Kekalahan yang Heroik

Turki kalah, tapi kalah dengan terhormat. Tanpa beberapa pemain intinya, mereka tetap bermain dengan cemerlang dan terus-menerus membuat kalang kabut Jerman.

Seperti sudah diduga oleh Joachim Loew, malam itu Turki memainkan bola yang sama sekali tak bisa diduga. Permainan Turki digerakkan oleh emosi yang menjilat-jilat. Tapi, mereka tak terbakar oleh emosi itu. Malahan dengan dingin rasio mereka mengendalikan permainan.

Kendati demikian, permainan mereka tak pernah terikat pada struktur rasional yang sistematis dan kaku. Kata Loew, prinsip permainan mereka selalu berubah. Anak-anak Turki selalu pandai menciptakan ruang, kebebasan, dan kreativitas.

Menghadapi Turki malam itu, Jerman benar-benar kewalahan. ”Kaki kami rasanya sulit bergerak,” kata kapten Michael Ballack, yang malam itu tak banyak berkutik. ”Turki terus mendapat angin. Mereka sungguh membuat hidup kami sulit,” aku Philipp Lahm.

Turki memang bermain hebat. Pemainnya seperti tukang sulap. Mereka bermain dari trik satu ke trik lainnya. Betapa pemain Jerman mudah terkelabui oleh trik-trik itu, sampai akhirnya trik itu berubah menjadi gol yang diceploskan Ugur Boral.

Kehebatan Turki tentu tak terlepas dari pelatihnya, Fatih Terim. ”Ia bisa memberikan motivasi luar biasa kepada kami. Ia membuat kami berkobar-kobar. Ia bilang, kami semua kuat. Ia seperti bapak bagi kami. Ia adalah pelatih terbaik yang pernah saya miliki,” kata Semih Senturk.

Terim memang jago dalam menyuntikkan motivasi. Para pemainnya meyakini kata-katanya, seperti para penganut agama meyakini iman yang dikhotbahkan oleh dai atau ustadznya. ”Kami tak mempunyai ketakutan untuk kalah dan kami takkan pernah menyerah,” kata Hamit Altintop.

Pantang menyerah, itulah doktrin sepak bola Terim. Maka, walau banyak pemain inti cedera atau terkena akumulasi kartu, Terim tetap bertekad menang. ”Cedera bukan alasan untuk minta maaf jika kami kalah,” katanya.

Terim hanyalah anak pedagang kecil. Masa kecilnya banyak ia lewatkan di jalanan dengan bermain bola. Maka, ketika kemudian menjadi Pelatih Turki, ia dijuluki ”Imparator Jalanan”. Pantas jika beberapa pengalaman keras dan sifat ”jalanan” itu kemudian memengaruhi alam bolanya. Itu tampak, misalnya, dalam kehendak kuat untuk menang, intuisi mengambil keputusan yang benar, dan tak takut bermain liar.

Di samping itu semua, Terim juga berjiwa patriotik. ”Saya menentang eropanisasi. Eropanisasi dalam segala aspek bukanlah suatu modernisasi. Kita harus pandai memilih dan mengambil, mana yang baik dan indah bagi kami,” kata Terim.

Rindu untuk memiliki identitas yang asli itu juga ditunjukkan Altintop. Altintop lahir dan dibesarkan di Gelsenkirche, Jerman. Toh, ia memutuskan membela Turki. ”Saya tidak berhenti menjadi Turki, tak peduli di negara mana saya hidup. Karena itu, saya memutuskan bermain di timnas Turki,” kata Altintop.

Masalah Altintop dan juga Hakan Balta, yang dilahirkan di Berlin, memang sempat menimbulkan polemik politik. Politikus perempuan dari Partai Hijau, Claudia Roth, mempertanyakan, bagaimana mungkin pemain seperti Altintop dan Balta tidak masuk dalam kader timnas Jerman, padahal mereka dilahirkan dan dibesarkan di Jerman. ”Sekali lagi ini menunjukkan bahwa politik integrasi di Jerman tidaklah berfungsi,” kata Roth.

Masalah tersebut memang patut dipertanyakan. Soalnya, dalam timnas Jerman juga terdapat pemain yang tidak murni Jerman, seperti Miroslav Klose dan Lukas Podolski, yang berasal dari Polandia. Mengapa pemain yang berdarah Turki dan dilahirkan serta besar di Jerman sampai sekarang belum pernah main untuk timnas Jerman?

Syukurlah, masalah perbedaan ras ini tidak merebak sampai ke dalam dunia sepak bola. Sejak tahun 1998, Turki sendiri malah membentuk tim pemandu bakat, yang bertugas mencari pemain-pemain berbakat berdarah Turki yang bermain di liga Eropa. Semboyan tim ini dirumuskan Erdal Keser, profil berdarah Turki yang pernah merumput di Bundes Liga. Semboyan tersebut berbunyi, ”Disiplin dan Hati—Kami mesti memadukan apa yang terbaik dari kedua kultur.”

Itulah sepak bola. Kendati tiap kesebelasan nasional mempunyai ciri khas, identitas, dan rasa nasionalisme, mereka tetap hanya mempunyai satu bahasa, yakni bahasa bola. Bahasa bola itu hanya bisa mempersatukan, tak pernah memecahkan. Betapa pun pertandingan Jerman melawan Turki kemarin sarat dengan emosi nasionalisme dan perbedaan identitas, toh pertandingan itu berjalan dengan damai dan fair karena masing-masing memakai satu-satunya bahasa, yakni bahasa bola.

”Kedamaian dan kesatuan itu adalah warna dari kehidupan. Namun, betapa jarang kita menemui hal demikian dalam kehidupan. Hanya bola yang bisa memberikannya. Karena itu, bagaimana saya bisa tidak mencintai bola,” kata penulis roman Turki, Mario Levi. Memang, alangkah indahnya jika dunia yang penuh persaingan dan perbedaan ini bisa hidup damai seperti dalam dunia sepak bola.  (Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com

Saatnya Telah Tiba

Dua puluh tahun lalu, piala kejuaraan sepak bola Eropa 1988 diboyong oleh Van Basten dan kawan- kawannya ke Belanda. Agar para pencinta bola bisa ikut merasakan kegembiraan itu, KNVB, PSSI-nya Belanda, mengelilingkan piala tersebut ke kota-kota yang mempunyai kesebelasan amatir.

Waktu itu Rafael van der Vaart masih kanak-kanak. Di kotanya ada kesebelasan amatir, De Kennermers. Klub ini juga diberi kesempatan berfoto bersama dengan piala, lambang supremasi sepak bola Eropa 1988, itu.

”Rafael sangat merindukan kedatangan hari itu. Sayang, persis hari itu tiba, ia sakit. Panitia tahu kekecewaan kami. Maka, syukur di ujung hari, piala itu diampirkan ke rumah kami. Akhirnya, kerinduan Rafael kesampaian, ia berfoto dengan piala kebanggaan itu,” tutur Ramon van der Vaart, ayah Rafael van der Vaart.

Cinta yang mendalam terhadap kesebelasan Oranye sudah tertanam di hati Rafael sejak ia kecil. Tahun 1988, semua duel tim Oranye diikutinya. Ia bahkan melek sampai jauh malam ketika Belanda menjungkirkan Jerman di semifinal.

”Dengan cara dan paksaan apa pun, ia tak mau disuruh tidur,” kata ayahnya. Kekaguman itu tinggal padanya, juga setelah turnamen selesai. ”Pertandingan Belanda-Jerman saya rekam dalam video. Setengah tahun lamanya, Rafael memutar terus video itu setiap malam,” tutur Ramon van der Vaart lagi.

Seperti Rafael van der Vaart, Dirk Kuyt juga mempunyai kenangan manis akan saat itu. Sebagai anak, semula ia hampir tidak mengerti mengapa tiba-tiba kota Amsterdam pecah dalam kegembiraan. Begitu ia tahu itu karena Belanda juara, ia pun ikut bergembira.

”Saya melihat semua pertandingan di rumah. Habis pertandingan, saya terus bermain bola di pelataran. Saya tergila-gila akan Gullit dengan rambut rastanya. Maka, saya bahagia ketika akhirnya ia melatih saya di Feyenoord,” kenang Kuyt.

Kenangan manis tak hanya ada pada Van der Vaart atau Kuyt, tetapi juga pada semua pemain Belanda. Kenangan itu terbawa 20 tahun lamanya. Karena itu, Piala Eropa 2008 ini rasanya adalah saat yang tepat untuk mewujudkan impian masa kecil mereka, yakni menjadi seperti Van Basten atau Gullit, yang dua puluh tahun lalu memboyong Piala Eropa ke Belanda.

”Kami mempunyai kualitas untuk melakukan yang spesial. Kami akan melihat apa yang terjadi. Perebutan kejuaraan kali ini memang keras. Tetapi, kami yakin, kami akan meraihnya,” kata Dirk Kuyt. Kuyt yakin akan sampai ke tujuan karena ia merasa kali ini Belanda sungguh kuat dan menyatu sebagai tim.

Een doel, een gevoel, samen zijn we Oranye, satu tujuan, satu hati, bersama-sama kita adalah Oranye, memang itulah semboyan kesatuan kesebelasan Belanda kali ini. Tetapi, ingatlah, tak semua warga bola Belanda seoptimistis itu. Salah satunya adalah Ronald de Boer, mantan pemain Oranye sendiri.

Menurut De Boer, sejak tahun 1988, kesebelasan Belanda seakan kehilangan keinginan untuk menang. Keinginan itu seharusnya memenuhi jiwa maupun raga setiap pemain. De Boer memberi contoh mata para pemain Brasil. Mata mereka seakan selalu siap meneteskan air mata kebanggaan bila mereka boleh membela negaranya.

Lain dengan pemain-pemain Belanda. ”Kami terlalu dingin untuk bisa mempunyai mata seperti mereka,” kata De Boer.

Menurut De Boer, boleh jadi karena pemain-pemain Belanda berasal dari situasi serba kecukupan. ”Pemain yang berasal dari negara berkekurangan, seperti pemain Amerika Latin, tampaknya bisa lebih mempunyai kebanggaan nasional,” sambungnya.

Lebih daripada De Boer, malah ada yang mengatakan, tim Belanda kali ini sangatlah misterius. Tak diketahui apakah sistem sepak bola yang mereka pakai? Ruud van Nistelrooy sendiri bilang, mereka sudah meninggalkan sistem total football. Soalnya, terbukti selama ini mereka tak pernah menang dengan sistem itu. Tapi, kalau tidak total football, lalu sistem apa, ia pun tidak bisa menerangkannya.

Dalam uji coba melawan Austria, Belanda ketinggalan terlebih dahulu dengan skor 0-3, baru kemudian menang dengan 4-3. Pers Belanda menyebut pertandingan itu sebagai ”parodi kesebelasan unggulan”. Jelas hasil itu menambah teka-teki terhadap kesebelasan Belanda.

Sementara Van Basten dikritik tak terlalu otonom sebagai pelatih. Disinyalir, ia banyak bergantung pada legendaris Belanda, Johann Cruijff. Belakangan Cruijff membantah. ”Marco punya akal cukup untuk melihat siapa-siapa yang harus menjadi pemain dalam kesebelasannya,” kata Cruijff. Memang terlalu riskan jika Van Basten sendiri tidak mempunyai kendali langsung terhadap kesebelasannya.

Esok dini hari, Belanda akan mulai menerjuni grup neraka. Juara dunia Italia segera siap menghadang impian mereka. ”Empat puluh tahun lamanya kami ingin merebut kejuaraan di Eropa. Sekarang saatnya kami membawa piala ke rumah,” kata Andrea Pirlo. Kerinduan itu tentu menstimulasi Italia untuk merobohkan lawannya begitu kesempatan pertama tiba. (Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com

Tergulingnya Raksasa Tradisional

Kembang api bersemburat indah di langit Stadion Vienna. Michael Ballack terduduk lesu tak berdaya. Wajahnya murung menyelimuti duka. Bekas darah masih tersisa di pelipisnya. Darah yang seakan sia-sia tertumpah karena akhirnya dalam pertandingan final itu dia kalah. Matanya menerawang jauh, memandang aneka bunga-bunga api, yang bertaburan di angkasa untuk menghormati sang juara. Ia melihat kapten lawan, Iker Casillas, mengangkat tinggi-tinggi piala juara. Alangkah bahagianya andaikan ia yang juga kapten boleh mengangkat piala itu.

”Kami sudah sampai di final, tapi kami kalah. Tentu kami kecewa luar biasa,” kata Ballack. Ballack adalah seorang lelaki yang kuat. Tapi ia pernah berkata, ”Dalam hal bola, seorang lelaki juga bisa menangis.” Malam itu tidak hanya dia yang menangis. Orang-orang Jerman juga menangis bersamanya.

Ballack adalah tumpuan utama kesebelasan Jerman. Menurut Franz Beckenbauer, Ballack-lah yang membedakan Jerman dari Spanyol. Spanyol memang tim hebat. ”Tapi mereka tidak mempunyai chef di lapangan. Ya, Spanyol tidak memiliki kapten yang tangguh,” kata Beckenbauer.

Waktu Jerman melawan Portugal, Ballack menunjukkan, dia adalah chef yang sesungguhnya. ”Ballack seakan hendak mengatakan, siapa hendak mengalahkan Jerman, dia harus terlebih dahulu mengalahkan saya,” kata Beckenbauer lagi.

Beckenbauer berharap agar Ballack bisa memahkotai prestasinya dengan menjadi juara di Vienna. Ternyata Ballack tampil bukan sebagai calon juara. Sama sekali tak tampak ia adalah chef lapangan tengah. Malah sering kali ia hanya marah-marah.

Di malam final itu, Jerman di bawah Ballack memang tak pantas menjadi juara. Komentator sepak bola Jerman sendiri pun mengakui, Jerman belum masak menjadi juara. Komentator-komentator luar mengkritik, Jerman selayaknya kalah.

”Jerman telah melempar handuk. Jerman jauh di bawah Spanyol. Jerman seperti kesebelasan anak-anak sekolah yang harus bermain melawan kesebelasan bernama Spanyol,” kata Giovanne Elber, mantan pemain Stuttgart yang sekarang menjadi komentator televisi di Brasil.

Jerman adalah langganan juara. Itu karena mereka mempunyai keutamaan-keutamaan dasar sepak bola yang tradisional, seperti mentalitas yang kuat, disiplin yang tinggi, pantang menyerah. Belum lagi mereka terkenal mempunyai fisik yang kuat. Semuanya itu ternyata tidak cukup, ketika mereka harus menghadapi Spanyol yang bermain dengan begitu modern dan dengan intelegensi dan teknik yang tinggi. Belum lagi, Spanyol menunjukkan sepak bola bukan lagi permainan individu, tapi permainan tim. Memang Spanyol telah meninggalkan gaya permainan matadornya yang individual dan beralih ke permainan yang mengandalkan kekompakan tim.

Perubahan ini terkait dengan sejarah sport di Spanyol sendiri. Di bawah diktator Franco, individualitas amatlah dipentingkan. Tak mengherankan bila dalam kurun selanjutnya, Spanyol berjaya dalam olahraga individual, seperti tenis, formula 1, dan balap sepeda. Baru akhir- akhir ini Spanyol juga berjaya di bidang olahraga beregu, seperti bola tangan, basket, dan hoki.

”Perubahan itu terjadi sebagai akibat dari sebuah modernisasi masyarakat,” kata pelatih basket Spanyol, Pepu Hernandez. Perubahan itu juga merambat ke sepak bola. Tim Spanyol di bawah Luis Aragones jelas memperlihatkan, sepak bola modern hanya bisa dimainkan dalam kebersamaan.

Pengabdian kepada tim inilah yang membuat sepak bola Spanyol menjadi indah. Mereka bermain dengan passing pendek dan jeli. Tempo permainan juga berubah-ubah, cepat, lambat, dan kemudian jadi cepat lagi. Mereka seakan memainkan sepak bola Brasil yang lambat, tapi indah, sekaligus memadukannya dengan kecepatan yang dituntut sepak bola modern.

Sergio Ramos dan kawan-kawannya bermain tegas dan lugas. Tapi, tak ada kesan kekerasan militerisme dalam setiap gerak mereka. Malah mereka menampakkan suatu romantisme sepak bola yang indah. Betapa eloknya passing Xavi. Dengan permainan demikian, Jerman yang mengandalkan keutamaan sepak bola klasik ternyata dibuat kalang kabut tak karu-karuan.

Sepak bola adalah cermin dari dinamika masyarakat. Dari sepak bola Spanyol kita boleh menarik refleksi untuk kehidupan bermasyarakat kita. Dalam abad modern ini tak cukuplah bila kita membangun diri dengan berpegang pada keutamaan lama, yang berasal dari nilai-nilai klasik dan tradisional kita.

Kita masih harus terus mencari intelegensi, trik, teknik, dan taktik baru, yang mungkin tak ada sambungannya sama sekali dengan keutamaan dan nilai-nilai lama kita. Dan, itu harus kita cari bukan secara individual, tapi dalam kebersamaan. Hanya dengan demikian kita akan menjadi seperti Spanyol modern yang sanggup menggulingkan raksasa tradisional Jerman.
(Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com

Daya Hidup dalam Krisis

Dalam peringkat FIFA, Italia berada di urutan ketiga setelah Brasil dan Argentina. Artinya, Italia adalah nomor satu di Eropa. Menjelang Piala Eropa 2008, dalam peringkat UEFA, Italia juga nomor satu.

Italia memang hebat. Hanya pada tahun 1970 mereka ditekuk Brasil di bawah Pele, 1-4. Setelah itu, hampir 40 tahun lamanya, Italia tidak pernah menderita kekalahan dengan selisih skor tiga. Malah melawan Belanda, sejak 1978, mereka tidak pernah kalah.

Maka ketika digasak Belanda dengan skor 0-3, Italia seakan kehilangan dirinya. Peristiwa memalukan ini tidak hanya diderita ”Squadra Azzurra”, tetapi juga oleh rakyat Italia. ”Squadra Azzurra telah melukai hati orang-orang Italia,” tulis koran-koran Italia hampir senada.

Kekalahan itu nyaris seperti sebuah kematian. Namun tidak lama kemudian, Italia ternyata berhasil menggebuk Perancis dan lolos ke perempat final. Rakyat Italia pun meledak dalam harapan. Koran La Repubblica menulis, kemenangan itu adalah kebangkitan dari mereka yang sebelumnya disabdakan telah mati. Dan La Gazzetta dello Sport berkomentar, ”Grazie Azzuri, sungguh sebuah mukjizat, kami berada kembali di firdaus.”

Betapa singkat jarak antara kematian dan kebangkitan, antara neraka dan surga. Hanya 90 menit! Itulah melankoli orang-orang Italia. Hanya kemenangan anak kesayangan mereka, Squadra Azzurra, yang dengan cepat membangkitkan mereka dari kematian menuju kebangkitan.

Krisis ternyata penting bagi kesebelasan Italia. Kolumnis La Gazzetta dello Sport, Fabio Licari, menulis, Squadra Azzurra dapat merebut juara bila terimpit krisis.

Dari krisis ke krisis

Menjelang Piala Dunia 2006, sepak bola Italia geger karena skandal penyuapan dan pengaturan skor pertandingan. Pelatih Marcello Lippi beserta dua pemainnya, Gianluigi Buffon dan Fabio Cannavaro, dituntut mundur. Kendati atau malah justru karena krisis-krisis tersebut, Italia akhirnya juara dunia.

Mendekati Piala Eropa 2008, Licari khawatir jangan-jangan Italia tak bakal jadi juara. Soalnya, hampir tak ada satu krisis pun yang mendera mereka. Semuanya berjalan mulus.

Tiba-tiba mereka terpukul karena Fabio Cannavaro cedera. ”Kami kehilangan pemimpin di lapangan,” kata Daniele De Rossi. Memang kehadiran Cannavaro amatlah vital. Dia tidak hanya pembela pertahanan yang tangguh, tetapi juga dirigen yang mengarahkan permainan.

Itulah krisis pertama yang mendatangi Italia. Berikutnya datang lagi krisis, ketika oleh Belanda prestasi kejayaan mereka dicoret dari sejarah dan mereka dilumat 0-3. Kemudian Italia bermain dengan amat pas-pasan ketika ditahan imbang Romania, 1-1.

Syukurlah akhirnya krisis itu tiba. Hal ini karena krisis tersebut justru memberi daya hidup bagi mereka. ”Kekalahan membuat kita kuat”, itulah dogma sepak bola Italia, yang terus diajarkan Pelatih Italia Roberto Donadoni setelah Italia terbenam dalam krisis. Dogma itu ternyata benar. Italia mengirim Perancis ke jurang kehancuran, 2-0.

”Ini semuanya hanya permulaan,” kata bek Gianluca Zambrotta. Artinya, baru sekarang Italia menunjukkan siapa sebenarnya mereka. Dan bagi fans Italia, mereka adalah juara dunia. Maka, jalan ke arah juara pun mulai kelihatan rata. Luca Toni mengatakan, Italia telah memperoleh kembali roh kejuaraan dunia 2006. ”Kita kembali hadir, dan sekarang kita pun akan melewati sampai jalan ini berakhir,” ujarnya. Akhir jalan itu jelas: final di Vienna, 29 Juni nanti.

Kiranya duel di Vienna nanti memang tidak mudah bagi Spanyol. Namun jika tidak menang sekarang, lalu kapan lagi? Spanyol adalah negara dengan klub-klub raksasa bola, seperti Real Madrid dan Barcelona. Namun 44 tahun lamanya, sejak Piala Eropa 1964, Spanyol belum pernah meraih juara apa pun. Malah sejak 1984, mereka belum pernah lolos dari perempat final pada kancah internasional.

”Kita mesti melupakan masa lalu,” kata Pelatih Spanyol Luis Aragones. Memang, kalau tidak, mereka akan terjerat takdir yang tidak pernah menjadikan mereka juara. ”Inilah saat datangnya kebenaran,” kata Xabi Alonso.

Toh Alonso sempat berkata, ”Italia selalu mempunyai problem pada babak awal, tetapi kemudian mereka selalu menjadi lebih baik.” Tampak Alonso masih juga diliputi keraguan. Ia seakan belum sepenuhnya yakin bahwa kesebelasannya bisa melawan takdir sejarah. (Oleh Sindhunata, wartawan pencinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Keajaiban Membutuhkan Waktu

Sepak bola bukan sekadar permainan keras. Sepak bola juga bagian dari alam rasa. Tak heran jika sepak bola bisa bersentuhan dengan musik. Malahan mungkin musik bisa memberikan inspirasi pada permainan sepak bola.

Bukan rahasia, pemain bola dunia suka mendengarkan musik sebelum pertandingan. Itu terjadi juga pada pemain kesebelasan Belanda. Di antara mereka, Wesley Sneijder dikenal sebagai disc jockey (DJ) yang mempersiapkan musik dari iPod-nya.

Musik itu kemudian diperdengarkan lewat pengeras suara sehingga bisa dinikmati kawan-kawannya. ”Saya sudah minta izin kepada trainer, dan ia setuju. Pada tiga pertandingan internasional, kami sudah mencobanya. Ternyata musik itu memberi atmosfer yang baik bagi kami,” ujar Sneijder.

Guus Hiddink juga suka musik. Menjelang pertandingan melawan Yunani, setelah kalah telak dari Spanyol, Hiddink dan anak-anaknya berada di kota Salzburg, kota musikus besar Wolfgang Amadeus Mozart.

Teringat Mozart, Hiddink langsung terinspirasi oleh bahasa musik untuk melukiskan kekalahan timnya. ”Melawan Spanyol, sebenarnya kami memainkan musik yang indah. Namun, akhirnya kami terbenam karena memainkan nada-nada yang sumbang,” katanya.

Mozart ternyata juga menjadi inspirasi luar biasa bagi pelatih sekaliber Giovanni Trapattoni, yang sekarang melatih Irlandia. ”Siapa mendengarkan Mozart, dia akan bermain bola dengan lebih baik,” kata Trapattoni.

Menurut Trapattoni, dari musik klasik, seperti musik Mozart, pemain bola bisa belajar banyak tentang tempo, irama, dan struktur permainan. Juga tentang bagaimana permainan harus dikendurkan, kemudian dikencangkan lagi. ”Orang akan belajar logika untuk membaca permainan. Saya sendiri percaya, lewat musik, saya tumbuh menjadi pemain bola sekaligus manusia,” katanya.

Trapattoni menyayangkan, sekarang pemain muda tak menyukai musik klasik. Pendapat itu kiranya tidak seluruhnya benar. Kalangan muda juga mencintai musik walau bukan musik klasik. Contohnya adalah Pelatih Kroasia Slaven Bilic.

Bilic, pelatih termuda dalam Piala Eropa 2008, tidak hanya penggemar, tetapi juga pemain musik. Ia adalah gitaris band metal Rawbau. Bilic memang juga seorang roker, yang dikenal amat berapi-api bila memainkan gitarnya.

Bilic amat mengagumi roker Marko Perkovic. Di negerinya, Perkovic—yang nama artisnya adalah Thompson—dikenal sebagai roker berhaluan kanan. Salah satu lagu ciptaan Thompson yang digemari Bilic adalah Lijepa Li Si, yang artinya betapa indah dirimu. Lirik lagu ini berkisah tentang romantisme cinta akan tanah air.

Setelah melawan Austria, pemain-pemain Kroasia tertunduk dan murung. Mereka kelihatan tidak puas karena hanya menang 1-0. ”Menyanyilah,” perintah Bilic. Dan, mereka pun menyanyikan lagu kecintaan akan tanah air ciptaan Thompson. ”Lijepa Li Si adalah lagu indah, kami dan fans Kroasia suka menyanyikannya,” katanya.

Bilic adalah pelatih berjiwa muda. Ia bertato dan memakai anting-anting. Ia yakin memiliki otoritas alami.

”Untuk menunjukkan otoritas itu, saya tidak perlu gembar- gembor bahwa saya adalah bos dan lainnya harus tutup mulut serta menurut. Bagi saya, otoritas adalah pengetahuan, tak lebih tak kurang,” katanya.

Selain sebagai orang bola dan roker, Bilic juga orang yang berjiwa patriotik. Ia pernah bilang, pemain bola ibarat serdadu yang bertempur untuk negaranya. ”Sekarang pun saya tahu bahwa negara membutuhkan saya,” katanya.

Sabtu dini hari WIB nanti, Bilic dan anak-anaknya perlu berhati-hati karena pemain-pemain Turki pun siap bertempur membela negaranya. Memang begitu menggulung Ceko dengan amat mengejutkan, nasionalisme Turki pun ikut bangkit.

Harian Turki, Milliyet, menyebut kemenangan fantastis itu sebagai ”lagu kepahlawanan”. Dan beginilah tulis koran setempat, Türkspor, ”Ibumu telah melahirkan kalian untuk hari semegah ini. Pantas bila orang mendirikan tugu peringatan untuk kalian. Permainan kalian akan menjadi isi sejarah. Tentangnya kami akan bercerita kepada anak cucu. Allah akan meratakan jalan kalian ke final.”

Kemenangan Turki memang luar biasa. Pelatih Denmark Sepp Piontek, yang pernah mengarsiteki Turki pada awal tahun 1990-an, memuji habis kehebatan mereka. Waktu itu Piontek dibantu asisten Fatih Terim, pelatih Turki sekarang. ”Dulu pemain Turki selalu menyongsong pertandingan dengan penuh semangat. Namun, begitu ketinggalan, mereka langsung patah semangat,” ujar Piontek.

Kondisi berubah. Dalam Piala Eropa ini, dua kali mereka ketinggalan dan dua kali pula mereka menyusul dengan mengejutkan. Malah mereka menggilas Ceko dengan begitu mengenaskan. ”Pemain Turki telah membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin,” kata Piontek.

Terim adalah pengagum Piontek. Di kantornya, di Istanbul, terpancang tulisan yang menjadi moto Piontek 20 tahun lalu, ”Tak ada yang tidak mungkin. Keajaiban membutuhkan waktu.” Bagi Turki, waktu itu telah datang. Dan mungkin datang lagi kalau nanti mereka bisa menggulung Kroasia. (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Universalisme Sepak Bola

Akhirnya sportlah yang menang! Itulah kata-kata bijak yang pernah diucapkan Guus Hiddink. Kata-kata ini seakan sebuah ramalan. Rusia adalah underdog. Namun, jika mereka dapat bermain bola dengan cemerlang, akhirnya merekalah yang menang. Sebaliknya, betapapun Belanda bertabur bintang, jika bermain dengan jelek, mereka pun terusir pulang.

Bagi Hiddink, bola sebagai sport memang berdiri di atas segalanya. Di atas nasib, bahkan di atas nasionalisme. Siapa ingin menang karena percaya kepada nasib atau keberuntungan, ia akan ditekuk oleh mereka yang memainkan bola dengan gemilang.

Sport menuntut profesionalisme dan fairness total. Dan Hiddink rela disebut pengkhianat kepada negaranya, Belanda, jika itu dilakukannya demi nilai profesionalisme dan fairness yang dituntut oleh sport.

Belakangan Hiddink menarik kembali kata pengkhianat itu. ”Pengkhianat adalah kata yang jelek. Kata itu tidak ada dalam kamus saya. Pers yang melontarkan kata itu, dan saya terperangkap, lalu keluarlah kata pengkhianat itu dari mulut saya,” katanya.

Apa pun halnya, pendirian Hiddink kiranya sesuai dengan prinsip bahwa profesionalisme, fairness, dan sportivitas adalah nilai-nilai universal yang tidak boleh dikorbankan dalam situasi apa pun, termasuk ketika seorang dituntut untuk berempati kepada nasib bangsanya.

Nilai-nilai universal itu tak pernah menghancurkan nasionalisme. Nilai-nilai itu malah mengembangkan dan membuat nasionalisme lebih terbuka dan dewasa. Dari kasus ”pengkhianatan Hiddink”, kiranya kita boleh menarik paralel untuk memahami nasionalisme politik.

Nasionalisme yang dewasa adalah nasionalisme yang terbuka, khususnya terhadap tuntutan hak-hak asasi yang universal. Kita akan membuat nasionalisme kita kerdil dan kekanak-kanakan jika demi nasionalisme kita ”mengkhianati” tuntutan hak asasi yang universal.

Ke Rusia sendiri, Hiddink membawa nilai-nilai sepak bola yang sebelumnya tidak ada di sana. Anehnya, nilai-nilai dari luar itu tidak meniadakan sepak bola Rusia, tetapi malah memberi wajah nasional bagi persepakbolaan di sana.

Asisten Hiddink, Igor Kornejev, bilang, ”Guus telah mengubah pikiran dunia sepak bola Rusia.” Sebelumnya, para pemain Rusia tidak mempunyai respek terhadap kesebelasan nasional. Mereka lebih mencintai klub-klub mereka sendiri. ”Organisasi sepak bola nasional kacau-balau. Sekarang iklimnya berubah. Para pemain suka bermain untuk kesebelasan nasional,” kata Kornejev.

Menurut Kornejev, sepak bola Rusia telah kehilangan satu generasi pemain. Soalnya, sepak bola mereka banyak dikuasai pemain asing. Tahun 2006, misalnya, Spartak Moskwa pernah hanya memainkan dua pemain Rusia di lapangan. Dalam situasi ini, pemain Rusia yang berusia 18-22 tahun hampir tak mempunyai kesempatan untuk berkembang.

Hiddink membuat master plan, di tahun-tahun mendatang pemain asing harus dikurangi. Tahun 2010, setiap klub direncanakan hanya boleh mempunyai empat pemain asing. Pendeknya, ia berusaha agar sepak bola Rusia kembali memiliki wajah Rusia sendiri.

Rencana ini mendapat sambutan positif. Bahkan, mantan Presiden Vladimir Putin juga ikut menyokongnya. Klub-klub setempat dibenahi dan diperkuat. Salah satu contohnya adalah klub Zenit St Petersburg. Gasprom Company, perusahaan yang menguasai 85 persen produksi gas alam nasional, sanggup menjadi tulang punggung finansial bagi klub yang diasuh oleh Pelatih Belanda Dick Advocaat itu. Upaya itu sudah memetik hasil: Zenit keluar sebagai juara Piala UEFA tahun ini.

”Akan datang waktunya, pemain-pemain hebat Rusia tidak akan merumput lagi di Italia, Inggris, atau Prancis, tetapi di Rusia sendiri,” kata Advocaat meramal. Ramalan ini berarti, klub-klub sepak bola Rusia akan makin otonom. Liga yang otonom pasti juga akan memberikan sumbangan besar bagi kokohnya kesebelasan nasional.

Tidak usah menunggu nanti, sekarang pun liga sepak bola Rusia sudah memberi sumbangan yang amat berarti bagi kesebelasan nasional. Hampir semua pemain Rusia untuk Piala Eropa kali ini datang dari klub-klub setempat sendiri.

”Lihatlah nama-nama pemain Rusia dan lihatlah pula klub asalnya. Siapa yang berpengalaman main di Liga Champions? Dibandingkan dengan pemain Belanda, kami bukan apa-apanya,” kata Hiddink sebelum pertandingan melawan Belanda.

Ternyata anak-anak Hiddink bermain jauh lebih baik daripada Belanda. Di samping mengetengahkan power football, mereka juga memainkan bola dengan enteng dan lincah. Mereka membangun rantai pertahanan yang tak tergoyahkan, mampu merebut permainan di lapangan tengah, dan cepat mementahkan serangan lawan. Lebih dari itu, mereka bermain dengan amat gembira.

Semua itu adalah permainan yang asli Belanda. Maka ada yang bilang: jika Belanda berkaca, mereka akan melihat Rusia. Ya, Hiddink adalah pelatih Belanda. Pasti ia telah memfotokopi permainan Belanda bagi Rusia. Ternyata fotokopi ini malah lebih baik dari aslinya. (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Kenangan akan Cordoba

Tahun 1978 di Stadion Cordoba. Waktu itu Josef Hickersberger, Hans Krankl, dan timnya membela Austria menghadapi Jerman Barat pada babak kedua Piala Dunia di Argentina. Pertandingan ini memang tidak menentukan bagi Austria. Menang atau kalah, mereka tersingkir.

Toh Austria memberikan perlawanan mati-matian. Semula perlawanan ini kelihatan sia-sia. Gawang mereka jebol oleh Karl-Heinz Rummenige. Untung, Berti Vogts melakukan gol bunuh diri. Skor jadi 1-1. Krankl berhasil menambah kemenangan Austria, tetapi tak lama kemudian pemain Jerman, Bernd Hoelzenbein, berhasil menyamakan kedudukan, 2-2. Pertandingan tinggal dua menit, dan gawang Sepp Maier pun jebol oleh tembakan Krankl. Skor 3-2 untuk Austria.

Kegembiraan meledak sampai ke seluruh pelosok Austria. Sampai saat ini warga Austria masih mengingat suara penyiar radio Edi Finger yang melaporkan terjadinya gol itu dari pinggir lapangan: ”Krankl datang, ia menusuk ke daerah berbahaya… dan ia menembak… Goool, gool, gool, gool! Luar biasa, saya seakan gila rasanya. Krankl menembak, dan 3-2 untuk Austria, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, mari kita berpeluk-pelukan gembira….” Suara itu kemudian diputar berulang-ulang dan diperdengarkan di mana-mana.

Cordoba 1978 telah menjadi peristiwa bersejarah bagi rakyat Austria. Gol Helmut Krankl dikenang bukan hanya sebagai kemenangan sepak bola, tetapi juga peristiwa yang mengembalikan harkat diri Austria. Austria memang mengakui kehebatan negara Jerman. Namun, di balik kekaguman ini tersembunyi perasaan minder. Gol di Cordoba telah melepaskan mereka dari perasaan rendah diri itu.

Menjelang pertandingan melawan Jerman, Cordoba pun terdengar kembali di kota-kota Austria. Peristiwa 21 Juni 1978 di Cordoba mengisi hampir semua koran mereka. Di kafe-kafe, di stasiun kereta, di rumah-rumah makan , orang tak bisa diam tentang Cordoba. Cordoba menjadi slogan perjuangan.

Bagi warga Austria, Cordoba berarti ”Kami bisa menembak mati Jerman”. Sekarang pun di lorong-lorong kota Vienna orang meneriakkan slogan, ”Jerman, Jerman, bagimu semuanya telah berlalu, Vienna akan jadi Cordoba, schallalala.”

Tak hanya warga biasa, pemain-pemain Austria juga di- hantui peristiwa Cordoba. ”Cordoba adalah bagian dari sejarah kami. Sebagai pemain-pemain muda, kami juga ingin menciptakan sendiri sebuah Cordoba,” kata kapten kesebelasan Austria, Andreas Ivanschitz.

Pemain depan Roland Linz tak kalah bersemangat, ”Setelah Cordoba, sekarang kami akan membuat sensasi di Vienna.”

Dan rekannya, Emanuel Pogatez, menambahkan, ”Ini adalah kesempatan dalam hidup kami. Kami dapat menulis sejarah kami sendiri tentang Cordoba.”

Jika para pemain sedang dilanda histeria Cordoba, tidak demikian halnya dengan Hickersberger. Pelatih Austria ini justru khawatir, histeria itu bisa membuat pemain Austria lupa diri. ”Austria adalah negara merdeka. Kita tidak butuh pembebasan,” katanya. ”Cordoba tak punya peran apa-apa dalam pertandingan kita nanti.”

Hickersberger justru meminta para pemainnya menahan diri dan berani rendah hati. Ia sadar, Austria hanyalah tim pinggiran. Mereka telah dikalahkan oleh Kroasia, dan prestasinya melawan Polandia pun belum bisa dibanggakan. Selain itu, ia mengingatkan, Jerman adalah Jerman. Maksudnya, kendati sempat sempoyongan, Jerman selalu bisa bangkit dan mengganas di babak berikutnya.

Asisten Hickersberger, Andreas Herzog, juga mengingatkan pemainnya agar mereka melupakan Cordoba dan berkonsentrasi pada pertandingan saja. Menurut Herzog, kemenangan tak dapat dibeli dengan apa pun, juga dengan kenangan akan Cordoba. Lebih penting, para pemain mati-matian berupaya mengerahkan seluruh dayanya dan menggunakan otak serta kecerdasannya untuk menang.

Toh Herzog mengakui, melawan Jerman selalu memberikan pengalaman yang luar biasa bagi Austria, apalagi dalam pertandingan yang demikian menentukan. Di Cordoba, kemenangan mereka atas Jerman sudah memberikan demikian histeria kepada rakyat Austria, padahal dengan kemenangan itu mereka tetap tersingkir.

Bayangkan, jika sekarang mereka menang dalam pertandingan yang demikian menentukan nanti di Vienna. Itu berarti membuat Jerman terdepak. ”Jika itu terjadi, Austria pun akan terbakar oleh api kebanggaan,” kata bos bola persatuan sepak bola Austria, Friedrich Stickler.

Memang Austria sadar akan keterbatasannya, tetapi mereka juga ingin mengikuti Piala Eropa ini sampai sejauh mungkin. Kalau impian itu tidak tercapai, sekurangnya mereka telah mencapai dua target: tidak tersingkir secara menyakitkan seperti Swiss, dan bisa membuat Jerman meradang.

Siapa tahu peristiwa Cordoba nanti terulang kembali di Vienna? (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com


Virus Oranje

Semula kesebelasan Belanda bukanlah favorit. Predikat ini sungguh pahit. Sebab selama 20 tahun terakhir percaturan bola internasional, baru kali ini kesebelasan ”Oranje” tak menduduki tempat unggulan.

Prediksi ini sekarang berbalik 180 derajat. Setelah menggulingkan juara dunia Italia, 3-0, Belanda mendadak difavoritkan ke final. Tidak hanya itu, anak-anak asuhan Marco van Basten juga dipuji sebagai kesebelasan yang telah mempertontonkan apa sesungguhnya sepak bola modern.

Ada cukup alasan mengapa semula Belanda tidak difavoritkan. Dalam kancah sepak bola Eropa, pemain-pemain Belanda tak banyak memberi harapan. Kalaupun ada, pemain yang dipandang hebat paling-paling hanya Ruud van Nistelrooy dan Edwin van der Sar. Atau di bawah mereka adalah Robin van Persie dan Wesley Sneijder.

Bahkan dua pemain tangguh, Clarence Seedorf dari AC Milan dan Mark van Bommel dari Bayern Muenchen, menolak bergabung. Pers menganggap absennya kedua pemain itu sebagai kegagalan diplomasi Van Basten menggaet pemain-pemain potensial Belanda.

Ini masih ditambah cedera yang menghantui kesebelasan Oranje. Karena cedera, Ryan Babel dari Liverpool terpaksa harus absen total dari turnamen. Arjen Robben tiba-tiba juga cedera. Sementara Robin van Persie belum total sembuh.

Melawan Italia, Belanda mesti siap menelan pil pahit. Begitu suara pesimistis dari sementara pengamat bola di Belanda. Ramalan ini 100 persen meleset. Justru Belanda yang hampir tidak memberi kesempatan bernapas bagi Italia. Permainan Belanda seakan memojokkan Italia menjadi seperti mesin tua yang tak berfungsi lagi.

La nottata più nera, malam tergelap bagi ”Squadra Azzurra”, begitu tulis koran La Gazzetta dello Sport. Belanda telah mencemplungkan Italia dalam malam tanpa harapan. Sebaliknya, malam tanpa harapan bagi Italia itu adalah malam terang dan membebaskan bagi Belanda.

Sudah lama Belanda belum pernah menang melawan Italia. Terakhir mereka menang lawan Italia, 2-1, saat bermain di Piala Dunia 1978 di Argentina. Bayangkan, 30 tahun lamanya mereka harus menanti. Baru sekarang, dalam Piala Eropa 2008 ini, Belanda dapat merasakan buah penantian mereka.

Maka pantas, begitu gol Van Nistelrooy mengoyak gawang Gianluigi Buffon, permainan Belanda tiba-tiba menjadi serba tak terduga. Seakan sebuah tanggul telah jebol, dan permainan mereka pun mengalir seperti air bah. Ya, seakan roh kemenangan 30 tahun lalu di Argentina mendadak menaungi mereka, dan gawang Italia pun ambrol lagi dengan gol-gol indah dari Wesley Sneijder dan Giovanni van Bronckhorst.

Pemain-pemain Belanda juga tak membayangkan bahwa mereka bisa bermain begitu dahsyat. ”Sungguh suatu mimpi. Rasanya tak bisa kami bermain bola lebih baik daripada permainan kami melawan Italia itu,” kata Rafael van der Vaart.

Van Basten menyebut permainan melawan Italia itu historis. Memang sebagai pemain, Van Basten adalah bintang. Namun sebagai pelatih, ia belum menunjukkan kualitas yang hebat. Baru dalam pertandingan melawan Italia itu ia terbukti berhasil membentuk kesebelasan Belanda yang sangat disegani. Sekarang ia layak disebut berhasil baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.

Bagi Van Basten, permainan itu historis juga dalam arti bahwa ia berhasil membawa Belanda kembali ke jati diri sepak bolanya, yakni sebuah total football. Total football ini adalah permainan Ajax di bawah Rinus Michels yang berjaya di Eropa tahun 1970-an. Oleh Michels, sistem itu kemudian diterapkan pada permainan Belanda.

Total football, yang 30 tahun lalu diperagakan Johan Cruijff dan kawan-kawannya, seakan hidup kembali di stadion di Bern, ketika anak-anak Van Basten menjungkirkan Italia ke jurang ratapannya. Prinsip total football adalah setiap pemain harus selalu siap berada di posisi yang terus-menerus berganti. Tak ada yang mangkal dalam posisi yang lebih kurang permanen.

Lihatlah bagaimana misalnya Van Bronckhorst, man of the match malam itu, dengan gigih membela pertahanan. Lalu, begitu mendadak ia maju ke depan menjadi pengumpan yang jitu. Malah dengan kejelian nalurinya, ia juga membuat gol. Atau Dirk Kuyt, penyerang yang tiba-tiba dengan sigap mundur ke belakang ketika pertahanan Belanda terancam.

Pemain-pemain Belanda tak pernah berusaha mengacau permainan lawan. Memang salah satu prinsip dasar total football bukan bagaimana permainan lawan dirusak, tetapi bagaimana permainan sendiri dikembangkan sejauh mungkin. Justru itulah yang membuat permainan Belanda sportif, karena itu juga enak dilihat.

”Marilah kita berharap agar Belanda terus menebarkan virusnya,” begitu komentar Terry Butcher, mantan pemain Inggris yang sekarang menjadi asisten pelatih kesebelasan Skotlandia. Memang sudah lama publik bola rindu akan sepak bola yang indah dan efektif seperti diperagakan Belanda. (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Hidup dengan Dua Hati

GOL ke gawang Polandia itu seharusnya ia rayakan dengan selebrasi kegembiraan. Ternyata bukan demikian yang dibuat oleh Lukas Podolski. Setelah menjebol gawang Artur Boruc, wajah Podolski nyaris tanpa ekspresi.

Begitu pertandingan usai, Podolski saling bertukar kostum dengan Mariusz Lewandoski, lawan yang tadi berusaha menghentikan gerakannya. Lalu ia melangkah dengan hening. Sejenak ia mampir ke sudut lapangan, menyalami ayah, beberapa sanak, dan pamannya yang khusus datang dari Polandia.

Podolski adalah turunan Jerman yang dilahirkan di kota Gliwice, Polandia. Tahun 1980-an, sekitar sejuta turunan Jerman di Polandia kembali ke Jerman. Podolski bersama orangtuanya ikut dalam gelombang itu.

”Saya punya keluarga besar di Polandia, lebih besar daripada di Jerman. Dua-tiga kali setahun saya berkunjung ke sana. Bertemu dengan keluarga dan teman-teman saya dulu. Saya mencintai kota kelahiran saya, saya menyukai Polandia dan manusianya. Di rumah kami selalu bicara bahasa Polandia,” kata Podolski.

Ujung tombak Jerman ini mengakui punya dua hati di dadanya. Satu hati untuk Jerman, lainnya untuk Polandia. Itu sebabnya mengapa ia tidak terlalu bergembira kendati ia mestinya bergembira dengan dua gol yang disarangkannya. Gol itu adalah kegembiraan untuk satu hatinya, tetapi sekaligus kesedihan untuk hatinya yang lain.

Hidup dengan dua hati itu tampaknya selalu menyisakan kegundahan. Memang, begitulah yang sering dialami oleh mereka yang hidup dalam pengasingan. Dengan amat mengharukan, hal itu pernah diungkapkan dalam surat-menyurat Paul Celan dan Nelly Sachs, dua penyair Jerman turunan Yahudi, yang hidup di pengasingan karena pengejaran Nazi dulu. Celan hidup di Paris, dan Sachs di Stockholm.

Kedua penyair hidup dalam kesepian. Keduanya sama-sama merindukan tanah air. Tetapi, mereka tak mempunyai tanah air yang mempersatukan mereka. Andaikan ada, tanah air itu hanyalah sebuah unsichtbare Heimat, tanah air yang tak terlihat. Oleh tanah air yang tak terlihat inilah mereka berdua merasa terikat. Persahabatan mereka terasa begitu dekat, tetapi demikian jauh mereka saling terletak sehingga mereka tak bisa merasakan hidup dan penderitaan masing-masing di bumi tempat kaki mereka berpijak.

Celan dan Sachs mengatakan, untung mereka bisa menulis puisi. Kalau tak ada puisi, kegundahan mereka tak bakal terungkap. Memang dalam hidup sehari-hari, kegundahan itu selalu tersembunyi juga pada seorang pemain bola bernama Podolski.

Syukur bahwa Podolski membuat dua gol ke gawang Polandia malam itu. Gol ini membuka dengan terang, siapa dia sesungguhnya: manusia yang hidup dalam dua tanah air, yang terpisah dalam kegembiraan dan kesedihan, kemenangan dan kekalahan. Gol itu bagaikan puisi yang berdendang tentang dua hati, yang selama ini tersembunyi dan mengoyak-ngoyak pribadi Podolski.

Dari peristiwa Podolski makin jelas bahwa sepak bola bukan sekadar adu otot. Sepak bola menyertakan seluruh diri manusia, termasuk emosi dan riwayat pribadinya. Secara intuitif, seorang awam bola pun dapat menangkap kedalaman itu. Itu, misalnya, terungkap dalam pernyataan Christina Stuemer, penyanyi Austria, yang dipercaya oleh Österreichen Fussball Bundes (OFB), Persatuan Sepak Austria, untuk membawakan lagu-lagu resmi Piala Eropa kali ini.

Christina mengaku, ia tidak mengerti apa itu off-side. ”Tetapi bagi saya, sepak bola adalah cermin yang memantulkan emosi-emosi. Bola mengingatkan saya pada hidup dengan segala pencapaian dan kegagalannya, puncak dan jurangnya.”

Menurut Christina, bola dan musik itu paralel. ”Bola dan konser sama-sama mengandalkan kerja keras. Orang harus memberikan dirinya 120 persen, sementara sukses dan tidaknya pertunjukan bola atau musik juga bergantung pada apakah kita bisa menyertakan emosi publik. Sungguh, di sini emosi sangatlah berperan,” kata penyanyi Austria itu.

Sumber emosi adalah perasaan. Karena itu, bola juga dekat dengan perasaan. Dan, faktor perasaan inilah yang amat diperhatikan oleh pelatih Jerman Joachim Loew. Loew mengartikan bola bukan sebagai sport, tetapi permainan. Sport lebih berkenaan dengan bagaimana orang mengerahkan tenaganya untuk menang, sedangkan dengan permainan, orang berusaha menggunakan segenap potensinya, baik tenaga, akal, atau emosinya untuk bisa menang.

Karena itu, Loew memerintahkan agar dalam duel yang paling keras pun, pemain-pemain Jerman bisa mengontrol diri dan emosinya. Untuk itu, Loew tak segan-segan mengadopsi teknik permainan basket. Sebab, dari basket orang bisa belajar bagaimana melakukan body-contact yang agresif, tetapi tetap menjaga diri agar jangan sampai melakukan foul.

”Sepak bola memang menegangkan. Berada di pinggir lapangan dalam pertandingan besar, saya juga amat tegang. Tapi dalam batin, saya selalu berusaha untuk tenang,” kata Loew. Setelah bermain gemilang melawan Polandia, Loew kiranya bisa lebih tenang hatinya ketika nanti Podolski dan kawan-kawannya menghadapi Kroasia. (Oleh Sindhunata, Wartawan Pencinta Sepak Bola)

Sumber: Kompas.Com

Menang karena Chaos

PIALA Eropa 2008 menorehkan sejarah baru. Dan, sejarah itu adalah sejarah Turki. Tiga kali mereka hampir mati. Tiga kali pula mereka hidup lagi. Dahsyatnya, peristiwa itu terjadi pada saat pertandingan tinggal beberapa menit lagi.

Ingatlah, di Basel, Swiss, orang mengira pertandingan berakhir seri, 1-1. Tiba-tiba Arda Turan menjebol gawang Swiss pada menit kedua perpanjangan waktu. Di Geneva, 15 menit sebelum pertandingan berakhir, Turki sudah ketinggalan 0-2 di belakang Ceko. Toh akhirnya, mereka menggilas Ceko dengan 3-2 setelah kapten Nihat Kahveci membobol gawang Ceko pada menit ke-88 dan ke-90.

Korban paling mengenaskan adalah Kroasia. Dalam perpanjangan waktu, pada menit ke-119, Kroasia merasa pasti akan keluar sebagai pemenang lewat gol Ivan Klasnic. Di luar dugaan, tiga menit kemudian, pada menit ke-122, Semih Senturk menyamakan kedudukan dan akhirnya Kroasia tergulung lewat adu penalti dengan skor 1-3.

Permainan Turki memang sulit dipahami. Mereka seakan memainkan bola yang prinsipnya adalah chaos. Kendati demikian, mereka bisa menang karena kepercayaan diri mereka yang sangat besar. ”Kami percaya akan diri kami. Siapa pun lawan kami, kami takkan panik,” kata Hamit Altintop menjelang pertandingan melawan Jerman nanti.

Kata Pelatih Kroasia Slaven Bilic, ”Turki mempunyai sesuatu yang istimewa, yang dibutuhkan orang untuk bermain sepak bola.” Mungkin sesuatu yang istimewa itu adalah kepercayaan diri tadi sebab dengan kepercayaan diri, mereka sanggup terus bermain dan menang, walau permainan mereka terjerumus ke dalam chaos dan ketidakteraturan.

Pelatih-pelatih lawan mengatakan, sulit membaca permainan Turki. Mereka melihat Turki tidak mempunyai taktik dan sistem yang jelas. Yang muncul di permukaan adalah kegigihan mereka bermain dalam chaos dan ketidakteraturan.

Tak ada cara lain untuk menghadapi permainan yang berani berisiko dengan chaos itu kecuali konsentrasi penuh. ”Konsentrasi, konsentrasi sampai peluit berakhir, itulah yang harus kami buat untuk mengalahkan Turki,” kata manajer timnas Jerman, Oliver Bierhoff.

Kendati Turki kehilangan banyak pemain inti akibat akumulasi kartu, Michael Ballack tetap mengingatkan, Turki adalah lawan yang amat berbahaya. Buat Turki, masuk ke semifinal adalah prestasi. Maka, dalam pertandingan lawan Jerman, mereka akan bermain tanpa beban. Ini tentu membuat permainan mereka makin liar, edan, dan tak terduga.

Ballack juga mengingatkan, Turki mempunyai mentalitas Jerman. Ballack agaknya benar karena sepak bola Turki mewarisi dasar-dasar sepak bola yang telah diletakkan oleh Jupp Derwall dan Sepp Piontek, yang keduanya adalah orang Jerman.

Tahun 1984 Derwall, mantan pelatih kesebelasan nasional Jerman, datang ke Turki dan mengasuh Galatasaray. Karena jasanya di bidang bola, ia mendapat gelar Doktor Kehormatan di Universitas Ankara. Tahun 1990 ia diminta untuk melatih kesebelasan nasional, tetapi ia menolak dan merekomendasikan Sepp Piontek untuk jabatan itu.

Di Turki, baik Derwall maupun Piontek dijuluki sebagai ”bapak-bapak keberhasilan”. ”Jerman adalah guru kami,” kata mantan Pelatih Turki Mustafa Denizili. Harap diingat, kesebelasan Turki kali ini juga mempunyai pemain kelahiran Jerman, yaitu Hamit Altintop yang bermain di Bayern Muenchen dan Hakan Balta di Galatasaray.

Menonton Turki, lebih-lebih pada saat akhir, memang amat menegangkan sehingga walau memuji anak-anak Pelatih Fatih Terim, pers Turki meminta, mereka tidak lagi bermain dengan mengandalkan kejutan dan keajaiban.

”Terim tercinta, melawan Jerman, kami ingin menang dengan normal. Menang tanpa keajaiban. Kami semua tegang dan capai setengah mati dengan kemenangan pada menit-menit terakhir itu,” begitu tulis kolumnis Hasan Lemal dari koran Turki, Milliyet.

Tetapi, mengapa keajaiban harus dilarang? Dan, siapa yang bisa melarang keajaiban terjadi? Toh, Turki sudah tiga kali mati dan tiga kali hidup kembali. Oleh karena itu, kalau kali ini keajaiban terjadi lagi, bibir rakyat Turki akan menggumam kembali dalam doa ini: syukur kepada Allah!
(Oleh Sindhunata, Wartawan Pencinta Sepak Bola)

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes