Orang Orang Kalah

ilustrasi
AROMA sepakbola Azzurri hari ini mulai terasa gurih. Mereka tampil sebagai tim pertama Euro 2000 yang meraih hasil sempurna di babak penyisihan grup. Paolo Maldini dkk memimpin Grup B dengan nilai 9 hasil kemenangan mengesankan masing masing dengan skor 2 1 atas Turki, Belgia dan Swedia. Sebanyak 22 pemain Italia 2000 tertawa girang. Warta kegembiraan dari Belanda Belgia  terbang bebas, menembus jauh  ke  relung relung hati seluruh penduduk Italia. Anak negeri spaghetti untuk sementara tak perlu bersedih lagi.

         Ironisnya, kebahagian detik ini cuma milik pendukung tim  Italiano, tidak buat Dino Zoff!  Mantan kiper yang membawa Italia memegang tropi World Cup 1982 itu belum bisa tersenyum. Zoff sadar sungguh bahwa kerinduaan publik Italia cuma satu yakni dia harus  membawa pulang Piala Eropa ke tanah leluhurnya.

         Memakai kaca mata Kupang, harapan ini terlampau kejam karena mengabaikan kemungkinan bahwa Italia kandas. Tapi sungguh mati, sepakbola di Italia hanya kalah populer dengan Sri Paus, pemimpin tahta suci itu sehingga kemenangan merupakan kerinduan mutlak rakyatnya. Kalah berarti dihujat, disepak keluar dari gelanggang.

         Si botak Arrigo Sacchi dan figur kebapaan Cesare Maldini (dua pelatih Italia sebelum Zoff), bisa disebut sebagai contoh tentang kejamnya sepakbola Italia. Sacchi langsung diminta mundur setelah Franco Baresi dkk gagal menjuarai Piala Dunia 1994. Padahal Sacchi saat itu cuma kurang beruntung dibanding tim Samba yang menang 3 2 lewat adu penalti. Dan, Casare Maldini cepat cepat pergi beberapa saat setelah bersama putranya Paolo Maldini gagal di France 1998.

         "Menjadi pelatih Italia sama seperti Anda duduk di atas bara api. Setiap saat Anda hanya merasakan panasnya. Anda tak mungkin tidur nyenyak, karena bangsa kami hanya memikirkan kemenangan dan kejayaan. Kepercayaan Federazione Italiana Gioco Calcio (PSSI nya Italia) sebagai pelatih harus diterima sebagai salib," demikian Sacchi pada suatu kesempatan di tahun 1994 ketika banjir kritik dan hujatan  menerpanya karena ia gagal.

         Kritik merupakan budaya masyarakat negeri bola seperti Italia. Di sana, mereka yang alergi kritik, lari dari hujatan disebut orang orang yang kalah, karena mereka memandang kritik sebagai menu harian yang tak patut disebut tabu, bukan seperti perilaku kebanyakan pemimpin di tanah ini. Banyak memang manfaatnya karena hanya dengan kritik orang bisa mengaca diri.

         Sacchi pernah merasakan manfaat kritik itu  ketika ia meramu Azzurri 1994. Kebiasaannya membongkar pasang pemain dan tidak memanggil Roberto Mancini yang saat itu sedang bersinar    dihujat habis habisan. Pers Italia memakinya. Sacchi kemudian sadar bahwa sebagai manusia ada yang salah dalam pikiran dan tindakannya. Ia berubah. Hasilnya, Italia terseok seok, namun melangkah pasti sampai ke final. Baresi dan Baggio gagal mengeksekusi penalti, tetapi Italia kalah secara terhormat.

         Zoff pergi ke Belanda Belgia pada musim panas 2000 ini  dengan beban psikis mirip Sacchi ketika terbang ke negeri Paman Sam medio 1994. Zoff tidak cuma berat menahkodai kapal Azzurri yang selalu diberi target posisi terbaik,  tetapi dia juga harus mengelola kritik dengan arif. Pergi ke Euro 2000, tim yang diasuhnya sejak 22 Juli 1998 tanpa pujian, bukan tim favorit atau unggulan. Yang ada malah diremehkan, dinistakan, tak dipandang dengan dua mata, justru oleh Italiano sendiri. Menyakitkan!

         Tetapi karena hujatan dan berada dalam kubangan kenistaan itulah jiwa Dino Zoff berontak. Ia mencurahkan segenap kemampuan terbaiknya untuk  meramu Italia menjadi lebih elegan, lebih indah, lebih menyerang! Hasilnya Italia  mengantongi angka sempurna di babak penyisihan. "Kritik membuat kami selalu waspada di lapangan. Kami tidak boleh membuat kesalahan sekecil apapun, tapi harus memanfaatkan peluang secekil apapun untuk menang," demikian Paolo Maldini usai memimpin rekan rekannya mengalahkan tuan rumah Belgia 15 Juni 2000.

         Jalan Italia memang masih panjang dan semakin menanjak, karena lawan di perempatfinal  tidak bertambah ringan. Di sana nanti, mereka bisa saja bertemu Inggris, Jerman atau Rumania yang sampai ulasan ala kadarnya ini ditulis belum bertanding dalam partai hidup dan mati. Entahkah Jerman, Inggris atau Rumania, tetaplah berat bagi Dino Zoff. Tetapi dengan makin  gurihnya Azzurri, senyum Dino Zoff bukan muskil akan terukir hari hari ini. Kalaupun tumbang, rasanya  Zoff masih boleh menegakkan kepala ketika pulang ke tanah airnya karena ia bukan termasuk kelompok delapan yang pulang awal. Dan di balik semua itu, dia tak patut disebut sebagai orang orang yang kalah karena Zoff menyantap kritik dan makian sebagai cerminnya! *

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra, juga Pos Kupang edisi Rabu, 21 Juni 2000. Artikel ini dibuat menanggapi hasil memuaskan yang diraih tim nasional Italia pada babak penyisihan Grup B Euro 2000
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes