Tampilkan postingan dengan label Gerson Poyk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerson Poyk. Tampilkan semua postingan

Mengapa Bapak Tinggalkan Saya Sendiri?

Gerson Poyk
Bapak tinggalkan saya sendiri. Biasanya saya ikut ke mana bapak pergi, saya kenal banyak sastrawan dari bapak. Mengapa bapak tinggalkan saya sendiri?

HUJAN tiba-tiba mengguyur rumah duka tempat  jenazah maestro sastra Gerson Poyk disemayamkan. Jenazah Gerson Poyk disemayamkan di rumah adiknya Richard Poyk di Jalan Dua Lontar, Kelurahan Kayu PutiH, Kota Kupang sejak tiba dari Jakarta pada Minggu (26/2/2017) hingga dimakamkan Selasa (28/2/2017).

Meski hujan, namun ratusan pelayat tetap mengikuti prosesi pemakaman jenazah sastrawan terkemuka Indonesia kelahiran Pulau Rote tersebut. Ibadah pemakaman dipimpin oleh Pendeta (Pdt) Tera D.Klaping dari GMIT Klasis Kota Kupang. Saat itu keluaga besar Poyk mempersembahkan lagu Yesus Malole.  Sementara sahabat karib almarhum Gerson Poyk dari Ruteng membacakan puisi untuk mengantar kepergian Gerson ke tempat peristirahatan terakhir.


Romo Amanche  Ninu mewakili komunitas sastra diberi kesempatan membacakan riwayat hidup Gerson Poyk. Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, Pius  Rengka dan Peter A. Rohi menyampaikan sambutan dan apresiasi kepada almarhum.

Adik sepupu  almarhum Gerson Poyk, Marthen G. Lun mewakili keluarga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, rekan-rekan jurnalis,  sastrawan dan seniman yang dengan caranya masing-masing membantu dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan.

"Kami percaya Tuhan yang memberi, Tuhan pulalah yang mengambil. Bahkan alam semesta yang kita cintai ini mengucurkan air matanya. Itu pertanda baik. Jika ada yang kurang berkenan dengan bapak ibu sekalian selama beliau hidup, kami keluarga menyampaikan permohonan maaf. Kami juga menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah, rekan-rekan jurnalis, para seniman, sastrawan, kerabat dan kenalan yang telah mendukung kami keluarga," ujar Marthen.

Marthen juga mengucapkan terima kasih kepada komunitas sastra Kota Kupang dan daerah lainnya di NTT  yang mengapresiasi perjuangan Gerson Poyk pada Senin (27/2/2017) malam yang bersepakat menjadikan tanggal lahir almarhum Gerson Poyk -- pada 16 Juni -- sebagai Hari Sastra NTT.

Ibadah pemakaman mulai pukul 11.00 Wita dan berakhir pukul 13.30 Wita. Setelah itu,  jenazah Gerson Poyk  diantar ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Damai di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Perjalanan menuju TPU Damai Fatukoa melintasi Jalan Frans Seda - Jalan El Tari - Jalan Soeharto - Jalan HR Koroh dan belok kanan ke arah barat melintasi ruas Jalan Jalur 40. Ratusan sepeda motor  dan puluhan mobil mengiring jenazah Gerson Poyk menuju  TPU Damai. Tiba di TPU Damai Fatukota sekitar pukul 14.54 Wita.

Para seniman bersama keluarga mengangkat peti jenazah Gerson Poyk dan ditempatkan persis di sebelah kiri tempat makam Pahlawan Nasional, IH Doko.  Isak tangis sang anak, Fanny Jonathans Poyk  pecah saat menaburkan bunga ke dalam liang lahat ayahnya.

 "Bapak tinggalkan saya sendiri. Biasanya saya ikut ke mana bapak pergi, saya kenal banyak sastrawan dari bapak. Mengapa bapak tinggalkan saya sendiri? Selama ini saya coba menahan tangis, terlalu cepat bapak pergi" ucap Fanny berlinang air mata sambil memeluk anaknya.

Prosesi pemakaman Gerson Poyk di TPU Damai Fatukoa ditutup dengan menaruh krans bunga secara simbolis dari berbagai elemen di pusara sang maestro sastra Indonesia itu. (enold amaraya)

Sumber: Pos Kupang 1 Maret 2017 hal 1

Gerson Poyk Bertemu Guru Sintus di Surga

Gerson Poyk
KABAR kematian sastrawan Indonesia asal NTT, Gerson Poyk, saya dapat dari media sosial. Banyak orang membagikan tautan di Facebook perihal kepergiannya. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai pihak.

Banyak kalangan mengungkapkan rasa kehilangan dan sekaligus kekaguman mereka terhadap Sang Guru. Orang-orang NTT patut berbangga memiliki seorang Gerson Poyk. Ia seorang sastrawan jenius, jurnalis handal, seorang guru yang rendah hati dan seorang budayawan yang humanis.

Sudah banyak sekali buku novel, prosa, cerpen, puisi dan tulisan-tulisan yang ia hasilkan di sepanjang perjalanan hidupnya. Beberapa yang saya bisa ingat: Cumbuan Sabana (1979), Sang Guru (1972), Matias Akankari (1972), Giring-Giring (1982), Petualangan Dino (Novel anak-anak, 1979), Poti Wolo (1988), Jerat (cerpen, 1978) dan masih banyak lagi buku dan kumpulan-kumpulan tulisannya. Novelnya Sang Guru, adalah salah satu dari tiga novel Indonesia yang memenangkan SEA Write Award.


Sastrawan kelahiran Pulau Rote, 16 Juni 1931 ini juga banyak menulis tentang pengalaman masa kecil yang banyak ia habiskan di beberapa tempat di Flores, Sumba dan Timor. Ayahnya, Johanes Laurens Poyk, adalah seorang mantri Belanda saat Gerson dilahirkan.

Sebagai mantri ayahnya beberapa kali pindah tugas; di Pulau Semau, di Langgaliru di Sumba dan di Bajawa, tempat ia memulai pendidikan formalnya di HIS. Gerson menamatkan sekolah dasarnya di Ruteng tahun 1945. Di kota dingin Bajawa dan Ruteng, Gerson memiliki banyak kenangan yang membekas baik. Banyak karyanya juga turut mengambil latar tempat, sosial dan budaya yang ada di Flores.

Dari Ruteng, keluarga Gerson sempat berpindah-pindah kota, ke Maumere, Ende, Soe, Kupang sebelum akhirnya ia pindah ke Surabaya dan menjadi guru di Ternate. Sewaktu di Ende, Gerson sempat masuk sekolah Protestan saat ayahnya bekerja sebagai seorang pengacara amatiran. Oleh karena himpitan ekonomi, Gerson dan ibunya, Yuliana Manu, sempat kembali ke Rote dan tinggalah ayahnya sendiri di Flores bekerja sebagai pengacara amatiran.

Beberapa waktu kemudian setelah tinggal berpindah-pindah di rumah kerabat ibunya, Gerson akhirnya bertemu dengan ayahnya lagi di Rote. Mereka kemudian pindah ke Kupang setelah ayahnya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Amerika di sana dan kemudian pindah lagi ke Ruteng dimana ayahnya sempat mendekam di penjara karena dituduh menggelapkan uang perusahaan seratus gulden. Situasi ini membuat ibunya harus membawa anak-anaknya ke rumah-rumah sahabat kenalan yang ada di sana demi bertahan hidup.

Sekali lagi, di Ruteng, Gerson, bisa dikatakan, menghabiskan masa-masa kecilnya yang penuh tragedi dan komik. Dan di kota inilah ia menyadari secara tidak sengaja bakat sastranya yang luar biasa. Adalah seorang guru kelas limanya yang bernama Tuan Sintus de Rodriques, seorang Larantuka yang pertama kali melihat potensi besar Gerson Poyk sebagai seorang sasrawan. Tentang pengalamannya yang tak terlupakan itu, ia mengenang,

"selain senang pada pelajaran berhitung terutama hitung-hitungan yang hanya memakai angka, tanpa kata-kata, untuk pertama kali aku mendapat `hadiah sastra'. Aku membuat sebuah esei di sebuah batu tulis. Ia membacanya. Tiba-tiba ia menyuruh kami diam dan ia membaca eseiku di depan kelas. Rasanya dialah, guru Sintus itulah yang mengantarkan aku menjadi seorang sastrawan Indonesia. Aku selalu mengingatnya sehingga berita kematiannya di Jakarta karena sakit, sangat menyedihkan aku karena aku sangat ingin sekali bertemu dengannya untuk memberitahukan bahwa aku telah menjadi seorang sastrawan di negeri ini."

Gerson benar, ia telah menjadi seorang sastrawan di negeri ini. Lebih dari yang ia sendiri bayangkan, lebih dari yang ia sendiri impikan, tulisan-tulisannya abadi. Ia telah berhasil menulis seperti ia sendiri berbicara. Bahasanya lugas, mudah dicerna dan menghibur. Dalam bukunya Nostalgia Flobamora, ia menyuguhkan secara menarik kisah-kisah masa kecilnya yang penuh canda di tengah kerasnya bertahan hidup sebagai anak Rote diaspora.

Hidup dari keluarga yang sering berpindah-pindah membuat khazanah berpikir Gerson semakin luas dan beragam. Hampir semua tulisannya berakar kuat pada kondisi sosial dan budaya Flobamora sebagaimana yang dialaminya sendiri dan terekam baik dalam ingatan masa tuanya. Ia tidak malu menceritakan kenakalan dan kekonyolan hidup masa kanak-kanaknya.Hidupnya sendiri telah menjadi sebuah cerita yang apik.

Membaca tulisan Gerson sama dengan membaca NTT dengan segala macam konteks sosial dan politiknya saat itu.Ciri khas lokalitas mantan jurnalis Sinar Harapan ini tidak berhenti dalam tulisan-tulisannya. Bahkan pada saat ia menerima Southeast Asian Write Award di Bangkok pada 1989, ia mengenakan pakaian adat Rote lengkap dengan Ti'ilangga. Sebagai seorang pemenang dari Indonesia, ia ingin menunjukkan kepada dunia kalau dia orang Rote, orang NTT. Dalam kesehariannya pun, penulis yang juga pernah mengikuti International Creative Writing Program di Universitas Iowa, USA ini juga selalu bersemangat bila bercerita tentang tanah Flobamora tercinta.

Melihat semua yang telah dibuat sastrawan low profile ini, rasa-rasanya tak mungkin ada yang bisa menggantikan kemasyhurannya. Untuk alasan ini tentu saja penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan. Gerson Poyk hanya satu dan sampai kapanpun akan selalu dikenang.Namun, semangat hidup, kraetivitas, nilai-nilai universal yang ia tularkan melalui tulisan-tulisan dan kecintaannya yang luar biasa akan tanah Flobamora harus tetap tumbuh dan berkembang di dalam hati setiap anak NTT.

Secara pribadi saya mau bertemu Gerson Poyk dan menyampaikan bahwa setelah membaca Cumbuan Sabana, Sang Guru, Matias Akankari dan Nostalgia Flobamora, saya ingin sekali bisa menulis sepertinya; spontan, menghibur, lugas tetapi berisi pesan nilai yang sangat mendalam.

Kepergiannya ke rumah Sang Khalik membawa duka mendalam bagi siapa saja yang kagum terhadapnya.Akan tetapi satu hal yang sudah pasti, Gerson Poyk pasti merasa senang; ia bisa bertemu guru Sintus di Surga dan menyampaikan bahwa anak muridnya itu adalah seorang sastrawan besar Indonesia. (Ricko W, Anggota Kahe, tinggal di Wolomarang, Maumere)

Sumber: Opini Pos Kupang 1 Maret 2017 hal 4

Faham Kedaerahan Berbahaya bagi NKRI

Gerson Poyk
TULISAN kecil ini terinspirasi dari goresan pena saudara Usman D. Ganggang di Kompasiana yang terbit 7 September 2013 berjudul, Gerson Poyk: Saya Tak Telan Mentah-mentah. Tulisan ini saya simak berbarengan dengan puluhan ucapan duka di facebook atas meninggalnya perintis sastra NTT tersebut pada 24 Februari 2017 lalu.

Sebagai apresiasi atas ketokohan beliau dalam jagat sastra Indonesia khususnya NTT, saya membuat catatan kecil ini,  tentang makna di balik karya-karyanya yang berlatar lokal, tetapi dibubuhi dengan sentuhan-setuhan modernisme. Karena dia tidak mau terlibat di dalam apa yang dinamakannya dresur.  

Dalam cerpennya "Mutiara di Tengah Sawah" terlihat sangat kental dengan warna lokal. Bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan cerpen tersebut sangat NTT (NTT made) dan kawasan sekitarnya seperti Bima dan Indonesia Timur. Nama-nama tokoh, topi, bahasa, tempramen, watak, adat istiadat, dalam setting daerah dimana ia lahir dan besar. Namun seperti dikatakannya, dia tidak telan mentah-mentah apa yang ada di daerah.

Dia mengatakan, kampung halamannya di Ba'a, Pulau Rote, adalah bagian dari NTT, yang masih jauh dari kehidupan modern. Untuk itu, jika ia tercemplung ke dalam kehidupan tradisional yang belum modern, maka dia akan kembali ke mayarakat tertutup. Artinya ditutup di dalam masyarakat tradisional dan dituduh menjauhi keindonesiaan. Karena menurutnya faham kedaerahan sangat berbahaya bagi kesatuan NKRI.

Oleh karena itu, walaupun  dalam karyanya ia mengagumi kearifan budaya daerah, namun untuk take of dari tradisonalisme kedaerahan, dia menggunakan sastra sebagai kebudayaan spiritual yang modern, yang terdiri dari iman, harapan, cinta kasih, sains dan teknologi.  Dengan demikian, sastra dapat menumbuhkan masyarakat terbuka. Menurut dia, kalau mimpi adalah via regia, jalan ke dunia tak sadar, maka karya sastranya adalah jalan ke utopia. Novelnya, "Enu Molas di Lembah Lingko" adalah perjalanan ke utopia itu.

Dalam novel itu dia menyusun ceritanya, dimulai dari seorang profesor matematika berlibur ke Kupang. Lalu dia melihat terlalu banyak sarjana yang menganggur. Dan seorang gadis sarjana memipin sebuah sanggar yang anggotanya terdiri dari beberapa sarjana berbagai bidang. Ketika sang profesor mencari kuburan ibunya, ia bertemu dengan mereka di sebuah bangunan asal jadi. Sang Profesor terkejut melihat begitu banyaknya sarjana penggali kubur. Rupanya, mereka berharap untuk bisa hidup, meski banyak yang mati. Lalu dia mengajak mereka ke lembah lingko dan membuat kebun lodok lingko.

Dalam novel itu, dia menjelaskan bahwa iman diperkuat oleh cinta kasih, cinta kasih diperkuat oleh kerja yang bukan sembarang kerja. Tapi kerja yang memakai conceptual tool berupa bare maximum (kebutuhan maksimum untuk setiap individu). Kita belum mencapai bare maximum itu karena kita terasing dari bumi subur laut kaya. Kita di bumi subur dan laut kaya tapi kepala kita di padang pasir. Karena itu, dia mengajak agar kita berusaha menghilangkan keterasingan itu, dengan kembali ke kearifan budaya kita tapi jangan berhenti di sana. Kita harus melibatkan ilmu, sains, dan teknologi.

Modernisasi, menurut Gerson Poyk, adalah jika orang tua kita menghitung sektor dan segmen kebun dengan tali dan jari, kita menghitung dengan komputer (program Microsoft Office Excel). Nenek moyang kita memakai cangkul, kita memakai traktor. Kita tidak perlu menjadi orang daerah saja, tetapi harus juga menjadi orang Indonesia dan warga dunia. Itu pula sebabnya, roh dari sastra  dia adalah  sastra humanisme universal. "Dimulai dari absurs walls, diselesaikan dengan moral rebel, moderation".

Sejumlah karya Gerson Poyk dengan setting NTT dapat kita jumpai dalam cerpen, Kain Tenun, Batu Ginjal, Matias Akankari, Sepasang Mata Ibu, Kabut Rendah Dataran Tinggi, Joki Ulung dan masih banyak lagi. Dia telah pergi tetapi pesannya sungguh jelas, bahwa kita boleh memiliki banyak kearifan lokal yang bisa kita angkat dalam berbagai teks sastra dan drama. Tetapi itu tidak boleh mengkooptasi kita ke dalam faham kedaerahan (juga SARA) yang pada gilirannya mengoyak tenun kebangsaan kita.

Bernama lengkap Herson Gubertus Gerson Poyk, lahir di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur pada 16 Juni 1931. Dia dikenal luas di panggung sastra Indonesia melalui karya-karyanya berupa cerita pendek maupun novel yang menjadi rujukan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Antara lain "Sang Guru" dan "Di Bawah Matahari Bali. Mengawali karier kepenulisannya sejak 1950, berbagai penghargaan pernah di terimanya, seperti dari Majalah Horison, Piala Adinegoro (PWI), Southeast Asia Write Award 1982, Lifetime Award dari Harian Kompas.

Hingga masa tuanya, ia masih terus menerbitkan karya. Antara lain "Meredam Dendam, " Tarian Ombak" serta "Sang Sutradara" dan "Wartawati Burung. (Yohanes Mamun,
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Negeri Semarang)

 
Sumber: Opini Pos Kupang 28 Februari 2017 hal 4

Gerson Poyk: Sebuah Kisah Nyata Tentang Literasi

Gerson Poyk
Keberadaan Gerson dapat dijadikan panutan untuk membebaskan NTT dan Indonesia dari ketertinggalan budaya literasi (membaca dan menulis).

GERSON Poyk adalah sebuah kisah nyata tentang literasi. Bagaimana tidak? Sepanjang hidupnya diisi dengan menulis dan menghasilkan buku. Terakhir Gerson Poyk meluncurkan kumpulan puisi berjudul Dari Rote ke Iowa, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 25 Juni 2016. Peluncuran kumpulan puisi tersebut sekaligus memperingati ulang tahunnya ke-85.

Dari Rote ke Iowa adalah kumpulan puisi pilihan sejak pertama dia menulis tahun 1950-an. "Keseluruhan puisi merupakan akumulasi dari kisah perjalanan kehidupan saya selama berkiprah sebagai jurnalis maupun penulis sastra," kata Gerson Poyk,  sebagaimana disampaikan Berty Sinaulan dalam Kompasiana. 

Sebagai penulis tentu saja ia juga adalah pembaca yang baik. Dari Rote ke Iowa adalah buku terakhir yang diterbitkannya sebelum menghembuskan napas terakhir pada 24 Februari 2017 dalam usia menuju 86.  Kisah Nyata tentang Literasi  Gerson Poyk menulis dan membaca! Keberadaannya menjelaskan kepada orang NTT terutama anak-anak dan generasi muda NTT bahwa soal membaca dan menulis, NTT memiliki teladan.

Kepergiannya pada saat Indonesia baru saja mulai membuat gebrakan baru tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. GLS memperkuat gerakan pertumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Permendikbud Nomor 25 Tahun 2015. Salah satu kegiatan dalam gerakan tersebut adalah "kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai," sebagaimana dijelaskan dalam buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas (2016) yang dikeluarkan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud 2016.

GLS bagi Gerson Poyk adalah kenyataan! Baginya membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Beliau menulis, termasuk menulis pengalaman masa kecilnya. Untuk hal ini Gerson Poyk adalah teladan utama. Masa kecil dan berbagai hal yang dialami pada masa kecil menjadi bagian dari karya kreatifnya.

Misalnya, kisah yang diangkat dari kepercayaan lokal Manggarai tentang Poti Wolo, makhluk gaib berkaki satu dan berkuku kuda yang didengarnya di Ruteng, Manggarai, menjadi kisah imajiner baginya dalam menulis novel Poti Wolo (1988). Demikian pula karya-karyanya yang lain seperti Sang Guru (1971), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Cumbuan Sabana (1979), Di Bawah Matahari Bali (1982), berangkat dari konflik sosial yang pernah dilihat dan disaksikannya sendiri dalam perjalanan masa kecil maupun masa dewasanya di Kota  Bajawa, Ruteng, Ende, Maumere, Rote, Alor, dan lain-lain.

Dari perjalanan kariernya sebagai wartawan maupun sastrawan, jelas bahwa Gerson Poyk mengajar dan mendidik budaya literasi dengan bukti, bukan janji-janji. Apa yang dibaca dan telah ditulis dan ditinggalkannya bagi generasi penerus NTT menjawab kegelisahan bangsa Indonesia tentang rendahnya minat baca dan menulis.

Literasi dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara (Panduan GLS Kemendikbud, 2016).
Bukan mengada-ada jika kesempatan mengenang Gerson Poyk dideskripsikan berkaitan dengan GLS. Membaca, melihat, menyimak, menulis, itulah yang dilakukan Gerson Poyk sepanjang hidupnya. Perhatikan catatan Gerson Poyk tentang pengalamannya ketika pertama kali masuk SD di kota dingin Bajawa berikut ini.

"Suatu pagi aku berontak mati-matian karena ibu ingin membawaku ke sekolah. Ibu menggendong aku di pinggangnya dan aku menangis terus, menangis terus meronta-ronta sampai ke sekolah.... Sampai di sana aku berhenti menangis karena aku melihat banyak anak-anak sebayaku. Aku turun dari pinggang ibu dan guru menyambutku, mengangkat tanganku lewat kepala, menyuruh aku meraba telingaku. Sudah itu aku didaftarkan sebagai murid kelas satu tetapi boleh pulang. Sekolah baru mulai besoknya. Aku berkeliling sekolah itu. Aku melihat ada beberapa kantong terbuat dari anyaman daun pandan, berisi sesuatu, tergantung di tembok sekolah, di pohon dan di tiang lonceng. Tiba-tiba aku memanjat tiang lonceng untuk melihat apa yang berada dalam kresek anyaman daun pandan itu. Aku merogoh salah satu kantong dan ternyata isinya jagung kering goreng yang kerasnya seperti batu. Tetapi rahang anak Bajawa dapat menghancurkannya. Anak-anak yang membawa jagung goreng kering (tanpa minyak) itu datang dari kampung yang jauh. Makan pagi mereka dari jagung, ubi dan sebagainya, begitu juga makan siang mereka. Tak ada satu pun yang membawa uang jajan."

Gerson Poyk menjelaskan apa yang dicatat Panduan GLS 2016 bahwa nilai-nilai budi pekerti dan kearifan lokal (misalnya angkat tangan melewati kepala dan sanggup memegang telinga, Red) sebagai salah satu syarat mendaftar di SD ketika itu. Kearifan yang sulit dimengerti oleh generasi masa kini, kecuali membacanya dari pengalaman masa lalu orang tua-tua, termasuk Gerson Poyk yang merekamnya ke dalam tulisan. Kearifan lokal tentang jagung kering di Bajawa melukiskan tentang semangat berjuang anak-anak Bajawa sekolah berbekal jagung dan ubi. Kekayaan ini menjadi nyata ketika saat ini potensi pangan lokal menjadi salah satu kekuatan yang dibangun Pemerintah RI.


Dijelaskan dalam Panduan  GLS (2016) bahwa uji literasi pemahaman membaca (selain matematika dan sains) peserta didik  kelas IV dilakukan oleh Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan (IEA-the International Association for the Evaluation of Ecucational Achievement) dalam Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Sedangkan untuk peserta didik usia 15 tahun dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama  dan Pembangunan Ekonomi (OECD/ Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assesment (PISSA). Hasilnya, PIRLS 2011 Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta, sedangkan dalam PISSA 2012 Indonesia berada pada urutan ke-64 dari 65 negara yang berpartisipasi. Khusus untuk keterampilan membaca (biasanya diikuti dengan kemampuan menulis) peserta didik Indonesia tergolong rendah.

Bagaimana jika uji literasi pemahaman membaca (dan menulis) dilakukan untuk anak-anak NTT. Pada tingkat Indonesia, berada pada urutan ke berapakah anak-anak didik kita? Dengan catatan di atas, mudah bagi kita untuk memposisikan diri berada di mana. Bisa paling tinggi, menengah, atau mungkin juru kunci. Pemaparan ini seyogyanya ingin membuka pikiran dalam GLS bahwa NTT dapat belajar dan memperoleh pelajaran berharga dari perjalanan hidup seorang Gerson Poyk. Gerson Poyk yang telah menjalani hampir seluruh hidupnya untuk membaca dan menulis.

 Catatan Penutup
Gerson Poyk adalah contoh untuk mengukur kemampuan literasi tertinggi "anak NTT". Keberadaannya dapat dijadikan panutan untuk membebaskan NTT dan Indonesia dari ketertinggalan budaya literasi (membaca dan menulis). GLS (Gerakan literasi sekolah melibatkan semua pemangku kepentingan pendidikan termasuk guru dan orang tua) di NTT dapat dilakukan berdasarkan kisah nyata tentang Gerson Poyk yang belajar membaca dan menulis dari lingkungannya. Catatan tentang beliau yang ditulis seorang wartawan senior dapat dibaca berikut ini.

Di Maumere ini pulalah untuk pertama kalinya Gerson tahu kalau ayahnya bisa menulis, setelah memergok ayahnya menulis puisi dalam bahasa Latin.

"Tiba-tiba ayahku sibuk. Di malam hari, ia duduk di meja kamar depan, membakar lampu taplak, mengambil botol tinta dan pena serta kertas dan kamus lalu menulis berjam-jam sampai larut malam. Di hari minggu pun, karena Maumere tak ada gereja Protestan, maka ayah tak keluar. Ia menulis terus, menulis terus. Ketika aku mencuri-curi membacanya ketika ayah pergi, aku lihat ada sebuah sajak panjang berjudul Te Deum Laudamus. Entah apa artinya dalam bahasa Latin."

"Bajawa, sebuah kota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalah kota kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Roteà. Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi polisi, sebuah rumah sakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa rumah pembesar pemerintah serta beberapa toko milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan).

Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan menuju kuburan karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu. Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumah sakit di kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Ende) dan sekali-sekali ia datang mengunjungi rumah sakit yang dipimpin oleh ayahku."

Catatan di atas menjelaskan bahwa Gerson Poyk adalah sebuah kisah nyata tentang literasi yang patut diteladani. Spirit dan perjuangannya dalam menumbuhkan budaya literasi (membaca dan menulis) adalah kebanggaan NTT yang mesti diimplementasikan antara lain melalui GLS. GLS  yang dicanangkan kemendikbud demi melahirkan generasi baru yang cerdas dan berbudi pekerti melalui membaca menulis dengan berpijak pada ekologi dan kearifan lokal. (maria matildis banda)

Sumber: Pos Kupang 26 Februari 2017 hal 1

Masyarakat NTT Minta Makamkan Gerson Poyk di Dharma Loka

Gerson Poyk
KUPANG, PK -- Tokoh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dari berbagai elemen meminta agar jenazah sastrawan terkemuka Indonesia asal NTT, Gerson Poyk (86)  dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP)  Dharma Loka Kupang. Selain itu perlu mendirikan Perpustakaan Gerson Poyk di daerah ini.

Mereka menilai besarnya  jasa dan karyanya dalam memperkenalkan budaya NTT sebagai warna budaya Indonesia maupun Indonesia di mata dunia maka Gerson yang meninggal dunia di Depok pada  24 Februari 2017 layak diperlakukan sebagai pahlawan.

"Kami meminta agar Danrem dan Gubernur NTT bekerjasama untuk memakamkan tokoh sastra Indonesia di taman makam pahlawan," demikian poin pertama pernyataan para tokoh itu dalam petisi yang diterima Pos Kupang, Sabtu (25/2/2017). Kurang lebih 200 tokoh dari berbagai latar belakang profesi dan organisasi yang menandatangani petisi tersebut.

Para tokoh itu menilai Gerson Poyk adalah guru, jurnalis, novelis, cerpenis dan budayawan yang setia menjalankan tugas hingga akhir hayatnya. Ia menolak tunduk didikte oleh paham materialisme dan bekerja demi kemanusiaan sepanjang hidupnya. Berdasarkan puluhan karya sastra berupa novel, maupun ratusan cerpen, serta tulisan lain yang diterjemahkan ke berbagai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Jepang, Turki dan Rusia diberi tanda sebagai pahlawan.

"Sudah saatnya konteks pemaknaan tentang tentang pahlawan tidak lagi melanjutkan dikotomi sipil-militer, penentuan hakekat pahlawan harus dibuka  dalam narasi kemanusiaan. Dengan visi ini maka ruang simbolik kepahlawanan tak hanya milik yang berperang dengan senjata. Penghargaan yang diterima Gerson Poyk dari kepala negara Indonesia atas jasa-jasanya di bidang sastra merupakan tanda pengakuan," demikian pernyataan tersebut.

Para tokoh juga mengusulkan untuk mendirikan Perpustakaan Gerson Poyk di Kupang. Lahannya disediakan Pemerintah Provinsi NTT. "Kami meminta agar Gubernur Provinsi NTT maupun anggota DPRD NTT serta wakil rakyat di DPR dan DPD serius menyikapi tuntutan ini dan bicarakan secara terbuka tentang makna pahlawan dalam konteks kemanusiaan kita, beri tempat untuk sastrawan dalam masyarakat dan beri tanda konkrit atas kepergian mereka," tulis para tokoh.

Dikatakan pula bahwa tanda  simbolik kepahlawanan bagi suatu bangsa merupakan hal penting bagi sebuah bangsa karena figur orang baik dalam peradaban ditentukan oleh makna pahlawan. Di tengah berbagai ketidakpastian yang melanda bangsa, semakin penting kita mendudukan mereka yang berjasa untuk negara. Tanpa ritual semacam ini 'orang baik'  tidak dianggap dan diabaikan.

Mereka menutup permintaan itu dengan  mengutip satu baris kutipan dari naskah Monologia Flobamora oleh Gerson Poyk. Sebagian penduduk negeri kita ini sangat libidinal  karena syahwat kekuasaan   menerima mitos secara harafiah (literalisme).  Literalisme yang dilindungi oleh  suatu otoritas (surat menteri misalnya),   akan menimbulkan  intoleransi dan teologi kekerasan dan pembunuhan.

Keluarga Menghargai
Keluarga besar Gerson Poyk di Kupang menginginkan jenazah almarhum  dimakamkan di TPU Damai, Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Meski  begitu pihak keluarga  menghargai apabila jenazah Gerson dimakamkan di TMP  Dharma Loka. Hal ini disampaikan adik almarhum, Richard Poyk ketika ditemui di rumah duka, Jalan Dua Lontar No. 17, Kayu Putih,  Kupang, Sabtu (25/2/2017).

Menurut Richard, pihak keluarga telah bermusyawarah soal tempat pemakaman. "Keinginan keluarga besar seperti itu bahwa jenazah bung Gerson ini harus dimakamkan di TPU Damai Fatukoa. Kita sudah sepakat, apabila tidak ada tempat lain untuk dimakamkan, maka jelas di TPU Damai," kata Richard.

Diakuinya, sampai kemarin pihak  keluarga belum juga menyiapkan liang lahat di TPU Fatukoa. Kemungkinan disiapkan setelah jenazah Gerson Poyk  tiba hari ini.  "Kita sekarang masih persiapkan untuk sambut jenazah. Awalnya sesuai rencana, jenazah tiba hari ini, namun bekalangan kami dapat informasi bahwa jenazah baru tiba besok, Minggu (26/2/2017) pagi," katanya.

Richard mengatakan, keluarga sudah mendapat informasi tentang harapan komunitas sastrawan  NTT dan para tokoh masyarakat agar jenazah Gerson Poyk dimakamkan di TMP Dharma Loka.  "Kami dapat informasi seperti itu sehingga kami juga hargai. Namun, seandainya beliau (Gerson)  masih hidup dan tanya maka pasti beliau tidak mau di Dharma Loka," kata Richard yang kini menjabat Direktur Layanan dan Pengembangan Usaha (LPU) LPP RRI Pusat.

Jenazah sastrawan terkemuka kelahiran Pulau  Rote, Gerson Poyk akan tiba di Kota Kupang pada Minggu (26/2/2017) sekira pukul 07.00 Wita  "Besok subuh berangkat  dari Jakarta jam 3, diperkirakan tiba di Kupang jam 7 pagi," kata Lanny, anggota keluarga almarhum yang dihubungi, Sabtu kemarin. (osi/yel/ira)

Ketua DPRD Anwar Pua Geno Mendukung

KETUA DPRD Provinsi NTT, Anwar Pua Geno mengatakan,  DPRD NTT  mendukung petisi dari berbagai elemen masyarakat agar pemerintah pertimbangkan untuk memakamkan Gerson Poyk di TMP Dharma Loka Kupang. "Untuk menghormati dan menghargai jasa-jasa serta pengabdian almarhum kiranya  jenazah almarhum Gerson Poyk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka," kata Anwar, Sabtu (25/2/2017) malam.

Menurut Anwar, DPRD meminta kepada Pemerintah Provinsi NTT melalu Dinas Sosial Provinsi melakukan koordinasi dengan Korem 161 Wira Sakti agar prosedur, mekanisme dan syarat-syarat kiranya dapat terpenuhi agar seseorang tokoh dapat dimakamkan di TMP Dharma Loka Kupang. "Itu sudah domain pemerintah bersama TNI, semoga memenuhi syarat," demikian Anwar yang mengucapkan turut berduka cita mendalam atas kepergian Gerson Poyk.

Gubernur NTT, Drs.  Frans Lebu Raya menghargai harapan masyarakat agar Gerson Poyk  dimakamkan di TMP  Dhama Loka. Namun, Gubernur Frans mengakui ada syarat yang harus dipenuhi. Kepada wartawan di Lippo Plaza Kupang, Sabtu (25/2/2017) malam, gubernur mencontohkan proses yang dilalui pemerintah saat kepergian dua mantan Gubernur NTT yakni Piet A Tallo dan dr. Hendrik Fernandez.

"Pemerintah akan berkoordinasi dulu dengan TNI, prosesnya cukup panjang," kata gubernur.  Untuk menghormati almarhum Gerson Poyk, lanjut Gubernur,  Pemerintah Provinsi NTT mengabadikan namanya pada Taman Budaya.


Kewenangan untuk makamkan tokoh sipil yang punya jasa baik secara nasional maupun daerah di TMP sepenuhnya ada pada Dinas Sosial setempat.  TNI tidak berwenang menentukan syarat bagi tokoh sipil yang hendak dikuburkan di TMP.
Komandan Korem (Danrem)  161/Wira Sakti Kupang, Brigjen (TNI) Teguh Muji Angkasa, SE,MM, menyampaikan hal ini melalui Kapenrem, Mayor Ida Bagus S kepada Pos Kupang, Sabtu (25/2/2017).

Menurut Kapenrem, khusus untuk tokoh  TNI sudah ada syarat khusus untuk dimakamkan di TMP atau pemakaman umum baik atas permintaan keluarga maupun atas penilaian petinggi TNI.  "Kami di TNI tidak mengetahui soal syarat buat tokoh sipil yang mau dikuburkan di TMP. Soal syaratnya Dinsos yang tahu. Seperti di Jakarta ada Dinas Pemakaman yang menentukan, kalau di NTT Dinsos NTT yang tahu syaratnya," kata Mayor Ida.

 Dia menegaskan TMP tidak hanya bagi TNI, Polri tetapi untuk semua tokoh yang berjasa dan layak sesuai aturan perundang-undangan. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi  NTT, Frans Salem, S.H, M.Si mengatakan, rencana pemakaman Gerson Poyk di TMP Dharma Loka akan dikomunikasikan dengan pihak Korem 161 Wira Sakti. Diakuinya, selain TNI dan Polri warga sipil juga bisa dimakamkan di sana asal memenuhi syarat.

Frans Salem mengatakan hal ini kepada Pos Kupang, Sabtu (25/2/2017) malam.  "Ini memang perlu dikomunikasikan dengan pihak Korem karena mereka yang memiliki kapasitas untuk menentukan siapa yang boleh dimakamkan di TMP," kata Frans.
"Prosesnya kalau syarat-syarat dipenuhi maka tidak begitu lama. Terpenting bahwa ada tanda jasa yang diberikan negara kepada beliau," tambahnya.

Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Wilhemus Foni mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan keluarga. Untuk dimakamkan di TMP ada persyaratan yang harus dipenuhi.  "Saya belum mendapat konfirmasi dengan Bapak Gubernur NTT soal pemakaman, namun saat ini  bapak gubernur mengatakan Pemprov NTT akan memberi nama Gerson Poyk pada Taman Budaya. Jadi Taman Budaya yang ada itu nanti bernama Taman Budaya Gerson Poyk," ujarnya.  (yon/yel/osi)





Bertemu Terakhir di Hotel Grenia
BEBERAPA karangan bunga menghiasi halaman rumah Richard Poyk di Jalan Dua Lontar No. 17 Kayu Putih Kota Kupang. Pagi itu, Sabtu (25/2/2017) sekira pukul 10:00 Wita, rumah ini masih terlihat sepi. Beberapa anggota keluarga masuk keluar di ruangan yang disiapkan untuk tempat jenazah Gerson Poyk disemayamkan.

Welem Poyk, saudara sepupu almarhum Gerson Poyk,  tidak percaya bahwa Gerson sudah meninggal. "Saat saya dapat informasi meninggalnya Bu (kakak) Gerson, saya sonde (tidak) langsung percaya. Saya tunggu informasi dari semua keluarga," ujar Welem di kediaman Richard Poyk, Sabtu (25/2/2017).

Welem mengatakan, ia bertemu terakhir dengan Gerson di Hotel Grenia Kupang. "Saya  ke sana dan kami bercerita soal keluarga. Saya lupa buland an tahun kami bertemu. Tapi itu pertemuan terakhir saya dan Bu Gerson," ujarnya.

Dalam perbincangan itu, lanjutnya, ia dan Gerson sempat membahas soal silsilah keluarga, baik yang ada di Kupang maupun di Rote. Sementara Richard Poyk, adik Gerson Poyk, duduk  bincang-bincang dengan beberapa tamu yakni Kepala LPP RRI Kupang, Salman dan sejumlah pejabat RRI Kupang.

Richard yang melihat Pos Kupang datang, lalu  mendekat dan menyapa. Saat kembali ke tempat duduk, Richard sempat membaca judul berita headline Pos Kupang. "Koran ini akan kami kliping," ujar Richard sambil mengangkat koran Pos Kupang.

Richard mengatakan, pihaknya merasa kehilangan sosok yang sudah dianggap bukan saja sebagai kakak, tetapi orangtua mereka. Alasannya, semasa hidup, Gerson banyak memberi teladan bagaimana hidup sederhana dan rendah hati, bahkan selalu memperhatikan sesama. "Kalau kita ingat kembali, banyak petuah yang dibekali oleh  Bung Gerson kepada kami semua. Memang kami tidak bersama dia selalu, tetapi apa yang diberikan kepada kami menjadi teladan," ujarnya.

Terkait kondisi almarhum sebelum meninggal, Richard mengatakan, sakit yang diderita almarhum  tidak diketahi oleh khalayak  kecuali keluarga.  Gerson ketika menderita sakit pertama, Richard sendiri sempat bertemu  tiga kali.  "Bung  Gerson  di Depok, saya sempat bertemu. Kami bercerietra seperti biasa," tuturnya.

Richard mengatakan,  ia sudah sepakat dengan keluarga agar jenazah Gerson dimakaman di Kupang. Richard menjelaskan, ada dua alasan sehingga jenazah Gerson dibawa ke Kupang. Pertama, keluarga ingin memindahkan pusat sastra dunia yang  kiblatnya harus  ada di NTT karena tidak menutup kemungkinan sastrawan dunia bisa saja akan mencari di makam sastrawan NTT yang terkenal itu.  Hal ini, lanjutnya, bisa  dengan sendirinya banyak sastrawan datang ke NTT. 

Kedua, kalau dimakamkan di Jakarta,  tidak menjamin karena  penggusuran lahan dan sebagainya. Bahkan kalau makam yang tidak terurus sekitar enam bulan,  bisa saja jenazah sudah diganti dengan yang lain.  (yel)
 

Sumber: Pos Kupang 26 Februari 2017 hal 1

Selamat Jalan Perintis Sastra NTT

Gerson Poyk
SELAMAT jalan Bapak Gerson Poyk, perintis sastra NTT. Provinsi NTT dan Indonesia kehilangan tokoh besar bidang sastra dan budaya yang dengan cemerlang mengangkat lokalitas daerah/masyarakat NTT dalam karya-karya sastranya.

Di samping sebagai sastrawan besar Indonesia, yang oleh H. B. Jassin dimasukkan sebagai Angkatan 66, Gerson Poyk juga adalah orang NTT pertama yang berkiprah di panggung sastra. Beliau dijuluki sebagai perintis sastra NTT. Setelah Gerson merintisnya, muncul kemudian nama-nama lain, seperti Dami N. Toda, Julius Sijaranamual, Umbu Landu Paranggi, dan John Dami Mukese.

Data otentik karya sastra Gerson Poyk pertama sebagai karya awal orang NTT di panggung sastra berupa cerita pendek, judulnya "Mutiara di Tengah Sawah." Cerpen ini dimuat majalah Sastra (Nomor 6, Tahun I, Oktober 1961) dan mendapat hadiah dari majalah tersebut sebagai cerpen terbaik tahun 1961 itu.

Majalah Sastra adalah majalah bulanan yang terbit pertama kali tahun 1961, dipimpin H.B. Jassin dan M. Balfas. 

Dalam sejumlah biografinya, Gerson Poyk mulai menulis karya sastra sejak menjadi guru SMP dan SGA di Ternate dan di Bima sebelum tahun 1961. Disebutkan, ada sejumlah media yang memuat karya sastranya, seperti Mimbar Indonesia, Tjerita, dan Sastra. Hanya sayangnya, saya hanya menemukan data otentik karya sastra Gerson pada majalah Sastra (1961), sedangkan pada majalah Mimbar Indonesia dan Tjerita sebelum tahun 1961, tidak ditemukan.

Dalam forum Temu 1 Sastrawan NTT yang diselenggarakan Kantor Bahasa NTT pada 30-31 Agustus 2013 di Kupang, saya tanyakan langsung kepada Bapak Gerson, apa judul karya sastra pertamanya. Dijawab bahwa karya sastra pertamanya cerpen "Mutiara di Tengah Sawah," namun media yang memuatnya beliau sudah lupa. Dengan demikian, sastra NTT dimulai pada tahun 1961, sejak orang NTT pertama menulis karya sastra, kini sastra NTT berusia 56 tahun, dengan perintisnya GersonPoyk.

Gerson Poyk lahir pada 16 Juni 1931 di Namodale, Rote Ndao, Provinsi NTT. Tahun 2017 ini Gerson Poyk genap berusia 86 tahun. Selama 56 tahun terus-menerus, Gerson Poyk tetap dan terus berkarya sastra, mengangkat citra Provinsi NTT dalam panggung sastra Indonesia modern. Banyak pembaca karya sastra Indonesia modern dengan sangat mudah menghubungkan karya-karya sastra Gerson dengan kondisi alam lingkungan dan sosial budaya Provinsi NTT. Gerson Poyk juga sering dijuluki sebagai pendongeng dari Timur.

Pada Temu 2 Sastrawan NTT di Universitas Flores, Ende, pada 8-10 Oktober 2015, lebih dari 60 sastrawan NTT yang hadir, menetapkan tanggal 16 Juni sebagai Hari Sastra NTT bersamaan dengan HUT Gerson Poyk. Ini terkandung maksud sebagai bentuk rasa hormat dan penghargaan kepada Gerson Poyk sebagai perintis sastra NTT.

Hari Sastra NTT diperingati pertama kali pada 16 Juni 2016 lalu.Tahun 2016 lalu, kami di Universitas Flores Ende memperingati Hari Sastra NTT sekaligus merayakan HUT ke-85 Gerson Poyk selama dua hari, tanggal 15 dan 16 Juni 2016 dengan berbagai kegiatan bidang sastra dan budaya.

Berdasarkan hasil penelusuran saya selama bertahun-tahun, sampai dengan 2017 ini, Gerson Poyk telah menerbitkan minimal 29 buku sastra, 13 judul buku novel, 14 judul buku kumpulan cerpen, satu judul buku puisi, dan satu judul buku jurnalistik bergaya sastra. Sedangkan karya sastra yang belum dibukukan, berupa cerpen, puisi, naskah drama, esai sastra, kritik sastra, dan ulasan sastra, jumlahnya bisa ribuan yang tersebar di puluhan bahkan ratusan media cetak di Indonesia.

Beliau sendiri menyebut jumlahnya sekitar 2-3 karung.
Karya sastra Gerson yang terkenal dan dibaca luas, antara lain berjudul Sang Guru, Cumbuan Sabana, Nostalgia Nusa Tenggara, Mutiara di Tengah Sawah, Matias Akankari, Meredam Dendam, Nostalgia Flobamora, dan Enu Molas di Lembah Lingko.

Judul-judul buku novel Gerson Poyk adalah (1) Hari-Hari Pertama (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1964, 1968); (2) Sang Guru (Pustaka Jaya, Jakarta, 1971, 1973); (3) Cumbuan Sabana (Nusa Indah, Ende, 1979); (4) Petualangan Dino (Nusa Indah, Ende, 1979); (5) Giring-Giring (1982); (6) Sang Sutradara dan Wartawati Burung (Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (7) Tarian Ombak (Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (8) Meredam Dendam (Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (9) Seruling Tulang (Kakilangit Kencana, Jakarta, 2009); (35) (10) Nyoman Sulastri (Libri, Jakarta, 2012); (11) Seribu Malam Sunyi (Libri, Jakarta, 2012); (12) Enu Molas di Lembah Lingko (Q Publisher, 2015), (13) Nostalgia Flobamora (Actual Potensia Mandiri, 2015).

Buku-buku cerpen Gerson Poyk adalah (1) Nostalgia Nusa Tenggara (Nusa Indah, Ende, 1975, 1977); (2) Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Aleksander Rajaguguk (Nusa Indah, Ende, 1975, 1977); (3) Matias Akankari (1975); (4) Jerat (Nusa Indah, Ende, 1978); (5) Requiem untuk Seorang Perempuan (1981, 1983); (6) Seutas Benang Cinta (1982); (7) Di Bawah Matahari Bali (Sinar Harapan, Jakarta, 1982); (8) La Tirka Tar (1983); (9) Mutiara di Tengah Sawah (1984); (10) Anak Karang (1985); (11) Puber Kedua di Sebuah Teluk (1985); (12) Doa Perkabungan (Gerson Poyk, 1987); (13) Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (Gerson Poyk, 1988); (14) Poti Wolo (Grafiti, Jakarta, 1988).

Adapun buku puisi Gerson berjudul, Dari Rote ke Iowa (2015) dan buku jurnalistik bergaya sastra berjudul Keliling Indonesia: dari Era Bung Karno Sampai SBY (2010). (Yohanes Sehandi,  Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende).

Sumber: Pos Kupang, 25 Februari 2017 hal 4

Gerson Poyk: Akar Imajinasinya di NTT

Gerson Poyk
"DARI sisi sastrawan, Gerson Poyk adalah sosok yang paling inspiratif. Tokoh sastrawan yang bukan saja terkenal di NTT, tetapi Gerson sosok sastrawan Indonesia yang piawai dalam menulis dan sangat komunikatif dengan pembacanya."

Demikian kesan penulis Dr. Marselus Robot  yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tentang Gerson Poyk,  Jumat (24/2/2017).

Marsel mengaku kaget saat mendapat informasi bahwa Gerson Poyk telah tiada. Yang mengagumkan dari seorang Gerson Poyk, tutur Marsel, adalah saat menulis selalu melengketkan tema-tema kultular NTT.  Gerson menggadang fitur-fitur budaya NTT ke dalam karya-karyanya. Ada tradisi dari Rote, Manggarai, Timor dan lainnya yang dibacakan dengan jelas. Tulisannya mudah diamati dan nikmat ketika membacanya.

"Cerpen-cerpennya selalu mengandung warna lokal yang sangat kuat. Biar berkarya jauh di Jakarta, tapi akar sastranya selalu menghujam di bumi Flobamora. Itulah yang membuat saya kagum. Bagi saya karya Bung Gerson bukan sekadar album sosial, tapi dia menyatakan sesuatu melalui karyanya," tutur Marsel Robot.

Marsel sebagai generasi di bawah Gerson mengaku kehilangan tokoh inspiratif.  Menurut dia, kehilangan Gerson adalah kehilangan tokoh sastrawan Indonesia dan warga sastrawan NTT. Kepergiannya itu berarti kepergian sosok imajinasi. Kepergian sosok yang pandai bergurau dan kepergian seorang ilusi dalam bersastra. "Saya dan keluarga turut berduka cita atas kepergian Bung Gerson. Semoga almarhum  Gerson Poyk diterima di sisi Allah, dan keluarga yang dtinggalkan diberikan ketabahan," ujarnya.

Marsel mengajak masyarakat NTT untuk terus membaca karya-karya Gerson Poyk. Gerson telah memberikan yang terbaik dalam hidupnya dengan karya-karya sastra yang tetap menghujam akar imajinasinya di NTT.

Praktisi sastra di Kota Ende, Yohanes Sehandi mengatakan, kepergian Gerson Poyk merupakan duka bagi dunia sastra NTT, baik komunitas sastra di daerah ini maupun bagi penggemar sastra dan masyarakat NTT. Kepada Pos Kupang, Jumat (24/2/2017), Yan mengatakan, Gerson adalah seorang perintis karya sastra NTT. Dari buah penanya telah  menghasilkan berbagai tulisan dengan latar belakang NTT.

Sosok Gerson,  ujar Yan, adalah orang yang setia dengan panggilannya sebagai penulis sastra sampai meninggal. Yan mengatakan, sebagai bentuk apresiasi atas jasa besar Gerson dalam bidang sastra NTT, maka dalam temu sastra NTT yang pertama di Universitas Flores, semua peserta sepakat menjadikan tanggal lahir Gerson Poyk, 16 Juni sebagai Hari Sastra NTT.

Dengan demikian, lanjutnya, setiap tanggal 16 Juni diperingati sebagai hari lahir sastra NTT merujuk pada hari lahir Gerson Poyk.   Langkah nyata yang dilakukan oleh Universitas Flores untuk menyambut HUT Sastra NTT, demikian Yan, yang juga dosen Universitas Flores adalah menggelar peringatan HUT Sastra yang pertama di Kampus Universitas Flores pada 16 Juni 2016 lalu.

Secara pribadi, ujar Yan, ia memiliki 29 jenis buku atau karya sastra karya Gerson Poyk. Di antaranya 14 cerpen dan 13 novel serta 1 buku puisi dan 1 buku laporan jurnalistik bergaya sastra. Sebagai orang yang pernah tinggal di Flores, ujar Yan, Gerson pernah menulis karya sastra dengan latar belakang daerah Flores khususnya di Manggarai seperti Enu Molas.

                                      Angkat Nama NTT
Karya-karya  Gerson Poyk, selama ini telah mengangkat nama NTT di tingkat nasional dan internasional. Keharuman NTT cukup nyata di bidang sastra era Gerson Poyk.
Hal ini disampaikan Ketua DPRD Provinsi  NTT, H. Anwar Pua Geno, S.H,  Jumat (24/2/2017). Menurut dia, Gerson Poyk adalah  sastrawan kawakan yang cukup terkenal dan di era almarhum sempat mengangkat nama NTT serta nama Indonesia dengan karya- karya di bidang sastra.

"Kami  turut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya wartawan senior dan kawakan Gerson Poyk. Almarhum adalah wartawan insan pengabdi media bagi bangsa kelahiran NTT yang ulet, tekun, gigih dan penuh idealisme," kata Anwar.

Perjuangan dalam mewartakan setiap etape dinamika kehidupan bangsa dan negara, demikian Anwar, Gerson Poyk tidak pernah menyerah  dengan begitu banyak tantangan, khususnya di bidang sastra.

"Karya dan jasanya bagi daerah dan bangsa ini sangat besar. Nama NTT ikut harum dan terangkat karena kebesaran nama Gerson Poyk di bidang jurnalisme dan media massa. Ketokohan, kesahajaan hidup dan kegigihannya dalam berkarya menjalani profesinya patut diteladani," ujarnya.

Apa yang ditorehkan Gerson Poyk, demikian Anwar, diharapkan dapat dilanjutkan oleh generasi sekarang yang mengabdi di bidang media massa sesuai dengan tantangan dan semangat zaman. "Kami turut berdukacita atas kehilangan sosok yang sangat terkenal ini. NTT sangat kehilangan," katanya.

Mantan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si mengatakan, Gerson Poyk adalah sosok sastrawan dan budayawan Indonesia asal NTT yang cukup terkenal sejak beberapa tahun silam. Karena itu, NTT sangat kehilangan sosok yang sudah mengharumkan nama NTT di tingkat nasional. "Kami turut berduka yang mendalam , karena karya dari almarhum sangat menorehkan sejarah bidang sastrawan di NTT. Gerson adalah pahlawan bidang sastra di NTT," kata Esthon.

Ia mengharapkan karya-karya almarhum bisa diwariskan kepada sastrawan-sastrawan sekarang demi kemajuan sastra di NTT dan di Indonesia.

Walikota Kupang terpilih Dr. Jefri Riwu Kore mengatakan, NTT sangat kehilangan sosok sastrawan yang cukup terkenal . Ketokohan dan kegigihan  almarhum tentu sulit untuk ditandingi.  "NTT kehilangan sosok sastrawan besar dan kemungkinan akan sulit ada pengganti. Saya harapkan apa yang sudah dilakukan almarhum bisa memberi motivasi bagi sastrawan-sastrawan masa kini," kata Jefri.  (yen/rom/yel)

Sumber: Pos Kupang 25 Februari 2017 hal
1

Gerson Poyk: Opa yang Cerdas dan Rendah Hati

Gerson Poyk
KEPERGIAAN sastrawan asal NTT, Gerson Poyk membawa duka mendalam bagi sastrawan muda di daerah ini. Ungkapan duka itu antara lain disampaikan anak muda kreatif yang bergabung dalam Komunitas Dusun Flobamora dan Lakoat Kujawas.

Kepada Pos Kupang, Jumat (24/2/2017), Koordinator Dusun Flobamora, Romo Amance Franck Oe Ninu mengatakan sangat berduka tas kepergian Gerson Poyk yang dia sapa Opa. "Kami berterima kasih atas inspirasi Opa Gerson Poyk untuk sastra, kebudayaan, dan kemanusiaan NTT dan Indonesia. Selamat jalan Opa Gerson, doa kami untukmu," ujarnya.

Amance mengatakan, bagi kalangan sastrawan muda NTT, nama Gerson Poyk sudah tidak asing lagi. Gerson sudah menjadi sosok yang dikagumi lewat karya-karya sastranya yang luar biasa.

Anggota Komunitas Dusun Flobamora lainnya, Christian Dicky Senda yang juga koordinator Komunitas Lakoat Kujawas, mengatakan Gerson Poyk menampilkan NTT dalam cara yang kreatif, inovatif, dan kritis. Karya cerpennya tak hanya memantulkan filosofi dan lokalitas NTT, tetapi juga mengkritisi perilaku dan tradisi yang keliru dalam kehidupan bersama. Imajinasinya sangat lokal Flobamora, kadang lucu, tetapi jenius.

Dicky melukiskan Opa Gerson sebagai sosok yang cerdas, rendah hati sekaligus punya selera humor yang ajaib. Buku Nostalgia Flobamora adalah tulisan terbaiknya tentang NTT di masa lalu. Ia mempunyai memori yang detail dan tajam tentang masa lalunya.

Seniman Abdy Keraf mengatakan, Gerson Poyk adalah sosok sastrawan sekaligus budayawan yang sangat menginspirasi. Lewat karya-karyanya, Gerson  bercerita tentang NTT dengan beragam budaya.  "Kami mengucapkan selamat jalan Pak Gerson Poyk. Tuhan menerimamu di Surga," kata Abdy.

Perasaan duka pun diungkapkan Dody Doohan Kudji Lede. Lewat  akun Facebooknya, Dody mengucapkan terima kasih kepada sang maestro sastra itu. "Selamat jalan Opa Gerson Poyk. Terima kasih telah menjadi bagian dari kami.
Tuhan menguatkan keluarga yang ditinggalkan dan membuka jalan ke sorga bagimu.
Kami kehilangan sastrawan terbaik NTT," demikian Dody.

Sastrawan NTT, Mezra E Pellondou tak kuasa menahan tangis mendengar kepergian Gerson Poyk. Menurut Mezra,  dia masih sempat menanyakan kondisi terakhir pada putrinya Fanny  Jonathans Poyk. Penjelasan Fanny pada Jumat pagi  membuatnya sedih. "Besar harapanku opa tetap sehat. Ternyata kondisi kesehatan makin drop," kata Mezra dalam catatannya yang dikirim kepada Pos Kupang.

Mezra melukiskan Gerson sebagai sastrawan yang hebat. "Kau telah memilih jalan utopia selama pengembaraanmu di bumi Tuhan ini. Di jalanmu yang utopia itu kau mengembara dengan spiritual modern yang beruas-ruas dan berkelok-kelok namun kamu mampu menaklukkannya dalam iman, pengharapan, cinta, kasih, sains dan teknologi. Kau tidak teralineasi dalam semangat kedaerahan yang berlebihan karena kau sangat cinta NKRI sebagai harga mati. Kau juga bukan pemuja modernisme secara berlebihan, karena kau sangat menghargai kearifan lokal. Dengan hatimu yang penuh kasih, kau memiliki sifat sosial yang tinggi. Hatimu bersih dan jujur. Bahkan kau mampu mengelola konflik dalam hidupmu dan juga dalam cerpen cerpen dan novelmu dengan lugu dan jenaka. Kami sangat kehilangan dirimu, opa Gerson Fulbertus Poyk," tulis Mezra

Mezra lebih lanjut menulis, "Kau telah berjalan dengan langkahmu yang gagah hingga finish. Kau menyelesaikan jalan utopiamu dengan sempurna. Semoga kami yang ditinggalakn bisa dikuatkan untuk menyelesaikan perjalanan kami sambil melihat bekas-bekas tapakmu untuk kami belajar memiliki irama kami sendiri agar mampu menaklukkan Tarian Ombak kehidupan agar kami tidak hanyut, Oleng Kemoleng dan teralienasi seperti yang kau khawatirkan saat Temu I Sastrawan NTT 2013. Opa Gerson Poyk, selamat jalan. Kami sangat mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Tuhan menyempurnakanmu di surga. Maafkan atas segala khilaf dan salah kami padamu, opa tersayang. Amin."

Kehilangan juga dirasakan Maria Matildis Banda. "Bicara mengenai Gerson Poyk, saya terkenang Ben,  tokoh utama dalam Novel Sang Guru buah karyanya. Ben adalah guru yang sederhana dan bahagia dengan pekerjaanya, meskipun hanya tinggal di gudang sekolah. NTT patut bangga memiliki Gerson Poyk. NTT kehilangan sastrawan ternama di Indonesia. Mudah-mudahan sastrawan muda NTT mampu lahir sebagai 'Gerson' baru yang berkisah tentang berbagai konflik hidup di NTT. Selamat jalan Om Gerson. Semoga mimpi indah di surga," kata Matildis. (nia/osi)

Sumber: Pos Kupang 25 Februari 2017 hal 1

Gerson Poyk Ikut Berdiskusi Melahirkan Pos Kupang

Gerson Poyk
SIANG  hari, 15 Agustus 1974, aparatur pemerintah daerah (pemda)  dan warga Kota Atambua Kabupaten Belu begitu sibuk. Di tengah suhu udara yang terbilang cukup panas, orang lalu lalang membawa bendera dan umbul-umbul untuk memperindah Kota Atambua dalam rangka peringatan hari Proklamasi 17 Agustus.

HUT kemerdekaan RI  tahun 1974 itu menjadi spesifik karena perayaannya akan dihadiri tamu istimewa dari Timor Portugis (kini negara Timor Leste).
Dari Timor Portugis memang datang rombongan pemerintah bersama tim kesenian dan olahraga. Kehadiran mereka dalam rangka mempererat  hubungan persaudaraan antarbangsa, Indonesia dan Portugis, penguasa Timor Portugis.

Siang hari itu, kebetulan perut sudah keroncongan dalam perjalanan bersepeda motor dari Halilulik menuju Atapupu, saya singgah di sebuah restoran Chinese -lupa namanya-yang berlokasi di pertigaan jalan, dekat Kantor Bupati Belu.

Saya  kala itu sedang mencari bibit sapi Bali guna memenuhi pesanan Pemda Kabupaten Sika. Ketika memasuki restoran yang kebetulan lagi sepi, terlihat seorang pria berambut agak ikal, bercelana jeans biru sedang akrab ngobrol dengan pemilik restoran, kebetulan  seorang wanita cantik. Di atas meja, tergeletak sebuah kamera foto merk Olympus lengkap dengan telelens. Tentu saja terbilang mahal untuk ukuran saat itu.

Melihat kedatangan saya, sang pria yang semula hanya senyum-senyum, datang menemani saya sambil memperkenalkan diri. "Saya Gerson. Gerson Poyk." Dan, katanya kepada saya.. "kamu pasti orang Flores" dengan sangat yakin. Dia lalu berkisah tentang masa kecil saat Sekolah Rakyat di Ruteng, Manggarai, sama sekolah dengan Ben Mboi (Gubernur NTT 1978-1988).

Kalau main sepakbola, posisi  Ben Mboi kanan luar. Tapi Om Gerson tak cerita dia pada posisi mana. Dia juga cerita tentang mata air Lawir, di pinggiran Kota Ruteng yang di  kemudian hari jadi tempatnya mencari inspirasi menulis berbagai novel.
Cara menyapanya yang hangat segera mengakrabkan kami dan memulai ngobrol.

Saya menyapanya dengan Om Gerson karena jelas usianya jauh di atas saya. Dan, ketika saya meminta daftar menu makan siang sambil menawarkan untuk makan bersama, Om Gerson bilang. "Dari tadi saya memang menunggu rasa lapar. Pesan apa saja". Maka kami berdua melalap masing-masing dua porsi mie goreng babi dan Om Gerson meminta traktir minuman alkohol merk "Laurentina".  Aneh, orang ini menunggu lapar?

Dari ngobrol sana sini hampir tiga  jam, saya akhirnya tahu bahwa Om Gerson ini seorang jurnalis dan penulis yang ingin masuk ke wilayah Timor dengan sponsor Harian Kompas.

 Entah mengapa, Om Gerzon sebenarnya masih wartawan Harian Sinar Harapan, bahkan membidani kelahiran surat kabar milik Partai Kristen Indonesia (Parkindo) tahun 1973, perjalanannya ke Timor dibiayai Harian Kompas.  Saya tak bertanya lebih jauh. Tetapi saya akhirnya tahu, Om Gerson sedang kesukitan menemukan cara untuk memasuki wilayah Timor Portugis.

Ketika sedang asyik ngobrol dataang seorang pejabat Pemda Belu bergabung dengan kami sambil bercerita bahwa  sore itu  akan ada rombongan tamu dari Timor Portugis  ke Atambua, Om Gerson Poyk pun mengajak saya bersamanya menemui tamu, siapa pun dia.

Beruntung memang, malam itu sejumlah pejabat Pemerintah Timor Portugis datang ke restoran, tempat kami makan siang. Saya perhatikan, bagaimana Om Gerson begitu lincah mendekati para pejabat Timor Portugis dan segera saja menjadi akrab.  Saya hanya ingat, ucapan seorang pejabat Timor Portugis yang mengatakan.."Oooo jurnalista, jurnalista" sambil angguk-angguk kepala dan berkata "oke..oke".

Kemudian saya tahu, Om Gerson memang bertemu pejabat Timor Portugis yang punya kompetensi memberi izin masuk ke wilayah Timor Portugis. Bahkan menawarkan transportasi menggunakan truk, dua hari kemudian.

Saya tak tahu berapa lama Om Gerson berada di Timor Portugis. Tetapi dua bulan kemudian dia mencari saya di Kupang dan mengobrol macam-macam. Ternyata dari kunjungan "jurnalista" sejak pekan ketiga Agutus 1974, laporan jurnalistiknya menjadi acuan atau rujukan semua wartawaan Indonesia yang berbondong-bondong ke Atambua guna meliput perang Saudara Timor Portugis Juli 1975 yang berbias sampai pengungsian besar-besaran ke Timor Indonesia (NTT).

Karakteristik wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Portugis serta kehidupan masyarakat Timor Portugis yang dicari insan pers Indonesia, memang disajikan dengan lengkap dalam laporan jurnalistik Om Gerson Poyk.

Sesudah itu kami lama tak bersua. Sampai suatu malam saya bertemu Om Gerson di Hotel Sasando Kupang  bersama sejumlah wartawan Indonesia atas undangan Merpoati Nusantara Airlines dalam rangka penerbangan perdana ke Darwin, Australia. Jika wartawan Indonesia lain membawa kopor, Om Gerson cuma bawa sebuah kantong kresek berisi majalah Tempo yang dia wakili.

Beberapa tahun kemudian, wartawan Sinar Harapan, Aco Manafe (alm), mengungkap sisi kehidupan Om Gerson yang sangat tak peduli pada materi. Cerita Aco, yang kemudian dibenarkan sastrawan Julius Siyaranamual (alm), ketika bersiap- siap kembali Indonesia, setelah kuliah di Iowa University Amerika Serikat, Gerson Poyk  membuang semua barang miliknya lewat jendela hotel. Kata Om Gerson,  mengapa harus lelah mengurusi barang bawaan?

Esoknya Om Gerson naik pesawat kembali Indonesia, tanpa bagasi, tanpa kabin. Pihak airline rupanya mengenal siapa Om Gerson sehingga tak bertanya mengapa tak ada barang bawaan, berbeda dengan warga Indonesia lain yang bagasinya sampai berlebihan.

Ketika saya dan Valens Goa Doy  (alm)  sedang menyiapkan kelahiran Surat Kabar Harian  Pos Kupang medio 1992, Om Gerson ikut dalam diskusi empat  orang di rumah Pak Ben Mboi di komplek  perumahan Angkatan Darat, Jalan Gatot Subroto Jakarta. Om Gerson dan Ben Mboi, tentara dan politikus lebih banyak bernostalgia masa kecil mereka di Ruteng sambil menghabiskan beberapa botol wine.

Ketika Pos Kupang terbit akhir 1992, Om Gerson yang sempat jadi Redaktur Khusus Pos Kupang menulis artikel yang mengeritik perilaku pejabat birokrat. Itu PNS-PNS, tulis Gerson, kalau sudah jadi pejabat, kalau sudah dikasih baju safari, kebanyakan pasti berubah. Cara jalan, cara duduk, berbicara.. Berubah semua... Saya lupa judul artikel tersebut dan kapan muatnya.

Banyak kenangan tentang Om Gerson. Tapi satu hal yang tak terlupakan dan agak sulit dipahami. Orang ini, dengan segudang kekayaan intelektual, penulis, novelis yang menghasilkan begitu banyak karya dan tentu saja berkesempatan punya banyak uang, hidupnya boleh dikatakan pas-pasan saja.

Ketika saya dan Valens Goa Doy medio 1992 menjemputnya untuk menuju ke rumah Pak Ben Mboi, kami harus menyuruk-nyuruk di bawah pohon dan menghindari tanah rawa berlumpur mencari rumahnya yang sangat sederhana di bilangan pelosok Jakarta Timur, kurang lebih dua  jam menggunakan taksi. Selamat jalan Om Gerson Poyk, Om humanis.. (damyan godho)

Sumber: Pos Kupang 25 Februari 2017 hal 1

Gerson Poyk Mau Pulang Kupang Tanam Jagung

Gerson Poyk
DALAM kondisi sakit dan dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Hermina Depok, sastrawan terkemuka Gerson Poyk menyampaikan kenginannya pulang ke Kupang guna menanam jagung dan sayur di kebun sendiri. Keinginan ini  disampaikan berulangkali kepada anaknya Fanny Jonathans.

"Papa tidak ada pesan apa-apa. Namun Papa sering mengatakan keinginan dan mimpinya untuk bisa pulang ke Kupang untuk menanam jagung dan sayur. Katanya, dia mau menjadi petani jagung dan sayur di Kupang, membeli lahan untuk dijadikan kebun. Katanya, 'nanti saya mau tanam jagung dan sayur, Ihhh enak ya, makan pakai sayur pasti badan sehat'. Hal ini sering disampaikannya kepada kami. Bahkan saat awal masuk di rumah sakit, papa masih menyampaikan keinginan itu lagi meski dengan suara yang tidak lagi jelas," kata Fanny Jonathans Poyk kepada Pos Kupang melalui telepon dari Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Gerson Poyk meninggal dunia di RS Hermina Depok, Jumat (24/2/2017) sekira pukul 11.00 WIB. Menurut rencana, jenazah sastrawan kelahiran Pulau Rote,  16 Juni 1931 tersebut akan diberangkatkan ke Kupang, Sabtu (25//2/2017).

Fanny mengatakan, ayahnya menderita stroke ringan dan dua minggu lalu jatuh di kamar mandi lalu mereka membawanya ke RS Hermina Depok.  Saat dibawa ke rumah sakit, Gerson Poyk  masih bisa bicara meski kurang jelas. "Perawatan dilakukan bertahap, dalam perawatan itu tenggorokan papa penuh lendir, lalu dilakuan penyedotan. Lama-kelamaan Papa tidak bisa makan, kalau makan muntah, minum air juga muntah," kata Fanny.

Tiga hari lalu, demikian Fanny, ayahnya terkena serangan jantung sehingga dimasukkan ke ruang ICU. "Di ruang ICU hanya dua hari  lalu dipindahkan lagi ke ruang opname. Tadi pagi masih tidur nyenyak dan saat bangun HB-nya turun lalu transfusi darah dan diuap agar jangan sesak napas. Beberapa saat kemudian Papa angkat tangan. Sekitar jam sebelas Papa meninggal dunia," kata Fanny.

Fanny mengatakan, dua tahun lalu, ayahnya masih menulis novel berjudul Teroris No, Peace Yes. "Novelnya itu sudah selesai dibuat dan saya sedang  proses edit. Papa pesan untuk melihat catatan kakinya . Rencana  kalau sudah  selesai akan kami jual ke beberapa penerbit," kata Fanny.

 Fanny menambahkan, ayahnya juga sedang menulis novel yang isinya tentang bagaimana banga Indonesia menyikapi perbedaan agama. "Dalam novel itu dia menceritakan tentang kehidupan muridnya, Ismail Lutang yang kini Pemred Parahyangan, yang naik haji," kata Fanny.

Fanny mengenal ayahnya sebagai  sosok dermawan di tengah keterbatasan hidup. Gerson Poyk bahkan rela menjual barang dalam rumah untuk bantu orang yang kesusahan. Hal ini sering dikomplain istri dan anaknya. "Duitnya dia bagi-bagi orang yang susah. Padahal kami juga susah. Dia ketik cerpen dan honornya buat bantu orang, tivi hitam putih dikasih ke orang, sepeda juga dijual untuk bantu orang. Bahkan saat dia sakit di rumah sakit ada yang memberinya uang Rp 350.000, lalu ada pengunjung lain yang dilihatnya susah dia berikan Rp 50.000 untuk orang itu. Mama sering komplain. Bagaimana tidak komplain, kami hanya punya beras dua liter, Papa kasih ke orang. Itulah Papa saya, orang yang nyentrik," kata Fanny.

Fanny mengatakan, saat diomeli ayahnya selalu mengatakan, jangan pusing soal uang karena rejeki itu Tuhan yang atur. "Katanya, nanti Tuhan yang akan kasih uang. Uangnya dikasih ke orang dan dia telepon saya, katanya tolong kirim pulsa, kasih lima ribu saja. Kalau ingat hal-hal itu, saya sedih sekali sekaligus bangga karena bapak saya adalah kebanggan keluarga," kata Fanny. Fanny membenarkan ayahnya akan dimakamkan di Kupang. "Jika dapat tiket, besok (hari ini, Red)  kami akan membawa Papa ke Kupang. Di Kupang, jenazah akan disemayamkan di rumah keluarga Pak Richard Poyk di Kayu Putih," kata Fanny.

            Mendorong Orang Muda
Ketua Komunitas Teater Perempuan Biasa-Kupang, Lanny Koroh, Sastrawan Eric Dayo dan Penyair Kereta, Julia Utami mengatakan, meski telah berusia lanjut, Gerson terus berkarya di mana saja dia berada.  Menurut Lanny, semasa hidupnya Gerson Poyk  selalu mendorong siapa saja terutama orang muda untuk berkarya dalam bidang seni atau  bidang lainnya. "Opa Gerson mengingatkan kami para penyair, sastrawan agar terus menghasilkan karya dan  menulis tanpa mengharapkan uang. Karena karya seni itu indah," kata Lanny.

Lanny  sempat membuat gerakan solidaritas untuk menyumbang guna membantu biaya pengobatan dan perawatan Gerson. "Rencananya tanggal 4 dan 5 Maret 2017 kami mau bikin konser amal untuk membantu pengobatan Opa Gerson," katanya.
Julia Utami mengatakan, dalam kondisi yang kerap kurang sehat, Gerson masih memiliki impian yang ingin diteruskan generasi muda. Misalnya  membuat desa budaya. Di desa itu ada patung-patung sastrawan Indonesia, ada sawah yang ditanami para seniman, teater tempat pentas para seniman mengekspresikan imajinasi seni mereka, akses internet dengan jaringan yang baik sehingga para seniman bisa memamerkan karya mereka ke seluruh dunia

"Menurut Opa Gerson, dengan begitu tak ada lagi ekstrim kiri maupun kanan, yang ada adalah etis moral yang selalu membuat generasi muda Indonesia lebih kreatif dan cerdas. Kata Opa Gerson, filsafat kehidupan itu penting, dengan begitu generasi muda tahu bagaimana menata Indonesia dengan lebih baik, cerdas dan Eric Dayo mengaku menjadi murid Gerson Poyk sejak tahun 1970-an di Bali. Eric

"Dia orang luar biasa yang pernah saya temui. Guru yang luar biasa.  Opa Gerson tidak saja guru untuk menulis kehidupan, tapi juga guru yang mengajarkan tentang bagaimana memahami interaksi antar manusia, bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, sesama, dengan semesta dan dengan Tuhan," kata Eric.

Eric mengatakan, kendati usianya yang sudah uzur, Gerson tetap menulis dan Eric sangat terkesan ketika Gerson menjadikannya subyek dalam salah satu karyanya.  "Gerson menulis 'Di Bawah Matahari Bali' yang mengisahkan tentang pengembaraan saya di Bali. Guru yang hebat," kata Eric yang terakhir kali bertemu Gerson tiga minggu lalu di Jakarta. (vel)

Sumber: Pos Kupang 25 Februari 2017 hal 1

Nostalgia Flobamora (4)

Gerson Poyk
Oleh Gerson Poyk

Ketika aku mengunjungi Rote di tahun 1997, lokasi sekolah itu sudah jadi kebun. Dulu di seberang Jalan Raya Sirtu, ada rumah Guru Pah, famili ibu, maestro senandu biola. Ana perempuannya yang paling tua menikah dengan abang tertuaku Benyamin. Adiknya Eduard Pah seorang guru, juga maestro sesandu biola. Ia mendapat Anugerah Seni dari pemerintah RepublikIndonesia dan profil tentang seniman ini dimuat di New York Times.

 Satu-satunya seniman musik Rote yang mendapat publisitas internasional lewat New York Times. Jarang juga senimanIndonesia dipublikasi lewat sebuah artikel yang dimuat di koran internasional itu. Dulu, yang disebut Tudameda hanyalah tiga bangunan yaitu rumah pamanku Guru Pah dan di seberangnya Sekolah Rakyat tiga tahun. Tidak jauh dari situ, di tepi jalan berpasir dan kerikil ada sebuah rumah pendeta yang dipagari batu dan didepannya ada sebuah kolam yang terjadi ketika batu dan pasir diambil untuk membuat jalan raya. Beberapa langkah dari sekolah ada sebuah jembatan kecil di atas sungai yang airnya datang dari Danau Tua. Selebihnyapadang savana yang menderu dan berdesing ketika angin datang dari gurunAustralia dan Samudra Hindia.

 Ibu, tampaknya tidak mau memberatkan saudara-saudaranya. Pada suatu malam yang gelap ibu membawa kami mengunjungi salah satu famili di Lalukoen, sebuah kampung yang lebih banyak rumahnya. Waktu akan pulang di malam hari dengan obor dari daun lontar, aku disuruh tinggal di rumah itu. Melihat rumah adat (rumah panggung) yang gelap di malam hari, hanya diterangi pelita yang terbuat dari biji kesambi yang ditumbuk yang dicampur dengan kapas atau kapuk lalu dililitkan ke lidi. Itulah pelita di malam hari. Sebagai anakkota yang terbiasa dengan lampu, aku merasa suasana di rumah adat famili ibu sangat mencekam. Barangkali famili ibuku senang sekali karena ibu menyerahkan aku kepadanya. Aku segera digendong oleh seorang Te’o (tante). Dengan cepat aku meronta-ronta, menangis sejadi-jadinya karena tak mau tinggal di rumah adat itu. Aneh. Padahal di rumah Papa To’o dan Mam To’o, rumah di mana ibuku dilahirkan oleh nenekku Maria Messakh yang setiap hari kami sapa dengan istilah Mama Be’a juga gelap.


Hari pertama kami datang dari Flores dan memasuki rumah itu, ibu menunjuk ke kolong rumah dan mengatakan, “Itu, kuburan Mama Be’a.” Aku ngeri juga kalau tidur malam-malam di bawah atap emperan lebar, di atas sebuah balai-balai induk (dalam bahasa Rote disebut langga inak) yang lebar dan panjang. Ngeri kalau bangun di tengah malam, memandang langsung ke kuburan nenekku tetapi karena mengantuk, aku tidur kembali. Lama-lama aku terbiasa dengan tidur bersama kuburan nenek. Soalnya aku tidur bersama abang.


Biasanya, setiap malam anggota keluarga lelaki tidur di bale-bale induk yang membentang di kiri dan kanan rumah. Papannya lebar sekali, terbuat dari pohon utuh yang tebalnya sekitar tiga sentimeter. Karena umurnya sudah tua dan ditiduri oleh beberapa generasi maka tampaknya licin dan mengkilat. Anggota keluarga perempuan, tidur di atas di rumah panggung yang dipenuhi oleh bakul-bakul besar dan kecil yang terbuat dari anyaman daun lontar, biasanya berisi padi tiga lapis panen. Juga makanan lain seperti gula batu, kacang ijo, jelai, jewawut bijan, dan sebagainya.


Sampai sekarang, aku berpikir, mungkin usiaku sudah mencapai usia sekolah sehingga ibu mau menitipkan aku di rumah famili yang dekat dengan sekolah, sekaligus meringankan beban saudara-saudaranya yang telah menampung kakak perempuanku, kakak lelakiku dan adik perempuanku serta ibuku sendiri. Soalnya paman dan saudara ibu hanya hidup dari kebun dan sawah serta sejumlah pohon lontar dan binatang ternak. Biasanya mereka minum gula dan sayuran serta ikan serta daging sekadarnya, tidak biasa masak nasi setiap hari seperti orangkota . Setiap hari aku harus makan nasi, sayur, daging burung dan sebagainya. Aku tidak seperti kakak-kakakku dan ibuku. Barangkali karena itu.


Sesungguhnya aku tak tahu pasti motif ibu ketika suatu malam, ibu membawaku ke rumah pendeta Hidalilo, pendeta yang berasal dari Pulau Sabu yang tinggal di Tudameda di rumah yang di depannya ada kolam berair kuning. Malam itu, lampu petromak terang benderang. Ibu membawa aku ke belakang dan aku bergabung dengan anak-anak pendeta. Aku senang sekali bermain dengan anak-anak itu di bawah benderang lampu tekan sehingga ketika ditanya apakah aku mau tinggal di rumah itu, aku mengangguk setuju. Malam itu aku mendapat sebuah tempat tidur box. Keempat sisinya berpagar sehingga kalau mau tidur aku harus memanjat pagar itu. Box itu berkelambu. Aku tertidur pulas karena terlalu lelah bermain sesiang suntuk. Di tengah malam, aku dibangunkan oleh keharusan untuk kencing. Aku menangis karena kantong air seniku terlalu penuh. Ibu Pendeta yang sekamar dengan kami terbangun sedangkan Bapak Pendeta tetap ngorok. Begitu pula anak-anak di ranjang yang besar. Semuanya berada di satu kamar. Ibu Pendeta bertanya, ”Kenapa, Be’a?” sambil merintih aku berkata, ”Mau kencing, Tante.” Lalu Ibu Pendeta menyuruh kencing di pojok kamar. Tampaknya dinding kamar itu tidak sampai ke lantai tanah.Ada celah di mana angin bisa keluar masuk.


Malam itu seingatku; ibu tidak membawa tas pakaian. Ibu melepaskan aku dengan pakaian di badan. Seingatku tidak ada acara makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Aku masih ingat pada suatu malam Ibu Pendeta membagi-bagikan biskuit. Juga masih segar dalam ingatan Ibu Pendeta membawa kami untuk mandi di sungai. Aku masih ingat pula pada suatu malam, ketika Mama Nyora Hidalilo (istri pendeta dan guru dipanggil nyora) membagi-bagi nasi dan lauk, kepada tiap anak ia bertanya mau tambah atau tidak. Anak-anak pendeta mengatakan tidak sedangkan aku mau tambah. Aku lihat nasiku hanya setengah dari nasi anak-anak yang tak mau tambah. Kami hanya makan sekali, makan malam. Tampaknya gaji pendeta itu kecil sedangkan kami hampir sepuluh orang di rumah itu.


Biasanya bila seorang anak angkatnya yang duduk di kelas tiga bernama Karaba mengupas kelapa, aku duduk di depannya dan memungut daging kelapa yang terkikis parang. Enaknya bukan main! Kemudian aku ke kebun jewawut, jelai dan jagungnya yang baru dipanen.Ada melon-melon, kecil yang sudah matang di celah daunan jagung dan jelai yang sudah kering. Buah kacang turis muda pun sedang bergantungan di pohon. Aku sering berpesta melon liar yang kecil dan kacang turis muda.


Aku ingat, sekali ketika berlangsung kebaktian hari Minggu yang dilakukan di sekolah desa tiga tahun yang bentuknya seperti kandang kambing itu, serombongan gadis-gadis kelompok koor, memakai kebaya putih dan sarung hitam dan mantan Raja Ti, (ayah abangku Min Besar dan kakak perempuanku Mariana) duduk sendirian di sebuah kursi di dekat mimbar dan mendongakkan kepalanya memandang pendeta yang sedang berkhotbah.

Waktu itu tidak ada liturgi berdiri segala. Sepanjang kebaktian, umat duduk terus dan aku menguap terus.


Karaba adalah tokoh unik dalam kenangan masa kecilku. Walaupun aku duduk jongkok di depannya sambil memungut dan mengunyah tempiasan kikisan daging kelapa dari parangnya, ia tidak pernah memarahiku. Padahal ia seorang pemarah. Aku pernah melihat ia marah ketika menghidupkan api dengan ranting-ranting kayu. Dikipas-kipasnya api itu tetapi tidak juga menyala. Tidak lama kemudian ia mengamuk kepada api dan ranting-ranting itu. Dengan tangan kanannya ia mengobrak-abrik api dengan ranting-rantingnya segala sehingga api ‘ketakutan’ dan mengecil. Kemudian dia menata kembali. Api ‘ketakutan’ lagi lalu menyala (sic!). Amarah yang sangat meluap kepadaku adalah pada suatu hari ketika aku bermain-main sendiri di halaman sekolah. Biasanya anak kelas satu pulang lebih dulu.


Tinggal anak kelas dua dan tiga. Mungkin karena kekurangan guru. Aku bermain sendiri, berputar-putar keliling sekolah sambil nguping apa yang diajarkan guru kepada kelas yang lebih tinggi. Tiba-tiba aku jadi usil. Aku menunduk memungut sebuah lidi dan menusuk-nusukkan ke dalam lewat celah dinding bebak (pelepah gewang). Tiba-tiba terasa pantat anak yang duduk paling belakang tertusuk. Aku rasakan itu. Tiba-tiba anak yang tertusuk itu muncul di pojok luar sekolah dan yang muncul itu adalah Karaba! Aku melompat lari langkah seribu dan ia memungut batu, melempari aku. Sambil tertawa terkekeh-kekeh aku melompat menghindari batu yang mengejarku. Entah siapa yang menyuruh aku usil begitu, membuat aku begitu ‘kreatif’ menciptakan suasana kekanakan yang menyenangkan.Ke mana pun aku mengembara di kota-kota dunia, aku selalu ingat kolamku, kolam kemarau kuning di pinggir Jalan Raya Pasir Batu (Sirtu) itu.


Tiba-tiba aku sibuk membuat perahu kecil sekaligus layarnya. Angin dari gurun Australia menyapu laut dan mendesingkan sabana. Asyik sekali melihat layar perahuku di tiup angin dan melaju kencang dari tepi yang satu ke tepi yang lain dari kolam itu. Rasanya aku telah menjadi insinyur perkapalan yang memperhitungkan dengan tepat ketika membuat perahu itu, sekaligus layarnya yang berbentuk segi tiga dengan tali temalinya. Setelah puas bermain dengan perahuku, aku membuka pakaianku, sebuah baju monyet lalu menceburkan diri ke kolam kemarau kuning itu.


Suatu hari ketika pulang berenang dan bermain-main dengan perahuku aku jongkok lagi di depan Karaba yang sedang mengupas kelapa tua. Seperti biasa, ia tidak marah padaku. Perbuatan menusuk pantatnya telah dilupakannya. Ia membiarkan aku memungut-mungut kikisan kelapa yang terlempar di tanah lalu memasukkan ke mulutku. Ia hanya menggerutu menyalahkan seorang temannya, juga anak angkat pendeta yang diboyong dari Sabu. ”Bapa Pendeta sudah mengutuk siNara karena ia menulis-nulisi Kitab Suci,” kata Karaba.

Sejak itu aku takut sekali dikutuk oleh Bapa Pendeta, terutama takut dimarahi Tuhan kalau salah memegang atau menyia-nyiakan Kitab Suci. Sampai aku bersekolah di Sekolah Standar, kalau aku melihat lembaran Kitab Suci yang tersobek dan terbuang, aku memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Aku selalu mengingat anak itu. Si Karaba itu. Bahkan nama anak-anak pendeta sudah kulupakan, padahal pernah bertemu di So’e ketika aku duduk di Sekolah Guru Bawah (SGB) (dulu Normalschool) dan dia belajar di Sekolah Teologia. Ketika aku duduk di Sekolah Standar di ruteng aku dengar Karaba masuk Heiho, kemudian ketika perang dunia usai aku bertemu dia di jalan di Kupang. Badannya tambah hitam dan kurus, tinggi. Aku menegurnya dan dia membalas teguranku sambil berjalan terapung-apung, lurus, dagu terangkat. Aku memandang punggungnya ketika ia menjauh, sambil menarik napas dan desah nostalgia.

Tiba-tiba, pada suatu hari ketika aku berjalan menunduk menuju kolam kemarau kuning kesayanganku, ada sesosok tubuh di depanku. ”Papa!” seruku bahagia. Aku disuruh berdiri menunggu di jalan dan ayahku masuk ke dalam untuk memberitahukan bahwa aku diambil kembali. Tidak lama kemudian ayah keluar dan kami berjalan meninggalkan rumah pendeta itu tanpa tas pakaian, kecuali baju monyet di badan. Walaupun aku sendiri tidak bertemu dengan pendeta dan istrinya untuk mengucapkan terima kasih, walaupun tidak ada acara perpisahan, aku masih ingat jasa keluarga pendeta itu memberi tumpangan, tempat tidur dan makanan untuk beberapa lamanya. Kepada orang-orang yang ditemuinya di Oekahendak, ayah menceritakan kesedihannya melihat anaknya yang sudah hitam tak terurus dan pakaiannya yang cuma satu melekat di badan, tidak pernah dicuci.

Di Oekahendak, kepada ibu, ayah menceritakan bagaimana dia mendapat ongkos untuk membeli tiket kapal. Ia menjual pondoknya di Endeh dan barang-barang lain seperti piring mangkuk, setrika dan sebagainya. Rupanya usaha ayah sebagai pengacara amatiran di Endeh macet. Untung, naluri kebapakannya menggerakkan dia mencari anak-anaknya yang terombang ambing di bawah kepak ibu yang kurang berdaya. Pengalaman seorang anak sepertiku sangat menyedihkan, mengharukan dan semuanya menjadi sumber kepekaan, sumber inspirasi ketika aku menjadi dewasa. Tidak dapat disangkal pengalaman menjadi bahanbaku untuk kesusasteraanku, untuk karya-karyaku, baik berupa prosa maupun puisi dan lain-lain. Aku memasuki kesusasteraanIndonesia melalui puisi. Sajak-sajak pertamaku dimuat di koran dan majalah Surabaya kemudian Mimbar Indonesia, Jakarta yang ditulis tahun 1955 ketika aku duduk di bangku Sekolah Guru Atas Kristen di Jalan Pringadi, Bubutan, Surabaya, dan ketika mengikuti International Writing Program, sebuah program creative writing di bawah bimbingan Prof. Paul Engle, Ph.D (penyair) di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat.



Gambar Keluarga



begini kuda tunggang dan dadaku diterik tangis padang/

lewat jalan liku menuju rumah lalang berpagar batu bila dulu aku datang aku tak tahu ciumanmu tengik tersaar/

bibirmu yang hambar memperdengarkan tambur gembala/

pandanganmu mengharu usia dewasa sejak itu mengobar/

dalam mataku bundar segar seorang anak yang belum sadar kau tinggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning/

tak sampai sesiang yang indah berenang riang/

dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap airnya makin kering mengabur ke bibir nasib kemarau/

aku pulang ke rumah lalang berpagar bagu, lingkar kasih yang buntu/

nyenyak malam membenam dalam lapar dalam lupa masa kanak kelakar, dan sindiran yang menyembur senja kemarau kuning/

sebagai tuntutan atas budi yang tumbuh menjadi hutan/

belum terbayar oleh anak yang lapar mengejar belalang/

hingga sekali kelak aku berdiri di atas nyanyian hidup yang manis kau datang kembali dengan bawaan beserba/

untung aku belum lesu terpenggal oleh dosa dan hilang sesal



Sajak ini kutulis ketika pengalaman masa kecil sudah mengendap jauh dalam jiwaku. Masa kecilku telah berubah menjadi puisi. Masa kecilku adalah kuda tunggang, tambur gembala, jalan setapak yang berliku, rumah lalang (dan daun lontar) berpagar batu. Akan tetapi terasa oleh si kecil itu (si aku puitis itu) bahwa pandangan yang mengharukan dia di masa dewasa nanti telah bertumbuh, telah mengobar dalam mata seorang anak kecil yang belum sadar akan segi-segi hambar dalam kehidupannya.

Ayahku (kau) telah meninggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning, hanya sebentar berenang riang dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap. Air di kolam tempat aku bermain makin kering, mengabur ke bibir nasib kemarau lalu aku pun pulang ke rumah lalang berpagar batu, lingkar kasih yang buntu, lalu tidur dalam lapar dalam lupa masa kanak. Bagaimana pun, kehidupan ini penuh dengan kelakar dan sindiran dan ini merupakan hutang budi yang belum bisa dibayar oleh seorang anak kecil yang lapar mengejar belalang. Kelak semuanya akan terbayar bila telah sampai pada nyanyian hidup yang manis. Ayahku datang dengan bawaan beserba. Beruntunglah, aku belum terkapar…

Begitulah tafsiran atar sajak yang ditulis sekitar tiga puluhlima tahun yang lalu. Di tahun 1997, aku pernah ke Rote dan mencari kolam kemarau kuning itu. Rumah lalang berpagar batu pun kudatangi. Hanya pagar batunya yang masih tersisa. Batu datar di pintu itu membari bayangan adikku perempuan yang bermain mengupas biji kesambi untuk dijadikan pelita. Adikku sangat berbakat matematika. Otak kirinya bagus. Ia pintar berhitung. Aku masih ingat ia mengatur biji-biji kesambi itu menurut kelompok-kelompok yang belum dikupas, isi yang telah dikupas dan kulit biji. Semuanya ditumpuk rapi. Ia sudah bisa berpikir kategoris.

Memang dalam keluarga ibuku ada bakat-bakat matematika dan musik. Saudara misanku Jusuf Manu seorang guru yang cerdas. Dialah yang sering mengirimwesel kepada Adrianus Mooy karena ibu Jusuf adalah mama kecil Adri (adik perempuan ayah Adri). Seperti sudah aku katakan, Eduard Pah, mendapat Anugrah Seni dari Pemerintah RepublikIndonesia untuk musik. Ayahnya seorang guru, mungkin lebih hebat lagi bila bermain sesandu (Dulu ejaannya sesandu tetapi di perantauan aku mendengar lidah Jawa menyebutnya Sasando). Daniel Pah, di masa kecilnya loncat kelas melulu. Sayang ia tak sempat kuliah untuk menjadi professor padahal matematikanya bagus, bahasa Inggrisnya dan ilmu-ilmu lainnya juga bagus. Setiap ujian ia pasti nomor satu. Aku bangga sekali padanya. Karena tak mampu kuliah maka ia hanya bisa menjadi guru dan kepala Sekolah Guru Atas Negeri sampai pensiunannya. Ketika di tahun 1997 aku mengunjungi Rote, banyak dari keluarga Manu yang putus sekolah. Oekahendak pun telah menjadi hutan. Kuburan keluarga pada hilang ditelan pohon gewang dan sebagainya. Saudara perempuan ayah Adrianus Mooy yang kawin dengan pamanku misalnya, kuburannya telah tercampur dengan kuburan yang lain yang tidak dikenal oleh generasi berikut. Yang masih utuh hanya kuburan nenekku, Maria Messakh karena berada dalam lingkaran pagar batu yang belum lenyap semuanya.

Akan tetapi kenangan masa kecil tentang rumah itu masih segar dalam diriku. Kenangan fotografis masih jelas. Daun yang mengatapi rumah itu, balai-balai kayu, tangga kayu dan tiang-tiangnya masih jelas. Bahkan pohon kom yang dalam bahasa Rote disebut kole masih tergambar dalam kenangan fotografisku itu. Rumah paman (Papa To’o) itu disebut Kole Dale karena pohon kole (kom) yang berduri dan berbuah kecil seperti kelereng yang asam-asam manis itu menjadi petunjuk rumah keluarga ibu dalam cerpen-cerpenku, dalam novel-novelku, terutama novel Meredam Dendam.

Ayah membawa aku kembali ke rumah itu. Aku ingat, Papa To’o membuat pesta menyambut ayahku. Ia mengambil senapan tumbuk (sundut) dan menembak seekor babi besar. Yang menarik adalah bola yang terbuat dari kantong air seni binatang ternak itu. Sambil memegang bongkah daging dan mengunyahnya, aku bermain bola.

Tiba-tiba kami bersiap untuk pindah ke Ba’a. Aku ingat kami berjalan kaki telanjang sepanjang 25 km dengan beberapa wanita yang aku sudah lupa nama mereka. Tiba di Ba’a kami menumpang di sebuah rumah dekat jembatan Lelete Langgak, di pinggir jalan, di kaki bukit yang gundul. Di rumah itu, kakekku datang dari E’ahun, ibukota Kerajaan Ringgou. Kakakku Dina (Susi Di’a) adalah anak kesayangan kakekku Laurens Poyk. Di waktu aku masih bayi, terjadi zaman meleset (malaise) sehingga ayah diberhentikan sebagai mantri. Ia memboyong kami (ibu, Susi Di’a dan aku) ke Ringgou. Kakakku, Susi Di’a (Kak Dina) masih ingat, kalau ada pesta kakek selalu membawanya ke pesta itu dan disana daging berlimpah. Kakakku kenyang oleh pesta yang penuh dengan gading itu. Bertemu lagi dengan kakek di Ba’a Kakak Dina menggosok bintangnya dengan asam jawa sehingga mengkilat lalu digantungkan ke dadanya (jas tutupnya). Sebelum keluar menuju kantor kontrolir (bupati Belanda), adikku Mathilda (Nona) melompat lalu menusuk pipinya yang cekung karena ompong, sebelum kakek melangkah keluar.

Menurut cerita Susi Di’a (Kak Dina) ia diminta oleh kemenakan ibu, Jusuf Manu, seorang guru, untuk tinggal dengan mereka. Kak Dina punya pengalaman pahit di rumah sepupunya itu hanya karena ia kurang awas menjaga seorang adik (putra Bang Jusuf) sehingga jatuh ke dalam sumur. Ia dimarahi habis-habisan. Sampai hari tuanya ia masih ingat akan nasib ketakutan melihat seorang anak jatuh ke sumur menerima amarah besar abang misannya Jusuf Manu.

Ayah tidak punya pekerjaan tetapi ibu masih bisa masak kemudian memanggil aku keras-keras untuk makan nasi dan dendeng. Pada suatu hari kami pindah ke sebuah rumah di punggung bukit dan ayah meninggalkan kami. Ia berangkat ke Ringgou tanpa meninggalkan uang sepeser pun. Lalu Ibu mengajak kami berjalan, mendaki pundak bukit dan turun ke panatai pasir putih yang melengkung indah. Ketika itu air sedasng surut jauh sekali. Agak ke tengah, kelihatan beberapa orang sedang sibuk makan meting., berarti turun ke kawasan yang airnya surut itu untuk memungut makanan laut seperti kerang, gurita, ikan, kepiting dan sayur laut yang disebut latu dan sebagainya. Persis di pantai, pasirnya memang putih bersih tetapi lebih ke tengah banyak sekali batu kerangnya yang berselang-seling dengan pasir putih tetapi orang harus berhati-hati melangkah karena ada juga duri laut.

Ketika aku berjalan di pasir pantai aku bertemu bersitan kerang-kerang kecil. Tinggal mengoreknya dari pasir lalu mengupasnya dan mengunyahnya mentah-mentah. Tampaknya sebidang pasir pantai itu lumbung kerang. Aku makan sekenyang-kenyangnya seperti manusia purba yang masih dalam peradaban pungut biji-bijian dan kerang-kerangan dan yang masih tinggal di gua-gua.

Hari itu kami membawa beberapa keranjang kerang, sayur laut (agar-agar) dan sebagainya. Kerangnya cukup besar.Ada agar-agar yang harus direbus dulu dan ada yang enak dimakan mentah-mentah. Setelah kerang direbus bersama agar-agar, kami makan sekenyang-kenyangnya sambil minum air gula. Itulah cara makan orang Rote. Malam itu aku tidur. Bangun pagi-pagi leherku kaku, agak pegal kalau dimiringkan. Orang mengatakan aku salah tidur, padahal itulah rematik, kebanyakan asam urat yang datang dari makanan laut. Ibuku memang punya bakat rematik.

Tiba-tiba ayah pulang dari Ringgou membawa seekor kerbau besar.Ada yang menemaninya tetapi aku lupa namanya. Kerbau itu segera dibawa ke rumah potong dan dengan demikian daging berkelimpahan. Uang pun banyak setelah daging terjual. Kami makan enak tiap hari. Beras baru, lauk daging yang dimasak dengan bumbu beserba. Ibuku memang pintar memasak karena ia pernah tinggal di rumah Pendeta Belanda, Pendeta (domine) de Vries di masa gadisnya.

Seusai menjual daging kerbau itu ayah membangun sebuah gubuk di pinggir jalan dekat dengan gereja di Menggelama. Gubuk itu demikian kecilnya, demikian daruratnya. Yang penting tidak numpang-numpang. Atap dan dindingnya dari daun kelapa. Tempat duduk dari batu ceper. Sudah itu, pada suatu hari ayah membawa cangkul ke sebidang tanah di pinggir kali lalu membuat bedeng-bedeng untuk ditanami sayur sawi. Dia mengajak kami memungut tinja sapi dan kerbau yang sudah kering dan ditaruh di atas bedeng yang dibuatnya kemudian dibakarnya. Setelah disiram, ayah menebarkan bibit sawi lalu setiap sore ayah menyiramnya. Setelah selesai ayah mengajak kami mandi di sungai. Setiap hari aku berkeliling semak belukar danpadang rumput yang telah mengering di bukit untuk mencari tinja sapi dan kerbau yang sudah kering dan membawanya ke bedeng-bedeng sayur itu. Sambil mencari tinja sapi dan kerbau itu, aku mengambil pelepah kelapa dan lontar, lalu bermain meluncur (berselancar) dari pundak bukit ke bawah. Alangkah bahagianya.

Di samping menanam sawi, ayah sibuk menulissurat lamaran kerja. Nanah putih pohon kekak dijadikan lem surat.

Aku jadi murid kelas satu dengan gurunya yang bernama Tuan Sereh, seorang lelaki berkaca mata. Dia perintahkan murid-murid untuk membuat lidi yang diikat gabung.Ada sepuluh lidi satu gabungan, adalima lidi. Ikatannya harus rapi dan ukurannya pun harus sama. Karena baru pindah dari Tudameda, aku tak mendengar perintah Tuan Sereh itu. Dengan kepanikan aku meminta-minta dari beberapa teman sehingga ukurannya berbeda. Dia mengomando. ”Anak-anak, atur semua lidi di atas meja!” Lalu ia memeriksa semua meja apakah lidinya rata, rapi atau tidak. Aku melihat lidiku panjang pendek, tinggi rendah. Kemduian aku mera takan yang paling atas dan di bawahnya aku tutup dengan mistar lalu kutekan. Ujung atasnya rata sekali. Beres, pikirku. Memang waktu ia memeriksa lidiku, ia memujiku. Bagus. Rata. Lalu dia memerintah. Angkah sepuluh lidi. Sepuluh lidi ditambahlima lidi, berapa? Aku menjawab. Bagus. Taruh kembali lidinya. Wah, lidinya panjang pendek. Ia mencubit pipiku tetapi tak bisa karena daging pipiku kumasukkan ke dalam. Tiba-tiba ia menempeleng aku. Plak. Itulah yang aku ingat ketika duduk di kelas satu. Sekali aku ditunjuk untuk berdiri di kelas lalu disuruh bercerita. Aku maju, berdiri lalu berceloteh entah tentang apa…

Tiba-tiba ayah berlayar ke Kupang untuk mencari pekerjaan. Kami ditinggalkan, mungkin dengan uang hasil jualan daging kerbau yang diberikan kakek (Papa Be’a) di Ringgou. Waktu itu bulan Desember. Aku ingat betul karena pernah merayakan Natal ketika ayah tiada. Hadiah Natalku hanya sebuah buku tulis tipis karena setoranku juga kecil.

Aku rindu pada ayah. Rasanya setengah tahun atau lebih kami bersama ayah di Ba’a. Bulan Agustus lalu ayah membawaku ke pasar malam. Ia melemparkan beberapa sen ke tikar dadu dan tiba-tiba dia menang. Setelah diraupnya uang kemenangannya ia meninggalkan tempat itu. Setan judi tentu jengkel, gondok, ketika aku mengunyah roti segar yang dibeli ayah. Cara ayah mempermainkan setan judi selalu kutiru.

Oh, aku hampir lupa. Sebelum bersekolah ayah mengajak aku berjalan kaki ke kampung kelahiran ayah, Ringgou. Jaraknya 40 km. Jadi pulang balik 80 km. Jalan kaki dari Ti berjarak 25 km itu sudah bisa kulakukan. Bahkan adikku juga sudah begitu kuat berjalan kaki dari dusun ibu, Oekahendak ke Ba’a. Kami start dari Ba’a pagi hari. Mula-mula ayah membeli kue cucur di pasar Ba’a. Aku mengunyah-ngunyah kue itu sambil berjalan mengikuti ayah. Sudah banyak yang tak kuingat mengenai yang kulihat sepanjang perjalanan. Aku Cuma ingat bahwa sampai di Korbafo, aku lihat ada kolam dan mata air tempat orang mengambil air dan mandi. Kemudian berjalan terus, berjalan dan berjalan dan akhirnya sampailah kami di E’ahun. Menyeberang sebuah sungai kecil di depan rumah raja, sampailah kami ke rumah kakek yang berada di sebuah tempat bernama Roki.

 Kesan pertama dari rumah panggung itu adalah bau ikan kering. Di mana-mana tergantung ikan kering yang lebar-lebar. Aku segera membayangkan bahwa kakek beserta saudara-saudara ayahku makan ikan setiap hari. Rumah kakekku hampir sama dengan rumah keluarga ibuku di Oekahendak. Di Roki ada abang ayahku yang kami panggil Papa Ogus. Nama lengkapnya August Poyk. Istrinya dari keluarga (fam) Tokoh. Berikut adik ayahku, Papa Ose (Hosea Poyk) dan ada satu yang baru gede bernama Abraham (Papa Bang).

Semua mereka pada waktu itu petani yang hidup dari mamar (kebun kelapa, nangka, mangga, pisang, pinang dan sebagainya), bersawah, berkebun dan beternak. Papa Ogus, yang tertua yang mengelola semua pusaka keluarga Poyk. Setelah perang dunia usai Papa Ose menjadi guru di Oekabiti (Timor). Bersama istrinya dari marga (fam) Funai, Papa Ose memiliki dua hektar lebih sawah irigasi. Ketika keduanya pindah ke tempat kerja baru sawah dua hektar lebih itu dititipkan kepada seorang kerabat dari Ringgou. Setelah Papa Ose meninggal, kerabat dari Ringgou itu, bersama dengan kepala desa membuat sertifikat atas nama kerabat dasri Ringgou itu. Ahli waris Papa Ose (anak-anaknya) gigit jari, walaupun orang tua-tua pemimpin informal di desa itu mengetahui betul bahwa sawah itu milik guru Hosea. Anak-anaknya adalah saksi hidup yang ikut bekerja menyiang dan memanen. Aku hanya berkata, ikhlaskan (lupakan) saja tetai kalau orang (kerabat) Ringgou itu ingin menjual sawah itu kita beli saja. [bersambung]

Sumber: Matheos Viktor Messakh

Semua tentang GERSON POYK di SINI
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes