Mgr. Kherubim Pareira: Berniat Mundur Saat Diakon

Uskup Edmund Woga (kiri) salami Uskup Kherubim
TAHUN 2011 ini sangat istimewa bagi Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD. Ada tiga moment spesial baginya yaitu 50 hidup membiara, 40 tahun sebagai imam dan 25 tahun menjadi gembala umat dalam jabatan sebagai uskup.

Uskup Kherubim masuk novisiat Societas Verbi Divini (SVD) tahun 1961 sehingga tahun ini genap 50 tahun hidup membiara. Hari Senin tanggal 22 Agustus 2011, Uskup Kherubim merayakan panca windu imamatnya. Beliau ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 22 Agustus 1971 di Lela, Kabupaten Sikka.

Pada tahun ini juga Uskup Kherubim merayakan pesta peraknya sebagai uskup. Kherubim diangkat Paus Yohanes Paulus II sebagai Uskup Wetebula, Sumba tanggal 25 April 1986. Pada tanggal 19 Januari 2008, Mgr. Kherubim diangkat Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Maumere.

Ziarah panjang itu bisa bertahan hanya karena penyelenggaraan Tuhan semata. “Ini semua karena penyelenggaraan Tuhan. Kalau mengandalkan diri sendiri, saya tidak bertahan. Tuhan yang menguatkanku,” demikian Mgr. Kherubim Pareira. Banyak yang tidak tahu kalau beliau pernah menghadapi cobaan berat untuk hidup selibat.

Setelah ditahbiskan menjadi diakon, Uskup Gerulfus Kherubim mengakui pernah mengajukan pengunduran diri. Namun, berkat dorongan pembinanya, beliau bisa bertahan dan benar-benar merasa matang ketika diangkat menjadi Uskup Weetebula tahun 1986.

Hidup selibat, kata Uskup Kherubim, tidaklah mudah. Terutama karena hidup yang dijalani itu diyakini banyak orang menyalahi kodrat manusia. “Selibat itu berat. Kalau kaul kemiskinan, kita terlahir dari keluarga yang biasa hidup sederhana. Kaul ketaatan, kita sudah diajarkan disiplin itu di seminari. Tapi kemurnian selibat, itulah yang paling berat,” ungkap Uskup Kherubim.
Lalu apa rahasianya? Uskup Kherubim menyebut tentang doa. Doa, kata Uskup Kherubim, merupakan sumber kekuatan untuk tetap bertahan dalam panggilan imamat.

“Dalam setiap persoalan, doa selalu mengembalikan kita pada jalan yang benar. Dalam doa, Tuhan selalu memberikan penerang untuk bisa memecahkan persoalan yang kita hadapi setiap hari,” katanya.
Spesialis Psikologi Pendidikan dan Pedagogik dari Universitas Kepausan Salesian Roma (1973- 1974) dan alumnus Universitas Kepausan Antonianum Roma (1974-1976) ini menambahkan, motto imamat: Tuhanlah Kekuatanku, Madahku dan Keselamatanku (Mzm. 118: 14) selalu menjadi lilin penerang jalannya. “Motto ini tetap jadi jiwa panggilan hidup saya,” ujarnya.

Ketika diangkat sebagai uskup di Sumba, Mgr. Kherubim memilih motto: Ut Omnes Unum Sint atau Supaya Semua Orang Bersatu (Yoh 17:21). Motto ini lahir dari kenyataan masyarakat Sumba yang beraneka ragam, baik dari segi budaya maupun agama. Uskup pertama di Pulau Sumba itu mengaku, kesulitan pada awal karya misi di Sumba yakni kuranngnya tenaga imam pribumi. Kekurangan imam ini membuat imam-imam bekerja ekstra. Satu orang imam bahkan harus melayani tiga paroki dalam bentangan wilayah yang sangat luas.

Kehadiran putera kelima pasangan Yulius Aloysius Pareira dan Ibu Elisabeth da Iku Pareira sungguh membawa perubahan bagi keberadaan seminari Sinar Buana Sumba. Uskup Kherubim mendorong lahirnya banyak calon imam pribumi. Selain itu, beliau mengirimkan calon-calon imam pribumi studi di Seminari Ritapiret, Maumere.

Usaha awal perjalanan misi di Sumba, kata Uskup Gerulfus Kherubim, yakni menguatkan kapasitas pelayan. Sebab pada waktu itu, jumlah imam projo hanya dua orang. Sedangkan paroki berjumlah 13 buah, dengan jumlah umat Katolik 42. 000 jiwa. Imam-imam redemtoris belum bisa mememehuni kebutuhan pelayanan bagi para umat
yang jumlahnya begitu banyak hingga ke Sumbawa Besar. Untuk memenuhi pelayanan di paroki, Uskup Kherubim mendapat dukungan imam-imam Serikat Sabda Allah (SVD).

Jumlah umat di Keuskupan Weetabula selepas Uskup Kherubim pada tahun 2008 sebanyak 153.000 jiwa. Perkembangan itu sejalan dengan suburnya panggilan imamat di sana yang semakin hari semakin bertambah. Uskup Gerulfus juga telah mengundang banyak tarekat religius wanita dan laki-laki, yakni ADM, CSSR, CIJ, SVD, SDB, OCD, PRR, Alma dan berbagai tarekat yang lainnya untuk berkarya di Sumba. Kehadiran beberapa tarekat religius telah mendukung pelayanan imam-imam redemtoris yang sudah lebih awal berkarya di Sumba.

Sebagai seorang guru, Uskup Kherubim mengenang sejumlah orang penting hasil didikannya puluhan tahun lalu seperti Benny K Harman (anggota DPR RI), Joni Plate (pengusaha sukses di Jakarta),Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr, Uskup Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr, Romo Sipri Hormat di Ritapiret, Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula. Didikan ketat di seminar Kisol, kata Uskup Kherubim, telah membentuk lulusannya sebagai manusia yang mandiri dan sukses dalam berbagai lapangan hidup.

Moment pancawindu imamatnya tahun ini, kata Mgr. Kherubim, merupakan kesempatan bersyukur karena bisa melalui beratnya pelayanan sebagai uskup dan imam. Beliau juga bersyukur dan berterima kasih terhadap orang-orang yang menyertai perjalanannya sebagai imam dan uskup selama puluhan tahun. (feliks janggu)


Data Diri
N am a : Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD
Tempat/ Tanggal Lahir : Lela, 26 September 1941
Pendidikan Terakhir : Licientiat Filsafat dengan Spesialisasi Pedagogik
Pekerjaan: Uskup Weetebula (1986-2008), Uskup Maumere (2008-sekarang)

Data Keluarga
Nama Ayah : Yulius Aloysius Pareira ( meninggal tahun 1963 )
Pekerjaan Terakhir : Penilik Sekolah Dasar Wilayah II Flotim
Nama Ibu : Elisabeth da Iku Parera ( meninggal tahun 1999)
Pekerjaan Terakhir : Ibu Rumah Tangga
Saudara Kandung : Ada 15 bersaudara dari Bapak dan Ibu yang sama. Tiga orang meninggal waktu masih bayi (2 perempuan dan 1 laki-laki), 12 orang hidup sampai dewasa/berkeluarga : 7
orang laki-laki ( 1 meninggla thn 2004) dan 5 orang perempuan (1 orang meninggal
tahun 2002). Uskup Kherubim anak ke 6 dari 15 bersaudara atau anak ke 5 dari 12 bersaudara.

Data Pendidikan
SD : Kelas 1 : ALS di Maumere, 1947-1948
Kelas 1-2 : ALS (Algemene Largere School) di Ende, 1948-1950
Kelas 3-5 : SR (SD) K Lela I : 1950-1953
Kelas 6 : SR Larantuka I : 1953-1954
SMP : SMP Seminari San Dominggo Hokeng, 1954-1957
SMA : SMA Seminari St. Yohanes Berchmans Mataloko, 1957-1961
Novisiat SVD Ledarero, Maumere : 1961-1963
Kaul I : di Ledarero tanggal 20 Agustus 1963
Studi Filsafat di Seminari Tinggi St. Paulus Ledarero, 1963-1965.
TOP ( Tahun Orientasi Pastoral )di Seminari Pius XII Kisol, 1965-1967
Studi Theologi di Seminari Tinggi Ledarero, 1967-1971

KAUL KEKAL : Di Ledalero 8 Desember 1970
Ditahbiskan Imam 22 Agustus 1971 di Lela
Melanjutkan studi di Roma pada Universitas Kepausan Salesian 1973-1974,
Universitas Kepausan Antonianum, 1974-1976. Dalam bidang Psikologi pendidikan
dan Pedagogik

Pekerjaan/Tugas
Pengajar dan pendidik di SMP Seminari Menengah Pius XII Kisol, 1972-1973
Pengajar dan Pendidik si SMA Seminari Pius XII Kisol, 1977-1981
Dosen pada APK Ruteng ( Akademi Pendidik Katekis) 1981-1986

Jabatan
Pembantu Prefek SMP Seminari Pius XII Kisol, 1972-1973
Prefek SMA Seminari Pius XII Kisol, 1977-1978
Rektor dan Direktur Seminari Menengah Pius XII Kisol, 1978-1981
Wakil Provinsial SVD Ruteng, 1978-1982
Direktur APK Ruteng, 1981-1982
Provinsial SVD Ruteng, 1982-1986
Uskup Weetebula : diangkat menjadi Uskup oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1986, ditahbiskan 25 April 1986.
Uskup Maumere : Diangkat Oleh Paus Benediktus XVI, 19 Januari 2008

Jabatan di KWI ( Konferensi Wali Gereja Indonesia)
a. Anggota Dewan Moneter KWI, 1988-sekarang
b. Bendahara KWI/ Ketua Dewan Moneter KWI, 1994-2000
c. Bendahara KWI/ Ketua Dewan Moneter KWI 2006-

Motto Imamat : Tuhanlah kekuatanku, madahku dan keselamatanku (Mzm. 118:14).
Motto Uskup : Ut Omnes Unum Sint = Supaya Semua Orang Bersatu (Yoh . 17:21)

Harian FloresStar Minggu, 21 Agustus 2011 halaman 1

Fosil Gajah Ditemukan di Mata Menge Ngada

Fosil Gajah dari Cekungan Soa
BAJAWA, FS -- Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bersama Tim Geologi Bandung serta peneliti dari Australia menemukan beberapa fosil gajah di situs Mata Menge, Desa Menggeruda, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Fosil yang ditemukan terdiri dari scapula (tulang belikat) fosil RIB (tulang rusuk) fosil gading, fosil pelvis (tulang pinggul), fosil vertebrae atau tulang belakang. Sebelum dibawa ke laboratorium di Jakarta, temuan ini dipresentasikan kepada pemerintah Kabupaten Ngada di Bajawa, Selasa (19/7/2011).

Seperti disaksikan FloresStar, dalam presentasi di Aula Setda Ngada itu, temuan fosil dipaparkan sejumlah arkeolog, yaitu Drs. Imanuel Wahyu Saptono, M.Hum, Drs. Jatmiko, M.Hum, Dr. Ery Setyabudi dan Prof. Mike Morwood dari Australia. Presentasi disaksikan Bupati Ngada, Marianus Sae, Wakil Bupati Paulus Soliwoa, Ketua DPRD Ngada Kristoloko, pimpinan SKPD dan anggota DPRD Ngada.


Dr. Ery Setyabudi menjelaskan, fosil-fosil yang ada di cekungan Soa adalah fosil jenis pigmy tegodon yang berasal dari buaya dan tikus besar yang hidup sejak 800.000 tahun yang lalu.

Bupati Ngada, Marianus Sae mengucapkan terima kasih kepada peneliti atas hasil kerja mereka yang berhasil menemukan fosil gajah di cekungan Soa. Temuan baru tersebut bisa menjadi kebanggaan masyarakat Ngada yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bupati Marianus berharap temuan tersebut bisa menjadi aset daerah sehingga tidak dibawa ke daerah lain.

“Saya minta hasil temuan itu disimpan di Kabupaten Ngada sebagai asset daerah sehingga generasi penerus Kabupaten Ngada tidak hanya mengenal nama saja tetapi bisa melihat secara langsung fosil-fosil tersebut,” pinta Marianus.

Menanggapi permintaan Bupati Ngada, tim arkeolog dan geologi menyetujui hal itu dengan syarat Kabupaten Ngada harus memiliki museum situs untuk menyimpan alat-alat purbakala. Menurut tim peneliti, fosil-fosil tersebut akan dibawa ke laboratorium di Jakarta untuk pembersihan dan perawatan khusus agar fosil tetap awet. Perawatan fosil membutuhkan tenaga khusus dan biaya tinggi.
“Setelah museum situs dibangun di Kabupaten Ngada maka fosil tersebut dikembalikan. Kami bawa fosil ini untuk perawatan dan pembersihan di laboratorium,” jelas salah seorang anggota tim peneliti. (hh)

Ngada Bangun Museum

BERKAITAN dengan penemuan fosil yang sangat berlimpah di wilayah Kabupaten Ngada, pemerintah setempat berencana membangun museum situs daerah. Menurut Bupati Ngada, Marianus Sae pemerintah segera membangun situs yang representatif. Namun, sambil menunggu bangunan situs baru, pemerintah akan menggunakan gedung yang ada untuk menyimpan alat-alat purbakala.

Keberadaan museum, kata bupati, akan menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Ngada. Wisatawan akan mengunjungi situs tersebut untuk melihat benda-benda bersejarah seperti fosil, alat-alat purbakala atau artefak yang telah berusia ribuan tahun. “Temuan ini menjadi salah satu kekuatan daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata,” kata Bupati Marianus Sae.

Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Kristoforus Loko menambahkan, DPRD memberikan dukungan politis untuk membangun museum itu. Berkaitan dengan rencana pemerintah membangun situs di Ngada, Loko mengharapkan agar Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengirim beberapa tenaga ahli untuk membantu pemerintah daerah dalam hal merawat peralatan purbakala. (hh)

Harian FloresStar Minggu, 24 Juli 2011 halaman 1

Tentang Flobamora

Pria-pria Nusa Bunga
berderap perkasa bagai kuda jantan...
Bergerak lincah bak kijang sabana..
Wajah mereka magnetis seperti Kelimutu
Kharismati​s mendayu ibarat Laut Sawu
Para perempuan Nusa Nipa bernapas dengan cinta semesta.
Menari seelok liukan angin tenggara..​ Tersenyum seindah rona cakrawala.​.

Tentang korupsi, mereka satu kata:
Tidak!
Karena pejabat tak berarti jadi kaya.
Karena pemimpin tak mesti kumpul harta.



"Tidak" bukan cuma sebutir kata, bukan.
"Tidak" pada korupsi mesti merasuk raga.
Menjadi pendar api di sukma,
Berkobar pantang padam,
Menjalar dari jiwa ke jiwa
Dalam pelukan cinta untuk bangsa..

Flobamora,
Derita panjangmu cukuplah sudah.
Aku ingin menatap wajahmu bersinar,
Tubuhmu berbalur aroma cendana
Tak lagi habis darahmu disantap malaria,
Bukan cuma jadi obyekan para investor raya,
Mereka yg gagah datang dan pergi tanpa cinta,
Membangun kerajaan sambil membiarkan​ dikau nista dan papa...

Wahai,
Para pria Timor yg berjiwa ksatria
Matamu setajam elang merobek angkasa,
Dadamu bidang, kokoh menerima hempasan badai dan topan,
Berdirilah​ tegak menahan tsunami korupsi,
Yang bikin negeri hancur jatidiri..
Para dara Nusa Cendana,
Tak cukup lagi gemulai menari Likurai,
Tapi tiuplah api keberanian​ di dada kami,
Berdoalah bagi para pejuang sejati,
Mereka yg tak peduli dengan kursi,
Karena kekuasaan tak pernah abadi...

Aku rindu merengkuh Tanah Sumba,
Mendengar rintihan kembang sabana,
Mereka yg belum tersentuh kemajuan zaman,
Atau ketakutan tanahnya dirajam deru pembanguna​n tanpa angkat martabat,
Aku ingin berteriak saat gelar Pasola,
"Hei dengarkan,​ aku keturunan leluhur agung,
Lemparkan tombakmu ke arah musuh, Mereka yg menjarah Bunda Pertiwi di bawah langit lembayung,
Bukan untuk membunuh,
Tapi agar tanah ini kian maju,
Nama leluhur kami tak ditelan waktu,
Dan anak-anak kami tetap bangga punya kuda Sandelwood​..."

Oooh, Rote Ndao, letakmu di bibir samudera,
Pratanda keluasan dan keluhuran jiwa,
Kecil tapi menawan di gerbang Nusantara,
Iya, engkau bukan sekadar pulau,
Tapi hidungnya Indonesia di depan Australia:​ mancung dan gagah, siapa berani lawan???

Dan, Tuhan..
Terima kasih utk Sabu Raijua..
Engkau pasti senyum lebar saat bikin ini kembang di tengah laut luas..
Para gadisnya memendar pesona,
Terlukis di wajah eksotis dan keindahan tenun ikat,
Pria-pria berotot keras dengan ketangguha​n jiwa-raga,

Mari kita bangun kembali Flobamora!
Baku pegang tangan,
Baku gamit hati,
Baku jaga nama,
Kita mesti satu dalam segala
Untuk kebaikan bersama,

Flobamora,
Satu untuk Indonesia!

Matraman, 26 Juli 2011
Valens Daki-Soo

Oepoi

IZINKAN beta bergumam tentang sekilas wajah bola. Sekilas wajah bola di kampung halaman tercinta, Flobamora dalam sepekan yang baru lewat. Beta mulai dari sudut Stadion Oepoi, Kupang, tak jauh dari GOR Flobamora yang hari-hari ini sedang bergelora lewat permainan bola hebat berlabel kejuaraan Gubernur Cup 2011. Pemain bercucuran keringat, penonton senang tak terkira.

Senang sekali melihat Kupang terus bergeliat dalam urusan sepakbola, baik sepakbola lapangan besar maupun lapangan kecil bernama futsal. Futsal patut dicatat khusus karena telah menorehkan perkembangan dashyat. Dari tiada menjadi ada. Futsal sudah menjadi idola baru di kota ini. Laga futsal ada di mana-mana, mulai dari lorong gang kampung hingga kampus-kampus. Dari laga antarkelurahan sampai level klub tingkat propinsi.

Terima kasih buat mereka yang selama ini bekerja dengan hati memajukan futsal Kota Kupang dan NTT. Kepercayaan badan futsal nasional terhadap NTT menjadi tuan rumah babak prakualifikasi PON 2012 wilayah Nusra bulan Juli mendatang merupakan bukti bahwa Flobamora pun bisa! Kita sudah meraih kepercayaan itu. Salut!


Di lapangan luas, Kupang pun mulai menuai hasilnya, antara lain merebut juara El Tari Memorial Cup tahun silam setelah sekian lama miskin gelar dan selalu berada di bawah dominasi tim-tim asal daratan Flores, bahkan Sumba. Kompetisi perserikatan lokal Kota Kupang pun sudah berjalan rutin. Stadion Oepoi tak henti-hentinya bergetar oleh teriakan histeris penonton, tawa dan juga tangis. Ya, sudah seharusnya begitu. Sebagai ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang mesti menjadi barometer sepakbola dan juga bidang hidup lainnya.

Sekarang Oepoi lagi-lagi berpesta. Ribuan penonton memadati stadion itu setiap petang menyaksikan laga sepakbola Gubernur NTT Cup 2011. Awal mendengar kemudian menikmati kejuaraan itu, hatiku riang tak terkira. Kompetisi rutin menunjukkan pengurus PSSI bekerja sungguh-sunguh. Konsisten. Cuma batin sontak terusik melihat wakil Kota Kupang bernama Kosgoro 57. Sungguh mati beta terkejut karena nama itu terasa asing. Boleh jadi beta yang kurang gaul. Kurang mengikuti perkembangan terkini klub bola di kota ini sehingga merasa asing sendiri? Maafkan beta jika salah.

Ke mana gerangan klub juara kompetisi PSKK? Mengapa bukan tim juara atau runner-up kompetisi perserikatan Kota Kupang yang menjadi wakil di kejuaraan Gubernur Cup 2011 atau kumpulan pemain terbaik hasil seleksi dari klub-klub asuhan PSKK?

Bukankah Kosgoro itu nama ormas? Kalau benar sebuah ormas bisa membentuk "klub dadakan" serta gonta-ganti nama dan dipercaya menjadi wakil Kota Kupang, terus bagaimana nasib klub perserikatan PSKK yang mengelola klub sejak lama dengan penuh pengorbanan?

Kalau benar ormas bisa diusung untuk nama klub, baiklah dalam kejuaraan Gubernur Cup berikutnya beta usul agar nama tim naik setingkat lebih tinggi. Pakai saja nama partai biar lebih ramai, lebih seru dan lebih dashyat bobot kompetisinya. Misalnya kesebelasan Golkar 100 Kota Kupang, PDIP 200 Timor Tengah Utara, Gerindra 300 Kabupaten Kupang, Demokrat 400 Manggarai Barat, Hanura 500 Sumba Timur, PKB 600 Flores Timur, PAN 700 Ngada dan seterusnya.

Bayangkan tuan dan puan kalau itu sungguh terjadi. Kompetisi niscaya lebih ramai dari biasanya dan para politisi bakal tumpah ruah ke stadion menonton tim kesayangan mereka masing-masing. Anggap saja kompetisi tersebut sebagai pemanasan menjelang pemilu kada di Kota Kupang, Pemilu Kada NTT tahun 2013 serta Pemilu Nasional 2014 mendatang.

Tapi ah.. sudahlah. Jangan dipikirkan terlalu serius, kawan! Beta percaya pengurus cabang PSSI Kota Kupang dan pengurus propinsi PSSI NTT tentu lebih paham soal aturan main dan punya pertimbangan sendiri yang masuk akal dan hati sehingga nama Kosgoro 57 masuk sebagai salah satu kontestan dalam kompetisi Gubernur Cup musim ini. Toh apalah arti sebuah nama? Yang penting bisa bermain bola. Yang utama agenda kompetisi berjalan. Anggap saja gumamanku sebagai angin lalu. Sekadar gumaman penggemar bola di bibir lapangan. Beta kutip komentar seorang penonton saat menonton laga Persena Nagekeo pekan lalu. "Aue.. ini pemain hampir semua dari Kota Kupang ko..." Apa iya? Walahualam.

Sebagai penggemar bola, impian beta simpel saja. Silakan saja Indonesia karut-marut mengurus bola. Biarkanlah PSSI di level nasional amburadul karena salah urus. Toh pasti ada orang lain yang akan mengurus benang kusut itu. Kita yang hidup di beranda kampung ini mestinya bisa memberi teladan yang baik. Biar di kampung, walau prestasi sepakbola kita sayup-sayup, tapi kita urus dia bae-bae. Punya nilai dan harga diri. Ikut aturan main. Menjunjung tinggi fair play.

Geliat persepakbolaan di Kota KASIH sedang bagus-bagusnya. Dia terus bertumbuh. Bertumbuh dan berbiak. Kasihan sekali kalau keburu remuk karena salah urus. Bila tidak segera diperbaiki dengan niat baik, maka bersiaplah menerima prahara ini. Nila setitik merusak susu sebelanga. Panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Bola mengajarkan sikap ksatria. Kalau saja salah langkah, mengapa tidak mengakuinya? (diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang, Senin 27 Juni 2011 halaman 1

Mengambang, Agenda Aksi Penanggulangan Bencana

Susana Diskusi di Redaksi Pos Kupang (foto Alwi)
KUPANG, PK --- Agenda aksi pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana alam di NTT belum maksimal dan masih mengambang. Meski demikian, sikap tanggap darurat dari pemerintah dan masyarakat sudah ada. Yang masih dibutuhkan adalah sosialisasi peraturan daerah (perda) tentang penanggulangan bencana alam secara terus-menerus oleh pemerintah dibantu LSM dan media massa.

Demikian intisari diskusi dan sharing pengalaman antara para awak redaksi Pos Kupang dengan para peserta study tour dari Oxfam beserta mitranya dari Timor Leste yang didukung Perkumpulan Relawan CIS Timor dan PMPB, di ruang rapat Redaksi SKH Pos Kupang Jalan Kenari 1, Naikoten 1, Kupang, Rabu (22/6/2011) siang.


"Agenda aksi pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana alam di NTT masih mengambang. Memang sudah ada aksi-aksi nyata lainnya namun belum maksimal dan bantuan terlambat sampai ke lokasi bencana dan target," tandas Dion DB Putra, Pemred SKH Pos Kupang, didampingi Redpel, Tony Kleden. 

Dion mencontohkan bencana paling sederhana, yaitu bencana kebakaran. Pemerintah dan institusi yang menangani bencana kebakaran terlihat setengah hati. 

"Sudah habis terbakar baru mobil pemadam tiba di lokasi. Ditanya alasannya, mereka bilang tidak ada BBM dan terpaksa mengutang eceran solar di pedagang kaki lima (PKL). Ini kan ironis," katanya.

Dalam bagian lain penjelasannya, Dion mengatakan dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun terakhir, ada tiga krisis yang dihadapi rakyat NTT, yaitu krisis pangan, krisis air dan krisis energi. "Bahkan dalam dua tahun terakhir, ada bencana lain lagi, yaitu gagal tanam. Ini yang sangat parah," kata Dion.

Bagaimana SKH Pos Kupang menyikapi soal ini, Dion mengatakan kebijakan redaksional mengharuskan wartawan untuk membuat tulisan yang isinya memberikan warning kepada pemerintah tentang bencana apa yang bakal terjadi. 

"Selain peringatan, juga kontrol dari media massa sangat penting. Misalnya mengawasi bantuan hingga ke lokasi dan korban bencana. Sebab ada gejala orang kaya baru setelah selesai bencana. Ini harus benar- benar diawasi," tandasnya.

Tentang krisis pangan, Dion mengatakan banyak faktor penyebabnya, di antaranya anomali cuaca dan perubahan iklim. Jika tidak ada tanggapan terhadap perubahan iklim yang drastis itu dan tidak diberitakan media massa, maka pemerintah dan LSM yang bergerak di sektor pengembangan pangan juga akan kewalahan mencari strategi kebijakan untuk mengatasi bencana kelaparan yang mengancam.

"Faktor lain lagi, sistem pengembangan pertanian yang uniform, tidak menghormati potensi dan kearifan lokal. Hal ini terjadi sejak pemerintahan orde baru. Ada anggapan yang keliru bahwa pangan berarti beras. Padahal di Timor, pangan identik dengan jagung dan ubi-ubian. Akibatnya petani NTT, khususnya di Timor ramai-ramai menanam padi. Petani di Timor kehilangan orientasi. Mereka bingung karena sistim uniform ini sangat kacau dan berdampak sangat luas," kata Dion.

Dia menambahkan, media massa dan LSM memiliki tanggung jawab moril untuk melakukan pencerahan soal ini.

Menjawab pertanyaan peserta apakah ada tim khusus yang disiapkan SKH Pos Kupang dalam program tanggap darurat bencana, Dion menjelaskan masyarakat NTT sedikit lebih melek media massa dan sangat kooperatif. "Tidak ada tim khusus. Tapi bila ada bencana alam, masyarakat lebih dulu memberitahu wartawan, baru polisi dan pemerintah. Ini kondisi yang bagus dan sangat membantu," katanya. Berdasarkan informasi pertama itu, wartawan terjun langsung ke lokasi bencana dan memberitakan secara lugas dan langsung.

Sementara itu, Direktur CIS Timor, Winston Rondo, melalui stafnya, Hans Oematan, menjelaskan tujuan study tour ke Pos Kupang adalah untuk berbagi pengalaman tentang penyebaran informasi yang terkait dengan kerja kesiapsiagaan, respon darurat dan upaya pengurangan resiko bencana di NTT. 

"Juga berbagi strategi Pos Kupang dalam penguatan kapasitas internal dan eksternal dalam memahami kerja kesiapsiagaan, respon darurat dan pengurangan resiko bencana dalam rangka meningkatkan kualitas informasi untuk advokasi," kata Oematan. (ade)

Pos Kupang, 23 Juni 2011 halaman 5

Siami

Usir, usir... dia dari kampung ini.
Usir orang yang tak punya hati nurani!

WANITA berkerudung biru di depan kerumunan massa itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maafnya yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. "Usir, usir...dia dari kampung ini. Usir orang yang tak punya hati nurani!"

Itulah selaksa peristiwa menyayat hati di Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya hari Kamis 9 Juni 2011. Siami tak menyangka niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Dia diusir warga Gadel Sari Barat gara-gara ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011. Berlaku jujur malah buntung!




Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, mengutuk tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang itu. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya. Permintaan maaf Siami tidak melembutkan hati massa yang keras mengaum sampai akhirnya polisi mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami masuk mobil polisi dengan pengamanan pagar betis. Ngeri!

Namun, massa tetap berusaha merangsek. Mereka sangat beranafsu mencabik-cabik tubuh ringkih Siami. Sejumlah orang bahkan sempat menarik-narik kerudung biru Siami hingga nyaris mencium bumi. Untunglah Siami berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes dan selanjutnya mengungsi ke kampung asalnya di Dusun Lumpang, Desa Sedapun Klagen, Benjeng, Gresik, Jawa Timur.

"Kami akan merasa tenang jika di Gresik," kata Saki, kakak Siami. Menurut laporan Kompas yang beta kutip, Al, putra Siami yang dipaksa guru memberi contekan kepada teman-teman sekelasnya sudah lebih dahulu diungsikan ke Benjeng setelah rumah orangtuanya didemo warga Gadel.

Siami dituding tak punya nurani. Lalu di manakah nurani? Bukankah nurani itu ada di setiap hati? Hati tuan dan puan pun beta. Ada di setiap hati kita. Pastilah karena bisikan nuraninya, Siami mengungkap praktik contek massal di sekolah putranya. Tapi kejujuran di zaman ini memang mahal, kawan! 

Pelaksanaan Ujian Nasional yang kini wajib sampai level sekolah dasar makin menunjukkan langkanya kejujuran di ini negeri. Ujian Nasional (UN) telah dimengerti seolah-olah indikator tunggal kualitas pendidikan bangsa. Maka orang pun tidak malu berdamai dengan realitas bernama cara instan dan jalan pintas. Yang penting tujuan bukan proses. Yang utama lulus, tak hiraukan cara lulus dengan menyontek atau katrol nilai.

Setiap musim ujian nasional tiba, semua berburu lulus dengan persentase setinggi-tingginya. Menguber seratus persen. Menggapai kesempurnaan. Gagal dianggap barang haram hingga tersibak hati yang rapuh ini. Guru mata pelajaan takut pada kepala sekolah, kepala sekolah takut pada kepala dinas PPO, kepala dinas PPO takut bupati, bupati takut gubernur, gubernur takut menteri, menteri takut presiden, presiden takut kehilangan pesona. Mereka takut gagal UN sehingga segala cara ditempuh. Baik pun tidak baik. UN mempertaruhkan jabatan. Betapa banyak orang gundah menghadapi kemungkinan hilang jabatan, hilang posisi, hilang kemewahan dan kenikmatan duniawi. Menipu lalu dianggap halal. Inikah bangsa yang bermartabat? Pendidikan bangsa ini telah disederhanakan sekadar hasil UN. Mengabaikan perlunya pembentukan akhlak mulia, otak cerdas sekaligus hati yang berjiwa besar.

Di sudut hatinya yang paling bening, warga sekampung yang membenci Siami tentu tak setuju contekan massal. Tapi benak mereka mungkin bergumam serentak. "Betul itu salah tetapi sudah lumrah terjadi di banyak tempat. Mengapa melawan arus? Yang lalu biarkanlah berlalu, yang penting anak-anak lulus, tidak mengulangi ujian atau tahan kelas VI." Di zaman yang mementingkan angka-angka ini, suara mayoritas selalu menang meskipun salah. Siami dipandang sok jujur. Sok pahlawan. Dia pantas dijadikan kambing hitam. Kambing hitam yang mesti disembelih. Harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

Hasil investigasi tim independen menemukan bukti bahwa Siami benar tentang fakta contekan massal. Al memang diintimidasi guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup bukti sehingga UN di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen tidak menemukan hasil jawaban UN yang sistemik sama, dan nilai UN pun hasilnya berbeda. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar. Dan, kawan-kawannya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al sehingga hasil ujian tidak sama.

Hari Sabtu 18 Juni 2011, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur merilis hasil mencengangkan. Seluruh 60 murid kelas 6 SD Negeri Gadel 2 Surabaya lulus. Lulus 100 persen. Hebat! Kasihan Siami. Dia telah menjadi korban karena kejujurannya. Tapi Indonesia mesti berterima kasih kepada ibu ini. Dia mengingatkan tentang prahara kehidupan: Demi tujuan orang bisa menghalalkan segala cara. Siami membuka mata betapa kita sesungguhnya hidup di tengah masyarakat yang sakit!

Salah satu ciri masyarakat sakit, menurut kaum bijak bestari, adalah masyarakat yang tak berani lagi melawan arus. Diam melihat penyimpangan. Bisu mencicipi kesewenangan. Lima puluh sembilan orangtua/wali murid kelas 6 SDN Gadel Surabaya tahu anak-anak mereka menyontek. Tetapi mereka memilih diam karena mereka merasa mendapat keuntungan. Ketika si penjahit Siami bersuara, dia dinistakan. Siami menyulam kejujuran di tengah badai kemunafikan. Dia terlindas.

Dalam keseharian, tuan dan puan mungkin sadar sesuatu itu salah. Tetapi tuan pasti berpikir seribu kali. Kalau tuan lemah jangan coba-coba melawan. Lebih baik ikut arus daripada terpinggirkan. Mengoreksi bisa merusak karier. Lebih baik ABS. Lebih baik loyal buta. Membeo. Membebek saja.

Inilah zaman di mana semua seorang anak merasa berhak lulus atau naik kelas di akhir tahun ajaran. Tidak perlu belajar, tak perlu tikam kepala melahap teori dan mempratikkannya. Persoalan besar bangsa kita adalah erosi budi pekerti. Aih, negeri ini membutuhkan Siami. Terima kasih Siami. (diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang, Senin 20 Juni 2011 halaman 1

Tewas Terkepung dalam Bak Air

KUPANG, PK -- Dua orang tewas terkepung api dan asap tebal di dalam bak air kamar mandi, saat kebakaran menghanguskan gudang Meubel Avia di Kelurahan Penkase Oeleta, Alak, Kota Kupang, Senin (20/6/2011) dini hari.

Dalam kejadian itu, sebelas orang lagi mengalami luka bakar serius di tubuhnya. Para korban adalah karyawan meubel milik Samin.


Kedua karyawan itu tidak berhasil menyelamatkan diri saat kebakaran terjadi. Diduga keduanya terkepung kobaran api dan akhirnya memilih masuk kamar mandi dan menceburkan diri ke dalam bak air. Kuat dugaan, keduanya tewas karena sesak napas akibat kepungan asap tebal dan kepanasan.

Sedangkan 11 rekan mereka berhasil meloloskan diri meski sudah terluka serius akibat sambaran nyala api. Para korban dilarikan ke beberapa rumah sakit di Kota Kupang.

Informasi yang dihimpun Pos Kupang, Senin (20/6/2011) pagi, menyebutkan, dua korban tewas itu adalah Muntasib (40) dan Khomsin (38), warga Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sementara sebelas karyawan terluka bakar yakni dua dirawat di Rumah Sakit Wirasakti, yaitu Irwansyah (35) dan Wisanggeni (31). Yang lainnya dirawat di RSU Prof. Dr. WZ Johannes, yaitu Arif (27), Ahmad Tari (26), Muh Rosyidi (25), Abdul Rohim (27), Basori (41), Sunarto (39), Abdul Rohim (38), Muh Isnung (31) dan Muh Kholili (28).

Kebakaran gudang meubel beraset Rp 20-an miliar itu bermula ketika api membakar salah satu ruangan di gudang tersebut, Senin (20/6/2011) sekitar pukul 02.00 dinihari. Sebab-sebab kebakaran belum diketahui pasti.
Hendy, menantu pemilik meubel, mengatakan api begitu cepat menjalar dan menghanguskan bangunan gudang berukuran 50 x 40 meter itu. Pasalnya di dalam gudang itu tersimpan spon, plastik, kayu dan kain. Apalagi rangka atap gudang dari kayu membuat api segera merambat ke atap seng. Tak satu pun barang dalam gudang itu yang berhasil diselamatkan. 

"Saya mengetahui setelah ada orang yang berteriak kebakaran. Tak berapa lama kemudian saya melihat karyawan yang bekerja keluar dari gudang itu," kata Hendy sambil mengatakan sekitar 20-an karyawan yang tinggal di gudang tersebut. 

Ia menduga sumber api berasal dari hubungan arus pendek listrik di salah satu ruangan di gudang tersebut. Apalagi beberapa hari terakhir tegangan listrik naik turun. Padahal, kapasitas listrik yang masuk ke gudangnya mencapai 10.000 watt.

Korban luka ringan, Abdul Rohim (38) dan Muh Isnung yang ditemui di RSU Kupang, mengaku tidak mengetahui pasti sumber api yang menghanguskan gudang meubel itu. Saat kaget dan bangun dari tidur, api sudah mengepung dari berbagai sisi. Tak pelak keduanya berlari mencari tempat teraman untuk menghindari amukan si jago merah.

Beruntung beberapa rekannya berhasil menjebol tembok samping gudang dengan palu yang ada. 
Pantauan Pos Kupang di lokasi kebakaran, sekitar empat lobang besar di tembok yang dijebol karyawan untuk melarikan diri. "Saya mau ke depan ada api. Ke belakang juga dihadang api. Saya langsung menuju kamar mandi. Di sana saya sudah ada teman-teman yang berendam di bak mandi menghindari amukan api," tutur Abdul.

Kepala Urusan Kedokteran Kepolisian RSB Bhayangkara, dr. Irman, yang ditemui terpisah mengatakan dua korban tewas lantaran terlalu banyak menghirup gas karbon yang berasal dari kepulan asap. Keduanya ditemukan di salah satu bak kamar mandi di gudang tersebut. 

"Luka bakar hanya kami temukan di bagian kepala, tangan dan telapak kaki saja," ujar Irman.
Irman mengatakan usai divisum, jenazah korban diterbangkan ke Jawa, Senin (20/6/2011) siang. Dua jenazah langsung dijemput keluarga di Bandara Juanda Surabaya untuk dibawa ke kediamannya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. 

Pantuan Pos Kupang di lokasi kebakaran, tampak gudang yang ludes terbakar itu sudah dipasangi garis polisi. Dua mobil di gudang itu, juga turut hangus terbakar. Di dalam gudang hanya ditemui tumpukan besi dan kaca-kaca. 

Selain aparat kepolisian, petugas PLN terlihat memutuskan jaringan kabel listrik yang masuk ke kompleks gudang. Sementara petugas pemadam kebakaran masih terus menyemprotkan air di beberapa titik yang masih mengeluarkan kepulan asap. (aly)



Jebol Tembok untuk Selamatkan Diri

SEBELAS karyawan berhasil menyelamatkan diri setelah berusaha menjebol tembok samping gudang saat kobaran api dan asap mengepung mereka. Kepanikan luar biasa melanda mereka saat gudang Meubel Avia di Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang, terbakar, Senin (20/6/2011) dinihari. 

Beberapa karyawan yang ditemui di Instalasi Gawat Darurat RSU Johannes-Kupang, melukiskan kepaikan luar biasa melanda mereka saat nyala api dan asap tebal mengepung mereka di kompleks gudang yang hanya memiliki satu pintu keluar itu.


Dalam kepanikan mereka berusaha menjebol tembok karena pintu keluar sudah dikepung kobaran api. Meubel itu tak ada pintu samping maupun belakang.
Untuk menyelamatkan diri, para karyawan berlari menuju tiga kamar mandi yang ada di gudang tersebut. Beberapa karyawan berebutan berendam dalam air di tiga bak kamar mandi untuk menghindar dari amukan api. Sementara yang lainnya mengambil palu menjebol tembok samping.

"Kami ada yang bersembunyi di bak kamar mandi dan ada yang menjebol tembok. Setelah tembok jebol, satu per satu kami keluar dari gudang dan ada beberapa karyawan menolong teman lainnya yang berada di bak kamar mandi," kata Abdul Rohim, salah satu korban luka bakar ringan.

Muh Isnung, korban lainnya, mengaku sempat pingsan setelah berusaha menolong rekan kerjanya di dalam gudang. Ia pingsan lantaran terlalu banyak menghirup asap. Sementara dua rekannya, Muntasib dan Khomsin tewas lantaran terjebak di bak kamar mandi saat kobaran api makin menjadi di gudang tersebut.

Samin, pemilik gudang meubel Avia yang ludes terbakar itu, tampak saat ditemui di rumahnya, kemarin. Pria asal Makassar itu sesekali memandang ke arah gudangnya yang kini hanya tinggal puingnya saja. Gudang itu terletak di samping rumahnya. 


"Silakan bapak langsung ke menantu saya yang menggunakan kaos biru bertuliskan Yogya itu," ujar Samin yang masih belum bersedia diwawancarai.
Tak jauh dari Samin berdiri, di sebarang Jalan Penkase Oeleta, Hendy sang menantu, juga terlihat sibuk menelepon. 

Gudang itu baru saja diisi barang-barang dagangan senilai belasan miliar rupiah yang baru dipasok dari pulau Jawa, minggu lalu. "Kalau gudang kosong, kerugian tidak akan sampai 20-an miliar rupiah. Dalam gudang itu ada sekitar 2.000-an spon dan 800-an spring bed yang baru kami datangkan dari Jawa," kata Hendy.
Kini, dia bersama mertuanya harus mulai dari awal untuk memulihkan bisnis mereka. (aly)

Kronologi:

Pukul 02.00: Api membakar salah satu ruang di gudang
Pukul 02.20 : Para karyawan berusaha menyelamatkan diri dengan menjebol tembok
Pukul 03.00 : Mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi 
Pukul 05.00 : Api bisa dijinakkan
Pukul 06.30 : Evakuasi korban tewas 

Pos Kupang, Selasa 21 Juni 2011 halaman 1

Tidak Ada Dana Pemeliharaan Situs di NTT

KUPANG, PK -- Pemerintah tidak pernah mengalokasikan dana untuk pemeliharaan benda cagar budaya (BCB) dan situs-situs sejarah di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena itu kondisi BCB dan situs- situs tidak terawat dan kehilangan makna.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi NTT, Abraham Klakik, yang dikonfirmasi melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Rafael Daud Ga, SE, Senin (20/6/2011).


"Selama ini, dana pemeliharaan tidak ada, kecuali dana untuk honor para juru pelihara BCB dan situs. Mungkin ini yang membuat BCB dan situs terkesan tidak dipelihara secara optimal," katanya.

Dia menjelaskan, penetapan status sebagai BCB dan situs bersejarah dilakukan setelah dilakukan survai oleh tim yang di dalamnya ada unsur arkelogi dan intansi terkait lainnya. BCB dan situs ini berupa benda, bangunan, struktur, situs atau kawasan sebagai cagar budaya. 

"Namun tidak semua yang termasuk unsur itu bisa ditetapkan sebagai BCB atau situs untuk didaftar pada buku register. Ada beberapa syarat atau kriteria yaitu sudah berusia di atas 50 tahun, mewakili masa gaya paling singkat 50 tahun dan memiliki arti khusus bagi sejarah dan budaya," jelasnya.

Rafael mengatakan, pemerintah perlu mengalokasikan dana untuk pemeliharaan BCB baik dari APBN maupun APBD. Pemeliharaan harus memperhatikan keaslian bentuk, tata letak, gaya, bahan atau teknologi. Pemeliharaan dilakukan untuk mencegah kerusakan dan pelapukan.

Rafael mengatakan, selama ini upah untuk para juru pelihara (jupel) BCB dan situs-situs sejarah di NTT hanya Rp 200 ribu/bulan, jauh di bawah standar upah minimum propinsi (UMP) di NTT.

Di NTT, sejauh ini, katanya, ada 73 jupel yang menjaga BCB dan situs-situs yang tersebar di 21 kabupaten/kota. "Jupel yang ada di NTT ditetapkan melalui keputusan Gubernur NTT No. 262/kep/HK/2010," katanya.

Menurut Rafael, upah itu sangat rendah sehingga tidak menutup kemungkinan sejumlah jupel harus mencari tambahan penghasilan selain menjadi jupel BCB.
"Kalau upah mereka dinaikkan, para jupel mungkin tidak cari kerja lain," katanya.

Dikatakannya, jika semua BCB dan situs dikelola dengan baik dan didukung dana yang cukup untuk pemeliharaan, maka keberadaan BCB dan situs bisa mendatangkan penghasilan bagi warga sekitar.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Daerah NTT, Drs. Leonardus Nahak mengatakan, situs-situs yang ada di NTT termasuk di Kota Kupang, tidak boleh dijamah atau diubah karena akan menghilangkan makna dari situs yang bersangkutan. Situs merupakan obyek yang tetap dan tidak bergerak sehingga hanya bisa dipelihara dan dirawat.

"Situs di NTT cukup banyak, namun banyak yang tidak diperhatikan. Situs ini obyek tidak bergerak dan bisa menjadi tujuan wisata. Karena situs bisa memberikan informasi tentang sejarah masa lampau," katanya. (yel)


BCB dan Situs di NTT

* Kota Kupang: Tugu Jepang, Gereja Kota Kupang, bunker Kolokaha, bunker Luan Mbena, makam Raja Taebenu

* Kabupaten Kupang : gua prasejarah Oenaek, Istana Raja Amarasi 

* Sabu Raijua : Kompleks megalitik dan tumah adat Mata Lolo Wini Raeawu, kompleks megalitik dan rumah adat Kolorai, kompleks megalitik dan rumah adat Dara Rae.

* Rote Ndao : Gereja Loaholu dan rumah Raja Thie JA Messakh.


* TTS : Tugu Peringatan Perang Kolbano, kuburan tentara Belanda, Kampung Tua Benteng None.

*TTU : Rumah adat Manumuti Kempah, kompleks Tau Leau Salneno dan rumah adat Sonaf Bikomi.

*Belu : Megalitik Fatulotu, megalitik Makuloon dan Makes, situs megalitik Loro Dirma, megalitik dan rumah adat Kewar.

* Alor : Rumah adat Mabur, rumah adat Pasing, rumah adat Langwa, masjid tua Lerabaing.

*Lembata : Kampung Lama Lewohala, keris pusaka Lamalera, kampung lama Lamaraing, rumah adat Suku Lejab dan rumah adat suku Wawin, tulang ikan paus.

Flotim : Kuburan tua, rumah adat Kalike, rumah adat Belogili, rumah adat Wailolong dan istana Raja Larantuka.

*Sikka : Gua Wisung Fatima, rumah adat Lepo Ria Kunu Mbengu, gereja tua St. Mikhael, rumah adat Lepo Kirek, peralatan tua untuk misa di Gereja M Imaculata, kaki candi, salib, monstrans, piala, siboripateno, jambangan, penggantung dan tabernakel.

* Ende : Rumah adat Koanara Moni, kampung tua Unggu, mumi Wolondopo, rumah adat Wiwipemo, rumah pengasingan Bung Karno, rumah adat Sao Ria Raja Nggaji.

* Ngada : Situs Matamengge-Soa, megalitik dan rumah adat Wogo, kampung tradisional Gurusina-Jerebu'u, megalitik dan rumah adat Bena-Jerebu'u.

* Nagekeo: Rumah adat Tua Pau, bunker Jepang di Kobafesa, Kampung Boawae, bunker Jepang peninggalan Perang Dunia II Oki Sato.

* Manggarai Timur: Situs Sambi Lewa

* Manggarai : Situs Compang Tenda. 

* Manggarai Barat: Situs Ponto, patung Batupong. 

* Sumba Timur: Rumah adat dan pusat tenun ikat Palumarang, Benteng Hama Parengu, megalitik Praiyawang, rumah adat Parengu Wunga.

* Sumba Barat Daya: Megalitik dan rumah adat Bondo Bukha, Kampung Bukumbani

* Sumba Barat : Megalitik dan rumah adat Tambera

* Sumba Tengah: Kampung Adat Padabar.
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi NTT. 

Pos Kupang, 21 Juni 2011 halaman 1

Situs Bersejarah di NTT Kehilangan Makna

Tugu Jepang di Penfui (foto: Hermina Pello, Juni 2011)
KUPANG, PK -- Meski memiliki nilai sejarah, sejumlah situs dan benda cagar budaya lainnya yang ada di Kota Kupang, luput dari perhatian pemerintah daerah. Benda-benda bernilai sejarah itu tidak terawat sehingga kehilangan makna.

Situs meriam kuno di Kelurahan Kelapa Lima, tugu Jepang di Jalan Antanov, Kelurahan Penfui serta pemakaman Raja Taebenu di RT 3 RW 1, Kelurahan Manutapen, adalah contohnya. Meski terletak di tengah permukiman warga, kondisi situs merim kuno itu sangat kotor. Hampir semua sisi meriam terdapat coretan dari pilox. Lantai areal situs pun banyak terkelupas.



Coretan juga menutup papan putih milik Departemen Pendidikan Nasional Kantor Budaya NTT yang menyatakan situs sebagai benda cagar budaya. Parahnya lagi, kawat duri yang mengelilingi situs itu sudah terkoyak sehingga memudahkan orang leluasa masuk ke arena situs.

Makam Taebenu (foto: N Florida, Juni 2011)
Kondisi yang sama terjadi juga dengan situs meriam kuno peninggalan Australia yang dijaga Anton Yeri Ngale (38), sejak belasan tahun lalu. Suami Magdalena Ngale-Nafi yang tinggal di RT 11/RW 05, Kelurahan Kelapa Lima ini setiap hari membersihkan areal dua situs meriam.

Kondisi situs tugu Jepang sedikit lebih baik, lebih bersih. Sebelumnya banyak ditumbuhi rumput, kini sudah dibersihkan sehingga tidak menghalangi pandangan ke arah situs. Situs tugu Jepang yang berundak-undak, berbentuk segi empat. Lokasinya dipagari kawat berduri. Pintunya dari besi, tetapi tidak terkunci. Jalan setapak menuju situs terbuat dari campuran semen. 

Bagian bawah situs terdapat enam tangga, kemudian di undakan pertama ada tujuh tangga untuk menuju ke undakan kedua yang juga memiliki enam tangga. Meski lokasinya bersih, namun situs tersebut terlihat tidak terawat karena dari cat putih sudah luntur, berubah menjadi kehitaman. 

Pemakaman Raja Taebenu lain lagi. Memasuki lokasinya, seolah kita ada pada lahan kosong. Lokasinya berada di atas ketinggian yang menyajikan pemandangan indah di sekelilingnya. Dari tempat makam, kita bisa melihat indahnya perairan Kota Kupang dan rumah-rumah penduduk.

Namun sayang, aset bernilai sejarah ini tampak kontras dengan keindahan panorama di sekitarnya. Kawasan ini terlihat tak terurus. Padahal di atas lahan seluas dua hektar tersebut terdapat bangunan tua yang merupakan saksi sejarah. Seperti makam batu yang berisi 13 Raja Taebenu yang konon dikubur bersama barang-barang berharga pada sekitar abad 16. Lalu ada pula dua makam istri raja yang dikubur berdampingan serta dua makam keluarga raja.

Sementara tidak jauh dari lokasi makam, terdapat puing-puing istana raja. Bentuknya sudah tidak utuh lagi dan hanya menyerupai fondasi rumah. Di atas puing-puing tersebut, tumbuh lebat pepohonan turi dan semak ilalang.

Menyusuri perjalanan sejarah dari Raja Taebenu semakin terasa lengkap ketika ada dua bongkahan batu hitam yang berjarak beberapa meter dari puing-puing tersebut. Menurut cerita, dua bongkah batu tersebut dulu dipakai sebagai tempat hukum pancung rakyat yang dinyatakan bersalah oleh raja.

Kuburan raja ini terakhir direnovasi pada tahun 2007 dan hingga kini tampak tidak terurus. Cat pada dinding kubur telah memudar dan dihiasi oleh coret-coretan tangan jahil. Prasasti pada pintu batu yang menuliskan keterangan mengenai 13 raja sudah tidak dapat terbaca lagi.

Kondisi serupa juga terlihat pada kubur para istri sang raja. Pagar dan atap sengnya sudah karatan. Bahkan di atas seng, ada beberapa buah batu yang diduga merupakan hasil lemparan dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Begitupun dengan jalan setapak yang juga tidak terurus. Beberapa semennya mulai pecah dan menyisakan kerikil tajam di sana-sini. Demikian pula pos penjagaan yang berada di pintu masuk. Termasuk dua papan nama informasi yang terbuat dari tripleks. Yang masih tersisa hanya tulisan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT, Jalan Soeharto Nomor 57 Kupang. Sementara yang satu lagi, malah tidak terlihat apa pun.

Kondisi yang memrihatinkan ini semakin diperparah dengan tumbuh suburnya ilalang di seluruh kawasan itu. Menurut juru pelihara, Dominggus Bapa mengatakan bahwa aset ini belum pernah dibenahi lagi. Proses rehabilitasi terakhir diakuinya hanya pada tahun 2007 lalu. Itu pun hanya pengecatan saja. 


"Saya hanya bertugas menjaga saja. Sementara untuk perbaikan renovasi itu sudah tanggung jawab pemerintah. Dulu makam ini di bawah pengawasan PPO Propinsi, namun sekarang sudah diserahkan ke Disbudpar Propinsi sejak tahun 2009," jelas Dominggu saat ditemui, Sabtu (18/6/2011).

Sekalipun tidak terurus, Dominggus Bapa mengatakan sudah ada beberapa wisatawan yang datang mengunjungi makam tersebut. Ia menambahkan, sejarah para Raja Taebenu ini diceritakan secara turun temurun dari masa ke masa. Sementara dokumen lengkapnya kini tersimpan rapi di museum Belanda. (ira/aly/ii)



Gua dan Bunker Jepang

Bungker Jepang di Nun Baun Delha (foto: Hermina Pelo)
SELAIN situs, ada peninggalan lainnya yang juga memiliki nilai sejarah. Di Kelurahan Nun Baun Delha, misalnya, ada lima gua peninggalan Jepang. Gua-gua itu juga tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

Tiga gua terdapat di wilayah RT 13 RW 07, letaknya saling berdekatan. Gua Jepang tersebut berada di pekarangan milik warga dan ketiganya masih meninggalkan besi tempat meriam di mulut gua. Dalam gua berkisar tiga sampai empat meter dengan lebar mulut gua hampir mencapai dua meter.

Di dalam gua yang berhadapan dengan mulut gua, terdapat semacam tembok yang tingginya sekitar 50 cm, sedangkan sisi gua alam dan tidak ada tembok. Di sisi kanan dari gua tersebut terdapat lubang atau terowongan. 

Gua yang terletak di lahan milik Keluarga Yacob di bagian depannya dan atas serta bagian kiri kanan terdapat tanaman yang disebut air mata broit. Sementara gua Jepang di pekarangan milik Ibu Helena Dara Nguru bagian depannya lebih bersih dan tidak ada tanaman. Helena Nguru, mengungkapkan pemerintah Kota Kupang tidak pernah memperhatikan gua tersebut.

"Kami tahu bahwa itu gua Jepang, dan anak anak sering bermain di dalamnya. Dulu ada semacam besi yang berada di mulut gua tetapi pada tahun 1980-an ada yang datang mengambil besi bagian atas sehingga sekarang ini hanya ada besi yang diduga sebagai tempat untuk menaruh meriam," ujar Helena Dara Nguru.

Selain di pekarangannya, ada juga gua yang terletak di pekarangan milik keluarga Jacob dan Diratome dan ada juga yang berada di RT lainnya. Jumlah semuanya ada lima gua. "Gua gua ini saling berhubungan satu dengan yang lainnya karena ada terowongan tetapi kami tidak pernah masuk ke dalamnya karena gelap. Kami tidak buat apa-apa terhadap gua tersebut," ungkapnya.

Selain gua, juga ada bungker atau benteng pertahanan yang dibuat tentara Jepang pada masa perang dunia kedua. Umumnya, bungker dibangun di dataran tinggi, menghadap ke laut. Bungker terbuat dari campuran semen. Sampai saat ini, kondisi bungker masih bagus. 


Bungker dibangun dari dalam tanah dan hanya bagian permukaannya yang sedikit tersembul keluar. Ada bungker yang dibangun dalam tanah dan seluruh bagian permukaannya tertutup tanah.

Setiap bangunan atau bentuk bungker dibangun dalam bentuk yang berbeda. Ada bungker yang hanya memiliki satu pintu masuk dan satu buah jendela dan bungker lainnya memiliki dua pintu masuk serta dua buah jendela, mirip seperti lubang angin pada bangunan rumah. 

Kelurahan Oesapa merupakan wilayah yang terdapat banyak bungker. Ada enam bungker. Dari enam buah bungker tersebut tiga buah bungker berada dalam satu lokasi yang sangat berdekatan. Dua bungker berada dalam tanah dan satu buah bungker lainya berada di sisi Jalan Adi Sucipto. Jarak antara tiga buah bungker hanya sekitar tiga meter.

Bungker di sisi Jalan Adi Sucipto memiliki satu pintu masuk dari depan dan memiliki dua buah lubang angin di bagian samping dan bagian belakang. Lebar dan tinggi pintu masuk sekitar 60 x 60 centimeter (cm). Sedangkan lebar dua buah lubang angin sekitar 20 x 20 Cm. Sementara lebar dan tinggi bungker sekitar 2 x 2 meter, sama lebar dengan bagian dalam bungker.

Pintu masuk bungker agak menjorok ke depan sekitar satu meter dari badan bungker. Dua bungker lainnya dibangun di dalam tanah. Bungker ini memiliki dua pintu masuk dan buah jendela. Untuk masuk ke dalam bungker ini harus turun ke dalam tanah, sekitar satu meter lebih. Jarak kedua bungker ini sekitar tiga meter lebih. Satu buah bungker lainnya berada di sisi jalan antara Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) dan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN). Kondisi bungker ini sama seperti bungker yang berada disisi jalan Adi Sucipto.

Satu buah bungker lainnya yang berada dalam tanah berada sekitar dua ratus meter dari depan SMAN empat Kupang. Bungker ini hanya memiliki satu pintu masuk tetapi memiliki dan buah jendela. Lebar jendela sekitar 40 x 40 meter. Untuk masuk ke dalam bungker ini harus turun ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar satu meter. Sementara satu buah bungker lainnya, berada sisi jalan masuk menuju SMAN empat, sekitar seratus meter dari Jalan Adi Sucipto. Bentuk bangunan bungker ini menyerupai bak air ukuran tiga kali dua meter. Dua buah pintu masuk ke dalam bungker berada di atas permukaan bangunan.

Sama seperti situs, bungker dan gua juga luput dari perhatian pemerintah daerah. Yang terlihat dalam bungker hanya batu-batu karang dan kotoran manusia yang sudah mengering. Sementara di bungker lainnya persis di pintu masuk tumbuh beberapa pohon yang menghalangi pintu masuk ke dalam bungker. (ira/den)

Pos Kupang, Senin 20 Juni 2011 halaman 1

Soeharto

Duar! Ada Ledakan Saat Makam Soeharto Digali
Bulu Kuduk Merinding...

MINGGU Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk angka 15.30. Azan Asar terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun redup kala itu, Matahari entah ke mana. Tak ada awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.

Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi yang bertujuan agar penggalian berjalan lancar. Yang memimpin Begug Purnomosidi, Bupati Wonogiri.



Lalu linggis dihujamkan ke tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula tikaman yang kedua. Namun, bulu kuduk sontak merinding saat linggis mengoyak tanah untuk kali ketiganya. "Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami," kata Sukirno, juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana Giribangun. Sukirno menceritakan kembali pengalamannya menggali makam Soeharto dalam buku Pak Harto The Untold Stories yang diluncurkan di Jakarta, Rabu, 8 Juni 2011. 

Menurut Sukirno, para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya kaget. Mereka berpandangan. Bingung. Coba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar itu. "Bukan bunyi petir, lebih mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun," katanya. Aneh. Tak ada yang porak-poranda, tak satupun benda yang bergeser karena ledakan itu. Mereka menduga itu suara gaib. Semua diam, terpaku. Lalu suara Begug memecah keheningan. "Bumi mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau," tutur Sukirno menirukan kalimat Bupati Wonogiri tersebut. 

Sukirno adalah satu dari 113 orang yang menceritakan kisahnya dalam Pak Harto The Untold Stories -- buku yang diluncurkan tepat pada peringatan kelahiran Soeharto ke-90 tanggal 8 Juni 2011 lalu. Peluncuran buku tersebut berlangsung hanya tiga pekan setelah masyarakat Indonesia dikejutkan dengan hasil survei lembaga Indo Barometer yang menunjukkan 36,5 persen responden (dari total 1.200) memilih Jenderal Besar Soeharto sebagai presiden yang paling disukai. Selanjutnya 20,9 persen memilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 9,8 persen memilih Presiden Soekarno, 9,2 persen memilih Megawati Soekarnoputri, 4,4 persen memilih BJ Habibie, 4,3 persen memilih almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Mayoritas responden juga menilai Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi. Hanya pada bidang hukum, Orde Reformasi dianggap lebih baik. Sementara pada banyak sisi kehidupan lain, terutama ekonomi dan sosial politik, dominan responden menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini. Masa kepemimpinan Soeharto lebih memuaskan. Wow! Karuan saja banyak yang sewot.

Reaksi keras datang dari Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Pemerintahan SBY-Boediono menegaskan, masa pemerintahan Orde Baru tidak bisa dibandingkan dengan kondisi saat ini karena suasananya jauh berbeda. Juga dipertanyakan validitas data serta metodologi survai Indo Barometer. Juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha menilai data responden membingungkan karena tidak dicantumkan secara detail subyek pertanyaan dan parameter yang lengkap. 
SBY sendiri pernah membandingkan zaman dia dengan Soeharto. "(Di zaman Soeharto) pemerintahan top down. Presiden bisa berbuat banyak," kata SBY. Dia juga membandingkan bisnis zaman Soeharto dengan saat ini. "Bisnis dulu bisa diatur dan ditata, belum berlaku otonomi daerah seperti sekarang ini," kata SBY.

Orang bisa berbeda pandangan merespons hasil survei tersebut. Dan, itu wajar saja. Yang pasti dalam keseharian tuan dan puan mungkin pernah menangkap suara-suara masyarakat yang merindukan kondisi stabil dan aman seperti di masa Orde Baru (Orba). Rakyat di level akar rumput tidak peduli apakah Era Reformasi lebih demokratis dibanding Orba. Ukuran mereka simpel saja yaitu bagaimana kemudahan mendapatkan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dengan harga terjangkau. Untuk urusan 'kampung tengah' alias perut ini agaknya masa Soeharto lebih mudah. Zaman Soeharto, Indonesia swa sembada beras. Impor pangan hampir nihil. Sekarang bahkan garam dapur pun impor. Begitu kira-kira persepsi umum di tengah masyarakat. Jadi bisa dimengerti bila ada yang kangen dengan Orde Baru. Dan, Orde Baru identik dengan Soeharto! 

Survei Indo Barometer pun menyeruak di tengah beragam keganjilan di ini negeri. Sebut misalnya kasus Bank Century, berbiaknya gerakan Negara Islam Indonesia (NII), pembakaran rumah ibadah, penyerangan tiada henti terhadap kelompok agama minoritas serta ingkar janji pemerintah terhadap sejumlah program pro rakyat yang oleh tokoh agama dilukiskan sebagai kebohongan. 

Survei itu juga bergulir di tengah drama politik yang menyakiti hati rakyat seperti studi banding, gedung mewah DPR, kasus anggota Dewan kepergok nonton video porno dalam rapat paripurna hingga kasus Partai Demokrat lewat M Nazaruddin yang masih berada di Singapura dan membangkang terhadap panggilan KPK dalam kasus proyek SEA Games 2011. Drama itu menambah rasa tidak puas masyarakat.

Begitulah tuan dan puan. Memori kolektif rakyat Indonesia seolah "lupa sejenak" bahwa Soeharto dan kepemimpinannya selama 32 tahun penuh kontradiksi. Mulai dari pengambialihan kekuasan tahun 1965, kasus G 30S PKI hingga jargon KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Meski banyak tuduhan, Soeharto tak pernah diadili sampai wafat 2008 atau sepuluh tahun setelah lengser keprabon. 

Buku Pak Harto The Untold Stories cuma mengisahkan sisi positif Soeharto. Lalu siapa yang akan menceritakan hal-hal kelam dari zaman itu? Bukankah sisi negatif mantan presiden bisa menjadi pembelajaran agar bangsa Indonesia jangan terperosok pada lubang yang sama? Bangsa besar ini agaknya belum dewasa. 

Benar peringatan Ikrar Nusa Bakti. Semua kenikmatan Orde Baru adalah hasil hutang luar negeri yang mesti ditanggung rakyat, penyerahan kekayaan sumber daya alam kepada asing serta mengebiri kebebasan hak asasi individu. "Kita jangan lupa bahwa stabilitas saat itu diperoleh dengan tangan besi. Di bawah pijakan sepatu lars, di ujung moncong senapan!" kata Ikrar. Seorang kawan menimpali. "Yang tidak kangen sama Orde Baru itu tidak punya hati. Tapi yang mau Orde Baru berkuasa lagi tak punya otak." He-he-he...(diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang Senin, 13 Juni 2011 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes