Mama Mia!

Catatan sepakbola Dion DB Putra

"Jika aku meninggal di lapangan karena cedera, aku minta di peti matiku dimasukkan sebuah bola. Jadi, aku bisa mati dengan puas dan sambil tersenyum."
 -- Marta Vieira da Silva --

ZURICH 12 Januari tak sekadar pesta bagi Swiss. Zurich 12 Januari 2009 memanggungkan seorang perempuan muda yang patut dikenang dunia. Dia lahir dari lapangan sepakbola. Namanya Marta Vieira da Silva. Marta kembali terpilih menjadi wanita pemain sepakbola terbaik tahun 2008 versi Badan Sepakbola Dunia (FIFA). Tahun ketiga Marta menggenggam dunia. Mama Mia!

Dalam pemilihan pemain terbaik FIFA 2008, Marta yang baru bergabung dengan Los Angeles Sol -- klub profesional Liga Sepakbola Wanita Amerika Serikat -- mendapat poin tertinggi yaitu 1.002 poin. 

Si pirang asal Jerman, Birgit Prinz yang juga pernah meraih gelar pemain terbaik FIFA sebanyak tiga kali, berada di urutan kedua dengan 328 poin. Cristiane dari Brasil di posisi ketiga (275 poin) disusul Nadine Angerer dari Jerman (198) dan Kelly Smith asal Inggris (150). 

Prestasi Marta istimewa. Pemain asal Brasil itu berdiri sejajar dengan kaum Adam yang mendominasi jagat sepakbola. Namanya tak kalah harum dibanding si 'gigi kelinci' Ronaldo dan sang maestro dari Perancis, Zinedine Zidane. Mereka sama meraih hattrick predikat terbaik. Tiga tahun berturut-turut. 

Persaingan pemain terbaik wanita mungkin tidak seketat pria. Namun, keberhasilan Marta terasa istimewa karena dia melewati perjuangan yang sangat berat. Dia juga meraih gelar bergengsi tersebut dalam saat usia masih sangat muda yaitu 22 tahun.

Marta membangun karier profesional dengan susah payah di Santa Cruz, kampung halamannya. Globalisasi bola mengantarnya ke Eropa. Marta tak menyia-nyiakan kesempatan emas sejak bergabung bersama klub Swedia, Umea IK. Marta sungguh haus gol. Selama di Umea tahun 2004-2008, ia mengoleksi 111 gol dari 103 penampilan dan membawa Umea menjuarai Liga Sepakbola Wanita Swedia.

Tahun 2006 dan 2007 dia terpilih sebagai pemain terbaik dunia dan top skorer Piala Dunia Wanita 2007. Anda tahu gajinya di klub Umea? Sebulan dia dibayar sekitar Rp 515 juta! Jumlah yang membuat banyak orang terkesima.

Pesona Marta tak kalah membius dalam balutan kostum tim nasional Brasil. Sejak membela tim Samba tahun 2002, ia telah menyumbangkan 47 gol dalam 45 kali pertandingan bersama Selecao dan ikut membawa Brasil meraih medali perak Olimpiade Beijing 2008. Dunia mengenal Marta sebagai striker yang dingin di kotak penalti. Bukan cuma pemikir dan motivator bagi tim, dia juga eksekutor sejati. Sentuhannya 90 persen berubah menjadi gol.

***
SUKSES Marta Vieira da Silva merupakan buah dari perlawanan terhadap struktur sosial yang diskriminatif. Berbeda dengan Mia Hamm (AS) dan Birgit Prinz (Jerman), Marta lahir dan dibesarkan di Brasilia yang memandang bola dengan seluruh pesonanya sebagai dunia kaum pria. 

"You are a woman, Marta!" Demikian hardikan Dona Tereza Vieira de Sá setiap kali melihat putri mungilnya, Marta Vieira bermain bola bersama bocah pria di jalanan. "Kamu itu perempuan, Marta. Tempatmu bukan di lapangan bola!" Kata- kata itu bergaung hampir saban hari di rumah mereka yang sempit dan kumuh di Dois Riachos, Alagoas, Brasil.

Teriakan "You Are A Woman" adalah judul buku biografi Marta da Silva karya penulis Brasil, Diego Graciano. Dalam buku tersebut Graciano menulis perjuangan Marta hingga meraih impian masa kecilnya sebagai sebagai ratu sepakbola sejagat. Ratu dari Brasilia. Dan, Marta punya kelas tersendiri. Jauh berbeda dengan Milene Domingues yang kesohor karena menikahi Ronaldo lalu bercerai gara-gara perselingkuhan.

Marta pantas mendapatkan segala yang terbaik saat ini karena dia melewati onak dan duri. Jatuh dan bangun menuju puncak prestasi. Tidak hanya latihan teknis mengolah si kulit bundar, perjuangan Marta justru lebih berat melawan tatanan nilai dalam lingkungan sosialnya.

Lahir di kawasan Dois Riachos, Alagoas, Brasil 19 Februari 1986, Marta tergila-gila pada sepakbola sejak bocah. Tapi dia ditentang oleh keluarga. "Ibu, keluarga, tetangga, teman-temanku tak ada yang mendukung," demikian Marta. 

Sang bunda, Dona Tereza tak menampik pengakuan Marta tersebut. "Saya larang dia bermimpi jadi pemain bola, sebab itu hal yang tidak mungkin terjadi. Saya juga takut ia menderita cedera," kata Dona.

Apa jawaban Marta? Dona selalu ingat kata-kata spontan putrinya, "Jika aku meninggal di lapangan karena cedera, aku minta di peti matiku dimasukkan sebuah bola. Jadi, aku bisa mati dengan puas dan sambil tersenyum." 

Tekad Marta tak pernah padam. Pada umur 12 tahun, Marta bergabung dengan klub lokal, CSA. Dia merupakan satu-satunya perempuan di klub itu. Ini memancing kemarahan sang kakak, Jose. Dalam review buku biografinya, Jose mengakui dulu ia kerap memukuli adiknya yang bengal itu. 

"Orang sering mengejek, adik perempuanmu bermain dengan anak laki-laki. Saya menjemputnya dari lapangan bola. Membawa ke rumah, memukulinya. Tapi ia kabur dan kembali ke lapangan bola," kata Jose.

Pergaulan dan kebiasaan bertarung dengan kaum lelaki mengasah kemampuan Marta. Pada usia 14 tahun, ia melakukan perjalanan tiga hari tiga malam dengan bus untuk bergabung dengan klub impiannya di Kota Rio de Janeiro, Vasco Da Gama. Adalah Helena Pacheco yang merekrut Marta masuk ke klub itu. Bagi Marta, Helena Pacheco yang sempat menangani timnas Brasil merupakan orang paling berjasa baginya. Pacheco mengantar Marta menuju kejayaan.

Di Vasco Da Gama, karier Marta melesat. Keluarga menyerah. Prestasi bersama Vasco menarik perhatian Umea IK. Tahun 2004, Marta terbang ke Swedia. Swedia jatuh hati. Mereka memberinya julukan unik, Marta Sepupu Pele. Sebuah ilustrasi betapa kepiawaian Marta bisa disandingkan dengan Pele. "Saya yakin akan lebih banyak wanita tertarik dengan bola. Kita sedang menatap masa depan yang lebih baik," kata Marta pada malam penganugerahan di Zurich 12 Januari lalu.

Marta da Silva mestinya sebuah rangsangan. Rangsangan bagi kaum perempuan sejagat untuk berjibaku, bersaing secara sehat dengan kaum pria dalam lapangan hidup manapun. Oh, Mama Mia! Hai para "Ratu" dunia. Jangan pernah menyerah!*

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes