Papam!", artinya: Saya mengumumkan kepada anda kalian sebuah kegembiraan besar: Kita mempunyai seorang Paus!"

Kardinal Diakon dan kedua ajuda mundur, lalu tampillah Paus baru sambil menyalami hadirin dan pemirsa di seluruh dunia dengan gestikulasi tangan khas. Setelah masa redah, beliau menyalami umat dan dunia dan membawakan sebuah wejangan singkat.

Setelah melakukan perkenalan dan sambutan ini, beliau kembali ke Domus Sanctae Marthae, menghuni sebuah kamar khusus yang sudah disediakan sekitar satu minggu sambil menanti pemberesan dan adaptasi istana kepausan untuk Paus baru. Setelah pengumuman resmi ini, para Kardinal pemilih boleh kembali ke ritme dan model hidup normal.

Beberapa hari kemudian, sebuah Misa instalasi Paus baru akan dilaksanakan dan terbuka untuk umat. Pada saat itu umat dipenuhi kegembiraan sekaligus rasa ingin tahu tentang apa yang akan disampaikan Paus baru di dalam kotbahnya, yang umumnya sudah menyiratkan kiat, visi, misi dan harapannya serta apa yang akan dilakukan di masa-masa mendatang di dalam era kepemimpinannya. *

Sumber: Tribunnews.com

Apakah Paus Baru adalah Paus Terakhir?

Para kardinal saat pemilihan paus tahun 2005.
Pada Selasa (12/3/2013), para kardinal dari seluruh dunia  memulai sidang konklaf di Kapel Sistine, Vatikan, untuk mencari paus baru pengganti Benediktus XVI yang mengundurkan diri.

Saat 1,2 miliar umat Katolik menunggu pemimpin baru mereka, sebuah ramalan kuno menyatakan bahwa paus pengganti Benediktus XVI adalah paus terakhir.

Teori ini bisa dilacak kembali ke masa 900 tahun lalu. Saat itu, di abad ke-12, Kardinal Irlandia, Malachy O'Morgair, mendapatkan sebuah penglihatan.

Legenda mengatakan Santo Malachy, begitu sang kardinal kemudian disebut, mendapatkan penglihatan aneh saat dia berkunjung ke Roma.

Di Roma, Malachy melihat semua nama paus di masa depan—lengkap dengan ciri khas mereka— yang akan memimpin Gereja Katolik hingga akhir zaman.

Ramalan Malachy menyebut Paus Benediktus XVI adalah paus ke-111 atau paus sebelum yang terakhir. Penglihatan Malachy berakhir di paus ke-112.

Dalam buku Life of St Malachy karya St Bernard of Claivaux disebutkan bahwa Malachy adalah seorang peramal terhormat yang bisa memprediksi dengan tepat hari dan jam kematiannya sendiri.

Setidaknya, salah satu paus abad ke-20, Paus Pius X, sangat yakin bahwa ramalan Malachy benar adanya. Setidaknya lagi, begitulah menurut biografi Pius X karya Rafael Merry del Val.

Petrus, Paus Terakhir


Ramalan ini memicu perdebatan di antara para ahli teologi dan tokoh agama. Mereka menyatakan tidak pernah ada manuskrip otentik terkait ramalan Malachy. Catatan Malachy secara tak terduga ditemukan pada 1590 di antara arsip Vatikan, ratusan tahun setelah Malachy menyampaikan ramalannya.

"Tak ada dasar sejarah apapun terkait daftar ramalan Malachy," kata pakar sejarah Kristen dari Universitas Roma, Roberto Rusconi.

"Satu-satunya bakat Malachy adalah membuat orang lain memercayai prediksinya," lanjut Roberto.

Namun, para pakar lain mencoba membandingkan daftar penglihatan Malachy dengan sejarah.

Paus pertama, menurut daftar itu, berasal dari sebuah instansi di Sungai Tiber. Bagi yang memercayai ramalan ini, kalimat itu merujuk pada Paus Celestine II yang lahir di tepian Sungai Tiber.

Paus Benediktus, dalam daftar itu, digambarkan sebagai "kejayaan dari zaitun (olive)", dan para penggemar teori hari kiamat merujuk ke gelar Benediktus karena pendiri Ordo Benediktine juga dikenal sebagai Olivetan.

Selain itu, dalam ramalan Malachy, paus terakhir digambarkan sebagai "dalam tekanan yang besar, takhta suci Gereja Katolik Roma akan diduduki Peter (Petrus) Si Orang Roma...."

Sementara itu, tak seorang pun kardinal dari Italia yang bergelar Petrus atau Peter. Salah satu kandidat paus adalah Kardinal Peter Turkson dari Ghana.

Ramalan Nostradamus

Jika ramalan Malachy belum cukup, ternyata peramal paling terkenal dalam sejarah, Nostradamus, pada abad ke-16 juga mengeluarkan prediksi yang tak jauh berbeda dengan Malachy.

Nostradamus dalam ramalannya mengatakan, paus sebelum yang terakhir akan "meninggalkan Roma pada Desember di saat sebuah komet terlihat di siang hari".

Setelah beratus tahun berselang, ramalan Nostradamus ternyata tak jauh meleset. Komet ISON, dengan ekor sepanjang 40.000 mil, terlihat beberapa bulan sebelum Paus Benediktus XVI memutuskan untuk mengundurkan diri.

Ramalan itu semakin nyata dengan tanda alam yang sangat jelas. Beberapa jam setelah Benediktus XVI mengumumkan pengunduran dirinya, petir menyambar kubah Basilila Santo Petrus. Beberapa hari kemudian, meteorit jatuh di Rusia.

Namun, di luar tembok Katedral Santo Paulus di Roma, terdapat barisan lencana bertuliskan nama semua paus dan masa pemerintahannya. Legenda mengatakan, jika semua lencana itu sudah penuh, maka dunia akan segera menghadapi kiamat. Nah, dinding Katedral Santo Paulus ternyata masih menyisakan banyak lencana kosong.

Dengan demikian, jika Anda percaya legenda ini, maka akhir zaman tampaknya masih cukup jauh. (*)

Sumber: Kompas.Com

 

Paula Sinjal Berdiskusi dengan Tribun Manado

Anggota DPR RI Paula Sinjal bersama kru redaksi Tribun (foto M Geneva)
MANADO, TRIBUN - Anggota DPR RI asal Sulut, Paula Sinjal SH MH mengaku akan terus berjuang untuk kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara. Banyak cara yang dilakukan Paula agar bisa membawa aspirasi warga Sulut.

 "Saya berurusan langsung dengan legislasi, membuat undang-undang. Peran di sini sangat strategis karena 'dapurnya' negara ada di sini," ujar Sinjal kala berdiskusi dengan jajaran redaksi Tribun Manado, Minggu (10/3/2013) malam.

Menurut Paula, akhir-akhir ini ia dan sejawatnya di Baleg DPR RI disibukkan dengan pembahasan UU Advokat. Pembahasan regulasi yang mengatur seluk beluk profesi advokad ini menguras tenaga dan pikiran. "Syukur semua bisa dijalani," katanya.

Berbeda dari tokoh lain yang menjanjikan ini itu ke khalayak, Paula justru beda. Perempuan asli Amurang Minsel ini menawarkan konsep, gagasan, buah pikiran dan pendampingan untuk masyarakat Sulut.

 "Kalau uang mungkin saya tak punya tapi saya, lewat kepercayaan yang ada, saya siap 'tumpah darah' bersuara untuk masyarakat Sulut di parlemen pusat," tukas ibu dua orang putri ini.

Paula yang hingga kini bergiat di gerakan perempuan berbagi banyak hal terkait isu-isu terkini menyangkut kemasyarakatan. Soal penegakan hukum, HAM, kemanusiaan, politik pemerintahan dan lainnya dikupas dalam diskusi bernuansa kekeluargaan.  Paula Sinjal diterima Manajer Produksi Dion DB Putra, Korlip Charles IK dan Redaktur Fernando Lumowa.(ndo)

Sumber: Tribun Manado 11 Maret 2013 hal 2

Theofilus Cs Belajar ke Tribun Manado

Diskusi dengan UKM Pers Kampus Poltek Manado (foto Anton Iwan)
MANADO, TRIBUN - Redaksi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Kampus Politeknik Negeri Manado, Jumat (8/3/2013) siang, bertandang ke kantor Tribun Manado untuk berbagi pengalaman dunia jurnalistik.

Kedatangan Pers Kampus Politeknik diterima Manager Produksi Tribun Manado, Dion DB Putra, Koordinator Liputan, Charles Komaling, Redaktur Kota, Maximus Geneva, dan Asisten Redaktur Daerah, David Kusuma.

Pembina Pers Kampus Politeknik, Agustivo Tumundo, mengatakan, kedatangan mereka untuk lebih memperdalam dunia jurnalistik, apalagi awal bulan April mereka akan menerbitkan tabloid kampus.

"Kami akan menerbitkan tabloid Lensa Polindo. Polindo singkatan dari Politeknik Negeri Manado, dan rencananya tabloid ini terbit sebulan sekali. Edisi perdana akan terbit awal bulan April ini," ucap pria yang juga dosen di kampus tersebut.

Pemimpin Redaksi, para editor, reporter, dan desain halaman, grafis merupakan mahasiswa Politeknik yang mencintai dunia jurnalistik.

Theofilus Maras, Pemimpin Redaksi Pers Kampus Politeknik mengatakan, mereka sudah mempunyai rencana mengenai topik yang akan diangkat sebagai laporan utama pada edisi perdana. Namun, untuk memperkaya wawasan mereka tentang jurnalistik, maka mereka tidak malu untuk belajar dari Tribun Manado.

Dalam perbincangan yang mengalir hangat tersebut, beberapa editor UKM Pers Kampus Politeknik juga bertanya ke jajaran redaksi Tribun Manado, seputar berita stright news, feature news, teknik wawancara narasumber, hingga program yang terbaik untuk mendesain halaman.

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Manajer Produksi Tribun Manado, Dion Putra menjelaskan, berita itu fakta bukan gosip. Dion menyarankan jika ukuran tabloid sebaiknya mengangkat topik pada laporan utama bergaya tulisan feature dan kaya data.

"Bukan berarti berita-berita straigth news di tabloid itu tidak ada, tetapi perbandinganya sekitar 70 persen berita features dan 30 persen straigth news, untuk itu sudah harus ditentukan rubrik per halaman," ujarnya.

Koordinator Liputan, Charles Komaling menambakan, sebagai pers kampus jangan menganggap berita tentang kasus merupakan berita yang paling menarik.

"Bagaimana mengemas berita kasus menjadi sesuatu yang menghasilkan jalan keluar itu yang penting, lalu tidak selamanya bad news is god news, tetapi god news is god news, contohnya, angkatlah berita lulusan Politeknik yang sudah menjadi bos di sebuah perusahaan dan itu akan menginspirasi mahasiswa lainnya," ucap Charles menjelaskan. Di akhir kunjungan, UKM Pers Kampus Politeknik melihat mesin cetak Tribun Manado. (vid)

Sumber: Tribun Manado 9 Maret 2013 hal 9

Menegakkan Empat Pilar Kebangsaan

ilustrasi
UNIVERSITAS Trisakti Jakarta memberikan gelar doktor kehormatan (honoris causa) kepada Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Taufiq Kiemas, Minggu (10/3/2013). Hampir semua tokoh penting bangsa Indonesia hadir dalam acara pengukuhan tersebut.

Di sana hadir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono serta jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Tampak pula mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Polisi Timur Pradopo, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo serta sejumlah anggota DPR.
Hadir pula  keluarga Taufiq  Kiemas di antaranya, istrinya yang juga mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan putri mereka Puan Maharani.

Kita patut mengapresiasi langkah Universitas Trisaksi memberikan gelar doktor kehormatan kepada  Taufiq Kiemas. Dia merupakan salah satu tokoh nasional yang tiada henti menggelorakan semangat menegakkan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai ketua MPR RI, Taufiq Kiemas melahirkan gagasan mensosialisasikan empat pilar kebangsaan itu kepada seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya bicara, Taufiq juga menjadi pelopor.

Pemberian gelar doktor kehormatan itu pun kita anggap tepat dan relevan dengan kondisi Indonesia hari ini yang di sana-sini masih terlihat adanya gangguan serius terhadap penerapan empat pilar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kita masih saja melihat tindakan-tindakan sejumlah pihak yang tidak mau mengakui bahwa kemajemukan adalah keniscayaan bagi Indonesia. Kita pun menyaksikan adanya geliat yang dapat menganggu keutuhan NKRI. Itulah sebabnya menegakkan empat pilar kebangsaan merupakan kebutuhan mendesak agar cita-cita para pendiri bangsa ini tidak tergerus dalam perputaran zaman yang terus berubah.

Dalam suatu diskusi di Jakarta 24 November 2010,   Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dan Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Benny Susetyo sama bersimpulan bahwa penegakan empat pilar kebangsaan mesti menjadi etika bangsa ini di tengah gejala, fakta, deviasi, distorsi, dan disorientasi cita-cita nasional.Untuk itu diperlukan upaya konkret dan serius.


Kiranya seluruh anak bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote sepakat bahwa segala upaya konkret menegakkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan  Bhineka Tunggal Ika patut didukung dan mutlak direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita kutip pernyataan Joko Widodo (Jokowi)  usai menghadiri pemberian gelar doktor kehormatan bagi Taufiq Kiemas, kemarin. Menurut Jokowi empat pilar itu sangat penting agar Indonesia tetap tangguh menghadapi terjangan dan gangguan. "Semua perlu nilai itu. Karena sebuah negara kalau nggak punya pegangan gampang kena angin," ujar Jokowi seperti dikutip detik.com.  Tanpa empat pilar  kebangsaan itu Indonesia memang bisa kemasukan angin dan sakit bukan? *

Sumber: Tribun Manado edisi 11 Maret 2013 hal 10


Birokrasi yang Boros

ilustrasi
PERNAHKAH aparatur  birokrasi pemerintahan kita berpikir keras mencari cara untuk menghemat biaya serta mengaplikasikannya? Pasti ada aparatur semacam itu tetapi jumlah mereka bisa disebut langka di Indonesia. Perilaku umum dalam pemerintahan kita adalah menghabiskan dana belanja rutin saban tahun apalagi sudah dialokasikan dalam APBD atau APBN. Titik!

Banyak contoh bisa kita temui setiap hari. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam satu dasawarsa terakhir mendorong banyak negara  menerapkan apa yang disebut sistem e-government.  Indonesia pun tak mau ketinggalan mengembangkan sistem itu.

Di level pemerintahan daerah hal tersebut  diimplementasikan dalam Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) yang bertujuan memenuhi kebutuhan informasi secara cepat, tepat, lengkap, akurat dan terpadu guna menunjang proses administrasi pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Efisiensi waktu dan biaya bisa tergenapi melalui sistem ini.

Dengan sistem e-government  surat-menyurat yang berisi laporan data bulanan dari suatu instansi, misalnya,  tidak perlu lagi menggunakan kertas, amplop dan  butuh petugas khusus untuk mengantarkan ke alamat yang dituju. Cukup dikirim lewat fasilitas surat elektronik (surel) atau email. Praktiknya tidak semudah itu karena regulasi birokrasi kita yang tumpang tindih bahkan saling bertentangan.

Sebagai misal. Ketika  Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi meminta data bulanan tentang penyakit dari  kabupaten dan kota,  mestinya staf Dinkes kabupaten dan kota bisa mengirim via email. Namun, hal itu jelas merugikan staf Dinkes kabupaten dan kota lantaran mereka akan kehilangan kesempatan mendapatkan uang jalan melalui fasilitas SPPD. Sesuai regulasi yang berlaku SPPD merupakan hak pegawai negeri sipil (PNS) bila  menjalankan tugas dinas di luar kantor.

Maksud penerapan e-government untuk efisiensi waktu dan biaya tidak terlaksana. PNS mana di negeri ini yang rela mengorbankan hak perjalanan dinas mereka? Kalau ada PNS seperti itu bisa dianggap  kurang waras. Yang terjadi adalah PNS berlomba-lomba mendapatkan kesempatan tugas ke luar daerah guna mendapatkan SPPD. Dalam sejumlah kasus bahkan ada PNS yang sengaja membuat SPPD fiktif.

Sitem yang berlaku dalam pemerintahan Indonesia  belum memberi ruang yang memadai untuk mencegah pemborosan anggaran rutin. Justru yang terjadi setiap instansi pemerintah berusaha dengan segala cara agar mendapatkan alokasi belanja rutin yang semakin besar dari waktu ke waktu. Tidak penting bagi mereka apakah biaya yang dianggarkan sesuai kebutuhan prioritas atau tidak.

Itulah sebabnya kita tidak terkejut  ketika mengetahui dalam APBD Kabupaten Minahasa tahun 2013 ada item pembiyaan hingga Rp 2,1 miliar untuk rumah dinas  bupati dan wakil bupati yang baru. Dari total dana Rp 2,1 miliar itu ada belanja pengadaan tempat tidur sebesar Rp 650 juta, sofa Rp 475 dan biaya gorden Rp 450 juta atau setara harga mobil toyota grand fortuner. Dari sisi aturan tidak salah karena dana itu sudah dialokasikan dalam APBD. Yang dibutuhkan rakyat Minahasa adalah  kepekaan kepala daerah bagaimana menyikapinya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau bersikap hidup sederhana. *

Sumber: Tribun Manado edisi 7 Maret 2013 hal 10

Distribusi Logistik Pilgub NTT Butuh Helikopter

surat suara
Komisi Pemilihan Umum Nusa Tenggara Timur (NTT) kemungkinan akan mencarter helikopter untuk mendistribusikan logistik pemilihan gubernur/wakil gubernur yang masih tersendat ke sejumlah kabupaten akibat cuaca buruk. Dua kemungkinan lainnya adalah meminta bantuan kapal cepat milik Polair Polda NTT atau menggelar pilkada susulan.

"Dari 21 kabupaten/kota di NTT, tiga kabupaten belum menerima logistik pilkada berupa surat suara, formulir C6 atau surat undangan untuk pemilih," kata juru bicara KPU NTT Jidon de Haan, Jumat (8/3/2013) di Kupang.

Pemungutan suara dijadwalkan berlangsung pada 18 Maret. Dukungan logistik diharapkan sudah tiba di KPU kabupaten sepekan sebelumnya, karena masih harus disortir sebelum didistribusikan.

"Kami akan segera rapat untuk memastikan opsi paling tepat mendistribusikan logistik tersebut.  Jika cuaca tetap buruk  dan opsi mencarter helikopter atau kapal cepat tetap tidak memungkinkan, maka pilihan terjelek adalah menggelar pilkada susulan di sejumlah kabupaten dimaksud," tutur Jidon de Haan.

Pilkada NTT dikuti lima pasangan calon, termasuk gubernur dan wakil gubernur sekarang, Frans Lebu Raya dan Esthon L Foenay. Namun keduanya memilih berpisah. Frans kali ini berpasangan dengan Benny Litelnony (Frenly), yang diusung PDI Perjuangan, Hanura, PKB, PKS, dan PPP. Sementara Esthon berpasangan dengan Paul L Talo  (Esthon - Paul) melalui Gerindra dan PDS.

Tiga pasangan lainnya masing-masing Ibrahim Agustinus Medah-Melkiades Laka Lena (Tunas) yang diusung Partai Golkar; Christian Rotok-Abraham Liyanto (CristAL) melalui jalur perseorangan, serta Benny K Harman-Willem Nope (BKH - Nope) melalui koalisi Partai Demokrat, PAN, Pelopor, Republikan, PKPB, PPDI, PDK, dan PPI.

Sesuai catatan KPU, kelima pasangan calon akan memperebutkan dukungan dari 2.997.628 pemilih tetap di NTT. Mereka bakal menyalurkan hak pilihnya melalui 8.360 tempat pemungutan suara di bawah koordinasi 3.111 panitia pemungutan suara tingkat desa/kelurahan atau 301 panitia pemilihan kecamatan. (frans sarong)

Sumber: Kompas.Com

TERKAIT:

    Tiga Pasang Cagub NTT Tak Hadiri Debat Publik
    Bupati Rote Dukung Benny K Harman-Willem Nope
    Pasangan Tunas dan Yoga Dideklarasikan
    Material Pemilukada NTT Sudah Siap
    Para Calon Gubernur NTT Harus Jaga Kerukunan Umat

Tiga Pasang Cagub NTT Tak Hadiri Debat Publik

ilustrasi
Debat publik cagub dan cawagub NTT periode 2013-2018 tanggal 28 Februari 2013 tidak diikuti tiga pasangan calon. Hanya dua pasangan calon dan calon wakil gubernur yang hadir yakni Esthon Foenay - Paul Tallo dan Chris Rotok - Paul Liyanto.

Meski waktu debat yang dijadwalkan pukul 09.00 wita, molor sampai pukul 11.15 wita. Para calon yang tidak hadir yakni Ibrahim Medah-Melkiades Lakalena, Frans Lebu Raya-Benny Litelnoni, dan Benny Harman-Willem Nope.

Penggagas debat, Isidorus Kopong Udak direktur Yayasan Peduli Sesama NTT mengatakan, para calon sudah diundang jauh jauh hari sebelumnya. Mereka menyatakan kesediaannya mengkiuti debat itu. Meski tiga calon tidak hadir, debat tetap berjalan.

Para nara sumber antara lain Rm Prapto dari Konferenswi Wali Gereja Indonesia, Herman Musakabe mantan gubernur NTT, Dr David Pandie dari Universitas Nusa Cendana Kupang.

Pembukaan diawali dengan lagu "Flobamora Tanah Airku yang tercinta" dan "Bolelebo Tanah Timor Lelebo" dibawakan penyanyi lokal, J Kalla. Para nara sumber dan calon yang hadir dikalungi kain selendang tenun ikat NTT oleh ketua panitia, Kopong Udak. (kornelis kewa ama khayam)

Sumber: Kompas.Com

Artikel Terkait
    Bupati Rote Dukung Benny K Harman-Willem Nope
    Pasangan Tunas dan Yoga Dideklarasikan
    Material Pemilukada NTT Sudah Siap
    Para Calon Gubernur NTT Harus Jaga Kerukunan Umat
    Medah-Lakalena Deklarasi 21 Desember Ini

Suara dari Balkon

Para Kardinal dalam suatu acara di Basilika St Petrus Vatikan (AFP)
Oleh Trias Kuncahyono

Viterbo adalah sebuah kota kuno di Italia tengah. Kota yang terletak 80 kilometer sebelah utara Roma ini dibangun sekitar abad XI dan XII serta masuk wilayah Lazio.

Andai kata Paus Clemens IV tidak meninggal di Viterbo pada 29 November 1268, barangkali kota itu tidak seterkenal sekarang atau tidak selalu disebut menjelang pemilihan Paus baru. Dan, Viterbo hanya akan dikenal sebagai kota pertanian, penghasil tembikar, marmer, dan kayu.

Cerita jadi lain setelah Paus Clemens IV meninggal di kota itu. Dahulu, ada kebiasaan pemilihan seorang Paus dilakukan di tempat Paus meninggal. Karena Paus Clemens IV meninggal di Viterbo, pemilihan Paus pun dilakukan di kota itu.

Sejarah pun tercatat di Viterbo karena pemilihan Paus di kota ini tercatat sebagai pemilihan Paus terlama sepanjang sejarah Gereja, yakni dari November 1268 hingga 1 September 1271! Mengapa? Ini karena terjadi persaingan politik di antara para kardinal, yang saat itu jumlahnya hanya 15 orang.

Karena begitu lama Takhta Suci kosong, sede vacante, umat tidak sabar lagi. Mereka lalu mengurung kardinal di suatu ruangan terkunci agar tidak terpengaruh dunia luar. Dari saat itulah muncul istilah konklaf, yang berasal dari kata Latin: con (dengan) dan clave (kunci). Arti lurusnya, dengan kunci atau dikunci dalam suatu ruangan. Dan, terpilihlah Paus Gregorius X, yang mengesahkan pemilihan Paus di dalam suatu ruangan terkunci dan yang dari waktu ke waktu disempurnakan.

Apa yang terjadi di dalam ruangan terkunci itu? Hanya para kardinal yang tahu. Tidak seorang pun bisa meramalkan secara jitu bahwa "kardinal X" akan menjadi Paus menggantikan Paus Benediktus XVI yang mundur akhir bulan lalu. Karena itu, selalu muncul istilah: masuk sebagai kardinal, keluar sebagai Paus. Meskipun demikian, sekarang sudah bermunculan sejumlah nama kardinal yang diunggulkan.

Ada suara, inilah saatnya dipilih Paus non-Eropa-jantung kekatolikan era 1900-an yang sekarang mengalami kebangkrutan misioner. Sementara di Amerika Latin, Afrika, Asia, dan Amerika Utara melonjak tajam. Lebih dari 60 persen umat Katolik dunia berada di dunia berkembang. Karena itu, lebih pas kalau Paus baru nanti berasal bukan dari Eropa sehingga benar-benar memahami persoalan yang dihadapi Gereja pada zaman kini dan pada masa depan, yang begitu berat dan rumit.

Itu salah satu pendapat. Boleh dan sah-sah saja. Kalau ada keinginan Paus mendatang berasal dari Amerika Latin, misalnya, hal itu sangat masuk akal. Sebab, 42 persen dari sekitar 1,2 miliar umat Katolik ada di kawasan itu; sementara di Eropa hanya 24 persen. Akan tetapi, dari 117 kardinal elektor, yang berasal dari Amerika Latin hanya 19 orang, sedangkan dari Eropa 60 orang, Afrika (11), Amerika Utara (16), Asia (10), dan Oceania (1).

Akan tetapi, apakah "Obama moment", munculnya seorang presiden berkulit hitam di Amerika Serikat, tak akan berembus di dalam Kapel Sistina, tempat konklaf dilakukan? Satu hal yang pasti, pemilihan seorang Paus bukanlah momen politik layaknya pemilihan seorang presiden meskipun nantinya pemimpin baru umat Katolik sedunia, yang juga uskup Roma, akan menjadi pemimpin negara Vatikan.

Pada tahun 2005, uskup Roma yang baru menjelaskan mengapa ia memilih nama Benediktus XVI (St Benediktus ikut berperan menyebarkan Kristianitas di Eropa, dan Benediktus XV adalah Paus pada zaman Perang Dunia I). Ia ingin membangun kembali Kristianitas di Eropa yang turun, mengikuti jejak St Benediktus. Barangkali para kardinal yang ikut konklaf memiliki pertimbangan seperti itu dalam memilih Paus. Kita hanya bisa menunggu sampai nanti dari balkon Vatikan muncul pengumuman, "Habemus Papam (Kita sudah punya Bapa Suci)."

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes