Sharon Merengek Kangen Mama

Banjir di Manado 15 Januari 2014
Terjebak banjir. Tak makan dari pagi sampai malam. Harap-harap cemas mendapatkan pertolongan.

Menjelang tengah malam, wartawan Tribun Manado mendapat kabar puluhan anak TK Providensia Dendengan Dalam Manado masih berada di lantai atas taman pendidikan itu. Mereka terjebak banjir.

Wartawan Tribun Manado, Charles Komaling, Yudith Rondonuwu dan Kevrent Sumurung pun langsung menginisiasi menjangkau mereka dengan bantuan makanan. Aksi spontanitas penggalangan dana di redaksi pun dilangsungkan.

Begitu uang terkumpul, di tengah hujan lebat, ketiga wartawan itu meluncur mencari makanan dan minuman untuk dibawa ke anak-anak TK itu. Ketika jarum jam menunjuk 02.00 Wita, dan hari telah berganti Kamis (16/1), ketiga wartawan itu bersama regu penyelamat Forum Komunikasi Pencinta Alam (FKPA) dan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Sulut berusaha menjangkau lokasi.

Banjir masih setinggi pinggang orang dewasa, padahal sudah menjelang Subuh. Setelah berjalan kaki, rombingan kemudian naik perahu karet untuk mencapai bangunan taman kanak-kanak itu.

Hanya ada satu perahu karet. Sebenarnya ada dua, tapi satu perahu karet seharga Rp 32 juta itu robek beberapa jam sebelumnya. "Rusak tak bisa dipakai lagi, karena seng atau mungkin benda tajam saat menolong korban darurat di atas atap beberapa rumah warga di daerah Perkamil," ungkap Steven Sumolang, anggota tim.

Memang Subuh yang mencekam.  Tidak ada penerangan, satu-satunya pengarah jalan hanyalah senter kecil dari helm seorang relawan. Listrik mati total. Pembicaraan sekitar 15 menit dengan Tim SAR tentang perjuangan evekuasi yang berisiko nyawa di daerah Malendeng dan Perkamil begitu menggema. Dan itu hanya suara kami yang terdengar hingga tiba di lokasi.

Harus jalan sekitar 30 meter lagi untuk sampai ke gedung TK itu. Lumpur setinggi lutut pun menemani sepanjang jalan. Bukan hanya langkah kaki yang diperhatikan tapi juga posisi kepala karena kabel listrik membentang di mana-mana.

Lalu rombongan memanjat dua lantai, barulah terdengar suara anak-anak. Gelap gulita. Satu-satunya sumber cahaya hanya dari ponsel guru dan orang tua siswa yang rupanya sedang menunggu banjir reda di lantai tiga gedung itu.

Saat itu, seorang anak, Sharon sedang duduk di sebuah kasur kecil ketika senter kepala seorang tim SAR terarah ke sebuah ruangan di lantai tiga itu. "Kangen Mama.." ucapnya. Namun Sharon bersemangat menjawab ketika ditanya tentang keberaniannya. "Tidak takut karena ada guru-guru dan kakak," ujar gadis kecil berusia 4 tahun ini.

Kakaknya seorang perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah terus berada di sampingnya. Ketika rombongan tiba, Sharon sedang tidur-tiduran di paha kakaknya. "Sudah makan roti. Tadi siang makan nasi. Sore makan roti," ucapnya.

Saat ditanya apakah Sharon dan teman-temannya sudah makan malam? Ia terdiam. Apakah Sharon ingat mama dan papanya? Ia pun diam dan matanya berkaca-kaca.

Sebatang coklat yang dititipkan kawan-kawan Tribun Manado pun membentuk senyum di pipinya. Ia tak jadi menangis dan kembali tiduran di kasur bersama anak-anak kecil lainnya yang masih mengenakan seragam sekolah.

Anak-anak kecil yang lain juga sangat semangat menerima coklat itu. "Kami memang butuh makanan dan air minum," ungkap seorang Bapak yang rupanya mendampingi anak-anak itu sejak pagi.

Hieni Morasa yang merupakan pimpinan TK ini mengaku tak pernah mengira peristiwa buruk akan menimpa mereka. Namun ia bersikap tenang dan tak panik. "Sejak pagi di sini dan anak-anak sudah kami bawa ke lantai tiga. Tidak ada yang sakit atau cedera, semua baik-baik saja," ujarnya.

Ponselnya sudah mati. Ada satu ponsel yang digunakan khusus emergency. "Sekarang tinggal 20-an anak di sini. Yang lain sudah dijemput orangtuanya. Yang sisanya masih tunggu dijemput orangtuanya karena kita tidak bisa sembarang menitip orang lain anak-anak kami ini," tegasnya.

Ia pun sangat bersyukur mendapat bantuan makanan bungkus dari tim yang datang. "Ini sangat membantu. Puji Tuhan," katanya.

Charles Komaling yang membawa sumbangan dari kru Tribun Manado menuturkan ada 20 nasi bungkus, 6 bungkus coklat, biskuit, susu serta air minum 1 dus yang memang disiapkan untuk pengungsi dalam kondisi darurat. "Tadinya sumbangan makanan ini akan kami bagi kepada petugas-petugas SAR. Lalu kami dapat informasi via BBM masih ada anak-anak kecil yang belum makan dan terjebak banjir di Dendengan Dalam. Kebetulan ada tim SAR yang akan evakuasi jadi kami bergabung," katanya.

Komaling pun bersyukur bisa membantu tepat sasaran. "Kami sadar, duit nggak ada nilainya kalau sudah ditempat bencana dan lapar. Kaya-miskin pasti kalau bertemu satu biskuit aja akan terasa sangat berharga," ucapnya.

Ketika rombongan sudah kembali, tiba-tiba terdengar menggema dari sebuah ruko yang mengabarkan ada bayi terjebak di bangunan lantai tiga. Lalu tim penyelamat pun menjawab dengan janji akan kembali untuk mengevakuasi.

Tentu saja harus antre karena ada satu keluarga yang menumpang perahu karet. Ada 2 ibu, 1 anak perempuan dan 1 oma serta 2 bapak yang menumpang serta saya duduk di bagian paling belakang. Sementara semua anggota tim yang ada 6 orang itu berjalan kaki sembari menarik perahu karet menuju daratan.

Air berlumpur masih setinggi perut orang dewasa. Jam sudah menunjuk pukul 03.30 Wita. Lowbad, setengah badan penuh lumpur dan gerimis tak mengurungkan niat membantu si bayi.

Hanya beberapa menit rombongan sudah berada di depan ruko masih dengan perahu karet. Seorang bayi yang baru berusia beberapa bulan sedang dipeluk ayahnya. "Tak usah pakai sandal. Yang penting anak saya sehat dan selamat," katanya lalu naik ke perahu karet.

Ia lupa membawa penutup kepala dan Yudith merelakan topi Super Ball untuk dipakai sang bayi. "Terima kasih.." kata ayah bayi itu. Akhirnya evakuasi pun berhasil. (yudith rondonuwu)

Sumber: Tribun Manado 17 Januari 2014 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes