Peluang Tidak Datang Dua Kali

ilustrasi saja
PELUANG tidak pernah datang dua kali. Karena itu setiap peluang harus dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. Adagium ini so pasti sangat populer di kalangan para manajer. Beta yakin benar para para manajer perusahaan, kepala di instansi pemerintahan, pemimpin formal dan non formal, administrator atau apapun namanya yang berurusan dengan organisasi dan manajemen memahami dengan baik hal tersebut. Mereka juga tentu tahu dan paham betul bahwa peluang termasuk bagian penting analisis SWOT yang kesohor dan sudah banyak dipakai di mana mana itu.

         Dua puluh empat jam sebelum Inggris merumput melawan Jerman di Stadion Communal Charleroi, stadion paling kuno di Belgia, Sabtu sore atau  Minggu dinihari Wita (18/6/2000), Manajer tim Inggris, Kevin Keegan berkata kepada Alan Shearer dkk demikian.  "Saya berharap banyak pada kalian. Kalau kita kalah, maka habislah sudah dan kita harus pulang lebih awal ke London. Saya minta manfaatkan setiap peluang dengan sebaik baiknya.  Kalau hal itu kamu lakukan, kita masih mampu bangkit."

         Shearer, David Seaman, David Beckham, Michael Owen, Dennis Wise, Garry dan Philip Neville, Paul Scholes dan seluruh 22 pemain Inggris menyimak kata kata Keegan itu dengan baik. Suasana tampak hening saat itu. Maklum, Inggris secara menyakitkan dipecundangi Portugal 3 2, kendati mereka lebih dulu memimpin dua gol.

         Kata kata tersebut terus terngiang di telinga Shearer ketika ia memakai ban kapten untuk memimpin rekan rekannya menghadapi Jerman, raksasa sepakbola yang menurut catatan historis lebih kerap menang atas Inggris. Pasukan St. George Cross dengan formasi 4 4 2 melakukan pembenahan besar besaran. Semangat menyerang kick and rush yang menjadi senjata andalannya dikawinkan dengan harmonisasi. Artinya mengatur irama, kapan harus menyerang dan kapan harus jeli dan waspada memperkuat barisan pertahanan. Mereka tidak lagi mengobral serangan seperti pada waktu menghadapi Portugal 13 Juni silam.

         Dua bersaudara yang menempati posisi bek kiri kanan, Garry dan Philip Neville yang dikritik habis habisan karena bermain buruk melawan Portugal, kali ini tahu diri. Kalau naik membantu serangan, mereka tidak berani melewati teritorinya sendiri. Strategi itu amat jitu, karena konsentrasi mereka mengawal pertahanan tidak terbagi dan konsisten menahan laju Carsten Jancker, Christian Ziege maupun Mehmet Scholl.

         Hasilnya menggembirakan. Serangan serangan Jerman yang memang kurang tajam tanpa kapten tim Oliver Bierhoff dengan mudah patah di zona palang pintu Inggris yang dikoordinir Martin Keown.  Karena cuma menempatkan  Owen di garda terdepan, serangan Inggris pada 45 menit pertama, tidak banyak melahirkan peluang, kecuali melalui si pirang Paul Scholes pada menit ke 33. Tapi tembakannya melenceng di sisi kiri gawang Oliver Kahn.

         Kesan kuat yang ditampilkan Inggris vs Jerman dalam duel klasik itu ialah mempertahankan lini tengah habis habisan. Jadi bisa dimengerti jika peluang gol jarang terlihat di Charleroi. Lalu datanglah peluag pada menit ke 53. Hadiah tendangan bebas dari Wasit Pierluigi Collina di sektor kanan pertahanan Jerman diambil si tukang umpan, David Beckham.

    Beckham memang jeli melihat bahwa Shearer berada dalam satu garis lurus dengan empat pemain belakang lawan di kotak penalti, tetapi posisinya agak bebas di dekat tiang jauh. Maka dia mengirim bola lambung langsung kepada Shearer. Dengan sedikit lompatan, Shearer menyudul dan muluslah kulit bundar ke pojok gawang kapter Jerman, Oliver Kahn.

         Terus terang, menurut pengamatan beta yang bukan pakar bola ini, cuma itulah peluang emas Inggris selama 2x45 menit. Tetapi peluang yang cuma satu itu dimanfaatkan dengan sebaik baiknya, membawa Inggris melumat juara bertahan. Data statistik memang menunjukkan, Jerman menguasai bola sekitar 65 persen dengan 8 kali kesempatan sepak pojok ditambah tiga peluang emas melalui Mehmet Scholl, Paulo Rink dan Christian Ziege. Sedangkan Inggris cuma 35 persen menguasai bola dan 3 kali cornel kick.

         Data data statistik ini jelas menunjukkan betapa cerdik dan pintarnya Inggris menggunakan peluang yang amat sedikit mereka peroleh, sebagaimana penilaian Manajer tim Jerman, Erich Ribbek bahwa Inggris sesungguhnya tidak pantas mengalahkan anak asuhannya. "Kami kalah karena satu satunya peluang yang diperoleh lawan, mereka manfaatkan dengan baik," kata Ribbeck.

         Ribbeck tentunya sadar bahwa dunia sepakbola pun menerapkan analisis SWOT. Sayang sekali, anak asuhannya tidak mau memanfaatkan tiga peluang emas yang tak mungkin hadir dua kali, karena kemarin sejarah dunia sudah mencatat: Inggris mengalahkan juara bertahan Piala Eropa! Euro 2000 masih panjang. Tim mana yang akan keluar sebagai pemenang, dialah yang paling piawai menangkap dan memanfaatkan peluang. *

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Selasa, 20 Juni 2000. Artikel ini dibuat setelah Inggris mengalahkan Jerman 1-0 pada babak penyisihan Grup A Euro 2000. Jerman dan Inggris adalah dua tim besar yang prestasinya buruk selama Euro 2000.

Strategi Makan Puji

ilustrasi saja
ORANG NTT, teristimewa publik Kota Kupang amat akrab dengan kata kata ini: Makan puji. Karena itu ketika ada pertanyaan seorang teman yang gila bola mengapa  Spanyol dan Inggris keok pada penampilan pertama Euro 2000, jawaban beta ya karena mereka memakai strategi makan puji.

         Spanyol terbang ke Belgia Belanda dengan mengusung segunung pujian di tanah airnya maupun dari seantero dunia karena memiliki pemain berkualitas dan tim terbaik. Mereka lolos ke putaran final sebagai juara Grup 6 dengan nilai 21. Dari delapan kali bertanding, Spanyol hanya sekali dikalahkan Cyprus 3 2 pada 5 September 1988. Selebihnya mereka menang dengan jumlah gol sangat mencolok; memukul Austria dan San Marino masing masing 9 0, membalas kekalahannya atas Cyprus 8 0 dan melindas Israel 3  0. Praktis selama babak kualifikasi, tim matador mengoleksi 42 gol (tim paling subur di Eropa) dan cuma kebobolan 5 gol.

         Kecuali itu, Spanyol pada kompetisi antarklub Eropa (Liga Champions) musim 1999/2000 membuat bangsa Eropa mengangkat topi kepadanya. Tiga klub terkemuka negeri itu, Valencia, Real Madrid dan Barcelona masuk semifinal. Kemudian terjadi final sesama Spanyol, Valencia vs Real Madrid. Peristiwa ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah Liga Champions Eropa sejak tahun 1960.

         Dengan kekuatan sebagian besar  pemain dari tiga tim terbaik inilah Spanyol pergi ke Euro 2000. Pelatih Jose Antonio Camacho Alvaro yang meneruskan tongkat kepelatihan Javier Clemente praktis tidak banyak mengeluarkan energi untuk meramu timnya. Camacho cuma memberi sentuhan dan aksentuasi baru yakni mengorganisir tim untuk bermain lebih ofensif. Mengingat rapor serba  bagus itu pula, Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) menempatkan Spanyol sebagai unggulan kedua setelah tuan rumah Belanda. Bandar taruhan terkemuka, William Hill pun menunjuk matador (juara 1964 dan runner up 1984) sebagai salah satu favorit bersama Belanda, Perancis, Jerman dan  Inggris. Maka melambunglah tim Spanyol, mereka seperti terbang tinggi melewati mega mega di atas langit Belanda Belgia ketika menghadapi lawan pertama, Norwegia di Stadion Feyenoord, Rotterdam 13 Juni lalu.

         Norwegia asuhan Nils Johan Semb bukan tim yang harus ditakuti matador. Di Eropa, Norwegia adalah tim sepakbola pinggiran sejak abad yang lalu karena prestasinya yang jarang menjulang. Datang ke Euro 2000 pun kesempatan pertama bagi negeri Skandinavia ini, sama seperti Slovenia. Jadi wajar kalau Spanyol kurang serius menghadapinya. Kenyataan di lapangan bola justru membuat dunia tercengang dan Eropa terbelalak matanya: Spanyol bertekuk lutut!

         Kelemahan utama pemain Spanyol lebih psikologis sifatnya ketimbang teknis. Pujian yang bertubi tubi kepada mereka melahirkan sindrom lupa diri alias makan puji. Skema 4 4 2 sesungguhnya sudah pas guna meladeni format Norwegia 3 5 2. Tapi Raul Gonzalez, Fernando Hiero, Graizka Mendieta, Sergio Borjuan, Pep Guardiola bermain tanpa spirit yang kuat, karena dalam otaknya tertanam anggapan bahwa lawan tidak luar biasa. Akibatnya, perguliran bola dari kaki ke kaki, dengan mudah dibaca Henning Berg, Erik Mykland, Tore Andre Flo, Vegar Heddem, dkk.

         Ironisnya, menurut data statistik dalam duel itu Spanyol menguasai bola 60 persen, 6 kali sepak pojok, 5 kali tembakan ke gawang, offside cuma 1 kali (tetapi 20 kali buat pelanggaran). Norwegia dapat sepak pojok 2, offside 2, tendangan ke gawang 2 dan melanggar 16 kali. Meski cuma dua kali menembak gawang lawan, satu di antaranya menghasilkan gol lewat Steffen Iversen menit ke 65.

         Data data ini mencerminkan betapa taktisnya Norwegia memperkuat barikade pertahanan dan betapa ompongnya tombak Spanyol, Raul Gonzalez Alfonso Perez. Diam diam striker Real, Fernando Morientes yang tak dipanggil Camacho tersenyum sinis. Mungkin ia bergumam, "Itulah kalau terlalu makan puji".

    Sudah ada bukti di ajang Euro 2000, Italia yang dihujat malah dengan elegan mencukur lawan lawannya. Spanyol Inggris yang dipuji tumbang,  Belanda yang dipuja cuma menang 1 0 berkat hadiah penalti 'kontrovesial' Collina. Bila Belanda, Jerman atau Perancis pun ikut ikutan makan puji, jangan heran kalau mereka cium kanvas sebelum 3 Juli mendatang! *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Sabtu, 17 Juni 2000. Artikel ini dibuat setelah Spanyol yang diunggulkan menjuarai Euro 2000 tampil buruk pada babak penyisihan Grup C Euro 2000.

Menonton Orang-Orang Lapar

ilustrasi doang
MENGAPA 352 pria pilihan dari 16 negara Eropa harus berkumpul di Belgia-Belanda medio tahun 2000 sekadar memainkan bola kecil dengan lingkaran tidak lebih dari 28 inci? Kenapa bola kecil dengan berat cuma 14-16 ons yang disepak ke sana kemari dalam lapangan 120 x 90 meter persegi itu menyedot perhatian jutaan manusia, melahirkan magma nasionalisme, profit berlipat ganda bahkan cukup sering menelan korban manusia yang memujanya?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin menghantui Anda hari-hari ini ketika pesta Euro 2000 berlangsung marak dan bahan pembicaraan banyak orang. Dengan formulasi yang lain, Anda mungkin bertanya apa menariknya sepakbola, sehingga ia menjadi olahraga terpopuler sejagat yang tanpa batas? Ia melampaui sekat negara, perbedaan agama, suku, warna kulit dan sebagainya.

    Sepakbola tanpa batas itu sesungguhnya sepotong episode film kehidupan umat manusia yang bercerita tentang orang-orang lapar. Karena itu, Anda dan saya sebenarnya sedang menonton orang-orang lapar. Lapar akan pengakuan eksistensi dan pemenuhan kebutuhan manusiawinya. Adalah manusiawi bila orang ingin meraih prestasi dengan seluruh implikasinya, mendambakan pujian, menaklukkan tantangan atau sekadar mereguk hiburan dan keindahan.

    Puluhan juta manusia dari sekurang-kurangnya 120 negara (sebagian di antaranya malah harus rela begadang di depan layar kaca), menatap Belgia-Belanda selama 23 hari karena mereka ingin menghapus rasa lapar. Lapar terhadap aksi seniman bola melalui liukan pinggul Luis Figo, gocekan Zinedine Zidane, sundulan Oliver Bierhoff atau gaya terbang David Seaman. Lebih dari satu juta manusia dari berbagai negara di Eropa berbondong-bondong menuju Belgia-Belanda sejak 10 Juni hingga 2 Juli 2000, menghabiskan uang, tenaga, keringat bahkan air mata karena mereka lapar akan tontonan dan hiburan. Mereka membutuhkan pesta bola untuk menghilangkan rutinitas kesehariannya.

    Dan, ketika Norwegia menaklukkan Spanyol 1-0 tiga hari yang lalu, banyak pihak yang termangu dan terkejut karena tidak menduga prajurit “Viking” sanggup membantai “Matador” yang terkenal tangguh. Norwegia bermain dengan rasa lapar tak tertahankan! Lapar akan pengakuan Eropa akan sepakbola dari utara, terlebih pengakuan Spanyol yang favorit Euro 2000. Ole Gunna Solskjaer, Henning Berg, Stefen Iversen, berlari sekuat-kuatnya, berduel udara setinggi-tingginya, bertahan habis-habisan dan menyerang dengan segala kemampuannya. Mereka bermain dengan raga dan jiwa.

    Rasa lapar menyulap semangat mereka menjadi sangat solid di setiap lini, kemudian pada saat yang tampan di menit ke-65, Iversen melepaskan tembakan jarak jauh merobek gawang Canizares. Raul Gonzalez dkk tak sanggup menegakkan kepala. Puluhan ribu pendukung Spanyol di Rotterdam diam. Pelatih Jose Antonio Camacho tak lagi tampil macho di bibir lapangan.

    Karena lapar akan bangkitnya prestise Yugoslavia yang sepuluh tahun terakhir ini babak-belur dilindas perang Balkan dan “kepala keras” Slobodan Milosevic, Savo Milosevic, Vladimir Jugovic, Predrag Mijatovic bekerja sangat keras untuk mengejar ketinggalan 0-3. Dalam enam menit mereka menyamakan skor 3-3 dengan Slovenia, negara yang pernah berintegrasi dengan Yugoslavia selama lebih dari tiga dasawarsa.

    Lapar dalam dunia bola – sama seperti lapar dalam arti harafiah – memang bisa membuat orang bertindak nekat. Milosevic nekat saja menggempur tembok Slovenia meski timnya tinggal sepuluh orang. Hasilnya menakjubkan. Mereka tidak dipermalukan Slovenia yang pada musim semi 1990 mengucapkan sayonara kepada tanah air Yugoslavia melalui referendum.

***
    LAPAR dalam dunia bola sungguh menyembulkan keindahan sekaligus elegan. Untuk meraih prestasi puncak, dihormati dan disegani, seorang pemain harus mengolah bola dengan seelok-eloknya, seanggun-anggunnya, sebagus-bagusnya, dengan sejujur-jujurnya, tanpa selingkuh berlari ke sana kemari, ke depan dan  belakang memeras puluhan liter keringat untuk menjemput bola, harus jatuh bangun bahkan berdarah atau patah kaki dan tangan. Dia harus berkorban agar dapat menghilangkan lapar dan dahaganya!

    Elegannya lapar di dunia bola karena ia tidak menunggu petunjuk, juklak dan juknis. Petunjuk hanya diberikan manajer tim dalam waktu yang sangat singkat, jedah 15 menit. Selebihnya selama satu setengah jam atau lebih, tanggung jawab ada pada para pemain sendiri.

    Lapar di dunia bola tidak menunggu laporan dari bawah berhari-hari, berbulan dan bertahun-tahun, tidak memakai wacana diskusi lama sampai mulut berbusa-busa tentang bagaimana bola seharusnya disepak atau ditendang. Lapar itu harus disirnakan dengan cara menjemput bola, berjibaku dan berkorban dengan ikhlas dan tulus, dengan kearifan, dengan raga dan relung batin yang sudah siap memikul resiko terburuk.

    Itulah sebabnya ‘orang-orang lapar’ di lapangan hijau Belanda-Belgia hari-hari ini tampak dan terasa indah nian.  Sebab itulah bagi saudara-saudariku yang (baru terancam?) kelaparan di Belu Selatan, Kuanfatu dan Amanuban Selatan, karena bantuan tak kunjung datang atau tersendat-sendat lantaran beragam kendala, buat para kekasih tercinta di tanah gersang menawan Sumba, maafkanlah kalau kami mungkin sedang ‘menontonmu’ dengan cara tidak menjemput bola. Soalnya kami masih menunggu dengan gelisah, bak perawan menunggu sang jejaka di malam bulan purnama: Kapankah kau datang... hai laporan dari bawah?*

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Jumat, 16 Juni 2000. Artikel ini dibuat tentang  kejutan yang dibuat tim nasional Norwegia di Piala Eropa 2000. Norwegia yang tidak diunggulkan berhasil mengalahkan Spanyol di penyisihan grup.

Sakitnya Hati Inggris

        SAMPAI dengan pertemuan antara Inggris melawan Portugal, Selasa dinihari Wita (13/6/2000), pertandingan Euro 2000  sudah menghabiskan waktu selama 540 menit atau 9 jam. Yang sulit dihitung adalah berapa liter keringat para 'pejantan' yang sudah tumpah di delapan stadion Belanda dan Belgia. Untuk urusan yang satu ini, lupakan saja.

         Karena pertanyaan yang lebih penting dijawab adalah apa yang telah terjadi selama 540 menit tersebut? Kasat mata Anda sudah tahu bahwa pasukan Belanda dan Belgia meraih angka maksimal. Bulan purnama memang sedang bersinar di atas langit dua negeri kecil yang kali ini bertindak selaku tuan rumah. Italia menebarkan harapan. Perancis meluluhlantakan juara Euro 2000 dari negeri dongeng, Denmark. Kemudian juara bertahan Jerman tak berdaya menggempur tembok Rumania. Jerman bisa dimaafkan sementara karena sudah wataknya sejak dulu yang lambat panas, sehingga  masih ada harapan untuk melihat kebringasan pada duel berikutnya.

Dan yang paling segar sekaligus bikin dunia tercengang adalah Inggris bertekuk lutut pada Portugal. Kejatuhan Inggris agaknya pantas diulas walaupun ala kadarnya karena beta bukan pakar sepakbola. Inggris kalah 2 3 walaupun unggul 2 0 terlebih dahulu atas Portugal itu membuktikan lagi untuk kesekian kalinya bahwa bola memang bulat. Artinya sebelum sang pengadil memutuskan waktu 2x45 menit itu berakhir, tiga kemungkinan masih bisa terjadi, kalah atau menang atau seri.

         Anda tentu masih ingat bagaimana klub Inggris, "Setan Merah" Manchester United menikam luka paling dalam di relung hati orang Jerman pada final Piala Champions bulan Mei 1999. Kala itu, Bayern Muenchen sudah unggul 1 0 sampai menit ke 87, artinya tinggal 3 menit tim Jerman dengan presidennya 'Kaisar' Franz Beckenbauer ini akan meraih juara.

         Namun, gol pemain pengganti Teddy Sheringham dan si "muka bayi"  Ole Gunnar Solskjaer melenyapkan impian Stefan Effenberg dkk dalam sekejap. "Sepakbola bukan cuma melahirkan sukacita. Sepabola bahkan lebih  sering menyakitkan," demikian komentar maestro bola  asal negeri bunga tulip Belanda, Johan Cruyff.

         Perasaan sakit hati itu hari ini sedang mendera kalbu anak  anak manis Ratu Elizabeth II, negeri yang melahirkan sepakbola. Publik Inggris menangis dan menghujat David Beckham dan sobat  sobatnya karena kekalahan tersebut membuat perjuangan mereka semakin berat menghadapi Jerman dan Rumania.

         Kekalahan Inggris kemarin bila  ditatap memakai kaca mata teknis main bola, bersumber dari kelemahan tim asuhan Kevin Keegan dalam mengkoordinir barisan belakang. Tony Adams dan Martin Keown  yang kini sama sama berusia 34 tahun kurang gesit lagi sebagai palang pintu terakhir sebelum David Seaman. Masa keemasan Tony dan Martin sudah lewat. Memang ada tenaga muda Sol Campbell serta dua bersaudara Gary dan Philip Neville. Tetapi mereka belum cukup matang menggalang kerja sama dan mana tahan mereka menahan laju Luis  Figo, Joao Pinto, Rui Costa dan Sergio Conceicao yang kini masuk papan atas gelandang serang Eropa?

          Menggunakan formasi 3 4 3, aroma kick and rush Inggris sungguh tajam menikam jantung pertahanan Portugal. Dua gol dalam waktu 18 menit merupakan bukti efektifnya sepakbola menyerang yang kini sudah dipatenkan sebagai ciri utama sepakbola modern. Tetapi sepakbola menyerang juga memendam risiko tinggi yaitu bila tim lengah mengawal zona pertahanan, karena dua bek sayap maupun stopper terlampau asyik naik ke daerah pertahanan musuh. Saat serangan balik lawan, mereka terengah engah lari ke belakang dan biasanya kalah cepat dari para penyerang musuh.

         Dari aspek estetika, jelas sepakbola menyerang itu indah. Seperti yang masih  dipertahankan para penari tim Oranye maupun goyang pinggul Samba sampai detik ini. Tetapi keindahan tidak selalu identik dengan kemenangan. Itulah sebabnya dunia jatuh cinta pada Belanda 1974 dan 1978, meskipun Johan Cruyff dan kawan  kawan hanya juara dua dunia.

         Kekalahan Inggris di Eindhoven Belanda serba tanggung. Permainan mereka tidak terlihat sangat indah karena attacking football. Toh David Beckham tak dapat membalut 'kasarnya' mental warisan nenek moyang yang mengutakan kecepatan dan kekuatan. Eh, sialnya mereka juga yang kalah! *


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Rabu, 14 Juni 2000. Artikel ini dibuat menanggapi kekalahan Inggris dengan skor 2-3 melawan Portugal di babak penyisihan Grup Euro 2000.

Pemain Swedia Dilarang Bawa Istri

ilustrasi doang
KETIKA Piala Dunia berlangsung di Amerika Serikat tahun 1994 silam, keributan besar sempat melanda tim Jerman. Waktu itu, Pelatih tim Panser Berti Vogts dikecam anak asuhnya karena ia melarang mereka membawa istri ke negeri Paman Sam. Larangan membawa istri, menurut para pemain yang dimotori Stefan Effenberg, secara psikologis  akan sangat mempengaruhi penampilan pemain di lapangan.
    
    Sejumlah pemain Jerman berkeyakinan, peranan istri sangat besar dalam kehidupannya. Kehadiran istri (juga anak anak), dapat membantu pemain menghilangkan tekanan menghadapi partai partai menentukan. Untuk itu pula, hubungan seks suami istri perlu mendapat porsi yang wajar.

         Setelah melalui diskusi dan dialog dari hati ke hati, Berti Vogts akhirnya mengalah dan mengizinkan Juergen Klinsmann, dkk membawa istri mereka ke Amerika. Tetapi, syaratnya tidak boleh menginap satu hotel. Para istri pemain menginap di hotel yang dekat dengan tempat menginap para pemain Jerman.

         Meskipun Jerman di Piala Dunia 1994 meraih hasil buruk (terhenti di perempatfinal), tetapi kehadiran istri atau kekasih sangat membantu mereka. Pada saat istirahat bertanding, mereka bisa bercengkerama dengan keluarganya. Bisa jalan jalan berbelanja, membagi suka duka dari hati ke hati.

         Bukan cuma tim Jerman yang ngotot menyertakan para istri atau kekasih ke suatu turnamen. Tim lain seperti Italia, Perancis, Belanda, Inggris, Argentina dan lainnya senantiasa memperhatikan kebutuhan psikis ini. Kalaupun tidak selalu mendampingi pemain, selalu ada jadwal yang dirancang sedemikian rupa agar kebutuhan suami istri terpenuhi. Artinya, turnamen sepakbola sebesar apapun tidak boleh melupakan kebutuhan vital ini. Dalam perspektif gender yang kini getol diperjuangkan kaum hawa sedunia, langkah seperti itu agaknya mendapat tempat istimewa dan pasti didukung.

         Namun, lain Jerman, lain pula Swedia yang malam ini mendapat kehormatan sebagai tim pertama yang merumput di pesta Euro 2000 menghadapi tuan rumah Belgia. Seperti dilaporkan Kantor Berita ANTARA, kubu Swedia diguncang isu yang melarang pemain berurusan dengan 'ranjang' selama pelaksanaan Euro 2000. Pemain tim Swedia untuk sementara melupakan seks untuk menghemat tenaga.

         Gelandang asal klub Arsenal, Fredrik Ljungberg yakin tanpa membawa istri ke Belgia Belanda akan meningkatkan mutu penampilannya di lapangan. "Setelah berhubungan seks pada malam sebelum pertandingan, kaki saya seperti kehilangan perasaan. Saya tidak bisa mengontrol bola," kata Ljungberg.

        Solusinya, menurut Ljungberg, istirahat di tempat tidur dan jangan melakukan hubungan seks sebelum pertandingan. "Jika malam sebelumnya hanya menonton film porno, itu tidak mengurangi kekuatan saya di lapangan," tambahnya.

***
         DENGAN senjata rahasia tanpa 'rantang' itulah, pasukan Swedia mengawali putaran final Euro 2000 yang secara resmi dimulai hari ini, Sabtu (10/6) waktu Belgia Belanda atau Minggu dinihari Wita (11/6/2000). Upacara pembukaan di Stadion  King Boudouin, Brussels (Belgia) akan disiarkan secara langsung stasiun televisi RCTI itu mulai pukul 00.45 Wita, Minggu (11/6/2000).

         Pertandingan perdana Grup B Belgia vs Swedia akan digelar usai upacara pembukaan di stadion berkapasitas 50.000 tempat duduk yang dulu bernama Heysel itu.  Pertandingan yang akan dipimpin Wasit Markus Merk (Jerman) pun disiarkan secara live oleh RCTI mulai pukul 02.00 Wita malam ini. Puluhan juta permirsa dari seluruh penjuru dunia dipastikan akan menyaksikan langsung pertandingan perdana tersebut.

         Meskipun bukan tim favorit, tetapi pertemuan Belgia vs Swedia bakal berlangsung menarik. Tim Swedia asuhan Pelatih Tommy Sodeberg adalah kesebelasan yang memegang teguh prinsip kolektivisme yang mengutamakan team work. Inilah yang akan dipamerkan Swedia, salah satu tim yang diyakini bakal membuat kejutan di Euro 2000.

         Dibanding tuan rumah Belgia, prestasi Swedia jauh di atasnya. Kenneth Anderson, dkk  berangkat ke Euro 2000 dengan modal sebagai juara Grup 5 yang mengantongi nilai 10. Dari delapan kali merumput tak sekalipun kalah dan hanya sekali seri. Swedia mengatasi Inggris, Polandia,  Luxemburg dan Bulgaria. Lebih hebat lagi, mereka hanya sekali kebobolan. Solidnya tim ini, karena Soderberg yang dibantu Asisten Lars Lagerback tidak berpaling dari tiga formasi klasik,  4 4 2, 4 5 1 dan 4 4 1 1.

         Untuk membongkar pertahanan Swedia, Belgia yang terakhir berlaga di putaran final Piala Eropa 1984 agaknya perlu bekerja keras. Apalagi tim asuhan Robert Waseige ini tidak teruji melalui kualifikasi. Sebagai tuan rumah bersama Belanda, Belgia langsung lolos ke putaran final. Faktor tuan rumah mungkin merupakan keuntungan Belgia yang biasa memainkan formasi 4 4 2 dengan menempatkan Luc Nilis dan Branco Strupar sebagai tombak kembar.  Kedua tim tentu mengharapkan angka penuh guna memuluskan langkahnya ke babak berikut. Sebab di Grup B juga berokol tim Azzurri Italia dan si pecundang, Turki. Italia vs Turki bertanding Minggu (11/6/2000). *
   

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Sabtu, 10 Juni 2000.  Artikel ini dibuat berkaitan dengan larangan terhadap para pemain Swedia mengajak istri mereka ikut serta  putaran final Euro 2000 di Belanda dan Belgia.

Maafkan Kami, Mayat Mayat Benanain

KETIKA hari Sabtu tengah malam besok (10 Juni 2000), kejuaraan sepakbola antarnegara negara Eropa (Euro) 2000 mulai bergulir di Belanda  Belgia, akan ada yang berubah dalam ritme hidup keseharian kita. Anda akan menyambut 23 malam dengan penuh kerinduan. Malam terasa begitu panjang, tetapi tidak akan membosankan. Anda merindukannya, menantinya dengan cemas, sabar dan gelisah, bak perawan menunggu sang jejaka, laksana istri setia menanti suami pulang kerja.

         Tatkala 16 kesebelasan mulai mempertontonkan kecakapan, kecerdikan, ilmu, pengetahuan dan selera seninya di lapangan hijau, kita akan merasakan betapa dekatnya Belanda Belgia, dua negara yang menurut jarak geografis beribu ribu mil jauhnya di benua tua Eropa. Jarak Belanda Belgia akan terlihat lebih dekat ketimbang Besikama di Belu Selatan atau Bena, Amanuban Selatan yang sampai hari ini masih terdengar jerit tangis korban banjir bandang. Belanda Belgia itu ada di kamar tidurmu, di ruang tengah keluargamu, di kamar tamumu, tidak peduli yang maha luas maupun ukurannya cuma sepetak berdinding bebak.

         Ya, antara Anda, saya, kita semua dengan Belgia Belanda hampir tak ada jarak lagi selama tiga pekan ke depan. Saban hari  kita membicarakan Belgia Belanda, ikut mencumbui aroma oranye bunga tulip. Merasakan semilir kincir angin, juga menghirup hawa bangunan tua di kota kota Belgia melalui pesta Euro 2000.

          Salahkah Anda, salahkah kita menjadi lebih akrab dengan Belgia Belanda daripada Besikama atau Bena? Tidak, kita tidak salah. Kita semua yang hidup di masa ini adalah generasi televisi. Kita anak zaman keemasan canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, sehingga pertandingan bola nun jauh di seberang sana dapat kita saksikan secara langsung pada waktu yang sama dengan siapa pun mereka yang menghuni pojok lain bumi ini. Sepakbola sungguh telah mendunia, artinya menjadi milik bersama.

         Dan dunia memang tanpa sekat sekat lagi, termasuk buat kita putra putri NTT yang hari ini (mungkin tanpa sadar) telah memposisikan televisi seolah olah sebuah "tabernakel" di rumah sendiri. Sejak 11 Juni hingga 3 Juli 2000, kita akan mengakrabi 16 tim finalis dan para pemain bintangnya. Sekali Anda mengenal Beckham, Fabien Barthez, Raul Gonzalez, Alessandro del Piero, Paolo Maldini,  Sinisa Mihajlovic atau Luis Figo, maka Anda tak merasa puas hanya mengikuti gaya main dan prestasinya. Ihwal kehidupan pribadinya bakal diikuti dengan cermat semisal pacarnya, istrinya maupun aksi "main sampingnya" meniduri banyak perempuan.

         Anda bakal ingin tahu lebih jauh mengapa kiper Perancis Fabien Barthez menyukai wanita pirang dengan buah dada besar. Mengapa Paolo Maldini sangat setia pada Adriana, istrinya. Atau mengapa Beckham rela pose telanjang meski bukan untuk cari uang?

***
         SEPAKBOLA, cabang olahraga terpopuler sejagat yang bakal kita nikmati lagi melalui Euro 2000 adalah tontonan dan rekreasi. Sepakbola juga mengandung ilmu, strategi, teknik dan taktik. Lewat penampilan satu kesebelasan, misalnya, kita bisa menangkap adanya solidaritas, kekompakan, kerja sama tim dan aksi individu individu yang memiliki kecakapan, pengetahuan serta apresiasi seni. Seniman bola! Juga di sana ada penghormatan terhadap hukum, nilai nilai etis dan moral. Mereka tidak asal sepak laksana 'ABG' kita yang doyan tawuran, tidak asal sikut seperti kebanyakan elit elit politik kita menguber kursi, tidak berpikir kerdil dan kekanak  kanakan seperti segelintir orang yang mengklaim dirinya pemimpin.

         Di lapangan bola, bola disepak  dengan tertib, kulit bundar ditendang dengan mentaati rule of the game. Kecurangan, keserakahan, ketidakjujuran atau kepongahan akan dengan gampang terlihat dan mendapat sanksi yang jelas. Ruang improvisasi tim maupun individu terbuka luas, di sana ada kebebasan berpikir maupun bertindak, namun tidak dengan menginjak norma norma. Yang culas akan menerima  hadiah kartu kuning dari sang pengadil, korps baju hitam. Yang serakah dan curang, dengan sendirinya terusir dari lapangan  sambil mengusung kado kartu merah. Sang hakim yang mempratekkan "KKN" pun tak mungkin luput dari penilaian orang banyak dan ia pasti dilindas oleh hukum fair play.

         Melalui pesta Euro 2000 kita bisa belajar banyak hal, termasuk belajar untuk jujur dan solider. Kalau demikian, kita agaknya perlu memohon maaf kepada 129 saudara terkasih yang terbaring massal di pinggir Sungai Benanain, Belu Selatan. "Maafkan kami, jika selama 23 malam lebih suka menatap Belanda Belgia, ketimbang melongok korban Benaian dan Bena". Pesta sepakbola Piala Eropa di awal milenium ketiga ini, dapat saja menghipnotis Anda melupakan penyaluran bantuan bagi korban banjir bandang di Belu dan TTS yang belum sepenuhnya tuntas. Bisa membuat mata kita buta terhadap gelagat orang yang berusaha menari riang di atas penderitaan sesama. Jangan lengah, jangan sampai kita bangun kesiangan dipeluk bumi Flobamora yang masih berduka.  Selamat datang Piala Eropa!*


Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Jumat, 9 Juni 2000. Artikel ini dibuat menjelang dimulainya kejuaraan sepakbola Piala Eropa (Euro 2000) di Belanda dan Belgia.

Inilah Para Pemenang NTT Academia Award 2013


SETELAH melalui penjurian yang ketat dewan juri NTT Academia Award tahun 2013 memutuskan untuk memberi penghargaan kepada Ir.I Gusti Ngurah Djalantik, M.Sc., PhD,  untuk Kategori Science, Mezra Pellondou untuk Kategori Sastra dan Humaniora, Baco Gaebo untuk kategori Social Entrepreneur, dan  Itja Frans untuk kategori Life Time Achievement.

Dalam siaran pers yang diterima Tribun Manado, Selasa (28/1/2014), panitia NTT Academia Award 2013 menjelaskan, keempat penerima penghargaan ini dipilih berdasarkan beberapa penilaiaan antara lain konsistensi berkarya, ketahanan, sumbangsih untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), dan tema NTT Academia Award Tahun ini Hidup dari Tanah Air.

Tatkala pertanian mulai ditinggalkan, maraknya perdagangan manusia, hantu tambang menghantui Nusa Tenggara Timur, para penerima NTT Academia Award 2013 kali ini membuktikan bahwa Hidup dari Tanah Air itu masih mungkin.

Mezra E Pellondou
Mereka konsisten untuk memulai dari tanah air, dan menyatakan lewat hidup mereka bahwa kerja berbasis tanah air masih mungkin. Dalam pemilihan kali ini para juri menekankan kemampuan bertahan. Kerja yang dinilai tak hanya ada dalam hitungan tiga tahunan, tetapi kemampuan untuk bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Menurut panitia NTT Academia Award 2013, I Gusti Ngurah Djelantik merupakan pemikir utama tentang sapi di NTT. Terobosan pemikirannya soal peternakan sapi merupakan acuan bagi para peneliti. Sayangnya, di kalangan birokrat pengetahuan dasar tentang peternakan sapi moderen ditinggalkan. Kemenangannya kali ini merupakan penghargaan atas kerja kerasnya, sekaligus merupakan penekanan bahwa tidak mungkin membangun sektor peternakan di NTT, entah dalam skala perencanaan pembangunan provinsi maupun koridor pembangunan regional tanpa berbasis pengetahuan.

Mezra E. Pellondou adalah salah satu sastrawan perempuan NTT. Meskipun dalam nominasi kategori ini muncul nama sastrawan muda lain asal NTT, tetapi dewan juri memutuskan untuk memberikan penghargaan ini untuk Mezra yang sebagai guru dan ibu rumah tangga yang masih mampu `idealis'. Sastrawan perempuan asal NTT masih minim, dunia sastra masih dianggap sebagai dunia maskulin.  Tak hanya itu bekerja sebagai PNS kadang bagi banyak orang sudah merupakan akhir dari bersikap idealis, Mezra mampu memberikan gambaran lain.

Baco Gaebo adalah kader Posyandu sejak tahun 1984. Urusan anak sering kali dianggap hanya sebagai urusan perempuan, tetapi tidak bagi Baco. Baco yang memilih bekerja di Posyandu sejak 30 tahun silam merupakan bapak langka yang memilih menjadi `pekerja sosial'. Ia memilih untuk melayani komunitas nelayan Bajo di daerah Wuring di Kabupaten Sikka selama 30 tahun terakhir

Pdt. Ishak Nicolas Frans, atau biasa dipanggil Itja Frans, tak hanya diingat oleh para aktivis maupun birokrat di NTT  yang pernah bekerja bersamanya. Sejak tahun 1960-an Itja Frans sebagai salah seorang pendeta muda telah memilih bahwa mewartakan tak hanya persoalan membaca kitab suci, tetapi juga berkaitan dengan membaca kesulitan hidup yang ada dan menjadi pergulatan masyarakat. Baginya seorang pendeta tak hanya harus mampu membaca kitab suci dengan mumpuni, tetapi menjawab persoalan kebutuhan dasar manusia. `Susah sama-sama, senang sama-sama, kenapa itu begitu sulit sekarang?' tanyanya.

Keempat penerima NTT Academia Award 2013 ini merupakan warga pilihan berdasarkan hasil penilaian dewan juri untuk NTT academia Award 2013 yang  terdiri dari Frangky Salean (Rektor UKAW), Merry Kolimon PhD (UKAW), Romo Leo Mali (Fakultas Filsafat Unwira), dan Dr. Ermi Ndoen (Forum Academia NTT), Dr.Jonatan Lassa (Rektor IRGSC).

Penyerahan penghargaan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Februari 2014 di kompleks F-Square di Jalan Shopping Center, Oebobo, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara dimulai pukul 17.00 Wita. (osi)

Sumber: Tribun Manado

Bagai Melarung Tenun di Laut Alor

Model berpose di bawah laut Alor, Nusa Tenggara Timur
Desainer Merdi Sihombing ”melarung” tenun di Laut Alor sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Busana-busana berbahan tenun alor rancangan Merdi menyimpan ingatan magis tentang taman-taman terumbu karang yang permai di dasar laut.

Matahari masih bersinar lembut ketika rombongan tiba di dermaga Kadelang, Kalabahi, Pulau Alor. Kepulauan Alor yang terletak di Nusa Tenggara Timur termasuk salah satu kepulauan terluar Indonesia. Alor tak hanya menyimpan keindahan alam bawah laut, namun juga keelokan berbagai tenun ikat garapan tangan-tangan penduduknya yang sederhana.

Pagi itu, permukaan air laut bagai lembaran kristal lentur yang digoyang-goyangkan ombak dengan lembut. Lengkungan pelangi muncul tipis di kejauhan. Kapal Alor Dive yang dipimpin Donovan Whitford, operator penyelaman dari Kupang, melaju perlahan menuju Selat Sebanjar dengan kecepatan 7,5 knot. Hari itu adalah hari kedua agenda pemotretan bawah laut untuk busana-busana tenun rancangan Merdi.

Pemotretan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Swarna Festival di Pulau Alor yang diselenggarakan Direktorat Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, November 2013 lalu. Merdi punya alasan tersendiri menggelar pemotretan bawah laut untuk busana-busana rancangannya.

”Busana-busana dari tenun alor ini merepresentasikan berbagai dimensi dari Pulau Alor sendiri, terutama dari kekayaan lautnya,” ujar Merdi.

Pewarna dari teripang

Sejak lebih dari setahun sebelumnya, Merdi bekerja sama dengan sekelompok petenun di Kampung Hula, Alor Besar, yang dipimpin oleh Sariat Libana (42). Perempuan petenun asli Alor ini menemukan sumber pewarnaan alami dari teripang, hewan invertebrata timun laut (sea cucumber) yang juga kerap dikonsumsi manusia sebagai sumber pangan kaya protein.

Dari air rebusan berbagai jenis teripang tersebut, Sariat atau biasa disapa Mama Sariat memformulasikan berbagai pewarna alami, mulai dari hitam, oranye, kuning, kemerahan, sampai keunguan. ”Saya menganggapnya (Mama Sariat) profesor pencelupan warna alami,” kata Merdi.

Warna-warna dari teripang tersebut melengkapi koleksi warna temuan Mama Sariat sebelumnya, yakni ramuan warna-warna dari aneka tumbuh-tumbuhan di Alor. Pewarna alamiah itu digunakan untuk mewarnai benang-benang yang telah diikat untuk membentuk pola motif tenun yang diinginkan.

”Busana tenun ini menyimpan unsur-unsur laut. Karena itu, konsep pemotretan bawah laut ini digagas. Tak hanya aspek pewarnaan, namun juga motif,” ungkap Merdi.

Salah satu busana tenun yang dikenakan model Eva (36), misalnya, berupa atasan blus berwarna merah kecoklatan bermotif ikan di bagian dada. Karakter tenun dari benang yang dipintal sendiri memang cukup tebal dan berat. Untuk membuatnya lebih nyaman dikenakan, Merdi memberi lapisan dalam dari kain berbahan campuran katun dan viscose.

Bagi Merdi, desainer yang mendedikasikan diri pada eksplorasi kain Indonesia ini, pemotretan bawah laut tersebut bagai peragaan busana di dalam laut. Terumbu-terumbu karang yang indah, habitat dari teripang, menjadi saksinya. Tak ada entakan musik yang membahana seperti dalam peragaan busana, hanya kesunyian magis bawah laut yang khidmat. Pemotretan pun seolah bagai upacara melarung tenun di laut sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan seisinya.

”Tenun ini bicara banyak hal. Tak hanya soal keindahan alam bawah laut, namun juga pergulatan para petenunnya yang berusaha mandiri dan bersinergi dengan alam. Kembali kepada alam menjadi salah satu jalan untuk merevitalisasi tenun alor,” tutur Merdi.

Mama Sariat mengeksplorasi sumber-sumber pewarnaan alami pada awalnya sebagai upaya untuk bisa tetap menenun secara lebih mandiri dalam pengadaan bahan baku. Apalagi, para leluhur pun dahulu mengandalkan alam sebagai sumber warna untuk menenun kain.

Petenun tradisional seperti Mama Sariat menjadi lebih punya pilihan untuk tidak melulu tergantung pada pewarna kimia bikinan pabrik. Terlebih lagi, harga jual tenun dengan pewarna alam lebih tinggi di pasaran dibandingkan tenun dengan pewarna sintetis.
Bersabar bersama alam

Hari itu tak ada target jumlah busana yang harus diperagakan dua fotomodel, Eva dan Listi, dalam pemotretan. Fotografer Chris Simanjuntak (42), yang spesialis memotret di bawah laut, berserah kepada alam. Apalagi mengingat salah satu tantangan yang bisa tiba-tiba muncul adalah arus bawah laut.

Sebulan sebelum pemotretan dilakukan, Chris dan krunya menjelajah beberapa titik penyelaman yang paling cocok untuk pemotretan sekaligus tidak mengganggu ekosistem setempat. ”Lokasi pemotretan dipilih yang kondisinya selama ini cukup bisa diperkirakan, arusnya tidak keras, sehingga aman. Kalau arus horizontal relatif masih enggak apa-apa, kalau arus vertikal lebih berisiko,” ujar Chris.

Eva dan Listi adalah dua dari segelintir fotomodel spesialis untuk pemotretan bawah laut. Keduanya tentu juga penyelam bersertifikat. Dalam pemotretan itu, kedua fotomodel ini dijaga oleh tiga penyelam, Kirman (44), Fandi (40), dan Agus (31). Ketiganya bertugas mengatur segala kelengkapan pemotretan, memberi pasokan oksigen kepada para model, dan memantau kondisi di lokasi pemotretan.

Di dalam laut, setiap 10-15 detik, ketika selang oksigen dilepas, model harus menahan napas dan berpose. Dalam tempo waktu yang singkat itu, Chris menghasilkan sekitar lima foto. Proses ini berlangsung terus-menerus hingga didapat foto-foto yang diinginkan dari setiap model.

Berpose di dalam laut tentu punya kesulitan tersendiri bagi kedua model. Tak hanya harus berekspresi wajar kendati sedang menahan napas, tetapi juga berupaya membuat pakaian tidak meliuk-liuk berantakan diseret arus air. ”Makin sore arus di bawah mulai kencang dan dingin seperti es,” ujar Eva saat naik ke kapal setelah menyelam di kedalaman 12 meter.

Hari itu, dalam waktu 12 jam, termasuk perjalanan di laut, tim berhasil memotret empat busana. Rombongan kapal Alor Dive akhirnya kembali ke dermaga Kadelang menjelang senja. Semua anggota tim tampak lega. Kapal melaju santai, berteman air laut yang tenang dan langit yang sudah mulai jingga.

Sumber: Kompas.Com

Puput Tersenyum Melihat Sulap Kak Seto

Kak Seto menghibur anak-anak di Manado 24-1-2014
Sebuah mobil mainan bagi orang dewasa mungkin tak bernilai, tapi tidak bagi anak kecil.  Mobil mainan yang hilang bisa membuatnya menangis hingga sakit

Bayangkan ada berapa anak yang kehilangan mainan saat banjir bandang menyapu Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) 15 Januari 2014?  Bukan hanya mainan itu baju mereka dan seluruh isi rumah mereka lenyap tak tersisa. Coba bayangkan perasaan mereka.

Alasan itulah yang membuat Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi alias Kak Seto sangat prihatin dengan kondisi anak-anak korban banjir. Ia datang ke Kota Manado ketika mengetahui banjir bandang kali ini merupakan terparah dalam sejarah kota ini. Bukan hanya melihat kondisi daerah yang tertimpa banjir, Kak Seto pun mengunjungi beberapa posko pengungsian yang terdapat banyak anak-anak.

Kain warna-warni tiba-tiba berubah menjadi payung, Jumat (24/1/2014) dan membuat puluhan anak yang duduk melantai di salah satu ruangan Kantor DPRD Sulut kaget. Mereka terus menyaksikan perubahan yang terjadi terhadap payung itu. Atraksi sulap Kak Seto di posko pengungsian khusus korban banjir di wilayah Sario ini merupakan satu dari berbagai metode untuk menghibur anak-anak.

Kak Seto juga mendongeng mengunakan boneka tangan. Dongeng yang singkat tapi maknanya sangat mendalam. "Lucu ceritanya..saya senang," ungkap Puput, seorang anak korban banjir. Menurut Puput, cerita dari Kak Seto sangat menghiburnya. Rasa sedih karena kehilangan boneka kesayangannya pun seperti lenyap. "Ada banyak mainan saya hilang. Baju  sudah basah dan ada minta baju dari orang," ujarnya.  Puput terhibur dengan kedatangan Kak Seto. "Ia terhibur. Kalau ada kakak-kakak kasih permainan sangat terhibur," katanya lalu tersenyum.

Menurut Kak Seto, ada dampak trauma bagi anak-anak korban banjir. Rasa takut, tidak percaya diri dan sakit mental lainnya karena mainan dan rumah yang mungkin diandalkannya sudah  lenyap. Belum lagi rasa kehilangan yang bisa menyebabkan perubahan sikap atau karakter emosional bagi anak yang  menuju dewasa. "Anak- anak korban banjir harus mendapat perhatian khusus. Bukan hanya soal makanan yang bergizi tapi juga hiburan yang membuat mereka tidak trauma," ujarnya.

Kak Seto menyebutkan ada metode khusus yang bisa diterapkan untuk membuat anak-anak terhibur dan menyembuhkan mereka dari trauma. Melalui permainan yaitu permainan aktif atau permainan pasif. Permainan aktif antara lain mengajak anak bernyanyi, bermain dalam games kuis, tebak kata atau permainan yang membuat anak-anak ikut berpikir tapi dalam keceriaan. Permainan pasif seperti anak mendengarkan dongeng dan sebaiknya dongeng itu disampaikan pesan-pesan yang positif seperti 'jangan buang sampah sembarangan' atau 'jangan buang sampah di sungai karena itu salah satu penyebab terjadinya bencana banjir.'

Menurut Kak Seto, ada banyak cara dan sebaiknya bisa diterapkan relawan atau pihak-pihak yang ingin membantu anak-anak korban banjir agar tidak mengalami masalah dalam masa pertumbuhannya. "Ada banyak cara untuk menghibur anak- anak dan memang anak-anak korban banjir harus mendapat perhatian khusus yaitu dihibur dengan permainan-permainan dan tentu hal-hal positif supaya mereka tidak trauma. Trauma bisa menyebabkan mereka tidak percaya diri, menjadi pemarah, cepat frustrasi dan tentu saja akan berpengaruh dalam cara berpikir hingga masa depan seorang anak," jelasnya.

Kak Seto berharap ada banyak relawan yang akan membantu pemulihan para korban banjir khususnya anak-anak. Disebutnya pula jika ada pihak yang ingin membantu anak-anak dalam bentuk materi sebaiknya diprioritaskan bantuan berupa baju bersih, buku-buku pelajaran, buku tulis, buku gambar, makanan, popok, alat mandi dan menjamin ketersediaan air bersih untuk minum dan mandi agar anak- anak terhindar dari sakit.

Senada diungkapkan Jull Takaliuang, Ketua Komisi Daerah Perlindungan Anak (Komda PA) Sulut. Menurutnya anak-anak harus mendapat perhatian khusus karena mereka adalah generasi penerus daerah dan bangsa ini. "Mental anak-anak harus dijaga kalau mereka menjadi orang-orang yang trauma nanti maka sudah bisa ditebak bangsa ini akan menjadi seperti apa ke depan," katanya.

Jull  menuturkan pihaknya telah mendirikan posko khusus bantuan anak-anak di Jalan Garuda Kompleks Wisata Kuliner Wakeke yang merupakan Sekretariat Komda PA. "Posko anak sudah dibuka ada sejak tanggal 16 Januari 2014 yang khusus menggalang bantuan untuk anak-anak korban bencana. Selain susu, popok, biskuit, pakaian, posko peduli anak kami juga sedang berupaya untuk menggalang bantuan seragam bagi anak-anak sekolah," tuturnya.

Pihak Komda PA Sulut bersama  Persatuan Minahasa dan Bakudapa Kawanua Sedunia (BKS) yang mendampingi Kak Seto selama berada di Manado. Kak Seto tiba di Manado pada Kamis (23/1) sore dan langsung menemui anak-anak korban banjir di Ranotana Weru,  Tikela dan Paal 4. Pagi ini sebelum mengunjungi dan menghibur anak-anak di posko pengungsian DPRD Sulut, Kak Seto juga mengunjungi ratusan anak-anak korban banjir di SDN 01 Ketang Baru.

Situasi di sekolah dasar ini sangat mengerikan karena air lumpur masih mengenangi sekolah ini, merusak buku-buku, meja dan kursi. Kak Seto juga ke Polda Sulut
mempertanyakan kasus anak yang diduga dibakar sekelompok pemuda tahun 2010. Maksud kedatangan Kak Seto ke Manado juga untuk mengunjungi Ramadhan dan Nona, anak yang  ditelantarkan ibunya di Kalasey dan saat ini sudah tinggal di Panti Asuhan Assalam, Tuminting.(yudith rondonuwu)

Sumber: Tribun Manado 25 Januari 2014 hal 1

Sisi Lain Banjir Bandang di Manado

Banjir Manado 15-1-2014
Dahsyatnya banjir Rabu lalu sampai merobohkan pagar beton kantor dinas tersebut.  Jalanan masih berlumpur setelah air surutKETIKA Kota Manado diterjang banjir bandang 15 Januari 2014, tak hanya rumah penduduk yang terkena dampaknya. Kantor pemerintahan pun terendam air termasuk  kantor Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Utara (Sulut)  di Kelurahan Dendangan Dalam.

Ketinggian air kurang lebih 4 meter hampir menembus lantai dua gedung kantor tersebut. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Sosial Sulut Asiano Gemmy Kawatu kepada Tribun Manado,  Jumat (17/1/2014).

Kawatu merasa bersyukur karena hanya kantor  yang terendam, sedangkan gudang berisi seluruh bantuan tanggap bencana selamat dari amukan banjir bandang "Beruntung lokasinya ada di belakang kantor, di situ air tidak sampai karena lokasinya cukup tinggi," ujarnya.

Seperti disaksikan Tribun Manado, lokasi gudang dan kantor berjarak 50 meter. Tribun sempat meninjau gudang bantuan yang kabarnya berisi stok bantuan senilai kurang lebih Rp 3 miliar. Dahsyatnya banjir Rabu lalu sampai merobohkan pagar beton kantor dinas tersebut.  Jalanan masih berlumpur ditinggal air surut.

Warga pun terlihat masih sibuk bersih-bersih lingkungan. Kushadi, warga
Dendengan yang menjadi korban mengungkapkan, banjir bandang tiga hari lalu tak mencapai bangunan gudang. Luapan air hanya mencapai pertigaan jalan menuju gudang bantuan tersebut. "Kira-kira 20 meter lagi baru airnya sampai di gudang, cuma sampai di pertigaan, lalu surut lagi airnya," katanya.

Kushadi mengatakan, posisi gudang memang berada di tempat tinggi. Seandainya  terendam korban bencana bakal tak dapat bantuan.  Wujud bangunan gudang Dinsos Sulut  seperti umumnya gudang dengan pintu besi, bangunan tinggi berada  di tanah yang cukup sempit kira-kira seluas 15x15 meter persegi. Kemarin  petugas Dinsos tengah sibuk beraktivitas membongkar muat barang bantuan bencana.

Tribun sempat melihat tempat bantuan tanggap darurat yang menurut  Rico Wilar, Kepala Bidang Bantuan Sosial, nilainya sekitar Rp 3 miliar. Di dalam gudang tersimpan mie instan, biskuit, ikan kaleng, beras, selimut dan matras. Mie instan masih bertumpuk di gudang, hampir mencapai atap, yang tingginya kurang lebih 10 meter.

Karim Eli (56), Staf Dinsos Sulut di gudang tersebut menyampaikan, stok di gudang tersebut merupakan sisa bantuan tahun lalu yang tak sempat digunakan. Kini dibutuhkan  namun tak sembarang orang bisa masuk mengambil bantuan. "Kita cek betul yang ambil siapa. Kalau yang datang ambil ke sini, kami harus kenal, jangan sembarang orang. Kami tanggungjawab bantuan ini harus disalurkan sesuai peruntukan," katanya.

Biasanya bantuan disalurkan lewat posko resmi baru diedarkan kepada korban bencana yang membutuhkan. Ia mengakui, masih ada bantuan belum tersalurkan terkendala alat transportasi, apalagi mobil tanggap bencana Dinsos Sulut hanya terpakir karena terendam banjir.

Kepala Lingkungan II Kecamatan Paal 2 Boy Wagey   merupakan satu di antara mereka yang berinisiatif mengambil bantuan di gudang ini. Menurutnya,  jika menunggu di posko distribusi bantuan akan terlambat sampai ke tangan korban. "Kami perlu air minum, obat-obatan, makanan siap makan, tidak lagi mau masak, mau cari gas dan minyak tanah  di mana?" ungkapnya.

Ia berinisiatif karena sampai hari ketiga pascabanjir  bantuan pemerintah tak mengalir ke lingkungannya. "Kebetulan saya kenal pegawai Dinsos tetangga saya. saya akan  bagikan ke masyarakat saya. Tak usah khawatir," sebutnya lagi. Boy pun  mengambil mie instan, biskuit, matras. Ia pun pamit dan membawa makanan itu  dengan mobil pick up. 

Kepala Badan Bencana Minahasa juga datang mengambil bantuan, ia memperoleh barang yang diperlukan. Menurut dia, bantuan ini akan diserahkan di Desa Tateli, Kecamatan Mandolang "Pak Wakil (bupati) akan antarkan langsung ke Tateli," ujarnya sembari pamit menaiki mobil bak terbuka. (riyo noor)

Sumber: Tribun Manado 18 Januari 2014 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes