Tampilkan postingan dengan label PWI NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PWI NTT. Tampilkan semua postingan

Plt Ketua Umum PWI Ingatkan Wartawan Harus Uji Kompetensi


Plt Ketua Umum PWI Sasongko Tedjo dan Sekjen Hendri Ch Bangun foto bersama pengurus PWI NTT 2018-2023
KUPANG, PK-Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Sasongko Tedjo mengajak pengurus PWI NTT agar ke depan menghasilkan wartawan yang profesional melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

"Jika dahulu seorang pengemudi bisa menjadi wartawan namun saat ini tidak bisa seperti itu lagi, karena harus mengantongi sertifikat kompetensi. Ini merupakan kesepakatan bersama antara PWI dan Dewan Pers," kata Sasongko pada Konferensi Provinsi PWI NTT di Aula Gedung DPD NTT, Sabtu (3/3/2018).


Kegiatan ini dibuka Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya yang juga dihadiri Sekjen PWI Pusat, Hendri Ch Bangun, Ketua KPU NTT, Maryanti Luturmas Adoe, pimpinan BI Kupang, Kepala OJK Kupang, unsur Forkompimda NTT, pimpinan media massa cetak dan elektronik dan anggota PWI NTT.

Sasongko Tedjo beri ucapan selamat kepada Ferry Jahang
Sasongko memuji pengurus PWI NTT terkait pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2011. Dirinya melukiskan kegiatan tersebut sebagai paling nekad karena fasilitas terbatas tapi dampaknya luar biasa. Pengurus PWI NTT bersama pemerintah NTT ketika itu melaksanakan kegiatan sangat sukses.

"Jika dulu kalimat NTT diplesetkan sebagai Nanti Tuhan Tolong tetapi sekarang sudah dibalik menjadi Now Tuhan Tolong. Kemajuan yang ada sekarang harus tetap ditingkatkan dan kerja sama antara pemerintah dan kalangan media harus tetap terjalin dengan baik," tambahnya..

Menurut Sasongko,  PWI dalam lima tahun terakhir ini mulai melaksanakan  pendidikan dan uji kompetensi bagi para wartawan. Hal ini untuk menunjukan jatidiri sebagai insan pers. Untuk lingkup PWI, saat ini tercatat 8.800 anggota PWI seluruh Indonesia yang sudah lulus sertifikasi. Total keseluruhan wartawan Indonesia yang sudah berkompeten mencapai  11.000 dan sudah uji kompetensi.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengajak insan pers di NTT untuk merajut kebersamaan membangun daerah ini.

Ucapan selamat dari Sasongko Tedjo dan Hendri Ch Bangun
Gubernur Frans bernostalgia mengingatkan kembali HPN di Kupang tahun 2011 yang dinilainya sebagai kegiatan yang nekat sebagai bentuk kerja sama antara PWI dan Pemprov NTT. Kegiatan ini menghadirkan Presiden SBY dan 26 menteri walau dalam keterbatasan.

"Sejak HPN 2011 itu, mulai ada pertumbuhan hotel di Kupang. Saya berterima kasih kepada PWI yang sudah mendorong percepatan pembangunan di NTT. Tanpa pers tidak akan terberitakan soal NTT. Saya minta peran ini terus ditingkatkan," pinta Frans. (yon)

Sumber: Pos Kupang 4 Maret 2018 hal 8

Ferry Jahang Pimpin PWI NTT Periode 2018-2023


Sasongko Tedjo beri ucapan selamat kepada Ferry Jahang
KONFERENSI Provinsi PWI NTT di Kupang, 3 Maret 2017  dengan agenda memilih pengurus baru masa bakti 2018-2023 berhasil memilih Hilarius F Jahang sebagai ketua setelah saat voting berhasil meraih 26 suara menggungguli Aser Rihi Tugu yang meraih 13 suara.

Keseluruhan proses konferensi berjalan dalam suasana demokratis. Bertindak sebagai pimpinan sidang, Toni Kleden, Bernadus Tokan dan Damianus Ola disaksikan langsung Pelaksana Tugas (Plt) PWI Pusat, Sasongko Tedjo dan Sekjen PWI Pusat, Hendri Ch Bangun.


Ferry Jahang usai dikukuhkan bersama pengurus PWI NTT lainnya mengajak semua pengurus dan anggota untuk bergandengan tangan memajukan PWI NTT.

"Kami minta dukungan pimpinan PWI Pusat. Target kami terus melaksanakan
pelatihan bagi mahasiswa juga mengikutsertakan wartawan-wartawan pada kegiatan UKW," harap Ferry.

Ferry Jahang dan Aser Rihi Tugu kompak
Ketua PWI NTT demisioner, Dion DB Putra mengatakan hingga awal tahun 2018, jumlah anggota PWI NTT tercatat 51 orang dan dalam kurun waktu 2012-2017 telah dilaksanakan empat kali UKW di Kupang dengan jumlah peserta 59 orang baik anggota PWI maupun bukan PWI NTT.

 Hasil UKW tersebut wartawan yang sudah berkompeten 23 orang anggota muda, 15 orang anggota madya dan 21 orang anggota utama.

"Untuk PWI NTT sampai saat ini yang sudah berkompeten 32 orang dengan tingkatan muda 7 orang, madya 8 orang dan utama 17 orang. PWI NTT tentu terus tingkatkan profesionalisme wartawan dengan melaksanakan UKW karena itu perintah undang-undang," pinta Pemred Harian Pagi Pos Kupang ini. (yon)

Sumber: Pos Kupang 4 Maret 2018 hal 8

Deklarasi Jurnalis Dukung Pilkada Damai


Para wartawan nyatakan deklarasi
KUPANG, PK  -Para jurnalis NTT yang tergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan Ikatan Wartawan Online (IWO) Kupang melakukan deklarasi Pilkada yang damai di Restoran Nelayan Kupang, Rabu (21/2/2018). Deklarasi ini  merupakan kerja sama jurnalis dengan Polda NTT.

Kapolda NTT, Irjen Pol Raja Erizman dalam sambutannya meminta insan pers agar tetap memberitakan informasi  yang menyejukkan agar terhindar dari konflik dan situasi Kamtibmas bisa terjaga.

"Situasi politik tingkat nasional dan regional ini mulai menunjukkan geliat. Saya sangat berharap dukungan rekan-rekan pers agar kita sama-sama menjaga situasi politik tetap sejuk, Pilkada juga berjalan lancar," ucap Kapolda Raja saat memberi sambutan pada deklarasi ini.  Kapolda berharap deklarasi yang telah disampaikan ini bisa dijalankan dengan baik.

Mewakili komunitas pers di NTT, Dion DB Putra mengatakan, pers sebagai pisau bermata dua yang bisa membesarkan kasus yang kecil dan sebaliknya. Hal-hal sepele bisa memiliki dampak yang besar. Deklarasi ini merupakan wujud komitmen untuk Pilkada damai.

"Deklarasi ini adalah janji kita kepada Polri dan masyarakat dalam hal pemberitaan yang positif dan tidak menjadi penyebab hoax. Tensi politik saat ini cukup panas. Jadi saya minta kita untuk tidak mem-blow up sesuatu yang membuat ketersinggungan," ucap Ketua PWI NTT ini.

Pemimpin Redaksi Harian Pagi Pos Kupang ini juga berharap Pilkada NTT nanti bisa menjadi contoh daerah lain. Bila  terjadi konflik, maka pers harus menjadi garda paling depan bersama kepolisian untuk meredakan. (aa)

DEKLARASI PILKADA DAMAI:
1. Mendukung terciptanya pelaksanaan Pilkada yang damai dengan mengedepankan pemberitaan yang berimbang, sesuai kode etik jurnalistik

2. Mengedepankan netralitas dalam setiap pemberitaan dan  mengutamakan kepentingan publik serta tidak memanfaatkan profesi untuk kepentingan pribadi.

3. Mendukung Polda NTT bersama jajaran dalam menjaga situasi Kamtibmas yang kondusif selama Pilkada.

Sumber: Pos Kupang 22 Februari 2018 hal 12

Delapan Wartawan Anggota PWI NTT Kompeten


Peserta UKW dan penguji
Laporan Watawan Pos Kupang.Com, Ferry Ndoen

POS KUPANG.COM, KUPANG- Sebanyak delapan orang wartawan dari sejumlah media baik cetak dan elektronik mengikuti ujian kompetensi wartawan (UKW) angkatan kelima tahun 2017.

Ujian kompetensi wartawan PWI NTT dipimpin Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Sasongko Tedjo dan instruktur dan penguji PWI Pusat, Hendro Basuki.

Pelaksanaan UKW bagi delapan orang wartawan, yakni empat wartawan kategori madya serta empat wartawan kategori utama, berlangsung di Aula Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, di Jalan Soeprapto, Kupang, Jumat (6/10/2017) pukul 08.00 Wita hingga pukul 18.00 Wita.


Zacy ujian jejaring
Empat wartawan yang mengikuti UKW Utama, yakni Dion DB Putra, Ferry Ndoen, Alfred Dama (Pos Kupang) serta Zacky Wahyudi  Fagih (Radio DMWS).

Sedangkan empat wertawan mengikuti UKW Madya, yakni Athoneta Lopo dan Alfridus Dj Sengge (RRI), Erasmus Nagi Noi (TVRI) dan Lidya Rambu Raina Bela (Kabar NTT).

Materi UKW yang diberikan kepada peserta UKW Utama, yakni mengevaluasi rencana liputan, menentukan bahan liputan layak siar, mengarahkan liputan investigasi, menulis opini/tajuk, kebijakan rubrikasi, rapat redaksi (Utama dan Madya), fasilitasi jejarting serta rapat redaksi (evaluasi).

"Semua wartawan peserta UKW utama dan peserta UKW madya dinyatakan berkompeten. Anda termasuk bagian dari 7.558 wartawan berkompeten di Indonesia," papar Hendro Basuki saat membacakan hasil UKW bagi delapan orang wartawan NTT untuk wartawan kategori utama serta madya.

Alfred Dama, Zacky dan Sasongko Tedjo
Ketua PWI Provinsi  NTT, Dion DB Putra dalam sambutan pada penutupan kegiatan UKW angkatan ke 5 tahun 2017 menyampaikan terima kasih kepada Sasongko Tedjo dan Hendro Basuki, dua instruktur PWI Pusat yang sudah melakukan ujian kompetensi kepada wartawan NTT.

Sementara Sasongko Tedjo meminta agar sebagai wartawan untuk terus mengasah diri.

"Ingat apa yang ada di facebook dan medos itu bukan karya jurnalistik. Sebab karya jurnalistik harus memenuhi kaidah- kaidah jurnalistik. Dan kalian wartawan adalah berkompeten," pesan Sasongko saat menutup kegiatan UKW Angkatan kelima Tahun 2017. (*)

Sumber: Pos Kupang.Com

PWI NTT Kutuk Kekerasan Terhadap Wartawan Antara


Dion DB Putra
Senin, 19 Juni 2017 12:03 WIB

Pewarta: Kornelis Kaha


"Kita mengutuk keras kasus ini, dan sangat kita sesalkan arogansi dari oknum anggota Brimob yang melakukan tindakan kekerasan terhadap teman wartawan kita," kata Ketua PWI NTT Dion DB. Putra di Kupang, Senin, (19/6).

Kupang (Antara NTT) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT mengutuk keras kasus tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota Brimob terhadap pewarta LKBN Antara Ricky Prayoga di sekitar turnamen bulu tangkis Indonesia Terbuka 2017 Jakarta Pusat, Minggu (18/6/2017).

"Kita mengutuk keras kasus ini, dan sangat kita sesalkan arogansi dari oknum anggota Brimob yang melakukan tindakan kekerasan terhadap teman wartawan kita," kata Ketua PWI NTT Dion DB Putra di Kupang, Senin, (19/6/2017).


Menurutnya sikap dan perilaku dari oknum anggota Brimob itu menunjukan betapa arogansinya sikap anggota Kepolisian. Sebab sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak terpuji dan bahkan mengajak berduel satu lawan satu dengan menyuruh melepaskan "ID Pers".

Seharusnya oknum anggota Brimob tersebut menurut Dion bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih sopan dan santun serta lebih elegan.

"Kami dari PWI sendiri mengharapkan agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi. Apalagi seorang aparat harus mengeluarkan kata-kata makian yang sangat kasar," tambahnya.

Sementara itu Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Kupang,  Aleks Dimoe juga menyatakan dengan tegas bahwa kasus kekerasan terhadap wartawan hendaknya menjadi atensi dari pihak kepolisian untuk terus ditindak.

"Menurut kami ini adalah perbuatan yang selain mencoreng citra Polri tetapi juga mencoreng kami sebagai wartawan. Oleh karena itu kami berharap agar pelaku kekerasan terhadap wartawan ini menjadi atensi khusus dari pihak kepolisian," ujarnya.

Alex juga mengharapkan agar pihak kepolisian bisa mengusut tuntas kasus tersebut dan memberikan sanksi tegas bagi pelaku kekerasan terhadap wartawan tersebut.

Sebab jika tidak kedepannya hal-hal semacam itu (kekerasan terhadap wartawan, red) bisa saja terjadi kepada wartawan lainnya atau juga masyarakat umum akibat arogansi dari anggota kepolisian.

Sebelumnya, sejumlah anggota Brimob yang mengamankan turnamen Indonesia Open 2017 melakukan kekerasan terhadap wartawan Antara Yoga saat antre di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) pada Minggu (18/6).

Kekerasan tersebut sempat terekam video yang menjadi viral di media sosial.

Dari video tersebut terlihat wartawan Yoga dibekap dan ditarik oleh beberapa anggota Brimob untuk dibawa ke suatu tempat.Namun Yoga yang masih mengenakan ID Card peliput kejuaraan bulu tangkis Indonesia Terbuka itu berusaha berontak.

Menurut Yoga, kejadian tersebut sekitar pukul 15.00 WIB. Ketika ia datang di satu ATM di JCC, seorang anggota Brimob bernama Adam mendekati dan memandangnya.

"Saya mengira ada yang salah dengan saya, lalu saya tanya ke petugas itu apa ada yang salah dengan saya," kata Yoga.

Ditanya seperti itu petugas malah marah-marah dan bilang "Apa kau, ada undang-undangnya jangan melihat, pukimai kau," kata Adam seperti dikutip Yoga.

"Setelah itu Adam dan tiga orang rekannya berusaha mengamankan saya seperti saya seorang maling, saya sempat difiting dan akan banting. Karena kejadian itu dekat dengan media center, saya berusaha menuju kesana meski masih dipegang," kata Yoga.

Situasi kekerasan ini pun terekam video, termasuk terdengar suara-suara keras dari oknum petugas Brimob itu.Yoga mengatakan, setelah itu situasi mulai tenang setelah ada seorang anggota Brimob senior yang datang dan berusaha memediasi.

Yoga mengaku merasa terpukul dengan kejadian tersebut, apalagi oknum Brimob itu sempat mengacungkan senjata laras panjang ke arahnya. Salah satu anggota Brimob, kata Yoga, juga sempat menantangnya berkelahi dan mengeluarkan kata-kata yang bernada intimidasi.

Sumber: Antaranews.com

20 Mahasiswa di Kupang Ikut Pelatihan Jurnalistik


Peserta pose  bersama ketua PWI NTT Dion DB Putra
KUPANG, PK - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT memberikan pelatihan kepada 20 mahasiswa di Hotel Greenia Kupang, Selasa (6/12/2016). Materi yang diberikan adalah teknik menulis berita, teknik wawancara, menulis feature, tulisan mendalam dan lainnya.

Pelatihan dibuka oleh Sekretaris PWI NTT, Zacky Wahyudi Fagih. Hadir pada acara pembukaan, Wakil Ketua I PWI NTT, Damianus Ola, Bendahara PWI NTT, Martha Kote Pa, Ketua SIWO PWI, Sipri Seko dan pengurus lainnya, Apolonia Dhiu.

Zacky Wahyudi Faqih, saat membuka kegiatan itu, mengatakan, pelatihan jusnalistik kepada mahasiswa merupakan program tahunan dari PWI NTT. Kali ini, katanya, adalah tahun ketiga PWI NTT memberikan pelatihan.

Zacky mengatakan, PWI berkomitmen agar setiap tahun melakukan pelatihan jurnaliatik. Ia mengatakan, pelatihan diberikan pada mahasiswa karena potensi penulis di Kota Kupang dari kalangan mahasiswa sangat besar.

"Kami ingin berbagi pengetahuan, ilmu dan pengalaman kepada generasi muda khususnya mahasiswa. Harapan kami, ilmu yang didapatkan langsung dari para praktisi  media ini bisa menambah pengetahuan para mahasiswa tentang jurnalistik," katanya.

Pelatihan ini menghadirkan para nara sumber dari PWI NTT, yakni Kiat Menulis Berita oleh Damianus Ola dari Harian Victoy News, Teknik Wawancara oleh Fery Jahang dari Harian Pagi Pos Kupang, motivasi dari Pater Dr. Edu Dosi, SVD dan materi dari Ketua PWI NTT, Dion DB Putra. (nia)

Sumber: Pos Kupang 7 Desember 2016 hal 5

Ketua PWI NTT Dion DB Putra Sesalkan Hilangnya Prasasti Pers


Dion DB Putra
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyesalkan hilangnya Prasasti Pers yang ditandatangani Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2011 di Taman Nostalgia Kota Kupang.

"Kita sesalkan karena pemerintah bisa kecolongan hingga aset itu dicuri orang," kata Ketua PWI NTT Dion DB Putra kepada ANTARA News di Kupang, Sabtu (16/7/2016).

Dia meminta Pemerintah Kota Kupang dan Provinsi NTT segera membuat lagi prasasti untuk mengganti prasasti yang hilang itu untuk mengembalikan nilai sejarah bagi masyarakat umum, dan khususnya pers nasional di NTT.

"Kata-katanya bisa dikutip lagi. PWI Provinsi NTT memililki dokumen foto prasasti itu. PWI berharap pemerintah serius menanggapi masalah ini," kata Pemimpin Redaksi Harian Umum Pos Kupang itu.


Ia menilai, Prasasti Pers yang ditandatangani Presiden SBY pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2011 di Kupang itu bernilai historis tinggi.

"Para Insan Pers Indonesia, teruslah berjuang untuk mencerdaskan bangsa dan mengembangkan kehidupan demokrasi kita." Demikian pesan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kupang, Rabu (9/2/2011).

Menurut dia, prasasti ini merupakan monumen pers pertama di luar Pulau Jawa yang ditandangani langsung Presiden RI setelah di Solo, Jawa Tengah.

"Prasasti ini merupakan monumen pers yang sangat bersejarah, karena merupakan pertama di luar Pulau Jawa," katanya.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Kupang dan Pemerintah NTT perlu segera membuat kembali prasasti itu dan dipasang kembali pada tempatnya sekaligus dijaga dan dirawat sebagai bagian dari sejarah.

"Kita harapkan pemerintah bisa membuat kembali prasasti itu, kemudian dijaga dan dirawat secara baik agar tetap menjadi bagian dari sejarah," demikian Dion DB Putra. (antara)

Dion: Tarman Azzam Abdikan Hidupnya Demi Kemerdekaan Pers


Tarman Azzam
POS KUPANG.COM, KUPANG - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Timur Dion DB Putra menilai, Tarman Azzam adalah wartawan yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri bagi tegaknya kemerdekaan pers di negeri ini.

Peran itu tidak hanya dia lakoni saat menjadi Ketua Umum PWI Pusat selama dua periode, kata Dion DB Putra yang juga pemimpin redaksi Harian Pos Kupang itu kepada Antara di Kupang, Jumat (9/9/2016).

Ketua Dewan Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tarman Azzam meninggal dunia, Jumat pada pukul 09.23 WIT di Ambon.

Tarman meninggal setelah mendapat serangan jantung di Ambon, Maluku, saat ingin menghadiri peluncuran Hari Pers Nasional 2017 bersamaan dengan pembukaan pesta Teluk Ambon. Saat ini pun, Tarman menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat PWI Pusat.

"Tarman Azzam adalah salah satu di antara sedikit wartawan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk organisasi kewartawanan. Tidak hanya di saat masih menjadi Ketua Umum PWI," kata Dion DB Putra.

Menurut dia, jauh sebelum itu, bahkan hingga akhir hayatnya beliau tak henti berjuang demi kemerdekaan pers serta profesi wartawan yang bermartabat. Bangsa ini, kata dia, khususnya masyarakat pers nasional kehilangan seorang tokoh besar.

Jasa Tarman tak terlukiskan dengan kata-kata. Dia memimpin PWI pada masa transisi antara berakhirnya Rezim Orde Baru yang Otoriter bagi pers ke rezim Reformasi yang sangat bebas bahkan cenderung kebablasan, katanya.

"Pak Tarman adalah Ketua Umum PWI yang rajin berkunjung ke semua daerah di Indonesia," katanya. Dia sangat kebapaan dan mengayomi, juga pemberi motivasi yang ulung. "Selamat jalan Pak Tarman, beristirahatlah dalam damai Tuhan," demikian Dion DB Putra. (ant)

PWI Maluku Puji NTT

Terima kunjungan tim pemprov dan PWI Maluku
KUPANG, PK -Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Maluku melakukan studi banding mengenai pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN). PWI Maluku memuji pemerintah dan masyarakay NTT yang sudah berhasil menyelenggarakan HPN tahun 2011 lalu.

Kehadiran PWI Maluku ini diterima Ketua PWI NTT, Dion DB Putra, di ruang Redaksi Harian Pagi Pos Kupang,  Senin (25/7/2016) malam. Sebelum bertemu PWI NTT, rombongan PWI Maluku terlebih dahulu bertemu Ketua Panitia HPN 2011, Andre W Koreh di ruang kerjanya.
Rombongan PWI Maluku yang hadir, yakni Bobby Palapia (Kabag Humas Pemprov Maluku), Lexy Sariwating (wartawan Antara), Melki Soplanit, Christian Louhanapessy (wartawan KompasTV) dan Ria Tuarita.

Menurut Lexy, kunjungan mereka ke PWI NTT sebagai bentuk studi banding karena menilai PWI NTT sudah sukses menyelenggarakan HPN, meski Maluku sendiri sudah pernah menjadi tuan rumah even-even nasional lainnya. "Kami ingin mendapat masukan-masukan dari PWI NTT supaya biesa menjadi bahan bagi kami untuk pelaksanaan HPN di waktu mendatang," kata Lexy.

Bobby Palapia juga mengatakan, kehadiran mereka untuk mendapat masukan-masukan terkait pelaksanaan HPN tahun 2011. "Tentu kami datang untuk mendapat masukan sehingga jadi bekal bagi kami untuk pelaksanaan HPN di Maluku nanti," kata Bobby.

Bobby juga mengakui, sudah bertemu dengan Andre Koreh sebelum bertemu dengan Ketua PWI NTT. "Kami butuh kiat-kiat yang sudah dilakukan PWI NTT sehingga pelaksanaan HPN tahun 2011 lalu sukses," katanya.

Dion DB Putra mengatakan, saat HPN 2011 lalu, posisi Ketua PWI NTT setara dengan Sekretaris Daerah (Sekda) NTT yakni sebagai penanggungjawab kegiatan HPN. Sementara Sekretaris adalah Ary Moelyadi yang kini sudah mengabdi di Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.

"Saat itu, kita tidak punya uang, sedangkan pelaksanaan HPN bisa menelan anggaran sekitar Rp 2-Rp 3 miliar. Kami juga berpikir bahwa jangan dengan HPN lalu banyak mengeruk APBD NTT. Karena itu, melalui Pemprov NTT, dana kita lakukan urungan dari kabupaten/kota, tapi tidak semua dalam bentuk uang," kata Dion. (yel)


Sumber: Pos Kupang 26 Juli 2016 hal 2

Aparatur Humas di NTT Butuh Sosialisasi dari Dewan Pers

Semuel Pakereng (ketiga dari kiri)
POS KUPANG.COM, LABUAN BAJO  -  Aparatur humas pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan sosialisai dari Dewan Pers tentang kerja sama dengan  media massa. Sosialisasi tersebut melibatkan Bappeda, Unit Keuangan  (Dinas PPKAD), Inspektorat,  pihakKepolisian dan Kejaksaan.

Demikian salah satu butir rekomendasi yang disepakati dalam rapat kerja (raker)  dan bimbingan teknis (bimtek) kehumasan bagi aparatur humas dan protokol kabupaten/kota se-NTT di Hotel Luwansa, Labuan Bajo,  Kabupaten Manggarai Barat 21-24 Juni 2016.

"Forum raker dan bimtek ini menyepakati 11 poin kesepakatan yang segera ditindaklanjuti baik oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota di NTT," kata Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT, Drs. Semuel D Pakereng, M.Si di Labuan Bajo, Jumat (24/6/2016).

Semuel lebih lanjut menyebutkan 11 poin rekomendasi. Pertama, aparatur humas dan protokol sepakat  melakukan koordinasi untuk sinkronisasi program, kerja sama kelembagaan dan sharing kegiatan dalam membangun dan meningkatkan perannya. Kedua, kegiatan raker kehumasan  sebagai wahana koordinasi, sinkronisasi program kegiatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan bergilir sesuai kesepakatan.

Ketiga, melaksanakan kehumasan demi peningkatan kompetensi aparatur humas dan protokol sesuai dengan topik yang diperluka antara lain intelejen, public relation, multimedia, jaringan  website serta etika jurnalistik. Keempat,  raker kehumasan tahun 2017 akan dilaksanakan di Kabupaten Alor.

Kelima, eksistensi humas dan protokol supaya dipadukan menjadi satu bagian integral dan tidak terpisahkan. Keenam, membangun kemitraan dengan insan pers baik  media cetak, elektronik maupun online untuk memberikan informasi atau publikasi yang menyejukkan masyarakat.

Ketujuh, perlunya sosialisasi Dewan Pers di tingkat provinsi, kabupaten/kota tentang kerja sama dengan media melibatkan Bappeda, unit keuangan (Dinas PPKAD), inspektorat, kepolisian dan kejaksaan. Kedelapan, daerah tuan rumah sebagai penyelenggara agar terlibat aktif menyukseskan kegiatan raker kehumasan.

Kesembilan, untuk evaluasi penyelenggaraan kegiatan kehumasan, perlu menghadirkan Satgas Advokasi Media pada raker kehumasan tahun berikutnya. Kesepuluh, perlunya Dewan Pers mengeluarkan pemberitahuan berkala kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-NTT tentang media dan wartawan yang legal bekerja sama. Kesebelas, menghadirkan bagian humas Sekretariat DPRD Provinsi NTT dan kabupaten/kota dalam raker kehumasan tingkat provinsi. (osi)


Sumber: Pos Kupang 25 Juni 2016 hal 15

Dion DB Putra: Banyak Hak Nara Sumber Diabaikan

Dion DB Putra (kedua dari kiri)
LABUAN BAJO, PK -Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT, Dion DB Putra, mengatakan, selama ini di NTT banyak hak nara sumber yang diabaikan sendiri oleh nara sumber tersebut dalam hal pemberitaan di media massa.

"Kalau pemberitaan itu tidak berimbang bisa diadukan ke Dewan Pers. Dewan Pers diakui oleh negara untuk mengadili dalam konteks pekerjaan pers. Dewan Pers bisa memberi teguran bila ada media yang terbukti tidak berimbang dalam pemberitaan," kata Dion saat menjadi nara sumber dalam Rapat Kerja dan Bimbingan Teknis Kehumasan bagi Aparatur Bagian Humas/Protokoler Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT  di Hotel Luwansa Labuan Bajo, Selasa (22/6/2016).

Dikatakannya, sesuai Undang-undang Pers, nara sumber juga berhak mengajukan hak jawab atau hak koreksi bila merasa ada yang salah dari pemberitaan. Nara sumber juga berhak diam terhadap pertanyaan wartawan kalau tidak yakin dengan kredibilitas wartawannya. "Selama ini banyak hak nara sumber yang diabaikan," kata Dion.
Sejumlah peserta yang hadir saat sesi tanya jawab mengeluhkan pemberitaan media akhir-akhir ini yang terkesan tidak berimbang dan mengabaikan konfirmasi. Selain itu, banyak wartawan yang hanya mengandalkan kartu persnya.

"Di daerah kami ada wartawan yang setiap hari selalu bersama kami dan meliput kegiatan kami. Tetapi beritanya tidak pernah ada," kata Germanus dari Kabupaten Sikka.

Keluhan senada disampaikan peserta lainnya,   Sipri dari Kabupaten Manggarai, Agus dari Kabupaten Manggarai Timur dan peserta dari Malaka, Kupang dan sejumlah daerah lainnya.

Mereka juga mengeluhkan media massa yang terlalu berorientasi bisnis sehingga sering kali terkesan melindungi orang tertentu yang dianggap sebagai pemberi upeti.
Menanggapi keluhan itu, Dion mengatakan, pada Undang-undang Pers, media juga merupakan institusi bisnis tetapi semuanya dijalankan pada etika yang telah ditentukan.

Sementara Kepala Biro Humas Setda NTT, Semuel D Pakereng, mengatakan, semua aparatur bagian humas/protokoler di tingkat kabupaten/kota se-Provinsi NTT akan difasilitasi Biro Humas Provinsi NTT untuk mendapatkan penjelasan dari Dewan Pers berkaitan dengan jalinan kerja sama antara pemerintah kabupaten/kota dengan media massa tertentu.

Pakereng meminta bagian humas agar berhati-hati dalam menjalin kesepakatan kerja sama dengan media tertentu dalam konteks pemberitaan di daerah bersangkutan.
"Kami akan fasilitasi untuk mendatangkan Dewan Pers berkaitan dengan kerja sama antara pemerintah kabupaten/kota dengan media tertentu. Berkaitan dengan kerja sama dengan media," kata Samuel di hadapan para aparatur bagian humas dari kabupaten/kota.  (ser)

Sumber: Pos Kupang 24 Juni 2016 hal 12

Ketua Dewan Pers: Hati-hati Memilih Nara Sumber

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (kir)
KUPANG, PK-- Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo mengatakan, media harus berhati-hati  dalam memilih nara sumber (pengamat) dalam membahas satu masalah yang diwartakan dalam media baik itu televisi maupun surat kabar.

Demikian Yosep Adi Prasetyo saat dialog antara Tim Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan jajaran redaksi Harian Pagi Pos Kupang, Rabu (15/06/2016). Pertemuan itu difasilitasi Ketua Bidang Pemberdayaan Media Massa, Hubungan Masyarakat dan Sosialisasi, Simon Petrus Nilli, SP.

Menurut Prasetyo yang biasa disapa Stenly,  kehadiran pengamat dalam mengulas satu masalah, harus memiliki kompetensi dibidangnya agar tidak salah melakukan kesalahan analisis terhadap peristiwa yang terjadi.

Untuk meminimalisir kesalahan dalam pemberitaan media terhadap masalah terorisme, ujar Stenly, Dewan Pers telah memgesahkan satu pedoman (buku saku) bagi para pimpinan media untuk menjadikannya sebagai pedoman dalam pemberitaannya.

Stenly menegaskan, pedoman ini juga diperlukan untuk meminimalisir berbagai praktek abal abal yang dilakukan para jurnalistik. "Masih ada jurnalis yang tidak memahami kode etik, berperilaku memeras nara sumber, menakut-nakuti orang lain yang sebenarnya tidak jauh dari mental terorisme itu sendiri," katanya.

Anggota Majelis Etik AJI Indonesia, Willy Pramudya mengatakan, dirinya diundang BNPT untuk menyusun modul pedoman peliputan terorisme. Awalnya lahirnya modul itu (buku saku) mengacu pada peristiwa bom Thamrin Jakarta 15 Januari 2016
Setelah peristiwa bom Thamrin itu, kata Willy, ada tujuh stasiun TV dan radio yang mendapat teguran karena melakukan fabrikasi pemberitaan yakni menyiarkan berita yang tidak berdasarkan fakta.

Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Umum Pos Kupang, Dion DB Putra mengatakan, pencerahan tentang jurnalistik yang berkaitan dengan pemberitaan terorisme secara regional harus dimulai dari pimpinan.

Dion mengatakan, selama ini Pos Kupang sudah mewartakan secara umum  berbagai kejadian di NTT termasuk pemeritaan tentang terorisme. Namun, diakuinya, pemberitaan yang dimaksud  belum  membidik dan mengemas secara khusus masalah terorisme yang bernuansa edukasi kepada masyarakat NTT.

NTT, lanjut Dion, bukan hanya sekadar propinsi transit para terorisme ke daerah lainnya. NTT, saat ini sudah menjadi tempat tinggal para terorisme.
Dion mencontohkan, salah satu kasus di Labuhan Bajo Kabupaten Manggarai Barat. Penangkapan salah satu kelompok jaringan Santoso, di Labuan Bajo merupakan bukti bahwa NTT bukan hanya menjadi daerah transit terorisme. Pos Kupang telah menyajikan berita apa adanya sesuai fakta yang terjadi.

Dion merespon kehadiran Tim FKPT untuk memberikan pencerahan tentang pedoman pemberitaan terorisme yang menjadi misi Dewan Pers ke NTT. Sebagai pimpinan harus menerima pencerahan lebih awal,  agar bisa menulari konsep pemberitaan Terorimes kepada tim kerjanya

Sementara Ketua Bidang Pemberdayaan Media Massa, Hubungan Masyarakat dan Sosialisasi BNPT, Simon Petrus Nilli, SP mengatakan, terorimes merupakan isu nasional dan internasional yang marak terjadi.

Secara regional, ujar Simon, NTT belum memiliki forum untuk mengantisipasi masalah tersebut. Oleh karena itu,  FKPT NTT dibentuk dengan  bidang kerjasama antara lain pemuda, kemasyarakat, isu media yang secara khusus membidik masalah terorisme. Tujuannya, agar pers memiliki pedoman khusus untuk meliput masalah  terorisme yang terjadi di daerah. (osa)

Sumber: Pos Kupang

KPPU Gandeng Media di Provinsi NTT

Ketua KPPU,  Syarkawi Rauf (tengah)
KUPANG, PK -Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU)  menggandeng media massa di NTT, terutama di Kota Kupang, untuk ikut mengawasi  persaingan usaha tak sehat di wilayah ini. Selain itu  kehadiran KPPU agar lebih dirasakan warga NTT.Hal ini terungkap dalam diskusi Forum Jurnalis se-Wilayah Kupang dengan tema,  Persaingan Usaha untuk Meningkatkan Perekonomian Daerah yang digelar di Sotis Hotel Kupang, Selasa (2/5/2016) siang.

Diskusi Forum Jurnalis se-Wilayah Kupang ini dihadiri Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU), Dr. Syarkawi Rauf, S.E, M.E, Kepala Perwakilan KPPU Surabaya, Aru Armando dan Ketua PWI NTT, Dion DB Putra, serta diikuti 30-an wartawan media cetak dan elektronik serta media online.

Dalam penjelasannya, Ketua KPPU, Dr. Syarkawi Rauf, S.E, M.E, mengatakan, pada tahun 2015, KPPU sudah menghukum 32 perusahaan importir daging sapi dan sapi bakalan yang melakukan praktik kartel. Hukumannya berupa  denda mencapai  Rp 106 miliar lebih.

Selain itu, kata Rauf, pada tahun yang sama KPPU juga telah menghukum 19 importir yang melakukan praktik kartel bawang putih, 12 pengusaha ayam potong dan DOC. Dalam bidang otomotif, dua perusahaan industri sepeda motor juga segera disidangkan pada tahun 2016 karena diduga melakukan kesepakatan harga jual yang menyalahi aturan dan masih banyak kasus persaingan usaha yang sedang ditangani.

Ke depan, kata Rauf, yang perlu dilakukan dan diperjuangkan KPPU adalah melakukan reformasi pasar, penataan struktur pasar yang lebih baik serta penegakan hukum. Sehingga persaingan usaha berjalan lebih fair dan tidak didominasi satu dua perusahaan besar karena mengorbankan konsumen.

Kepala Perwakilan KPPU Surabaya, Aru Armando mengatakan, Provinsi NTT menjadi bagian dari wilayah kerja Perrwakilan KPPU Surabaya. "Perkara-perkara persaingan usaha yang terjadi di NTT juga sudah banyak yang ditangani KPPU. Meski demikian, keberadaan dan peran KPPU masih terasa asing di telinga masyarakat. Karena itu, dengan menggandeng media massa dan bekerja sama dengan para jurnalis di wilayah ini, KPPU diharapkan lebih berperan dalam mengawasi persaingan usaha," katanya.

Ketua PWI NTT, Dion DB Putra pada kesempatan yang sama, mengatakan, KPPU sudah dibentuk pemerintah sejak lama dan perannya sangat strategis bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tetapi, kata Dion,  masih banyak masyarakat yang belum tahu.

Bahkan Dion mengatakan, isu tentang persaingan usaha sepi di media massa. Karena itu, diskusi Forum Jurnalis se-Wilayah Kupang ini menjadi peristiwa yang sangat penting dan disambut baik para jurnalis.

Pada sesi diskusi banyak wartawan yang mengajukan pertanyaan sekaligus menyampaikan pengalaman betapa ekonomi masih dikuasai oleh satu dua orang pengusaha. Sehingga ketimpangan kaya dan miskin semakin terasa.

KPPU merekomendasikan agar masyarakat diberi kesempatan untuk menjadi entrepreneur  sehingga menghasilkan banyak orang kaya baru. Dengan  demikian kompetisi harga berbagai barang kebutuhan semakin bersaing dan tak ada monopoli lagi. (mar)

Sumber: Pos Kupang 3 Mei 2016

Wartawan NTT Bertarung di Bandung

ilustrasi
WARTAWAN NTT akan 'berjibaku' pada empat cabang olahraga (cabor) dari 14 cabor yang diperlombakan, di Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) XII di Bandung, Provinsi Jawa Barat, tanggal 26-30Juli 2016.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT, Dion DB Putra melalui Ketua Siwo PWI NTT, Sipri Seko, S.Sos menjelaskan rencana keikutsertaan wartawan NTT di ajang tersebut, Selasa (12/4/2016).

"Siwo PWI NTT mengikuti empat cabang olahraga dari 14 cabor yang dilombakan di Porwanas XII/2016 di Bandung, Jabar. Empat cabor yang diikuti atlet Siwo PWI NTT, yakni tenis meja, biliard, bulutangkis, catur. Selain itu, wartawan NTT akan mengikuti lomba reportase dan lomba penulisan," jelas Sipri Seko.

Sipri yang juga pelaku event organizer (EO) cabang olahraga level nasional di NTT lebih jauh menjelaskan, surat dari Siwo PWI Pusat baru saja diterima Siwo PWI NTT. Inti surat meminta Siwo provinsi agar segera mengirimkan entry form by sport and number paling lambat tiga bulan sebelum pelaksanaan
penyelenggaraan Porwanas 2016, yaitu 30 April 2016," jelas Sipri. (fen)

Sumber: Pos Kupang 13 April 2016 hal 16

Pers Abal-abal Tumbuh di Kolam Kotor

Imam Wahyudi memberikan materi
KUPANG, PK - Pers abal-abal hanya tumbuh di 'kolam kotor.' Di negara maju, tidak pernah ada. Saat pemerintah daerah (Pemda) suka bagi-bagi uang satu orang (wartawan) Rp 100 ribu, sementara dianggaran ditulis Rp 200 ribu maka fenomena pers abal-abal akan tumbuh terus.

Demikian Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat Dewan Pers, Imam Wahyudi, kepada puluhan wartawan di Kupang saat memberikan Pelatihan Jurnalistik Peliputan Khusus Korupsi di Hotel Aston Kupang, Kamis (28/4/2016). Hadir anggota Dewan Pers lainnya Sinyo Hari Sarundajang dan juga Koordintaor Divisi Kampanye Publik ICW, Tama Langkun.

Iman mengatakan, pihaknya seringkali mendapatkan pengaduan dari masyarakat terhadap media atau wartawan yang bekerja tidak profesional, bahkan melakukan pemerasan. Dan, pengaduan ini ditindaklanjuti Dewan Pers secara profesional. Menyikapi pengaduan itu, Dewan Pers, katanya, akan menilai duluan produk beritanya, barulah melihat apakah media itu berbadan hukum atau tidak, kemudian bagaimana pemasarannya dan barulah menyimpulkan. Jika semua produk beritanya tidak memenuhi kode etik jurnalisme dan UU Pers maka Dewan Pers akan angkat tangan dan kasus itu bisa langsung diproses hukum.

Imam mencontohkan, ada satu pemerintah daerah yang ketika menggelar jumpa pers, wartawan yang hadir sebanyak 150 orang. Begitu tidak ada lagi amplop maka wartawan yang tersisa hanya 15 orang. "Nah sebenarnya wartawan yang hanya 15 orang itulah yang wartawan asli bukan abal-abal," kata Imam.

Imam menambahkan, untuk bisa 'menghapus' media dan wartawan yang abal-abal maka perlu dihapuskan angaran untuk wartawan. Dan sudah ada anggota PWI yang menyurati Jokowi agar bisa menghapuskan anggaran untuk wartawan pada setiap instansi pemerintah di seluruh Indonesia.

"Surat ini akan kita bawa ke Jokowi. Jika disetujui maka masalah pers abal-abal akan hilang karena mereka tak punya oksigen. Yang pemeras akan hilang. Hal ini baik supaya ancaman terhadap kebebasan pers hanya muncul dari konglomerat hitam atau politisi hitam dan jangan muncul dari masyarakat bawah," kata Imam.

Imam menegaskan, Dewan Pers melawan pers abal-abal, yang abal-abal akan diproses hukum. "Kami tidak ingin mensubsidi media abal-abal. Kami melindungi kebebasan pers maka yang harus dibela dan dibina adalah pers yang profesional. Kalau abal-abal, ngapain kita curahkan waktu. Biarkan saja diurus penegak hukum jika ada pelanggaran etika. Kalau orang yang profesional, kepleset satu kali, bukan kepleset terus. Masa media dibikin untuk dijual 86. Tak mau Dewan Pers jadi banker orang abal-abal itu," kata Imam.

Pada kesempatan itu, Imam memberikan sejumlah tips untuk membuat berita investigasi korupsi yang berkualitas disertai contoh-contohnya. Imam berharap agar wartawan yang ada di NTT ini profesional dalam bekerja dan menghasilkan produk yang berkualitas. Dan, katanya, bagi media yang belum memiliki badan hukum, segeralah mengurusnya. Dan, ia juga berharap agar terus meningkatkan sumber daya manusia wartawannya agar bisa menghasilkan produk yang sesuai dengan kode etik jurnalistik dan UU Pers nomor 40 tahun 1999. (vel)

Sumber: Pos Kupang 29 April 2016 hal 2

Negara Kalah Menghadapi Ancaman Intoleransi

"Ketika bom meledak di thamrin, Presiden Jokowi hadir dan mengatakan bahwa negara tidak boleh kalah. Tapi kenapa pada hal -hal tertentu negara kalah dalam menjamin kebesan beragama?"
 
MEDIA adalah sebuah entitas yang sangat berkuasa untuk menciptakan sebuah peristiwa sebagai kebenaran atau sebaliknya. Media juga mempunyai kuasa untuk menunjukan hitam putihnya sebuah peristiwa atau persoalan. Hal ini diakui Program Manager Serikat Jurnalis untuk Keberagaman, Tantowi Anwari, dalam workshop media yang bertajuk `Merawat Keberagaman Dan Toleransi Melalui Pemberitaan' di aula LPP RRI Kupang, Selasa (1/3/2016).

Tantowi Anwari sebagai pembicara bersama Kepala RRI Kupang, Enderiman Butar  Butar  SP.MSI, Pemred Harian Kursor, Ana Djukana dan Wakil Sekretaris PWI NTT, Ferry Jahang dan moderatornya Kepala Bidang Pemberitaan RRI Kupang, Ekleopas Leo.

Menurut Tantowi, lewat kekuatan yang dan pengaruh yang dimiliki itu, media masa bisa menunjukan kepada publik tentang, mana yang benar dan yang salah.
"Implikasinya bisa sangat berbahaya dan juga bisa menguntungkan. Bisa membuat sebuah persoalan menjadi baik atau lebih runyam dari yang dibayangkan orang. Itulah media massa," katanya.

Dewasa ini, katanya, korban kekerasan atas nama agama dan berkeyakinan saban hari bukan berkurang melainkan terus meningkat. Kini sudah saatnya bagi para jurnalis untuk mengangkat pena dan menggoreskan tinta emasnya, untuk menyuarakan keadilan dan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

"Artinya kalau media hanya melihat dan diam saja itu sama dengan membiarkan intoleransi terus terjadi di masyarakat. Kasusnya juga akan meluas, ini berdasarkan hasil pemantauan dari 2007 sampai sekarang," ujar Anwari. 

Berbagai pemberitaan yang cenderung kurang berpihak kepada kelompok minoritas akhir -akhir ini cukup memrihatinkan. Hal ini mulai nampak ketika Fatwa MUI pada tentang penyesatan Ahmadyah pada tahun 2005 diikuti penutupan gereja -gereja di Jawa Barat dan Jakarta.

Kekerasan dan intimidasi terhadap kaum minoritas yang dianggap berbeda terus menerus terjadi di mana -mana. Tak jarang komunitas atau kelompok minoritas itu mendapat diskriminasi dari pihak mayoritas juga pemerintah.

Narasumber dalam diskusi di RRI Kupang
"Sekarang kita harus mengatakan bahwa kebebasan beragama itu adalah isu yang harus diangkat media. Kenapa isu ini dianggap penting, karena korban kekerasan atas nama agama dan berkeyakinan ini bukan berkurang, tapi malah terus bertambah dari waktu ke waktu."

Cover bot side sebagai prinsip jurnalistik tidak relevan lagi dalam kasus -kasus demikian. Kehadiran media dan para jurnalis tidak lagi hanya sebatas netral tapi harus memihak dan memberi ruang yang lebih kepada korban.

"Kita harus memberikan ruang yang banyak kepada kelompok minoritas yang menjadi korban. Teori jurnalistik tentang pemberitaan secara berimbang, itu kami tantang. Apakah dengan fakta -fakta demikian media hanya merasa cukup dengan berimbang?"

Kepala RRI Cabang Kupang, Enderiman Butar  Butar  SP.MSI menegaskan, lembaga yang dipimpinnya terus menggelorakan keberagaman dan toleransi. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai acara yang disiarkan secara rutin di RRI dengan mengikutkan semua agama di Indonesia. Misalnya hari minggu kami menyiarkan secara langsung kebaktian di gereja Katolik dan Protestan. "Begitu juga untuk teman- teman beragama lainnnya," kata Enderiman.

Pemimpin Redaksi Harian Kursor, Ana Djukana, mengatakan sebagai salah satu tonggak penegak demokrasi di negara ini, katanya, pers harus terus memperkuat perannya dalam mengawasi dan mengingatkan kewajiban negara untuk  menghormati, melindungi dan memenuhi hak serta kebebasan paling dasar  dari setiap warga Negara untuk beragama dan berkeyakinan.

"Misalnya kelompok LGBT yg dianggap tidak sesuai ajaran agama ini dan itu, maka kita harus menggunakan pendekatan hak asasi manusia. Kita kadang memberikan ruang yang seluas -luasnya kepada narasumber, yang justru mendukung intoleransi," katanya.

Wakil Sekretaris PWI NTT, Ferry Jahang, mengatakan, Undang -undang pers, Nomor 40 tahun 1999, yang kemudian dijabarkan ke dalam kode etik masing -masing organisasi adalah acuan bagi para wartawan Indonesia dalam menjalankan tugasnya. Ketika menjalankan tugas dan fungsinya, para wartawan harus berdiri di atas asas yang disebut dengan hak asasi manusia.

Terkait diksi yang digunakan media dalam pemberitaan manakala terjadi perseteruan antara kelompok mayoritas dan minoritas maka pers seharusnya berada pada posisi korban. 


Dikatakanya, "Kalu dilihat dari apa yg terjadi selama ini, media atau perss itu sudah mengarah dan bergerak ke sana hanya memang tdk semuanya."

Kekuatan media juga tak jarang dijadikan sebagai alat propaganda. Salah satu contoh kasus adalah peristiwa kerusuhan di Ambon, Propinsi Maluku yang nyaris tak kunjung usia. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh pemberitaan media masa. Pasalnya, terdapat perusahaan tertentu yang menciptakan dua media untuk dua kelompok yang bertikai.

"Ini terjadi karena negara memang tidak hadir sebagai penengah atau pemegang aturan yang benar untuk menengahi persoalan itu. Begitu juga dengan berbagai  persoalan lain yang terjadi di negara kita," ujarnya.

Negara sebagai pemegang kekuasaan sudah mulai menunjukan langkah -langkah positif pada kasus tertentu. Hal ini terlihat pada peristiwa bom Thamrin di Jakarta beberapa waktu lalu. "Ketika bom meledak, Presiden Jokowi hadir dan mengatakan bahwa negara tidak boleh kalah. Tapi kenapa pada hal -hal tertentu negara kalah dalam menjamin kebebasan beragama?" sambungnya. (john taena)

Sumber: Pos Kupang 5 Maret 2016 hal 5

Wilhelmus Foni: Terima Kasih PWI

Willem Foni
MATARAM, PK-Penjabat Bupati Belu, Drs. Wilhelmus Foni menyatakan rasa terima kasih kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang telah memberikan anugrah kebudyaaan.
Demikian Penjabat Bupati Belu, Welhelmus Foni saat ditemui usai perayaan Hari Pers Nasional (HPN), di Pantai Mandalika, Desa Kuta. Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (9/2/2016)

Wilhelmus Foni merupakan satu dari delapan kepala daerah yang menerima Anugrah Kebudayaan dari PWI yang diserahkan  Menko Puan Maharani pada puncak HPN 2016.
Welhelmus Foni mendapat Anugrah Kebudayaan berbasis penegasan jati diri Indonesia di perbatasan Timor Leste dan Australia

Selain Wilhelmus Foni, ada delapan kepala daerah yang mendapat penghargaan diantaranya Walikota Bandung, Bupati Wakatobi, Sulteng, Bupati sawah Lunto, Bupati Purwakarta, bupati Banyuwangi.


Menurutnya, PWI telah memberikan perhatian kepada kebudayaan dan bangsa. Memiliki kebudayaan itu ibarat tubuh harus memiliki roh

"Membangun bangsa itu harus kita perhatikan kebudayaan karena mengarah pada karakter bangsa dan ini penting karena penilaian pantauan dari PWI terhadap semua kepala daerah bupati dan walikota. Mereka yang panggil kami
Berikan penghargaan kepada delapan bupati. Saya selama dua tahun sebagai penjabat bupati Belu, dan selama itu saya membuat gerakan-gerakan untuk budaya. Saya minta agar  komponen masyarakat  di Kabupaten Belu memperhatikan kebudayaan. Contohnya, kerajaan yang ada di sana, Lamaknen dan Fialaran dalam kutur saya hadir di berbagai tempat dan mengajak seluruh aparat pemerintah sebagai komponen  utama dan strategis untuk menjadi pelopor dan upaya pengembangan kebudayaan.  Untuk itu, saya meminta mereka memakai pakaian adat seperti yang saya pakai sekarang ini, yakni kain dan destar. Pakai kain tenun setiap hari Kamis, Jumat dan  Sabtu terus kita galakan. Pakai pakaian seperti yang saya pakai sekarang ini" katanya

Menurut Foni, sekarang ini di tengah materialisme, banyak orang membangun dengan lebih melihat dari segi uang tanpa memperhatikan roh kebudyaaan.

"Ini yang jadi tantangan bangsawan baru. Bangsawan baru itu orang yang maju karena pendidikan, harta dan pangkat dan mereka kurang memperhatikan kultur lokal," ujarnya.

Selain itu. Kata Foni, dia mendatangi semua komponen masyarakat di pusat-pusat kebudayaan, yakni di kampung kampung agar mereka bisa memperhatikan kebudayaan. (ira)


Sumber: Pos Kupang 10 Februari 2016 hal 5
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes