Sikap dan Pandangan Gereja Soal LGBT

PARA tokoh agama di NTT memiliki pandangan khas tentang  LGBT. Bagi Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Dr. Mery Kolimon, pembicaraan mengenai LGBT memang masih sensitif dalam masyarakat maupun Gereja. Seringkali masyarakat  tidak mau berbicara tentang hal ini meskipun LGBT itu ada di tengah-tengah masyarakat.

"Saya secara pribadi berpendapat bahwa sebagai Gereja dan masyarakat, kita harus belajar menerima keberadaan mereka di tengah kita. Jangan melakukan kekerasan baik secara verbal, fisik, psikologis, dan ekonomi terhadap mereka. Terima mereka sebagai ciptaan Allah yang mulia, yang memiliki kekhasan tersendiri di antara kita," kata Pdt. Mery, Senin (15/2/2016).

Menurut Mery, sampai hari ini GMIT belum membuat pernyataan resmi tentang LGBT. Karena masih harus melakukan studi serius terhadap hal ini kemudian membuat pendirian teologis secara bersama sebagai Gereja.

"Bagi saya sendiri, LGBT tidak perlu dikembalikan kepada kodratnya karena mereka juga adalah ciptaan Allah yang utuh.  Masyarakat jangan menghakimi dan melakukan kekerasan terhadap kaum LGBT. Belajarlah menerima mereka sebagai ciptaan Allah yang mulia. Mereka juga diciptakan dalam citra dan gambar Allah sebagaimana kaum heteroseksual," katanya.

Mery mendorong para orangtua dapat menerima keberadaan anak-anak mereka yang LGBT itu dengan penuh kasih sayang dan menerima seutuhnya, tanpa memaksa anak mereka mengubah diri. Untuk pemerintah, Mery menilai negara bertugas melindungi seluruh warga negara tanpa kecuali terhadap LGBT. "Kami harap negara tidak berlaku diskriminatif terhadap kaum LGBT. Di hadapan hukum, semua warga negara memiliki hak yang sama terhadap akses pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, peluang kerja dan lainnya. Jangan ada warga bangsa yang diperlakukan secara diskriminatif apapun alasannya," kata Mery.

Mery Kolimon berharap LGBT dapat belajar menerima diri apa adanya sebagai ciptaan Allah yang mulia. Buatlah hal-hal yang positif dalam jemaat dan masyarakat. Berikan sumbangan yang terbaik dari potensi khas yang dimiliki. "LGBT hindarilah melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain," katanya.

Sebelum GMIT memiliki sikap jelas mengenai tempat kaum LGBT dalam jemaat, Mery menyarankan  para pendeta tetap melayani LGBT tanpa membedakan mereka dari jemaat lain. "Beri mereka ruang untuk berpartisipasi dalam pelayanan jemaat sesuai talenta yang ada pada mereka. Didik anggota jemaat yang lain untuk tidak melakukan berbagai bentuk kekerasan terhadap kaum LGBT," kata Mery.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Abdul Kadir Makarim mengatakan, LGBT haram hukumnya dalam Islam. Kaum LGBT hendaknya kembali ke jalan yang benar, kembali ke kodratnya sebagai laki laki atau perempuan.

"Dalam ajaran Islam, lesbian, gay, biseksual dan transgender dilarang seperti dalam hadits  yang diriwayatkan oleh At Tarmidzi dan Achmad dari Ibnu Abbas yang berbunyi: Dilaknat oleh Allah orang yang melakukan  perbuatan kaum Nabi Luth (homo seksual) dan siapa saja yang kalian dapati melakukan  perbuatan kaum Luth, bunuhlah subyek  dan obyeknya," kata Abdul Kadir Makarim, Selasa (16/2/2016).

Abdul Kadir mengatakan, transgender merupakan perilaku yang dilaknat dalam Islam  sebagaimana hadist riwayat Abu Dawud at  Tarmidzi, Ibnu Majah dan Achmad bahwa "Rasullullah SAW telah melaknat wanita yang  menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita."

"Karena itu dalam Islam, ide dan perilaku LGBT jelas menyimpang dan abnormal. LGBT adalah ide haram dan perilaku LGBT adalah  dosa. Olehnya ide dan perilaku LGBT tidak boleh tersebar di masyarakat. Negara harus menjaga agar LGBT dibersihkan dari pikiran  masyarakat  Indonesia," jelas Abdul Kadir.

Uskup Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, melalui Romo Gerardus Duka, Pr mengatakan, ajaran moral Katolik menegaskan LGBT merupakan penyelewengan terhadap martabat dan tujuan luhur dari seksualitas dan perkawinan manusiawi. Moral Katolik menegaskan LGBT masuk dalam penyelewengan besar. Dan, tradisi suci Gereja dalam ajarannya tentang "Persona Humana" (Pribadi Manusia) juga menegaskan bahwa LGBT melawan hukum kodrat. Bahwa setiap tindakan seksualitas harus terbuka kepada kelahiran baru. Artinya, LGBT tidak memungkinkan kelahiran baru karena mengabaikan tindakan persetubuhan.

Persetubuhan merupakan ungkapan komunikasi cinta suci paling mendasar dan mendalam dari pria dan perempuan dengan tujuan kelahiran baru (spiritualitas Tubuh manusia) ada dalam relasi terbuka pria dan perempuan. Selain itu, LGBT tidak lahir dari kebutuhan yang benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual.
"Ajaran Katolik tidak membenarkan LGBT. Ada dua hal yang perlu dibedakan yakni antara kecenderungan sebagai LGBT dan dan menjadi pelaku LGBT. Kalau masih kecenderungan, belum masuk dalam kategori dosa karena belum masuk dalam aktivitas seksual. Karena kencenderungan itu merupakan objectifve disorder (ketakberaturan objektif) yang tak wajar," kata Romo Dus.

Namun,  dalam kenyataan bahwa LGBT itu ada sehingga Gereja tidak menolak kehadiran LGBT. Namun Gereja tak membenarkan perbuatannya. "LGBT tetap dihargai oleh Gereja dan menjadi bagian dari persekutuan Gereja yang sama dengan warga Gereja lain. Namun perbuatan LBGT tidak diterima oleh Gereja karena ajaran Moral Katolik yang menekankan martabat seksualitas dan persona humana," kata Romor Dus, Kamis (18/2/2016).

"Pendapat pribadi saya, LGBT adalah manusia dengan hak-hak yang juga tetap harus dihargai sambil tetap tidak mengabaikan tanggungjawabnya di dalam melaksanakan hidup secara sempurna di hadapan Tuhan dan lingkungan hidup bersama. Artinya, LGBT memiliki hak diberlakukan sesuai martabatnya. Tetapi tetap menegaskan bahwa tidak bebas nilai, dalam hal ini ajaran perihal martabat manusia, dan tujuan seksualitas perkawinan. LGBT adalah manusia, pribadi yang harus kita hargai dan cintai dengan martabatnya," kata Romo Dus.

Menurut Romo Dus, LGBT bukan penyakit tapi lebih sebagai penyelewengan terhadap moral seksual. Ada dua ciri yang hadir dalam hidup bersama, yakni sebagai kodrat tetapi juga oleh lingkungan (diri sendiri atau sosial). Yang bersifat kodrat  sulit untuk 'disembuhkan', sementara akibat lingkungan bisa dibantu untuk tidak berperilaku serupa.

Romo Dus menyarankan agar pemerintah tidak perlu menyingkirkan LGBT sebagai bagian utuh dari masyarakat. LGBT harus mendapat penghargaan dan hak yang sama dengan masyarakat lainnya. "Untuk itu Pemerintah perlu memberi perhatian baik secara politis sosial dan juga ekonomi demi membantu menemukan martabat seksualnya secara benar. Pendekatan hukum kurang manusiawi karena LGBT adalah manusia yang adalah warga masyarakat yang sama hak dan kewajibannya," kata Romo  Dus.

Masyarakat juga perlu menerima LGBT sebagai pribadi yang sama sambil membantu mereka memahami dan menghargai martabat seksualitasnya dengan benar. LGBT tidak boleh dipinggirkan tetapi diintegrasikan dalam masyarakat.

Untuk Gereja dan pelayan Gereja, demikian Rm. Dus, diharapkan bisa hadir sebagai gembala  bagi semua orang termasuk LGBT. "Bawalah LGBT untuk menerima dan menjumpai nilai pribadinya di dalam seksualitasnya sebagai ciptaan Tuhan untuk digunakan demi kelangsungan perkawinan suci. Pendekatan kerahiman adalah jalan mengantar mereka yang LGBT menjumpai dirinya, martabatnya secara benar, bukan sanksi yang membuka ruang yang 'luka' bagi mereka. Sapaan dan motivasi adalah pastoral yang dibutuhkan. Untuk LGBT agar dapat hidup dan membaur dengan masyarakat umumnya.  "LGBT harus berani berada bersama masyarakat umum dan jangan menjadikan diri sebagai warga yang lain dari masyarakat umumnya," kata Romo Dus. (vel)

Sumber: Pos Kupang 19 Februari 2016 hal 1

Natacya G Nahak Fokus Bekerja

Natacya G Nahak
MEMILIKI suara yang merdu, berkulit halus dan putih, dengan rambut  terurai panjang hingga pinggul, siapa yang menyangka dia adalah seorang wanita pria alias waria. Tak hanya punya tampilan fisik yang memukau, namun tingkah laku sopan dan cara berjalannya yang anggun itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi waria peranakan Belu-NTT-Indonesia dan Negara Timor Leste ini.

Dialah Natacya Gonsalves Nahak, anak pasangan Wilhelmus Nahak dan alm. Lena Gonzalves. Waria bertinggi badan 172 cm dan berat 60 kg ini terbilang sukses dalam usaha Natacya Salon  di Kelurahan Kolhua, Maulafa, Kota Kupang.

Keberhasilannya itu tidak diperoleh secara mudah. "Sengsara membawa nikmat, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian," kata pemilik nama asli Nata Lemus  Yoseph Pedro Gonzalves Nahak ini soal hidupnya dulu dan sekarang.
Memulai karier sebagai pekerja salon di Kupang, Natacya banyak menimba ilmu tentang make up dari seniornya di berbagai salon seperti Elda Salon, Ciniki Salon dan Pelapa Salon. Dari pengalaman yang menarik, menyedihkan, membahagiakan dan peristiwa suka duka dijalaninya dengan bersyukur dan berdoa.

"Gaji saya kecil, namun saya bersyukur karena pengalaman yag saya dapat banyak sekali sehingga sekarang saya bisa buka usaha salon sendiri. Setidaknya saya sudah bisa membiayai kehidupan saya dan membantu orangtua dan keluarga," kata Natacya.

Hal yang tidak dilupakan yakni ketika ketika Natacya harus bangun pukul 04.00 Wita untuk mengurus oma. Mulai dari memandikan, memasak bubur, meyuapkan makanan dan memastikan omanya tertidur lagi di tempat tidur sebelum dia berangkat  kerja pukul 05.30 Wita.

 "Saat bekerja, saya kunci oma di dalam kamar, karena oma sudah tidak bisa bangun lagi. Nanti jam 12 siang saya izin pulang untuk menyuapkan oma makan dan saya pergi kerja lagi. Begitu terus selama beberapa tahun hingga akhirnya oma meninggal dunia. Gaji saya sering dipotong karena saya selalu izin pulang rumah untuk urus oma," kenang Natacya.

Menurut Natacya, baktinya kepada oma tidak sebanding dengan pengorbanan omanya Paulina Lilo dan opanya Yoseph Nahak yang telah mengurusnya sejak berusia 40 hari. Sejak kecil hingga kelas 5 SD di Kupang, Natacya ke Timtim (tinggal bersama papanya hingga SMA. Kemudian Natacya pulang ke Kupang tinggal lagi bersama omanya lalu membuka salon hingga saat ini.

Menurut Natacya, kunci keberhasilan adalah disiplin, mulai dari bangun tidur, bekerja, berdoa, dan mengjerjakan pekerjaan lain. Kedisiplinannya itu dibentuk oleh opa dan omanya.

"Kalau saya pamit mau ke luar rumah, Oma membuang ludah di depan rumah dan berpesan, kamu harus pulang rumah sebelum air ludah kering. Jadi saya akan berusaha pulang ke rumah sebelum air ludah opa di depan pintu rumah kering. Makan harus di meja makan, ada waktu untuk belajar, bermain dan tidur," kata waria yang hobi berenang ini.

Natacya mengaku sejak kecil sudah senang merawat dirinya dengan produk kecantikan perempuan seperti handbody dan memakai bedak. Bahkan dia  suka jalan berlenggak lenggok ibarat model di depan omanya. "Saya bersyukur karena keluarga, ayah, juga opa dan oma tidak mendiskriminasi dan melakukan kekerasan terhadap saya saat mengetahui orientasi seksual saya sebagai waria," ujarnya.

Sejak SMA, waria kelahiran 25 Desember 1980 ini sering mengikuti perlombaan modeling untuk waria dan mendapat dukungan oma dan ayahnya. "Saya pernah meminjam kebaya oma saya untuk lomba kebaya waria. Saat itu oma marah-marah karena kebaya kesayangannya akan dipakai. Tapi saya bilang, saya nanti akan juara dan bawa pulang piala dan uang kasih oma. Ternyata malam itu saya juara satu dan oma senang sekali," kata waria yang mengaku belum punya pacar tetap ini.

"Kita para waria dan LGBT memang kaum minoritas namun kita punya hak yang sama dengan warga negara lain. Fokuslah bekerja dengan cara yang halal, sehingga kita bisa membiayai kehidupan kita dan juga membantu keluarga. Jangan peduli apa kata orang tentang kita," pesan alumni SMA2 Kupang ini. (vel)

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Mengenal Suka Duka Kehidupan LGBT

ilustrasi
Saya lebih mencintai laki-laki dan orientasi seks saya seperti itu sudah ada sejak duduk di bangku SMP.

SAMPAI kapanpun, Riby Cesia (26), wanita pria (waria) asal Kota Maumere, Kabupaten Sikka, tak akan bisa melupakan kisah tragis yang yang dialaminya. Riby Nyaris mati ditebas  parang oleh kakaknya karena melihatnya mengenakan busana perempuan.

"Hari itu saya ketahuan mengenakan pakaian wanita sehingga kakak saya marah. Saya dikejar dengan parang lalu rambut saya digunting. Keluarga memaksa saya kembali jadi laki-aki, tapi saya tidak bisa," tutur Riby, bungsu dari dua bersaudara di Kupang, Minggu (14/2/2016) malam.

Untunglah Riby melarikan diri dan bersembunyi di rumah tetangga. "Kalau malam itu saya tidak sembunyi, pasti saya sudah mati dipotong oleh kakak," ujar Riby, didampingi pasangan prianya, Dodi (21). Riby mengaku tak ambil pusing dengan ancaman keluarganya itu dan dia tetap memilih menjadi waria.  "Saya pasrah, mau dipukul, mau dibunuh, saya tetap jadi waria. Saya tidak bisa mencintai perempuan, saya lebih tertarik dengan laki laki. Syukurlah sekarang keluarga dan orangtua sudah menerima saya sebagai waria," kata pemilik Riby Salon, di Kelurahan Madawat, Maumere.

Riby  bersyukur karena sudah tiga tahun dia menjalani hidup dengan pria bernama, Dodi. Ia  mencintai Riby dan tidak melihat Riby itu sebagai waria.  "Saya sayang dan cinta Riby. Dia baik dan kami saling mendukung. Saya tidak peduli Riby itu waria atau bukan waria, karena saya mencintai seseorang bukan melihat jenis kelaminnya," tutur Dodi.

Kekerasan fisik juga dialami waria Olga Sabrina Endang Endong de Kolag, tahun 1990- an di Jakarta. Setiap malam, Olga mengekspresikan diri sebagai waria dan mejeng bersama teman warianya di Cipinang.  "Saat dini hari pulang mejeng dengan pakaian dan dandanan perempuan, kakak laki-laki sudah tunggu di depan rumah. Saya dipukul habis- habisan dengan tripleks sampai tripleks terbelah jadi empat. Beberapa wig, BH, sepatu heels high saya dibakar pakai minyak tanah," kenang Olga, Ketua Perkumpulan Waria Kabupaten Sikka (Perwakas), Senin (15/2/2016) malam. 

Olga tetap memilih menjadi waria dan keluar dari rumah, kost dan mencari pekerjaan untuk biayai hidupnya. Dari menjadi penjaga bunga di perusahaan Mitra Tani Mandiri Jakarta, bekerja di sejumlah salon dan akhirnya pulang ke Maumere tahun 2000-an untuk membuka Olga Salon hingga saat ini. Olga mengaku, menikmati hidupnya sebagai waria meski tidak memiliki pacar tetap. Seringkali keluarga memintanya untuk menikahi perempuan. "Kalau diminta menikah dengan perempuan, saya bilang bahwa saya sudah bahagia hidup seperti sekarang ini. Saya juga bahagia sudah bisa membahagiakan keluarga dan almarhumah Mama saya," kata Olga, yang memiliki adik bernama Vera Gaya Trie, yang juga seorang waria itu.

Olga mengatakan, waria adalah pilihan hidupnya dan ia akan terus menjalaninya hingga ajal menjemputnya. "Saya sudah bosan dan kebal mendengar caci maki, dipukul, diejek, saya tidak peduli lagi. Kita semua punya sisi baik dan buruk. Mau bilang berdosa, semua orang berdosa, sehingga jangan menuduh waria paling berdosa," kata Olga.

Lain lagi cerita Santi Dewi, yang merantau ke Merauke dan pulang ke Maumere tahun 1996. Dewi mengaku sejak kecil sudah merasa ada yang berbeda dalam dirinya karena dia lebih menyukai pria ketimbang perempuan. Saat umurnya 20-an tahun, Dewi diajari berdandan dan mengenakan busana perempuan oleh Nurul.

Ketika suatu saat Dewi pergi ke pesta mengenakan busana wanita dan berdandan, saudara laki-lakinya datang ke tempat pesta sambil membawa balok. "Di depan tenda pesta saya dipukul pakai balok oleh kakak saya. Semua lihat dan saya malu sekali. Saya lari dari rumah, saya kost dan bekerja sebagai tukang cuci pakaian dengan gaji hanya Rp 35.000 per bulan per pelanggan. Saya cuci pakaian di banyak orang agar bisa mendapat ratusan ribu meski capainya  bukan main," tutur Dewi.

Lalu Dewi yang pendidikannya tidak memadai itu bekerja di Sinta Pub membantu Aci Moi di dapur. "Saya belajar memasak dan jadi tukang masak lalu bekerja di beberapa rumah makan. Tapi sekarang tidak kerja lagi," kata Dewi.

Dewi menunggu panggilan memasak dari rumah yang akan mengadakan acara. Namun biayanya tidak besar. "Kalau saya ada peralatan masak yang memadai pasti uang yang saya dapat lebih banyak," kata Dewi, bungsu dari enam bersaudara ini. Ia sudah menjalani kehidupan bersama seorang pria sejak tujuh tahun lalu.

Ridho, seorang gay, mengaku selama bertahun-tahun berupaya menyembunyikan identitasnya pada keluarganya. Namun karena banyak omongan di luar sehingga keluarga besarnya berkumpul dan memanggilnya untuk mengklarifikasikan informasi tersebut.
Saat itu, tutur Ridho, ia mengaku seorang gay dan dia siap menanggung risiko. "Saya bilang jika keluarga mau usir, mau hapus nama marga pada nama saya, saya akan terima. Saat itu mama bilang, apapun keadaan Lu (kamu). Lu tetap beta (saya) pung (punya) anak. Keluarga tidak terima lu, beta akan terima karena beta adalah mama kandungmu," kata Ketua Komunitas Independen Man of Flobamora (Imof) Kupang ini.

Pengakuan Ridho dihargai orangtua dan keluarganya dengan catatan Ridho tidak boleh membuat masalah lain yang bisa menyulitkan dirinya dan keluarga. Ridho mengatakan, untuk menyakinkan orientasi seksualnya itu, ia pernah berpacaran dengan beberapa orang perempuan, namun dia tidak memiliki rasa sayang dan cinta terhadap perempuan.  "Saya lebih mencintai laki-laki dan orientasi seks saya seperti itu sudah ada sejak saya duduk di bangku SMP. Akhirnya saya yakin bahwa saya adalah gay," kata Ridho yang sudah lima tahun membina hubungan dengan seorang pria di luar NTT.

Ridho berharap agar masyarakat bisa menerima keberadaan LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) dan tidak melakukan diskrimiasi serta tindak kekerasan terhadap LGBT karena LGBT juga manusia yang juga punya hak dan kewajiban yang sama dengan manusia lain.

Tidak Nyaman dengan Laki-laki
Tidak sedikit kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang coba membuka diri untuk mencintai lawan jenisnya, namun tak berhasil. Sejumlah lesbian (perempuan yang tertarik secara emosional dan seksual dengan perempuan) dan Gay (laki-laki yang tertarik secara emosional dan seksual dengan laki-laki) mengaku pernah mencoba namun tak berhasil.

Charly (29), lesbian yang berprofesi sebagai dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Kupang, NTT, misalnya. Charly mengaku pertama kali punya rasa suka dengan sesama jenis saat  kelas 3 SD. "Saya selalu cemburu jika ada teman perempuan saya yang didekati oleh teman laki - laki. Saat itu saya tidak tahu kenapa saya punya perasaan seperti itu," tutur Charly yang sudah lima tahun berhubungan dengan perempuan.

Beranjak remaja, Charly merasa kekuatan perasaannya terhadap sesama jenis. Dia mulai mencari tahu mengaa memiliki perasaan seperti itu. "Dari buku-buku saya akhirnya tahu kalau perasaan saya itu mengindikasikan bahwa saya adalah lesbian, penyuka sesama jenis. Saya bingung dan juga merasa tidak tahu harus bagaimana," ujar Charly.

Dia  mulai mengekspresikan rasanya itu dengan sejumlah teman perempuannya saat di bangku SMP dan SMA. Charly mulai berani mengungkapkan rasa sukanya dan berpacaran dengan perempuan. Namun, selama menjalani hubungan sesama jenis, Charly masih berusaha menyakinkan pilihan orientasi seksualnya dengan cara membuka diri dan berpacaran dengan laki-laki. Bahkan, secara bersamaan Charly pernah berpacaran dengan laki-laki dan perempuan, namun tidak berjalan baik.

"Sekitar tiga kali saya pacaran dengan laki-laki. Tapi saya tidak bisa menipu rasa cinta di hati. Saya tidak nyaman dengan laki-laki, sehingga saya minta putus dan berpacaran dengan perempuan hingga saat ini," tutur Charly.

Hingga kini Charly masih menyembunyikan orientasi seksualnya kepada keluarga dan masyarakat karena belum yakin keberadaannya diterima. Charly berpesan agar teman-teman lesbian khususnya dan LGBT umumnya, bisa lebih cerdas saat menjalani kehidupan sebagai LGBT apalagi memilih kekasih.  "Jangan mudah tergoda dengan seseorang yang mengaku sayang atau cinta. Karena tidak sedikit  orang yang hanya memanfaatkan kaum LGBT untuk kepentingan sesaat dan menarik keuntungan dari hubungan itu," katanya.

Charly mengaku kini merasa jauh lebih nyaman karena sudah tahu dan yakin  dirinya lesbian. "Orangtua saya belum mengetahui kondisi saya. Suatu saat nanti saya akan memberitahu mereka," kata Charly. Ia berharap agar ke depan pemerintah bisa  menerima dan mengakui keberadaan LGBT. Charly juga berharap ada lembaga yang siap membantu kaum LGBT jika mengalami kekerasan fisik dan psikis.

"Teman lesbian saya banyak mengalami kekerasan karena dipaksa menikah dengan laki- laki. Selama hidupnya, mereka merasa diperkosa oleh suaminya karena mereka tidak mencintai laki-laki. Di manakah kaum lesbian dan LGBT bisa mendapat perlindungan agar tidak mengalami diskriminasi dan kekerasan," kata Charly.

Cerita lain disampaikan Zamantha Karen, wanita pria (waria) kelahiran 16 November 1985. Karen mengaku sudah menyukai permainan dan melakoni peran-peran anak perempuan sejak kecil.  "Sejak kecil saya lebih suka bermain boneka ketimbang mobil-mobilan. Saat  melewati masa purbertas, saya lebih deg-degan jika melihat anak cowok ketimbang melihat anak perempuan yang cantik. Dan akhirnya saya tahu bawa saya tidak punya ketertarikan terhadap perempuan, tapi  dengan laki-laki," tutur Karen.

Karen mulai make up dan mengenakan busana perempuan sejak duduk di SMA tahun 2.000, meski masih sembunyi-sembunyi. Barulah tahun 2007, Karen berani tampil mengikuti ajang Top Model Waria dan menjadi pemenang.

"Saya mendapat juara 1 Top Model Waria dan wartawan mewawancarai saya. Foto saya panjang di media. Mama tahu dan beberapa hari kemudian saya dipanggil dan duduk di depan keluarga. Ada mama, papa dan saudara laki-laki saya," kenang Karen.

Malam itu, sambil menangis Karen jujur mengakui bahwa dia lebih suka menjadi perempuan ketimbang menjadi seorang pria. Hingga kini Karen enggan melakukan terapi hormon esterogen sebagaimana yang dilakukan waria lain.

Bagi Karen, untuk menjadi seorang perempuan tidak perlu memiliki anggota tubuh seperti perempuan. "Tak harus memiliki sepasang payudara atau operasi kelamin untuk menjadi seorang perempuan. Cukup perasaan dan tingkah laku seperti perempuan, bagi saya itu sudah cukup," ujarnya.


Terkait pernikahan sesama jenis, Karen mengatakan, para LGBT di Kupang atau Indonesia, tak perlu bermimpi untuk menikahi pasangannya. Karena pernikahan sesama jenis belum bisa diterima di Indonesia, meskipun ada yang diam-diam melakukannya.
"Saya tidak punya mimpi yang muluk. Saya hanya ingin bisa berguna bagi keluarga dan daerah ini. Dan saya punya harapan, agar hubungan saya dengan seorang pria yang sudah berjalan sekitar tiga tahun ini tetap langgeng meski kami tak bisa menikah," kata Karen.
(novemy leo)

Sumber: Pos Kupang 19 dan 20 Februari 2016 hal 1

Prestasi Atlet Atletik NTT di PON

Edu Nabunome (tengah)
PON V/1961/Bandung   
Wempy Foenay -  Medali Perak - Lempar Cakram
Wempy Foenay - Medali Perak  -  Tolak Peluru   

PON VIII/1973/Jakarta   
Mathilde Fanggidae Medali Emas - Tolak Peluru
Mace Sihaineni  Medali Perak - Tolak Peluru
Mathilde Fanggidae Medali Perunggu - Lempar Cakram

PON IX/1977/Jakarta   
Mace Sihainenia Medali Emas - Tolak Peluru
Mace Sihainenia Medali Perunggu - Lempar Cakram

PON X/1981/Jakarta   
Mace Sihainenia Medali Emas- Tolak Peluru
Yumina Tunliu    Medali Perak - 1500m
Welmintje Sonbay Medali Perak - 3000m

PON XI/1985/Jakarta
Dorkas Benuf - Medali Emas     - 10.000m
Eduardus Nabunome - Medali Emas - 5000m
Martha Kase Medali Perak - 3.000m
Mace Sihainenia  Medali Perak - Tolak Peluru
Welmintje Sonbay Medali Perunggu- 1500m

PON XII/1989/Jakarta   
Eduardus Nabunome Medali Emas - 10.000m
Eduardus Nabunome Medali Emas  5000m
Eduardus Nabunome Medali Perak - 1.500m
Osias Kamlasi  Medali Perak  - 10.000m
Maria Ati Medali Perunggu - 10000m
Mace Sihainenia Medali Perunggu- Tolak Peluru
Tersiana Riwu Rohi Medali Perunggu- Jalan Cepat

PON XIII/1993/Jakarta   
Eduardus Nabunome - Medali Emas -5000m
Eduardus Nabunome - Medali Emas Marathon
Eduardus Nabunome - Medali Emas 1500m
Eduardus Nabunome Medali Perak - 10000m

Tersiana Riwu Rohi - Medali Perak - Jalan Cepat
Fransina Mailabana Medali Perak - Marathon
Mace Sihainenia Medali Perak - Tolak Peluru


PON XIV/1996/Jakarta
Eduardus Nabunome Medali Emas - 5000m
Eduardus Nabunome Medali Emas - Marathon
Eduardus Nabunome Medali Perak - 10.000m
Fransina Malaibana Medali Perak   - Marathon
Anthon Fallo Medali Perunggu 10.000m
Anthon Fallo Medali Perunggu Marathon
Tersiana Riwu Rohi Medali Perak - Jalan Cepat
Oliva Sadi Medali Perak - 5000m
Ferry Subnafeo Medali perunggu - Marathon
Ferry Subnafeo - Medali perunggu - 10.000m
Oliva Sadi Medali perunggu - 1500m

PON XV/2000/Surabaya
Anthon Fallo Medali Perak  10.000.
Anthon Fallo Medali Perak - Marathon
Tersiana Riwu Rohi Medali Perak - Jalan Cepat
Oliva Sadi - Medali Perak - 5000m
Ferry Subnafeo Perunggu - Marathon
ferry Subnafeo Perunggu - 10.000m
Oliva Sadi - perunggu - 1500m

PON XVI/2004/Palembang
Oliva Sadi medali Emas -3000m
Oliva Sadi Medali emas- 1500m
Ferry Subnafeo Emas - Marathon

Oliva Sadi Medali Perak - 800m
Tersiana Riwu Rohi Medali Perak - Jalan Cepat
Nelci Tolai Perunggu - 1500m

PON XVII/2008/Kaltim
Adriana Waru Perak -- 3000 stch
Tersiana Riwu Rohi Perunggu Jalan Cepat 20km
Mery Paijo Perunggu - 10.000m


PON XVIII 2012/Riau
Oliva Sadi Perak  800m
Afriana Paijo Perak 1500
Merry Paijo Perak - Marathon
Adriana Waru Perunggu - 3000 stch

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Atlet Atletik Bidik Tiga Emas di PON 2016

KUPANG, PK - Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Nusa Tenggara Timur (NTT) menargetkan medali emas minimal sama seperti yang sudah diraih atlet cabang olahraga (cabor) NTT saat lolos PON XIX/2016 di Bandang, Jawa Barat.

"Target NTT tiga medali emas dari  atletik. Ini harus diperjuangkan, bukan cuma melalui latihan intensif yang keras namun juga melalui doa. Dan harapannya hasil yang diraih bisa ditingkatkan saat atlet atletik NTT tampil di PON XIX/2016. Oliva dan Afriana Paijo sudah teruji di level nasional. Apalagi ini olahraga terukur," kata Ketua Umum Pengprov PASI NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si,  saat ditemui Pos Kupang di kediamannya di Jalan Anggrek, Kelurahan Naikolan, Kupang, Jumat (19/2/2016).

Untuk meraih target di PON 2016, tegas Esthon, atlet atletik NTT harus latihan intensif. Atlet atletik lolos ke PON 2016 melalui sejumlah even kualifikasi. Ini menjadi acuan yang dipakai.  Ia menjelaskan, hasil atletik Pra PON 2015, Oliva Sadi   meraih medali emas nomor 5.000 meter, 10.000 meter dan marathon. Ance Paijo meraih emas nomor 1.500 meter dan Eldat Kafolamau meraih perunggu marathon.

"Hal ini menjadi pendorong bagi atlet atletik  NTT untuk meraih hasil lebih baik lagi di PON XIX/2016 sesuai harapan Gubernur NTT, Pak Frans Lebu Raya, yang juga Ketua Umum KONI NTT serta menjadi harapan masyarakat NTT ," kata Esthon.

Menurut dia, cabor atletik sangat terukur dan even kejurnas atletik serta Pra PON mirip ajang PON karena atlet dari seluruh daerah di Indonesia  ikut. "Sama-sama sudah tahu kemampuan lawan karena catatan waktu  dipegang masing-masing pelatih. Tinggal taktik dan strategi saat turun di lintasan untuk bertarung menjadi yang tercepat dan yang terbaik," ujarnya.

Pelari NTT, kata Esthon, sangat disegani pelari provinsi lainnya karena tampil sederhana, tapi tangguh saat di lintasan sirkuit. Ini juga menjadi daya dorong. Esthon mengaku PASI NTT sedang mengajukan surat usulan kepada PB PASI untuk mengakamodir  atlet atletik NTT Delvita Bakun untuk  tampil di PON XIX/2016.

"Tiga pelatih atletik NTT, Pak Julius Lona Koni, Edmundus Parera, dan Adnan Abdulah sudah membuat program pelatihan musim pelatda desentralisasi hingga TC sentralisasi. Nanti akan ada try out  bagi atlet untuk mengukur kemampuannya," kata Esthon.
Mantan Wagub NTT ini memuji kepemimpinan Drs. Frans Lebu Raya, selaku Ketua Umum KONI NTT yang dengan kebijakannya bersama Ketua Harian KONI NTT, Ir. Andre W Koreh, sudah menyiapkan bonus  memadai sebagai motivasi dan pelecut bagi atlet untuk tampil membela NTT di PON XIX/2016.

"Ada bonus rumah dan uang yang nilainya sangat signifikan. Juga kepiawaian Pak Frans Lebu Raya dan Pak Andre Koreh yang mampu menghimpun dana dari pihak ketiga pada HUT KONI serta Harbak PU di luar bantuan dana APBD  NTT yang nilainya miliaran rupiah sehingga bisa terus menopang keberlajutan kegiatan pada awal musim pelatda," ujar Esthon. Ia berharap atlet atletik NTT  terus berlatih intensif. "Atlet NTT selalu tampil bisa walaupun dalam keterbatasan untuk mengharumkan nama masyarakat NTT," demikian Esthon. (fen)

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Oliva Sadi Latihan Pagi dan Sore

Oliva Sadi
TETESAN keringat membasahi tubuhnya yang langsing.  Baju kaos olahraga dan celana  yang dipakainya basah.  "Sekarang ini udara Kota Kupang sangat panas sehingga  menyedot energi saat latihan. Sudah jam empat sore, tapi udara masih cukup panas," kata Oliva Sadi kepada Pos Kupang ketiak istirahat latihan  berlari belasan kali mengitari lintasan sirkuit atletik Stadion Oepoi Kupang, Jumat (19/2/2016) sore.

Oliva Sadi yang didampingi tiga orang pelatih, Drs. Julius Lona Koni, Edmundus Parera  dan Adnan Abullah tetap tersenyum.

Sambil berjalan mengitari lintasan Sirkuit Atletik di Stadion Oepoi-Kupang untuk menurunkan suhu tubuh setelah berlari satu jam mengitari lintasan stadion tersebut, Oliva mengaku sedang latihan intensif mengikuti program pemusatan latihan daerah (pelatda) desentralisasi sejak Januari hingga Maret 2016. 

Program itu berupa persiapan umum untuk tiga bulan pertama menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Bandung,  Jawa Barat. Oliva tidak gentar menghadapi persaingan ketat di PON nanti.  "Semua atlet tentu berdoa kepada yang Di Atas. Namun sekarang tinggal siapa yang banyak berdoa dan direstui Tuhan menjadi yang terbaik. Ini harus latihan intensif. Harus Ora Et Labora," kata gadis berlesung pipit itu.

Gadis kelahiran  Kabupaten Manggarai Timur, tanggal 1 Juni 1982 yang diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS)  tahun 2011 mengatakan, saat ini ia fokus latihan di nomor lari jarak jauh (marathon) dan 10.000 meter.

Olivia pernah  meraih medali emas  nomor 5.000 meter pada  SEA Games di Vietnam tahun 2005. "Saat ini kami satu minggu 11 kali latihan pagi dan sore hari di Stadion Oepoi Kupang. Kadang latihan berlari melintasi jalan raya. Kecuali pada hari Minggu istirahat," tutur Oliva, yang saat ini bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga NTT.

Saat ditanya tentang target meraih medali di PON XIX/2016 Jawa Barat, peraih medali perak PON XVIII di Riau tahun 2012  mengatakan, butuh perjuangan dan mohon dukungan doa masyarakat NTT untuk bisa masuk tiga besar. "Semua tentu punya target medali. Doakan agar Oliva bisa mempersembahkan medali atau masuk tiga besar di PON XIX/2016," pungkas Oliva. (ferry ndoen).

Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Rekor Edu Nabunome Belum Terpecahkan

Edu Nabunome (tengah)
PROVINSI Nusa Tenggara Timur (NTT) identik dengan gudang atlet atletik nasional.  Sejak tahun 1960-an putra-putri Flobamora mengharumkan nama Indonesia melalui cabang olahraga tertua itu.

Ketika diwawancarai Pos Kupang, Jumat (19/2/2016), mantan pelatih atletik NTT, Drs. Fredik Tunliu menceritakan kembali kilas balik kiprah atlet atletik di daerah ini. Pria  yang akrab disapa Eddy Tunliu ini menyebut  Rony Mello sebagai orang NTT pertama yang mengikuti pendidikan formal atletik tingkat internasional di Jerman   melalui program pendidikan dan latihan (diklat).

Eddy menjelaskan, menghadapi PON VI, Komando Gerakan Olahraga (Kogor) NTT memanggil sejumlah atlet dari daratan Timor, Alor, Flores dan Sumba.  Para atlet yang terpilih saat itu mengikuti program TC di Kupang, yakni Piter Lobo (Timor) mengikuti nomor lari 100 meter dan lempar lembing. Jan Imang (Alor) ikut 10.000 meter dan lari marathon. Zet Lalametan (Timor) ikuti nomor lompat tinggi. Amos Kamesah (Timor)  mengikuti nomor 10.000 meter, lari marathon dan Marthen Gela (Sumba) mengikuti nomor lompat tinggi galah. Sedangkan atlet putri, Martha Pati (Timor) mengikuti nomor 100 meter dan  200 meter. Asnat Riwu Pasa (Sumba)  mengikuti nomor 100 meter, lompat jauh dan Johana Mety (Sumba)  lempar cakram.

Atlet putra dan putri NTT  yang dipersiapkan ke PON VI dilatih Rony Mello, Rudy Leiwakabesi dan  Eddy Tunliu. Pemusatan latihan selama satu bulan.  Ternyata PON VI dibatalkan karena peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S PKI)  tahun 1965 di Jakarta.
Para atlet atletik NTT yang sudah dipersiapkan mengikuti PON VI  dibubarkan dan dikembalikan ke daerah masing-masing.

Pemerintah dan KONI Pusat menetapkan PON VII  di Surabaya,  Jawa Timur,  tanggal 26 Agustus -6 September 1969. KONI kembali merekrut atlet-atlet yang telah dipersiapkan empat tahun sebelumnya. Hasil yang diraih atlet atletik NTT di PON VII tidak mengecewakan. Amos Koamesah meraih medali perunggu  nomor lari marathon dan Johana Meti meraih perunggu nomor lempar cakram.

"Atlet atletik NTT menoreh prestasi gemilang saat mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Atletik di Jakarta Desember 1972. Saat itu NTT mengirim atlet putra Kusa Detaq di nomor  1.500 meter, serta atlet putri Mathilda Fanggidae (almh) nomor tolak peluru serta Viana Djahimo juga nomor tolak peluru dengan pelatih Rony Mello dan Dra. Martini Wora.  Di Kejurnas Atletik 1972, atlet NTT Mathilda Fanggidae meraih juara I  (medali emas)," kenang Eddy.

Ia mengatakan, dalam sejarah atletik NTT bahwa  banyak nomor yang diikutsertakan pada kegiatan tingkat nasional, baru pada Kejurnas Atletik 1972 itu NTT mencetak  sejarah  baru meraih medali emas pertama. "Dan pada saat itu KONI NTT mencanangkan motto "NTT Emas". Karena itu, motto NTT Emas embrionya telah diletakkan dari cabang atletik yang adalah ibu dari semua cabang olahraga," kata  Eddy.

Pada tahun 1973, NTT  mengutus sejumlah atlet mengikuti PON VIII.  "PON VIII di Jakarta adalah PON prestasi pertama dan tidak seperti PON-PON terdahulu yang lebih pada PON prestise. Provinsi NTT di PON VIII mengirim atlet putra  Kusa Detaq mengikuti nomor  lari 1.500 meter dan  Otnial Takaeb 10.000 meter. Atlet putri Mathilda Fanggidae dan Mace Siahainenia nomor tolak peluru, Wempy Foenay (lempar cakram), Yuli Hangge  (1.500 meter),  dan Yance Radja (1.500 meter). Pelatih Rony Mello dan W.A.L. Radja.  Di PON VIII,  atlet  Otnial Takaeb meraih medali perunggu (juara III) dan Mathilda Fanggidae meraih medali emas (juara I). 

Sekretaris Pengprov PASI NTT, Eduard Setty mengatakan saat Mell Yacob, S.H  menjabat Ketua DPRD Kabupaten Kupang sekaligus Ketua Pengcab PASI Kabupaten Kupang, dia mencanangkan program Atletik Masuk Desa tahun 1980 -1985. Program  Atletik Masuk Desa melahirkan atlet legendaris Eduardus Nabunome. Saat Pengda PASI NTT dijabat Piet A Tallo, digelar rutin Sirkuit Atletik NTT tahun 1995 -2009. Hasilnya,  lahir atlet nasional Oliva Sadi Olivia yang hingga kini masih menjadi andalan NTT.

"Masih menjadi kebanggaan NTT karena catatan rekor nasional yang diraih atlet NTT Eduardus Nabunome pada nomor lari 10.000 meter junior tahun 1986 di Jakarta, Bali 10 K tahun 1989 (29:25.0), dan lomba lari marathon tahun 1993 di Jakarta (2:19.18), belum terpecahkan sampai saat ini. Selain itu,  rekor atlet Oliva Sadi  nomor 1.500 meter  junior tahun 2001 di Kuala Lumpur, Tersiana Riwu Rohi nomor 10.000 meter  jalan cepat diraih tahun 1999 di Jakarta (47:26.84) dan 20.000 meter jalan cepat diraih Tersiana tahun 2003 di Jakarta (1.40.25)," kata Eduard Setty.  (ferry ndoen)


Sumber: Pos Kupang 20 Februari 2016 hal 1

Tata Ruang Kota Kupang

ilustrasi
Puteri Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2013,  Dyathra Silvana Baten mengungkapkan pengalamannya tentang akses menuju kawasan pantai di Kota Kupang. Menurut dia, pembangunan hotel dan restoran di pesisir pantai Pasir Panjang dan Kelapa Lima misalnya, sangat berpengaruh terhadap akses masuk ke pantai di wilayah itu.

"Sekarang kalau mau  ke pantai di wilayah Pasir Panjang dan Kelapa Lima, kita harus inap di  hotel atau makan di restoran dulu baru bisa main-main di pantai," ujar Dyathra kepada Pos Kupang, Senin (8/2/2016) lalu.  Gadis yang pernah menjalani peran sebagai Duta Wisata NTT 2012 dan Puteri Indonesia Kepulauan Bali Nusra 2014 ini  menyatakan, pemerintah memang sudah menyediakan akses jalan ke pantai di belakang hotel. Namun, untuk menikmati area itu lebih leluasa hanya pada pagi hari. Artinya, waktu bagi masyarakat umum terbatas.

Demikian salah satu dampak langsung dari penerapan tata ruang di ibukota provinsi ini. Kiranya bukan Dyathra saja yang mengalami pengalaman serupa. Tumbuhnya hotel dan restoran di pesisir pantai Kelapa Lima dan Pasir Panjang  dalam sepuluh tahun terakhir mengurangi akses bagi masyarakat umum menikmati kawasan pantai.
Poin yang mau kita garisbawahi di sini bukan soal salah atau benar membangun hotel dan restoran di pesisir pantai. Keberadaan hotel dan restoran tentu memberikan multi efek yang positif secara ekonomi. 

Namun, tak kalah penting bagi kita  adalah  pembangunan fisik mestinya tetap memberi ruang publik bagi masyarakat umum. Pantai yang indah harus bisa dinikmati seluruh warga Kota Kupang bukan cuma bagi segelintir orang. Selain itu, wajah kota ini akan jauh lebih menawan bila pantai menjadi halaman depan atau teras rumah bukan sebaliknya. Yang terjadi di Kupang umumnya bangunan membelakangi pantai sekaligus menutup akses ke sana.

Mengapa bisa terjadi demikian? Boleh jadi benar seperti dikatakan mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Kupang dan Tata Ruang Kota, Ir. Lay Djaranjoera. Menurut dia,  perencanaan tata ruang baik  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana Tata Bangunan Lingkungan (RTBL) Kota Kupang sudah ada, tetapi hanya disimpan di dalam laci.

Menurutnya,  ruang itu berkaitan dengan perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan. "Tiga aspek itu harus berjalan bersamaan. Tidak bisa membuat perencanaan lalu pemanfaatannya beda dan pengawasan tidak jalan.  Dan, ini menjadi persoalan di Kota Kupang saat ini," kata Lay. Dia menilai pembangunan hotel dan restoran  tidak terkendali. Pemerintah sepertinya memberikan izin kepada pengusaha yang hendak membangun di area mana saja.

Kita sudah bisa membayangkan bagaimana ujungnya bila rencana tata ruang hanya tersimpan di laci meja para birokrat. Rencana yang telah disusun sedemikian rupa akan sia-sia. Pembangunan fisik Kota Kupang  akan berjalan tanpa kendali dan yang rugi lagi-lagi masyarakat umum. Pemimpin kota ini hendaknya segera buka mata dan bertindak cepat. Jangan diam dan masa bodoh.*

Sumber: Pos Kupang 13 Februari 2016 hal 1

Jadi Pasien Sejak Bayi hingga Memiliki Anak

ilustrasi
Pasien rela antre berjam-jam bahkan sampai malam menunggu jadwal pemeriksaan. Mengapa para pasien tersebut tidak beralih ke dokter lain?

WAKTU masih menunjukkan pukul 06.00 Wita, namun sejumlah orang sudah duduk di kursi yang tersedia di depan tempat praktek dokter  Yudith Marietha Kota, di Jalan Piet A Tallo, Penfui, Kupang, Kamis (21/1/2016).

Tua Muda, besar kecil, laki-laki, perempuan, duduk tenang menunggu giliran namanya dipanggil seorang suster. Setelah dipanggil, si pasien masuk ke dalam ruang praktek dokter.

Sekitar 15 menit kemudian, si pasien keluar sambil memegang kertas resep dari dokter dan langsung memberikan kepada karyawan di Apotek Tiara yang letaknya di depan ruang praktek dokter. Si pasien lalu menunggu hingga namanya dipanggil untuk mengambil  dan membayar obatnya.

Begitulah umumnya proses yang dilalui pasien saat berobat ke dokter praktek yang ada di Kota Kupang dan sekitarnya. Bahkan meski sudah hampir larut malam pun, para pasien masih rela menunggu giliran diperiksa dokter kesayangannya. Loyalitas pasien terhadap dokter favoritnya itu sudah berlangsung lama. Bahkan  begitu dekatnya,  dokter langganan itu mereka sebut sebagai dokter keluarga lantaran karena si dokter memeriksa dan menangani orangtua termasuk anak si pasien jika sakit.

Yuliana Rahmawati misalnya mengaku sejak berumur 8 tahun sudah berobat dan menjadi pasien dokter Rita. Bukan hanya itu, ibunya pun adalah pasien dokter Rita sejak tahun 1990-an. Bahkan setelah dewasa dan menikah,Yuliana juga membawa dua anaknya, Raka (7) dan Nabila (4) berobat ke dr. Rita jika mereka sakit.

"Saya ingat waktu kecil, kalau saya sakit, ibu membawa saya berobat ke dokter Rita. Dan sekarang anak-anak saya pun kalau sakit saya bawa ke dokter Rita. Makanya dari kecil, sampai saya punya anak, kalau sakit saya selalu berobat ke dokter Rita. Cocok sih," kata Yuliana, Senin (25/1/2016) pagi.

Yuliana mengaku senang saat berobat ke dokter Rita karena ada komunikasi baik antara dokter dengan pasiennya.  Dokternya berdialog, ada komunikasi dua arah, sebelum pemeriksaan. Jadi saya rasa nyaman. Obat yang  diberikan pun selalu cocok dan saya bisa cepat sembuh," kata Yuliana yang mengaku punya dokter favorit lain yakni dr. Karoline.

Pasien lainnya seperti Yuliana, Desiree, Irna, Dance dan Donatus memiliki dokter favorit masing-masing karena alasan nyaman dan obat yang diberikan manjur.

Lain lagi cerita Elisabeth, warga Kelurahan Kelapa Lima, yang mengaku sudah menjadi  members' dokter Yudith sejak 20 tahun lalu.  Elisabeth mengaku cocok dengan dokter Yudit karena keramahannya.  Saya lebih cocok kalau sakit dan diperiksa dokter Yudith.  Orangnya baik dan ramah, obat yang diberikan juga manjur.  Makanya sudah 20-an tahun ini kalau sakit, pasti saya ke dokter Yudith," kata Elisabeth, Kamis (28/1/2016).

Menurut Elisabeth, hal positif lain yang menarik dari dokter Yudith yakni adanya komunikasi baik. Jika bisa ditangani, demikian Elisabeth, dokter Yudith langsung menangani dan mengobatinya. Namun jika ada indikasi lain, dokter Yudith akan merujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ahli.  Setiap rekomendasi ke dokter ahli yang diberikan oleh dokter  Yudith itu juga sangat baik," kata Elisabeth.  

Elisabeth mengaku seringkali merekomendasikan dokter Yudith kepada keluarga dan teman-temannya yang sakit.  "Banyak keluarga saya, tante, om, keponakan dan teman saya yang akhirnya menjadi pasien tetap dokter Yudith atas rekomendasi saya. Dan mereka bilang cocok," kata Elisabeth.

Ibu lainnya, Irna mengaku selalu memeriksakan anaknya, Elvira Bongga Palan ke dokter Hendrik Tokan. Jika masih bayi Elvira pasti dibawanya ke dokter Hendrik jika sakit dan pasti sembuh. Hal senada disampaikan Donatus Kelen dan istrinya, Maria yang ditemui di RSU Kupang, Selasa (26/1/2016) pagi.  "Sudah tiga hari Alvaro opname di rumah sakit dan ditangani dokter Hendrik. Kami senang karena dokter Hendrik sangat ramah," kata Maria. (novemy leo)

Sumber: Pos Kupang 2 Februari 2016 hal 1

Bukan karena Lebih Pintar

ilustrasi
DOKTER Rita mengatakan, legal artis, standar, ilmu atau seni merawat dan menangani pasien memang penting dan wajib dilakukan dokter saat memeriksa pasien. Namun mengobrol atau diskusi dengan pasien  tak kalah penting.

Dengan mengobrol atau berkomunikasi maka dokter bisa mengetahui penyakit apa yang kemungkinan diderita pasien. Dengan demikian penanganan, tindakan dan pemberian obat kepada pasien juga tepat sehingga pasien bisa cepat sembuh.

Bahkan seringkali setelah ngobrol dan menyampaikan keluhannya, pasien itu merasa sudah 'sembuh'.  "Menurut saya ya, mengobrol dengan pasien itu penting dan harus dilakukan dokter. Obat hanya perantara. Biasanya saya banyak menanyakan untuk mencari tahu penyebab sakitnya pasien itu, apakah karena elergi atau infeksi," kata dr. Rita, Kamis (28/1/2016) malam.

Karena itu, demikian dokter Rita, saat memeriksa pasien, dia lebih banyak mencari tahu apa penyebab dari penyakit pasiennya. Apakah penyebabnya karena elergi atau karena infeksi. Kalau penyebabnya karena infeksi, maka infeksinya harus disembuhkan. Kalau penyebabnya karena alergi maka harus dicari tahu alerginya karena apa sehingga bisa dihindari pasien.

"Kalau alergi terhadap sesuatu maka hal itu harus dihindari pasien sehingga pasien tidak mengalami sakit yang sama terus menerus. Nah untuk bisa tahu itu, tidak bisa tidak, dokter harus mengobrol dengan pasiennya. Biasanya saat amnanesa, 50 persen penyebab dan sakitnya pasien sudah bisa diketahui dokter " kata dr. Rita.

Hal sama dikatakan dokter Hendrik, bahwa dengan bicara, dokter bisa mengetahui penyebab sakit itu sehingga bisa memberikan tindakan yang tepat. Bahkan dokter Hendrik mengatakan, sebagai dokter anak, dirinya harus lebih dekat secara psikologis dengan anak-anak itu.

"Kalau saya langsung periksa, kadang anak-anak langsung nangis makanya saya biasanya bermain, cerita dulu dengan mereka, baru periksa," kata dr. Hendrik, Selasa  (26/1/2016) siang.

Dokter Yudit Marietha Kota bisa melayani 30 lebih pasien per hari. Bahkan pernah sampai 60-an pasien dan pelayanan itu dilakukan dari pukul 17.00 Wita hingga pukul 24.00 Wita. Agar bisa terus berkonsentrasi memeriksa dan menangani pasien, Direktris Rumah Sakit (RS) Kartini Kupang ini punya tips.

"Kalau mulai capek, saya istirahat 5-10 menit, ke kamar mandi, mencuci muka, minum air, istirahat sejenak baru periksa lagi. Saya tidak tega, mereka sudah datang jauh-jauh dari Tarus, Bolok, lalu tidak diperiksa. Dulu pernah sampai 60-an pasien karena pasien Askes juga, sehingga praktik dari jam 5 sore sampai jam 12 malam. Sekarang sudah berkurang 30-an pasien, karena tidak terima pasien askes atau BPJS lagi. Umur saya juga tidak bisa memeriksa lebih dari 40 pasien," aku dr. Yudith.

Banyaknya pasien yang mengunjungi tempat praktik dokter Yudith ini lantaran 'promo' dari mulut ke mulut yang mengatakan bahwa dokter Yudit itu dokter bertangan dingin. Meski over pasien, dokter Yudith mengaku, selalu menjalani legal artis, tahapan pemeriksaan sesuai standar.

"Saya tidak bisa cepat-cepat periksa pasien, karena saya harus tahu benar dia sakit apa. Ada yang bisa diperiksa cepat tapi ada yang harus diskusi panjang dulu. Meski hanya kakinya yang luka, saya tetap harus melakukan legal artis untuk mengetahui penyakit lain yang mungkin ada. Naik tempat tidur dan periksa," kata dr. Yudith.

Dokter Yudith juga mengaku stress jika mendapat pasien yang sudah berkeliling periksa ke sejumlah dokter spesialis, baru kemudian 'pasrah' dan menuju ke tempat praktiknya. "Saya stress, kan saya dokter umum. Kalau sudah begitu saya bilang ke pasien, kalau kamu sembuh, itu bukan karena saya lebih pintar. Tapi karena kehendak Tuhan dan saya minta dia berdoa," kata dr. Yudith. Menurut dr. Yudith, biasanya pasien membludak pada bulan Januari, Februari dan Maret karena peralihan musim dan penyakitnya seperti DBD dan diare. (vel)

NEWS ANALYSIS
dr. Husein Pancratius
Mantan Dirut RSU Kupang

Satu Pasien 30 Menit


SEORANG dokter punya prosedur standar untuk memeriksa pasien. Prosedur itu sudah dokter dapatkan saat menempuh pendidikan, khususnya pada pelajaran phisikal diagnotis. Prosedur itu meliputi enam langkah yaitu amnanesa, palpasi, perkusi, auskultasi, diagnosa banding, diagnosa pendukung.

Keenam langkah standar itu harusnya dilakukan seorang dokter saat memeriksa pasien agar dapat mendiagnosa penyakit secara tepat dan melakukan tindakan pemberian obat dan tindak lanjutan. Normalnya tahapan pemeriksaan semacam itu dilakukan selama 30 menit per pasien untuk bisa mendapatkan hasil terbaik. Namun jika dokternya sudah pengalaman, mungkin langkah itu bisa dilakukan kurang dari 30 menit.

Namun setiap langkah itu harus dilalui, kecepatan dan kemahiran bisa disesuaikan kemampuan dokter. Saking pintar dan terampilnya sang dokter maka langkah itu bisa dilakukan dengan cepat. Karena ada dokter yang hanya mendengarkan detak jantung saja misalnya, dokter sudah bisa tahu pasiennya sakit apa, katubnya bocor atau bagaimana. Itu karena kemahiran dokter.

Tapi tetap tidak bisa melewatkan satu dari enam tahap itu meski dokternya sudah mahir. Jika ada satu tahapan yang dilewati itu tidak bisa dibenarkan. Nah dengan seperti itu maka bisa dihitung waktu yang dibutuhkan dokter untuk memeriksa sekian pasien secara teliti. Idealnya, dokter memeriksa sekitar 10-20-an pasien, jika dikalikan 30 menit maka dibutuhkan waktu 5-10 jam. Atau kalau dokternya mahir, mungkin 1 pasien hanya diperiksa 15 menit, maka jika ada 20 pasien maka dibutuhkan waktu sekitar 3,5 jam. Kalau buka prakteknya jam 18.00 Wita maka pemeriksaan 20 pasien dilakukan selama 3,5 jam hingga pukul 21.30 Wita.

Kalau pasiennya lebih dari 20 orang maka dihitung saja berapa lama dokter itu buka praktek atau kalau pasiennya lebih dari 20 orang lalu hanya buka praktek 3 jam, maka satu pasien hanya dilayani berapa menit. Apakah tahapan pemeriksaan dilewati atau tidak. Kalau satu pasien hanya diperiksa 3 atau  5 menit, pertanyaannya, apakah seluruh tahapan pemeriksaan itu sudah dilalui. Dalam 3 -5 menit, kapan pasien mengeluh, kapan tanya jawab, kapan buka baju, diperiksa, kapan diagnosa, kasih obat apa, apakah bisa.

Bagi saya jika prosedur pemeriksaan dimaksud tidak dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya maka  hal itu sudah bisa dikatakan malpraktek. Kenapa malpraktek karena bekerja tidak sesuai standar.  Ada dokter yang beranggapan tanpa pemeriksaan teliti, jika sudah bisa diperkirakan sakitnya, maka berikan saja obat sehingga tidak perlu harus mencari tahu sakitnya itu dimana. Misalnya, panas karena infeksi, kasih saja obat antibiotik.

Anggapan itu keliru. Kalau ujian dengan profesor, maka profesor akan meminta seorang dokter untuk mampu mencari dan menunjukkan dimana letak sakitnya barulah memberikan obat. Kalau tidak bisa menunjukkan tempat sakitnya, maka dokter itu tidak akan lulus ujian. Namun dalam pemeriksaan sebelum ada pemeriksaan lanjutan lab atau rontgen, dokter juga sudah bisa memberikan obat kepada pasiennya. Contoh, pasiennya deman, lalu dokter mendiagnosa awal pasiennya terkena typus atau malaria sehingga memberikan obat typus dan malaria.

Kemudian diikuti pemeriksaan lab dan hasilnya ternyata pasien menderita malaria. Maka dalam kunjungan berikutnya, dokter itu harus jujur mengatakan kepada pasiennya, jangan marah ya, obat yang satu kemarin itu distop saja, yang satu yang dilanjutkan karena hasil testnya malaria. Jika terjadi demikian, tidak mengapa, asalkan cepat. Karena jika menunggu hasil lab 2-3 hari, tanpa ada tindakan dokter, mungkin bisa saja pasiennya keburu mati sebelum ditangani. Diperlukan diagnosa banding atau diagnosa penunjang seperti laboratorium atau radiologi. Bahkan perlu konsultasi dengan dokter yang lebih ahli misalnya maka arahkan pasien ke dokter ahli, jangan memonopoli pasien itu. Nanti kalau memonopoli lalu ada kejadian di kemudian hari terhadap penyakitnya bisa membahayakan pasien dan dokter itu sendiri.

Second opinion  harus dilakukan jika pasien menginginkannya. Karena itu, kuncinya ikuti standar pemeriksaan dan rajin berkomunikasi dengan pasien. (vel)

Sumber: Pos Kupang 2 Februari 2016 hal 1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes