Pentingnya Pedoman Meliput Soal Terorisme

Dion DB Putra (kiri)
KUPANG, PK--Posisi NTT sebagai propinsi kepulauan dan berbatasan dengan dua negara menjadi daerah rentan masuknya teroris dan faham radikal. Untuk itu, perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman teroris dan faham radikal yang akan masuk ke NTT.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menyampaikan hal itu dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Setda NTT, Yohana Lisapally saat membuka diseminasi pedoman peliputan terorisme, di Hotel Neo Kupang, Kamis (16 /6/2016) pagi.

Desiminasi digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme NTT diikuti pimpinan media di NTT, wartawan, tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa dan tokoh pemuda.

Menurut Gubernur Frans Lebu Raya, rentannya teroris masuk NTT terbukti dengan tertangkapnya salah satu anggota teroris jaringan Santoso, Syaefudin di Labuan Bajo, Manggarai Barat beberapa waktu lalu. Kondisi itu menunjukkan jaringan terorisme sudah bergeser di NTT .

Untuk mencegah masuknya terorisme dan paham radikalisme, kata Gubernur Frans, perlu dukungan dari seluruh pihak. Ditingkat bawah, Gubernur meminta masyarakat mewaspadai dan segera melaporkan ke RT bila ada orang baru yang mencurigakan.


Bagi Gubernur, pencegahan melawan terorisme dan radikalisme akan berhasil manakala keduanya dijadikan musuh bersama oleh semua pihak.  Termasuk peran pers menyajikan informasi tentang terorisme dan radikalisme dengan tidak menyudutkan agama dan etnis tertentu akan membantu memberangus kedua persoalan itu.

"Media juga bisa menghambat pergerakan terorisme dalam pemberitaan. Untuk itu, berita harus seimbang dan akurat agar  dengan tidak mendiskriminasikan  terhadap salah satu agama tertentu," ungkap Gubernur Frans Frans Lebu Raya.

Direktur Intelkam Polda NTT, Kombes Pol Musa Tampubolon menyatakan ada beberapa faktor sehingga NTT rentan terorisme dan radikalisme diantaranya geografis NTT yang berpulau-pulau menjadi daerah ini rentan sebagai daerah persembunyian, pelatihan dan penyebaran paham tersebut. Selain itu, NTT dekat dengan NTB yang menjadi aktivitas jaringan Santoso serta jalur perlintasan Jawa, NTB dan Sulawesi. Ia juga menyebutkan beberapa daerah di NTT memiliki keahlian merakit senjata api rakitan dan bahan peledak.

Musa mengatakan, polisi tidak gampang menjerat kelompok radikal dengan tuduhan pidana. Butuh bukti untuk tindak tangkap kelompok radikal. Apalagi kelompok radikal rata-rata militan mengetahui bagaimana bisa lepas dari jeratan terorisme.
Musa menambahkan saat Tour de Flores sejatinya terjadi ancaman dari kelompok teroris dari Sumbawa, NTB lantaran banyaknya peserta dari luar negeri. Namun berkat kerja keras satgas kontra radikal dan deradikalisasi Polda NTT  ancaman dapat dielemenir.


Pelanggaran Etika
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT, Dion DB Putra, mengatakan pelanggaran etika yang luar biasa banyak dilakukan dalam penulisan tentang terorisme dan radikalisme. Kondisi itu menjadikan pemberitaan dan membuat ketakutan dan kecemasan luar biasa. 

Ia mencontohkan media di NTT memberitakan tentang bom Thamrin Jakarta dalam dua minggu yang membuat ketakutan luar biasa bagi pembaca.

Dengan adanya pedoman meliput dan menulis tentang terorisme, Dion berharap pers memiliki andil banyak mencegah terorisme dan faham radikalisme ke NTT. Untuk itu, pers di NTT harus banyak melakukan promosi nilai lokal yang positif supaya paham radikal dan teroris bisa terbendung.

Bagi Dion, rentannya NTT dimasuki teroris dan paham radikal lantaran daerah ini masih miskin dan banyak yang bodoh. Ia optimis nilai lokal bisa cegah paham radikal. Dia mencontohkan di tanah kelahirannya di  Ende ada perjanjian suci tidak boleh lakukan pertikaian antara suku Lio dan Sikka.

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo yang biasa akrab disapa dengan Stanley memaparkan panduan meliput terorisme bagi jurnalis. Beberapa hal yang ditekankan Stanley menyatakan tidak diperbolehkan lagi siaran langsung dalam peliputan terorisme. Selain itu, media diminta tidak menceritakan detil dan memuat foto korban atau pelaku teroris yang keji. Peliputan yang berlebihan justru akan menyampaikan pesan-pesan dari teroris.

Bagi Stanley, meliput dan memberitakan terorisme bagian dari perang terorisme. Untuk itu,pers harus mengingatkan dan membantu menemukan akar terorisme yang tumbuh di masyarakat.  Pasalnya, terorisme bukan hanya masalah ideologi tapi bisa juga lantaran persoalan ketidakadilan pembangunan.

Untuk beberapa liputan menarik untuk terorisme, Stanley mencontohan berita tetang kehidupan keluarga para pelaku terorisme pasca penangkapan atau eksekusi. Selain itu, cara pendidikan dan lingkungan sosial anak anak para pelaku terorisme serta kesedihan dan ketabahan para keluarga korban. Tak hanya itu, bisa juga menulis tentang rusaknya ekonomi dan kehidupan akibat terorisme yang mampu mendorong orang  menolak semua bentuk aksi terorisme. (aly)

Sumber: Pos Kupang 17 Juni 2016 hal 2

Mencegah Gizi Buruk

KABAR kurang menyenangkan datang dari  Maumere, Kabupaten Sikka. Tiga orang anak usia di bawah lima tahun (balita)  di Kampung Garam, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok terdeteksi menderita gizi buruk. Ketiga balita tersebut masing- masing Yuliana Oktavia Kansabria (3), Brian Meti (2) dan Alda (1).

"Dari mereka bertiga itu  ada yang kurang asupan susu dan perhatian dari orangtua. Ada juga yang terkontaminasi penyakit batu pilek sehingga terkena gizi buruk," kata Rosa Mistika, kader Posyandu  Kampung Garam.

Kita sebut kabar kurang menyenangkan karena gizi buruk toh masih saja terjadi di  daerah ini. Bahkan kabar gizi buruk  seolah sudah identik dengan wajah manusia Nusa Tenggara Timur (NTT) sehingga orang menganggapnya sebagai masalah biasa. Bukan sesuatu yang patut dicemaskan lagi.

Tiga orang balita yang terdeteksi di Kampung Garam  tersebut merupakan puncak dari gunung es. Kita yakin masih banyak anak-anak NTT yang mengalami nasib sama namun belum mendapat penanganan semestinya. Saban tahun kasus gizi buruk di NTT angkanya mengalami peningkatan signifikan mulai bulan Agustus hingga puncaknya pada bulan Oktober. Masa itu bertepatan dengan musik paceklik yang melanda sejumlah daerah kepulauan ini.

Kita juga mudah menebak model penangannya.  Sudah lazim terjadi di mana-mana model yang menonjol itu menganut cara kerja ala pemadam kebakaran. Ada masalah dulu baru bergerak dan hanya fokus di sisi hilir. Pihak Dinas Kesehatan dan seluruh jajarannya kerapkali menjadi kambing hitam tatkala korban gizi buruk berjatuhan. Kita lupa bahwa gizi buruk merupakan masalah yang kompleks, pelik dan rumit. Penanganannya harus komprehensif mulai dari hulu sampai hilir.

Sebagai daerah yang selalu mengalami gagal panen karena faktor iklim  atau penyebab lainnya, masalah gizi buruk memang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat NTT. Dalam bahasa berbeda potret  kemiskinan yang masih mendera sebagian besar rakyat NTT memungkinkan mereka selalu dan hampir selalu berurusan dengan gizi buruk. Sisi hulu ini yang kerap dilupakan. Tugas negara mengentaskan kemiskinan rakyatnya. Pemerintah pun  tidak boleh  lepas tangan mengelola ketersediaan pangan yang adil bagi masyarakat.

Kebijakan negara yang salah di bidang pangan perlu diluruskan. Sudah terlalu lama rakyat kita direcoki pikiran keliru seolah pangan itu identik dengan beras. Ingat bahwa  makanan pokok mayoritas rakyat NTT bukan beras. Kita dorong pola makan rakyat sesuai kondisi lingkungan sosialnya. Gerakan mengonsumsi pangan lokal perlu terus dikembangkan hingga menjadi kebiasaan dalam setiap rumah tangga. Dengan demikian akan tercipta ketahanan pangan berbasis lokal. Mereka tidak sepenuhnya lagi berharap pada beras yang dipasok dari luar daerah dan mahal harganya.

Hal lain yang patut disegarkan lagi adalah gizi buruk itu tidak semata karena orang kekurangan pangan atau kurang makan.Cukup sering gizi buruk terjadi karena pola asupan gizi yang keliru. Seorang anak makan banyak sekali tetapi bukan makan makanan bergizi. Dia sekadar merasa kenyang. *

Sumber: Pos Kupang 26 Mei 2016 hal 4

Memperdagangkan Sesama

ilustrasi
KEPALA Badan Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang, Tato Tirang kiranya tidak mengada-ngada ketika dia  menangis melihat  warga Nusa Tenggara Timur (NTT)  tega memperdagangkan sesamanya untuk dikirim ke luar negeri sebagai tenaga kerja. "Saya menangis melihat orang NTT diperdagangkan. Lebih miris lagi yang memperdagangkan itu adalah orang NTT juga," ungkap Tato seperti dikutip harian ini.

Tato juga prihatin karena para pelaku sebenarnya bukan orang baru. Mereka merupakan pemain lama yang sudah masuk catatan aparat penegak hukum. Tetapi mereka masih bebas berkeliaran. Mereka seolah kebal hukum. "Pelaku adalah orang lama. Kami heran orangnya sudah disebutkan tapi kok tidak disentuh aparat?" demikian Tato Tirang.

NTT darurat trafficking itu sudah berulangkali kita suarakan, kita tulis dan ulas secara mendalam. Namun, masih saja bergulir marak di luar sana karena penegakan hukum cuma jalan di tempat. Begitu sunyi kabar tentang proses hukum orang-orang yang diduga terlibat jaringan perdagangan orang. Yang paling riuh di sini hanyalah penahanan atau penangkapan TKI ilegal yang hendak berangkat ke manca negara.

Aparat penegak hukum di daerah ini belum pernah secara terang benderang menjelaskan apa kendala yang mereka hadapi hingga sulit nian membekuk aktor intelektual serta pelaku yang tega memperdagangkan sesamanya. Muncul kesan di masyarakat bahwa jaringan perdagangan manusia itu begitu kuat kuasa sehingga sulit disentuh aparat penegak hukum kita.

Keberanian serta konsistensi  aparat penegak hukum membongkar sindikat human trafficking merupakan harapan masyarakat Flobamora agar tidak jatuh korban-korban berikutnya. Masyarakat NTT pasti memberikan dukungan dengan cara mereka masing-masing apabila aparat hukum memperlihatkan keseriusannya. Sebaliknya masyarakat akan apatis bila proses hukum tidak jelas ujungnya.

Dalam kasus terakhir kita sungguh sedih mendengar nasib TKI asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Adolfina Abuk (30). Organ tubuh Dolfina yang meninggal dunia di Malaysia beberapa waktu lalu diduga sudah diambil untuk kepentingan tertentu. Dugaan itu mencuat karena jenazah Dolfina dipenuhi jahitan. Saat keluarga membuka peti jenazah, terlihat tubuh Dolfina penuh jahitan mulai dari lingkaran leher bagian depan, belakang kepala dan lingkaran atas kepala.

Selain kejanggalan kondisi jenazah, saat pemulangan jenazah Dolfina ke Indonesia, BP3TKI Kupang sebagai lembaga yang mengurusi pelayanan, penempatan dan perlindungan TKI tidak tahu-menahu. Terkesan jenazah itu dipulangkan secara diam-diam agar tidak diketahui publik.  "Kami tidak diberitahu Kedutaan RI di Malaysia. Biasanya kalau ada jenazah dari luar negeri baik TKI legal maupun ilegal, kami selalu diberitahu. Ini terkesan rahasia sekali," ungkap Tato Tirang.

Kita berharap nasib Dolfina Abuk tidak menimpa TKI asal NTT lainnya. Jika mau kerja di luar negeri lewatilah jalur resmi dan legal. Pemerintah daerah dan aparat hukum pun kiranya tidak diam berpangku tangan.*

Sumber: Pos Kupang 12 Mei 2016 hal 4

In Memoriam Jacob Nuwa Wea

Jacob Nuwa Wea
KUPANG, PK - Nusa Tenggara Timur (NTT) kehilangan salah seorang putra terbaiknya,  Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Jacob Nuwa Wea. Jacob yang juga tokoh senior PDI Perjuangan (PDIP)  itu meninggal dunia di Rumah Sakit Gleaneagles Penang, Malaysia,  Sabtu (9/4/2016) pagi.

Kabar duka tersebut disampaikan anak kedua Jacob, Andi Gani Nena Wea. "Betul, Papa wafat di Rumah Sakit Gleaneagles Penang, Malaysia, tadi pagi," ujar Andi seperti dikutip Kompas.Com. Jacob mengalami komplikasi sejumlah penyakit sejak beberapa tahun lalu. Jenazah akan diterbangkan ke Jakarta, Minggu (10/4/2016) dan diperkirakan tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 14.35 WIB.

Jacob mengawali karier politiknya bersama PDI Perjuangan sejak partai itu masih bernama PDI. Setelah partai itu terbelah, dia memilih mengikuti Megawati Soekarnoputri. Pria asal Kota Keo, Kabupaten Nagekeo, Flores itu sempat menjabat Ketua Umum KSPSI hingga ditunjuk sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans)  di masa Presiden Megawati (10 Agustus 2001 -20 Oktober 2004).

Jacob meninggalkan empat orang anak dan enam orang cucu. Jacob meninggal dunia  menyusul sang adik, Yoseph Lea Wea yang lebih dulu  wafat, Minggu (3/4/2016) lalu.

Jacob Nuwa Wea dikenal luas sebagai politisi pemberani. Berani membela kebenaran dan keadilan. Keberpihakannya pada kepentingan publik tegas dan konkret. Ketua DPD PDIP NTT yang juga Gubernur daerah ini,  Drs. Frans Lebu Raya menyebut Jacob Nuwa Wea sebagai tokoh pemberani  yang mengharumkan nama NTT.

"Sebagai gubernur, pribadi dan keluarga saya turut berdukacita atas meninggalnya Bapak Jacob Nua Wea dan mendoakan arwahnya diterima di sisi Tuhan. Saya dan seluruh masyarakat  NTT merasa kehilangan seorang tokoh nasional asal NTT," kata Lebu Raya di Kupang, Sabtu (9/4/2016) malam.

Menurut Lebu Raya, dalam tugasnya sebagai Menteri Nakertras pada masa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, Jacob  telah menunjukkan kerja kerasnya bangsa ini dan NTT. "Saat itu beliau keliling ke mana-mana ke seluruh pelosok nusantara. Beliau juga seorang kader PDIP di tingkat  nasional. Bahkan beliau jatuh sakit saat melaksanakan tugasnya sebagai kader  PDIP. Saat itu beliau sedang berjuang untuk Pilkada di Sulawesi Selatan dan sakit. Mari kita ikuti jejak beliau  kerja keras membangun daerah NTT agar maju," demikian Lebu Raya.

            Politisi Petarung
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTT, Anwar Pua Geno menilai almarhum Jacob Nuwa Wea adalah aktivis sosial dan politisi petarung. "Pak Jakob adalah putra terbaik NTT  kelahiran Nagekeo, Flores. Beliau pekerja keras, aktivis dan politisi petarung yang berjuang jelas demi perbaikan nasib para buruh. Beliau adalah figur yang blak-blakan dan meledak-ledak tetapi baik hati dan memiliki semangat melayani. Selamat jalan Pak Jacob, terima kasih atas karya bakti dan pengabdianmu kepada Ibu Pertiwi selama masih hidup," ujar Pua Geno,  Sabtu (9/4/2016).

Atas nama pimpinan dan anggota DPRD NTT, Anwar Pua Geno mengucapkan turut berduka atas meninggalnya mantan Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi era Presiden Megawati tersebut. "Beliau adalah putra Indonesia dan putra NTT yang ikut memberi warna terhadap kebijakan bidang ketenagakerjaan dan transmigrasi," kata Anwar.

Sekretaris DPD PDIP NTT, Nelson Matara mengatakan, Jacob adalah figur pemberani dan tegas." Sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata keberanian beliau.  Kami kehillangan figur pemberani. Sosok Pak Jacob sama seperti Menteri Susi Pudjiastuti saat ini," kata Nelson.

Kesaksian tentang keberanian dan keperpihakan  Jacob Nuwa Wea terhadap kepentingan publik juga disampaikan tokoh senior PDIP NTT, Drs. Kristo Blasin. "Beliau berani pertaruhkan nyawa demi membela  partai (PDIP). Membela kebenaran dan keadilan. Kita kehilangan seorang tokoh yang luar biasa," kata Kristo, Sabtu (9/4/2016) malam.

Kristo  mengenal baik sosok Jacob Nuwa Wea. "Saya pernah bersama beliau saat kampanye presiden di NTT. Kami keliling ke berbagai daerah. Beliau secara fisik kelihatan sangar atau keras, tapi sesungguhnya hatinya baik dan bersahabat dengan siapa saja," katanya.  Kristo Blasin menambahkan, saat menjabat Menteri Tenaga Kerja, Jacob Nuwa Wea melaksanakan tugasnya dengan baik dan dia tercatat sebagai seorang menteri yang  berhasil.  (yel/yon/osi)


Pembela Para Pekerja


JACOB Nuwa Wea sejak usia muda memiliki perhatian khusus terhadap nasib para pekerja (buruh) di Indonesia. Setelah menyelesaikan SPMA di Mataram, Jacob memilih masuk Akademi Ilmu Perburuhan Jakarta pada tahun 1978.

Kalau melihat nasib pekerja teraniaya, Jacob bangkit dengan penuh keberanian memperjuangkan nasib mereka. Sebagai Ketua DPP Konfederasi SPSI  Jacob Nuwa Wea bersuara keras di berbagai forum memperjuangkan nasib pekerja di Indonesia. Dia bahkan memimpin dan ikut berunjuk rasa ketika hak-hak para pekerja diabaikan pengusaha.

Nama Jacob Nuwa Wea mulai berkibar tatkala terjadi kisruh di dalam tubuh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di zaman Orde Baru. Kisruh tersebut kemudian melahirkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.

Kapasitas Jacob sebagai kader PDIP mengantarkan dia terpilih sebagai anggota DPR hasil Pemilu 1999. Tugasnya sebagai wakil rakyat hanya berjalan kurang lebih dua tahun. Pada tahun 2001 mantan Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta tersebut dipercayakan  Presiden Megawati menduduki kursi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans).

Banyak kalangan pesimistis ketika Jacob Nuwa Wea ditunjuk menjabat Menakertrans tahun 2001. Penunjukan Jacob saat itu disebut sebagai aksi 'balas jasa' Megawati terhadap pria kelahiran Flores tersebut. Sejarah kemudian mencatat Jacob Nuwa Wea melaksanakan tugasnya dengan baik. Pengalamannya memperjuangkan nasib buruh sejak usia muda merupakan modal utama.

Saat menjabat menteri Jacob mewariskan tiga hal ini yaitu meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya, menegakkan supremasi hukum dengan melahirkan UU Pembinaan dan Perlindungan Ketenagakerjaan serta UU Penyelesaian Perselisihan Industrial. Dia juga fokus pada program transmigrasi dan pemulangan  pengungsi ke daerah asal masing-masing. (berbagai sumber)


Menteri yang Populer

"PAK Jacob Nuwa Wea merupakan menteri yang populer pada saat itu. Perhatiannya terhadap rakyat kecil sangat besar  dengan membuka peluang kerja. Di NTT banyak sekali peluang yang diberikan terhadap kelompok usia kerja," kata mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay,M.Si di Kupang, Sabtu (9/4/2016).

Menurut Esthon, Jacob adalah sosok menteri yang energik dan pemberani. Komitmennya membangun  daerah ini sangat nyata. "NTT sangat kehilangan figur pemimpin nasional," katanya.

Mantan Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta juga mengatakan, Jacob Nuwa Wea banyak membantu masyarakat NTT. Khusus di Alor saat itu  mendapat bantuan perumahan  450 unit. "Sewaktu beliau menjadi menteri saya dan Ketua DPRD Alor, John Blegur bertemu beliau di Jakarta. Waktu sekitar tahun 2002-2003," kata Ans Takalapeta.

Dia menjelaskan, protokol Kemenakertrans hanya memberi waktu bertemu menteri selama 15 menit. "Saat itu saya bawa foto-foto hasil pembangunan rumah di Alor. Beliau senang dan waktu kami bertemu ternyata lebih dari 15 menit. Bahkan beliau meminta stafnya buat kopi untuk kami bertiga minum," kenang Ans.

Menurut Ans,  Jacob Nuwa Wea saat itu memanggil para direktur dan diperkenalkan kepadanya. "Di hadapan para direktur pak Nuwa Wea bilang ini Bupati Alor jadi kalau beliau datang tolong bantu," ujar Ans.

Besarnya perhatian Jacob Nuwa Wea terhadap NTT juga diungkapkan politisi Partai Golkar yang juga mantan Ketua DPRD Provinsi NTT, Drs. Ibrahim A Medah. Medah mengatakan, Jacob sewaktu menjabat Menakertrans pernah membantu masyarakat Kabupaten Kupang 300 ekor sapi Brahman asal Australia.

"Saya ingat betul bantuan beliau. Selain sapi, beliau memberi bantuan di bidang lain terutama tenaga kerja. Kami sangat berterima kasih atas perhatiannya bagi pembangunan daerah ini," katanya.

Menurut mantan Bupati Kupang tersebut,  jasa Jacob Nuwa Wea tidak akan dilupakan masyarakat NTT. Besar harapan muncul figur muda yang melanjutkan cita-cita dan perjuangan yang sudah ditanamkan Jacob Nuwa Wea.

Sektetaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi  NTT, Aloysius Min,M.M merasa bangga dengan sosok Jacob Nuwa Wea. "Salah satu program beliau saat itu adalah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada warga NTT ikut program transmigrasi ke Kalimantan," ujar Aloysius Min. (yel)

Biofile
Nama: Jacob Nuwawea
Lahir: Kota Keo, Nagekeo Flores, 14 April 1944
Meninggal:  Penang, 9 April 2016
Istri : Angelina Julia Ani Amiasih
Anak: Empat Orang
Cucu: Enam Orang

Pendidikan
Sekolah Rakyat di Flores
Sekolah Menengah Pertama di Ende
Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Mataram
Akademi Ilmu Perburuhan Jakarta (1978)

Karier
Ketua Cabang PNI Pasar Rebo, Jakarta Timur (1971)
Wakil Ketua DPC PDI Jakarta Timur (1981-1988)
Wakil Ketua DPD PDIP DKI Jakarta
Anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P)
Ketua DPP Konfederasi SPSI
Anggota Komisi VI DPR RI periode (1999-2004)
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2001 -2004)

Pengalaman Kerja
Karyawan PT Indomilk
Manajer Umum dan Personalia PT Cipta Panel Utama dan PT Bumi Mandiri Puspatama
Wakil Presiden Direktur PT Lor Iuto Sereve.

Sumber: Pos Kupang edisi Minggu 10 April 2016 halaman 1

Jonas Salean: Tulis Kalau Memang Jelek

Jonas Salean di Pos Kupang 7 April 2016
KUPANG, PK - "Pos Kupang sangat membantu kami dalam memberikan informasi. Dan terima kasih untuk pemberitaan selama ini. Kalau kami jelek, tulis kami jelek. Tapi kalau baik juga tulis yang baik," ujar Walikota Kupang, Jonas Salean, S.H, M.Si saat mengunjungi Redaksi Harian Pagi Pos Kupang, Kamis (7/4/2016).

Salean bersama Kadispenda Kota Kupang, Jefri Pelt, SH, Kabag Umum, Joni Bire, Kabag Humas, Orson Genes Nawa, diterima Pemred Pos Kupang, Dion DB Putra, Wakil PP, Marina Napitupulu, beberapa manager, news editor dan reporter di ruang rapat redaksi.

Menurutnya, media sangat membantu kerjanya. Jonas mengaku, dirinya tidak mungkin bisa menjangkau semua wilayah sehingga keberadaan media yang memberitakan aktivitas masyarakat sangat membantunya.

"Media merupakan kontrol yang baik bagi kami dan sangat membantu tugas walikota Kupang. Walikota tidak bisa langsung monitor secara langsung di semua tempat termasuk kalau ada bencana. Dari media, saya bisa tahu ada kejadian apa dalam masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, ada tiga persoalan yang dihadapi di Kota Kupang, yakni air bersih, lampu jalan dan infrastruktur. Saat ini, katanya, Pemkot Kupang masih fokus pada pembangunan infrastruktur karena masih banyak jalan lingkungan yang kondisinya tidak bagus.

"Mulai tahun 2015, fokus pada infrastruktur dimana pada tahun 2015 pembangunan jalan sepanjang 70 kilometer yakni 30 km hotmix dan 40 km lapen. Tahun 2016 ada bantuan Rp 100 miliar dari Presiden RI sehingga 80 km hotmix dan sisanya lapen. Minimal tiga tahun lagi maka semua jalan di Kota Kupang bisa dibenahi," jelasnya.

Lampu jalan, katanya, dari 300 titik menjadi 3.000 titik. Dan, lanjutnya, kalau dalam waktu tiga tahun fokus pada lampu jalan maka ada 9.000 lampu jalan yang akan menerangi Kota Kupang. Salean juga sempat menjelaskan mengenai berbagai program unggulan seperti Brigade Kupang Sehat (BKS), raskin gratis dan lainnya

"Tetapi yang menjadi kendala adalah orang yang tidak dapat raskin tidak mau diajak kerja bakti untuk Jumat Bersih. Kesadran warga untuk menjaga kebersihan belum terlalu baik, tapi sudah ada sedikit kesadaran," ujarnya.

Jonas mengakui kalau apa yang dibuat selama ini belum bisa memuaskan semua orang tapi pemerintah berupaya untuk membuat yang terbaik. Jonas mengharapkan dukungan semua pihak agar dirinya dapat menyelesaikan semua program kerjanya sebelum masa baktinya berakhir Agustus 2015 ini.

Menjelang ulang tahun Kota Kupang, katanya, akan dilakukan berbagai kegiatan dengan melibatkan masyarakat. Karena ulang tahun ke-20, ujarnya, sehingga harus berbeda dengan ulang tahun sebelumnya. "HUT Kota Kupang menjadi berbeda agar masyarakat Kota Kupang tahu perkembangan kota. Pada tanggal 25 April nanti akan ada malam kembang api dan juga nantinya ada karnaval," katanya. (ira)


Sumber: Pos Kupang 8 April 2016 halaman 5

Kimberly, Remond dan Randi Senang Jadi Juara

Bupati Ansar Rera dan Ibu di tengah para peserta (foto PK)
MAUMERE, PK -Kimberly Amazing Hope Purwanto, Remond Krishtin Lye dan Randi Mediawan Mayelo, menjadi  juara satu perlombaan mewarnai dan menggambar yang diselenggarakan Harian Pagi Pos Kupang Biro Maumere, di Auditorium Universitas Nusa Nipa Maumere, Minggu (3/4/2016).

Kimberly yang bercita-cita menjadi penari itu memenangi perlombaan kategori mewarnai anak PAUD. Sedangkan Remond menenangi kategori mewarnai SD kelas 1-3, dan Randi menjadi juara satu kategori menggambar bagi pelajar SD kelas IV-VI.
Baik Kimberly, Remond maupun Randi sama-sama mengungkapkan kegemberiaan mereka saat dinyatakan keluar sebagai juara lomba yang diikuti 520 anak PAUD dan SD se-Kabupaten Sikka.

Kimberly, Remond dan Randi berhak membawa pulang piala tetap, uang tunai masing-masing Rp 1.000.000 dan sertifikat penghargaan.

Kimberly adalah siswi Kelas B PAUD Mawar Beru, Kecamatan Alok Timur. Kepada
Pos Kupang dengan polos mengungkapkan kesukaan hari-harinya adalah menggambar dan bercita-cita menjadi penari. "Saya ingin jadi dokter dan pelukis," kata Randi dengan datar kepada Pos Kupang.

Perlombaan yang digelar Biro Pos Kupang Maumere tersebut dibuka oleh Bupati Sikka,  Yoseph Ansar Rera, didampingi Bunda Paud Kabupaten Sikka, Irma Tibuludji-Rera; Manager PLN FBT, Elpis Sinambela; Pimpinan Polres Sikka, Pimpinan Bank NTT Maumere, Anggota DPRD Sikka; dan Sekretaris Partai NasDem Sikka, Yani Making.
Bersama sebagian peserta yang jadi juara (foto PK)

Hadir juga Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra; Wakil Pemimpin Perusahaan, Marina Napitupulu; Manager Promosi Pos Kupang, Marina Lumele; Kepala Biro Pos Kupang Maumere, Aris Ninu.

Bupati Ansar mengapresiasi kesediaan Pos Kupang menyelenggarakan perlombaan hari itu. Perlombaan seperti itu, kata Bupati Ansar, memberikan ruang pengembangan bakat dan potensi anak-anak Sikka.

Bupati Ansar dan ibu Irma juga sempat mendatangi floor tempat anak-anak sibuk mengekspresikan kemampuan mereka dan memberi dorongan kepada anak-anak.
Kegiatan ini terselenggara atas dukungan sponsor Universitas Nusa Nipa Maumere, Pemerintah Kabupaten Sikka, Dharma Wanita Kabupaten Sikka, Bank NTT Maumere, SMAK Frateran Maumere, Raja Jaya Motor, Polres Sikka, Toko Buku Gramedia Maumere, Morinaga, PT PLN Maumere, Partai NasDem, Hotel Wailiti, dan dukungan berupa uang dan barang dari perseorangan yang peduli kepada anak Sikka.
Kegiatan dipandu (MC) penyiar Sonia FM Maumere, Yunita Rere, dan Wartawan Pos Kupang, Novemy Leo. Sedangkan juri dari Pos Kupang, Setya MR. Juri lainnya ibu Fitrianis (Camat Alok) dan Ibu Sherly dari Katalia Maumere.

Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra pada acara penutupan kegiatan mengungkapkan kekaguman orangtua dan anak Sikka atas sambutan terhadap kegiatan tersebut.

Dion menyampaikan terimakasih juga kepada pemerintah daerah Sikka, Unipa Maumere dan para sponsor yang mendukung suksesnya kegiatan hari itu. Dan menyampaikan permohonan maaf jika ada kekurangan selama proses penyelenggaraan lomba.

Sedangkan Ketua Panitia, Aris Ninu, mengungkapkan setiap peserta akan mendapat piagam penghargaan dan diperoleh di Biro Pos Kupang Maumere, Jalan Gelora Nomor 2 Maumere, seminggu setelah perlombaan. (lik)

Pemenang Mewarnai Kategori PAUD
1. Kimberly Amazing Hope Purwanto
2. Fransisca Stefanania Temu  Ningtyas
3. Redeva Halima Misnory Ma haraja
4. Regina Friyani Ananta
5. Maria Riana Round Fernandez
6. Maria Nunciata Winona

Pemenang Mewarnai Kategori SD (Kelas 1-III SD).
1. Remond Krishtin Lye
2. Ruriko Keysha Lie
3. Hillary Antonia Onacha
4. Reinha Rosari Putri Tesen
5. Wilfrida Josephine Weoday
6. Assyafa Wafiq Alizza

Pemenang Menggambar Kategori SD (Kelas IV-VI SD).
1. Randi Mediawan Mayello
2. Petrus Antonio Salvanos
3. Naila Wafa Mutmainah
4. Paulus Micki Laka
5. Alicia Lily Michaela
6. Archita Anggraini Putri Mahmudi

Sumber: Pos Kupang 4 April 2016 hal 9

Kupang Pesta Monolog 2016

ilustrasi
Di atas panggung kecil aktor Abdy Keraf  berjalan ke sana kemari. Ia hanya mengenakan singlet warna putih dipadu celana hitam. Kedua tangannya dililit seutas tali berwarna putih. Di panggung teater malam  itu, Abdy Keraf membius penonton lewat pentas monolog berjudul Monologia Tubuh yang Palsu.

Sang aktor  bercerita tentang perilaku anak-anak manusia yang penuh kemunafikan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang berusaha menutupi keasliannya. Mereka melemparkan senyum kepada sesamanya bahkan tak tanggung-tanggung meneteskan air mata untuk memperlihatkan rasa duka cita. Namun, semua yang ditampilkan di depan mata sesama, bahkan orang yang dicintai sekalipun tidak terlepas dari apa yang disebut kemunafikan.

"Jangan takut. Malam ini tak ada perbedaan di antara kita. Kau dan aku sama." Demikian sepenggal kata Abdy Keraf saat tampil dalam acara Kupang Pesta Monolog (Kesal) 2016 di Aula F-Square Kupang, Jumat (11/3/2016) malam. Aksi panggung Abdy sungguh membius. Energinya begitu kuat menghentak, menarik penonton larut menyelami pesan-pesannya.

Bukan cuma Abdy yang memukau. Dua seniman dari group teater Perempuan Biasa menyuguhkan kritik sosial yang mencerahkan. Karya arahan sutradara Lanny Koroh ini pun mengisahkan kehidupan sehari-hari. Dia menepis anggapan selama ini tentang perempuan yang tidak mampu, perempuan yang masih dianggap warga kelas dua setelah kaum laki-laki.

Penampilan Galuh Tulus Utama, seniman asal Surabaya pada malam kedua, Sabtu (13/3/2016)  tak kalah menghanyutkan. Demikian pula dengan Komunitas Kahe  dari Maumere. Pokoknya kita memberi acungan jempol buat semua aktor dan aktris yang tampil dalam pesta monolog selama dua hari itu. Salut untuk  Teater Price, Linda R Tagie, Margareth Nona Djokaho, Lanny Koroh, Abdy Keraf, Galuh Tulus Utama, Komunitas Kahe dan semua yang sudah total memberikan tontonan berkelas, sesuatu yang masih sangat jarang di Kota KASIH Kupang.

Tentu saja kita patut memberi apresiasi yang tinggi terhadap mereka yang berada di balik sukses pesta monolog tersebut. Sebut misalnya  sang koordinator program
dari Coloteme Art's Movement,  Ragil Sukriwul, Elcid Li (IRGSC), Ermi Ndoen, pelaku seni Silvester Hurit dan  orang-orang kreatif  lainnya yang tak dapat kita sebut satu persatu dalam ruangan yang terbatas ini.

Antusiasme penonton selama dua malam itu sungguh menggembirakan. Bukan soal jumlah tapi pada sikap batin mereka yang senang mendapatkan tontotan  bermutu. Warga Kota Kupang sangat butuh pesta-pesta serupa itu. Kita berharap Ragil Sukriwul, Lanny Koroh, Abdy Keraf  dan para pelaku seni di Flobamora ini menghadirkan panggung teater secara rutin. Kita ajak masyarakat memberikan dukungan nyata. Datang dan beri apresiasi yang pantas kepada para seniman kita.

Dan, kepada pemimpin pemerintah serta wakil rakyat yang terhormat, kiranya buka mata dan hati untuk memberi tempat yang elok bagi aktivitas seni seperti pesta monolog yang digelar orang-orang kreatif itu. Bosan kita bicara politik melulu. Jemu kita mendengar ocehan dan aksi menguber kekuasaan politik dan ekonomi semata.*


Sumber: Pos Kupang 15 Maret 2016 hal 4

Kamelus: Gaspar Wariskan Keteladanan

Gapar P Ehok
RUTENG, PK -   Ratusan orang pelayat, masyarakat Kota Ruteng, berbaur dengan sanak keluarga, kerabat dan seluruh aparatur Pemkab Manggarai mengantar Drs. Gaspar Parang Ehok, dimakamkan secara militer oleh Kodim 1612  Manggarai di Taman Makam Pahlawan Lalong Tana, Senin (29/2/2016) pagi.

Sebelum pemakaman, dilaksanakan misa requem dipimpin Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr, di Gereja Katedral. Semua bangku di dalam gereja terisi umat Katolik Kota Ruteng yang mengikuti perayaan misa, sebelum  diserahkan dari keluarga kepada Bupati dan Wabup Manggarai, Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H, dan Drs. Victor Madur di Kantor Bupati Manggarai.

Dandim 1612 Ruteng, Letkol (Kav) Imron Rosadi, SE, mengatakan, pemakaman militer  dilakukan TNI  untuk menghormati jasa-jasa  mantan bupati yang memimpin Manggarai tahun 1989-1999. 

"Kami  sudah siapkan upacara pemakaman secara militer mulai kemarin (Minggu). Semua  masyarakat kehilangan salah satu tokoh  dan penjasa," kata Imron kepada Pos Kupang, Senin pagi.

Deno Kamelus menggambarkan Gaspar sebagai sosok serdadu tua, tidak lekang dari ingatan. Ia hanya pelan-pelan  menghilang  bersama lemahnya memori setiap orang.  Ia pribadi yang  tegas  dan disiplin.  Karya  pembangunan yang dilakukan  di masanya  dinikmati oleh masyarakat Manggarai Raya dengan menjalin kerja sama dengan pihak gereja membangun jalan, air minum dan fasilitas pendidikan.

"Kamis malam saya dapat kabar  kepergiannya. Saya sungguh  rasa kehilangan salah satu  sesepuh yang bangun NTT sejak awal. Satu-persatu mereka meninggal  dunia," kata  Kamelus.

Masyarakat  Manggarai  di masa 1989-1999, kata Kamelus, sering mendengar suara tegas dan bariton dari  seorang pemuda berusia  40-an tahun lebih yang mengajak masyarakat Manggarai meretas  isolasi wilayah.  Gaspar, kata Kamelus, merupakan pamong praja tulen  yang mengurai masalah dari akarnya di desa.

Gaspar juga mewariskan keteladanan,  pemimpin cerdas, berpendirian tegas, visioner, punya ilmu pengetahuan luas,  relasi sosial  dan kebiasaan membaca sampai maut menjemputnya. Dalam mengelola pemerintahan dan  pembangunan, ia menunjukkan sikap pantang menyerah terhadap sesuatu yang diyakini benar dan bersentuh dengan kepentingan rakyat.

"Tegas  bahkan sangat tegas dalam bertindak. Terutama bersinggungan dengan ketidakdisiplinan. Pemberani, tidak takut kepada siapapun  dan apapun  terutama menemui tantangan  yang menyangkut hajat hidup. Dia pekerja  keras tapi tulus," kata  Kamelus. (ius)

Sumber: Pos Kupang 1 Maret 2016 hal 9

Gaspar Ehok Pemimpin Spektakuler

Gaspar Ehok
KUPANG, PK -Ratusan warga Manggarai di Kupang serta simpatisan, Jumat (26/2/2016) sekitar pukul 13.10 Wita, menjemput mantan Bupati Manggarai dua periode, almarhum Drs. Gaspar Parang Ehok, di Terminal Cargo, Bandara Internasional El Tari Kupang. Kehadiran almarhum diterima puluhan tokoh pemuda didampingi Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man.

Sosok almarhum Gaspar Ehok dinilai beberapa tokoh merupakan pemimpin yang spektakuler, ramah, rendah hati dan tidak membedakan suku, ras, agama, antargolongan (SARA). Kepergiannya memberikan rasa kesedihan mendalam bagi masyarakat Manggarai, khususnya dan NTT umumnya.

Pantauan Pos Kupang di Terminal Cargo Bandara Internasional El Tari Kupang, Jumat (26/2/2016), para penjemput yang hadir selain Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, ada juga tokoh rekan sejawat almarhum, seperti Drs. Frans Skera, Raimundus Lema, dr. Husen Pancratius, beberapa anggota DPRD NTT asal Daerah Pemilihan Manggarai, juga ratusan warga lainnya.

Sejak pukul 11.00 Wita, penjemput sudah siaga di terminal cargo menunggu kedatangan almarhum. Sekitar pukul 13.10 Wita, peti jenazah didorong petugas terminal dan diserahkan kepada keluarga untuk diusung menuju mobil ambulans dari Pemerintah Kota Kupang.

Wakil Walikota Kupang mendampingi proses pengusungan peti jenazah, terlihat istri almarhum dipapah beberapa ibu menuju mobil ambulans kemudian rombongan bergerak ke rumah duka di Jalan Hati Suci, Oebobo Kupang. Tidak ada upacara adat ataupun doa khusus pada penjemputan peti jenazah almarhum. Setiba di rumah pribadi almarhum, langsung ditempatkan di ruang tamu. Ratusan karangan bunga dari berbagai instansi, lembaga juga dari pribadi-pribadi terlihat dipajang di halaman depan rumah duka.

Salah satu tokoh Manggarai di Kupang,  Anton Ugak, seusai menjenguk almarhum mengatakan, sosok almarhum Gaspar Ehok merupakan pemimpin yang spektakuler. Masa jabatannya selama 10 tahun memimpin Manggarai yang belum dimekarkan menjadi tiga saat ini, dia sudah meletakan pembangunan yang terus dikenang generasi sekarang, contohnya infrastruktur jalan. Sosok almarhum merupakan pemimpin yang bekerja keras, membuka isolasi daerah-daerah di Manggarai.

"Saya menilai beliau tokoh yang spektakuler, bersahaja dan pekerja keras. Bayangkan, selama 10 tahun memimpin Manggarai, jalan-jalan beliau bangun. Sampai sekarang semua jalan zaman beliau tetap ada. Saya kira kita merasa kehilangan dengan kepergian beliau ini. Dia juga tokoh yang selalu memberikan pemikiran untuk pembangunan NTT," ujarnya.

Mantan Sekwilda Manggarai, Drs. WF Nope, seusai melayat almarhum, menyatakan keharuan mendalam setelah mendengar informasi bahwa mantan Bupati Manggarai ini telah meninggal dunia di Jogyakarta. Untuk itu, kata Nope, dirinya berkesempatan untuk bisa melihat almarhum. Dimatanya, kata Nope, almarhum merupakan orangtua, pemimpin yang ramah, rendah hati, tidak menyombongkan diri, tidak membeda-bedakan suku, agama, ras dan antargolongan.

"Saya bertugas menjadi Sekwilda Manggarai tahun 1998, jadi mengenal beliau sangat dekat. Memang banyak orang melihat beliau seperti 'angker' tetapi sesungguhnya tidak. Beliau sangat dekat dengan siapa saja dan membagi ilmu kepada siapapun. Kepemimpinannya sangat kuat, intelektualnya bagus, obyektif dan tidak berpihak. Saya menilai almarhum sosok yang mumpuni," kata Nope.

Dia menambahkan, kepergian almarhum tentu merupakan kehilangan tokoh hebat dalam menularkan ilmunya untuk generasi NTT mendatang. Tentu ilmu kepemimpinan yang selama hidup beliau tunjukan, dapat diilhami generasi berikutnya.

Kehilangan Dua Tokoh
Sementara Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengatakan, dalam bulan yang sama NTT kehilangan dua tokoh penting, yakni mantan Bupati Manggarai, Drs. Gaspar Parang Ehok dan Letkol (Purn) Is Tibuludji. Pemerintah dan seluruh masyarakat NTT sangat sedih dan kehilangan tokoh panutan yang selama ini telah menyumbangkan pemikirannya untuk pembangunan di daerah ini.

"Atas nama keluarga dan atas nama pemerintah juga seluruh warga NTT, turut berbelasungkawa atas berpulangnya kedua tokoh ini. Mereka telah mengabdikan dirinya untuk NTT. Pak Tibuludji tokoh NTT yang paling tua. Kita berikan penghormatan kepada beliau-beliau karena kita kehilangan. Pak Gaspar, kita semua tahu beliau sangat berjasa membangun NTT. Kita sedih tapi tentu semangat yang sudah mereka tunjukkan akan kita lanjutkan," ujar Gubernur Frans. (yon)


Mengelus Batu di Jalan Bari

PESAN singkat (SMS) dikirim seorang tua  warga Bari, Kecamatan Macang Pacar,
Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), masuk ke telepon genggam Drs. Christian  Rotok, Bupati Manggarai 2005-2010 dan 2010-2015, Jumat pagi (26/2/2016).
Pengirim pesan yang tak disebutkan  identitasnya menyampaikan  curahan hatinya  mendengar berita kepergian selamanya, Drs. Gaspar  Parang Ehok, Bupati Manggarai 1989-1999.  Gaspar menghembuskan nafas terakhir di RS Panti Rapih Yogyakarta, Kamis malam (25/2/2016).

Spontan, orang itu keluar dari dalam rumahnya menuju jalan  di depan rumahnya. Ia meratapi di jalan, kemudian  mengelus-elus batu bekas aspal lalu berujar," Pak Bupati Gaspar, di'a-di'a lako Dite.. Ho'o kid watu agu bekas pande dite. Sepenggal pesan penuh makna itu diteruskan  Chris kepada Pos Kupang mengingatkan kepemimpinan Gaspar di masa sulit dulu.

Sosok tegas, intelektual, disiplin, suka melanglang buana keluar masuk kampung, desa dan kecamatan bertemu rakyat. Chris yang mengenal dekat Gaspar  di  tahun 1970-an, mengatakan, Gaspar pantas menyandang tokoh pembangunan tiga wilayah Manggarai, sebelum Manggarai Barat dan Manggarai Timur dimekarkan. Ia pemimpin yang berintegritas dan pro rakyat.

"Dia selalu bilang, memimpin Manggarai harus pakai  hati yang bening supaya  bisa melihat semua persoalan dengan jernih," kata  Chris kepada Pos Kupang.
Bupati Manggarai, Dr. Deno Kamelus, S.H M.H, menilai Gaspar merupakan pribadi dan pemimpin yang komplit  dengan record pendidikan yang mendukung intelektualitasnya. Bekal yang besar membentuk visi yang kuat memimpin pemerintahan.

Gaspar memulai karier  pemerintahan dari staf  terendah sampai  ke jenjang jabatan pemerintahan tinggi yang membentuknya sebagai  pamong praja tulen. Bekal itu mengantarnya sebagai  pemimpin yang kuat memberi bimbingan,  mengarahkan  dan  menggerakkan.  Pribadi yang bisa membangun komunikasi  dengan semua pihak.
Membangun Manggarai di zaman yang sulit, Gaspar memanfaatkan semua sumber daya yang terbatas menggandeng  Gereja Katolik  membangun infrastruktur di  Manggarai yang luas dengan segudang masalah.

"Pribadi yang lengkap sehingga masyarakat Manggarai kehilangan tokoh panutan. Di  usianya  yang tua, dia jadi tempat bertanya, diskusi  dan meminta nasehat  membangun daerah," ujar Kamelus.

Sekda Manggarai, Manseltus Mitak, S.H,  menilai Gaspar pribadi visioner, tegas dan disiplin  yang  diwujudkan  dalam melaksanakan tugas.  Dia bahkan  telah membaca kebutuhan sumberdaya aparatur  yang dibutuhkan  jauh ke depan.

"Kami-kami ini menjadi pegawai dari golongan kecil di masa  Pak Gaspar. Dia membentuk karakter PNS  orang yang kuat  dan punya keperibadian. Laporan kegiatan camat harus menyertakan juga gotong-royong," kenang Manseltus, yang memulai karier  PNS  di Kantor Sospol Manggarai di masa Gaspar.

Silvanus Hadir yang menjadi juru penerangan (Jupen) di masa Bupati Gaspar, mengatakan, Gaspar punya visi kuat dengan program meretas isolasi wilayah, disiplin dan tegas memerintah. Segala sesuatu yang dikerjakan selalu fokus dan terukur, tak beda dengan yang digagas Deno Kamelus dengan fokus, terukur dan tuntas.
Rony Kaunang, mantan Kepala Cabang Dispenda NTT mengenang Gaspar sebagai pribadi konsisten dengan  ucapan dan keputusan, tak setengah hati. Apapun yang  telah diputuskan dan akan dikerjakan dipantau untuk memastikan apakah  telah dilaksanakan atau belum.

Membangun Manggarai  yang luas di masa sulit, Gaspar bergandengan dengan Gereja Katolik membangun dengan tanam batu yang masih kokoh sampai sekarang.  Dalam hal disiplin, Gaspar memberi contoh. Dia selalu hadir sebelum acara atau kegiatan apapun dimulai. (ius)

Buka Jalan Borong-Elar

MANTAN Bupati Manggarai dua periode itu juga dinilai Bupati Manggarai Timur, Drs. Yoseph Tote, M.Si,  sebagai tokoh inspirator pembangunan di wilayah Manggarai. Banyak hal yang dibuat oleh almarhum Gaspar Parang Ehok. Salah satu bukti pembangunannya adalah membuka isolasi wilayah Manggarai, khususnya membuka ruas jalan Borong-Elar Selatan dan Wae Lengga-Mok-Mukun yang saat ini telah dinikmati oleh masyarakat.

Bupati Tote yang ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (26/2/2016), mengatakan, banyak hal yang dibuat almarhum sejak ia menjabat sebagai Bupati Manggarai dan juga sebelum ia menjabat sebagai bupati.

Dikatakan Bupati Tote, Gaspar Parang Ehok dikenal tokoh inspirator pembangunan di wilayah Manggarai khususnya, dan tokoh NTT umumnya. Almarhum merupakan kebanggaan rakyat Manggarai Raya, secara khusus sebagai tokoh inspirator bagi pemimpin-pemimpin setelahnya. Almarhum juga melanjutkan karya pembangunan
yang belum tuntas dibangun oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Meskipun zaman itu masih sangat terisolasi dan kurangnya dana, namun beliau sangat berani bekerja. "Saya juga terinspirasi dari aplikasi kepemimpinan yang dilakukan beliau walaupun saat itu saya masih muda belia. Saya belajar banyak hal dari beliau, salah satunya kepemimpinan. Saya kenal almahrum sejak saya masuk SLTA. Saya lebih kenal pada saat kuliah, sebab beliau saat itu menjabat sebagai Sekretaris Walikota Kupang dan sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi NTT.

Banyak hal yang almarhum Gaspar Parang Ehok berikan. Salah satunya yang dia berikan, yakni  sebagai seorang pemimpin harus konsisten dan benar dalam kepemimpinan.

"Saya ingat waktu itu, kami ke Atambua 1981 reboisasi di Hutan Betun Malaka. Saya juga ingat kata-kata yang diungkapkan untuk memberikan inspirasi bagi kami. Katanya, kamu ini menjadi orang besar tapi kamu harus kuliah dan berorganisasi. Saat itu beliau menjadi ketua KNPI dan saya menjadi anggotanya," kata Bupati Tote.
Bupati Tote mengatakan, atasnama keluarga, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Matim ia mengucapkan belasungkawa atas kepergian almarhum Gaspar Parang Ehok. (rob)


Bupati Manggarai dari masa ke masa:
1924-1930: Kraeng Bagung
1959-1967: C. Hamboer
1967-1978: Frans Sales Lega
1978-1988: Frans Dula Burhan, S.H
1989-1999:  Drs. Gaspar Parang Ehok
2000-2005: Drs. Anthony Bagul Dagur, M.Si-Drs. Markus Djadur
2005-2010: Drs. Christian Rotok-Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H
2010-2015: Drs. Christian Rotok-Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H
2016-2021: Dr. Deno Kamelus, S.H, M.H-Drs. Victor Madur


Sumber: Pos Kupang 27 Februari 2016 hal 9

Mengenang Kawan Gaspar Parang Ehok

Gaspa P Ehok
Oleh Daniel Dhakidae
Kepala LITBANG Kompas 1995-2005; Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Jurnal Prisma, Jakarta.

PERKENALAN dan perkawanan kami semasa menjadi mahasiswa SOSPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1970-an, berjalan begitu saja secara wajar dan alasannya juga wajar-wajar saja. Pertama, tentu saja sebagai sesama mahasiswa Flores.

Namun, terutama kedua, kesamaan ide dalam banyak hal baik terhadap situasi universitas seperti pendidikannya, kurikulumnya, dan yang paling mengikat kami semua adalah kesamaan pandangan mengenai Orde Baru Soeharto, dan militer.

Ketiga, karena dua alasan di atas kami juga sama dalam pandangan mengenai organisasi kemahasiswaan dengan identitas yang menjadi dasar, dalam hal ini apa yang harus dibuat oleh organisasi seperti PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia).

Dengan beberapa alasan seperti dikemukakan di atas itulah persahabatan yang wajar itu akhirnya menjadi ideologis, menyangkut suatu cita-cita besar, dalam arti kami bersama sejumlah teman yang akan dikisahkan di bawah ini menjadi comrades in arms, teman seperjuangan, dalam arti sesungguh-sungguhnya.

Gaspar dan Dunia Mahasiswa
Pengalaman penulis yang pahit di Ledalero menyebabkannya menarik diri ke dalam, dalam arti memutuskan hubungan dengan kegiatan di luar dunia kampus yang artinya menjadi mahasiswa yang "manis"--terima apa saja yang disuguhkan oleh dosen dengan diktat-diktat kuliahnya, menghapal, diuji, lulus, dan senang.

Namun, semuanya berubah total ketika mahasiswa ITB, Rene Coenrad, ditembak mati oleh tentara 1970, karena mahasiswa AKABRI kalah bermain bola. Pemberontakan mahasiswa menyala di semua kampus, termasuk kampus UGM. Penulis pun terjun ke dunia itu dan sejak itu berhenti menjadi mahasiswa yang duduk manis di ruang-ruang kuliah.

Inilah yang menyatukan kami semua, termasuk Gaspar, dalam suatu kelompok yang disebut waktu itu sebagai "kelompok independen"---dalam arti khusus yaitu tidak menjadi aktivis organisasi seperti HMI, PMII, GMNI, GMKI, PMKRI, dan lain sebagainya. Alasan sebetulnya sederhana yaitu bagaimana menjadi aktivis yang disegani; namun, tidak mengorbankan dunia akademi. Pengamatan sekeliling menunjukkan bahwa banyak aktivis organisasi yang menjadi tua sebagai mahasiswa, lama sekali menyelesaikan studinya sehingga diberi gelar MA, Mahasiswa Abadi, bukan Master of Arts.

Bagaimana memungkinkan itu?  Kami membentuk kelompok diskusi yang kami namakan "Kelompok Tiga Belas", karena terdiri dari tiga belas orang dan didirikan pada tanggal 13 Mei 1972. Sebagai mahasiswa tidak mampu kami memiliki kantor. Untuk itu paviliun kontrakan Gaspar dan Peter Hagul, yang agak besar di wilayah Kolombo, dijadikan kantor dan sekaligus menjadi ruang kuliah.

Tugas penulis ini adalah mengamati apakah ada para peneliti untuk disertasi doktor atau master atau profesor yang sedang meneliti di Yogya. Kalau ada penulis ini akan mendatangi mereka dan meminta berbicara dan berdiskusi dalam kelompok kami.

Sampai kami semua tamat kira-kira 15 peneliti doktor dan master yang berbicara di kelompok kami yang terdiri dari mereka yang kelak menjadi doktor-doktor terpandang dalam ilmunya masing. Nama-nama yang bisa disebut di sini adalah Dr. Peter McCawley, yang kelak menjadi deputi Perdana Menteri Australia, dari partai buruh; Dr. Chris Manning, dua-duanya ekonom; Profesor Niels Mulder, antropolog Belanda, yang melakukan studi banding antara kebudayaan Thailand dan Jawa; Marcell Bonnef dari Universitas Sorbonne, Perancis, yang melakukan studi tentang komik di Indonesia; dari Indonesia Yuwono Sudarsono yang baru saja menyelesaikan studi Master di Berkeley, California, Amerika Serikat.

Dengan demikian ketidakpuasan kami dengan kampus formal dipenuhi oleh studi sendiri di dalam kelompok studi seperti itu. Gaspar memainkan peran penting di sana. Mendengar para doktor, master, dan professor berbicara tentang tesisnya dengan sendirinya merangsang ambisi kami masing-masing juga untuk meraih gelar tertinggi di dunia akademia itu.

Nama-nama yang bisa disebut adalah Dr. Peter Hagul, Amerika Serikat; Dr. Mochtar Pabottingi, Amerika Serikat; Dr. Parakitri T. Simbolon, Belanda; Dr. Hotman Siahaan, Airlangga; dan Gaspar yang menggondol gelar master dalam administrasi publik dari Jerman, dan saya sendiri dari Universitas Cornell, Amerika Serikat.
Ketika pulang dari Jerman saya bercanda kepada Gaspar: "Gas, dari semua gelar teman-teman gelarmu itu yang paling menakutkan, Magister Rerum Publicarum", MA administrasi negara, dari Hochschule für Verwaltungswissenschaften di Speyer, Jerman, karena panjang ...dan dia hanya tertawa terbahak-bahak dengan gaya khasnya yang memecah keheningan.

Gaspar dan Kongres PMKRI Solo 1971
Aktivitas politik mahasiswa Gaspar tidak banyak diketahui orang. Pertama dan terutama adalah masuk menjadi anggota PMKRI meski Gaspar tidak pernah puas dengan organisasi itu. Namun, kami tetap mendesak agar dia maju menjadi ketua cabang PMKRI Yogya, dan memang dia terpilih menjadi ketuanya.

Gebrakannya terjadi di kongres PMKRI Solo, 1971. Tuntutan mahasiswa Yogyakarta pada waktu itu adalah mengubah orientasi PMKRI sebagaimana tercantum dalam namanya yaitu bukan perhimpunan mahasiswa Katolik Republik Indonesia akan tetapi menjadi Perhimpunan Katolik Mahasiwa Republik Indonesia.

Kalau yang pertama adalah organisasi tertutup, ekslusif, mahasiswa katolik saja, yang kedua adalah organisasi terbuka, inklusif, bagi siapa saja seraya mengundang siapa saja ke dalam organisasi Katolik itu. Orientasi organisasi tentu saja prinsip katolik akan tetapi anggotanya terbuka, persis seperti PKB zaman Gus Dur 27 tahun kelak, menerapkan apa yang kami mahasiswa menuntut tahun 1971 di Solo, Jawa Tengah.

Sebelum reformasi, 1998, Gaspar sudah jauh-jauh hari menuntut keterbukaan itu yang berarti lebih maju seperempat abad dibandingkan dengan kesadaran bangsa ini.
Tentu saja seruan semacam itu seperti menabrak dinding karena ditolak mentah-mentah oleh PMKRI pusat yang pada waktu itu dipimpin oleh Chris Siner Key Timu. Jakarta kami anggap konservatif, dan memang tuntutan Gaspar bergerak sejauh itu yaitu kalau perlu nama "katolik" dibuang dari nama organisasi, sehingga organisasi lebih menjadi seperti garam yang hancur-lebur ketika masuk ke dalam air masyarakat, dan diketahui oleh penyantab makanan hanya rasa asinnya sehingga organisasi itu benar-benar lebur menjadi sal terrae, garam dunia.

Kedua, kesan bahwa PMKRI menjadi organisasi dansa-dansi yang harus hilang, dan menjadi organisasi yang menyerahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan akademia, di luar perkuliaahan ala kampus akademia sedangkan dansa-dansi hanya menjadi pemanisnya. Semuanya ini didukung penuh oleh mentor PMKRI Romo Depoortére yang menjadi moderator PMKRI Yogyakarta.

Tentu saja dua-dua tuntutan "gila" itu tidak bisa memenangkan hati para peserta kongres. Namun, diskusi yang dirangsangnya dahysat sekali, sehingga acara tidak bergerak ke mana-mana sampai tengah malam.

Gaspar dan Mingguan Berita SENDI
Ketika gagal di Solo atau mungkin karena gagal di Solo muncul ide baru lagi dari Gaspar sendiri. Katanya, tidak mungkin mengubah organisasi seperti PMKRI dalam tempo semalam. Karena itu harus dicari jalan lain yaitu memiliki suatu organ yang bukan milik PMKRI, alias independen. Seperti "pungguk merindukan bulan" datanglah saat yang hampir tidak pernah kami bayangkan. Gaspar memfasilitasi pertemuan antara Moderator PMKRI Romo Depoortére dan kami dari kelompok independen.

Dalam pertemuan itu Romo Depoortére mengatakan sebagai berikut. Ibunya barus saja meninggal,sedangkan ayahnya sudah lama meninggalkan mereka,  dan dia adalah anak tunggal yang mewarisi harta peninggalan ayah dan ibunya. Dia tidak bersedia menyerahkan harta itu kepada gereja dan juga tidak bagi PMKRI, akan tetapi harus dipakai di dalam suatu kegiatan sosial yang berguna bagi orang banyak. Apakah kelompok independen ada ide untuk membuat sesuatu?

Ini sangat menantang kami. Setelah berdiskusi dan atas desakan Gaspar kami memilih memakai sejumlah uang dari romo itu untuk menerbitkan mingguan yang kelak kami berikan nama SENDI, yaitu titik temu antara dua tulang yang membagi-bagi fungsi sehingga menjadi pusat tenaga yang berguna bagi seluruh tubuh.

Mingguan itu kami terbitkan pada bulan Oktober 1972 yang mengejutkan Yogyakarta dengan gaya dan isi jurnalistik yang khas mahasiswa, penuh kejelian, dan kengawuran sekaligus, keberanian yang lebih berarti nekad, tanpa merasa takut apa pun terhadap Orde Baru. Dengan editorial berani kami menjalankan sesuatu yang berada di luar jurnalisme pada umumnya yaitu menjadikan SENDI bukan saja menjadi pusat informasi akan tetapi menjadi pusat aksi.

Dalam hubungan itu SENDI menggelar demonstrasi besar untuk menolak proyek Taman Mini Indonesia yang kami anggap pada waktu itu sebagai pemborosan karena kebutuhan dasar rakyat belum terpenuhi. Dinamika jurnalistik SENDI dan dinamika politik di luarnya saling mengisi sehingga SENDI bergerak sejauh itu untuk mempersoalkan preambul UUD 1945, dan memperolok-oloknya seperti "... bahwa sesungguhnya hasil kemerdekaan itu ialah hak segelintir orang dan oleh sebab itu, maka penindasan dan kesewenang-wenangan layak terjadi karena sesuai dengan kediktatoran dan militerisme".

Saya sendiri sudah menduga bahwa preambul itu akan menjadi soal besar, dan tidak perlu menunggu terlalu lama. Dalam apelnya KODAM Diponegoro di Semarang mengatakan bahwa ada surat kabar di Yogya yang sudah bergerak di luar batas dan akan diambil tindakan. Dua hari berikutnya penulis ini menerima telegram dari Departemen Penerangan RI yang mengatakan "bahwa dengan ini penerbitan saudara kami tutup untuk sementara."

Semua kami tahu apa artinya "sementara" untuk Orde Baru yaitu ditutup tanpa ketentuan waktu alias ditutup selama-lamanya pada awal tahun 1973. Kelak pemimpin redaksinya, Drs. Ashadi Siregar, diadili dan dijatuhi hukum penjara lima tahun, meski tidak perlu dijalankan.

Dengan semua yang dikatakan di atas dengan tajam kita bisa meneropong sosok seperti apa Gaspar Parang Ehok dalam dunia pendidikan, pergerakan, dan dunia kemahasiswaan.

Pada dasarnya dia adalah seorang pemberontak yang bagi kami sahabat-sahabatnya adalah kawan dalam perjuangan, comrade in arms, yang karena pragmatisme untuk memajukan tanah asalnya Nusa Tenggara Timur menyerahkan dirinya menjadi pejabat, yang juga dikerjakannya dengan sepenuh hati, karena sejatinya dialah seorang tulus dan baik hatinya. Adios Amigo! Adios my Friend! Selamat Jalan Kawan! *

Sumber: Pos Kupang 29 Februari 2016 halaman 4
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes