Romero, Setelah Penantian Selama 12 Tahun

Sergio Romero
Menghabiskan lebih dari 12 bulan dengan tidak menjadi favorit di klubnya, Sergio Romero keluar dari bayang-bayang dan menjadi pahlawan atas sampainya Argentina ke putaran final Piala Dunia 2014.

Tidak seperti pertandingan semi-final antara Jerman dan Brasil yang banjir gol, pertemuan antara Belanda kontra Argentina berlangsung tanpa gol hingga menit ke-120 hingga akhirnya adu pinalti.

Romero secara mengejutkan berhasil memblok dua tendangan pemain Belanda Ron Vlaar dan Wesley Sniejder dari titik putih. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Argentina 4-2. Dan Argentina akan menantang Jerman di laga pemuncak Piala Dunia 2014.

Kapten Lionel Messi juga menyebut Romero sebagai pahlawan dan mengaku bahwa timnya beruntung.

"Pinalti adalah tentang keberuntungan, itu kenyataan. Saya percaya diri dan terima kasih Tuhan ini berjalan dengan baik," kata Messi setelah pertandingan.

Kehadiran Romero menambah solid pertahanan Argentina sepanjang pertandingan dan dia menjaga clean sheet di tiga laga pada fase knockout lalu.

Penampilannya seakan menjawab keraguan dari warga Argentina yang menyatakan Romero seharusnya tidak dipanggil oleh Alejandro Sabella, dan seharusnya lebih memilih Agustin Orion dan Mariano Andjuar sebagai pilihan pertama.

Romero menjalani satu tahun di klub dengan berat, tetapi kiper ini menempuh segala cara untuk tampil di Piala Dunia Brasil.

Ia meninggalkan klub Italia Sampdoria pada akhir bursa transfer musim panas lalu dan bergabung dengan Monaco dengan status pinjaman.

Romero mengira akan menjadi kiper nomer satu di Monaco, tetapi pelatih Claudio Ranieri lebih memilih kiper Kroasia Danijel Subastic. Sementara Romero hanya membuat satu penampilan dari tiga laga di bulan April.

Walaupun demikian, Sabella tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada pemain yang mengantar Argentina mendapat medali emas di Olimpiade Beijing pada 2008.

"Dia (Sabella) membantu saya keluar dari waktu paling sulit dalam karir saya," kata Romero seperti dikutip di AFP.

"Itu tahun pertama saya menghabiskan waktu di bangku cadangan. Jadi saya harus berterima kasih kepada Alejandro untuk segala yang dia berikan untuk saya selama ini."

Sabella sendiri menyatakan pujian kepada pelatih kiper Juan Jose Romero dan segala informasi untuk memenangkan adu pinalti.

Sedangkan pelatih Belanda Louis van Gaal mengaku tidak terkejut melihat Romero menjadi pahlawan. Van Gaal tahu kemampuan Romero karena pernah melatihnya di AZ Alkmaar setelah dipecat menjadi pelatih timnas Belanda.

Klub Belanda yang berlaga di Eredivisie itu merupakan klub Eropa pertama Romero ketika Van Gaal mendatangkannya dari raksasa Buenos Aires Racing pada 2007, dan dua tahun kemudian mereka memenangkan liga domestik.

"Saya tidak mengajari Romero untuk menggagalkan pinalti, tetapi kami yang membawanya ke Eropa karena talentanya yang besar," kata Van Gaal.

Romero menambahkan, "Saya berterima kasih kepada Louis di ruang ganti. Dia banyak membantu saya di Belanda, negara yang sangat berbeda, dengan bahasa dan kostum berbeda. Dia bisa berbicara bahasa Spanyol dan banyak membantu saya."

"Saya akan bersyukur selamanya karena dia (Van Gaal) membantu saya di negara yang berbeda."

Masa pinjaman ke Monaco sudah hampir selesai, masa depannya di klub belum pasti, tetapi Romero akan merayakan kemanangan ini sebelum kembali berkonsentrasi pada final melawan Jerman di Maracana Stadium.

"Momen ini harus dinikmati. Saya sangat senang," tambahnya lagi. *


Sumber: Pos Kupang.Com

Selamat Jalan Bupati Ema

HJ Gadi Djou
SEBAGIAN besar perjalanan kariernya dihabiskan di bidang pemerintahan. Tetapi, perhatiannya di bidang pendidikan tidak sedikit. Buktinya, sejak tahun 1980, bersama pimpinan DPRD, tokoh masyarakat, alim ulama, tokoh pendidikan di Kabupaten Ende, dia mendirikan Yayasan Perguruan Tinggi Flores dan Universitas  Flores.

Itulah Herman Joseph Gadi Djou, Drs Ekon. Bagi sebagian besar masyarakat Kabupaten Ende dia memiliki sapaan akrab yakni Bupati Ema Gadi Djou. Agaknya pantas jika dia mendapat predikat sebagai tokoh pendidikan di Kabupaten Ende, bahkan Flores umumnya. 

 Kini, sosok yang akrab disapa HJ Gadi Djou itu  tinggal kenangan. Ia telah pergi meninggalkan istri, anak-anaknya beserta sanak keluarganya untuk selama-lamanya.
Bupati Ende periode 1973-1983 ini meninggal dunia pada Sabtu (5/7/2014), sekitar pukul 23.52 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Dia meninggal dalam usia  77 tahun lebih.

Meski lebih dikenal sebagai pejabat birokrat, HJ Gadi Djou yang lahir pada 4 April 1937 di Ndona-Ende, pernah menjabat Rektor Universitas Flores tahun 1980-1983. Dan, sejak tahun 1980 hingga sekarang, HJ Gadi Djou  menjabat Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores.

Informasi yang diterima Pos Kupang dari anak sulungnya, Anna Maria Gadi Djou, Minggu (6/7/2014), di rumah duka Jalan Sam Ratulangi, Kota Ende, sebelum meninggal almarhum sempat dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta beberapa kali. "Bapak menderita komplikasi penyakit, seperti tumor di usus dan terakhir menderita penyakit infeksi saluran kencing," tutur Anna.

Anna mengatakan, ayahnya meninggalkan Kota Ende dan berangkat ke Yogyakarta pada November 2013. Ayahnya ke Yogyakarta untuk berisirahat dan  mengobati penyakit yang dideritanya. Sejak itu HJ Gadi Djou tidak pernah lagi kembali ke Ende hingga ajal menjemputnya pada Sabtu (5/7/2014).

Menurut rencana, jenazah HJ Gadi Djou tiba di Ende hari ini, Senin (7/7/2014), dan  disemayamkan di rumah duka, Jalan Sam Ratulangi, Kota Ende.  HJ Gadi Djou meninggalkan seorang istri, Ny. Maria Aloysia Parera, tiga orang anak, yaitu  Anna Maria Gadi Djou, Dr. Laurensius Dominicus Gadi Djou, dan Joseph Alfonsius Gadi Djou, serta empat orang cucu, yakni Matheus Reynaldi, Patrsia Maria D Ndoenboey, Maria Rianty Gadi Djou dan Antonia Maria Gadi Djou.

Semasa hidupnya, HJ Gadi Djou memegang sejumlah jabatan di bidang pemerintahan, seperti Kepala Divisi Ekspor dan Impor Kantor Gubernur NTT, Wakil Kepala Biro Inspeksi Keuangan dan Pajak, Kepala Biro Inspeksi Keuangan dan Pajak tahun 1967. Kepala Biro Ekonomi tahun 1968 dan Wakil Direktur Perusahaan Daerah NTT tahun 1968. Selain itu, HJ Gadi Djou pernah menjabat Bupati Ende periode tahun 1973-1983. Asisten II Setda  NTT Bidang Ekonomi dan Pembangunan tahun 1985-1995. Kepala BP7 Propinsi NTT tahun 1995-1997.

HJ Gadi Djou juga aktif di organisasi kemasyarakatan seperti Ketua PMKRI Cabang Kupang tahun 1967-1969, Komisaris Daerah PSSI NTT 1986-1973, Sekretaris II Kokamendragi tahun 1967, Anggota Pengurus DPD I Golkar NTT tahun1967, Sekjen Partai Katolik NTT tahun 1968-1970, Ketua Dewan Penasihat DPD II Partai Golkar Kabupaten Ende, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka NTT tahun 1984-1997, Ketua Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) NTT tahun 1994-1997, Ketua Badan Pekerja Harian Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Ende Tahun 1999-2004.

HJ Gadi Djou pernah mengikuti kursus Help Magistraat/Pembantu Jaksa, Project Appraisal pada Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Orientasi Pemerintahan, Orientasi Pembangunan Bidang Agraria, Sekolah Staf Pimpinan Administrasi (SESPA), Tarpadnas, Penataran P4 Pusat/Menggala.

Penugasan luar negeri ke Dili, Timor Portugis tahun 1968 untuk pembukaan penerbangan Zamrut, Hongkong tahun 1969 untuk Penelitian Ekspor Ternak, Darwin, Australia Utara tahun 1990, 1991 dan 1992 mengikuti Expo. Ke Singapura, Bangkok, Korea Selatan, Taipe, Bombay, New Delhi tahun 1992 untuk studi perbandingan tentang kayu cendana dan hasil pengolahannya, Paris (Prancis) tahun 1994 sebagai Anggota Delegasi Pramuka Indonesia pada Kongres Pramuka se-Dunia.

HJ Gadi Djou mendapat tanda jasa/penghargaan Cincin Emas Kelas II Nusa Tenggara Timur dari Gubernur NTT, Satya Lencana Karya Kelas II dari Presiden RI, Piagam Penghargaan No. 707/1983 dari Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Sebelum meninggal, kata Anna, ayahnya tidak menitipkan pesan khusus.  Namun, tutur Anna,  sang ayah mengatakan bahwa jika memang sudah waktunya dipanggil Yang Kuasa, dia telah siap. Selamat jalan tokoh pendidikan. (rom)

Sumber: Pos Kupang 7 Juli 2014 halaman 1


Baca Juga
Lebu Raya Sebut Gadi Djou Putra Terbaik
 

Jangan Terulang Tragedi Maracana

Brasil 2014
Oleh Sindhunata

Brasil tidak diciptakan hanya untuk menjadi yang kedua. Juara, hanya itulah yang harus dihitung oleh para pemain sepak bola Brasil. Dan, mereka sadar benar akan harapan tersebut. Mereka juga sadar akan tanggung jawab terhadap fans di tanah air mereka.

Demikian disampaikan Zico dalam wawancara dengan Frankfurter Allgemeine Zeitungmenjelang Piala Dunia 2014 ini. Zico, ”Si Pele Putih”, adalah dirigen kesebelasan Brasil awal 1980-an.

Brasil adalah negara bola. Sampai ada pepatah, begitu dilahirkan ibunya, seorang anak Brasil sudah menggiring bola di kakinya. Brasil sendiri telah membuktikan apa artinya menjadi negara sepak bola. Mereka lima kali menjadi juara dunia. Lebih daripada sekadar juara, mereka juga dikenal sebagai pelaku sepak bola indah yang dikagumi dunia.

Karena hanya kemenangan yang dihitung, buat Brasil, kekalahan adalah tragedi. Itulah mengapa kekalahan mereka dari Uruguay, 1-2, dalam final Piala Dunia 1950 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, tetap hidup sebagai kenangan pahit yang tak terlupakan sampai sekarang.

Tutur Zico, ”Waktu itu saya belum lahir. Tetapi, ayah saya termasuk 200.000 penonton yang ada di Maracana. Itulah pesta luar biasa setelah Perang Dunia. Brasil adalah tuan rumahnya, tetapi kami ternyata kalah. Bagi kami, itulah tragedi, yang tragisnya mungkin sama dengan tragisnya tragedi Perang Dunia, yang dialami negara-negara lain. Setelah 16 Juli 1950, ayah saya tak mau menjejakkan kakinya lagi di Stadion Maracana. Saya sering main di Maracana. Toh, ayah tetap tak mau ke sana.”

Di Piala Dunia 1950, Brasil tinggal sejengkal dari status juara. Saat itu, tidak ada fase sistem gugur. Yang ada grup final, terdiri atas para juara dari keempat grup penyisihan.

Brasil sudah memimpin, di depan Uruguay, Swedia, dan Spanyol. Dalam partai pamungkas di Maracana tersebut, Brasil sesungguhnya hanya perlu hasil seri melawan Uruguay.

Zico juga pernah mengalami sendiri betapa pahit sebuah kekalahan bagi orang Brasil. Ia dan kawan-kawannya gagal di Piala Dunia 1982. Waktu itu, kecuali Falcao dan Dirceu, semua pemain Brasil bermain dalam liga domestik. Artinya, setiap minggu, orang langsung menonton mereka di stadion-stadion setempat. ”Di jalan-jalan saya melihat, betapa kekecewaan terpantul dalam wajah-wajah mereka,” kenang Zico.

Zico memuji, di bawah Scolari, Brasil dalam Piala Dunia 2014 adalah tim kolektif yang kuat. Mereka langsung bisa menekan lawan. Mereka ingin menjebol gawang lawan sedini mungkin dan tak tergoda untuk mengandalkan serangan balik.

Toh, Zico khawatir juga. Soalnya, menurut Zico, tiga perempat pemain Brasil adalah debutan di Piala Dunia dan dua pertiga dari mereka tidak pernah bermain dalam kualifikasi Piala Dunia. Ada pemain Brasil yang berpengalaman dalam Liga Champions di Eropa. Namun, itu kiranya belumlah modal yang cukup untuk ikut berlaga di tingkat Piala Dunia.

Orang memang patut khawatir jika mengamati permainan Brasil sampai babak 16 besar. Dalam laga pembuka, Neymar dan kawan-kawan sempat dibuat repot oleh Kroasia. Mereka baru bisa keluar dari kebuntuan hanya karena aksi diving Fred di kotak penalti Kroasia. Wasit Jepang, Yuichi Nishimura, memberikan hadiah penalti bagi Brasil. ”Jika diving itu ditoleransi, bisa terjadi 100 kali penalti di Piala Dunia ini. Kalau begitu, lebih baik piala langsung diserahkan kepada Brasil saja,” kata Niko Kovac, pelatih Kroasia, jengkel.

Brasil kemudian ditahan seri 0-0 oleh Meksiko. Setelah menunjukkan keampuhannya dengan menang 4-1 atas Kamerun, di perdelapan final Neymar dan kawan-kawan kembali membuat publik Brasil gemetar. Pada menit ke-119, pemain Cile, Mauricio Pinilla, melakukan tendangan spektakuler. Hanya kurang 4 sentimeter, bola Pinilla itu akan masuk ke gawang Julio Cesar. Hal itu tidak terjadi. Bola membentur gawang. Andaikan tidak tertolong oleh gawang itu, akan terjadilah bencana di Stadion Mineirao di Belo Horizonte itu.

Bencana itu mungkin akan bernama Mineirazo, yang mengingatkan kembali akan tragedi Maracana, yang di Brasil dikenang sebagai Maracanazo.

Brasil menjadi juara dunia di Swedia (1958), Cile (1962), Meksiko (1970), Amerika Serikat (1994), dan Korea Selatan-Jepang (2002). Justru ketika menjadi tuan rumah 1950, mereka gagal menjadi juara karena tragedi Maracana. Jika kali ini gagal seperti 64 tahun lalu, ini benar-benar bencana. Soalnya di Brasil, Piala Dunia kali ini tak hanya menjadi perkara bola, tetapi juga perkara politik.

Menurut Mirian Goldenberg, antropolog sosial di Universitas Rio de Janeiro, sekarang di Brasil orang sedang akrab dengan kata imagina na copa. Artinya kurang lebih: coba Anda bayangkan, apa saja yang terjadi menjelang Piala Dunia ini? Inilah yang terjadi: proyek bangunan belum jadi, kemacetan di jalan, inflasi, pelacuran anak-anak, kemiskinan, dan anak-anak gelandangan. Bahkan, kaum menengah yang punya uang pun tak dapat memperoleh pelayanan kesehatan memadai karena belum tersedianya fasilitas-fasilitas kesehatan.

Mengapa uang besar-besaran digunakan untuk membangun stadion mewah, bukan untuk membangun jalan, rumah sakit, dan sarana pendidikan?

Rakyat Brasil mencintai bola. Tetapi, sebagian mereka tak mencintai Piala Dunia 2014 karena dianggap melawan keadilan yang mereka dambakan. Ketika Piala Dunia dilangsungkan di luar Brasil, nyaris tak ada yang serius mengaitkan bola dengan persoalan sosial, seperti kemiskinan atau hak-hak warga sipil yang terabaikan. Justru ketika Brasil jadi tuan rumah, bola dikaitkan dengan masalah itu semuanya. Baru kali ini di Brasil, tiba-tiba bola menanggung beban sosial dan politik.

Seandainya Brasil juara, beban sosial dan politik itu tetap menjadi persoalan. Apalagi jika Brasil kalah di rumahnya sendiri, ini sungguh krisis yang bisa dijadikan alasan untuk makin menentang pemerintah. Karena itu, tidak hanya demi bola, demi politik pun Brasil tak boleh lagi mengalami tragedi Maracana.

Sumber: Kompas.Com

Indahnya Pulau Pasir Ri'i Ta'a di Nagekeo

ilustrasi
MUNGIL, bersih, putih, belum terjamah oleh tangan-tangan nakal serta tenang dalam pelukan lautan Flores. Bak perawan yang sedang menanti sentuhan, Pulau Pasir Ri'i Ta'a menawarkan pesona alam dengan keindahan yang memanjakan mata. Ri'i Ta'a merupakan satu dari sekian banyak tempat tujuan wisata menarik di Kabupaten Nagekeo.

Pesona pasir putih, pantai yang bersih, air laut yang bening, dan lautan yang teduh memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang membutuhkan ketenangan. Di tempat ini, para pengunjung menyatu dengan alam jauh dari suara bising kendaraan, hiruk pikuk manusia dan hingar bingar sorotan lampu.

Ri'i Ta'a dalam bahasa Mbay berarti ilalang mentah atau segar. Pulau itu pertama kali ditemukan para nelayan Mbay. Ketika ditemukan, para nelayan hanya mandapati  seonggok ilalang mentah. Ilalang itu diduga dibawa gelombang dan terdampar di pulau itu. Para nelayan Mbay kemudian menamakan pulau itu Ri'i Ta'a. Sejak itu, Ri'i Ta'a menjadi tempat nelayan  beristirahat.

Tidak hanya nelayan Mbay. Nelayan dari daerah lain, seperti Ende, Sikka, bahkan Sulawesi sering menyinggahi Ri'i Ta'a sekadar melepas lelah. Di pulau ini tak ada nyamuk, lalat maupun kehidupan lainnya. Ri'i Ta'a unik karena menawarkan panorama pulau dengan hamparan pasir putih nan indah.

Ketika laut pasang, luas Pulau  Ri'i Ta'a hanya sekitar 30 meter persegi. Namun ketika surut, luas Ri'i Ta'a bisa mencapai dua hektar. Ri'i Ta'a berada di tengah Laut Flores dan terpisah dari Pulau Flores. Ri'i Ta'a masuk dalam wilayah administrasi Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Pulau ini bisa dijangkau menggunakan perahu motor dalam tempo satu jam dari Pelabuhan Marapokot. Bisa juga melalui Gheru Moreng dengan waktu tempuh hanya 30 menit. Kepala Desa Tonggurambang, Toa Mualaf,  yang ditemui di Pulau Ri'i Ta'a, Jumat (6/6/2014), mengatakan, beberapa tahun terakhir, masyarakat setempat mulai berminat mengunjungi Ri'i Ta'a hanya sekedar untuk bersantai.
Pada tahun 2010, Pemkab Nagekeo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mulai melirik Ri'i Ta'a dan memperkenalkan kepada dunia luar. Sejak saat itulah, Ri'i Ta'a mulai dikenal publik dan menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Sayangnya, di pulau ini belum dilengkapi fasilitas. Pengunjung yang datang ke tempat itu pada umumnya hanya sekedar berjemur.

Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nagekeo, Wilibrodus Lasa mengatakan, pihaknya telah membuat rencana untuk membangun lopo di pulau itu sejalan dengan penetapan Desa Tonggurambang sebagai desa wisata pada tahun 2012 lalu. Kepala Desa Tonggurambang, Toa Mualaf mengatakan, di Ri'i Ta'a bisa dibangun fasilitas pendopo kecil. Menurut Mualaf, lopo yang dibangun tidak akan terhempas ombak meskipun gelombang pasang. "Masih bisa dibangun lopo meskipun pasang tertinggi," kata Mualaf. (adiana ahmad)

Sumber: Pos Kupang 17 Juni 2014 halaman 14

Daya Pikat Kota Mbay

ilustrasi saja
TANGGAL 8 Desember 2006 merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Nagekeo. Hari itu DPR RI menyetujui Rancangan Undang-Undang  (RUU) tentang pembentukan Nagekeo sebagai daerah otonom. Nagekeo  pisah dari Ngada sebagai kabupaten induk. Nagekeo resmi menjadi kabupaten dengan dasar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2007, yang ditetapkan pada tanggal 22 Mei 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Nagekeo.

Sejak Nagekeo menjadi daerah otonom, Mbay sontak berubah wujudnya menuju kota nomor dua terbesar di utara Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur setelah Maumere, Sikka. Mbay tidak lagi  sekadar kampung dengan hamparan sawah dan  padang penggembalaan ternak yang luas. Mbay kini menjadi simbol sekaligus  titik simpul pergerakan ekonomi menuju masyarakat Nagekeo yang taraf hidupnya lebih baik, lebih sejahtera dan makmur dibandingkan kondisi pra otonomi.

Status  Mbay sebagai ibu kota Kabupaten Nagekeo menebarkan daya pikat tersendiri. Sejak sekitar enam atau tujuh tahun lalu banyak orang pun berbondong-bondong menuju Mbay.  Mereka mau berinvestasi  di sana dalam beragam lapangan usaha. Dampak yang langsung terasa adalah harga tanah menjadi mahal sekaligus menimbulkan silang sengketa yang pelik.

Menurut catatan kita, sudah banyak konflik tanah yang terjadi di Mbay selama ini. Sebagaimana lazimnya di wilayah Flores, status kepemilikan tanah menjadi pelik manakala lahan itu merupakan hak ulayat suatu masyarakat adat. Seseorang atau sekelompok orang tidak  serta-merta boleh mengklaim sebagai pemilik hak ulayat.
Salah urus dalam konflik tanah menyebabkan sebagian keluarga tercerai-berai gara-gara memperebutkan hak kepemilikan.  Tak sedikit juga warga masyarakat yang dirugikan karena status kepemilikan tanah yang tidak jelas bahkan terkatung-katung penyelesaiannya. Investor enggan menanamkan modal bahkan lari ke daerah lain bila tanah status di Mbay  tidak jelas secara hukum.

Duet pemimpin Nagekeo, Elias Djo dan Paul Nuwa Veto agaknya  menyadari  masalah sosial yang rumit tersebut. Mereka pun bertekad memberikan solusi dengan menjadikannya sebagai satu di antara program prioritas Kabupaten Nagekeo. Fokus menyelesaikan konflik tanah lewat pendekatan adat dan budaya telah ditetapkan sebagai program prioritas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RPJMD Kabupaten Nagekeo 18 Juni 2014. Program prioritas pemerintah tersebut sudah selayaknya didukung oleh semua pemangku kepentingan di Mbay dan Nagekeo pada umumnya.

Bila konflik tanah di Mbay dapat diminimalisir, maka iklim yang kondusif tersebut akan memberi rasa nyaman kepada semua pihak. Kita pun  bisa memastikan investasi akan mengalir deras ke wilayah tersebut karena ada jaminan kepastian hukum soal status tanah, perizinan, keamanan dan lainnya. 

Sudah banyak contoh konkret investor membatalkan niatnya karena masalah tanah yang tak kunjung tuntas. Kita memberi apresiasi terhadap langkah Pemerintah Kabupaten Nagekeo menuntaskan konflik tanah. Semoga program prioritas ini dilaksanakan dengan kesungguhan hati demi mencapai sasaran yang diharapkan.  (*)

Sumber: Pos Kupang edisi Kamis, 26 Juni 2014 halaman 4

Netralitas Tentara Nasional Indonesia

ilustrasi
SEJAK  pekan lalu isu tentang oknum  bintara pembina desa (babinsa) masuk keluar rumah penduduk mengarahkan mereka untuk memilih calon presiden (capres) tertentu  pada pilpres tahun 2014 semakin menghangat.

Para pihak yang diduga menggunakan peran babinsa tersebut, baik dari kubu pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa maupun Joko Widodo-Jusuf Kalla secara resmi sudah menampik keterlibatan mereka. Kubu Prabowo menegaskan, mereka tidak akan menempuh langkah seperti itu karena merusak citra Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan antidemokrasi. Bantahan serupa pun disuarakan kubu Joko Widodo.

Namun demikian, tetap saja isu tersebut bergulir deras hingga hari-hari ini. Dalam konteks politik  pemilihan umum (pemilu), penggelindingan isu semacam itu hendaknya dimengerti sebagai 'perang' opini meraih simpati masyarakat pemilih.

Pada masa kampanye Pilpres saat ini,  dua kubu pasangan capres-cawapres RI niscaya akan terus menggulirkan isu-isu krusial untuk mengganggu lawan politik sekaligus memperkuat posisinya sendiri. Konstituen yang sudah melek politik akan memposisikan isu babinsa tersebut sebagai warna-warni Pilpres 2014. Pemilih cerdas tak akan banyak terpengaruh. Mereka sudah tahu siapa yang bermain dengan semangat fair play dan siapa yang justru menggunakan cara-cara sebaliknya.

Menurut pandangan kita, kasus babinsa menarik perhatian publik karena berkenaan dengan diskursus soal  netralitas Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI (Pilpres) tahun 2014.  Walaupun kita sudah menjalani era reformasi selama belasan tahun tetapi 'trauma' terhadap dwi fungsi TNI dalam jagat sosial politik negeri ini belum sepenuhnya pulih.  Peran TNI yang cukup dominan pada rezim Orde Baru sangat diharapkan tidak terjadi lagi.

Kendati belum ideal, secara institusional reformasi di tubuh TNI telah berlangsung dengat sangat bagus. Spirit reformasi tersebut tidak boleh dikotori oleh ulah oknum tertentu yang berusaha menyeret TNI terlibat dalam politik praktis. Politik kekuasaan yang berpotensi memecah-belah masyarakat.

Sesuai amanat konstitusi, TNI harus menjaga netralitasnya dalam pemilu. TNI harus berdiri di tengah, merangkul dan mengayomi semua pihak yang berkompetisi dalam pemilu. Sikap TNI bukan memihak si A sambil berusaha menolak si B.
Kita sependapat dengan peringatan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku panglima TNI ketika bertatap muka dengan ratusan perwira TNI pekan lalu.

Presiden kala itu sempat mengungkapkan kekecewaannya karena ada indikasi jenderal TNI aktif mengajak atau mengimbau terkait dukungan saat Pilpres. Kiranya tindakan seperti itu tidak terulang. Bangsa ini amat mencintai TNI yang profesional. Jangan sampai TNI terjebak pada kepentingan politis sesaat. Semoga! *

Sumber: Pos Kupang 11 Juni 2014 hal 4

DPRD NTT Dihuni 45 Wajah Baru

KUPANG, PK--Hasil pleno penetapan calon anggota DPRD NTT terpilih oleh  KPU NTT mencatatkan 45 wajah baru dari 65 anggota menghuni DPRD NTT selama lima tahun ke depan. Sementara 20 orang anggota lainnya wajah lama.

Partai yang paling banyak menyumbangkan anggota legislatif wajah baru adalah Partai Nasdem tujuh orang, PKB empat orang, PKS dua orang, PDIP enam orang, Golkar tujuh orang, Gerindra tiga orang, Demokrat enam orang, PAN lima orang, Hanura tiga orang dan PKPI dua orang. 

Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bakal memiliki fraksi sendiri di DPRD NTT periode 2014-2019.  Ini karena pada pemilu legislatif 2014, dua partai ini berhasil meraih masing-masing lima kursi dari delapan daerah pemilihan (Dapil).

Penghitungan ini berdasarkan asumsi jika merujuk pada aturan lama, yakni pasal 32 ayat 4 peraturan DPRD Propinsi NTT Nomor 1 Tahun 2010 tentang fraksi bahwa setiap fraksi di DPRD beranggotakan paling sedikit sama dengan jumlah komisi di DPRD. Perolehan kursi dua partai ini telah ditetapkan bersama 10 partai lainnya dalam pleno terbuka KPU dalam rangka penetapan caleg terpilih DPRD Propinsi NTT di Aula Kantor KPU NTT, Selasa (13/5/2014).

Dengan pleno KPU NTT ini, maka DPRD  NTT periode 2014-2019 bakal memiliki delapan fraksi. Ini berarti ada penambahan satu fraksi jika dibanding dengan DPRD periode sebelumnya  hanya tujuh fraksi terdiri dari lima fraksi murni dan dua fraksi gabungan.  Dari 12 parpol peserta pemilu, ada delapan partai yang bisa membentuk fraksi murni karena meraih jumlah kursi minimal lima, sementara dua partai yakni PKS meraih dua kursi dan PKPI tiga kursi.

Delapan partai yang bisa membentuk fraksi murni, yakni  Nasdem delapan kursi, PKB Lima Kursi, PDIP 10 kursi, Golkar 11 kursi, Gerindra delapan kursi, Demokrat delapan kursi, PAN Lima kursi, Hanura Lima Kursi. Sementara dua partai peserta pemilu lainnya, PBB dan PPP tidak mendapat kursi di DPRD NTT.

Terkait perolehan kursi PAN dan PKB ini, Fungsionaris PAN NTT, Anggelino Belo Da Costa menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara, pihak keamanan khususnya masyarakat NTT yang telah memberikan kepercayaan kepada partai itu untuk mengemban amanat rakyat NTT lima tahun ke depan.


"Satu kursi jadi lima itu artinya masyarakat NTT percaya pada PAN dan lima kursi ini sebagai modal perjuangan serta sebagai amanah kepada calon terpilih untuk perjuangkan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat NTT lima tahun ke depan. Terima kasih untuk semuanya," katanya.

Wakil Ketua DPW PKB NTT, Vinsenius Mone, mengatakan, yang layak disebut pemenang pemilu di NTT adalah PAN dan PKB karena pemilu 2009 hanya satu kursi, namun pada tahun ini naik menjadi lima kursi atau sebanyak 500 persen.  "Harusnya kami yang dikatakan pemenang di NTT. Perolehan kursi DPRD kabupaten/kota juga meningkat. Pada tahun 2009 hanya 20 kursi tetapi pada tahun 2014 ini naik menjadi 52 kursi," katanya.  

Untuk diketahui, pada pemilu 2009 lalu, PAN dan PKB masing-masing hanya menyumbang satu kursi di DPRD NTT. (roy)


4 Kader Golkar Rebut Kursi Ketua


EMPATwajah lama yang kembali terpilih menjadi anggota DPRD Propinsi NTT dari Partai Golkar bakal bersaing merebut kursi ketua dewan. Empat nominasi ketua DPRD NTT periode 2014-2019,  yakni Anwar Pua Geno, Alfridus Bria Seran, Hugo Rehi Kalembu dan Pdt. Semuel Niti.

Hal ini karena hasil pleno penetapan calon terpilih, Partai Golkar menjadi pemenang pemilu legislatif  karena meraih kursi terbanyak, yakni 11 kursi. Sementara kursi wakil ketua jatah PDI Perjuangan yang meraih 10 kursi, Gerindra, Nasdem dan Demokrat masing-masing delapan kursi.

Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD 1 Partai Golkar NTT, Mohammad Ansor, usai pleno penetapan caleg terpilih di Aula Kantor KPU NTT, Selasa (13/5/2014) malam, mengatakan,  penentuan pimpinan DPRD NTT dari Partai Golkar, dari segi waktu belum terlalu mendesak karena DPRD NTT baru akan dilantik  September 2014.

Selain itu, lanjutnya, jajaran kader Golkar masih berkonsentrasi menghadapi Rapimnas dan pemenangan Pilpres. Dan juga sambil menunggu ketentuan Undang-Undang Susunan dan Kedudukan (SusDuk) MPR, DPR, DPD dan DPRD yang baru hasil Pemilu 2014 yang mengatur tentang mekanisme penentuan pimpinan DPRD Propinsi. Karena UU No. 27 Tahun 2009 tahun ini akan direvisi lagi.
"Akan tetapi secara internal ada empat orang yang dinominasikan menjadi ketua DPRD NTT yaitu, Anwar Pua Geno, Alfridus Bria Seran, Hugo Rihi Kalembu, dan Pdt. Semuel Niti," ungkapnya.

Nama-nama ini, kata Ansor, selanjutnya akan dibahas dalam rapat pleno DPD Golkar NTT untuk diusulkan tiga nama ke DPP untuk mendapat persetujuan. "DPD Partai Golkar  NTT  mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat NTT pada delapan daerah pemilihan (dapil) yang masih mempercayakan kader-kader Partai Golkar di DPRD Propinsi dengan meraih jumlah kursi terbanyak yakni 11 Kursi. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara pemilu, aparat kepolisian,  media massa dan seluruh partai politik atas kerja sama yang terjalin dengan baik selama ini," ujarnya.

Secara terpisah, Bendahara DPD PDIP NTT, Dr. Antonius Bele, memastikan Nelson Obed Matara akan kembali menduduki jabatan wakil Ketua DPRD NTT seperti periode sebelumnya.  Nelson kembali terpilih sebagai anggota DPRD NTT dari Dapil II (Kupang, Rote dan Sabu Raijua) dengan mendulang suara pribadi sebanyak 16.947 suara.

Menurut Antonius, kepastian Nelson sebagai wakil ketua DPRD NTT karena ada peraturan dari partai bahwa yang menduduki unsur pimpinan DPRD adalah pimpinan partai.  "Unsur pimpinan partai itu adalah ketua, sekretaris dan bendahara. Pak Nelson bukan berpeluang lagi tetapi garis partai sudah menentukan demikian. Penentuan dalam waktu dekat, jadi sebentar ini saya langsung serahkan kepada ketua untuk dibahas," katanya. (roy)

Sebaran Perolehan Kursi

Golkar      : 11 kursi
PDIP        : 10 kursi
Nasdem    :  8 Kursi
Gerindra   :  8 kursi
Demokrat :  8 kursi
PKB         :  5 Kursi
PAN         :  5 kursi
Hanura     :  5 Kursi


Sumber: Pos Kupang 14 Mei 2014 hal 1

Belu Dikepung 95 Perusahaan Tambang

Tambang mangan di Timor (ist)
KUPANG, PK--Seluas 101.046 hektar (ha) atau 78,64 persen dari 128.484 ha wilayah Kabupaten Belu 'diobrak-abrik' menjadi kawasan pertambangan mangan. Jumlah perusahaan tambang yang sudah dan akan beroperasi di wilayah itu sebanyak 95 perusahaan.

Demikian disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) NTT, Herry Naif, didampingi Manajer Program Walhi NTT, Melky Nahar, kepada Pos Kupang saat ditemui di kantornya, Kamis (8/5/2014) siang.  Walhi merupakan salah satu lembaga sosial masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan kini konsen memberi perhatian terhadap masalah pertambangan di NTT.

Herry mengatakan, sebagian besar wilayah Belu dipatok menjadi kawasan pertambangan karena banyak perusahaan pertambangan yang melirik potensi pertambangan di kabupaten itu.

Catatan Walhi NTT, demikian Herry, 95 perusahaan tambang kini menggarap potensi pertambangan di wilayah Kabupaten Belu. Dari jumlah perusahaan tersebut, ada perusahaan tambang yang telah beroperasi, ada yang sudah mengantongi izin operasi tapi belum mulai beroperasi dan ada perusahaan tambang yang sedang mengajukan atau memroses izin usaha pertambangan (IUP).

Menurut dia, penyakit gatal-gatal dan penyakit paru-paru yang diderita warga Belu sebagai dampak dari kegiatan pertambangan dan adanya aksi protes para pastor, mestinya membuka mata pemerintah dan berbagai pihak yang terkait di Kabupaten Belu dan di Propinsi NTT.

"Seharusnya kegiatan tambang di wilayah NTT, termasuk di Kabupaten Belu dihentikan sementara sehingga tidak berdampak lebih besar dan membawa korban bagi masyarakat sekitar. Kalau sudah jadi masalah seperti ini siapa yang harus bertanggung jawab? Semua itu terjadi karena kegiatan pertambangan tidak memperhatikan masalah dampak lingkungan. Proses amdal hanya formalitas atau kopipaste sehingga kegiatan pertambangan tidak memperhatikan masalah lingkungan hidup," tegas Herry.

Catatan Walhi NTT, demikian Herry, peristiwa di Kabupaten Belu merupakan peristiwa kedua di NTT. Peristiwa pertama terjadi beberapa tahun lalu di Torong Besi, Reo, Kabupaten Manggarai. Jika hal seperti ini tidak ditangani serius, kata Herry, sangat mungkin peristiwa yang sama  dan bisa  berakibat fatal akan terjadi di Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur serta di beberapa kabupaten lain di Timor dan Flores.

"Sebenarnya moratorium sudah diperintahkan Menteri ESDM RI. Dalam tata ruang nasional, wilayah NTT bukan daerah tambang karena merupakan daerah kepulauan dengan ekosistem yang terbatas. Kalau dilakukan kegiatan tambang, ekosistem akan rusak dan sebagian ekosistem akan punah. Mestinya kegiatan tambang  dihentikan," tandas Herry.

Terhadap aktivitas tambang yang berdampak pada kerusakan lingkungan, kata Herry, sudah diperjuangkan oleh Walhi kepada Kementerian ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup.

Hal terpenting saat ini, demikian Herry, kemauan pemerintah untuk menyikapi masalah tambangan ini secara serius. "Yang menjadi masalah, kegiatan pertambangan dilakukan serampangan. Tidak ada pemetaan wilayah yang baik di mana harus dilakukan kegiatan tambang dan di mana yang tidak boleh. Pemberian izin usaha tambang oleh pemerintah terkesan ada dugaan mafia," katanya. (mar)


Tim Turun ke Ai Tameak


KETUA DPRD Belu, Simon Guido Seran, meminta tim gabungan yang terdiri dari unsur DPRD Belu diwakili Komisi C dan Pemda Belu  segera turun ke lokasi penambangan mangan di Ai Tameak, Kecamatan Lamaknen Selatan, Belu. Tim harus turun  lapangan untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan lokasi tambang dengan dampak ikutannya.

Ditemui di ruang kerjanya, Kamis (8/5/2014), Simon menjelaskan, dalam dialog dengan massa Gerakan Pro Kehidupan (G-ProK), sudah banyak persoalan yang disampaikan massa termasuk dampak ikutan dari tambang mangan itu.

Namun, fakta dari massa G-ProK ini harus dibuktikan dengan melihat langsung obyek lapangan. Untuk itu, pada pertemuan itu disepakati membentuk tim gabungan DPRD Belu  dan Pemda Belu, sementara G-ProK memilih berada di luar tim untuk menjamin independensi mereka.

"Saya sudah sampaikan di forum harus bentuk tim yang beranggotakan Komisi C dan instansi terkait lainnya. Kehadiran tim untuk melihat langsung dan sekembalinya mereka membuat rekomendasi kepada Pemda Belu, apakah tambang itu di moratorium atau tidak. Untuk urusan di lapangan ada Komisi C yang punya bidang tugas. Entah kapan tim ini turun saya belum dapat informasi yang pasti," ujarnya.

Sebelumnya saat dialog dengan massa G-ProK, Rabu (7/5/2014) Ketua DPRD Belu, Simon Guido Seran, dalam kesimpulannya, meminta para pihak segera membentuk tim khusus untuk turun ke lokasi. Hasil pengamatan tim di lapangan dibuatkan  rekomendasi sebagai pegangan, apakah pertambangan itu di moratorium atau tidak. "Nanti Komisi C yang membidangi siap tindaklanjuti. Kita juga tunggu  hasil lab sebagai dasar untuk buktikan apakah penyakit itu ditmbulkan dari air karena pencucian mangan. Kalau betul,  PT Nusa Lontar harus bertanggung jawab," tegas Simon. (yon)

Sumber: Pos Kupang 9 Mei 2014 hal 1

Pencuri Pikul Babi Keliling Kampung

ilustrasi
MAUMERE, PK--Bernardus Sari, warga RT 08/RW 002  Ijonatar, Kelurahan Wolomarang,  Kecamatan Alok Barat-Sikka, rela menerima hukuman adat memikul babi keliling kampung di Kelurahan Wolomarang, Kota Maumere, Minggu (4/5/2014) sore.

Bernardus memikul babi curian milik Aloysius Meak, warga Wolomarang, diiringi ratusan warga mengeliling empat dusun. Selama perjalanan, Bernardus hanya menundukkan kepala sambil memikul babi putih keliling kampung.

Hukuman adat itu hasil kesepakatan pelaku dengan warga setempat, setelah Bernardus mengaku mencuri babi milik Aloysius Meak. Dia mencuri babi milik Aloysius pada tanggal 1 Mei 2014.

Proses pikul babi sempat tertunda karena pelaku memilih menyerahkan diri ke Polsek Alok, Kota Maumere, Minggu (4/5/2014) pagi. Namun, warga yang menuntut kesepakatan adat dijalankan ramai-ramai mendatangi Polsek Alok, meminta pelaku memenuhi kesepakatan adat, memikul babi keliling kampung.

Prosesi dimulai dari rumah Aloysius Meak. Ketua RT setempat, Markus Mau, S.H, membacakan kembali kesepakatan yang ada. Prosesi disaksikan ratusan warga yang ikut mengiringi perjalanan Bernardus.

Markus Mau mengingatkan agar jangan seorang pun di antara warga yang menyentuh badan pelaku selama prosesi. Tidak boleh melakukan kekerasan fisik karena pelaku sudah mengakui perbuatannya dan menyanggupi hukuman adat.

Sontak ratusan warga menyetujui tidak melakukan kekerasan. Jika ada yang melakukan tindak kekerasan, maka oknum itu langsung ditangkap dan diproses hukum di kepolisian. Warga pun mengamini.

Selain itu, Bernardus juga bersedia menyiapkan seekor babi seharga Rp 1.500.000, beras 25 kg dan moke 10 liter sebagai rekonsiliasi bersama warga atas tindakan pencurian.

Puluhan warga mengapresiasi hukuman adat itu. Banyak suara sumbang dari kerumunan yang mengungkapkan bahwa pelaku sudah sering mencuri. Namun kerelaan pelaku menyanggupi hukuman adat menjadi peringatan keras untuk warga lain. "Siapa yang melakukan hal sama, akan mendapatkan hukuman yang sama seperti ini," tandas Markus Mau kepada warga.

Selama  perjalanan dan sampai kembali ke rumah, Bernardus Sari, hanya tertunduk, tidak pernah mengangkat mukanya kepada warga. Beberapa ketua RT yang menyepakati berlakunya hukum adat itu secara bergantian memberikan wejangan kepada  Bernardus agar tidak lagi melakukan pencurian.

Demikian juga kepada warga lain, hukuman adat itu menjadi peringatan agar tidak menirukan perbuatan yang sama. Jika melakukan hal sama, tetua adat masyarakat setempat akan memberikan hukuman yang sama. (lik)


Hukuman Sosial Sangat Efektif

RATUSAN warga Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat mendatangi Polsek Alok, Minggu (4/5/2014) pagi. Mereka meminta kepolisian menyerahkan pelaku pencurian, Bernardus Sari untuk menjalani hukuman adat.

Hukuman adat itu atas kesepakatan pelaku pencurian dengan tokoh masyarakat Wolomarang.  Jika tidak memenuhi tuntutan hukum adat, maka pelaku pencurian bisa diadili secara hukum positif oleh penegak hukum. Karena kesepakatan kedua belah pihak, dan pelaku menyanggupi menjalankan hukuman adat itu,  Polsek Alok mengembalikan pelaku yang menyerahkan diri di Polsek Alok.

Tobias Susar, tokoh masyarakat setempat, mengatakan, hukuman adat untuk memberikan efek jera, terutama memberikan pendidikan kepada anak muda.  Hukuman sosial terhadap pelaku pencurian, demikian Tobias, sangat efektif. Sedangkan proses hukum bisa dilakukan mana kala hukum adat tidak bisa menyelesaikan persoalan itu.

Hukuman adat pikul babi itu dahulu kala biasa dijalankan. Tetapi untuk era saat ini,  ini baru pertama kali diangkat lagi.  "Kepolisian bisa mengawal, mana kala hukum adat ini tidak bisa jalan, bisa diproses secara hukum positif," tandas Tobias.

Selama prosesi pikul babi, aparat kepolisian hanya mengawal jalannya hukuman. Tetapi ketua RT setempat yang memfasilitasi hukuman itu mengingatkan warga agar menjaga keselamatan pelaku.

Bagi siapa yang melakukan tindak kekerasan, akan ditangkap dan diproses hukum di kepolisian. Warga mengikuti dengan tenang dan tidak ada kekerasan. Pelaku berjalan keliling kampung, sebanyak tiga RT di Kelurahan Wolomarang. Di sepanjang lorong sudah berdiri ibu rumah tangga dan memberikan ejekan kepada pelaku.

Beberapa warga resah karena kasus pencurian di wilayah itu marak. Ada banyak warga  yang menaruh ibah juga kepada pelaku, apalagi dia dengan lapang dada mengakui perbuatannya.

Sesuai berita acara pengakuan Bernardus pada  tanggal 2 Mei 2014, ia mencuri babi milik warga pada tanggal 1 Mei 2014. Dan dia pun mengakui perbuatan dan bersedia menjalani hukuman adat.

Beberapa warga yang ibah, bahkan membisik kepada pelaku agar bersedia menjalani hukuman itu untuk memberikan pendidikan kepada warga yang lain. Puluhan pelajar menyaksikan jalannya hukuman. Mereka  mengaku  kasihan dengan hukuman yang dijalani Bernardus. (lik)

Sumber: Pos Kupang 5 Mei 2014 hal 1

Media Sosial Dipakai dalam Konteks Manusiawi

KUPANG, PK--Media sosial harus dipakai dalam konteks yang manusiawi oleh penggunanya (user) sehingga memberi kebaikan dan kesejahteraan bagi sesama. Media sosial di zaman digitalisasi saat ini memang efektif dan praktis tetapi harus digunakan dalam kondisi dan situasi yang tepat.

Demikian benang merah dari seminar sehari bertajuk, "Komunikasi Sosial Sebagai Budaya Perjumpaan Yang Sejati'  di Aula Gereja Katedral Kristus Raja-Kupang, Sabtu (31/5/2014). Seminar ini diselenggarakan Komisi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Kupang (KAK)  dalam rangka merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-48 yang jatuh  tanggal 1 Juni 2014. Pada hari komunikasi ini Gereja Katolik memberikan perhatian khusus terhadap komunikasi sosial.

Seminar ini menampilkan pembicara Vikaris Jenderal (Vikjen) KAK, Rm. Geradus Duka, Pr, Pemimpin Umum Harian Pos Kupang, Damyan Godho, praktisi media, Dion DB Putra dan Marselinus Ali, dengan moderator, Rm. Patris Neonub, Pr.
Seminar ini berlangsung hangat karena selain sentilan-sentilan dari para pembicara terkait bagaimana kemajuan teknologi digital melalui media sosial mempengaruhi semua sendi kehidupan manusia khususnya orang Katolik dan para pekerja media yang beragama katolik, juga bagaimana peran gereja dalam menyikapi kemajuan media sosial di era digital saat ini.

Rm. Geradus Dukamenggariskan empat hal pokok berkaitan dengan media sosial dan peran gereja terhadap komunikasi sosial. Pertama, jika gereja masih sebagai hakim sebagaimana sebelum konsili Vatikan II bahwa semua pengguna media digital  berdosa, maka kita semua adalah orang berdosa.

Kedua, manusia awal mula berasal dari kera (homo sapiens) yang berjalan dengan duduk atau jongkok, dan saat ini kembali ke era tersebut karena rela duduk berjam- jam di depan media sosial untuk melakukan komunikasi sosial. Ia mengatakan, digital atau digitus ada landasan (bibis) theologisnya. Yang menjadi pertanyaannya apakah tangan-tangan yang digunakan untuk menekan tombol-tombol media sosial masih menjadi tangan kanan Allah?

Ketiga, sesuai tema Hari Komunikasi Sosial tahun ini yakni hari komunikasi sosial sebagai budaya perjumpaan yang sejati, sehingga komunikasi sosial saat ini adalah mendekatkan manusia dengan berbagai macam karakter, suku, etnis.
Tetapi, saat ini media komunikasi banyak menimbulkan kekerasan dan hal ini menjadi keprihatinan gereja Katolik.

Keempat, menggunakan media sosial, aspek sosial hilang, sehingga Paus meminta agar perayaan sakramen harus tetap face to face (perjumpaan).
Ia berharap, media sosial harus dipakai dalam konteks yang manusiawi dan dalam situasi dan kondisi yang tepat untuk kesejahteraan umat.

Pemimpin Umum Harian Pos Kupang, Damyan Godho, mengatakan, digitalisasi hanya sistem atau perangkat kerja dan media hanya sebagai user dari digital. Persoalannya adalah bagaimana mendayagunakan digitalisasi sebagai wahana dalam menjalin ide bagi sesama. Menurutnya, susah mengaktualisasikan diri dengan era digitalisasi saat ini, tetapi sebagai pekerja media harus bisa mencermati dan memaknai digitalisasi sebaik mungkin bagi kebaikan sesama.

Ia mengatakan, pekerja media tetap mengemban roh bagi kepentingan kebersamaan, dan dasarnya sebagai pekerja media katolik harus sesuai hukum gereja yakni cinta kasih.

"Bagaimana pekerja media mengembangkan profesi di media dengan kasih sebagai hukum terbesar gereja katolik. Pekerja media katolik  harus mempunya visi yang sama sesuai ajaran katolik. Dan saat ini, kepedulian sesama bagaimana diterjemahkan oleh pekerja media, tidak mudah untuk dilakukan," ujarnya.
Praktisi media, Dion DB Putra, mengulas bagaimana pengaruh media sosial terhadap manusia saat ini dimana hanya dari seujung jempol dalam menggunakan media sosial bisa  memporakporandakkan tatanan, nilai dan budaya komunikasi sosial. (nia)

Sumber: Pos Kupang 1 Juni 2014 hal 3
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes