Inilah Delapan Keajaiban Alam di NTT

Danau Tiga Warna Kelimutu di Ende, Flores
Lanskap bukit di Pink Beach, Manggarai Barat, Flores, NTT, Jumat (10/6/2011). Pantai yang terkenal dengan pasirnya yang berwarna kemerahan ini menjadi salah satu lokasi favorit bagi wisatawan untuk menikmati keindahan bawah laut.


PROVINSI Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki delapan keajaiban alam dan merupakan modal dasar di sektor pariwisata untuk menjadi lokomotif pembangunan ekonomi masyarakat. "Delapan keajaiban alam tersebut adalah Pulau Flores yang memiliki lima tempat keajaiban dunia dan Samana Santa, Pulau Sumba dengan Nihiwatu Beach, Alor dengan Alor Dive dan Nemberalla Beach di Kabupaten Rote Ndao," kata Sekretaris Tim Asistensi Gubernur NTT, Edu Hena, di Kupang, Senin (21/5/2012).

Menurut Edu, tim asistensi telah melakukan berbagai diskusi dan dan saat ini sedang merampungkan Master Plan Pariwisata NTT yang telah dipresentasikan. "Draft master plan ini, kami menemukan ada delapan wonders yang dimiliki NTT dan bisa menjadi lokomotif ekonomi," katanya.

Kedelapan keajaiban alam itu adalah Pulau Komodo, tempat reptil Komodo berdiam di sana dan telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo (TNK); Pink Beach di Pulau Padar, kawasan Pulau Komodo; Taman 17 Pulau Riung. Di Taman 17 Pulau Riung ini memiliki nuansa pasir dan air laut yang jernih, taman lautnya dan perbukitan yang menciptakan suasana yang berbeda dengan daerah lain di Tanah Air.

Keajaiban alam lain di Pulau Flores adalah danau tiga warna di kawasan Gunung Kelimutu, yang menjadi pusat perhatian pariwisata dunia. Selanjutnya Taman Laut Maumere yang begitu indah dan dikurung oleh teluk yang sangat nyaman bagi kehidupan di dalamnya.

Sedangkan tiga keajaiban alam lainnya yakni Nihiwatu Beach di Pulau Sumba dengan pantai terbaik dan terindah (termasuk 10 besar di Asia), memberikan kesan yang sangat elegan dan ekslusif karena lokasi dan gelombang lautnya dapat dimanfaatkan bagi para peselancar. Keajaiban alam ini memberikan kesan individualistis yang kuat dan menjanjikan kepada setiap wisatawan untuk kembali lagi, katanya.

Berikutnya, Pulau Alor memiliki kekhususan yaitu indahnya alam bawah lautnya, lebih dari puluhan titik selam sehingga disejajarkan dengan alam bawah laut Kepulauan Karabia. Lokasi ini dilindungi oleh Pulau Timor, sehingga menjadi tempat terbaik dunia untuk menyelam setelah Karabia.

"Terakhir, Nemberalla Beach. Keajaiban alam yang ada di Pulau Rote ini masuk dalam international calender of event untuk berselancar (surfing), sehingga menempatkannya dirinya sebagai posisi kedua setelah Hawaii, walaupun masih sangat minim dalam tersedianya fasilitas dan infrastruktur," papar Edu Hena.

Selain memiliki delapan keajaiban alam, NTT juga memiliki potensi pariwisata budaya dan tradisi lainnya yang tidak kalah menarik dengan daerah lain di Indonesia bahkan dunia.

Edu Hena berharap, dengan adanya Master Plan Pariwisata NTT nantinya mampu mendorong pembangunan pariwisata dan menjadi lokomotif ekonomi daerah. (*)

Sumber: Kompas.Com

Ron Memuji Prestasi Fenomenal Di Matteo

Roberto Di Matteo
DIREKTUR Utama Chelsea Ron Gourlay memuji prestasi fenomenal Roberto Di Matteo. Namun, ia masih enggan bicara soal kontrak permanen Di Matteo sebagai pelatih "The Blues".

Transformasi yang disajikan Robbie --sapaan Di Matteo-- demikian fantastis. Baru mengambil kendali dari Andre Villas-Boas pada Februari lalu, pria berusia 44 tahun langsung menjawan tantangan dengan gelar kampiun Piala FA dan 15 hari berselalu, trofi Liga Champions 2012 di kandang juara Eropa empat kali Bayern Muenchen.

"Beberapa bulan ini sungguh luar biasa dan diakhiri dengan sesuatu yang besar: juara Liga Champions. Banyak "naik-turun" di musim ini. Kami memulai dengan baik tapi peride buruh dialami pada Nopember hingga Januari," ucap Gourlay yang dikutip Sky Sports News.

Dilema Bumi Nyiur Melambai

ilustrasi
BUMI Nyiur Melambai. Begitulah ikon Sulawesi Utara yang telah tersohor ke seluruh penjuru Nusantara bahkan dunia. Ingat Sulawesi Utara ingat perkebunan kelapanya yang subur dan berbuah lebat. Ingat pantai pasir putih dengan nyiur melambai-lambai.

Selama puluhan bahkan ratusan tahun kelapa telah menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat Minahasa, Tomohon, Talaud, Bolaang Mongondow dan lainnya. Tidak ada provinsi lain di negeri ini yang memiliki perkebunan kelapa sehebat Sulawesi Utara.

Selain kelapa Sulawesi Utara pernah berkibar sebagai daerah penghasil cengkeh dan pala terbesar di Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman cengkeh dan pala agaknya bukan lagi andalan utama. Kini kencenderungan serupa mulai melanda tanaman kelapa. Ada apa gerangan?

Dilema sedang melanda para petani kelapa. Harga kelapa dan produk turunannya tidak cukup lagi membuat petani di daerah ini sumringah secara ekonomis. Harga kopra, misalnya, kini anjlok sampai Rp 3 ribu per kilogram. Padahal siapa pun maklum untuk menghasilkan kopra siap jual melewati jalan melelahkan, makan waktu dan tenaga. Petani kelapa harus menyewa pemanjat kelapa, pengupas kemudian mengerahkan tenaga mereka untuk proses pengasapan sampai kopra siap jual kepada pengusaha pengumpul.

Dengan harga Rp 3 per kilogram betapa beratnya derita para petani. Maka bisa dimengerti jika para petani kelapa di Sulut kemudian beralih ke komoditi lain yang lebih baik harganya seperti kakao atau aneka tanaman holtikultura yang bisa panen dalam hitungan bulan. Dalam keadaan semacam itu peremajaan kelapa di bumi Nyiur Melambai menjadi tanda tanya besar. Perlahan tapi pasti areal perkebunan kelapa di Sulut niscaya akan terus menyusut. Kalaupun ada peremajaan jumlahnya tidak signifikan untuk menggantikan kelapa usia tua dan tidak produktif lagi.

Disamping minim peremajaan masalah lain yang mendera berupa aksi penebangan tak terkendali sebagaimana terjadi di kawasan hutan lindung di kaki Gunung Klabat. Puluhan ribu pohon kelapa di sana termasuk yang masih usia produktif ditebang saban hari. Balok kelapa dijual untuk bahan baku aneka kerajinan.
Menurut pandangan kita diperlukan langkah konkret dari pemerintah daerah agar petani kembali bergairah menanam kelapa. Stabilitas harga dan kemudahan bagi mereka harus diberikan. Jangan lupa sampai detik ini kelapa dan produk turunannya masih menempati urutan pertama komoditi ekspor dari Provinsi Sulawesi Utara.

Dalam konteks pembangunan infrastruktur, alih fungsi lahan merupakan konsekwensi yang sulit dicegah. Tentu dibutuhkan perencanaan yang matang agar lahan perkebunan kelapa tidak menjadi korban. Sikap antisipasi dini terhadap kemungkinan menyusutnya lahan perkebunan kelapa di Sulut merupakan pekerjaan rumah yang harus dituntaskan segera. Mudah-mudahan. (*)

Tribun Manado, 19 Mei 2012 hal 10

Baciato dalla Grazia

Roberto Mancini
Baciato dalla grazia. Dalam pelukan nasib baik. Begitulah orang Italia menggambarkan perjalanan karier Roberto Mancini. Pria flamboyan kelahiran kota kecil di tepi Laut Adriatic ini bersinar sebagai pemain dan pelatih. Mancini seolah selalu dalam dekapan Dewi Fortuna.

Mancio, begitu dirinya disapa, selalu membawa nasib baik ke klub yang dibelanya, baik sebagai pemain maupun pelatih. Dalam kariernya sebagai pemain di era 1990-2000 bersama Sampdoria dan Lazio, Mancini mempersembahkan gelar juara Serie A, Coppa Italia, Super Coppa Italia, dan Cup Winners' Cup.

Sebagai pelatih, Mancio juga selalu meraih juara bersama tim yang ditangani. Gelar juara Coppa Italia dia raih bersama Fiorentina, Lazio, dan Inter Milan. Mantan striker yang telah menyarangkan 202 gol ini juga membawa Inter juara tiga kali Serie A.

Kariernya di Inter pada 2004-2008, yang mengakhiri paceklik gelar juara Liga Italia selama 18 tahun, semakin mengukuhkan kepiawaian Mancini mengolah strategi. Namun, ia kemudian didepak dari Inter karena gagal mempersembahkan gelar Liga Champions.

Mancio menganggur selama 18 bulan sebelum diminta memimpin revolusi di tubuh Manchester City pada 2009. Klub yang berada di bawah bayang-bayang rival sekota Manchester United itu sedang mengejar mimpi, setelah dibeli oleh Sheikh Mansour, seorang miliarder asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Tawaran itu merupakan tantangan besar bagi Mancini. Rekan lamanya, Gianluca Vialli, menceritakan bagaimana tekad kuat Mancini memulai pergulatannya dengan sepak bola Inggris yang sangat ketat.

”Roberto bekerja keras selama setahun ini, setengahnya dia habiskan di London dan beberapa bulan mempelajari bahasa Inggris,” ujar Vialli.

Mancini memikul beban berat untuk mengakhiri penantian panjang meraih gelar juara kompetisi tertinggi di Inggris sejak 1968. Musim 2010/2011, Mancini mempersembahkan Piala FA yang terakhir kali diraih 35 tahun sebelumnya.

Musim ini, Mancini yang memperkuat skuadnya dengan sejumlah pemain bintang seperti David Silva, Samir Nasri, dan Sergio Aguero mengakhiri paceklik gelar juara Liga Primer selama 44 tahun. Musim yang ketat, berat, dan menguras emosi dari awal hingga akhir musim.

City menjalani laga paling dramatis di Liga Primer untuk menjadi juara musim 2011/2012. City tertinggal 1-2 oleh tim tamu Queens Park Rangers hingga lima menit babak tambahan waktu. Sepanjang babak kedua, setelah tertinggal 1-2, Mancini gelisah. Emosinya meledak-ledak melihat penampilan para pemainnya yang selalu gagal menembus benteng pertahanan QPR, yang memasang 10 pemain di sekitar kotak penalti. Maklum, QPR juga tengah berjuang lolos dari zona degradasi.

Mancini selalu melepaskan emosinya seketika ia merasakan kegelisahan, karakter yang sudah mendarah daging sejak dirinya menjadi pemain sepak bola. Saat memperkuat Lazio, Mancini pernah membuang pita kapten dan mendamprat pelatihnya waktu itu, Sven-Goran Eriksson.

Emosi yang meledak-ledak itu tipikal Mancini. Ia secara spontan menyatakan tidak akan pernah memainkan Carlos Tevez, yang menolak melakukan pemanasan dalam sebuah pertandingan Liga Champions.

Di laga terakhir Liga Primer musim ini, Mancini menumpahkan seluruh emosinya untuk mendorong pasukannya melampaui batas kemampuan mereka. Skuad inti City terus berusaha mencetak gol di bawah suntikan motivasi Mancini dari tepi lapangan.

Mukjizat itu terjadi pada babak tambahan waktu. Sekali lagi, Mancini berada dalam dekapan Dewi Fortuna. Sundulan Edin Dzeko menyamakan kedudukan 2-2 dan dua menit kemudian Sergio Aguero, yang dibeli senilai 35 juta pounds (Rp 521 miliar) dari Atletico Madrid, membawa City unggul 3-2. Gol yang membawa City juara Liga Inggris dengan keunggulan selisih gol dari rival sekotanya, Manchester United.

Mancini meluapkan kegembiraannya dengan berlari sambil mengangkat tangannya ke udara. Ia melepaskan ketegangan yang menekannya sejak babak kedua. Musim ini menjadi pencapaian menakjubkan Mancini sebagai pelatih di Liga Inggris. Ia mencatatkan kemenangan bersejarah.

Mancini sukses memimpin revolusi Manchester City. Ia belajar banyak dari gurunya, Sven-Goran Eriksson yang mengajarinya bagaimana berhenti sejenak dan berpikir. Di saat kebuntuan menghinggapi penampilan tim, seorang pelatih harus berhenti sejenak, mengurai benang kusut dalam timnya dengan pikiran jernih.

Pelatih yang telah menginjak usia 48 tahun ini semakin matang dalam meracik strategi dan mengelola emosi pemainnya di ruang ganti. Ia memenangi pertarungan di ruang ganti saat Tevez memberontak.

Kekuatan karakter Mancini ini tidak lepas dari pengalamannya sebagai pemain dengan pencapaian yang mengagumkan. Ia menjadi legenda dalam sepak bola Italia. Ia penyerang hebat dengan gol-gol berkelas, kelihaian manuver, dan satu kebiasaannya yang khas, mengumpan bola dengan tumit kaki.

Ia menjadi ancaman serius bagi lawan-lawannya, meskipun sosoknya lebih mirip peselancar top dari Australia. Rambut pirang, postur ramping, dan wajah tampan juga menjadikannya dalam papan atas pesepak bola berpenampilan menarik di Italia.

Namun, penampilan luarnya yang meledak-ledak tidak sejalan dengan karakternya yang cenderung tertutup. Rekan-rekan dekatnya mendeskripsikan dirinya sebagai ”orang yang sangat tertutup”. Ia juga sering dikritik karena dinilai angkuh dan sombong.

Mancio mungkin memang angkuh dan sombong. Namun, ia memiliki karakter dan konsep kuat dalam mengelola sebuah tim. Ia datang ke Manchester pada Desember 2009 menggantikan Mark Hughes, pelatih QPR yang ditundukkan City untuk meraih juara Liga Inggris musim ini.

Salah satu konsep dalam kepelatihannya adalah mendefinisikan peran seorang pemain penghubung lini tengah dan lini depan. Konsep itu ia tuliskan dalam sebuah pedoman kepelatihan berjudul Il Trequartista. Buku itu tersimpan di Coverciano, pusat kepelatihan milik Asosiasi Sepak Bola Italia, tidak jauh dari kota Florence.

Ia mengupas peran pemain nomor 10 yang menjadi penghubung lapangan tengah dengan penyerang. Peran yang sangat dia kuasai, di mana ia sangat lihai menjadi penyerang bayangan yang mematikan.

Di Manchester City, Mancini menjadikan David Silva sebagai pemain nomor 10. ”Trequartista kami yang fantastis,” ujar Mancini mendeskripsikan peran Silva.

Saat Mancini memimpin City di akhir 2009, gelar juara Liga Primer masih di awang-awang. Namun, Mancini memanfaatkan suntikan dana yang tak terbatas dari Sheikh Mansour untuk mendatangkan para pemain bintang. Keputusan yang membawa City juara sekaligus simalakama, karena musim depan mereka harus menjual banyak pemain mahal untuk memenuhi syarat keseimbangan keuangan klub dari UEFA.

Mancini belum memikirkan masalah itu. Saat ini ia sedang menikmati sukses besarnya membawa City juara Liga Primer. Kemenangan pertama yang menjadi batu loncatan untuk kesuksesan berikutnya.

Musim depan, Mancini mengincar juara Eropa bersama City. Perburuan yang berat bagi City meskipun Mancio dalam dekapan Dewi Fortuna. (*)

Sumber: Kompas.ComKompas

Safety First

KITA prihatin dan menyampaikan duka mendalam untuk keluarga para korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet100 di Gunung Salak, Jawa Barat 9 Mei 2012 yang lalu. Pesawat itu jatuh di Jawa Barat namun kabut duka kental terasa di sini, bumi Nyiur Melambai mengingat warga Sulawesi Utara termasuk di antara korban yang semula riang menikmati joy flight namun kenyataan berkata lain.

Pesawat Rusia yang sedang pamer kecanggihan teknologi justru menabrak tebing gunung hingga hancur berkeping-keping. Banyak orang amat sedih mengenang tragedi ini. Sedih lantaran sebagian besar penumpang dan awak pesawat sempat mengabadikan diri mereka lalu disebarluaskan melalui jejaring sosial sebelum take off dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Tak dinyana dalam hitungan detik saja keceriaan tersebut berujung duka bagi keluarga, sahabat dan rekan. Hidup dan mati manusia memang tipis nian batasannya.

Apa yang bisa petik dari tragedi Sukhoi? Terlepas dari kemungkinan musababnya adalah faktor cuaca buruk atau kerusakan teknis pesawat, manusia tetaplah pengendali utama di Superjet100. Bukan muskil terjadi human error sehingga pesawat canggih tersebut mencium tebing Gunung Salak hingga luluh lantak.

Sebagai pembanding saja dua hari sebelum tragedi Sukhoi, tim investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis penyebab kecelakaan pesawat Merpati MA 60 di Kaimana, Papua pada 7 Mei 2011. Terbukti pesawat itu jatuh bukan karena masalah teknis melainkan keputusan pilot yang salah. Saat hendak mendarat di Kaimana, pilot menggunakan sistem autopilot sementara jarak pandang hanya 2 kilometer. Jarak pandang sejauh ini tidak memenuhi syarat untuk autopilot. Idealnya harus 5 kilometer dari landasan pacu.

Dalam kasus Sukhoi Superjet100, satu hal yang bikin kita penasaran adalah mengapa petugas Air Traffic Controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta mengizinkan pilot terbang rendah hingga 6.000 kaki dari sebelumnya 10.000 kaki? Boleh jadi pilot Rusia yang baru pertama terbang di Indonesia mau melakukan manuver namun tidak mengenal dengan baik kondisi medan di sekitar Gunung Salak, Halimun dan Pangrango.

Jawaban final memang masih menunggu hasil analisis terhadap kotak hitam dan penelitian tim KNKT serta pihak Rusia. Namun, pesan dari tragedi Suhkoi di Gunung Salak amat tegas dan jelas. Jangan main-main dengan keselamatan manusia. Prinsip safety first (utamakan keselamatan) mutlak dipatuhi oleh setiap pengelola dan operator moda transportasi, baik darat, laut maupun udara. Banyak sudah peneliti yang merilis data mencengangkan yakni sekitar 70 persen penyebab kecelakaan transportasi adalah faktor kelalaian manusia. Jadi, entah Anda mengendarai sepeda motor, bus, angkot, kapal laut maupun pesawat udara, prinsip safety first mesti menjadi standar operasional yang harus ditaati.*

Tribun Manado, 12 Mei 2012 hal 10

Jurnalisme Itu adalah Kehidupan Saya

Sabam Siagian
JIKA merujuk pada kata-kata bijak, "Life begins at forty" atau kehidupan dimulai pada usia 40 tahun, Sabam Siagian mulai hari ini memasuki periode kedua dari kehidupannya. Sabam yang Jumat (4/5/2012) memasuki usia 80 tahun, hari ini mulai meniti hari pertama dari usianya yang ke-81.

Pada periode kedua dari kehidupannya itu, ia banyak mengisi waktu dengan membina wartawan-wartawan muda agar dapat melakukan tugasnya secara profesional. Selama tiga tahun belakangan ini, ia turut berpartisipasi dalam kursus singkat (short course) terkait sekolah jurnalisme Persatuan Wartawan Indonesia yang berlangsung dua minggu. Topik yang dibahas adalah Hubungan Media dengan Pemerintah.

"Dari kursus-kursus singkat itu, yang kebetulan pesertanya wartawan muda dan paruh karier, saya mengetahui bahwa pada hakikatnya wartawan-wartawan itu memiliki iktikad baik. Hanya saja kondisi lingkungan di mana mereka bekerja tidak memungkinkan mereka bekerja secara profesional," ujar Sabam.

Menurut dia, bagi wartawan yang bekerja di Jakarta, situasinya berbeda. Relatif mereka dapat menjalankan tugas dengan leluasa karena kebebasan pers terjamin. Berbeda dengan yang di daerah, terutama di luar Jawa.

"Kondisinya jauh berbeda," katanya. Sangat sulit bagi mereka untuk menjalankan tugas secara profesional. Jika mereka tidak hati-hati, bukan tidak mungkin keselamatan jiwa mereka pun terancam.

Seperti diketahui, otonomi daerah membuat para bupati atau wali kota mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Mereka dapat memberikan izin konsesi tambang (batubara), dan sekian ton batubara dibawa ke luar. Ketika salah seorang wartawan daerah bermaksud meliput aktivitas itu, ia dipukul oleh petugas satpam (satuan pengamanan)," kata Sabam.

Ia menambahkan, "Ketika wartawan itu bertanya kepada saya, bagaimana ia harus meliputnya? Saya hanya bisa menasihatinya agar jangan meliput seorang diri. Ajaklah beberapa kawan, terutama koresponden koran-koran besar Jakarta di daerah. Tujuannya, agar dia tak diperlakukan (penguasa daerah) sewenang-wenang."

Ancaman bagi wartawan daerah untuk bekerja secara profesional tak hanya tindak kekerasan, tetapi juga "dibeli" dengan uang sehingga pisau analisis kritisnya menjadi tumpul.

Sabam yang pernah menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Sinar Harapan (1973-1983) dan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (1983-1991) sangat prihatin dengan keadaan yang membelit profesi wartawan di daerah.

Itu sebabnya pada hari ulang tahunnya yang ke-80, yang dirayakan di Lobby Lounge Bima Sena, Hotel Dharmawangsa Jakarta, Sabtu siang ini, ia meluncurkan buku Melacak Makna dalam Peristiwa: Kumpulan Selektif Kolom-kolom 2006- 2009, yang ditulisnya di beberapa media massa.

"Buku ini saya dedikasikan bagi generasi muda wartawan Indonesia agar mereka memegang teguh prinsip keprihatinan, keadilan, dan keseimbangan permberitaan," ujar Sabam penuh semangat. Perayaan yang diadakan pukul 11.00-14.30 itu didahului kebaktian pengucapan syukur pukul 11.00-12.00.

Turun ke lapangan


Sebagai Pemimpin Redaksi The Jakarta Post (1983-1991), Sabam rajin turun ke lapangan untuk meliput peristiwa penting, terutama yang berhubungan dengan masalah internasional. Itu sebabnya wartawan- wartawan yang meliput masalah internasional tahun 1983-1991 pasti mengenalnya dengan baik.

Dengan berbekal notes dan bolpoin, dengan rajin ia mencatat berbagai informasi yang dianggapnya penting di dalam jumpa pers. Kadang-kadang ia juga membawa tape recorder yang agak besar pada jumpa pers tokoh-tokoh penting.

Ia juga tidak segan-segan menegur wartawan muda yang dianggap bekerja secara tidak profesional. Saya pernah mengalaminya pada pertengahan April 1986 saat meliput jumpa pers Menteri Luar Negeri Amerika Serikat George Shultz menjelang kunjungan Presiden AS Ronald Reagan ke Bali. Ketika itu, sebagian besar pertanyaan yang diajukan wartawan kepada Shultz berkisar tentang bocornya reaktor nuklir Uni Soviet di Chernobyl. Hanya sedikit pertanyaan yang diajukan tentang kunjungan Ronald Reagan ke Bali.

Selesai mengirim berita ke Redaksi Kompas di Jakarta, saya dan beberapa wartawan berkumpul di kamar Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Kompas Jakob Oetama di Hotel Santika, Kuta, Bali. Pak Jakob bertanya, bagaimana tentang jumpa pers George Shultz. Apakah cukup ramai? Saya menjawab, "Isi jumpa pers itu 80 persen tentang Chernobyl, hanya 20 persen tentang kunjungan Reagan ke Bali."

Sabam langsung memotong ucapan saya, "Dari mana kamu tahu bahwa pertanyaan tentang Chernobyl itu sampai 80 persen." Saya menjawab, "Saya hanya mengira-ngira." Sambil membuka-buka notes dan memeriksa catatannya, ia mengatakan, "Dalam jumpa pers itu, ada 15 pertanyaan, dan 12 di antaranya tentang Chernobyl." Untunglah ketika dihitung, perkiraan saya betul, yakni 80 persen.

Sabam langsung menambahkan, "Wartawan itu, mau dia itu pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau redaktur, jika turun ke lapangan, harus bertindak sebagai reporter. Ia harus mencatat semua informasi penting dan menajamkan informasi itu jika belum jelas."

Saya menyadari bahwa saya melakukan kesalahan. Itu sebabnya nasihat itu saya pegang teguh hingga saat ini.

Di sisi lain, Sabam yang cukup populer di kalangan pejabat tinggi negara dan kalangan diplomatik tidak segan-segan memanggil wartawan muda dan memperkenalkannya kepada tokoh-tokoh penting. Ia juga tidak segan membagi informasi penting yang baru diterimanya.

Pernah suatu ketika, dalam suatu kunjungan ke Washington DC, Sabam menerima informasi penting. Ia memanggil saya keluar dari rombongan dan pura-pura menunjuk ke salah satu barang yang dipajang di toko. Padahal, ia tengah membocorkan informasi yang sama sekali tidak berhubungan dengan barang yang ditunjuk-tunjuknya.

Sabam juga aktif berpartisipasi dalam seminar-seminar internasional yang diselenggarakan Centre for Strategic and International Studies di berbagai negara. Namun, ia kerap menjadi bahan ledekan di antara rekannya, seperti Fikri Jufri, August Parengkuan, dan Jusuf Wanandi, karena ia selalu membawa mesin ketik ke mana-mana. Padahal, rekan-rekannya sudah menggunakan laptop. "Kalau saya tidak mendengar suara mesin ketik, ide besar saya tidak keluar," ujarnya sambil tertawa.

Menurut pengakuannya, ia masih tetap tidak dapat menggunakan komputer. "Kalau sekretaris saya tidak masuk, ancur deh...," katanya.

Kepakarannya sebagai pengamat masalah internasional menjadikannya sempat digunjingkan akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Vietnam. Namun, ternyata ia malah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Australia (1991-1995). Dari sana, ia menjadi anggota MPR dari Utusan Golongan (1999-2004). Kemudian menjadi Editor Senior The Jakarta Post (2005 hingga kini).

Dalam pembahasan di Redaksi Kompas, Jumat, Sabam Siagian mengemukakan kegundahannya. Ia merasa salah diterima oleh saudara-saudaranya sehubungan dengan kehidupannya dengan istrinya, Stella Maris Siagian, yang menderita penyakit Alzheimer sejak 7 tahun lalu. Saat ini, Stella dirawat di rumah perawatan (care house) di Singapura dan kondisinya dimonitor dengan saksama selama 24 jam. "Ia ditunggui anak saya, Batara Bonar Siagian, yang berkerja di sana," katanya. Putra sulungnya, Tagor Malasak Siagian, tinggal di Jakarta.

"Ada yang menganggap, sebagai suami, saya harus menunggui istri terus-menerus. Namun, sebagai suami, saya juga harus menjalani kehidupan saya sehari-hari, bukan duduk berpangku tangan dan menangisi keadaan. Saya memilih yang kedua, di mana saya menjalani kehidupan saya yang tak pernah lepas dari jurnalisme," ujarnya. (James Luhulima)

Kompas.Com: Sabtu, 5 Mei 2012 | 23:22 WIB

Ketagihan Donor Darah

DATA Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Utara (Sulut) ini menarik perhatian kita. Saban bulan warga Sulut membutuhkan rata-rata 1.800 sampai 2.000 kantong darah tetapi stok darah yang tersedia baru sekitar 70 persen dari total kebutuhan tersebut. Itu berarti kesadaran masyarakat Sulut mendonorkan darahnya secara rutin demi membantu sesama mesti didorong lagi dengan beragam cara.

Kita coba belajar dari kisah inspiratif para pendonor tetap PMI. Sebut misalnya John Rompis (52). Dosen Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado tersebut rutin mendonorkan darahnya sejak mahasiswa. Rompis bahkan mengaku telah ketagihan donor darah. Jika tidak mendonorkan darahnya ia sakit. "Badanku terasa sakit jika tidak mendonor," demikian Rompis yang memiliki catatan donor sebanyak 78 kali.

Hal yang sama dialami Francie Petrus. Mendonorkan darah sejak tahun 1988, ia telah mencapai angka donor 122 kali dan tertinggi di Sulut. Memiliki golongan darah B yang terbilang langka, dosen Politeknik Manado Jurusan Teknik Mesin ini menikmati pengalaman unik. Telah berulang kali dia dibangunkan pada malam larut atau dinihari untuk mendonorkan darah bagi sesama yang membutuhkan.

"Saya pernah donor darah pada pukul 02.00 pagi," kata Francie Petrus. Sama seperti John Rompis, Petrus pun merasa tubuhnya lebih sehat justru karena rutin mendonorkan darahnya minimal sekali dalam tiga bulan.

Orang seperti Rompis dan Petrus telah menempatkan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kiranya dari hari ke hari semakin banyak orang mengikuti jejak mereka. Menurut para ahli kesehatan, hukum simbiosis mutualisme berlaku bagi seseorang yang melakukan donor darah. Setiap tetes darah yang Anda sumbangkan tidak hanya memberikan kesempatan hidup bagi yang menerima tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan pendonornya.

Adalah pandangan keliru bahwa mendonorkan darah bisa melemaskan tubuh. Justru saat mendonorkan darah, tubuh bereaksi cepat dengan langsung membuat darah pengganti. Selain mendorong tubuh memproduksi sel darah merah yang baru, manfaat kesehatan lain yang bisa kita rasakan adalah menjaga kesehatan jantung. Donor darah pun membantu menurunkan berat badan. Dengan memberikan sekitar 450 ml darah akan membantu proses pembakaran kalori kira-kira 650. Ini jumlah kalori yang banyak untuk mengecilkan perut yang buncit dengan lemak.


Banyak orang telah merasakan manfaat donor darah sebagai deteksi dini terhadap aneka penyakit. Prosedur standar saat mendonor adalah pemeriksaan darah dari berbagai macam penyakit semisal HIV, hepatitis, malaria, diabetes dan lainnya. Dengan segudang manfaat itu mengapa kita takut mendonorkan darah? Ingatlah selalu bahwa berbagi setetes darahmu bisa menyelamatkan nyawa anggota keluargamu, saudaramu, teman-temanmu, kekasihmu bahkan dirimu sendiri. (*)

Tribun Manado 9 Mei 2012 hal 10

Pesona Wanita Minahasa...

Gadis Minahasa  dalam tarian Tetengkoren (kompas)
SAMBIL menari, Wulan menyungging senyum manis dari bibirnya yang tipis. Ia dan dua orang temannya melompat lincah, bergairah di atas panggung dengan tangan menggengam bambu kecil. Wulan, sang penari, terus memukul bambu itu hingga tarian Tetengkoren berakhir selama 10 menit.

Tarian Tetengkoren sebagai tari kreasi baru muncul dekade 1990-an, dan merupakan imajinasi perempuan Minahasa zaman dulu. Tetengkoren dalam mitologi Minahasa adalah penanda sesuatu.

Memukul Tetengkoren dapat berarti mengajak bekerja bersama (mapalus), mengisyaratkan bencana, bahkan sebagai tanda berperang.

Tahun 1801 ketika terjadi perang Tondano (Benteng Moraya), perempuan Minahasa diceritakan memukul tetengkoren membangunkan lelaki untuk berperang. Mereka berada di garis depan mengusir Belanda yang ketika itu terdesak akibat serangan Inggris.

Albert Berni Kusen, dosen Antroplogi Minahasa di Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Sam Ratulangi, menceritakan heroisme wewene (wanita) Minahasa sudah sejak lama. Pada abad 15, pemimpin masyarakat (Walak) adalah wanita.

Walak merupakan pemimpin masyarakat yang diangkat sesuai situasi dan kondisi. Walak memiliki kelebihan keberanian dan kecerdasan yang juga menjadi tokoh spiritual.

Ia merujuk nenek moyang Minahasa, seorang wanita bernama Lumimuut serta pemimpin spiritual Karema, yang mengawinkan Toar (pemuda) dan Lumimuut.

Peran perempuan yang kuat pada masa itu memberi paham bahwa Minahasa dulu menganut sistem matriarkal. Sistem itu nyaris tidak berubah bentuk pada masa pemerintahan Belanda hingga perempuan Minahasa memasuki fase modern.

"Orang Belanda menyebut style (sikap) perempuan Minahasa," kata Kusen.

Sikap hidup orang Minahasa egaliter dan demokratis, yang sejak dulu tidak membedakan pria dan wanita memberi inspirasi atas kehidupan keluarga dan masyarakatnya, termasuk ketika Maria Walanda Maramis berjuang untuk kemajuan pendidikan serta kesehatan perempuan di awal abad 20.

Nicholas Grafland, dalam bukunya berjudul Nederlandsche Zendeling Genootschap (1981), menyebut Maria sebagai salah seorang perempuan teladan Minahasa yang memiliki bakat istimewa untuk menangkap apapun juga, sekaligus mengembangkan pikiran nya.

Ia menimba pengetahuan dari bacaan berbahasa Belanda dan mengajar perempuan desa di kolong rumahnya. Maria Walanda Maramis membuka era pencapaian pendidikan para wanita Minahasa.

Dalam katalog Wanita Minahasa, tercatat sederet nama wanita yang meraih pendidikan tinggi. Sebut saja Marie Thomas, wanita dokter pertama Indonesia yang lulus sekolah Stovia tahun 1922, diikuti Anna Warouw yang meraih gelar yang sama.

Pada era itu Annie Manopo meraih gelar Doktor pertama wanita Indonesia di bidang hukum, kemudian menjadi Rektor Universitas Sumatera Utara. Pendiri Universitas Pinaesaan tahun 1958 yang kemudian menjadi Universitas Sam Ratulangi juga seorang wanita bernama Wilhelmina Nona Politton.

Di bidang politik tercatat nama Agustien Magdalena Wowuruntu yang menjadi wanita pertama yang menjabat wali kota di Indonesia ketika menjabat Wali Kota Manado tahun 1950-1951.

"Wewene Minahasa telah berprestasi saat kaum perempuan lainnya di Tanah Air berjuang melepas kungkungan tradisi," kata Kusen.

Cikal bakal pendidikan sudah ada sejak pertengahan tahun 1867, ketika wanita-wanita terkemuka Tondano membentuk Perkumpulan Wanita dan mendirikan sekolah Kepandaian Puteri di Tomohon.

Ini merupakan perkumpulan wanita pertama dengan tema memajukan kehidupan masyarakat Minahasa di mana-mana.

Kemampuan adaptasi

Berposisi sederajat dengan pria, maka wanita Minahasa juga terbiasa melakukan pekerjaan berat sehingga berakibat pada kekokohan tubuhnya serta kesehatan. Kesan atas kesegaran dan kekuatan mental tercermin pada raut mukanya. Banyak dari mereka mempunyai bentuk badan bagus.

Berjalan dan melangkah ringan, warna kulit muka terang dengan mata terbuka, bebas bertanya serta rambut tebal merupakan ciri khas. Wewene Minahasa dilukiskan Grafland sebagai perempuan lincah dan ramah. Suara dalam bercakap-cakap jelas dan terang.

Pada umumnya, mereka penurut. Akan tetapi mereka dapat menunjukan keinginannya apabila melihat perilaku menyimpang kaum lelaki.

Vivi George dari Swara Parampuang Manado mengatakan, kasus kekerasan dalam rumah tangga berawal dari sikap istri yang terang-terangan memarahi suaminya, di depan umum sekalipun. "Kekerasan terjadi saat paitua pulang malam lantas dimarahi maitua, apalagi jika pulang rumah sudah mabuk," katanya tersenyum.

Aspek penting wanita Minahasa adalah memiliki kemampuan beradaptasi secara cepat dengan lingkungan baru. Menurut Dr. Perry Rumengan, budayawan yang menulis sejumlah buku Minahasa, orang Minahasa rela meninggalkan aspek budayanya untuk memperoleh pencapaian hidup. Inilah yang dikritik Henny Palm, etnolog asal Inggris mengenai budaya Minahasa yang cepat hilang dari masyarakatnya.

Ketika Belanda masuk masyarakat belajar bahasa Belanda meninggalkan bahasa etnis. "Pakaian Maengket dipakai kaum wanita berasal dari kebaya jawa, tetapi karena dirasa bagus dipakai sebagai kostum tarian," katanya.

Kecantikan yang utuh

Meski demikian, konotasi negatif selalu mengiringi wanita sebagai perempuan gampangan. Dr. Desy Mantiri, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi mengatakan, jika betul wanita Minahasa gampangan pasti yang pertama meremehkannya adalah pria Minahasa.

"Karena itu, saya tidak sependapat dengan pengertian tersebut. Mungkin karena wanita Minahasa itu penuh inisiatif, tak mau kalah, mudah diajak bicara, murah senyum, sehingga orang salah sangka, bahkan memberi stigma negatif. Sesungguhnya setelah bergaul, wanita Minahasa akan tampil anggun dan penuh wibawa. Justru inilah kecantikan dan keindahan wanita Minahasa, yakni keterbukaannya, senyumnya yang murah, serta suka berdebat, dan tidak mau diremehkan. Jadi, kecantikannya utuh, tidak sekadar atau wajahnya yang manis," ujar Dr RAD Siwu, sosiolog dari Universitas Kristen Tomohon.

Menurut Siwu, kemampuan perempuan Minahasa tidak lepas dari kultur budaya Minahasa sendiri. Dibandingkan perempuan di Asia Tenggara maupun di sejumlah daerah di Indonesia yang banyak dipengaruhi agama Hindu, Buddha, dan Islam, perempuan Minahasa mempunyai keistimewaan tersendiri.

Perempuan Minahasa baik sebagai anak kecil, gadis ataupun perempuan dewasa dapat bergaul di dalam maupun di luar rumah. Juga di sawah, kebun, atau pun di pesta-pesta.

Dalam perkawinan, perempuan Minahasa mempunyai peran sederajat dengan kaum pria. Ini bisa dilihat dari sapaan perempuan sebagai tetendean (tempat bersandar), kasende (teman makan), siesa (belahan sebelah, teman hidup). Bahkan di era modern sekarang ini, perempuan juga bisa berperan ganda dalam menafkahi keluarga.

"Untuk mengasapi dapur, misalnya, perempuan Minahasa bahkan banyak kali harus meminjam uang di arisan supaya bisa makan tanpa diketahui oleh suami," tambah Prof Dr Manoppo Watupongoh.

Dr Ny. Manoppo-Watupongoh, dosen Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi dalam diskusi tahun 2009 mengatakan, salah satu sikap agung wanita Minahasa adalah siap tampil pahlawan bagi rumah tangganya di saat suami sakit berat, kehilangan mata pencaharian. Oleh karena itu, wanita Minahasa mau tak diremehkan oleh siapa pun juga.

Lalu bagaimana dengan perempuan Minahasa di era moderen sekarang ini? Peserta juga sepakat mengatakan, perempuan Minahasa sekarang ini banyak yang hebat. Tapi sayangnya kurang dipublikasi. Sebaliknya, yang dipublikasi adalah kejelekan. "Sesuatu yang tidak fair," katanya. (*)

Sumber: Kompas.Com

Studi Banding

ilustrasi
BUKAN suatu yang luar biasa lagi jika kita mendengar anggota parlemen di negeri ini melakukan studi banding. Studi banding seolah telah menjadi jadwal rutin para legislator baik DPR RI maupun DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Untuk legislator yang menghuni Senayan atau DPR RI pilihan studi banding umumnya ke luar negeri. Jarang nian mereka studi banding di dalam negeri. Bukan level DPR RI-lah kalau studi banding hanya di kampung sendiri.

Bunyinya baru terasa lebih berkelas kalau mereka studi banding ke Eropa, Amerika, Australia atau negara-negara maju di kawasan Asia. Meski sudah berulang kali masyarakat mengeritik studi banding DPR sekadar pelesir berbelanja yang dibiayai uang rakyat, toh kebiasaan tersebut belum juga menyusut. Malah untuk tahun anggaran 2012 ini DPR RI telah menganggarkan dana kurang lebih Rp 200 miliar untuk lawatan ke mancanegara, entah studi banding atau kunjungan kerja.

Kebiasaan di Senayan setali tiga uang dengan parlemen lokal. DPRD kota dan kabupaten di Indonesia saban tahun selalu mengagendakan perjalanan ke luar daerah. Dua agenda paling populer bagi parlemen lokal yaitu mengikuti bimbingan teknis (bimtek) dan studi banding. Bimtek bahkan bisa berlangsung lebih dari dua kali dalam setahun. Tema bimtek pun beragam. Ada bimtek tentang laporan keuangan daerah, bimtek pengawasan dan lainnya. Bimtek lazimnya berlangsung di ibu kota negara sehingga saban tahun anggota DPRD pasti jalan-jalan ke Jakarta. Jarang terjadi DPRD kota dan kabupaten menggelar bimtek di daerah sendiri.

Penyelenggaraan bimtek bagi dewan selama ini selalu bekerjasama dengan kementerian terkait di tingkat pusat, misalnya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan lainnya. DPRD kabupaten dan kota kerap tidak menyadari bahwa dengan menggelar bimtek di Jakarta maka uang miliaran bahkan triliunan rupiah akhirnya terbang lagi ke sana. Desentralisasi yang menjadi spirit otonomi daerah diakali sedemikian rupa oleh Jakarta sehingga uang daerah kembali lagi ke pusat.

Selain mengikuti bimtek agenda rutin DPRD adalah studi banding. DPRD kita memang panjang akal dan lihai. Sebagai aktor penentu dalam menetapkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), macam-macam topik studi banding yang mereka pilih. Misalnya studi banding pariwisata, studi banding tentang pengelolaan sampah dan sebagainya. Belum lama berselang anggota DPRD dari suatu provinsi di Pulau Sumatera melakukan studi banding soal kemajuan pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tentu saja kehadiran mereka di NTT menjadi lelucon yang tidak lucu. Kalau mau studi banding tentang kemajuan pariwisata mengapa bukan memilih Bali? Kesan mengada-ada agaknya sulit ditampik.

Bagaimana Sulawesi Utara (Sulut)? Studi banding ternyata juga berlaku di bumi Nyiur Melambai. Sebanyak 20 legislator DPRD Sulut terbang ke Jakarta, Rabu (2/5). Mereka yang merupakan anggota Pansus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Gubernur Sulut itu akan studi banding di Provinsi DKI Jakarta dan Banten. Mereka mau 'belajar' di Jakarta dan Banten tentang LKPj. Total dana untuk membiayai perjalanan mereka Rp 240 juta.

Tak salah kalau DPRD Sulut memilih studi banding. Itu hak mereka. Yang jadi pertanyaan apakah studi banding LKPj memang sangat urgen dan dibutuhkan sehingga wakil rakyat Sulut harus belajar ke Banten dan Jakarta? Apa benar Jakarta dan Banten dianggap lebih baik LKPj-nya? Kita tunggu pertanggungjawaban DPRD Sulut tentang hasil studi banding mereka yang membawa perubahan bagi daerah ini. Kalau pulang lalu diam-diam saja maka rakyat Sulut akan menilai seperti apa wajah mereka sesungguhnya.*

Tribun Manado 3 Mei 2012 hal 10

Sepanjang Zaman Bersama Tinutuan

Tinutuan
Awalnya Tinutuan hanya dinikmati para petani di ladang. Makanan ini kemudian berkembang di zaman sulit kala sebagian besar orang Minahasa mengungsi di bukit-bukit atau kawasan hutan karena pergolakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Kini makanan ini menjadi favorit, berkembang, bahkan menjadi ikon kota.

BERKAT Tinutuan, kawasan Wakeke di Kecamatan Wenang, Manado, menjadi situs budaya Manado. Di kawasan itu sejumlah rumah makan menyajikan menu yang disebut juga Bubur Manado.

Rumah Makan (RM) Syully, termasuk rumah makan tua yang menyediakan menu tradisional itu. Dimulai pada era 1980-an rumah makan ini tetap eksis dan ramai dikunjungi pelanggan. Kepada Tribun Manado, Yenny Ngantung, pemilik dan pengelola RM Syully, menuturkan, setiap hari bisa 150 orang yang masuk keluar untuk menyantap Bubur Manado di tempatnya. Kebanyakan pelanggan merupakan masyarakat umum.
Tinutuan atau Bubur Manado

"Ada juga beberapa pejabat Sulut yang selalu mampir kemari. Rumah makan kami sudah buka sejak pukul 5.30 sampai 15.00 Wita," kata istri Renno Pattiasina, Kamis (3/5/2012). Rumah makan itu lumayan besar. Banyak yang berpendapat Tinutuan di RM Syully rasanya sedikit berbeda dengan Tinutuan pada umumnya. "Resep kami dari orangtua," katanya tersenyum.

Rezeki dari Tinutuan juga dirasakan Desire Maitimo, pemilik RM Dego-dego. Sebagai menu utama, Tinutuan paling banyak dipesan. "Kalau lagi sepi, Tinutuan yang dipesan sekitar 60 porsi per hari. Tetapi saat weekend yaitu Jumat sampai Minggu, bisa sampai 180 porsi per hari," ujarnya.

Di rumah makan itu Desire juga menjual Midal dan Mie Cakalang, dua menu yang muncul setelah Tinutuan. Midal merupakan turunan Tinutuan atau Tinutuan bercampur mie. Midal dan Tinutuan berharga sama, Rp 10.500. "Mie Cakalang Rp 13 ribu, per hari bisa dipesan 40 sampai 130 porsi," terangnya.

Selain Tinutuan, Desire juga menyediakan makanan lainnya, seperti aneka seafood dan berbagai jenis minuman, sebagai pelengkap atau alternatif bagi pelanggan yang datang. "Tetapi yang paling banyak dikonsumsi adalah Tinutuan. Apalagi kawasan Wakeke ini sudah dikenal sebagai kawasan wisata kuliner terutama Tinutuan, sehingga masyarakat yang datang ke kawasan ini, memang karena ingin makan Tinutuan," ujarnya.

Kata dia, banyak pelanggannya berasal dari kalangan menengah ke atas yang datang dari berbagai tempat di Kota Manado, bahkan ada juga wisatawan asing maupun domestik yang sering berkunjung untuk menikmati makanan khas Minahasa itu.

"Kalangan pejabat, pengusaha, profesional, dan para pelajar yang sering hang out bersama teman-teman atau bagi mereka yang mengadakan reuni atau kumpul bersama keluarga, yang dipesan adalah tinutuan. Ada juga makan lain tetapi yang paling dominan adalah Tinutuan. Rumah makan kami juga pernah diliput oleh televisi nasional seperti TransTV dalam acara Wisata Kuliner, yang diangkat adalah Tinutuan," jelasnya

Vivi, pemilik RM Wakeke, juga mengungkapkan Tinutuan dan Midal adalah makanan favorit. Per hari biasanya ia menyajikan 50 sampai 100 porsi. "Harga per porsi Tinutuan dan Midal adalah Rp 9 ribu, karena disesuaikan dengan pelanggan kami yang biasanya dari kalangan menengah ke bawah, baik tua maupun muda. Kalau hari sibuk kerja Tinutuan dan Midal hanya 50 porsi per hari. Tapi kalau hari libur seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu, bisa mencapai 100 porsi per hari," ujarnya.(dru/jhp)

Sehat karena Gedi


BAGI orang Minahasa, Tinutuan tidak lengkap jika tidak ditambahkan daun Gedi sebagai campuran. Daun ini mempunyai fungsi sebagai penambah rasa gurih serta mengentalkan.
Selain lezat, Gedi juga kaya vitamin A, zat besi, dan serat yang baik untuk saluran pencernaan. Kolagen terkandung di dalam daun ini juga bermanfaat antioksidan dan menjaga kesehatan kulit.

Mungkin karena banyak mengandung serat sehingga menyerap kolesterol dan lemak sehingga banyak orang berpendapat bahwa sayur ini dapat membuat orang langsing dan membantu menurunkan kadar kolesterol dan hipertensi. Namun belum ada penelitian khusus tentang hal ini.
Karena daunnya banyak mengandung banyak zat kolagen yang bersifat antioksidan, maka berguna untuk merawat kesehatan kulit dan melancarkan peredaran darah. Konon kabarnya, pada suatu masa, mantan presiden Soeharto (almarhum) senang merawat sendiri tanaman ini di rumah kediamannya di Cendana. Presiden kedua RI tersebut suka makan rebusan Gedi untuk pemulihan dan perawatan kesehatannya pada masa tua.(wikipedia)

Ada di Hotel Berbintang

TAK hanya di kantin, warung atau rumah makan, Tinutuan juga mudah didapatkan di hotel berbintang. Hotel Aston Manado, misalnya, setiap hari menyediakan menu yang berbahan dasar sayur-mayur tersebut.

Dengan sedikit tambahan bumbu penyedap, Bubur Manado ala Senior Cook Aston Manado memiliki rasa khas tersendiri. Rasa kaldu dengan campuran yang tidak begitu kental dan tidak pula cair, dipastikan sangat pas dilidah.

Dewa Rai, Senior Cook Aston Manado, mengatakan, Tinutuan tersedia setiap hari. Bahkan menu tersebut merupakan satu di antara banyak menu yang dihidangkan sebagai menu sarapan.
"Kalau siangnya bisa dipesan dan kita akan langsung buat. Lebih enak dipesan langsung karena sayur yang digunakan fresh (segar) semua dan ketika dihidangkan masih panas," jelas Dewa kepada Tribun Manado, Rabu (3/5).

Supervisor CDP Aston Manado Whisnu Issandar menambahkan, peminat Tinutuan cukup banyak. Maka itu, Tinutuan akan terus dihidangkan selama permintaan masih ada. Harganya hanya Rp 31 ribu per nett yang disajikan di soflet dengan porsi lebih banyak.
Tak hanya Bubur Manado, Aston Manado juga menyediakan menu tradisional lainnya seperti Cakalang Pizza, Mie Kuah Cakalang, Mie Goreng Cakalang, Ayam Masak di Bulu, Ayam Goreng Kremes, Buntu Rica Poco-Poco, Whoel Fiest Dabu-Dabu, dan Ikan Kuah Asam (Woku). (nty)

Bahan-bahan:
- Kangkung
- Bayam
- Jagung manis
- Daun bawang
- Kemangi
- Sere
- Bumbu penyedap

Pelengkap:
- Tahu goreng
- Nike goreng
- Abon cakalang
- Sambal terasi


Angel Anatasya Sompie: Suka Tinutuan Sejak Kecil

GADIS bernama lengkap Angel Anatasya Sompie ini sudah sejak kecil suka makan Bubur Manado alias Tinutuan. Selain karena orangtuanya hobi makanan khas Sulawesi Utara itu, Angel merasa cocok dengan bahan-bahan di dalam Tinutuan.

"Ini makanan sehat. Banyak sayurnya. Makanya saya suka sekali. Bahkan hampir setiap hari sarapan Tinutuan di kantin kampus," ungkap mahasiswi semester VIII STMIK Parna Raya Manado ini, Kamis (3/5/2012).

Menurut perempuan kelahiran Manado, 25 Maret 1990, ini, Tinutuan adalah makanan favorit banyak orang Manado. "Bahkan kalau dia orang Minahasa rasanya tidak pantas dibilang orang Minahasa kalau tidak bisa makan tinutuan," ujar Angel lalu tertawa.

Kesukaannya terhadap tinutuan membuat puteri pasangan Herry Sompie dan Ivonne Luntungan ini hafal nama-nama tempat makan tinutuan yang enak. Seperti lokasi wisata kuliner khusus Tinutuan di Wakeke.

"Di kantin-kantin kampus atau kampung-kampung Tinutuan juga dimasak dan enak-enak. Soalnya, campurannya sayuran segar. Tinutuan itu enak dan sehat jadi saya selalu suka. Pokoknya Tinutuan makanan favorit saya dan Tinutuan always be the best food for me karena melancarkan pencernaan dan banyak makan sayur kan bikin kulit halus," tutur Angel lalu melemparkan senyum.(yudithrondonuwu)

Berkembang saat Permesta

Analisis DR PR Renwarin
Antropolog Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng


TINUTUAN berasal dari kata Tu'tu atau Lu'tu yang artinya masak. Tinutu artinya dimasak. Sedangkan Tinutuan artinya hal yang sudah dimasak.

Subetnis Tountemboan mengenal kata lain yang lebih dekat yaitu Peda'al yang berarti makanan kebun yang merupakan jenis pengolahan sayur. Tinutuan memang menu yang dasarnya sayur- sayuran tapi bukan sayuran umum. Sayuran yang dipakai ialah sayuran hijau.
Makanan ini pertama kali dibuat di kebun karena sayur-sayuran banyak terdapat di halaman pondok. Biasanya sayur yang ada di halaman adalah Gedi.

Kreasi untuk Tinutuan kemudian berkembang saat perang Permesta 1959-1960. Saat itu beras menjadi sedikit. Maka beras yang sedikit itu kemudian ditambah pada sayur-sayuran. Begitu pula dengan jagung jika ada. Tinutuan menjadi makanan umum karena tidak perlu waktu lama, memakai api yang kecil, dan bisa dimasak di lubang perlindungan. Saat itu bahkan ada Tinutuan Konga (dedak) memakai jagung muda yang hampir dipanen. Situasi berbahaya membuat orang kreatif dalam membuat makanan.

Pada 1968 terjadi krisis ekonomi. Jika ada istilah makan bulgur pada saat itu, Tinutuan menjadi semacam bulgur sama seperti saat Permesta.

Perkembangan lanjutannya terjadi akhir 70-an dan saat pada 80-an. Saat itu mie instan mulai dikenal di pasaran. Para pegawai kota mulai makan dengan model branch (breakfast and lunch). Artinya, mereka makan sekitar pukul 10.00 karena tidak makan pagi dan sudah tidak makan siang lagi karena pulang pada sore hari. Saat itu mie sudah mulai dicampur dalam Tinutuan. Konsepnya sama dengan Tinutuan dengan nasi. Nasi itu karbohidrat. Mie mengantikan nasi sebagai karbohidrat. Campuran itu kemudian dikenal dengan nama Midal. Ada yang mengatakan itu gabungan dua kata yaitu mie dan pedal (sayur). Ada juga yang memopulerkan gabungan kata mie dan rudal. Saat itu rudal dikenal dalam Perang Irak. Itu menjadi istilah karena Tinutuan itu panas dan dimakan cepat-cepat.

Orang Manado di luar Manado menanam Gedi di halaman rumah bahkan di pot. Mereka membuat Tinutuan untuk bernostalgia. Merekalah yang kemudian menamakan Tinutuan sebagai Bubur Manado. Ini untuk membedakan dengan bubur biasa yang sudah umum.
Sekarang Tinutuan menjadi makanan piknik dan makanan nostalgia bagi orang Manado. Kebiasaan lama pegawai rendahan untuk makan walaupun bukan di warung resmi tetap ada. Orang luar menyantap makanan ini karena memang enak dan karena unsur rekreatif tadi. Sedangkan bagi orang yang menderita banyak penyakit, makanan ini cocok karena menu yang sehat. Makanan ini akan tetap eksis dan berkembang karena faktor-faktor tersebut.(dma)

Liputan Khusus Tribun Manado, Jumat 4 Mei 2012 hal 6
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes