Momen Indah di Hari Kamis

* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (2)

TIGA mobil beriring-iringan dari Maumere menuju Lekebai. Perjalanan ke kampung halaman Frans Seda itu memakan waktu kurang lebih 40 menit. Tidak ada suasana mencolok saat kami tiba di sana. Suasana biasa saja. Memang begitulah harapan Frans Seda dan Jakob Oetama. Kedua tokoh ini tidak membutuhkan penyambutan secara berlebihan. Toh kehadiran mereka di Lekebai adalah untuk berziarah ke makam orangtua Frans Seda serta bersilaturahmi dengan keluarga.

Turun dari mobil, Frans Seda mengajak rombongan Jakob Oetama masuk ke pelataran rumah yang berada dalam kompleks yang cukup luas. Di sana terdiri dari beberapa rumah, termasuk banguan rumah adat asli yang menurut Frans Seda tersimpan pusaka warisan nenek moyang secara turun-temurun. Warisan itu masih terjaga dengan baik.

Frans Seda kemudian mengajak Jakob Oetama dan petinggi KKG lainnya menuju makam orangtuanya. Frans Seda menyalakan lilin. Kami semua berdoa di sana. Kemudian mantan anggota Tentara Pelajar yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI itu menjelaskan kepada Jakob Oetama dan rombongan tentang seluruh anggota keluarga yang terbaring di dalam lokasi pemakaman itu. Jelas terlihat pemakaman keluarga tersebut terawat dengan baik.

Teh, kopi, ubi rebus dan kue sudah menanti ketika Frans Seda mengajak Jakob Oetama, August Parengkuan, St. Sularto, Julius Pour, Petrus Waworuntu, Rikard Bagun dan anggota rombongan lainnya menuju rumah induk terbuat dari kayu untuk beristirahat sejenak.

Mudah ditebak, ubi rebuslah yang paling laris "diserbu" para tamu ketimbang kue. Canda tawa pun tetap mewarnai acara sore itu. Selain bercerita tentang kampung halamannya kepada Jakob Oetama, Frans Seda menyempatkan waktu bertanya sejumlah urusan keluarga kepada adik-adik dan familinya yang tinggal di Lekebai. Sebelum kembali ke Waiara sekitar pukul 15.40, Frans Seda mengajak Jakob Oetama melihat Nua Bharaka-- kampung adat yang berada di puncak bukit kecil -- persis di sisi kanan jalan Lekebai-Maumere.

***

KEDUANYA berpelukan hangat. "Selamat ulang tahun, Pak Frans," kata Jakob Oetama dengan suara lirih menahan haru. Momen indah tersebut tercipta Kamis (27/10) malam, dalam acara syukuran hari ulang tahun ke-79 Frans Seda di Maumere. Syukuran yang dihadiri ratusan undangan diawali misa konselebran dipimpin P. Philipus Tule, SVD.
Para tokoh masyarakat Sikka hadir di sana antara lain, Lorens Say, Daniel Woda Palle, EP da Gomez, Alex Longginus dan Soter Parera. Juga diisi dengan peresmian Taman Bacaan Frans Cornelissen yang buku-bukunya sumbangan dari kedua tokoh nasional tersebut.

Jakob Oetama dan Frans Seda adalah dua sahabat karib. Dan, sebuah persahabatan yang unik. Satu berwatak NTT (Flores) yang keras, bicara lugas, blak-blakkan, apa adanya. Yang lainnya pria Jawa, Jawa Tengah yang berpembawaan halus, lembut bahkan malu-malu. "Bagi saya, Frans Seda adalah sahabat dalam suka dan duka. Memberi kekuatan dan meneguhkan hati di saat sulit. Tiada henti mendorong kami untuk maju," kata Jakob Oetama saat memberikan kesannya tentang Frans Seda malam itu. Kesan tentang Seda juga disampaikan EP da Gomez dan Bupati Sikka, Drs. Alex Longginus.

Secara khusus, Jakob Oetama kembali mengisahkan peran Frans Seda pada awal kelahiran Harian Kompas tanggal 28 Juni 1965. Bagaimana pergulatan mereka saat itu menghadapi bermacamragam tantangan yang tidak ringan. "Saya merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Pak Frans," ujarnya. Mengenai Kompas yang tahun 2005 ini berusia 40 tahun, Jakob Oetama mengatakan bahwa sukses surat kabar itu dan usaha lainnya dalam KKG bukan karena kemampuan dirinya semata dalam memimpin. "Bagi saya, semua ini merupakan providentia Dei, itulah penyeleggaraan Allah," katanya mengakhiri sambutan.

"Itulah pembawaan Pak Jakob sejak dulu. Tidak pernah mau menonjolkan diri," kata Frans Seda yang langsung bangun dari tempat duduknya, menyambut sahabatnya itu dan keduanya kembali berpelukan.
Acara syukuran ulang tahun Frans Seda Kamis malam itu berlangsung sederhana namun berkesan. Tidak ketinggalan irama musik dan lagu- lagu daerah Lio-Sikka-Ngada. Tak terasa jarum waktu hampir menjelang pukul 24.00 Wita. Jakob Oetama dan Frans Seda pamit untuk beristirahat. Kami pun kembali ke Waira--melepas lelah mengingat esok hari ziarah dua sahabat itu masih panjang. (dion db putra). Pos Kupang, Rabu 9 November 2005

Dipublikasikan SKH Pos Kupang secara serial pada tanggal 8-12 November 2005.
http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/10/edisi10/1011ceber.htm
http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/11/edisi11/1111ceber.htm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes