Sampai Maut Memisahkan


ilustrasi
KABAR duka itu datang di hari Minggu atau hari Senin waktu Indonesia.
Dunia terguncang hebat, tak kalah geger dibandingkan demam virus Corona yang menebar cemas serta mengurai air mata.
Legenda bola basket NBA dan dunia, Kobe Bryant meninggal dunia setelah helikopter yang dia tumpangi menghujam bumi di California, Minggu pagi 26 Januari 2020.
Tragis. Sang bintang pergi dalam usia terbilang muda, 41 tahun.
Bryant tidak sendirian. Putri keduanya, Gianna Maria-Onore Bryant (13), meninggal pula dalam kecelakaan tersebut.
Gigi, panggilan Gianna, punya niat, minat dan bakat mengikuti jejak sang ayah di lapangan basket.
Ketika jatuh dan meledak hebat di lereng berkabut, helikopter Sikorsky S-76B nomor registrasi N72EX yang ditumpangi Bryant dalam menuju Mamba Sports Academy, kamp latihan basket miliknya di Thousand Oaks, California.
Pilot dan enam orang lainnya juga tewas dalam musibah ini.
Kepergiaan Kobe Bryant sontak mengalirkan lara sejagat.
Sepanjang hari Minggu dan Senin dia menjadi trending topic.
Bahkan hingga hari ini pun kenangan akan lelaki kelahiran Philadelphia, Pennsylvania, 23 Agustus 1978 itu masih bergulir di berbagai belahan dunia.
Kiranya dapat dimengerti manakala sebagian besar masyarakat dunia menangisi sang legenda berjulukan Black Mamba tersebut.
Kisah hidup Bryant telah menginspirasi banyak orang, tidak semata penggemar cabang olahraga bola basket yang sangat populer di tanah airnya.
Warisan Kobe Bryant yang bisa disebut antara lain kerja keras, telaten, disiplin, kerendahan hati, jujur, berjiwa besar, kerelaan memaafkan serta setia.
Selama 20 tahun kariernya yang gemilang di NBA, dia hanya membela satu klub yaitu Los Angeles (LA) Lakers tahun 1996-2016.
Mirip Francesco Totti di klub sepakbola AS Roma atau Paolo Maldini di AC Milan, Italia.
Tidak banyak atlet profesional yang setia dan loyal semacam ini.
Torehan prestasi Kobe Bryant bukan tanpa pengorbanan.
Selain kerja keras yang menjadi fondasinya, Bryant berkali-kali cedera serius yang nyaris mengakhirnya kiprahnya di lapangan basket.
Misal, dia mengalami patah tulang metakarpal tangan kanan pada musim 1999-2000.
Lalu, laserasi jari telunjuk kanan dan bahu kanan terkilir pada 2003-2004, disusul pergelangan kaki kanan terkilir pada 2003-2004.
Makin serius pada musim kompetisi NBA 2009-2010.
Dia mengalami retak avulsion jari telunjuk, pembengkakan lutut kanan, dan pergelangan kaki
kiri terkilir.
Pada musim 2012-2013, tendon achilles kaki kirinya sobek dan dioperasi.
Setahun kemudian, musim 2013-2014, tulang di lutut kirinya patah.
Setahun menjelang pensiun, rotator cuff yaitu kumpulan otot dan tendon yang melindungi sendi—bahu kanannya sobek.
Hebatnya, Kobe Bryant tidak patah semangat. Dia menyadari bahwa cedera merupakan risiko seorang atlet.
Mengakui Berzina
Tak ada gading yang tak retak, di luar lapangan basket NBA yang gemerlap itu, kehidupan pribadi dan keluarga Kobe Bryant tak kurang pula pasang surutnya.
Sisi kelam turut menyertainya.
Kobe Bryant pernah melakukan kesalahan fatal yang nyaris meremukkan bahtera rumah tangganya.
Kobe Bryant menikah dengan Vanessa Laine pada tahun 2001.
Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat anak.
Lahir berturut-turut Natalia Diamante Bryant (Januari 2003), Gianna Maria-Onore Bryant (Mei 2006-20 Januari 2020), Bianka Bella Bryant (Desember 2016), dan Capri Kobe Bryant (Juni 2019).
Guncangan hebat melanda keluarga pasangan ini pada tahun 2003 ketika Kobe Bryant sedang berada di puncak kejayaannya.
Kobe Bryant ditangkap pihak berwenang di Eagle, Colorado.
Bryant dituduh memperkosa seorang wanita, karyawati hotel berusia 19 tahun.
Orang yang melaporkan Kobe Bryant menyebut legenda Los Angeles Lakers itu memerkosa si perempuan muda pada malam sebelum Kobe menjalani operasi lutut.
Kobe Bryant jujur mengakui telah berzina dengan perempuan tersebut, namun membantah memerkosa.
Seperti diberitakan Tribun Bali, Selasa (28/1/2020), kasus ini berdampak besar bagi Kobe Bryant.
Reputasinya di mata publik hancur.
Kobe kehilangan sejumlah kontrak dengan perusahaan-perusahaan besar seperti McDonald's dan Nutella.
Penjualan replika jersey Kobe Bryant jatuh.
Pada tahun 2004, Kobe Bryant akhirnya mengakui kesalahannya secara terbuka.
Dia meminta maaf kepada perempuan tersebut atas tindakannya malam itu.
"Meskipun saya benar-benar meyakini kejadian ini antara kami atas dasar kesepakatan, dia tidak melihat kejadian ini seperti saya. Setelah berbulan-bulan meninjau, mendengarkan pengacaranya, dan bahkan kesaksiannya secara langsung, sekarang saya paham seperti apa perasaannya bahwa dia tidak setuju terhadap kejadian ini," ujar Bryant.
Apa yang membuat Bryant berani jujur dan berjiwa besar?
Dalam wawancara dengan Majalah GQ tahun 2015, Kobe Bryant menuturkan bagaimana iman Katolik yang dia yakini membantu dia mengatasi dampak tindakan atas wanita tersebut bagi hubungan pribadi dan citra profesionalnya.
Bagi Kobe kehilangan sponsor bukan menjadi perhatian utama, Dia justru sangat takut masuk bui.
Saat itu dia terancam hukuman penjara selama 25 tahun. Namun demikian, semangatnya tumbuh karena iman yang dia yakini.
"Satu-satunya yang sangat membantu saya selama proses itu, saya Katolik, saya tumbuh sebagai orang Katolik, anak-anak saya Katolik, adalah berbicara kepada seorang pastor," kata Kobe Bryant yang menjalani masa kecil selama 8 tahun di Italia.
"Lepaskan. Bangkitlah. Tuhan tidak akan memberikan kamu sesuatu yang tidak bisa kamu atasi, dan sekarang semuanya berada di tangan Dia. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Lepaskan," ujar Kobe menuturkan nasihat pastor itu kepada dia.
Dalam sesi wawancara tersebut Kobe Bryant pun menuturkan perjuangannya menyelamatkan pernikahan dengan Vanessa Laine.
Pasangan ini menikah pada 18 April 2001 di Gereja Santo Eduardus Sang Pengaku di Dana Point, California, Amerika Serikat.
Pada tahun 2011 Vanessa mengajukan cerai karena alasan perbedaan yang tidak bisa diatasi.
Pasangan ini bisa mengatasi masalah perbedaan tersebut 13 bulan kemudian.
"Saya tidak akan bilang pernikahan kami sempurna. Kami masih bertengkar, seperti pasangan lain. Tapi reputasi saya sebagai seorang atlet adalah saya punya tekad dan giat berlatih. Bagaimana saya bisa melakukan itu dalam kehidupan profesional saya jika saya tidak merasa seperti itu dalam kehidupan pribadi saya, ketika itu memengaruhi anak-anak saya? Tidak masuk akal," ujar Bryant.
Bahtera rumah tangga Kobe Bryant-Vanessa Laine langgeng sampai akhir, hingga maut memisahkan mereka pada 26 Januari 2020.
Kobe Bryant selalu teringat kalimat ini: yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.
Dia berpegang teguh pada tiga ciri perkawinan Katolik yaitu ikatan yang terus berlangsung seumur hidup, ikatan monogami, yaitu satu suami dan satu istri serta ikatan yang tak terceraikan.
Kobe Bryant hanya sekali menikah hingga akhir hayatnya.
Kobe Bryant sangat mengasihi keluarganya.
Legenda NBA, Michael Jordan, yang kini menjabat Presiden Charlotte Hornets, klub pertama Bryant mengungkapkan kesaksiannya.
"Ia adalah ayah yang luar biasa, lelaki yang mencintai keluarganya begitu dalam," kata Jordan.
Keluarga ini juga rutin menggelar aksi sosial melalui Kobe & Vanessa Bryant Family Foundation.
Melalui lembaga ini Bryant dan keluarga berusaha membantu orang-orang yang mengambil keputusan-keputusan buruk dalam hidup mereka untuk mencapai titik balik, termasuk para tunawisma.
Kobe Bryant melakukan itu karena menyadari bahwa dia sudah mendapatkan segalanya dan patut berbagi kepada sesama.
"Saya tidak bermaksud berlebihan dan mengutip Spider-Man, tapi kekuatan besar datang bersamaan dengan tanggung jawab besar," kata Bryant kepada The Times.
Dunia akan terus mengenang Bryant untuk inspirasinya yang luar biasa.
Di lapangan, Black Mamba memang punya beragam aksi menawan. Julukan Black Mamba itu berasal dari nama ular Afrika, yang gesit dan cepat gerakannya.
Penggemar basket pastilah akan suka meniru gaya slam dunkthree pointssteal atau assistnya.
Black Mamba sudah menjadi legenda.Dia pergi selamanya pada umur 41 tahun. Dengan nama semerbak harum.
Selamat jalan Black Mamba. Dunia olahraga berduka tapi warisanmu akan terkenang lama.
Tak mudah lekang oleh waktu. Requiescat in Pace. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Kota yang Bahagia


ilustrasi
KOTA selalu punya sisi yang risau. Dia merupakan ekspresi paling jujur ihwal kemanusiaan. Tidak hanya soal kecerdasan otak tapi juga hati yang acap menangis.

Jika tuan ingin mencintai sebuah kota, selami kegundahannya untuk mengerti seberapa kerap dia terbahak.

Ada pula yang bilang, selama berabad-abad, manusia selalu membangun kota dan kota membentuk karakter dan kultur manusianya.

Batavia dari purnama ke purnama telah membuat orang jatuh cinta. Entah cinta yang terstimuli motif ekonomi, politik pun kekuasaan. Begitulah.

Sebagai ibu kota negara bangsa-bangsa Nusantara, Jakarta merupakan episentrum hampir segalanya.
Ya politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Kemakmuran, kemasyuran, kemuliaan, kejayaan.

Serentak pula Jakarta bugil berwajah kemiskinan, kejahatan, tragedi, pengkhianatan, dusta serta nestapa.

Manusia membangun kota, dan kota membentuk manusia.

Dan, lihatlah betapa Jakarta selama hampir satu abad di bawah tudung NKRI, membentuk manusianya dengan moda transportasi umum serampangan hingga memendam kerisauan panjang.

Transportasi umum yang buruk bikin warga Jakarta (Jabodetabek) menjerit lirih di tengah gemuruh kemajuan zaman.

Kemacetan telah menjadi bagian keseharian sehingga mereka acap menggoda diri dengan kata-kata “tua di jalan”.

Ya sebagian besar waktunya tersedot untuk perjalanan padat merayap bahkan tersendat berjam-jam.Tak berbilang tekanan fisik dan mental.

Sebuah kota yang sesak, macet dan kini kebanjiran pula. Demikianlah wajah metropolitan Jakarta.

Jadi keputusan pemerintah membangun ibu kota negara yang baru di Kalimantan kiranya baik dalam perspektif Indonesia masa depan.

Juga demi mewariskan sesuatu yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Bahasa kerennya biar Jakarta menjadi kota yang manusiawi. Kota yang (warganya) bahagia, mengutip tekad Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Manusia membangun kota dan kota membentuk manusia.

Senin pekan ini, sebelum pulang ke Denpasar setelah merajut persaudaraan kasih dalam suatu acara keluarga, saya selintas melihat bagaimana Jakarta membentuk perilaku manusianya melalui moda transportasi umum bernama MRT (Mass Rapid Transit) alias Moda Raya Terpadu.

Kebiasaan berdesak-desakan yang dulu jamak di stasiun kereta api kini fakir di mata. MRT bersih, tertib, rapi dan wangi.

Anak milenial, ibu rumah tangga, orang kantoran, pekerja bersandal sampai yang berdasi, cantik, ganteng dan harum, naik MRT dengan bangga.

Batavia berubah. Keberadaan MRT di Jakarta membentuk kultur urban baru yang bikin setiap orang merasa nyaman.

Calon penumpang MRT antre membeli tiket. Tertib.

Jadi terkenang Munich, Bonn, Frankfurt, Istanbul dan beberapa kota di Eropa yang sempat saya jejaki.

Mereka telah terbiasa dengan kultur kereta api bawah tanah sebagai moda transportasi massal yang efisien, murah dan nyaman.

Kawasan sekitar stasiun pemberhentian MRT Jakarta apik tertata. Senang sekali melihat pejalan kaki menjelajahi trotoar yang lega dan bersih. Trotoar tanpa PKL karena fungsinya memang bukan buat pedagang kaki lima.

MRT Jakarta terkoneksi dengan bandara, terminal bus, stasiun kereta api dan pelabuhan.

Informasi praktis jelas terbaca. Memudahkan siapa saja untuk mencobanya.

MRT Jakarta, kendati digerutui sejumlah pihak sebagai telat hadir dan belum sepenuhnya mengatasi kemacetan, setidaknya memberi bukti bahwa moda transportasi massal yang nyaman bisa disediakan bagi rakyat.

Persis seperti kata bijak di atas, manusia membangun kota dan kota membentuk manusianya yang beradab.

Maka bangunlah kota dengan pikiran dan perasaan sebagai manusia.

Bangun kota sebagaimana tuan dan puan dambakan menjadi penghuninya yang bahagia.

Bagaimana Denpasar? Syahdan, sejak abad-abad yang lampau, ibu kota Provinsi Bali ini telah membuat banyak orang jatuh cinta.

Jutaan manusia seantero jagat saban tahun mencumbui indahnya Bali.

Mengagumi setiap debur ombak dan pantainya, budaya dan tradisi, mengecup kehangatan cinta manusianya.

Bali itu sang juita. Punuk bukitnya seksi berisi, sawah ladangnya permai. Lembah ngarai, gunung, danau dan air terjunnya merangsang memikat hati.

Maka berbondonglah orang ke sana.

Dan, mereka yang datang dari lima benua atau delapan penjuru mata angin pastilah pernah menghabiskan malam bersama Denpasar atau lebih persis Sarbagita, akronim Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan – pusat pariwisata Pulau Dewata.

Tak ubahnya Batavia, Denpasar punya sisi yang risau.

Inilah kota tanpa moda transportasi umum terkoneksi - terintegrasi dari bandara, terminal bus, pelabuhan sampai ke permukiman penduduk.

Bus Trans Sarbagita yang diidealkan sebagai tranportasi umum murah dan nyaman, bak pepatah hidup enggan mati pun tak mau.

Pernah berhenti beroperasi lalu diaktifkan lagi. Kini gemagaungnya sayup. Kalah riuh ketimbang protes menolak keberadaan taksi online.

Kemacetan Sarbagita memang belum sesesak Jabodetabek. Tapi saat tertentu dia bisa membuatmu galau.

Selalu ada waktu Jalan By Pass Ngurah Rai pun padat merayap hingga butuh semangkuk kesabaran menanti lalu lintas terurai lancar.

Dengan populasi Sarbagita sekitar 3 juta, dari total 4,2 juta jiwa penduduk Bali (BPS, 2018), urusan yang satu ini bukanlah remeh temeh. Apalagi di ini negeri jumlah kendaraan bermotor hanya mengenal kata tambah.

Entah apa yang terjadi dengan Sarbagita 25 sampai 50 tahun mendatang jika sistem transportasi tidak kita tata apik dan smart sejak sekarang.

Bahkan lima atau 10 tahun lagi pun sudah terbayang betapa repotnya Bali mengurus jalanan agar tetap ramai, lancar, menyenangkan –prasyarat demi terus bergeliatnya destinasi wisata kelas dunia.

Sudah tercetus niat pemerintah membangun rel kereta api serta moda transportasi publik berupa kereta cepat ringan atau Light Rapid Transit (LRT) di Pulau Dewata.

Krama Bali tentu menanti realisasinya. Entah kapan.

Kerisauan Sarbagita pun menyentuh aspek vital sumber daya alam dan daya dukung lingkungan nan asri.

Air tanah atau air bawah permukaan kencang amat tersedot mesin sumur bor.

Perorangan dan institusi ramai-ramai menghujam perut bumi Sarbagita dengan mesin bor.

Kedalaman sumur bervariasi, sekadar puluhan hingga ratusan meter.

Sementara air pemukaan yang melimpah ruah justru menguap percuma ke langit biru dan mengalir sampai jauh. Bergulung-gulung lalu larut di perut Samudera Hindia.

Penggunaan sumur bor di Sarbagita bahkan seluruh Bali cenderung tak terkendali, untuk tidak menyebut kebablasan.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pun mengandalkan sumur bor semata.

PDAM Denpasar, seturut data yang pernah diwartakan Tribun Bali, jumlah sumur bor sebanyak 22.
PDAM Badung memiliki 31 sumur bor, PDAM Gianyar 45 sumur bor, PDAM Klungkung 22 sumur bor, PDAM Karangasem 15 sumur bor, PDAM Buleleng 20 sumur bor, PDAM Tabanan 3 sumur bor, dan PDAM Jembrana 10 Sumur bor.

Kendati bor sumur demikian banyak, nyatanya Bali krisis air bersih.

Data Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida menunjukkan potensi air di Bali 216 meter kubik/detik atau setara 216.000 liter/detik.

Potensi air itu berasal dari sungai, danau, mata air, termasuk air tanah. Sementara kebutuhan air bersih di Bali saat ini 119.000 liter/detik.

"Jadi masih ada gap atau kekurangan air bersih sebanyak 18 meter kubik per detik,” kata Kepala BWS Bali-Penida, Airlangga Mardjono dalam diskusi terfokus tentang Danau dan Air di Provinsi Bali yang digelar Ikatan Ahli Geologi Indonesia Bali di Denpasar, medio November 2019.

Air bukan satu-satunya perkara. Kisah Sarbagita adalah cerita tentang sampah yang membuat tunggang langgang.

Tukad (sungai) bercampur limbah sablon tak berizin serta amis TPA Suwung.

Suwung itu artinya sunyi. Tapi Suwung tak lagi senyap di antara nama besar Kuta, Nusa Dua, Sanur, Seminyak, Jimbaran, Ubud, Uluwatu, Canggu, Tanah Lot, Bedugul. Nama Suwung riang mencabik relung ingatan krama Bali hari-hari ini.

Berminggu-minggu sepanjang Oktober-November 2019, heboh pemberitaan tentang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.

Hampir semua media terbitan Bali menjadikannya headlines karena Suwung tak sanggup lagi menampung sampah produksi Sarbagita sebanyak 1.200 sampai 1.300 ton per hari.

Bayangkan jumlahnya sebulan hingga setahun? Seluas-luasnya Suwung pada akhirnya akan meluber juga.

Mana mampu menggendong Tsunami sampah sedemikian dahsyat tanpa disertai pengolahan semestinya.

Keputusan Gubernur Bali terbit di penghujung Oktober 2019.

Hanya Denpasar boleh buang sampah ke sana. Badung, Gianyar, Tabanan harus bangun TPA sendiri.

Badung kewalahan. Suwung berubah fungsi. Bukan lagi TPA regional yang dulu didambakan sebagai TPA modern yang antara lain dapat menghasilkan sumber energi terbarukan.

Nasib tukad (sungai) di Sarbagita pun tak seindah namanya.

Hari selasa 26 November 2019, air Tukad Badung yang semula berwarna hijau kecokelatan berubah merah darah.

Fenomena ganjil ini viral. Jadi topik hangat perbincangan warga Kota Denpasar dan sekitarnya.

Merah darah ternyata warna limbah. Buangan pengusaha tekstil celup di Jalan Pulau Misol I, Dauh Puri Kauh Denpasar.

Pasca kejadian ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar sontak mengungkap data lebih menantang.

Semua usaha sablon di kota ini yang jumlahnya kurang lebih 200 tidak mengantongi izin.

Pengusaha sablon pun kucing-kucingan. Siang hari bersikap manis. Pada malam hari mereka buang limbah ke sungai. Duhaienaknya...

Ketika ditanya mengapa pemerintah tidak menutup usaha sablon tak berizin, seorang pejabat enteng berkata Pemerintah Kota Denpasar masih beri toleransi karena berkaitan dengan urusan perut.

Namun, dia meminta pengusaha sablon turut menjaga lingkungan dengan tak membuang limbah sembarangan. Apakah mungkin?

Tukad Bali juga saksi tragedi menikam nurani tatkala tubuh anak manusia dicampakkan begitu saja.

Dua peristiwa teranyar ini sekadar misal. Orok mengambang di Sungai Ayung, Sabtu 18 Januari 2020.

Dua hari berselang, warga Denpasar kembali digegerkan penemuan orok di Tukad Badung, Jl. Imam Bonjol,Banjar Buagan Pemecutan Kelod.

Tubuh mungil rapuh mengapung di dalam tas ransel.

Kedua orok sama-sama berjenis kelamin perempuan. Tubuh mungil mereka tidak utuh lagi. Kepala dan sebagian jari hilang.

Oh Tuhan. Mengapa manusia gampang amat membuang buah cinta?

Hai malaikat kecil, semoga beristirahatlah dalam damai dan kasih ilahi.

Denpasar adalah kota cinta. Destinasi favorit bagi mereka yang sedang honey moon.

Tapi Denpasar tak selalu berdendang indah, semanis ritmis lirik Denpasar moon-nya Maribeth yang pernah tersohor.

Begitulah tuan dan puan. Kota selalu punya sisi risau dalam derap gemuruh pembangunan yang mengasyikkan.

Anda bahagia menghuni Sarbagita? Saya pun tak yakin apakah kaki langit itu sudah tampak di mata.

Semeton Dewata yang budiman, pada akhirnya semua ini bertalian dengan kasih. Memberi diri sebagai urban.

Banyak orang datang dan pergi dari kehidupan kotamu, akan selalu begitu selama rembulan masih bersinar dan matahari rutin menyapa fajar.

Akan tetapi hanya krama bijak yang akan meninggalkan jejak terindah agar Sarbagita menjadi kota yang membahagiakan.

Siapa saja.

Tak mesti kerutkan kening. Setidaknya buanglah sampah pada tempatnya, bukan di tukad atau selokan.

Mau atau tidak, terpulang padamu jua. Matur suksma. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Bau Bawang dari China



ilustrasi
TATKALA tuan dan puan menikmati menu makan pagi, siang atau makan malam hari ini, ketahuilah asal-asal usul sumber protein dan gizi yang menghidupimu itu.

Berasmu dari Vietnam, kacang hijau produksi Amerika, garam Singapura, bawang putih dari China, buah asal Thailand, dan daging sapi Australia.

Dari negerimu sendiri yang dikau agungayukan sebagai gemah ripah loh jinawi mungkin hanya air.

Ya, air yang makin ke sini harganya pun mencekik selangit.


Begitulah tuan dan puan. Di era industri 4.0 ini sekadar "kedaulatan  meja makan" bukan sepenuhnya milikmu.

Kita adalah bangsa dan negara yang dikaruniai sumber pangan berlimpah ruah, mungkin paling kaya di dunia.

Namun, keberadaan kita di zamrud katulistiwa tak berdaulat pangan.

Penghuni negeri +62 ini akan langsung terkapar kehilangan selera makan hanya dengan sekali gertak.

Sebut misalnya, penguasa Tiongkok tiba-tiba bersabda hentikan dulu ekspor bawang putih ke Indonesia atau tetangga terdekat Singapura dan Australia iseng tutup keran ekspor garamnya.

Maka semangkuk sup di meja makanmu akan hambar tanpa bau bawang dari Tiongkok atau asin garam Singapura yang bahkan luas lautnya hanya sejengkal dibandingkan samudera raya Indonesia.

Bau bawang dari China menyengat kesadaran betapa negeri agraris ini begitu loyo menyiapkan sembako buat perut rakyatnya sendiri.

Impor ekspor dalam alam globalisasi memang keniscayaan.

Namun, impor mestinya sekadar menutupi kekurangan.

Ilmu ekonomi mengajarkan demikian. Nah yang terjadi pada Indonesia tercinta adalah ketergantungan hampir paripurna pada impor. OMG!

Jerit sedih mengenai kesuna (bahasa Bali = bawang putih) mengudara dari Pulau Dewata.

Kepada Tribun Bali di Denpasar, Kamis (9/1/2020). Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan, ketersediaan bawang putih menjadi masalah di destinasi pariwisata nomor wahid ini.

Bali bergantung pada bawang impor dari Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Kalau bawang putih kita masih impor dari China,” kata Wisnuardhana lugas.

Akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud) Denpasar, Prof I Wayan Windia mengakui, produksi bawang putih dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan.

Dari segi kualitas, bawang putih Indonesia juga kalah bersaing.

“Bawang putih dari RRT (China) mulus-mulus dan besar," kata dia.

Windia mengatakan, jika Indonesia tidak serius menyikapi permasalahan ini, bisa dipastikan ketergantungan pada bawang putih dari Tiongkok berlanjut.

"Sekali tergencet akan tetap tergencet," katanya.

Di sisi lain, Windia melukiskan kondisi masyarakat kita sudah telanjur nyaman dan jatuh cinta pada bawang putih mulus dan besar dari Tiongkok yang harganya relatif terjangkau di pasar.

Pengimpor Terbesar di Dunia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia impor bawang putih saban tahun dengan jumlah yang terus membuncit.

Dalam empat tahun terakhir, volume impor bawang putih RI rata-rata pada kisaran 500.000
ton.

Jumlah itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat rata-rata 450 ribu sampai 500 ribu ton per tahun.

Pada tahun 2018, misalnya, jumlah impor bawang putih bahkan sudah mencapai 582.994 ton atau senilai 497 juta dollar AS (setara kira-kira Rp 7,1 triliun).

Mengutip warta CNBC Indonesia, pada tahun 2018, Indonesia merupakan importir bawang putih terbesar di dunia.

Fakta tersebut diperoleh dari kompilasi perdagangan luar negeri seluruh dunia yang dihimpun UN Comtrade (lembaga PBB).

Thailand berada di urutan kedua dengan jumlah impor 74,9 ribu ton disusul Filipina dan Pakistan masing-masing 74,6 dan 37,5 ribu ton.

Sebagian besar bawang putih impor yang masuk ke Indonesia tahun 2018 berasal dari China.

Jumlahnya 580,84 ribu ton. Sisanya dari 1.684 ton dari negara Asia lainnya dan hanya 464 ton dari India. Artinya, nyaris 100 persen (99,6) kebutuhan bawang putih Indonesia berasal dari China.

Betapa berkuasanya Tiongkok untuk bumbu dapur di meja makan kita serta untuk industri kuliner (makanan).

Mau bilang apa. Produksi bawang putih dalam negeri memang sangat minim.

Sebagai contoh, pada tahun 2017, Indonesia hanya memproduksi 19,5 ribu ton bawang putih pada lahan seluas 2.146 ha.

Bahkan jumlahnya berkurang dari tahun 2016 yang masih mampu produksi 21,15 ribu ton di atas lahan seluas 2.407 ha.

Di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis 25 April 2019, Menteri Pertanian Amran Sulaiman kala itu menyebutkan lahan produksi bawang putih RI mencapai 11 ribu hektare.

Setiap hektare lahan menghasilkan 8 sampai 10 ton bawang putih.

Tahun 2019 Kementerian Pertanian menargetkan luas lahan dapat meningkat menjadi 20 ribu hektare.

Klaim Pak Menteri yang sudah mengakhiri masa pengadiannya pada bulan Oktober 2019 tersebut belum terverifikasi realisasinya.

BPS pun belum merilis data produksi terbaru. Patokan realistis tetap di angka 19,5 ribu ton bawang putih yang tumbuh di atas lahan seluas 2.146 ha.

Coba simak luas lahan bawang putih di negeri kita.

Bayangkan negara yang tanah pertaniannya berjuta-juta hektare dari Sabang hingga Merauke, Miangas sampai Pulau Rote, hanya 2 ribuan hektar ditanami bawang putih.

Menurut Amran Sulaiman, jika mau mewujudkan swasembada bawang putih, maka Indonesia membutuhkan 60 ribu hektare lahan tanam.

Ah, kalau cuma segitu sebenarnya tak seberapa bila kita bandingkan misalnya dengan
lahan sawit di Sumatera dan Kalimantan.

Konon, lahan sawit milik korporasi di negeri ini bahkan bisa lebih luas dari satu kabupaten di
Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pada akhirnya semua ini berkaitan dengan good will pemerintah.

Mau membangun pertanian demi kedaulatan pangan atau tidak?

Gengsi NKRI tak berkurang seinci pun kalau meniru jejak China dan India, dua negara dengan populasi manusia miliaran jiwa tapi bisa berdaulat pangan bahkan ikut mengisi perut bangsa lain.

Bawang putih mulus dari Tiongkok mestinya menggugah kesadaraan dan aksi kolektif pemerintah dan rakyat Indonesia untuk berbenah.

Yang pemimpin negeri omong berapi-api mengenai kemandirian ekonomi dalam spirit Nawacita itu penjabarannya termasuk kedaulatan pangan.

Pembangunan pertanian mestinya bergerak seirama. Seiring sejalan.

Bukan cuma jalan tol yang makin panjang meluas, tapi impor sembakonya harus makin berkurang.

Rezim Orde Baru yang tuan kritik habis-habisan karena otoritarian itu mewariskan sesuatu yang membanggakan.

Indonesia pernah swa sembada pangan hingga mendapat penghargaan FAO.

Kelemahan Orde Baru dalam hal pangan hanyalah “politik beras” kelewat kencang di seluruh pelosok Nusantara sehingga pangan seolah identik dengan beras.

Akibatnya orang di kampung saya, Nusa Tenggara Timur yang makanan pokok umumnya jagung dan ubi-ubian, Maluku dan Papua yang makanan pokoknya sagu, beralih ke beras (makan nasi) sehingga ketergantungan pada beras makin menebal bahkan sulit hilang sampai sekarang,

Yang Penting Untung

Besarnya impor kebutuhan pokok menguatkan dugaan bahwa bangsa kita memang doyan “politik ekonomi rente”. Yang penting untung bro. Berdaulat pangan nomor belakang.

Kalau ternyata impor lebih untung, buat apa letih menanam bawang putih, untuk apa buang waktu mengubah air laut menjadi garam, kalau ternyata impor lebih gampang?

Janji pemerintah menurunkan angka impor masih sekadar janji.

Malah cenderung meningkat pada sejumlah komoditas .

Impor bawang juga sumber duit. Pesonanya menggiurkan. Meninabobokan.

Belum genap sepuluh purnama berlalu, gara-gara impor bawang putih sejumlah orang termasuk anggota DPR yang terhormat dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam operasi senyap di Jakarta 7-8 Agustus 2019, KPK membekuk 11 orang, di antaranya orang kepercayaan anggota DPR Komisi VI dari Fraksi PDIP I Nyoman Dhamantra, Mirawati Basri, importir bawang dan pihak lainnya.

KPK juga sita uang Rp 2 miliar. Nyoman yang sempat menghadiri kongres PDIP di Sanur kala itu akhirnya dibawa ke kantor KPK di Jakarta pada 8 Agustus 2019.

Pada kasus suap impor bawang putih ini, KPK menetapkan enam orang tersangka.

Tiga orang berperan sebagai pemberi suap yakni pemilik PT Cahaya Sakti Agro Chandry Suanda alias Afung, pihak swasta T Wahyudi dan Zulfikar.

Sementara tiga orang lainnya sebagai tersangka penerima suap yakni I Nyoman Dhamantra, Mirawati Basri dan Elviyanto.

Menurut KPK, para penyuap memberikan uang untuk memuluskan pengurusan rekomendasi impor produk holtikultura di Kementerian Pertanian dan Surat Persetujuan Impor di Kementerian Perdagangan.

Senin 6 Januari 2020, majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Jakarta memvonis Chandry Suanda alias Afung 2 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 100 juta, Tuti Wahyudi 2 tahun penjara dan denda Rp 75 juta.

Sedangkan Zulfikar divonis kurungan 1 tahun 6 bulan denda Rp 50 juta.

“Menyatakan terdakwa Chandry Suanda alias Afung, Tuti Wahyudi, dan Zulfikar, terbukti secara sah meyakinkan bersalah melalukan tindak pidana korupsi secara bersama seperti didakwakan,” kata hakim Saifudin Zuhri.

Menurut hakim Afung terbukti menyuap anggota Komisi VI DPR I Nyoman Dhamantra sebesar Rp 3,5 miliar.

Salah urus bawang putih mulus ternyata bisa menjerumuskan orang ke hotel prodeo. Mereka pun berurai air mata. Bawang oh bawang…! (dion db putra)

Sumber: Ngopi Santai Tribun Bali

Melebihi Panggilan Tugas

Yusran Pare 
PERASAAN harubiru itu muncul di penghujung tahun. Tahun 2019 yang baru berlalu kurang dari 48 jam.  Dua seniorku pamit lalu meninggalkan Grup WA, ruang kami berbagi informasi, bertukar pandangan atau sekadar curhat dan bercanda ria.

Yusran Pare menulis dalam nada liris.

Teman-teman terkasih, izinkan saya pamit.
Terhitung 31 Desember 2019, saya sudah sepenuhnya pensiun. Terima kasih atas segala kebaikan, ilmu dan pengetahuan  yang telah teman-teman berikan kepada saya. Saya mohon ampun maaf jika selama berinteraksi ada hal-hal yang tidak berkenan di hati teman-teman.

Mas Kris, Om Dion, Mas HDP, titip Ombudsman, ya. Mohon maaf jika selama memimpin Ombudsman, saya belum mampu mewujudkan kerja ideal yang kita rancang.

Yusran Pare left…

Tak lama berselang Ahmad Suroso juga  keluar grup setelah meninggalkan kata-kata demikian.

Teman-teman Ombudsman Tribun, kang Yusran, mas HDP, mas Dion, Krisna...saya juga mohon izin left dari WAG Ombudsman Tribun, mengingat saya sudah resmi pensiun dari Tribun per 1 Desember 2019.

Terima kasih teman atas kerja samanya selama ini. Mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. Sukses untuk kita semua,  semakin jaya di mana pun, amin

Tak hanya dari Grup WA Ombudsman. Mereka juga pamit dari  WA Grup lainnya yaitu Grup Tribun dan Editor in Chief Tribun.

Kendati pensiun sebagai karyawan merupakan sesuatu yang lazim, namun tetap saja mengiris perasaan.  Puluhan tahun kami  bersama-sama bekerja dalam jaringan unit usaha koran daerah Kompas Gramedia (Tribun Network).

Waktu terasa berlalu amat lekas. Tiba-tiba saja Kaka Yusran dan Mbah Roso – sapaan akrab Ahmad Suroso -  sudah berada di titik akhir pengabdian.  Purna tugas.

Ahmad Suroso (kiri)
Tentu selalu ada kesempatan untuk berjumpa, tetapi pasti telah berbeda bobot dan suasananya, takkan sesering seperti biasa ketika kami masih sama-sama karyawan Tribun.  Kebayang bahwa rapat kerja berikutnya tidak bersua mereka lagi.

Kiranya benar ungkapan dalam bahasa Prancis, “Partir c’est un mourir un peu” atau “kepergian adalah satu kematian kecil”. Mulai 1 Januari 2020 tak ada lagi kebersamaan seperti puluhan tahun dengan Kaka Yusran dan Mbah Roso.

Selalu ada yang hilang, setidaknya begitu yang saya rasakan setiap kali berpisah dengan senior yang pensiun. Maklumlah bekerja toh tidak sekadar mencari nafkah. Tempat kerja adalah juga rumah untuk  menjalin kasih persaudaraan.

Bukan pertama kali  saya berpisah dengan pendahulu yang memasuki purna tugas. Lima belas tahun silam saya rasakan getaran batin yang sama ketika Om Marcel W Gobang (alm)  pensiun dari Kompas Gramedia. Om Marcel, seingat saya,  merupakan karyawan pertama  PT Indopersda Primamedia atau Persda (kini Tribun) yang pensiun.

Ketika beliau pamit dalam pertemuan sederhana di kantor lama Harian Pagi Pos Kupang di Jl. Kenari No 1 Naikoten Kupang, ada rekan wartawan yang menitikkan air mata.

Sepuluh tahun menahkodai redaksi Pos Kupang bukan waktu yang singkat. Om Marcel Gobang, meninggal dunia tahun 2015,  mewariskan banyak hal baik bagi jurnalis dan karyawan Pos Kupang.

Akhir tahun 2018 di kantor baru Harian Pagi Pos Kupang di Jalan RW Monginsidi Fatululi,  saya  ikut melepas tiga karyawan yang  pensiun yaitu Hyeronimus Modo (Persda), Setya Mudjo R (Persda) dan Mariana Dohu (Pos Kupang).

Makin ke sini akan semakin banyak karyawan Tribun yang pensiun. Di Jakarta bulan September 2019 dalam raker Ombudsman, Mas Febby  Mahendra Putra (Direktur) sepintas memberikan informasi tersebut.

Dalam tahun 2020 ini dan tahun-tahun selanjutnya akan ada lagi karyawan yang pensiun. Tentu sebuah keniscayaan mengingat keberadaan Persda  yang telah mencapai lebih dari tiga dekade.

Marcel Gobang, Uki M Kurdi,  Yusran Pare, Gunawan Wibisono, Hyeronimus Modo, Setya Mudjo dan Mbah Roso serta para senior yang dalam dua tiga tahun ke depan akan purna tugas merupakan generasi perintis dan peletak dasar Tribun yang kini hadir di 23 kota di tanah air. Dari Aceh hingga Kupang,  Manado, Pontianak hingga Solo.

Dari Kota ke Kota

Generasi perintis - peletak dasar merupakan orang yang berkeliling dari kota ke kota lain. Sangat sedikit yang hanya bekerja di suatu tempat dalam waktu lama.

Kaka Yusran  Pare, misalnya, sejak bergabung dengan Persda tahun 1989,  bertugas di lebih dari lima kota termasuk Kupang. Awalnya di Harian Mandala (Bandung)  sebagai redaktur. Setahun kemudian  ke Harian Bernas (Yogyakarta).

Pose bersama seusai raker Ombudsman Tribun Sept 2019
Pengabdian berlanjut ke Palembang, di Harian Sriwijaya Pos (1993-1995) sebagai wakil redaktur pelaksana kemudian ke Pos Kupang (1995-1996).  Di sinilah saya menimba banyak ilmu dari beliau.

Selama di Pos Kupang, Kaka Yusran merekrut dan mendidik reporter baru, memperbaiki kualitas konten, perwajahan dan sebagainya. Setahun di Pulau Timor, dia kembali ditugaskan manajemen ke Bernas (1996-1998) sebagai redaktur pelaksana.

Dari Yogya, Kaka Yusran berkelana ke Kalimantan Selatan  sebagai wakil pemimpin Redaksi Banjarmasin Post  (1998-2000).

Menyongsong tahun 2000 manajemen di Jakarta membuka media baru di Kota Bandung. Kaka Yusran pulang kampung halaman, turut mengelola Metro Bandung (2000-2005) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Tribun Jabar dan mengawali proses digitalisasi konten, sebagai pemimpin redaksi sampai 2009.

Tak cukup sampai di situ. Kaka Yusran sempat pula dijeda selama  6 bulan pada 2006, sebagai Pemred Tribun Batam.

Seolah sudah menjadi takdirnya, Kaka Yusran berkelana dari kota ke kota. Dari Sumatera ke bumi Borneo  Kalimantan lagi. April 2009 sampai 2016,  ayah tiga orang anak dan dua cucu ini dipercayakan sebagai Pemimpin Redaksi Harian Banjarmasin Post. 

Dari Banjarmasin pindah ke Semarang menahkodai Harian  Tribun Jateng (sampai 2017) lalu pulang kampung halaman lagi, Tribun Jabar, sampai purna masa kekaryawanan pada bulan Juli 2018.

Seperti ditulis Kaka Yusran dalam akun Facebooknya 31 Desember 2019, waktu seolah melintas demikian cepat.  Serasa baru kemarin dia berkemas pindah dari Bandung ke Yogya, Palembang, Kupang, Batam, Banjarmasin, Semarang dan seterusnya.

Karyawan  perintis –peletak dasar seperti Kaka Yusran sudah terbiasa hidup terpisah dengan keluarga. Tinggal di kos atau mess.  Paling  kumpul dua tiga hari dalam sebulan dengan istri, anak dan cucu. Namun seperti dikatakan Kaka Yusran, cinta kasihlah yang menyatukan.

Mbah Roso juga  berpindah dari kota ke kota, antara lain Yogya, Batam, Balikpapan  dan terakhir di Pontianak. Sampai purna tugas Desember 2019,  pria asal Yogyakarta ini menjabat Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak.

“Nasib” berpindah dari kota ke kota pun dialami Mas Febby Mahendra Putra, Dahlan Dahi, Dodi Sardjana, Ribut Raharjo, Setya Krisna Sumargo, Hadi Prajogo, Cecep Burdansyah, Sunarko, Musafik, Abdul Haerah dan lainnya yang kini masih aktif mengabdi.

Pimpinan kami Mas Febby Mahendra Putra bertahun-tahun tinggal di kos, sekitar 100 meter dari kantor pusat kami di Palmerah. Karena tugas dan tanggung jawabnya sebagai direktur, Mas Febby bahkan selalu keliling ke berbagai kota tempat koran Tribun beroperasi untuk melakukan supervisi, monitoring, pembinaan, pelatihan dan sebagainya.

“Modalnya” tas ransel berisi beberapa potong pakaian.  Sesimpel itu kehidupan sebagai punggawa Tribun.

Dari  Kaka Yusran, Mbah Roso, Mas Febby, Dahlan kita petik pelajaran mengenai sense of duty. Rasa tanggung jawab pada tugas dan pekerjaan. Juga beyond the call of duty yaitu kesadaraan untuk bekerja melebihi panggilan tugas. Bahwa bekerja itu harus all out, mengerahkan segenap kemampuan yang ada, pikiran dan tenaga.

Di tengah distrupsi gempa digital yang maha dahsyat dewasa ini, para senior seperti Kaka Yusran dan Mbah Roso mewariskan keutamaan akan kesetiaan pada profesi, terus menghidupkan komitmen bahwa tanggung jawab media adalah pada masyarakat dan konsumen dan bahwa kerja itu merupakan ibadah.

Nilai keutamaan ini semoga tetap hidup dalam sanubari generasi baru Tribun,  setiap karyawan Kompas Gramedia.

Akhirnya,  buat Kaka Yusran, Mbah Roso terima kasih untuk tahun-tahun kebersamaan kita yang mengagumkan.

Terima kasih telah menjadi guru, mentor, kakak, rekan kerja yang banyak memberi inspirasi, ilmu, pengetahuan dan keterampilan. Mohon maaf atas khilaf dan salah.

Kita berpisah sebagai karyawan, tidak untuk persaudaraan. Keep in touch.

Dion DB Putra
Pada hari pertama 2020

I Gede Siman Sudartawa Selalu Sumbang Emas


I Gede Siman Sudartawa
Disiplin merupakan kunci sukses Siman mempertahankan prestasinya. Menurut sang ibu, Siman memiliki semangat berlatih yang luar biasa dan patuh pada instruksi pelatih.

PERENANG andalan Indonesia asal Bali I Gede Siman Sudartawa kembali menorehkan prestasi  membanggakan. Dialah yang pertama menyumbangkan medali emas dari cabang olahraga (cabor)  renang SEA Games 2019.

Siman Sudartawan meraih medali emas nomor 50 meter gaya punggung putra. Persembahannya itu merupakan emas ke-51 bagi Indonesia. Siman tercepat menyentuh finish dengan catatan waktu 25,12 detik di New Clark City Aquatic Arena Filipina, Sabtu (7/12).

Siman juga memperbaiki rekor SEA Games yang ia ciptakan pada tahun 2017 yaitu 25,20 detik.  Selain Siman, atlet asal Bali yang menyumbang medali emas bagi Indonesia adalah Maria Londa (lompat jauh) dan pedujo Ni Kadek Anny (perak).



Prestasi itu membanggakan  Ni Made Sri Karmini, ibu kandung Siman Sudartawa.
"Ini merupakan partisipasi Siman kelima kalinya di ajang SEA Games sejak tahun 2011 lalu di Palembang," ujar Ni Made Sri Karmnini kepada Tribun Bali, Minggu (8/12).

Prestasi Siman relatif stabil sejak 2011. Hampir di semua event, pemuda asal Desa Tegak, Kabupate Klungkung, Bali tersebut menyumbang medali  emas untuk Indonesia. Hanya pada tahun 2015 di SEA Games Singapura, Siman meraih medali perak.

"Sebelum kembali turun di SEA Games 2019 di Manila, Siman mendapat kesempatan ikut pemusatan latihan di Amerika Serikat  sejak September lalu," kata Sri Karmini. Selama tiga bulan, Siman mengasah kemampuannya di Virginia Tech University. Selain latihan, dia juga mengikuti beberapa perlombaan di negeri Paman Sam.

Disiplin merupakan kunci sukses Siman mempertahankan prestasinya. Menurut sang ibu, Siman memiliki semangat berlatih yang luar biasa dan patuh pada instruksi pelatih.
Siman sendiri dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, meski sibuk latihan dia tidak meninggalkan pelajaran sekolah. Setela pulang latihan dia tetap belajar.

"Siman juga  rendah hati. Saya sebagai orangtua selalu mendukung dan berpesan agar tidak lupa berdoa dan apapun hasilnya tetap disyukuri," ujarnya.

Ia berharap Siman terus berprestasi. Tahun depan Siman akan mengikuti PON dan Olimpiade. "Meraih medali Olimpiade tentu menjadi impian bagi setiap atlet, begitu juga Siman," kata Sri Karmini.

Dijelaskannya, Siman tertarik dengan olahraga renang sejak kecil. Ketika Siman di SDN 1 Semarapura Kangin, ia minta izin ikut ekstrakulikuler renang. Dia tertarik pada cabang olahraga ini  setelah melihat teman-temannya berenang di kolam Lila Harsana Klungkung.

"Kalau dia renangnya di sungai, saya jadi takut juga. Apalagi jika hujan, jadi saya izinkan untuk ikut ekstrakulikuler renang,” ujar Ni Made Sri Karmini.

Siman mengalami perkembangan pesat. Baru dua bulan mengikuti privat renang, Siman dipercaya mengikuti perlombaan renang di tingkat kabupaten yang dilaksanakan TNI. Siman memperoleh medali.

“Meraih medali di perlombaan tersebut membuat Siman semakin semangat latihan renang. Kelas IV SD, Siman mendapat kesempatan mengikuti perlombaan renang usia dini di Jakarta,” jelas Ni Made Sri Karmini.

Di sinilah perjuangan dimulai. Tidak hanya Siman, namun juga orangtua dan keluarganya. Saat mengikuti kompetisi renang di Jakarta, seluruh biaya ditanggung sendiri  peserta.

Demi mendukung sang putra tunggal, kedua orangtua Siman menjual seluruh barang berharganya, mulai dari sapi,  mobil, tanah, hingga perhiasan emas. Bahkan keluarga Siman berutang, hingga minta bantuan ke kerabat untuk menutupi biaya tiket dan biaya hidup selama Siman bertanding di Jakarta.

“Saat itu tiket bolak-balik, latihan, hingga biaya hidup semua kita yang tanggung. Kira-kira sampai 25 kali saya dan Siman bolak-balik Jakarta. Saya rela seperti itu karena saya lihat prestasi Siman di renang terus mengalami peningkatan, sehingga kita harus dukung itu,” ujarnya.

Siman akhirnya direkrut bergabung dengan klub renang di Jakarta dan mengikuti pemusatan latihan. Siman mulai berlatih di kolam sepanjang 50 meter.

Tahun 2009, Siman sudah menetap di Jakarta  dan memperoleh emas Porprov Bali tahun 2009. Pada tahun 2010, Siman ikut Asian Games di Guangzhou Tiongkok. Namun, ia belum memperlihatkan prestasi mentereng.

Setahun kemudian barulah Siman menyumbang medali emas bagi Indonesia di ajang SEA Games 2011. Bahkan dia memborong 4 medali emas.

Tahun 2012, pemuda kelahiran 8 September 1994 tersebut ikut Olimpiade London. “Walau tidak mampu mendulang prestasi, namun di usianya yang ke 18 tahun, dia bisa ikut ajang dunia seperti itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa bagi Siman," kata Ni Made Sri Karmini.

Setelah berbincang tentang segala prestasi Siman di kediamannya, Sri Karmini mengajak Tribun Bali ke perkebunan durian di Desa Tegak, Klungkung. Di lokasi itu, ayah Siman yakni I Ketut Sudartawa sedang memberi pakan ratusan ekor bebek peliharaan.

Kedua orangtua Siman tetap menjadi peternak bebek dan usaha telur asin. “Seperti inilah kesibukan kami. Kalau ada waktu, salah satu dari kami, bisa saya atau ayahnya menyempatkan diri untuk menengok Siman di Jakarta. Kami gantian, kalau Ayahnya ke Jakarta, jadi saya yang mengurus kandang dan sembahyang di rumah. Kalau saya yang ke Jakarta menengok Siman, ayahnya yang di rumah,” kata  Sri Karmini

Meskipun sudah berprestasi hingga ajang internasional, Siman tetap anak sederhana dan semua penghasilannya diserahkan pada ayah dan ibunya.

“Apapun yang dia dapat, itu untuk membahagiakan orangtua. Ia hanya membawa sedikit uang untuk jajan, sisanya pasti orangtuanya yang diminta untuk mengaturnya,” jelas Made Sri Karmini.

Di mata sang ibu, Siman adalah remaja pendiam namun mudah akrab dengan orang lain. Siman juga suka humor dan supel bergaul.

“Dia itu dekat dan terbuka dengan ibunya. Saat persiapan SEA Games tahun ini, mes untuk cabor renang kebetulan ada di Mengwitani, dan latihannya di Blahkiuh. Jadi Siman hampir setiap Sabtu pulang dan hari Minggu balik lagi karena Senin kan harus latihan lagi,” demikian Sri Karmini.
(eka mita suputra)

Biodata
Nama Lengkap : I Gede Siman Sudartawa
Nama Panggilan : Siman
TTL                    : Klungkung, 8 September 1994
Bidang Atlet       : Renang
Alamat               : Dusun Tengah Desa Tegok Klungkung
Ayah                  : I Ketut Sudartawa
Ibu                     : Ni Made Sri Karmini

Sumber: Tribun Bali 9 Desember 2019 halaman 1

Putu Randu Pernah Jadi Kiper dan Pemain Basket


I Putu Randu
Putu Randu jadi trending topic Twitter. Menyadari viralnya aksi selebrasinya, Randu memberi klarifikasi. Pemain bernomor punggung 18 itu menyatakan selebrasinya semata untuk mengangkat motivasi bertanding tim voli putra Indonesia.

NAMA pemain tim nasional (timnas) bola voli putra Indonesia asal Tabanan, Bali, I Putu Randu Wahyu Pradana menjadi buah bibir.

Putu Randu bersama rekan-rekannya  mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ajang SEA Games 2019 yang baru berakhir, Rabu (11/12) malam. Medali emas itu sangat berarti karena terakhir kali diraih timnas voli putra Indonesia pada SEA Games 2009.

Putu Randu  sukses mencuri perhatian masyarakat pecinta bola voli di Tanah Air maupun publik Filipina.


Nama Putu Randu makin santer setelah aksi selebrasinya mendapat reaksi dari pendukung tim tuan rumah Filipina pada laga pamungkas Grup B, Jumat (6/12) lalu. Saat itu Indonesia menang straight set 25-23, 32-30, 25-20.

Randu yang berperan sebagai quicker tampil impresif. Dia selalu melakukan selebrasi setiap kali tim voli putra Indonesia mencetak angka. Nah selebrasi ekspresifnya itu menjadi viral di media sosial karena terkesan  'menantang' di hadapan pendukung Filipina di Philsports Arena.

Nama Putu Randu pun jadi trending topic Twitter. Menyadari viralnya aksi selebrasi tersebut, Randu akhirnya memberi klarifikasi. Pemain bernomor punggung 18 itu menyatakan  selebrasinya semata untuk mengangkat motivasi bertanding tim voli putra Indonesia.

"Hanya untuk memotivasi rekan satu tim saya. Kalau teman-teman dan warga Filipina terganggu, saya mohon maaf. Itu hanya di pertandingan saja. Di luar lapangan kita tetap saudara. I love Indonesia, I love Philippines," kata Randu seperti dikutip dari BolaSport.com.

Siapakah Putu Randu? Pemuda kelahiran 15 Januari 1994 ini merupakan sulung dari tiga bersaudara buah kasih pasangan I Nyoman Parwata dengan Ni Putu Sri Armoni. Adiknya Ni Kadek Inka Pradnya Pratiwi dan si bungsu Ni Komang Karisa Ayu Putri.

I Nyoman Parwata menyebut putranya itu merupakan kebanggaan keluarga serta masyarakat Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Tabanan, daerah asal Putu Randu. "Dia  bisa menjadi motivator bagi pemuda lainnya. Dan menjadi panutan bagi adik-adiknya." kata Parwata.

Menurut Parwata, sebelum menekuni bola voli, Putu Randu merupakan pemain sepak bola. Saat SD dia menjadi kiper Perst Tabanan. Saat SMP dia sempat beralih ke cabang  bola basket. Ternyata ia  tak betah hingga I Nyoman Parwata (50) mengarahkan putranya bermain voli.

"Kebetulan saya waktu itu pelatih voli dan pengurus PBVSI Tabanan," kata Parwata alias Pan Randu saat dijumpai di rumahnya, Rabu (11/12). Karena latihan di Tabanan kurang menggembirakan, Putu Randu memilih pindah ke Denpasar ikut pelatihan di sekolah voli.

"Ketika berlatih di Denpasar, ia mulai fokus. Bahkan sempat ikut berlatih dengan timnas putri yang saat itu ekspedisi ke Bali dan bermain di Klungkung," tuturnya.

Parwata mengatakan, setelah pelatihan itu ada beberapa pengurus PBVSI tertarik dengan postur tubuh Putu Randu yang tinggi 184 cm. Mereka menawarkan dia bergabung dengan klub di Surabaya. Namun, saat itu terbentur jadwal ujian sekolah sehingga tak diizinkan  orangtuanya.

Setelah ujian akhir SMPN 2 Tabanan, Putu Randu masuk klub Surabaya Samator.  Nyoman Parwata mengantar sendiri anaknya masuk klub tersebut. Pria yang juga Kelian Adat Banjar Bongan Gede, Desa Bongan mengakui, saat dia tiba di Banyuwangi dalam perjalanan pulang ke Tababan,  Randu menghubungi dirinya sambil menangis.

"Saya langsung balik dari Banyuwangi saat itu ke Surabaya. Sampai di Surabaya saya tenangkan Putu (Randu) dan memberikan pemahaman. Wajarlah saat itu dia menjelang tamat SMP atau masih remaja kemungkinan tak betah sendiri dan jauh dari rumah," ujarnya.

Selama di Surabaya, Putu Randu menjalani latihan dengan serius sehingga dia menjadi andalan klubnya. Dia menjadi anggota tim junior selama tiga tahun. Dibiayai manajemen klub dia mengenyam pendidikan SMA hingga kuliah di Universitas Yos Soedarso Surabaya.
Dia mengambil jurusan ekonomi. Putu Randu lulus setelah kuliah selama empat tahun kemudian mengikuti seleksi masuk TNI Angkatan Laut (AL). Ternyata ia lulus dan ditugaskan di Mabes TNI AL di Cilangkap Jakarta. Ia betugas di Bagian Binaan Jasmani.

Sejak tahun 2016 Randu keluar dari klub Surabaya Samator karena bertugas sebagai anggota TNI AL.  Meski demikian, kariernya sebagai atlet tidak berakhir. Putu yang sudah menjadi pemain timnas junior sejak tamat SMA dikontrak membela tim BNI 46 pada 2018. Hingga kini, Randu masih berstatus sebagai pemain BNI 46.

Parwata mengharapkan, Putu Randu tetap konsisten untuk menjaga performanya sehingga dapat kembali mengharumkan nama Bali dan Indonesia.

Mengenai rencana berkeluarga, Parwata menyatakan putranya  belum berpikir ke arah sana. Randu yang merupakan alumni SDN 2 Bongan belum menyinggung soal itu. "Putu tak pernah menyinggung soal pacaran ataupun menikah," ujarnya. (prasetia aryawan)

Sumber: Tribun Bali 12 Desember 2019 halaman 1

Ada Rompi Dr Azahari di Museum Terorisme Denpasar


ilustrasi
Museum terkait antiterorisme memang sudah ada di Mabes Polri Jakarta, namun koleksi yang ditampilkan lebih ke dampak dari aksi terorisme, bukan keadaan di belakang layar dalam penangulangan terorisme.

KAPOLDA Bali Irjen Pol Dr. Petrus Reinhard Golose meresmikan pembukaan Museum Penanggulangan Terorisme  di Denpasar, Rabu (27/11). Ini merupakan museum pertama dan satu-satunya di Indonesia mengenai penanggulangan terorisme.

Museum  tersebut tak hanya memajang koleksi Polri, khususnya Satgas Antiteror, tapi juga di antaranya memajang barang-barang yang dipakai para teroris dalam melakukan aksinya.

Contohnya mobil yang mengangkut bom yang digunakan dalam aksi Bom Bali I tahun 2002. Ada juga sepeda motor bebek yang dipakai salah seorang pelaku Bom Bali I serta rompi antibom yang digunakan Dr Azahari, otak Bom Bali.


“Selama ini, terkait kasus terorisme sudah dibangun monumen peringatan seperti Ground Zero di Kuta, dan juga nanti akan ada Peace Memorial Park di Legian yang dibangun oleh pemerintah Australia. Mereka semua berbicara tentang mengenang para korban terorisme. Tetapi siapa yang berada di balik upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme, belum ada sama sekali museumnya. Padahal, bagaimana kisah dan perjuangan para penegak hukum, khususnya satgas antiteror kepolisian dalam mengatasi para teroris itu juga perlu diungkapkan untuk pelajaran. Jadi, ini adalah museum penanggulangan terorisme pertama dan satu-satunya di Indonesia sampai saat ini,” jelas Kapolda  Petrus Reinhard Golose dalam sambutan sebelum pembukaan museum.

Museum terkait antiterorisme memang sudah ada di Mabes Polri, namun koleksi yang ditampilkan lebih ke dampak dari aksi terorisme, bukan keadaan di belakang layar dalam penangulangan terorisme.

Museum yang terletak di bekas lapangan tembak Perbakin di Jl. WR Supratman, Tohpati, Denpasar itu menempati lantai satu dari dua lantai gedung Prakasa Rucira Garjita.
Museum memiliki 22 segmen atau bagian-bagian dengan masing-masing tema koleksi.
Dari puluhan koleksi foto yang dipajang, di antaranya menggambarkan bagaimana petugas Densus 88 Antiteror mengintai para teroris di Batu, Jawa Timur.

Menurut Golose, kehadiran museum ini mengingatkan aparat kepolisian agar selalu waspada.

“Saya tidak suka ketika anak buah ditanya bagaimana kondisi, dan jawabannya selalu bilang ‘aman…’. Memang sejauh ini Bali aman. Tapi justru saya ingin ingatkan mereka, ketika dulu Bali disebut sebagai wilayah paling aman di Indonesia, tiba-tiba kita semua dikejutkan bom teroris pertama dengan korban terbanyak justru meledak di Bali. Bahkan kemudian diikuti Bom Bali II dan nyaris ada Bom Bali ketiga dengan modus seperti  di Tunisia tapi berhasil kita gagalkan sebelum terjadi. Karena itu, museum ini menjadi semacam pengingat bahwa ita semua harus waspada. Justru pada situasi yang sering kita anggap aman-aman saja, para teroris  sedang merencanakan aksinya,” kata Golose.

Peresmian museum itu dihadiri oleh para mantan petinggi Polri yang sebelumnya bergelut dalam dunia penangglangan terorisme, antara lain Komjen Pol (Purn) Gories Mere, Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto, Brigjen Pol (Purn) Suryadarma, serta mantan Gubernur Bali yang juga Kapolda Bali saat terjadi Bom Bali I,  Komjen Pol (Purn) Made Mangku Pastika.

“Saya sengaja undang para senior seperti Pak Gories, Pak Benny Mamoto dan Pak Suryadarma karena  kami pernah bersama-sama berada di lapangan dalam menindak para teroris. Pak Mangku Pastika juga kita tahu adalah Kapolda Bali dalam pengusutan Bom Bali,” kata Golose.

Setelah diresmikan, Kapolda mempersilakan para tamu dan undangan untuk melihat koleksi museum. "Ini adalah juga tempat mengenang para pendahulu kami termasuk anggota kita yang gugur," ujarnya.

Selain museum, di gedung Prakasa Rucira Garjita juga ada fasilitas olahraga mulai dari tempat latihan menembak, tenis meja, kempo dan kantor olahraga menyelam.

"Yang saya suka adalah tempat olahraga tenis meja yang beda dari yang lain karena interiornya menggunakan budaya Bali," kata Kapolda.

Kapolda Bali pun mengucapkan terima kasih kepada Bupati Gianyar karena terwujudnya bangunan Prakasa Rucira Garjita itu ditopang dana hibah  dari  Pemkab Gianyar sebesar Rp 10 miliar. (sunarko/rino gale)

Sumber: Tribun Bali, 28 November 2019 halaman 1

Barong Mata Tiga Pemberi Kekuatan Niskala


ilustrasi
Di wilayah Kabupaten Bangli, Bali, pralingga barong bermata tiga terdapat di dua Desa Pakraman yakni Desa Pakraman Kuning dan di Desa Pakraman Pengotan.

KRAMA Desa Pakraman Kuning, Bangli menggelar upacara pemelaspas dan masupati Pralingga Ida Bhatara Tri Sakti, Kamis (21/11). Ritual pasupati pralingga berwujud barong bermata tiga itu dilakukan seusai masa ngodakin (perbaikan).

Ketua Panitia Upacacara di Pura Penataran Agung Padangrata, Ngakan Perasi Shemarabawa mengungkapkan, prosesi masupati  merupakan puncak acara yang telah dimulai sejak 19 September lalu. Prosesi diawali mengosongkan pralingga yang akan diperbaiki.

“Perbaikan pralingga Ida Bhatara hampir 63 hari oleh Anak Agung Anom Putra Adnyana dari Puri Kawan Bangli yang tentunya dibantu oleh semua krama. Pada hari ini prosesi diupasaksi niskala dua arca lingga yakni arca lingga saking Desa Pakraman Manuk, Kecamatan Susut dan arca lingga Desa Pakraman Siladan, Kecamatan Bangli,” ujarnya.

Upacara pemlaspas dan pasupati dipuput Ida Pedanda Putra Kediri dari Geria Selat, Susut. Ngakan Perasi mengatakan, pralingga Ida Bhatara Tri Sakti berbeda dengan pralingga di tempat lain. Pralingga tersebut berwujud barong mata tiga.

Di wilayah Kabupaten Bangli, kata dia, pralingga barong bermata tiga terdapat di dua Desa Pakraman yakni Desa Pakraman Kuning dan di Desa Pakraman Pengotan.

“Di Desa Pakraman Pengotan sebagai penguasa serta penjaga Bangli utara dan di sini (Pura Penataran Agung Padangrata) sebagai pemberi kekuatan niskala serta penjaga Bangli selatan.  Karena pura ini ada kaitannya dengan silsilah Raja Tamanbali.  Sepengetahuan kami, untuk pemberi kekuatan Bangli tengah berstana di Pura Dalem Purwa yang diempon oleh Desa Pakraman Kawan. Namun pralingganya bukan berwujud barong,” ujarnya.

Upacara pemlaspas dan pasupati ini merupakan prosesi ketiga. Ngakan Perasi menjelaskan, upacara pertama digelar tahun 1997 setelah pembuatan duplikat selesai. Sepuluh tahun kemudian atau tahun 2007, upacara serupa kembali diselenggarakan.

“Ini adalah proses ketiga kalinya untuk ngodakin busana, ngodakin pererai, jangkep dengan arca lingga-arca lingga lainnya. Sesungguhnya pralingga Ida Bhatara yang kami upacarai hari ini adalah duplikat, sebab pralingga yang lama masih ada, tetapi sudah agak keropos secara fisik. Namun secara sakralisasi masih ajeg. Yang asli pun masih ada dan masih disimpan sampai sekarang. Bentuknya sama persis dengan duplikatnya serta diperkirakan telah berusia ratusan tahun,” ungkapnya.

Selain diyakini sebagai penguasa kekuatan niskala Bangli selatan, krama Desa Pakraman Kuning  meyakini bahwa Ida Bhatara Tri Sakti banyak menganugerahkan kesembuhan bagi masyarakat yang nunas tamba. Diakui banyak warga yang nunas tamba dengan keluhan berbagai penyakit.

“Kalau nunas ke sini kami tidak buka, tetapi langsung melalui pemangku alit dengan mendatangi ke rumahnya. Nanti pemangku yang nunas meriki tirtanya. Setahu saya keluhan penyakitnya macam-macam. Ada yang sakit stroke, setelah nunas tirta bisa sembuh. Namun, seluruhnya kembali pada keyakinan masing-masing. Kalau untuk yang nunas selain dari krama Desa Pakraman Kuning, juga ada dari Desa Tamanbali,” katanya. (muhammad fredey mercury)

Sumber: Tribun Bali 22 November 2019 halaman 1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes