Kegilaan Tiga Menit

Oleh Dion DB Putra

PUBLIK Belanda geger dan sewot. Bayangkan saja pemain legendaris negeri itu yang setiap tutur katanya dianggap sakti mandraguna, Johan Cruyff, lebih menjagokan Spanyol di babak final Piala Dunia 2010 malam ini.

Johan Cruyff secara terang-terangan mengaku tidak menyukai gaya sepakbola pragmatis yang diterapkan tim Oranye sepanjang kampanye South Africa 2010 sehingga ia lebih mendukung sepakbola indah ala Spanyol. Dia yakin Spanyol akan menjadi negara kedelapan di dunia yang merebut tropi FIFA World Cup setelah Uruguay, Italia, Brasil, Inggris, Jerman, Argentina dan Perancis.


Atas nama nasionalisme wajarlah jika publik Belanda sewot terhadap Cruyff menjelang final di Stadion Soccer City Johannesburg, Minggu (11/7/2010) malam atau Senin (12/7/2010) dinihari Wita. Seburuk-buruknya tim Belanda, Cruyff mestinya mendukung tim nasionalnya. Memberi motivasi kepada Wesley Sneijder dkk.

Johan Cruyff kiranya tidak sedang terpengaruh oleh ramalan gurita bernama Paul di Jerman yang selama Piala Dunia 2010 telah menjadi "bintang luar lapangan" atas kejituan ramalannya. Tentang laga final si Paul meramalkan Spanyol keluar sebagai pemenang. Banyak orang percaya Paul benar lagi seperti dia meramalkan Jerman tersungkur di semifinal Rabu lalu.


Dukungan Cruyff terhadap Spanyol perlu dicermati dengan jernih. Cruyff pasti tidak asal omong. Cruyff punya pengalaman sangat kaya dengan tim Oranye. Pengalaman telah mengajarkan legenda sepakbola Belanda itu tentang realisme nasib. Bahwa nasib, entah nasib baik atau nasib buruk bisa datang kapan saja. Nasib baik dan buruk itu pun dapat muncul dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Kepada sepakbola Cruyff telah menyumbang pesan sangat indah lewat puisinya. "Kalah atau menang itu sering ditentukan hanya dalam waktu tiga menit saja." Dengan kata lain "kegilaan tiga menit" dapat mengubah nasib sebuah tim. Menjadi pemenang atau pecundang. Suatu kesebelasan yakin tidak akan kalah. Tetapi mendadak tumbang dan banjir air mata.

Sudah banyak tim mengalami kekejaman nasib seperti ini, ingat misalnya Brasil di final Piala Dunia 1950 melawan Uruguay atau di Liga Champions Eropa orang akan selalu mengenang final 1999 di Stadion Nou Camp Barcelona. Tim raksasa Jerman, Bayern Munich dikalahkan Manchester United (MU) 2-1 dalam waktu 112 detik. Munich yang sudah siap berpesta pora tiba-tiba meradang dan terkapar. Bagi MU kemenangan di final 1999 adalah the dream comes true. Mimpi yang jadi kenyataan! Kemenangan dalam waktu 112 detik itu mukjizat.

Cruyff punya pengalaman sendiri tentang "kegilaan tiga menit".
Memimpin tim Oranye di Piala Dunia 1974 lewat sepakbola indah total football, Johan Cruyff dkk meraih hasil sempurna sejak putaran pertama. Rival-rival berat digilas. Hajar Argentina 4-0. Juara bertahan Brasil disingkirkan dengan skor 2-0.

Pada babak final melawan Jerman Barat di Stadion Olimpiade Munich 7 Juli 1974, banyak orang menjagokan Belanda keluar sebagai juara. Di hadapan 75.200 penonton, Belanda mengejutkan tuan rumah pada lewat gol cepat menit ke-2 hasil sontekan Johan Neeskens dari titik penalti. Wasit John Taylor (Inggris) memberikan hadiah penalti karena pemain belakang Jerman Barat menjatuhkan Cruyff saat ia solo run di kotak penalti. Menit ke-25, Jerman membalas lewat penalti Paul Breitner. Skor 1-1. Belanda masih terus menari-nari lewat total football. Johan Cruyff dkk mengurung Jerman setengah lapangan. Saat mereka asyik menyerang dan kehilangan bola, Jerman membangun counter attack. Menit ke-43, Gerd Mueller mencetak gol ke gawang Jan Jongbloed setelah melewati hadangan Arie Haan dan Wim van Hanegem. Skor 2-1.

Babak kedua tim Oranye tetap mendominasi pertandingan. Jerman di bawah komando Franz Beckenbaur telah mengunci mati pertahanannya. Serangan Belanda seolah membentur tembok. Perjuangan Cruyff sia-sia. Sampai wasit Taylor meniup peluit panjang, skor tak berubah. Jerman Barat juara. Cruyff pulang kampung sambil mengenang kekalahan itu sebagai memori pahit selama kariernya meskipun Belanda disanjung dunia sebagai juara tanpa mahkota.

Rekam jejak Belanda menuju Afrika Selatan 2010 luar biasa. Belanda meraih hasil 100 persen selama babak kualifikasi Grup 9 zona Eropa. Di putaran final sejak 11 Juni 2010, Belanda adalah satu-satunya tim yang tak terkalahkan. Beda dengan Spanyol yang sempat dipermalukan Swiss 1-0 pada laga pembuka Grup H dan hanya menang tipis atas lawan-lawannya di babak 16 besar, perempatfinal dan semifinal.

Dengan menjagokan Spanyol, Cruyff sesungguhnya sedang mengingatkan tim Oranye tentang realisme nasib. Belanda yang jalannya demikian mulus sejak babak kualifikasi bisa saja tersandung di partai puncak. Kecuali itu, Cruff yang pernah sukses melatih Barcelona paham betul karakter Spanyol dan kualitas tim asuhan Vicente Del Bosque itu. Tim Spanyol 2010 adalah Spanyol yang menjuarai Piala Eropa 2008. Kolektivitas permainan mereka sangat solid. Kualitas pemain pun sangat merata di semua lini vital mulai dari penjaga gawang hingga ujung tombak. Meski Fernando Torres belum mencetak gol sampai saat ini tetapi Torres adalah pengganggu lawan nomor satu. Lawan memperhatikan Torres, David Villa yang oportunis sejati mudah berkelit untuk mencetak gol dari berbagai sisi.

Kekuatan Belanda adalah serangan baliknya. Tapi titik rawan
Belanda justru di lini belakang. Tabir pertahanan yang dikoordinir Giovanni van Bronckhors itu bakal remuk redam menghadapi aksi trio maut Spanyol, Iniesta, Xavi dan Alonso. Ini yang diingatkan Cruyff. "Jika Anda bermain sepakbola menyerang seperti diperagakan Spanyol, Anda akan memiliki peluang besar untuk menang. Dan, jika Anda bermain dengan serangan balik melawan tim seperti itu, Anda akan menderita. Belanda tahu mereka akan berhadapan dengan tim
terbaik di dunia," kata Johan Cruyff.

Kiranya Cruyff benar. Sebab cara bermain tiki-taka ala Spanyol berbeda jauh dengan gaya Belanda. Spanyol akan lama memainkan bola, berputar-putar lewat umpan pendek dari ke kaki ke kaki. Ingat nasib Jerman di semifinal. Philipp Lahm dkk seolah hanya bisa menonton Xavi, Iniesta, Alonso dan Villa mengutak-atik bola sepanjang laga.

Belanda malam ini kemungkinan tidak akan mengubah gayanya. Tim Oranye akan cenderung menunggu si Merah La Furia Roja membuat kesalahan dan melumpuhkan Matador melalui serangan balik memanfaatkan kecepatan Arjen Robben dan dobrakan jenius Wesley Sneijder. Belanda sangat ingin mencetak gol lebih awal guna mempertahankan motivasinya meraih juara dunia setelah masuk final ketiga di Piala Dunia.
Final 1974 dan 1978 Belanda gagal total. Sampai semalam bursa taruhan memang cenderung mengunggulkan Spanyol. Tapi bursa taruhan itu sebuah perjudian. Sesuatu yang tidak pasti.

Jangan-jangan Johan Cruyff tidak tulus ketika dia memuji Spanyol. Soalnya dalam sepakbola selalu ada strategi "makan puji". Memuji habis-habisan lawan sehingga dia merasa tersanjung. Dan, sanjungan bisa membuat orang lupa diri. Lupa daratan dan baru sadar setelah terkapar dengan muka buruk. Mudah-mudahan Spanyol menyadari itu dan tetap mempertahankan karakter permainannya. Ingat "kegilaan tiga menit". Toh Belanda bukanlah tim yang mudah dikalahkan.

Tim Matador mestinya bermain rileks saja karena apapun hasil pertandingan final malam ini, mereka akan dihormati dengan diarak memakai bus terbuka melintasi jalan-jalan raya di ibu kota Madrid. Pemerintah Kota Madrid telah mempersiapkan resepsi dan pesta besar untuk Iker Casillas dkk.

"Pemerintah bersama Federasi Sepakbola Spanyol telah menyiapkan resepsi besar untuk para pemain sebagai tanda kekaguman," demikian pernyataan Balai Kota Madrid. Luar biasa! Menang atau kalah malam ini, Spanyol telah mencatat prestasi hebat di Piala Dunia. Selamat bertanding!*

Pos Kupang 11 Juli 2010 halaman 1. Artikel ini ditulis ketika Belanda akan menghadapi Spanyol di final Piala Dunia 2010. Spanyol akhirnya menang 1-0 lewat gol Andres Iniesta pada menit ke- 116.

Salah Buka Langkah


Oleh Dion DB Putra

DI bidang politik praktis, kiranya belum ada tokoh yang mewariskan pesan jitu, bernas dan terutama indah seperti Kanis Parera atau lebih tersohor dengan sapaan Bung Kanis Pari (1930-1987). Inilah secuil pesan Bung Kanis, tokoh politik legendaris yang pernah dimiliki Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Politik itu kotor tapi indah. Licin tapi menarik. Licin tapi resik. Repot tapi asyik. Sulit tapi wajib. Ruwet tapi gairah. Berbahaya tapi mempesona. Penuh jebakan tapi rindu menarik ingin. Jemu tetapi kembali selalu tetap membelengu. Penuh gejolak tapi semarak. Bisa diperhitungkan tapi berantakan tidak terduga.

Berpolitik praktis itu sarat dengan hak, berat dengan kewajiban. Babak karena benturan belur karena pukulan. Bimbang hadap kawan bingung hadap lawan. Kecewa gembira silih berganti. Khayal bisa mengawang untuk akhirnya patah frustrasi. Berpolitik praktis adalah masuk bersilat taktik dan strategi di arena, dengan akibat yang pasti hanya satu: siapa salah buka langkah, dia terlempar keluar gelanggang (mau lengkap silakan baca Kanis Pari: Jangan Takut Berpolitik. Penyunting Jannes Eudes Wawa, Penerbit Bank Naskah Gramedia bekerja sama dengan Pakem 2004).


Sepakbola memang bukan politik apalagi politik praktis. Tapi sebagai perayaan pesta kemanusiaan, politik dan bola kiranya banyak kemiripannya. Ada benang merah terjalin. Menurut beberapa orang terdekatnya, Kanis Pari adalah ujung tombak tim sepakbola saat belajar di SMP Frater Ndao, Sekolah Guru Bawah (SGB) Mataloko dan Sekolah Guru Atas (SGA) Ndao Ende. Maka patut diduga pesan-pesan indah Bung Kanis tentang politik itu terinspirasi juga dari lapangan bola. Seandainya si bung masih hidup pasti dia akan menulis dengan sangat indah tentang pesta bola dunia yang kini memasuki masa puncak.

Siapa salah buka langkah, dia terlempar keluar gelanggang. Begitulah! Dari 32 tim finalis Piala Dunia 2010, tiga puluh tim telah terlempar keluar gelanggang South Africa. Sebanyak 62 partai telah tersaji dengan total gol 139 biji. Kini tinggal dua tim yang berhak memperebutkan mahkota di Soccer City 11 Juli 2010. Belanda vs Spanyol. Piala Dunia akan mencatat juara baru, negara kedelapan yang akan menggenggam tropi FIFA World Cup setelah Uruguay, Brasil, Inggris, Italia, Jerman, Argentina dan Perancis. Tinggal satu partai lagi. Spanyol ataukah Belanda
yang akan terlempar keluar gelanggang?

Khayal bisa mengawang untuk akhirnya patah frustrasi. Luar biasa! Khayalan Jerman mengawang tinggi setelah menikam Australia 4-0, melinggis Inggris 4-1 dan melumat Argentina 4-0. Tapi patah frustrasi menghadapi Tim Matador. Tangis dan tawa memang datang silih berganti.

Sulit dipercaya keberanian Jerman sirna di Durban. Kemenangan Jerman atas Spanyol secara teknis bisa diperhitungkan namun berantakan tak terduga karena Joachim Loew salah buka langkah pada 45 menit pertama. Di Durban Rabu (7/7/2010) malam, Jerman buka permainan dengan membangun kembali tembok Berlin yang telah menjadi sejarah kelam.

Jerman yang atraktif, bertenaga dan lari bersama bola justru menunggu serbuan si Merah, La Furia Roja. Jerman seperti bingung hadap lawan, sehingga babak karena benturan belur karena pukulan para ksatria Catalan yang tampil spartan. Loew yang biasa membuka langkah dalam skema 4-3-2-1 untuk determinasi tingkat tinggi, tiba-tiba jadi penakut dengan formasi 4-4-1-1.Partai keenam versus Spanyol merupakan penampilan terburuk Die Mannschaft selama di Afrika Selatan.

Dalam lima laga sebelumnya, Loew dipuji atas suksesnya mentranformasi tim Der Panzer yang kaku menjadi tim fleksibel, sangat menyerang dan menghibur dengan rekor 13 gol. Aneh sekali, dia sontak berubah saat bertemu Spanyol. Loew kembali ke skema tradisional panser dengan memerintahkan Philipp Lahm dkk bergerombol dulu di lini kedua baru mencari celah untuk menggempur. Dalam 30 menit pertama tidak terlihat sama sekali passing-passing terukur pemain Jerman yang begitu mudah mengoyak gawang Inggris dan Argentina sebelumnya.

Loew mungkin berdalih dengan membangun Tembok Berlin setangguh mungkin timnya mengunci pergerakan David Villa, Andres Iniesta, Xavi dan Alonso. Saat Spanyol kehilangan bola, Jerman baru melancarkan serangan balik cepat dan mematikan. Loew lupa bahwa Vicente del Bosque membaca pikirannya. Saat kehilangan bola, Spanyol lekas berubah dari skema 4-4-2 ke 5-4-1. Dengan resep itu, Spanyol tetap mendominasi pertarungan di lapangan tengah. Tim muda Jerman begitu minim mendapatkan peluang manis di depan gawang Iker Casillas yang tampil berwibawa. Spanyol tak memberi ruang tembak ideal buat Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Philipp Lahm, Mesut Ozill dan Miroslav Klose.

Schweinsteiger, Ozill dan Sami Khedira sebagai tim kreatif lapangan tengah Jerman gagal memainkan perannya memberi passing ke sayap kiri dan kanan. Thomas Muller absen karena sanksi kartu melengkapi ketumpulan Jerman. Blok tengah dikuasai Espana. "Kami berusaha masuk satu lawan satu dengan cepat tetapi ketika kami berhasil melakukannya, bola sudah lenyap," kata Miroslav Klose. "Mereka kuasai bola dan kami dibuat banyak berlari tanpa hasil. Spanyol pantas menang malam ini," kata pemain berusia 32 tahun itu.

Jika babak pertama formula tiki-taka Xavi-Alonso-Iniesta masih malu-malu hingga sulit menembus tembok Berlin, Spanyol mengeluarkan jurus palu godam di babak kedua. Jurus palu dibumbui semangat membunuh ala matador. Gempuran hebat La Furia Roja mencapai klimaks menit ke-73. Si cerdik Xavi mengirim bola dari sudut menuju kepala gondrong Carles Puyol. Puyol melompat tinggi, melepaskan powered header menembus jala Manuel Neuer. Skor 1-0. Fajar baru sepakbola Jerman tak pernah lagi menyingsing sejak itu. Yang ada cuma kegelapan meski Loew seperti bangun dari tidur panjang, memerintahkan Lahm dkk menyerang total. Sisa waktu 17 menit tak sanggup mengembalikan martabat Der Panzer.

Joachim Loew menyesali strateginya saat jumpa pers. "Kami tidak punya keberanian dan keyakinan untuk sepenuhnya memainkan permainan kami. Kami dibuat bekerja keras untuk mendapat bola karena mereka mempunyai sirkulasi bola yang baik sedemikian rupa," kata pelatih berusia 50 tahun itu. "Kami sungguh tidak menemukan jalan untuk menyerang. Kami tidak mendapatkan gol awal seperti dalam dua pertandingan sebelumnya karena kami kurang berani," tambahnya.

Jadi benarlah adanya. Loew salah buka langkah, keliru bersilat teknik dengan Del Bosque di arena Durban. Kegagalan itu jelas tidak ada kaitannya dengan jimat sweater biru yang Rabu malam itu kembali dipakai Loew atau ramalan si gurita Paul bahwa Spanyol akan menyepak Jerman.

Ketakutan Loew berujung duka. Jerman menangis. "Semua sudah selesai. Sudah berakhir. Kita keluar," tulis koran berpengaruh di Jerman, Bild, mengomentari kesedihan negaranya. "Seluruh Jerman sekarang sedih dan air mata mengaliri negara," lapor Bild sebagaimana dikutip AFP. "1-0. Jerman disapu. Spanyol melaju," tulis koran lokal, Hamburger Abendblatt. "Cerita dongeng itu sudah berakhir," demikian Mingguan Die Zeit. Frankfurter Allgemeine melaporkan, perjalanan impian Jerman sudah selesai dan majalah Spiegel menghakimi Loew dengan kata-kata, "Khawatir, grogi dan bermain dalam tekanan."

Menenggelamkan Jerman di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010, Spanyol telah merevisi total buku sejarah sepakbolanya. Tak ada lagi bab kutukan selalu gagal di Piala Dunia. Menembus semifinal dan final Piala Dunia 2010 merupakan bab baru yang ditulis dengan tinta emas. Kini dunia salut dan hormat pada La Furia Roja atas dedikasinya mempertahankan sepakbola menyerang dan indah. Juara bagi Spanyol sudah di depan mata asalkan mampu mengalahkan Belanda. Kalaupun Belanda juara, sepakbola Spanyol telah mencapai prestasi mengagumkan di Piala Dunia. *

Pos Kupang 9 Juli 2010 halaman 1

Kisah Sweater Biru

Oleh Dion DB Putra

JERMAN berkibar di Afrika, Inggris tetap hot dengan gosip- gosipnya. Memang bukan Inggris kalau sepi dari gosip. Setelah musuh bebuyutannya itu mempermalukan tim "Tiga Singa" 4-1 dan menyepak Argentina 4-0, tabloid Inggris, The Sun menulis dengan sudut pandang (angle) spesial tentang Pelatih Jerman, Joachim Loew.

Bukan tentang teknik kepelatihan Loew yang hebat atau tentang kehidupan pribadi. Wartawan The Sun justru bertanya kepada Loew tentang sweater biru. Kok bisa? Apa hubungannya dengan kiprah Jerman di Piala Dunia 2010.

Dan, inilah pengakuan Loew. Pelatih Jerman berusia 50 tahun itu sejatinya tidak percaya sedikit pun dengan jimat keberuntungan. Tapi orang-orang terdekat memintanya tetap mengenakan sweater warna biru karena dipercaya membawa keberuntungan bagi Jerman selama di South Africa 2010.


Loew semula menganggap itu sekadar lelucon. Namun, asisten pelatih, para staf dan anggota timnas Jerman antara lain gelandang Bastian Schweinsteiger menunjukkan bukti tak terbantah. Loew dan asistennya, Hansi Flick mengenakan sweater biru saat Jerman melumat Australia 4-0 dalam laga perdana grup D, 13 Juni 2010.

Melawan Serbia 18 Juni 2010, Loew ganti baju dan Jerman tersungkur 0-1. Saat Jerman mengalahkan Ghana 1-0, menggilas Inggris 4-1 di perdelapanfinal dan Argentina 4-0 di perempatfinal, Loew mengenakan sweater biru. Itulah sebabnya mereka percaya sweater itu punya suatu kekuatan. "Saya ini tidak percaya tahayul tetapi staf pelatih meminta saya memakai sweater biru karena kami selalu mencetak empat gol saat saya memakainya. Ini hampir menjadi lelucon. Tapi mereka mempercayainya. Bahkan saya tidak boleh mencuci meski sudah saya pakai berkali-kali. Saya kira saya akan memakainya lagi saat melawan Spanyol," kata Loew seperti dikutip The Sun.

Kalau begitu perhatikan baik-baik, apakah benar Loew kembali memakai sweater biru di Durban malam ini saat Der Panzer berduel hidup mati melawan Spanyol di semifinal Piala Dunia 2010?

Boleh juga laporan The Sun yang sanggup melihat hal-hal kecil. Selain pelatih Inggris, Fabio Capello, Joachim Loew dikenal sebagai pelatih dengan penampilan modis abis. Publik Jerman telah lama mengenal Loew dengan gaya hidup metroseksualnya. Di luar urusan sepakbola, pelatih kelahiran 3 Februari 1960 itu adalah bintang iklan produk pelembab wajah khusus pria. Loew menggemari sweater berleher kura-kura, bros dan baju putih. Busananya selalu bermerk papan atas buatan Jerman. Aksesoris pilihannya antara lain, syal yang populer dengan sebutan Syal Jogi dan jas warna gelap. Loew juga suka kaca mata hitam.

Dibandingkan pelatih Jerman terdahulu, rekam jejak Joachim Loew terbilang unik. Setelah Jurgen Klinsmann gagal di semifinal Piala Dunia 2006, Loew mengambil alih kursi pelatih Der Panzer. Penunjukan Loew sempat mengejutkan publik Jerman karena sebagai pemain dulu prestasi Loew biasa-biasa saja. Dia bahkan tidak pernah memperkuat timnas Jerman selama kariernya (1978-1995). Loew pun hanya bergabung dengan klub-klub "kecil" di Jerman yaitu SC Freiburg, VfB Stuttgart, Eintracht Frankfurt, Karlsruher SC, FC Schaffhausen FC Winterthur dan FC Frauenfeld. Selama kariernya, Loew yang berposisi sebagai gelandang serang mencetak total 78 gol.

Hanya setahun setelah gantung sepatu, Loew langsung menjadi pelatih. Klub pertama yang ditanganinya adalah VfB Stuttgart (1996-1998). Dari sana dia terbang ke Turki melatih klub papan atas Fenerbache selama satu musim (1998-1999) terus pindah lagi ke Karlsruher SC, Adanaspor dan FC Tirol Innsbruck.

Tahun 2004, Loew menjadi asisten pelatih timnas Jerman, Jurgen Klismann. Duet pelatih muda kala itu melahirkan ekspetasi yang luar biasa di Jerman saat negeri itu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006. Di tanah air sendiri Der Panzer mulus hingga babak semifinal. Sayang dukungan penuh publik tidak membuat Jerman terhindar dari kekalahan. Italia di luar dugaan menggusur Tim Panser 2-0, masuk ke final dan akhirnya juara setelah menang adu penalti atas Perancis. Kekalahan Jerman empat tahu lalu disambut tangis para pendukung dan curahan air mata kapten Michael Ballack seusai laga dramatis.

Klismann mundur, Loew mengambil tongkat estafet. Di tangan Loew prestasi Jerman tak patut dibilang remeh. Loew terbukti tangan dingin dan lebih sukses ketimbang Klisnmann. Dia mengantar Jerman hingga final Euro 2008. Pada babak final Piala Eropa 2008 di Wina-Austria, pasukan Loew tersandung batu. Menyerah 0-1 atas Spanyol lewat gol indah Fernando Torres. Maka duel malam ini seperti ulangan final Euro 2008.

Jerman balas dendam? "Oh pasti. Kalah di final seperti Piala Eropa 2008 selalu menimbulkan kekecewaan. Saya tidak ingin kembali ke Berlin tanpa sesuatu. Kami sangat ingin mengalahkan Spanyol," kata Schweinsteiger.

Dari sisi manapun Jerman 2010 kiranya berhak untuk percaya diri dapat mengalahkan Spanyol. Dari 21 pertemuan mereka sebelum malam ini, rekor kemenangan Jerman lebih baik yaitu 8-6 dan sisanya berakhir seri.

Setelah mengantar tim Die Mannschaft ke semifinal Piala Dunia 2010 dengan permainan fantastis, popularitas Loew melesat hebat. Di Jerman dia hanya kalah tipis dari Kanselir Angela Merkel yang juga "gila bola". Joachim Loew dipuja 82 juta rakyat Jerman yang mendambakan timnas mereka kembali merebut gelar juara dunia. Apalagi sejak Jerman Bersatu belum sekalipun negeri itu meraih juara dunia.

Loew dibanjiri pujian dan harapan. Simak pujian Franz Beckenbauer. "Jerman tak pernah bermain seperti ini. Cara dan gaya mereka bermain fantastis. Setiap orang bergerak, ingin menguasai bola. Semangat tim ini luar biasa," katanya. Atau dengar cara memuji mantan bintang Inggris, Gary Lineker.

"Pada hakekatnya sepakbola adalah permainan 22 orang. Mereka memainkan bola untuk mengalahkan lawan. Dan, Jerman selalu memenangi pertandingan," kata Lineker. Ya, Jerman adalah tim spesialis turnamen karena hampir selalu meraih juara.

Loew sungguh memahami nilai tradisional bangsa Jerman sebagai sumber kekuatan. "Empat tahun saya bekerja. Saya paham nilai-nilai yang dihormati masyarakat Jerman umumnya, yakni kekuatan, ketegaran, kecepatan, disiplin dan kerja keras. Dengan begitu, kami dapat menyajikan sepakbola atraktif. Kami tidak gentar kepada tim manapun," katanya.

Begitulah! Mesin tempur Jerman telah siap menderu-deru demi melumat seteru. Awas, La Furia Roja. Kalian bisa menjadi korban berikutnya.

Apakah mudah membunuh tim Matador? Tunggu dulu. Jangan takabur. Banjir pujian dan harapan bagi Jerman bisa menjadi bumerang. Sejarah telah membuktikan, Jerman remuk redam justru karena antiklimaks atau percaya diri berlebihan. Spanyol bukan Inggris, bukan juga Argentina. Pasukan Merah tetap dengan jatidirinya. Jalan derita telah dilewatinya sejak penyisihan. Spanyol jauh dari puji, kering dengan pujaan. Cara bermain Spanyol yang tiki-taka lewat operan pendek kaki ke kaki paling tidak disukai Jerman.

Laksana Matador, Spanyol adalah petarung ulung. Bertarung sampai tetes darah terakhir. Jadi tunggu dan lihatlah sampai menit terakhir, apakah sweater biru Loew masih mujarab atau Jerman menangis untuk kedua kalinya.Selamat begadang.*

Pos Kupang 7 Juli 2010 halaman 1

Bersalaman Tanpa Kata-Kata

Oleh Dion DB Putra

PIALA Dunia senantiasa menciptakan moment spesial yang akan dikenang selalu. Suatu hari di bulan Juli enam puluh tahun lalu, stadion terbesar di dunia, Maracana ditelan keheningan terhebat dalam sejarah sepakbola.

Presiden FIFA, Jules Rimet yang duduk di tribun VIP stadion yang dibangun khusus untuk putaran final Piala Dunia 1950 itu merasa jiwanya hilang. "Saya merasa sangat sepi ditemani sebuah piala di tangan dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan," kata Jules Rimet memberi kesaksian.

Jules Rimet menyerahkan tropi Piala Dunia kepada Kapten Uruguay, Obdulio Varela, dalam isak tangis 174. 000 pendukung Brasil yang memenuhi Maracana. Jules Rimet bersalaman dengan Varela tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sesuatu yang tidak lazim pada akhir pesta akbar sepakbola dunia. "Saya mengulurkan tangan tanpa sepatah kata. Saya telah bertindak tidak adil kepada Uruguay. Maafkan saya," katanya.


Itulah pertama kali dalam hidupnya Jules Rimet merasa bersalah kepada sepakbola. Sebagai pemimpin FIFA dan tokoh paling gigih memperjuangkan sepakbola menjadi olahraga yang mempersatukan masyarakat internasional pasca Perang Dunia II, Jules Rimet seolah mengkhianati pendiriannya.

"Saya lupa bahwa kemenangan sebuah tim baru bisa diketahui setelah wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Siapa pun tidak boleh mendahului peluit wasit. Saya salah karena terlalu yakin Brasil akan menjadi pemenang," ujarnya sambil mengenang naskah pidato ucapan selamat kepada Brasil yang telah ia tulis batal dibacakan saat penutupan Piala Dunia tanggal 16 Juli 1950 di Maracana.

Sama seperti publik dunia dan Brasil saat itu, Jules Rimet sangat yakin Brasil akan menjadi juara di tanah airnya sendiri sehingga dia hanya menyiapkan naskah pidato untuk Brasil. Jules Rimet mengabaikan kemungkinan Uruguay akan menjadi pemenang karena Brasil begitu superior sejak babak penyisihan grup.
Sebagai tuan rumah Piala Dunia 1950, Brasil mencetak rekor fanstastis. Mereka menjadi tuan rumah yang baik dengan membangun Maracana, stadion supermegah di ibu kota Rio de Janeiro yang bisa menampung 200 ribu penonton. Inilah stadion sepakbola terbesar di dunia. Prestasi tim Samba pun luar biasa di antara 13 tim yang lolos babak kualifikasi termasuk Inggris yang baru ikut Piala Dunia pertama kali.

Setelah membuka kemenangan telak 4-0 atas Meksiko, ditahan 2-2 Swiss dan menang 2-0 atas Yugoslavia, Brasil melaju ke putaran final sebagai juara Grup A. Penampilan Brasil di putaran final yang melibatkan empat tim, yakni Brasil, Uruguay, Spanyol dan Swedia luar biasa. Keempat tim itu saling berhadapan dan tim juara adalah peraih nilai tertinggi.

Tim Samba yang bermaterikan Barbosa, Augusto (kapten), Juvenal, Bauer, Danilo, Bigode, Friaccedila, Zizinho, Ademir, Jair dan Chico membekuk Swedia 7-1 dan Spanyol 6-1. Sedangkan Uruguay hanya menang 3-2 atas Swedia dan ditahan Spanyol 2-2. Swedia cuma unggul 3-1 atas Spanyol.

Partai terakhir Brasil vs Uruguay menjadi penentu. Laga final itu disaksikan 174 ribu penonton di Maracana. Publik Brasil begitu yakin, timnya bakal meraih tropi Piala Dunia pertama karena hanya membutuhkan hasil seri melawan Uruguay. Maka pesta juara dipersiapkan secara besar-besaran di seantero Brasil.
Kenyataan di Maracana 16 Juli 1950 sebaliknya. Brasil amat sulit menembus benteng pertahanan Uruguay. Para petarung berkostum biru langit, Julio Perez, Juan Schiaffino, Gigghia dan kapten Obdulio Varela bahu-membahu dan berjibaku mempertahankan daerahnya dari gempuran Brasil yang bermain indah dan efektif sepanjang turnamen.

Brasil unggul lebih dulu pada menit ke-58 lewat gol Friaca. Maracana meledak girang. Schiaffino menyamakan skor 1-1 sembilan menit kemudian. Fans Samba tetap yakin Brasil akan menjadi juara karena tetap mendominasi permainan. Petaka datang di menit ke-80. Gol Gigghia membungkam tuan rumah. Maracana hening. Banjir air mata membasahi bumi Amazon ketika wasit George Reader dari Inggris menuip peluit akhir. Brasil tumbang. Pesta besar di Pantai Copacabana-Rio buyar!

Uruguay menjadi juara untuk kedua kalinya setelah tahun 1930. Tim Biru Langit yang terdiri dari Maspoli, Gonzalez, Tejera, Gambetta, Varella, Andrade, Ghiggia, Peacuterez, Miguez, Schiaffino dan Moran disambut sebagai pahlawan ketika tiba di Montevideo. Sementara keberhasilan striker Brasil, Ademir de Menzes sebagai top scorer dengan sembilan gol seolah tak bermakna buat tuan rumah yang patah hati karena kemenangan di depan mata sirna lantaran over percaya diri.

"Kekalahan melawan Uruguay di Stadion Maracana tahun 1950 selalu menghantui hidup saya. Kami menganggap tropi itu sudah dalam genggaman. Impian kami berakhir dalam tempo sepuluh menit. Kejam! Tapi itulah sepakbola," kata Ademir.

Maracana 1950 adalah titik hitam dalam sejarah sepakbola Brasil. Sangat manis bagi Uruguay! Maracana 1950 merupakan saat terindah dalam sejarah sepakbola negeri kecil di tenggara Latin Amerika tersebut. Ketika Uruguay lolos ke perempatfinal Piala Dunia 2010 untuk menghadapi Belanda di Cape Town, Selasa (6/7/2010) malam, rakyat negeri itu memutar ulang memori indah di Brasil 1950. Setelah prestasi sepakbola Uruguay meredup selama 40 tahun terakhir di ajang Piala Dunia, sukses menembus babak semifinal di South Africa 2010 merupakan kejutan yang menggairahkan. Sekarang publik Uruguay yakin bahwa tim nasional mereka mampu mengulang sukses di Piala Dunia pertama tahun 1930 dan 1950 "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika kami berhasil meraih kemenangan seperti tahun 1950. Kami masih melihat kemenangan itu sebagai idola," kata pelatih Oscar Tabarez.

"Maracana 1950 adalah spirit bagi kami. Kami tidak ingin pulang sebelum 11 Juli 2010," kata Diego Forlan.
Meraih kembali kejayaan merupakan spirit Uruguay dan Belanda. Sama seperti Uruguay, para pemain Belanda 2010 pun berada di bawah bayang-bayang kejayaan masa lalu. Mereka dibayangi masa emas Johan Cruyff, Johan Neeskens dan Johnny Rep di tahun 1970-an serta trio Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten di penghujung 1980-an. Tahun 1974 dan 1978 Belanda menembus final tapi gagal meraih mahkota. Kini saatnya bagi Belanda untuk menebus kegagalan itu.

Belanda 2010 punya modal fenomenal. Mereka memenangi semua laga pra-kualifikasi untuk meraih tiket ke Afrika Selatan 2010, memenangi tiga laga di fase grup dan dua laga di babak knock-out. Dibandingkan dengan Uruguay, perjalanan Belanda sangat mulus. Sukses di perempatfinal pun mengguncang dunia ketika Tim Oranye menekuk Brasil 2-1 sekaligus memecahkan rekor tak pernah menang dalam sembilan pertemuan sebelumnya.

Wesley Sneijder dkk telah memperlihatkan kepada dunia betapa Belanda 2010 bisa menghasilkan gol kemenangan dari sudut mana pun. Belanda adalah mesin giling yang efektif meski dikritik karena meninggalkan keindahaan total football.

Namun, Pelatih Belanda Bert van Marwijk cukup tahu diri. Rekor kemenangan 100 persen Belanda di Afrika Selatan bisa menjadi bumerang karena Uruguay justru menjadi underdog.

"Saya sangat menghormati tim Amerika Selatan yang tersisa itu. Ini akan menjadi laga yang sangat berbahaya karena mereka adalah pejuang tak kenal lelah. Petarung sejati. Kami harus sangat fokus," katanya. Ya, Belanda harus tetap fokus agar tidak menjadi korban seperti Brasil tahun 1950.*

Pos Kupang 6 Juli 2010 halaman 1

Gelap


TUAN dan puan kiranya masih ingat film serial Baywatch yang ditayangkan salah satu stasiun televisi Indonesia beberapa tahun silam. Serial ini pertama kali diluncurkan tahun 1989 dan tayang secara mingguan di stasiun televisi NBC. Di luar dugaan film yang diilhami dari cerita Greg Bonnan itu sangat populer dan bertahan selama sepuluh tahun lebih. Bahkan Baywatch -- termasuk spin-off berjudul Baywatch Night ditayangkan di lebih dari 140 negara termasuk Indonesia.

Pada tahun 2001 tayangan serial Baywatch dihentikan setelah jumlah penonton di Amerika Serikat (AS) menurun hingga 1,9 juta per minggu. Namun, pada tahun 2006 kisahnya kembali diangkat ke layar lebar. Tidak tanggung-tanggung. Untuk membuat kisah yang lebih seru dan menarik produser menunjuk Steven Spielberg sebagai sutradara.

Saat tayang di Indonesia film Baywatch sangat digemari pemirsa karena kisah setiap episode sangat menarik dan sarat dengan pesan kemanusiaan. Ada kisah tentang perjuangan keras menolong sesama, intrik dan dengki, balas dendam hingga kisah asmara dan pertemanan sejati.


Penampilan fisik bintang Baywatch yang cantik dan molek lewat bikini ketat serta tubuh atletis merupakan salah satu daya tarik serial tersebut. Tuan dan puan yang pernah menikmati Baywatch kiranya masih ingat sejumlah nama seperti David Hasselhoff, Carmen Electra, Jeremy Jackson, Michael Bergin, Brooke Burns, David Chokachi, Mitzi Kapture, Pamela Anderson, Kelly Packard dan Jose Solano. Dari sekian banyak bintang, aktris dan aktor yang menjadi ikon Baywatch adalah Pamela Anderson, Carmen Electra dan David Hasselhof.

Busana seksi dan kemolekan tubuh Pamela Anderson atau Carmen Electra hanyalah unsur pemikat Baywatch. Kisah film serial televisi tersebut menjadi sangat populer justru karena idenya sederhana dan menyentuh kebutuhan manusia yaitu jaminan keamanan ketika bersuka ria dengan keluarga, sahabat atau kekasih di pantai wisata.

Para penjaga pantai di Baywatch yang keren dengan seragam merah mereka menunjukkan cara kerja profesional. Mereka siaga setiap saat. Mereka dilengkapi fasilitas penyelamatan seperti radio, jet ski, boat karet, boat fiberglass, mobil ambulance, helikopter dan pos pengamatan pada sejumlah titik strategis.

Mereka mengingatkan pengunjung pantai tentang lokasi berbahaya, tentang cuaca dan tinggi gelombang laut, cara mencegah serangan hiu sampai pertolongan pertama (P3K) terhadap korban manusia saat bersukaria di pantai wisata.

Film tersebut sesungguhnya mencerminkan keseriusan pemerintah sebuah negara serta pemangku kepentingan obyek wisata bahwa keselamatan manusia merupakan hal yang paling pokok. Keselamatan nyawa manusia tidak bisa ditawar-tawar atau dipermainkan dengan cara kerja setengah hati.

Stasiun televisi NBC mencatat, selama 11 tahun masa penayangan yang sukses luar biasa Baywatch telah menginspirasi banyak pemerintahan di dunia dalam hal mengelola obyek wisata pantai secara profesional. Baywacth tidak sekadar sarana hiburan. Tapi film serial itu menjadi sumber referensi. Bahan pembelajaran berharga untuk negara-negara di dunia yang memiliki obyek wisata pantai.

Virus Baywacth juga menjalar ke Indonesia. Adalah Pulau Dewata Bali yang menangkap inspirasi tersebut dengan membentuk Balawista, semacam Baywatch versi Indonesia.

Bali yang salah satu menu utama adalah obyek wisata pantai belajar dari Baywacth dalam memberikan kenyamanan bagi pengunjung pantai. Maka hadirlah anggota Badan Penyelamat Wisata Air (Balawista). Para penyelamat pantai itu selalu siaga di enam pos sepanjang kawasan pantai Kuta dari Tuban hingga Seminyak. Setiap detik mereka berjaga-jaga untuk mencegah dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan menimpa wisatawan yang tengah mandi, berjemur atau melakukan aktivitas lain di tengah deburan ombak Pantai Kuta.

Sebagaimana penjaga pantai di Baywatch, anggota Balawista dituntut memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap nasib orang lain. Juga ketulusan dan kerelaan berkorban bagi sesama. Jika berkunjung ke Pantai Kuta Bali tuan dan puan melihat kesiagaan mereka. Juga melihat bagaimana pemerintah di Bali sangat serius memperhatikan keselamatan pengunjung pantai sebagai sumber pemasukan utama pariwisata Bali.

Di banyak tempat wisata mudah menemukan papan atau tanda berisi peringatan atau imbauan. Tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Di Pantai Kuta dan pantai wisata lainnya di Bali mudah menemukan bendera merah atau bendera kuning. Itu merupakan simbol yang mengingatkan pengunjung bahwa di tempat wisata yang paling aman sekalipun, bencana bisa saja terjadi sehingga kewaspadaan tidak boleh longgar.

Bagaimana dengan kita di beranda rumah Flobamora? Nusa Tenggara Timur (NTT) bangga sekali dengan karunia Tuhan sebagai propinsi kepulauan. Tiga perempat luas wilayah ini merupakan perairan. Ke mana-mana kita selalu bercuap memiliki ratusan bahkan ribuan pantai wisata yang indah. Pantai berpasir putih serta alamnya masih bersih. Wisata pantai merupakan andalan orang NTT.

Tapi seperti tuan dan puan lihat dan rasakan sendiri, pengelolaan pantai sebagai lokasi wisata di NTT cuma mengutamakan duit. Tidak ada jaminan kenyamaman dan keselamatan bagi pengunjung. Maut mengintai siapa saja setiap saat berlibur di pantai-pantai Flobamora. Jadi kalau tidak butuh sekali sebaiknya tidak perlu berwisata dengan keluarga atau kerabat ke pantai. Carilah lokasi lain yang aman.

Contohnya persis di depan hidung. Di pantai wisata Kota Kupang dan sekitarnya yang menjadi barometer ini propinsi. Pantai wisata di Kupang saban tahun selalu menelan korban jiwa. Dalam dua tahun terakhir saja, terhitung sejak 13 Juni 2008 hingga 24 Juni 2010, Pos Kupang mencatat 20 orang tewas di Pantai Lasiana, Oesapa, Pasir Panjang hingga Pantai Tablolong. Dari 20 korban tewas itu, Tablolong pegang rekor dengan menelan korban sebanyak 17 orang. Mengerikan, kawan! Tapi siapa peduli? Kematian itu dianggap musibah biasa. Pemerintah atau negara merasa bukan tanggung jawabnya memberi rasa aman bagi warga sendiri.

Beta cukup tahu diri saat bercerita tentang film Baywatch. Penjaga pantai ala Baywatch masih merupakan mimpi bagi propinsi miskin papa dan riang dengan petaka salah urus ini.

Putra-putri NTT yang ingin berwisata ke pantai tidak butuh kemewahan Baywatch atau Balawista seperti di Bali. Mereka butuh hal-hal kecil seperti toilet, papan peringatan, tanda larangan atau semacam monumen kecil di lokasi wisata yang telah makan banyak korban jiwa. Celakanya hal-hal kecil seperti itu pun tidak mampu disediakan pemimpin kampung yang digaji dan mendapat kemewahan sebagai pejabat negara atau pamong praja dengan duit rakyat!

Coba tuan dan puan lihat baik-baik. Pada hampir semua pantai wisata NTT, petugas jaga dari dinas teknis cuma rajin menagih retribusi kepada pengunjung. Bahkan di sebagian besar pantai wisata, petugas hanya muncul batang hidungnya di hari libur. Dan kehadiran mereka hanya untuk pungut retribusi. Selesai!

Manfaat langsung bagi pengunjung setelah membayar karcis masuk bukan urusan mereka. Aspek kenyamanan dan keselamatan urusan pengunjung sendiri, termasuk kamar WC alias toilet. Di Tablolong, misalnya, ada sejumlah lopo (tempat bernaung) dan jalan setapak dari semen. Ada toilet namun hanya bangunan saja. Tuan mau pipis, silakan lari ke dalam semak belukar atau sembunyi badan di balik batu karang hitam. Toilet di sana tanpa air. Sampah pun berserakan di mana-mana.

Beta sungguh tak tahu lagi harus berkata apa. Ketika nyawa demi nyawa berguguran di pantai wisata Flobamora, bagaimana nurani pemimpin kita. Tuli, buta atau telah kehilangan rasa malu? Mereka itu piawai omong tiap hari soal kesejahteraan rakyat dan tangung jawab negara. Paham konteks dan aksinya? Aihh...gelap! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang Senin 5 Juli 2010 halaman 1

Ketidakadilan Bola


Oleh Dion DB Putra

SEPAKBOLA dan nasib itu berdekatan satu sama lain. Begitu banyak kebanggaan tergapai, tetapi tak sedikit air mata tercurah di ujung laga. Ada tawa, ada tangis! Demikianlah keadilan bola. Di Accra, ibu kota Ghana, para pendukung tim Bintang Hitam menghujat Luiz Suarez sebagai musuh nomor satu Afrika dan musuh utama sepakbola yang menjunjung tinggi fair play. Di Montevideo, Luiz Suarez dielu- elukan sebagai pahlawan. Berkat tangannya menghadang bola di garis gawang, Uruguay lolos ke semifinal.

"Pertandingan tersebut adalah akhir dari Piala Dunia, jadi saya tidak punya pilihan. Saya memang sengaja melakukan itu meski saya tahu bisa menjadi akhir dari perjalanan kami di Afrika Selatan. Tapi melihat Gyan gagal mengeksekusi penalti, saya sangat gembira. Tuhan telah menolong kami," kata Suarez.

Biasalah dalam jagat sepakbola, nama Tuhan selalu dibawa-bawa saat berjaya atau terkapar. Lihat saja kebanyakan pemain saat masuk atau keluar lapangan tak lupa membuat tanda salib. Dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.


Di mata tiga juta rakyat Uruguay, Suarez kini dikenang sebagai martir bola!
Seandainya Luiz Suarez tidak menahan bola dengan tangannya pada menit ke-118 itu, Uruguay kalah 1-2 atas Ghana dan tidak lolos ke babak semifinal Piala Dunia 2010. Tetapi Suarez melakukan itu dengan sadar meski ia diusir wasit Olegario Benquerenca asal Portugal dan Uruguay pun dihukum tendangan penalti.

Mestinya penalti di detik terakhir laga 120 menit itu menjadi akhir ziarah Uruguay di World Cup 2010 sekaligus memastikan Ghana sebagai tim pertama Afrika yang menembus babak semifinal dalam 80 tahun sejarah Piala Dunia.

Namun, miliaran penonton televisi sejagat dan sekitar 80.000 penonton, sekitar 65 persen pendukung Ghana di Stadion Soccer City, Johannesburg, Jumat (2/7/2010) malam atau Sabtu (3/7/2010) dinihari Wita, hampir tak percaya ketika tendangan penalti Asamoah Gyan membentur mistar gawang Fernando Muslera. Gyan yang biasanya jitu mengeksekusi penalti gagal pada momentum yang menentukan.

Muslera berjingkrak. Luiz Suarez pun mengepalkan tangan bahagia. Rupanya ada "Malaikat Kecil" yang menjaga di mulut gawang Uruguay, mengutip ucapan terkenal bintang Belanda di Euro 2000, Patrick Kluivert. Aksi Suarez dan kegagalan penalti Gyan kemudian menjadi titik balik bagi sukses Uruguay. Pertandingan berakhir 1-1 hingga 120 menit dan pemenang harus melalui adu penalti. Uruguay akhirnya menang 4-2 setelah tembakan dua esekutor Ghana berhasil diblok kiper Fernando Muslera. Saat adu penalti, Gyan sukses menjalankan tugasnya tapi Uruguay yang berpesta. Mereka melaju ke babak empat besar menghadapi Belanda yang dengan gagah perkasa mengirim pulang Brasil lebih awal ke negaranya.

"Malaikat kecil" di mulut gawang Uruguay Jumat malam itu telah menistakan Gyan sebagai pemain paling berdosa untuk negerinya Ghana dan benua Afrika yang sangat mengharapkan wakilnya tetap bertahan di Piala Dunia 2010. Duka Ghana adalah juga duka sekitar satu miliar rakyat Afrika yang berharap penuh agar the Black Stars memberi hasil membanggakan saat Piala Dunia pertama kali di Afrika.

Kekalahan adu penalti sungguh tidak adil bagi Ghana yang bermain jauh lebih baik ketimbang Uruguay. Ghana dicurangi aksi Suarez yang sengaja menangkis bola dengan tangannya. Nasib baik pun tidak memihak mereka saat Gyan mengambil tendangan 12 meter. Dunia menyaksikan dengan perasaan getir ketika Gyan terkulai di lapangan sambil menangis saat wasit Olegario Benquerenca meniup peluit akhir.

Gyan menanggung beban psikologis sangat berat. Dia menjadi pahlawan timnya sejak penyisihan grup. Justru di laga penting melawan Uruguay, Asamoah Gyan menjadi biang kehancuran. Tangis dan tawa memang sangat tipis dalam sepakbola.
Kesedihan Gyan persis sama dengan perasaan bek Jepang, Yuichi Komano yang gagal mengesekusi penalti ke gawang Paraguay di babak 16 besar. Hati Komano hancur-lebur karena dialah penyebab kegagalan Jepang. "Saya terus menunduk dan menangis. Mengapa bisa sebodoh itu untuk sesuatu yang sudah biasa saya lakukan dengan baik sebelumnya," kata Komano. Jepang bermain luar biasa menghadapi Paraguay. Namun, nasib baik bukan milik negeri Sakura itu.

Setiap kali menghadapi nasib buruk sebagaimana menimpa Jepang dan Ghana di Piala Dunia 2010, penalti kembali "dikutuk" sebagai cara tidak adil meraih sebuah kemenangan. Sejak lama para pengamat dan pakar sepakbola menilai begitu adu penalti, maka sepakbola pun tak ubahnya seperti adu untung. Berjudi. Main lotre.

"Tiadakan saja adu penalti yang kejam dan tidak manusiawi ini. Tuan-tuan di FIFA harus mengubah aturannya. Cari cara lain yang lebih obyektif," kata pemain legendaris Inggris, Boby Robson setelah Inggris disingkirkan Jerman Barat 4-3 (1- 1, 0-0) lewat drama adu penalti di semifinal Piala Dunia 1990 di Stadion Delle Alpi Turin 4 Juli 1990. "Di ruang ganti saya melihat pemain menangis. Saya juga tak dapat menahan air mata. Kita tidak terkalahkan, tapi kita gagal ke final. Di semifinal kita bermain gemilang, toh terjungkal gara-gara penalti sialan itu," kata Robson.

Menurut Robson, pemain yang gagal penalti pada momentum penting akan memikul beban psikologis sepanjang kariernya. Merasa malu dan bersalah. Benarkah Ghana kalah? Bukankah kekalahan itu terletak dalam kegagalan Gyan menembak penalti pada menit ke-119? Begitulah gumam kesedihan jutaan penggemar Ghana. Perasaan tidak adil serupa pun menghiasi langit Jepang. Kasihan Komano!

Mengharapkan FIFA mengubah penalti sebagai cara memenangkan pertandingan agaknya sulit terwujud dalam waktu dekat. FIFA terkenal konservatif dan tidak mau mengubah tradisi yang sudah bertahan hampir satu abad.

Penalti sebagai adu untung itu membuat banyak pemain bola, termasuk pemain bintang sekalipun angkat tangan kalau merasa tidak siap secara mental. Pelatih Jerman (Barat) yang sukses di Piala Dunia 1990, Franz Beckenbauer mengakui itu. "Sangat sulit mencari pemain yang mau mengambil penalti. Maka pedoman saya simpel saja, hanya siapa yang punya kepercayaan diri dan bersedia, itulah yang saya pilih sebagai algojo," kata Sang Kaisar bola itu.

Kekuatan mental merupakan kunci sukses menendang bola dari titik putih. Maka terlepas dari "skandal" Luiz Suarez dan keyakinan Muslera tentang "Malaikat Kecil" menjaga mulut gawangnya saat Gyan menyepak jabulani di Soccer City, lima alogojo Uruguay memang lebih siap secara mental ketimbang Ghana yang baru beberapa menit sebelumnya terpukul dengan kegagalan Gyan. Keadilan bola punya cara yang unik sekaligus misterius. Kadang menyakitkan! Tapi di situlah magnet bola yang akan terus menyihir dunia hari ini, besok dan lusa.*

Pos Kupang 4 Juli 2010 halaman 1

Terusir dari Roma

Oleh Dion DB Putra

SEPAKBOLA bukan hanya soal prestasi. Bola juga membawa tragedi. Tragedi kehidupan manusia yang lama membekas di relung hati. Sejauh ada tangis, maka kegembiraan pun tak sepenuhnya mempunyai nilai sukacita. Itulah yang selalu diingat Diego Armando Maradona.

Di Kota Roma, Diego menangis sejadi-jadinya ketika 70 ribu tifosi (pendukung) Italia mengolok-olok dirinya saat memimpin Argentina menghadapi Jerman Barat di grandfinal Piala Dunia 1990. Diego bersama Argentina gagal mempertahankan gelar. Tim Tango terusir dari Roma sebagai tim yang kalah disertai hujatan, Biarlah Si Tangan Setan Pergi ke Neraka - untuk mengolok Maradona yang menciptakan gol "tangan Tuhan" ke gawang Inggris di Piala Dunia Meksiko 1986.


"Kenangan itu tak terlupakan. Saya merasa sendirian menjadi musuh dua negara sekaligus. Musuh Jerman dan Italia. Tapi saya menangis atas apa yang dilakukan Italia terhadap saya dan Argentina," kata Maradona mengenang peristiwa itu.
Setelah Squadra Azzurra tersungkur di semifinal, fans Italia marah terhadap Maradona yang dijuluki El Pibo de Oro (Si Anak Emas). Mereka menganggap Diego mengakhiri mimpi Italia saat Piala Dunia berlangsung di tanah air sendiri.

Diego Maradona memang menebarkan sensasi di World Cup 1990 Italy. Dunia menertawakan Argentina dan mulut besar Maradona saat juara bertahan itu dipermalukan Kamerun 1-0 pada laga perdana Grup B 8 Juni 1990 di Stadion Giuseppe Meazza Milan. Kamerun yang dipimpin "singa tua" Roger Milla sontak termasyur lewat aksi Milla yang memukau.

Ketika banyak orang meremehkan Argentina, Maradona membuat perbedaan. Pelan tapi pasti Argentina menang 2-0 atas Uni Soviet dan bermain 1-1 melawan Rumania. Argentina lolos ke babak 16 besar bersama Kamerun dari Grup B.
Di babak babak 16 besar tanggal 24 Juni 1990, Argentina memulangkan Brasil lebih awal. Maradona dkk menekuk tim Samba 1-0. Laju Argentina tak tertahankan lagi. Mereka menghabisi Yugoslavia 3-2 di babak perempatfinal lewat adu penalti setelah skor 0-0 selama waktu normal. Tifosi Italia tercengang karena pertemuan dengan Argentina di semifinal tak terelakkan. Tapi semua menjagokan Squadra Azzura yang meraih hasil 100 persen sejak penyisihan grup.

Sebagaimana watak aslinya, Maradona tampil percaya diri dan menyatakan tidak takut melawan tuan rumah Italia, negara tempat ia mencari makan dan menjadi bintang besar bersama klub Napoli sejak 1984. Laga semifinal di San Paolo 3 Juli 1990, Argentina menang 4-3 lewat adu penalti setelah skor 1-1 selama 120 menit. Kiper Argentina, Sergio Goycochea menjadi pahlawan. Dia menggagalkan eksekusi penalti dari Roberto Donadoni dan Serena. Dengan berlinang air mata, Italia terbang ke Bari untuk memperebutkan ranking ketiga melawan Inggris yang juga takluk 3-4 atas Jerman Barat. Banyak jalan ke Roma, tapi hanya Argentina dan Jerman Barat yang berhak masuk Kota Roma memperebutkan tahta terhormat.

Rakyat Italia jengkel betul dengan Maradona. "Argentina dan Maradona harus ditempeleng empat kali," tulis Corriere dello Sport kala itu. Forza Germania! Demikian bunyi spanduk raksasa di Stadion Olimpico serta teriakan tifosi Italia. Mereka mengelu-elukan kapten Jerman, Lothar Mathaeus. Lothar saat itu adalah pemain pilar Inter Milan (1988-1992). Tifosi Italia merasa Jerman sebagai saudara yang pantas membalaskan dendam atas Argentina. Toh ada lima pemain inti Jerman Barat di Piala Dunia 1990 yang membela klub Serie A yaitu Rudi Voeller, Matthaeus, Jurgen Klinsmann, Andreas Brehme dan Berthold.

Dasar Maradona keras kepala. Bukannya takut, dia malah menyulut emosi fans Azzurri dan Jerman lewat sindiran pedas. "Melawan Brasil kami sukses berkat keajaiban. Melawan Italia adalah pertandingan kami yang paling ringan. Jerman Barat? Ah, mereka sudah merasakan penderitaan di final 1986," kata Maradona sebelum malam final melawan Jerman Barat 8 Juli 1990 di Stadion Olimpico Roma.
Di babak final Piala Dunia 1986, Diego Maradona dkk mengalahkan Jerman Barat 3-2 di Stadion Azteca Meksiko. Tiga kali gawang Schumacher jebol berturut-turut menit ke-23 dan 56 oleh Brown dan Jorge Valdano serta gol pamungkas dari Buruchaga menit ke-86. Semua gol tercipta berkat passing jitu Maradona. Jadi wajarlah bila dia amat percaya diri menghadapi tim yang sama di Roma 1990.

Namun, kali ini sejarah tidak memihak Diego. Argentina gagal membendung mesin diesel Jerman. Teror penonton sepanjang laga di Olimpico 8 Juli 1990 ikut meredupkan bintang Argentina. Sebelas pemain Argentina seolah menghadapi 13 pemain. Pemain ke-12, fans Jerman dan pemain ke-13 para tifosi Italia yang marah. Jerman mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol penalti Andreas Brehme.

Kiper Goycochea yang tampil gemilang saat menghadapi Yugoslavia dan Italia, gagal menepis tembakan Brehme. Di akhir pertandingan, Maradona menangis sesenggukan. Tak sanggup menegakkan kepala. "Italia menganggap saya lebih dari setan. Dan, Jerman memetik keuntungan," kata Maradona.

Dendam kesumat itulah yang ingin dituntaskan Maradona saat tim asuhannya melawan Jerman di perempatfinal Piala Dunia 2010, Sabtu (3/7/2010) malam. Sejak memastikan bertemu Jerman, Maradona telah berulangkali secara terus terang mengungkapkan dendamnya atas Jerman. "Kami tidak takut siapa pun. Saya sudah tak tahan untuk segera menghentikan mereka (Jerman)," kata Diego.

Kemarin Maradona menyindir gelandang Jerman, Bastian Schweinsteiger yang menuduh pemain Argentina suka memprovokasi dan mempengaruhi wasit. Dalam wawancara televisi, Maradona menanggapi gelandang Bayern Munchen itu dengan aksen Jerman palsu. "Ada apa Schweinsteiger? Apakah kamu gugup?" kata Maradona seperti dikutip Sky Sports. Wow!

Dengan sokongan bintang titisannya Lionel Messi yang oleh pers diplesetkan sebagai Messidona serta pemain-pemain berbakat lainnya, Maradona cukup percaya diri menghadapi laga hidup mati melawan Jerman.

Apalagi catatan rekor memihak Argentina. Menurut data kantor berita Reuters, kedua negara telah bertemu 18 kali dalam laga resmi Piala Dunia maupun ujicoba sejak di Malmo 8 Juni 1958 hingga terakhir di Munich, 3 Maret 2010. Dari 18 pertemuan itu, Argentina menang 8 kali. Jerman 6 kali unggul dan 4 kali berakhir seri. Maradona optimis karena dalam partai ujicoba di Munich bulan Maret lalu, timnya mengalahkan Jerman 1-0.

Jika Maradona banyak cakap dan tidak malu-malu mengungkapkan dendamnya terhadap Jerman, sikap sebaliknya diperlihatkan pelatih Jerman, Joachim Loew. Loew tak sekalipun terpancing sindiran Maradona atau mengeluarkan pernyataan meremehkan lawan. Loew minta kepada Philipp Lahm dkk tetap fokus karena mereka akan menghadapi salah satu tim terbaik di South Africa 2010. "Argentina tim yang hebat. Jadi, sangat penting bagi kami untuk tetap fokus dengan gaya permainan dan tujuan kami di Afrika Selatan," kata Loew.

Dari sisi kematangan pemain, Argentina sedikit lebih baik ketimbang Jerman yang berintikan rata-rata pemain muda usia. Namun, jika Jerman konsisten dengan cara bermain disiplin dan efektif, bukan mustahil Argentina akan menelan pil pahit di Cape Town malam ini. Jerman kiranya telah belajar dari kekalahan melawan Serbia. Dua kemenangan telak, masing-masing 4-0 atas Australia di penyisihan grup dan menyingkirkan musuh bebuyutan Inggris di perdelapanfinal 4-1 merupakan bukti kuat betapa Jerman 2010 pantas diunggulkan sebagai calon juara.

Cara bermain Jerman memang tak sedap dipandang mata. Tapi hanya Jerman yang mampu menunjukkan cara sederhana bagaimana meraih kemenangan. Prinsip dasar sepakbola Jerman warisan "Kaisar" Franz Beckenbauer adalah fisik yang prima (krauftfussball). Fisik prima ditunjang dengan disiplin tinggi. Inilah yang membuat Jerman dijuluki tim spesialis juara. Lihat postur dan aksi pemain Jerman. Mereka atletis, kuat, lincah, dinamis, cepat dan hebat daya tembaknya ke gawang lawan!

Melawan Jerman merupakan ujian sesungguhnya bagi Maradona dan timnya. Musuh utama Maradona dan Argentina adalah over percaya diri sebagaimana Brasil yang akhirnya tersungkur menghadapi Belanda di Port Elizabeth semalam. Rekor Belanda tak pernah menang atas tim Samba berakhir sudah! Malam ini Maradona mesti membuktikan bahwa dia tidak mau mengalami tragedi yang sama dua puluh tahun silam di Roma, terusir dengan berurai air mata dari bumi Bafana-Bafana. *

Pos Kupang 3 Juli 2010 halaman 1

Brasil Tak Ada Lagi

Oleh Dion DB Putra

TAK terasa sudah 56 pertandingan Piala Dunia 2010 yang kita nikmati melalui layar televisi. Piala Dunia 2010 menyisakan delapan pertandingan lagi yaitu empat partai perempatfinal, dua partai semifinal dan dua pertandingan grandfinal. Final memperegutkan tropi FIFA World Cup dan satu partai perebutan tempat ketiga.

Jika fase penyisihan grup melahirkan kejutan dengan tumbangnya tim raksasa Italia dan Perancis, babak 16 besar praktis sepi dari kejutan. Delapan tim yang lolos ke perempatfinal tidak jauh dari prediksi para analis bola. Slowakia yang sempat disanjung sebagai tim "pembunuh raksasa" Italia gagal melanjutkan kejutan melawan tim Oranye Belanda.

Demikian pula dengan Jepang, Chile, Meksiko, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris dan Portugal. Dua nama terakhir bertemu tim raksasa, Jerman dan Spanyol. Dan, tim terbaiklah yang menang!

Kehebohan babak 16 besar justru kontroversi perlu tidaknya penggunaan teknologi dalam sepakbola, terutama tayangan ulang guna membuktikan bola masuk gawang atau belum serta posisi offside pemain. Kontroversi itu mengemuka lagi setelah gol Frank Lampard ke gawang Jerman tidak disahkan wasit asal Uruguay, Jorge Larrionda. Tayangan ulang televisi jelas menunjukkan bola sudah melewati garis gawang. Kiper Jerman, Manuel Neuer pun mengakui. Namun, Jorge Larrionda setelah diskusi dengan hakim garis Pablo Fandino tetap memutuskan bola belum melewati garis. Inggris akhirnya kalah 1-4.

Wasit asal Italia, Roberto Rosseti juga melakukan kesalahan fatal. Rosetti yang pimpin laga Meksiko melawan Argentina, justru mengesahkan gol Carlos Tevez, meski striker Argentina itu dalam posisi offside saat menerima umpan pendek Lionel Messi. Atas kesalahan wasit itu, Presiden FIFA, Sepp Blatter mohon maaf kepada asosiasi sepakbola Inggris dan Meksiko.

Namun, keputusan FIFA tak berubah. FIFA menolak penggunaan teknologi agar permainan sepakbola tetap manusiawi. Wasit tetaplah manusia yang paling menentukan di lapangan. Wasit tak luput dari kekhilafan. Justru di situlah nilai utama sepakbola sebagai permainan anak manusia.

Tidak cuma minta maaf, FIFA telah memulangkan Larrionda dan Rosetti ke negaranya. Keduanya tidak lagi bertugas di South Africa 2010. Larrionda dan Rossetti menyusul dua wasit yang dipulangkan lebih dulu akibat kesalahan di fase grup, yaitu Koman Coulibaly dan Stephane Lannoy. Coulibaly menganulir gol Amerika Serikat atas Slovenia yang membuat pertandingan berakhir 2-2. Sedangkan Lannoy mengganjar Kaka dengan kartu kuning kedua yang menyebabkan bintang Brasil itu terusir dari lapangan saat melawan Pantai Gading. Kaka dapat kartu merah akibat reaksi berlebihan Kader Keita saat kontak fisik.

***
MESKIPUN kukuh pada pendiriannya menolak penggunaan teknologi, FIFA sesungguhnya sedang gundah melihat masa depan sepakbola sebagai permainan yang indah dan menghibur lewat terciptanya gol demi gol di lapangan. Data statistik Piala Dunia 2010 telah mengejutkan badan sepakbola dunia tersebut.
Selama penyisihan grup yang memainkan 48 partai hanya tercipta 101 gol atau rata-rata 2,1 gol per pertandingan. Gol paling subur disumbang empat tim di Grup B dan G masing- masing 17 gol. Grup H paling miskin dengan hanya delapan gol.

Dibanding fase penyisihan grup, putaran 16 besar sedikit lebih produktif yaitu tercipta 22 gol dari delapan pertandingan -- minus delapan gol hasil adu tendangan penalti dalam partai Paraguay vs Jepang. Artinya selama babak 16 besar rata-rata tercipta 2,7 gol per pertandingan. Kendati masih menyisakan delapan pertandingan lagi hingga final 11 Juli 2010, FIFA tidak yakin produktivitas gol Piala Dunia 2010 akan lebih baik ketimbang Piala Dunia sebelumnya.

Kecenderungan itu sungguh mencemaskan karena permainan sepakbola makin membosankan. Data FIFA tentang produktivitas gol dalam tiga event Piala Dunia terakhir menunjukkan kondisi tersebut. Pada Piala Dunia 1998 di Perancis, rata-rata gol per pertandingan 2,67. Piala Dunia 2002, menurun lagi menjadi 2,52 gol per pertandingan. Dan, di Piala Dunia Jerman 2006, rata-rata hanya tercipta 2,30 gol per pertandingan. Trend menurun itu agaknya menguat di Piala Dunia 2010.

Maknanya apa? Kiranya jelas bagi penggemar bola bahwa cabang olahraga terpopuler sejagat itu kian pragmatis. Yang penting hasil akhir, bukan proses! Sebuah tim tidak lagi menjunjung tinggi keindahan bermain bola. Tega meninggalkan attacking football yang pasti menghibur. Mereka menganut prinsip: Percuma bermain indah tapi kalah. Sejarah bola cuma ingat pemenang! Maka tujuan tim hanya satu, raih kemenangan lewat cara-cara yang dimungkinkan oleh rule of the game.
Bermain defensif tidak melanggar ketentuan FIFA.

Benarlah kata para sesepuh sepakbola dunia seperti Pele, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Tostao dan Michel Platini bahwa di South Africa 2010 permainan bertahan dan mengandalkan serangan balik jadi pilihan utama tim peserta. Kecuali Spanyol yang tampil konsisten dengan umpan-umpan pendek dalam menyerang total lawan sepanjang laga, tim lain seperti Jerman, Belanda, Brasil, Argentina, Uruguay, Ghana dan Paraguay lebih mengutamakan back yang tangguh dan disiplin menjaga wilayah sendiri dari gempuran musuh.

Di Afrika Selatan 2010, jabulani lebih lama berputar di blok tengah dan lini kedua. Saat digempur lawan, enam sampai delapan pemain membangun tembok di luar kotak 16 meter. Setelah mengamankan bola, mereka baru serangan balik mengandalkan kecepatan striker dan gelandang. Dalam bahasa teknis bola, amankan dulu pertahananmu baru serang lawan demi menghasilkan gol. Maka yang tersaji adalah duel yang monoton. Permainan ekstra hati-hati.

Brasil yang sejak abad ke-20 identik dengan permainan indah dan menyerang, di bawah asuhan Dunga tegas mengucapkan sayonara kepada sepakbola indah ala Samba. Tujuan Dunga hanya kemenangan. Persetan dengan jogo bonito. Persetan dengan tarian Selecao yang menghibur dan menghipnotis dunia warisan Edson Arantes Do Nascimento alias Pele.

Brasil 2010 adalah Brasil yang lain. Begitu kerisauan Tostao, salah seorang legenda Brasil di Piala Dunia 1970. "Brasil yang dulu dipuja karena mampu melakukan umpan-umpan mengalir dan indah, kini tak ada lagi. Sekarang era sepakbola dengan pertahanan ketat dan serangan balik," kata Tostao.

Belanda pun setali tiga uang. Tidak terlihat agresivitas tim Oranye yang membuat penonton jatuh hati kepadanya. Sejak diracik pelatih miskin senyum Van Marwijk, Belanda dituntut menjadi tim yang efektif meraih hasil bukan penghibur yang dalam sejarah Piala Dunia memang sekadar menobatkan Belanda sebagai juara di hati penonton atau juara tanpa mahkota. Ingat nasib Belanda final Piala Dunia 1974 melawan Jerman Barat dan final 1978 melawan Argentina. Oranye meliuk-liuk laksana balerina. Menghibur lewat tik-tak total football yang menawan hati tapi berakhir sebagai runner-up.

Hilangnya keindahaan sepakbola Belanda tentu ditangisi banyak orang. Apalagi pelaku utama seperti Johan Cruyff yang mewariskan tradisi tersebut. Dalam kolomnya di Harian De Telegraaf seperti dikutip Kompas, 29 Juni 2010, pemain legendaris Belanda itu menangisi sirnanya total football.
Cruyff memuji Chile, suatu sindiran halus buat Belanda. "Di akhir turnamen yang diikuti 32 tim, hanya akan ada satu juara. Jadi, di saat peluang merebut juara sangat tipis, kesempatan menghibur para suporter ada di tangan. Sayangnya, Chile yang mengambil kesempatan tersebut," ujar Cruyff.

Chile sudah gugur. Tiga gol Brasil yang memulangkan Chile pun bersumber dari serangan balik cepat trio maut tim Samba, Luis Fabiano, Robinho dan Kaka.

Cruyff tak lupa menyindir Brasil. "Hilang ke manakah tim Brasil yang selama ini kita kenal di Piala Dunia?" kata Cruyff seperti dikutip ESPN Soccernet, kemarin. "Saya melihat tim itu dan mengenang pemain-pemain seperti Gerson, Tostao, Socrates, Falcao atau Zico. Sekarang saya hanya menyaksikan Gilberto, Melo, Bastos dan Julio Batista," katanya.

Belanda dan Brasil akan 'perang' di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth, Jumat (2/7/2010) malam. Laga perempatfinal ini bakal menyedot perhatian dunia. Tapi merindukan tarian samba dan balet yang menghibur dunia dari Port Elizabeth mungkin terlalu berlebihan.*

Pos Kupang 1 Juli 2010 halaman 1

Merindukan Ruud Gullit

Oleh Dion DB Putra

SUKSES selalu menghadirkan romantisme sejarah. Begitulah yang sedang menghiasai relung hati publik Belanda hari-hari ini ketika ziarah sepakbola tim Oranye di Piala Dunia 2010 berjumpa lagi dengan musuh abadinya, Brasil.

Setelah dua kegagalan melawan Brasil di ajang Piala Dunia (1994 dan 1998) dan rekor tak pernah menang atas Brasil dalam sembilan pertandingan baik laga resmi maupun ujicoba, Belanda tiba-tiba merindukan figur Ruud Gullit hadir dalam tubuh tim Oranye. Mengapa Gullit? Mengapa bukan Rinus Michels atau Johan Cruyff sebagai peletak dasar tradisi total football hingga Belanda dikagumi dunia?

Lewat aksi total football, Johan Cruyff menjadi ikon klub Ajax Amsterdam dan timnas Belanda sepanjang era 1970-an. Ajax berjaya di Eropa. Dan, Belanda merupakan tim paling menakutkan di dunia pada masa itu selain Brasil dan Jerman Barat. Belanda luar biasa karena menembus babak grandfinal Piala Dunia berturut-turut tahun 1974 dan 1978.

Marinus Jacobus Hendricus Michels atau lebih tersohor dengan sapaan Rinus Michels merupakan striker legendaris Ajax tahun 1946-1958. Michels pun temasuk pilar timnas Belanda sebelum masa keemasan Johan Cruyff, Johan Neeskens dkk. Michels pula dalam kapasitasnya sebagai pelatih sukses mengantar Belanda menjuarai Piala Eropa 1988.


Lalu apa bedanya dengan Ruud Gullit, pemilik rambut gimbal dan kulit sawo matang itu? Belanda mencatat nama Gullit dengan tinta emas. Dialah bintang sekaligus kapten tim Oranye saat memenangi kejuaraan sepakbola antarnegara Eropa (Piala Eropa) 1988. Sebagai pemain hanya Gullit dkk yang sejauh ini mampu memberi tropi kejuaraan bagi Belanda dalam level kejuaraan internasional antarnegara. Bukan Cruyff atau Rinus Michels!

Memang tidak fair jika hanya menyebut Gullit seorang. Belanda merajai Eropa 1988 karena pelatih Rinus Michels sangat beruntung memiliki skuad dengan bakat luar biasa. Belanda 1988 memiliki trio terbaik sepanjang sejarah negeri itu, yakni Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten. Lewat trio inilah Michels mudah menerapkan permainan menawan sekaligus efektif meraih kemenangan.

Kalah 0-1 melawan Uni Soviet (kini Rusia) pada laga perdana grup B, Ruud Gullit dkk bangkit dari keterpurukan. Belanda mengatasi Inggris dan Irlandia lalu jumpa tuan rumah Jerman Barat di semifinal. Mereka tertinggal lebih dahulu lewat gol Lothar Matthaus. Namun, Gullit mampu memotivasi rekan- rekannya. Tendangan gledek Ronald Koeman menyamakan skor menit ke-74 dan dua menit sebelum laga berakhir, Marco van Basten mencetak gol cantik guna mengantar Belanda ke final.

Di partai final Piala Eropa 1988, Belanda bertemu lagi Uni Soviet. Soviet hancur-lebur. Gol tandukan Ruud Gullit dan satu gol dari Marco van Basten memastikan Belanda merengkuh gelar internasional pertama. Dan, itulah satu-satunya gelar internasional yang diraih Oranye sampai saat ini.

Sebagai jenderal lapangan tengah, belum ada pemain Belanda yang menyamai reputasi Ruud Gullit, anak Belanda berdarah Suriname itu. Dari aksi-aksi briliannya di lapangan kemudian muncul istilah free player atau pemain bebas dalam sepakbola. Sejatinya Gullit adalah gelandang. Tapi Rinus Michels memberi kebebasan penuh untuk berekspresi. Gullit menjadi pemain bebas yang boleh menjelajahi seluruh sisi lapangan.

Dia tidak terikat tuntutan strategi dan taktik pelatih menghadapi setiap tim yang berbeda karakter atau cara bermain. Skill individunya komplit. Dia bisa menjadi pemain bertahan, pengatur serangan sekaligus pencetak gol. Didukung Frank Edmundo Rijkaard sebagai ksatria lini belakang dan Marco van Basten sebagai ujung tombak Belanda, Gullit memainkan perannya dengan sempurna. Gullit memberi visi dan misi dijalankan dengan baik oleh Basten dan Rijkaard.

Peran pemain bebas itu pula yang dipercayakan Pelatih AC Milan, Fabio Capello saat tim raksasa Italia itu berjaya di Serie A dan Liga Champions Eropa 1987-1993. Berkat kontribusi trio Belanda, Gullit, Rijkaard dan Basten, AC Milan dijuluki the dream team. Tim impian yang tak terkalahkan dalam waktu lama.

Bersama AC Milan, Gullit dkk mempersembahkan tiga kali juara liga Serie A (1987-1988, 1991-1992 dan 1992-1993), dua kali juara Liga Champions Eropa (1988-1989 dan 1989-1990), juara super Eropa dan Piala Toyota (1990). Gullit menjadi pemain terbaik Eropa 1987 dan pemain terbaik dunia tahun 1987 dan 1989. Rekannya Marco van Basten meraih penghargaan pemain terbaik Eropa tiga kali (1988, 1989 dan 1992) dan pemain terbaik dunia tahun 1992. Setelah trio Belanda itu pensiun, prestasi AC Milan tak pernah sama lagi.

Belanda sudah dua kali bertemu Brasil di event Piala Dunia yaitu Piala Dunia 1994 dan 1998. Dalam jumpa perdana pada babak perempatfinal di Dallas 9 Juli 1994, Belanda menyerah 2-3 atas Brasil yang dikapteni Dunga. Brasil akhirnya keluar sebagai juara. Di Marseille, 7 Juli 1998, Belanda lagi-lagi terkapar lewat adu penalti dengan skor 2-4 dalam partai dramatis di babak semifinal.

"Sayang sekali kami bertemu Brasil di Piala Dunia justru pada masa emas Ruud Gullit dkk telah berakhir. Seandainya kami bertemu tahun 1988, ceritanya bisa berbeda," kata Rinuls Michels setelah Belanda bertekuk lutut di Piala Dunia 1994.

Pengandaian mendiang Rinus Michels itu pula kiranya yang sekarang bergejolak di lubuk hati Belanda. Tim asuhan Bert van Marwijk merindukan "spirit" Ruud Gullit, Rijkaard dan Basten hidup lagi di tim Oranye 2010 yang malam ini menjalani partai hidup mati melawan Brasil di perempatfinal South Africa 2010.

Belanda 2010 memang memiliki trio Wesley Sneijder, Giovanni van Bronckhorst dan Arjen Robben. Sama seperti Brasil, Belanda pun meraih hasil 100 persen dalam empat laga yang telah dilewati. Tapi soliditas dan kecerdasan Sneijder dkk sekian kelas di bawah trio Gullit 1988. Boleh jadi malam ini adalah kegagalan ketiga Belanda atas tim yang sama di Piala Dunia.
Jika terbukti demikian, maka dunia lagi-lagi hanya akan mengenang goyang Samba sebagai pemenang! Betapa pun pasukan Dunga mulai meninggalkan keindahan jogo bonito- nya.

Di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth malam ini, Belanda mendapat kesempatan emas untuk menghentikan rekor tak pernah menang atas anak-anak Brasilia. "Mungkin untuk pertama kali di Afrika Selatan 2010, kami menjadi tim underdog. Tapi kami memiliki rasa percaya diri tinggi. Ini pertandingan hebat. Kami datang ke sini dengan satu alasan, yaitu mendapat hadiah terbesar. Kami harus percaya dengan niat kami ini," kata Marwijk. Kita tunggu bagaimana Belanda mau menulis sejarahnya sendiri di Piala Dunia pertama Afrika. Selamat menonton.*

Pos Kupang 2 Juli 2010 halaman 1

Enoneten Menjaga Hutan

SAAT ini seluruh dunia sibuk membicarakan tentang isu lingkungan terkait ancaman pemanasan global. Dan, salah satu cara menghambat pemanasan global adalah melakukan gerakkan menanam.

Namun, tidak demikian dengan masyarakat di Desa Enoneten- Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Warga di desa ini sudah bertahun-tahun membuat kearifan lokal dengan menjaga hutan yang berada di desa mereka. Bagi mereka, hutan merupakan warisan leluhur dan harus diteruskan lagi pada anak cucu mereka.

Warga di desa yang berjarak sekitar 17 km dari SoE, ibukota Kabupaten TTS ini dengan setia menjaga setiap jengkal hutan warisan leluhur. Dalam hutan ini terdapat aneka tanaman di antaranya mahoni, kayu merah, aneka jenis tanaman perdu, johar, asam, gamelial, beringin dan aneka pohon lainnya.
Rata-rata tinggi pohon ini mencapai 20 meter. Sinar matahari bahkan tidak sampai menembusi lebatnya hutan yang dirawat warga desa itu.

Dalam kawasan hutan ini juga hidup rusa, babi hutan, kus-kus dan berbagai jenis burung serta hewan lainnya. Desa ini yang merupakan pemecahan dari Desa Mio ini memiliki luas 21 km persegi dan berpenduduk sekitar 1.585 jiwa atau 391 kk (tahun 2008).

Kawasan hutan di Desa Enoneten ini masuk dalam kawasan hutan Bayafa seluas 1.896 hektar. Hutan ini telah diregister oleh pemerintah melalui Dinas Kehutanan Kabupaten TTS (Registrasi Tanah Kehutanan/RTK) 34. Dan, hutan yang masuk wilayah Desa Enoneten seluas 262 hektar atau dikenal dengan kawasan hutan Oeayo.

Menurut tokoh masyarakat dan juga Kepala Dusun Enoneten, Melkior Tse, kawasan hutan Oeayo merupakan kawasan yang telah dijaga secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Keteguhan hati untuk menjaga hutan ini menjadikan hutan ini tetap perawan hingga saat ini.

Sikap hormat pada nenek moyang diwujudkan melalui sikap mereka menjaga kelestarian dan kemurnian hutan itu.
Sejak tahun 2000, bersama dinas kehutanan, warga desa ini mulai menfaatkan lahan hutan dengan menanam kemiri.
Kesadaran masyarakat Enoneten bukan saja menjaga hutan. Lahan pertanian mereka yang bisa mereka sebut dengan belukar juga dikonversi menjadi hutan kemiri, sehingga lahan hutan yang ada terus melebar.

Bagi Melkior Tse dan masyarakat Enoneten, menjaga dan melindungi hutan diyakini hanya kewajiban yang harus dilaksanakan secara turun temurun. Mereka melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka. Mereka tetap menjaga kearifan lokal yang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Menjaga hutan juga membuat mereka kini tidak kekurangan air. Selain itu kini mereka juga menikmati hasil hutan dari kawasan yang selalu dijaga dan dilindungi.


Ketersediaan pangan bukan menjadi masalah buat warga desa ini, namun masyarakat hanya membutuhkan fasilitas jalan yang lebih baik serta penerangan listrik. Mereka berharap, ada perhartian pemerintah dalam sarana tranportasi dan penerangan listrik buat mereka. (Alfred Dama)

Pos Kupang 3 Juli 2010 halaman 5
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes