Semana Santa di Larantuka (1)

Oleh Syarifah Sifat

SEMANA Santa atau orang Larantuka menyebutnya "Hari Bae" kembali diperingati. Jutaan umat Katolik di seantero dunia mengenang kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Suasana politik tak pernah mempengaruhi umat. Dari berbagai penjuru dunia mereka berbondong-bondong ke Kota Larantuka atau orang Larantuka menyebutnya sebagai Kota Reinha.

Kedatangan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia (Nuntius), Mgr. Leo Poldo Girelli, mantan Perdana Menteri Portugal, Tuan Antonio Guterres dan ribuan umat dari berbagai penjuru, baik dalam negeri maupun luar negeri, memberi pesan tersendiri bahwa hanya ada satu Tuan Ma dan hanya ada satu Kota Reinha yakni di Larantuka.

Memasuki masa puasa atau masa Prapaskah, orang bisa merasakan suasana Kota Reinha yang berbeda. Lingkungan rumah-rumah ibadah, pekuburan, tempat umum dan rumah-rumah milik umat dibersihkan. 

Tidak hanya agama Katolik, namun yang beragama Islam pun ikut berpartisipasi membersihkan gereja dan menata keindahan Kota Reinha. 

Bagi orang Katolik di Kota Reinha, dalam kurun waktu hampir mencapai lima abad, perayaan iman tentang sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus selalu dihayati secara mendalam. Dalam hidup orang Nagi atau orang Larantuka, "Hari Bae" dihayati sebagai hari-hari rahmat berlimpah dari Surga.

Melalui kegiatan devosional, orang Nagi mengungkapkan rasa penuh syukur sembari membersihkan diri dengan silih, tapa, tobat dan amal kebajikan mulai dari masa puasa sampai dengan perayaan pekan suci yang mencapai puncaknya pada Minggu Paskah.

Selama masa puasa, orang Nagi secara bersama-sama mempersiapkan diri dan keluarga dalam kesatuan suku untuk menyongsong perayaan pekan suci. Pada masa puasa ini, secara bergilir suku-suku Mengaji Samana berdoa di Kapela Tuan Ma (Kapela Maria), bersama Mama Muji di bawah koordinasi Raja Ama Koten (DVG) sebagai kepala/ketua suku-suku Semana dan Konfreria Reinha Rosari Larantuka.

Bersama Mater Dolorosa, orang Nagi berjalan di jalan Salib Yesus. Dan, bersama Maria Alleluia, orang Nagi bersukacita akan Kebangkitan Yesus Kristus. Tidaklah mengherankan kalau orang Nagi begitu setia kepada Bunda Maria. Melalui Bunda Maria orang Nagi melambungkan syukur dan berserah diri kepada Allah dalam diri Yesus Kristus.

"Hari Bae" telah tumbuh dan terus berkembang bahkan menjadi tempat ziarah iman karena hanya ada di Larantuka. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, tradisi warisan leluhur ini sudah makin mengumat, menjadi milik umat Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka dan menjadi milik Keuskupan Larantuka.

Inilah puncak devosi peninggalan para paderi Portugal abad ke-16 yang disebut Semana Santa. Warga Larantuka sibuk mempersiapkan Armida alias stasi dalam Jalan Salib. Juga pagar bambu (turo) di sisi kiri dan kanan jalan raya tempat prosesi berlangsung. Di atas turo itu dipasang lilin yang akan menyala sepanjang malam.

Semana Santa merupakan devosi untuk memperingati sengsara dan wafat Yesus Kristus. Prosesi ini mempunyai akar pada tradisi Portugis yang sangat kuat.

Pastor Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka, Rm. Ancis Kwaelaga, Pr yang ditemui di Paroki Katedral Larantuka pekan ini mengatakan, Semana Santa bagi orang Larantuka merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Paskah. 

"Dalam kurun waktu hampir lima abad, perayaan iman tentang sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus di Larantuka, orang Larantuka atau orang Nagi menamakannya dengan "hari bae" karena hari tersebut mempunyai arti dan makna yang mendalam. Dalam hidup orang Nagi, Hari Bae dimaknai sebagai hari berlimpah rahmat dari surga," kata Rm. Ancis.

Ia mengakui, selama kegiatan devosional ini orang Nagi  mengungkapkan rasa syukur sembari membersihkan diri dengan silih, tapa, tobat dan amal kebajikan mulai dari masa puasa sampai pekan suci yang mencapai puncaknya pada Minggu Paskah, memperingati kebangkitan Yesus Kristus.

Pada hari Rabu (Trewa), jelas Romo Ancis, akan dilakukan Tikam Turo Tuan Mardomu Pintu Tuan Ma dan Pintu Tuan Ana di Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana diikuti dengan acara ritual lainnya, yakni mengaji Tuan Mardomu Pintu Tuan Ma di Kapela Tuan Ma. Setelah selesai Lamentasi, kata Rm. Ancis, akan muncul bunyi-bunyian selama 15 menit sambil berteriak "Trewa".Trewa sebagai tanda masuk dalam perkabungan Yesus selama Tri Hari Suci di seluruh Kota Larantuka.

Berikutnya, jelas Rm. Ancis, pada Kamis Putih dilakukan misa pemberkatan diikuti dengan penutupan jalur jalan raya sepanjang rute prosesi Jumat Agung dan dilanjutkan pada Sabtu dan Minggu hingga Senin. (bersambung)

Pos Kupang edisi Kamis, 9 April 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes