NTT Mengenangmu

DALAM keheningan pekat masyarakat NTT saat ini, keikhlasan menjadi sedemikian bernilai di atas segalanya. Sebab dengan demikian, kendati kita amat berduka, kita mampu menyadari dan mengakui bahwa Piet A Tallo adalah putra terbaik daerah ini yang terlalu dini pergi. Sungguh tak ada satu kosa kata pun untuk menggambarkan seluruh makna kedukaan dan kehilangan yang kita rasakan saat ini. Terkecuali dengan satu ucapan syukur pada Sang Khalik bahwa kita pernah diizinkan untuk bersama-sama dengan Pak Piet dalam karya dan tugas pelayanan. Itulah karuniaNya. 

Bumi Flobamorata telah kehilangan seorang putra terbaik. Dedikasinya terhadap rakyat mengaplikasikan panggilan nurani dilakonkannya sampai akhir hayat. Di lapangan pelayanan, Pak Piet banyak melakukan terobosan dengan ide-ide cemerlang untuk membangun Flobamorata. 

Operasi 'Cinta Tanah Air' yang dipatrikannya untuk rakyat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai bukti kepeduliannya terhadap rakyat yang telah membesarkannya. Pak Piet tak ingin melihat rakyatnya hidup melarat padahal banyak potensi yang harus dikembangkan untuk mengubah hidup menjadi makmur. Operasi 'Cinta Tanah Air' ini dilakonkannya dalam kesahajaan, terbuka, jauh dari kesan sombong. Hasilnya pun tetap membekas dan terpatri dalam-dalam nubari masyarakat TTS khususnya dan NTT umumnya. 

Tak heran, Pak Piet tidak saja dikenal dekat di hati insan birokrasi, tetapi di semua lapisan masyarakat. Akan tetapi, di balik kesahajaan, keramahan dan murah senyum itu, Pak Piet memiliki prinsip yang teguh. Ia tidak akan mau mengalah kalau prinsipnya digoyang, apalagi untuk masyarakat kecil. Pak Piet mengorbankan semuanya untuk rakyat, bahkan rela kehilangan harga diri sekalipun. Tetapi, dirinya tidak mau kehilangan Tuhan dan keluarga. Itulah bentuk pengorbanannya untuk Flobamorata.

Pak Piet adalah sosok yang selama pengabdiannya, baik sebagai Bupati TTS maupun Gubernur NTT, cukup gencar mendorong terjadinya perubahan di daerah ini. Beliau dengan lantang meneriakkan penghapusan stigma kemiskinan di NTT dengan meluncurkan berbagai program, antara lain, Tiga Batu Tungku. Kemiskinan adalah 'anak haram' yang harus dihapuskan dan tak boleh melabeli hidup dan kehidupan masyarakat NTT. Program ini menjadikannya sebagai sosok yang membawa angin perubahan di NTT dan dikenal sebagai pemimpin yang tulus, berdedikasi dan konsisten dalam memperjuangkan pembangunan di Flobamorata.

Pak Piet adalah pemimpin yang meramu karirnya dari bawah. Sejak masih mahasiswa sudah masuk dalam gelanggang politik. Puncaknya menjadi Bupati TTS, Wakil Gubernur NTT dan Gubernur NTT. Sepak terjangnya yang memasyarakat, membuat Pak Piet dikenang sebagai pemimpin yang banyak meninggalkan kesan dan pelajaran, terutama dalam membangun semangat kerukunan beragama di daerah ini dengan aneka etnis. Di bawah kepemimpinan seorang pluralis itulah NTT dikenal sangat aman. Beliau mampu memelihara kerukunan dan semua kita perlu belajar, terutama dalam menjaga kerukunan, meski beda etnis, suku dan agama.

Pun tak sedikit tantangan yang dihadapinya. Pernah ikut menangani dan membantu para keluarga yang datang mengungsi dari propinsi tetangga, Timor Timur, akibat kemelut sosial yang terjadi di sana. Semuanya diantisipasi dengan sigap memperlihatkan kematangannya sebagai aktivis. Berbagai peristiwa dan tantangan selalu dihadapinya dengan tenang. Pria kelahiran Tetaf, Timor Tengah Selatan (TTS), 27 Mei 1942, ini benar-benar pemimpin yang matang. Sebelum menjadi Bupati TTS selama dua periode, Pak Piet menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Daerah NTT. Mulai dari instansi ini, karir politiknya terus menanjak. Langkahnya makin mantap setelah dia dipercaya menjadi Wakil Gubernur NTT dan Gubernur NTT 1998-2008. Dia adalah putra NTT yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah leluhurnya (TTS) sehingga mengenali watak dan sifat serta potensi daerahnya. Sebagai gubernur, Pak Piet senantiasa melindungi dan menyejahterakan rakyat. Itu prinsipnya. Semangatnya tak pernah surut. Meski dalam kondisi sakit, ia tetap mengendalikan roda pemerintahan. Semuanya demi daerah dan rakyat NTT. 

Selalu ingin memberi lebih untuk orang yang dipimpinnya. Pun tak lelah menjelaskan dengan runtut dan detail berbagai program yang dijalankannya. Sarana pendidikan, kesehatan, pasar, dan tempat ibadah diperhatikannya sebagai sarana vital untuk memakmurkan rakyat. Itulah perangainya. Di keluarga, Pak Piet juga dikenal sebagai ayah yang hangat dan mengayomi. Betapapun sibuknya, perhatiannya terhadap keluarga tak berkurang. Nilai-nilai kehidupan yang patut dicontohi. NTT mengenangmu untuk selamanya. *

Salam Pos Kupang edisi Selasa, 28 April 2009 halaman 14
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes