Jangan lupa bawa kondom

JULIUS Siyaranamual meninggal dunia di Jakarta, hari Senin 23 Mei 2005. Bagi murid-muridnya atau mereka yang pernah bekerja dengan almarhum, banyak kenangan indah yang membekas di hati. Om Julius dikenal unik, cerdas, kreatif dan keras dalam mendidik. Berikut penuturan mereka.

Yulius Lopo (Pemred Timika Pos)
HARI Senin (23/5), tepat pukul 09.51 WIT, saya mendapat SMS mengagetkan dari Paul Bolla yang isinya singkat, "Pak Julius Siyaranamual meninggal dunia tadi pagi jam 5." Setelah membaca SMS tersebut saya agak ragu dan mencoba menkonfirmasikan berita tersebut ke sejumlah teman, namun belum sempat, terdengar lagi SMS masuk dan ternyata dari Om Marcel Gobang yang isinya nyaris sama.

Lalu berturut-turut masuk SMS dari Ale (Surya), Dion DB Putra (Pemred Pos Kupang), Evie Pello (mantan wartawan Pos Kupang) dan sejumlah nomor HP yang tidak kenal siapa orangnya, yang isinya sama memberitahukan, "Guru kita Julius Siyaranamual telah meninggal dunia dan sementara disemayamkan di Kompleks Cemara Indah Tangerang, telp 021-5511766. Tolong teruskan ke teman-teman".
Bagi saya, Julius Siyaranamual merupakan sosok yang sulit dilupakan dalam dunia pers, khususnya di lingkungan Persda (kelompok pers daerah KKG). Beliau tidak hanya seorang wartawan senior yang keras pendirian, tapi juga guru bagi para wartawan yang sangat unik dan khas. Unik dan khas karena memiliki sifat dan sikap yang berbeda dari wartawan pada umumnya.
Patut dicirikan beliau sebagai salah seorang wartawan senior yang keras kepala dan egois. Dalam melihat dan menilai sesuatu, beliau sangat argumentatif. Selalu saja memiliki argumen yang sulit dikalahkan dengan argumen lain. Argumennya unik dan sulit menemukan argumen lain untuk mematahkannya. Beliau kaya ide dan selalu saja terkesan mau menang sendiri sehingga sepintas bisa dibilang beliau orang yang egois atau mau menang sendiri dalam melihat, menilai atau menyikapi sesuatu. Selalu membuat penasaran. Kesal dan terkadang juga jengkel. Tapi beliau tidak bisa dibenci karena sikapnya itu, karena beliau juga sosok yang perhatian, bijak dan pintar memberi solusi.
Sebagai seorang pendeta, beliau selalu mengajarkan murid-muridnya (calon wartawan) agar dalam menulis selalu meniru tulisan dalam Alkitab yang ringkas, singkat, padat kata-katanya dan jelas tujuan atau sasarannya. Sangat banyak ayat Alkitab yang beliau hafal dan sering digunakan dalam mengajar dan membimbing para calon wartawan. Ayat-ayat Alkitab juga sering dipakai dalam membina dan menasehati para wartawan, dan juga dalam membangun sebuah argumentasi terhadap sesuatu. Karena memakai ayat Alkitab, jadi sulit membantahnya kalau lawan argumentasinya tidak memiliki referiensi ayat Alkitab yang sebanding dengannya.
Sebagai manusia, beliau juga memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Bagi teman atau wartawan yang sudah agak akrab dengan beliau, beliau adalah seorang "tukang maki" walau makiannya tidak bermakna maki sungguhan. Seperti orang Timor umumnya, makian sering digunakan untuk menggambarkan kedekatan dalam berteman. Karena itu ketika Dion Bata Putra (Pemred Pos Kupang) meminta saya untuk menulis sesuatu tentang beliau, saya sempat bilang, yang paling saya ingat adalah kebiasaan beliau memaki-maki.
Namun setelah berpikir dan mengenang beliau lebih dalam, sebetulnya juga yang paling berkesan adalah cara mendidik dan nasehatnya yang khas Alkitabiah, pandangan dan raut mukanya yang tajam, cara merokoknya yang khas dan sambung-menyambung. Yang tak bisa saya lupakan juga adalah keterlibatan beliau upaya pencegahan HIV/AIDS dan bagaimana beliau mengajari dan mendidik para wartawan agar ikut menyebarluaskan bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat luas. Selamat jalan, semua murid pasti mendoakan dan berharap Om Julius mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.

Viktor Bhato (Redaktur Harian Timika Pos)
BAGI saya, yang sangat berkesan dari beliau ketika mendidik para calon wartawan adalah nasehatnya agar menulis mengikuti gaya tulisan para rasul dalam Alkitab. Saya selalu mengenang pesan Om Julius kepada saya, Hadmarus Waka (kini wartawan Polkam Harian Timika Pos), Marthinus Moru (kini Redaktur Ekonomi Harian Radar Timika) dan Mathias Masan Ola (kini Redaktur Kota Harian Tribun Kaltim) ketika hendak berangkat ke Timika setelah mendapat pelatihan di Pos Kupang pada bulan Juni 2000.
Om Julius yang juga aktivis/pakar HIV/AIDS itu meminta kami berempat untuk membawa kondom kalau berangkat ke Timika. "Pesan saya berbeda dengan Om Damy (Damyan Godho, PU Pos Kupang) dan Om Marcel Gobang. Saya hanya minta kalian yang ingin ke Timika agar jangan lupa membawa kondom," pesan Om Julius Siyaranamual ketika itu. Semula saya dan teman-teman tersenyum malu dan tidak mengerti mengapa beliau berpesan seperti itu. Tapi setelah tiba di Timika baru kami tahu, beliau berpesan seperti itu karena Timika merupakan salah satu daerah di Papua yang memiliki penderita HIV/AIDS cukup tinggi, tertinggi kedua setelah Merauke, Papua.

Tony Kleden (Redaktur Pelaksana Pos Kupang)
DI hadapan Om Julius, kekurangan dan 'kekecilan' sebagai seorang wartawan begitu terasa. Pengalaman sudah pasti jauh berbeda, karena terpaut umur yang jauh. Tetapi, di hadapan Om Julius, saya merasa sangat jauh jarak wawasan, elan vital, keingintahuan dan hasrat untuk belajar.
Itu sebabnya, umpatan seperti "Ah, tolol kamu! Salah itu" dan semacamnya, merupakan sesuatu yang telah biasa di telinga ketika berbincang-bincang dengan Om Julius. Seperti rokoknya yang jarang lepas dari bibirnya, seperti itulah Om Julius jarang membiarkan otaknya berkelana hampa, menerawang tanpa arah dan tujuan. Ada-ada saja ide yang keluar dari bibirnya itu. Dan, dari ide-ide dan pikiran yang dilontarkannya, jelas kalau Julius seorang generalis sejati ketika banyak wartawan mulai cenderung menjadi seorang spesialis. Kepergiannya, bagi saya tidak cuma menghapur satu nama deretan wartawan NTT, tetapi juga kehilangan seorang seniman wartawan. **

Data diri
Nama: Julius Siyaranamual
Lahir: Sumba Barat, 21 September 1944

Pendidikan:
- SR di Sumba Barat dan Makassar, Sulawesi Selatan
- SMP Negeri 1 Kupang
- SMA Katolik Syuradikara-Ende
- Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, tamat tahun 1969.

Pekerjaan
- Karyawan Gakowan
- Wartawan beberapa surat kabar di Jakarta
- Wartawan Harian Surya, Surabaya
- Pemimpin Redaksi Majalah Kawanku
- Penyair, sastrawan Indonesia
- Pakar HIV/AIDS

Keluarga
Ayah: Marthen Daniel Siyaranamual
Ibu : Yuliana Yuli-Bolodadi

Julius Siyaranamual menikah tahun 1970 dengan Theresia S Yansen, seorang penulis dan dikarunia empat orang anak masing-masing Ani, Demi, Upi dan Intan. Terakhir tinggal di Tangerang, Banten.


Gaji pertama beli kue senyiru

Mengenang Julius Reinhard Siyaranamual
Oleh Alfred Dama

SATU persatu anggota rumpun keluarga dan kerabat Julius Reinhard Siyaranamual hadir di kediaman Jack K Iki di Kelurahan Fontein, Kota Kupang, Senin (23/5/2005) siang. Mereka ke sana setelah mendapat kabar duka meninggalnya seorang ayah, saudara, kakak, adik, om terkasih, Julius R Siyaranamual pada Senin (23/5) sekitar pukul 05.00 WIB di Tangerang.
Suasana langsung berubah ketika Eveline Iki-Siyaranamual, adik kandung Julius Siyaranamual kembali dari tempat kerjanya. Dia disambut deraian airmata. Pelukan dan tangis mewarnai pertemuan itu. Susana makin sedih ketika saudara kembar Eveline, Margaretha Bermiho-Siyaranamual juga datang ke rumah keluarga itu.


Berita duka itu diterima keluarga besar Julius Siyaranamual di Kupang, Senin (23/5) pagi. Berita itu cukup menyejutkan keluarga meskipun kabar mengenai sakitnya almarhum sudah diketahui jauh-jauh hari. Keluarga tidak menyangka kepergian Julius begitu cepat.
Kesedihan sanak keluarga Julius Siyaranamual di Kupang terasa begitu mendalam karena sosok Julius dikenal sebagai kakak, paman, saudara yang humoris, sederhana dan penyayang.
Menurut adik kandung almarhum, Margaretha Siyaranamual, Julius merupakan seorang kakak yang penyanyang pada adik-adik dan keluarganya. Julius juga memiliki bakat luar biasa dalam bidang tulis-menulis. Sejak di bangku SMPN 1 Kupang, almarhum sudah pandai menulis puisi dan cerita tentang kehidupan sehari-sehari.
"Setiap pulang sekolah, kaka Nyong (sapaan akrab Julius Siyaranamual) biasa menulis. Dia menulis cerita apa saja dan menulis puisi-puisi," kata Margaretha. Kemampuan dan bakat menulis itu juga telah membuatnya beberapa kali meraih prestasi dalam lomba menulis di tingkat sekolah menengah pertama yang berlanjut hingga namanya dikenal sebagai salah seorang penyair Indonesia.
Kesan yang mendalam tentang sosok Julius juga disampaikan adik kandungnya, Eveline Iki-Suyaranamual. Menurutnya, Julius Siyaranamual adalah kakak yang sangat memperhatikan dan menyayangai adik-adiknya. Salah satu kenangan indah adalah ketika Julius menerima gaji pertama. Sekitar tahun 1969, Julius bekerja pada Gabungan Koperasi Hewan (Gekowan) bersama Kanis Pari (Bung Kanis). Gaji pertama pria yang suka mengikat rambutnya itu digunakan untuk membelikan kue untuk adik-adiknya.
"Kakak Nyong bukan orang yang ingat diri, saya ingat betul waktu pertama kaka Nyong terima gaji, gaji itu digunakan untuk membeli kue satu nyiru dan kemudian dibagi-bagikan semua ke kita adik- adiknya," kata Eveline. Bukan itu saja, setiap kali menerima gaji, Julius sering memberikan sesuatu pada adik-adiknya dan mengajak mereka nonton film.
***
JULIUS Siyaranamual bukan saja dekat dengan adik-adiknya. Salah seorang saudara sepupu almarhum, Enos Ndaparoka, S.H yang ditemui di rumah duka menyampaikan kenanganannya. Menurutnya, dalam pergaulan Julius tidak memposisikan dirinya sebagai orang yang eksklusif meskipun ia sudah menjadi wartawan dan penulis ternama.
"Kaka Nyong ini orangnya sederhana, dikasi makan apa saja pasti dimakan. Kalau kami di Sumba punya istilah, kaka Nyong kalau masuk rumah tidak tanggung-tanggung sampai duduk di Aburau (duduk dekat tungku perapian di dapur)," kata Ndaparoka yang juga Kepala Dinas Narkertrans Kota Kupang itu.
Julius juga sederhana dalam penampilan. "Kaka Nyong ini orangnya low profile, apa adanya. Sampai meninggal pun ia tidak memiliki apa-apa. Tidak memiliki kemewahan, ia tetap menjadi sosok yang sederhana," tukas Ndaparoka.
Kesan tentang Julius juga datang dari adik iparnya, Jack K Iki, suami Eveline Iki-Siyaranamual. Menurut Jack, almarhum selalu mengingatkan agar keluarga saling mengasihi satu dengan lainnya. Almarhum juga suka bercanda. Sekali waktu, Jack bersama almarhum melintas di sekitar Kolam Renang, Fontein. Mereka menyaksikan seorang anak sedang menangis karena digonggong seekor anjing. Saat itu, Jack berupaya menenangkan anak kecil tersebut sambil bertanya, "Kenapa kamu menangis". Anak itu menjawab, "Saya mau menggonggong anjing". Jawaban anak itu membingungkan Jack dan almarhum Julius, namun langsung ditanggapi dengan canda oleh almarhum dengan mengatakan, "Nah ini baru berita, biasanya anjing gonggong orang tapi sekarang ada orang gonggong anjing". Jack langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Ada lagi beberapa gurauan yang disampaikan almarhum ketika bersama Jack di sebuah rumah di Kota Kupang. Saat itu, almarhum bertanya kepada Jack, "Apa yang dikatakan Tuhan Yesus setelah perjamuan terakhir dengan para murid-muridnya". Pertanyaan itu sangat membingungkan Jack. Almarhum menjawab sendiri dengan mengatakan bahwa yang dikatakan Yesus itu adalah "Mari kita foto bersama" sambil menunjuk gambar "Perjamuan Terakhir".
Barulah Jack mengerti kalau almarhum Julius Siyaranamual hanya bercanda. "Saya ketawa dan memang kalau tidak ada gambar itu pasti tidak ada bayangan kita tentang perjamuan terakhir. Tapi itu hanya lelucon," kata Jack.
Pada kesempatan lain, Jack dan almarhum menumpang bus umum dalam perjalanan di Pulau Jawa. Ketika bus yang mereka tumpangi memasuki Kota Kudus, tiba-tiba almarhum bertanya kepada Jack. "Apa kesamaan antara Rudy Hartono dan Tuhan Yesus?" Pertanyaan itu dijawab Jack tidak mungkin sama karena Rudy hanya manusia biasa sedangkan Yesus itu Tuhan. Namun, almarhum Julius mengatakan, "Ada kesamaannya, Jack. Rudy Hartono itu lahir di Kota Kudus sedangkan Tuhan Yesus punya Roh Kudus. Jadi sama-sama ada Kudus-nya." *

Selamat jalan Julius R Siyaranamual

Oleh Marcel Weter Gobang

HARI Senin (23/5), berita sedih kembali diterima Keluarga Besar Harian Pos Kupang. Salah satu Redaktur Khusus-nya, Julius R Siyaranamual, pada Sabtu subuh itu dipanggil menghadap Sang Penciptanya. Ia meninggal di rumahnya, Kompleks Perumahan Cemara Indah, Tangerang, Propinsi Banten, setelah hampir setahun lebih menderita stroke. Sedangkan sebelumnya, pada Selasa (3 Mei) pukul 21.30 Wita, salah seorang perintis berdirinya Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Valens Goa Doy, pergi untuk selama-lamanya.


Bagi Keluarga Besar Harian Pos Kupang, terutama bagi para awak redaksinya, nama Julius R Siyaranamual begitu melekat. Beberapa bulan menjelang terbitnya harian ini pada 1 Desember 1992, Julius termasuk salah seorang yang juga berperan besar dalam menempa para calon wartawan untuk menjadi reporter tangguh harian ini. Karena keahliannya dalam menulis karya-karya sastra (novel, novelet dan cerpen), maka dia ditugaskan khusus untuk mengajar dan melatih menulis features bagi para calon reporter Harian Pos Kupang.
Bagi hampir semua reporter didikannya -- banyak yang telah meninggalkan Pos Kupang untuk berkiprah di berbagai media massa cetak dan elektronik (televisi) --, nama Julius R Siyaranamual identik dengan kata "deskripsi". Soalnya, untuk menulis features, seorang reporter tidak saja dituntut mampu mengumpulkan bahan/data di lapangan untuk menulis, tetapi harus memiliki kemampuan tinggi mendeskripsikan suatu obyek sebagai bahan tulisan. Dan, untuk mendeskripsikan suatu obyek itu tidak segampang yang dibayangkan seorang calon wartawan.
Penekanan tentang pentingnya deskripsi itu dia ulangi lagi dalam pelatihan terhadap calon-calon wartawan Pos Kupang angkatan tahun 2000. Bagi Harian Pos Kupang, tahun 2000 itu adalah keterlibatan terakhir Julius Siyaranamual untuk secara langsung melatih calon- calon wartawan Pos Kupang.
Tatkala harian ini hendak terbit pada tahun 1992, Julius Siyaranamual adalah wartawan senior Harian Surya (salah satu koran Kelompok Kompas-Gramedia/KKG) di Surabaya, dan pendiri sekaligus pengasuh Hot Line Surya yang salah satu kegiatannya adalah bidang konseling penanggulangan penyakit HIV/AIDS.
Namun, oleh karena tenaganya diperlukan untuk melatih calon-calon wartawan Pos Kupang, ia rela meninggalkan tugasnya sementara waktu di Surabaya. Baginya, ini adalah peluang emas untuk menularkan ilmu dan pengalamannya di bidang jurnalistik dan tulis-menulis bagi 'orang sendiri'. Karena itu, jangan heran bila Julius sangat keras selama pelatihan. Kata-kata "bodok" dan kata-kata kasar lainnya yang ia lontarkan kepada calon-calon wartawan tidak lain untuk memotivasi 'orang sendiri' itu agar mereka benar-benar menjadi wartawan tangguh, terampil dan profesional di kemudian hari.
Bagi manajemen Harian Pos Kupang, sosok yang sederhana, mudah bergaul dan cepat berteman ini dikenal sebagai orang yang siap melupakan diri sendiri. Dia siap membantu kapan pun diminta.
Begitulah, ketika beberapa kali Pos Kupang hendak merekrut wartawan baru, dia pun siap meninggalkan pekerjaannya di Surabaya. Dia lakukan itu tanpa menuntut balas jasa. "Yang penting, siapkan saja tiket pergi pulang!" kata alumnus Suryadikara, Ende, tahun 1962, seangkatan dengan mantan Wakil Gubernur NTT, Drs. Johanes Pake Pani, dan Valens Goa Doy, itu.

Dari Kanis Pari
Julius yang telah menulis cukup banyak karya sastra (novel, novelet dan cerpen) ini sejak kecil telah menunjukkan bakatnya di bidang sastra. Ketika duduk di SMPN 1, Kupang, Julius menulis dan sering meraih juara dalam lomba penulisan puisi di sekolahnya.
Setamat dari SMA Suryadikara, Ende, Julius membantu Kanis Parera (Kanis Pari/Bung Kanis) mengelola Mingguan Pos Kupang, di Kupang. Namun, mingguan ini hanya bertahan beberapa bulan. Meski demikian -- sebagaimana dituturkannya kepada Pemimpin Umum Harian Pos Kupang, Damyan Godho, beberapa tahun lalu --, Julius mengaku, justru selama bekerja di Mingguan Pos Kupang itu Bung Kanis memberikan perhatian yang serius terhadap bakatnya di bidang sastra itu. Bung Kanis, katanya, adalah guru sastra. "Dia memotivasi saya untuk mengembangkan bakat saya," kata Julius sebagaimana ditutur ulang Damyan.
Bakat sastra yang ia miliki dan kembangkan sejak di bangku SMP, dan motivasi dari Bung Kanis selama di Mingguan Pos Kupang itu rupanya membuat Julius tetap mengembangkan bakatnya di bidang tulis menulis itu ketika dia kuliah di Sekolah Tinggi Teologia di Jl. Proklamasi, Jakarta. "Kalau lagi kepepet, lagi tidak ada duit untuk beli sabun dan lain-lain sewaktu kuliah di Sekolah Tinggi Teologia itu, maka saya bikin tulisan, bikin cerpen. Hanya perlu beberapa jam sudah bisa dapat satu cerpen. Itu saya bawa ke Pintu Air (alamat percetakan) Sinar Harapan. Cerpen atau tulisan opini saya pasti dimuat. Kalau sudah dimuat, hari berikutnya saya pergi ambil honornya," tutur Julius suatu ketika beberapa tahun lalu di Kupang.

Majalah Kawanku
Selain menulis novel, cerpen, cerita bersambung untuk koran-koran besar seperti Kompas dan Sinar Harapan, Julius memiliki bakat khusus dalam menulis untuk pembaca kalangan anak-anak. Majalah Kawanku adalah satu bukti kemampuan bakat khususnya itu. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa temannya di tahun 1970-an. Majalah ini kemudian ia jual kepada Kelompok Kompas Gramedia (KKG) tahun 1990.
Ketika bersama-sama di Harian Surya, Surabaya, tahun 1989 - 1991, Julius mengatakan, ia terpaksa menjual Majalah Kawanku, selain karena salah satu teman pengelolanya sudah sakit-sakitan dan dia tidak mampu mengelola seorang diri, juga karena ia ingin membantu teman dekatnya sejak di SMA Suryadikara, Valens Goa Doy, untuk lebih berkonsentrasi membangun dan mengembangkan Harian Surya.
Dan, ketika KKG mengambil alih pengelolaan Mingguan Surya milik Harmoko di Surabaya dan Valens Goa Doy dipercayakan mengelolalnya, maka Julius pun meninggalkan Majalah Kawanku dan berhijrah ke Harian Surya.
Di Harian Surya (berubah dari mingguan menjadi harian per 10 November 1989), Julius dipercayakan sebagai Redaktur Desk Opini. Salah satu stafnya di desk ini adalah Manuel Kaisiepo -- wartawan Kompas yang diperbantukan di Harian Surya dan di masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diangkat sebagai Menteri Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia.
Setelah beberapa tahun bergabung dengan Harian Surya dan mengelola Hot Line Surya, Julius kemudian mendirikan hot line sendiri yang juga, antara lain, bergiat di bidang konseling penanggulangan penyakit HIV/AIDS.

Rindu pulang Kupang
Sebagai salah seorang penulis dan pengarang yang telah punya nama di tingkat nasional, Julius memendam obsesi agar banyak pula generasi muda dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti jejak para senior, yaitu selain jejak dia sendiri, juga jejak Gerson Poyk, Umbu Landu Paranggi sebagai pengarang dan sastrawan atau para penulis lainnya seperti Dr. Daniel Dhakidae atau almarhum Marcel Beding.
Namun, Julius prihatin karena belakangan ini sangat minim kaum muda NTT ingin berkiprah di dunia tulis-menulis untuk menjadi penulis- penulis atau pengarang-pengarang besar. Menurut dia, hal itu terjadi bukan karena kurangnya ilmu yang didapat di bangku sekolah atau di perguruan tinggi, namun karena generasi muda NTT itu kurang mendapat motivasi dari para senior yang berpengalaman dan terampil.
Ketika beberapa kali datang ke Kupang beberapa tahun lalu, ia berkali-kali pula mengutarakan kerinduannya untuk pulang ke Kupang. Tekadnya, di Kupang dia akan menghabiskan hari tuanya dengan mendirikan semacam wadah untuk mengumpul generasi muda berbakat di bidang tulis-menulis.
Sayang, cita-citanya itu tidak terwujud sampai dia terserang stroke di tempat tugasnya di Surabaya, dan dipanggil Tuhan pada Senin (23/5/2005) dini hari. Selamat jalan, Julius! Semoga ada orang lain atau generasi muda NTT ini dapat mewujudkan cita-citamu! *

Pos Kupang, 25 Mei 2005

Valens Tidak Dikubur Bersama Kata-katanya

Oleh Jacobus Embu Lato

VALENS Goa Doy tidak bisa dikubur bersama cinta, kata-kata dan karyanya. Sebagai substansi otonom, semua kompleksitas kekayaan cinta, kata-kata dan karyanya tetap hidup, tumbuh dalam hati keluarganya, rekan-rekannya dan mantan karyawannya.

Orang-orang sekitarnya dengan kapasitas, kualitas dan atensi serta konsistensi pribadinya akan membiarkannya hidup abadi. Xanana Gusmao, kini Presiden Timor Leste, yang pernah menjadikannya mediator ketika massa pendukungnya terlibat konflik dengan militer Indonesia bisa menjadikan cinta, kata dan karya Valens untuk membimbing dan mengembangkan masyarakat dan negaranya yang kini didikte hampir total oleh masyarakat internasional.

Rekan-rekan yang masih setia berkutat di media menjadikannya inspirasi untuk mengembangkan betapa kerasulan inklusif bisa meretas polarisasi eksklusif masyarakat Indonesia akibat menguatnya potensi tribalisme dalam kehidupan politik Indonesia kini.

Berita kematiannya yang getir saya peroleh lewat SMS, ketika saya mencoba mengikuti jejaknya. Menyusun kata-kata. Ketika menyusun kata-kata ini untuk sekadar mengenang idealisme yang mengagumkan, cintanya yang mengembangkan manusia lain secara utuh dan karya-karyanya yang membuat namanya terpahat abadi, saya ingat kata-katanya, pada suatu Minggu senja awal Januari 1997 di Jakarta. "Kekristenan tidak pernah menempatkan karya-karya karikatif sebagai ekspresi diri, tetapi sebagai ekspresi cinta Allah. Karena itu kebijaksanaan tentang perbuatan kasih diungkapkan Injil secara ekstrim. Jika engkau memberi dengan tangan kanan, janganlah tangan kiri tahumu". Urainya sambil keluar dari mobil lalu masuk ke gereja.
 

Kata-kata itu mengganggu saya selama misa petang itu. Kata-katanya tetap hidup dalam jiwa saya. Kapan pun dan di mana pun. Potensi ini terjadi karena dia memberikan praksis dari kata-katanya sendiri. Suatu ketika, Mantan Wakil Pemimpin Umum Harian Surya, Surabaya itu mengajak kami sejumlah wartawan muda menghabiskan malam dengan menjalani jalan-jalan Surabaya setelah deadline yang melelahkan. 

Keinginannya menyenangkan kami yang addicted dengan rokok, mendorong dia untuk membelikan rokok pada sejumlah tempat. Pembayaran selalu dilakukannya dengan uang Rp 50.000,00. Yang membuat saya yakin kutipan Injil yang disampaikannya kepada saya dalam mobil sebelum masuk gereja dipraktekkannya secara konsisten, adalah Valens tidak meminta uang kembalian harga rokok. Karena malam itu dia membeli lima bungkus rokok pada lima penjual yang berbeda, saya perhitungkan dia memberikan derma Rp 250.000,00 kepada para penjual rokok.
 

Adakah kata-katanya jatuh di atas tanah subur hati masyarakat NTT? Pada masa tuanya yang dijalani dengan sangat ketat, dia mencoba agar kata-katanya bisa meraih hati masyarakat NTT. Dia membangun Harian Pos Kupang di Kupang bersama Damyan Godho dan Rudolph Nggai, sambil mengembangkan Suara Timor bersama Salvador yang ketika itu anggota DPR dan MPR RI. Upaya itu pun dilakukannya juga di Flores dengan mendirikan Flores Pos. Saya tidak percaya Valens mengembangkan berbagai media demi bisnis. 

Sebagai wartawan dengan reputasi nasional dan pengamat pasar modal, dia pasti tidak bersemangat menggandeng tangan SVD untuk mendirikan Flores Pos dan bermarkas di kabupaten dengan pendapatan kurang dari 150 dolar AS perkapita pertahun. Dia pun saya kira tidak terlampau bersemangat mendirikan Pos Kupang mengidealkan pendapatan besar dari investasi itu. Aspek lain yang justru ingin ditunjukkannya, dia mencintai masyarakat yang kerapkali rusuh setiap penerimaan tes pegawai negeri itu. 

Saya ingat, dalam berbagai telepon pribadi pada penghujung 1992 untuk mengajakku bergabung dengan Pos Kupang yang didirikannya itu, dia selalu menegaskan, "Kita tidak bisa mengharapkan koran baru itu nanti seperti Surya. Jauh. Kita harus melakukan edukasi kepada masyarakat. Mereka harus mencintai media sebagai pembuka cakrawala berpikir mereka". Menghadapi kebingunan penulis yang ketika itu bekerja di harian Surya dan pengajar paruh waktu pada sebuah universitas kota itu yang ragu, dia pun melanjutkan, 

"Kapan lagi kita bisa berbuat untuk kampung halaman kita sendiri, Kobus". Sapaannya, persis seperti ayah saya, mengganggu, membangkitkan keinginan saya untuk kembali ke NTT dan mengorbankan banyak hal dari kekurangan saya yang baru dua tahun memasuki dunia kerja.
 

Dari perspektif apa pun, Valens sangat mencintai NTT. Tokoh yang pada masa mudanya itu terpaksa merantai sepeda motornya agar tidak dicuri itu, rindu melihat NTT pantas diperhitungkannya seperti propinsi-propinsi lain. Dalam laporan perjalanannya ke NTT yang dipublikasikan oleh Kompas ketika dia masih menjadi redaktur olarahga Kompas, Januari 1985, dia mengekspresikan bernas-bernas cinta itu. Kerinduan itu dipadukan dalam gaya jurnalistik yang mampu menjuwil hati banyak pihak. Dan dia pun membuktikannya dengan membangun bisnis media di NTT. Dan seperti saya katakan di atas, bisnisnya lebih mengekspresikan bernas-bernas cinta kepada tanah kelahiran.
 

Adakah kaum muda NTT yang kini menikmati kekayaan informasi termasuk internet tahu bahwa para pendiri media NTT adalah para pionir sejati yang harus berjuang mengalahkan berbagai rasa takut, takut bahwa medianya tidak bisa terbit karena pengiriman kertasnya terlambat dan terlampau mahal karena diangkut dengan truk dari Surabaya, takut bahwa sedikit kelengahan menyebabkan dia diancam surat kaleng dengan nyawa taruhannya, takut bahwa medianya tidak terserap pasar, takut bahwa ketidakhati-hatian dan sedikit kelengahan menjebaknya dalam satu arus menyebabkannya dianggap menentukan keberpihakannya dan berdampak terhadap sirkulasi media yang dipimpinnya?
 

Sebagai wartawan muda, saya tidak bisa melupakan betapa pada suatu pagi yang cerah, Damyan Godho, Pemimpin Umum Pos Kupang diancam lewat surat kaleng untuk dikirimkan ke pekuburan Kapadala, Kupang di tengah konflik pemilihan kepala daerah yang harus diakui menyebabkan masyarakatnya terpola dalam arus kepentingan geografis dan etnis. Saya pun tidak bisa melupakan ketika sebagai redaktur, saya didatangi seorang pengusaha muda yang mempertautkan namanya dengan the incumbent governor at that time, memaksa saya menyerahkan seorang wartawan puteri kami kepadanya untuk "diinterogasi".
 

Para pastor SVD yang mengelola sejumlah berkala yang silih berganti di Ende, sejumlah wartawan senior yang mengelola sebuah media berbahasa Belanda di Kupang dan berkala-berkala lainnya di kota karang itu, para misionaris pendiri media di Sumba adalah contoh dari masa lalu tentang semangat kepioniran. Ketika Valens mendirikan Pos Kupang, dia pun berhasil menarik kembali para pemuda yang penuh idealisme. Sejumlah rekan dari Surabaya, Jakarta, rekan-rekan dosen dari Universitas Widya Mandira Kupang adalah sedikit contoh yang pantas diperhitungkan. 

Basis ini menyebabkan meski Kupang kini dibanjiri media-media lokal dengan nama universal seperti Timor Ekspress maupun yang bernama lokal seperti Udik, saya yakin sumberdaya manusia Pos Kupang paling siap. Media ini mampu membuktikan diri diperhitungkan sebagai bagian dari kerajaan bisnis Kompas di Indonesia sekaligus sebagai bagian dari salah satu unsur intelektual yang pantas diperhitungkan di tanahnya sendiri.
 

Cinta Valens pada NTT bisa saja ditelikungi pihak-pihak yang berkepentingan. Saya yakin dia tahu itu. Tetapi karakter yang paling saya ingat dari hidup Valens adalah pengabdiannya yang tidak kenal lelah. Ketika duduk di depan komputer menjelang deadline, dia mulai alpa dengan berbagai sakitnya. Dalam usianya yang belum terlalu tua, dia menjalani died ketat. Sebagai mantan staf yang pernah tinggal bersamanya di rumahnya yang asri di Cileduk, Jakarta, saya ingat, betapa kekuatan pikirannya mampu mendikte tubuhnya agar tetap bisa mengabdi sesama. 

Jika malam larut, dia menghabiskan satu apel dan beberapa gelas air untuk menguatkan tubuhnya yang lelah lalu berangkat tidur. Pagi hari tubuhnya dia isi dengan sedikit nasi dan sayur, tanpa daging dan lauk-pauk lain yang cenderung disalahpahami sebagai bagian dari ekspresi kemampuan dan kemapanan ekonomi oleh sejumlah kalangan. Rumahnya merupakan pelabuhan bagi para mahasiswa Ngada untuk mencari pelabuhan akhir, ketika kiriman uang dari orangtua tidak datang. Banyak dari mereka akan datang ke sana. Pengurus rumah tangga -- karena isteri Om Valens menetap di Bandung dan mengelola restorannya -- akan meminta uang belanja untuk membeli makanan untuk anak-anak muda itu.
 

Jika ingin hidup mewah dan enak, Valens tidak perlu ke NTT. Dia tetap bercokol di Jakarta dan menjadi konsultan media-media pers daerah Kompas. Jika menginginkan nama, dia tidak perlu meninggalkan imperium media rujukan para intelektual Indonesia itu. 

Langkah ini tidak dilakukannya. Valens memilih memberikan dirinya untuk NTT. Dia dikuburkan dan ditangisi keluarga dan orang-orang dekatnya. Tetapi cinta, kata dan karyanya tetap ada. Semoga kata-katanya yang kauajarkan dulu cukup untuk memberikan ucapkan selamat jalan. Om mungkin masih ingat judul cerpen Majalah Horizon, tahun 1960-an, karya penyair dan esais mbeling yang saya suka sekaligus benci karena dia mengatakan "otak saya rumit seperti rambut saya yang keriting", Dr. Jatmanto Jatman "Kita pasti akan bertemu lagi". **

* Penulis, psikolog sosial, tinggal di Surabaya

Om Valens dan Tapaleuk

Oleh Paul Bolla

SEJAK kepergian Om Valens Doy pada Selasa, 3 Mei 2005, banyak sudah yang ditulis oleh para bekas muridnya. Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang yang ikut didirikannya menyediakan ruang seluas-luasnya bagi para mantan murid untuk menyatakan apresiasi mereka tentang Om Valens. Saya hanya memberi komentar pendek untuk memenuhi permintaan Dion DB Putra, Pemred Pos Kupang, setelah mendapat SMS dari Om Peter Rohi bahwa Om Valens sudah mendahului kita. Tak lama kemudian, Senin, 23 Mei 2005, satu lagi berita duka saya terima via SMS dari Paschalis Tho, fotografer Pos Kupang. Om Julius Siyaranamual telah menyusul Om Valens.

SMS ini saya teruskan ke Hans Louk, Yulius Lopo, Dany Ratu, dan Ana Djukana. Kedua sahabat kental Om Valens dan Om Julius sama-sama ikut mendirikan Pos Kupang bersama Om Damyan Godho. Saya menjadi bagian dari Pos Kupang sejak November 1992 hingga November 1999.


Dion meminta saya memimpin ibadah syukur mengenang Om Julius pada Rabu, 25 Mei 2005. Saat kepergian Om Valens, Pos Kupang juga menyelenggarakan doa requiem. Dalam dua peristiwa itu, Pos Kupang mengundang semua bekas murid Om Valens dan Om Julius. Kami pun berbagi cerita mengenang aneka pengalaman bersama kedua guru kita.
 

Seusai ibadah syukur mengenang Om Julius, Om Damyan Godho, Pemimpin Umum Pos Kupang, menyampaikan informasi para bekas murid Om Valens berniat membuat sebuah buku dan acara yang mengingatkan kita tentang kebesaran Om Valens. Para bekas murid Om Valens di Kupang pun diminta menyumbangkan tulisan. Dion lalu meminta saya ikut menulis. Permintaan itu disusul dengan SMS esok harinya yang meneruskan SMS dari Viktus Murin, rekan angkatan pertama wartawan Pos Kupang yang kini berdomisili di Jakarta. Dion dan Viktus meminta saya menulis "Om Valens dan tapaleuk."
 

Permintaan itu tepat sekali. Saya sependapat dengan mereka. Tapaleuk adalah nama rubrik di halaman dua pojok kiri atas SKH Pos Kupang yang ditulis dalam bahasa pergaulan orang Kupang, bahasa Kupang. Formatnya berupa opini atas berbagai peristiwa yang dituliskan dengan cara bercerita. Isinya, bisa berupa kritik, pujian, usul-saran, atau sekadar obrolan ringan. Inspirator nama rubrik digagas oleh Om Valens, kemudian didiskusikan mencari istilah dalam bahasa Kupang.
 

Tapaleuk dalam bahasa Kupang artinya aktivitas yang dilakukan seseorang hanya sekadar jalan-jalan atau plesir tanpa tujuan fokus, pindah dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk omong-omong. Padanan kata tapaleuk dalam bahasa Indonesia tidak tersedia. Kata "ronda" artinya mendekati tetapi bukan dalam pengertian "jaga malam". Wartawan dilihat dari aspek aktivitasnya yang terus jalan mencari berita tanpa kenal waktu dilekatkan kepada ungkapan tapaleuk.
 

Rubrik tapaleuk semula ditulis oleh Om Julius sebagai orang Kupang. Om Julius akhirnya angkat tangan karena sudah lama merantau sehingga bahasa Kupangnya sangat terbatas. Selain itu Om Julius juga mulai sibuk dan mesti kembali ke Surabaya di Harian Surya.
 

Tak lama setelah diterima menjadi wartawan magang di Pos Kupang, Om Valens mempercayai saya mengelola rubrik tapaleuk. Jadilah saya sebagai penulis tetapnya. Melalui rubrik ini saya dikenal. Setiap hari rubrik tapaleuk menjadi mimbar saya berkhotbah maksimal 45 baris. Melalui rubrik ini saya lebih dekat dengan Om Valens. Beliau kerap mengajak diskusi dan meminta saya menyampaikan pesan-pesan kritisnya dalam bahasa Kupang.
 

Om Valens telah menjadikan rubrik tapaleuk sebagai pintu bagi orang Kupang mengenal jati dirinya. Bahasa Kupang bukanlah bahasa tulis. Hanya bahasa pergaulan (lingua franca), bahasa percakapan. Ketika bahasa Kupang dituliskan, tidak mudah untuk membacanya, sekalipun oleh orang Kupang. Salah melafalkannya, kita akan tersesat. Karena maknanya menjadi lain.
 

Sulitnya membaca rubrik tapaleuk secara tepat, justru menjadi tantangan. Kita akan penasaran dan merasa geli sendiri. Karena itu siapa pun yang membaca tapaleuk akan terhibur, meski isinya kerap berupa kritikan tajam yang bisa buat telinga merah. Rubrik ini (selalu hadir di halaman 2 Pos Kupang) menjadi tempat kita melakukan relaksasi pikiran. Rubrik ini juga menjadi tempat pembaca Pos Kupang bercermin.
 

Inilah yang diinginkan Om Valens. Tapaleuk membuat orang Kupang bisa bercermin dan menertawai diri sendiri. Dalam keadaan santai dan ada keterbukaan, pesan-pesan disampaikan. "Paul, kau harus bisa membuat orang Kupang tertawa, setelah itu baru pesan-pesan disampaikan," kata Om Valens suatu hari di tahun 1993, di kantor lama Pos Kupang di Jalan Soeharto No. 53 Kupang.
 

Mengapa saya membuat orang Kupang tertawa? Saya bertanya kepada Om Valens. "Ah, kau kan orang Kupang, masak nggak tahu caranya, kamu pasti bisa." Begitulah cara Om Valens memotivasi. Saya pun menggali hal-hal yang ada pada orang Kupang yang bisa menjadi sarana penyampaian pesan secara jenaka. Lalu saya memakai ilmu dari Om Julius Siyaranamual untuk membangun konteks cerita, dengan tokoh dan karakter khas, setting lokal dan alur/plot bercerita yang cair dan kerap meledak-ledak. Semuanya dituliskan dalam bahasa Kupang lama era tahun 1970-1980-an.
 

Saya membangun dunia cerita dengan tokoh-tokoh dari sebuah keluarga suku Rote. Ba'i Ndu mempunyai istri Sulabei. Ada dua anak, laki-laki bernama Ta'ek dan adiknya perempuan Inafe'ok. Keluarga ini mempunyai rumah beratapkan daun tuak, terdiri dari rumah induk dan dapur yang terpisah dari rumah utama. Di depan rumah ada pohon tambring (asam). Dan di bawah pohon dibuatkan dedegu.
 

Kisah dibangun memakai setting berganti-ganti. Ada kisah yang berawal di kamar tidur. Lain kali saat sedang duduk santai di dedegu, di dapur atau di kebun yang terdapat di depan, belakang atau samping rumah. Settingnya berganti bergantung pesan yang hendak disampaikan. Saya berusaha membuat deskripsi senyata mungkin, sehingga orang percaya keluarga ini seperti benar-benar ada.
 

Nah, apa yang saya dapatkan selama menulis rutin rubrik tapaleuk setiap hari, adalah saya menyatu dengan dunia cerita tapaleuk. Saya hampir tak pernah kekurangan inspirasi. Apa saja yang terjadi di sekitar kita selalu bisa menjadi bahan untuk menyampaikan pesan-pesan moral.
 

Rubrik tapaleuk akhirnya benar-benar menjadi mimbar saya berkotbah setiap hari. Pasalnya, saya adalah calon pendeta yang baru saja menyelesaikan masa vikariat tetapi belum bersedia menjadi pendeta. Saya bergabung dengan Pos Kupang tanpa melewati proses test dan tanpa pelatihan. Pasalnya saat menemui Om Valens, pada 24 November 1992, proses rekrut calon wartawan sudah selesai. Bahkan sudah selesai pelatihan dan para wartawan pemula sudah dilepas ke lapangan. Pos Kupang sudah mulai terbit percobaan.
 

"Kamu nggak usahlah jadi pendeta. Menjadi pendeta itu baik, tetapi ruang lingkup kamu terbatas. Kalau menjadi wartawan, kamu bisa memakai koran untuk berkhotbah kepada semua orang lintas agama. Lewat koran kamu bisa membuat orang lain menjadi lebih baik, tetapi tidak gratis. Orang harus mengeluarkan uang untuk membeli koran." Begitu nasehat Om Valens sembari tertawa lepas dengan ekspresi meyakinkan.
 

Di antara sekian banyak hal positif yang sudah diungkapkan rekan-rekan semasa di Pos Kupang, saya ingin menambahkan sesuatu yang lain. Melalui pengelolaan rubrik tapaleuk, Om Valens memberi banyak makna. Sedapat mungkin sebuah berita (pesan atau informasi) jangan sampai melukai seseorang. Untuk mengubah seseorang dan berhenti melakukan kesalahan, tidak mesti membuatnya marah, apalagi menelanjanginya di media. Wartawan tidak diberi hak untuk menghabisi masa depan seseorang, sekalipun orang itu melakukan kesalahan.
 

Cover both side menjadi sesuatu yang wajib. Jangan pernah menurunkan sebuah berita yang belum dikonfirmasi. Apa pun alasannya, wartawan harus berusaha sampai bisa meminta pendapat pihak yang dirugikan oleh sebuah pemberitaan. Jika narasumber itu sulit ditembus, bukalah otak dan berkreasilah.
 

Rubrik tapaleuk adalah salah satu solusi menembus narasumber yang sulit. Godalah narasumber itu lewat tulisan jenaka. Yakinkan dia lewat karakter dunia cerita tapaleuk, agar bersedia ditemui wartawan dan bersedia memberikan keterangan. Maklum saat awal berdirinya Pos Kupang, banyak pihak -- terutama pejabat pemerintah di Kupang, yang sangat ketakutan ditemui wartawan, karena anggapan yang keliru. Wartawan dianggap orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain.
 

Tapaleuk merupakan media untuk menyampaikan pesan seperti cara yang biasa dipakai orang Kupang. Dengan menggunakan kebiasaan-kebiasaan lokus setempat bisa menghindarkan kita dari melakukan kekerasan secara tidak langsung. Dengan menyampaikan suatu pesan yang mengabaikan tradisi, adat istiadat dan kebiasaan setempat, akan menghambat pesan itu diterima. Tujuan pun jadi sulit dicapai.
 

Satu lagi misi rubrik tapaleuk lainnya, kata Om Valens, adalah agar orang Kupang bangga bahwa Pos Kupang adalah koran-nya orang Kupang. Itu sudah terwujud. Bahkan apresiasi yang tinggi dari pembaca Pos Kupang terhadap rubrik tapaleuk diwujudkan dengan dilaksanakannya Lomba Membaca Tapaleuk di panggung arena Pameran Pembangunan di Lapangan Polda NTT, Agustus 1995.
 

Salah satu jurinya waktu itu adalah Om Nano "Kikok" Manubala. Yang harus dipertahankan sekarang adalah menjaga dan menggelola rubrik tapaleuk seperti pertama kali rubrik itu dimunculkan.
 

Om Valens sekarang su sonde ada lai. Tapi beta yakin bapatua ada lia sang katong. Bapatua pasti ada loti babae. Apa batong pake koran hanya mau korvei orang sa, atau batong ju mau beking orang dong bisa jadi bae. Jang batong cuma makadadoto tulis orang pung lelhanak sa. Batong ju musti akui orang ju ada dia pung bae. Waktu batong tagepe, bukan alasan untuk tape'e. Kalo batong musti tulis orang bafiruk, inga ju yang ada makarereuk.

Pos Kupang, 2 Juni 2005.

* Penulis, wartawan, tinggal di Kupang



Sang Maestro itu Telah Pergi

Kenangan indah bersama Om Valens Doy

Oleh Yos Lema*

SMS yang muncul di puncak malam tersebut membuat saya terbangun dari tidur. Waktu menunjukkan pukul 00:04 Wita. SMS itu dari Adhi Loudoe, rekan kerjaku di Venuz. Pesannya ringkas: "Selamat malam, beta mau kabarin bhw Om Valens Doy meninggal pkl 9 mlm tadi di Denpasar (jantung)".

Apa? Om Valens meninggal? Akibat serangan jantung? Kok bisa? Sejenak saya terdiam. Wajah Om Valens Doy hadir begitu saja dalam ingatan. Segala kenangan akan beliau mengalir tanpa bisa dibendung. Senyumnya - cara bicaranya - tawanya - lontaran kata-katanya begitu khas. Sompret lu, itu kata yang selalu diucapkan dengan wajah riang. Rasanya dia seperti berada di hadapan saya mengucapkan sepotong kata itu sambil tertawa renyah.

Tak terasa air mata pun menetes. Pipih saya basah. Saya berduka -- saya berluka. Saya lalu membuat tanda salib dan membisikkan sepotong doa dalam hati. "Tuhan, terimalah arwah Om Valens. Terimalah dia dalam kerajaanMu".
 

Meninggalnya Om Valens sungguh mengejutkan. Semua muridnya di republik ini tentu terpukul. Anak didik Om Valens tersebar di berbagai media cetak dan elektronik mulai dari Sabang sampai Merauke. Sejarah hidup Om Valens seolah diperuntukkan untuk membibit kader di bidang jurnalistik. Dari tangannya lahir para jurnalis handal yang kini dimiliki negeri ini. Dia ibarat lilin yang membakar dirinya untuk menerangi orang lain. Dia adalah roh yang mewarnai jurnalisme negeri ini.
 

Saya tidak dapat merinci satu persatu anak didiknya, namun saya percaya setiap mereka mempunyai nostalgia manis tentang Om Valens. Pribadinya yang bersahaja, hangat, suka melayani, telah merebut tempat paling istimewa dalam relung hati setiap anak didiknya. Dia bukan sekadar Sang Guru --- dia telah menjadi sumber inspirasi --- roh yang menggerakkan kepekaan pena anak didiknya.

Saya hanyalah salah seorang anak didiknya. Jumpa dengannya pada akhir tahun 1992, jelang Pos Kupang terbit perdana. Beberapa teman seangkatan antara lain Dion DB Putra, Beni Dasman, almarhum Ans Sally, Ferry Jahang, dan lain-lain. Dia mengajari kami soal angle, lead, 5W+1H, feature, dan lain-lain. Dia memahat prinsip-prinsip jurnalistik dalam jiwa kami. Dia memberi semacam ramuan yang membuat daya kritis kami setajam belati terhunus. Dia meletakkan pelatuk di ujung pena kami yang setiap saat bisa digunakan untuk menghancurkan keangkaramurkaan. Dia menjadikan kami corong kaum tak bersuara --- lidah para jelata dan si miskin papah tertindas.

Usai pelatihan, manajemen Pos Kupang menempatkan saya di Maumere. Di kota ini saya bertugas bersama almarhum Ans Sally. Saya ingat betul tulisan perdana saya yang muncul di Pos Kupang edisi perdana adalah mengenai sebuah kapal pesiar. Berita itu ada di halaman dalam, cuma berita ringkas. Tapi saya baca berita itu berulang-ulang. Senang, gembira dan bangga campur aduk. Saya percaya Om Valens telah melahirkan saya sebagai seorang jurnalis.
 

Dengan mesin ketik butut sejumlah berita dari Maumere mulai menghiasi halaman Pos Kupang. Namun kemampuan saya sebagai jurnalis baru mulai teruji saat gempa merontokkan Flores pada 12 Desember 1992. Gempa dahsyat dibarengi terjangan tsunami yang menelan korban sekitar 2000-an jiwa itu seperti batu asah yang menajamkan kepekaan saya selaku jurnalis. Pada gempa Flores itulah kebesaran nama seorang Valens Doy yang lazim disapa Valdo itu terdengar dari mulut para jurnalis senior yang datang dari berbagai media cetak dan elektronik di tanah air.
 

Valdo, putra yang berasal dari kaki Gunung Inerie dan Ebulobo, Ngada itu, rupanya telah menjadi rujukan para jurnalis di tanah air. Apalagi mereka yang berasal dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Di Maumere saya mengenal begitu banyak anak didik Valdo. Mereka senior di media tempatnya bekerja. Beberapa di antaranya adalah Ale, Ahmad Subeci, Hironimus Modo, Arbain Rambey, serta puluhan wartawan dari media di luar KKG.

Menariknya, setiap bicara tentang perkembangan pers di tanah air, terutama di daerah, nama Valdo selalu disebut. Mereka yang bukan dari KKG pun secara terbuka menyatakan menimba banyak ilmu dari Valdo. Bagi mereka Valdo adalah jaminan mutu. Tangan dinginnya dalam membidani lahirnya Harian Surya, Surabaya, Sripo, Palembang, Serambi Indonesia, Aceh, Tifa, Irian (kini Papua), dll sudah cukup menjadi bukti bahwa Valdo sungguh seorang perintis pers daerah yang handal.
 

Kejeniusan seorang Valdo itu dibuktikan pada gempa Flores. Dia menjadikan gempa Flores sebagai momentum mengibarkan bendera Pos Kupang di jagad Flobamora. Koran yang baru saja terbit itu dalam sekejab terkenal di mana-mana. Pos Kupang dilaporkan laris bak kacang goreng. Manajemen Pos Kupang sering kewalahan melayani permintaan.

Valdo dengan segala kecerdikannya telah membuat masyarakat di Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote dan Sabu akhirnya sadar bahwa NTT telah memiliki sebuah koran lokal bernama Pos Kupang. Koran kecil dengan ukuran tabloid itu terus diburu pembacanya. Jadilah Pos Kupang menjadi medianya rakyat Nusa Tenggara Timur.

Terhadap kami yang berada di daerah Valdo selalu berusaha berkomunikasi sesuai caranya. Terkadang dia bicara melalui telepon, telegram, bahkan surat untuk menjelaskan hal-hal mendasar soal jurnalistik, maupun rencana liputan ke depan. Dia tahu kesulitan kami di lapangan, dia juga tahu bagaimana memotivasi pasukannya di lini terdepan. "Terus Yos - terus -- jangan mundur," ucap Valdo suatu ketika dalam perbincangan kami melalui sambungan telepon. Kata-kata itu seperti dorongan yang luar biasa bagi anak didiknya untuk total di lapangan.

Di penghujung Februari 1993 saya menerima telegram dari Om Damy Godho, Pemimpin HU Pos Kupang. Beritanya singkat. "Yos segera ke Kupang untuk mendapat penugasan baru". Besoknya saya terbang ke Kupang. Jumpa Om Damy dan teman-teman di Pos Kupang. Ternyata saya ditugaskan ke Dili. Saya ikut dalam tim Om Valens yang berasal dari Persda (Pers Daerah milik KKG) untuk mendirikan koran baru di Timtim. Koran baru itu menurut rencana bernama HU Suara Timor Timur atau disingkat STT. Om Valens dan timnya sudah berada di Dili sejak beberapa hari sebelumnya.

Saya pun ke Dili. Saya ke Dili bersama Paul, seorang teman dari Persda. Bus yang membawa kami penuh berisi ratusan rim kertas untuk mencetak koran. Kami tiba di Kota Dili malam hari. Bus langsung ke Kantor PNRI Dili. Di sana ada Om Valens, Bung Wens Rumung, juga Adik Alex Azis Pagma (kini masih di Dili menjadi wartawan Suara Timor Lorosae) dan sejumlah wartawan senior dari Persda yang tidak saya kenal. PNRI Dili memang menjadi kantor sementara Suara Timor Timur yang akan segera terbit. Malam itu saya tidur sekasur dengan seorang teman asli Timtim berkulit hitam, rambut keriting. Lelaki bertampang sangar namun murah senyum itu kemudian memperkenalkan diri sebagai Otelio Ote -- yang kemudian menjadi reporter RCTI.
 

Besoknya diadakan rapat persiapan terbit dipimpin Om Valens. Di sana ada juga Salvador Januario Ximenes Soares sang penggagas, dengan sejumlah putra-putri asli Timtim. Lini redaksi siap tempur, lini bisnis pun sama. Semua dalam kondisi darurat. Terbit dengan satu komputer dan satu laptop. Selebihnya berita ditulis menggunakan mesin ketik atau tulisan tangan. Gila. Saya hampir tak percaya.


Fokus berita adalah pengadilan gembong GPK Fretelin, Xanana Gusmao (kini Presiden Timor Leste). Saya kebagian memantau di sekitar Polda Timtim, konon Xanana akan keluar dari tahanan Polda. Wartawan lain juga melakukan hal yang lain. Dili seolah dalam kepungan kami. Pena kami ada di mana-mana, sebisanya mencatat geliat rakyat menjelang pengadilan Xanana. Dan Om Valens bertindak sebagai jenderal yang mengendalikan seluruh opini publik yang akan dibangun. Persis seperti yang dia lakukan di Pos Kupang saat Flores dirontokkan gempa dan badai tsunami.

Besoknya Suara Timor Timur terbit. Koran setebal hanya delapan halaman itu laris manis bak kacang goreng. Di mana-mana orang memburu STT. Pengadilan Xanana menjadi topik yang menyita perhatian masyarakat. Publik Timtim dibuat terkesiap. Kalangan militer mulai peka menakar kehadiran media ini. Berbagai kekuatan menyambut kehadiran koran kecil ini dengan berbagai sikap. Ada yang senang, ada yang cemas, ada yang pesimis, bahkan terganggu. Yang pasti bumi operasi militer itu mulai menapaki era informasi, sesuatu yang sulit terbayangkan sebelumnya.

Di Suara Timor Timur inilah saya berada dalam jarak yang dekat dengan Om Valens. Saya baru dapat membuktikan bagaimana kebesaran seorang Valens Doy sebagai jenderal jurnalistik. Dia piawai sebagai nakhoda. Dia tahu ke arah mana haluan kapal akan membelah samudera informasi. Dia melakukan lobi, menjinakkan yang liar, melembutkan yang keras hati, dan meredam yang suka main kasar. Tiga pilar utama Timtim yaitu pemda, militer dan Gereja Katolik berada dalam genggamannya. Dia tahu bagaimana menekan tombol-tombol mereka. Maka dalam rentang waktu yang sangat singkat duet Valdo dan Salvador Ximenes Soares (Pemimpin Umum Suara Timor Timur) telah menghadirkan STT sebagai pilar keempat di bumi yang penuh genangan darah itu.

Di Suara Timor Timur barulah saya sadar Valdo adalah seorang jenius yang maniak kerja. Dia gila kerja. Dia berhari-hari berada di kantor. Semalam suntuk dia merangkai kata menjadi berita yang empuk dan enak dibaca. Tulisannya selalu menarik, baru dan sarat alternatif solusi. Dia total pada panggilan profesi. Dia lebur dalam setiap tarikan nafas informasi.

Apakah Valdo hanya menguasai jurnalistik? Tidak. Valdo menguasai industri pers. Dia mengetahui isi perut semua bidang dalam industri pers. Dia kuasai redaksi, sirkulasi, iklan, percetakan, lay out dan semuanya. Semua persoalan yang muncul dia akan memberi solusi akurat saat itu juga. Rapat dengannya akan membuat kita kaya akan pengetahuan terbaru. Bersama Valdo meliwati hari-hari di Dili telah memberikan saya pemahaman yang benar tentang pers.

Ada tiga peristiwa yang membuat saya senantiasa teringat pada Om Valens. Suatu ketika Dili dilanda angin kencang. Naluri saya sebagai insan pers pemula membawa saya berkeliling Kota Dili mengabadikan peristiwa itu. Saya potret pohon yang tumbang, juga pemancar sebuah radio amatir yang ikut rontok. Foto-foto hasil bidikan itu saya bawa ke rapat redaksi. Saya ingat betul Bung Wens Rumung senior saya langsung memberi komentar, lebih tepat marah. Foto macam apa ini, teriak Wens. Namun apa yang dilakukan Om Valens, dia menarik Wens dan mengingatkan.

"You tahu tidak, dia itu baru keluar dari daerah bencana, kepekaannya masih tinggi. Dia masih trauma". Saya lihat Bung Wens terdiam, kemudian mengajak saya untuk memilih beberapa pose yang akan digelar sebagai parade foto. Saya kira Om Valens benar, sebab sejak keluar dari Maumere saya sungguh mengalami trauma yang serius. Saya peka sekali, bahkan takut berada di gedung lantai dua atau lebih. Saya selalu gelisah bila terkurung dalam bangunan, khawatir kalau-kalau terjadi gempa dan saya akan melompat ke mana. Trauma itu berlangsung selama beberapa tahun.

Yang lainnya, bahwa suatu ketika saya menulis berita minor tentang sebuah lembaga keuangan di Dili. Berita itu telah membuat orang yang terkena pemberitaan mengamuk. Dia anak seorang pejabat besar di Pemda Timtim. Dia mengamuk, bawa massa satu mobil. Mereka pukul dua orang yang memberi informasi pada saya, kemudian mengejar saya ke kantor. Om Valens ada di sana. Saya ingat betul dia tidak mau saya berhadapan dengan siapa pun. Dia minta para redaktur bertanggung jawab. Sebab suatu berita sampai muncul di media tentu sudah melalui proses editing berlapis.

Penyelesaian persoalan itu alot. Sampai-sampai Salvador yang anggota MPR/DPR RI nekad menggulung tangan baju, sungguh merupakan pengalaman yang berharga. Setelah si anak pejabat itu pulang, kami ke restoran. Sambil makan Om Valens mulai menjelaskan titik lemah berita tersebut. Dalam hati saya mengaku telah salah dalam penulisan tersebut sebab mengabaikan keseimbangan berita. Dalam kondisi fisik lelah, capek, atau malas, sering seorang wartawan terjebak dalam kekilafan yang prinsip.

Setelah sebulan bersama Om Valens di Dili saya pun bicara empat mata dengannya. Saya katakan pada beliau bahwa saya harus kembali ke Kupang, karena sebelum ke Dili Om Dami Godho hanya mengijinkan saya boleh bertugas selama sebulan di Dili. "Yos, lupakan Om Dami. Sekarang kita ada di Dili. Kita bantu di sini. Oke?" ucapnya singkat. Selanjutnya saya menghabiskan seluruh waktu selama belasan tahun bersama teman-teman membangun Suara Timor Timur. Koran kecil itu tumbuh perlahan, Om Valens pun secara insidentil datang ke Dili untuk memberikan pencerahan kepada kami.

Saya masih sempat berjumpa dengan beliau dalam beberapa kesempatan, termasuk setelah kembali ke Kupang akibat Indonesia kalah dalam jajak pendapat. Ketika mendirikan sebuah koran lokal di Kupang pun Om Valens masih memberikan pandangan. Setelah koran itu kolaps saya akhirnya sadar, seandainya wanti-wanti Om Valens didengar? Akh, kami para anak didik terkadang memang suka sok tahu --- sok pinter. Padahal pengalamannya baru seumur jagung, ilmunya pun belum seberapa.

Timtim akhirnya merdeka menjadi negara Timor Leste. Om Valens ada di sana saat negeri itu bangkit dari puing-puing kehancuran. Dia hadir untuk membenah informasi negeri matahari terbit tersebut. Dia bukan sekadar menata kembali manajemen Suara Timor Timur yang bermetamorfosa menjadi Suara Timor Lorosae (STL) pimpinan Salvador Januario Ximenes Soares yang hancur lebur pasca jajak pendapat, namun juga membantu koran lain. Tak bisa dipungkiri sebagian besar jurnalis negara Timor Leste memang dilahirkan Valdo. Valdo ada di hati para jurnalista negara kecil itu. Mereka pun kehilangan atas kepergian Sang Maestro.

Kini Om Valens telah kembali ke pangkuan ilahi. Jagad informasi NTT berduka dan berluka. Laut Sawu bergemuruh --- tanda anak-anak nelayan ikut berlinangan air mata. Hamparan Mbay pecah dan terbelah, simbol dukalara anak-anak petani di seantero Flobamora. Dan semua stadion retak menangisi kepergian seorang maestro yang handal menulis para satria olah raga. Selayaknya ada bendera setengah tiang di pelataran jiwa setiap insan pers negeri ini. Selayaknya ada penghargaan yang pantas untuk putra terbaik Bumi Flobamora sekelas dia.

Selamat jalan Om Valens!! Doaku bersimbah air mata. Amin..!!


Pos Kupang Senin, 9 Mei 2005
* Penulis, seorang wartawan,
tinggal di Kupang



Mengenang Valens Doy

Secarik Rekomendasi yang Menggurat Riwayat

Oleh GERSON POYK

SEBUAH tulisan kenangan adalah alat pendidikan bagi pembaca terutama yang muda-muda. Kepergian wartawan Kompas, Valens Doi misalnya yang mendapat publisitas lumayan di media televisi maupun di koran, merupakan sugesti edukatif karena dipaparkan bagaimana kegiatan almarhum tak kenal waktu sebagai wartawan olahraga dan aktivitasnya mengembangkan koran-koran daerah dengan modal yang diperoleh dari Harian Kompas. Begitulah. Kenangan kecil ini barangkali ada gunanya buat pembaca.

Di tahun 1972, sekembalinya dari menikmati grant yang lumayan dari International Creative Writing Program di Universitas Iowa di AS, saya kembali ke Indonesia. Miskin keparat lagi seperti semula sejak saya keluar dari Sinar Harapan. Ketika jendela pesawat terbuka, saya berseru dalam hati, "Siap! Penderitaan dimulai lagi!"

Maka saya mengontrak kamar di sebuah gang sempit di pinggir By Pass. (persisnya di Polonia, di depan Penas). Kamarnya sempit, berdinding gedek, bertempelan koran dan bagian bawahnya sudah lapuk sehingga tikus bisa belarian keluar masuk. Jendelanya cukup besar terbuat dari kawat kandang ayam. Di kamar itu saya mengetik siang dan malam. `Tik-tik-tik' sampai pagi.
 

Ketika saya meminta maaf pada tetangga yang punya bayi, syukurlah mereka mengatakan bawa sang bayi nyenyak tertidur mendengar `musik' mesin tik saya. Sebaliknya dari tetangga sebelah saya mendengar denting-denting gelas susu ketika sang ibu memutar sendok.
 

Tidak banyak teman yang tahu sarang saya yang melahirkan beberapa novel, novela, cerpen dan sebagainya. Selain bertetangga dengan Julius yang jarang ke kamar saya, hanya seorang mantan murid saya di SGA Negeri Ternate, seorang oknum AURI pelatih terjun payung asal Timor yang menjadi teman minum sekaligus pengawal saya di Jatinegara dan seorang Inggris bernama Anthony Goldstone, anak industrialis besar Inggris yang menjadi wartawan yang suka berkeliling dunia dengan gaya kere.
 

(Menjelang Timor Timor merdeka, ia muncul di Dili, bertemu Peter Rohi dan bertanya tentang nasib kawan kere benarannya. Anthony mengunjungi Dili sebagai Sekjen Amnesty International).
 

Tiba-tiba pada suatu hari datang Julius Siyaranamual bersama seorang teman sebaya. "Ini teman saya, Valens Doi, teman sekolah saya di SMA Katolik di Ende, Flores." Julius meminta tanda tangan saya di atas konsep rekomendasi yang mereka buat untuk melamar kerja sebagai wartawan di Kompas. Lama saya tercenung, ingin menolak permintaan Julius karena saya tak kenal Valens tetapi kepercayaan saya kepada Julius Siyaranamual terlalu besar.
 

Dalam hati, walaupun tidak pasti, apa yang dikatakan Julius bahwa kawannya itu bisa menulis, bisa diterima, apalagi kawan Julius itu lulusan pendidikan sebuah SMA Katolik. Ini pengalaman kedua perkara menandatangani rekomendasi. Pertama, ketika Frans Harahap teman kos di Surabaya menyuruh menandatangani surat keterangan yang mengatakan bahwa ijazah SMA-nya hangus di rumahnya yang dilalap api. Saya tercenung, tetapi mengingat dialah yang mengajak saya untuk pertama kalinya mengarang seperti dia, maka saya pun meneken surat keterangan itu. Benar, dia mendapat penghargaan sebagai wartawan Sinar Harapan.
 

Walaupun demikian, saya tetap berdebar-debar apalagi ketika dengar bahwa dia diterima sebagai wartawan budaya. Bosnya, Alfons Taryadi, redaktur budaya ketika itu, mungkin karena rekomendasi dari seorang sastrawan, menyuruh dia meliput kegiatan seni dan tingkah-polah para seniman di TlM. Saya makin berdebar. Jacob Utama akan bilang apa kalau Valens tak mampu menjadi wartawan budaya ukuran Kompas.
 

Biasanya kalau seorang wartawan berpos di Istana, maka dia kenal dengan para menteri dan presiden. Bila dia wartawan ABRI, maka dia kenal dengan para jenderal. Menjadi wartawan press release sudah cukup keren. Dengan tape recorder laporan dan berita bisa mulus, aman tetapi dengan `jenderal seni-budaya' diperlukan pengetahuan mengenai filsafat dan sejarah kesenian di samping pengetahuan umum yang luas. Saya berdoa semoga Valens mampu.
 

Ketika bertemu, dia jujur. "Saya dipindahkan ke olahraga. Menjadi wartawan olahraga, karena Alfons Taryadi tidak puas dengan tulisan-tulisan saya," katanya kurang lebih.
 

Lama saya tidak jumpa dengannya. Pertemuan terakhir ketika saya meliput Timor Portugis sebelum dimasuki Indonesia. Ia mengatakan bahwa ia dikejar-kejar karena menulis tentang korupsi di perbatasan. Saya ikut kuatir. Setelah itu saya lupakan dia bertahun-tahun.
 

Pada suatu hari ketika sedang `berolahraga cangkul' di sepetak tanah terlantar yang saya jadikan kebun singkong, Valens dan Damianus Godho muncul. Mereka meminta untuk memajang nama sebagai redaktur khusus di Pos Kupang yang akan dibiayai Kompas. Harmoko mengeluarkan SIUPP dan Pos Kupang pun terbit. Tercantum nama Julius Siyaranamual dan nama saya. Setelah itu hanya satu kali saya bertemu Valens ketika saya jalan kaki ke Kompas mengambil honor. Dia mengajak saya naik jip besarnya ke sebuah restoran.
 

Ketika tinggal di Kupang selama 8 bulan (1997-1998) Valens tidak tampak. Ada yang mengatakan bahwa dia mendirikan koran di Australia. Walaupun demikian saya menikmati honor dari Pos Kupang Rp 25.000 setiap tulisan. Inisiatif Valens mendirikan Pos Kupang menyebabkan saya berkesempatan berjumpa dengan pembaca di daerah kelahiran saya. Beberapa tulisan opini mendapat sambutan baik lewat artikel tanggapan, antara lain dari Romo Leo Kleden SVD yang ketika itu menjadi dosen di Seminari Hokeng.
 

Bulan Juli tahun 2004, ketika saya berkeliling Flores untuk pembuatan film dokumenter kehidupan sastrawan Indonesia asal NTT, saya mampir di perpustakaan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledakro, menanyakan Romo Leo Kleden tetapi diperoleh kabar bahwa beliau telah pindah ke Roma menjadi pembesar SVD. Saya bangga, ada putra NTT yang menjadi pembesar dunia.
 

Mobil yang meluncur ke arah Ruteng berhenti di padang sabana Aireka (?) yang luas di kawasan Boawae. Di sela-sela syuting saya bertanya kepada orang yang menonton apakah mereka mengenal Valens Doi. "Ya, Valens Doi, wartawan. Dia anak Boawae."
 

Ketika kembali ke Jakarta, saya mendapat khabar teman kelasnya di SMA Ende, Julius Siyaranarmual telah lama kena stroke. Adik Julius mengatakan bahwa Pos Kupang ikut membantu pengobatan. Dengan demikian Valens secara tak langsung membantu kawannya yang sakit.
 

Kini dia telah tiada, tetapi di kamar kerja saya setiap kali melirik ke Tropy Adinegoro, saya melihat namanya terukir bersama nama pemenang hadiah jurnalistik bergengsi itu. Ia memperolehnya di tahun 1983 (?). n

Sumber http://www.sinarharapan.co.id/berita/0505/21/jab04.html

Pertahankan Dispora NTT

SUDAH lama kita mendengar rencana Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk merampingkan struktur birokasi daerah. Rencana tersebut sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Mengacu pada regulasi tersebut sejumlah Biro, Badan, Dinas dan Kantor di lingkungan Pemerintah Propinsi NTT bakal dilikuidasi bahkan berkemungkinan dihilangkan sama sekali. Peraturan itu juga berlaku untuk pemerintah kabupaten/kota.

Semangat PP No. 41 sangat luhur. Organisasi perangkat daerah hendaknya hemat struktur, tetapi kaya fungsi. Jangan terjadi sebaliknya, struktur begitu gemuk sementara fungsinya minim bahkan terjadi tumpang tindih tugas pokok dan fungsi. Kita sudah merasakan dampak struktur birokrasi yang gemuk. Salah satunya adalah terjadi pembengkakan pada pos biaya operasional dan administratif. Sampai saat ini masih terjadi gap yang lebar dalam struktur APBD antara pos biaya pemerintahan dan pembangunan.
Banyak kritik, saran dan usul demi perbaikan tersebut dan semangatnya sudah tersirat dalam PP No. 41/2007. Akan ada perubahan sistem birokrasi pemerintahan. Dan, beberapa daerah di Indonesia sudah menjalankan hal itu dengan hasil positif yaitu kinerja birokrasi menjadi lebih baik. Baik dalam pengertian lebih produktif ketimbang yang lama. Lebih lincah bergerak dan cepat merespons kebutuhan masyarakat. Pelayanan birokrasi pun lebih efisien dan efektif.
Kita mendukung penuh semangat merampingkan struktur organisasi pemerintah daerah. Namun, kita menggarisbawahi agar perampingan tetap mempertimbangkan kebutuhan konkret daerah ini yang jelas berbeda dengan wilayah lain. Salah satu informasi yang berkembang adalah rencana melikuidasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT. Dispora akan "turun pangkat" menjadi Bagian, Sub Bagian atau Seksi di instansi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Kita ingin menggugah pengambil kebijakan di level eksekutif dan legislatif agar memikirkan kembali rencana tersebut. Apakah pertimbangan untuk melikuidasi Dispora NTT sungguh obyektif ataukah hanya berdasarkan indikator tertentu yang masih terbuka ruang untuk didiskusikan lagi. Dalam pandangan kita, seandainya kinerja Dispora kurang memuaskan, maka persoalannnya ada pada faktor manusia, bukan institusinya. Jika ada tikus dalam lumbung, orang bijak tak akan membakar lumbungnya. Dia cukup menangkap tikusnya saja.
Mengapa Dispora pantas dipertahankan? Jika ukurannya adalah kontribusi bagi daerah, jelas bukan pendapatan semata. Dispora bukan instansi yang menghasilkan uang. Katakanlah seperti Dinas Pendapatan Daerah atau Dinas Pertambangan. Dispora memberi kontribusi dalam bentuk lain yaitu investasi Sumber Daya Manusia (SDM) NTT bermutu. Dinas ini memiliki kewenangan yang lebih dalam mengelola urusan olahraga dan kepemudaan, sesuatu yang erat kaitannya dengan membangun manusia berkualitas. Jika sekadar unit dari dinas lain, maka keberadaannya tak memberi manfaat besar bagi perkembangan olahraga dan kepemudaan. Tentang kejayaan NTT di bidang olahraga tak perlu dlitanikan lagi. Sudah terbukti dan teruji, olahraga adalah penyumbang utama kehormatan panji Flobamora dan Tanah Air Indonesia. Masa kita tega mengecilkan kontribusinya. Kepemudaan pun bukan perkara ringan. Dibutuhkan keseriusan pemerintah mengelolanya.
Kita mengutip pernyataan Staf Kementerian Pemuda dan Olahraga, Drs. Thobias Tubulau dalam rakor di Kupang, 15 April 2008. "Ada informasi bahwa Dispora NTT akan dilikuidasi. Kami dari kementerian sangat menyayangkan hal ini karena UU Nomor 3 Tahun 2005 mensyaratkan setiap daerah agar membentuk Dinas Olahraga," kata Tubulau. * Salam Pos Kupang, 19 April 2008. Halaman 11


Jaga Kebersamaan dan Citra NTT


KUPANG, PK--Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Piet A Tallo, S.H, meminta insan pers (persuratkabaran) di NTT, terutama anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang NTT harus menjaga kebersamaan dan citra NTT terhadap masyarakat luar.
Permintaan itu disampaikan Gubernur NTT, Piet Tallo ketika menerima kunjungan pengurus PWI Cabang NTT di rumah jabatan gubernur di Jalan El Tari 1-Kupang, Jumat (18/4/2008).
Menurut Piet Tallo, salah satu bentuk menjaga kebersamaan dan citra daerah ini adalah dengan cara menghindari berita-berita gosip yang cenderung menyudutkan pihak- pihak tertentu. Jadi, tegas Piet Tallo, peranan media massa sangat besar untuk menghindari berita-berita gosip.

Kunjungan beberapa pengurus PWI yang dipimpin Ketua PWI Cabang NTT, Damyan Godho untuk memberitahukan kepada Gubernur Piet Tallo tentang berakhirnya masa tugas pengurus PWI NTT masa bakti 2002 - 2007. Selain itu, untuk menyampaikan kepada gubernur mengenai rencana PWI NTT untuk menyelengarakan Konferensi Cabang (Konvercab) PWI NTT yang akan dilaksanakan, Sabtu hingga Minggu (19- 20/2008), di Hotel Sylvia-Kupang.
Ikut dalam kunjungan itu, antara lain Richard Purnomo, salah satu unsur pimpinan TVRI Kupang, Sekretaris dan Bendahara PWI NTT, yakni Bernadus Tokan dan Ina Djara, Dion DB Putra, Tony Kleden, Beny Dasman dan Hironimus Modo.
Kepada Gubernur Piet Tallo, Damyan Godho menjelaskan, tujuan Konfercab PWI NTT untuk pemilihan badan pengurus PWI Cabang NTT periode 2008 - 2012 dan penyusunan program kerja pengurus masa bakti empat tahun ke depan.
Pada saat itu Piet Tallo mengatakan, PWI NTT sebagai instrumen publik diharapkan harus tetap eksis pada era teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini. Apalagi, demikian Piet Tallo, secara nasional PWI merupakan salah satu pilar perjuangan kemederkaan negara ini.
Piet Tallo meminta pengurus PWI Cabang NTT yang baru harus memperhatikan serius perkembangan teknologi informasi sekarang ini. Untuk itu, imbau Piet Tallo, pendidikan dan pelatihan harus menjadi salah satu program kerja yang dilakukan oleh pengurus PWI Cabang NTT periode mendatang. "Program pendidikan dan pelatihan bagi insan pers sangat penting. Dan, pengurus PWI harus intensifkan program pendidikan ini guna merespons perkembangan teknologi informasi. Jika wartawan tidak belajar atau tidak mengikuti perkembangan teknologi informasi, maka akan ketinggalan," kata mantan Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) dua periode ini.
Gubernur Piet Tallo juga berharap gubernur baru NTT nanti perlu mendorong pengembangan sumber daya manusia (SDM) pers di daerah ini. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada insan pers di NTT jika selama masa pemerintahannya kurang memberi perhatian kepada pers. "Saya tidak bisa lupa teman-teman pers yang telah membantu pemerintah selama ini. Saya mohon maaf kalau pemerintah kurang memperhatikan terman-teman pers selama ini," ujarnya.
Gubernur Piet Tallo juga menyampaikan ucapan selamat kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang dan dr. Wera Damianus (Paket Soda) yang meraih suara terbanyak dalam pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Sikka. "Saya ucapkan selamat kepada Pak Sosimus Mitang dan pasangannya yang unggul dalam Pilkada di Sikka," ujar Piet Tallo. (oni). Pos Kupang, 19 April 2008

Api Doy menuju Gowa


Valens "Kompas" Doy

"Tiarap!"
begitu satu kali lelaki bermata api itu bertegas
Akupun lari bergeras, melihat semua lebih keras
tengah 80-an, langit kelabu, dunia palsu
ribuan manusia dengan kerah tegak
tak cuma tiarap tapi merangkak dan kabur!
Lelaki bermata api, kini lenyap kembali
20 tahun tak kami bertemu
Setelah bibir tebalnya merangkum nasibku
sejak mula, sejak awal masakku, jurnalisme
bibir padat gairah itu tak peduli
remaja kurus, entah siapa, menguntit reputasinya
"tulis!"



Lelaki dengan ... hitam di kepala itu menyerbu
lalu ia bergerak, bergerak, bergerak senantiasa
Tubuh pendek kerasnya tak terpegang
melesat dikala kepala, atau lenyap berdiam hati
tidur melulu sekejap, segera kerja hebat, menyergap
"aku redaktur malam sekarang! ia tertawa
mulutnya lebar terbuka, semua kemungkinan didalamnya
dan dalam sehari, 4 gelas kopi, 3 bungkus kretek,
berganti air bening dan gula-gula, disiplin, disiplin!
Aku menulis dipojok mejanya. "PSSI berkelahi lagi"
"ha...ha... ha.."
 

Tawa itu tak pernah luput disemua cuaca
seperti nasib yang membuka perutnya
dan kita berziarah didalamnya
Lalu hanya sedikit jumpa selepas desk olahraga
kulihat kau disana, kudengar kau disini
bagai elang kehilangan angkasa
Lelaki dengan langkah lebar itu kini misteri
membuatku selalu tunduk merabuk
mengapa ia belum juga bangkit berdiri?
Ribuan nama tak nanti mengganti Doy satu ini
wajah keras Flores, gairah yang membasuh muka
kilat api matanya: kasih, juga damai yang terbawa
sejak gajah mada, mundur hingga gowa
"bangkit! bangkit"
Namun pualam itu tetap terpendam...
jasad dan jiwa yang membangkitkan itu
tetapi tiarap, untuk seterusnya.....

Tengah malam buta, kudengar kabarnya
dan langit negeri masih kelabu
foto-fotomu berkelebat selalu di memori kecilku
pori-poriku bergetar: tiarapkah kita selalu?
aku berdiri, membersihkan muka dan berhajut
melenyap hati dan menulis kata-kata ini
"Bang Valens, segontai apa pun tungkaiku.
biarlah aku tegak vertikal untukmu!"
dengan tekun kuasah pualammu
kutebar panas apimu
sampai pun gowa
sampai pun niatku tak kuasa
terbentanglah kau abang
biar tidur pun kau, langit tertantang
di jauh sini, jutaan maafku terbang
di tubuh yang sirna, gairah itu tetap jalang
hingga di waktu tak lagi panjang
hingga kelabu itu hilang
dan senyum mengembang...

Jakarta, 03/05/05
Radhar Panca Dahana. Kompas, 9 Mei 2005.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes