Cake dan Kue Kering Iwi

KALAU Anda sempat mampir di lokasi pameran pangan lokal di area parkir Flobamora Mall-Kupang, 10 - 12 September 2009, Anda pasti melihat onggokan ubi berukuran raksasa di pintu masuk anjungan Kabupaten Sumba Timur. Warnanya agak hitam dan berambut dengan tekstur tidak rata.

Ubi itu oleh orang Sumba Timur disebut Gadung atau Iwi. Di masa lalu Iwi identik dengan kelaparan. Ketika orang Sumba Timur makan Iwi, berarti mereka sudah tidak punya persediaan makanan lagi.

Sempat terjadi kontroversi mengenai anggapan itu. Terutama Pemda Sumba Timur berhadapan pemberitaan media yang melihat Iwi sebagai tanda kelaparan. Menurut Pemda Sumba Timur, mengonsumsi Iwi tidak berarti lapar. Iwi sudah menjadi makanan masyarakat setempat sejak dulu, meskipun mereka masih memiliki persediaan pangan seperti padi dan jagung.

Untuk mengangkat derajat sekaligus menepis anggapan rendah terhadap Iwi, Pemda dan masyarakat Sumba Timur kini mengolah Iwi menjadi sederajat dengan bahan makanan modern.

Di anjungan Kabupaten Sumba Timur itu, Ir. Hartini H. A (Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Badan Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur) berapi-api mempromosikan berbagai jenis makanan lokal Sumba Timur, termasuk Iwi yang menyedot perhatian pengunjung.


Menurut Hartini, Iwi itu aslinya beracun. Tetapi ketika diolah dengan baik, dia menjadi bahan makanan yang berkualitas. Sekadar gambaran, dia membandingkan kandungan gizi Iwi dengan bahan pangan lokal lainnya. Iwi kukus mengandung 6,8 protein, kurang sedikit dari tepung beras yang mengandung 7,0 protein. Dari segi kandungan karbohidrat, Iwi jauh lebih rendah (20,9) dibanding tepung beras (80,0) atau tepung jagung 73,7 atau tepung terigu 77,3. Iwi memiliki kandungan Kalsium lebih besar 26,0 daripada tepung beras 5,0 atau tepung jagung 10,0.

Bagaimana mengolah Iwi agar layak dikonsumsi? Umbi Iwi diiris-iris lalu direndam berhari-hari dalam air. Setelah diperkirakan tidak beracun lagi, irisan-irisan Iwi itu dijemur sampai kering lalu diolah menjadi tepung. Tepung itulah kemudian yang diolah menjadi berbagai jenis kue.

Masyarakat Sumba Timur sudah mengolah tepung Iwi menjadi Cake Zebra Iwi dan Kue Kering Iwi.

Untuk membuat Cake Zebra Iwi, diperlukan tepung Iwi 200 gram, mentega 250 gram, gula 150 gram, telur kuning 6 dan telur putih 2, vanili setengah sendok teh, bumbu spekuk setengah sendok teh, ovalet/TBM satu sendok teh, dan coklat
bubuk dua sendok makan.

Cara membuatnya: kocok mentega dengan gula dan ovalet/TBM sampai putih lalu masukkan telur satu persatu. Selanjutnya, kocok sampai adonan naik, tambahkan tepung Iwi sedikit demi sedikit sampai habis, tambahkan vanili dan bumbu spekuk. Lalu, bagi adonan menjadi dua bagian, bagian yang lain diberi coklat bubuk. Siapkan loyang bulat dengan diameter 22 cm, olesi dengan mentega. Masukkan adonan silih berganti sampai adonan habis lalu masukkan ke dalam oven yang sudah dipanasi lebih dulu (120 derajat Celcius). Setelah 10 menit, adonan ditabur dengan kenari atau kismis. Setelah dingin Cake Zebra Iwi siap disajikan.

Inovasi lain dari Iwi adalah Kue Kering Iwi. Bahan-bahannya: tepung Iwi 0,5 kg, gula halus 250 gram, mentega 300 gram, kuning telur empat butir, vanili 0,5 sendok teh, dan maizena dua sendok makan.

Cara membuatnya: kocok mentega dan telur selama sekitar 10 menit lalu masukkan kuning telur satu-persatu dan kocok sebentar. Masukkan vanili dan tepung maizena. Masukkan tepung sedikit demi sedikit sampai kalis/dapat dipulung/dicetak. Selanjutnya, masukkan ke dalam oven sampai panas 180 derajat Celcius.

Pemda Sumba Timur sudah menyiapkan ratusan brosur tentang pengolahan Iwi. Brosur-brosur itu dibagi gratis kepada setiap pengunjung anjungan Sumba Timur.

Bukan hanya brosur, Pemda Sumba Timur juga menyediakan contoh tepung Iwi dan kue-kue yang terbuat dari tepung Iwi. Setiap pengunjung pun boleh mencicipi kue-kue itu secara gratis.

"Supaya percaya, silakan cicipi kue dari Iwi. Enak kan? Ini hasil kreasi kami dari Sumba Timur. Gubernur pun sudah mencicipnya tadi dan mengagumi kue-kue ini," ujar Hartini bersemangat.

Kue Iwi produksi Sumba Timur memang luar biasa. Tampang dan cita rasanya sama dengan kue tar yang terbuat dari tepung terigu. Kalau begitu, buat apa susah-susah beli tepung terigu, pakai saja tepung Iwi.

Menurut Hartini, di Sumba Timur Iwi tidak lagi sekadar umbi hutan. Iwi sudah dibudidayakan di kebun-kebun warga. Mereka akan menggalinya setelah mencapai ukuran yang sudah matang dan siap untuk dikonsumsi.

Melihat tampang Iwi dari Sumba Timur, saya jadi ingat, jangan- jangan ini umbi yang oleh orang Manggarai disebut Raut. Di kampung Timbang, Kecamatan Cibal, dulu banyak sekali Raut. Meskipun kampung itu menghasilkan banyak padi dan jagung, raut juga menjadi pilihan konsumsi mereka. Hanya waktu itu pengolahannya belum seperti Iwi di Sumba Timur saat ini. Oleh (Agus Sape)

Pos Kupang edisi Sabtu, 26 September 2009 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes