Vatikan Menanti Asap Putih

Paus Benediktus XVI
Oleh Trias Kuncahyono

Seperti monarki sekuler, Paus dipilih untuk seumur hidup. Namun, itu tidak berarti bahwa tidak dimungkinkan seorang Paus mengundurkan diri. Memang pengunduran diri tidak biasa terjadi karena bisa memunculkan persepsi terhadap stabilitas hierarki Gereja dan mungkin akan memunculkan preseden mendesak agar seorang Paus mundur.

Wajarlah kalau muncul pertanyaan: mengapa Paus Benediktus XVI mengundurkan diri? Pertanyaan itu muncul setelah ia mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin lalu. Hukum Gereja (Kanon 332.2 tahun 1983) menyatakan, seorang Paus bisa mengundurkan diri. Pengunduran diri itu harus "diambil benar-benar secara bebas". Itulah yang ditegaskan oleh Vatikan. Ini dimaksudkan untuk membuang dugaan adanya intrik dan konspirasi dalam pengunduran diri itu.

Paus Benediktus memilih mundur karena alasan kesehatan. Benarkah demikian? Harian terbitan Inggris, Telegraph, misalnya, memunculkan teori konspirasi. "Ada desakan dari luar," tulisnya. Namun, apa dan siapa pihak luar itu? Mafia?

Sekitar 600 tahun silam, Paus Gregorius XII (1415) mengundurkan diri. Alasannya jelas: untuk mengakhiri skisma, perpecahan Gereja. Ketika itu, selain di Roma, kelompok tak setuju Roma menjadikan Avignon, Perancis barat daya, dan Pisa, Italia, menjadi pusat Gereja. Daripada skisma berlarut-larut, Paus Gregorius XII memutuskan mundur.

Paus Selestinus V mengundurkan diri pada tahun 1294. Ia memilih hidup sebagai rahib. Saat itu, ia berusia 85 tahun. Paus Johanes XVIII pada tahun 1009 memilih mundur dan menghabiskan hidupnya sebagai rahib di biara.

Siapa penggantinya?

Lalu, siapa yang akan menjadi Paus mendatang? Pertanyaan itu segera disusul pertanyaan lain, bagaimana nanti di Roma ada dua orang Paus. Apa tidak akan terjadi persaingan? Paus Benediktus XVI, yang ketika belum terpilih sebagai Paus dilabeli sebagai tokoh konservatif, ideolog Vatikan, bahkan mendapat julukan Panzerkardinal dan God's Rottweiler, tidak pernah dikenal sebagai "pemain politik yang haus akan kekuasaan".

Dalam tradisi Gereja Katolik, syarat paling utama untuk menjadi Paus adalah rendah hati. Oleh karena itu, gelar seorang Paus bukan hamangku bawana, memangku dunia (menguasai dunia), melainkan servus servorum Dei, hamba dari para hamba Tuhan. Kerendahan hati itulah yang membuat tak ada kampanye sama sekali menjelang sebuah pemilihan Paus.

Meski demikian, beragam spekulasi pun sekarang sudah muncul, sama seperti dulu setelah Paus Yohanes Paulus II wafat. Ketika itu, Kardinal Ratzinger adalah salah satu yang disebut-sebut dan akhirnya terpilih menjadi Paus yang kemudian bergelar Paus Benediktus XVI. Kini muncul nama Uskup Agung Milan Kardinal Angelo Schola yang sangat melek akan teknologi dan media, yang dibutuhkan zaman kini dan mendatang; administrator terkemuka Vatikan, Kardinal Marc Quellet yang berasal dari Kanada; Kardinal Peter Turkson dari Ghana; dan Kardinal Timothy dari New York.

Banyak pula yang sudah menyodorkan "persyaratan" layaknya calon presiden: Paus mendatang haruslah seorang tokoh spiritual yang mampu menyatukan seluruh umat yang di satu sisi berkembang pesat, di sisi lain mendekati kolaps; yang mampu memimpin Gereja yang menghadapi banyak persoalan dan isu berbeda-beda tergantung wilayahnya-Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Semua itu sangat spekulatif. Pemilihan Paus tidak sama dengan pemilihan presiden. Diyakini bahwa pemilihan seorang Paus tidak lepas dari "penyelenggaraan Ilahi". Karena itu, manusia boleh merancang, mensyaratkan, dan berambisi, pada akhirnya "kuasa langitlah" yang menentukan sampai asap putih muncul dari cerobong dan terdengar seruan habemus Papam (kita memiliki Paus).

Saat itulah sejarah baru Gereja Katolik ditulis untuk menghadapi dan menghidupi zaman yang sedang dan terus berubah. *

Sumber: Kompas.Com

Baca Semua Artikel terkait PAUS

Ketika Gereja Katolik Sekarat di Jantung Eropa

Vatikan
TAK ada keharusan bahwa paus atau pemimpin Gereja Katolik dunia berikutnya, yang akan menggantikan Paus Benediktus XVI yang secara mengejutkan telah mengumumkan pengunduran dirinya, harus dari Afrika. Namun, begitulah Stan Chu Ilo, professor bidang agama dan pendidikan, di St Michael's College, Universitas Toronto, Kanada, memberi judul artikel di situs berita CNN, Rabu (13/2/2012).

Ilo telah menulis sejumlah buku antara lain The Face of Africa: Looking Beyond the Shadows dan The Church and Development in Africa: Aid and Development from the Perspective of Catholic Social Ethics.

Ia memulai artikelnya dengan komentar Kardinal John Onaiyekan dari Abuja, Nigeria, dalam sebuah perayaan Black History Month di Toronto, minggu lalu. Ketika itu, Onaiyekan ditanya apakah dirinya berpikir bahwa sudah tiba waktunya bagi seorang paus dari Afrika. Pertanyaan itu diajukan sebelum Paus Benediktus mengumumkan pengunduran dirinya.

Di hadapan 500 umat Katolik keturunan Afrika dalam perayaan itu, Onaiyekan mengatakan, "Waktu bagi seorang paus dari Afrika sudah tiba, bahkan pada saat para Bapa Apostolik pada abad pertama gereja. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya ingin agar dipertimbangkan untuk menjadi seorang paus, tetapi kenyataannya bahwa Injil harus diwartakan kepada semua bangsa, bahasa, dan ras. Itu berarti bahwa pimpinan tertinggi gereja harus terbuka kepada siapa pun dari ras, bahasa, dan bangsa apa pun. Saya tidak akan terkejut saat melihat ada paus orang Afrika dalam hidup saya."

Seminggu kemudian, Paus Benediktus XVI secara mengejutkan menyatakan akan mundur dari jabatannya pada 28 Februari ini. Peluang terpilihnya seorang paus dari Afrika pun terbuka dalam konklaf (sidang para kardinal untuk memilik paus) pada Maret mendatang.

Bagi banyak umat Katolik, dari mana seorang paus berasal mungkin tidak sama pentingnya dengan siapa paus itu. Namun, bagi banyak umat Katolik Afrika, tulis Ilo, terpilihnya orang Afrika sebagai paus akan menjadi sebuah tanda yang indah bahwa Gereja Katolik Afrika telah matang dan mereka berharap seorang paus dari Afrika akan membahas secara tepat tantangan khusus yang dihadapi Afrika dewasa ini dan mengintegrasikan budaya Afrika dan sejumlah prioritas sosial-ekonomi ke dalam kekatolikan arus utama.

Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi sebuah pergeseran dalam Gereja Katolik global. Pusat gravitasi di dunia kekristenan telah pindah dari Barat ke Selatan.

Hal ini, kata Ilo, tidak hanya berkaitan dengan Gereja Katolik Afrika, tetapi untuk kekristenan Afrika pada umumnya. Ia mengutip ahli misiologi Inggris, Andrew Walls, yang mengatakan bahwa umat Kristen Afrika harus dilihat sebagai komponen utama dari perwakilan kekristenan kontemporer, standar kekristenan zaman sekarang, sebuah model demonstrasi dari karakter kekristenan itu sendiri. "Artinya, kita perlu melihat Afrika dewasa ini dalam rangka memahami kekristenan itu sendiri."

Menurut Ilo, itulah pandangan yang dianut banyak orang yang menyaksikan pertumbuhan eksponensial dan keragaman dari kekristenan Afrika pada saat Gereja Katolik sedang sekarat di jantung Eropa, yang melemah karena sejumlah kasus pelecehan seksual, krisis kepemimpinan, dan krisis iman dan sekularisme.

Berdasarkan data terbaru, 70 persen umat Katolik sekarang hidup di Amerika (48 persen) atau di Eropa (24 persen) dan lebih dari seperempat tinggal di wilayah Asia-Pasifik (12 persen) atau di Sub-Sahara Afrika (16 persen). Untuk pertama kali dalam sejarah, Amerika Latin dan Afrika mencatat lebih dari setengah populasi umat Katolik di dunia saat ini.

Pada saat bangku-bangku dan gereja-gereja di Eropa dan Amerika Utara kosong dan banyak keuskupan menyatakan diri bangkrut, gereja-gereja di Afrika diisi melebihi kapasitas setiap hari Minggu. Saat perayaan di gereja-gereja Eropa dipandang terlalu formal, terlalu bernuansa abad pertengahan dan ritualistik, serta kurang bersukacita dan hambar, perayaan di gereja-gereja di Afrika sangat antusias, meriah, bersifat komunal, dan menyenangkan.

Ilo mengatakan, selalu ada sesuatu yang baru dan mengejutkan dalam gereja-gereja Afrika pada hari Minggu, yang mencerminkan inovasi tak terduga dan keterbukaan keyakinan dan praktik agama orang Afrika terhadap kerja Roh Kudus. "Kekatolikan Afrika membuai!" begitu Ilo mengutip kesaksian seorang warga kulit putih Kanada tentang fenomena Gereja Katolik Afrika.

Bahwa ada penurunan menakutkan dalam panggilan imamat dan kehidupan religius di Amerika Utara dan Eropa, panggilan religius justru sedang booming di Afrika dan para klerus asal Afrika kini tersebar di seluruh Eropa. Mereka membantu dalam mengevangelisasi kembali keturunan para misionaris Barat yang membawa ajaran Kristen ke Afrika.

"Kekatolikan juga merupakan sebuah pengaruh budaya yang kuat dalam pencarian terus-menurus Afrika menjawab tantangan kemiskinan, penyakit, konflik etnis dan agama, perang, masalah politik dan ekonomi, fundamentalisme radikal, dan bagaimana mengurangi dampak perubahan iklim dan bencana alam. Gereja-gereja di Afrika sedang menjadi modal sosial yang kuat yang nilai-nilainya terletak tidak hanya dalam memberikan dukungan spiritual, tetapi juga dalam memperkuat masyarakat sipil, menciptakan jaringan kesehatan di kalangan masyarakat, dan menguatkan lembaga-lembaga Afrika untuk menjaga keamanan dasar manusia bagi pembangunan integral dan berkelanjutan," tulis Ilo.

Paus Benediktus XVI mengakui pergeseran ini. Pada November 2011, Paus Benediktus XVI berada di Contonou, Benin, untuk memperkenalkan Nasihat post-Apostolik, Africae Munus, yang berisi peta jalan dari Sinode Kedua Afrika untuk masa depan kekristenan Afrika. Paus Benediktus, antara lain, mengatakan bahwa Afrika telah menjadi paru-paru spiritual yang akan membangkitkan gereja-gereja yang tidur di Barat dan bahwa Afrika juga harus menjadi pusat pembaruan pemikiran, filsafat, dan teologi Katolik.

Paus Benediktus melihat kekatolikan Afrika dan umat Katolik Afrika sebagai tempat yang baik untuk memimpin kekristenan ke masa depan. Terpilihnya seorang paus dari Afrika tidak diragukan akan menguatkan posisi Afrika sebagai pusat baru kekatolikan dan kekristenan di dunia.

Namun, menurut Ilo, sejumlah pertanyaan mendasar adalah, apakah Gereja Katolik siap untuk menerima seorang paus kulit hitam? Akankah gereja, yang mendefinisikan dirinya universal, siap dengan konsekuensi penuh dari identitasnya dan memberikan ruang bagi sebuah realitas baru yang dapat membantu dalam menyambung kembali gereja dengan gerakan sejarah yang tampaknya telah diabikan pada masa kepausan Paus Benediktus?

Akankah Gereja Katolik menerima rasa atau merek Afrika dari kekatolikan dan akankah seorang paus dari Afrika lebih menjadi orang Roma ketimbang Afrika? Apakah seorang paus dari Afrika lebih baik dalam mengatasi tantangan yang dihadapi Afrika saat ini serta memberikan energi baru dan pembaharuan terhadap gereja yang sedang lelah di Barat?

Namun, menurut Ilo, siapa pun yang akan menjadi paus berikutnya, orang Afrika atau non-Afrika, harus memandang dirinya sebagai seorang paus bagi dunia. Dia tidak harus menjadi tawanan Vatikan atau pemikiran abad pertengahan yang Eropa sentris dari Gereja Katolik Roma atau ortodoksi. Selain itu, ia tidak harus menjadi budak bagi sejumlah struktur dan ajaran usang Gereja Katolik.

Sebaliknya, menurut Ilo, paus baru harus pergi ke ujung bumi dan menjangkau semua orang, terutama orang Katolik yang kecewa dan marjinal- perempuan yang bercerai dan pasangan suami-istri Katolik yang berpisah, kaum gay dan lesbian, korban pelecehan seksual para klerus, dan orang-orang yang merasa terasing dari gereja terkait sejumlah ajaran moral dan spiritual gereja yang tegas.

"Batas-batas diskursus etika dan doktrin sedang bergeser secara radikal. Ini harus menjadi tugas paus baru membantu untuk menjadikan Gereja Katolik sebuah komunitas iman bagi orang-orang dari beragam kalangan, sebuah gereja yang merangkul perubahan sosial dan budaya sebagai teman, dan mendorong melalui hukum dan praktiknya tentang keutamaan perbedaan," tulis Ilo

Dengan cara ini, Gereja Katolik akan menjadi benar-benar sebuah keluarga Allah. Orang kulit hitam dan kulit putih, para kudus dan pendosa, pria dan wanita, kaum liberal dan konservatif, kaya dan miskin, gay dan hetero, semua diperlakukan sebagai anak-anak Allah yang sama, tanpa memperhatikan pangkat atau status.  *

Sumber: Kompas.Com

Semua Artikel tentang PAUS

Benediktus XVI Jadi Uskup Roma Emeritus

Biara Mater Ecclesiae yang akan jadi rumah Paus Benediktus XVI
PENGUNDURAN diri Paus Benediktus XVI yang baru diumumkan Senin (11/2/2013) tampaknya sudah diketahui sejak beberapa bulan lalu. Hal ini terlihat dari pekerjaan renovasi gedung empat lantai yang menempel dengan biara di pinggiran utara Taman Vatikan.

Gedung tersebut merupakan bagian dari biara Mater Ecclesiae. Belum jelas berapa lama Paus Benediktus XVI akan tinggal di biara tersebut.

Menurut situs National Geographic, biara Mater Ecclesiae didirikan pada 1992 oleh Paus Yohanes Paulus II. Pembangunan biara ini dimaksudkan sebagai "rumah bagi biara internasional untuk hidup kontemplatif di dalam dinding Vatikan".

Biara Mater Ecclesiae menampung komunitas kecil berisi biarawati yang bertugas menyediakan pendampingan spiritual pada Paus dan Gereja Katolik Roma. Mereka melakukan pelayanan iman dengan berdoa dalam bahasa Latin dan bernyanyi lagu-lagu Gregorian. Selain itu, mereka bertugas menyulam pakaian-pakaian kepausan, merawat kebun buah organik kecil, serta merawat taman di dekat tempat tinggalnya.

Berdasarkan situs resmi Vaticanstate.va, Taman Vatikan merupakan taman pertama yang ada di Vatikan. Dalam situs yang sama juga disebutkan bahwa bangunan biara yang akan menjadi rumah bagi Paus Benediktus XVI di Taman Vatikan ini secara khusus didesain dalam harmoni dengan ide klasik mengenai "seni suci". Tujuannya untuk menemukan keseimbangan antara atmosfer sebuah tempat dan tema gerejawi.

Bangunan ini merupakan penambahan dari gardener's residence atau tempat tinggal tukang kebun. Pengerjaan area tersebut, yang dimulai pada 1992, melibatkan penghancuran dan pembangunan kembali interior gedung.

Secara umum, rencana pembangunannya berdasarkan dari desain geometris yang menyerap dan mengintegrasikan struktur lama dari tempat tinggal tukang kebun tersebut. Strukturnya secara radikal dibentuk kembali untuk menyediakan ruang bagi pembuatan empat lantai.

Untuk pembagiannya, lantai dua dan tiga menjadi tempat bagi 12 ruang biara. Lantai dasar serta ruang bawah tanah menjadi tempat bagi komunitas. Penambahan dua lantai seluas 450 meter persegi ini sudah termasuk kapel dan area paduan suara bagi para biarawati. Lantai dasar menjadi lobi dan ruang tamu. Sementara itu, di lantai atasnya terdapat perpustakaan.

Akses menuju lingkungan sekeliling dapat dicapai melalui tangga, menyusuri taman, dan jalan yang tertudung. Pagar kokoh yang ditumbuhi tanaman membuat daerah ini terlindung dari mata di luar pagar.

Namun, biara ini tidak terisolasi dari dunia luar. Pengunjung biara ini dapat masuk lewat gerbang besar. Elemen dekoratif berasal dari penggunaan kaca patri dan jubah suci. Kain-kain memenuhi kapel kecil, menciptakan suasana kontemplatif.

Di tempat tersebut juga terdapat sebuah salib indah. Salib di kapel merupakan sumbangan dari pematung Francesco Messina. Ornamen ini memberikan rasa yang kuat atas mistisisme, begitu juga dengan jendela lunette di pastoran yang "mengingatkan akan perjumpaan dengan Tuhan di jalan ke Emaus". Selain itu, jendela samping berisi karya seni simbolis yang mengingatkan atas perintah Tuhan.


Lebih Suka Emeritus

Paus Benedikstus XVI menghadapi sebuah wilayah yang belum jelas begitu dia menjadi paus pertama yang mengundurkan setelah enam abad terakhir ini. Paus berusia 85 tahun itu menegaskan, dia mengundurkan diri karena alasan sederhana yakni pikirannya tidak lagi kuat dan tubuhnya juga tak dapat lagi menopangnya.

Sekalipun belum ada ketentuan waktu dilakukan konklaf, namun pemilihan paus baru harus dilakukan dalam 20 hari setelah pengunduran diri 28 Februari mendatang. Ini berarti seorang paus baru akan dipilih oleh para kardinal sebelum hari Paskah nanti yakni 31 Maret. Sejauh ini belum jelas apa nantinya panggilan atas Paus Benediktus XVI dan bagaimana statusnya termasuk apakah dia akan ikut mempengaruhi keberadaan paus penggantinya.

Penasihat komunikasi senior Vatikan, Greg Burke menegaskan, faktanya Paus Benediktus XVII akan tinggal di biara setelah dia pensiun. "Yang pasti begitu dia pensiun maka jelas dia seorang pensiunan," ujar Burke.

Soal nama untuk paus ini, Burke menegaskan bahwa Paus Benediktus XVI seperti lebih suka disebut sebagai "Uskup Roma Emeritus" dan tidak sebagai "Paus Emeritus". Jurubicara Vatikan Federicio Lombardo menegaskan, Paus Benediktus XVI akan lebih suka disebut dengan emeritus.

Dilaporkan, setelah dia mengundurkan diri, Paus Benediktus XVI akan melewatkan waktu beberapa saat di rumah peristirahatan kepausan di Castel Gandolfo, yang berada di atas bukit dengan pemandangan ke Danau Albano di perbukitan di selatan kota Roma. Paus selama ini melewatkan waktu musim panas di sana untuk membaca dan menulis. *

Sumber: Kompas.Com

Semua Artikel terkait PAUS

Hari Kasih Sayang

ilustrasi
MASYARAKAT dunia hari ini  14 Februari 2013 merayakan Valentine's Day atau Hari Kasih Sayang. Tradisi yang berkembang pesat sejak awal abad ke-19 di Eropa dan Amerika Serikat tersebut mendunia berkat marketing besar-besaran. Globalisasi memang sulit dibendung sehingga kita di negeri ini pun tanpa sadar telah menjadikan 14 Februari sebagai hari yang spesial. Hari untuk mengingat kembali tentang betapa pentingnya makna kasih sayang dalam kehidupan.

Di Eropa tanggal 14 Februari adalah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Sebuah kencan pada hari Valentine kerap dianggap bahwa pasangan itu sedang merajut hubungan yang serius menuju ke pelaminan.

Di Amerika Serikat sejak paruh kedua abad ke-20 hari Kasih Sayang diwarnai tradisi bertukaran kartu. Seiring perjalanan waktu tradisi itu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Jenis hadiah biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian di Amerika bahkan mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan kepada pasangan.

Di Indonesia, Valentine's Day sangat populer di kalangan generasi muda dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Bentuk perayaan Hari Kasih Sayang di negeri kita  bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orangtua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi atau anjangsana ke panti asuhan yang sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari sesama.

Pusat perbelanjaan (mall) dan media massa di Indonesia biasanya memblow-up setiap acara yang berkaitan dengan Valentine's Day. Hari Kasih Sayang pun memberi inspirasi tumbuhnya ekonomi kreatif yang menghadirkan pernak-pernik unik dan khas bernuansa Valentine. Hari-hari ini orang merasa ketinggalan manakala tidak merayakan Valentine's Day secara khusus, baik dengan pasangan, sahabat serta anggota  keluarga. Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dengan gaya hidup masyarakat modern. Setiap tanggal 14 Februari setiap insan seolah menyegarkan kembali komitmennya tentang kasih sayang dalam makna yang luas.

Mendapatkan kasih sayang berlimpah adalah kerinduan setiap manusia, siapa pun dia tanpa membedakan status sosial serta embel-embel lainnya. Hari Valentine sebetulnya memberi pesan tentang care (peduli) dengan sesama. Sikap peduli mensyaratkan setiap kita peka terhadap keadaan sekitar baik di dalam rumah tangga, di tempat kerja maupun di lingkungan sosial. Jika setiap orang memiliki kepedulian, betapa indahnya hidup ini. Hidup kita akan  harmonis, tenteram dan membahagiakan.

Keretakan rumah tangga, misalnya,  tidak semata dipicu oleh kekurangan materi. Banyak kasus justru menunjukkan keretakan mahligai rumah tangga masyarakat modern lebih karena minimnya sikap peduli satu sama lain. Pun dalam lingkup yang lebih luas seperti kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Apabila pemimpin pemerintahan peduli dengan kepentingan rakyat, maka yang disebut kesejahteraan itu mestinya bukan sesuatu yang muskil diraih. Keterbelakangan dan ketertinggalan masyarakat Indonesia terjadi karena hilangnya nilai kasih sayang dari para pemimpin. Bagi kita Valentine's Day merupakan momentum untuk mengokohkuatkan kembali makna kasih dalam lapangan hidup manapun. Karena itulah kerinduan hakiki umat manusia.*

Sumber: Tribun Manado 14 Februari 2013 hal 10

All Editorial by Dion

Hilangnya Nilai-nilai Keteladanan

ilustrasi
MENARIK perhatian kita melihat apa yang kini mendera pemenang Pemilu tahun 2009, Partai Demokrat. Kepercayaan publik terhadap partai tersebut menurun drastis. Media massa memilih diksi terjun bebas mengacu pada hasil survei sejumlah lembaga independen di Indonesia.

Ambruknya kepercayaan publik tersebut diakui Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY  mengatakan sejumlah kader Partai Demokrat merasa sangat prihatin dan cemas mendalam atas posisi partai yang anjlok dalam hasil survei. Pernyataan itu disampaikan SBY menjawab pertanyaan pada jumpa pers, Senin lalu di Jeddah, Arab Saudi.

Menurut hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Pemilu 2009 Partai Demokrat mendapat dukungan 21 persen. Kini posisinya kini tinggal 8 persen. Anjoknya dukungan terhadap Partai Demokrat diakui bukan hanya terlihat dalam hasil survei LSI, melainkan juga pada lembaga-lembaga survei lain.

"Terus terang sejumlah kader menilai posisi Partai Demokrat sekarang sudah berbahaya, SOS. Ada yang juga menyebut sudah menyentuh angka merah. Sudah ada kecemasan dan keprihatinan mendalam tentang Partai Demokrat," kata SBY.

Secara tidak langsung, SBY berpandangan, kemerosotan posisi Partai Demokrat, antara lain, karena pengaruh sejumlah kadernya yang berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebut misalnya Angelina Sondakh, Andi Alfian Mallarangeng dan M Nazaruddin. Belakangan malah Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum pun disebut-sebut  terkait kasus korupsi. Anas sudah pernah diperiksa KPK sehingga posisinya sebagai ketua umum tidak kondusif untuk partai yang tak lama lagi akan bertarung kembali di Pemilu 2014.

Menurut pandangan kita kegusaran SBY yang juga Presiden RI sangat beralasan.Fakta hukum memberi bukti begitu banyak kader partai yang menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya ketika dia menerima tanggungjawab sebagai pejabat publik. Mereka yang seharusnya memberi keteladanan bagi masyarakat justru dengan vulgar menggarong sesuatu yang bukan haknya. Dan, begitu banyak orang yang menjadi korban akibat perbuatan mereka memperkaya diri sendiri dan atau kelompoknya.

Kader partai terlibat kasus korupsi bukan monopoli Partai Demokrat. Hampir semua partai di negeri ini ikut menyumbang para koruptor. Kasus paling akhir melanda Partai Keadilan Sejahtera (PKS).Tidak tanggung-tanggung, Presiden PKS 
Luthfi Hasan Ishaaq, MA dibekuk penyidik KPK karena diduga terlibat suap dalam  proyek impor daging sapi. Wajar jika banyak yang mengatakan sebagian orang merasa syok lantaran PKS selama ini dikenal sebagai partai yang bersih.

Mengingat kejadian belakangan ini masyarakat tentu berharap parpol di Indonesia lebih selektif lagi dalam proses rekruitmen kader. Pemilu 2014 mestinya menjadi momentum bagi parpol agar sungguh-sungguh memilih orang yang punya integritas moral yang baik. Sebagai penggodok calon pemimpin bangsa, parpol jangan lagi asal mencomot orang yang tidak berkualitas sebagai caleg atau calon pemimpin eksekutif. Demokrasi kita yang dirajut dengan susah payah bahkan dengan air mata dan darah ini bakal  ambruk di tangan orang-orang yang korup! *

Sumber: Tribun Manado 7 Februari 2013 hal 10



All Editorial by Dion

Daya Hidup Simon Petrus Goni

Simon Petrus Goni dan istri
Dia sangat setuju dengan adanya uji kompetesi wartawan yang dilakukan Dewan Pers untuk meningkatkan kualitas wartawan serta karya jurnalistik mereka.

JALANNYA terlihat tertatih-tatih ketika masuk lobi hotel Aryaduta Manado di tengah hilir mudik peserta dari berbagai daerah di Indonesia  yang sedang mengikuti kegiatan Serikat Perusahaan Pers (SPS) dua hari lalu. Namun ketika bertatap muka langsung dengan pria yang sudah berumur senja itu, siapapun pasti segera menyimpulkan semangat hidupnya masih menyala-nyala.

Simon Petrus Goni atau yang akrab dipanggil Spego Goni merupakan salah seorang wartawan senior  Sulawesi Utara (Sulut) yang sampai saat ini masih terus menulis untuk menuangkan pikiran demi kemajuan bangsa.

"Sampai saat ini saya masih menulis dan menjadi wartawan. Ini buku saya yang terbaru," ujarnya sambil menunjukkan buku berjudul Putra Sang Fajar.  Buku ini merupakan otobiografinya.

Awal kewartawan Spego Goni dimulai setelah dia melepas jabatan politik sebagai ketua umum DPP Pemuda Pancasila pada tahun 1953. Kala itu dia mendirikan Mingguan Lensa Utara yang mula-mula cetak di percetakan negara. "Selain itu, karena pada waktu itu belum ada surat kabar dari luar, saya juga menerbitkan buletin daerah dalam bentuk stensilan," katanya..

Namun ketika surat kabar dari  Pulau Jawa mulai merambah Sulut, akhirnya secara perlahan-lahan Lensa Utara kalah bersaing. "Kemudian saya hijrah ke Cirebon dan Jakarta bergabung dengan Harian Berita Republik dan Berita Tunggal," katanya.

Ketika itu bersama HB Jasin dan Iwan Simatupang dia pernah dipenjara selama satu tahun karena tulisan tidak senangi oleh pemerintah pada waktu itu. "Waktu itu saya hanya pasrah saja, namun keinginan untuk menulis tetap kuat," ungkapnya.

Pengalaman paling berkesan bagi Spego Goni selama menjadi wartawan adalah ketika dia  mengikuti rombongan Menkohankam AH Nasution pada tahun 1965 saat melawat ke negara Eropa Timur, yaitu Jerman Timur, Yugoslavia dan Polandia selama satu minggu untuk melihat berbagai kemajuan di negara tersebut. Sekembali dari Eropa Timur dia justru dicurigai berorientasi komunis. Namun pada waktu dia menjabat Sekretaris Umum Liga Demokrasi, kecurigaan itu terbantahkan.

Menurut suami dari Juliana Lapian itu,  perkembang pers dewasa ini  sangat maju. Siapa saja yang punya modal bisa menerbitkan koran, majalah, mendirikan stasiun radion atau televisi. Sangat  berbeda dengan masanya dulu. Pun dengan menjadi wartawan di zaman Spego Goni  harus mengikuti tes dari PWI yang sangat  ketat. Untuk menjabat pemimpin redaksi harus lulus penataran P4 dan penataran kewaspadaan nasional.  "Saat ini siapa pun bisa menjadi wartawan, yang tidak bisa menulis juga jadi wartawan sehingga kualitas wartawan semakin menurun," kata pria kelahiran Tomohon, 10 Desember 1931 tersebut.

Itulah sebabnya Goni sangat setuju dengan adanya uji kompetesi wartawan yang dilakukan Dewan Pers untuk meningkatkan kualitas wartawan serta karya jurnalistik mereka. Menurutnya wartawan merupakan profesi yang mulia jika berada di jalur yang benar. "Julukan wartawan Ratu dunia adalah benar. Profesi ini harus dimanfaatkan sepositif mungkin, jangan sembarangan,"  tuturnya. (herviansyah)

Sumber: Tribun Manado 10 Februari 2013 hal 1

Artikel terkait DI SINI

Ben Wowor Dikira Dokter Pribadi Soekarno

Ben Wowor rayakan hut ke-91
BANYAK wartawan yang menjadi tokoh perjuangan.  Itulah potret wartawan zaman perjuangan sejak Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan yang direkam Ben Wowor, sejarawan dan wartawan senior Sulawesi Utara (Sulut). Di usianya yang telah menginjak 91 tahun, mantan Pimpinan SK Bulletin Merdeka Manado tersebut masih mempunyai ingatan kuat tentang masa lalu dan analisa yang tajam tentang masa kini dan nanti.

Ben yang dijumpai Tribun Manado di kediamannya di Lingkungan Empat Kelurahan Paal IV  Manado  menyatakan, para tokoh seperti Muhammad Yamin dan Sukarno belajar jurnalistik sembari berpolitik. Bekal pengetahuan jurnalistik membuat para tokoh nasional itu mudah menuangkan ide melalui tulisan. "Sukarno itu pintar nulis, ia bisa menulis Indonesia Menggugat," kata Ben Wowor, Minggu (10/2/2013).

Ben yang lahir pada 8 Januari 1922  menyatakan, pers saat itu menjadi alat perjuangan mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Para wartawan adalah penyeru zaman. Akan hal ini, Belanda tidak tinggal diam.  Sebutan merdeka, negara ataupun Merah Putih haram diucapkan, apalagi dituliskan. Para wartawan dan politisi kala itu harus bersiasat.

Lahirnya Sumpah Pemuda 1928, ujar Ben Wowor,  merupakan jerih payah para wartawan dalam menghadapi tekanan kolonial itu.  Berkali-kali gagal berkongres, para pemuda yang cerdik ini menemukan sebuah cara dan berhasil. "Waktu itu seorang anggota PNI dan pengacara muda yakni Mr Sunario berhasil memperoleh izin kepala PID (Politieke Inlichtingen Dienst)," ujarnya. Ben menyebut OH Pantouw, wartawan asal Manado yang punya andil besar dalam tercetusnya Sumpah Pemuda yang bersejarah itu.

Pantouw dalam kongres pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 membawakan satu dari tiga makalah yaitu "Satu bahasa ialah bahasa Indonesia". Pantouw yang akrab dipanggil Ingka  awalnya membandingkan pemakaian bahasa di berbagai negara seperti di Swiss ada tiga bahasa dan Belgia ada dua bahasa.
Ben Wowor

Dari situ muncul pemikiran, jika saja bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa menggunakan satu bahasa yang sama, itulah jalan terpendek menuju pembebasan.  Pemikirannya ini menjadi satu butir dari Sumpah Pemuda. Selain Pantouw, banyak putra Kawanua yang berkiprah jadi wartawan pada masa itu.
Ben  ingat sejumlah nama antaranya GE Dauhan, Max Tumbel, Jan Sariowan, Kres Pontoh, John Rahasia dan lainnya. "Kres Pontoh bahkan sempat masuk penjara," kata Ben. Tak hanya dalam aras nasional, para wartawan asal Kawanua itu berperan penting dalam perjuangan di daerahnya.

Tak banyak yang tahu jika aktor dalam peristiwa merah putih 14 Februari adalah para wartawan. "Yang merancang semua itu adalah para wartawan," katanya.  Lepas dari kemerdekaan, bangsa Indonesia melewati beberapa era, sebelum akhirnya Presiden Soekarno mengukuhkan Demokrasi Terpimpin.

Pada masa itu seluruh komponen bangsa terhisap dalam pusaran revolusi, yang gampang menuding yang berbeda  pandangan sebagai kontra revolusi. Tak terkecuali kalangan pers.  Isi produk jurnalistik di zaman itu harus sejalan dengan revolusi. Yang coba memuat ide lain akan dicap nekolim atau kontra revolusi.

Saat itulah, Ben bertemu dengan salah seorang pendiri Harian  Kompas yaitu Petrus Kanisius Ojong. Terhadap Ojong yang waktu itu masih menulis di Star Weekly, Ben punya kesan sendiri.  "Ia sangat tekun dan pekerja keras, meski banyak tantangan ia tetap teguh," ujarnya. Orde Lama  tumbang, kekuasaan baru segera menggantikannya. Sayangnya demokrasi belum juga terwujud dan insan pers paling pahit pergumulannya.  "Ada Kopkamtib yang mengatur segalanya mulai dari eksekutif, legislatif serta yudikatif," tuturnya.

Bagi Ben sendiri, kemampuan jurnalistik yang dimilikinya sangat membantu tugasnya sebagai Koordinator Penerangan Pada Penguasa perang Daerah Sulawesi Utara/Tengah dari tahun 1958-1961.  "Saya pernah mengikuti Akademi Pers di Ujung Pandang (kini Makassar)  dari tahun 1955-1958," bebernya.

Jurnalistik dalam hal ini bukan hanya kehebatan menulis, tapi juga kedekatan dengan nara sumber. "Saya waktu itu punya akses dengan pejabat," sebutnya.
Ia ingat ketika Presiden Soekarno mengunjungi Manado untuk kedua kalinya pada tanggal 30 Januari 1953.  Sebagai koordinator penerangan, Ben berperan sebagai pengumpul massa.  Pada hari H, massa dari berbagai penjuru telah memadati lapangan Tikala sejak pagi. Soekarno naik podium, juga Ben.  Sewaktu Soekarno pidato berapi-api, orang yang berdiri di sampingnya adalah Ben. Sampai-sampai ia dikira dokter pribadi Bung Karno. "Ada yang mengira saya sebagai dokter pribadi Soekarno," katanya sambil tertawa.

Begitu pensiun dari Deppen RI, Ben tak lantas lupa dengan jurnalistik. Ia justru semakin keranjingan menulis. Ia menulis tentang sejarah.  Salah satu buku karangannya yaitu Sulawesi Utara Bergolak, ia tunjukkan kepada Tribun Manado pada pertemuan siang itu.

Pada halaman terakhir, tertulis sebaris puisi karya Chairil Anwar berjudul Krawang Bekasi. Pandangan Tribun Manado tertumbuk pada kata di bait keempat puisi yang lirih itu. Kami cuma tulang-tulang berserakan tapi adalah kepunyaanmu, Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. "Di era kebebasan pers saat ini wartawan harus mematuhi kode etik," pesan Ben Wowor. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado 11 Februari 2013 hal 1


Semua tentang KAWANUA

Tribun Manado Raih Gold dan Silver Winner



Sejarah bagi Tribun Manado
MANADO, TRIBUN - Malam penghargaan Indonesia Print Media Award, Jumat (8/2/2013) malam di Hotel Aryaduta Manado, yang digelar Serikat Penerbit Pers (SPS) menjadi panggung kelompok koran daerah Kompas Daerah, Tribun Network. Sebanyak 18 piala diborong Tribun.

Sorak-sorai arena malam penghargaan terdengar riuh ketika pembawa acara meminta mereka bersorak atas penghargaan Gold untuk Tribun Manado. "Sambut dengan meriah, Gold Winner jatuh kepada Tribun Manado," serunya kala mengumumkan untuk The Best of Newspaper IPMA 2013 Regional Sulawesi.

Selain Gold Winner, yakni untuk Tribun Manado edisi 8 Oktober 2012, Pemimpin Redaksi, Ribut Raharjo juga menerima Silver Winner untuk edisi 8 September 2012. Sedangkan Tribun Timur juga mendapatkan Gold Winner untuk edisi 24 November 2012.

Untuk wilayah Regional Jawa, Gold Winner diraih Tribun Jogja untuk edisi 18 November 2012, Warta Kota edisi 16 Oktober 2012 dan Surya edisi 20 Desember 2012. Sedangkan untuk Silver diraih Tribun Jabar  edisi 16 Oktober 2012. Sedangkan untuk bronze diraih Berita Kota edisi 21 Desember 2012.
Pimpinan koran-koran Tribun

Sedangkan untuk Regional Kalimantan Gold Winner diraih oleh Banjarmasin Post edisi 4 April 2012 dan 5 Mei 2012 dan Tribun Kaltim edisi 12 Juli 2012. Sedangkan silver diraih oleh Tribun Pontianak edisi 24 September 2012 dan Tribun Kaltim edisi 28 Maret 2012.

Untuk Regional Sumatera silver diraih Tribun Medan edisi 23 Februari 2012, Tribun Pekanbaru edisi 17 Oktober 2012 dan Tribun Sumsel edisi 7 Maret 2012. Sedangkan Bronze diraih Tribun Jambi edisi 31 Oktober 2012 dan Bangka Pos edisi 5 Desember 2012.

Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Djouhari Kansil dalam sambutannya mengatakan, ciri dari pers di Indonesia adalah kreatif dan cerdas. Dengan demikian akan mendorong pembangunan di daerah dan Indonesia.

"Momentum yang diselenggarakan malam ini merupakan bagian dari sejarah bagi Sulut, karena datang tokoh-tokoh jurnalis di Indonesia. Dengan berbagai kode etik jurnalis yang diterapkan di setiap media, sehingga memberikan hasil terbaik bagi bangsa ini," kata dua dalam Awarding Night SPS-Telkom IPMA and InMA 2013The Power Of Innovation itu.

Kansil mengungkapkan, hal ini karena pers sebagai pilar utama bangsa ini, sebab pers merupakan produk media informasi, pendidikan, hiburan, serta kontrol sosial di masyarakat."Untuk itu kami merasa bersyukur penyelenggaraanAwarding Night SPS-Telkom IPMA and InMA 2013The Power Of Innovation ini," ujarnya.

Ketua Umum SPS Pusat yang juga Menteri BUMN, Dahlan Iskan mengungkapkan, kegiataan ini merupakan pesta seluruh surat kabar di Indonesia. "Kita akan lihat siapa yang akan terpilih dengan reputasi yang bisa diandalkan, karena ajang ini tanpa ada kongkalingkong, untuk peserta pun kian banyak," katanya

Menurutnya, saat ini media sebaiknya memiliki agenda setting agar bisa ikut membantu dalam memberantas korupsi.  "Dulu hambatan utama di Indonesia adalah korupsi, namun saat ini hambatan utama adalah birokrasi. Oleh karena itu, teman media harus mengawal pemberantasan korupsi, " katanya.

Pemimpin Redaksi Tribun Manado, Ribut Raharjo mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada seluruh masyarakat Sulawesi Utara yang menjadi pembaca setia Tribun Manado.

 "Alhamdulillah, Puji Tuhan, penghargaan ini diberikan untuk pembaca setia Tribun Manado. Kami akan terus memberikan yang terbaik untuk masyarakat Sulawesi Utara. Tak lupa terima kasih juga buat keluarga besar Tribun Manado," katanya. (erv)

Sumber: Tribun Manado 9 Februari 2013 hal 1

KLIK sini! Semua tentang Kawanua

Hans Ratag Pernah Diancam Tentara

AWAN mendung  masih menyelimuti sebagian langit Kota Manado Kamis (7/2) sekitar pukul 12.00 Wita. Akan tetapi, suasana alam itu tidak membuat murung pria yang satu ini, Hans Ratag. Pria gagah berwajah ceria itu menyambut ramah saat Tribun Manado menemuinya.

Baju batik yang dikenakannya menambah wibawanya sebagai seorang jurnalis berpengalaman. Empat  puluh enam tahun sudah dia menekuni profesi jurnalis. Sejuta pembelajaran hidup patut diwariskan kepada para penerusnya.

Pria kelahiran Balikpapan, 23 Desember 1940 masih mengingat dengan baik tapak langkahnya sebagai seorang waratawan. Ia ingat ketika pertama kali bergabung dengan Harian Api Pancasila (di  kemudian hari menjadi Obor Pancasila), salah satu harian tertua di Sulawesi Utara (Sulut),  bukan sebagai reporter.

"Saya masuk tahun 1966 di harian itu sebagai corrector. Tugas saya bantu mengedit berita yang masuk ke redaksi," ujarnya. Hanya setahun, Ratag sudah dianggap layak menjadi reporter. Ia selalu memasukkan berita kepada redaktur dan kemudian mendapat persetujuan dari pemimpin redaksi untuk dipublikasikan. Walaupun tulisannya hampir selalu diterima, ia merasa kesulitan menuangkan ide jadi sebuah tulisan.  "Waktu itu saya kesulitan menggunakan konsep piramida terbalik," katanya.

Tahun 1967, Ratag  diterima sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia  (PWI) dan setahun kemudian resmi menjadi anggota biasa. Seiring perjalanan waktu Hans Ratag semakin banyak mengenal nara sumber baik pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan lainnya. "Waktu itu tidak ada istilah telepon terlebih dahulu. Kita langsung pergi ke tempat pejabat itu. Beda dengan sekarang," ujarnya.

Pemimpin redaksinya  saat itu yaitu Phil Sulu mengakui kemampuan Hans dalam menulis. Ia kemudian dipercayakan mengikuti rombongan Gubernur Worang, suatu tanggung jawab yang dianggap luar biasa saat itu.Kedekatan dengan pejabat tidak membuat Hans Ratag kehilangan independensinya. Ia setidaknya dua kali berhadapan dengan bahaya.

Peristiwa pertama terjdi tahun 1970 ketika ia meliput tentang Desa Sulu, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa saat itu. "Saya menulis bahwa warga Desa Sulu akan menyingkir. Mereka ditakuti oknum staf satu (istilah untuk intel militer). Camat Tumpaan saat itu yang saya lupa namanya kemudian datang ke kantor PWI. Ia datang dan mau  memukul saya. Ia katanya sudah didesak oleh oleh bupati Lelemboto saat itu,"kata Hans.

Camat itu memintanya untuk ikut dengannya ke Desa Sulu. Hans Ratag awalnya tidak mau. Namun, setelah dibujuk pemimpin redaksi, dia pun pergi melihat Desa Sulu. "Saya yakin benar karena banyak orang yang sudah saya wawancarai. Apalagi berita itu saya dapatkan di kantor camat. Setelah diajak melihat Desa Sulu saya diberi makan," ujarnya.

Camat mau memberikan uang tapi ia menolaknya mentah-mentah. Nanti setelah dijelaskan bahwa dia tidak akan diantar pulang ke  dan uang itu untuk ongkos transport, Hans menerima pemberian itu dan langsung diserahkan kepada sopir yang mengantarnya.

Peristiwa kedua terjadi  tahun 1972. Seorang kusir bendi dipukul oknum TNI Angkatan Laut.Hans  menulis peristiwa itu dan lagi-lagi ia didatangi oknum TNI yang diberitakan tersebut. Ia pun nyaris dipukul."Saat itu saya diselamatkan oleh teman-teman. Mereka melapor kepada panglima KKO saat itu. Ajudannya datang dan tiba-tiba ia meminta maaf," tuturnya.

Tahun 1973 karir Hans Ratag mulai melesat. Dia dipercaya menjadi redaktur pelaksana (Redpel). Pada tahun 1975, ia mengikuti job training di Harian Sinar Harapan. Di tahun 1976, ia mengikuti kegiatan yang sama di Harian Pikiran Rakyat Bandung. Ia juga sempat mengikutinya di Harian Kompas.  "Saat itu kami yang berasal dari Manado dianggap hebat. Saya lumayan mengetahui banyak hal tentang jurnalistik," katanya.

Tahun 1978, ia menjadi wakil pemimpin redaksi. Tahun itu pula ia sudah membuat Harian Media Koperasi yang modalnya dari koperasi. Maklum saat itu dianggapnya sebagai tahun emas perkoperasian di Indonesia. "Saya diangkat sebagai ketua pusat informasi perkoperasian Sulut. Tahun 1999 saya  bisa membuat harian Warta Pembangunan yang sudah terbit sampai saat ini," ujarnya.

Gara-gara larut dalam dunia jurnalistik Hans baru menyelesaikan sarjana hukum tahun 1990-an di Universitas Negeri Sulawesi Utara (Unisu, sekarang Universitas Sam Ratulangi Manado).  Akan tetapi pengorbanannya diganjar dengan berbagai penghargaan. Salah satunya ia menerima penghargaan dari PWI dan Bank Sulut. "Saat itu saya memenangkan lomba karena menulis tentang perkembangan Bank Sulut  tahun 1983. Saya juga diberikan rumah oleh PWI,"katanya.

Om Hans, sapaan akrabnya memang punya segudang pengalaman. Dalam organisasi PWI Sulut, Om Hans pernah menjabat bendahara selama enam tahun dan sekarang merupakan anggota Dewan Kehormatan Daerah. (david manewus)

Sumber: Tribun Manado 9 Februari 2013 hal 1


Artikel Terkait DI SINI

Alfons Lontah Gendong Jenazah Pramugari

Alfons Lontah
Bagi orang biasa, koran bekas adalah sampah. Tapi bagi Alfons Lontah koran bekas sangat berharga, memiliki nilai dan tetap layak dibaca.
MESKI tidak lagi aktual, tapi berita tetap saja berita. Membaca berita, baik itu koran lama maupun bekas merupakan ekspresi dari rasa ingin tahu wartawan senior TVRI ini. "Kita berpikir, maka kita ada," kata pria yang kini berumur 63 tahun ini mengutip Rene Descartes.

Dari pengalamannya selama tiga puluh tahun menjadi wartawan, informasi dari koran bekas kadang bisa menyambung serpihan yang hilang dari suatu reportase. "Kita baca lalu melupakan, tiba - tiba ingat kembali apa yang dibaca setelah ada suatu peristiwa," bebernya sambil menunjukan tumpukan koran yang berserakan di seluruh penjuru rumahnya di  Kelurahan Paal Dua Lingkungan Empat.

Kebiasaan membaca terbentuk sejak ia masih kecil. Buku yang lagi ngetop saat itu Kho Ping Hoo, ia baca sambil mendengar radio.  Sewaktu masih SMA di Makasar, Alfons mengikuti prakarya wartawan pada kelas tiganya. Sempat bekerja di Makasar dan Jakarta, ia balik Manado dan menemukan "takdirnya" di TVRI Manado.

Menjadi reporter kala itu apalagi reporter televisi sungguh tak mudah. Tak ada BBM, ponsel maupun alat komunikasi secanggih ini, wartawan di masa itu sering kesulitan mencari informasi.

Kalaupun informasi sudah didapat kesulitan lain menunggu, yaitu  bagaimana secepatnya tiba di lokasi peliputan. Kesulitan teknis itu ditambah dengan saat itu zaman pemerintahan orde baru, untuk bisa meliput dan menemui sumber tidak semudah saat ini, membuat Alfons harus bekerja keras.

Sebuah liputan yang dinikmati pemirsa televisi sambil minum kopi di rumah adalah jerih payah seorang reporter yang keluar pagi dan nanti pulang malam hari.
Meniti karir sejak reporter, kamerawan, penyiar berita, koordinator redaktur TVRI Manado hingga menjabat Pemred TVRI Papua dan Sulut, ia pun sudah melalangbuana ke enam negara. "Saya pernah meliput Sea Games 1979, lalu menjadi reporter terbaik pada PON tahun 1982 dan 1985," kata Pemred TVRI Sulut di Manado tahun 2001 - 2003 ini.


Menghabiskan separuh usianya sebagai wartawan, banyak suka dan duka dilalui.  "Pernah saya mendaki Gedung Klabat untuk meliput pesawat jatuh, jenazah pertama yaitu pramugari saya pikul, lalu ketika perahu karet marinir yang saya tumpangi hanyut di perairan Miangas," sebutnya.

Terhadap hal ini dirinya sangat berhati - hati. Haram baginya untuk mengemis - ngemis minta uang pada nara sumber. Pikiran seorang jurnalis, ujar dia, harus jernih. Begitu pula hatinya. Ia percaya akan berkah di balik setiap penolakan itu. "Saya bisa tenang tidur, Tuhan pasti memberikan balasannya," ujarnya. Di usianya yang sudah lanjut, Alfons masih segar bugar. "Kuncinya saya tak pernah minta - minta uang," ujarnya.

Sebagai wartawan sepuh, ia punya penilaian sendiri terhadap perkembangan pers masa kini, utamanya Sulut. Menurutnya idealisme wartawan tak bisa berdiri sendiri.
Industri pers yang menghidupi para wartawan punya andil yang cukup besar dalam hal independensi wartawan. "Jika perut kosong maka pikiran wartawan akan fokus, tak bercabang ke mana - mana," ujarnya.

Untuk pada wartawan, dua hal yang bisa membuatnya besar adalah kecintaan terhadap profesi serta institusi tempatnya bernaung. "Jangan jadi bajing loncat, sedikit - sedikit pindah media, besarkan media anda dan anda akan dihargai," beber mantan sekretaris PWI Sulut tahun 1994 dan 1998 ini. Tak lupa pula Alfons mengingatkan wartawan sulut agar melek terhadap isu - isu global.  Apalagi saat ini ASEAN telah jadi kiblat perdagangan dunia. "Wartawan harus pintar bahasa inggris," sebutnya.

Di usianya yang sudah senja, Alfons memilih istirahat. Semenjak pensiun beberapa tahun yang lalu, ia menghabiskan waktu bersama sang istri Corsella Mogot di rumah kediaman mereka.

Sesekali ia pergi ke Salatiga untuk menjenguk kedua anaknya yang berada disana.
Sebagai mantan wartawan yang kecanduan bikin berita, ia kini menjadi penikmat berita yang tersaji lewat media cetak dan televisi.

Koran yang ia baca pagi - pagi setelah bangun tidur. Malamnya koran jadi obat tidur. "Saya sulit tidur, nanti tertidur saat baca koran," bebernya.

Satu lagi kebiasaan sewaktu menjadi pemburu berita yang berlanjut di masa senjanya adalah kebiasaan merenung sebelum tidur. "Sebelum tidur, saya sering merenungi apa yang telah saya lakukan, apa saya telah menyakiti orang lain," sebutnya.

Di akhir percakapan Alfons mengajak Tribun Manado memasuki bagian dalam rumah. terdapat sebuah lemari di pojok sebelum masuk ruang belakang.
Isinya foto, paspor, kartu pers serta barang - barang peninggalan semasa dirinya aktif menjadi wartawan. Ia menunjuk paspor berjumlah empat buah serta sebuah foto berisi dirinya dan orang lainnya.

Dalam foto berlatar pemandangan sebuah negara di luar negeri itu, Alfons bertiga mengenakan jaket dan tersenyum sewaktu diabadikan. "Ini kenang - kenangan saya waktu tugas di luar negeri," katanya sambil tersenyum.

"Wartawan awalnya adalah budak pilihan bangsawan romawi yang dibawa dari mesir, sudah merdekakah budak-budak pilihan itu," katanya retoris sambil menunjuk jarinya ke Tribun Manado. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Mandao 8 Februari 2013 hal 1

Semua tentang Kawanua KLIK!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes