Kado Untuk Pangeran

TENTANG Pangeran William, pewaris tahta Kerajaan Inggris akan selalu mengingatkan kita akan figur mendiang Putri Diana. Kecuali karena ia terlahir sebagai pria, senyum malu-malu, bentuk wajah dan terutama sikap persis seperti ibunya Lady Diana Spencer yang sampai detik ini akan selalu dikenang rakyat Inggris dan dunia karena kehidupannya yang berakhir dengan tragedi.

    Kemarin, tanggal 21 Juni 2000, Pangeran William genap berusia 18 tahun. Tetapi usia 18 tahun bagi Raja Inggris masa datang itu tanpa pesta, tanpa keceriaan. Perayaan hari jadinya memasuki usia dewasa berlangsung sederhana. Hal itu sesuai keinginan William sendiri yang sejak bocah tak pernah memuja pesta glamour atau pamer kemewahan sekalipun ia punya segalanya.

    Sang nenek, Ratu Elizabeth II sebenarnya berniat menggelar acara khusus di Istana Buckingham. Tetapi William menolak dengan sangat lembut, khas budaya ningrat Britania bahwa ia harus tetap berada di Eton College, tempat sekolahnya untuk menyiapkan diri mengikuti ujian akhir.

    Publik Inggris agaknya bisa mengerti bila sang pangeran dengan nama lengkap William Arthur Philip Louis Windsor  bersikap seperti itu. Sebab nasib baik seolah-olah tak pernah bersahabat dengan William. Dalam usia 14 tahun, ayah ibunya, Pangeran Charles dan Putri Diana berpisah setelah menjalani 15 tahun perkawinan penuh gonjang-ganjing dan beraroma perselingkuhan.

    Bersama adiknya Henry Charles Albert David (lahir 15 September 1984) atau Pangeran Harry, William hidup tanpa kasih sayang yang penuh dari orangtuanya. Mereka selalu terlihat rapi, ceria dan bercahaya tatkala tampil di muka umum. Padahal tak banyak yang tahu pasti apa yang terjadi di balik tembok tebal Istana Buckingham. Terlebih lebih lagi perasaan yang menggumpal di batin William dan Harry yang saban hari melihat sendiri betapa Charles Diana tak pernah rukun satu sama lainnya.

    Hanya setahun setelah ayah dan ibu mereka bercerai, William dan Harry bahkan menjadi anak yatim. Mereka kehilangan ibu untuk selama lamanya. Putri Diana tewas secara tragis dalam kecelakaan mobil di terowongan Alma, Paris bersama kekasihnya Dody Al Fayed, hari Minggu 31 Agustus 1997.

    Jantung seluruh rakyat Inggris seolah berhenti berdetak mendengar kabar buruk itu. Hampir dua pekan lamanya dunia menangisi Princess of Wales yang mati muda dalam usia 36 tahun. Mereka menyapanya Ratu di Hati Rakyat. Saat upacara pemakamannya di Westminster Abey, 6 September 1997, Elton John melantunkan puisi England Rose bagi Diana. Elton berkata: May you ever grow in our heart. You were the grace that placed it self where lives were torn apart (Biarlah engkau tumbuh di hati kami. Engkau adalah rahmat yang menempatkan dirimu pada kehidupan yang tercabik cabik).

    Inggris kembali menangis dengan lebih histeris mengenang betapa tragisnya kehidupan Diana hingga akhir hayatnya yang otomatis akan berpengaruh juga pada nasib kedua putranya, pewaris tahta Britania Raya.

***

    KABAR buruk hari ini sedang melanda Inggris. Rakyat tanah air sepakbola, leluhur si kulit bundar itu menangis. Warta nestapa kali ini memang bukan datang dari Paris, tetapi Charleroi. Hanya sekitar 12 jam sebelum Pangeran William genap berusia 18 tahun, pasukan The Union Jack takluk 2 3 atas Drakula Rumania dan terlempar dari persaingan di Belanda Belgia. Kepiluan itu terjadi begitu cepat, hanya tinggal dua menit menjelang pertandingan berakhir dan Inggris pasti ke perempatfinal.

    Sebagai bagian dari rakyat Britania yang super modern tetapi masih tunduk dan hormat pada Sri Ratu dan calon raja, betapa " kejamnya" seorang Phil Neville yang mengganjal Viorel Moldovan di kotak terlarang menit ke 88. Kesalahan fatal bek kiri asal tim "Setan Merah" MU yang lebih disebabkan perasaan gugup itu -  membuat Kevin Keegan seolah sengaja mempersembahkan kado "terburuk" untuk William, pangeran yang sangat menyayangi tim nasional St. George Cross.

    Ya, William adalah penggemar berat sepakbola (selain polo dan berburu). Pada waktu luangnya di Eton College, Yang Mulia amat kerap bermain sepakbola dengan rekan rekannya. Bukti bahwa Wiiliam menggemari sepakbola ditunjukkan secara jujur Istana Buckingham. Menjelang ulang tahun ke 18 yang sangat ditunggu tunggu rakyat Inggris itu, pihak Istana mempublikasi foto foto eksklusif serta rekaman video ketika William bermain bola.

    William tentu sempat tersenyum bangga ketika  18 Juni 2000 lalu, Alan Shearer dkk menaklukkan musuh bebuyutannya Jerman setelah menanti selama 34 tahun di Stadion Communal Charleroi, Belgia. Setelah menang dramatis dan kontroversial 4 2 dalam grandfinal Piala Dunia 1966, Inggris tak pernah menang lagi atas tim Panser di kejuaraan Piala Eropa maupun Piala Dunia.

    Kemenangan 1 0 Minggu lalu disambut hangat. Terbersit harapan Inggris akan masuk delapan besar. Toh cuma memerlukan hasil seri melawan Rumania. Harapan itu hampir menjadi kenyataan. Tetapi Neville menghancurkannya dalam sekejap. Ioan Genea membuat Shearer dkk urung menyanyikan God Save the Queen. Pasukan Drakula membuyarkan pesta. Betapa kejamnya Charleroi. Di sana Inggris menaikkan martabatnya dengan menelan Jerman. Di sana pula Inggris tumbang!*

Sumber: Buku Bola Itu Telanjang karya Dion DB Putra,
juga Pos Kupang edisi Kamis, 22 Juni 2000. Artikel ini  ketika Inggris gagal maju ke babak perempatfinal Euro 2000 setelah kalah 2-3 melawan Rumania dalam pertandingan akhir grup. Inggris dan Jerman sama-sama tersingkir di babak penyisihan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes