Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Nurdin
dion bata
AWAL Maret di bawah mendung senja yang menggantung, bocah-bocah ingusan bermain bola di lapangan sempit berlumpur Kolhua.Sebagian di antara mereka memakai kostum Merah Putih dengan nomor punggung dan nama Christian Gonzalez, Irfan Bachim dan Firman Utina. Di saat jedah menendang bola kumal, mereka ngerumpi soal Nurdin. Mereka juga berdendang turunlah Nurdin...!
Oh bola. Batinku bergumam. Anak-anak ini mengerti apa soal perseteruan di Senayan? Mereka mungkin tak peduli dengan itu. Yang pasti mereka tertular demam Nurdin Halid, ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang sontak menjadi selebriti. Harus kita akui merupakan news maker nomor wahid di persada Ibu Pertiwi selama tiga bulan terakhir.
Pertama dalam sejarah Indonesia, seorang ketua umum induk organisasi olahraga digoyang lewat gelombang demonstrasi massa yang mengamuk hampir di seluruh negeri. Jika rakyat Tunisia dan Mesir membutuhkan waktu kurang dari sebulan untuk melengserkan diktator Ben Ali dan Hosni Mubarak, gelombang demonstrasi Indonesia sekian bulan tak sanggup menurunkan Nurdin. Luar biasa!
Sampai detik ini Nurdin masih bertahan di kursinya. Argumentasinya di hadapan pers dan wakil rakyat sungguh meyakinkan. Dia paham statuta FIFA. Dia berpegang teguh pada aturan PSSI yang mengharamkan intervensi. Dan, Nurdin memiliki pendukung setia. Sebagian dari mereka sempat diajak berkeliling menonton Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan jalan-jalan ke Eropa.
Saat kisruh PSSI meledak banyak pihak harus peras keringat mencari solusi dan klarifikasi, termasuk mengutus seorang Duta Besar menemui Presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA), Sepp Blatter di Swiss. FIFA sudah memberikan jawaban di akhir pekan, tetapi pergumulan PSSI masih jauh dari selesai. Siapa bilang riwayat Nurdin di PSSI segera berakhir?
Nurdin merupakan sosok menarik dalam jagat sepakbola Indonesia. Dialah ketua umum PSSI dalam sejarah Republik ini yang menyedot perhatian publik sejak awal memimpin. Statusnya sebagai tersangka, terdakwa hingga narapidana dalam kasus korupsi tidak menggeser seinci pun kedudukannya sebagai ketua umum PSSI. Dia tetap memimpin PSSI dari balik jeruji sampai menghirup kebebasan.
Tiga bulan terakhir tiada hari tanpa berita Nurdin di televisi, radio, koran dan majalah. Nurdin juga menjadi topik diskusi di pangkalan ojek sampai warung kopi. Jika hari ini diadakan survei tentang tokoh paling populer di Indonesia, hampir pasti akan menjadi milik Nurdin. Mungkin popularitasnya cuma kalah tipis dibandingkan dengan orang nomor satu Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Maka beta tak begitu heran ketika para bocah di bukit Kolhua Kupang lebih hafal nama Nurdin ketimbang Gonzalez, Markus Horison atau Irfan Bachim.
Mengapa Nurdin ngotot sekali mempertahankan kedudukannya sebagai ketua umum PSSI meskipun sudah memimpin dua periode? Tidak sulit menemukan akar pemicunya. Sejak dulu ketua umum PSSI selalu diincar banyak orang. Maklum sepakbola merupakan cabang olahraga terpopuler di Indonesia. Orang tetap menyukai sepakbola kendati prestasi tim Indonesia tak pernah menjulang meski sekadar kawasan Asia Tenggara. Penggemar bola datang semua kalangan. Sebagai cabang olahraga terpopuler, ketua umum PSSI merupakan "jabatan" bergengsi.
Kongres untuk memilih ketua umum PSSI lazimnya lebih riuh ketimbang pemilihan ketua umum KONI Pusat serta ketua umum induk organisasi cabang olahraga lain.
Nurdin kiranya menyadari pesona sepakbola yang mendongkrak popularitas. Dan, popularitas dekat sekali dengan politik. Di era pemilihan langsung seperti sekarang menjadi ketua umum PSSI merupakan pilihan logis. Jadi kalau tuan dan puan mau populer atau lebih meningkatkan popularitas, jadilah ketua PSSI. He-he-he... Kalau tujuannya sekadar popularitas, Nurdin Halid sudah mewujudkan misinya.
Silvio Berlusconi adalah salah satu contoh tokoh politik dunia yang amat piawai memanfaatkan pesona sepakbola untuk popularitas. Pria Italia kelahiran Milan 29 September 1936 itu merupakan pemilik klub AC Milan. Di tangannya, AC Milan berubah menjadi klub raksasa dengan prestasi segudang. Dengan uangnya yang banyak, Berlusconi membeli pemain bintang dari seluruh dunia. Milan menjadi the dream team. Tuan dan puan tentunya ingat ingat kejayaan Milan bersama trio Belanda, Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten. Di era 1990-an Liga Italia adalah kiblat sepakbola sejagat. Prestasi AC Milan demikian hebat antara tahun 1986-2004, masa dimana Berlusconi menjadi presiden klub itu. Bahkan kebesaran AC Milan masih bertahan hingga sekarang.
Menyadari nama besarnya bersama Milan, tahun 1994 Berlusconi mendirikan Partai Forza Italia. Itulah kendaraannya memasuki panggung politik Italia. Saat pemilu mayoritas rakyat Italia memilih dia sebagai Perdana Menteri (PM). Ia menjadi Perdana Menteri selama tujuh bulan (10 Mei 1994-17 Januari 1995) dan kembali terpilih tahun 2001 hingga sekarang. Pemerintahan Berlusconi tercatat sebagai yang terlama dalam sejarah republik Italia. Berlusconi masih memimpin Italia sampai hari ini meski di usianya yang senja dia terlibat skandal dengan perempuan muda.
Banyak yang lupa pesona sepakbola yang lain adalah tambang uang. Sumber kekayaan berlimpah. Selain memiliki perusahaan media massa, dari klub AC Milan sumber uang Berlusconi mengalir deras. Menurut majalah Forbes, Berlusconi adalah orang terkaya di Italia dan orang terkaya ke-25 di dunia.
Bagaimana dengan sepakbola Indonesia? Jangan salah duga kawan. Perputaran uang tidaklah kecil mengingat sebagian besar klub peserta Liga Super Indonesia pendanaannya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sponsor serta subsidi dari FIFA atas nama pembinaan. Indonesian Corruption Watch (ICW) menaksir nilai kucuran APBD untuk klub mencapai Rp 720 miliar per tahun. PSSI tentu mendapat jatah juga.
Tentang potensi komersial kompetisi sepakbola di Indonesia, Repucom, sebuah perusahaan survei dan analisis independen merilis angka mencengangkan. Pertandingan yang melibatkan klub besar bisa bernilai Rp 10 miliar setiap pertandingan. Kalau dalam satu musim kompetisi ada 300 pertandingan, maka nilai komersialnya menembus angka Rp 3 triliun. Kalau perkiraan itu meleset sekitar 30 persen, tetap saja uang yang masuk sungguh berlimpah. Jadi, kalau banyak orang tergiur mengurus organisasi sepakbola atau mengelola kompetisi sepakbola Indonesia bukan tanpa sebab. Ada gula ada semut. Ada bola ada uang! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 7 Maret 2011 halaman 1
Obat
dion bata
"BAPA wartawan tolong dulu. Kenapa obat yang mereka simpan rapi di rak apotek ini tidak ada label harganya? Coba kalau ada daftar harga kan beta bisa beli obat yang murah sesuai kemampuan beta." Mama Susi, penjual sayur langgananku di Pasar Inpres Naikoten-Kupang bertanya di saat kami bersama antre menunggu giliran membeli obat di sebuah apotek yang padat pengunjung di Kota KASIH belum lama berselang.
"Aduh, mama e...beta juga tidak tahu kenapa obat itu tidak diberi label daftar harga," jawabku sekenanya saja. "Payah, bapa ini wartawan tapi tidak tahu apa-apa" Bep! Mulutku terkunci. Kali ini beta benar-benar kena batu karena kurang pengetahuan. Mama Susi, penjual aneka sayur di Pasar Inpres hari itu membeli obat flu dan batuk buat keponakannya. "Kalau begitu na, obat-obat ini sama dengan sayur yang kami jual di pasar. Tidak pakai label harga," kata Mama Mia sambil terkekeh.
Otak beta seperti tersengat lebah. Mama Susi benar. Beta memang payah. Pantas kalau dia menertawaiku. Selama ini tidak jeli melihat kalau obat-obatan, entah generik atau obat paten, tidak disertai label harga. Misalnya, obat flu merek A harganya sekian rupiah, obat flu merek B harganya sekian rupiah. Kalau ada label harga disertai logo jaminan mutu obat dari pemerintah maka pembeli atau konsumen seperti beta dan Mama Susi dapat memilih obat flu sesuai kapasitas isi dompet.
Beta coba cari argumentasi pembenaran diri. Ah, Mama Susi ada-ada saja. Orang sakit mana sempat berpikir melihat label harga obat sekaligus tawar-menawar? Psikologi si sakit adalah secepatnya makan dan minum obat biar cepat sembuh. Beda kalau beta beli sayur Mama Susi di pasar, masih ada kesempatan untuk tawar-menawar harga. Pembeli seperti beta selalu berusaha menawarkan harga semurah mungkin. Tidak peduli Mama Susi cuma dapat keuntungan sedikit karena dia toh bukan orang pertama yang terima sayur dari tangan petani asal Oesao, Tarus, Oekabiti, Camplong atau Baun.
Setelah merenung beta berkesimpulan bahwa pertanyaan sederhana Mama Susi masuk akal juga. Mengapa obat-obatan di apotek tidak disertai dengan label harga seperti produk makanan atau minuman yang dipajang di pusat perbelanjaan atau toko? Dengan label harga, pembeli atau konsumen bisa memilih sesuai daya beli. Di apotek daftar harga obat hanya diketahui petugas. Daftar harga obat tidak diumumkan secara terbuka. Langka nian mendengar konsumen menawarkan harga obat. Berapa pun yang dipatok pasti dibeli. Tanpa tanya apalagi protes.
Bulan Maret tahun lalu saat mengikuti sebuah pelatihan di Kota Gummersbach-Jerman, pada hari ketiga beta terserang sakit perut akibat komplikasi makanan. Maklum perut dari kampung di Timor `sontak terkejut' dimasuki menu makanan Eropa. Bersama teman dari Meksiko dan Tibet kami ke apotek yang letaknya tidak jauh dari tempat pelatihan. Di sana ada beberapa merek obat sakit perut yang paten dengan komposisi sejenis. Harganya bervariasi. Beta beli yang paling murah. Minum dan sembuh. Itu sekadar contoh betapa obat-obatan biasanya ada label harganya di negara lain.
Di ini negeri entah mengapa obat tanpa label harga? Juga tidak selalu muncul logo generik pada kemasan obat serta jaminan mutu dari pemerintah. Sebagai pembeli kadang kita bingung mana obat generik, yang mana obat paten. Tahunya obat saja dan mutunya terjamin. Berapa pun harganya kita beli.
Tuan dan puan mungkin sama dengan beta dan Mama Susi yang tidak tahu pasti kapan harga obat naik. Alat untuk tahu harga obat naik cuma mengandalkan ingatan. Misalnya begini. Oh enam bulan lalu beta beli satu strip paracetamol harganya 10 ribu rupiah. Sekarang sudah jadi 15 ribu rupiah. Berarti sudah terjadi kenaikan.
Beta tidak mau menduga yang bukan-bukan alasan tentang obat tanpa label harga itu. Paling bijak jika bapak ibu dokter yang tergabung dalam IDI (Ikatan Dokter Indonesia) atau para ahli kesehatan masyarakat berkenan membantu untuk menjelaskan hal-hal begini kepada orang kecil seperti Mama Susi. Apakah daftar harga obat bukan termasuk hak konsumen untuk tahu?
Jujur saja tuan dan puan, dalam keseharian beta kerap mendengar pertanyaan-pertanyaan sederhana dari orang kecil seperti Mama Susi. Pertanyaan mereka kadang membangunkan kesadaran, mengingatkan betapa kita mudah lupa.
Ikhwal kondisi rumah sakit umum di Kupang, misalnya, mereka bertanya mengapa jumlah tempat tidur tidak pernah bertambah dari angka 371 yang selama ini sudah kerap dirilis manajemen? Sebagai rumah sakit rujukan di Propinsi Nusa Tenggara Timur serta satu-satunya rumah sakit milik pemerintah di Kota Kupang yang melayani rawat inap, jumlah kamar sebanyak itu bisa dilukiskan 'selalu kurang' untuk menampung pasien.
Keluhan pasien kesulitan mendapatkan tempat tidur di RSUD Prof WZ Johannes Kupang bukan baru terjadi sekarang. Keluhan tersebut sudah lama terdengar. Itu sudah menjadi lagu lama. Yang jarang terdengar adalah solusinya. Solusi jangka panjang lewat program kerja terencana.
Dulu begitu riuh rencana membangun rumah sakit baru di Kota Kupang. Rencana itu entah berujung di mana? Sekarang Pemerintah Kota Kupang sudah punya rumah sakit sendiri. Salut! Tetapi mereka baru sanggup melayani rawat jalan. Yang rawat inap tetap saja lari ke RSUD Johannes Kupang. Waktu terus berganti. Kapasitas rumah sakit andalan rakyat Flobamora ya masih seperti dulu. Jadi, Mama Susi mohon bersabar... Jangan lagi tanya beta mengapa demikian? Penjelasan ananda cuma sekian saja. Salam sehat! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 28 Februari 2011 halaman 1
Tangkap
dion bata
LANGKAH cepat ditempuh Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Ir. Esthon L Foenay, KONI NTT dan teman-teman dari Bidang Olahraga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT. Tidak sampai sepekan setelah kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama empat hari ke NTT, 8-11 Februari 2011, NTT telah mendapat kabar pasti tentang pembangunan sarana olahraga yang memadai.
Tuan dan puan kiranya telah mengetahui informasi itu melalui warta media massa. Tanggal 16 Februari 2011, Wagub NTT, Ir. Esthon L Foenay, Sekretaris Umum KONI NTT, George Hadjoh, dan Kepala Bidang (Kabid) Olahraga pada Dinas PPO NTT, Drs. Ary Moelyadi, M.Pd, bertemu Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Mallarangeng, di Jakarta. Mereka bersua Menpora tentu tidak dengan tangan kosong alias sekadar omong-omong saja. Mereka membawa serta proposal rencana pembangunan GOR lengkap dengan maket, perincian biaya yang dibutuhkan serta mengapa harus bangun GOR?
Kepada Wagub Esthon Foenay, Menpora memastikan bantuan dana Rp 10 miliar untuk pembangunan Gelanggang Remaja di kompleks Stadion Oepoi Kupang yang peletakan batu pertama telah dilakukan Menpora pada peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2011. Kementerian Pemuda dan Olahraga juga akan membangun Gelanggang Olahraga (GOR) di Pulau Sumba dan Flores. Kepastian dari Menpora merupakan kabar gembira di tengah minimnya sarana dan prasarana olahraga yang memadai di beranda Flobamora.
Respons cepat serupa itu kiranya mengacu pada pemikiran sederhana. Mumpung kunjungan Presiden Yudhoyono ke NTT masih panas dan segar dalam ingatan sehingga harus segera ditangkap. Segera dikunci lewat eksekusi keputusan konkret. Jika kita lengah atau menunda-nunda, maka bukan mustahil Jakarta akan lupa dan janji pemerintah pusat sekadar manis di bibir saja. Sekadar menghibur pemerintah dan rakyat Flobamora yang menyambut kunjungan presiden dengan antusias. Janji manis itu akan hilang bersama sang waktu.
Kepergian Wagub ke Jakarta menemui Menpora guna memastikan dana pembangunan GOR berlangsung hanya sehari setelah Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, memimpin rapat dengan seluruh pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di lingkup pemerintah propinsi pada Hari Kasih Sayang, 14 Februari 2011. Pesan gubernur dalam rapat itu tegas dan jelas. Setiap pemimpin SKPD agar segera menindaklanjuti janji pemerintah pusat menggelontorkan dana Rp 5,3 triliun untuk program percepatan pembangunan di NTT dengan kementerian terkait. Misalnya Kepala Dinas Pertanian harus segera mengajukan proposal rencana pembangunan kepada Menteri Kehutanan. Kepala Dinas PPO kepada Menteri Pendidikan Nasional, Kepala Dinas Sosial kepada Menteri Sosial dan seterusnya.
Gubenur dan Wakil Gubernur NTT memberi contoh bagaimana bekerja cepat, cerdas dan tuntas. Contoh tersebut mudah-mudahan memberi inspirasi sekaligus melecut semangat para pimpinan SKPD agar dapat bertindak serupa. Ketahuilah masyarakat Nusa Tenggara Timur hari-hari ini sedang menunggu hasil kerja para pejabat daerah ini dalam merepons kunjungan kerja presiden bersama 'satu peleton' menteri Kabinet Indonesia Bersatu 8-11 Februari 2011. Akan segera ketahuan siapa yang bergerak cepat dan kerja cerdas, siapa yang tergopoh-gopoh, siapa yang gagap dan telmi, siapa yang bingung karena tidak tahu harus berbuat apa dan siapa yang cuek bebek alias masa bodoh. Sebanyak 4,7 juta rakyat NTT menunggu reaksi cepat para manajer pemerintahan. Beta percaya mereka sekarang sedang 'tikam kepala' alias bekerja keras untuk mewujudkan itu.
Pasti tidak semudah membalik telapak tangan. Dalam proposal yang diajukan kepada pemerintah pusat mesti jelas peruntukkan dana Rp 5,3 triliun demi percepatan pembangunan di Propinsi NTT. Targetnya apa saja, berapa lama dicapai, kira-kira berapa tenaga kerja lokal NTT yang bisa diserap, misalnya dalam membangun sentra industri garam, pembibitan sapi dan lainnya. Idealnya paper tentang program percepatan pembangunan NTT yang menurut gubernur akan dipayungi Keputusan Presiden RI (Keppres) itu segera terbit dan diumumkan kepada publik. Lembaga perencana pembangunan di ini propinsi mesti tertantang untuk merealisasikan hal tersebut. Lebih cepat lebih baik!
Terkait Keppres Percepatan Pembangunan di NTT, beta bayangkan kaum cerdik pandai dari Undana, Unwira, UKAW, Universitas Muhammadiyah, Universitas Flores dan perguruan tinggi lainnya serta komunitas para cendekia semisal FAN (Forum Academia NTT) tidak tinggal diam. Indah nian bila spirit percepatan pembangunan NTT lewat perlakukan khusus pemerintah pusat menjadi bahan penelitian atau kajian ilmiah dengan rekomendasi yang konkret bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di daerah ini.
Artinya, semua pihak mesti bergerak bersama-sama. Saling menopang. Tidak hanya berpangku tangan dan menyuburkan apriori. Tidak hanya mengeritik atau berteriak dari pinggiran jalan. Beri solusi. Beri alternatif jalan keluar bagi NTT yang tidak sepantasnya miskin ini. Para akademisi NTT hendaknya tidak sekadar bermental tukang. Mereka mesti bekerja dengan spirit kaum cerdik pandai yang menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau sekadar urusan perut.
Terakhir tapi sangat penting adalah kontrol. Menurut beta, koalisasi media, masyarakat sipil dan parlemen mutlak mengontrol pelaksanaannya agar tidak menyimpang dan hanya melahirkan orang kaya baru di NTT melalui cara-cara yang haram. Sudah terbukti, dana pembangunan NTT yang tidak seberapa sejak dulu masih saja terjerumus perkara salah urus. Salam NTT Bisa! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 21 Februari 2011 halaman 1
Terima Kasih
dion bata
IZINKAN beta mengucapkan terima kasih serta maaf jika ada khilaf dan salah. Terima kasih dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih atas kasih dan bimbinganNya hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) mampu menjadi tuan rumah yang baik dua agenda besar, yakni rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN), 4-10 Februari 2011 di Kupang serta kunjungan kerja presiden selama empat hari, 8-11 Februari 2011.
Sempat terbersit pesimisme, apakah NTT mampu? Ternyata Flobamora Bisa! Bisa menggelar event nasional dengan tamu undangan lebih dari 1.000 orang yang datang dari seluruh propinsi di Indonesia, para pemimpin dari Malaysia, Timor Leste, Australia, Thailand, Taiwan, Maroko, Pakistan dan Hongaria. Inilah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dengan tamu VVIP dan VIP terbanyak sejak tahun 1985. Inilah kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke daerah dengan menteri terbanyak. Separuh menteri kabinet Indonesia Bersatu ikut ke Kupang, SoE dan Atambua. Mungkin pertama dalam sejarah RI modern, presiden melakukan perjalanan darat terlama. Lebih dari delapan jam!
Terima kasih kepada duet pemimpin NTT, Gubernur Frans Lebu Raya dan Wagub Esthon L Foenay atas dukungan tak terhingga. Juga kepada Ketua DPRD Propinsi NTT, Ibrahim A Medah dan seluruh anggota DPRD NTT yang tegas menjawab "Ya Kita Siap" pada awal Mei 2010 ketika Jakarta memutuskan Kupang sebagai tuan rumah HPN 2011. Jawaban itu sungguh merupakan tekad kalau MAU kita bisa. Kalau bukan sekarang kapan lagi?
Setelah HPN 2011 berlalu memori kolektif Indonesia akan mengenang betapa NTT tidak seperti distigmakan serba kurang. Benar bahwa di beranda ini ada banyak keterbatasan. Tapi kekurangan itu telah ditaklukkan oleh banyak kelebihan yang tidak dimiliki daerah lain. Dikalahkan oleh pelayanan terbaik, oleh kerendahan hati serta sikap santun terhadap para tamu.
Tidaklah mungkin HPN 2011 sukses dengan kerja tim setengah hati. Terima kasihku buat Sekda NTT, Frans Salem selaku penanggungjawab serta duet serasi Andre W Koreh dan Ary Moelyadi sebagai ketua dan sekretaris panitia daerah HPN 2011. Mereka sungguh menjadi motor penggerak yang andal hingga panitia bekerja dalam semangat tim. Serius melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah digariskan. Ada saat senyum, ada waktu mengerut jidat, semisal mengatur kamar hotel yang terbatas pada puncak kedatangan tamu 7 dan 8 Februari 2011. Sekda memberi visi, diterjemahkan ketua panitia sebagai manajer tim dan diaplikasikan dengan rapi sekretaris sebagai dapur seluruh agenda kegiatan HPN 2011. Salut buat bung Andre dan Ary!
Salut dan hormatku bagi John Klau (Seksi Akomodasi), Aser Rihi Tugu (Seminar dan Konvensi), Yohana Lingo Lango (Kesenian), Tony Kleden (Buku, Mading dan Jurnalisme untuk Pelajar-Mahasiswa), Ferry Jahang (Promosi dan Usaha Dana), Rony Fernandez (Perlengkapan), Benny Dasman (Pameran), Erna Kalla, Tersiana Riwu Rohi dan Ari Setyowati dkk (Konsumsi), Reddy Ngera (Humas dan Dokumentasi), Sipri Wete, Sipri Seko, Abdul Muis, Erik Seran, Dewa, Yanto Fallo, Anton Fallo, Ety Kara, Ati Muhala, Santi Sanggu Doa, Ridho Oematan, Goris, Karel Muskanan, Lukas Boleng (Kesekretariatan), PJ Gasperz, Rudy Mandaling (Transportasi), John Banabera (Jalan Sehat), Ferdy Amatae (Penjemputan), dr. Iin Andriany (Kesehatan).
Beta tak lupa kontribusi besar Melkisedek Madi, Isack Petruz, Elyas Djoka, Ros Woso, Hermensen Ballo, bung Johny Lumba, Bernard Tokan dan Zacky W Fagih serta adik-adik LO (Liaison Officer). Dari ruang sempit lantai II Stadion Oepoi Kupang, tuan dan puan telah membuat sejarah. Kalian bersama seluruh anggota panitia yang tak sempat beta sebut satu persatu merupakan bintang lapangan HPN 2011. Terima kasih telah bekerja dengan hati demi kehormatan dan harga diri kampung halaman kita ini.
Terima kasih untuk dukungan luar biasa Ketua Dekranas Propinsi NTT, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya dan segenap jajarannya serta para ketua Dekranas kabupaten/kota se-NTT yang berpartisipasi dalam pameran. Ribuan lembar selendang tenun ikat dan suvenir telah memanjakan peserta HPN dari 33 propinsi.
Terima kasih kepada Novanto Center bersama manajemen Oscar Lawalatta yang menyumbang 500 baju tenun ikat bagi peserta dan tamu hingga acara hari puncak HPN 9 Februari 2011 di Aula Utama El Tari menjadi NTT Banget! Mulai dari presiden sampai penerima tamu mengenakan busana tenun ikat NTT. Wow! Panggung promosi kekayaan NTT yang dashyat amat.
Terima kasih buat Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, Bupati Rote Ndao, Lens Haning serta para bupati dan pimpinan DPRD se- NTT. Juga untuk Pimpinan BI Kupang, Dirut Bank NTT, Bank Mandiri serta pimpinan perbankan, BUMN, pimpinan PT Telkom Kupang, pengelola hotel, restoran serta masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya. Event besar ini sukses berkat bantuan bapak/ibu sekalian.
Terima kasihku untuk Kadis Perhubungan NTT, Bruno Kupok, Kadis Infokom Richard Djami, Kadis Pariwisata, Abraham Klakik, Kadis Kesehatan NTT, dr. Stef Bria Seran, Kepala Biro Umum Setda NTT, Kanis Beka, teman-teman dari PDE Setda NTT serta pimpinan SKPD di lingkup Pemerintah Propinsi NTT yang tak dapat beta sebut satu persatu di ruang terbatas ini.
Selama persiapan hingga hari H peringatan HPN 2011 bapak/ibu telah direpotkan dengan berbagai pekerjaan. Terima kasih telah bergerak "sehati sesuara" sehingga dua event besar nasional dapat berjalan lancar dan sukses. Teman-teman dari PLN serta TNI dan Polri, beta tahu tuan dan puan hampir sebulan penuh pontang-panting mempersiapkan berbagai hal demi suksesnya HPN serta kunjungan kerja presiden. Terima kasih untuk pimpinan media massa di NTT serta rekan-rekan wartawan yang telah berkontribusi dengan cara masing-masing. Adik-adikku mahasiswa yang menggelar demo serta tukang kritik, kalian pun telah memberi warna yang indah. Bukankah perbedaan pandangan itu sebuah keniscayaan dalam negara demokrasi?
Lewat HPN dan kunjungan kerja presiden, kita petik pelajaran besar, betapa NTT memiliki aset sosial mengagumkan. Aset itu bernama kebersamaan. Sudah terbukti jatidiri keberhasilan adalah kerja sama. Saling menopang. Yang lemah dikuatkan, yang kuat memberi dukungan. Stop sudah tradisi membesar-besarkan kekurangan. Mari kita membesar-besarkan kelebihan Flobamora sambil terus membenahi kekurangan. Akan sangat indah jika kesadaran merawat keindahan dan kebersihan kota dipertahankan tidak sekadar untuk menyambut tamu. Indah nian bila kerja sama tim yang kompak di segala lini kita pertahankan demi NTT yang lebih baik.
Kerja belum selesai, belum apa-apa. Begitu yang kerap dikatakan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Sukses HPN dan kunjungan presiden selama empat hari ke bukan berujung pada kepuasan, tidak berakhir dengan puja-puji atau rasa bangga. Kalau sekadar itu, berarti cuma kebanggaan semu. Zonder berguna! Rakyat NTT menunggu tindak lanjut kunjungan tersebut. Bagaimana pemerintah daerah NTT merealisasikan program percepatan pembangunan demi kesejahteraan rakyat. Harga diri Flobamora ada di sana. Kerja belum selesai, belum apa-apa. Tapi yakinlah, NTT Bisa! Kalau ada kemauan. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 14 Februari 2011 halaman 1
Nadus
dion bata
NADUS sekeluarga akhirnya pulang kampung. Sudah enam belas tahun dia merantau dengan hasil yang bikin kagum. Pekerjaan bagus. Job bergengsi. Punya istri cantik dan dua anak yang sehat. Keluarga di kampung bangga bukan main!
Anak petani yang dulu ke sekolah dasar tanpa alas kaki kini sudah jadi orang penting. Dia pegawai negeri dengan jabatan eselon sekian. Sejak dulu cerita sukses Nadus sudah menjadi buah bibir di kampung.
Cerita kepulangan Nadus cepat menyebar di dusun kecil tempat Nadus dilahirkan. "Nadu walo nua," begitu kata orang-orang. Sudah tradisi di kampung Nadus, kata- kata yang berakhiran dengan konsonan atau huruf mati biasanya hilang dalam tenggorokan saat diucapkan. Nadus disapa tanpa huruf S. Robert disapa Robe. Tinus disapa Tinu saja. Marselus disapa Selu. Oh ya, sebelum tuan dan puan bingung, terjemahan "Nadu walo nua" adalah "Nadus pulang kampung."
Saat liburan sekolah Nadus dan keluarga pulang dengan pesawat terbang. Sang istri yang berasal dari suku berbeda senang bisa segera bertemu dengan mertua dan keluarga besar suaminya. Demikian pula anak-anak Nadus ingin bertemu kakek dan nenek mereka. Lebih dari itu mereka mau melihat kampung kelahiran Nadus yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita sang ayah.
Tiba di Kota A, Nadus membuat kejutan bagi istri dan anak. Mereka tidak langsung menuju kampung tetapi ke hotel dan menginap di sana. Nadus beralasan bahwa jarak ke kampung sangat jauh, butuh perjalanan sehari penuh sehingga mereka harus istirahat. Sesungguhnya jarak dari kota A ke kampung Nadus tidak lebih dari 50 km. Mestinya hari itu juga mereka tiba di sana. Nadus menyembunyikan sesuatu dari istri dan anaknya.
Keesokan harinya, Nadus sekeluarga menuju kampung menggunakan mobil sewaan. Nadus malu ko pakai angkutan umum. Dia tidak menggubris saat istrinya protes mengapa mereka tidak langsung check out dari hotel dan hanya membawa pakaian beberapa potong. "Sudah, nanti saja kita diskusikan. Kita harus buru-buru ke kampung," katanya.
Sekitar satu jam kemudian Nadus bertemu dengan kedua orangtua serta rumpun keluarga yang sudah menanti. Kedatangannya kali ini sangat spesial karena pertama kali dia bersama istri dan anak. Sejak berkeluarga, Nadus sebenarnya sudah beberapa kali pulang tapi selalu sendiri.
Orangtua Nadus yang sudah renta menangis haru saat menyambut kedatangan menantu dan dua orang cucu yang sedang lucu-lucunya. Meski hidup mereka susah, orangtua itu menjamu dengan baik. Mereka potong ayam kampung, masak beras merah dan sayuran segar bagi Nadus sekeluarga. Kedua anak Nadus terlihat sangat menikmati suasana alam kampung -- sesuatu yang tidak mereka rasakan di kota.
Kebersamaan yang indah ternoda menjelang senja. Nadus mengajak anak dan istrinya kembali ke kota. Mereka harus menginap di hotel. Nadus malu istri dan anaknya menginap di rumah orangtuanya yang reot. Rumah panggung berdinding bambu beratap seng bekas yang sudah bocor di sejumlah tempat. Di rumah itu pun tak ada tempat tidur dan kasur. Demikian pula dengan kamar mandi dan kakus. Meskipun sang istri mau bermalam di rumah itu, Nadus tetap pada keputusannya.
"Tidak apa-apa kita nginap di hotel. Orangtua saya mengerti. Kalau menginap di sini anak-anak bisa sakit," katanya memberi alasan. Daripada ribut berkelanjutan dan orang sekampung tahu, istrinya mengalah. Mereka kembali ke kota dilepas dengan tatapan pasrah orangtua Nadus.
Begitulah tuan dan puan, secuil kisah nyata yang terjadi beberapa tahun lalu di salah satu kampung di beranda Flobamora. Anak yang sukses di rantau pulang kampung tapi malu menginap di rumah orangtua sendiri karena tidak memenuhi standar rumah layak huni. Tentu saja tidak semua begitu kelakuannya. Banyak pula perantau yang sangat menikmati tidur di rumah orangtua atau keluarga di kampung -- apapun kondisinya.
Beta belum memiliki data valid apakah pengalaman keluarga Nadus masih terjadi sampai hari-hari ini? Sekadar menduga, boleh jadi masih ada putra-putri NTT yang malu seperti Nadus. Malu karena orangtuanya tinggal di rumah reot. Malu karena orangtua mereka belum mengenal kamar mandi dan kakus. Orangtua kita merasa lebih nyaman membuang hajat di hutan atau di balik pohon rimbun. Tidak mandi seharian tak apa-apa.
"Semestinya kita yang sudah sukses di rantau malu karena gagal mengubah wajah kampung. Kenapa kau tidak bangun rumah layak huni dan sehat bagi orangtuamu?" kata seorang kawan menggugat perhatian.
Kiranya temanku itu benar. Dalam beberapa kesempatan sejak tahun 2009 kuping beta terusik tatkala mendengar sentilan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya tentang apa yang disebutnya sebagai GPK (Gerakan Pulang Kampung). Gubernur mengajak anak-anak NTT untuk membangun kampung halaman masing-masing.
Ikatan keluarga, paguyuban, komunitas atau kelompok arisan yang menjamur di berbagai kota di NTT mestinya menyambut ajakan itu dengan serius lewat agenda aksi terukur. Membangun kampung lewat gerakan masyarakat sipil belum mentradisi di ini propinsi. Baik adanya bila ajakan itu terus kita gaung-gencarkan. Kita jadikan tradisi agar tidak ada lagi Nadus-Nadus baru di masa depan. Tuan ingat kampung halaman? Ayolah! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 31 Januari 2011 halaman 1
Puting
dion bata
DALAM hitungan detik 160 rumah penduduk dan fasilitas umum di delapan kelurahan dalam Kota Kupang porak-poranda. Puting menerbangkan atap. Beliung mengobok-obok rumah dan segala isinya. Rumah para jelata berdinding bebak, beratap seng kumal dengan konstruksi bangunan seadanya.
Tak ada korban jiwa, namun terjangan angin puting beliung Jumat 14 Januari 2011 memaksa ratusan jiwa kehilangan tempat bernaung dalam sekejap. Air mata tumpah lagi di Kota KASIH. Beta sedih dan prihatin mengingat nasib para korban.
Seorang ibu nyaris kehilangan bayi berusia enam bulan. Si buah hati sedang lelap dalam kantong tidur dari bahan tenunan Timor saat beliung menerbangkan rumah. Jika ibu muda itu terlambat meraih kantong tidur yang sedang dihela angin, tak tahu lagi seperti apa nasib anak yang mungil. "Tuhan masih sayang beta pung anak," katanya sambil memeluk erat putranya.
Siapa orang pertama yang berada di lokasi bencana? Tak segera tampak batang hidung mereka yang bertanggung jawab di Kota Kupang. Yang saban hari bercakap demi rakyat! Di hari Jumat kelabu itu, beta maklum mereka masih merapatkan barisan guna melanjutkan rapat. Mereka amat disibukkan oleh penjadwalan ulang agenda sidang di gedung kokoh nan megah.
Terima kasih puting. Syukur untuk beliung. Alam selalu punya cara menampar kepongahan manusia. Kalau manusia bisa menciptakan puting beliung lewat pertarungan kepentingan politik antarelite, alam juga bisa menghadirkan puting beliung yang bikin kepala pening. Kalau manusia bangga melancarkan badai kebohongan publik, alam cukup kirim si topan Vince.
Vince mencurahkan air dari langit berhari-hari. Tak kenal siang dan malam. Manusia pun tunggang-langgang.
Perlawanan alam terhadap manusia di awal tahun 2011 ini lewat media air dan angin. Air bah melanda hampir seluruh muka bumi. Di Australia, Kota Brisbane nyaris lumpuh. Sejumlah wilayah di ibukota Queensland yang elok kini laksana zona perang. Banjir menenggelamkan rumah, membenamkan mobil, menggerus bangunan pencakar langit. Merusak jaringan listrik dan air bersih. Taman kota buruk rupa. Bunga-bunga berlumuran lumpur dan sampah. Teknologi canggih Australia lunglai menghadapi tumpahan air. Sedikitnya 80 orang tewas, sebagian besar korban hilang entah ke mana.
Di negeri bola Brasilia, 270 orang tewas tertimbun tanah longsor dan banjir saat mereka lelap dalam mimpi. Di malam gelap tak berbintang tanah longsor mengubur hidup-hidup warga kota pegunungan di dekat Kota Rio de Janeiro.
Saat fajar menyingsing, tim SAR menemukan mayat tergeletak di banyak tempat dalam kondisi mengenaskan. Sebagian tertimbun lumpur. Hujan lebat juga menewaskan 13 orang di negara bagian Sao Paulo, 130 orang di Teresopolis dan 107 orang di Nova Friburgo. Brasil yang baru saja berdansa atas terpilihnya Dilma Rousseff sebagai perempuan pertama negeri itu menjadi presiden kini berduka.
Brasil tidak sendirian diterjang tanah longsor yang berawal dari curah hujan di atas rata-rata. Tragedi yang sama terjadi di Belu, tapal batas Indonesia-Timor Leste. Longsor di jalan raya Halilulik-Nanaet Duabesi mengisolasi tiga desa, yaitu Desa Nananoe, Fohoeka dan Nanaet sejak Kamis 13 Januari 2011.
Kisah air bah kini sudah menjadi kenyataan sehari-hari. Dunia dikepung air. Dari laut lewat abrasi, tsunami dan terus naiknya permukaan air akibat pemanasan global. Di daratan gundul banjir mengamuk. Dan, langit menumpahkan air lebih dari lazim. Badai sekadar menyempurnakan kesengsaraan bumi.
Ingat air bah, bangsa Rusia rupanya terinspirasi kisah Nabi Nuh. Perusahaan arsitektur Rusia, Remistudio tengah merancang hotel yang berperan sebagai bahtera penyelamat saat permukaan air laut naik secara ekstrim dan menenggelamkan sebagian bumi. Namanya Ark Hotel yang bisa berada di laut atau darat. Hotel mirip kerang ini tahan banjir, gelombang dan gempa. Ark Hotel bisa mengapung dan muncul otomatis di permukaan air.
Arsitek Rusia mengklaim, desain yang terdiri dari konstruksi busur dan kabel dengan bantalan bisa mendistribusikan berat secara merata. Selain itu struktur bawah tanah berbentuk tempurung, tanpa tepian atau sudut. Hotel raksasa ini diklaim juga sebagai biosfer, surga yang nyaman bagi penghuninya. Desain hotel futuristik itu menggunakan panel matahari dan instalasi pengumpul air hujan guna menjamin ketersediaan energi dan air bagi penghuninya. Lingkungan yang mirip rumah kaca memungkinkan tanaman tumbuh subur, meningkatkan kualitas udara dan menyediakan makanan. Hebat!
Beta ingat inspirasi batin dari Ramakrishna yang diceritakan kembali Anthony de Mello, SJ. Menurut Ramakrishna, Allah tertawa pada dua kesempatan. Pertama, Allah tertawa saat dokter berkata kepada seorang ibu. "Jangan takut, anak itu akan saya sembuhkan." Allah berkata kepada dirinya sendiri. "Saya merencanakan untuk mengambil hidup anak ini, tetapi orang ini berpikir bahwa ia dapat menyelamatkannya!"
Allah juga tertawa kalau Ia melihat dua orang bersaudara membagikan tanah mereka, menandainya dengan garis dan berkata, "Sisi ini adalah milikku dan sisi lain adalah milikmu." Allah berkata kepada dirinya sendiri. "Jagat ini adalah milik saya dan mereka merasa berhak menjadi pemilik atas bagian-bagiannya!"
Jadi, silakan saja orang Rusia yang pintar itu membuat Ark. Mereka lupa dalam hitungan detik si empunya hidup dapat melumat Ark. Siapa mampu meraba rencana Tuhan? Yang jelas ada yang bisa tuan raba dan lihat di beranda kampung kita. Sebagian pemimpin tiada henti bertarung. Kata-kata mereka tidak saling menyembuhkan. Itulah puting beliung yang menerbangkan harapan dan mencabut rumah persaudaraan. Dampaknya? Oe.. ngeri kawan! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 17 Januari 2010 halaman 1
Pemain
dion bata
KITA adalah homo ludens, makhluk bermain. Maka bermainlah adik. Jadilah pemain, main sesuai aturan main. Jika permainanmu dimainkan main-main hasilnya sekadar mainan. Tiada berguna. Kau akan jadi korban permainan, terhempas dari gelanggang kehidupan yang demikian keras.
Kata-kata manis itu acap diucapkan para senior saat membina anak baru di organisasi ekstra kampus tahun 1980-an dulu. Pembinaan iman kali otak kali watak selalu dikemas dalam suasana bermain. Ada waktu bermain logika. Ada saat mainkan rasa. Rasa dan nalar mesti seimbang. Nalar semata dunia akan kehilangan hati. Rasa melulu hidup enggan mati tak mau.
Urusan main, pemain, bermain, permainan dan aturan main kini menghangatkan Indonesia yang baru sepuluh hari menghirup udara 2011. Juga memanasi tungku beranda Flobamora yang hari-hari ini terus diguyur hujan disertai angin.
Di fora nasional hardikan perang terlontar dari mulut Nurdin Halid, ketua umum PSSI, merespons inisiatif Arifin Panigoro menggulirkan Liga Primer Indonesia (LPI) mulai 8 Januari 2011. Pemain yang bermain di klub peserta LPI haram masuk tim nasional karena kompetisi tanpa dana APBD tersebut dianggap ilegal. Nurdin berdalih sesuai aturan main PSSI dan FIFA hanya mengakui kompetisi sepakbola di bawah asuhan PSSI yaitu Liga Super Indonesia (LSI). Wuih!
Hardikan itu sungguh membilur luka. Masyarakat Indonesia yang baru saja mereguk secuil bahagia atas penampilan apik tim Garuda di ajang Piala AFF selama Desember 2010, meski gagal menjadi juara, tiba-tiba sadar menjejak bumi yang getir. Betapa negeri ini amat riang mencabik-cabik. Melukai.
PSSI kobarkan perang terhadap LPI. Konfrontasi. Ganyang habis. Lebih garang ketimbang semangat ganyang Malaysia yang gagal Merah Putih taklukkan di final Piala AFF 2010. Kental benar arogansi pengurus organisasi tertinggi persepakbolaan nasional. Jalan dialog seolah tabu di medan bola Indonesia.
Sebagai ajang kompetisi yang dicita-citakan menjadi profesional dan menjujung tinggi fair play, seyogianya LPI diberi kesempatan dulu untuk membuktikan misinya tanpa harus diganggu. Ini belum apa-apa PSSI sudah main ancam. Tebar teror! Atas nama aturan main, inisiatif LPI dimainkan PSSI sedemikian rupa agar layu sebelum berkembang.
PSSI tidak berperan sebagai induk yang memelihara anak-anak bola Indonesia agar tumbuh besar dan berjaya. Oleh kepentingan terselubung PSSI justru menjadi pemain. Pemain dengan karakter menyerang siapa saja yang dianggap mengganggu privelesenya. Jangankan level Asia atau dunia, sekadar jawara di Tenggara Asia pun sekadar mimpi bila mengelola sepakbola dengan cara main-main semacam ini.
Pemain paling yahud alias top markotop tak pelak lagi milik Gayus Tambunan.
Gayus mempermainkan aturan main serta keangkeran Tahanan Brimob dengan uangnya berkarung-karung. Setelah heboh pelesir ke Bali yang wajahnya terekam kamera wartawan, tanggal 24-30 September 2010 Gayus juga melakukan perjalanan ke luar negeri yakni ke Makau dan Kuala Lumpur dengan paspor palsu, rambut palsu, identintas palsu. Namanya Sony Laksono. Dapat paspor dari kantor imigrasi menggunakan jasa calo.
Negeri ini kalah melawan seorang Gayus yang mungkin berprinsip terlanjur basah lebih baik mandi sekalian. Semua orang tahu kelihaian Gayus memainkan aturan perpajakan demi perkaya diri. Uang gemuk, kenapa tidak dipakai? Selagi mungkin manfaatkan kesempatan. Mumpung penjaga tahanan juga muka uang. Sekali sorong langsung monyong. Dengan uang Gayus menunjuk bukti bahwa dia tidak sendirian. Gayus bukan pemain tunggal di medan laga korupsi, kolusi dan nepotisme. Hampir semua lini penegak hukum merupakan pemain profesional.
Republik ini mirip kartel yang dikendalikan para bandit dan penggarong. Fiat justitia et ruat coelum. Keadilan harus ditegakkan meskipun langit runtuh adalah utopia di negeri kita. Langit hukum di ini negeri telah runtuh beribu kali. Dewi hukum berderai air mata oleh permainan memuakkan.
Saat heboh Gayus pelesir ke Bali terungkap medio November 2010, pemimpin negeri berkoar dalam waktu sepuluh hari kasus itu masuk pengadilan. Puihh... omong kosong belaka. Hampir dua bulan sudah proses hukumnya tidak jelas. Kalau di jantung ibukota negara saja cara kerjanya semacam itu, apalagi jauh di dusun seperti Nusa Tenggara Timur. Hancur-lebur.
Dalam dua tahun terakhir beribu kali media mewartawakan penahanan batu mangan oleh aparat negara karena melawan aturan main. Belum seorang pun masuk bui karena mangan. Maklumlah semua pemain profesional. Mangan adalah uang. Menjadi kabur air siapa pemain, siapa wasit, siapa penjaga.
Di ujung Timur Nusa Bunga yang kaya panorama gunung dan laut membiru, permainan tak kalah menggemparkan. Setahun sudah Pemilu kada Flores Timur jalan di tempat. Pengatur laku telah berganti tapi perang, perang dan perang lagi. Semua ingin menang sendiri. Perjuangkan kepentingan sendiri.
Semua jadi pemain, entah kiri dalam atau kanan luar. Aturan main dimain-mainkan. Menjadi bola permainan baru. Repotnya lagi semua mau menjadi pemain menyerang. Serang sana serang sini. Tak ada yang berbesar hati menjadi wasit saja. Pengamat saja. Menjadi penengah atau pengayom menuju solusi. Lilin sudah lama redup di Nagi. Sedih. Energi rakyat nyaris terkuras habis.
Energi juga tercurah di Kota Kupang. Jalan buntu ketika elite eksekutif dan legislatif membahas anggaran untuk pembangunan dan pemerintahan tahun 2011. Mereka bertemu tapi tak saling sapa. Bersua tanpa jumpa. Kau di sana, aku di sini. Ini dadaku, mana dadamu? Dialog seolah haram. Pintu maaf terkunci rapat. Natal Bersama dengan pesan damai riuh rendah bergema di kota seribu gereja ini. Hallo para pemimpin, tunjukkan secuil kepada kami apa makna pesan damai dan kasih itu? Main, pemain, permainan, aturan main, main aturan, main-main, mainkan, mainan dimain-mainkan untuk permainanmu?
Saat guntur mencabik langit Kupang, angin dan hujan tumpah berjam-jam lamanya sepanjang akhir pekan lalu, seorang teman menulis status di akun FB-nya. Tuhan e.., apakah ini tanda-tanda ada yang mau tumbang ko? Tuhan tahu meski Ia tak menyahut.
Beta berkomentar, bukan lagi-lagi tanda-tanda bung, memang sudah ada yang tumbang! Ya, itu... beberapa pohon di dekat pondok tinggalku di Kolhua. Dia ngakak dari balik telepon. Senang beta masih ada tawa di Kota KASIH, di tengah telaga kasih yang kian mengering. (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang Senin, 10 Januari 2010 halaman 1
Kudis
dion bata
PAYAH! Tahun ini kinerja unit yang kupimpin tidak mencapai target yang telah dituangkan dalam KPI (Key Perfomance Indicator). Soalnya saya dan para stafku menderita banyak penyakit, kudis, asma, TBC, kram, asam urat, ginjal, pucat dan flu. Selain sering flu, saya sendiri malah kena penyakit kudis.
Demikian isi pesan singkat dari seorang kawan perempuan jelang tutup tahun 2010. Beta tercenung sejenak. Kok bisa ya? Wanita karir secantik dia yang selalu rutin ke salon merawat diri dan dua kali sepekan berolahraga kena kudis? Kalau pilek sih maklumlah, itu penyakit dasar yang bisa menimpa siapa saja. Apalagi saat cuaca kurang bersahabat seperti sekarang. "Ah tidak mungkin kamu kudisan," jawabku enteng.
Tiba-tiba telepon genggam berdering. "Serius bung, saya kudis alias kurang disiplin, sehingga kinerja tahun ini anjlok," ujarnya diikuti tawa berderai. Sialan! Beta terkecoh. Kemudian meluncurlah cerita panjang lebar dari mulutnya tentang delapan jenis penyakit yang dia sebutkan tadi.
Kudis: kurang disiplin dia lukiskan sebagai penyakit utama. Sebagai pemimpin unit dia kurang disiplin mengendalikan seluruh kegiatan sehingga pencapaian target tidak terpenuhi. Kudis pun menjadi tabiat umum para staf. Mereka kurang disiplin masuk kerja, kurang disiplin menyelesaikan pekerjaan harian, membuat laporan bulanan dan kurang disiplin melakukan evaluasi dan sebagainya.
Penyakit kedua asma: asal mengisi absen. Bagi sebagian karyawan-karyawati yang penting mengisi absen sesuai ketentuan agar tercatat masuk kerja. Tidak terlalu penting bagi mereka bagaimana hasil kerja. Absensi hanya menjadi tanda yang sah bahwa mereka masuk kantor. Perkara setelah absen terus pelesiran ke pasar, toko atau pusat perbelanjaan sampai ditangkap aparat Sat Pol PP, itu bukan masalah besar.
Penyakit ketiga TBC: Tidak Bisa Computer. "Maksudku kalau kerja dengan komputer suka gagap. Paling lancar ya MS Word. Kalau kita minta pakai program excel atau powerpoint hanya satu dua orang yang mampu," kata temanku itu. Dia merasa heran di 'zaman komputer' dewasa ini masih banyak yang gatek alias gagap teknologi. Beta bilang tidak perlu heran karena banyak juga bos-bos di banyak kantor yang TBC. Maklum kebiasaan suruh anak buah. Saat harus kerja sendiri dengan komputer bingung. He-he-he..
Penyakit keempat kram: kurang terampil. Kebanyakan pegawai kurang terampil dan teliti (akurat) saat mengerjakan suatu tugas yang diberikan. Mereka kerjakan asal jadi sehingga hasilnya jauh dari harapan. Ada karakter umum orang kita yakni tidak mau belajar lagi atau mengasah keterampilan setelah menjadi pegawai atau karyawan tetap. Akibatnya mereka miskin inisiatif dan kreativitas untuk melakukan suatu perubahan.
Kelima, penyakit asam urat: asal sampai kantor terus uring-uringan atau tidur. Uring-uringan itu terjadi karena beragam sebab yang memicu. Boleh jadi karena tugas pokok tidak sesuai minat dan kompetensi pegawai yang bersangkutan. Selain itu dari sononya ada saja tipe pegawai pemalas. Kerja tunggu perintah atau komando. Kalau tidak disuruh dia tidur- tiduran. Sonde malu makan gaji buta, kata orang Kupang.
Penyakit keenam, ginjal: ingin selalu naik gaji meski kerja lamban. Kalau urusan duit kiranya terjadi di mana-mana. "Yang ada dalam otak dan hati pegawai adalah gaji naik. Bila perlu naik berkali-kali," kata temanku tadi. "Orang lupa kalau uang itu hanya mengenal kata kurang," tambahnya. "Setuju dengan pandangamu. Cuma sebagai pemimpin kita ini mendadak pelit kalau bicara soal gaji," jawabku sekenanya saja. Sebelum melanjutkan cerita dia terdiam sejenak. Beta tidak tahu apa yang sedang bergejolak di hatinya. Dalamnya hati siapa tahu?
Pucat: pulang cepat. Itulah penyakit ketujuh. Masuk kantor acap terlambat, tapi pulang selalu yang pertama bahkan sebelum jam kantor berakhir sekian menit. Untuk perilaku semacam ini ada istilah yang mirip yakni tenggo. Teng Go! Misalnya jam pulang kantor pukul 16.00, maka tepat jam itu pegawai tertentu langsung go (pergi). Dia tidak peduli apakah pekerjaannya hari itu sudah rampung atau belum. Baginya tepat jam harus pulang.
Pekerjaan sisa lanjut besok. Kalau mau tambahan jam kerja hitung baik-baik dulu uang lembur.
"Nah penyakit yang kedelapan ini bikin saya pusing soal cara meminimalisirnya yakni flu: facebook melulu," ujar temanku. Sejak booming facebook (fb) di Indonesia dua tahun terakhir para stafnya ketagihan fb. Saat masuk kerja pagi, pekerjaan pertama adalah up date status. Banyak waktu kerja tersita untuk berkomunikasi dengan teman di fb.
Mereka lupa tugas pokok yang lebih urgen. Gara-gara fb kita melihat banyak orang senyum sendiri di pojok ruangan kerja, di kantin atau di dalam angkutan umum. Mereka asyik senyam senyum sambil menatap layar komputer, laptop atau ponsel di tangan. Tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya.
Senyum sendiri di zaman ini bukan hanya tabiat orang gila sungguhan. Selamat tahun baru 2011. Apanya yang baru bagi tuan dan puan? (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 3 Januari 2011 halaman 1
Suanggi Makan Korban di Adonara
dion bata
![]() |
| ilustrasi |
LARANTUKA, POS KUPANG.Com -- Setelah di Rote, Alor, Kota Kupang dan Ende, tuduhan suanggi kembali makan korban. Kali ini terjadi di Adonara, Kabupaten Flores Timur. Dua rumah hancur dirusak massa. Penghuni yang dituduh suanggi tinggalkan Adonara.
Korban tuduhan suanggi adalah Dominggus Libu Kleden (66) dan Kamilus Ketan Lier Kleden, warga RT 6/RW 12, Dusun Watodei, Kecamatan Adonara Barat. Rumah keduanya dirusak massa hingga rata tanah pada Jumat (31/12/2010) dan Sabtu (1/1/2011).
Semua harta benda milik korban tidak terselamatkan kecuali pakaian di badan. Bahkan, semua perkakas dapur dan rangka jendela untuk bangunan sekolah dasar (SD) Danibao dihancurkan dan bakar massa sekitar 100 orang.
Warga Dusun Watodei menuding korban sebagai suanggi yang menyebabkan anak mereka meninggal dunia. Karena itu mereka membakar dan mengusir korban yang sudah bermukim puluhan tahun di desa tersebut.
Dominggus Libu Kleden saat ditemui di rumah keluarganya di Kelurahan Lewerang, Kecamatan Larantuka, Selasa (4/1/2011), menuturkan kronologis kejadian itu. Menurut dia, pada Rabu (29/12/2010), menantunya Florentina Perada yang juga kader posyandu diminta salah satu keluarga di desa itu untuk menyembuhkan seorang balita menggunakan jampi-jampi.
Dia melarang karena menantunya bukan dukun. Namun keluarga itu terus memaksa untuk menyembuhkan balita itu. Sehari kemudian, balita yang diduga menderita gizi buruk tersebut meninggal dunia. Karena balita itu meninggal, Kamis (30/12/2010), beberapa anggota keluarga balita itu langsung datang ke rumah Keleden dan marah-marah.
"Mereka mengatakan kami menggunakan ilmu hitam sehingga anak mereka meninggal. Apa yang mereka sampaikan, kami tidak tanggapi. Namun, esoknya mereka datang membawa massa sekitar 100 orang lebih hendak membakar rumah saya yang permanen dan rumah anak saya yang semi permanen. Saat itu saya bersama istri, anak dan cucu berada dalam rumah. Rumah tidak dibakar. Mereka melempar rumah saya dengan batu dan benda-benda keras lainnya. Saat itu, kami sekeluarga keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri. Dibantu beberapa keluarga yang ada di desa serta pihak keamanan kami ke Larantuka," tutur Kleden yang pada kesempatan itu didatangi Penjabat Bupati Flotim, Drs. H. Muhammad S. Wongso, ketua Tim Penggerak PKK, Hj. Rosmini Semsi Wongso, SE, Inspektorat Daerah (Irda) Flotim, Ahmad Bethan, Kabag Humas, Rufus Koda Teluma, Camat Adonara Barat, Valentinus Basa, Lurah Lewerang, Yoseph K. Matutina serta keluarga korban.
Ia mengakui, setelah rumahnya dirusak harta benda di dalamnya dibakar. "Saya tidak bisa menghitung kerugian, karena yang dibakar selain dua rumah juga kios dan mebel. Kami tidak punya apa-apa lagi. Kami harus memulai dari nol," kata Kleden sambil menahan air mata.
Kleden mengakui, saat itu dia sempat berpikir untuk berhadapan dengan warga yang datang dengan beringas saat itu. Namun, mengingat sejumlah cucunya yang masih kecil di dalam rumah sehingga ia memilih untuk keluar dari rumah.
"Saya ini tidak takut dengan orang, tapi berpikir banyak anak dan cucu. Ini negara hukum sehingga saya memilih mengamankan keluarga saya. Dan, saya juga minta kepada keluarga agar tidak terpancing. Biarlah pemerintah yang mengatur. Kami ingin keadilan. Karena itu, kami minta kepada bapak Kapolres, bapak bupati untuk memberikan rasa adil kepada kami. Kami kami juga berterimakasih kepada semua khususnya bapak kapolres, bupati, kapolsek dan masyarakat yang bersimpati kepada kami," katanya.
Korban akibat tudingan suanggi sebelumnya menimpa rumah pasangan suami- istri Frans da Cunha dan Yosefina da Lima di Jalan Undana, Kelurahan Kota Raja, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende. Rumah mereka dilempari massa, Minggu (28/11/2010) sekitar pukul 02.00 Wita. Rumah itu dihujani batu hingga pintu dan jendela rusak. Tuan rumah, Yosefina terkena lemparan batu di pelipis. Ia dilarikan ke RSUD Ende.
Polisi masih menyelidiki motif dari pelemparan itu. Tetapi kuat dugaan aksi itu dilatarbelakangi tudingan yang menyebutkan keluarga ini memiliki ilmu hitam atau suanggi. (iva)
Serahkan Bantuan
KEJADIAN tragis yang menimpa dua warga Dusun Watodei, mendapat atensi dari Penjabat Bupati Flotim, Drs. Muhammad S Wongso. Di hadapan Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, Kapolres Flotim dan Dandim Larantuka pada acara Natal bersama di Gedung Orang Muda Katolik (OMK), Senin (3/1/2011) malam, Wongso meminta agar Kapolres Flotim menangani kasus tersebut secara juga meminta uskup dan para rohaniwan mendoakan keluarga yang sedang didera masalah.
"Pantaskah di tengah-tengah kita melaksanakan kedamaian di malam Natal ini, masih ada saudara kita yang diperlakukan tidak adil. Batin tidak tenang. Karena itu saya minta agar Kapolres memberikan mereka keadilan. Negara ini negara hukum. Tidak ada yang boleh main hakim sendiri," kata Wongso.
Wongso yang baru menerima informasi dari Camat Adonara Barat, Senin (3/1/2011) malam, langsung meminta stafnya menyiapkan bantuan. Hari Selasa (4/1/2010), Wongso menyerahkan bantuan berupa uang Rp 10 juta dan beras 500 kepada keluarga korban. Bantuan itu diterima Dominggus Libu Kleden (66) dan istri, Yasinta Tulit (65) di rumah keluarga mereka di Kelurahan Lawerang.
"Bantuan ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerugian yang bapak derita, namun ini bagian dari partisipasi pemerintah untuk keluarga bapak. Bahwa bapak tidak sendiri namun bersama kami semua," kata Wongso.
Ia juga meminta kepada Camat Adonara Barat agar mengurus cucu-cucu dari keluarga Kleden yakni, Yohanes Sabon Ama Doni, SMP kelas I, Magdalena Tuto Kleden, SD kelas 4, Philipus Dahe Kleden SD kelas 5 dan Stevenia Ina Libu Kleden, SD kelas II untuk sekolah di Larantuka.
"Saat ini camat masih konsentrasi pemulihan suasana di Desa Bukit Saburi. Anak-anak harus sekolah. Jangan dipersulit saat proses pemindahan untuk dititipkan sementara agar pendidikan mereka tetap jalan," harapnya.
Sementara Kapolres Flotim, AKBP Eko Kristianto yang dihubungi pertelepon ketika berada di Adonara Barat mengakui, pihaknya sedang mengidentifikasi pelaku.
"Kami masih melakukan identifikasi. Secepatnya, kami akan ungkapkan siapa pelaku pengrusakan karena tidak semua orang yang datang ke kediaman korban ikut merusak," katanya. (iva)
FloresStar 5 Januari 2011 halaman 1
Tuhan Lengah
dion bata
DUA hari menjelang HUT ke-24 Propinsi Nusa Tenggara Timur, Bung Kanis menghangatkan sidang paripurna DPRD NTT di Kupang dengan kisah fantasi tentang untaian kepulauan di ini propinsi.
Berkisahlah Si Bung dengan gaya oratornya yang khas sebagai berikut. Pada hari terakhir di saat Tuhan hendak beristirahat dari pekerjaan mencipta ini dunia, Jawa telah subur luas mendatar. Sumatra dengan lebam rimba rayanya biru-biru hitam terkapar. Kalimantan berat terhampar tersegi-segi membola.
Sulawesi nakal-nakal lincah menari-nari mengempat jari, dan ke sebelahnya Dia serak lempar Kepulauan Maluku, kilat berkilau- kilau hidup kilau sawah habis terluku. Papua? Sengaja Tuhan ciptakan mengepala burung, kepala burung Kasuari.
Tuhan puas. Puas memandang butiran intan permata yang sengaja Ia kalung khatulistiwa. Terciptalah sudah lilitan permata, terciptalah sudah jamrud khatulistiwa, terciptalah sudah Republik Indonesia.
Dan, Tuhan hendak beristirahat. Tapi eeii ... ada tanah melekat di tangan, masih gumpalan kecil-kecil tanah liat melingkup jari jemari. Sejenak Tuhan lengah dan Dia mengebaskan tangan. Gaib ajaib kebasan Alwasia. Tanah yang melayang terkebas, membentuk rentetan pulau-pulau kecil baru di tengah lautan.
Tuhan kaget. Tampak hijau timbul tenggelam pulau yang enam. Semua kecil, terlalu tidak berarti tidak berdaya di tengah pulau- pulau jantan besar.
Tuhan bimbang. Mau diapakankah pulau-pulau kecil itu, memanjang tidak berdaya digelung buas ombak samudera terselatan? Terciptakan tidak tertakdirkan kembang enam seuntai, sama membentuk gugusan Nusa Tenggara.
Tuhan tafakur. Ai tidak! Tuhan tidak hendak menganaktirikan kembang seuntai, meski cuma ciptaan kebetulan, hasil lengah kebasan tangan hendak istirahat.
Dengan senyum kasih Tuhan merelakan masing-masingnya keistimewaan. Bali lemah gemulai tari dewangga raya; Lombok hamparan subur tanah ladang tanah sawah; Sumbawa madu berlepotan di dedahanan rimba belantara; Sumba dengus ringkik kuda lumba; Timor hewan limpah di tandusnya sabana dan Flores pesona panorama.
Mencegah tercipta kebetulan baru, jauh di atas gunung-gunung Flores, tertegun Tuhan mencuci tangan. Eii lihat! Air kotor cuci tangan, menitik jari-jemari Ilahi, membuat pesona baru: Tiga buah danau, Kelimutu unikum dunia. Danau berwarna tiga; yang satu merah darah, satu lagi hijau girang pupus pisang, di sampingnya putih-putih kabur kulit telur asin. Kain penggosok tangan Ia lempartebarkan ke permukaan, mengepul menguaplah harum firdaus, hutan cendana harum mewangi di Timor.
Cerita fantasi tentang Nusa Tenggara Timur itu dituturkan Kanis Pari sebelum menyatakan sikap fraksinya, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menerima Nota Keuangan dan Rancangan Perubahan APBD I NTT tahun anggaran 1982/1983 untuk ditetapkan dalam Perda pada sidang paripurna DPRD NTT tanggal 18 Desember 1982 (Kanis Pari, Jangan Takut Berpolitik, 2004: 265).
Setiap kali merayakan hari jadi ini propinsi, beta suka membaca kembali cerita fantasi Bung Kanis Pari. Kisah fantasi yang menggelitik sekaligus memberi ruang sejenak untuk introspeksi. Benarkah Tuhan menciptakan gugusan pulau-pulau kecil di kawasan Nusa Tenggara ini tanpa rencana? Hasil lengah kebasan tangan Ilahi saat hendak istirahat? Ah, si Bung ada-ada saja. Tuhan tentu punya rencana sendiri dengan menghadirkan gugusan pulau yang indah di kawasan selatan NKRI. Kepulauan ini menyimpan keistimewaan yang tidak dipunyai pulau yang lain, baik dari sisi manusia, alam maupun budayanya.
Bukankah Bali cukup sering lebih populer di mata dunia internasional ketimbang nama Indonesia? Bukankah Lombok kini disebut sebagai Bali plus karena keistimewaan mereka merawat dan memanfaatkan karunia Tuhan lewat pembangunan total di bidang pariwisata?
Dua hari menjelang HUT ke-52 Propinsi NTT, pemerintah propinsi meluncurkan Visit Flobamora di Aula El Tari-Kupang dengan target kunjungan 1 juta wisatawan pada tahun 2013.
Tekad yang luar biasa. Kita salut dan hormat. Sudah semestinya NTT lebih percaya diri karena dibandingkan dengan Bali, Lombok atau Sumbawa, gugusan 566 pulau di kawasan ini jauh lebih kaya. Kaya tak terkira.
Masalah Flobamora sejak dulu hanya satu, kita kurang fokus dan total mengurus satu soal agar dunia mengenal NTT sebagai apa. Kita mau mengurus banyak hal sehingga serba tanggung lalu tercecer di mana-mana.
Tentang pembangunan pariwisata, beta ingin mengutip pesan inspiratif dari P. Robert Ramone, CSsR, salah seorang pemenang NTT Academia Award 2010. Menurut pastor dari kongregasi Redemptoris yang berkarya di Pulau Sumba tersebut, kuranglah tepat diksi menjual obyek wisata karena karya tangan Tuhan yang indah itu sesungguhnya sudah menjual dirinya sendiri. Tugas pemerintah (negara) adalah membuka akses agar setiap orang dapat bepergian ke obyek- obyek wisata tersebut dengan mudah.
Nah, bagaimana kenyataan hari ini di beranda Flobamora? Tuan dan puan sudah tahu sehingga beta tak perlu beri tahu. Dirgahayu Nusa Tenggara Timur. NTT Bisa (lebih baik). Kalau mau! (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang, Senin 20 Desember 2010 halaman 1











